Pentingnya Keikhlasan Dalam Seluruh Amal Ibadah

ومَا أُمِرُوْا إِلاَّلِيَعْبُدُاللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…[Al-Bayyinah/98 : 5]

Segala Puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam Shalawat dam salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad Shalalllahu ‘alaihi wa sallam Pembawa risalah yang haq ini sebagai rahmat bagi semesta alam kepada keluarganya para shahabatnya dan orang-orang yang setia mengikuti jejaknya hingga akhir zaman.

Berikut ini adalah pembahasan secara singkat hal-hal yang berkaitan dengan pentingnya “keikhlasan” dalam seluruh amalibadah. Sesungguhnya perkara paling mendasar dan terpenting dalam dien ini adalah mengikhlaskan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap amal ibadah yang kita lakukan, hal itu sebagai syarat utama diterimanya amal ibadah. Ikhlas adalah termasuk amalan hati yang perlu mendapatkan perhatian “istimewa” (secara mendalam) dan dilakukan dengan cara “istimrar” (terus menerus) di setiap kita hendak melakukan amalibadah, agar amalan kita menjadi bernilai di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

PENTINGNYA AMALAN HATI.
Telah kita ketahui bahwa pengertian iman menurut Ahlus Sunah adalah : Keyakinan dengan hati, ikrar dengan lisan, dan amalan dengan seluruh anggota badan, bertambah dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berkurang dengan perbuatan maksiat.

Perlu diketahui bahwa ikhlas adalah perkara terpenting dalam amalan hati, yang hal tersebut sangat erat hubungannya dengan pengertian iman tersebut di atas.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Amalan-amalan hati adalah termasuk pokok-pokok dari keimanan dan tonggak-tonggak agama Islam ini, seperti: mencintai Allah dan Rasul-Nya, bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengikhlaskan seluruh macam ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya dan berlaku sabar di atas hukum-hukum-Nya, khauf (perasaan takut kepada-Nya akan siksa atau adzab-Nya), raja (berharap) kepada-Nya…Semua amalan ini wajib atas seluruh makhluk berdasarkan kesepakatan para imam agama”.[1]

Ibnul Qayim juga menjelaskan keagungan amalan-amalan hati : Amalan–amalan hati ialah pokok adapun amalan–amalan anggota badan adalah pengikut dan penyempurna. Sesungguhnya niat sekedudukan dengan ruh, adapun amalan sekedudukan dengan jasad, sehingga apabila ruh telah terpisah dengan jasad maka binasalah. Oleh sebab itu mengetahui hukum – hukum hati lebih penting dari pada mengetahui hukum-hukum jasad.[2]

Hal inilah di antaranya yang mendorong kami untuk mengulas hal ini agar seluruh aktifitas kita sehari-hari tidak menemui kesia-siaan, yakni hampa, jauh dari berkah Allah atau Ramat-Nya, seolah-olah tiada nilainya aktifitas yang kita laksanakan setiap hari.

Niat berasal dari bahasa Arab, yang berarati tujuan. Sedangkan menurut istilah syara’ memiliki dua arti:

Ikhlash dalam beramal, yaitu semata-mata karena Allah, dan inilah yang sering dibicarakan oleh para Ulama ahli tauhid, suluk (perilaku) dan akhlak.
Membedakan antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lain, atau ibadah dengan kebiasaan. Istilah ini sering dipakai oleh ulama-ulama Fiqh.
Niat dipakai untuk membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan yang dilakukan oleh manusia), misalnya : Mandi, apabila dimaksudkan (niatkan) karena Allah semata untuk menghilangkan hadats besar (mandi junub misalnya) maka hal yang semacam itu akan menjadi ibadah, lain halnya apabila mandi semata-mata dimaksudkan untuk membersihkan badan atau mendapatkan kesegaran, maka hal itu menjadi adat (kebiasaan) saja.

Kemudian bahwa niat itu tempatnya di hati dan apabila di lafadzkan menjadi bid`ah.

KEDUDUKAN IKHLAS.
Sesungguhnya ikhlas adalah hakekat dien dan kunci dakwah para rasul, yakni menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dan menjauhi thagut :

ومَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…[Al-Bayyinah/98: 5]

Yang dimaksud dengan ” (حُنَفَاءَ ) agama yang lurus” pada ayat di atas adalah terjauhkan dari perkara-perkara syirik dan menuju kepada tauhid. Di sinilah pentingnya ikhlash dalam selurus amal ibadah, agar amalan tersebut tidak sia-sia, dan tidak mendapat adzab dari Allah, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Kemudian bahwa pengaruh ikhlas terhadap amalan itu sangatlah besar, amal yang kecil dan sedikit jika dilakukan dengan ikhlas dapat memperoleh pahala yang besar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam perkara ini mengatakan: “Suatu jenis amalan yang dikerjakan oleh manusia dengan menyempurnakan keikhlasannya dan ketundukkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, terkadang Allah Subahnahu wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa besar dengan sebab amalan itu, sebagaimana hadits al-bithaqah (seorang yang memiliki satu kartu Laa ilaaha illa Allah, lalu diampuni dosa-dosanya sebanyak 99 lembaran catatan amal keburukan-red)…ini karena dia mengucapkan Laa ilaaha illa Allah dengan ikhlas dan jujur/benar, karena kalau tidak, maka para pelaku dosa besar yang masuk ke dalam neraka semuanya juga mengucapkan tauhid, tetapi perkataan mereka tidaklah lebih berat terhadap dosa-dosa mereka sebagaimana pemilik kartu (Laa ilaaha illa Allah) itu.”

Hadits pemilik kartu Laa ilaaha illa Allah itu, adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَعَافِرِيِّ ثُمَّ الْحُبُلِيِّ قَال سَمِعْتُ عَبْدَ الهِb بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ الهَِ n إِنَّ اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلاً مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلاَّ كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَفَلَكَ عُذْرٌ فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً فَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الهُب وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَيَقُولُ احْضُرْ وَزْنَكَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ فَقَالَ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ قَالَ فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِي كَفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ فَلاَ يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ الهِق شَيْءٌ


Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu , dia berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah akan mengadili salah seorang laki-laki dari ummatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu ditunjukan kepada laki-laki tersebut 99 catatan (amal keburukan), setiap satu catatan panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan kepada laki-laki tersebut: ”Apakah kau ingkari dari semua ini (kedzaliman yang telah kau perbuat)? Apakah para malaikat-Ku pencatat dan penjaga amalan menzhalimimu? Laki-laki tersebut menjawab: “Tidak Ya Tuhanku!”. Lalu Allah berkata kepada laki-laki tersebut: “Apakah engkau punya alasan (berbuat kezhaliman itu)? Laki-laki tersebut menjawab: “Tidak Ya Tuhanku!”. Kemudian Allah berkata kepada laki-laki tersebut: “Ya benar, tetapi sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami, dan sesungguhnya tidak ada kedzaliman atasmu pada hari ini. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengeluarkan sebuah kartu kecil yang di dalamnya terdapat : Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhamadan ‘abduhu warasuluhu (Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya). Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada orang tersebut: “Datangkan timbanganmu”, maka orang tersebut berkata: “Ya Tuhan untuk apa kartu kecil ini dibandingkan dengan catatan (amal keburukan) ini ?”, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada orang tersebut: “Sesungguhnya pada hari ini tiada kedzaliman”. Maka diletakkanlah catatan itu pada salah satu daun timbangan, dan kartu kecil itu diletakan pada satu daun timbangan yang lain. Maka jadi ringanlah catatan-catatan `amal keburukan itu dan beratlah kartu kecil tersebut, maka tiadalah sesuatupun yang menjadi berat dibandingkan dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. [HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i].

