Mengucapkan Salam pada Rumah Kosong

Apakah mesti mengucapkan salam saat memasuki rumah kosong atau memasuki rumah yang tanpa penghuni? Bagaimana bentuk salamnya jika ada?

Kita diperintahkan mengucapkan salam pada rumah yang akan kita masuki sebagaimana disebutkan dalam ayat,

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً

Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (QS. An Nur: 61).

Sedangkan mengucapkan salam pada rumah yang tidak berpenghuni atau tidak ada seorang pun di rumah tersebut tidaklah wajib, namun hanya disunnahkan saja.

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

إذا دخل البيت غير المسكون، فليقل: السلام علينا، وعلى عباد الله الصالحين

Jika seseorang masuk rumah yang tidak didiami, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin (salam bagi diri kami dan salam bagi hamba Allah yang sholeh)” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod 806/ 1055. Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Al Fath, 11: 17).

Hal di atas diucapkan ketika rumah kosong. Namun jika ada keluarga atau pembantu di dalamnya, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alaikum”. Namun jika memasuki masjid, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin”. Sedangkan Ibnu ‘Umar menganggap salam yang terakhir ini diucapkan ketika memasuki rumah kosong.

Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab Al Adzkar berkata, “Disunnahkan bila seseorang memasuki rumah sendiri untuk mengucapkan salam meskipun tidak ada penghuninya. Yaitu ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin”. Begitu pula ketika memasuki masjid, rumah orang lain yang kosong, disunnahkan pula mengucapkan salam yang salam “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin. Assalamu ‘alaikum ahlal bait wa rahmatullah wa barakatuh”. (Al Adzkar, hal. 468-469).

Maksud kalimat “Assalamu ‘alainaa” menunjukkan seharusnya do’a dimulai untuk diri sendiri dulu baru orang lain. Sedangkan kalimat “wa ‘ala ‘ibadillahish sholihiin”, yaitu salam pada hamba yang sholeh, maksud sholeh adalah orang yang menjalani kewajiban, hak Allah dan juga hak hamba. (Syarh Shahih Al Adabil Mufrod, 3: 186).

Hanya Allah yang memberi hidayah.

Referensi:

Al Adzkar An Nawawiyah, Abu Zakariya, Yahya bin Syarf An Nawawi Ad Dimasyqi, terbitan Dar Ibnu Khuzaimah, cetakan pertama, tahun 1422 H.

Rosysyul Barod Syarh Al Adabil Mufrod, Dr. Muhammad Luqman As Salafi, terbitan Darud Da’i, cetakan pertama, tahun 1326 H.

Syarh Shahih Al Adabil Mufrod, Husain bin ‘Audah Al ‘Uwaisyah, terbitan Al Maktabah Al Islamiyyah, cetakan kedua, tahun 1425 H.

Diselesaikan selepas Shubuh, 21 Rabi’ul Awwal 1435 H di Warak, Girisekar, Panggang, GK

Oleh -akhukum fillah- Muhammad Abduh Tuasikal

sumber : https://rumaysho.com/6018-mengucapkan-salam-pada-rumah-kosong.html

Jangan Biarkan Kapal Kita Tenggelam!

Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:  

*”مَثَلُ القَائِمِ فِي حُدُودِ اللَّهِ وَالوَاقِعِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَصَارَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، وَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا. فَإِنْ تَرَكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا.”* 

“Perumpamaan orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan orang yang melanggarnya, seperti sekelompok orang yang mengundi untuk menaiki sebuah kapal. Sebagian mereka berada di bagian atas, dan sebagian di bagian bawah. Orang-orang yang di bawah, jika ingin mengambil air, mereka harus melewati orang-orang di atas mereka. Maka mereka berkata: ‘Seandainya kita melubangi bagian kita sendiri, kita tidak akan mengganggu orang di atas kita.’ Jika orang-orang di atas membiarkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan, maka semuanya akan binasa. Namun jika mereka mencegahnya, maka semuanya akan selamat.” [HR. Al-Bukhari]

*Penjelasan Kata Sulit:*

– *”الْقَائِمُ فِي حُدُودِ اللَّهِ”* :

– Orang yang mengingkari, mencegah kemungkaran dan menghilangkannya. Maksud “hudud” di sini adalah larangan-larangan Allah yang harus dijauhi.

*Pelajaran penting dari Hadits Ini:*

  1. *Indahnya cara Rasulullah ﷺ dalam mengajar* dengan membuat perumpamaan yang mendekatkan perkara yang abstrak ke dalam bentuk yang bisa dirasakan. Ini menunjukkan pentingnya menggunakan perumpamaan untuk menjelaskan makna dan mendekatkannya ke akal, serta bahwa membuat perumpamaan itu diperbolehkan.
  2. *Bagusnya niat dan tujuan saja tidak cukup* untuk membuat suatu amal menjadi baik dan benar. Jika tidak berada di atas petunjuk yang lurus dan jalan yang benar, maka orang yang ingin melubangi kapal dengan niat agar tidak mengganggu orang di atasnya tetap akan menyebabkan kebinasaan bagi semua. Meskipun niatnya baik dan uzurnya bisa diterima, niat baik saja tidak cukup untuk menjadikan perbuatan itu sah dan diterima.
  3. *Hadits ini mengingatkan pentingnya batasan kebebasan pribadi* dalam syariat dan ketentuannya yang harus diperhatikan, demi menjaga keselamatan masyarakat serta memelihara dan melindunginya.
  4. *Pentingnya amar ma’ruf nahi munkar* dan mencegah orang yang berbuat maksiat agar masyarakat tetap terjaga dan baik.
  5. *Tegaknya hukum Allah adalah sebab keselamatan* bagi orang yang menegakkannya dan orang yang ditegakkan hukum itu atasnya. Jika tidak, maka pelaku maksiat akan binasa karena maksiatnya, dan orang yang diam serta ridha terhadap maksiat itu juga akan binasa bersamanya. Dan di dalamnya juga terdapat pelajaran bahwa dosa kemaksiatan itu akan menimpa semua jika amar ma’ruf nahi munkar ditinggalkan.

