Rezeki Sudah Ditetapkan Ketika Dalam Rahim Ibu
Rezeki kita sudah ditetapkan ketika kita berada dalam rahim ibu. Bagaimana memahaminya?
Perhatikan hadits berikut ini.
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا
Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan, “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani (nuthfah) selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah (‘alaqah) selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging (mudhgah) selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan diperintahkan untuk ditetapkan empat perkara, yaitu rezekinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain-Nya. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta. Akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta. Akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.” (HR. Bukhari, no. 6594 dan Muslim, no. 2643)
Faedah Hadits
- Pembentukan manusia dalam rahim mulai dari nuthfah (setetes mani), ‘alaqah (segumpal darah), mudhgah (segumpal daging) masing-masing selama 40 hari.
- Jumhur (kebanyakan ulama) menyatakan bahwa wajib berpegang dengan ketetapan yang disebutkan dalam hadits. Namun bisa terjadi perbedaan jumlah hari dalam pembentukan tadi dikarenakan ada yang terjadi di awal atau akhir hari, di awal atau di akhir malam.
- Manusia mengalami tahapan 120 hari (4 bulan) dalam tiga tahapan yaitu nuthfah, ‘alaqah lalu mudghah.
- Ruh ditiupkan setelah 120 hari.
- Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa janin boleh digugurkan jika belum mencapai 120 hari karena ruh belum ditiupkan. Sedangkan ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa boleh menggugurkan di bawah 40 hari dengan menggunakan obat yang mubah. Adapun jika melewati 40 hari masa kehamilan tidaklah dibolehkan dikarenakan sudah terbentuk segumpal darah. Dalam hadits dari Abu Hudzaifah disebutkan, “Jika sudah terbentuk nuthfah setelah 42 hari, maka Allah akan mengutus malaikat untuk membentuk nuthfah tersebut sehingga terbentuk pendengaran, penglihatan, kulit, daging dan tulang.” (HR. Muslim, no. 2645). Ulama Malikiyah sendiri berpandangan bahwa kandungan tidak boleh digugurkan setelah terbentuk nuthfah (bercampurnya sel sperma dan sel telur) walau lewat satu hari. Karena ketika itu telah dimulainya kehidupan dan wajib dimuliakan. Pendapat terakhir ini yang lebih kuat, menggugurkan hanya boleh jika darurat saja karena alasan yang dibenarkan dari pakarnya.
- Imam Ahmad berpendapat bahwa jika keguguran setelah 4 bulan (120 hari), maka janin dishalatkan, dikafani dan dikuburkan. Sedangkan ulama lainnya seperti Syafi’iyah berpandangan bahwa mesti menunggu sampai bayi tersebut lahir. Karena jika janin gugur dalam kandungan, maka tidak dianggap manusia sehingga tidak perlu dishalatkan. Namun pendapat pertama dari Imam Ahmad itulah yang lebih kuat.
- Hanya Allah yang mengetahui apa yang terjadi dalam rahim. Ini bukan berarti dokter tidak bisa mengetahui janin tersebut laki-laki ataukah perempuan. Namun dokter tidak bisa mengungkapkan secara detail apa yang ada dalam rahim sampai perihal takdirnya.
- Rezeki, ajal, amal, bahagia ataukah sengsara dari setiap manusia sudah diketahui, dicatat, dikehendaki dan ditetapkan oleh Allah.
- Rezeki sudah ditetapkan bukan berarti manusia tidak perlu bekerja dan berusaha. Manusia diketahui takdirnya oleh Allah, bukan berarti manusia tidak punya pilihan. Sama juga dengan jodoh sudah ditetapkan bukan berarti tidak perlu mencari jodoh lalu tunggu jodoh datang dengan sendirinya. Logikanya, kalau akan kena musibah, seseorang akan berusaha menyelematkan diri. Begitu pula dalam hal seseorang mencuri harta orang lain, tidak boleh ia beralasan dengan takdir, “Ini sudah jadi takdir saya.” Karena orang berakal tidak mungkin beralasan seperti itu. Ia mencuri pasti karena pilihannya.
- Amalan merupakan sebab seseorang untuk masuk surga. Dalam hadits disebutkan, “Seseorang tidaklah masuk surga kecuali sebab amalnya.” (HR. Bukhari, no. 5673 dan Muslim, no. 2816). Jadi masuk surga bukanlah karena gantian dari amal kita. Namun karena sebab amal, datang rahmat Allah yang membuat kita bisa masuk surga. Dalam ayat disebutkan pula (yang artinya), “Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Az-Zukhruf: 72)
- Apakah kita bahagia ataukah sengsara kelak di akhirat sudah diketahui dalam takdir.
- Bahagia ataukah sengsara tergantung dari amalan akhir seseorang itu seperti apa.
- Ada orang yang beramal dengan amalan penduduk surga menurut pandangan manusia, namun akhir hidupnya adalah suul khatimah (akhir jelek). Ada juga manusia yang dianggap hina oleh orang-orang sekitarnya karena dosanya begitu banyak. Namun ia tutup hidupnya dengan taubat, sehingga ia mati husnul khatimah (mati baik) dan akhirnya masuk surga.
- Untuk meraih husnul khatimah (akhir hidup yang baik) ada cara yang bisa ditempuh: (a) Perbanyak doa siang dan malam. Di antara doa yang bisa terus dipanjatkan, ‘YAA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII ‘ALAA DIINIK’ (Artinya: Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu); (b) Memperbanyak amalan ketaatan dan setiap amalan ketaatan akan mewariskan amalan ketaatan selanjutnya; ingat yang dinilai adalah akhir amal kita; (c) Menjauhkan diri dari kemunafikan; (d) Berusaha meninggalkan maksiat karena maksiat adalah sebab suul khatimah.
Semoga bermanfaat.
Moga takdir kita semunya baik dan kita dimatikan dalam keadaan HUSNUL KHATIMAH.
Referensi:
Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah Al-Mukhtashar. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. hlm. 44-53
—-
Disusun @ Perpus Rumaysho Darush Sholihin, 1 Dzulqa’dah 1438 H
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
sumber: https://rumaysho.com/16173-rezeki-sudah-ditetapkan-ketika-dalam-rahim-ibu.html
Membuka Aib Sendiri Setelah Sebelumnya Allah Tutup
Membuka Aib Sendiri Setelah Sebelumnya Allah Tutup
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Segala puji hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla. Sholawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi was sallam kepada istri-istri beliau dan seluruh sahabatnya Ridwanullah alaihim ajma’in.
Sudah menjadi fitrah dasar setiap insan yang jiwanya masih lurus/hanif, bahwa setiap orang enggan aibnya dibuka oleh orang lain. Namun manusia dengan segala bentuk kedzolimannya pada diri-diri mereka sendiri tak jarang melakukan sebuah perbuatan yang sebenarnya tidak ia sukai apabila fitrahnya masih bersih dari noda dosa-dosa. Maka benarlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung–gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzolim dan amat bodoh”. (QS. Al Ahzab [33] : 72).
