[Kitabut Tauhid 7] 42 Larangan Pengagungan Terhadap Kuburan 12

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Sanad riwayat Syahr Ibnu Hausyab dari Abu Sa’iid Al-Khudry-Radhiyallâhu ‘Anhu-, baik dari jalur Laits Ibnu Abi Sulaim maupun ‘Abdul Hamiid Ibnu Bahram; yang dijadikan sebagai sandaran oleh pihak yang membolehkan syaddur rihaal selain ke tiga masjid; keduanya dha’iif, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. Selain itu, matan riwayat tersebut juga bermasalah.
  • Tambahan lafadz “(bersafar) ke suatu masjid untuk melaksanakan shalat” merupakan tambahan yang mungkar. Kalaulah tambahan itu shahih, maka Mereka yang berpendapat bahwa larangan bersafar hanya mencakup masjid semata telah tenggelam dalam kontradiksi yang sangat jelas, karena pada riwayat tersebut Abu Sa’iid Al-Khudry-Radhiyallâhu ‘Anhu- melarang untuk pergi ke Bukit Thursina, sedangkan Bukit Thursina bukanlah masjid.
  • Anggapan bahwa lafadz “tidak selayaknya” atau “tidak sepantasnya” dalam hadits tidaklah menunjukkan larangan, karena lafadz tersebut tidak dipergunakan untuk menyatakan keharaman sesuatu, ini anggapan yang keliru. Bahkan sebaliknya lafadz tersebut dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah digunakan untuk sesuatu yang terlarang atau sesuatu yang mustahil.
  • Wajib memberlakukan keumuman larangan yang terkandung dalam hadits Abu Sa’iid Al-Khudriy -Radhiyallâhu ‘Anhu-. Larangan bersafar yang dimaksudkan adalah larangan untuk sengaja bersafar ke seluruh tempat-tempat yang diyakini memiliki keutamaan baik itu masjid, kuburan orang shalih dan lainnya. Terkecualikan dari larangan tersebut, tiga masjid yang telah dinyatakan dalam hadits, yaitu Masjidil Harâm, Masjid Nabâwiy dan Masjidil Aqshâ.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Larangan Meniru Orang Kafir

Lonceng Nasrani, Terompet Yahudi

Dari Abu ‘Umair bin Anas dari bibinya yang termasuk shahabiyah anshor, “Nabi memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang untuk shalat berjamaah. Ada beberapa orang yang memberikan usulan. Yang pertama mengatakan, ‘Kibarkanlah bendera ketika waktu shalat tiba. Jika orang-orang melihat ada bendera yang berkibar maka mereka akan saling memberi tahukan tibanya waktu shalat’. Namun Nabi tidak menyetujuinya. Orang kedua mengusulkan agar memakai teropet. Nabipun tidak setuju, beliau bersabda, ‘Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi.’ Orang ketiga mengusulkan agar memakai lonceng. Nabi berkomentar, ‘Itu adalah perilaku Nasrani.’ Setelah kejadian tersebut, Abdullah bin Zaid bin Abdi Robbihi pulang dalam kondisi memikirkan agar yang dipikirkan Nabi. Dalam tidurnya, beliau diajari cara beradzan.” (HR. Abu Daud, shahih)

Hadits di atas adalah di antara sekian banyak hadits yang menunjukkan bahwa menyerupai orang kafir adalah terlarang.

Ketika Nabi tidak senang dengan terompet Yahudi yang ditiup dengan mulut dan lonceng Nasrani yang dibunyikan dengan tangan, beliau beralasan karena itu adalah perilaku orang-orang Yahudi dan Nasrani. Sedangkan alasan yang disebutkan setelah penilaian itu menunjukkan bahwa alasan tersebut adalah illah/motif hukum dari penilaian. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa Nabi melarang semua ciri khas Yahudi dan Nasrani. Padahal menurut sebagian sumber, terompet Yahudi itu diambil dari ajaran Nabi Musa. Di masa Nabi Musa orang-orang dikumpulkan dengan membunyikan terompet.

Sedangkan lonceng orang-orang Nasrani adalah buatan mereka sendiri dan bukan ajaran Nabi Isa. Bahkan mayoritas ajaran Nasrani itu buatan pendeta-pendeta mereka.

