Jiwa Yang Mulia
Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,
النفوس الشريفة لا ترضى من الأشياء إلا بأعلاها وأفضلها وأحمدها عاقبة، والنفوس الدنيئة تحوم حول الدناءات وتقع عليها كما يقع الذباب على الأقذار، فالنفس الشريفة العلية لا ترضى بالظلم ولا بالفواحش، والنفس الحقيرة والخسيسة بالضد من ذلك
“Jiwa yang mulia tidak ridho kecuali kepada sesuatu yang mulia, paling utama dan terpuji.
Sedangkan jiwa yang rendah selalu berkutat di sekitar perkara yang rendah. Sebagaimana lalat yang suka hinggap pada kotoran.
Jiwa yang mulia tidak tidak ridho kepada kezholiman dan perbuatan keji.
Sedangkan jiwa yang buruk dan rendah sebaliknya..” (Al Fawaid hal. 178)
Bila kita ingin mengetahui bagaimana jiwa kita..
Maka lihatlah kepada apa keinginan kita..
Jika selalu menginginkan kebaikan, ketaatan dan taqwa..
Maka itulah jiwa yang mulia..
Namun jika lebih menyukai maksiat, zholim dan perbuatan jelek..
Maka itulah keadaan jiwa kita..
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
sumber : https://bbg-alilmu.com/archives/category/bbg-kajian/abu-yahya-badru-salam
[Kitabut Tauhid 8] 22 Bahaya Laten Kesyirikan 07
Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;
- Surah Al-Kahfi : 21 terkait dengan kisah Ashhâbul Kahfi, yaitu sekelompok orang shalih dari ummatnya Nabi ‘Isâ –‘Alaihissalâm- yang lari dari penguasa yang zhalim kemudian berteduh di sebuah goa, dan kemudian Allâh -‘Azza wa Jalla- menidurkan mereka selama 309 tahun lamanya.
- Setelah mereka dibangunkan oleh Allâh -‘Azza wa Jalla- lalu kemudian Allâh -‘Azza wa Jalla- mewafatkan mereka, para pembesar negeri memerintahkan agar dibuat tempat ibadah di atas goa mereka. Dan ini adalah kebiasaan orang-orang Nashrani, yaitu menjadikan kuburan orang-orang shalih sebagai tempat ibadah.
- Surah Al-Kahfi : 21 ini bukanlah dalil bolehnya membangun tempat ibadah di pekuburan, karena pada ayat tersebut Allâh -‘Azza wa Jalla- hanya menceritakan apa yang dilakukan orang-orang terhadap kuburan Ashhâbul Kahfi, dan itu adalah kebiasaan mereka yang dicela dan dilarang oleh Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
Play Video
“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“
Adab Kepada Ahli Bait dan Haramnya Mengaku Ahli Bait Tanpa Hak
Oleh
Ustadz Abu Abdillah Al-Atsari
ADAB KEPADA AHLI BAIT
- Mengagungkan Mereka Dengan Pantas
Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah berada di pertengahan dalam mencintai ahli bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam [6]. Mereka tidak berlebihan dan tidak pula merendahkan. Pengagungan yang dilandasi dengan keadilan, tidak sekedar hawa nafsu. Kita mengagungkan seluruh kaum muslimin dan muslimat dari keturunan Abdul Mutholib dan para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mencintai seluruhnya. Apabila ahli bait itu termasuk seorang sahabat, maka kita menghormatinya karena keimanan, ketaqwaan, kebersamaannya dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan karena termasuk keluarga beliau. Apabila bukan termasuk shahabat maka kita mencintai karena keimanan dan keberadaannya sebagai ahli bait.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
أُذَكِّرُكم اللهَ في أهلِ بيتي، ثلاثًا
“Dan terhadap ahli baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku”. Beliau mengulang ucapannya sampai tiga kali” [HR Muslim : 24028]
Sungguh, cerminan perilaku salaf dalam mengagungkan ahli bait sangatlah tinggi. Simaklah penuturan berikut ini.