Wallohu a’lam

[Refrensi utama : Kitab Riyadhus shalihin Wa ma’ahu hasyiyatul Fawaid. Hal : 168-169]

Ditulis oleh Ustadz :  Nurhadi Nugroho

sumber: https://bimbinganislam.com/fawaid-hadist-187-jangan-biarkan-kapal-kita-tenggelam/

[Kitabut Tauhid 10] 31 Mencintai Allah 19

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Mencintai Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Setiap Muslim pasti mengaku dan ingin mencintai Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Pengakuan dan keingian ini menuntut bukti dan konsekuensi, yang dapat dijadikan sebagai standar kebenaran pengakuan cinta. Di antara bukti dan konsekuensi tersebut adalah :

Meneladani Sunnah Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
Banyak Mengingat dan Menyebut Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, dan ini terkait dengan beberapa amalan yang disyariatkan, di antaranya :

Menyampaikan shalawat dan salam kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
Menyebut keutamaan dan kekhususan sifat, akhlak dan perilaku utama yang Allâh -‘Azza wa Jalla- berikan kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-; juga menyebut mu’jizat serta bukti kenabian untuk mengenal kedudukan dan martabat Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
Bersikap santun dan beradab terhadap Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, baik dalam menyebut nama atau memanggilnya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Bangga Menjadi Muslim

Dewasa ini, kita sering mendapatkan saudara-saudara kita – semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka – yang tidak berbangga dengan agamanya (yaitu tidak merasa gagah karena keutamaan dan keunggulan Islam). Sehingga sebagian pelajar muslim, misalnya, mungkin masih merasa minder ketika memakai celana di atas mata kaki (tidak isbal) di sekolahan mereka. Sebagian pemuda muslim minder dengan hari raya Islam, sehingga menambahkan hari raya-hari raya lainnya dalam Islam. Bahkan, ada diantara mereka yang ikut memperingati hari raya agama lain, Na’uudzubillahi min dzaalik.

Padahal, apabila kita melihat keutamaan Islam, tentu kita akan merasa bangga dengannya. Pada bahasan kali ini, penulis mengangkat tema “Bangga menjadi Muslim”, supaya menambah rasa syukur kita kepada Allah Ta’ala atas nikmat Islam ini, tetap istiqomah di atas jalan-Nya, dan meninggalkan jalan-jalan selainnya.

Diantara Keutamaan-keutamaan Islam

Imam Bukhari dan Muslim membawakan hadits dari Thaariq bin Syihaab, dia berkata bahwasanya seorang yahudi berkata kepada ‘Umar bin Khattab (yang saat itu menjadi khalifah) radhiyallahu ‘anhu, “Wahai amirul mukminin, sebuah ayat dalam al-Quran yang kalian membacanya, seandainya ayat tersebut turun di tengah-tengah orang Yahudi, tentu kami akan menjadikannya sebagai hari perayaan (hari ‘ied).” “Ayat apakah itu?,” tanya ‘Umar. Ia berkata, “(Ayat yang artinya): “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian” (QS. Al-Maidah: 3) ‘Umar berkata, “Kami telah mengetahui hal itu, yaitu hari dan tempat di mana ayat tersebut diturunkan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berdiri di ‘Arofah pada hari Jum’at. ” (Muttafaqun ‘alaih)

Demikianlah, seorang Yahudi mengetahui keutamaan Islam, dimana keutamaan Islam bisa dilihat (melalui ayat QS. Al-Maidah: 3 tersebut) dari beberapa tinjauan, diantaranya:

Ditinjau dari hakikat islam itu sendiri

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan tentang tafsir ayat ini, “Allah telah mengabarkan kepada nabi-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, bahwasanya Dia telah menyempurnakan islam bagi mereka, sehingga mereka tidak akan membutuhkan tambahan selamanya. Dan Allah telah melengkapkannya, sehingga Dia tidak akan menguranginya selamanya. Dan Allah telah meridhainya, maka Dia tidak akan marah kepadanya selamanya.” (Tafsir Ibnu Katsir: 14/2)

Ditinjau dari pemeluknya

Hal ini diambil dari firman Allah (artinya), “Dan Aku telah meridhai bagi kalian Islam sebagai agama” yang umum mencakup seluruh manusia. Oleh karena itu, Allah tidak menerima agama apapun — setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam — kecuali Islam. Hal ini merupakan keutamaan bagi seluruh pemeluknya.

Ditinjau dari kekekalan / keabadiannya

Agama-agama sebelum islam dikhususkan bagi waktu tertentu (terbatas) dan zaman yang telah Allah tentukan; kemudian Allah mengangkat hukumnya (naskh), dan menggantikannya dengan agama Islam. Sementara itu, agama islam kekal sampai hari kiamat. Bahkan, Nabi Isa ‘alaihissalam ketika turun pada akhir zaman, dia akan berhukum dengan syariat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. (lihat I’laamul Anaam bi Syarhi Kitaab Fadhlil Islaam, hal. 22 — 24).

Demikianlah agama kita tercinta ini. Sangat banyak dan jelas keutamaan-keutamaan yang terdapat di dalamnya, sehingga orang di luar Islampun juga mengakui keutamaan-keutamaannya.

Keutamaan islam ditinjau dari perbandingannya dengan agama-agama selainnya

Masih tentang keutamaan islam, untuk melengkapi bahasan tentang keutamaan Islam, penulis merasa perlu menambahkan bahasan khusus tentang keutamaan islam ditinjau dari perbandingannya dengan agama-agama selainnya. Keutamaan tersebut juga sangat banyak, diantaranya :

  1. Islam untuk semua umat manusia
    Islam merupakan agama yang Allah syariatkan untuk seluruh umat manusia. Hal tersebut berbeda dengan agama-agama samawi lainnya yang disyariatkan khusus untuk umat tertentu, misalkan Nashrani (baca : syariat Nabi Isa ‘alaihissalam) yang khusus diperuntukkan kepada Bani Israil saja.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumku … nabi sebelumku diutus hanya untuk kaumnya, sedangkan aku diutus untuk manusia seluruhnya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
    Allah Ta’ala berfirman ketika mensifati Nabi Isa ‘alaihissalam (yang artinya), “Dan sebagai Rasul kepada Bani Israil” (QS. Ali Imran : 49).
  2. Tanda kenabian yang kekal hingga akhir zaman
    Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (al-Quran), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS. Al-Hijr: 9).
    Dalam ayat tersebut, Allah menyebutkan bahwa Dia yang akan menjaga al-Quran. Sementara untuk selain al-Quran, Dia berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (QS. Al-Maidah: 44)
    Maka dalam ayat ini, Allah menyerahkan penjagaan kitab tersebut kepada mereka, kemudian mereka mengganti dan merubahnya. (lihat Tafsir al-Qurthubi : 5/10)

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menunjukkan kita kepada Islam, satu-satunya agama yang benar, dan memiliki banyak keutamaan.

