Jangan Buat Setan Tertawa
Perkara yang dianggap sepele, yang sudah menjadi kebiasaan kebayakan orang, padahal merupakan sebuah kekeliruan yang perlu diluruskan, adalah bersuara ketika menguap. Sepertinya sepele, tapi tunggu dulu sobat.
Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa setan itu tertawa bila mendengar seorang bersuara “haah” ketika menguap. Apalagi kalau sampai teriak ?!
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ
“Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Oleh karena itu bila salah seorang dari kalian bersin lantas dia memuji Allah, maka wajib atas setiap muslim yang mendengarnya untuk ber-tasymit kepadanya (mengucapkan “yarhamukallah”). Adapun menguap, maka dia dari setan, bila seorang menguap hendaklah dia menahan semampunya. Bila seorang menguap sampai keluar ucapan ‘haaah’, setan akan menertawainya.” (HR. Al-Bukhari no. 6223 dan Muslim no. 2994)
Inilah diantara adab yang perlu diperhatikan ketika menguap. Yaitu menahan semampunya, bila tidak mampu maka menutup mulut dengan tangan, kemudian adab selanjutnya adalah menahan suara ketika menguap.
Membuat musuh bahagia tentu terlarang dalam Islam. Yang diperintahkan oleh Islam adalah memasukkan kebahagiaan ke dalam hati seorang mukmin. Karena orang yang mukmin adalah saudara kita. Mafhum mukhalafah-nya adalah bila memasukkan kebahagiaan ke dalam hati seorang mukmin; yang mana seorang mukmin itu saudara itu diperintahkan, maka memasukkan kebahagiaan ke dalam hati musuh orang-orang yang beriman tentu terlarang.
Bila seorang membuat setan tertawa karena keisengannya mengeluarkan suara ketika menguap, berarti ia telah membuat setan bahagia. Karena tertawa merupakan ekspresi bahagia atau ridho. Ini jelas-jelas terlarang, terlebih setan adalah musuh yang senyata-nyatanya.
Secara tegas Allah ta’ala berfirman,
وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“..dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168)
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
” Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak pengikutnya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)
Ada yang menarik dari penjelasan salah seorang ulama yang bernama Ibnu Bathol rahimahullah mengenai makna hadits yang kami sebutkan di atas. Beliau mengatakan,
إضافة التثاؤب إلى الشيطان بمعنى إضافة الرضا والإرادة
“Penyandaran perbuatan menguap kepada setan maksudnya adalah penisbatan pada keridhoan dan keinginan setan” (dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, saat mensyarh hadits ini)
Bila menguap itu sendiri sudah termasuk perbuatan yang mengundang ridho setan, lalu bagaimana lagi dengan seorang yang menguap plus dibarengi suara sekuat tenaga ?! Yang secara jelas Nabi shallallahu’alaihi wasallam menegaskan dalam sabda beliau, ” Bila seorang menguap sampai keluar ucapan ‘haaah’, setan akan menertawainya.” ?!
Ini baru ucapan “haah” saja sudah membuat setan tertawa, sekedar desiran suara ringan yang keluar tatkala menguap. Bagaimana lagi bila yang diucapkan adalah ucapan dengan intonasi suara yang lebih kencang dan nadanya lebih panjang. Tentu lebih girang lagi setan dibuatnya.
Maka dari itu mulai saat ini mari kita ubah kebiasaan kurang baik tersebut. Yaitu berusaha menahan suara ketika menguap. Jangan sampai kita menjadi penyebab setan tertawa. Dan juga berusaha melestarikan adab-adab lainnya yang diajarkan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam ketika menguap.
Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala aalihi wshahbihi wasallam.
Wihdah 8, komplek Univ. Islam Madinah. 3 Dulqa’dah 1435 / 28 Agustus 2014
—
Penulis: Ahmad Anshori
Muroja’ah : Ustadz Sa’id Yai, Lc. MA
Artikel Muslim.Or.Id
Sumber: https://muslim.or.id/22513-jangan-buat-setan-tertawa.html
Nasihat Seorang Ayah kepada Anaknya
الحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَاتَمِ رُسُلِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ
Segala puji bagi Allah, selawat, dan salam semoga tercurah kepada penutup para rasul Allah, beserta keluarga, sahabat, dan siapa saja yang mengikutinya. Amma ba’dua.
