Pengaruh Buruk Perbuatan Dosa

Al-Utsadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

Setiap hari kita tenggelam dalam kenikmatan yang dilimpahkan oleh Ar-Rahman. Nikmat kesehatan, keamanan, ketenangan, rizki berupa makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Belum lagi nikmat iman bagi ahlul iman. Sungguh, dalam setiap tarikan napas, ada nikmat yang tak terhingga. Dari mulai tidur, bangun dari tidur hingga tidur kembali, ada nikmat yang tiada terkira. Maka Maha Benar Allah l ketika berulang-ulang menegaskan dalam surat Ar-Rahman:

فَبِأَيِّ آلاَءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Maka nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian berdua (bangsa jin dan manusia) dustakan?”

Nikmat Allah l yang berlimpah ini semestinya dihadapi dengan penuh rasa syukur. Namun sangat disesali, hanya sedikit dari para hamba yang mau bersyukur:

وَقَلِيْلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur.” (Saba’: 13)

Kebanyakan dari mereka mengkufuri nikmat Allah l. Atau malah mempergunakan nikmat tersebut untuk bermaksiat dan berbuat dosa kepada Ar-Rahman. Allah l memberikan kepada mereka banyak kebaikan namun mereka membalasnya dengan kejelekan.

Demikianlah keadaan anak manusia, setiap harinya selalu berbuat dosa. Kita pun tak luput dari berbuat dosa, baik karena tergelincir ataupun sengaja memperturutkan hawa nafsu dan bisikan setan yang selalu menggoda. Amat buruklah keadaan kita bila tidak segera bertaubat dari dosa-dosa yang ada dan menutupinya dengan berbuat kebaikan. Karena perbuatan dosa itu memiliki pengaruh yang sangat jelek bagi hati dan tubuh seseorang, di dunianya ini maupun di akhiratnya kelak.

Al-Imam Al-’Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah v menyebutkan secara panjang lebar dampak negatif dari dosa. Beberapa di antaranya bisa kita sebutkan di sini sebagai peringatan:

1. Terhalang dari ilmu yang haq. Karena ilmu merupakan cahaya yang dilemparkan ke dalam hati, sementara maksiat akan memadamkan cahaya.

Tatkala Al-Imam Asy-Syafi’i v belajar kepada Al-Imam Malik v, Al-Imam Malik terkagum-kagum dengan kecerdasan dan kesempurnaan pemahaman Asy-Syafi’i. Al-Imam Malik pun berpesan pada muridnya ini, “Aku memandang Allah l telah memasukkan cahaya ilmu di hatimu. Maka janganlah engkau padamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.”

Al-Imam Asy-Syafi’i v pernah bersajak:

شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي

فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ فَضْلٌ

وَ فَضْلُ اللهِ لاَ يُؤْتاَهُ عَاصِ

“Aku mengeluhkan jeleknya hafalanku kepada Waki’

Maka ia memberi bimbingan kepadaku agar meninggalkan maksiat

Ia berkata, “Ketahuilah ilmu itu merupakan keutamaan

dan keutamaan Allah l tidak diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.” 1

2. Terhalang dari beroleh rizki dan urusannya dipersulit.

Takwa kepada Allah l akan mendatangkan rizki dan memudahkan urusan seorang hamba sebagaimana firman-Nya:

وَ مَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi orang tersebut jalan keluar (dari permasalahannya) dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3)

وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Ath-Thalaq: 4)

Meninggalkan takwa berarti akan mendatangkan kefakiran dan membuat si hamba terbelit urusannya.

3. Hati terasa jauh dari Allah l dan merasa asing dengan-Nya, sebagaimana jauhnya pelaku maksiat dari orang-orang baik dan dekatnya dia dengan setan.

4. Menggelapkan hati si hamba sebagaimana gelapnya malam. Karena ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah kegelapan. Bila kegelapan itu bertambah di dalam hati, akan bertambah pula kebingungan si hamba. Hingga ia jatuh ke dalam bid’ah, kesesatan, dan perkara yang membinasakan tanpa ia sadari. Sebagaimana orang buta yang keluar sendirian di malam yang gelap dengan berjalan kaki.