PENGERTIAN IKHLAS DAN BATASNNYA
Ada beberapa pengertian tentang ikhlas yang disebutkan oleh ulama, antara lain :

Diantaranya ada yang mengatakan : Ikhlas ialah “Menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya tujuan di dalam menjalankan ketaatan”.
Ada juga yang mengatakan : “Ikhlas ialah membersihkan perbuatan dari mencari pandangan manusia”.
Al-Harawi berkata: “Ikhlas ialah membersihkan amalan dari setiap noda”.
Dan sebagian yang lain ada yang mengatakan: “Orang yang mukhlis ialah orang yang tidak perduli, seandainya hilang seluruh penghormatan kepadanya di dalam hati manusia, untuk kebaikan hatinya bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan dia tidak suka manusia mengetahui amalannya walaupun seberat debu. Allah.
Tidak diragukan lagi bahwa keikhlasan membutuhkan kesungguhan yang tinggi hingga seorang hamba meraihnya dengan sempurna.

PENGERTIAN RIYA’, SUM’AH, UJUB
Telah kita ketahui bahwa keikhlasan dapat dihilangkan oleh beberapa perkara, seperti: mencintai dunia, kemasyhuran, kemuliaan, riya’, sum’ah dan ujub.

Riya ialah melakukan `ibadah dengan tujuan dilihat oleh manusia, sehingga orang yang riya’ itu mencari pengagungan, pujian, harapan atau rasa takut terhadap orang yang dia berbuat riya’ karenanya.
Sum’ah adalah amalan yang dilakukan dalam rangka agar didengar orang lain, misalnya memperdengarkan bacaan Al-Qur’an atau yang lainnya.
Ujub adalah teman riya, yaitu perasaan bangga terhadap diri sendiri atas kemampuan yang dimiliki secara berlebihan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membedakan antara keduanya (antara riya dan ujub ).
a. Riya adalah salah satu bentuk dari syirik kepada makhluk.
b. Adapun ujub adalah bentuk dari pada syirik kepada diri sendiri.[3]

DIANTARA BENTUK-BENTUK RIYA, UJUB DAN SUM’AH

  1. Riya dalam ibadah sholat, misalnya : Memperbaiki posisi atau gerakan shalat karena mengetahui bahwa dia sedang diperhatikan oleh orang yang dianggap lebih ‘alim atau lainya.
  2. Riya atau sum’ah dalam kepribadian misalnya : Karena di karuniai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala suara yang merdu misalnya, maka timbulah penyakit riyaatau ujub ini pada nimat tersebut; Mengeraskan/ menbaguskan bacaan dalam membaca Al-Qur`an atau ketika mengumandangkan adzan dengan harapan ingin mendapatkan pujian atau agar diakui bahwa dia memiliki suara yang bagus atau merdu. Pada hakekatnya membaguskan suara dalam membaca Al-Qur’an, dengan tidak dibuat-buat atau berlebih-lebihan merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sabadanya:

زَيِّنُوْا اْلقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ.

Baguskanlah (bacaan) Al-Qur`an dengan suara kalian [4]

  1. Ujub atau Riya dalam berdakwah misalnya : Berceramah, menasehati orang, atau mentahdzir (memberi peringatan terhadap seseorang) dengan niat agar dikenal sebagai seorang penasehat, ahli pidato dengan harapan agar semua orang memujinya atau menyanjungnya. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari semua perkara ini. Hendaklah kita ikhlash dalam berda`wah agar orang yang mendengarnya pun menerima dengan ikhlash (yakni : mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala)
  2. Riya atau Ujub dalam menuntut ilmu : Yaitu berbangga dengan ilmu yang dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya atau menuntut ilmu hanya dalam rangka ingin menjadi seorang yang ahli dalam berdebat, bukan mengharapkan wajah Allah atau mencari berkah dari Allah atas ilmu yang dimilikinya. Sehingga ilmu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan tidak mampu membawa dia ke dalam kebahagian di dunia ataupun diakhirat. Padahal rasulullah telah memperingatkan dengan keras bagi para penuntut ilmu dengan ancaman tidak akan mendapatkan bau surga, apabila mempelajari suatu ilmu dalam rangka untuk mencari dunia semata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabada:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا


Barang siapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala ; tetapi dia tidak mempelajari ilmu itu kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat kelak.[5]

  1. Riya atau Ujub ketika bershadaqah, misalnya : Memperlihatkan harta yang telah dishadaqahkan, atau mengungkit-ungkit kembali pemberian yang telah lalu dengan harapan agar disebut sebagai seorang dermawan.

PENAWAR RIYA
Adapun di antara cara-cara mengobati riya adalah sebagi berikut:

  1. Mengetahui seluk beluk riya itu sendiri dan takut terhadapnya. Sebagaimana hal tersebut adalah perkara yang paling ditakutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” إِنَّ أَخْوَفُ مَا أَخَا فُ عَلَيكْمُ الشِّرْكُ اْلأَ صْغَر. قَا لوُا وَمَا الشِّرْكُ اْلأَ صْغَرُ يَا رَسُوْلُ الله ؟ قال : ” الرِّيَاءُ “.يقول الله تعالىيوم القيامة, إذا جازى الناس بأعمالهم : اذهبوا إلى الذين كنتم تراؤون في الدنيا فانظروا هل تجدون جزاء؟”

Sesungguhnya yang paling kutakutkan dari perkara yang aku takutkan atas kalian ialah syirik kecil. Para shahabat bertanya: “Apakah syirik kecil itu wahai rasulullah? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Riya’, Pada hari kiamat , ketika membalas amalan-amalan manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan berfirman: “Pergilah kepada orang yang kamu dahulu sewaktu di dunia berbuat riya’ kepadanya, dan lihatlah apakah kamu dapakan balasan (pahala) darinya? [6]

  1. Memberikan sanjungan atau pujian hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sumber dari segala kebaikan; maka hanya Allahlah yang berhaq mendapatkan pujian:

الحمد لله رب العالمين

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. [Al-Fatihah/1 :2]

  1. Mengingat mati dan sekaratnya, hari akhir dan kedahsyatan adzabnya, kubur dan kerasnya siksa yang diberikan karena dosa-dosa yang diperbuat selama di dunia. Keadaan di kubur yang sunyi, gelap gulita dan sempit, tidak ada ibu dan bapak atau orang-orang yang dicinta di dekatnya.
  2. Melihat akibat riya’, baik di dunia maupun diakhirat.
    Maka perlu diketahui oleh setiap orang bahwa seandainya seluruh manusia berkumpul dalam rangka memberikan manfaat kepada siapapun, maka tiadalah mereka mampu memberikannya kecuali sesuatu itu telah ditentukan oleh Allah Subhanhau wa Ta’ala baginya; Oleh sebab itu sebagian orang-orang salaf mengatakan: “Bersungguh-sungguhlah dalam mencegah timbulnya riya` darimu, anggaplah orang lain bagimu seperti binatang dan anak-anak, janganlah kau bedakan adanya mereka atau tidak adanya, mereka tahu atau tidak tahu, cukuplah Allah Subhanahu wa Ta’ala saja yang mengetahuinya.

Kemudian singkirkan perasaan ingin dipuji ketika (syetan menggoda), dengan do’a-do’a yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti:

أعوذ الله من الشيطان الرجيم

Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk.