Beberapa contoh aplikasi nyata dari bangga sebagai muslim

Bangga dengan hari raya islam

Diantara praktek nyata dari kebanggaan sebagai seorang muslim, adalah bangga dengan hari raya yang telah Allah pilihkan untuknya. Anas Radhiallahu ‘anhu berkata : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah sedang penduduknya memiliki dua hari raya dimana mereka bersenang-senang di dalamnya di masa jahiliyah. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku datang pada kalian sedang kalian memiliki dua hari yang kalian besenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyah. Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari dua hari itu, yaitu hari Raya Kurban dan hari Idul Fithri”. (Hadits Shahih, dikeluarkan oleh Ahmad dan selainnya).

Berkata Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna rahimahullah: “Maksudnya : Karena hari Idul Fihtri dan hari raya Kurban ditetapkan dengan syariat Allah Ta’ala, merupakan pilihan Allah untuk mahluk-Nya dan karena keduanya mengikuti pelaksanaan dua rukun Islam yang agung yaitu Haji dan Puasa, serta didalamnya Allah mengampuni orang-orang yang melaksanakan ibadah haji dan orang-orang yang berpuasa, dan Dia menebarkan rahmat-Nya kepada seluruh mahluk-Nya yang taat …. ” [Fathur Rabbani, 6/119] (Lihat Ahkaamul ‘Iidain fis Sunnahil Muthohharoh, hal 13 — 16)

Oleh karena itu, cukup bagi kita hari raya yang telah Allah pilihkan untuk kita, dan meninggalkan hari raya-hari raya selainnya, seperti tahun baru, dan selainnya.

Bangga dengan celana tidak isbal (khusus laki-laki)

Sebagian pelajar muslim mungkin masih merasa minder ketika memakai celana yang tidak isbal (yaitu celana di atas mata kaki) di sekolahan mereka. Sebagian mahasiswa muslim mungin juga minder ketika memakai celana seperti itu di kampus mereka. Demikian juga, sebagian karyawan muslim mungin juga minder ketika memakai celana seperti itu di kantor mereka.

Wahai saudaraku sekalian, ketahuilah bahwasanya memakai celana di atas mata kaki merupakan perkara yang disyariatkan dalam agama kita yang mulia ini. Oleh karena itu, berbanggalah kalian dengan model celana seperti itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencela orang lain. Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun itu hanya dengan bermuka ceria saat bicara dengan saudaramu. Itu saja sudah termasuk kebaikan. Dan naikan kain sarungmu sampai pertengahan betis. Kalau engkau enggan, maka sampai mata kaki. Jauhilah isbal dalam memakai kain sarung. Karena isbal itu adalah kesombongan. Dan Allah tidak menyukai kesombongan” (HR. Abu Daud, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

Hadits-hadits yang melarang isbal sangat banyak, sehingga mencapai batas hadits mutawatir maknawi, diantaranya adalah hadits di atas. Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih luas tentang masalah ini, silahkan merujuk ke kitab Hadduts Tsaub wal Uzroh wa Tahriimul Isbaal wa Libaasusy Syuhroh karya Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita semua istiqomah untuk senantiasa berada di jalan-Nya.

Penulis: Abu Ka’ab Prasetyo, S.Kom.

Artikel Buletin Al Hikmah dipublikasi ulang oleh Muslim.Or.Id
Sumber: https://muslim.or.id/19404-bangga-menjadi-muslim.html

Orang Yang Berakal Sehat

Sahabat yang mulia, Abu ad-Darda’ʾ rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“Maukah aku beritahukan kepada kalian bagaimana cara mengenali orang yang berakal sehat..?

  • Ia tawadhu (rendah hati) kepada orang yang berada di atasnya, dan tidak merendahkan orang yang berada di bawahnya.
  • Ia berpegang teguh pada keutamaan, bergaul dengan manusia sesuai dengan tabiat/akhlak mereka, dan
  • Ia menjaga keimanan batinnya tetap menjadi rahasia antara dirinya dengan Robb-nya Yang Mahaperkasa lagi Mahagung.

Oleh karena itu, ia menjalani hidup dengan ketakwaan dan kehati-hatian..”

(Akhbaar al-Adzkiyaa’ – Ibnul Jauzi)

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/74985

Hukum Berobat ke Dukun

Berobat ke Dukun

Pertanyaan:

Pembaca dari Riyadh mengirimkan sura kepada kami. Dalam surat itu dia mengatakan, “Ayahku sakit jiwa dan penyakit tersebut sudah berlangsung lama. Selama itu pula berkali-kali datang ke rumah sakit. Tetapi sebagian kerabat mengisyaratkan kepada kami agar pergi kepada seorang wanita. Kata mereka, wanita ini mengetahui penyembuhan untuk penyakit-penyakit demikian. Kata mereka, “Berikan nama saja kepadanya, dan ia akan memberitahukan kepada kalian tentang apa yang dideritanya dan memberikan obat untuknya.” Apakah kami boleh pergi kepada wanita ini? Berilah fatwa kepada kami, terima kasih.

Jawaban:

Tidak boleh bertanya kepada wanita ini dan orang-orang sepertinya, karena ia termasuk golongan peramal dan dukun yang mengklaim mengetahui perkara gaib serta meminta bantuan kepada jin dalam pengobatan mereka dan berita-berita yang mereka sampaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

Barangsiapa mendatangi peramal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari.” (HR. Muslim dalam Shahihnya).

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa mendatangi peramal atau dukun lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad.”

Hadis-hadis yang semakna dengan ini cukup banyak.