Motif hukum di atas menunjukkan bahwa suara lonceng dan terompet itu tetap terlarang di waktu kapan pun dibunyikan bahkan meski dibunyikan di luar waktu shalat. Dengan pertimbangan bahwa dua jenis suara tersebut merupakan simbol Yahudi dan Nasrani karena orang-orang Nasrani membunyikan lonceng dalam berbagai kesempatan, meski di luar waktu ibadah mereka.

Sedangkan simbol agama ini adalah suara adzan yang mengandung pemberitahuan dengan bacaan-bacaan dzikir. Dengannya pintu-pintu langit terbuka, setan lari terkentut-kentut dan rahmat Allah diturunkan.

Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Simbol agama Yahudi dan Nasrani ini telah dipakai oleh banyak umat Islam, baik yang menjadi penguasa ataupun yang bukan.

Sampai-sampai kami menyaksikan pada hari Kamis yang hina ini banyak orang membakar dupa dan membunyikan terompet-terompet kecil.

Bahkan ada seorang penguasa muslim yang membunyikan lonceng pada saat sholat lima waktu. Perbuatan inilah yang dilarang oleh Rasulullah.

Ada juga penguasa yang membunyikan terompet di pagi dan sore hari. Menurut persangkaan orang tersebut dalam rangka menyerupai Dzulqornain. Sedangkan pada selain dua waktu tersebut dia wakilkan kepada yang lain.

Inilah tindakan menyerupai orang Yahudi, Nasrani dan orang non Arab yaitu Persia dan Romawi. Ketika perbuatan-perbuatan semacam ini yaitu berbagai perbuatan yang menyelisihi petunjuk Nabi telah dominan dilakukan oleh para penguasa muslim di bagian timur dunia Islam maka oleh memberikan kesempatan kepada orang Turki yang kafir untuk mengalahkan para raja tersebut padahal Nabi menjanjikan bahwa kaum muslimin nanti akan memerangi orang-orang Turki tersebut. Akhirnya orang-orang Turki tersebut melakukan berbagai aksi kekerasan yang belum pernah terjadi di dunia Islam sekalipun.

Inilah bukti kebenaran sabda Nabi, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian.”

Kaum muslimin di masa Nabi dan masa-masa sesudahnya pada saat peran hanya terdiam dan mengingat Allah.

Qois bin Ibad, salah seorang tabiin senior mengatakan, “Mereka, para shahabat menyukai bersuara lirih pada saat berdzikir, ketika perang dan waktu di dekat jenazah.” (Diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad yang shahih). Riwayat-riwayat lain juga menunjukkan bahwa dalam sikon-sikon di atas para shahabat bersikap tenang sedangkan hati mereka dipenuhi nama Allah dan keagungan-Nya. Hal ini sama persis dengan keadaan mereka pada saat sholat. Bersuara keras dalam tiga kondisi di atas merupakan kebiasaan ahli kitab dan non arab yang kafir lalu diteladani banyak kaum muslimin.”

Terdapat dalil lain yang menunjukkan bahwa suara lonceng itu terlarang secara mutlak, pada semua waktu.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْجَرَسُ مَزَامِيرُ الشَّيْطَانِ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lonceng adalah seruling setan.” (HR. Muslim, dll)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَصْحَبُ الْمَلَائِكَةُ رُفْقَةً فِيهَا كَلْبٌ وَلَا جَرَسٌ

Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, “Malaikat tidak akan menyertai rombongan yang membawa lonceng/genta atau anjing.” (HR. Muslim)

Ibnu Hajar mengatakan, “Genta terlarang karena suaranya yang menyerupai suara lonceng orang-orang Nasrani di samping menyerupai bentuknya.”

Bagaimana Dengan Suara Alarm Atau yang Lainnya?

Syaikh Al Albani mengatakan, “Pada zaman ini terdapat berbagai suara buatan dengan beragam tujuan. Ada suara alarm jam untuk membangunkan dari tidur, suara dering panggilan telepon, suara bel yang ada di instansi pemerintah atau asrama. Apakah suara-suara buatan tersebut termasuk dalam hadits-hadits larangan di atas dan hadits-hadits lain yang semakna? Jawabanku, tidak termasuk, karena suara-suara buatan tersebut tidak menyerupai suara lonceng baik dari sisi suara ataupun bentuk.