Adapun akibat riya di akhirat antara lain ; sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ الهُ بِهِ وَمَنْ رَاءَى رَاءَى الهُ بِهِ

Barang siapa (yang beramal) ingin didengar maka Allah akan memperdengarkannya dan barang siapa (beramal) ingin dilihat maka Allah pun akan memperlihatkannya.[7]

Artinya : Bila seseorang beramal hanya ingin didengar atau dilihat orang lain maka itulah yang akan dia dapatkan, Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Sempurna tidak butuh sekutu-sekutu tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Aku adalah Yang paling tidak butuh sekutu, barangsiapa yang mengamalkan suatu perbuatan, yang di dalamnya dia menyekutukanKu dengan selain Aku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya.[8]

  1. Memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar senantiasa berlaku ikhlas dalam segala amal ibadah dan berlindung dari-Nya dari riya. Seorang mumin atau muminah hendaklah tunduk, berserah diri kepada-Nya, berusaha semaksimal mungkin menghindarkan diri dari riya, sum’ah dan ujub; dan memperbanyak dzikir (mengingat Allah kapan saja di manapun berada) dan berdo`a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana do’a-do’a yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam antara lain :

الشرك فيكم أخفى من دبيب النمل. وسأدلك على شيءٍ إذا فعلته أذهب عنك صغار الشرك وكبيره . تقول: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْ ذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَناَ أَعْلَمُ, وَاسْتَغْفِرُكَ لمِاَ لاَ أَعْلَمُ. 

Kesyirikan yang ada pada kalian lebih tersembunyi merayapnya seekor semut, dan aku akan memberitahukan sesuatu kepadamu apabila hal itu kau kerjakan, maka akan menghilangkan kesyirikan kecil dan besar darimu. Yaitu engkau mengatakan (berdo’a): “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari mensekutukan-Mu sedangkan saya mengetahuinya dan aku berlindung kepada-Mu dari apa-apa yang aku tidak aku tahu.”[9]

Wallahu A’lam.

(Disadur oleh Abdul Wahid dari kitab Al-Ikhlash Wasy Syirkul Ashghar, karya Syeikh Abdul Aziz Ali Abdul Lathif dan tambahan dari sumber lain)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun V/1422H/2001M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Footnote
[1] Majmu’ Al-Fatawa 10/5 dan 20/70
[2] Badai`ul Fawaaid 3/224
[3] Al-Fatawa:10/277
[4] HR.Abu Dawud dan Ahmad
[5] HR.Abu Dawud
[6] HR. Ahmad, At-Thabrani dan Al-Baihaqi
[7] HR. Bukhari & Muslim
[8] HR. Muslim dari Abu Hurairah
[9] Shahih Jami’ ash-Shaghir 3/332


Referensi : https://almanhaj.or.id/10672-pentingnya-keikhlasan-dalam-seluruh-amal-ibadah-2.html

Manfaatkan Setiap Waktu dan Berhentilah Menunda!

Oleh:

Abu Hatim Said Al-Qadhi

Dulu Imam Al-Bukhari Rahimahullahu beranjak tidur, lalu terlintas pada diri beliau suatu ide tentang ilmu. Beliau pun bangun lagi untuk mencatatnya. Lalu beliau kembali tidur. Sering kali beliau melakukan ini belasan kali dalam satu malam, beliau bangun lalu menyalakan pelita dan mencatat, lalu kembali tidur. Beliau tidak menunda penulisan ide yang berharga itu ke hari esok, karena bisa jadi ketika hari esok tiba tanpa mencatatnya, beliau telah melupakannya.

Dulu ada banyak ilmu yang terlintas di kepala Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah, tapi beliau tidak menulisnya dan percaya diri akan mengingatnya nanti lalu menulisnya kelak. Namun, beliau menyadari bahwa itu adalah kerugian yang besar. Beliau pun bertekad untuk mencatat setiap ide yang terlintas dalam pikiran di buku beliau tanpa menunda dan menangguhkannya. Beliau berkata: “Ketika ide-ide yang melintas di pikiran berkeliaran menelusuri berbagai hal yang datang silih berganti lalu berpaling dan menghilang begitu saja, maka hal yang paling utama untuk dilakukan adalah mencatat apa yang terlintas tersebut agar tidak terlupakan. Betapa sering terlintas sesuatu di benakku, namun aku sibuk sehingga tidak sempat mencatatnya lalu ia hilang, dan aku pun menyesalinya. Oleh sebab itu, aku menulis buku ini sebagai pengikat bagi ‘buruan’ pikiran yang terlintas.”

Pintu yang paling berbahaya yang dapat disusupi oleh setan kepada seorang hamba adalah panjang angan-angan, impian-impian kosong yang menjadikan pemiliknya berada dalam kelalaian parah dari akhirat, dan keterbuaian dengan perhiasan kehidupan dunia. Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri Rahimahullah bahwa beliau berkata: “Tidaklah seorang hamba memperpanjang angannya, melainkan ia akan buruk dalam beramal.”

Ada ungkapan yang berbunyi: “Empat perkara yang termasuk kesengsaraan, kejumudan pandangan, kerasnya hati, panjangnya angan, dan ketamakan terhadap dunia.”

Dikatakan juga: “Angan-angan adalah lautan tanpa tepi yang diarungi oleh orang-orang bangkrut dari para pengejar dunia.”

Dalam hadis hasan dengan banyak jalurnya disebutkan bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Kebaikan generasi awal umat ini adalah dengan kezuhudan dan keyakinan, dan kebinasaannya dengan kepelitan dan angan-angan.”

Panjang angan akan melenyapkan waktumu dalam menyibukkan diri dengan hal yang mengandung manfaat dan faedah bagimu. Sedangkan pendek angan akan menjadikanmu bersiap-siap untuk urusanmu yang penting, sehingga engkau tidak diwafatkan dalam keadaan lalai.

Abdul Haq Al-Isybili Rahimahullah berkata: “Panjang angan akan membuat malas dalam beramal, mendatangkan kelesuan dan penundaan, menghasilkan kesibukan dengan hal yang tidak berguna dan kemalasan, dan menarik kepada kenikmatan duniawi dan condong kepada hawa nafsu. Ini merupakan hal yang dapat disaksikan secara nyata, sehingga tidak perlu penjelasan dan tidak perlu dimintai bukti. Adapun pendek angan akan mendorong pemiliknya untuk beramal, membawanya untuk bersegera, dan memantiknya untuk berlomba dalam kebaikan.”

Jangan terlalu tenggelam ke dalam mimpi-mimpi dan mengejar kesempurnaan yang tidak ada wujudnya dalam kenyataan, sehingga engkau menunda apa yang dapat dikerjakan sekarang hanya karena ingin meraih keadaan yang lebih sempurna di hari esok. Mulailah sekarang juga dan kerahkanlah usahamu, niscaya engkau akan mewujudkan mimpi-mimpimu seiring dengan berjalannya waktu. Namun, apabila engkau hanya duduk di tempat dan bersandar dengan apa yang dibawa oleh hari esok, maka engkau tidak akan melangkah satu pun langkah ke depan.

أيها السكرانُ بالآمال قد حان الرحيل

فانتبه من رقدة الغفلة فالعمر قليل

واطرح “سوف” و”حتى” فهما داءٌ دخيل

Wahai orang yang mabuk angan-angan, telah datang waktu untuk beranjak

Maka bangunlah dari lelap kelalaian, karena umur ini terbatas

Buanglah “nanti” dan “sampai”, sebab keduanya adalah penyakit yang merasuki

Berapa kali engkau katakan: “Saya akan bertaubat besok!”? Engkau telah mengatakannya berkali-kali, dan inilah setelah berlalu bertahun-tahun, engkau masih dalam kemaksiatan dan dosa-dosamu. Wahai engkau, sampai kapan kiranya akan berkata “besok”? Dan jika hari esok telah datang, apakah engkau masih hidup atau sudah menjadi ahli kubur? Betapa banyak orang yang mengatakan: “Saya akan bertaubat besok” lalu ia tidur tapi tidak pernah bangun lagi.