Penulis Tafsir Jalalain menafsirkan yang dimakasu dengan amanah (الْأَمَانَةَ) dalam ayat di atas adalah “(semisal) Sholat-sholat dan kewajiban lainnya yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila ditinggalkan mendapatkan dosa/hukuman”[1].
Bahkan Allah Azza wa Jalla menyifati manusia dengan sebuah sifat mendzolimi dirinya sendiri sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَمَا ظَلَمُونَا وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. (QS. Al Baqoroh [2] : 57).
Diantara kedzoliman dan kebodohan manusia terhadap dirinya sendiri adalah ia membuka aibnya padahal sebelumnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menutupnya. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Al Bukhori dan Muslim dalam kitab shohih keduanya,
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيْزِ بْنِ عَبْدِ اللهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيْمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ ابْنِ أَخِي ابْنِ شِهَابٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ
: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ ( كُلُّ أُمَّتِيْ مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِيْنَ وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهِرِةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِالْلَيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهَ اللهُ فَيَقُوْلُ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وُيُصْبِحُ يَكْشِفُ سَتَرَ اللهُ عَنْهُ)
Telah mengabarkan kepada kami Abdul ‘Aziz bin Abdullah, telah mengabarkan kepada kami Ibrohim bin Sa’d dari anak saudaraku Ibnu Syihab dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah, dia mengatakan, “Aku mendengar Abu Huroiroh mengatakan, “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Setiap ummatku akan mendapatkan ampunan dari Allah Azza wa Jalla kecuali al Mujaahiriin yaitu semisal ada seorang laki-laki yang mengerjakan sebuah perbuatan (buruk –ed.) pada malam hari kemudian ia menjumpai waktu subuh dan Allah telah menutupi aibnya (berupa perbuatan buruk – ed.). Lalu laki-laki tersebut mengatakan, “Wahai Fulan, aku telah mengerjakan sebuah perbuatan buruk/jelek ini dan itu”. “Maka itulah orang yang malamnya Allah telah menutup aibnya lalu ia membuka aibnya sendiri di waktu subuh (keesokan harinya –ed.)”[2].
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,
“Al Mujaahiriin adalah orang-orang yang menunjukkan bahwa ia telah berbuat maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Orang-orang ini terbagi menjadi dua golongan :
[1]. Orang yang melakukan perbuatan maksiat dan ia menunjukkan perbuatannya tersebut dihadapan manusia dan manusia yang lain pun melihatnya. Yang demikian ini tidaklah kita ragukan lagi bahwa mereka termasuk golongan Al Mujaahiriin dan tidak akan mendapat ampunan dari Allah ‘Azza wa Jalla.
[2]. Orang yang melakukan perbuatan maksiat secara sembunyi-sembunyi missal di waktu malam kemudian Allah menutup aibnya tersebut, atau seseorang yang melakukan maksiat di rumahnya sendiri kemudian Allah menutup aibnya tersebut sehingga manusia lainnya tidak dapat melihatnya sehingga seandainya ia bertaubat kepada Allah maka jelas hal itu akan baik baginya. Namun ketika ia menemui hari berikutnya dan bertemu dengan orang lain dia mengatakan, “Aku telah melakukan perbuatan maksiat ini dan itu” maka orang yang demikian ini termasuk orang yang tidak akan dimaafkan Allah Subhana wa Ta’ala dosa-dosanya. Orang ini termasuk Al Mujaahirin padahal sebelumnya telah Allah tutup aibnya.
Hal di atas tidaklah muncul melainkan karena dua sebab :
[1]. Dia menceritakannya karena lupa dan tidak sengaja sehingga ia menceritakan keburukannya itu dengan hati yang tidak berniat dengan niat yang buruk (semisal ingin berbangga bangga dengan maksiatnya –ed.).
[2]. Dia menceritakannya karena ingin membanggakan perbuatan maksiatnya sehingga ketika ia menceritakannya dengan semangat (dia merasa) seolah-olah ia telah mendapatkan ghonimah (harta rampasan perang) maka jenis ini adalah jenis yang paling buruk diantara dua penyebab di atas”[3].
Bahkan kita katakana bahwa orang yang termasuk al Mujaahiriin ini mendapatkan ancaman khusus dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,
وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ
“Barangsiapa yang menunjukkan dalam islam sebuah jalan keburukan (menjadi contoh buruk) maka baginya dosa perbuatannya tersebut dan dosa orang-orang yang mengikuti perbuatannya setelahnya tanpa dikurangi sedikit pun”[4].
Maka cukuplah dua ancaman besar ini membuat kita jera untuk menceritakan keburukan-keburukan kita yang telah ditutupi oleh Allah ‘Azza wa Jalla.
Mudah-mudahan kita tidak temasuk orang-orang yang Al Mujaahiriin. Amin
Sigambal,
Selepas Isya,
17 Shafar 1433 H/ 11 Januari 2012 M
Aditya Budiman bin Usman
[1] Lihat Tafsir Jalalin oleh Jalaluddin Al Mahalliy dan Jalaluddin As Suyuthiy dengan tahqiq Shofiyurrohman Al Mubarokfuriy hal. 15 terbitan Darus Salam, Riyadh, KSA
[2][2] HR. Bukhori no. 6069 dan Muslim no. 2990.
[3][3] Diringkas dari Kitab Syarh Riyadhus Sholihin oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin hal. 120-121/II terbitan Darul Aqidah, Kairo, Mesir.
[4] HR. Muslim no. 1017.
sumber : https://alhijroh.com/adab-akhlak/membuka-aib-sendiri-setelah-sebelumnya-allah-tutup/
Salah Satu Penyebab NPD (Narcissistic Personality Disorder) #shorts
Menjadi Muslim yang Kuat
Segala puji bagi Allah Ta’ala yang dengan karunia dan rahmat-Nya memuliakan hamba-hamba beriman dengan petunjuk Al-Qur’an dan sunah Nabi Muhammad ﷺ. Salah satu keutamaan besar yang Allah anugerahkan adalah kemampuan seorang hamba untuk bertumbuh, menguat, dan menjadi pribadi yang matang secara ruhani, akhlak, dan tanggung jawab. Setiap Muslim diperintahkan untuk berbuat ihsan, memaksimalkan diri, dan menempuh jalan yang benar menuju kedewasaan iman.
Di tengah zaman yang penuh kemudahan namun juga melemahkan mental, banyak pemuda Muslim mencari cara agar dapat menjadi pribadi yang kuat, tegar, dan matang dalam waktu relatif cepat. Bukan kuat secara fisik semata, tetapi kuat akidahnya, ibadahnya, karakternya, dan cara berpikirnya.
Ada beberapa prinsip penting yang dapat mempercepat proses penguatan jiwa dan akhlak seorang muslim. Prinsip-prinsip ini berakar pada tuntunan syariat dan teladan Nabi ﷺ dalam membangun karakter generasi terbaik. Di antara prinsip tersebut adalah berani mengambil risiko dengan bertawakal kepada Allah, berguru kepada guru yang lurus dan berpengalaman, serta menempuh perjalanan (safar) sebagai sarana penggemblengan mental.