Abdullah bin Hasan bin Husain bin Ali bin Abi Thalib pernah masuk menemui Umar bin Abdul Aziz dalam suatu keperluan, lantas Umar bin Abdul Aziz berkata: “Apabila engkau mempunyai kebutuhan kepadaku, maka kirimlah utusan atau tulislah surat, karena aku malu kepada Allah apabila Dia melihatmu di depan pintu rumahku” [Asy-Syifa 2/608, Lihat Dam’ah Ala Hubb Nabi, hal. 51]
Asy-Sya’bi berkata : “Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu suatu ketika menshalati ibunya yang telah meninggal. Ketika telah selesai, maka untanya di dekatkan kepadanya agar dinaiki. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma kemudian datang mendekat dan mengambil tali kekang (untuk Zaid Radhiyallahu ‘anhu). Melihat hal itu, Zaid Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Biarkan, wahai anak paman Rasulullah”. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma menimpali : “Demikianlah seharusnya kita bersikap kepada ulama”. Maka Zaid Radhiyallahu ‘anhu mencium tangan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma dan membalas : “Demikianlah kita diperintahkan untuk berbuat kepada ahli bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [Asy-Sifa 2/608]
Ahlus Sunnah dalam masalah ini, merupakan orang yang paling berbahagia dalam melaksanakan wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Mereka mencintai dan mendudukkan ahli bait sesuai dengan proporsinya yang pantas, tidak berlebih-lebihan. Hal ini berbeda dengan para pengekor hawa nafsu dari kalangan Rafidhah dan yang semisalnya yang ghuluw terhadap sebagian dan merendahkan sebagian yang lain, bahkan boleh dikata mereka mencela kebanyak ahli bait. Sebagai contoh sikap ghuluw mereka kepada ahli bait yaitu keyakinan mereka adanya imam dua belas, yang dimaksud Ali, Hasan, Husain dan sembilan anak keturunan Husain!!?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : “Orang yang paling jauh dalam melaksanakan wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas adalah orang-orang Rafidhah, mereka memusuhi Al-Abbas Radhiyallahu ‘anhuma dan keturunannya, bahkan boleh dikata mereka memusuhi kebanyakan ahli bait” [Majmu Fatawa 4/419]
Andaikan kita renungi dengan akal yang jernih, niscaya setiap orang yang masih punya sedikit ilmu saja akan memastikan bahwa ini adalah kedustaan dan bualan Rafidhah kepada para imam, dan tentu para imam berlepas diri dari itu semua.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚاِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena Engkau-lah yang Maha Pemberi karunia” [Ali-Imran/3 : 8]
- Mencintai Dan Mendo’akan Kebaikan
Berdasarkan keumuman firman Allah yang berbunyi.
وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a : “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantuan lagi Maha Penyayang” [Al-Hasyr/59 : 10]
Imam Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab shahih-nya bahwa Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu : “Sungguh aku lebih senang menyambung tali kekerabatan kepada keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada keluargaku sendiri” [HR Bukhari : 3712]
Masih dalam Shahih Bukhari bahwasanya Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu ketika pulang dari shalat Ashar ia melihat Hasan Radhiyallahu anhu sedang bermain-main bersama anak-anak yang lain di jalan. Lalu Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu menggendong Hasan Radhiyallahu ‘anhu di atas pundaknya sambil berkata “Demi bapakku yang menjadi tebusan, Hasan lebih mirip Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan dengan Ali Radhiyallahu ‘anhu. Mendengar hal itu Ali Radhiyallahu ‘anhu hanya bisa tertawa” [HR Bukhari : 3542]
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkomentar : “Hadits ini menunjukkan keutamaan Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu dan kecintaannya kepada kerabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [Fathul Bari 6/694]
Syaikhul Islam rahimahullah berkata : “Ahlus Sunnah wal Jama’ah mencintai ahli bait dan berloyalitas kepada mereka. Ahlus Sunnah selain menjaga wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berkata pada hari Ghodir Khum : Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku” [Syarah Al-Aqidah Al-Washitiyyah 2/273] [7]
- Membela Dari Hujatan
Termasuk bentuk membela Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah membela ahli bait dan keluarganya, lebih-lebih para istri beliau, khususnya Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma yang Allah telah sucikan dirinya dari segala tuduhan. Allah berfirman.
