Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 4)

Sikap keempat: Memperbanyak istigfar kepada Allah dan meminta maaf kepada orang lain yang mungkin pernah dizalimi atau disakiti

Sikap keempat yang hendaknya dilakukan ketika seseorang berada dalam puncak kesulitan adalah memperbanyak istigfar kepada Allah Ta’ala. Mengapa demikian? Karena Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa musibah itu disebabkan oleh dosa dan kesalahan kita sendiri. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

Perhatikanlah ayat di atas, yang menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Apabila Allah menghukum dan menimpakan musibah atas setiap dosa dan kesalahan kita, niscaya kita akan binasa. Akan tetapi, Allah memaafkan sebagian besar dari dosa dan kesalahan tersebut.

Oleh karena itu, apabila kita tertimpa suatu musibah yang berat atau berada dalam problematika hidup yang pelik, mohon ampunlah kepada Allah dan bertobatlah kepada Allah. Renungkanlah bagaimanakah perkataan Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)

“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

Ketika mendapatkan musibah, segeralah memohon ampunan kepada Allah Ta’ala. Allah pun menurunkan karunia berupa hujan dari langit, juga harta dan anak keturunan.

Senada dengan ayat di atas, terdapat sebuah atsar dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah yang menunjukkan bagaimana faedah istigfar yang luar biasa.

أَنَّ رَجُلًا شَكَى إِلَيْهِ الْجَدْب فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر الْفَقْر فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر جَفَاف بُسْتَانه فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر عَدَم الْوَلَد فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، ثُمَّ تَلَا عَلَيْهِمْ هَذِهِ الْآيَة

“Sesungguhnya seseorang pernah mengadukan kepada Al-Hasan tentang musim paceklik yang sedang terjadi. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah kepada Allah.” Ada orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kemiskinan yang dia alami. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah kepada Allah.” Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kekeringan pada lahan (kebunnya). Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah kepada Allah.” Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau karena belum dikaruniai anak. Al-Hasan pun menasehatkan, “Beristigfarlah kepada Allah.” Setelah itu, Al-Hasan Al-Bashri pun membacakan surah Nuh di atas. (Fathul Bari, 11: 98)

Juga terdapat riwayat dari sahabat Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu berkaitan dengan ayat di surah Nuh di atas. Dari Asy-Sya’bi, ia berkata, “Suatu ketika, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu meminta diturunkannya hujan, namun beliau hanya beristigfar hingga beliau kembali. Lalu ada yang mengatakan kepadanya, ”Kami tidak melihatmu meminta hujan?” Umar pun mengatakan, “Aku sebenarnya sudah meminta diturunkannya hujan dari langit”. Umar pun membaca ayat,

اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا, يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا

“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.”

Umar kemudian mengatakan,

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا

“Wahai kaumku, mintalah ampun kepada Rabb kalian. Kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menurunkan pada kalian hujan lebat dari langit.” (HR. Al-Baihaqi 3: 352)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dari dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula, datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.” (Al-Jawabul Kaafi, hal. 87)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

“Tidaklah musibah turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah musibah tersebut bisa hilang, melainkan dengan tobat.” (Al-Jawabul Kaafi, hal. 87)

Dari uraian di atas, maka hendaknya ketika suatu musibah dan kesulitan sedang menimpa diri kita, segeralah meminta ampun dan bertobat kepada Allah Ta’ala. Kita pun memperbaiki diri dengan berusaha bertakwa kepada Allah Ta’ala. Karena sebagaimana penjelasan di seri sebelumnya, Allah berjanji akan memberikan solusi (jalan keluar) kepada hamba yang bertakwa kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4)

Seorang hamba hendaknya merenung dan introspeksi diri, jika belum ada solusi dari masalah yang sedang dia hadapi, jangan-jangan dia belum bertakwa kepada Allah? Dengan cara inilah dia akan terus memperbaiki diri.

Perkara penting lainnya adalah hendaknya seorang hamba juga meminta maaf atas kezaliman yang mungkin pernah dia lakukan kepada orang lain. Bisa jadi, musibah yang dia alami saat ini adalah karena dia pernah menzalimi orang lain, lalu orang tersebut berdoa kepada Allah agar kita ditimpakan kesusahan. Oleh karena itu, seringan atau sesepele apapun masalah atau kezaliman yang pernah kita lakukan kepada orang lain, baik sahabat/ kolega/ saudara dekat ataupun jauh, mintalah maaf kepadanya.

