Jangan Doakan Jelek Anakmu Karena Bisa Jadi Terkabul

Jangan doakan jelek anakmu dan hartamu karena bisa jadi doa tersebut terkabul, bertepatan dengan waktu ijabahnya doa.

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa)

بَابُ فِي مَسَائِلِ مِنَ الدُّعَاءِ

Bab 252. Tentang Berbagai Masalah Doa

Hadits #1497

وَعَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لَا تُوَافِقُوا مِنْ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ

رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mendoakan kejelekan untuk diri kalian sendiri, dan janganlah kalian mendoakan kejelekan untuk anak-anak kalian, serta jangan mendoakan kejelekan untuk harta kalian. Janganlah kalian berdoa seperti itu karena boleh jadi bersesuaian dengan satu waktu dari Allah yang jika Dia diminta sesuatu pada waktu tersebut, Dia pasti mengabulkannya untuk kalian.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 309]

Faedah hadits

Pertama: Asalnya manusia itu bersifat terburu-buru. Allah Ta’ala berfirman,

وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ ۖ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا

“Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Isra’: 11)

Kedua: Doa kejelekan dan kebinasaan bisa saja dikabulkan. Dalam ayat disebutkan,

۞ وَلَوْ يُعَجِّلُ اللَّهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُمْ بِالْخَيْرِ لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ ۖ فَنَذَرُ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

“Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimangan di dalam kesesatan mereka.” (QS. Yunus: 11)

Ketiga: Sebab doa jelek ini terlarang karena bisa jadi bertepatan dengan waktu terkabulnya doa, sesuai dengan ketetapan. Akhirnya yang ada adalah penyesalan demi penyesalan.

Dalam hadits Ummu Salamah disebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُم إِلاَّ بِخَيْرٍ فَإِنَّ المَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُوْنَ عَلَى مَا تَقُوْلُوْنَ

“Jangan mendoakan jelek untuk diri kalian sendiri, doakanlah yang baik-baik saja. Karena malaikat akan mengaminkan apa yang kalian ucapkan.” (HR. Abu Daud, no. 3115. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Keempat: Hendaklah seseorang memilih waktu terbaik dikabulkannya doa, yaitu: pertengahan malam terakhir, hari Jumat, antara azan dan iqamah, ketika sujud, di akhir shalat lima waktu (dubur shalat), ketika turun hujan, pada hari Arafah, ketika mendengar suara ayam berkokok, pada Lailatul Qadar, dan doa orang yang berpuasa ketika berbuka.

Kelima: Hendaklah kita selalu memperhatikan perkataan kita, dipikirkan sebelum mengucapkan.

Referensi utama:

Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.


Diselesaikan di perjalanan Panggang – Jogja, 23 Januari 2020 – 27 Jumadal Ula 1441 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/23172-jangan-doakan-jelek-anakmu-karena-bisa-jadi-terkabul.html

AI dan Risiko Bahayanya untuk Anak

AI (artificial intelligence) adalah program komputer yang dibuat untuk meniru kecerdasan manusia (kemampuan pengambilan keputusan, logika, dan lain-lain). Konsep AI sudah dikenal sejak tahun 1956, tapi semakin berkembang beberapa tahun terakhir. [1]

Bagaikan pisau bermata dua, AI memiliki sisi positif dan negatif. AI memang banyak manfaatnya seperti memudahkan pencarian, mengoreksi suatu pekerjaan, dan kerja sama dengan orang lain. Namun jika tidak digunakan dengan bijak, ada banyak hal negatif yang didapat.

Anak-Anak dan Risiko Bahaya AI

Anak-anak pada era modern, tentu tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi (termasuk di dalamnya AI). Peran AI cukup luas, baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, atau ekonomi. Dalam bidang pendidikan, jika AI dimanfaatkan dengan baik, dapat memudahkan murid mendapatkan berbagai informasi yang dibutuhkan. Tetapi sebaliknya, AI dapat disalahgunakan untuk mengerjakan ujian atau tugas tanpa ada proses berpikir dari murid. Penelitian pada anak kuliah di Vietnam menunjukkan, prevalensi mereka melakukan kecurangan dengan AI sekitar 9,4% dan meningkat menjadi 38,3% dengan bertambahnya tahun pendidikan. [2]

Pendidikan Anak dalam Islam

Dr. Hissa bint Muhammad bin Falih As-Saghir hafizhahallah dalam bukunya mengatakan bahwa tujuan pendidikan anak yaitu:

  • Beribadah kepada Allah
  • Mengajarkan akidah yang benar
  • Mendidik akhlaknya
  • Mendidik jiwa sosialnya
  • Mendidik psikis dan emosinya
  • Mendidik fisiknya. [3]

Dalam Islam, akhlak yang baik penting diajarkan kepada anak. Salah satu akhlak baik yaitu berlaku jujur dan tidak melakukan kecurangan. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” [QS. At-Taubah: 119]

Dalam hadis dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga dijelaskan keutamaan sikap jujur dan bahaya sikap dusta. Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang suka berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” [HR. Muslim no. 2607]

