Istiqamah, Nikmat Yang Sering Dilupakan

Imam Ibnul Qayyim –rahimahullah– mengatakan:

Bila Allah membukakan bagimu pintu (kemudahan dalam melakukan) sholat malam, maka jangan engkau memandang orang yang tidur dengan pandangan merendahkan.

Bila Allah membukakan bagimu pintu (kemudahan dalam melaksanakan) puasa, maka jangan engkau memandang orang yang tak berpuasa dengan pandangan merendahkan.

Bila Allah membukakan untukmu pintu (kemudalahan untuk) berjihad, maka jangan engkau memandang orang yang tak berjihad dengan pandangan merendahkan.

Boleh jadi orang yang tertidur, tak berpuasa dan tak berjihad lebih dekat kepada Allah ketimbang dirimu

Beliau juga mengatakan:

Engkau tertidur di malam hari lalu menyesal di pagi harinya lebih baik daripada engkau terjaga beribadah di malam hari lalu berbangga dipagi harinya.
Karena orang yang bangga diri, amalannya tidak akan naik ke sisi Allah

(Madarijus Salikin: 1/177)

Ungkapan yang sama pernah diucapkan Imam Mutharrif Ibnu Sikhir –rahimahullah– , beliau mengatakan:

Aku tidur terlelap dimalam hari lalu menyesal di pagi hari lebih aku sukai daripada aku bangun menghidupkan malam namun aku bangun pagi dengan perasaan ujub (bangga diri)
(Al Hilyah: II/200).

Sahabat fillah…
Saat Allah azza wa jalla memilihmu menapaki jalan hidayah-Nya, memudahkan anggota badanmu beribadah kepada-Nya itu bukan karena engkau kuat, tapi semua itu semata-mata rahmat dan kurnia-Nya, dan kapan saja karunia itu bisa dicabutnya.

Petuah Imam Mutharrif dan Imam Ibnul Qayyim diatas mengingatkan kepada kita betapa pentingnya mensyukuri nikmat istiqomah dan betapa bahayang penyakit ujub (bangga diri) apalagi bila disertai dengan sikap merendahkan orang lain. Karena kemudahan dalam beramal semata-mata murni taufiq dari Allah yang harus kita mohonkan dan kita syukuri.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Ada tiga hal yang dapat membinasakan diri seseorang yaitu : Kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang dituruti serta sifat bangganya seseorang terhadap dirinya sendiri (ujub)“. (HR. Al Baihaqy)

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu pernah mengatakan: “Kebinasaan itu ada pada dua perkara, yaitu merasa putus asa dari rahmat Allah, dan merasa bangga terhadap diri sendiri.”

Suatu hari seseorang pernah berkata kepada syaikh Bin Baz –rahimahullah-, wahai syaikh.. fulan kini telah berubah menjadi buruk, syaikh kemudian menjawab: “Dia berubah mungkin karena dua hal, dia tidak meminta keteguhan pada Allah dan tidak mensyukuri Allah atas nikmat istiqomah”

Maka jangan mudah terpedaya dengan amal-amal yang sudah kita lakukan, jangan pula memandang rendah orang lain yang belum menemukan jalan hidayah atau belum diberi taufiq oleh Allah dalam melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Sebab kalau bukan karena rahmat Allah mungkin kita berada pada posisi orang yang kita remehkan itu.

“Dan kalau Kami tidak meneguhkan (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka”

Sekali lagi… jangan pernah menganggap bahwa keteguhan dan kemudahan dalam beragama itu diraih karena usaha kita pribadi,

Ingat… Allah pernah berfirman kepada penghulu anak cucu adam:

“Dan kalau saja Kami tidak meneguhkan (hati) mu”

Bila Rasulullah saja demikian, maka bagaimana dengan kita…?

Semoga Allah meneguhkan hati kita diatas iman.

Amiin

____
Madinah 15 Dzulqa’dah 1435 H

Ust. Aan Chandra Thalib

Sumber: https://muslimah.or.id/6566-istiqamah-nikmat-yang-sering-dilupakan.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Keutamaan Menebarkan Salam

Ucapan salam disebut juga dengan istilah tahiyyatul Islam. Bagi seorang Muslim, sungguh ucapan ini jauh lebih baik dari sapaan-sapaan gaul ataupun greets ala barat. Karena ucapan salam yang sederhana ini memiliki banyak sekali keutamaan yang sering kali tidak diketahui atau tidak disadari oleh kita. Di antara keutamaan-keutamaan tersebut adalah:

1. Menumbuhkan rasa cinta

Saling mengucapkan salam akan menumbuhkan kecintaan terhadap hati sesama muslim serta dengan sendirinya membuat suasana Islami di tengah kerabat dan keluarga Anda. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تَدْخُلُونَ الجَنَّةَ حتَّى تُؤْمِنُوا، ولا تُؤْمِنُوا حتَّى تَحابُّوا، أوَلا أدُلُّكُمْ علَى شيءٍ إذا فَعَلْتُمُوهُ تَحابَبْتُمْ؟ أفْشُوا السَّلامَ بيْنَكُمْ

“Tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak dikatakan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Sebarkan salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)

Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menjelaskan, “Hadis ini menunjukkan keutamaan menebarkan salam. Dan menunjukkan betapa agung perkaranya. Dan bahwasanya menebarkan salam adalah sebab timbulnya rasa cinta dan ia merupakan doa antara sesama Muslim.” (Syarah Sunan Abu Daud, 3/590)

Sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saling mengucapkan salam akan menumbuhkan rasa cinta. Bukan cinta biasa, namun cinta karena iman, cinta karena memiliki akidah yang sama. 

2. Sebab masuk ke surga

Dan yang luar biasa lagi, ternyata dengan kebiasaan menebarkan salam, bisa menjadi sebab seseorang masuk ke dalam surga. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

اعبُدوا الرحمنَ ، و أطعِمُوا الطعامَ ، وأَفشوا السَّلامَ ، تَدخُلوا الجنَّةَ بسَلامٍ

“Sembahlah ar-Rahman semata, berikanlah makan (kepada yang membutuhkan), tebarkanlah salam, maka engkau akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad no.981, dishahihkan al-Albani dalam as-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, 2/115)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan, “Perkataan [engkau akan masuk surga dengan selamat] menunjukkan orang yang melakukan amalan-amalan di atas akan masuk surga tanpa hukuman dan tanpa azab. Karena orang yang diazab maka ia tidak dikatakan selamat. Maka tiga amalan dalam hadis ini adalah di antara sebab yang memasukan orang ke surga dengan selamat.” (Syarah Riyadhus Shalihin, 5/202)

3. Salah satu amalan terbaik dalam Islam

Mengucapkan salam adalah salah satu amalan yang terbaik dalam Islam. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

أنَّ رَجُلًا سَأَلَ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أيُّ الإسْلَامِ خَيْرٌ؟ قالَ: تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وتَقْرَأُ السَّلَامَ علَى مَن عَرَفْتَ ومَن لَمْ تَعْرِفْ

“Ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Wahai Rasulullah, amalan Islam apa yang paling terbaik? Rasulullah menjawab: engkau memberi sedekah berupa makanan dan engkau mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal.” (HR. al-Bukhari no. 12, 28, Muslim no. 39)

Hadis ini juga mengajarkan adab kepada kita bahwa hendaknya kita bersemangat juga mengucapkan salam kepada orang yang belum dikenal. Tidak hanya bersemangat mengucapkan salam kepada orang yang sudah dikenal saja.

4. Diganjar pahala 10 kali lipat

Orang yang mengucapkan salam ia akan mendapatkan pahala, karena ucapan salam adalah ibadah yang diperintahkan oleh syariat. Namun tidak cukup sampai di situ, orang yang mengucapkan salam akan dilipat-gandakan pahalanya minimalnya 10 kali lipat. Sebagaimana dalam hadis dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu:

جاء رجلٌ إلى النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ، فقال : السلامُ عليكم ، فرَدَّ عليه ، ثم جَلَس ، فقال النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : عَشْرٌ . ثم جاء آخَرُ ، فقال : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ ، فرَدَّ عليه ، فجلس ، فقال : عِشْرُونَ . ثم جاء آخَرُ ، فقال : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ وبَرَكاتُه ، فرَدَّ عليه ، فجلس ، فقال : ثلاثونَ

“Datang seorang lelaki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata: Assalamu ‘alaikum. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: sepuluh! Kemudian datang orang yang lain, ia berkata: Assalamu ‘alaikum warahmatullah. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: dua puluh! Kemudian datang orang yang lain, ia berkata: Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: tiga puluh!” (HR. Abu Daud no.5195, at-Tirmidzi no.2689, Ahmad no. 19962, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud)

Hadis ini menunjukkan bahwa ucapan salam yang semakin sempurna, akan semakin besar pula pahalanya. Dan ucapan salam yang paling sempurna adalah: Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh.