Bila kegelapan itu semakin pekat akan tampaklah tandanya di mata si hamba. Terus demikian, hingga tampak di wajahnya yang menghitam yang terlihat oleh semua orang.

5. Maksiat akan melemahkan hati dan tubuh, karena kekuatan seorang mukmin itu bersumber dari hatinya. Semakin kuat hatinya semakin kuat tubuhnya. Adapun orang fajir/pendosa, sekalipun badannya tampak kuat, namun sebenarnya ia selemah-lemah manusia.

6. Maksiat akan ‘memperpendek‘ umur dan menghilangkan keberkahannya, sementara perbuatan baik akan menambah umur dan keberkahannya. Mengapa demikian? Karena kehidupan yang hakiki dari seorang hamba diperoleh bila hatinya hidup. Sementara, orang yang hatinya mati walaupun masih berjalan di muka bumi, hakikatnya ia telah mati. Oleh karenanya Allah l menyatakan orang kafir adalah mayat dalam keadaan mereka masih berkeliaran di muka bumi:

أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ

“Mereka itu adalah orang-orang mati yang tidak hidup.” (An-Nahl: 21)

Dengan demikian, kehidupan yang hakiki adalah kehidupan hati. Sedangkan umur manusia adalah hitungan kehidupannya. Berarti, umurnya tidak lain adalah waktu-waktu kehidupannya yang dijalani karena Allah l, menghadap kepada-Nya, mencintai-Nya, mengingat-Nya, dan mencari keridhaan-Nya. Di luar itu, tidaklah terhitung sebagai umurnya.

Bila seorang hamba berpaling dari Allah l dan menyibukkan diri dengan maksiat, berarti hilanglah hari-hari kehidupannya yang hakiki. Di mana suatu hari nanti akan jadi penyesalan baginya:

يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

“Aduhai kiranya dahulu aku mengerjakan amal shalih untuk hidupku ini.” (Al-Fajr: 24)

7. Satu maksiat akan mengundang maksiat lainnya, sehingga terasa berat bagi si hamba untuk meninggalkan kemaksiatan. Sebagaimana ucapan sebagian salaf: “Termasuk hukuman perbuatan jelek adalah pelakunya akan jatuh ke dalam kejelekan yang lain. Dan termasuk balasan kebaikan adalah kebaikan yang lain. Seorang hamba bila berbuat satu kebaikan maka kebaikan yang lain akan berkata, ‘Lakukan pula aku.’ Bila si hamba melakukan kebaikan yang kedua tersebut, maka kebaikan ketiga akan berucap yang sama. Demikian seterusnya. Hingga menjadi berlipatgandalah keuntungannya, kian bertambahlah kebaikannya. Demikian pula kejelekan….”

8. Maksiat akan melemahkan hati dan secara perlahan akan melemahkan keinginan seorang hamba untuk bertaubat dari maksiat, hingga pada akhirnya keinginan taubat tersebut hilang sama sekali.

9. Orang yang sering berbuat dosa dan maksiat, hatinya tidak lagi merasakan jeleknya perbuatan dosa. Malah berbuat dosa telah menjadi kebiasaan. Dia tidak lagi peduli dengan pandangan manusia dan acuh dengan ucapan mereka. Bahkan ia bangga dengan maksiat yang dilakukannya.

Bila sudah seperti ini model seorang hamba, ia tidak akan dimaafkan, sebagaimana berita dari Rasulullah n:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلاَّ الْـمُجَاهِرِيْنَ، وَإِنَّ مِنَ الْـمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَََّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ فيَقُوْلُ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَة كَذَا وَكَذَا. وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ

“Setiap umatku akan dimaafkan kesalahan/dosanya kecuali orang-orang yang berbuat dosa dengan terang-terangan. Dan termasuk berbuat dosa dengan terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu dosa di waktu malam dan Allah menutup perbuatan jelek yang dilakukannya tersebut2 namun di pagi harinya ia berkata pada orang lain, “Wahai Fulan, tadi malam aku telah melakukan perbuatan ini dan itu.” Padahal ia telah bermalam dalam keadaan Tuhannya menutupi kejelekan yang diperbuatnya. Namun ia berpagi hari menyingkap sendiri tutupan (tabir) Allah yang menutupi dirinya.” (HR. Al-Bukhari no. 6069 dan Muslim no. 7410)

10. Setiap maksiat yang dilakukan di muka bumi ini merupakan warisan dari umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah l.

