Bulughul Maram – Akhlak: Mencari Ridha Orang Tua

Dalam hadits yang dibahas kali ini kita akan tahu bagaimanakah keutamaan berbakti pada orang tua. Ingatlah ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, murka Allah tergantung pada murka orang tua.  

Kitabul Jaami’ dari Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani

بَابُ اَلْبِرِّ وَالصِّلَةِ

Bab Berbuat Baik pada Orang Tua dan Silaturahim (Berbuat Baik pada Kerabat)

Hadits 1466

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا-, عَنْ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ – أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِم

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ashr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Keridhaan Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi, hadits ini sahih menurut Ibnu Hibban dan Al-Hakim) [HR. Tirmidzi, no. 1899; Ibnu Hibban, 2:172; Al-Hakim, 4:151-152. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan].

Faedah Hadits

  1. Hadits ini menunjukkan keutamaan berbakti kepada orang tua dan mencari ridha keduanya, dan membuat mereka senang (bahagia). Karena ridha dan kecintaan Allah itu datang karena keridhaan orang tua, murka Allah itu datang karena murka orang tua. Siapa yang berbuat baik pada orang tua, maka ia telah menaati Allah. Siapa yang berbuat jelek pada orang tua, berarti ia telah membuat Allah murka.
  2. Hadits ini jadi dalil wajibnya berbakti pada orang tua dan diharamkan durhaka kepada mereka.
  3. Ridha orang tua didapat dengan bakti, berbuat baik, dan bersikap lemah lembut.
  4. Bentuk berbuat baik pada orang tua adalah tidak mencela dan menghardik mereka ketika mereka sudah berada di usia senja.
  5. Di antara bentuk bakti adalah menuruti apa yang orang tua inginkan selama bukan maksiat.
  6. Ibu lebih didahulukan dalam berbakti dibanding ayah.

Bagaimana cara membahagiakan orang tua?

Pertama: Menuruti perintah keduanya.

‘Atha’ pernah ditanya oleh seseorang yang ibunya meminta kepadanya untuk shalat wajib dan puasa Ramadhan saja (tidak ada amalan sunnah, pen.), apakah perlu dituruti. ‘Atha’ mengatakan, “Iya tetap dituruti perintahnya tersebut.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 67. Dinukil dari Kitab Min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Usamah bin Zaid, seorang sahabat yang dirinya dan orang tuanya disayangi oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa ia memiliki seribu pohon kurma. Ia memang sengaja mempercantik atau merapikannya. Lalu ada yang berkata pada Usamah, kenapa bisa sampai lakukan seperti itu. Usamah menjawab bahwa ibunya sangat suka jika melihat keadaan kebun kurma itu indah, maka ia melakukannya. Apa saja hal dunia yang diminta oleh ibunya, ia pasti memenuhinya.  (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 225. Dinukil dari Kitab Min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 396)  

Kedua: Tidak menyakiti hati orang tua.

Imam Nawawi rahimahullah menerangkan bahwa ‘uququl walidain(durhaka kepada orang tua) adalah segala bentuk menyakiti keduanya. Taat kepada orang tua itu wajib dalam segala hal selain pada perkara maksiat. Menyelisihi perintah keduanya juga termasuk durhaka. Lihat Syarh Shahih Muslim, 2:77. ’Abdullah bin ’Umar radhiyallahu ’anhuma berkata,

إِبْكَاءُ الوَالِدَيْنِ مِنَ العُقُوْقِ

“Membuat orang tua menangis termasuk bentuk durhaka pada orang tua.” (Birr Al-Walidain, hlm. 8, Ibnul Jauziy)  

Ketiga: Berakhlak mulia di hadapan keduanya.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتَأْذِنُهُ فِى الْجِهَادِ فَقَالَ « أَحَىٌّ وَالِدَاكَ ». قَالَ نَعَمْ. قَالَ « فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ»

“Ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia ingin meminta izin untuk berjihad. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, ‘Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ Ia jawab, ‘Iya masih.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, ‘Berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya.’” (HR. Muslim, no. 2549) Dalam riwayat Muslim lainnya disebutkan,

فَارْجِعْ إِلَى وَالِدَيْكَ فَأَحْسِنْ صُحْبَتَهُمَا

“Kembalilah kepada kedua orang tuamu, berbuat baiklah kepada keduanya.” (HR. Muslim, no. 2549) Imam Nawawi rahimahullah menerangkan bahwa ini semua adalah dalil agungnya keutamaan berbakti kepada kedua orang tua. Berbakti kepada kedua orang tua lebih utama dibandingkan jihad. Ini jadi dalil—sebagaimana kata Imam Nawawi rahimahullah­—bahwa tidak boleh seseorang pergi berjihad kecuali setelah mendapatkan izin keduanya jika keduanya muslim atau salah satunya muslim. Sedangkan jika kedua orang tuanya musyrik, menurut ulama Syafi’i tidak disyaratkan untuk meminta izin. Demikian penjelasan dalam Syarh Shahih Muslim, 16:95. Dari Urwah atau selainnya, ia menceritakan bahwa Abu Hurairah pernah melihat dua orang. Lalu beliau berkata kepada salah satunya,

مَا هَذَا مِنْكَ ؟ فَقَالَ: أَبِي. فَقالَ: ” لاَ تُسَمِّهِ بِاسْمِهِ، وَلاَ تَمْشِ أَمَامَهُ، وَلاَ تَجْلِسْ قَبْلَهُ

“Apa hubungan dia denganmu?” Orang itu menjawab, “Dia ayahku.” Abu Hurairah lalu berkata, “Janganlah engkau memanggil ayahmu dengan namanya saja, janganlah berjalan di hadapannya dan janganlah duduk sebelum ia duduk.” (HR. Bukhari dalam Adab Al-Mufrad, no. 44. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih secara sanad).  