5. Memberikan keberkahan

Sebagaimana dalam firman Allah ta’ala 

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberkahi lagi merupakan kebaikan.” (QS. an-Nur: 61)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan: “[salam yang ditetapkan dari sisi Allah] maksudnya Allah ta’ala yang mensyariatkannya bagi kalian dan Allah jadikan sebagai salam penghormatan di antara kalian. [Yang diberkahi] Karena di dalamnya tercakup doa agar selamat dari berbagai kekurangan dan doa untuk meminta rahmat, keberkahan, pertumbuhan, dan pertambahan kebaikan. [Lagi merupakan kebaikan] Karena ia merupakan kalimat thayyibah yang dicintai oleh Allah. Yang memberikan rasa senang di dalam hati orang yang hidup dan menimbulkan rasa cinta dan sayang.” (Taisir Karimirrahman, hal. 576)

6. Mendatangkan keselamatan dari Allah

Ucapan salam sejatinya adalah doa meminta keselamatan dari Allah kepada saudara kita. Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menjelaskan, “Menebarkan salam adalah sebab timbulnya rasa cinta dan ia merupakan doa antara sesama Muslim” (Syarah Sunan Abu Daud, 3/590). Sehingga ucapan salam yang kita sampaikan kepada orang lain bermakna doa agar mereka mendapatkan keselamatan dari segala bahaya, kebebasan dari aib, keamanan dan surga dari Allah ta’ala.

7. Mendapatkan semua keutamaan doa

Ucapan salam adalah doa. Maka orang yang mengucapkannya mendapatkan semua keutamaan doa, di antaranya:

  1. Doa adalah ibadah.

Allah ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ 

“Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)

  1. Termasuk dalam golongan orang-orang yang berdzikir.

Allah ta’ala berfirman:

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Laki-laki yang banyak berdzikir kepada Allah dan perempuan-perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. al-Ahzab: 35)

Sehingga orang-orang yang menebarkan salam juga mendapatkan keutamaan-keutamaan dari dzikir kepada Allah yang sangat banyak sekali keutamaannya.

  1. Diampuni dosa-dosanya.

Allah ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi:

يا ابنَ آدَمَ، إنَّك ما دَعَوتَني ورَجَوتَني غَفرتُ لك على ما كان منكَ ولا أُبالي، يا ابنَ آدَمَ،

“Wahai manusia, selagi engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, aku mengampuni dosamu dan tidak aku pedulikan lagi dosamu.” (HR. at-Tirmidzi no.3540, ia berkata: “Hadis hasan shahih”).

  1. Jauh dari kesombongan.

Karena orang-orang yang enggan berdoa, Allah sebutkan sebagai orang yang sombong. Allah ta’ala berfirman:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)

Dan keutamaan-keutamaan lainnya yang sangat banyak sekali. Oleh karena itu hendaknya kita bersemangat untuk terus menebarkan salam kepada sesama Muslim. 

Semoga Allah ta’ala memberi taufik.

***

Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.

sumber : https://konsultasisyariah.com/38829-keutamaan-menebarkan-salam.html

Apakah Islam Disebarkan dengan Pedang?

Pertanyaan:

يدعي بعض أعداء الدين أن الإسلام قد انتشر بحد السيف ، فما رد فضيلتكم على ذلك ؟

Sebagian musuh agama mengklaim bahwa agama Islam disebarkan dengan ketajaman pedang, bagaimana membantah hal ini, wahai Syeikh yang mulia?

Jawaban:

الحمد لله

الإسلام انتشر بالحجة والبيان بالنسبة لمن استمع البلاغ واستجاب له ، وانتشر بالقوة والسيف بالنسبة لمن عاند وكابر حتى غُلِب على أمره ، فذهب عناده فأسلم لذلك الواقع

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Segala puji hanya bagi Allah.

Agama Islam disebarkan dengan dalil dan penjelasan bagi mereka yang mau mendengar dakwah Islam dan menerimanya, juga dengan kekuatan dan pedang bagi mereka yang menolak dan menyombongkan diri hingga tunduk dengan agama Islam, serta hilang penolakan mereka dan menerima agama ini.

Dengan taufik dari Allah, semoga salawat dan salam-Nya terlimpah untuk Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya. 

Sumber:

هل انتشر الإسلام بحد السيف

https://islamqa.info/ar/downloads/answers/5441

sumber : https://konsultasisyariah.com/38709-apakah-islam-disebarkan-dengan-pedang.html

Apakah Jin atau Setan Bisa Terbakar dengan Dibacakan Al-Qur’an?