Mengambil risiko dengan tawakal kepada Allah
Pertama, seorang Muslim harus berani mengambil risiko dalam hidup selama berada dalam ketaatan kepada Allah. Risiko di sini merupakan keberanian untuk melangkah meski hasil masih gaib dan tidak pasti. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)
Saudaraku, ketidakpastian bukan alasan untuk berhenti bergerak. Seorang Muslim justru diuji pada saat ia tidak mengetahui hasil akhir. Dalam kehidupan Nabi ﷺ, terdapat banyak momen ketika beliau ﷺ bertindak sebelum mengetahui hasil, seperti saat berhijrah, berdakwah secara terang-terangan, dan menghadapi berbagai ancaman. Semua dilakukan dengan tawakal, bukan menunggu kepastian hasil.
Ketakutan terhadap hal yang belum diketahui sering membuat sebagian orang terjebak dalam analysis paralysis. Mereka menunda, menimbang terlalu lama, dan akhirnya tidak bergerak sama sekali. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda,
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باِللهِ
“Jika engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2561, hasan shahih)
Hadis ini menunjukkan bahwa keberanian seorang hamba lahir dari keyakinan kepada Allah, bukan dari kepastian duniawi. Melangkah sambil berdoa dan berusaha adalah bentuk ibadah.
Selain itu, risiko sering kali mengantarkan seseorang kepada kegagalan. Namun, kegagalan adalah bagian dari takdir yang membawa hikmah. Allah berfirman,
وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Oleh karenanya, hal yang penting untuk kita camkan pada diri sendiri bahwa kegagalan tidak boleh menghancurkan iman, tetapi justru memperkuat tawakal dan kerendahan hati seorang Muslim.
Pentingnya memiliki guru
Kedua, setiap Muslim yang ingin tumbuh dengan cepat membutuhkan seorang guru atau mentor. Belajar kepada orang berilmu adalah prinsip dasar yang tidak pernah berubah. Allah Ta’ala berfirman,
فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)
Seorang mentor bukanlah orang yang sekadar fasih berbicara, tetapi seseorang yang memiliki pengalaman, hikmah, dan istikamah. Di antara keutamaan belajar kepada guru/ulama adalah bahwa mereka menunjukkan aplikasinya sesuai pemahaman para salaf. Inilah yang dimaksud oleh sebagian ulama: ilmu itu diwariskan, bukan hanya dipelajari dari buku.
Para ulama klasik maupun kontemporer menekankan pentingnya duduk bersama guru karena keberkahan ilmu hadir melalui talaqqi (belajar langsung).
Cahaya itu tidak dapat diperoleh hanya dengan membaca, tetapi dengan bimbingan seorang guru yang mengarahkan. Pengalaman para da’i yang pernah belajar di kota-kota ilmu seperti Madinah dan Mekkah menunjukkan betapa seorang Syekh dengan hafalan kuat dan akhlak mulia dapat membantu muridnya memahami agama lebih tepat dan lebih cepat.
Selain itu, penting pula memiliki mentor yang memahami konteks lokal. Ilmu agama itu satu, tetapi penerapannya memiliki rincian sesuai tempat dan kondisi. Seorang guru yang memahami realitas sosial dan budaya muridnya, dia akan mampu memberikan nasihat yang relevan, bukan sekadar teoritis. Dari sinilah seorang Muslim tumbuh lebih matang dalam memahami urusan hidupnya.
Madrasah kehidupan yang membentuk kedewasaan
Ketiga, safar (perjalanan) adalah salah satu sarana terbaik untuk mempercepat kematangan jiwa. Nabi ﷺ bersabda,
السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ ، فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ
“Safar adalah bagian dari azab (siksa). Ketika safar, salah seorang dari kalian akan sulit makan, minum, dan tidur. Jika urusannya telah selesai, bersegeralah kembali kepada keluarganya.” (HR. Bukhari no. 1804 dan Muslim no. 1927)
Kesulitan itulah yang mendewasakan. Safar mengajarkan seseorang untuk bersabar, bertawakal, mengelola stres, berinteraksi dengan budaya baru, dan menghadapi keadaan yang tidak terduga. Setiap perjalanan membuka wawasan bahwa dunia ini luas dan manusia beragam.
Setiap momen dalam safar — kehilangan barang, tersesat, menghadapi cuaca ekstrem, atau bertemu orang yang berbeda karakter — adalah pelajaran hidup. Kesulitan-kesulitan itu membuat seseorang lebih rendah hati, lebih tegar, dan lebih bersyukur kepada Allah Ta’ala.
Salah satu bentuk safar paling besar manfaatnya adalah haji dan umrah. Selain sebagai ibadah wajib/utama, perjalanan ini melatih keikhlasan, kesabaran, kepemimpinan, serta kemampuan melindungi keluarga atau rombongan. Seorang lelaki Muslim akan diuji dalam menjaga adab, mengelola kelelahan, dan menyelesaikan masalah tanpa banyak fasilitas.
Safar juga membuat seseorang memahami bahwa dunia tidak berputar di sekelilingnya. Ketika melihat orang yang hidup tanpa listrik atau air bersih namun tetap bahagia, seorang Muslim akan menyadari betapa banyak nikmat yang selama ini ia tidak syukuri.
Menggabungkan ketiganya untuk menjadi Muslim yang kuat
Mengambil risiko, berguru kepada mentor, dan melakukan safar adalah tiga komponen pembentuk jiwa yang saling melengkapi. Risiko melatih keberanian dan tawakal. Mentor memberikan arah agar tidak tersesat. Safar memperkuat mental dan memperluas wawasan.
Nabi ﷺ bersabda,
اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ
“Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim no. 2664)
Kekuatan yang dimaksud ulama adalah kekuatan iman, ketegasan karakter, ketangguhan menghadapi cobaan, dan kemauan untuk menapaki jalan kebaikan. Dengan tiga langkah ini, seorang Muslim dapat mencapai kedewasaan spiritual lebih cepat daripada sekadar menunggu pengalaman hidup datang dengan sendirinya.
Pada akhirnya, semua proses ini harus dibingkai dengan niat yang ikhlas. Tidak ada gunanya menjadi kuat secara mental atau fisik jika tidak diarahkan untuk ibadah kepada Allah. Langkah-langkah ini juga harus ditempuh dengan doa, muhasabah, dan komitmen menjaga amal-amal dasar: salat, tilawah, zikir pagi–petang, dan menjauhi maksiat.
Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang kuat, tawakal, dan bermanfaat bagi umat. Aamiin.
***
Penulis: Fauzan Hidayat
Sumber: https://muslim.or.id/111182-menjadi-muslim-yang-kuat.html
[Kitabut Tauhid 9] 28 An-Nusyrah 01
Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;
- Ada 4 (empat) larangan yang terkait dengan perdukunan; yaitu : (1) larangan mendatangi dukun, (2) larangan bertanya kepada dukun, (3) larangan mempercayai dukun, kemudian (4) larangan meminta perdukunan dan melakukan praktek perdukunan.