Keempat: Mendahulukan perintah keduanya dari perkara sunnah.

Sebagaimana pelajaran mengenai hal ini terdapat dalam kisah Juraij yang didoakan jelek oleh ibunya karena lebih mendahulukan shalat sunnahnya dibanding panggilan ibunya yang memanggilnya tiga kali.

Referensi:

Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kesepuluh.


  Selasa sore, 8 Syawal 1440 H di #DarushSholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com

Sumber https://rumaysho.com/20643-bulughul-maram-akhlak-mencari-ridha-orang-tua.html

Yakinlah! Di Balik Kesulitan, Ada Kemudahan yang Begitu Dekat

Seringkali kita berputus asa tatkala mendapatkan kesulitan atau cobaan. Padahal Allah telah memberi janji bahwa di balik kesulitan, pasti ada jalan keluar yang begitu dekat.

Dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)

Ayat ini pun diulang setelah itu,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6)

Mengenai ayat di atas, ada beberapa faedah yang bisa kita ambil:

Pertama: Di balik satu kesulitan, ada dua kemudahan

Kata “al ‘usr (kesulitan)” yang diulang dalam surat Alam Nasyroh hanyalah satu. Al ‘usr dalam ayat pertama sebenarnya sama dengan al ‘usr dalam ayat berikutnya karena keduanya menggunakan isim ma’rifah (seperti kata yang diawali alif lam). Sebagaimana kaedah dalam bahasa Arab, “Jika isim ma’rifah diulang, maka kata yang kedua sama dengan kata yang pertama, terserah apakah isim ma’rifah tersebut menggunakan alif lam jinsi ataukah alif lam ‘ahdiyah.” Intinya, al ‘usr (kesulitan) pada ayat pertama sama dengan al ‘usr (kesulitan) pada ayat kedua.

Sedangkan kata “yusro (kemudahan)” dalam surat Alam Nasyroh itu ada dua. Yusro (kemudahan) pertama berbeda dengan yusro (kemudahan) kedua karena keduanya menggunakan isim nakiroh (seperti kata yang tidak diawali alif lam). Sebagaimana kaedah dalam bahasa Arab, “Secara umum, jika isim nakiroh itu diulang, maka kata yang kedua berbeda dengan kata yang pertama.” Dengan demikian, kemudahan itu ada dua karena berulang.[1] Ini berarti ada satu kesulitan dan ada dua kemudahan.

Dari sini, para ulama pun seringkali mengatakan, “Satu kesulitan tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan.” Asal perkataan ini dari hadits yang lemah, namun maknanya benar[2]. Jadi, di balik satu kesulitan ada dua kemudahan.

Note: Mungkin sebagian orang yang belum pernah mempelajari bahasa Arab kurang paham dengan istilah di atas. Namun itulah keunggulan orang yang paham bahasa Arab, dalam memahami ayat akan berbeda dengan orang yang tidak memahaminya. Oleh karena itu, setiap muslim hendaklah membekali diri dengan ilmu alat ini. Di antara manfaatnya, seseorang akan memahami Al Qur’an lebih mudah dan pemahamannya pun begitu berbeda dengan orang yang tidak paham bahasa Arab. Semoga Allah memberi kemudahan.

Kedua: Akhir berbagai kesulitan adalah kemudahan

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan, “Kata al ‘usr (kesulitan) menggunakan alif-lam dan menunjukkan umum (istigroq) yaitu segala macam kesulitan. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana pun sulitnya, akhir dari setiap kesulitan adalah kemudahan.”[3] Dari sini, kita dapat mengambil pelajaran, “Badai pastilah berlalu (after a storm comes a calm), yaitu setelah ada kesulitan pasti ada jalan keluar.”

Ketiga: Di balik kesulitan, ada kemudahan yang begitu dekat

Dalam ayat di atas, digunakan kata ma’a, yang asalnya bermakna “bersama”. Artinya, “kemudahan akan selalu menyertai kesulitan”. Oleh karena itu, para ulama seringkali mendeskripsikan, “Seandainya kesulitan itu memasuki lubang binatang dhob (yang berlika-liku dan sempit, pen), kemudahan akan turut serta memasuki lubang itu dan akan mengeluarkan kesulitan tersebut.”[4] Padahal lubang binatang dhob begitu sempit dan sulit untuk dilewati karena berlika-liku (zig-zag). Namun kemudahan akan terus menemani kesulitan, walaupun di medan yang sesulit apapun.

Allah Ta’ala berfirman,

سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath Tholaq: 7) Ibnul Jauziy, Asy Syaukani dan ahli tafsir lainnya mengatakan, “Setelah kesempitan dan kesulitan, akan ada kemudahan dan kelapangan.”[5] Ibnu Katsir mengatakan, ”Janji Allah itu pasti dan tidak mungkin Dia mengingkarinya.”[6]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

“Bersama kesulitan, ada kemudahan.”[7] Oleh karena itu, masihkah ada keraguan dengan janji Allah dan Rasul-Nya ini?