Kewajiban kita ialah mencegah mereka dan siapa yang datang kepada mereka, tidak bertanya kepada mereka dan mempercayai mereka, serta melaporkan mereka kepada pejabat yang berwenang sehingga mereka dihukum dengan hukuman yang setimpal. Karena membiarkan mereka dan tidak melaporkan mereka akan membahayakan semua orang, serta membantu keterpedayaan orang-orang bodoh kepada mereka, bertanya kepada mereka, dan mempercayai mereka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka rubahlah ia dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim, dalam Shahihnya).

Tidak diragukan lagi bahwa melaporkan mereka kepada penguasa, seperti Amir Negeri, Lembaga Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dan Pengadilan, termasuk dalam kategori mengingkari mereka dengan lisan dan termasuk tolong menolong atas dasar pada kemaslahatan mereka dan mereka selamat dari segala keburukan.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Fatawa al-Ilaj bi Al-Qur’an wa as-Sunnah – ar-Ruqa wama yata’allaqu biha, hal. 46-47

Sumber: Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, Darul Haq Cetakan IV

Referensi: https://konsultasisyariah.com/15608-hukum-berobat-ke-dukun.html

Hidup Terasing: Tetap Teguh Saat Ketaatan Dianggap Aneh

Tidak semua keterasingan adalah kesepian; terkadang seseorang justru menjadi asing karena memilih tetap taat ketika banyak manusia meninggalkan ketaatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang tetap teguh ketika Islam kembali terasa asing. Lalu bagaimana agar hati tetap kuat ketika menjalankan syariat terasa seperti menggenggam bara api, terutama bagi muslimah yang berusaha menjaga hijab dan kehormatannya?
Mencintai kesendirian bersama Allah

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وَمِنْهَا: حُبُّ الْوَحْدَةِ، وَالْأُنْسُ بِالْخَلْوَةِ، وَالتَّفَرُّدُ عَنِ النَّاسِ، وَكَأَنَّ الْمَحَبَّةَ قَدْ ثَبَتَتْ عَلَى ذَلِكَ، فَلَا شَيْءَ أَحْلَى لِلْمُحِبِّ الصَّادِقِ مِنْ خَلْوَتِهِ، وَتَفَرُّدِهِ، فَإِنَّهُ إِنْ ظَفِرَ بِمَحْبُوبِهِ أَحَبَّ خَلْوَتَهُ بِهِ، وَكَرِهَ مَنْ يَدْخُلُ بَيْنَهُمَا غَايَةَ الْكَرَاهَةِ.

“Di antara tanda cinta adalah mencintai kesendirian, merasa nyaman dalam kesunyian, dan menikmati saat menjauh sejenak dari manusia. Seolah-olah cinta itu sendiri membuat hatinya demikian. Tidak ada sesuatu yang lebih manis bagi seorang pecinta sejati daripada saat ia menyendiri bersama yang dicintainya. Jika ia dapat bersama kekasihnya, ia mencintai kesempatan berdua tersebut dan sangat tidak menyukai sesuatu yang mengganggu kebersamaan itu.”

Ibnul Qayyim kemudian menjelaskan,

وَلِهَذَا السِّرِّ ـ وَاللَّهُ أَعْلَمُ ـ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَدِّ الْمَارِّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي حَتَّى أَمَرَ بِقِتَالِهِ، وَأَخْبَرَ أَنَّهُ لَوْ يَدْرِي مَا عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ؛ لَكَانَ وُقُوفُهُ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ مُرُورِهِ بَيْنَ يَدَيْهِ.

“Karena rahasia inilah—dan Allah lebih mengetahui—Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar orang yang hendak melintas di depan orang yang sedang shalat dicegah. Beliau juga mengabarkan bahwa seandainya orang yang melintas mengetahui besarnya dosa perbuatannya, berdiri menunggu selama empat puluh lebih baik baginya daripada melintas di hadapan orang yang sedang shalat.”

Kemudian beliau berkata,

وَلَا يَجِدُ أَلَمَ الْمُرُورِ وَشِدَّتَهُ إِلَّا قَلْبٌ حَاضِرٌ بَيْنَ يَدَيْ مَحْبُوبِهِ، مُقْبِلٌ عَلَيْهِ، قَدِ ارْتَفَعَتِ الْأَغْيَارُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ، فَمُرُورُ الْمَارِّ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ بِمَنْزِلَةِ دُخُولِ الْبَغِيضِ بَيْنَ الْمُحِبِّ وَمَحْبُوبِهِ.

“Hanya hati yang benar-benar hadir di hadapan Allah, menghadap kepada-Nya, dan tidak tersibukkan oleh selain-Nya yang dapat merasakan beratnya gangguan tersebut. Orang yang melintas di antara dirinya dan Rabbnya bagaikan seseorang yang tidak disukai masuk mengganggu antara seorang pecinta dan yang dicintainya.”

Ibnul Qayyim kemudian mengatakan,

وَأَيْضًا فَإِنَّ الْمُحِبَّ يَسْتَأْنِسُ بِذِكْرِ مَحْبُوبِهِ، وَكَوْنِهِ فِي قَلْبِهِ لَا يُفَارِقُهُ، فَهُوَ أَنِيسُهُ، وَجَلِيسُهُ، لَا يَسْتَأْنِسُ بِسِوَاهُ، فَهُوَ مُسْتَوْحِشٌ مِمَّنْ يَشْغَلُهُ عَنْهُ.

“Seorang pecinta merasakan ketenteraman ketika mengingat yang dicintainya. Ingatan itu selalu hadir di hatinya. Ia menjadi teman dekatnya. Karena itu, ia merasa tidak nyaman terhadap segala sesuatu yang membuat hatinya teralihkan dari yang dicintainya.” (Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin, hlm. 393–394).

Kesendirian yang dimaksud bukanlah membenci manusia atau meninggalkan kewajiban bermasyarakat. Seorang mukmin tetap menghadiri shalat berjamaah, menuntut ilmu, berdakwah, bersilaturahmi, mendidik keluarga, dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Namun, hati juga membutuhkan saat ketika ia lepas dari kebisingan dunia dan benar-benar menghadap Allah.

