Seorang Istri Yang Tawadhu’

Tak jarang ditemui sosok istri yang shalihah, tekun thalabul ‘ilmi, gemar tilawah Al-Qur’tan bahkan bercita-cita menjadi hafizhah (penghapal Al-Qur’an), ibadah wajib dan sunnah-nya sangat luar biasa. Sementara takdir mengantarkannya berjodoh dengan sosok suami yang kadar iman dan amal shalihnya biasa saja. Bagaimana sikap yang bijak bagi istri dalam menjembatani perbedaan tersebut agar kehidupan pernikahannya harmonis lagi bahagia?

Jadilah pribadi yang tawadhu’

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku supaya kalian bersikap tawadhu’ sehingga tidak ada seseorang yang membanggakan dirinya terhadap yang lain, dan tidak seseorang yang mendzhalimi yang lain.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Seorang istri hendaklah rendah hati dan tidak berbangga diri dengan keimanan dan amal shalihnya. Semua itu tentunya terwujud dengan hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tak sepantasnya ia merendahkan suaminya, bisa jadi suami juga mempunyai kelebihan, seperti kebersihan hati dari hasad, kesabaran ekstra dalam mencari rezeki, hatinya mudah tersentuh penderitaan orang lain atau amal lain yang tersembunyi yang tidak diketahui istri.

Yakinlah, Anda bisa jadi mampu mewujudkan gambaran indah sebagai wanita shalihah karena doa dan keikhlasan suami dalam memberi Anda keleluasaan beragama sebagai tanggung jawab kepala rumah tangga. Maka bersyukurlah pada Allah dan berterima kasih pada pasangan. Sebagai wanita shalihah, Anda harus menghargai suami, hindari komentar negatif yang tidak perlu ketika saatnya Anda memberi masukan demi kemaslahatan bersama. Terimalah ia dengan segala kelebihan dan kekurangan yang bisa dibenahi bersama dengan bijak dan hikmah. Akuilah kelebihannya dengan proporsional meski Anda kadang melakukan pengorbanan demi kebahagiaan bersama.

Agungkan hak suami

Penghormatan dan bakti istri akan lebih kokoh ketika ia memahami hak-hak suami yang harus ditunaikan. Dari Hushain bin Muhshan, ia menuturkan bahwa bibinya menuturkan kepadanya : “Aku datang menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam karena ada keperluan. Beliau bersabda: “Siapa ini? Apakah engkau bersuami?” Ia menjawab:”Ya benar.” Beliau shalallahu hi wa sallam bersabda: “Bagaimana engkau terhadapnya?” Aku menjawab:”Aku tidak mengecewakannya kecuali yang tidak mampu aku lakukan.” Beliau bersabda: “Lihatlah dimana kedudukanmu dari dia, ia adalah surgamu dan nerakamu.” (HR. Ahmad. no. 19025, 27392, Al-Baihaqi dalam Sunanul Kubra no. 14483)

Saatnya Anda menunjukkan muamalah yang baik, segera raih kecintaannya dengan terus mendoakan agar suami meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam menjalankan agama. Jadilah istri yang selalu membuatnya ridha. Ketika Anda telah berupaya untuk membuatnya tertawan oleh pesona kebaikan anda, dia akan bersimpati bahkan sangat menghargai Anda. Insya Allah dengan kesabaran, kelembutan, dan sikap yang mencerminkan kemuliaan akhlak maka segala yang Anda anggap beda akan lebih mudah dijembatani dengan sikap lapang dada.

Tunjukkan bahwa Anda mampu membersamainya dalam segala suasana, lebih fokuslah dalam menjalankan kewajiban Anda sebagai istri shalihah. Didiklah anak-anak dengan baik sebagaimana perintah Allah dan Rasul-Nya sebagai aplikasi dari ketaatan pada suami. Muslimah yang bertakwa akan lebih dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan suami.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah orang beriman mendapat manfaat lebih baik setelah takwa kepada Allah daripada istri yang shalihah yang bilamana suaminya memandang ia menyenangkan, bilamana memberi perintah ia menaatiny, bilamana memberinya jatah ia berbuat baik kepadanya, bilamana tidak hadir bersamanya ia memelihara kehormatan dirinya dan harta bendanya.” (HR. Abu Dawud no.1417, Ibnu Majah no 1857).

Wallahu a’lam.

***

Referensi :

1. Aturan Islam Tentang Bergaul dengan Sesama (terjemah), DR. ‘Abdul ‘Aziz bin Fauzan bin Shalih al-Fauzan, Griya Ilmu, Jakarta, 2010.
3. Begini Seharusnya menjadi Guru (terjemah), Fuad bin ‘Abdul ‘Aziz asy- Syalhub, Darul Haq, Jakarta, 2014.

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Sumber: https://muslimah.or.id/12105-seorang-istri-yang-tawadhu.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Mampu Haji tetapi Tidak Berangkat, Apakah Kafir?

Pertanyaan:

Jika ada orang yang sebenarnya sudah mampu untuk naik haji. Namun ia tidak melakukannya dan lebih memilih untuk menghabiskan harta untuk membeli aset-aset seperti kendaraan roda empat, tanah, rumah dan juga untuk investasi, bagaimana hukumnya? 

Jawaban:

Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du,

Ulama sepakat bahwa ibadah haji hukumnya wajib ‘ain bagi yang mampu. Allah ta’ala berfirman,

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (QS. Ali Imran: 97).

Bahkan, ibadah haji adalah salah satu rukun Islam. Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengaku Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji, dan berpuasa di bulan Ramadhan” (HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16).

Patokan Mampu

Haji wajib hukumnya bagi yang mampu melaksanakannya. Sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas. Demikian juga Allah ta’ala berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani manusia kecuali sesuai kemampuannya” (QS. Al-Baqarah: 286).