Inilah empat hal yang bisa penulis sarikan tentang apa yang hendaknya seorang mukmin lakukan apabila kita sedang tertimpa suatu kesulitan yang berat. Semoga Allah Ta’ala memudahkan urusan-urusan kita dan mengampuni dosa dan kesalahan kita.

[Selesai]

***

@Kantor Pogung, 11 Sya’ban 1445/ 21 Februari 2024

Penulis: M. Saifudin Hakim

Sumber: https://muslim.or.id/91963-sikap-seorang-mukmin-ketika-di-puncak-kesulitan-bag-4.html

Bantahan Terhadap Syubhat: ‘Yang Pentingkan Hatinya Baik’

Dewasa ini kita melihat keanehan dari sebagian orang yang mencukupkan diri dengan hati yang ‘baik’, lantas meninggalkan kewajiban yang Allah perintahkan kepadanya.

Seperti para wanita yang menanggalkan hijabnya, berdalih dengan perkataan ‘yang pentingkan hatinya baik’.

Mereka seakan berbangga ketika melakukan kemaksiatan kepada Allah ta’ala.

Padahal, dalam kenyataannya hati yang baik adalah hati yang dihiasi oleh keimanan sehingga menuntun pemiliknya untuk taat kepada RabbNya. Ia mencintaiNya, penuh harap dan takut terhadapNya. Perbuatan yang dilakukan adalah cerminan dari kondisi di dalam hatinya.

Mengenal Qalbun Salim (Hati Yang Bersih)

Dalam kehidupan kita sebagai seorang muslim, segala sesuatunya haruslah dilihat dan ditimbang menurut pandangan syariat. Karena jika standar ukuran tersebut dikembalikan kepada selain dari syariat, porak-porandalah segala urusan. Sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَلَوِ ٱتَّبَعَ ٱلْحَقُّ أَهْوَآءَهُمْ لَفَسَدَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya” (QS. Al-Mu’minun: 71)

Mengenai hati yang bersih, Allah ta’ala berfirman di dalam Al-Quran,

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ • إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,” Orang-orang berbeda pendapat tentang makna qalbun salim. Sedang yang merangkum berbagai pendapat itu ialah yang mengatakan: qalbun salim yaitu hati yang bersih dan selamat dari berbagai syahwat yang menyalahi perintah dan larangan Allah, bersih dan selamat dari berbagai syubhat yang bertentangan dengan beritaNya. Ia selamat dari melakukan penghambaan kepada selainNya, selamat dari pemutusan hukum oleh selain RasulNya. Maka ia selamat dalam mencintai Allah dan dalam berhukum kepada RasulNya, bersih dalam ketakutan dan berpengharapan padaNya, dalam bertawakal kepadaNya, dalam kembali kepadaNya, dalam menghinakan diri di hadapanNya, dalam mengutamakan mencari ridaNya di segala keadaan dan dalam menjauhi kemurkaanNya dalam setiap kondisi. Dan inilah hakikat penghambaan yang tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah semata.

Jadi, qalbun salim adalah hati yang selamat dari menjadikan sekutu untuk Allah dengan alasan apa pun. Bahkan ia hanya mengikhlaskan penghambaan dan ibadah kepada Allah semata, baik dalam kehendak, cinta, tawakkal, inabah (kembali), merendahkan diri, khasyyah (takut), raja’ (pengharapan), dan ia mengikhlaskan amalnya untuk Allah semata.

Jika ia mencintai, maka ia mencintai karena Allah. Jika ia membenci, maka ia membenci karena Allah. Jika ia memberi, maka ia memberi karena Allah. Jika ia menolak, maka ia menolak karena Allah. Dan ini tidak cukup kecuali ia harus selamat dari ketundukan serta berhukum kepada selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia harus mengikat hatinya kuat-kuat dengan beliau untuk mengikuti dan tunduk dengannya semata, tidak kepada ucapan atau perbuatan siapa pun juga:

  • Dari ucapan hati, yang berupa kepercayaan
  • Ucapan lisan, yaitu berita tentang apa yang ada di dalam hati
  • Perbuatan hati, yaitu keinginan, cinta dan kebencian serta hal lain yang berkaitan dengannya
  • Perbuatan anggota badan