Ada saatnya kita bersama manusia untuk memberi manfaat. Ada saatnya kita menyendiri untuk memperbaiki hati.

Ibnu Taimiyyah menikmati waktu menyendiri

Ibnul Qayyim menceritakan dari Taqiyuddin bin Syuqair bahwa suatu hari ia mengikuti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Ketika beliau telah sampai ke tempat terbuka dan jauh dari manusia, terdengar beliau melantunkan syair,

وَأَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الْبُيُوتِ لَعَلَّنِي
أُحَدِّثُ عَنْكَ الْقَلْبَ بِالسِّرِّ خَالِيًا

“Aku keluar meninggalkan rumah-rumah, dengan harapan aku dapat berbicara tentang-Mu kepada hatiku dalam kesendirian.”

Kemudian Ibnul Qayyim berkata,

فَخَلْوَةُ الْمُحِبِّ بِمَحْبُوبِهِ هِيَ غَايَةُ أُمْنِيَّتِهِ، فَإِنْ ظَفِرَ بِهَا؛ وَإِلَّا خَلَا بِهِ فِي سِرِّهِ.

“Kesendirian seorang pecinta bersama yang dicintainya adalah puncak harapannya. Jika ia mendapat kesempatan tersebut, itulah yang ia inginkan. Jika tidak, ia menyendiri bersamanya di dalam rahasia hatinya.”

Orang yang belajar menikmati kesendirian bersama Allah tidak akan terlalu takut ketika suatu hari harus sendirian bersama kebenaran.

Islam akan kembali terasa asing

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ.

Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awal mulanya. Maka, beruntunglah orang-orang yang terasing.” (HR. Muslim, no. 145)

Hadis ini sahih. Islamweb menjelaskan bahwa Islam pada awalnya hanya diikuti sejumlah kecil manusia, kemudian tersebar dan kuat. Kelak dapat terjadi suatu keadaan ketika orang yang benar-benar memegang ajarannya kembali menjadi sedikit.

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan maknanya,

أَنَّ الْإِسْلَامَ بَدَأَ فِي آحَادٍ مِنَ النَّاسِ وَقِلَّةٍ، ثُمَّ انْتَشَرَ وَظَهَرَ، ثُمَّ سَيَلْحَقُهُ النَّقْصُ وَالْإِخْلَالُ، حَتَّى لَا يَبْقَى إِلَّا فِي آحَادٍ وَقِلَّةٍ أَيْضًا كَمَا بَدَأَ.

“Islam pada mulanya berada pada segelintir manusia dan jumlah yang sedikit. Kemudian Islam menyebar dan tampak. Setelah itu akan datang kekurangan dalam pengamalannya hingga kembali hanya dipegang oleh segelintir manusia sebagaimana awal mulanya.”

Yang dimaksud asing bukanlah sengaja membuat diri berbeda agar diperhatikan.

Keterasingan yang terpuji adalah ketika seseorang menjadi berbeda karena berpegang pada kebenaran.

Siapakah orang-orang yang terasing?

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa orang-orang terasing adalah mereka yang tetap baik ketika manusia banyak yang rusak.

Di antara riwayat yang disebutkan,

الَّذِينَ يَصْلُحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ.

“Mereka adalah orang-orang yang tetap melakukan perbaikan ketika manusia telah rusak.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِي أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ، مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ.

“Mereka adalah orang-orang shalih yang berada di tengah banyaknya manusia yang buruk. Orang yang tidak mengikuti mereka lebih banyak daripada yang mengikuti mereka.”

Islamweb menyebut hadis ini sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang tetap berpegang teguh pada Islam pada masa keterasingan agama.

Karena itu, orang asing bukan sekadar orang yang berbeda.

Ia tetap jujur ketika dusta dianggap biasa.

Ia menjaga shalat ketika kesibukan membuat manusia meremehkannya.

Ia menjaga transaksi halal ketika riba dianggap lumrah.

Ia menjaga pandangan ketika kemaksiatan dapat dilihat hanya melalui layar di tangan.

Ia menjaga aurat ketika mempertontonkan tubuh dianggap kebebasan.

Ia mengikuti Sunnah ketika Sunnah dianggap aneh.

Jangan takut sedikit teman di jalan kebenaran

Ibnul Qayyim rahimahullah menukil perkataan sebagian salaf,

عَلَيْكَ بِطَرِيقِ الْحَقِّ، وَلَا تَسْتَوْحِشْ لِقِلَّةِ السَّالِكِينَ، وَإِيَّاكَ وَطَرِيقَ الْبَاطِلِ، وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ.

“Tempuhlah jalan kebenaran dan jangan merasa kesepian karena sedikitnya orang yang menempuhnya. Jauhilah jalan kebatilan dan jangan tertipu karena banyaknya orang yang berjalan menuju kebinasaan.”

Kemudian Ibnul Qayyim mengatakan,

وَكُلَّمَا اسْتَوْحَشْتَ فِي تَفَرُّدِكَ فَانْظُرْ إِلَى الرَّفِيقِ السَّابِقِ، وَاحْرِصْ عَلَى اللَّحَاقِ بِهِمْ، وَغُضَّ الطَّرْفَ عَمَّنْ سِوَاهُمْ.

“Setiap kali engkau merasa sepi karena sendirian, lihatlah para pendahulu yang telah menempuh jalan tersebut. Berusahalah menyusul mereka dan jangan sibukkan pandanganmu dengan selain mereka.” (Madarij As-Salikin, 1:46).

Allah Ta‘ala berfirman,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ.

Jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An‘am: 116)

Kebenaran tidak berubah menjadi salah hanya karena sedikit yang mengikutinya. Kebatilan pun tidak berubah menjadi benar hanya karena banyak pendukungnya.

Berpegang pada agama seperti menggenggam bara api

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ.

“Akan datang suatu masa kepada manusia, orang yang bersabar mempertahankan agamanya pada masa tersebut seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2260; dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani)

Islamweb menjelaskan bahwa keadaan ini terjadi karena semakin banyaknya kerusakan, fitnah, serta berbagai godaan, sementara orang yang membantu seseorang untuk tetap berada dalam ketaatan semakin sedikit. Karena itulah, memegang agama dan mengikuti Sunnah ketika itu terasa seperti menggenggam bara atau duri.