Dan patokan “mampu”, dijelaskan dalam kitab Al-Fiqhul Muyassar (hal. 173), adalah dengan melihat empat poin:

  1. Mampu secara harta, sehingga ia memiliki bekal untuk perjalanan dan mampu meninggalkan nafkah yang cukup untuk keluarga yang ditinggalkan.
  2. Mampu melakukan perjalanan ke Baitullah.
  3. Mampu secara fisik, tidak sedang sakit parah atau tua renta yang membuat ia tidak bisa melakukan perjalanan ke Baitullah.
  4. Jalur perjalanan menuju ke Baitullah dalam kondisi aman, tidak ada bahaya seperti perampok, wabah, perang, dan semisalnya.

Jika salah satu kriteria ini tidak terpenuhi, maka belum dikatakan mampu sehingga belum wajib untuk berhaji.

Dan ada satu kriteria lagi bagi wanita yang ini diperselisihkan oleh para ulama. Yaitu mampu menghadirkan mahram untuk melakukan perjalanan haji, ketika tempat tinggalnya jauh dari Mekkah. Ulama berbeda pendapat menjadi tiga pendapat:

  • Ulama Hanabilah berpendapat wajibnya hal ini secara mutlak. 
  • Ulama Syafi’iyyah berpendapat tidak wajibnya ditemani mahram untuk haji wajib. 
  • Adapun Ulama Malikiyah berpendapat wajib bersama mahram jika ada, namun boleh tanpa mahram jika tidak ada. Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Yang kuat, wanita wajib menghadirkan mahram untuk haji maupun umrah. Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بامْرَأَةٍ إلَّا وَمعهَا ذُو مَحْرَمٍ، وَلَا تُسَافِرِ المَرْأَةُ إلَّا مع ذِي مَحْرَمٍ، فَقَامَ رَجُلٌ، فَقالَ: يا رَسولَ اللهِ، إنَّ امْرَأَتي خَرَجَتْ حَاجَّةً، وإنِّي اكْتُتِبْتُ في غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا، قالَ: انْطَلِقْ فَحُجَّ مع امْرَأَتِكَ

“Tidak boleh seorang lelaki berduaan dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya. Dan seorang wanita tidak boleh melakukan safar kecuali bersama mahramnya”. Maka seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku hendak berhaji, dan aku sudah terdaftar untuk berangkat (jihad) perang ini dan itu”. Nabi bersabda, “Pulanglah dan temanilah istrimu berhaji”” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341).

Dalam hadits ini, lelaki yang ingin pergi berjihad diminta oleh Nabi untuk tidak berangkat berjihad demi untuk menemani istrinya berhaji. Ini mengindikasikan wajibnya hal tersebut. Dan tidak boleh wanita berhaji atau berumrah tanpa ditemani oleh mahramnya. Ini pendapat yang dikuatkan oleh Ulama Kibar Mu’ashirin seperti Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, dan Syaikh Shalih Al-Fauzan.

Haji yang Wajib Adalah Sekali Seumur Hidup

Kewajiban haji bagi yang mampu melakukannya, adalah hanya sekali seumur hidup. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ قدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الحَجَّ، فَحُجُّوا، فَقالَ رَجُلٌ: أَكُلَّ عَامٍ يا رَسولَ اللهِ؟ فَسَكَتَ حتَّى قالَهَا ثَلَاثًا، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: لو قُلتُ: نَعَمْ لَوَجَبَتْ، وَلَما اسْتَطَعْتُمْ، ثُمَّ قالَ: ذَرُونِي ما تَرَكْتُكُمْ، فإنَّما هَلَكَ مَن كانَ قَبْلَكُمْ بكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ علَى أَنْبِيَائِهِمْ، فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بشيءٍ فَأْتُوا منه ما اسْتَطَعْتُمْ، وإذَا نَهَيْتُكُمْ عن شيءٍ فَدَعُوهُ

“Wahai manusia, telah diwajibkan atas kalian berhaji, maka berhajilah”. Kemudian ada seorang yang bertanya, “Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?” Beliau tidak menjawabnya, sampai orang tadi bertanya lagi hingga tiga kali. Barulah Rasulullah shallallahu‘ alaihi wasallam menjawab, “Jika aku katakan “ya”, maka niscaya akan diwajibkan setiap tahun dan belum tentu kalian sanggup melakukannya. Maka tidak perlu membahas apa yang aku tidak singgung kepada kalian. Karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa akibat banyak bertanya dan banyak menentang para Nabi mereka. Jika aku perintahkan sesuatu, kerjakanlah darinya sesuai dengan kemampuan kalian. Jika aku telah melarang sesuatu atas kalian, maka tinggalkanlah” (HR. Muslim no. 1337).

Hadits ini menunjukkan kewajiban haji hanya sekali seumur hidup. Adapun haji yang kedua, ketiga dan seterusnya, hukumnya sunnah.

Orang yang Mampu, Namun Tidak Berangkat Haji

Sebagian ulama, seperti Al-Hasan Al-Bashri, Nafi’, Ibnu Habib Al-Maliki, menganggap kafirnya orang yang tidak berhaji padahal mampu. Dalil mereka adalah surat Ali Imran ayat 97, Allah ta’ala berfirman di akhir ayat:

وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Barang siapa kufur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (QS. Ali Imran: 97).

Dan juga karena haji adalah salah satu rukun Islam. Dan menurut mereka, jika salah satu rukun Islam tidak dipenuhi padahal mampu, maka pelakunya kafir keluar dari Islam.

Dalil yang lainnya juga riwayat dari Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

مَن أطاقَ الحجَّ، فلم يحُجَّ فسواءٌ عليه مات يهوديًّا أو نصرانيًّا

“Barang siapa yang mampu berhaji namun tidak berangkat haji, maka sama saja apakah ia mati sebagai orang Yahudi atau sebagai orang Nasrani” (HR. Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya, 1: 387, dishahihkan Hafizh Al-Hakami dalam Ma’arijul Qabul, 2: 639).

Perkataan semisal ini juga diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma. Namun, riwayat ini tidak secara tegas menunjukkan kafirnya orang yang tidak menunaikan ibadah haji. 