اِنَّ الَّذِيْنَ جَاۤءُوْ بِالْاِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنْكُمْۗ لَا تَحْسَبُوْهُ شَرًّا لَّكُمْۗ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۗ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْاِثْمِۚ وَالَّذِيْ تَوَلّٰى كِبْرَهٗ مِنْهُمْ لَهٗ عَذَابٌ عَظِيْمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa diantara mereka yang mengambil bagian yang besar dalam penyiaran berita bohong itu baginya adzab yang besar” [An-Nur/24 : 11]
Imam Ibnu Hazm rahimahullah telah membawakan sanadnya sampai kepada Hisyam bin Ammar dia berkata : Aku telah mendengar Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Barangsiapa yang mencela Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu ‘anhuma berhak dicambukl. Dan barangsiapa yang mencela Aisyah Radhiyallahu ‘anha berhak dibunuh”. Imam Malik ditanya, mengapa orang yang mencela Aisyah Radhiyallahu ‘anha dibunuh? Beliau menjawab : “Karena Allah telah berkata tentang Aisyah Radhiyallahu ‘anha dalam firmanNya:
يَعِظُكُمُ اللّٰهُ اَنْ تَعُوْدُوْا لِمِثْلِهٖٓ اَبَدًا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
“Allah memperingatkan kamu agar jangan kembali berbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman” [An-Nur/24 : 17]
Imam Malik rahimahullah berkata : “Barangsiapa yang menuduh Aisyah Radhiyallahu ‘anha, sungguh ia telah menyelisihi Al-Qur’an. Dan orang yang menyelisihi Al-Qur’an berhak dibunuh”. Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkomentar : “Perkataan Imam Malik ini benar, karena hal itu merupakan kemurtadan yang nyata dan pelakunya berarti telah mendustakan Allah dalam ketegasanNya terhadap kesucian Aisyah Radhiyallahu ‘anha” [Al-Muhalla 13/503] [8]
- Jangan Mencela
Imam Bukhari dalam kitab shahih-nya telah menceritakan bahwasanya Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Perhatikan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keluarganya” [HR Bukhari : 3713]
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan perkataan di atas : “Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu menghimbau manusia dan berwsiat kepada mereka. Maksudnya adalah agar manusia menjaga ahli bait, janganlah kalian menyakitinya dan berbuat jelek kepada mereka” [Fathul Bari 7/101]
- Menasehati Ahli Bait Yang Bersalah
Ketahuilah wahai saudaraku! Ahli bait adalah manusia biasa, tidak ma’shum dan kesalahan. Mereka ada yang shalih dan ada yang fajir. Kemulian nasab ahli bait tidak akan berarti sama sekali apabila tidak diiringi dengan keimanan dan ketaqwaan. Karena orang yang mulia di sisi Allah adalah orang yang beriman dan bertaqwa. Allah berfirman.
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ
“ …Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu” [Al-Hujurat/49 : 13]
Apalah artinya status sebagai ahli bait tetapi senang berbuat syirik, bid’ah, dan maksiat??! Tentunya tidak berguna kemuliaan nasabnya itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
“Barangsiapa yang lambat amalannya, maka nasabnya tidak dapat mempercepat” [HR Muslim : 2699, Ahmad 2/252, Abu Dawud : 3643, Tirmidzi : 2646, Ibnu Majah : 225, Darimi 1/99, Baghowi : 127, Ibnu Hibban : 84]
Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata : “Maknanya, bahwa amalan itulah yang menghantarkan seorang hamba mencapai derajat akhirat. Allah berfirman.