Sehingga dialah yang menjadi hakim bagi dirinya dalam segala hal, dalam masalah besar maupun yang sepele. Dia adalah apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga tidak mendahuluinya, baik dalam kepercayaan, ucapan maupun perbuatan, sebagaimana firman Allah ta’ala:

 الَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا نُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya.” (QS. Al-Hujurat: 1)

Artinya, janganlah engkau berkata sebelum ia (Rasul) mengatakannya, janganlah berbuat sebelum dia memerintahkannya. (Ighatsatul Lahfan (Terjemahan), hal. 1-2)

Tanda-Tanda Hati Yang Bersih

Hati yang bersih memiliki tanda-tanda diantaranya,

  • Hati tersebut jauh dari dunia, tidak terpedaya dengannya. Ia menyadari bahwa dunia adalah tempat yang fana sehingga fokus orientasinya hanyalah akhirat.
  • Tujuannya hanya satu: mencari keridaan Allah dan menjauh dari kemurkaanNya.
  • Ia bersemangat dan berjuang untuk bersih dari maksiat, dosa, bid’ah dan perbuatan-perbuatan haram lainnya.
  • Perhatiannya terhadap kualitas amal lebih besar daripada kuantitas amal itu sendiri.

Kita memohon kepada Allah karuniaNya berupa hati yang bersih, yang membuahkan amal saleh dan ketaatan kepada Allah dan menjauhi laranganNya. Hati yang mengantarkan kita kepada keridaanNya dan surga yang penuh dengan kenikmatan. Di antara doa yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

“Ya Allah, berikanlah ketakwaan pada jiwaku, bersihkanlah jiwaku, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang membersihkan jiwaku, Engkau adalah walinya dan penolongnya.” (HR. Muslim, no. 2722)

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ قَلْبَاً سَلِيمَاً، وَلِسَانَاً صَادِقَاً، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ، إِنَّكَ أنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu keteguhan dalam segala urusanku, dan aku memohon kepadaMu tekat yang kuat dalam berbuat lurus, dan aku memohon kepadaMu hal-hal yang mendatangkan rahmatMu, dan hal-hal yang mendatangkan ampunan Mu, dan aku memohon kepadaMu untuk mensyukuri nikmatMu, baiknya aku dalam beribadah kepadaMu, dan aku memohon kepadaMu hati yang selamat, dan lidah yang benar. Dan aku memohon kepadaMu akan kebaikan yang Engkau ketahui, dan aku berlindung kepadaMu dari kejahatan yang Engkau ketahui, dan aku memohon ampun terhadap dosa yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui akan segala yang ghaib.” (HR. Ibnu Hibban dalam Sahihnya (no. 935) dan disahihkan Al-Albani dalam Silsilah As-Shahihah Al-Albani no. 3228)

Hanya kepada Allah lah kita memohon taufik.

—

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

  • Ahadits Ishlahul Qulub, Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al Badr
  • Manajemen Qalbu Ighatsatul Lahfan (Terjemahan), Darul Falah
  • Ebook Doa-doa dan dzikir-dzikir dari Al-Quran dan As-Sunnah Ash-Shahihah dibaca di ‘Arafah dan selainnya – Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr (Terjemah oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy)

Sumber: https://muslimah.or.id/18044-bantahan-terhadap-syubhat-yang-pentingkan-hatinya-baik.html

Menyusui Sebagai Momen Tarbiyah

Menyusui Adalah Ladang Ibadah

Secara fitrah, terdapat tiga kodrat bagi seorang perempuan yang telah Allah tetapkan, yaitu mengandung, melahirkan, dan menyusui. Di antara ketiga hal ini, menyusui adalah hal yang begitu jelas Allah perintahkan kepada seorang perempuan yang telah memiliki anak.

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan” (QS. Al-Baqarah: 233)

Hukum asal perintah adalah wajib. Oleh karena itu, secara asal menyusui adalah wajib bagi seorang ibu. Ibu akan mendapat pahala jika melakukannya dan akan berdosa jika meninggalkannya tanpa ada sebab syar’i.