Rahasia Mengapa di Balik Kesulitan, Ada Kemudahan yang Begitu Dekat
Ibnu Rajab telah mengisyaratkan hal ini. Beliau berkata, “Jika kesempitan itu semakin terasa sulit dan semakin berat, maka seorang hamba akan menjadi putus asa dan demikianlah keadaan makhluk yang tidak bisa keluar dari kesulitan. Akhirnya, ia pun menggantungkan hatinya pada Allah semata. Inilah hakekat tawakkal pada-Nya. Tawakkal inilah yang menjadi sebab terbesar keluar dari kesempitan yang ada. Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang bertawakkal pada-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).”[8] Inilah rahasia yang sebagian kita mungkin belum mengetahuinya. Jadi intinya, tawakkal lah yang menjadi sebab terbesar seseorang keluar dari kesulitan dan kesempitan.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan orang yang sabar dalam menghadapi setiap ketentuan-Mu. Jadikanlah kami sebagai hamba-Mu yang selalu bertawakkal dan bergantung pada-Mu. Amin Ya Mujibas Saa-ilin.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

-Begitu nikmat setiap hari dapat menggali faedah dari sebuah ayat. Semoga hati ini tidak lalai dari mengingat-Nya-

Diselesaikan selepas shalat Shubuh, 21 Dzulqo’dah 1430 H, Panggang, Gunung Kidul

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel https://rumaysho.com

[1] Dua kaedah bahasa Arab ini disebutkan oleh Asy Syaukani dalam kitab tafsirnya Fathul Qodir, 8/22, Mawqi’ At Tafasir.

[2] Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut adalah dho’if (lemah). Hadits tersebut termasuk hadits mursal dan mursal termasuk hadits dho’if (lemah). Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 4342

[3] Taisir Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 929, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H

[4] Asal perkataan ini adalah dari hadits yang dho’if (lemah), namun maknanya shahih (benar).

[5] Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, 6/42, Mawqi’ At Tafasir dan Fathul Qodir, Asy Syaukani, 7/247, Mawqi’ At Tafasir.

[6] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 8/154, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.

[7] HR. Ahmad no. 2804. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[8] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 238, Darul Muayyad, cetakan pertama, tahun 1424 H.

Sumber https://rumaysho.com/639-yakinlah-di-balik-kesulitan-ada-kemudahan-yang-begitu-dekat.html

Awas! Jangan Suka Bertanya Arti Mimpi

Terlalu Banyak Menafsirkan Mimpi

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Berikut diskusi kami dengan salah satu penanya yang resah memikirkan mimpinya. Semoga menjadi pelajaran bagi yang lain.

Pertanyaan:

Istri saya bermimpi sekitar jam 00.00 wib – 01.05 wib, isi mimpinya :

Istri saya melihat mayat bergelimpangan di jalan, dari mayat anak2 sampai orang dewasa, mayat2 tersebut sudah di pocongin, kondisi mayat berdarah2 dan sudah berair ” kayak mau busuk gitu “. setelah istri saya tersentak bangun sekitar jm 02-03 wib istri saya di tlp sama abang ipar saya dan adik ipar saya, mereka menanyakan kabar istri saya ” apa kabar km, di rumah baik2 saja kan ?”.

Yang mau saya tanyakan apa arti mimpi ini ?
sebelumnya terima kasih kalau Bapak/Ibu sudi membalasnya dengan cepat.

Hormat saya
Roy

Jawaban redaksi:

Mimpi menakutkan itu dari setan. sebaiknya dilupakan. Silahkan baca Tiga Catatan Tentang Mimpi Buruk

Tanya Ulang:

kenapa pertanyaan saya tidak di jawab ???

Saya sudah menunggu dari tadi ???

Roy

Jawab ulang:

Mimpi menakutkan itu dari setan. sebaiknya dilupakan baca Silahkan baca Tiga Catatan Tentang Mimpi Buruk

Tanya Ulang (komentar):

Saya sudah menunggu dari tadi …

kayaknya tidak ada solusi yg saya terima …

mungkin ikhwa tidak mampu …

saya akan coba tanya sama yg lebih baik dan ahlinya saja …

sebelumnya terima kasih …

Assallamuallaikum …

Jawab Komentar:

Wa alaikumus salam

Anda bs tanyakan ke orang lain, tp bisa jadi ini beresiko dg keselamatan keluarga anda

Sebaiknya dilupakan saja mimpi itu, insyaaAllah lbh baik.

– – – – – – – – – – – – – – –

Demikian diskusi kami dengan salah satu penanya. Kami bertanggung jawab atas semua jawaban yang kami berikan kepada penanya, sejauh yang mampu kami pahami dan kami ketahui. Kami berusaha memberikan jawaban yang terbaik untuk kemaslahatan bersama.

Banyak sekali pembaca konsultasisyariah.com yang bertanya tentang tafsir mimpi, dan selalu kami berikan jawaban agar mimpi yang tidak menyenangkan itu dilupakan. Melupakan mimpi itu akan berakibat lebih baik bagi kehidupan orang itu.

Ada beberapa alasan mengapa sebaiknya mimpi semacam ini dilupakan,

Pertama, setan memiliki andil dalam mensuasanakan mimpi kita, sehingga dengan mudah dia membuat bayangan mimpi yang menakutkan bagi manusia, untuk mengganggu pikiran mereka.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرؤيا ثلاث حديث النفس وتخويف الشيطان وبشرى من الله

“Mimpi itu ada tiga macam: bisikan hati, ditakuti setan, dan kabar gembira dari Allah.” (HR. Bukhari 7017)

Ketika kita selalu mengikuti semua bayangan mimpi yang dibuat setan, bisa jadi ini akan semakin mengundang setan untuk mempermainkan kita dalam mimpi.

Kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyarankan agar mimpi buruk itu tidak diceritakan kepada orang lain, atau dilupakan.

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, bahwa ada seorang Arab badui datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bertanya,

“Ya rasulullah, aku bermimpi kepalaku dipenggal lalu menggelinding kemudian aku berlari kencang mengejarnya”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada penanya,

لاَ تُحَدِّثِ النَّاسَ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِكَ فِى مَنَامِكَ

“Jangan kau ceritakan kepada orang lain kelakuan setan yang mempermainkan dirimu di alam mimpi”.