Sebelum kita mengenalkan berbagai macam ilmu, salah satu pondasi yang perlu kita ajarkan adalah akhlak yang baik, termasuk di dalamnya kejujuran. Orang tua memiliki peran penting karena ia menjadi contoh dalam sikap kejujuran. Oleh karena itu, jangan biasakan berbohong walau kepada anak kecil. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺼَﺒِﻲٍّ ﺗَﻌَﺎﻝَ ﻫَﺎﻙَ ﺛُﻢَّ ﻟَﻢْ ﻳُﻌْﻄِﻪِ ﻓَﻬِﻲَ ﻛَﺬْﺑَﺔٌ

“Barangsiapa yang berkata kepada anak kecil, ‘Kemarilah, saya akan memberimu sesuatu’, lalu ia tidak memberinya, maka itu adalah sebuah kebohongan.” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/452) dihasankan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 2942]

Tetapi kita tidak bisa lepas dari teknologi, termasuk AI. Pakai AI tidak apa-apa, asal ada aturannya. Tiffany Munzer, M.D., F.A.A.P. memberikan tips agar anak tidak mendapat pengaruh buruk AI:

  • Orang tua menyampaikan kepada anak-anak tentang AI. Sesuaikan apa yang Anda katakan dengan usia dan tingkat pemahaman anak Anda.
  • Kalau anak remaja atau yang lebih besar, usahakan untuk berdiskusi secara terbuka tentang hal positif dan negatif AI. Ajari anak-anak yang lebih besar cara mengelola privasi daring (dalam jaringan).
  • Orang tua mengajarkan tentang kejujuran, batasan plagiarisme, serta kecurangan.
  • Latih rasa ingin tahu dan berpikir kritis anak.

Semoga Allah Ta’ala menjaga anak-anak kita agar memiliki akhlak yang mulia dan tidak mudah terbawa arus perkembangan zaman.

***

Penulis: Victa Ryza Catartika

Artikel: Muslimah.or.id

Referensi:

[1] Anyoha, R. (2020, April 23). The History of Artificial intelligence. Science in the News. https://sitn.hms.harvard.edu/flash/2017/history-artificial-intelligence/

[2] Nguyen, Hung & Goto, Daisaku. (2024). Unmasking academic cheating behavior in the artificial intelligence era: Evidence from Vietnamese undergraduates. Education and Information Technologies, 1-27. 10.1007/s10639-024-12495-4.

[3] As-Saghir, Hissa bint Muhammad bin Falih. Ta’amul Ar-Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ma’a Al-Athfal Tarbawiyan. 

Sumber: https://muslimah.or.id/18781-ai-dan-risiko-bahayanya-untuk-anak.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Enam Model Bisikan Setan

“Habis pasang badan di kasur, niatnya sih mau tidur.. tapi dipaksain merem kok nggak ngantuk-ngantuk yaa? Hmm…di saat-saat seperti itu, pikiran pasti sibuk berkelana melayang kemana-mana. Uups…! Perasaan tadi mikir tugas kampus yang belum kelar, eh kok tiba-tiba jadi mikirin mantan ya?? Astaghfirullahal ‘adzhiim…”

Mungkin ukhti muslimah pernah mengalami kejadian diatas?

Nah.. Kalau memang pernah, sekarang sudah saatnya kita mulai mengendalikan input isi kepala kita dan menjaga proses produksi otak, agar menghasilkan output yang baik dan bernilai pahala.

Ibnul Qayyim dalam kitabnya Fawaa’idul Fawaa’id menjelaskan, “Buah pikiran, bisikan hati, kehendak, dan cita-cita adalah hal-hal yang harus diprioritaskan untuk anda perbaiki. Sebab semua itu adalah inti dan hakikat diri anda. Inti ini adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah atau justru menjauhkan anda dari-Nya.”

Pikiran manusia layaknya mesin penggiling yang memproses segala apa yang masuk ke dalamnya. Jika kita tak cukup jeli untuk bisa memilah-milah mana yang boleh masuk dan mana yang harus dicekal, tentu hasil yang nampak dari dalam diri kita bukanlah hasil baik yang kita cita-citakan. Pikiran, terutama pikiran bawah sadar, akan membentuk diri kita dan membentuk sikap dan perilaku kita. Maka dari itu kita perlu bisa mengklasifikasi mana yang perlu kita cerna dan kita simpan dalam pikiran kita dan mana yang selayaknya dibuang saja.