وَلِكُلٍّ دَرَجٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوْاۗ
“Dan tiap-tiap orang memperoleh derajat-derajat seimbang dengan apa yang dia kerjakan” [Al-An’am/6 : 132]
Maka barangsiapa yang lambat amalannya untuk sampai pada derajat tertinggi di sisi Allah, nasabnya juga tidak akan mempercepatnya untuk mencapai derajat tinggi tersebut, karena Allah mengiringkan balasan itu seimbang dengan amalan, bukan dengan nasab” [Jami’ul Ulum wal Hikam 2/308]
Akan tetapi, apabila kita melihat ahli bait yang bersalah, nasehatilah dengan baik, karena mereka pun kaum muslimin, berhak menerima nasehat. Nasehatilah bahwa perbuatannya menyelisihi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pantas dikerjakan, imbasnya akan banyak ditiru oleh manusia lantaran status ahli bait terpandang. Nasehati dengan kelembutan, maafkan apabila bersalah.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah ketika berada pada hari-hari yang penuh cobaan, beliau dipukul dan diikat. Kemudian beliau dibawa ke hadapan Khalifah Al-Watsiq. Al-Watsiq berkata : “Lepaskan ikatan tangan Syaikh”. Tatkala ikatan telah terlepas, Imam Ahmad rahimahullah hendak mengambilnya, Al-Watsiq pun bertanya : “mengapa engkau hendak mengambil ikatan tali itu?”. Imam Ahmad rahimahullah menjawab : “Karena aku berniat untuk berwasiat agar tali ikatan ini disatukan dalam kain kafanku, hingga aku bisa menuntut balas pada hari kiamat atas perbuatan zholim kamu”. Imam Ahmad rahimahullah menangis dan Al-Watsiq pun menangis sambil meminta agar dihalalkan. Imam Ahmad rahimahullah menjawab : “Sungguh aku telah memaafkanmu sejak hari pertama siksaan ini, demi memuliakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena kamu termasuk keturunan ahli baitnya!!” [Siyar A’lam An-Nubala 11/315]
- Besholawat Kepada Mereka
Berdasarkan hadits Ka’ab bin Ujroh : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui kami, dan kami pun bertanya kepadanya : “Kami sudah mengetahui bagaimana mengucapkan salam kepadamu, sekarang bagaimana kami bershalawat kepadamu?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Ucapkanlah.
اللَّهُـمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُـمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
“Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana engkau telah bershalawat kepada Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [HR Bukhari : 4797, Muslim 4/126]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Demikian pula ahli bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai hak-hak yang wajib dijaga. Sungguh Allah telah menjadikan bagi mereka hak dalam seperlima harta ghonimah dan fa’i, dan telah memerintahkan kita untuk bershalawat kepada mereka dan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [Majmu Fatawa 3/407]
HARAMNYA MENGAKU AHLI BAIT TANPA HAK
Sungguh di zaman kita sekarang banyak sekali dari keturunan Arab maupun orang non Arab yang mengaku dan menyandarkan bahwa dia ahli bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di negeri kita santer istilah Habib yang katanya mereka itu masih keturunan Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam alias ahli bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau pengakuannya memang benar dan ia mu’min sungguh Allah telah mengumpulkan pada dirinya antara kemuliaan iman dan kemuliaan nasab. Akan tetapi, lain masalahnya jika pengakuannya hanya sekedar omong kosong, maka orang yang semacam ini telah menerjang keharaman yang besar dia bagaikan orang yang pura-pura kenyang dengan sesuatu yang tidak diberi!! Benarlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi.
المُتَشَبِّعُ بما لَمْ يُعْطَ، كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ
“Orang yang pura-pura kenyang dengan apa yang tidak diberi, ibaratnya seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan” [HR Muslim : 2129]
Keharaman mengaku atau menyandarkan pada suatu kaum yang bukan haknya telah tegas dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya.