Namun jawaban di atas tidaklah berlaku untuk suara jam besar berpendulum yang digantungkan di dinding. Suara jam tersebut sangat mirip dengan suara lonceng. Oleh karena itu jam jenis tersebut tidak sepatutnya ada di rumah seorang muslim. Lebih-lebih sebagian jam jenis tersebut memiliki suara yang mirip dengan suara musik sebelum berdetak sebagaimana suara lonceng gereja, semisal jam London yang terkenal dengan nama Big Ban yang diperdengarkan melalui radio London.

Sangat disayangkan seribu sayang jam jenis tadi merambah sampai ke dalam masjid disebabkan ketidaktahuan mereka dengan aturan agama mereka sendiri. Sering sekali kami mendengar seorang imam shalat membaca ayat-ayat yang mencela keras kesyirikan dan trinitas sedangkan suara lonceng gereja terdengar jelas di atas kepala mereka, mengajak dan mengingatkan kepada akidah trinitas sedangkan imam shalat dan jamaahnya tidak menyadari hal ini.” (Lihat Jilbab Mar’ah Muslimah hal 167-169)

Tidak kalah disayangkan ada sebuah pesantren besar di negeri kita yang sejak dulu hingga sekarang menggunakan lonceng sebagai belnya. Demikian pula banyak kaum muslimin terutama generasi mudanya yang pada saat akhir tahun masehi atau acara ulang tahun yang terlarang ramai-ramai membunyikan terompet yang dilarang oleh Nabi.

Jika membunyikan terompet karena adanya sebuah kebutuhan yaitu mengumpulkan orang untuk melaksanakan shalat berjamaah (saja terlarang -ed), maka bagaimanakah juga dalam even yang tidak ada dorongan kebutuhan, bahkan itu adalah dalam rangka memperingati awal tahun masehi.

Penulis : Ustadz Aris Munandar
Sumber: https://muslim.or.id/589-larangan-meniru-orang-kafir.html

Benarkah Anak Indigo Tahu Hal Ghaib & Mistis?

Anak indigo sering didefinisikan sebagai anak yang bisa melihat hal-hal ghaib atau sesuatu yang berkaitan dengan masa depan. Dalam sudut pandang Islam sendiri, fenomena seperti itu tidak lebih dari sekedar klaim semata. Siapapun dia, manusia tidak akan melampaui batas kemampuannya. Hal ghaib dan masa depan hanya diketahui oleh Allah semata. Allah berfirman,

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“Katakanlah (Muhammad): “tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (QS An-Naml: 65)

Di dunia ini, semua realita dikembalikan kepada dua jenis yaitu realita syar’i dan realita kauni. Realita syar’i adalah segala berita yang disampaikan dalam Al-Quran dan Sunnah. Meskipun kita tidak melihatnya, tetapi wajib kita yakini. Sedangkan realita kauni adalah semua kejadian yang yang Allah ciptakan di alam ini.

Realita anak indigo tidak dipungkiri oleh Islam, tetapi hakikat anak indigo yang katanya bisa mengetahui hal ghaib itulah yang diingkari. Lebih dari itu, perilaku anak indigo yang kita saksikan bisa jadi merupakan sesuatu yang direspon dan disuasanakan secara berlebihan. Inilah yang disebut pseudo sains. Pseudo sains adalah ilmu semu yang dibuat seolah-olah ilmiah dengan menghadirkan data-data yang seolah empiris dan ilmiah.

Jika kita perhatikan apa yang dilakukan oleh anak indigo, dia hanya berbicara dengan pohon atau benda lainnya, kadang dia berbicara sendiri lalu menyampaikan sesuatu yang seolah-olah adalah kejadian di masa depan, atau dia hanya terdiam lalu tiba-tiba melakukan reaksi tertentu. Anehnya, masyarakat menanggapinya terlalu serius.