فَهَهُنَا عَمَلِيَّةٌ حِسَابِيَّةٌ يَسِيرَةٌ، تَنْفَعُ الأَذْكِيَاءَ أُولِي الأَلْبَابِ وَالْبَصِيرَةِ، أَنْقُلُهَا مِنْ كِتَابِ الشَّيْخِ عَبْدِ الْعَزِيزِ السَّلْمَانِ -رَحِمَهُ اللَّهُ- “إِيقَاظُ أُولِي الْهِمَمِ الْعَالِيَةِ إِلَى اغْتِنَامِ الأَيَّامِ الْخَالِيَةِ” (ص٢٢٧ وَ٢٢٨، ط٤، ١٤٠٧ه)، وَهِيَ فِي الأَصْلِ فَقَرَاتٌ مِنْ كَلَامِ ابْنِ الْجَوْزِيِّ -رَحِمَهُ اللَّهُ- فِي “لَفْتَةِ الْكَبِدِ”، وَلَيْسَ بِحَوْزَتِي الآنَ
Maka di sini terdapat sebuah perhitungan sederhana, yang bermanfaat bagi orang-orang cerdas, pemilik akal, dan pandangan jernih. Aku nukil dari kitab Syekh Abdul Aziz as-Salman rahimahullah, “Iqāẓ Uli al-Himam al-‘Āliyah ilā Ightinām al-Ayyām al-Khāliyah” (hal. 227–228, cet. ke-4, 1407). Pada asalnya, ini adalah paragraf-paragraf dari perkataan Ibnul Jauzi rahimahullah dalam “Lafdatul Kabid”, yang sekarang tidak ada di sisiku:
:وَمِنْ نَصِيحَةِ وَالِدٍ لِوَلَدِهِ
“Dan di antara nasihat seorang ayah kepada anaknya:
.اِعْلَمْ أَنَّ مَنْ تَفَكَّرَ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ أَنْ يُوجَدَ؛ رَأَى مُدَّةً طَوِيلَةً
Ketahuilah, siapa yang merenungkan dunia sebelum ia diciptakan; ia akan melihat masa yang panjang.
.فَإِذَا تَفَكَّرَ فِي يَوْمِ الْقِيَامَةِ؛ عَلِمَ أَنَّهُ خَمْسُونَ أَلْفَ سَنَةٍ
Apabila ia merenungkan hari kiamat, ia akan mengetahui bahwa hari itu (sepanjang) lima puluh ribu tahun.
!فَإِذَا تَفَكَّرَ فِي اللَّبْثِ فِي الْجَنَّةِ أَوِ النَّارِ؛ عَلِمَ أَنَّهُ لَا نِهَايَةَ لَهُ
Apabila ia merenungkan tinggal di surga atau neraka, ia akan mengetahui bahwa itu tidak ada akhirnya!
فَإِذَا عَادَ إِلَى النَّظَرِ فِي مِقْدَارِ بَقَائِهِ -فَرَضْنَا سِتِّينَ سَنَةً مَثَلًا-؛ فَإِنَّهُ يَمْضِي مِنْهَا ثَلَاثُونَ سَنَةً فِي النَّوْمِ، وَنَحْوٌ مِنْ خَمْسَ عَشْرَةَ فِي الصِّبَا
Apabila ia kembali melihat kadar umurnya –anggaplah enam puluh tahun, misalnya–, maka tiga puluh tahun habis untuk tidur, dan sekitar lima belas tahun dalam masa kanak-kanak.
فَإِذَا حَسَبَ الْبَاقِي؛ كَانَ أَكْثَرَ فِي الشَّهَوَاتِ وَالْمَطَاعِمِ وَالْمَكَاسِبِ
Jika ia hitung sisanya, maka lebih banyak tersita untuk syahwat, makanan, dan usaha duniawi.