Karena menyusui juga termasuk ibadah, maka hendaklah seorang ibu meniatkan diri untuk beribadah ketika hendak menyusui. Menata ulang niat akan membantu ibu melalui momen menyusui ini dengan lebih ringan. Menyusui dalam kurun waktu yang tidak sebentar bisa jadi akan membuat ibu mengalami berbagai kendala. Oleh karena itu, dengan mengingat bahwa menyusui adalah perintah khusus yang tidak Allah beri kepada setiap perempuan, hendaklah ibu berbahagia karena diberi kesempatan melakukan salah satu ladang ibadah ini.

Fenomena Menyusui Zaman Ini

Sungguh disayangkan, banyak ibu di zaman ini yang menyusui hanya sekadar memenuhi kebutuhan perut anaknya. Para ibu tersebut menyusui tanpa berkesadaran. Betapa banyak ibu yang menyusui sambil bermain handphone? Betapa banyak ibu yang menyusui hanya agar anaknya tidak rewel? Betapa banyak ibu yang menyusui agar anaknya segera tidur? Betapa banyak ibu yang merasa jadi tidak bisa bebas beraktivitas karena anaknya yang terus-terusan minta disusui?

Dan sangat disayangkan, banyak ibu yang menyusui hanya untuk memenuhi tuntutan sosial. Mereka menyusui agar tidak dicap sebagai ibu yang gagal, untuk membuktikan pada masyarakat bahwa ASI nya lancar, untuk menunjukkan bahwa berat badannya bisa segera kembali ideal, atau untuk tendensi-tendensi duniawi lainnya. Naudzu billahi mindzalik.

Tarbiyah Anak Ketika Menyusui

Padahal, jika kita renungkan, menyusui adalah momen bonding antara ibu dan anak. Ini adalah momen yang tepat untuk memberi tarbiyah kepada anak sejak dini. Momen untuk memberi nasihat-nasihat terbaik kepada anak walau mungkin anak belum memahami bahasa yang digunakan sang ibu. Karena pada momen ini, secara asal, anak bisa merasakan kelembutan ibunya.

فَإِنَّ الرِّفْقَ لَمْ يَكُنْ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ نُزِعَ مِنْ شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ شَانَهُ

“Sesungguhnya tidaklah lemah lembut itu ada pada sesuatu, kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan memperkeruhnya.” (HR. Abu Dawud)

Bukankah nasihat akan mudah dipahami dan diterima ketika tenang? Sebagaimana kita tahu, menyusui adalah momen yang membuat anak tenang dan nyaman. Contoh nasihat yang bisa ibu berikan kepada anak: “Nak, bertauhidlah kepada Allah hingga akhir hayat ya. Beribadahlah kepada Allah dengan ikhlas dan ikutilah jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain nasihat, momen menyusui juga bisa menjadi momen mencontohkan kebiasan-kebiasaan baik kepada anak. Ketika menyusui dan adzan berkumandang, seorang ibu bisa mentarbiyah anaknya dengan mencontohkan menjawab adzan. Selain itu, ibu juga bisa mengajak anak berdoa di waktu mustajab antara adzan dan iqamah. Anak mungkin memang belum paham apa yang dikatakan ibunya, tetapi membangun kebiasaan baik ini tentu dibutuhkan sang anak. Contoh doa yang bisa ibu ajarkan kepada anaknya adalah sebagai berikut: “Ya Allah, terima kasih telah memberi adik rezeki berupa ASI. Jadikanlah ASI ini bermanfaat untuk adik Ya Allah.”

Ketika ibu menyusui dan datang waktu untuk dzikir pagi atau petang, ibu bisa membaca dzikir tersebut dengan menyuarakannya. Harapannya si kecil terbiasa mendengar lafadz-lafadz dzikir sejak bayi. Pun demikian dengan bacaan Al-Qur’an, sang ibu bisa membaca Al-Qur’an ketika menyusui. Hendaklah ibu memberi tahu anak terlebih dahulu sebelum dzikir atau membaca Al-Qur’an. “Ibu baca dzikir dulu ya. Adik dengarkan ibu ya.” Ucapkan itu sambil melihat wajah anak.

Jangan Sekedar Menyusui

Jika hari ini para ibu menyusui anaknya hanya karena mengikuti kebiasaan di masyarakat, semoga dengan membaca tulisan ini para ibu semakin berkesadaran bahwa menyusui adalah ladang ibadah yang juga bisa dijadikan momen untuk mentarbiyah anak. Semoga kita senantiasa dimudahkan menata kembali mindset kita bahwa segala sesuatu dapat menjadi pahala jika diniatkan dengan benar dan dilakukan sesuai dengan syari’at.