Oleh karena itu, jumhur ulama tidak menganggap kafir orang yang tidak berhaji padahal mampu. Dan ini adalah kesepakatan para sahabat Nabi. Abdullah bin Syaqiq Al-‘Uqaili rahimahullah mengatakan,

لم يكن أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم يرون شيئا من الأعمال تركه كفر غير الصلاة

“Dahulu para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam tidak memandang ada amalan yang bisa menyebabkan kekufuran jika meninggalkannya, kecuali shalat” (HR. At-Tirmidzi no. 2622, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan:

ومن تركه وهو قادر فهو على خطر، وقد روي عن علي أنه قال فيمن تركه وهو قادر: لا عليه أن يموت يهوديًا أو نصرانيًا وهذا من باب الوعيد، هذا من باب التحذير والوعيد وإلا فليس بكافر، من تركه ليس بكافر لكنه عاصي إذا ترك الحج وهو يستطيع

“Siapa yang meninggalkan haji padahal ia mampu melakukannya, maka ia dalam bahaya. Terdapat riwayat dari Ali bin Abi Thalib bahwa ia berkata: Siapa yang mampu haji namun tidak naik haji maka sama saja apakah ia mati sebagai orang Yahudi atau sebagai orang Nasrani. Perkataan beliau ini adalah ancaman, peringatan keras, namun bukan pengkafiran. Orang yang meninggalkan ibadah haji padahal mampu, ia tidak kafir namun ia telah bermaksiat” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman no. 273, pertanyaan no. 16).

Dengan demikian orang yang mampu haji namun tidak berangkat haji ia tidak sampai kafir keluar dari Islam, namun ia telah melakukan dosa yang besar dan keislamannya dalam bahaya yang besar. Karena yang ia tinggalkan adalah salah satu rukun Islam.

Oleh karena itu bagi siapa saja yang sudah mampu untuk menunaikan ibadah haji, hendaknya bersegera untuk menunaikannya. Semoga Allah ta’ala memberikan kemudahan.

Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik.

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.

***

Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.

sumber : https://konsultasisyariah.com/42379-mampu-haji-tetapi-tidak-berangkat-apakah-kafir.html

[Kitabut Tauhid 7] 27 Bahaya ghuluw terhadap orang shalih 11

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Setiap pujian terhadap Ahlul Kitab dalam Al-Qur’an, ayat-ayat tersebut jika ditilik kembali konteksnya selalu bermuara pada dua hal : [1] mereka adalah orang yang beriman pada ajaran asli Nabi mereka sebelum datangnya risalah Nabi Muhammad -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, atau [2] mereka yang kemudian beriman kepada risalah Nabi Muhammad -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- setelah kedatangannya. Selebihnya, ayat-ayat Al-Qur’an yang membicarakan tentang Ahlu Kitab, seluruhnya atau hampir seluruhnya berisi celaan terhadap mereka terkait kerusakan agama dan moral mereka.
  2. Ahlul Kitab memiliki kedudukan tersendiri dalam hukum Islam yang membedakan mereka dengan orang-orang kafir (musyrik) lainnya, yaitu : [1] mereka wajib membayar jizyah; [2] boleh bagi seorang Muslim menikahi wanita Ahlu Kitab yang baik, jika memang dia mampu membentengi keimananannya; [3] halal bagi Kaum Muslimin sembelihan Ahlu Kitab jika tidak ada bukti yang nyata  bahwa sembelihan tersebut disembelih dengan selain nama Allâh -‘Azza wa Jalla- juga tidak ada bukti bahwa sembelihan tersebut ditujukan untuk mendekatkan diri kepada selain Allâh -‘Azza wa Jalla-. Dan di luar hal tersebut, seluruh hukum yang berkenaan dengan mereka dalam Islam sama persis dengan hukum yang berkenaan dengan orang-orang kafir yang lainnya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Jangan Berputus Asa Dari Rahmat Allah

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustaz, saya izin bertanya, ustaz, apakah masih ada kesempatan bagi wanita yang pernah gagal menjaga kesucian dan kehormatan dirinya untuk menjadi wanita shalihah.

Jazaakumullaahu khairaan wa barakallaahu fiikum

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Tiada Manusia Yang Bebas dari Kesalahan

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh.

Perlu kita pahami bahwa tiada manusia yang tidak pernah terlepas dari dosa, manusia tempatnya lupa dan kesalahan, karenanya sebaik baik manusia adalah yang menyadari ketika dirinya tergelincir dalam dosa ia berusaha bangkit untuk meninggalkan kesalahan menuju kepada apa yang diperintahkan Allah `Azza Wa Jalla. Sebagaimana sabda Rasululllah shallahu alaihi wasallam

كل بني آدم خطاء وخير الخطائين التوابون

“Seluruh Bani Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan (dosa), dan sebaik-baik manusia yang banyak kesalahannya (dosanya) adalah yang banyak bertaubat.” (hasan, lihat shahih at-Targhib wa at-Tarhib 3139)

Selama Allah berikan kesempatan waktu untuk bertaubat dan memperbaiki diri ini adalah karunia Allah yang perlu kita syukuri, Allah ta’ala berfirman,

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ

“Dan seandainya bukan karena keutamaan dari Allah kepada kalian dan kasih sayang-Nya (niscaya kalian akan binasa). Dan sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha bijaksana.” (QS. An Nuur: 10)

Sambil terus berhati hati-hati supaya tidak kembali lagi kepada keburukan yang Allah benci. Maka teruslah untuk memperbaiki diri jangan berhenti dan merasa suci, apalagi merasa tidak akan ada jalan untuk menuju keshalihan. Jadikan kesalahan masa lampau untuk terus menjadi pelecut kebaikan di masa sekarang dan yang akan datang dan teruslah berlari kepada kebaikan yang Allah inginkan.. Firman Allah ta`ala,”

فَفِرُّوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗاِنِّيْ لَكُمْ مِّنْهُ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌۚ

“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sungguh, aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu.”