Untuk bisa mengenali mana bisikan yang bersumber dari cahaya Allah dan mana yang berasal dari godaan dan tipu daya setan, kita perlu tahu perbedaannya. Nah.. Bagaimana kita bisa tahu mana yang dari Allah dan mana yang dari setan? Jawabannya ada di bawah ini;

Allah berfirman dalam QS. Al-Anfaal: 29,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَتَّقُوا اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّكُمْ فُرْقَانًا وَّيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqon (pengetahuan yang bisa membedakan antara petunjuk dan kesesatan), dan kami akan menghapus kesalahan-kesalahanmu, serta menutupi (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

Jadi modal terbesar seorang hamba dalam memahami kebenaran dan kebathilan adalah ketaqwaannya kepada Allah. Dimana ketika taqwa telah menjadi jati dirinya, maka Allah akan mengaruniakan kepadanya “furqon” atau pembeda, dimana dia akan mampu mengenali kebenaran dan para pembawanya, dan mampu mengenali kebathilan dan para pengusungnya. Ia bisa mengenali mana tauhid mana syirik, mana sunnah mana bid’ah, mana yang bermanfaat mana yang membahayakan.

Ibnul Qayyim rahimahullah telah sangat membantu kita dalam hal ini. Beliau menuliskan ada 6 hal yang merupakan bisikan yang berasal dari setan, dimana kita harus sesegera mungkin membuangnya jauh-jauh ketika terlintas di benak kita. Apa saja 6 hal itu?

Pertama, setan membuat manusia sibuk memikirkan yang sudah terjadi dan membuatnya berandai-andai. Andaikan kejadiannya begini, maka pasti tidak akan terjadi begini…dan seterusnya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam jauh-jauh hari telah mengingatkan kita, dengan sabdanya yang artinya:

وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا؛ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“…Jika sesuatu (yang tidak engkau inginkan) menimpamu, maka janganlah engkau katakan ‘andaikan aku melakukan begini dan begitu tentu akan begini dan begitu’ namun katakanlah “Qodarullah wa ma syaa’a fa’ala” karena kalimat seandainya itu akan membuka (pintu) perbuatan syaithon.” [HR. Muslim]

Kedua, membuat manusia memikirkan kejadian yang belum terjadi, lalu dia mengandai-andai seandainya nanti terjadi lalu bagaimana, dan syaithon akan membuatnya mencemaskan berbagai hal yang terkait dengan ini.

Ketiga, membuat manusia memikirkan hal-hal keji dan haram, baik ia menginginkannya karena hawa nafsunya menyeretnya ataupun ketika ia hanya sekedar terfikir kejadian-kejadian keji yang tidak ia inginkan, yang ia merasa jijik kepadanya. Maka ini harus sesegera mungkin ia tepis.

Keempat, menghayal dan berangan-angan yang tidak mungkin terjadi, misalnya mengangankan andaikan dirinya seorang Nabi, atau hal-hal mustahil yang akan membuatnya tersita dan hanya membuang-buang waktu. Berbeda jika yang dia angan-angankan adalah sesuatu yang bisa ia raih, misalkan ia berangan-angan menjadi seorang penerjemah lalu ia memikirkan bagaimana jalan menuju cita-citanya. Maka hal ini adalah angan-angan yang positif.

Kelima, membuat manusia memikirkan berbagai perkara bathil. Misalnya, ia memikirkan bagaimana rasanya minum khamr, dll.

Keenam, membuat manusia memikirkan perkara-perkara yang tidak terjangkau akal. Yaitu semisal ide-ide yang tak berguna, hal-hal yang tidak pernah selesai diperdebatkan semacam keberadaan makhluk lain di luar angkasa, atau seperti permasalahan sifat-sifat Allah dimana ia mempertanyakan kaifiyah/bentuk dan tata caranya, sehingga pikiran-pikiran itu menyibukkannya dari hal yang memang benar-benar bermanfaat bagi hatinya dan akalnya.

Ukhti muslimah, kita telah mengetahui mana yang merupakan bisikan setan, walau ini belum seluruhnya karena tipu daya setan -walaupun lemah- namun amat sangat banyak dan bervariasi. Dimana kita sangat membutuhkan ketaqwaan dan pertolongan Allah dalam mengenalinya dan memberantasnya segera dari hati kita. Sekarang mungkin terbetik di benak kita, lalu apa yang harus kita lakukan untuk memberantas itu semua dari hati kita? Bagaimana jika itu telah terlanjur menjamur di hati kita dan menampakkan hasilnya di sikap dan perilaku kita?

Insya Allah masalah yang berkaitan dengan cara mengatasi bisikan setan akan kami jelaskan semampu kami di pembahasan lain. Sekian semoga bermanfaat.

Wallahu ta’ala a’lam.

***

Penulis: Intan M. Nurwidyani

Murojaah: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah

Maroji’:

  1. Al Qur’an Al-Karim
  2. Fawa’idul Fawa’id karya Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, terbitan Pustaka Imam Asy-

Sumber: https://muslimah.or.id/9109-enam-model-bisikan-setan.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Jangan Buat Setan Tertawa

Perkara yang dianggap sepele, yang sudah menjadi kebiasaan kebayakan orang, padahal merupakan sebuah kekeliruan yang perlu diluruskan, adalah bersuara ketika menguap. Sepertinya sepele, tapi tunggu dulu sobat.
Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa setan itu tertawa bila mendengar seorang bersuara “haah” ketika menguap. Apalagi kalau sampai teriak ?!