- Upah atau hasil dari perdukunan hukumnya haram; sama dengan haramnya hasil penjualan anjing dan pelacuran, tidak ada bedanya.
Play Video
“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“
Pentingnya Keikhlasan Dalam Seluruh Amal Ibadah
PENTINGNYA KEIKHLASAN DALAM SELURUH AMAL IBADAH
ومَا أُمِرُوْا إِلاَّلِيَعْبُدُاللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…[Al-Bayyinah/98 : 5]
Segala Puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam Shalawat dam salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad Shalalllahu ‘alaihi wa sallam Pembawa risalah yang haq ini sebagai rahmat bagi semesta alam kepada keluarganya para shahabatnya dan orang-orang yang setia mengikuti jejaknya hingga akhir zaman.
Berikut ini adalah pembahasan secara singkat hal-hal yang berkaitan dengan pentingnya “keikhlasan” dalam seluruh amalibadah. Sesungguhnya perkara paling mendasar dan terpenting dalam dien ini adalah mengikhlaskan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap amal ibadah yang kita lakukan, hal itu sebagai syarat utama diterimanya amal ibadah. Ikhlas adalah termasuk amalan hati yang perlu mendapatkan perhatian “istimewa” (secara mendalam) dan dilakukan dengan cara “istimrar” (terus menerus) di setiap kita hendak melakukan amalibadah, agar amalan kita menjadi bernilai di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pentingnya Amalan Hati.
Telah kita ketahui bahwa pengertian iman menurut Ahlus Sunah adalah : Keyakinan dengan hati, ikrar dengan lisan, dan amalan dengan seluruh anggota badan, bertambah dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berkurang dengan perbuatan maksiat.
Perlu diketahui bahwa ikhlas adalah perkara terpenting dalam amalan hati, yang hal tersebut sangat erat hubungannya dengan pengertian iman tersebut di atas.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Amalan-amalan hati adalah termasuk pokok-pokok dari keimanan dan tonggak-tonggak agama Islam ini, seperti: mencintai Allah dan Rasul-Nya, bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengikhlaskan seluruh macam ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya dan berlaku sabar di atas hukum-hukum-Nya, khauf (perasaan takut kepada-Nya akan siksa atau adzab-Nya), raja (berharap) kepada-Nya…Semua amalan ini wajib atas seluruh makhluk berdasarkan kesepakatan para imam agama”.[1]
Ibnul Qayim juga menjelaskan keagungan amalan-amalan hati : Amalan–amalan hati ialah pokok adapun amalan–amalan anggota badan adalah pengikut dan penyempurna. Sesungguhnya niat sekedudukan dengan ruh, adapun amalan sekedudukan dengan jasad, sehingga apabila ruh telah terpisah dengan jasad maka binasalah. Oleh sebab itu mengetahui hukum – hukum hati lebih penting dari pada mengetahui hukum-hukum jasad.[2]
Hal inilah di antaranya yang mendorong kami untuk mengulas hal ini agar seluruh aktifitas kita sehari-hari tidak menemui kesia-siaan, yakni hampa, jauh dari berkah Allah atau Ramat-Nya, seolah-olah tiada nilainya aktifitas yang kita laksanakan setiap hari.
Niat berasal dari bahasa Arab, yang berarati tujuan. Sedangkan menurut istilah syara’ memiliki dua arti:
Ikhlash dalam beramal, yaitu semata-mata karena Allah, dan inilah yang sering dibicarakan oleh para Ulama ahli tauhid, suluk (perilaku) dan akhlak.
Membedakan antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lain, atau ibadah dengan kebiasaan. Istilah ini sering dipakai oleh ulama-ulama Fiqh.
Niat dipakai untuk membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan yang dilakukan oleh manusia), misalnya : Mandi, apabila dimaksudkan (niatkan) karena Allah semata untuk menghilangkan hadats besar (mandi junub misalnya) maka hal yang semacam itu akan menjadi ibadah, lain halnya apabila mandi semata-mata dimaksudkan untuk membersihkan badan atau mendapatkan kesegaran, maka hal itu menjadi adat (kebiasaan) saja.
Kemudian bahwa niat itu tempatnya di hati dan apabila di lafadzkan menjadi bid`ah.
Kedudukan Ikhlas.
Sesungguhnya ikhlas adalah hakekat dien dan kunci dakwah para rasul, yakni menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dan menjauhi thagut :
ومَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…[Al-Bayyinah/98: 5]
Yang dimaksud dengan ” (حُنَفَاءَ ) agama yang lurus” pada ayat di atas adalah terjauhkan dari perkara-perkara syirik dan menuju kepada tauhid. Di sinilah pentingnya ikhlash dalam selurus amal ibadah, agar amalan tersebut tidak sia-sia, dan tidak mendapat adzab dari Allah, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Kemudian bahwa pengaruh ikhlas terhadap amalan itu sangatlah besar, amal yang kecil dan sedikit jika dilakukan dengan ikhlas dapat memperoleh pahala yang besar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam perkara ini mengatakan: “Suatu jenis amalan yang dikerjakan oleh manusia dengan menyempurnakan keikhlasannya dan ketundukkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, terkadang Allah Subahnahu wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa besar dengan sebab amalan itu, sebagaimana hadits al-bithaqah (seorang yang memiliki satu kartu Laa ilaaha illa Allah, lalu diampuni dosa-dosanya sebanyak 99 lembaran catatan amal keburukan-red)…ini karena dia mengucapkan Laa ilaaha illa Allah dengan ikhlas dan jujur/benar, karena kalau tidak, maka para pelaku dosa besar yang masuk ke dalam neraka semuanya juga mengucapkan tauhid, tetapi perkataan mereka tidaklah lebih berat terhadap dosa-dosa mereka sebagaimana pemilik kartu (Laa ilaaha illa Allah) itu.”