فَإِذَا خَلَصَ مَا لِلآخِرَةِ؛ وَجَدَ فِيهِ مِنَ الرِّيَاءِ وَالْغَفْلَةِ كَثِيرًا
Jika ia sisihkan untuk akhirat, ia dapati banyak yang tercampuri riya’ dan kelalaian.
!فَبِمَاذَا تَشْتَرِي الْحَيَاةَ الأَبَدِيَّةَ وَإِنَّمَا الثَّمَنُ هَذِهِ السَّاعَاتُ؟
Lantas dengan apa engkau membeli kehidupan abadi, padahal harganya hanyalah jam-jam (yang singkat) ini?!
فَانْتَبِهْ -يَا بُنَيَّ!- لِنَفْسِكَ
Maka sadarlah, wahai anakku, untuk dirimu.
وَانْدَمْ عَلَى مَا مَضَى مِنْ تَفْرِيطِكَ
Dan sesalilah kelalaianmu yang telah lalu.
وَاجْتَهِدْ فِي لِحَاقِ الْكَامِلِينَ مَا دَامَ فِي الْوَقْتِ سَعَةٌ
Bersungguh-sungguhlah mengejar orang-orang sempurna, selama waktu masih ada.
وَاسْقِ غُصْنَكَ مَا دَامَتْ فِيهِ رُطُوبَةٌ
Siramilah rantingmu selama masih ada basahnya.
وَاذْكُرْ سَاعَتَكَ الَّتِي ضَاعَتْ؛ فَكَفَى بِهَا عِظَةً؛ ذَهَبَتْ لَذَّةُ الْكَسَلِ فِيهَا، وَفَاتَتْ مَرَاتِبُ الْفَضَائِلِ
Ingatlah jam-jam yang terbuang; cukuplah itu sebagai pelajaran. Hilanglah kenikmatan malas di dalamnya, dan terlewatlah derajat-derajat keutamaan.
وَقَدْ كَانَ السَّلَفُ الصَّالِحُ رَحِمَهُمُ اللَّهُ يُحِبُّونَ جَمْعَ كُلِّ فَضِيلَةٍ، وَيَبْكُونَ عَلَى فَوَاتِ وَاحِدَةٍ مِنْهَا؛ قَالَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ -رَحِمَهُ اللَّهُ-: دَخَلْنَا عَلَى عَابِدٍ مَرِيضٍ، وَهُوَ يَنْظُرُ إِلَى رِجْلَيْهِ وَيَبْكِي، فَقُلْنَا: مَا لَكَ تَبْكِي؟ فَقَالَ: عَلَى يَوْمٍ مَضَى مَا صُمْتُهُ، وَعَلَى لَيْلَةٍ ذَهَبَتْ مَا قُمْتُهَا”. وَاللَّهُ أَعْلَمُ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ” اهـ
Para salafus shalih –semoga Allah merahmati mereka– dahulu sangat mencintai untuk mengumpulkan setiap keutamaan, dan mereka menangis jika terluput satu saja. Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata, “Kami pernah masuk menjenguk seorang ahli ibadah yang sedang sakit. Ia memandang kedua kakinya, lalu menangis.” Kami bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Ia menjawab, “Aku menangis atas satu hari yang telah berlalu, namun aku tidak berpuasa di dalamnya, dan satu malam yang pergi namun aku tidak mendirikannya (dengan ibadah malam).” Wallahu a’lam, dan selawat Allah tercurah atas Muhammad.” [Selesai]
وَبَعْدُ! فَإِذَا تَابَعْنَا الْعَمَلِيَّةَ الْحِسَابِيَّةَ فِي هَذَا الزَّمَنِ الْخَاصِّ (رَمَضَانَ)، الْكَائِنِ (أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ)
Apabila kita lanjutkan perhitungan ini pada zaman khusus (Ramadan), yang hanyalah “beberapa hari yang terbilang”.
.ثُمَّ فِي الزَّمَنِ الأَخَصِّ (لَيَالِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ)
Kemudian pada waktu yang lebih khusus lagi (malam sepuluh terakhir).