Perbuatan homoseksual adalah warisan kaum Luth.

Mengambil hak sendiri lebih dari yang semestinya dan memberi hak orang lain dengan menguranginya, adalah warisan kaum Syu’aib.

Berlaku sombong di muka bumi dan membuat kerusakan adalah warisan dari kaum Fir’aun.

Sombong dan tinggi hati adalah warisan kaum Hud.

11. Maksiat merupakan sebab dihinakannya seorang hamba oleh Rabbnya.

Bila Allah l telah menghinakan seorang hamba maka tak ada seorang pun yang akan memuliakannya.

وَمَنْ يُهِنِ اللهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ

“Siapa yang dihinakan Allah niscaya tak ada seorang pun yang akan memuliakannya.” (Al-Hajj: 18)

Walaupun mungkin secara zhahir manusia menghormatinya karena kebutuhan mereka terhadapnya atau mereka takut dari kejelekannya, namun di hati manusia ia dianggap sebagai sesuatu yang paling rendah dan hina.

12. Bila seorang hamba terus menerus berbuat dosa, pada akhirnya ia akan meremehkan dosa tersebut dan menganggapnya kecil. Ini merupakan tanda kebinasaan seorang hamba. Karena bila suatu dosa dianggap kecil maka akan semakin besar di sisi Allah l.

Al-Imam Al-Bukhari v dalam Shahih-nya (no. 6308) menyebutkan ucapan sahabat yang mulia Ibnu Mas’ud z:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا

“Seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia duduk di bawah sebuah gunung yang ditakutkan akan jatuh menimpanya. Sementara seorang fajir/pendosa memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di atas hidungnya, ia cukup mengibaskan tangan untuk mengusir lalat tersebut.”

13. Maksiat akan merusak akal. Karena akal memiliki cahaya, sementara maksiat pasti akan memadamkan cahaya akal. Bila cahayanya telah padam, akal menjadi lemah dan kurang.

Sebagian salaf berkata: “Tidaklah seseorang bermaksiat kepada Allah l hingga hilang akalnya.”

Hal ini jelas sekali, karena orang yang hadir akalnya tentunya akan menghalangi dirinya dari berbuat maksiat. Ia sadar sedang berada dalam pengawasan-Nya, di bawah kekuasaan-Nya, ia berada di bumi Allah l, di bawah langit-Nya dan para malaikat Allah l menyaksikan perbuatannya.

14. Bila dosa telah menumpuk, hatipun akan tertutup dan mati, hingga ia termasuk orang-orang yang lalai. Allah l berfirman:

كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ مَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (Al-Muthaffifin: 14)

Al-Hasan Al-Bashri v berkata menafsirkan ayat di atas: “Itu adalah dosa di atas dosa (bertumpuk-tumpuk) hingga mati hatinya.”3

15. Bila si pelaku dosa enggan untuk bertaubat dari dosanya, ia akan terhalang dari mendapatkan doa para malaikat. Karena malaikat hanya mendoakan orang-orang yang beriman, yang suka bertaubat, yang selalu mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah n. Allah l berfirman:

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ. رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ. وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Malaikat-malaikat yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabb mereka dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman, seraya berucap, ‘Wahai Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Wahai Rabb kami, masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shalih di antara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka semuanya. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha memiliki hikmah. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Orang-orang yang Engkau pelihara dari pembalasan kejahatan pada hari itu maka sungguh telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar’.” (Ghafir: 7-9)

Demikian beberapa pengaruh negatif dari perbuatan dosa dan maksiat yang kami ringkaskan dari kitab Ad-Da`u wad Dawa`, karya Al-Imam Ibnul Qayyim v hal. 85-99. Semoga dapat menjadi peringatan.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

sumber : https://asysyariah.com/pengaruh-buruk-perbuatan-dosa/

Memilih Hobi yang Bermanfaat

Setiap manusia pasti memiliki waktu luang. Di sela kesibukan belajar, bekerja, atau menjalani berbagai aktivitas kehidupan, selalu ada saat-saat ketika seseorang bebas memilih apa yang ingin ia lakukan. Pada waktu itulah manusia biasanya melakukan sesuatu yang ia sukai, yang sering disebut sebagai hobi.