يَا مَنْ يَعُدُّ غَدًا لِتَوْبَتِهِ أَعَلَى يَقِينٍ مِنْ بُلُوغِ غَدِ؟ 

Wahai orang yang menanti hari esok untuk bertaubat, Apakah engkau yakin bisa sampai ke hari esok?

الْمَرْءُ فِي زَلَلٍ عَلَى أَمَلٍ وَمَنِيَّةُ الْإِنْسَانِ بِالرَّصَدِ

Orang sering kali tergelincir dalam kesalahan karena buaian angan, Padahal kematian selalu mengintai manusia.

أَيَّامُ عُمْرِكَ كُلُّهَا عَدَدٌ وَلَعَلَّ يَوْمُكَ آخِرَ الْعَدَدِ.

Hari-hari umurmu hanyalah hitungan yang terbatas, Dan mungkin harimu ini adalah akhir dari hitungan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى * يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

“Pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. Dia berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.’” (QS. Al-Fajr: 23-24).

Pada hari kiamat, manusia menyesali umurnya yang telah berlalu. Hari-harinya habis dalam kemaksiatan terhadap Tuhannya, hingga kematian menjemputnya tanpa sempat bertaubat dari dosanya. Ia melenyapkan kehidupan dunianya dengan ucapan: “Saya akan bertaubat besok!”

Tinggalkanlah angan-angan dan berhentilah menunda. Jangan katakan: “Besok saya bertaubat!” tapi bertaubatlah saat ini juga. Jangan biarkan dosa-dosa menumpuk di hatimu, sehingga bebanmu semakin berat dan imanmu semakin lemah. Setiap dosa yang engkau tunda taubatnya akan menjadi beban bagimu.

تُؤَمِّلُ أَنَّكَ يَوْمًا تَتُوبُ وَتَشْكُو الذُّنُوبَ وَأَنْتَ الذَّنُوبُ

Engkau berangan-angan akan bertaubat suatu hari nanti, Engkau mengeluhkan dosa-dosa, padahal engkau sendiri pelakunya.

وَفِي كُلِّ يَوْمٍ تَبُوءُ بِذَنْبٍ وَعَيْبٍ يُضَافُ لِبَاقِي الْعُيُوبِ

Setiap hari engkau kembali menghadirkan dosa baru, Juga aib yang menambah deretan aib-aib lainnya.

تُؤَمِّلُ أَنَّكَ تَحْيَا طَوِيلًا وَشَمْسُكَ مَالَتْ وَحَانَ الْغُرُوبُ.

Engkau berharap dapat hidup dalam waktu lama, Padahal mentari hidupmu telah condong dan beranjak tenggelam.

Mulailah sekarang dan hentikanlah menunda! Langkahkan kakimu di permulaan jalan, niscaya engkau akan menemukan kemudahan dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ada ungkapan yang berbunyi: “Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah!” Engkau harus memulai dengan jujur dan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akan menyempurnakannya. Adapun jika engkau terus menunda dan menangguhkan, waktumu akan lenyap dan umurmu akan habis sedangkan engkau masih di tempatmu. Jangan katakan besok saya akan bertaubat, besok akan bersedekah, karena jika waktu telah berlalu, ia tidak akan kembali.

“Esok saya akan bertaubat! Esok saya akan mendirikan salat malam! Kelak saya akan menghafal Al-Qur’an! Kelak saya akan menjaga salat!” Berapa kali engkau telah mengulang-ulang kalimat ini, tapi akhirnya engkau tetap tidak melakukan apa pun, hari demi hari bahkan tahun demi tahun engkau masih saja mengulang-ulang kalimat yang sama?!

Ibnu Al-Mu’taz berkata:

جَدَّ الزَّمَانُ وَأَنْتَ تَلْعَبُ الْعُمْرُ فِي لَا شَيْءٍ يَذْهَبُ

Waktu berlalu dengan pasti, sementara engkau masih main-main saja, Umur akan habis juga meski dipakai untuk kesia-siaan.

 كَمْ قَدْ تَقُولُ غَدًا أَتُوبُ غَدًا غَدًا وَالْمَوْتُ أَقْرَبُ

Betapa sering engkau katakan: Aku akan bertaubat, Esok dan esok, padahal kematian itu lebih dekat.

Ada juga ungkapan: “Teriakan penghuni neraka yang paling banyak adalah karena menunda-nunda!”

Bayangkanlah seandainya dikatakan kepadamu: “Besok engkau akan mati!” Apa yang akan engkau perbuat? Apakah engkau akan bertaubat dari dosa-dosamu hari ini? Apakah engkau sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhanmu? Apakah engkau meningkatkan salat dan puasamu?

Abdurrahman bin Mahdi Rahimahullah berkata: “Seandainya dikatakan kepada Hamad bin Salamah bahwa engkau akan mati besok, niscaya beliau tidak akan menambah amalan apapun. Adz-Dzahabi Rahimahullah menjelaskan: ‘Sebab dulu waktunya sudah penuh dengan ibadah dan membaca wirid.’”

Diriwayatkan dari Abu Uwanah Rahimahullah, ia berkata: “Seandainya dikatakan kepada Manshur bin Zadzan: engkau akan mati besok! Niscaya beliau sudah tidak dapat menambah ibadah lagi.”

Tidak ada orang yang dapat menjamin dirinya masih hidup besok. Bisa jadi hari esok datang kepadamu, sedangkan engkau sudah menjadi penghuni kubur. Bagaimana kondisimu jika kematian menghampirimu, sedangkan engkau membuang-buang umurmu dalam angan-angan dan mimpi-mimpi kosong, sehingga engkau menghadap Tuhanmu dengan penuh beban dosa dan kemaksiatan?

Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri Rahimahullah, ia berkata: “Janganlah sekali-kali engkau menunda-nunda, karena eksistensimu adalah dengan harimu ini, bukan dengan hari esok. Apabila engkau masih hidup di hari esok, maka jadikanlah hari esok itu seperti engkau hari ini. Dan apabila engkau sudah tidak punya esok lagi, maka engkau tidak akan menyesal atas kelalaian yang kamu lakukan hari ini.”

Ada ungkapan yang berbunyi: “Menunda-nunda adalah modal bagi orang-orang bangkrut.”

Menunda-nunda pada hakikatnya adalah angan-angan dan mimpi-mimpi tak berharga, kecuali jika selalu diiringi dengan tekad, keuletan, keseriusan, dan kesungguhan. Ia adalah sifat yang menjadi musuh bagi orang yang ingin kebaikan dan peningkatan. Ia merupakan senjata yang dipakai setan untuk mengalihkan manusia dari kebaikan, dan menetapkan mereka dalam kemalasan dan kegagalan.

Al-Ghazali Rahimahullah berkata: “Perumpamaan orang yang suka menunda tidak lain adalah seperti orang yang harus mencabut suatu pohon. Ia menganggap pohon itu sangat kokoh, tidak dapat dicabut kecuali dengan usaha keras. Ia lalu bergumam: ‘Aku akan menundanya hingga tahun depan, saya akan kembali ke sini kelak.’ Padahal ia mengetahui bahwa pohon itu semakin lama akan semakin kokoh, sedangkan dirinya semakin tua akan semakin lemah, sehingga tidak ada orang di dunia ini yang lebih bodoh daripada dirinya, karena ia merasa tidak mampu meskipun sebenarnya punya kekuatan untuk melawan pihak yang lemah, lalu ia menunggu datangnya kemenangan saat dirinya telah lemah dan pihak yang lemah telah menjadi kuat.”