Terus Memperbaiki Diri

Tidak ada kata tidak bisa menjadi seorang yang shalih, tatkala Allah berikan hidayah untuk bisa kembali kepadanya. Bahkan sebagaimana yang kita ketahui ada sebagian sahabat mengalami dan melakukan kemaksiatan yang terlarang, bahkan melakukan dosa paling besar yang tiada dosa besar di atasnya yaitu kesyirikan. Namun ternyata mereka pun akhirnya bisa bangkit untuk totalitas menuju kepada ketaatan sehingga mereka menjadi para sahabat Rasulullah, yang terbaik dan mempunyai kemuliaan yang Allah ridha.

Begitu pun kepada kita yang pernah bahkan sering melakukan dosa dan kemaksiatan, jangan berputus asa untuk selalu memperbaiki diri. Selama seorang hamba tidak pernah bosan untuk bertaubat dan memperbaiki diri, dari setiap kesalahan berulang yang dilakukan, insyaallah Allah tidak akan pernah bosan untuk menerima taubat seorang hamba yang terus bangkit dari setiap kesalahan, walau mungkin berualang kali terjatuh dalam kekhilafan.

Allah Ta’ala berfirman:

( وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ . أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ) آل عمران: 135, 136.

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Ali Imron: 135-136)

Ibnu Katsir rahimahullah berkomentar: “FimanNya ‘Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.’ Yakni mereka bertaubat dari dosanya dan kembali kepada Allah dalam waktu dekat dan tidak melanjutkan kemaksiatan dan senantiasa melepaskannya. Meskipun dosanya terulang dan mereka bertaubat (kembali).’ Tafsir Ibnu Katsir, 1/408.

Amalan Tergantung Pada Penutupnya

Belajar dan belajarlah untuk selalu meningkatkan diri, jangan berputus asa karena kesalahan, jadikan kesalahan sebagai pelecut untuk semakin memperbaiki diri. Masa lalu bukan untuk disesali dan menjadi penghalang kebaikan, ambil pelajaran dan kebaikan dari apa yang telah terjadi , berusaha menjadikan akhir perjalanan kehidupan terhiasi dengan kebaikan dan ketaatan sebaik mungkin. Kemuliaan hidup tidak hanya dilihat di awal melangkah menuju kebaikan, bahkan bisa jadi kemuliaan didapat dengan apa yang di lakukan di akhir kehidupan manusia tanpa mengurangi proses yang harus diperbaiki. Sebagaimana firman Allah ta’ala,”

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ

“Katakanlah kepada hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dialah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datangnya azab kemudian kalian tidak dapat lagi mendapatkan pertolongan.”(QS. Az Zumar: 53-54)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda yang artinya, “Seandainya kalian berbuat dosa sehingga tumpukan dosa itu setinggi langit kemudian kalian benar-benar bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubat kalian.” (Shahih Ibnu Majah)

Allah Ta’ala:

(10) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sungguh telah beruntung orang yg mensucikan jiwanya. Dan sungguh telah merugi orang yg mengotori jiwanya.” (QS. Asy-Syamsi: 9-10)

Juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

إنما الأعمال بالخواتيم (رواه البخاري).

Artinya: “Sesungguhnya amalan-amalan (seorang hamba) itu tergantung pada amalan-amalan penutupnya.” (HR. Imam Al-Bukhari).

Tetaplah berusaha untuk berada di jalan Allah dan berusaha menjauhi hal yang menjadikan kita akan kembali kepada keburukan, sebagaimana firman Allah ta’ala,”

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Maka Kami jadikan di antara mereka para pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami karena mereka bisa bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami.”(QS. As Sajdah: 24)

Allah ta’ala berfirman,

وَاللّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَن تَمِيلُواْ مَيْلاً عَظِيماً

“Allah menginginkan untuk menerima taubat kalian, sedangkan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya ingin agar kalian menyimpang dengan sejauh-jauhnya.”(QS. An Nisaa’: 27)

Maka terus semangat untuk menjaga hidayah Allah, mencari cara untuk selalu mempertahankan dan meningkatkannya, insyaallah masih banyak kesempatan untuk menjadi hamba yang shalih. Terus berdoa dan belajar serta mencari komunitas yang baik yang bisa mengingatkan, berharap Allah memudahkan langkah dan menutup akhir kehidupan kita dengan kebahagiaan dan ketaatan. Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Selasa, 5 Syaban 1443 H/ 8 Maret 2022 M

sumber : https://bimbinganislam.com/jangan-berputus-asa-dari-rahmat-allah/

Dampak Ilmu yang Tidak Bermanfaat bagi Seorang Muslim

Betapa banyak manusia menghabiskan waktu bertahun-tahun lamanya, mengeluarkan harta yang banyak untuk menempuh suatu jalan mencari ilmu dan mendalaminya. Akan tetapi, ketika ia mendapatkannya justru membuat ia semakin jauh dari Allah, semakin ia tamak dengan dunia, dan tidak ada manfaat yang bisa diambil darinya. Ini menunjukkan ilmunya tidaklah bermanfaat sama sekali.

Tanda bahwa ilmu itu bermanfaat adalah ilmu tersebut masuk ke dalam hati manusia, yang kemudian menumbuhkan rasa takut, ketenangan, ketundukkan, pasrah, dan mengakui kelemahan dirinya di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ini sebagaimana definisi yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah,

“Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang menetap dalam hati (manusia), yang menumbuhkan rasa tenang, takut, tunduk, merendahkan, dan mengakui kelemahan dirinya di hadapan Allah.” (Kitab Al-Khusyu’ fis Shalaah, hal. 16)

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menyebutkan, “Ilmu adalah sesuatu yang dibangun di atasnya dalil. Dan ilmu yang bermanfaat adalah sesuatu yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Terkadang ada ilmu yang bukan berasal dari Rasulullah, melainkan ilmu duniawi yang bermanfaat, seperti ilmu kedokteran, ilmu hitung, ilmu pertanian, dan ilmu perniagaan” (Majmu’ Al-Fatawa, 6: 388; 13: 136)

Sebaliknya, ketika ilmu itu tidak menumbuhkan ketenangan, rasa takut, dan ketundukan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka bisa dipastikan bahwa ilmu itu tidaklah bermanfaat sama sekali. Dan di antara dampak dari ilmu yang tidak bermanfaat, yaitu:

Hati menjadi tidak khusyuk

Hati yang tidak merasakan ketenangan, ketundukan, dan nikmatnya beribadah kepada Allah adalah buah dari ilmu yang tidak bermanfaat. Yang demikian membuat seseorang akan meremehkan perintah-perintah Allah dan melanggar larangan-larangan-Nya. Ini disebabkan karena hatinya tidak terpaut lagi kepada Allah, melainkan mengikuti hawa nafsu dan kesenangan dunianya saja.