لَيْسَ مِنْ رَجُلٍ ادَّعَى لِغَيْرِ أَبيهِ وَهُوَ يَعْلَمُهُ إِلاَّ كَفَرَ، وَمَنِ ادَّعى قَوْمًا لَيْسَ لَهُ فِيهِمْ نَسَبٌ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Tidaklah seseorang mengaku-aku kepada bukan bapaknya sedang ia tahu, kecuali ia telah kafir [9] kepada Allah. Dan barangsiapa yang mengaku bahwa dia termasuk kaum ini padahal bukan, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka” [HR Bukhari : 3508, Muslim : 112]
Inilah yang dapat kami kumpulkan tentang ahli bait, keutamaan dan adab kepada mereka. Kita memohon kepada Allah taufiq-Nya, kefaqihan dalam agama, dan tegar di atas kebenaran. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Mengabulkan do’a. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para shahabatnya. Amin Allahu A’lam
[Disalin dari Majalan Al-Furqon Edisi 08 Tahun VI/Robi’ul Awal 1428 [April 2007]. Rubrik Tazkiyatun Nufus dengan Judul BERSAMA AHLI BAIT NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM. Diterbitkan Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Alamat Maktabah Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim]
Footnote
[6]. Kewajiban mencintai ahli bait telah ditegaskan oleh Imam Al-Baihaqi, Al-baghowi, Asy-Syafi’i, dan lain-lain. Lihat Ihya Al-Mayyit fi Fadha’il Ali Al-bait oleh As-Suyuthi.
[7]. Dalam tempat yang lain beliau berkata : “Demikian pula ahli bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, wajib mencintai mereka, berloyalitas dan menjaga hak-hak mereka” (Majmu Fatawa 28/491)
[8]. Ahkam Al-Qur’an 3/1356 oleh Ibnul Arabi, Asy-Syifa 2/267 oleh Al-Qadhi Iyadh 2/267, Ash-Shorimul Maslul hal. 571
[9]. Kafir disini maknanya adalah kufur nikmat, bukan kufur akbar (besar) yang mengeluarkan pelakunya dari Islam (red).
Referensi : https://almanhaj.or.id/2293-adab-kepada-ahli-bait-dan-haramnya-mengaku-ahli-bait-tanpa-hak.html
Tidak Semua Anak Harus Jadi Ulama
Menjadi ulama mungkin menjadi dambaan banyak orang tua muslim saat ini pada anaknya. Fokus berdakwah, mengajar, dan mengajak manusia kepada ibadah serta kebaikan merupakan profesi yang mulia. Tak heran bila banyak orang tua berlomba memasukkan anaknya ke pesantren atau universitas Islam. Fenomena ini tentu menggembirakan, karena semakin banyak orang berilmu dan berdakwah, maka diharapkan kondisi masyarakat pun semakin baik.
Namun demikian, orang tua juga perlu memahami bahwa profesi sebagai ustadz atau da’i –meski mulia– tetaplah salah satu dari sekian banyak jalan kebaikan. Tidak semua anak cocok untuk menjadi ulama. Setiap anak memiliki kecenderungan dan potensi yang berbeda. Ada yang menyukai dunia teknologi, maka bijak jika diarahkan ke bidang IT. Ada yang pandai menggambar, bisa dikembangkan ke dunia seni sesuai koridor syariat. Ada pula yang gemar membaca dan menulis, bisa diarahkan menjadi penulis.
Sebagai orang tua, penting untuk mengamati karakter dan potensi anak, mendengar cita-citanya, dan membimbing sesuai minatnya. Ini lebih bijak daripada harus memaksakan profesi tertentu yang tidak sesuai passionnya. Termasuk profesi ustadz.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun membimbing para sahabatnya sesuai kapasitas masing-masing. Tidak semua sahabat menjadi ulama. Dari ratusan ribu sahabat, hanya Sebagian kecil yang dikenal sebagai ulama yang mengajar dan berbicara di hadapan manusia. Itupun spesialisasi mereka berbeda: ada ahli tafsir, ahli fatwa halal haram, ahli faraidh, dan sebagainya.