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ

“Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Oleh karena itu bila salah seorang dari kalian bersin lantas dia memuji Allah, maka wajib atas setiap muslim yang mendengarnya untuk ber-tasymit kepadanya (mengucapkan “yarhamukallah”). Adapun menguap, maka dia dari setan, bila seorang menguap hendaklah dia menahan semampunya. Bila seorang menguap sampai keluar ucapan ‘haaah’, setan akan menertawainya.” (HR. Al-Bukhari no. 6223 dan Muslim no. 2994)

Inilah diantara adab yang perlu diperhatikan ketika menguap. Yaitu menahan semampunya, bila tidak mampu maka menutup mulut dengan tangan, kemudian adab selanjutnya adalah menahan suara ketika menguap.

Membuat musuh bahagia tentu terlarang dalam Islam. Yang diperintahkan oleh Islam adalah memasukkan kebahagiaan ke dalam hati seorang mukmin. Karena orang yang mukmin adalah saudara kita. Mafhum mukhalafah-nya adalah bila memasukkan kebahagiaan ke dalam hati seorang mukmin; yang mana seorang mukmin itu saudara itu diperintahkan, maka memasukkan kebahagiaan ke dalam hati musuh orang-orang yang beriman tentu terlarang.

Bila seorang membuat setan tertawa karena keisengannya mengeluarkan suara ketika menguap, berarti ia telah membuat setan bahagia. Karena tertawa merupakan ekspresi bahagia atau ridho. Ini jelas-jelas terlarang, terlebih setan adalah musuh yang senyata-nyatanya.

Secara tegas Allah ta’ala berfirman,

وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“..dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168)

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

” Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak pengikutnya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)

Ada yang menarik dari penjelasan salah seorang ulama yang bernama Ibnu Bathol rahimahullah mengenai makna hadits yang kami sebutkan di atas. Beliau mengatakan,

إضافة التثاؤب إلى الشيطان بمعنى إضافة الرضا والإرادة

“Penyandaran perbuatan menguap kepada setan maksudnya adalah penisbatan pada keridhoan dan keinginan setan” (dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, saat mensyarh hadits ini)

Bila menguap itu sendiri sudah termasuk perbuatan yang mengundang ridho setan, lalu bagaimana lagi dengan seorang yang menguap plus dibarengi suara sekuat tenaga ?! Yang secara jelas Nabi shallallahu’alaihi wasallam menegaskan dalam sabda beliau, ” Bila seorang menguap sampai keluar ucapan ‘haaah’, setan akan menertawainya.” ?!

Ini baru ucapan “haah” saja sudah membuat setan tertawa, sekedar desiran suara ringan yang keluar tatkala menguap. Bagaimana lagi bila yang diucapkan adalah ucapan dengan intonasi suara yang lebih kencang dan nadanya lebih panjang. Tentu lebih girang lagi setan dibuatnya.

Maka dari itu mulai saat ini mari kita ubah kebiasaan kurang baik tersebut. Yaitu berusaha menahan suara ketika menguap. Jangan sampai kita menjadi penyebab setan tertawa. Dan juga berusaha melestarikan adab-adab lainnya yang diajarkan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam ketika menguap.

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala aalihi wshahbihi wasallam.

Wihdah 8, komplek Univ. Islam Madinah. 3 Dulqa’dah 1435 / 28 Agustus 2014

—

Penulis: Ahmad Anshori
Muroja’ah : Ustadz Sa’id Yai, Lc. MA
Artikel Muslim.Or.Id


Sumber: https://muslim.or.id/22513-jangan-buat-setan-tertawa.html

Nasihat Seorang Ayah kepada Anaknya

الحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَاتَمِ رُسُلِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ

Segala puji bagi Allah, selawat, dan salam semoga tercurah kepada penutup para rasul Allah, beserta keluarga, sahabat, dan siapa saja yang mengikutinya. Amma ba’dua.

فَهَهُنَا عَمَلِيَّةٌ حِسَابِيَّةٌ يَسِيرَةٌ، تَنْفَعُ الأَذْكِيَاءَ أُولِي الأَلْبَابِ وَالْبَصِيرَةِ، أَنْقُلُهَا مِنْ كِتَابِ الشَّيْخِ عَبْدِ الْعَزِيزِ السَّلْمَانِ -رَحِمَهُ اللَّهُ- “إِيقَاظُ أُولِي الْهِمَمِ الْعَالِيَةِ إِلَى اغْتِنَامِ الأَيَّامِ الْخَالِيَةِ” (ص٢٢٧ وَ٢٢٨، ط٤، ١٤٠٧ه)، وَهِيَ فِي الأَصْلِ فَقَرَاتٌ مِنْ كَلَامِ ابْنِ الْجَوْزِيِّ -رَحِمَهُ اللَّهُ- فِي “لَفْتَةِ الْكَبِدِ”، وَلَيْسَ بِحَوْزَتِي الآنَ