!فَهَلْ سَيَبْقَى مِنَ السَّاعَاتِ سِوَى سُوَيِّعَاتٍ؟
Maka apakah akan tersisa dari jam-jam itu selain sekadar beberapa saat?!
.فَاللَّهُمَّ! أَعِنَّا عَلَى شُكْرِكَ، وَذِكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Ya Allah! Bantulah kami untuk bersyukur kepada-Mu, berzikir kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.
الثُّلَاثَاءُ ٢٣ رَمَضَانَ ١٤٤٠ه
Selasa, 23 Ramadan 1440
Ditulis oleh: Sukainah binti Muhammad Nashiruddin al-Albani.
***
Penerjemah: M. Saifudin Hakim
Artikel Muslimah.or.id
Sumber:
‘Amaliyyah Hisabiyyah Nafi’ah, karya Sukainah binti Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Sumber: https://muslimah.or.id/30167-nasihat-seorang-ayah-kepada-anaknya.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id
Berhati-hatilah dengan asupan kita, untuk menjaga kesehatan jasmani dan rohani #carousel




Jenggot adalah Fitrah dan Perhiasan Laki-laki
Jenggot adalah suatu fitrah manusia dan yang namanya fitrah adalah suatu hal yang tidak mungkin dibenci atau tidak disukai manusia. Apabila manusia di zaman ini ada yang membenci jenggot, menganggapnya jelek, kotor atau anggapan jelek lainnya, maka mereka keluar dari fitrahnya. Di zaman ini bisa jadi banyak orang yang berubah bahkan rusak fitrahnya karena pengaruh zaman dan tersebarnya gaya hidup melalui internet dan smartphone. Tersebar gaya hidup atau film yang orang tersebut berjenggot tapi kasar, jelek dan kotor, sedangkan orang-orang hebat adalah orang yang bersih dagunya karena telah dipotong jenggotnya. Padahal di zaman dahulu, orang-orang hebat mulai dari raja, kesatria dan ilmuan, mereka memiliki jenggot yang lebat dan terlihat gagah berwibawa.
Jenggot adalah fitrahnya manusia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَشْرٌ مِنْ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الْأَظْفَارِ..
“Sepuluh perkara yang termasuk fithrah: Memotong kumis, memelihara jenggot, bersiwak, memasukkan air ke dalam hidung, memotong kuku….” (HR. Muslim)
Seorang ulama menyebutkan bahwa jenggot adalah perhiasan bagi laki-laki, artinya jika laki-laki memiliki jenggot, maka ia lebih terlihat jantan, terlihat gagah dan lebih maskulin.
Al-Gazali berkata,
فإن اللحية زينة الرجال …وبها يتميز الرجال عن النساء
“Sesungguhnya jenggot adalah perhiasan para lelaki… dengan jenggot akan terbedakan antara laki-laki dan wanita” (Ihyaa ‘Uluumid-Diin 2/257)
Karena jenggot adalah perhiasan laki-laki dan menunjukkan kegagahan dan tanda maskulin laki-laki. Ada beberapa orang shalih di zaman dahulu yang sangat ingin memiliki jenggot. Kaum Anshar sangat meninginkan pemimpim mereka memiliki jenggot agar terlihat lebih jantan. Mereka berkata,
نعم السيد قيس لبطولته وشهامته، ولكن لا لحية له، فوالله لو كانت اللحية تشترى بالدراهم، لاشترينا له لحية
“Memang Sayyid Kami Qais terkenal dengan kepahlawanan dan kedermawanannya, akan tetapi ia tidak memiliki jenggot. Demi Allah, seandainya jenggot itu bisa dibeli dengan dirham, maka kami akan belikan ia jenggot.” (Lihat Istii’aab 3/1292)
Al-Gazali berkata,
وقال شريح القاضي : وَدِدْتُ أَنَّ لِي لَحْيَةً وَلَوْ بَعَشْرَةِ آلاَفٍ
“Syuraih Al-Qadhi berkata, ‘Aku sangat ingin memiliki jenggot, meskipun harus membayar sepuluh ribu (dinar/dirham)’.” (Ihyaa ‘Uluumid -Diin 2/257)
Catatan:
Adapun menyandarkan ini dengan kandungan sebuah hadits,
سبحان من زين وجوه الرجال باللحى
“Maha Suci (Allah) yang menghiasi wajah laki-laki dengan jenggot”
Maka hadits ini maudhu’ (palsu), sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ad-Dha’ifah wal Maudhu’ah no. 6023
Jenggot merupakan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan kita untuk memelihara jenggot. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
انْهَكُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى
“Potonglah kumis dan peliharalah jenggot.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits digunakan kata perintah (fi’il ‘amr), maka dalam Ilmu ushul di ada kaidah,
الأمر يفيد الوجوب
“Kata perintah (fi’il ‘amr) menunjukkan hukum (asalnya) wajib”
Menurut pendapat terkuat bahwa laki-laki wajib memelihara jenggotnya (membiarkan tumbuh), bahkan memotongnya adalah sebuah larangan (ada juga pendapat boleh dipotong jika sudah melebihi satu genggam). Memotong jenggot adalah kebiasaan orang-orang musyrik dan Majusi, sebagaimana Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam,
خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ
“Selisihilah orang-orang musyrik, peliharalah jenggot dan potonglah kumis.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau juga bersabda,
جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ
“Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot, selisihilah orang-orang Majusi (penyembah matahari).” (HR. Muslim)
Menyerupai orang-orang kafir akan mendapat ancaman sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud, Shahih)
Demikian semoga bermanfaat
@ Yogyakarta Tercinta
Penyusun: Raehanul Bahraen
Sumber: https://muslim.or.id/44787-jenggot-adalah-fitrah-dan-perhiasan-laki-laki.html
Kapan Orang Tua Mewajibkan Putrinya Memakai Hijab?
Para ulama fikih menjelaskan bahwa ketika seorang anak genap berusia tujuh tahun, dalam kondisi normal dan sehat, ia memasuki tahap tamyīz (fase mampu membedakan). Pada usia ini, anak mulai dapat menggunakan akalnya untuk menilai sesuatu yang baik atau buruk, serta yang bermanfaat atau berbahaya. Fase ini juga menandai kesiapan seorang anak untuk menjalankan ibadah yang disyariatkan.
Sejak masa tamyīz, seorang anak telah memiliki kelayakan hukum dalam hal ibadah secara sempurna, yang dikenal dengan istilah ahliyyah at-ta‘abbud (kelayakan beribadah) atau ahliyyah al-adā’ ad-dīniyyah (kelayakan menunaikan agama). Artinya, anak dianggap pantas melakukan amalan ibadah seperti salat dan puasa, meskipun keduanya belum menjadi kewajiban baginya. Status ahliyyah tersebut hanya menunjukkan kelayakan untuk beribadah, namun bukan kewajiban untuk melaksanakannya (karena belum baligh). Rasulullah ﷺ bersabda,
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk salat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika meninggalkannya) ketika berusia sepuluh tahun.” (HR. Abu Dawud no. 495)
Masa tamyīz ini membuat anak siap melaksanakan ibadah, tetapi belum terikat dengan kewajiban syariat. Sebab, kewajiban dalam agama baru berlaku ketika seseorang memasuki fase baligh, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,
رُفِعَ القَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: .. عَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَكْبَرَ
“Diangkat pena (catatan dosa) dari tiga golongan: … dari anak kecil hingga ia dewasa.” (HR. Abu Dawud no. 4403)
Dalam riwayat lain disebutkan: «حَتَّى يَحْتَلِمَ» — “hingga ia bermimpi (mimpi basah).”
Dengan demikian, seseorang tidak terkena beban kewajiban syariat yang bersifat amaliyah (praktik ibadah) kecuali setelah ia baligh.
Berdasarkan hal ini, anak perempuan yang sudah mencapai usia tamyīz memiliki kesiapan beragama. Maka, sebagaimana ia diperintahkan untuk salat dan berpuasa meski keduanya belum wajib baginya, ia juga diperintahkan untuk membiasakan diri memakai hijab sebelum baligh. Tujuannya agar ia terbiasa, merasa selaras dengannya, dan tidak merasa asing ketika nantinya diwajibkan.