Contohnya, Abu Bakar, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, dan ‘Aisyah adalah ulama. Sementara Khalid bin Walid dan Thalhah bin Ubaidillah dikenal sebagai pejuang medan perang. Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf unggul dalam dunia perdagangan. Bilal bin Rabah terkenal sebagai muadzin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menempatkan para sahabat dengan sangat tepat, sesuai karakter dan keahlian mereka.
Semua bidang tersebut adalah jalan dakwah dan jihad. Sebab jihad tidak selalu identik dengan medan perang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ﻭَﺍﻟْﻤُﺠَﺎﻫِﺪُ ﻣَﻦْ ﺟَﺎﻫَﺪَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻓِﻲ ﻃَﺎﻋَﺔِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻤُﻬَﺎﺟِﺮُ ﻣَﻦْ ﻫَﺠَﺮَ ﻣَﺎ ﻧَﻬَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ
“Mujahid adalah orang yang berjihad memerangi jiwanya dalam ketaatan kepada Allah dan Muhajir adalah orang yang berhijrah dari larangan Allah.” (HR Ahmad, 6/21)
Oleh karena itu, mari kita sebagai orang tua dan pendidik tidak semata-mata mematok satu bentuk keberhasilan, seperti menjadi ulama atau pendakwah. Setiap anak bisa menjadi pejuang agama dalam jalannya masing-masing. Tugas kita adalah membimbing, mendukung, dan mendoakan agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang bertakwa, bermanfaat, dan berkontribusi bagi umat — apapun profesi yang mereka pilih kelak. Sebab, Islam tidak hanya membutuhkan ulama, tetapi juga para profesional yang bertakwa di segala lini kehidupan.
Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)
sumber : https://muslimafiyah.com/tidak-semua-anak-harus-jadi-ulama.html
Tak perlu banyak kata untuk menjelaskannya
Tanda Kiamat: Munculnya Gunung Emas
Di antara tanda kecil terjadinya kiamat (asyraatus saa’ah ash-sughra) adalah mengeringnya sungai Efrat di Irak, sehingga muncullah gunung emas dari sungai tersebut. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَحْسِرَ الْفُرَاتُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، يَقْتَتِلُ النَّاسُ عَلَيْهِ، فَيُقْتَلُ مِنْ كُلِّ مِائَةٍ، تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ، وَيَقُولُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ: لَعَلِّي أَكُونُ أَنَا الَّذِي أَنْجُو
“Kiamat tidak akan terjadi sampai sungai Efrat mengering sehingga muncullah gunung emas. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Dari setiap seratus orang (yang memperebutkannya), terbunuhlah sembilan puluh sembilan orang. Setiap orang dari mereka mengatakan, ‘Mudah-mudahan aku-lah orang yang selamat.’” (HR. Muslim no. 2894)
Bukanlah yang dimaksud dengan “gunung emas” di sini adalah minyak bumi, sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang. Meskipun minyak bumi sendiri dalam bahasa kita sering disebut dengan istilah “emas hitam”. Anggapan semacam ini adalah tidak tepat, dengan ditinjau dari beberapa sisi:
Pertama, hadits di atas tegas menyebutkan “gunung emas”, adapun minyak bumi secara hakikatnya bukanlah emas. Karena emas adalah barang tambang yang sudah kita kenal, berbeda dengan minyak bumi.
Kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa air sungai Efrat akan mengering, lalu tampaklah (muncullah) gunung emas tersebut, sehingga bisa dilihat oleh manusia. Adapun minyak bumi, harus diambil dari dalam bumi dengan alat-alat tambang di kedalaman yang sangat jauh.
Ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan sungai Efrat saja, tanpa menyebutkan sungai atau lautan yang lain. Sedangkan minyak bumi, sebagaimana yang kita ketahui, bisa ditambang dari laut atau dari dalam bumi, di tempat-tempat penambangan yang sangat banyak.
Keempat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa manusia akan saling bunuh untuk memperebutkan simpanan ini. Kenyataannya, hal ini tidaklah terjadi ketika ditemukannya cadangan minyak bumi, baik di sungai Efrat ataupun di tempat-tempat lainnya.
Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang siapa saja yang melihat kemunculan gunung emas tersebut untuk mengambilnya sedikit pun. Sebagaimana yang juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يُوشِكُ الْفُرَاتُ أَنْ يَحْسِرَ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَمَنْ حَضَرَهُ فَلَا يَأْخُذْ مِنْهُ شَيْئًا
“Segera saja sungai Efrat akan mengering lalu nampaklah gunung emas. Barangsiapa yang menjumpainya, jangan diambil sedikit pun.” (HR. Muslim no. 2894)
Dalam redaksi hadits yang lain disebutkan,
عَنْ كَنْزٍ مِنْ ذَهَبٍ
“ … lalu nampaklah simpanan berupa emas …” (HR. Bukhari no. 7119 dan Muslim no. 2894)
Oleh karena itu, barangsiapa yang menganggap bahwa yang dimaksud dengan gunung (simpanan) emas tersebut adalah minyak bumi, konsekuensinya adalah melarang siapa pun untuk menambang (mengambil) minyak bumi sebagaimana larangan dalam hadits di atas. Tentu saja, tidak ada satu pun yang berani mengatakan demikian.
Semua ini adalah bukti bahwa memaknai “gunung emas” dengan “minyak bumi” adalah anggapan yang tidak tepat dan mengada-ada.
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa sebab dilarangnya mengambil emas dari gunung tersebut adalah untuk mencegah terjadinya kekacauan dan saling bunuh di antara manusia. (Fathul Baari, 13: 81)
***
Diselesaikan ba’da subuh, Rotterdam NL, 1 Rajab 1439/ 18 Maret 2018
Penulis: M. Saifudin Hakim
Sumber: https://muslim.or.id/37505-tanda-kiamat-munculnya-gunung-emas.html
Dzikir dan Doa dengan Ya Hayyu Ya Qayyum
Ada beberapa dzikir dan do’a yang menggunakan nama Allah Al-Hayyu Al-Qayyum.
Pertama, meminta dengan nama Allah yang agung Al-Hayyu Al-Qayyum dalam do’a
عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- جَالِسًا وَرَجُلٌ يُصَلِّى ثُمَّ دَعَا اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ.
فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ الَّذِى إِذَا دُعِىَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى »
Dari Anas, ia pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dalam keadaan duduk lantas ada seseorang yang shalat, kemudian ia berdo’a,
“Allahumma inni as-aluka bi-anna lakal hamda, laa ilaha illa anta al-mannaan badii’us samaawaati wal ardh, yaa dzal jalali wal ikram, yaa hayyu yaa qayyum [artinya: Ya Allah, aku meminta pada-Mu karena segala puji hanya untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Banyak Memberi Karunia, Yang Menciptakan langit dan bumi, Wahai Allah yang Maha Mulia dan Penuh Kemuliaan, Ya Hayyu Ya Qayyum –Yang Maha Hidup dan Tidak Bergantung pada Makhluk-Nya-].”
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh ia telah berdo’a pada Allah dengan nama yang agung di mana siapa yang berdo’a dengan nama tersebut, maka akan diijabahi. Dan jika diminta dengan nama tersebut, maka Allah akan beri.” (HR. Abu Daud no. 1495 dan An-Nasa’i no. 1301. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).
Kedua, nama Allah Al-Hayyu Al-Qayyum dalam dzikir pagi petang
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada Fatimah (puterinya), “Apa yang menghalangimu untuk mendengar wasiatku atau yang kuingatkan padamu setiap pagi dan petang yaitu ucapkanlah:
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا
“Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan [artinya: Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya].” (HR. Ibnu As Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah no. 46, An-Nasa’i dalam Al-Kubra 381: 570, Al-Bazzar dalam musnadnya 4/ 25/ 3107, Al-Hakim 1: 545. Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 227).