Pertanyaan:

Apakah benar bahwa jika seseorang kesurupan jin, lalu dibacakan Al-Qur’an kepadanya, lalu jin di dalam tubuhnya akan mati terbakar? Bukankah di surat Al Jin disebutkan bahwa jin bisa mendengar Al-Qur’an. Andaikan jin itu terbakar, bagaimana mengetahui dengan pasti bahwa jin tersebut mati terbakar? Mohon penjelasannya.

Jawaban:

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du.

Benar bahwa di dalam surat al-Jin disebutkan bahwa para jin mendengarkan al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman:

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا

“Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan al-Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan.” (QS. al-Jin: 1)

Maka tidak benar jika dikatakan bahwa jin secara mutlak akan terbakar jika mendengarkan al-Qur’an. Karena buktinya jin yang disebutkan dalam ayat ini tidak terbakar.

Dan kita juga meyakini bahwa jin itu bisa mati sebagaimana manusia bisa mati. Dalam hadits dari Abdullah bin Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa:

أعوذُ بِعزَّتِكَ الَّذي لا إلهَ إلَّا أنتّ [ أنْ تُضِلَّنِي ، أنتَ الحيُّ ] ، الَّذي لا يَموتُ ، و الجِنُّ و الإنْسُ يَموتُونَ

“Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu ya Allah yang tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, dari kesesatan. Engkau Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Sedangkan jin dan manusia akan mati.” (HR. Bukhari no.7383, Muslim no.2717)

Namun, tentang mengobati kesurupan jin dengan dibacakan al-Qur’an kemudian diklaim bahwa jinnya terbakar karena bacaan al-Qur’an tersebut, ini adalah kesimpulan atau pendapat sebagian ulama. Contohnya dalam kitab I’anatut Thalibin disebutkan:

فائدة من الشنواني: ومما جرب لحرق الجن أن يؤذن في أذن المصروع سبعا، ويقرأ الفاتحة سبعا، والمعوذتين، وآية الكرسي، والسماء والطارق، وآخر سورة الحشر

“Ada faedah dari asy-Syanwani, ia berkata: berdasarkan pengalaman, cara membakar jin adalah dengan membacakan adzan di telinga orang yang kesurupan sebanyak 7x. Lalu dibacakan surat al-Fatihah 7x, mu’awwidzatain (an-Nas dan al-Falaq), ayat Kursi, surat ath-Thariq, dan akhir surat al-Hasyr.”

Namun perkara terbakarnya jin ini adalah perkara ghaib, yang pada dasarnya semua perkara ghaib hanya bisa diketahui oleh dalil. Andaikan ada jin yang mengatakan ia terbakar atau temannya terbakar pun, ini kabar yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Syaikh al-Albani pernah ditanya, “apakah terdapat di dalam hadits-hadits yang shahih bahwa al-Qur’an bisa membakar jin? Demikian juga jin yang merasuki manusia jika ia diperintahkan untuk keluar dan ia tidak mau keluar, apakah boleh membakarnya dengan membacakan al-Qur’an?”.

Beliau menjawab:

لا أعلم شيئًا من هذا في السنة أن تلاوة القرآن تحرق الجنِّيَّ المتلبِّس بإنسان ، لكن الذي نعلمه أن القرآن الكريم كما قال رب العالمين : (( فيه شفاء للناس )) ، وهو (( شفاء لما في الصدور )) ، وقد جاء في بعض الأحاديث في ” مسند الإمام أحمد ” وفي غيره أنَّ النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – مرَّ بامرأة وعندها – أو ولها – ولدٌ مصابٌ باللَّمم – أي : بالجنون – ، فقرأ عليه النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – بعض الآيات القرآنية فكأنما نشط من عقال ، وسافر النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – وتابع طريقه ، ثم لما رجع ومرَّ بالمرأة فسألها عن ولدها ؟ قالت : والحمد لله لا يزال كما تركته بعد أن شُفِيَ

“Saya tidak mengetahui sama sekali dari hadits-hadits Nabi bahwa membacakan al-Qur’an bisa membakar jin yang merasuki seorang manusia. Namun yang kami ketahui adalah bahwa al-Qur’anul Karim adalah sebagaimana firmannya Rabb semesta alam (yang artinya): “Di dalam al-Qur’an ada penyembuh bagi manusia” (QS. an-Nahl: 69). Dan juga (yang artinya): “Al-Qur’an adalah penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada” (QS. Yunus: 57). Dan terdapat dalam sebagian hadits di Musnad Ahmad dan yang lainnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati wanita yang anaknya terkena penyakit lamam (gila). Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat al-Qur’an, lalu serta merta anak tersebut langsung sembuh dan berakal kembali. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan safarnya dan mengikuti jalur perjalanannya. Kemudian ketika beliau kembali dan melewati rumah wanita tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kembali tentang anaknya? Wanita tadi menjawab: Alhamdulillah anakku tetap sehat sebagaimana kondisinya ketika terakhir bertemu denganmu”.