Adapun kewajiban memakai jilbab (hijab syar‘i) berlaku ketika syarat taklif pertama telah terpenuhi, yaitu baligh. Salah satu tandanya adalah datangnya haid, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,
يَا أَسْمَاءُ، إِنَّ المَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ المَحِيضَ لَمْ يَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا
“Wahai Asma’, sesungguhnya apabila seorang wanita telah mencapai haid, tidak boleh terlihat darinya kecuali ini dan ini.” Beliau menunjuk wajah dan kedua telapak tangannya. (HR. Abu Dawud no. 4104)
Pada fase ini, wali memiliki kewajiban untuk menegakkan perintah hijab atas putrinya, berdasarkan firman Allah Ta‘ala,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka…’” (QS. al-Ahzab: 59)
Baca juga: Kalau Anak Saya Berhijab Syar’i, Bagaimana Dia Akan Dapat Jodoh?
***
Penyusun: Junaidi Abu Isa
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
Sumber: https://muslimah.or.id/30169-kapan-orang-tua-mewajibkan-putrinya-memakai-hijab.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id
Penghapus Dosa & Kemiskinan #shorts
Setiap Orang Memiliki Potensi Berbeda untuk Meraih Surga
Allah Ta’ala ketika menciptakan manusia itu berbeda-beda dari berbagai sisi, baik sifat, fisik, termasuk perbedaan dalam hal potensi. Ada yang potensinya pada kekayaan, kekuatan, kecerdasan, atau keahlian tertentu. Dan masing-masing dari kita berusaha memahami potensi tersebut dan memaksimalkannya untuk kebaikan serta meraih surga Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman,
قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ
“Sungguh setiap kelompok (manusia) telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing).” (QS. Al-Baqarah: 60)
Dalam ayat yang lain,
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا
“Katakanlah, “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (QS. Al-Isra’: 84)
Nabi shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda,
اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ
“Beramallah kalian, sebab setiap orang akan dimudahkan untuk apa yang sudah diciptakan untuknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pintu surga ada banyak: Pilihlah yang sesuai dengan potensimu
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ نُودِىَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ ، هَذَا خَيْرٌ . فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلاَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّلاَةِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ
“Barang siapa yang menginfakkan dua harta di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga: Wahai hamba Allah, ini adalah kebaikan. Barang siapa termasuk dari golongan ahli salat, dia akan dipanggil dari pintu salat. Barang siapa dari ahli jihad, dia akan dipanggil dari pintu jihad. Barang siapa dari ahli puasa, dia akan dipanggil dari pintu Rayyan. Dan barang siapa dari ahli sedekah, dia akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa jalan menuju surga sangat beragam, tergantung pada kemampuan dan kecenderungan masing-masing hamba. Ada yang mudah baginya untuk berinfak, ada yang istikamah dalam berpuasa sunah, ada yang kuat dalam berjihad, dan ada pula yang tekun dalam salat malam. Semua bisa menjadi jalan meraih pahala dan surga.
Jangan meremehkan amalan kecil
Dalam Islam, tidak ada amalan baik yang dianggap remeh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ
“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Dawud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih)
Mungkin seseorang tidak bisa bersedekah banyak karena tidak kaya, tapi ia bisa tersenyum, membantu orang lain, atau mendoakan saudaranya secara sembunyi-sembunyi. Semua itu bernilai pahala di sisi Allah.
Setiap potensi bisa jadi ladang pahala
Contoh nyata dari keragaman potensi ini bisa kita lihat dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
Utsman bin Affan dikenal dermawan dan menyumbang banyak hartanya untuk Islam.
Bilal bin Rabah punya suara merdu yang digunakan untuk azan.
Abu Hurairah memiliki hafalan yang kuat dan meriwayatkan ribuan hadis.
Khalid bin Walid unggul dalam strategi perang dan menjadi pedang Allah di medan jihad.