Mengapa diibaratkan bara?

Karena bara terasa panas.

Tangan secara naluri ingin segera melepaskannya.

Begitu pula seseorang yang berada dalam lingkungan penuh fitnah. Ia terus mendapat tekanan agar sedikit demi sedikit melepaskan prinsip agamanya.

Hari ini mungkin diminta melonggarkan hijab.

Besok mulai meremehkan batas pergaulan.

Kemudian mulai meninggalkan shalat karena pekerjaan.

Lalu transaksi haram dianggap tidak masalah karena semua orang melakukannya.

Jangan melepaskan agama hanya karena menggenggamnya terasa berat.

Yang sedang dipertahankan bukan sekadar kebiasaan. Yang dipertahankan adalah keselamatan agama dan akhirat.

Orang yang beramal pada masa penuh fitnah mendapat pahala besar

“Sesungguhnya setelah kalian akan datang hari-hari yang membutuhkan kesabaran. Bersabar pada masa itu seperti menggenggam bara api. Orang yang beramal pada masa tersebut akan mendapatkan pahala seperti pahala lima puluh orang.”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari mereka atau lima puluh orang dari kami?”

Beliau menjawab, “Pahala lima puluh orang dari kalian.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Kabir, no. 10394, dan lafaz di atas adalah lafaz beliau. Diriwayatkan pula oleh Al-Bazzar dalam Al-Bahr Az-Zakhkhar, no. 1776, dengan lafaz yang semakna).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita bahwa pada akhir zaman agama akan semakin sedikit dipegang teguh oleh manusia. Beliau juga mengabarkan besarnya pahala bagi orang yang tetap berpegang teguh pada agamanya pada masa-masa tersebut. Hal ini merupakan dorongan agar kita bersabar sembari mengharapkan pahala dari Allah.

Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ

“Sesungguhnya setelah kalian ….”

Maksudnya adalah masa-masa yang akan datang setelah kalian, atau berbagai keadaan berat yang akan terjadi sepeninggal kalian.

Beliau bersabda,

زَمَانَ صَبْرٍ

“Suatu masa yang membutuhkan kesabaran.”

Maksudnya adalah hari-hari ketika tidak ada jalan untuk dapat bertahan kecuali dengan kesabaran. Bisa pula bermakna hari-hari ketika kesabaran sangat terpuji.

Yang dimaksud dengan masa tersebut adalah masa ketika berbagai fitnah merajalela dan kekuatan kaum muslimin melemah.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لِلْمُتَمَسِّكِ فِيهِ

“Bagi orang yang tetap berpegang teguh pada masa tersebut.”

Maksudnya adalah orang yang bersabar dalam memegang teguh agamanya dan tetap berlindung serta berpegang kokoh dengannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,

أَجْرُ خَمْسِينَ شَهِيدًا مِنْكُمْ

“Baginya pahala lima puluh orang syahid dari kalian.”

Maksudnya, pahalanya dilipatgandakan hingga seperti pahala lima puluh orang yang mati syahid dari kalangan sahabat.

Besarnya pahala tersebut disebabkan begitu beratnya ujian pada masa itu. Seorang muslim yang tetap teguh memegang agamanya menghadapi keadaan yang begitu sulit hingga diibaratkan seperti orang yang menggenggam bara api.

Besarnya pahala ini menunjukkan besarnya tantangan dalam mempertahankan agama. Namun, ini tidak berarti generasi setelah sahabat lebih utama daripada para sahabat secara mutlak.

Penjelasan hadits di atas dari dorar.net.

Keterasingan yang terpuji adalah asing karena Sunnah

Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan bahwa di antara sifat orang-orang terasing adalah,

وَمِنْ صِفَاتِ هَؤُلَاءِ الْغُرَبَاءِ الَّذِينَ غَبَطَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: التَّمَسُّكُ بِالسُّنَّةِ إِذَا رَغِبَ عَنْهَا النَّاسُ، وَتَرْكُ مَا أَحْدَثُوهُ، وَإِنْ كَانَ هُوَ الْمَعْرُوفَ عِنْدَهُمْ.

“Di antara sifat orang-orang terasing yang dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tetap berpegang kepada Sunnah ketika manusia meninggalkannya dan meninggalkan perkara-perkara baru yang mereka ada-adakan, sekalipun perkara tersebut telah dianggap lumrah oleh mereka.”

Ibnul Qayyim kemudian menjelaskan keadaan orang-orang terasing,

فَهَؤُلَاءِ هُمُ الْغُرَبَاءُ الْمَمْدُوحُونَ الْمَغْبُوطُونَ.

“Mereka itulah orang-orang terasing yang dipuji dan pantas mendapatkan kabar gembira.”

Beliau menjelaskan bahwa orang Islam dapat terasa asing di tengah manusia, orang beriman terasa asing di tengah kaum muslimin, ahli ilmu terasa asing di tengah kaum beriman, dan orang yang benar-benar menjaga Sunnah dapat semakin terasa asing.

Maka, jangan salah memahami keterasingan.

Tidak setiap orang yang berbeda berarti berada di atas kebenaran.

Ukuran kita tetap Al-Qur’an dan Sunnah, bukan sekadar berbeda dengan kebanyakan manusia.

Muslimah juga dapat merasakan keterasingan

Keterasingan agama sangat mungkin dirasakan seorang muslimah pada zaman sekarang.

Ia ingin memperbaiki hijab, lalu dikatakan terlalu tertutup.

Ia berusaha tidak tabarruj, tetapi lingkungan menganggap penampilan harus selalu menarik perhatian.

Ia menjaga pergaulan dengan lawan jenis, lalu dianggap tidak luwes.

Ia tidak ingin mempertontonkan kecantikannya di media sosial, tetapi justru dianggap kurang percaya diri.

Ia memilih tidak mengikuti tren tertentu karena pertimbangan agama, lalu disebut ketinggalan zaman.

Di sinilah seorang muslimah membutuhkan kekuatan hati.

Hijab bukan sekadar budaya, tetapi ketaatan

Allah Ta‘ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ.

Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan perempuan-perempuan kaum mukminin agar mereka mengulurkan jilbab mereka.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Allah Ta‘ala juga berfirman,

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ.

Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung mereka ke dada mereka.” (QS. An-Nur: 31)

Karena itu, hijab bukan sekadar identitas sosial.

Hijab adalah ibadah.

Ketika seorang muslimah menanamkan dalam hatinya, “Aku berhijab karena ingin menaati Allah,”

maka komentar manusia akan menjadi lebih ringan.

Sebaliknya, jika hijab hanya dibangun karena lingkungan, ketika lingkungan berubah, mudah sekali seseorang ikut berubah.

Cara teguh di tengah keterasingan

Pertama: Jadikan wahyu sebagai standar, bukan tren

Allah Ta‘ala berfirman,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ.

Tidak pantas bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, masih ada pilihan lain bagi mereka dalam urusan tersebut.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Tren berubah.

Standar manusia berubah.

Apa yang hari ini dianggap indah, beberapa tahun kemudian dapat dianggap usang.

Namun, ketentuan Allah tidak mengikuti tren.

Jangan mengukur syariat dengan tren. Ukurlah tren dengan syariat.

Kedua: Jangan menunggu semua orang mendukung untuk mulai taat

Ketaatan tidak harus dimulai bersama-sama.

Jangan menunggu,

“Nanti kalau teman saya sudah berhijab, saya ikut.”

“Nanti kalau sudah menikah, saya akan memperbaiki pakaian.”

“Nanti kalau lingkungan kerja mendukung, saya akan berubah.”

Boleh jadi salah satu bentuk ujian adalah Allah ingin melihat apakah kita tetap memilih-Nya ketika pilihan tersebut belum mendapatkan tepuk tangan manusia.

Tidak mengapa memulai ketaatan sendirian selama kita berjalan bersama dalil.

Ketiga: Cari teman yang menguatkan agama

Allah Ta‘ala berfirman,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ.

Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Rabb mereka pada pagi dan petang dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.

Seseorang berada di atas agama sahabat dekatnya. Karena itu, hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang dijadikan sahabat dekat.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

Teman shalih tidak memberikan hidayah, tetapi ia dapat menjadi sebab kita lebih mudah menjaga hidayah.

Carilah teman yang tidak hanya memuji penampilan kita, tetapi berani mengingatkan agama kita.

Carilah teman yang bahagia ketika hijab kita semakin baik.

Carilah teman yang mengajak ke majelis ilmu.

Carilah teman yang ketika kita hampir melemah berkata,

“Jangan menyerah. Kita ingin sampai ke surga bersama.”

Keempat: Jaga juga lingkungan digital

Teman hari ini bukan hanya orang yang duduk di samping kita.

Akun yang setiap hari kita lihat juga dapat membentuk cara berpikir.

Jika setiap hari seseorang melihat konten yang mempertontonkan kecantikan, gaya hidup berlebihan, kebebasan tanpa batas, atau standar tubuh yang tidak realistis, sedikit demi sedikit hatinya dapat berubah.

Ia mulai mempertanyakan hijabnya.

Ia mulai merasa pakaiannya kurang menarik.

Ia mulai membutuhkan validasi dari pandangan manusia.

Karena itu, salah satu bentuk menjaga iman adalah berani menekan tombol unfollow terhadap sesuatu yang terus-menerus melemahkan hati.

Tidak semua yang menarik mata baik untuk hati.

Kelima: Jangan merasa rendah karena menjaga diri

Dunia sering mengajarkan bahwa kecantikan perlu ditampakkan agar mendapatkan pengakuan.

Syariat justru mengajarkan bahwa tidak semua keindahan harus diperlihatkan.

Allah Ta‘ala berfirman,

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا.

Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak darinya.” (QS. An-Nur: 31)

Muslimah tidak kehilangan harga dirinya hanya karena tidak menjadi pusat perhatian.

Nilai seorang perempuan bukan ditentukan oleh banyaknya mata yang memandangnya, tetapi oleh kedudukannya di sisi Allah.

Keenam: Perbanyak ilmu

Orang yang hanya mengikuti aturan tanpa memahami dalilnya lebih mudah goyah ketika ditanya.

Sedangkan orang yang mengetahui mengapa Allah memerintahkan sesuatu akan lebih kokoh.

Karena itu, pelajari tauhid.

Pelajari fikih ibadah.

Pelajari hukum hijab.

Pelajari batas pergaulan.

Pelajari bagaimana para sahabat dan salaf menjaga agama mereka.

Ilmu menjadikan ketaatan bukan sekadar kebiasaan, tetapi keyakinan.

Ketujuh: Miliki ibadah rahasia

Di antara cara paling kuat menjaga istiqamah adalah memiliki hubungan dengan Allah yang tidak diketahui manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah,

وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.

Dan seseorang yang mengingat Allah ketika sendirian, lalu kedua matanya berlinang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada orang yang terlihat kuat di hadapan manusia karena ia memiliki tangisan yang tidak pernah manusia lihat.

Ada orang yang sanggup menghadapi berbagai komentar karena pada malam hari ia telah mengadukan semuanya kepada Allah.

Kekuatan di hadapan manusia sering kali dibangun dari sujud yang tidak diketahui manusia.

Bentuk kesendirian bersama Allah

1. Shalat malam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ.

“Rabb kita Tabaraka wa Ta‘ala turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, Aku akan mengampuninya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saat manusia tidur, seorang mukmin bangun.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada kamera.

Tidak ada komentar.

Hanya seorang hamba dengan Rabbnya.

2. Membaca Al-Qur’an dalam kesunyian sambil tadabbur

Carilah waktu tanpa gangguan.

Baca ayat Allah perlahan.

Renungkan.

Bukan hanya mengejar berapa halaman yang selesai, tetapi biarkan Al-Qur’an berbicara kepada hati.

3. Berdzikir dan beristighfar

Ada dzikir yang dibaca bersama manusia.

Namun, ada pula kenikmatan ketika lidah mengingat Allah sementara tidak ada seorang pun yang mengetahui.

Inilah salah satu bentuk hubungan rahasia seorang hamba dengan Rabbnya.

4. Berdoa

Kesendirian adalah waktu yang sangat baik untuk mengadukan kelemahan.

Kita boleh terlihat kuat di depan manusia.