Sebagian ahli medis menyebutkan, anak indigo mengidap semacam gangguan perkembangan dan keseimbangan aktivitas motorik anak sehingga menyebabkan aktivitasnya tidak lazim dan cenderung berlebihan, kurang lebih sama halnya dengan kelainan yang menimpa anak autis.

Artikel http://www.muslimafiyah.com (Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK, Alumnus Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://muslimafiyah.com/benarkah-anak-indigo-tahu-hal-ghaib-mistis.html

Visi Imam Keluarga Adalah Membawa Keluarganya Masuk Surga Bersama-Sama

Semua manusia yang meyakini adanya negeri akhirat yang abadi pasti menginginkan kenikmatan yang abadi, itulah surga yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang beriman dan beramal shalih selama hidup di dunia. Allah Ta’ala berfirman,

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۖ لَّهُمْ فِيهَآ أَزْوَٰجٌ مُّطَهَّرَةٌ ۖ وَنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيلًا

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Mereka di dalamnya mempunyai istri-istri yang suci. Dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.” (QS. An-Nisa’: 57)

Namun pernahkah kita berpikir agar surga ini tidak menjadi cita-cita pribadi saja, melainkan cita-cita bersama keluarga kita? Bukankah indah jika kebersamaan yang selama di dunia dijalani bersama tak berhenti hanya karena kematian?

Tentu sangat luar biasa jika kita bisa berkumpul kembali bersama keluarga kelak di surga Allah. Inilah yang menjadi puncak harapan dan doa kita, sesuatu yang sepatutnya menjadi visi besar seorang kepala keluarga, membawa seluruh anggota keluarganya menuju puncak dari segala kesuksesan. Allah Ta’ala berfirman,

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ

“(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya.” (QS. Ar-Ra‘d: 23)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan maksud ayat ini, beliau berkata,

يجمع بينهم وبين أحبابهم فيها من الآباء والأهلين والأبناء ، ممن هو صالح لدخول الجنة من المؤمنين; لتقر أعينهم بهم ، حتى إنه ترفع درجة الأدنى إلى درجة الأعلى ، من غير تنقيص لذلك الأعلى عن درجته

“Allah mengumpulkan mereka dengan orang-orang yang mereka cintai di dalam surga yaitu orang tua, istri dan anak keturunan mereka yang mukmin dan layak masuk surga. Sampai-sampai, Allah mengangkat derajat yang rendah menjadi tinggi tanpa mengurangi derajat keluarga yang tinggi (agar berkumpul di dalam surga yang sama derajatnya, pent).” (Tafsir Ibnu Katsir)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّبَعَتۡهُمۡ ذُرِّیَّتُهُم بِإِیمَـٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِهِمۡ ذُرِّیَّتَهُمۡ وَمَاۤ أَلَتۡنَـٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَیۡءࣲۚ كُلُّ ٱمۡرِىِٕۭ بِمَا كَسَبَ رَهِینࣱ

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tiada mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Thur: 21)

Inilah kemuliaan yang diberikan kepada para pemimpin keluarga yang beriman, jika anak cucu mereka mengikutinya dalam keimanan, maka Allah akan kumpulkan mereka semua bersama orang tuanya, meski derajat mereka awalnya tidak sama.

Oleh karena itu, bagi para pemimpin keluarga hendaknya bersemangat untuk melakukan amalan kebaikan, baik itu berkaitan dengan Allah maupun dengan sesama manusia. Allah pun memberikan kebaikan kepada anak karena berkah amalan orang tua. Berikan keteladanan kepada istri dan anak-anak tentang ibadah dan bermuamalah kepada manusia. Orang tua mendoakan istri dan anak-anaknya, anak-anak pun mendoakan orang tuanya sehingga Allah juga memberikan kepada orang tuanya karena berkah doa anak.

Semoga Allah Ta’ala mengumpulkan kita semua dalam surga-Nya yang abadi bersama dengan seluruh keluarga kita. Aamiin yaa Rabbal ‘alamin.