Maka di sini terdapat sebuah perhitungan sederhana, yang bermanfaat bagi orang-orang cerdas, pemilik akal, dan pandangan jernih. Aku nukil dari kitab Syekh Abdul Aziz as-Salman rahimahullah, “Iqāẓ Uli al-Himam al-‘Āliyah ilā Ightinām al-Ayyām al-Khāliyah” (hal. 227–228, cet. ke-4, 1407). Pada asalnya, ini adalah paragraf-paragraf dari perkataan Ibnul Jauzi rahimahullah dalam “Lafdatul Kabid”, yang sekarang tidak ada di sisiku:

:وَمِنْ نَصِيحَةِ وَالِدٍ لِوَلَدِهِ

“Dan di antara nasihat seorang ayah kepada anaknya:

.اِعْلَمْ أَنَّ مَنْ تَفَكَّرَ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ أَنْ يُوجَدَ؛ رَأَى مُدَّةً طَوِيلَةً

Ketahuilah, siapa yang merenungkan dunia sebelum ia diciptakan; ia akan melihat masa yang panjang.

.فَإِذَا تَفَكَّرَ فِي يَوْمِ الْقِيَامَةِ؛ عَلِمَ أَنَّهُ خَمْسُونَ أَلْفَ سَنَةٍ

Apabila ia merenungkan hari kiamat, ia akan mengetahui bahwa hari itu (sepanjang) lima puluh ribu tahun.

!فَإِذَا تَفَكَّرَ فِي اللَّبْثِ فِي الْجَنَّةِ أَوِ النَّارِ؛ عَلِمَ أَنَّهُ لَا نِهَايَةَ لَهُ

Apabila ia merenungkan tinggal di surga atau neraka, ia akan mengetahui bahwa itu tidak ada akhirnya!

فَإِذَا عَادَ إِلَى النَّظَرِ فِي مِقْدَارِ بَقَائِهِ -فَرَضْنَا سِتِّينَ سَنَةً مَثَلًا-؛ فَإِنَّهُ يَمْضِي مِنْهَا ثَلَاثُونَ سَنَةً فِي النَّوْمِ، وَنَحْوٌ مِنْ خَمْسَ عَشْرَةَ فِي الصِّبَا

Apabila ia kembali melihat kadar umurnya –anggaplah enam puluh tahun, misalnya–, maka tiga puluh tahun habis untuk tidur, dan sekitar lima belas tahun dalam masa kanak-kanak.

فَإِذَا حَسَبَ الْبَاقِي؛ كَانَ أَكْثَرَ فِي الشَّهَوَاتِ وَالْمَطَاعِمِ وَالْمَكَاسِبِ

Jika ia hitung sisanya, maka lebih banyak tersita untuk syahwat, makanan, dan usaha duniawi.

فَإِذَا خَلَصَ مَا لِلآخِرَةِ؛ وَجَدَ فِيهِ مِنَ الرِّيَاءِ وَالْغَفْلَةِ كَثِيرًا

Jika ia sisihkan untuk akhirat, ia dapati banyak yang tercampuri riya’ dan kelalaian.

!فَبِمَاذَا تَشْتَرِي الْحَيَاةَ الأَبَدِيَّةَ وَإِنَّمَا الثَّمَنُ هَذِهِ السَّاعَاتُ؟

Lantas dengan apa engkau membeli kehidupan abadi, padahal harganya hanyalah jam-jam (yang singkat) ini?!

فَانْتَبِهْ -يَا بُنَيَّ!- لِنَفْسِكَ

Maka sadarlah, wahai anakku, untuk dirimu.

وَانْدَمْ عَلَى مَا مَضَى مِنْ تَفْرِيطِكَ

Dan sesalilah kelalaianmu yang telah lalu.

وَاجْتَهِدْ فِي لِحَاقِ الْكَامِلِينَ مَا دَامَ فِي الْوَقْتِ سَعَةٌ

Bersungguh-sungguhlah mengejar orang-orang sempurna, selama waktu masih ada.

وَاسْقِ غُصْنَكَ مَا دَامَتْ فِيهِ رُطُوبَةٌ

Siramilah rantingmu selama masih ada basahnya.

وَاذْكُرْ سَاعَتَكَ الَّتِي ضَاعَتْ؛ فَكَفَى بِهَا عِظَةً؛ ذَهَبَتْ لَذَّةُ الْكَسَلِ فِيهَا، وَفَاتَتْ مَرَاتِبُ الْفَضَائِلِ

Ingatlah jam-jam yang terbuang; cukuplah itu sebagai pelajaran. Hilanglah kenikmatan malas di dalamnya, dan terlewatlah derajat-derajat keutamaan.