Sebab-sebab yang sangat mempengaruhi hati seseorang menjadi tidak khusyuk adalah terlalu berangan-angan dengan gemerlapnya dunia, lalai akan adanya akhirat, jarang berdoa, dan berzikir kepada Allah, dan enggan membaca Al-Qur’an dan mentadaburinya. Di mana sebab-sebab tersebut Allah ‘Azza Wajalla sebutkan dalam firman-Nya,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ ٱلْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَٰسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)

Dalam sebuah hadis yang agung, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَوَّل مَا يُرْفَعُ مِن هَذِهِ الأُمَّةِ الْخُشُوعُ حَتَّى َلَا تَرَى فِيهَا رَجُلًا خَاشِعًا

“Yang pertama kali diangkat dari umatku adalah khusyuk, sehingga engkau tidak akan melihat seorang pun yang khusyuk.” (HR. Thabrani)

Jiwa senantiasa tidak merasa puas

Inilah sifat tercela yang ada dalam diri seseorang, jiwa yang merasa tidak pernah puas, jiwa yang tidak pernah kenyang dengan apa yang ia punya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِىَ رَضِىَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ

“Binasalah hamba dinar, dirham, pakaian tebal, dan sutra. Jika diberi, ia rida. Namun, jika tidak diberi, ia pun tidak rida.” (HR. Bukhari no. 6435)

Di dalam hadis yang lain, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ مِثْلَ وَادٍ مَالاً لأَحَبَّ أَنَّ لَهُ إِلَيْهِ مِثْلَهُ ، وَلاَ يَمْلأُ عَيْنَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya manusia memiliki lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan harta yang banyak semisal itu pula. Mata manusia barulah penuh jika diisi dengan tanah. Allah tentu akan menerima tobat bagi siapa saja yang ingin bertobat.” (HR. Bukhari no. 6437)

Kurangnya rasa cukup (qana’ah), zuhud, dan syukur dalam diri seseorang adalah faktor utama yang membuat ia terlena dengan hawa nafsunya yang condong pada haus akan harta dan kekuasaan. Inilah sifat dasar jiwa manusia yang tidak merasa puas, kecuali mereka yang senantiasa diberi taufik oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Doa-doa tidak dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Dan di antara dampak dari ilmu yang tidak bermanfaat lainnya adalah doa-doa kita tidak diijabah oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mengapa demikian? Karena ilmu yang tidak bermanfaat akan membuat hati lalai dan terkesan terburu-buru. Berdoa dengan kondisi hati yang lalai dan terburu-buru akan membuat tidak terkabulnya doa.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لم يَعْجَلْ، يقول: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

“Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama tidak terburu-buru, yaitu mengatakan, ‘Aku telah berdoa, namun tidak juga terkabul.’ ” (HR. Bukhari no. 6340)

Selain itu, sebab-sebab lain yang menghalangi terkabulnya doa adalah seseorang tidak berusaha menjalankan hal yang menjadi doa dan harapannya. Ia ingin punya banyak harta dan rezeki, alih-alih bekerja keras, ia justru bermalas-malasan dan enggan berusaha untuk meraih keinginannya. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang sikap yang demikian sebagaimana sabda beliau,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Bersemangatlah pada apa-apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan pada Allah, dan janganlah kamu lengah/putus asa.” (HR. Muslim no. 2664)

Penutup

Di sini, kita memahami alasan mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada umatnya doa perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim)

Pada doa tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga meminta perlindungan dari tiga perkara tercela lainnya, yang ketiganya itu merupakan dampak dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Semoga Allah ‘Azza Wajalla senantiasa menganugerahkan kita ilmu yang bermanfaat, menjauhkan kita dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan menjadikan kita semakin takut dan tunduk kepada-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab

***

Penulis: Chrisna Tri Hartadi, A.Md.

Sumber: https://muslim.or.id/98062-dampak-ilmu-yang-tidak-bermanfaat-bagi-seorang-muslim.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Keutamaan Berjalan Menuju Masjid

Terdapat keutamaan yang besar dalam amal berupa berjalan menuju masjid.

[lwptoc]

Pahala Besar dengan Berjalan Menuju Masjid

Sesungguhnya, pahala yang paling besar adalah yang paling jauh rumahnya dari masjid.  Para fuqaha (ulama ahli fiqih) rahimahumullah menegaskan dianjurkannya memperpendek langkah menuju masjid dan tidak tergesa-gesa (alias berjalan dengan tenang) ketika menuju masjid. Hal ini untuk memperbanyak pahala kebaikan ketika berjalan menuju masjid, berdasarkan berbagai dalil yang menunjukkan adanya keutamaan memperbanyak langkah menuju masjid. [1]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ

“Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu amal yang dapat menghapus kesalahan (dosa) dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab, ”Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, ”(Yaitu) menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit, banyaknya langkah menuju masjid, menunggu shalat setelah mendirikan shalat. Itulah ar-ribath (kebaikan yang banyak).” (HR. Muslim no. 251)

Berjalan Kaki Ke masjid Meskipun Jauh

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلاَةِ أَبْعَدُهُمْ، فَأَبْعَدُهُمْ مَمْشًى وَالَّذِي يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الإِمَامِ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الَّذِي يُصَلِّي، ثُمَّ يَنَامُ

“Orang yang paling banyak mendapatkan pahala dalam shalat adalah mereka yang paling jauh (jarak rumahnya ke masjid), karena paling jauh jarak perjalanannya menuju masjid. Dan orang yang menunggu shalat hingga dia melaksanakan shalat bersama imam itu lebih besar pahalanya dari orang yang melaksanakan shalat kemudian tidur.” (HR. Bukhari no. 651 dan Muslim no. 662)

Hadits-hadits tersebut menunjukkan keutamaan rumah yang jauh dari masjid, karena banyaknya langkah menuju masjid yang membuahkan pahala yang besar. Besarnya pahala itu karena jauhnya rumah dari masjid dan juga karena bolak-balik pergi ke masjid.