—

Penulis: Rahma Aziza Fitriana

Sumber: https://muslimah.or.id/17362-menyusui-sebagai-momen-tarbiyah.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Orang Tua yang Lalai Memperhatikan Anak

Soal:
Jelaskan beberapa efek negatif yang timbul dikarenakan kedua orang tua sibuk hingga tidak sempat memperhatikan pendidikan agama anak-anak mereka!

Jawab:
Termasuk faktor terbesar yang menyebabkan terjadinya dekadensi moral pada anak-anak dan terbentuknya kepribadian yang buruk pada diri mereka adalah kurangnya perhatian kedua orang tua untuk mengajarkan akhlak yang mulia kepada si anak dan dikarenakan kesibukan mereka hingga tidak ada kesempatan untuk mengarahkan dan mendidik anak-anaknya. Apabila seorang ayah tidak lagi peduli terhadap tanggung jawabnya untuk mengarahkan dan mendidik serta mengawasi anak-anaknya, dan dikarenakan faktor tertentu, si ibu kurang menunaikan kewajibannya dalam mendidik si anak maka tidak diragukan lagi si anak akan tumbuh seperti anak yatim yang tidak memiliki orang tua, ia hidup bagai sampah masyarakat, bahkan suatu saat akan menjadi penyebab terjadinya kerusakan dan kejahatan di tengah-tengah umat. Kecuali Allah Ta’ala menginginkan hal lain. Semoga Allah merahmati orang yang mengatakan,

“Anak yatim bukanlah anak yang ditinggal mati oleh kedua orang tua hingga ia menjadi miskin. Akan tetapi, anak yatim yang sebenarnya ialah seorang anak yang menemukan ibunya yang kurang mendidiknya dan menemukan ayah yang sibuk dengan pekerjaannya.” (baca kitab Tarbiyatu al-Aulaad Fii al-Islaam halaman 103-104)

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang tidak mengajarkan hal-hal yang bermanfaat kepada anaknya dan membiarkan begitu saja, berarti dia telah mendurhakai anaknya. Betapa banyak anak-anak yang rusak dikarenakan ulah ayah-ayah mereka sendiri yang membiarkan mereka begitu saja, tidak mengajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah dalam agama Islam yang harus ia kerjakan. Mereka telah menyia-nyiakan anak mereka sewaktu kecil, sehingga mereka tidak bermanfaat untuk diri mereka sendiri dan mereka pun tidak bisa memberikan manfaat sedikit pun disaat orang tuanya sudah lanjut usia. Sebagaimana celaan sebagian orang tua yang dilontarkan kepada anaknya dan si anak menjawab, “Wahai ayahku, sesungguhnya engkau telah mendurhakaiku di saat aku masih kecil, maka setelah besar aku pun mendurhakaimu. Engkau telah menyia-nyiakanku sewaktu aku masih kecil maka aku pun menyia-nyiakan engkau ketika engkau sudah lanjut usia.”

Sesungguhnya kepedulian kedua orang tua tidak hanya terbatas memberikan pengajaran kepada mereka. Akan tetapi, mereka harus dibimbing dan dibantu dalam mempraktekkan bagaimana cara berbakti kepada kedua orang tuanya, tentu dengan cara dan perlakuan terbaik. Akan tetapi, jika orang tua tidak peduli akan pendidikan akhlak mereka maka si anak akan menjadi duri bagi kedua orang tuanya, karena berbakti kepada kedua orang tua merupakan sifat yang tidak akan muncul begitu saja tanpa melalui pengajaran. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa karena ia telah menyia-nyiakan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.” (HR. An-Nasa’i dan Al-Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Penyia-nyiaan anak yang paling parah adalah membiarkannya begitu saja tanpa diberi pendidikan dan tidak mengajarkannya adab islam.

Diketik ulang Ensiklopedi Anak Tanya Jawab Tentang Anak Dari A Sampai Z Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad Al-Isawi Darus Sunnah Press.