فهذا ثابت في السنة أن القرآن يفيد في إخراج الجنِّي المتلبِّس بالإنسان ، وهذا حديث شاهد على ذلك ، ثم إن بعض الأئمة الصادقين في اتباعهم لسنة النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – كانوا يستنُّون به في محاولتهم لإخراج الجنِّ المتلبِّس بالإنسان ، وعلى رأس هؤلاء شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمه الله – ؛ فقد كان معروفًا في زمانه بأنه إذا قرأ على المصروع شيئًا من آيات الله – تبارك وتعالى – قام في الحال وكأنما لم يمسَّه الشيطان ، فقراءة القرآن تُفيد إلى هذا المجال ، أما أنُّو القرآن يحرق الجنِّي فهذا شيء ما سمعت به ولا عرفته ، ولا أظنُّه أنه يمكن أن يصح

“Inilah yang ada dalam hadits-hadits. Yaitu bahwasanya al-Qur’an bisa bermanfaat untuk mengeluarkan jin yang merasuki seorang manusia. Hadits di atas adalah dalil atas hal ini. Kemudian para ulama yang jujur dalam mengikuti sunnah Nabi pun mereka mengikuti cara Nabi ini dalam upaya mengeluarkan jin yang merasuki manusia. Di antara pemimpin para ulama tersebut adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau dikenal di zamannya, bahwa jika ada orang kesurupan lalu dibacakan ayat al-Qur’an oleh beliau maka orang yang kesurupan tadi langsung sembuh seketika seperti tidak pernah kesurupan sama sekali. Maka membacakan ayat al-Qur’an itu bisa memberi manfaat dalam hal ini. Adapun meniatkan membaca al-Qur’an untuk membakar jin, ini perkara yang belum pernah aku dengar (dari hadits) dan belum aku ketahui (dalilnya). Dan aku menyangka ini perkara yang tidak benar adanya.” (Fatawa Jiddah, no. 16)

Oleh karena itu, mengenai terbakarnya jin karena bacaan al-Qur’an, sikap yang terbaik adalah tawaqquf, tidak meyakininya dan juga tidak menafikannya. Karena ini adalah perkara ghaib yang Allah tutup dari pandangan mata dan akal kita. Kecuali ada dalil yang menyebutkannya. 

Namun mengenai mengobati orang yang kesurupan dengan membacakan al-Qur’an kepadanya, ini perkara yang shahih dan bisa bermanfaat untuk menyembuhkannya. Hal ini berdasarkan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Wallahu a’lam.

Semoga Allah ta’ala memberi taufik.

***

Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.

sumber : https://konsultasisyariah.com/39216-apakah-jin-atau-setan-bisa-terbakar-dengan-dibacakan-al-quran.html

Adab Bertamu dalam Islam Sesuai Contoh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Adab Bertamu dalam Islam

Adab bertamu dalam Islam – Saling berkunjung dan bertamu di antara kita adalah hal yang biasa terjadi. Baik bertamu di antara sanak famili, dengan tetangga, atau teman sebaya yang tinggal di kos. Namun, banyak di antara kita yang melupakan atau belum mengetahui adab-adab dalam bertamu, dimana syari’at Islam yang lengkap telah memiliki tuntunan tersendiri dalam hal ini. Nah, alangkah indahnya jika setiap yang kita lakukan kita niatkan ibadah kepada Allah ta’ala dan ittiba’ pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk dalam hal adab bertamu ini.

1. Minta Izin Maksimal Tiga Kali

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita, bahwa batasan untuk meminta izin untuk bertamu adalah tiga kali. Sebagaimana dalam sabdanya,

اَلْاسْتِئْذَانُ ثَلاَثٌ، فَاِنْ أُذِنَ لَكَ وَاِلاَّ فَارْجِعْ

Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiallahu’anhu, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka pulanglah!’” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Mengucapkan Salam & Minta Izin Masuk

Terkadang seseorang bertamu dengan memanggil-manggil nama yang hendak ditemui atau dengan kata-kata sekedarnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan, hendaknya seseorang ketika bertamu memberikan salam dan meminta izin untuk masuk. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَدْخُلُوْا بُيُوْتًا غَيْرَ بُيُوْتِكُمْ حَتّٰى تَسْتَأْنِسُوْا وَتُسَلِّمُوْا عَلٰٓى اَهْلِهَاۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nuur [24]: 27)