Setelah kejadian itu, aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan dalam salah satu khutbahnya,

لاَ يُحَدِّثَنَّ أَحَدُكُمْ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِهِ فِى مَنَامِهِ

“Jangan sekali-kali kalian menceritakan ulah setan yang mempermainkan diri kalian di  alam mimpi” (HR Muslim 2268).

Dalam riwayat lain, beliau menjamin ketika seseorang melupakan mimpi itu, dan memohon perlindungan dari setan, maka mimpi itu tidak akan berdampak buruk baginya. Beliau bersabda,

وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ، وَلْيَتْفِلْ ثَلاَثًا، وَلاَ يُحَدِّثْ بِهَا أَحَدًا، فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ

Apabila kalian mengalami mimpi buruk, hendaknya meludah ke kiri 3 kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan dan dari dampak buruk mimpi. Kemudian, jangan ceritakan mimpi itu kepada siapapun, maka mimpi itu tidak akan memberikan dampak buruk kepadanya.” (HR. Bukhari 7044, Muslim 2261, dan yang lainnya)

Ketiga, bisa jadi mimpi buruk itu terwujud ketika seseorang berusaha menafsirkannya

Ketika menjelaskan hadis tentang mimpi buruk di atas, An-Nawawi mengatakan,

وأما قوله صلى الله عليه وسلم في الرؤيا المكروهة ولا يحدث بها أحدا فسببه أنه ربما فسرها تفسيرا مكروها على ظاهر صورتها وكان ذلك محتملا فوقعت كذلك بتقدير الله تعالى فإن الرؤيا على رجل طائر ومعناه أنها اذا كانت محتملة وجهين ففسرت بأحدهما وقعت على قرب تلك الصفة

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mimpi buruk, agar tidak diceritakan orang lain, sebabnya adalah: terkadang ada orang menafsirkan mimpi itu dengan tafsir yang buruk sebagaimana yang digambarkan dalam mimpi itu, meskipun masih ada banyak kemungkinan, kemudian tafsir buruk itu terjadi dengan taqdir Allah ta’ala. Karena mimpi yang dialami seseorang ibarat sesuatu yang terbang. Artinya, ketika mimpi itu memiliki dua kemungkinan makna, kemudian ditafsirkan pada salah satu maknanya, maka akan terjadi sesuai yang mendekati sifat tersebut. (Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi, 15/18)

Karena itu, bagi anda yang merasa tidak puas dengan jawaban yang kami berikan dengan tambahan link artikel tentang mimpi buruk, bisa saja anda bertanya kepada orang lain. Namun anda perlu ingat,

  1. Ahli takwil mimpi di tempat kita sangat jarang, dan hingga kini kami belum menemukan satu nama tokoh yang layak disebut ahli takwil mimpi. Beberapa acara televisi yang menawarkan takwil mimpi hanya menggunakan kalimat umum dan itupun berdasarkan apa yang nampak dalam mimpi.
  2. Bisa jadi ada orang yang sok tahu – meskipun dia diustadzkan – kemudian mentakwil mimpi jamaah yang bertanya kepadanya. Karena dia punya prinsip, malu tidak menjawab jika ditanya.
  3. Bisa jadi takwil mimpi buruk yang disampaikan kemudian diwujudkan oleh Allah. Dan tentu saja, kita tidak berharap keburukan menimpa kita.

Semoga Allah melindungi kita dari permainan setan.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

sumber : https://konsultasisyariah.com/23466-awas-jangan-suka-bertanya-arti-mimpi.html

Musik Adalah Seruling Setan

Sahabat muslim, dalam artikel ini akan dibahas faidah-faidah hadits yang membahas bahwa musik adalah seruling setan

[lwptoc]

Hadits Tentang “Musik adalah Seruling Setan”

Demikianlah yang dikatakan oleh sahabat yang mulia, Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu’anhu. Bahwa musik adalah seruling setan. Dari Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata:

أبا بكر دخل عليها، والنبي صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عِندَها، يومَ فطر أو أضحى، وعِندَها قينتان تغنيان بما تقاذفت الأنصار يومَ بعاث، فقال أبو بكر : مزمار الشيطان ؟ مرتين، فقال النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : ( دعهما يا أبا بكر، إن لكل قوم عيدا، وإن عيدنا اليومَ )

“Abu Bakar mengunjungi rumah Aisyah dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ada disana. Ketika hari Idul Fithri atau Idul Adha. Ketika itu ada dua wanita penyanyi dari kaum Anshar yang sedang bernyanyi dengan syair-syair kaum Anshar di hari Bu’ats. Maka Abu Bakar berkata: mengapa ada seruling setan? mengapa ada seruling setan? Maka Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: biarkan mereka wahai Abu Bakar! Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan inilah hari raya kita” (HR. Bukhari no. 3931).

Abu Bakar Ash Shiddiq tidak mungkin menisbatkan sesuatu pada setan, yang merupakan makhluk gaib, kecuali itulah yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam kepadanya.