Sumber: https://muslimah.or.id/1175-orang-tua-yang-lalai-memperhatikan-anak.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Al-Quran dan Musik Tidak Bisa Bersatu

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah

حب الكتاب وحب ألحان الغناء … في قلب عبد ليس يجتمعان

“Cinta Al-Quran dan cinta musik lagu tidak akan berkumpul di hati seorang hamba” (Nuniyyah Ibnul Qayyim Hal.368)

Karenanya bagi seseorang yang ingin dekat dgn Al-Quran, ingin menjadikan alQuran sebagai pedoman hidupnya
Terlebih ingin menghapalkan al-Quran

Maka ia berusaha meninggalkan musik dan tidak mendengarkan musik

Bahkan ketika musik terdengar secara tidak sengaja bisa jadi dia segera berpaling meninggalkan tempat tersebut
Atau menutup telinga dan mengingkari dalam hati

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menutup telinga ketika mendengarkan musik seruling

Nafi Maula ibnu Umar berkata,

سمعَ ابنُ عُمرَ مِزمارًا فوضعَ أصبُعَيْهِ في أذُنَيْهِ، وَنَأَى عَن الطَّريقِ وقالَ لي: يا نافعُ هل تسمَعُ شَيئًا ؟ قلتُ: لا، فرَفعَ أصبُعَيْهِ مِن أذُنَيْهِ وقالَ: كُنتُ معَ النَّبيِّ – صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ – وسمعَ مثلَ هذا وصنعَ مِثلَ هذا

Ibnu Umar mendengar suara seruling lalu ia meletakkan dua telunjuknya di telinganya dan menjauh dari jalan. Ia berkata kepadaku, “Hai Nafi apakah kamu masih mendengarnya?” Aku berkata, “Tidak.” Maka ia melepas jarinya dari telinganya dan berkata, “Dahulu aku bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam dan beliau mendengar sama dengan yang aku dengar dan beliau melakukan seperti apa yang aku lakukan.” (HR Abu Dawud no 4924)

Asuhan dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://muslimafiyah.com/al-quran-dan-musik-tidak-bisa-bersatu.html

Kaya Hati, Itulah Kaya Senyatanya

Orang kaya pastikah selalu merasa cukup? Belum tentu. Betapa banyak orang kaya namun masih merasa kekurangan. Hatinya tidak merasa puas dengan apa yang diberi Sang Pemberi Rizki. Ia masih terus mencari-cari apa yang belum ia raih. Hatinya masih terasa hampa karena ada saja yang belum ia raih.

Coba kita perhatikan nasehat suri tauladan kita. Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Inilah nasehat dari suri tauladan kita. Nasehat ini sungguh berharga. Dari sini seorang insan bisa menerungkan bahwa banyaknya harta dan kemewahan dunia bukanlah jalan untuk meraih kebahagiaan senyatanya. Orang kaya selalu merasa kurang puas. Jika diberi selembah gunung berupa emas, ia pun masih mencari lembah yang kedua, ketiga dan seterusnya. Oleh karena itu, kekayaan senyatanya adalah hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Itulah yang namanya qona’ah. Itulah yang disebut dengan ghoni (kaya) yang sebenarnya.

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Hakikat kekayaan sebenarnya bukanlah dengan banyaknya harta. Karena begitu banyak orang yang diluaskan rizki berupa harta oleh Allah, namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang diberi. Orang seperti ini selalu berusaha keras untuk menambah dan terus menambah harta. Ia pun tidak peduli dari manakah harta tersebut ia peroleh. Orang semacam inilah yang seakan-akan begitu fakir karena usaha kerasnya untuk terus menerus memuaskan dirinya dengan harta. Perlu dikencamkan baik-baik bawa hakikat kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati (hati yang selalu ghoni, selalu merasa cukup). Orang yang kaya hati inilah yang selalu merasa cukup dengan apa yang diberi, selalu merasa qona’ah (puas) dengan yang diperoleh dan selalu ridho atas ketentuan Allah. Orang semacam ini tidak begitu tamak untuk menambah harta dan ia tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk terus menambahnya. Kondisi orang semacam inilah yang disebut ghoni (yaitu kaya yang sebenarnya).”

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah menerangkan pula, “Orang yang disifati dengan kaya hati adalah orang yang selalu qona’ah (merasa puas) dengan rizki yang Allah beri. Ia tidak begitu tamak untuk menambahnya tanpa ada kebutuhan. Ia pun tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk mencarinya. Ia tidak meminta-minta dengan bersumpah untuk menambah hartanya. Bahkan yang terjadi padanya ialah ia selalu ridho dengan pembagian Allah yang Maha Adil padanya. Orang inilah yang seakan-akan kaya selamanya.