Hadits pemilik kartu Laa ilaaha illa Allah itu, adalah sebagai berikut:
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَعَافِرِيِّ ثُمَّ الْحُبُلِيِّ قَال سَمِعْتُ عَبْدَ الهِb بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ الهَِ n إِنَّ اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلاً مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلاَّ كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَفَلَكَ عُذْرٌ فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً فَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الهُب وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَيَقُولُ احْضُرْ وَزْنَكَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ فَقَالَ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ قَالَ فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِي كَفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ فَلاَ يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ الهِق شَيْءٌ
Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu , dia berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah akan mengadili salah seorang laki-laki dari ummatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu ditunjukan kepada laki-laki tersebut 99 catatan (amal keburukan), setiap satu catatan panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan kepada laki-laki tersebut: ”Apakah kau ingkari dari semua ini (kedzaliman yang telah kau perbuat)? Apakah para malaikat-Ku pencatat dan penjaga amalan menzhalimimu? Laki-laki tersebut menjawab: “Tidak Ya Tuhanku!”. Lalu Allah berkata kepada laki-laki tersebut: “Apakah engkau punya alasan (berbuat kezhaliman itu)? Laki-laki tersebut menjawab: “Tidak Ya Tuhanku!”. Kemudian Allah berkata kepada laki-laki tersebut: “Ya benar, tetapi sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami, dan sesungguhnya tidak ada kedzaliman atasmu pada hari ini. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengeluarkan sebuah kartu kecil yang di dalamnya terdapat : Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhamadan ‘abduhu warasuluhu (Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya). Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada orang tersebut: “Datangkan timbanganmu”, maka orang tersebut berkata: “Ya Tuhan untuk apa kartu kecil ini dibandingkan dengan catatan (amal keburukan) ini ?”, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada orang tersebut: “Sesungguhnya pada hari ini tiada kedzaliman”. Maka diletakkanlah catatan itu pada salah satu daun timbangan, dan kartu kecil itu diletakan pada satu daun timbangan yang lain. Maka jadi ringanlah catatan-catatan `amal keburukan itu dan beratlah kartu kecil tersebut, maka tiadalah sesuatupun yang menjadi berat dibandingkan dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. [HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i].
Pengertian Ikhlas dan Batasnya
Ada beberapa pengertian tentang ikhlas yang disebutkan oleh ulama, antara lain :
Diantaranya ada yang mengatakan : Ikhlas ialah “Menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya tujuan di dalam menjalankan ketaatan”.
Ada juga yang mengatakan : “Ikhlas ialah membersihkan perbuatan dari mencari pandangan manusia”.
Al-Harawi berkata: “Ikhlas ialah membersihkan amalan dari setiap noda”.
Dan sebagian yang lain ada yang mengatakan: “Orang yang mukhlis ialah orang yang tidak perduli, seandainya hilang seluruh penghormatan kepadanya di dalam hati manusia, untuk kebaikan hatinya bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan dia tidak suka manusia mengetahui amalannya walaupun seberat debu. Allah.
Tidak diragukan lagi bahwa keikhlasan membutuhkan kesungguhan yang tinggi hingga seorang hamba meraihnya dengan sempurna.
Pengertian Riya’, Sum’ah, Ujub
Telah kita ketahui bahwa keikhlasan dapat dihilangkan oleh beberapa perkara, seperti: mencintai dunia, kemasyhuran, kemuliaan, riya’, sum’ah dan ujub.
Riya ialah melakukan `ibadah dengan tujuan dilihat oleh manusia, sehingga orang yang riya’ itu mencari pengagungan, pujian, harapan atau rasa takut terhadap orang yang dia berbuat riya’ karenanya.
Sum’ah adalah amalan yang dilakukan dalam rangka agar didengar orang lain, misalnya memperdengarkan bacaan Al-Qur’an atau yang lainnya.
Ujub adalah teman riya, yaitu perasaan bangga terhadap diri sendiri atas kemampuan yang dimiliki secara berlebihan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membedakan antara keduanya (antara riya dan ujub ).
a. Riya adalah salah satu bentuk dari syirik kepada makhluk.
b. Adapun ujub adalah bentuk dari pada syirik kepada diri sendiri.[3]
Diantara Bentuk-Bentuk Riya, Ujub dan Sum’ah
- Riya dalam ibadah sholat, misalnya : Memperbaiki posisi atau gerakan shalat karena mengetahui bahwa dia sedang diperhatikan oleh orang yang dianggap lebih ‘alim atau lainya.
- Riya atau sum’ah dalam kepribadian misalnya : Karena di karuniai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala suara yang merdu misalnya, maka timbulah penyakit riya
atau ujub ini pada nimat tersebut; Mengeraskan/ menbaguskan bacaan dalam membaca Al-Qur`an atau ketika mengumandangkan adzan dengan harapan ingin mendapatkan pujian atau agar diakui bahwa dia memiliki suara yang bagus atau merdu. Pada hakekatnya membaguskan suara dalam membaca Al-Qur’an, dengan tidak dibuat-buat atau berlebih-lebihan merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sabadanya:
زَيِّنُوْا اْلقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ.
Baguskanlah (bacaan) Al-Qur`an dengan suara kalian [4]
- Ujub atau Riya dalam berdakwah misalnya : Berceramah, menasehati orang, atau mentahdzir (memberi peringatan terhadap seseorang) dengan niat agar dikenal sebagai seorang penasehat, ahli pidato dengan harapan agar semua orang memujinya atau menyanjungnya. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari semua perkara ini. Hendaklah kita ikhlash dalam berda`wah agar orang yang mendengarnya pun menerima dengan ikhlash (yakni : mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala)
- Riya atau Ujub dalam menuntut ilmu : Yaitu berbangga dengan ilmu yang dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya atau menuntut ilmu hanya dalam rangka ingin menjadi seorang yang ahli dalam berdebat, bukan mengharapkan wajah Allah atau mencari berkah dari Allah atas ilmu yang dimilikinya. Sehingga ilmu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan tidak mampu membawa dia ke dalam kebahagian di dunia ataupun diakhirat. Padahal rasulullah telah memperingatkan dengan keras bagi para penuntut ilmu dengan ancaman tidak akan mendapatkan bau surga, apabila mempelajari suatu ilmu dalam rangka untuk mencari dunia semata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabada:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا
Barang siapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala ; tetapi dia tidak mempelajari ilmu itu kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat kelak.[5]
- Riya atau Ujub ketika bershadaqah, misalnya : Memperlihatkan harta yang telah dishadaqahkan, atau mengungkit-ungkit kembali pemberian yang telah lalu dengan harapan agar disebut sebagai seorang dermawan.
Penawar Riya
Adapun di antara cara-cara mengobati riya adalah sebagi berikut:
- Mengetahui seluk beluk riya itu sendiri dan takut terhadapnya. Sebagaimana hal tersebut adalah perkara yang paling ditakutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
” إِنَّ أَخْوَفُ مَا أَخَا فُ عَلَيكْمُ الشِّرْكُ اْلأَ صْغَر. قَا لوُا وَمَا الشِّرْكُ اْلأَ صْغَرُ يَا رَسُوْلُ الله ؟ قال : ” الرِّيَاءُ “.يقول الله تعالىيوم القيامة, إذا جازى الناس بأعمالهم : اذهبوا إلى الذين كنتم تراؤون في الدنيا فانظروا هل تجدون جزاء؟”
Sesungguhnya yang paling kutakutkan dari perkara yang aku takutkan atas kalian ialah syirik kecil. Para shahabat bertanya: “Apakah syirik kecil itu wahai rasulullah? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Riya’, Pada hari kiamat , ketika membalas amalan-amalan manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan berfirman: “Pergilah kepada orang yang kamu dahulu sewaktu di dunia berbuat riya’ kepadanya, dan lihatlah apakah kamu dapakan balasan (pahala) darinya? [6]
- Memberikan sanjungan atau pujian hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sumber dari segala kebaikan; maka hanya Allahlah yang berhaq mendapatkan pujian:
الحمد لله رب العالمين
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. [Al-Fatihah/1 :2]
- Mengingat mati dan sekaratnya, hari akhir dan kedahsyatan adzabnya, kubur dan kerasnya siksa yang diberikan karena dosa-dosa yang diperbuat selama di dunia. Keadaan di kubur yang sunyi, gelap gulita dan sempit, tidak ada ibu dan bapak atau orang-orang yang dicinta di dekatnya.