Dalam riwayat lain disebutkan dua penyanyi itu adalah anak-anak wanita:

دخل عليَّ أبو بكرٍ وعندي جاريتانِ من جواري الأنصارِ . تُغنِّيانِ بما تقاولت به الأنصارُ ، يوم بُعاثٍ . قالت : وليستا بمُغَنِّيَتَينِ . فقال أبو بكرٍ : أَبمَزمورِ الشيطانِ في بيتِ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ؟ وذلك في يومِ عيدٍ . فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ : ” يا أبا بكرٍ ! إنَّ لكلِّ قومٍ عيدًا . وهذا عيدُنا

“Abu Bakar mengunjungi rumahku. Ketika itu ada dua jariyah (anak wanita) dari Kaum Anshar yang bernyanyi dengan syair-syair kaum Anshar di hari Bu’ats. Aisyah berkata: “mereka berdua bukan penyanyi”. Maka Abu Bakar berkata: mengapa ada seruling setan di rumah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam? Ketika itu adalah hari Id. Maka Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: wahai Abu Bakar! Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan inilah hari raya kita” (HR. Bukhari no. 952, Muslim no. 892).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa dua penyanyi tersebut menggunakan rebana (duff) :

أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ دخلَ علَيها ، وعندَها جاريَتانِ تضرِبانِ بدُفَّينِ ، فانتَهَرَهُما أبو بَكْرٍ ، فقالَ النَّبيُّ : دعهنَّ فإنَّ لِكُلِّ قومٍ عيدًا

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam masuk ke rumah Aisyah ketika itu ada dua anak perempuan bernyanyi dengan duff. Kemudian hal ini diingkari oleh Abu Bakar, maka Nabi bersabda: biarkan mereka, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya” (HR. An Nasa-i no. 1592, dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa-i).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Bakar membentak kedua anak wanita tersebut:

أن أبا بكر رضي الله عنهما دخل عليها وعندها جاريتان في أيام منى تدففان وتضربان والنبي صلى الله عليه وسلم متغش بثوبه فانتهرهما أبو بكر فكشف النبي صلى الله عليه وسلم عن وجهه فقال دعهما يا أبا بكر فإنها أيام عيد وتلك الأيام أيام منى

“Abu Bakar radhiallaahu’anhuma masuk menemuinya ’Aisyah. Di sampingnya terdapat dua orang anak perempuan di hari Mina yang menabuh duff. Nabi shallallaahu’alaihi wasallam ketika itu menutup wajahnya dengan bajunya. Ketika melihat hal tersebut, Abu Bakar membentak kedua anak perempuan tadi. Nabi shallallaahu’alaihi wasallam kemudian membuka bajunya yang menutup wajahnya dan berkata : ”Biarkan mereka wahai Abu Bakar, sesungguhnya hari ini adalah hari raya”. Pada waktu itu adalah hari-hari Mina” (HR. Bukhari no. 987)

Syaikh Alwi bin Abdil Qadir As Segaf mengatakan:

وقد تتبعت جميع الأحاديث التي أباحت استخدام الدف فكانت كلها للنساء والصغار ولا تخلو من حالتين: العرس والعيد

“Dan setelah menelusuri hadits-hadits yang membolehkan permainan duff bagi wanita dan anak kecil, semuanya tidak lepas dari dua keadaan, pesta pernikahan dan hari raya” (Sumber: https://www.dorar.net/article/151).

Faidah-Faidah Hadits

  1. Abu Bakar menyebut permainan rebana sebagai “seruling setan” dan ini tidak diingkari oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Menunjukkan persetujuan beliau terhadap penamaan ini.
  2. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan Aisyah radhiallahu’anha tidak menganggap aneh pengingkaran Abu Bakar. Menunjukkan mereka semua memahami bahwa hukum asal musik adalah haram.
  3. Sabda Nabi: “biarkan mereka, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya” menunjukkan adanya rukhshah (kelonggaran) yang khusus di hari raya untuk bolehnya bermain rebana. Andaikan bermain rebana boleh di setiap saat tentu Nabi akan jelaskan dengan berkata: “biarkan mereka, karena ini tidak terlarang” atau “sesungguhnya ini tidak terlarang” atau semisalnya.
  4. Alat musik yang dimainkan adalah rebana, namun Abu Bakar mengatakan “seruling setan” bukan “rebana setan”. Menunjukkan semua alat musik secara umum adalah seruling setan.
  5. Para sahabat Nabi keras dalam mengingkari musik, sebagaimana Abu Bakar yang menyebut musik dengan “seruling setan” dan membentak orang yang bermain musik.

Wallahu a’lam.

Penulis: Yulian Purnama

Sumber: https://muslim.or.id/53779-musik-adalah-seruling-setan.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Umur yang Kedua

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah memberikan usia umat ini yang tidak panjang. Rata-rata hanya sekitar 60an-70an. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yg bisa melampui umur tersebut” (HR. Ibnu Majah, 4236, dihasankan al-Albani)

Namun ada 2 hal yang perlu kita bedakan,

[1] Usia hidup fisik manusia.

[2] Usia karya manusia.

Ada diantara manusia yang karyanya terkubur, bersamaan dengan terkuburnya badannya. Sehingga begitu dia mati, sudah tidak ada lagi bekas amalnya yang masih bertahan di permukaan bumi.

Sebaliknya, ada manusia yang usia karyanya, jauh lebih panjang dibandingkan usia fisiknya. Sekalipun dia sudah meninggal ratusan tahun di masa silam, namun karyanya tetap segar dan terlihat jelas di permukaan.

Allah menjelaskan dalam al-Quran bahwa Dia tidak hanya mencatat amal perbuatan yang kita lakukan, namun Allah juga mencatat semua pengaruh dan dampak dari perbuatan yang pernah kita lakukan.

Allah berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآَثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kami yang menghidupkan orang mati, Kami catat semua yang telah mereka lakukan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan..” (QS. Yasin: 12)

Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan dua tafsir ulama tentang makna kalimat,

‘bekas-bekas yang mereka tinggalkan’

Pertama, Jejak kaki mereka ketika melangkah menuju ketaatan atau maksiat

Ini merupakan pendapat Mujahid dan Qatadah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Najih.