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://muslimafiyah.com/visi-imam-keluarga-adalah-membawa-keluarganya-masuk-surga-bersama-sama.html

Selama Suamimu Ridho Dengan Kecantikan Dirimu Tak Usah Peduli Apa Kata Orang

Teruntuk bagi para muslimah, hakikat kecantikanmu adalah apa yang dipandang suamimu cantik. Sejelek apapun penilaian orang, seburuk apapun pandangan orang, jika suami menilaimu cantik maka engkau cantik. Tanamkanlah prinsip kecantikan menurut Islam yang sebenarnya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Perempuan seperti apa yang paling baik?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

“Yang paling menyenangkan jika dilihat suami, mentaati suami jika suami memerintahkan sesuatu, dan tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci oleh suaminya.” (HR. An-Nasa’i no. 3231, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)

Jika suamimu ridho dengan parasmu, senang duduk dekat denganmu, rindu ketika jauh darimu, sadarilah engkau itu cantik. Tak usah peduli apa kata orang, tak usah hiraukan komentar orang. Selama suamimu cukup maka engkau cukup.

Kecantikanmu hanya untuk suamimu di dalam rumah, bukan tampil menor dan cantik di luar rumah demi laki-laki lain. Allah berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu.” (QS. Al Ahzab: 33)

Buat apa cantik di hadapan laki-laki lain, ngasih uang aja gak!?

Artikel http://www.muslimafiyah.com (Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK, Alumnus Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://muslimafiyah.com/selama-suamimu-ridho-dengan-kecantikan-dirimu-tak-usah-peduli-apa-kata-orang.html

[Kitabut Tauhid 7] 41 Larangan Pengagungan Terhadap Kuburan 11

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Riwayat Syahr Ibnu Hausyab dari Abu Sa’iid Al-Khudry -Radhiyallâhu ‘Anhu-, baik dari Jalur Laits Ibnu Abi Sulaim maupun ‘Abdul Hamiid Ibnu Bahram; yang dijadikan sebagai sandaran oleh pihak yang membolehkan syaddur rihaal selain ke tiga masjid; keduanya sanadnya dha’iif, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Berapa Usia Penghuni Surga?

Usia Penduduk Surga

Tanya:

Manusia mati pada usia yang berbeda-beda, ada yang smp ratuan, puluhan, sblm balig, bayi, bahkan mati d kandungan. Jika mereka dimasukkan k surga, berapa usianya? Apa bayi nanti tumbuh besar d surga?

Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Allah menjanjikan surga kepada para kekasih-Nya yang taat dan bersabar dalam meniti syariat-Nya selama di dunia. Allah memberikan balasan berupa keindahan surga. Saking indahnya, sehingga tidak pernah bisa terbayang oleh manusia. Bayangan mereka, tidak bisa menjangkau keindahannya. Allah menggambarkan keindahannya dalam firman-Nya,

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang disembunyikan untuk mereka, yang indah dipandang, sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. (QS. As-Sajdah: 17)

Dalam hadis qudsi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah berfirman,

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Aku telah siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang sholeh, nikmat surga yang belum pernah dilihat mata, belum pernah dilihat telinga, dan belum pernah terbayang dalam hati manusia.” (HR. Bukhari 3244, Muslim 2824, dan yang lainnya). Ketika menyampaikan hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat di surat as-Sajdah di atas.

Disamping itu, Allah memberikan segala kenikmatan yang diinginkan penghuni surga,

وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kalian kekal di dalamnya”. (QS. Az-Zukhruf: 71).

Karena itu, kita mengimani bahwa penduduk surga berada dalam keadaan serba istimewa, memiliki banyak kelebihan dari segala sisi. Karena mereka dipersiapkan untuk menikmati segala keindahan yang Allah sediakan.

Di antara bentuk kesempurnaan itu, Allah jadikan penduduk surga pada usia kesempurnaan. Usia dimana mereka bisa lebih maksimal dalam menikmati segala keindahan surga. Mereka masuk surga di usia 33 tahun.

Dalam hadis dari Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَدْخُلُ أَهْلُ الجَنَّةِ الجَنَّةَ جُرْدًا مُرْدًا مُكَحَّلِينَ أَبْنَاءَ ثَلَاثِينَ أَوْ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ سَنَةً

Penduduk surga akan masuk surga dalam keadaan jurdan, murdan, bercelak, di usia 30 atau 33 tahun. (HR. Ahmad 7933, Turmudzi 2545, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushanaf 34006 dan dinilai hasan oleh Syuaib al-Arnauth).