- Melihat akibat riya’, baik di dunia maupun diakhirat.
Maka perlu diketahui oleh setiap orang bahwa seandainya seluruh manusia berkumpul dalam rangka memberikan manfaat kepada siapapun, maka tiadalah mereka mampu memberikannya kecuali sesuatu itu telah ditentukan oleh Allah Subhanhau wa Ta’ala baginya; Oleh sebab itu sebagian orang-orang salaf mengatakan: “Bersungguh-sungguhlah dalam mencegah timbulnya riya` darimu, anggaplah orang lain bagimu seperti binatang dan anak-anak, janganlah kau bedakan adanya mereka atau tidak adanya, mereka tahu atau tidak tahu, cukuplah Allah Subhanahu wa Ta’ala saja yang mengetahuinya.
Kemudian singkirkan perasaan ingin dipuji ketika (syetan menggoda), dengan do’a-do’a yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti:
أعوذ الله من الشيطان الرجيم
Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk.
Adapun akibat riya di akhirat antara lain ; sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ الهُ بِهِ وَمَنْ رَاءَى رَاءَى الهُ بِهِ
Barang siapa (yang beramal) ingin didengar maka Allah akan memperdengarkannya dan barang siapa (beramal) ingin dilihat maka Allah pun akan memperlihatkannya.[7]
Artinya : Bila seseorang beramal hanya ingin didengar atau dilihat orang lain maka itulah yang akan dia dapatkan, Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Sempurna tidak butuh sekutu-sekutu tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Aku adalah Yang paling tidak butuh sekutu, barangsiapa yang mengamalkan suatu perbuatan, yang di dalamnya dia menyekutukanKu dengan selain Aku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya.[8]
- Memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar senantiasa berlaku ikhlas dalam segala amal ibadah dan berlindung dari-Nya dari riya. Seorang mu
min atau muminah hendaklah tunduk, berserah diri kepada-Nya, berusaha semaksimal mungkin menghindarkan diri dari riya, sum’ah dan ujub; dan memperbanyak dzikir (mengingat Allah kapan saja di manapun berada) dan berdo`a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana do’a-do’a yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam antara lain :
الشرك فيكم أخفى من دبيب النمل. وسأدلك على شيءٍ إذا فعلته أذهب عنك صغار الشرك وكبيره . تقول: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْ ذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَناَ أَعْلَمُ, وَاسْتَغْفِرُكَ لمِاَ لاَ أَعْلَمُ.
Kesyirikan yang ada pada kalian lebih tersembunyi merayapnya seekor semut, dan aku akan memberitahukan sesuatu kepadamu apabila hal itu kau kerjakan, maka akan menghilangkan kesyirikan kecil dan besar darimu. Yaitu engkau mengatakan (berdo’a): “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari mensekutukan-Mu sedangkan saya mengetahuinya dan aku berlindung kepada-Mu dari apa-apa yang aku tidak aku tahu.”[9]
Wallahu A’lam.
(Disadur oleh Abdul Wahid dari kitab Al-Ikhlash Wasy Syirkul Ashghar, karya Syeikh Abdul Aziz Ali Abdul Lathif dan tambahan dari sumber lain)
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun V/1422H/2001M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
Footnote
[1] Majmu’ Al-Fatawa 10/5 dan 20/70
[2] Badai`ul Fawaaid 3/224
[3] Al-Fatawa:10/277
[4] HR.Abu Dawud dan Ahmad
[5] HR.Abu Dawud
[6] HR. Ahmad, At-Thabrani dan Al-Baihaqi
[7] HR. Bukhari & Muslim
[8] HR. Muslim dari Abu Hurairah
[9] Shahih Jami’ ash-Shaghir 3/332
Referensi : https://almanhaj.or.id/10672-pentingnya-keikhlasan-dalam-seluruh-amal-ibadah.html
Teks Khotbah Jumat: Maksiat Menghancurkan Kehormatan
Khotbah pertama
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِ
قال الله تعالى فى كتابه الكريم
يا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون
يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا
يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما
أما بعد
Para Jemaah rahimakumullah!
Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menutup aib-aib kita dan menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang beriman. Syukurilah nikmat iman itu dengan berpegang teguh kepada Islam. Allah Ta’ala berfirman,
فَٱسْتَمْسِكْ بِٱلَّذِىٓ أُوحِىَ إِلَيْكَ
“Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu.” (QS. Az-Zukhruf: 43)
Maka, inilah hakikat ketakwaan yang wajib diwasiatkan di setiap khotbah Jumat. Hendaknya kita semua berpegang teguh dengan Islam hingga kematian menjemput kita. Dan tidaklah semua ketaatan itu dapat kita lakukan, kecuali karena Allah telah mengutus Rasul-Nya yang agung, Nabi Muhammad ﷺ. Berselawatlah kepadanya, niscaya Allah akan balas 10x lipat bagi kita semua.
Kemuliaan tergantung level takwa
Para jemaah rahimakumullah!
Ketahuilah bahwa di antara dampak maksiat adalah hancurnya kehormatan seseorang. Ibnul Qayyim rahimahullah mengumpulkan dampak-dampak dari kemaksiatan di dalam kitabnya, Ad-Daa wa Ad-Dawaa (Penyakit dan Obatnya). Salah satu dampak buruk dari maksiat adalah kehormatan seseorang akan hancur di hadapan Allah ﷻ, bahkan di hadapan manusia.
Sesungguhnya kemuliaan dan kehormatan seseorang bergantung kepada level ketakwaannya. Dan hamba yang paling dekat kepada Allah Al-Aliy adalah hamba yang paling bertakwa. Bukanlah kemuliaan itu pada jabatan yang diampu, apalagi pada nasab yang melekat, tetapi seberapa besar nilai takwa kita di hadapan Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman dalam potongan surah Al-Hujurat,
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ﷻ adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Konteks ayat ini adalah Allah ﷻ jelaskan bahwasanya manusia diciptakan Allah ﷻ dengan beragam suku bangsa. Kemudian Allah ﷻ sebutkan yang paling mulia bukanlah dari suku A atau bangsa B, melainkan yang paling bertakwa di antara suku bangsa itu.