Diantara dalil yang menguatkan pendapat ini adalah hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ada Bani Salimah ingin berpindah membuat perkampungan yang dekat dengan masjid nabawi. Karena mereka terlalu jauh jika harus berangkat shalat jamaah setiap hari ke masjid nabawi. Ketika informasi ini sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,

يَا بَنِى سَلِمَةَ دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ

Wahai Bani Salimah, perjalanan dari rumah kalian ke masjid akan dicatat jejak-jejak kali kalian. (HR. Muslim 1551, dan Ahmad 14940)

Kedua, Pengaruh dari amal yang kita kerjakan

Artinya, Allah mencatat bentuk amal yang mereka kerjakan dan pengaruh dari amal itu. Jika baik, maka dicatat sebagai kebaikan. Dan jika buruk dicatat sebagai keburukan.

Ini seperti yang disebutkan dalam hadis dari sahabat Jarir bin Abdillah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Siapa yang menghidupkan sunah yang baik dalam Islam, kemudian diikuti oleh orang lain setelahnya maka dicatat untuknya mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Siapa yang menghidupkan tradisi yang jelek di tengah kaum muslimin, kemudian diikuti oleh orang lain setelahnya, maka dia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim 2398, Ahmad 19674, dan yang lainnya)

Karya adalah Umur Kedua

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading… manusia mati meninggalkan meninggalkan karya.

Ada beberapa karya para ulama yang banyak diterima di masyarakat. Allah mengabadikan karya mereka sekalipun jasad mereka sudah terkubur ratusan tahun silam.

Kitab Bulughul Maram, ditulis al-Hafidz Ibnu Hajar. Karya beliau bertahan hingga sekarang, sekalipun beliau telah meninggal tahun 852 H. Usia beliau 79 tahun, sementara karya beliau sudah menginjak usia 590an tahun.

Kitab Riyadhus sholihin, ditulis oleh an-Nawawi. Karya beliau dimanfaatkan banyak masyarakat, meskipun beliau telah wafat tahun 676 H. Usia fisik beliau hanya 45 tahun, namun karya beliau hingga saat ini menginjak usia 765an tahun.

Subhanallah…

Karya mereka jauh lebih panjang dibandingkan usia mereka…

Itulah umur yang kedua… mereka hidup dengan karyanya, meskipun jasadnya telah terkubur di tanah…

Karena itulah, para ulama memahami, bahwa ketika mereka membaca karya para pendahulunya, seolah dia sedang duduk bersama mereka.

Abdullah bin Mubarak pernah mengatakan,

إني أذهب فأجلس مع الصحابة والتابعين ، أنظر وأقرأ في كتبهم وآثارهم

Saya sedang duduk bersama para sahabat dan tabi’in, dengan melihat dan membaca karya mereka dan kitab mereka. (Washaya wa Nashaih li Thalib al-Ilm, 55).

Mulailah berfikir untuk merencanakan umur yang kedua. Membangun karya yang bisa bermanfaat bagi umat, di saat kita sudah tiada. Kita bisa kembangkan sesuai potensi masing-masing. Tidak harus memaksakan diri jadi ustad atau dai.

Jadi pioner kebaikan, atau wakaf yang bisa diabadikan atau sumber kebaikan apapun yang usianya panjang… Karya kita tetap hidup, meskipun jasad sudah tiada…

Demikian, Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

sumber : https://konsultasisyariah.com/30627-umur-yang-kedua.html

Agar Olahraga Bernilai Ibadah

Islam adalah agama yang sempurna. Tidaklah ada sebuah kebaikan, kecuali pasti akan diajarkan dan dianjurkan. Allah Ta’ala berfirman mengenai kesempurnaan Islam,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam menjadi agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Allah Ta’ala juga menyampaikan bahwa tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus, kecuali untuk menyampaikan hal-hal baik kepada kita dan melarang perbuatan-perbuatan buruk untuk dilakukan. Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ

“Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali ‘Imran: 164)

Di antara perkara kebaikan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bersyukur atas setiap nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, tidak terkecuali adalah nikmat tubuh dan anggota badan yang Allah berikan kepada kita semenjak kita dilahirkan. Nabi menganjurkan para sahabatnya untuk berolahraga dan menjaga tubuh mereka. Di banyak hadis juga disebutkan bagaimana semangat beliau di dalam menjaga tubuhnya.

Motivasi syariat untuk memiliki tubuh yang sehat dan kuat

Di dalam hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah, namun pada masing-masing (dari keduanya) ada kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal-hal yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan menjadi lemah.” (HR. Muslim no. 2664)

Kekuatan seorang mukmin diperlukan dalam segala bidang kehidupannya, terutama dalam keyakinan dan keimanannya. Kekuatan, kesehatan, dan keselamatan tubuh juga diperlukan untuk menolong dan membantu seorang hamba dalam menjalankan perintah Allah Ta’ala, baik itu dalam melaksanakan salat, puasa, haji, berjihad, ataupun ibadah-ibadah lainnya.

Sementara itu, lemahnya badan dan sakitnya, maka dapat menghalangi dan menghambat kelancaran seorang hamba dalam beribadah. Oleh karena itu, di antara doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dibaca tatkala sedang menjenguk orang sakit adalah doa meminta kesembuhan dan kesehatan yang akan membantu kita di dalam berjalan menuju salat. Beliau bersabda,

إِذَا جَاءَ الرَّجُلُ يَعُودُ مَرِيضًا، فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ اشْفِ عَبْدَكَ يَنْكَأُ لَكَ عَدُوًّا، أَوْ يَمْشِي لَكَ إِلَى صَلَاةٍ ، وفي روايةٍ : إلى جنازةٍ

“Apabila ada seseorang datang menjenguk orang yang sakit, hendaknya ia mengucapkan (doa),

‘ALLAHUMMASYFI ,’ABDAKA YANKA’U LAKA ‘ADUWWAN AU YAMSYI LAKA ILA SHALATIN.’