وَقَدْ كَانَ السَّلَفُ الصَّالِحُ رَحِمَهُمُ اللَّهُ يُحِبُّونَ جَمْعَ كُلِّ فَضِيلَةٍ، وَيَبْكُونَ عَلَى فَوَاتِ وَاحِدَةٍ مِنْهَا؛ قَالَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ -رَحِمَهُ اللَّهُ-: دَخَلْنَا عَلَى عَابِدٍ مَرِيضٍ، وَهُوَ يَنْظُرُ إِلَى رِجْلَيْهِ وَيَبْكِي، فَقُلْنَا: مَا لَكَ تَبْكِي؟ فَقَالَ: عَلَى يَوْمٍ مَضَى مَا صُمْتُهُ، وَعَلَى لَيْلَةٍ ذَهَبَتْ مَا قُمْتُهَا”. وَاللَّهُ أَعْلَمُ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ” اهـ

Para salafus shalih –semoga Allah merahmati mereka– dahulu sangat mencintai untuk mengumpulkan setiap keutamaan, dan mereka menangis jika terluput satu saja. Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata, “Kami pernah masuk menjenguk seorang ahli ibadah yang sedang sakit. Ia memandang kedua kakinya, lalu menangis.” Kami bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Ia menjawab, “Aku menangis atas satu hari yang telah berlalu, namun aku tidak berpuasa di dalamnya, dan satu malam yang pergi namun aku tidak mendirikannya (dengan ibadah malam).” Wallahu a’lam, dan selawat Allah tercurah atas Muhammad.” [Selesai]

وَبَعْدُ! فَإِذَا تَابَعْنَا الْعَمَلِيَّةَ الْحِسَابِيَّةَ فِي هَذَا الزَّمَنِ الْخَاصِّ (رَمَضَانَ)، الْكَائِنِ (أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ)

Apabila kita lanjutkan perhitungan ini pada zaman khusus (Ramadan), yang hanyalah “beberapa hari yang terbilang”.

.ثُمَّ فِي الزَّمَنِ الأَخَصِّ (لَيَالِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ)

Kemudian pada waktu yang lebih khusus lagi (malam sepuluh terakhir).

!فَهَلْ سَيَبْقَى مِنَ السَّاعَاتِ سِوَى سُوَيِّعَاتٍ؟

Maka apakah akan tersisa dari jam-jam itu selain sekadar beberapa saat?!

.فَاللَّهُمَّ! أَعِنَّا عَلَى شُكْرِكَ، وَذِكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Ya Allah! Bantulah kami untuk bersyukur kepada-Mu, berzikir kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.

الثُّلَاثَاءُ ٢٣ رَمَضَانَ ١٤٤٠ه

Selasa, 23 Ramadan 1440

Ditulis oleh: Sukainah binti Muhammad Nashiruddin al-Albani.

***

Penerjemah: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslimah.or.id

Sumber: 

‘Amaliyyah Hisabiyyah Nafi’ah, karya Sukainah binti Muhammad Nashiruddin al-Albani.

Sumber: https://muslimah.or.id/30167-nasihat-seorang-ayah-kepada-anaknya.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Jenggot adalah Fitrah dan Perhiasan Laki-laki

Jenggot adalah suatu fitrah manusia dan yang namanya fitrah adalah suatu hal yang tidak mungkin dibenci atau tidak disukai manusia. Apabila manusia di zaman ini ada yang membenci jenggot, menganggapnya jelek, kotor atau anggapan jelek lainnya, maka mereka keluar dari fitrahnya. Di zaman ini bisa jadi banyak orang yang berubah bahkan rusak fitrahnya karena pengaruh zaman dan tersebarnya gaya hidup melalui internet dan smartphone. Tersebar gaya hidup atau film yang orang tersebut berjenggot tapi kasar, jelek dan kotor, sedangkan orang-orang hebat adalah orang yang bersih dagunya karena telah dipotong jenggotnya. Padahal di zaman dahulu, orang-orang hebat mulai dari raja, kesatria dan ilmuan, mereka memiliki jenggot yang lebat dan terlihat gagah berwibawa.

Jenggot adalah fitrahnya manusia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَشْرٌ مِنْ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الْأَظْفَارِ..

“Sepuluh perkara yang termasuk fithrah: Memotong kumis, memelihara jenggot, bersiwak, memasukkan air ke dalam hidung, memotong kuku….” (HR. Muslim)

Seorang ulama menyebutkan bahwa jenggot adalah perhiasan bagi laki-laki, artinya jika laki-laki memiliki jenggot, maka ia lebih terlihat jantan, terlihat gagah dan lebih maskulin.

Al-Gazali berkata,

فإن اللحية زينة الرجال …وبها يتميز الرجال عن النساء

“Sesungguhnya jenggot adalah perhiasan para lelaki… dengan jenggot akan terbedakan antara laki-laki dan wanita” (Ihyaa ‘Uluumid-Diin 2/257)

Karena jenggot adalah perhiasan laki-laki dan menunjukkan kegagahan dan tanda maskulin laki-laki. Ada beberapa orang shalih di zaman dahulu yang sangat ingin memiliki jenggot. Kaum Anshar sangat meninginkan pemimpim mereka memiliki jenggot agar terlihat lebih jantan. Mereka berkata,

نعم السيد قيس لبطولته وشهامته، ولكن لا لحية له، فوالله لو كانت اللحية تشترى بالدراهم، لاشترينا له لحية

“Memang Sayyid Kami Qais terkenal dengan kepahlawanan dan kedermawanannya, akan tetapi ia tidak memiliki jenggot. Demi Allah, seandainya jenggot itu bisa dibeli dengan dirham, maka kami akan belikan ia jenggot.” (Lihat Istii’aab 3/1292)