Hal terburuk dalam sifat menunda-nunda dan menangguhkan adalah sikap yang menjadikan itu sebagai kebiasaan. Padahal kebiasaan buruk hanya akan menambah kesulitan dan masalah, serta menjadikan urusan semakin pelik. Seorang penulis Amerika, Olin Miller berkata: “Apabila engkau ingin menjadikan urusan mudah terlihat susah, maka cukup tunda saja urusan itu beberapa waktu.”

Ingatlah, umurmu akan hilang begitu saja apabila engkau menyerah kepada penyakit kronis ini, yaitu penyakit menunda-nunda. Engkau tidak akan maju meski hanya selangkah ke depan, kecuali dengan memotong tali penundaan ini, dan mulai mengejar tujuan dan mimpi-mimpimu saat ini juga.

Mulailah mengatur ulang prioritas dan jadwal hidupmu. Buatlah setiap tugas punya waktu mulai dan selesainya. Jangan biarkan tugas-tugasmu dengan waktu yang bebas, karena mengetahui bahwa tugas itu punya waktu terbatas dapat menjadi penyemangat yang kuat untuk menyelesaikannya secepat mungkin.

Tetapkanlah tujuanmu, melangkahlah kepadanya dengan penuh tekad dan keuletan, serta berhentilah menunda-nunda, karena itu akan melenyapkan mimpi-mimpi dan tujuanmu. Evaluasi dirimu setiap harimu berakhir, dan coba cari sebab kelalaian dan kekurangannya, serta belajarlah dari kesalahan-kesalahanmu hari ini supaya hari esokmu lebih cerah.

Terkadang menunda adalah sikap yang benar jika ada tujuannya sendiri, terkadang itu benar jika punya hasil yang positif, terkadang itu benar jika tidak menjadi penghalang dalam menyelesaikan tugas dan mengambil keputusan dalam waktu terbatas. Terkadang itu benar dalam beberapa kondisi, tapi sering sekali menunda itu sikap yang salah dan menimbulkan kerugian.

Dalam Diwan Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah disebutkan:

تَزَوَّدْ مِنَ التَّقْوَى فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي إِذَا جُنَّ لَيْلٌ هَلْ تَعِيشُ إِلَى الْفَجْرِ 

Berbekallah dengan takwa karena engkau tidak tahu, Apabila malam telah gulita apakah engkau masih hidup hingga fajar.

فَكَمْ مِنْ سَلِيمٍ مَاتَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ وَكَمْ مِنْ سَقِيمٍ عَاشَ حِينًا مِنَ الدَّهْرِ 

Betapa banyak orang sehat yang wafat tanpa sebab penyakit, Dan betapa banyak orang sakit yang tetap hidup beberapa waktu lamanya.

وَكَمْ مِنْ عَرُوسٍ زَيَّنُوهَا لِزَوْجِهَا وَقَدْ نُسِجَتْ أَكْفَانُهَا وَهِيَ لَا تَدْرِي

Betapa banyak pengantin yang dirias untuk suaminya, Padahal kain kafannya sedang ditenun tanpa ia menyadarinya.

Sumber:

https://www.alukah.net/sharia/0/137551/اغتنم-اللحظة-واقطع-حبال-التسويف

Noda di Hati yang Membandel

Banyak orang yang sangat memperhatikan penampilan lahiriah. Ketika baju terkena sedikit noda, akan segera dicuci dan tidak rela membiarkan noda tadi membandel. Sejatinya perilaku seperti ini tidaklah mengapa. Sebab Islam memang menyukai penampilan yang indah dan mencintai kebersihan. Dalam sebuah hadits sahih disebutkan,

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

Sesungguhnya Allah Maha indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim dari Ibnu Mas’ûd radhiyallahu ’anhu)

Namun, amat disayangkan, kerap perhatian kita terhadap kebersihan luar tidak sebanding dengan perhatian kita terhadap kebersihan dalam. Alias kita lebih memperhatikan penampilan lahiriah dibanding penampilan batin. Padahal dampak buruk kotornya hati, jauh lebih berbahaya dibanding dampak kotornya baju. Sebab akan terasa hingga di akhirat.

Perlu diketahui, bahwa sebagaimana noda di atas baju jika dibiarkan akan membandel. Begitu pula halnya saat noda dalam hati tidak segera dibersihkan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menjelaskan,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}

Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristighfar dan bertaubat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa; niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi)

Bukanlah aib manakala seorang hamba terjerumus kepada perbuatan dosa, sebab tidak mungkin manusia biasa suci dari dosa. Namun aib itu bilamana setelah terjerumus kepada perbuatan dosa, seorang insan tidak segera memperbaikinya, malah justru ia semakin tenggelam dalam kubangan dosa. Nabiyullah shallallahu ’alaihi wasallam menasehatkan,

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُ كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

Bertakwalah kepada Allah kapanpun dan di manapun engkau berada. Serta iringilah perbuatan buruk dengan kebajikan supaya ia bisa menghapuskannya.” (HR. Tirmidzy dari Abu Dzar radhiyallahu ’anhu. Hadits ini dinyatakan sahih oleh Al-Hakim)

Mari kita berusaha untuk terus menerus menjaga kebersihan hati kita. Tidak hanya sekedar memperhatikan kebersihan pakaian luar kita!

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِى تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا

Ya Allah, karuniakan ketakwaan pada jiwaku. Sucikanlah ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya.” (HR. Muslim dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ’anhu)

@Pesantren “Tunas Ilmu”, Kedungwuluh, Purbalingga, Kamis, 22 Shafar 1435/ 26 Desember 2013

Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA.

sumber: https://muslim.or.id/19817-noda-di-hati-yang-membandel.html

Sungguh Tuhanmu Maha Luas Ampunan-Nya

Oleh:

Abu Hatim Said al-Qadhi

Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Luas ampunan-Nya, Dia mengampuni para hamba-Nya atas segala dosa dan sebesar apa pun dosanya apabila mereka memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Beritahukanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hijr: 49).

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53).

Perhatikan seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya: “Wahai hamba-hamba-Ku” suatu seruan lembut dan penuh kasih sayang. Kemudian Dia berfirman: “yang melampaui batas terhadap diri mereka” ini untuk menunjukkan kepadamu bahwa sebanyak apa pun dosa-dosa seorang hamba, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap akan mengampuninya. Kemudian Allah menegaskannya dengan firman-Nya: “Janganlah kalian berputus asa” dan juga dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa semuanya.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 70).

Dan kata “كَانَ” dalam ayat ini bukan kata yang menunjukkan makna masa lampau saja, tetapi di masa lampau dan seterusnya. Dia selalu dan terus menjadi Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ

“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya.” (QS. An-Najm: 32).

Ampunan-Nya mampu meliputi seluruh hamba-Nya apabila mereka bertaubat, dan dapat mencakup seluruh dosa sebesar apa pun itu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَمَا يَذْكُرُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ هُوَ أَهْلُ التَّقْوَى وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ

“Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran kecuali jika Allah menghendaki. Dialah yang berhak ditakuti (ditaati) dan berhak memberi ampunan.” (QS. Al-Muddassir: 56).

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Setan menjanjikan kalian kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan kalian ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268).

Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan sesuatu kepadamu, maka yakinlah bahwa janji-Nya pasti benar dan Dia tidak akan mengingkari janji.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar memiliki ampunan bagi manusia atas kezaliman mereka, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksa-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 6).

Meskipun dosa-dosa mereka banyak, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap mengampuni dosa-dosa mereka dan menghapus keburukan-keburukan mereka apabila mereka memohon ampun dan insaf.

Seorang ulama mengatakan bahwa nama Allah Al-Ghafur (Maha Pengampun) dan semua turunan katanya dan sifat ampunan-Nya disebutkan sebanyak lebih dari seratus lima puluh kali dalam Al-Qur’an.

Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَأَزِيدُ، وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَجَزَاؤُهُ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا أَوْ أَغْفِرُ، وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا، وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا، وَمَنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً، وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيئَةً لَا يُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَقِيتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً

“Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Barang siapa datang dengan satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipatnya dan Aku tambah lagi. Dan barang siapa datang dengan satu keburukan, maka balasannya satu keburukan yang semisalnya atau Aku ampuni. Barang siapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Barang siapa mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Barang siapa datang kepada-Ku berjalan, Aku datang kepadanya berlari. Dan barang siapa menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi, tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. Muslim no. 2687).

Bayangkanlah seandainya engkau berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan membawa dosa-dosa sepenuh, seberat, seluas, dan seukuran bumi. Hanya saja engkau tidak boleh menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar Dia mengampuni dosa-dosamu seluruhnya jika memang engkau menghendaki ampunan-Nya.

يَا رَبِّ إِنْ عَظُمَتْ ذُنُوبِي كَثْرَةً فَلَقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ عَفْوَكَ أَعْظَمُ

Wahai Tuhanku, apabila dosa-dosaku begitu besar dan banyak, Sungguh aku tahu ampunan-Mu jauh lebih besar.

إِنْ كَانَ لَا يَرْجُوكَ إِلَّا مُحْسِنٌ فَمَنِ الَّذِي يَدْعُو وَيَرْجُو الْمُجْرِمُ

Jika tidak ada yang berharap kepada-Mu kecuali orang baik, Lalu kepada siapa pelaku dosa akan berdoa dan berharap?

أَدْعُوكَ رَبِّ كَمَا أَمَرْتَ تَضَرُّعًا فَإِذَا رَدَدْتَ يَدِي فَمَنْ ذَا يَرْحَمُ

Wahai Tuhanku, aku berdoa kepada Engkau penuh ketundukan seperti yang Engkau perintahkan, Maka jika Engkau menolak tanganku, siapa lagi yang akan mengasihi?

مَا لِي إِلَيْكَ وَسِيلَةٌ إِلَّا الرَّجَا وَجَمِيلُ عَفْوِكَ ثُمَّ أَنِّي مُسْلِمٌ

Tidak ada perantara bagiku menuju Engkau kecuali rasa harap, Juga keindahan ampunan-Mu serta aku sebagai seorang Muslim.

Seorang hamba tidak boleh mengucapkan: “Ampunilah aku jika Engkau menghendaki.” Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ، اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ، لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ، فَإِنَّهُ لَا مُكْرِهَ لَهُ

“Janganlah salah seorang di antara kalian berkata: ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau; Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau mau.’ Hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam memohon, karena tidak ada yang dapat memaksa-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 6339 dan Muslim no. 2679).

Allah Ta’ala mendorong Nabi-Nya untuk beristighfar

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan Nabi-Nya Shalallahu Alaihi Wassalam untuk beristighfar yang Dia sampaikan dalam lebih dari satu ayat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 106).

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

“Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampun untuk dosamu, serta bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.” (QS. Ghafir: 55).

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan mohonlah ampun untuk dosamu serta untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19).

Seorang ulama mengatakan: “Pujian (kepada Allah) yang paling mendalam adalah dengan engkau mengatakan: La ilaha illallah, dan doa yang paling mendalam adalah dengan engkau mengatakan: Astaghfirullah.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 1-3).

Saya bertanya kepada engkau, wahai saudaraku! Menurutmu apa dosa yang telah dilakukan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam sehingga beliau memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Dan jikalau Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam telah melakukan dosa, bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengampuni dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang? Sesungguhnya ini merupakan risalah bagimu agar memperbanyak istigfar, meskipun engkau tidak mengetahui dosa apa yang telah engkau perbuat.

Perintah Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya agar segera beristighfar

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ

“Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian.” (QS. Ali Imran: 133). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ

“Berlomba-lombalah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian.” (QS. Al-Hadid: 21). 

Perhatikanlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hanya sekedar memerintahkan untuk beristigfar, tetapi mengajak untuk bersegera dan bergegas beristigfar, maka bersegera dan bergegaslah, wahai Muslim! Jangan menunda dan menangguhkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ

“Dan Allah mengajak (manusia) menuju surga dan ampunan dengan izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 221).

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzzammil: 20).

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa. Maka tetaplah kalian di jalan yang lurus menuju-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan celakalah bagi orang-orang musyrik.” (QS. Fussilat: 6).

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 74).

Perhatikanlah dengan seksama firman Tuhanmu ini, lalu katakanlah: “Kami mendengar dan kami akan menaati.” Hendaklah hati dan lisanmu senantiasa beristigfar memohon ampun kepada Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Jangan pernah bosan atau putus harapan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru para hamba-Nya: “Apakah ada orang yang memohon ampun?”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

إِذَا مَضَى شَطْرُ اللَّيْلِ – أَوْ ثُلُثَاهُ – يَنْزِلُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: هَلْ مِنْ سَائِلٍ يُعْطَى؟ هَلْ مِنْ دَاعٍ يُسْتَجَابُ لَهُ؟ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ يُغْفَرُ لَهُ؟ حَتَّى يَنْفَجِرَ الصُّبْحُ

“Apabila telah berlalu separuh malam – atau dua pertiganya – maka Allah Tabaraka wa Ta’ala akan turun ke langit dunia, lalu berfirman: ‘Adakah orang yang meminta untuk Kuberi? Adakah orang yang berdoa untuk Kukabulkan? Adakah orang yang memohon ampun untuk Kuampuni?’ dan terus seperti itu hingga waktu fajar.” (HR. Muslim no. 758).

Maha Suci Engkau, wahai Tuhanku! Betapa agung, mulia, dan pengasihnya Engkau! Maha Kaya terhadap makhluk-Nya, Maha Esa dalam kerajaan-Nya, tidak mendatangkan mudharat bagi-Nya kekafiran orang-orang yang ingkar, tidak mendatangkan manfaat bagi-Nya keimanan orang-orang yang bersyukur. Namun, meskipun begitu Dia menyeru para hamba-Nya setiap malam: Apakah ada yang memohon ampun? Apakah ada yang bertaubat? Dia membuka bagi mereka keluasan rahmat-Nya, mengajak mereka untuk bertaubat dan memohon ampun.

وَلَمَّا قَسَا قَلْبِي وَضَاقَتْ مَذَاهِبِي جَعَلْتُ الرَّجَا مِنِّي لِعَفْوِكَ سُلَّمًا

Ketika hatiku telah keras dan usaha-usahaku seakan tak berarti lagi, Aku jadikan harapanku kepada ampunan-Mu sebagai tangga.

تَعَاظَمَنِي ذَنْبِي فَلَمَّا قَرَنْتُهُ بِعَفْوِكَ رَبِّي كَانَ عَفْوُكَ أَعْظَمَا

Dosaku terasa begitu besar bagiku, tetapi ketika aku bandingka, Dengan ampunan-Mu, wahai Tuhanku, ternyata ampunan-Mu jauh lebih besar.