Setiap sahabat menggunakan potensi yang Allah berikan untuk berjuang di jalan-Nya, dan semuanya mendapat kedudukan mulia di sisi Allah.
Fokus pada apa yang kita bisa
Islam tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Allah Ta’ala berfirman,
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Artinya, jika seseorang tidak bisa melakukan ibadah sunah tertentu karena keterbatasan fisik, ilmu, atau harta, maka Allah tidak akan menuntut hal tersebut darinya. Namun ia bisa fokus pada apa yang mampu ia lakukan.
Berlomba dalam kebaikan sesuai potensimu
Setiap orang punya potensi berbeda, dan setiap potensi bisa menjadi jalan meraih pahala. Kuncinya adalah mengenali potensi diri, lalu menggunakannya dalam amal saleh dengan niat yang lurus. Jangan iri terhadap amal orang lain, tapi berlombalah dalam kebaikan sesuai dengan potensi yang Allah titipkan pada kita.
فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا
“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. Kepada Allah-lah kamu semua kembali.” (QS. Al-Ma’idah: 48)
Dalam firman-Nya yang lain,
وَلِكُلٍّ دَرَجَٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوا۟ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
“Dan masing-masing orang memperoleh derajat dengan apa yang telah mereka kerjakan. Dan Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 132)
Semoga Allah memberikan kita taufik untuk mengoptimalkan potensi diri kita masing-masing dan menjadikannya wasilah meraih surga-Nya yang kekal.
***
Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya
Artikel Muslim.or.id
Referensi:
Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.
Sumber: https://muslim.or.id/109151-setiap-orang-memiliki-potensi-berbeda-untuk-meraih-surga.html
Copyright © 2025 muslim.or.id
Satu Dosa yang Menutup Pintu Surga Selamanya #video ~7
Ampuhnya Do’a Ibarat Tajamnya Pedang
Ada ibarat yang sangat bagus yang disampaikan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Beliau menyampaikan bagaimanakah ampuhnya do’a dan ini diibaratkan seperti tajamnya pedang. Kita harus merenungkan hal ini agar kita dapat semangat terus untuk berdo’a dan tidak berputus asa.
Ibnul Qayyim dalam Al Jawabul Kaafi mengatakan,
والادعية والتعوذات بمنزلة السلاح والسلاح بضاربه لا بحده فقط فمتى كان السلاح سلاحا تاما لا آفة به والساعد ساعد قوي والمانع مفقود حصلت به النكاية في العدو ومتى تخلف واحد من هذه الثلاثة تخلف التأثير فإن كان الدعاء في نفسه غير صالح أو الداعى لم يجمع بين قلبه ولسانه في الدعاء أو كان ثم مانع من الاجابة لم يحصل الأثر
“Do’a dan ta’awudz (meminta perlindungan pada Allah) ibarat pedang. Pedang itu diandalkan tebasannya bukan hanya ketajamannya. Oleh karenanya, pedang jadi ampuh bila: (1) tidak cacat, (2) yang menebas adalah orang yang kuat dan (3) tidak ada penghalang ketika pedang dihujam yang membuat musuh tersingkir. Jika salah satu dari tiga hal ini tidak ada, maka pedang tersebut tidaklah ampuh.
Do’a pun demikian. Do’a tidaklah ampuh bila: (1) orang yang berdo’a tidaklah baik, (2) yang berdo’a tidak menyatukan antara hati dan lisan saat berdo’a (artinya: do’a yang dipanjatkan tidak diresapi), (3) ada penghalang sehingga do’a tidak terkabul[1]. Jika ada salah satu dari tiga hal ini, do’a tidaklah ampuh.”
Semoga dengan merenungkan hal ini, kita semakin memperbaiki diri kala memanjatkan do’a. Ya Allah, kabulkanlah do’a-do’a kami. Wallahu waliyyut taufiq.
Faedah saat safar @ Manarotul Asheel, Makkah Al Mukarromah, 20 Syawal 1433 H
[1] Seperti karena sebab makan yang haram, do’a sulit terkabul.
Sumber https://rumaysho.com/2790-ampuhnya-doa-ibarat-tajamnya-pedang.html