Al-Gazali berkata,

وقال شريح القاضي : وَدِدْتُ أَنَّ لِي لَحْيَةً وَلَوْ بَعَشْرَةِ آلاَفٍ

“Syuraih Al-Qadhi berkata, ‘Aku sangat ingin memiliki jenggot, meskipun harus membayar sepuluh ribu (dinar/dirham)’.” (Ihyaa ‘Uluumid -Diin 2/257)

Catatan:

Adapun menyandarkan ini dengan kandungan sebuah hadits,

سبحان من زين وجوه الرجال باللحى

“Maha Suci (Allah) yang menghiasi wajah laki-laki dengan jenggot”

Maka hadits ini maudhu’ (palsu), sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ad-Dha’ifah wal Maudhu’ah no. 6023

Jenggot merupakan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan kita untuk memelihara jenggot. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْهَكُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى

“Potonglah kumis dan peliharalah jenggot.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits digunakan kata perintah (fi’il ‘amr), maka dalam Ilmu ushul di ada kaidah,

الأمر يفيد الوجوب

“Kata perintah (fi’il ‘amr) menunjukkan hukum (asalnya) wajib”

Menurut pendapat terkuat bahwa laki-laki wajib memelihara jenggotnya (membiarkan tumbuh), bahkan memotongnya adalah sebuah larangan (ada juga pendapat boleh dipotong jika sudah melebihi satu genggam). Memotong jenggot adalah kebiasaan orang-orang musyrik dan Majusi, sebagaimana Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam,

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ

“Selisihilah orang-orang musyrik, peliharalah jenggot dan potonglah kumis.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda,

جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ

“Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot, selisihilah orang-orang Majusi (penyembah matahari).” (HR. Muslim)

Menyerupai orang-orang kafir akan mendapat ancaman sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud, Shahih)

Demikian semoga bermanfaat

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen
Sumber: https://muslim.or.id/44787-jenggot-adalah-fitrah-dan-perhiasan-laki-laki.html

Kapan Orang Tua Mewajibkan Putrinya Memakai Hijab?

Para ulama fikih menjelaskan bahwa ketika seorang anak genap berusia tujuh tahun, dalam kondisi normal dan sehat, ia memasuki tahap tamyīz (fase mampu membedakan). Pada usia ini, anak mulai dapat menggunakan akalnya untuk menilai sesuatu yang baik atau buruk, serta yang bermanfaat atau berbahaya. Fase ini juga menandai kesiapan seorang anak untuk menjalankan ibadah yang disyariatkan.

Sejak masa tamyīz, seorang anak telah memiliki kelayakan hukum dalam hal ibadah secara sempurna, yang dikenal dengan istilah ahliyyah at-ta‘abbud (kelayakan beribadah) atau ahliyyah al-adā’ ad-dīniyyah (kelayakan menunaikan agama). Artinya, anak dianggap pantas melakukan amalan ibadah seperti salat dan puasa, meskipun keduanya belum menjadi kewajiban baginya. Status ahliyyah tersebut hanya menunjukkan kelayakan untuk beribadah, namun bukan kewajiban untuk melaksanakannya (karena belum baligh). Rasulullah ﷺ bersabda,

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk salat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika meninggalkannya) ketika berusia sepuluh tahun.” (HR. Abu Dawud no. 495)

Masa tamyīz ini membuat anak siap melaksanakan ibadah, tetapi belum terikat dengan kewajiban syariat. Sebab, kewajiban dalam agama baru berlaku ketika seseorang memasuki fase baligh, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

رُفِعَ القَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: .. عَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَكْبَرَ

“Diangkat pena (catatan dosa) dari tiga golongan: … dari anak kecil hingga ia dewasa.” (HR. Abu Dawud no. 4403)

Dalam riwayat lain disebutkan: «حَتَّى يَحْتَلِمَ» — “hingga ia bermimpi (mimpi basah).”

Dengan demikian, seseorang tidak terkena beban kewajiban syariat yang bersifat amaliyah (praktik ibadah) kecuali setelah ia baligh.

Berdasarkan hal ini, anak perempuan yang sudah mencapai usia tamyīz memiliki kesiapan beragama. Maka, sebagaimana ia diperintahkan untuk salat dan berpuasa meski keduanya belum wajib baginya, ia juga diperintahkan untuk membiasakan diri memakai hijab sebelum baligh. Tujuannya agar ia terbiasa, merasa selaras dengannya, dan tidak merasa asing ketika nantinya diwajibkan.