Sumber:

https://www.alukah.net/sharia/11875/125313/إن-ربك-واسع-المغفرة

Definisi Makna Sejati Sabar Dalam Islam

Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Afwan izin bertanya bagaimana ustadz saat kita terima gangguan dari orang lain kita memperlihatkan kalau kita bisa sabar atas gangguan itu tapi di dalam hati kita mencaci orang tersebut apa masih dikatakan sabar?

جزاك اللهُ خيراً

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Para ulama berbeda-beda dalam mendefinisikan kata ‘sabar’. Meskipun berbeda-beda istilahnya akan tetapi maknanya sama. Yaitu menahan diri dari melakukan atau mengucapkan hal yang dilarang oleh syariat.

Berdasarkan hal ini, maka ketika kita bisa menahan diri dari mengucapkan sesuatu yang buruk atau melakukan sesuatu yang tercela, maka kita termasuk dalam definisi sabar, meskipun hati kita masih marah.
Allah berfirman :

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imran : 134)

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Orang kuat itu bukanlah orang yang jago bergulat. Akan tetapi orang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah” (Muttafaq ‘Alaih: Hadits Shahih Al-Bukhari no. 6114 & Muslim no. 2609)

ومن كظم غيظاً ، ولو شاء أن يمضيه أمضاه ، ملأ الله قلبه رضاً يوم القيامة

“Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhoan di hari Qiyamat.” (HR. Thabrani)

Akantetapi yang lebih utama adalah memafkannya.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh: 
Ustadz Achmad Nur Hanafi, Lc. حافظه الله

sumber : https://bimbinganislam.com/definisi-makna-sejati-sabar-dalam-islam/

Yang Terluput dari Doa Orang yang Terzalimi

Ketika anda merasa disakiti oleh seseorang, baik secara fisik maupun verbal, apa yang ada di benak anda? Apakah anda ingin langsung membalas dengan pukulan seimbang bahkan lebih sakit? Atau anda diam dan bersabar bahwa peristiwa itu adalah hanya ujian kehidupan untuk anda?

Saudaraku, perhatikanlah, bahwa menyakiti orang lain adalah kezaliman dan orang yang melakukannya disebut zalim. Sedangkan orang yang menjadi objek kezaliman itu adalah mazlum.

Lantas, sebagai seorang yang mazlum, apa yang sebaiknya anda lakukan sebagai seorang mukmin? Bukankah doa orang yang terzalimi itu maqbul?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ: دَعْوَةُ الصَّائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

“Tiga doa mustajab, yaitu: doa orang yang sedang berpuasa, doa orang yang terzalimi, dan doa musafir.” (HR. At-Thabrani (1313), Baihaqi (648), dan Asy-Syajari (1014), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Kekhawatiran terhadap kezaliman

Pada dasarnya, fitrah manusia tidak ingin disakiti, ingin hidup aman dan tenteram tanpa gangguan siapa pun. Namun, pada kenyataannya, di luar daripada kendali diri, ada saja yang menyinggung atau menyakiti hati, bahkan fisiknya dengan berbagai motif hingga berujung pada kegelisahan, kesengsaraan, hingga hilangnya nyawa.

Namun, sebagai seorang mukmin, kita wajib meyakini bahwa selama iman dan takwa terpatri di hati kita yang kemudian dibenarkan oleh keistikamahan kita dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, yakinlah bahwa Allah Ta’ala senantiasa akan melindungi kita dari segala marabahaya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضࣲ لَّفَسَدَتِ ٱلۡأَرۡضُ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡعَـٰلَمِینَ

“Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam.” (QS. Al-Baqarah: 251)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kekhawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573)

Oleh karenanya, memahami kebesaran rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala yang diberikan kepada kita, sudah sepatutnya kita tidak mengkhawatirkan segala hal yang buruk yang datang dari makhluk selama kita tetap berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Aturan syariat terhadap perbuatan zalim

Sesungguhnya, ketentuan syariat secara paripurna telah menegaskan bagaimana keadilan dan kebijaksanaan Allah Ta’ala dalam mengatur berbagai persoalan kehidupan umat manusia. Termasuk dalam urusan pidana maupun urusan keperdataan di mana di dalamnya diatur bagaimana hukum yang seharusnya diterapkan kepada para pelaku kezaliman.

Allah Ta’ala berfirman,

وَكَتَبۡنَا عَلَیۡهِمۡ فِیهَاۤ أَنَّ ٱلنَّفۡسَ بِٱلنَّفۡسِ وَٱلۡعَیۡنَ بِٱلۡعَیۡنِ وَٱلۡأَنفَ بِٱلۡأَنفِ وَٱلۡأُذُنَ بِٱلۡأُذُنِ وَٱلسِّنَّ بِٱلسِّنِّ وَٱلۡجُرُوحَ قِصَاصࣱۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِۦ فَهُوَ كَفَّارَةࣱ لَّهُۥۚ وَمَن لَّمۡ یَحۡكُم بِمَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ

“Kami telah menetapkan bagi mereka di dalamnya (Taurat) bahwa nyawa (dibalas) dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qiṣāṣ-nya (balasan yang sama). Barangsiapa melepaskan (hak qiṣāṣ)nya, maka itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim”. (QS. Al-Ma’idah: 45)

Oleh karenanya, tidak terlarang bagi kita yang terzalimi untuk mengambil hak (balasan) qisas terhadap suatu perbuatan zalim yang menimpa diri kita sesuai dengan ketentuan syariat yang telah digariskan. Tapi, satu hal yang perlu diingat, bahwa apabila kita merelakan dan memaafkan perbuatan zalim tersebut, maka kita akan memperoleh keuntungan berupa penghapusan dosa-dosa kita.

Hak seorang mazlum

Hal yang sering kita dengar terkait dengan sikap terhadap suatu kezaliman adalah bahwa doa orang terzalimi itu maqbul sebagaimana makna hadis yang telah disebutkan di atas. Dan yang sering teringat juga bahwa sebagian orang yang terzalimi mendoakan hal yang buruk menimpa orang yang menzaliminya.

Saudaraku, sekilas terlihat memang tidak ada yang salah dalam hal ini. Mendoakan keburukan bagi orang yang menzalimi adalah hak seorang mazlum. Bahkan, meskipun orang mazlum tersebut adalah kafir. Sebagaimana hadis Rasulullah yang disebutkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ، قَالَ: أَخْبَرَنِي يَحْيَى بْنُ أيُّوبَ، قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْأَسَدِيُّ قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، وَإِنْ كَانَ كَافِرًا، فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ

Yahya bin Ishaq mengabarkan kepadaku (Imam Ahmad). Ia berkata, ‘Yahya bin Ayyub mengabarkan kepadaku.’ Ia berkata, ‘Abu Abdillah Al-Asadi berkata, ‘Aku mendengar Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Hati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, meskipun ia orang kafir. Sesungguhnya tak ada penghalang baginya.’” (Musnad Ahmad, no. 12549)

Hal yang sering luput dari doa seorang mazlum

Sekali lagi, berdoa adalah hak seorang hamba, terlebih seorang mazlum yang jelas-jelas mengalami kezaliman dari seorang zalim. Berdoa apa pun yang ia ingin ucapkan, bahkan memohon agar Allah Ta’ala membalas perbuatan zalim kepada orang yang melakukan kezailman tersebut.

Namun, bukankah tanpa mendoakan keburukan terhadap seorang zalim tersebut, Allah Ta’ala tetap memberikan balasan?