Imam Mufassir, Ath-Thabari rahimahullah berkata,
إن أكرمكم أيها الناس عند ربكم، أشدّكم اتقاء له بأداء فرائضه واجتناب معاصيه، لا أعظمكم بيتا ولا أكثركم عشيرة
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian –wahai manusia- adalah yang paling tinggi takwanya pada Allah, yaitu dengan menunaikan berbagai kewajiban dan menjauhi maksiat. Bukanlah yang paling mulia dilihat dari rumahnya yang megah atau berasal dari keturunan yang mulia.” (Tafsir Ath-Thabari, 21: 386)
Hal senada disebutkan rata-rata para mufassirin, bahwa orang yang paling tinggi derajatnya secara hakiki adalah mereka yang paling bertakwa di hadapan Allah ﷻ.
Dan memang Allah ﷻ jadikan potensi kemuliaan itu ada pada manusia, Allah ﷻ berfirman,
لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)
Namun, Allah ﷻ lanjutkan ayatnya,
ثُمَّ رَدَدْنَٰهُ أَسْفَلَ سَٰفِلِينَ
“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).” (QS. At-Tin: 5)
Apa penyebabnya? Karena manusia melakukan kemaksiatan dan pengingkaran kepada Allah ﷻ. Namun, Allah ﷻ berikan solusi agar kita tidak jatuh dari tempat termulia ke dalamnya jurang neraka. Allah ﷻ berfirman,
إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At-Tin: 6)
Oleh karena itu, ketakwaan menjadi indikator seorang itu mulia atau seorang itu terhina.
Akibat maksiat adalah direndahkan derajatnya
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
فَإِذَا عَصَاهُ وَخَالَفَ أَمْرَهُ سَقَطَ مِنْ عَيْنِهِ، فَأَسْقَطَهُ مِنْ قُلُوبِ عِبَادِهِ
“Jika hamba itu mendurhakai Allah ﷻ dan menyelisihi perintah-Nya, maka jatuhlah dia dalam penilaian Allah ﷻ. Allah ﷻ tidak hanya menjatuhkan di hadapan-Nya, tetapi juga di hadapan para makhluk-Nya.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 99; cet. Dar Luluah)
Maka, Allah ﷻ akan rendahkan pelaku maksiat itu. Dijadikan hubungannya dalam sosial masyarakat serendah derajatnya di hadapan Allah ﷻ karena kemaksiatannya, serta keadaannya sangat buruk sekali.
Bahkan kata Ibnul Qayyim rahimahullah,
لَا حُرْمَةَ لَهُ وَلَا فَرَحَ لَهُ وَلَا سُرُورَ
“Tidak ada penghormatan kepadanya, tidak ada kebahagiaan dan keceriaan pada ahli maksiat itu.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 99; cet. Dar Luluah)
Maka, jatuhnya martabat dan kedudukan melahirkan segala bentuk kegundahan, kegelisahan, juga kesedihan. Tiada kegembiraan dan keceriaan karena kehormatan telah dijatuhkan. Inilah dampak dari maksiat itu. Ingatlah kondisi Firaun! Di mana ia dipuja-puji oleh rakyat yang mendukungnya. Namun, ketika kemaksiatannya memuncak, Allah ﷻ hukum dia dengan kehinaan dan dikekalkan kehinaannya. Maka betapa banyak manusia hingga akhir zaman nanti yang akan mencelanya?!
Itulah kemaksiatan!
وَأَيْنَ هَذَا الْأَلَمُ مِنْ لَذَّةِ الْمَعْصِيَةِ لَوْلَا سُكْرُ الشَّهْوَةِ؟
Jika bukan karena dimabuk syahwat, apakah kelezatan maksiat dapat dibandingkan dengan rasa sakit tersebut?!
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khotbah kedua
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانه
Gelar pelaku maksiat adalah gelar buruk
Jemaah rahimakumullah!
Ibnul Qayyim rahimahullah ketika menerangkan dampak maksiat ini, beliau tidak sembarangan menyatakan demikian. Beliau menukilkan firman Allah ﷻ bahwasanya seburuk-buruk sebutan setelah seorang beriman, adalah sebutan bagi orang fasik, Allah ﷻ berfirman,
بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ
“Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan fasik setelah beriman.” (QS. Al-Hujurat: 11)
Konteks ayat ini adalah Allah ﷻ mengajarkan adab kepada manusia agar tidak saling menyeru dan memanggil dengan gelaran yang buruk. Karena seruan ini adalah seruan yang buruk dan menyerunya adalah kezaliman.
Orang yang bermaksiat, otomatis mendapatkan gelaran pelaku maksiat, meskipun tidak diketahui manusia. Namun, gelaran ini ada di sisi Allah ﷻ Al-Alim Al-Khabir, yang mengetahui dan pengetahuan-Nya begitu teliti. Dan jika gelaran manusia yang tiada nilainya di akhirat saja menjadi begitu hina. Apalagi jika gelaran itu Allah ﷻ yang berikan. Tentu gelaran pelaku maksiat sudah cukup membuat kita tidak mau melakukan maksiat.
Ingatlah! Barangsiapa yang Allah ﷻ hinakan, maka tiada yang dapat memuliakannya,
وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ
“Barangsiapa yang dihinakan Allah, tidak ada seorangpun yang dapat memuliakkannya. Sesungguhnya Allah berbuat sesuai kehendak-Nya.” (QS. Al-Hajj: 18)
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات
ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب
اللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابه
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِين
اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِين
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْ
اللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَ
اللَّهُمَّ دَمِّرِ الْيَهُود وَ شَتِّتْ شَمْلَهُم وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
و الحمد لله رب العالمين
Wa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.
و اقمِ الصلا
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Sumber: https://muslim.or.id/111186-teks-khotbah-jumat-maksiat-menghancurkan-kehormatan.html
Copyright © 2026 muslim.or.id
Pengantin #carousel







Apakah Di surga Kita Bisa Punya Anak Lagi?