Dari ‘Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

كَانَ رَجُلٌ لَا أَعْلَمُ رَجُلًا أَبْعَدَ مِنَ الْمَسْجِدِ مِنْهُ، وَكَانَ لَا تُخْطِئُهُ صَلَاةٌ، قَالَ: فَقِيلَ لَهُ: أَوْ قُلْتُ لَهُ: لَوْ اشْتَرَيْتَ حِمَارًا تَرْكَبُهُ فِي الظَّلْمَاءِ، وَفِي الرَّمْضَاءِ، قَالَ: مَا يَسُرُّنِي أَنَّ مَنْزِلِي إِلَى جَنْبِ الْمَسْجِدِ، إِنِّي أُرِيدُ أَنْ يُكْتَبَ لِي مَمْشَايَ إِلَى الْمَسْجِدِ، وَرُجُوعِي إِذَا رَجَعْتُ إِلَى أَهْلِي، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَدْ جَمَعَ اللهُ لَكَ ذَلِكَ كُلَّهُ

“Seseorang yang setahuku tidak ada lagi yang lebih jauh (rumahnya) dari masjid, dan dia tidak pernah ketinggalan dari shalat. ‘Ubay berkata, maka ia diberi saran atau kusarankan, “Bagaimana sekiranya jika kamu membeli keledai untuk kamu kendarai saat gelap atau saat panas terik?” Laki-laki itu menjawab, “Aku tidak ingin rumahku di samping masjid, sebab aku ingin jalanku ke masjid dan kepulanganku ke rumah semua dicatat (pahala).” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala telah kumpulkan untukmu semuanya tadi.” (HR. Muslim no. 663)

Lihatlah saudaraku, adanya pahala yang besar dari Allah Ta’ala bagi orang-orang yang pergi menuju masjid dan juga ketika berjalan pulang dari masjid. Oleh karena itu, sahabat tersebut lebih memilih untuk berjalan kaki meskipun rumahnya jauh dari masjid.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ، ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مَنْ بُيُوتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ، كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً، وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan ke salah satu rumah Allah (masjid) untuk melaksanakan kewajiban yang Allah tetapkan, maka kedua langkahnya, yang satu menghapus kesalahan dan satunya lagi meninggikan derajat.” (HR. Muslim no. 666)

Dalam hadits-hadits tersebut dan yang lainnya, terdapat motivasi untuk bersungguh-sungguh mendatangi masjid dengan berjalan kaki, bukan dengan naik kendaraan, meskipun rumahnya agak jauh. Hal ini dengan catatan, selama hal itu tidak menimbulkan masyaqqah (kesulitan) dan juga selama tidak ada ‘udzur (misalnya, sudah tua renta dan yang lainnya). Juga motivasi agar tidak membiasakan diri naik kendaraan ketika menuju masjid, jika jarak masjid tersebut masih bisa terjangkau dengan berjalan kaki. [2]

[Selesai]

***

@Rumah Lendah, 27 Jumadil awwal 1441/ 22 Januari 2020

Penulis: M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:

[1] Anjuran seperti ini tentu bukan pada tempatnya karena hanya akan membebani diri sendiri. Karena yang dimaksud oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah langkah berjalan biasa (normal), bukan langkah yang dibuat-buat sengaja lebih pendek agar lebih banyak jumlah langkah menuju ke masjid. Karena jika memperpendek langkah ini yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan, tentu akan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan dengan perbuatan beliau atau minimal akan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam anjurkan kepada para sahabatnya. 

[2] Pembahasan ini kami sarikan dari kitab Ahkaam Khudhuuril Masaajid karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan hafidzahullah, hal. 62-63 (cetakan ke empat tahun 1436, penerbit Maktabah Daarul Minhaaj, Riyadh KSA). 

Sumber: https://muslim.or.id/54513-keutamaan-berjalan-menuju-masjid.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Bekal Mendidik Keluarga, bag. I

Keluarga adalah struktur organisasi terkecil dalam masyarakat, maka mendidik masyarakat hendaknya dimulai dari mendidik keluarga. Namun, dalam mendidik kita tidak hanya membekali diri dengan ilmu pengetahuan saja, ada hal-hal mendasar yang juga harusnya menjadi bekal seorang pendidik yang terus ia pegang, antara lain,

  1. Ikhlas

Pendidikan adalah ibadah yang mendatangkan pahala, kebaikan dalam mendidik akan diberi balasan baik oleh Allah. Oleh karena itu, niat dalam mendidik harusnya disertai keikhlasan kepada Allah Ta’ala. Tidak sepatutnya seseorang berlelah-lelah dalam mendidik untuk dikatakan bahwa ia telah mendidik dengan baik, disanjung karena telah mengerahkan segala daya dan upaya dalam rangka membimbing keluarganya atau agar dikatakan dia adalah pendidik yang ahli dan pengajar yang mahir.

Allah Ta’ala berfirman,

“Mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama (ketaatan) kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

  1. Berharap Pahala

Berharaplah pahala dari Allah Ta’ala dalam melaksanakan proses pendidikan keluarga. Pendidikan itu berat dan tidak mengenal istirahat; panjang dan tidak berkesudahan; serta tanggung jawab yang tidak bisa ditawar. Maka, dengan proses mendidik yang mengambil banyak waktu, tenaga, pikiran maupun harta hendaknya disertai pengharapan yang besar kepada Allah (setelah mengikhlaskan niat hanya kepada-Nya) agar usaha kita tidak hanya berbuah hasil, namun juga berbuah pahala.