Ingatlah firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Maka, barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Oleh karenanya, hendaklah kita memanfaatkan momen maqbul-nya doa saat terzalimi tersebut dengan memohon karunia dan inayah dari Allah Ta’ala agar diberikan keistikamahan dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Meminta kebahagiaan dunia dan akhirat berupa jodoh, keturunan yang banyak, rezeki yang melimpah, umur yang panjang, keistikamahan dalam keimanan dan ketakwaan, dan kasih sayang Allah di dunia dan akhirat-Nya agar kelak menjadi ahli surga yang didamba-dambakan seluruh makhluk di seluruh tempat dan seluruh zaman.

Hal inilah yang sering luput dari doa seorang mazlum. Mereka hanya cenderung mendoakan balasan setimpal kepada orang yang menzalimi. Padahal, sudah pasti, dengan kemahaadilan Allah Ta’ala, pastilah suatu kezaliman akan dibalas dengan kezaliman.

Allah Ta’ala berfirman,

وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal.” (QS. As-Syura: 40)

Ingatlah bahwa doa yang maqbul adalah bagian dari kasih sayang Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang sedang ditimpa ujian kesabaran. Karena dengannya, Allah menghapus dosa-dosanya dan mengabulkan doa-doanya. Maka, berdoalah untuk kebaikan dunia dan akhiratmu saat engkau dizalimi.

Wallahu a’lam.

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Sumber: https://muslim.or.id/87653-doa-orang-yang-terzalimi.html

Nasehat Agar Menjaga Shalat 

Ditulis Oleh: Syaikh Prof. Dr. Ashim Al Qaryuti hafizhahullah 

Diterjemahkan oleh: Ustadz Amrullah Akadhinta, S.T.

Wasiat terbesarku teruntuk: Keluargaku, saudara-saudaraku, saudari-saudariku, dan orang-orang yang aku cintai karena Allah.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Jadikanlah shalat, setiap hari dan di setiap waktu, sebagai perhatian terbesar kalian, tujuan utama kalian, dan di atas segala sesuatu. Jika kalian melakukan itu, niscaya kalian akan diberi taufik dan kebahagiaan dengan izin Allah.

Sesungguhnya menjaga shalat pada waktunya adalah tanda terbesar iman yang tulus. Itu juga timbangan yang teliti untuk mengukur ketulusan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Allah Ta’ala berfirman:

 إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتۡ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ كِتَـٰبࣰا مَّوۡقُوتࣰا 

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang beriman.” (QS An-Nisāʾ: 103)

Artinya: diwajibkan pada waktu-waktu tertentu, tidak boleh diremehkan.

Nabi ﷺ bersabda:

أحبُّ الأعمال إلى الله الصلاة على وقتها

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah shalat pada waktunya.” (Muttafaq ‘alaih)

Maka jagalah shalat tersebut, dan jangan sampai kalian dikalahkan oleh setan dengan tidur atau begadang berlebihan hingga meninggalkan shalat Subuh. Cukuplah sebagai keutamaan bahwa siapa yang menunaikan shalat Subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah.

Beliau ﷺ juga bersabda:

“مَن صَلَّى الصُّبحَ فهو في ذِمَّةِ اللهِ، فلا يَطلُبَنَّكُمُ اللهُ مِن ذِمَّتِه بشَيءٍ، فيُدرِكَه، فيَكُبَّه في نارِ جَهَنَّمَ

“Barang siapa yang melaksanakan shalat Subuh, maka ia berada dalam perlindungan Allah. Maka jangan sekali-kali Allah menuntut kalian terkait perlindungan-Nya itu sedikit pun; jika Dia menuntutnya, niscaya Dia akan mendapatkannya lalu melemparkannya ke dalam neraka Jahannam.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, termasuk tanda keimanan yang paling sempurna adalah menjaga shalat-shalat wajib. Allah ‘Azza wa Jalla telah menjadikan bagi orang yang menjaga shalat-shalat ini keutamaan yang besar.

Dalam hadis ini, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa siapa yang melaksanakan shalat Subuh, maka ia berada dalam “dzimmah (jaminan/perlindungan) Allah”, yaitu dalam keamanan dan tanggungan-Nya. Shalat Subuh dikhususkan di antara shalat-shalat lainnya karena adanya kesulitan untuk menunaikannya, dan tidak ada yang konsisten menjaganya kecuali orang yang benar-benar tulus imannya. Oleh karena itu, ia berhak mendapatkan keamanan serta berada dalam jaminan dan perlindungan Allah Ta‘ala.

Kemudian beliau ﷺ bersabda:

“Jangan sampai Allah menuntut kalian atas jaminan-Nya dengan sesuatu, lalu Dia mendapatkannya, kemudian Dia menjerumuskannya ke dalam neraka Jahannam.”

Larangan di sini berkaitan dengan hal-hal yang menyebabkan adanya tuntutan karena melanggar perjanjian dan merusak jaminan dari Allah ‘Azza wa Jalla. 

Ucapan Nabi ﷺ ini mengandung dua kemungkinan makna:

Makna pertama, barangsiapa yang menunaikan shalat Subuh, maka ia telah memperoleh jaminan keamanan dari Allah. Maka tidak pantas bagi siapa pun untuk menyakitinya atau menzaliminya. Siapa yang menzalimi atau menyakitinya, maka Allah akan menuntutnya karena telah melanggar jaminan tersebut.

Makna kedua, janganlah kalian meninggalkan shalat Subuh, karena dengan itu perjanjian antara kalian dan Rabb kalian menjadi rusak, sehingga Allah akan menuntut kalian karenanya. Barang siapa melakukan itu, maka Allah akan mendapatkannya dan menjerumuskannya ke dalam neraka Jahannam.

Di antara pelajaran dari hadits ini:

Pertama, motivasi yang kuat untuk menunaikan shalat Subuh.

Kedua, penjelasan tentang besarnya keutamaan dan luasnya rahmat Allah terhadap umat ini, karena Dia menjadikan shalat Subuh memiliki keutamaan yang agung.

Ketiga, penjelasan bahwa Allah akan membalas orang yang menyakiti hamba-hamba-Nya yang shaleh.

Keempat, penegasan bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah, baik di bumi maupun di langit, dan tidak ada seorang pun yang bisa luput dari-Nya jika Dia hendak memberikan balasan.

Penutup

Benarlah orang yang berkata: “Sesungguhnya bagi orang-orang yang menjaga shalat Subuh ada ghanimah (keuntungan besar) yang tidak akan didapatkan oleh orang yang tidur.”

Maka saling tolong-menolonglah kalian dalam menunaikan shalat pada waktunya. Itu adalah perdagangan yang menguntungkan dan tidak akan merugi. Jadilah teladan bagi anak-anak lelaki dan perempuan kalian dengan menjaga shalat tepat pada waktunya.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى﴾

“Dan perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat, dan bersabarlah dalam menjaganya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Thaha: 132)

Semoga Allah menolong kita semua untuk menunaikan shalat Subuh pada waktunya dan berjamaah, bagi para pemuda dan keturunan kita, serta menjaga waktunya pada seluruh shalat. Akhir ucapan nabi Muhammad ﷺ adalah:

الصلاةَ الصلاةَ ! اتقوا اللهَ فيما ملكت أيمانُكم

“Shalat, shalat! Bertakwalah kepada Allah dalam urusan hamba sahaya yang kalian miliki.” (HR Abu Daud)

Wallahu a’lam,
Semoga Allah memberikan kepada kita semua husnul khatimah.

Ditulis oleh ustadz: Amrullah Akadhinta, S.T.

sumber: https://bimbinganislam.com/nasehat-agar-menjaga-shalat/