Bagi sebagian orang, hobi dianggap sebagai hal yang ringan, sekadar hiburan untuk mengisi waktu senggang. Namun bagi seorang Muslim, hobi bukanlah sekadar kegiatan pengisi waktu. Ia merupakan bagian dari bagaimana seseorang menggunakan umur yang Allah amanahkan kepadanya.

Setiap detik kehidupan manusia sangat berharga. Waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali, dan setiap detik itu akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah pada hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن [أربع]: عمره فيمَ أفناه؟ وعن علمه فيمَ فعل؟ وعن ماله من أين اكتسبه؟ وفيمَ أنفقه؟ وعن جسمه فيمَ أبلاه

“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara: (1) tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; (2) tentang ilmunya, bagaimana ia mengamalkannya; (3) tentang hartanya, dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya; (4) serta tentang tubuhnya, untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengingatkan bahwa umur adalah amanah. Maka bagaimana seseorang mengisi waktu luangnya juga merupakan bagian dari amanah tersebut.

Waktu luang: Nikmat besar yang sering terlupakan

Di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah kesehatan dan waktu luang. Namun ironisnya, dua nikmat ini justru sering tidak disadari oleh banyak manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Banyak orang baru menyadari nilai waktu setelah kehilangan kesempatan. Ketika masa muda telah berlalu, ketika kesehatan mulai melemah, atau ketika kesempatan telah hilang, barulah seseorang menyesal karena tidak memanfaatkan waktunya dengan baik.

Allah bahkan bersumpah dengan waktu dalam Al-Qur’an,

وَالْعَصْرِ  إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

“Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al-‘Asr: 1–2)

Islam tidak melarang hiburan

Sebagian orang beranggapan bahwa agama melarang kesenangan atau hiburan. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Islam adalah agama yang sangat memahami dan menjaga fitrah manusia. Allah menciptakan manusia dengan kebutuhan untuk beristirahat, bersantai, dan menikmati kehidupan dunia dalam batas yang diperbolehkan.

Allah berfirman,

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ  قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ  كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?’ Katakanlah, ‘Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari kiamat.’ Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk kaum yang mengetahui.” (QS. Al-A‘raf: 32)

Ayat ini menunjukkan bahwa pada dasarnya, menikmati hal-hal yang baik adalah sesuatu yang diperbolehkan, selama tidak melanggar batas syariat.

Di antara hadis tentang permainan dan hiburan yang dilakukan pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat adalah hadis tentang orang-orang Habasyah yang bermain tombak di masjid. Dari Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

رَأيتُ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يَستُرُني برِدائِه، وأنا أنظُرُ إلى الحَبَشةِ يَلعَبونَ في المَسجِدِ، حتَّى أكونَ أنا التي أسأمُ، فاقدُروا قدرَ الجاريةِ الحَديثةِ السِّنِّ، الحَريصةِ على اللَّهوِ

“Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menutupiku dengan selendang beliau, sementara aku melihat orang-orang Habasyah bermain di masjid. Beliau membiarkanku melihat hingga aku sendiri yang merasa bosan. Maka pahamilah keadaan seorang gadis muda yang senang terhadap hiburan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka bermain dengan tombak dan perisai sebagai bentuk latihan ketangkasan.

Ada pula hadis tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlomba lari dengan Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha,

سابقتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ فسبقتُهُ ، فلمَّا حملتُ اللحمَ سابقتُهُ فسبقني ، فقال : هذهِ بتِلْكَ

“Aku pernah berlomba lari dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku mengalahkannya. Ketika tubuhku mulai berisi, aku berlomba lagi dengan beliau. Beliau pun mengalahkanku. Beliau berkata, ‘Kemenangan ini sebagai balasan kemenangan yang dahulu.’” (HR. Ath-Thahawi dan Abu Dawud)

Ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang hiburan, tetapi mengaturnya agar tetap berada dalam batas yang benar. Hiburan yang diperbolehkan dapat menjadi sarana untuk menyegarkan jiwa setelah kelelahan menjalani aktivitas. Namun, hiburan tidak boleh menjadi tujuan hidup atau membuat seseorang lalai dari kewajiban.