Sedangkan orang yang disifati dengan miskin hati adalah kebalikan dari orang pertama tadi. Orang seperti ini tidak pernah qona’ah (merasa pus) terhadap apa yang diberi. Bahkan ia terus berusaha kerus untuk menambah dan terus menambah dengan cara apa pun (entah cara halal maupun haram). Jika ia tidak menggapai apa yang ia cari, ia pun merasa amat sedih. Dialah seakan-akan orang yang fakir, yang miskin harta karena ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah diberi. Oran inilah orang yang tidak kaya pada hakikatnya.

Intinya, orang yang kaya hati berawal dari sikap selalu ridho dan menerima segala ketentuan Allah Ta’ala. Ia tahu bahwa apa yang Allah beri, itulah yang terbaik dan akan senatiasa terus ada. Sikap inilah yang membuatnya enggan untuk menambah apa yang ia cari.”

Perkataan yang amat bagus diungkapkan oleh para ulama:

غِنَى النَّفْس مَا يَكْفِيك مِنْ سَدّ حَاجَة فَإِنْ زَادَ شَيْئًا عَادَ ذَاكَ الْغِنَى فَقْرًا

“Kaya hati adalah merasa cukup pada segala yang engkau butuh. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari, maka itu berarti bukanlah ghina (kaya hati), namun malah fakir (miskinnya hati).”[1]

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Kaya yang terpuji adalah kaya hati, hati yang selalu merasa puas dan tidak tamak dalam mencari kemewahan dunia. Kaya yang terpuji bukanlah dengan banyaknya harta dan terus menerus ingin menambah dan terus menambah. Karena barangsiapa yang terus mencari dalam rangka untuk menambah, ia tentu tidak pernah merasa puas. Sebenarnya ia bukanlah orang yang kaya hati.”[2]

Namun bukan berarti kita tidak boleh kaya harta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

“Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari sini bukan berarti kita tercela untuk kaya harta, namun yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qona’ah) dengan apa yang Allah beri. Padahal sungguh beruntung orang yang punya sifat qona’ah. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054)

Sifat qona’ah dan selalu merasa cukup itulah yang selalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minta pada Allah dalam do’anya. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يقول : (( اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina” (Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina).” (HR. Muslim no. 2721). An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “”Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.”[3]

Saudaraku … milikilah sifat qona’ah, kaya hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Semoga Allah menganugerahkan kita sekalian sifat yang mulia ini.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Panggang-GK, 1 Jumadits Tsani 1431 H (14/05/2010)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Majalah Pengusaha Muslim, dipublish ulang oleh www.rumasyho.com


[1] Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 11/272, Darul Ma’rifah.

[2] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, 7/140, Dar Ihya’ At Turots.

[3] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/41

Sumber https://rumaysho.com/1023-kaya-hati-itulah-kaya-senyatanya.html

Hindari Menggunakan Kata “Anjay” dan Turunan Semisalnya

Banyak sumber mengatakan bahwa kata “anjay” itu merupakan umpatan baik digunakan secara halus untuk teman yang sudah akrab maupun untuk mengumpat secara umum, karena kaya “anjay” berasal dari (mohon maaf) kata “anjing” yang memang sudah terkenal secara bahasa dan adat adalah kata yang digunakan untuk mengumpat.

Apabila ini benar, tidak layak bagi muslim ikut-ikutan mengumpat seperti ini.

Allah berfirman,

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela” (QS. Al Humazah: 1)

Apabila ada versi lain yang mengatakan bahwa “Anjay” ini bukan untuk mengumpat atau telah mengalami pergeseran makna menjadi ungkapan kagum, maka tidak selayaknya seorang muslim ikut-ikutan, meninggalkan hal yang diperselisihkan lebih baik. Lebih baik lagi apabila kita membiasakan doa dan dzikir dalam perkataannya. Jika kagum kita mendoakan “barakallahu fik”, “masyaallah”, atau dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar yang lebih menunujukkan kesopanan dan kedekatan

Semoga bermanfaat

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber : https://muslimafiyah.com/hindari-menggunakan-kata-anjay-dan-turunan-semisalnya.html