(Ya Allah, sembuhkanlah hamba-Mu yang akan mengalahkan musuh-Mu, atau berjalan karena-Mu untuk salat). Di dalam riwayat lain disebutkan, ‘mengantarkan jenazah.’ ” (HR. Abu Dawud no. 3107 dan Ahmad no. 6600)

Allah Ta’ala juga mengisyaratkan pentingnya tubuh yang kuat di dalam hal kepemimpinan dan keunggulan seorang manusia. Allah Ta’ala mengisahkan perihal kisah Nabi Shamuel dengan kaumnya,

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab, “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata, “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Mahaluas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 247)

Di dalam Tafsir As-Sa’di disebutkan,

“Mereka mempermasalahkan ketetapan nabi mereka untuk memilih Thalut sebagai raja mereka, padahal (menurut mereka) ada orang yang lebih baik rumahnya dan lebih banyak harta darinya. Nabi mereka menjawab bahwa sesungguhnya Allah telah memilihnya untuk kalian, karena Dia telah mengaruniakan kepadanya kekuatan ilmu tentang siasat (perang) dan kekuatan tubuh, yang mana kedua hal itu merupakan sarana keberanian, kemenangan, dan keahlian dalam mengatur peperangan, dan bahwasanya raja itu tidaklah dengan banyaknya harta, dan tidak juga orang yang menjadi raja itu harus merupakan raja dan pemimpin pula dalam daerah-daerah mereka, karena Allah memberi kerajaan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”

Islam menjadikan kesehatan dan kekuatan tubuh sebagai salah satu faktor kemenangan, rasa semangat dalam beribadah, dan keunggulan seorang manusia. Sudah sepantasnya seorang muslim menjaga tubuhnya dengan berolahraga, sehingga dirinya kuat di dalam menajalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Semangat Nabi perihal olahraga

Dalam riwayat Bukhari, Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu salah seorang pendekar dan pejuang dari kalangan sahabat Nabi berkata,

مَرَّ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ علَى نَفَرٍ مِن أَسْلَمَ يَنْتَضِلُونَ، فَقالَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: ارْمُوا بَنِي إسْمَاعِيلَ، فإنَّ أَبَاكُمْ كانَ رَامِيًا ارْمُوا، وأَنَا مع بَنِي فُلَانٍ قالَ: فأمْسَكَ أَحَدُ الفَرِيقَيْنِ بأَيْدِيهِمْ، فَقالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: ما لَكُمْ لا تَرْمُونَ؟، قالوا: كيفَ نَرْمِي وأَنْتَ معهُمْ؟ قالَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: ارْمُوا فأنَا معكُمْ كُلِّكُمْ.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah lewat di hadapan beberapa orang dari suku Aslam yang sedang berlomba dalam menunjukkan kemahiran memanah, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Memanahlah kaliah wahai Bani Isma’il (keturunan Nabi Ismail), karena sesungguhnya nenek moyang kalian adalah ahli memanah. Memanahlah dan aku ada bersama Bani Fulan.” Salamah berkata, “Lalu, salah satu dari dua kelompok ada yang menahan tangan-tangan mereka (berhenti sejenak berlatih memanah), maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Mengapa kalian tidak terus berlatih memanah?” Mereka menjawab, “Bagaimana kami harus berlatih, sedangkan tuan berpihak kepada mereka?” Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berlatihlah, karena aku bersama kalian semuanya.” (HR. Bukhari no. 2899)

Di dalam hadis yang lainnya, juga disebutkan bagaimana beliau memotivasi sahabatnya untuk berlomba-lomba dalam berkuda dan memanah. Beliau bersabda,

لاَ سبقَ إلاَّ في خفٍّ أو في حافرٍ أو نصلٍ

“Tidak boleh ada perlombaan berhadiah, kecuali dalam lomba balap unta, berkuda, dan memanah.” (HR. Tirmidzi no. 1700 dan Abu Daud no. 2574)

Beliau juga pernah berlomba lari atau berjalan cepat dengan istrinya Aisyah radhiyallahu anha,

عن عائشةَ، رضيَ اللَّهُ عنها، أنَّها كانَت معَ النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ في سفَرٍ قالت: فسابقتُهُ فسبقتُهُ على رجليَّ، فلمَّا حَملتُ اللَّحمَ سابقتُهُ فسبقَني فقالَ: هذِهِ بتلكَ السَّبقةِ

Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita bahwasanya ia pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan. Ia berkata, “Kemudian aku berlomba dengan beliau, lalu aku mendahului beliau dengan berjalan kaki. Kemudian setelah gemuk, aku berlomba lagi dengan beliau kemudian beliau mendahuluiku.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ini menggantikan kekalahanku pada perlombaan terdahulu.” (HR. Abu Dawud no. 2578 dan Ibnu Majah no. 1979)

Olahraga merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan rasa syukur kita kepada Allah Ta’ala atas limpahan nikmat kesehatan yang telah Allah berikan, sehingga tubuh kita tetap kuat dan sehat. Setiap anggota tubuh dapat menjalankan fungsinya secara alami, jantung yang bekerja dengan baik, otot yang kuat, tubuh yang lentur, dan sendi-sendi yang kuat untuk menopang setiap aktivitas kita, terutama yang bernilai ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Meniatkan olahraga sebagai ibadah