Sebagaimana juga terdapat dalam hadits dari Kildah ibn al-Hambal radhiallahu’anhu, ia berkata,

“Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku masuk ke rumahnya tanpa mengucap salam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Keluar dan ulangi lagi dengan mengucapkan ‘assalamu’alaikum’, boleh aku masuk?’” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi berkata: Hadits Hasan)

Dalam hal ini (memberi salam dan minta izin), sesuai dengan poin pertama, maka batasannya adalah tiga kali. Maksudnya adalah, jika kita telah memberi salam tiga kali namun tidak ada jawaban atau tidak diizinkan, maka itu berarti kita harus menunda kunjungan kita kali itu. Adapun ketika salam kita telah dijawab, bukan berarti kita dapat membuka pintu kemudian masuk begitu saja atau jika pintu telah terbuka, bukan berarti kita dapat langsung masuk. Mintalah izin untuk masuk dan tunggulah izin dari sang pemilik rumah untuk memasuki rumahnya. Hal ini disebabkan, sangat dimungkinkan jika seseorang langsung masuk, maka ‘aib atau hal yang tidak diinginkan untuk dilihat belum sempat ditutupi oleh sang pemilik rumah. Sebagaimana diriwayatkan dari Sahal ibn Sa’ad radhiallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا جُعِلَ الاسْتِئذَانُ مِنْ أجْلِ البَصَرِ

“Sesungguhnya disyari’atkan minta izin adalah karena untuk menjaga pandangan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Ketukan Yang Tidak Mengganggu

Sering kali ketukan yang diberikan seorang tamu berlebihan sehingga mengganggu pemilik rumah. Baik karena kerasnya atau cara mengetuknya. Maka, hendaknya ketukan itu adalah ketukan yang sekedarnya dan bukan ketukan yang mengganggu seperti ketukan keras yang mungkin mengagetkan atau sengaja ditujukan untuk membangunkan pemilik rumah. Sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik radhiallahu’anhu,

إِنَّ أَبْوَابَ النَّبِي صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ تَقْرَعُ بِالْأظَافِيرِ

“Kami di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetuk pintu dengan kuku-kuku.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod bab Mengetuk Pintu)

4. Posisi Berdiri Tidak Menghadap Pintu Masuk

Hendaknya posisi berdiri tamu tidak di depan pintu dan menghadap ke dalam ruangan. Poin ini juga berkaitan hak sang pemilik rumah untuk mempersiapkan dirinya dan rumahnya dalam menerima tamu. Sehingga dalam posisi demikian, apa yang ada di dalam rumah tidak langsung terlihat oleh tamu sebelum diizinkan oleh pemilik rumah. Sebagaimana amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abdullah bin Bisyr ia berkata,

كَانَ رَسُولُ الله إِذَا أَتَى بَابَ قَوْمٍ لَمْ يَسْتَقْبَلُ اْلبَابَ مِنْ تِلْقَاءِ وَ جْهِهِ وَ لَكِنْ ركنها الأيمن أَوِ الْأيسر وَ يَقُولُ السَّلاَم عَلَيْكُمْ اَلسَّلاَمُ عَلَيكُمْ

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadapkan wajahnya di depan pintu, tetapi berada di sebelah kanan atau kirinya dan mengucapkan assalamu’alaikum… assalamu’alaikum…” (HR. Abu Dawud, shohih – lihat majalah Al-Furqon)

5. Tidak Mengintip

Mengintip ke dalam rumah sering terjadi ketika seseorang penasaran apakah ada orang di dalam rumah atau tidak. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencela perbuatan ini dan memberi ancaman kepada para pengintip, sebagaimana dalam sabdanya,

لو أنّ امرأ اطلع عليك بغير إذن فخذفته بحصاة ففقأت عينه لم يكن عليك جناح

“Andaikan ada orang melihatmu di rumah tanpa izin, engkau melemparnya dengan batu kecil lalu kamu cungkil matanya, maka tidak ada dosa bagimu.” (HR. Bukhari Kitabul Isti’dzan)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِك أَنَّ رَجُلًا اطَّلَعَ مِنْ بَعْضِ حُجَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِشْقَصٍ أَوْ بِمَشَاقِصَ فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ يَخْتِلُ الرَّجُلَ لِيَطْعُنَهُ

“Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu sesungguhnya ada seorang laki-laki mengintip sebagian kamar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu nabi berdiri menuju kepadanya dengan membawa anak panah yang lebar atau beberapa anak panah yang lebar, dan seakan-akan aku melihat beliau menanti peluang ntuk menusuk orang itu.” (HR. Bukhari Kitabul Isti’dzan)