Ketiga, ketika dirundung duka
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَرَبَهُ أَمْرٌ قَالَ « يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ »
Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dapat masalah berat, beliau membaca: Yaa Hayyu Yaa Qayyum, bi rahmatika as-taghiits [artinya: Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan].” (HR. Tirmidzi no. 3524. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Ada juga doa yang lafazhnya hampir mirip dengan lafazh di atas dari hadits Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِى إِلَى نَفْسِى طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِى شَأْنِى كُلَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ
“Doa orang yang dirundung duka: Allahumma rahmataka arjuu fa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin wa ash-lihlii sya’nii kullahu laa ilaha illa anta [artinya: Ya Allah, dengan rahmat-Mu, aku berharap, janganlah Engkau sandarkan urusanku pada diriku walau sekejap mata, perbaikilah segala urusanku seluruhnya, tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau].” (HR. Abu Daud no. 5090, Ahmad 5: 42. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan karena mengingat adanya penguat).
Selesai kajian nama Allah Al-Hayyu Al-Qayyum, moga manfaat.
Referensi:
Fiqh Al-Ad’iyyah wa Al-Adzkar. Cetakan pertama, tahun 1426 H. Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badar. Penerbit Kunuz Isybiliya.
Kitab At-Tauhid fi Dhau’ Al-Qur’an wa As-Sunnah. Cetakan pertama, tahun 1432 H. Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abdullah At-Tuwaijiri. Penerbit Dar Ashda’ Al-Mujtama’.
Syarh Asma’ Allah Al-Husna fi Dhau’ Al-Kitab wa As-Sunnah. Cetakan kedua belas, tahun 1431 H. Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani. Maktabah Al-Malik Fahd.
Zaad Al-Ma’ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad. Cetakan keempat, tahun 1425 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
—
Selesai disusun menjelang Maghrib, 18 Dzulqa’dah 1436 H di Darush Sholihin, Panggang, GK
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
sumber : https://rumaysho.com/11790-dzikir-dan-doa-dengan-ya-hayyu-ya-qayyum.html
Apa yang sudah allah jauhkan tidak perlu dipertanyakan #shorts
Menggunakan Inventaris Sekolah Untuk Urusan Pribadi
Pertanyaan:
بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Afwan ustadz baarakallahu fiikum, ana mau bertanya mengenai barang yang disediakan dari sekolah ustadz
Alhamdulillah ana sekarang mengajar di sebuah instansi pendidikan ustadz, dan alhamdulillah juga kami disediakan sebuah fasilitas yakni chromebook ( inventaris sekolah )* untuk merangkap atau membuat sebuah dokumen yang diperlukan oleh sekolah atau ana pribadi dalam merangkap pekerjaan ana ustadz,
Terkadang ana menggunakan Chromebook tersebut untuk kebutuhan pribadi seperti belajar atau mendengarkan kajian dan lainnya yang mana itu bersifat pribadi
Apakah hal tersebut termasuk korupsi dalam penggunaan fasilitas sekolah ustadz dan jika ia bagaimana cara ana menebus dosa tersebut
جزاك اللهُ خيراً
Ditanyakan oleh Santri Mahad Bimbingan Islam
Jawaban:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ
Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.
Apabila pihak instansi memang mengizinkan anda untuk keperluan kantor dan pribadi, maka boleh-boleh saja untuk memanfaatkannya dengan baik, namun bila memang hanya mengizinkan untuk keperluan kantor saja, maka lebih baik dihindari untuk keperluan pribadi, agar terhindar dari hal-hal yang berbau syubhat.
Hal ini sebagai bentuk kehatian-hatian dan sikap wara’ terhadap yang menjerumus pada ranah syubhat..
Apabila sudah melakukan tidak sesuai amanah yang berlaku, maka iringilah dengan amal-amal shalih sehingga dapat menghapuskan kesahalan-kesalahan sebelumnya..
Wallahu a’lam bish-shawab
Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Ahmad Yuhanna, Lc. حافظه الله
sumber : https://bimbinganislam.com/menggunakan-inventaris-sekolah-untuk-urusan-pribadi/