Pikiran paling baik adalah pikiran yang tertuju untuk keluarga, nafkah yang paling utama adalah nafkah yang diberikan kepada kerabat dan usaha paling baik adalah yang dikerahkan untuk buah hati. Bahkan, berinfaq untuk keluarga dan kerabat memiliki keutamaan dan balasan yang lebih besar dari selainnya.

Dari  Tsauban radhiallaahu’anhu, dia berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Satu dinar terbaik adalah satu dinar yang seseorang infaqqan untuk keluarganya..” (Shahih Muslim, 2/574, no. 994).

  1. Hidayah di tangan Allah

Hidayah dalam arti iman, taufiq kepadanya dan keteguhan di atasnya bukan di tangan kita, akan tetapi di tangan Allah. Dia-lah yang memberikan kepada siapa yang ia kehendaki dengan karunia dan rahmat-Nya dan menghalanginya dari siapa yang Dia kehendaki dengan keadilan dan hikmah-Nya. Yang wajib atas kita kepada keluarga hanya hidayah dalam bentuk menunjukkan, mengarahkan, menasehati dan membimbing, karena itu jangan melalaikan dan meremehkannya.

Allah berfirman,

“Sesungguhnya engkau (wahai Rasul) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56)

  1. Bersandarlah kepada Allah

Kita adalah hamba yang fakir dan miskin. Kita tidak memiliki daya upaya untuk diri sendiri, apalagi untuk orang lain. Karena itu, janganlah bersandar kepada diri sendiri, jangan mengandalkan kemampuan kita, jangan yakin kepada selain Allah. Sebaliknya, serahkkan urusan kita kepada-Nya, bertawakallah kepada-Nya dan mohonlah pertolongan kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian adalah orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)

Allah Ta’ala juga berfirman,

“Dan tidak ada taufiq bagiku melainkan dengan (pertolongan Allah). Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya lah aku kembali.” (QS. Hud: 88)

Banyak-banyaklah berdo’a kepada Allah, berharap kepada-Nya, bernaung di bawah naungan-Nya dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Jangan berkata, “Aku cerdik, aku berpengalaman, aku berusaha keras dan aku pandai.” Walaupun kita telah melakukan banyak sebab dan membekali diri dengan berbagai ilmu. Apa yang kita usahakan adalah bentuk ikhtiar kita, adapun hasilnya, bertawakallah kepada Allah.

  1. Jadilah teladan

Orang berakal sepakat pentingnya teladan yang baik di segala bidang kehidupan karena medan hidup pertama adalah diri kita, karena itu, perbaiki diri kita dahulu, semoga dengan itu Allah memperbaiki orang-orang yang berada dalam tanggung jawab kita. Sebab, bila mereka sampai mendengar sesuatu yang berlawanan dengan apa yang kita lakukan maka akan terjadi ketimpangan, kesalahanpun menjadi besar. Bagi mereka agama hanya sekedar slogan di bibir saja, kalimat-kalimat hampa yang tidak berdampak apapun dalam hidup, tidak berefek apapun dalam kenyataan. Maka mendidik keluarga menjadi baik bukan hanya teori, bahkan mendidik mereka melalui teladan langsung tanpa banyak retorika dan perintah akan lebih berbekas di hati. Mendidik melalui teladan langsung seperti nasehat tanpa suara, mereka menerima dengan melihat langsung contohnya dan kebaikan yang dihasilkan dari teladan yang baik itu.

  1. Hiasi diri dengan kelembutan

Kelembutan itu seperti pisau, namun memotong tanpa sakit. Kelembutan adalah nikmat besar yang berdampak terhadap jiwa-jiwa mulia yang tidak dapat dilakukan oleh kekerasan dan kekasaran.

Allah Ta’ala berfIrman,

“Maka berkat rahmat Allah engkau (wahai Nabi) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau berlaku keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali Imran: 159).

Dari Aisyah radhiallaahu’anhaa, dia berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

 “Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu melainkan ia menghiasinya dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan ia membuatnya buruh.” (Shahih Muslim, 4/1590, no. 2593).

Bersambung insyaallaah..

Penulis:  Ummu ‘Abdirrahman

Sumber: https://muslimah.or.id/9975-bekal-mendidik-keluarga-bag-i.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Al-Qur’an Adalah Kalamullah

Pertanyaan:

Apa yang dimaksud dengan Al-Qur’an adalah kalamullah?

Jawaban:

Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du,

Para ulama Ahlussunnah mengatakan,

إن القرآن كلام الله، منزل غير مخلوق، منه بدأ، و إليه يعود

“Al-Qur’an adalah Kalamullah, yang diturunkan dari Allah, bukan makhluk, Al-Qur’an berasal hanya dari Allah, dan akan kembali kepada-Nya”.

Yang dimaksud dengan perkataan “Al-Qur’an adalah Kalamullah” adalah bahwa teks ayat-ayat Al-Qur’an adalah firman (perkataan) Allah yang Allah firmankan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dengan huruf dan suara. Ini adalah akidah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, para salaf, dan seluruh ulama Ahlussunnah tanpa ada perselisihan di antara mereka. Sedangkan ahlul bid’ah meyakini bahwa Al-Qur’an adalah makhluk Allah.

Dalil-dalil bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah

Allah ta’ala berfirman :

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah (Al-Qur’an), kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui” (At-Taubah: 6).

Yang dimaksud dengan “kalamallah” di dalam ayat ini adalah Al-Qur’an. Sehingga di sini Allah ta’ala menyebutkan Al Qur’an dengan istilah kalamullah.

Allah ta’ala juga berfirman :

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ ۖ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an). Tidak ada (seorangpun) yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari pada-Nya” (Al-Kahfi : 27).