6. Pulang Kembali Jika Disuruh Pulang

Kita harus menunda kunjungan atau dengan kata lain pulang kembali ketika setelah tiga kali salam tidak di jawab atau pemilik rumah menyuruh kita untuk pulang kembali. Sehingga jika seorang tamu disuruh pulang, hendaknya ia tidak tersinggung atau merasa dilecehkan karena hal ini termasuk adab yang penuh hikmah dalam syari’at Islam. Di antara hikmahnya adalah hal ini demi menjaga hak-hak pemilik rumah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَاِنْ لَّمْ تَجِدُوْا فِيْهَآ اَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوْهَا حَتّٰى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَاِنْ قِيْلَ لَكُمُ ارْجِعُوْا فَارْجِعُوْا هُوَ اَزْكٰى لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ

“Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nuur [24]: 28)

Makna ayat tersebut disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya, “Mengapa demikian? Karena meminta izin sebelum masuk rumah itu berkenaan dengan penggunaan hak orang lain. Oleh karena itu, tuan rumah berhak menerima atau menolak tamu.” Syaikh Abdur Rahman bin Nasir As Sa’di dalam Tafsir Al Karimur Rahman menambahkan, “Jika kamu di suruh kembali, maka kembalilah. Jangan memaksa ingin masuk, dan jangan marah. Karena tuan rumah bukan menolak hak yang wajib bagimu wahai tamu, tetapi dia ingin berbuat kebaikan. Terserah dia, karena itu haknya mengizinkan masuk atau tidak. Jangan ada perasaan dan tuduhan bahwa tuan rumah ini angkuh dan sombong sekali.” Oleh karena itu, kelanjutan makna ayat “Kembali itu lebih bersih bagimu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Artinya supaya hendaknya seorang tamu tidak berburuk sangka atau sakit hati kepada tuan rumah jika tidak diizinkan masuk, karena Allah-lah yang Maha Tahu kemaslahatan hamba-Nya. (Majalah Al Furqon).

7. Menjawab Dengan Nama Jelas Jika Pemilik Rumah Bertanya “Siapa?”

Terkadang pemilik rumah ingin mengetahui dari dalam rumah siapakah tamu yang datang sehingga bertanya, “Siapa?” Maka hendaknya seorang tamu tidak menjawab dengan “saya” atau “aku” atau yang semacamnya, tetapi sebutkan nama dengan jelas. Sebagaimana terdapat dalam riwayat dari Jabir radhiallahu’anhu, dia berkata,

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي دَيْنٍ كَانَ عَلَى أَبِي فَدَقَقْتُ الْبَابَ فَقَالَ مَنْ ذَا فَقُلْتُ أَنَا فَقَالَ أَنَا أَنَا كَأَنَّهُ كَرِهَهَا

“Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku mengetuk pintu, lalu beliau bertanya, ‘Siapa?’ Maka Aku menjawab, ‘Saya.’ Lalu beliau bertanya, ‘Saya, saya?’ Sepertinya beliau tidak suka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikianlah beberapa adab bertamu dalam islam yang perlu kita perhatikan agar apa yang kita lakukan ketika bertamu pun sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan mengetahui adab-adab yang telah diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga membuat kita lebih lapang kepada saudara kita sebagai tuan rumah ketika ia menjalankan apa yang menjadi haknya sebagai pemilik rumah. Wallahu a’lam.

Maraji’:

  1. Majalah Al Furqon edisi 2 Tahun II 1423 H
  2. Terjemah Riyadush Shalihin, takhrij Syaikh M. Nashiruddin Al Albani jilid 2. Imam Nawawi. Cetakan Duta Ilmu. 2003
  3. Adabul Mufrod. Imam Bukhari. Maktabah Syamilah

***

Penyusun: Ummu Ziyad
Muroja’ah: Ust. Abu Mushlih

Sumber: https://muslimah.or.id/58-adab-bertamu-dalam-islam-sesuai-contoh-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Benarkah Mahar yang Mudah Adalah Tanda Keberkahan?

Pertanyaan:

Saya pernah mendengar bahwa jika seorang wanita tidak menuntut mahar yang tinggi ketika dinikahi, itu pertanda bahwa wanita tersebut berkah. Apakah ini benar? Jazakumullah khayran.

Jawaban:

Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du,

Apa yang disebutkan dalam pertanyaan adalah sebuah kebenaran. Bahwa salah satu tanda wanita yang penuh keberkahan adalah ia tidak menuntut mahar yang tinggi, memudahkan urusan mahar dan juga tidak banyak menuntut dalam urusan nafkah ketika sudah menikah. 