Namun, di hadapan Allah kita dapat berkata bahwa kita lemah.

Kita dapat mengadu tentang beratnya menjaga agama.

Tentang komentar manusia.

Tentang hati yang mudah berubah.

Tentang kekhawatiran menghadapi fitnah zaman.

5. I‘tikaf dan mengurangi kesibukan dunia

Islam juga mengenal i‘tikaf, yaitu memberikan waktu khusus untuk beribadah kepada Allah dengan menetap di masjid.

Ini mengajarkan bahwa hati terkadang membutuhkan jarak sementara dari berbagai kesibukan agar dapat kembali fokus kepada Allah.

Namun, kesendirian bukan tujuan mutlak. Islam tetap mendorong seorang mukmin memberikan manfaat kepada manusia.

Kesendirian bukan berarti membenci manusia

Ada dua kesalahan yang perlu dihindari.

Pertama, terlalu tenggelam dalam keramaian sampai tidak memiliki waktu bersama Allah.

Kedua, memakai alasan “ingin dekat dengan Allah” untuk meninggalkan kewajiban kepada keluarga dan masyarakat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dekat kepada Allah, tetapi beliau berdakwah, mengajar, menerima tamu, memimpin umat, mengurus keluarga, berjihad, dan berinteraksi dengan manusia.

Maka, keseimbangannya adalah:

Bersama manusia ketika ada maslahat, menyendiri ketika hati membutuhkan perbaikan.

Ketika terasa asing, lihatlah siapa teman seperjalanan kita

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Allah menyebut para pendahulu yang berjalan di atas jalan lurus agar orang beriman tidak merasa benar-benar sendirian.

Allah Ta‘ala berfirman,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا.

“Barang siapa menaati Allah dan Rasul, mereka akan bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat, yaitu para nabi, orang-orang yang sangat membenarkan, para syuhada, dan orang-orang shalih. Mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa’: 69)

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Allah menyebut teman-teman perjalanan ini agar orang yang menempuh jalan hidayah tidak terlalu merasakan kesendirian ketika berbeda dengan manusia pada zamannya.

Jika hari ini kita merasa asing karena taat, ingatlah:

Jalan ini pernah ditempuh para nabi.

Jalan ini pernah ditempuh para sahabat.

Jalan ini pernah ditempuh orang-orang shalih.

Kita mungkin sedikit pada suatu tempat dan suatu masa.

Namun, kita tidak sendirian dalam sejarah panjang orang-orang yang berjalan menuju Allah.

Jangan merasa aman dengan hati kita

Istiqamah bukan kemampuan pribadi.

Orang yang hari ini taat bisa berubah.

Orang yang hari ini menjaga hijab bisa melepasnya.

Orang yang hari ini rajin shalat bisa meninggalkannya.

Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berdoa,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.

Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi)

Jangan hanya mengatakan,

“Alhamdulillah, saya sudah istiqamah.”

Lebih baik katakan,

“Ya Allah, jangan biarkan hati ini berubah setelah Engkau memberi petunjuk.”

Kesimpulan: Beruntunglah orang-orang yang terasing

Tidak semua kesendirian adalah kesepian.

Tidak semua keterasingan adalah kehinaan.

Boleh jadi seseorang sendirian secara fisik, tetapi hatinya dipenuhi kedekatan kepada Allah.

Boleh jadi seseorang dianggap asing oleh manusia karena menjaga hijab, Sunnah, shalat, kehormatan, dan prinsip agamanya, tetapi justru ia sedang berjalan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih.

Karena itu, jangan sengaja mencari keterasingan. Namun, jangan pula meninggalkan kebenaran hanya agar diterima oleh manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kabar gembira,

فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ.

“Maka, beruntunglah orang-orang yang terasing.”

Nasihat terakhir

Zaman boleh berubah, tetapi jangan biarkan perubahan zaman mengubah prinsip agama kita. Media sosial boleh membuat maksiat tampak normal dan ketaatan terasa asing, tetapi ukuran keselamatan tetaplah wahyu Allah. Muslimah jangan merasa rendah ketika menjaga hijab dan kehormatannya, dan setiap muslim jangan takut dianggap berbeda ketika berusaha mengikuti Sunnah. Jika jalan kebenaran terasa sepi, dekatkanlah diri kepada Allah karena orang yang memiliki Allah sebagai penolong tidak pernah benar-benar sendirian.

Mari memohon,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَأَعِنَّا عَلَى طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْغُرَبَاءِ الَّذِينَ يَصْلُحُونَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ، وَتَوَفَّنَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا.

Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa a‘innā ‘alā thā‘atik, waj‘alnā minal-ghurabā’ alladzīna yashluhūna ‘inda fasādin-nās, wa tawaffanā wa anta rāḍin ‘annā.

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Bantulah kami untuk selalu taat kepada-Mu. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang tetap memperbaiki diri dan keadaan ketika manusia banyak yang rusak. Wafatkanlah kami dalam keadaan Engkau meridhai kami.”

Aamiin.

Referensi

  1. Shahih Muslim, hadis no. 145 tentang Islam bermula dalam keadaan asing. Islamweb menegaskan kesahihan hadis dan menjelaskan maknanya.
  2. Islamweb, Al-Ghuraba’ Al-Mamdūhūn Al-Maghbūthūn, tentang ciri dan keutamaan orang-orang terasing.
  3. Islamweb, Ka Al-Qābidh ‘ala Al-Jamr, penjelasan hadis orang yang mempertahankan agama seperti menggenggam bara.
  4. Ibnul Qayyim, Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin, hlm. 393–394, tentang mencintai kesendirian bersama Allah.
  5. Ibnul Qayyim, Madarij As-Salikin, tentang tidak merasa sepi karena sedikitnya orang yang menempuh jalan kebenaran.
  6. Islamweb, pembahasan ghurbah dan keteguhan mengikuti Sunnah ketika sedikit pengikutnya.

—-

@ Jogja, 12 Rabiul Awal 1448 H, 25 Agustus 2026

Muhammad Abduh Tuasikal 

sumber: https://rumaysho.com/42701-hidup-terasing-tetap-teguh-saat-ketaatan-dianggap-aneh.html