Dalam ayat ini Allah memerintahkan untuk membaca Al-Qur’an yang merupakan wahyu-Nya. Menunjukkan wahyu yang Allah firmankan itu berupa perkataan yang terdapat teks dan hurufnya, sehingga bisa dibaca.

Allah ta’ala berfirman:

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Turunnya Al-Qur’an yang tidak ada keraguan padanya, (adalah) dari Tuhan semesta alam” (QS. As-Sajdah: 2)

Allah ta’ala juga berfirman:

( وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ )

“Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya” (QS. Al-An’am: 114).

Allah ta’ala juga berfirman:

( قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ ) النحل/ 102

“Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar” (QS. An-Nahl: 102)

Allah ta’ala tidak menyandarkan sesuatu yang diturunkan kepada Dzat-Nya kecuali kalam-Nya, hal ini menunjukkan adanya kekhususan dari sisi artinya, maka hal itu tidaklah sama dengan turunnya hujan, besi dan lain sebagainya. Berbeda dengan kalam-Nya, karena kalam itu adalah sifat, sedangkan sifat itu tidak disandarkan kecuali kepada yang memilikinya tidak kepada yang lainnya.

Allah ta’ala berfirman:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

“Ingatlah, makhluk itu hanyalah milik-Nya dan perintah itu hanyalah perintah-Nya” (QS. Al-A’raaf: 54).

Al-amr dalam ayat ini maksudnya Al-Qur’an. Ayat ini menunjukkan Al-Qur’an bukan makhluk, karena antara Al-Qur’an dan makhluk dipisahkan dengan huruf و (wau).

Dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُ نَفْسَهُ عَلَى النَّاسِ فِي الْمَوْقِفِ فَقَالَ أَلَا رَجُلٌ يَحْمِلُنِي إِلَى قَوْمِهِ؟ فَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ مَنَعُونِي أَنْ أُبَلِّغَ كَلَامَ رَبِّي

“Pada suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menawarkan dirinya kepada manusia di sebuah tempat pemberhentian, beliau bersabda: Adakah seorang laki-laki yang mau membawaku kepada kaumnya? Sesungguhnya orang-orang Quraisy telah melarangku menyampaikan kalam dari Rabb-ku”  (HR. Ahmad no. 14659, At Tirmidzi no. 2849, dan Abu Daud no. 4109, dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan Al-Qur’an sebagai kalam (firman) dari Allah. 

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barang siapa yang membaca 1 huruf dari Al-Qur’an, maka baginya 1 kebaikan. dan 1 kebaikan dilipatgandakan 10x lipat. aku tidak mengatakan alif lam miim itu satu huruf, tapi alim satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf” (HR. At-Tirmidzi 2910, ia berkata: “hasan shahih gharib dari jalan ini”, dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no.3327)

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa Al-Qur’an terdiri dari huruf-huruf, bahkan beliau memberikan contoh ayat ألم itu terdiri dari tiga huruf. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an yang Allah firmankan terdiri dari huruf-huruf yang bisa dibaca.

Dalil Ijma

Akidah bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk, adalah akidah seluruh ulama Ahlussunnah tanpa ada perselisihan di antara mereka. Ibnu Abi Hatim rahimahullah mengatakan,

سألت أبي وأبا زرعة عن مذاهب أهل السنة في أصول الدين ، وما أدركا عليه العلماء في جميع الأمصار ، وما يعتقدان من ذلك ؟ فقالا : ”أدركنا العلماء في جميع الأمصار : حجازا ، وعراقا ، وشاما ، ويمنا ، فكان من مذهبهم : الإيمان قول وعمل يزيد وينقص ، والقرآن كلام الله غير مخلوق بجميع جهاته”

“Aku bertanya kepada Bapakku dan Abu Zur’ah tentang madzhab Ahlus Sunnah dalam dasar-dasar Agama Islam dan apa yang mereka berdua ketahui tentang keyakinan para Ulama dari berbagai negeri serta apa yang mereka berdua yakini. Mereka berdua berkata, ’Kami dapatkan para ulama dari berbagai negeri, baik Hijaz, Irak, Syam, Yaman, maka di antara madzhab mereka iman itu ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, serta Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk, ditinjau dari segala sisinya’” (Syarah Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah lil Laalika’i, 1/198).

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan:

من قال القرآن مخلوق فهو كافر

“Siapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk maka ia kafir” (Al-Ibanah Al-Kubra, 6/51-52).

Imam Ahmad rahimahullah mengatakan:

من قال القرآن مخلوق فهو عندنا كافر

“Siapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk maka menurut kami ia kafir” (As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad, 1/102-103).

Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengatakan:

من قال: القُرْآنُ مخلوقٌ، فهو زِنديقٌ

“Siapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka ia zindiq” (As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad, 1/111).

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah juga mengatakan:

من زعم أنَّ قَولَ اللهِ عَزَّ وجَلَّ: يَا مُوسَى إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [النمل:9]  مخلوقٌ، فهو كافِرٌ زِنديقٌ حَلالٌ دَمُه

“Siapa yang mengklaim bahwa firman Allah ta’ala (yang artinya) : “Wahai Musa sesungguhnya Aku adalah Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. An-Naml: 9) adalah makhluk, maka ia kafir zindiq dan halal darahnya” (As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad, 1/107).

Keyakinan Ahlul Bid’ah

Sekte Jahmiyah dan Mu’tazilah meyakini bahwa Al-Qur’an adalah makhluk Allah. Mereka tidak meyakini bahwa ayat-ayat Al-Qur’an adalah firman Allah. 

Adapun Asya’irah meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah, namun yang merupakan kalamullah adalah kalam nafsi yang abstrak tanpa huruf dan suara. Sehingga yang dari Allah adalah konten dan ide dari-Al Qur’an, adapun teks dan hurufnya bukan firman Allah.

Ini semua adalah akidah yang menyimpang dari kebenaran, bertentangan dengan dalil dan apa yang diyakini oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, para salaf, dan para ulama Ahlussunnah. 

Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik.

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.

***

Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.

sumber : https://konsultasisyariah.com/42308-al-quran-adalah-kalamullah.html