Karena berarti wanita yang demikian adalah wanita yang memahami dengan sebenar-benarnya firman Allah ta’ala:

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Rabb-mu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya” (QS al-Isra : 30).

Bahwa urusan rezeki adalah pembagian Allah kepada para hamba-Nya. Tugas hamba adalah berusaha mencari rezeki tidak berpangku tangan. Namun masalah rezeki yang didapatkan banyak atau sedikit, itu adalah keputusan Allah Maha Adil, yang wajib kita ridhai.

Wanita yang memahami ini dengan baik, sungguh wanita yang diberikan banyak keberkahan oleh Allah.

Dalam hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ أعظَمَ النكاحِ بَرَكةً أيسَرُه مؤونةً

“Pernikahan yang paling berkah adalah yang paling mudah nafkahnya”.

Dalam lafadz yang lain:

أعظمُ النِّساءِ بَرَكةً أيسَرُهُنَّ مُؤْنةً

“Wanita yang paling banyak berkahnya adalah yang paling mudah nafkahnya”.

Mu’nah artinya makanan pokok atau nafkah. Artinya pernikahan itu berkah jika sang istri tidak terlalu banyak menuntut dalam hal nafkah.

Dalam lafadz yang lain:

أخفُّ النِّساءِ صَداقًا أعظَمُهُنَّ بَركةً

“Wanita yang paling mudah maharnya adalah yang paling besar berkahnya”.

Hadits ini diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no.24529), An-Nasai dalam Al-Kubra (no.9229), Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (no.16384), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (no.2732), dari jalan Hammad bin Salamah, dari Ibnu Sakhbarah, dari Al-Qasim bin Muhammad, dari Aisyah radhiyallahu’anha, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

Para ulama berselisih pendapat siapa itu Ibnu Sakhbarah dalam sanad ini? Jumhur ulama mengatakan bahwa Ibnu Sakhbarah adalah Isa bin Maimun Al-Wasithi, yang merupakan perawi yang matruk. Sehingga jumhur ulama hadits mendhaifkan hadits tersebut. Di antara ulama yang mendhaifkan adalah As-Sakhawi, Asy-Syaukani, Syu’aib Al-Arnauth, Al-Buhuti, Ali Al-Qari, dan Al-Albani.

Sebagian ulama seperti Ibnu Ma’in, mengatakan bahwa Ibnu Sakhbarah adalah Ibnu Tulaidan, yang merupakan perawi yang hasan haditsnya. Sehingga hadits di atas hasan, sebagaimana pendapat Al-hafizh Al-Iraqi.

Namun ‘ala kulli haal, makna hadits ini shahih dan bersesuaian dengan hadits lain dari Aisyah radhiyallahu’anha, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ يُمْنِ الْمَرْأَةِ: تَيْسِيرَ خِطْبَتِهَا ، وَتَيْسِيرَ صَدَاقِهَا ، وَتَيْسِيرَ رَحِمِهَا

“Di antara tanda keberkahan seorang wanita adalah: mudah dilamar, mudah maharnya, dan mudah melahirkan anak” (HR. Ahmad no.24478, dihasankan Al-Albani dalam Irwaul Ghalil no.1928). 

Demikian juga hadits dari Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

خَيرُ الصَّداقِ أَيْسرُه

“Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah” (HR. Al-Hakim no. 2780, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no.3279).

Dengan demikian, betul bahwa wanita yang berkah adalah yang tidak terlalu menuntut mahar yang tinggi dan tidak terlalu banyak tuntutan dalam masalah nafkah. 

Ali Al-Qari rahimahullah mengatakan:

أَسْهَلُهُ ( مُؤْنَةٌ ) أَيْ: مِنَ الْمَهْرِ وَالنَّفَقَةِ؛ لِلدَّلَالَةِ عَلَى الْقَنَاعَةِ الَّتِي هِيَ كَنْزٌ لَا يَنْفَدُ وَلَا يَفْنَى

“Wanita yang berkah adalah yang paling mudah mu’nah-nya. Maksudnya mudah mahar dan nafkahnya. Karena ini menunjukkan ia wanita yang qana’ah dan sifat qana’ah adalah harta karun yang tidak akan habis dan tidak akan sirna” (Mirqatul Mafatih, 5/2049).

Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik.

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.

***

Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.

sumber : https://konsultasisyariah.com/42400-benarkah-mahar-yang-mudah-adalah-tanda-keberkahan.html