Terdapat hadits yang dzahir hadits menunjukkan bahwa jika kita menginginkan anak di surga, maka kita bisa mendapatkannya. Hadits tersebut adalah:
الْمُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الْوَلَدَ فِي الْجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ ، كَمَا يَشْتَهِي
“Seorang mukmin jika menginginkan anak di surga, maka kehamilannya, kelahirannya dan pertumbuhannya dalam sesaat sebagaimana yang ia inginkan” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah di shahihkan oleh AL-Albani dalam shahihul jaami’ no. 6649)
Syaikh Muhammad Abdurrahman Al-Mubarakfury rahimahullah menjelaskan hadits,
قوله (كان حمله) أي حمل الولد (ووضعه وسنه) أي كمال سنه وهو الثلاثون سنة (كما يشتهي) من أن يكون ذكرا أو أنثى أو نحو ذلك
“Lafadz “hamil” maksudnya mengandung anak, lafadz “kelahiran dan pertumbuhannya” maksudnya sempurna umurnya yaitu 30 tahun, lafadz “sebagaimana yang ia inginkan” maksudnya sesuai keinginannya, anak laki-laki atau perempuan dan semisalnya.”[1]
Terdapat khilaf ulama
Dalam hal ini terdapat khilaf ulama, sebagian ulama mengatakan bahwa penghuni surga akan mendapatkan anak jika ia inginkan karena penghuni surga mendapatkan apapun yang mereka inginkan. Allah Ta’ala berfirman,
وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (Az-Zukhruf: 71)
dan Allah Ta’ala berfirman,
لَهُم مَّا يَشَاؤُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ
“Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (Qof: 35)
Sebagian ulama lagi mengatakan bahwa tidak ada anak di surga, Imam As-Suyuti rahimahullah berkata,
اخْتلف أهل الْعلم فِي هَذَا فَقَالَ بَعضهم فِي الْجنَّة جماع وَلَا يكون ولد
“Ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, sebagian mereka berkata bahwa di surga ada kenikmatan jima’ tetapi mereka tidak punya anak.”[2]
Muhammad bin Abdul Hadi As-Sindi rahimahullah berkata,
قال محمد وقد روي عن أبي رزين العقيلي عن النبي – صلى الله عليه وسلم – «أن أهل الجنة لا يكون لهم فيها ولد
“Muhammad berkata diriwayatkan dari Abu razin Al-‘Uqaily dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “sesungguhnya penduduk surga tidak mempunyai anak didalamnya”[3]
Sebagian lagi menyatakan bahwa hadits penduduk surga menginginkan anak adalah hadits yang gharib, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
إسناد حديث أبي سعيد على شرط الصحيح فرجاله محتج بهم فيه ولكنه غريب جدا
“Sanad Hadits Abu Sa’id sesuai dengan syarat As-Shahih, perawi-perawinya memiliki hujjah akan tetapi hadits ini sangat gharib.”[4]
Penduduk surga tidak mempunyai keinginan memiliki anak
Inilah perpaduan dari kedua pendapat, jika hadits tersebut shahih maka tidak bertentangan hadits lain bahwa disurga tidak ada anak. Karena seandainya penghuni surga ingin mempunyai anak maka mereka akan dikabulkan, akan tetapi penduduk surga tidak mempunyai keinginan untuk memiliki anak.
Imam As-Suyuti rahimahullah berkata,
هَكَذَا يرْوى عَن طَاوس وَمُجاهد وَإِبْرَاهِيم النَّخعِيّ وَقَالَ إِسْحَاق بن إِبْرَاهِيم فِي هَذَا الحَدِيث إِذا اشْتهى وَلَكِن لَا يَشْتَهِي
“Demikianlah diriwayatkan dari Thawus dan Mujahid dan Ibrahim An-Nakha’i, berkata Ibnu Ishaq bin Ibrahim mengenai hadits ini, “jika (seandainya) ia menginginkan”, akan tetapi penduduk surga tidak menginginkan (keinginan memiliki anak)”[5]
Kata (إذا) “Idza” (jika) dalam hadits ini bermakna (لو) “lau” (seandainya). Sehingga maknanya, seandainya penduduk surga ingin punya anak.
Muhammad bin Abdul Hadi As-Sindi rahimahullah berkata,
وحاصل التأويل الذي نقله عن إسحاق أن قوله: – صلى الله عليه وسلم – «إذا اشتهى المؤمن» على الفرض والتقدير فكلمة إذا وضعت موضع لو المفيدة للفرض.
“Kesimpulannya adalah ta’wil hadist yang dinukil oleh Ibnu Ishaq yaitu Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam “jika seorang mukmin menginginkan” yaitu bentuk pengandaian dan perkiraan, maka kata “idza” (jika) dimaknai dengan “lau” (seandainya) untuk pengandaian.”[6]
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah merajihkan pendapat tidak ada anak di surga dengan beberapa dalil. Beliau berkata memaparkan dalil-dalilnya,
أحده ا: حديث ابن رزين
الثاني قوله تعالى: {وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ} وهن اللاتي طهرن من الحيض والنفاس والأذى
الثالث: قوله غير أنه لا مني ولا منية وقد تقدم والولد إنما يخلق من ماء الرجل
الرابع: أنه قد ثبت في الصحيح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: “يبقى في الجنة فضل فينشئ الله لها خلقا يسكنهم إياها ولو كان في جنة إيلاد لكان الفضل لأولادهم وكانوا أحق بهم من غيرهم”
الخامس: إن الله سبحانه جعل الحمل والولادة مع الحيض والمنى
السادس: أن الله سبحانه وتعالى قدر التناسل في الدنيا لأنه قدر الموت وأخرجهم إلى هذه الدار
السابع: أنه سبحانه وتعالى قال: {وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ} فاخبر سبحانه أنه يكرمهم بإلحاق ذرياتهم الذين كانوا لهم بهم في الدنيا ولو كان ينشأ لهم في الجنة ذرية أخرى لذكرهم
Dalil pertama: hadits Ibnu rozin (tidak ada anak disurga, pent)
Dalil kedua: Firman Allah “bagi mereka istri-istri yang suci” maka mereka suci dari haidh, nifas dan gangguan haidh
Dalil ketiga: tidak ada mani atau ovum maka anak hanya bisa dihasilkan melalui mani seorang laki-laki
Dalil keempat: terdapat hadits sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “di surga kelak tersisa ruang kosong, maka Allah menciptakan makhluk yang akan menenpatinya”, seandainya disurga ada kelahiran, maka anak-anak penghuni surga lebih layak untuk menempatinya dari yang lain.
Dalil kelima: Allah menjadikan kehamilan dan kelahiran bersama haidh dan mani
Dalil keenam: Allah mentakdirkan berkembang biak keturunan didunia karena mentakdirkan kematian kemudian mengeluarkan mereka dari dunia (sedangkan di surga tidak ada kematian, pent)
Dalil ketujuh: Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang berimana dan diikuti oleh anak keturunan dengan keimanan maka kami akan susulkan mereka (ke surga) dengan anak keturanan mereka.”, Allah mengabarkan bahwa mereka dimuliakan dengan menyusulkan anak keturunan mereka, seandainya ada anak keturunan mereka disurga, tenta Allah akan menyebutnya.[7]
Demikian pembahasan ini semoga bermanfaat.
Disempurnakan di Lombok, Pulau seribu Masjid
26 Dzulqo’dah 1433 H
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel http://www.muslimafiyah.com
[1] Tuhfatul Ahwazy 7/241, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, Syamilah
[2] Mihbahuz Zujajah 1/323, 1325 H, Syamilah
[3] Hasyiah As-Sindi ‘Ala Sunan Ibni Majah 2/594, Darul Jiil, Beirut, Cet. II, Syamilah
[4] Haadil Arwaah hal. 242, Mathba’ul Madani, Koiro, syamilah
[5] Mihbahuz Zujajah 1/323, 1325 H, Syamilah
[6] Hasyiah As-Sindi ‘Ala Sunan Ibni Majah 2/594, Darul Jiil, Beirut, Cet. II, Syamilah
[7] Diringkas dari Haadil Arwaah hal. 247, Mathba’ul Madani, Koiro, syamilah
sumber: https://muslimafiyah.com/apakah-di-surga-kita-bisa-punya-anak-lagi.html