Keterangan:

Jurdan, bentuk jamak dari kata ajrad [arab: أجْرَد ], artinya: orang yang tidak memiliki bulu rambut di badannya.

Murdan, bentuk jamak dari kata amrad [arab: أمرد ], artinya: orang yang tidak memiliki bulu rambut di dagunya. (keterangan As-Sindi – Tahqiq Musnad Ahmad, 13/316).

Ibnul Qoyim menjelaskan rahasia usia 33 tahun,

إن فيه من الحكمة ما لا يخفى فإنه أبلغ وأكمل في استيفاء اللذات، لأنه أكمل سن القوة عظم الآت اللذة وباجتماع الأمرين يكون كمال اللذة وقوتها

Hikmah diberi usia 33 tahun sangat jelas, karena di usia itu merupakan pucak dan keadaan paling sempurna dalam merasakan kenikmatan. Karena di usia itu adalah usia kekuatan yang paling sempurna, segala organ kenikmatan berkembang. Dengan gabungan dua ini, diperoleh kesempurnaan kenikmatan dan kuat dalam menikmatinya. (Hady al-Arwah, 104).

Apakah Usia Mereka Bertambah

Yang kita yakini, mereka kekal di dalam kenikmatan. Apakah usia mereka bertambah, sehingga usia mereka menjadi 34 atau 35 dst.. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,

أَهْلُ الجَنَّةِ جُرْدٌ مُرْدٌ كُحْلٌ لَا يَفْنَى شَبَابُهُمْ وَلَا تَبْلَى ثِيَابُهُمْ

”Penduduk surga jurdun, murdun, bercelak. Usia mudanya tidak pernah sirna, dan pakaiannya tidak pernah lusuh.” (HR. Turmudzi 2539, ad-Darimi 2863 dan dihasankan al-Albani).

Apakah usia mereka bertambah selama dalam rentang ‘usia muda’?, Kami tidak mendapatkan informasi tentang itu. Yang jelas, mereka dalam keadaan sangat sempurna di usia muda yang tidak akan pernah sirna.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk diantara kekasih-Nya, hingga bisa menikmati keindahan surga-Nya. Amiin

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Laki-Laki Tapi Sering Foto Selfie?

Hobi dan gemar foto selfie bukanlah kebiasaan laki-laki sejati. Itu adalah perilaku yang lebih dekat kepada sifat perempuan yang pada umumnya sangat perhatian dengan penampilannya. Baru ada jerawat sedikit langsung sedih, rambut kering sedikit pergi ke salon, ini semua bertentangan dengan sifat rajulah (sifat kelaki-lakian).

Dalam suatu hadits dijelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang laki-laki terlalu sering menyisir rambutnya yang menandakan ia terlalu peduli dengan penampilannya. Dari Abdullah bin Mughaffal radhiallahu ‘anhu,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ التَّرَجُّلِ إِلَّا غِبًّا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang laki-laki menyisir rambutnya kecuali ghibban (sehari menyisir, sehari tidak).” (HR. Abu Daud no.3628, dishahihkan oleh Al-Albani)

Laki-laki tidak boleh berlebihan dalam berpenampilan dan bersolek, karena bersolek itu tabiat wanita sedangkan laki-laki dilarang menyerupai wanita. Termasuk di dalamnya adalah suka selfie. Allah menegaskan dalam Al-Quran bahwa laki-laki dan wanita berbeda sifat dan tabiat dasar mereka. Allah berfirman,

ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﺍﻟﺬَّﻛَﺮُ ﻛَﺎﻟْﺄُﻧْﺜَﻰٰ

“Laki-laki tidaklah seperti perempuan.” (QS Ali Imran: 36)

Lebih dari itu suka dan terlalu berlebihan selfie bisa jadi merupakan indikator awal terkena gangguan kejiwaan. Sedikit-sedikit selfie, sedikit-sedikit pamer, termasuk gangguan kepribadian dimana penderitanya ingin menjadi pusat perhatian. 

Artikel http://www.muslimafiyah.com (Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK, Alumnus Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://muslimafiyah.com/laki-laki-tapi-sering-foto-selfie.html