Adapun kewajiban memakai jilbab (hijab syar‘i) berlaku ketika syarat taklif pertama telah terpenuhi, yaitu baligh. Salah satu tandanya adalah datangnya haid, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

يَا أَسْمَاءُ، إِنَّ المَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ المَحِيضَ لَمْ يَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا

“Wahai Asma’, sesungguhnya apabila seorang wanita telah mencapai haid, tidak boleh terlihat darinya kecuali ini dan ini.” Beliau menunjuk wajah dan kedua telapak tangannya. (HR. Abu Dawud no. 4104)

Pada fase ini, wali memiliki kewajiban untuk menegakkan perintah hijab atas putrinya, berdasarkan firman Allah Ta‘ala,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka…’” (QS. al-Ahzab: 59)

Baca juga: Kalau Anak Saya Berhijab Syar’i, Bagaimana Dia Akan Dapat Jodoh?

***

Penyusun: Junaidi Abu Isa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

Sumber: https://muslimah.or.id/30169-kapan-orang-tua-mewajibkan-putrinya-memakai-hijab.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Setiap Orang Memiliki Potensi Berbeda untuk Meraih Surga

Allah Ta’ala ketika menciptakan manusia itu berbeda-beda dari berbagai sisi, baik sifat, fisik, termasuk perbedaan dalam hal potensi. Ada yang potensinya pada kekayaan, kekuatan, kecerdasan, atau keahlian tertentu. Dan masing-masing dari kita berusaha memahami potensi tersebut dan memaksimalkannya untuk kebaikan serta meraih surga Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ

“Sungguh setiap kelompok (manusia) telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing).” (QS. Al-Baqarah: 60)

Dalam ayat yang lain,

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا

“Katakanlah, “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (QS. Al-Isra’: 84)

Nabi shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda,

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Beramallah kalian, sebab setiap orang akan dimudahkan untuk apa yang sudah diciptakan untuknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pintu surga ada banyak: Pilihlah yang sesuai dengan potensimu

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ نُودِىَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ ، هَذَا خَيْرٌ . فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلاَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّلاَةِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ

“Barang siapa yang menginfakkan dua harta di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga: Wahai hamba Allah, ini adalah kebaikan. Barang siapa termasuk dari golongan ahli salat, dia akan dipanggil dari pintu salat. Barang siapa dari ahli jihad, dia akan dipanggil dari pintu jihad. Barang siapa dari ahli puasa, dia akan dipanggil dari pintu Rayyan. Dan barang siapa dari ahli sedekah, dia akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa jalan menuju surga sangat beragam, tergantung pada kemampuan dan kecenderungan masing-masing hamba. Ada yang mudah baginya untuk berinfak, ada yang istikamah dalam berpuasa sunah, ada yang kuat dalam berjihad, dan ada pula yang tekun dalam salat malam. Semua bisa menjadi jalan meraih pahala dan surga.

Jangan meremehkan amalan kecil

Dalam Islam, tidak ada amalan baik yang dianggap remeh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Dawud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih)

Mungkin seseorang tidak bisa bersedekah banyak karena tidak kaya, tapi ia bisa tersenyum, membantu orang lain, atau mendoakan saudaranya secara sembunyi-sembunyi. Semua itu bernilai pahala di sisi Allah.

Setiap potensi bisa jadi ladang pahala

Contoh nyata dari keragaman potensi ini bisa kita lihat dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

Utsman bin Affan dikenal dermawan dan menyumbang banyak hartanya untuk Islam.

Bilal bin Rabah punya suara merdu yang digunakan untuk azan.

Abu Hurairah memiliki hafalan yang kuat dan meriwayatkan ribuan hadis.

Khalid bin Walid unggul dalam strategi perang dan menjadi pedang Allah di medan jihad.

Setiap sahabat menggunakan potensi yang Allah berikan untuk berjuang di jalan-Nya, dan semuanya mendapat kedudukan mulia di sisi Allah.

Fokus pada apa yang kita bisa

Islam tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Allah Ta’ala berfirman,

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Artinya, jika seseorang tidak bisa melakukan ibadah sunah tertentu karena keterbatasan fisik, ilmu, atau harta, maka Allah tidak akan menuntut hal tersebut darinya. Namun ia bisa fokus pada apa yang mampu ia lakukan.

Berlomba dalam kebaikan sesuai potensimu

Setiap orang punya potensi berbeda, dan setiap potensi bisa menjadi jalan meraih pahala. Kuncinya adalah mengenali potensi diri, lalu menggunakannya dalam amal saleh dengan niat yang lurus. Jangan iri terhadap amal orang lain, tapi berlombalah dalam kebaikan sesuai dengan potensi yang Allah titipkan pada kita.

فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا

“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. Kepada Allah-lah kamu semua kembali.” (QS. Al-Ma’idah: 48)

Dalam firman-Nya yang lain,

وَلِكُلٍّ دَرَجَٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوا۟ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

“Dan masing-masing orang memperoleh derajat dengan apa yang telah mereka kerjakan. Dan Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 132)

Semoga Allah memberikan kita taufik untuk mengoptimalkan potensi diri kita masing-masing dan menjadikannya wasilah meraih surga-Nya yang kekal.

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya

Artikel Muslim.or.id

Referensi:

Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.

Sumber: https://muslim.or.id/109151-setiap-orang-memiliki-potensi-berbeda-untuk-meraih-surga.html
Copyright © 2025 muslim.or.id