Niat memiliki dampak dan pengaruh yang sangat besar dalam sebuah amalan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Amalan-amalan itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang itu hanyalah akan dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan.”  (HR. Bukhari no. 1)

Niat yang benar dan tepat akan menjadikan hal-hal yang bernilai mubah menjadi ibadah. Begitu pula dalam berolahraga, saat seorang hamba meniatkannya sebagai sarana untuk menguatkan tubuh dalam beribadah sehingga lebih kuat dalam menjalankan salat malam, lebih kuat saat berhaji, lebih matang dan siap apabila diperlukan untuk berperang, maka sejatinya semua itu bernilai ibadah dan mendapatkan ganjaran dari Allah Ta’ala. Hal ini sejalan dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala ada sekelompok sahabat berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

”Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah pergi membawa pahala-pahala mereka. Mereka salat sebagaimana kami salat, mereka berpuasa sebagaimana kami juga berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka (sedangkan kami tidak bisa bersedekah).”

Mendengar hal tersebut Rasulullah bersabda,

أَوَلَيْسَ قَدْجَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَاتَصَدَّقُوْنَ, إِنّ َبِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً, وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً, وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً, وَكُلَّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً, وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةً, وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةً, وَفِيْ بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً), قَالُوا:يَارَسُوْلَ اللَّهِ أَيَأْتِيْ أَحَدُنَاشَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ؟, قَالَ:(أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِيْ حَرَامٍ, أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَالِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِيْ الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

“Bukankah Allah telah menjadikan buat kalian sesuatu untuk kalian bisa bersedekah dengannya? Sesungguhnya setiap tasbih itu adalah sedekah, dan setiap takbir itu adalah sedekah, dan setiap tahmid itu adalah sedekah, dan setiap tahlil itu adalah sedekah, memerintahkan kepada hal yang makruf itu adalah sedekah, mencegah dari hal yang mungkar itu adalah sedekah, bahkan dalam kemaluan kalian itu juga terdapat sedekah.”

Mereka berkata, ”Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah salah seorang dari kami jika menyalurkan syahwatnya (dengan benar) dia akan mendapatkan pahala?” Beliau bersabda, ”Bagaimana pendapat kalian jika disalurkan pada yang haram, bukankah dia berdosa? Maka, demikian pula, kalau disalurkan pada yang halal tentu dia memperoleh pahala.” (HR. Muslim no. 1006)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa setiap sesuatu yang dilakukan untuk tujuan kebaikan, maka akan mendapatkan ganjaran pahala dari Allah Ta’ala. Begitu pula halnya dalam berolahraga, jika kita niatkan untuk menguatkan tubuh kita sehingga semakin semangat dalam beribadah, semakin kuat di dalam melakukan kebaikan, dan membuat kita semakin panjang di dalam melaksanakan salat malam, maka semuanya akan diberi ganjaran oleh Allah Ta’ala.

Perlu kiranya untuk kita ketahui bersama bahwa di dalam berolahraga, agar bernilai pahala di sisi Allah Ta’ala, maka harus mengikuti rambu-rambu syariat yang ada, memperhatikan adab-adab umum yang berlaku di dalam syariat ini. Berikut ini adalah beberapa adab yang perlu untuk kita ketahui dalam berolahraga.

Adab-adab dalam berolahraga

Pertama: Berpakaian sopan ketika berolahraga

Tidak menggunakan pakaian yang ketat, tembus pandang, dan membuka aurat dalam berolahraga, terutama bagi seorang wanita.

Kedua: Hendaknya olahraga tersebut tidak mengganggu pelaksanaan ibadah pada waktunya

Olahraga yang kita lakukan hendaknya tidak melalaikan kita dari perkara-perkara wajib, terutama melaksanakan salat lima waktu pada waktunya. Karena hukum asal ibadah adalah mubah, sedangkan hukum salat pada waktunya adalah wajib. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya salat itu adalah fardu (kewajiban) yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103)

Ketiga: Tidak ikhtilat atau bercampur baur dengan lawan jenis saat berolahraga

Larangan ikhtilat berlaku di semua tempat, termasuk juga di tempat olahraga. Lihatlah bagaimana usaha Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencegah terjadinya ikhtilat “campur baur” di antara para sahabatnya. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengisahkan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِي تَسْلِيمَهُ وَمَكَثَ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, jika beliau salam (selesai salat), maka kaum wanita segera bangkit saat beliau selesai salam, lalu beliau diam sebentar sebelum bangun.” (HR. Bukhari no. 837)

Ibnu Syihab Az-Zuhri salah satu perawi hadis ini berkata,

فَأُرَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ مُكْثَهُ لِكَيْ يَنْفُذَ النِّسَاءُ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ مَنْ انْصَرَفَ مِنْ الْقَوْم

“Saya berpendapat bahwa diamnya beliau adalah agar kaum wanita sudah habis, sebelum disusul oleh jemaah laki-laki yang hendak keluar masjid.”

Keempat: Tidak mengganggu ataupun menyakiti makhluk Allah dalam kegiatan olahraganya

Baik itu menyakiti manusia lainnya ataupun hewan, seperti menjadikan burung sebagai sasaran latihan memanah, atau menyiksa hewan tunggangan, atau menghinakan burung dan hewan lainnya untuk tujuan hiburan seperti adu banteng, misalnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah no. 1909)

Semoga Allah senantiasa menjaga kesehatan tubuh kita dan memberikan rasa semangat untuk berolahraga kepada kita semua.

***

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Sumber: https://muslim.or.id/99234-agar-olahraga-bernilai-ibadah.html
Copyright © 2024 muslim.or.id