Hobi yang mendekatkan diri kepada Allah

Hobi yang paling baik adalah hobi yang membantu seseorang menjadi lebih baik dalam agama maupun dalam kehidupan. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Carilah dengan apa yang Allah berikan kepadamu negeri akhirat, dan janganlah engkau melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

Ayat ini mengajarkan keseimbangan. Seorang Muslim tidak meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi juga tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.

Beberapa contoh hobi yang bermanfaat antara lain:

– Membaca buku dan menuntut ilmu;

– Menghafal Al-Qur’an;

– Menulis dan berdakwah;

– Berolahraga untuk menjaga kesehatan;

– Berkebun atau memelihara tanaman;

– Belajar keterampilan baru yang bermanfaat.

Aktivitas seperti ini bukan hanya mengisi waktu, tetapi juga memberi nilai positif bagi kehidupan seseorang.

Mengubah hobi menjadi ibadah

Salah satu keindahan ajaran Islam adalah bahwa perkara yang mubah bisa berubah menjadi ibadah jika disertai niat yang benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Misalnya:

– Olahraga diniatkan untuk menjaga kesehatan agar kuat beribadah;

– Menulis diniatkan untuk menyebarkan ilmu;

– Berkebun diniatkan untuk memberi manfaat bagi keluarga.

Dengan niat yang benar, aktivitas yang tampaknya sederhana bisa menjadi amal yang bernilai pahala.

Hobi yang menguatkan fisik dan mental

Islam juga mendorong umatnya untuk memiliki fisik yang kuat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المؤمنُ القويُّ خيرٌ وأحبُّ إلى اللهِ من المؤمنِ الضعيفِ وفي كلٍ خيرٌ

“Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing ada kebaikan.” (HR. Muslim)

Dalam beberapa riwayat, disebutkan anjuran untuk mempelajari keterampilan seperti:

– Memanah;

– Berkuda;

– Berenang.

Aktivitas seperti ini tidak hanya melatih kekuatan fisik, tetapi juga melatih disiplin, kesabaran, dan keberanian.

Bahaya hobi yang tidak terarah

Sebaliknya, tidak semua hobi membawa kebaikan. Sebagian hobi justru dapat menghabiskan waktu tanpa manfaat. Allah berfirman,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا

“Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian secara sia-sia?” (QS. Al-Mu’minun: 115)

Hobi yang tidak terarah dapat menyebabkan berbagai dampak negatif, seperti:

– Lalai dari ibadah;

– Menghabiskan waktu berlebihan;

– Menimbulkan kecanduan hiburan;

– Mengurangi produktivitas;

– Melemahkan semangat menuntut ilmu.

Padahal, setiap detik waktu adalah bagian dari umur yang tidak akan kembali.

Pada akhirnya, hobi bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang, tetapi bagian dari bagaimana seseorang menjalani hidupnya. Seorang Muslim hendaknya memahami bahwa waktu adalah nikmat sekaligus amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, memilih hobi yang bermanfaat merupakan bentuk kecerdasan dalam memanfaatkan umur.

Islam tidak melarang hiburan dan kesenangan, selama tetap berada dalam batas yang halal dan tidak melalaikan dari kewajiban. Bahkan, hobi dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah apabila dilakukan dengan niat yang baik dan memberi manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Maka hendaknya seorang Muslim memilih aktivitas yang dapat menambah ilmu, menjaga kesehatan, menguatkan mental, serta memperbaiki akhlak dan produktivitas. Jangan sampai waktu habis hanya untuk hal yang sia-sia, sementara umur terus berkurang setiap harinya.

Semoga Allah menjadikan waktu-waktu kita penuh keberkahan, memberikan taufik untuk memanfaatkan usia dalam kebaikan, dan menjadikan setiap aktivitas yang kita lakukan bernilai ibadah di sisi-Nya. Aamiin.

Wallahu Ta’ala a’lam.

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

suumber: https://muslim.or.id/115891-hobi-yang-bermanfaat.html

Bisa Jadi Ajalmu sudah Dekat

Maut tidak ada yang mengetahui kapan datangnya melainkan Allah Ta’ala semata, tetapi dia pasti mendatangi setiap yang bernyawa, maka jauhilah hal-hal yang tidak bermanfaat selama hidup.

( كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ) [آل عمران : 185]

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari. kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185).

(إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ) [لقمان: 34 ]

Artinya: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Lukman: 34).

✒️ Ustadz Ahmad Zainuddin, hafizhahullah⁠ (https://muslim.or.id/8076-ingat-mati-2.html)

sumber : https://radiomuslim.com/bisa-jadi-ajalmu-sudah-dekat/

[Kitabut Tauhid 10] 32 Mencintai Allah 20

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Diantara indikasi dan konsekuensi mencintai Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah mencintai orang-orang yang dicintai oleh Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, dan mereka adalah :

  • Para Shahabat Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  • Ahlu Bait (Kerabat) Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  • Istri-Istri Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Anjuran Memperindah Bacaan Al-Quran

Dua hadits ini menunjukkan bagaimana bagusnya suara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kita dianjurkan memperindah suara ketika membaca Al-Qur’an.

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan)

بَابُ اسْتِحْبَابِ تَحْسِيْنِ الصَّوْتِ بِالقُرْآنِ وَطَلَبِ القِرَاءَةِ مِنْ حَسَنِ الصَّوْتِ وَالاِسْتِمَاعِ لَهَا

Bab 182. Sunnahnya Memperindah Suara Ketika Membaca Al-Qur’an dan Meminta Orang Lain Membacanya Karena Suaranya yang Indah dan Mendengarkannya

Hadits #1005

وَعَنْ أَبِي مُوْسَى الأَشْعَرِي – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ لَهُ 

لَقدْ أُوتِيتَ مِزْمَاراً مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ – متفقٌ عَلَيْه

وفي رواية لمسلمٍ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ- ، قَالَ لَهُ : لَوْ رَأيْتَنِي وَأنَا أسْتَمِعُ لِقِراءتِكَ الْبَارِحَةَ  .

Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Sungguh engkau telah diberi salah satu seruling keluarga Daud.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 5048 dan Muslim, no. 793]

Sedangkan dalam salah satu riwayat Muslim disebutkan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, ‘Seandainya engkau melihatku ketika aku mendengarkan bacaaan (Qur’an)mu tadi malam.”

Faedah hadits

  1. Disebut seruling keluarga Daud pada suaranya Abu Musa artinya suara yang bagus, enak didengar, nadanya seperti seruling. Sedangkan Ali Daud yang dimaksud adalah Nabi Daud itu sendiri.
  2. Disunnahkan memperbagus suara dalam membaca Al-Qur’an karena hal itu membuat Al-Qur’an enak untuk didengar dan masuk ke dalam hati para pendengarnya.
  3. Disunnahkan mendengarkan Al-Qur’an dan diam.
  4. Hendaklah memperbagus bacaan Al-Qur’an dengan memperhatikan kaidah tajwid.

Referensi:

  • Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:211.
  • Nuzhah Al-Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursalim. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Dr. Musthafa Al-Bugha, dkk. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. hlm. 397.

Hadits #1006

وَعَنِ البَراءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : سَمِعْتُ النبيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَرَأَ فِي الْعِشَاءِ بالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ ، فَمَا سَمِعْتُ أحَداً أحْسَنَ صَوْتاً مِنْهُ . متفقٌ عَلَيْهِ .

Dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al-Qur’an pada shalat Isyak. Ketika itu beliau membaca surah At-Tiin. Aku belum pernah mendengar suara yang paling indah daripada beliau.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 7546 dan Muslim, no. 177/464]

Hadits #1007

وَعَنْ أَبِي لُبَابَةَ بَشِيْرِ بْنِ عَبْدِ المُنْذِرِ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- ، قَالَ : (( مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالقُرْآنِ فَلَيْسَ مِنَّا )) رواه أَبُو داود بإسنادٍ جيدٍ .

معنى (( يَتَغَنَّى )) : يُحَسِّنُ صَوْتَهُ بِالقُرْآنِ .

Dari Abu Lubabah Basyir bin ‘Abdul Mundzir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa tidak memperindah suaranya ketika membaca Al-Qur’an, maka ia bukan dari kami.” (HR. Abu Daud, no. 1472 dengan sanad yang jayyid/baik). [HR. Abu Daud, no. 1471, sanad hadits ini sahih].

Arti yatghanna adalah memperindah suara ketika membaca Al-Qur’an.

Faedah hadits

  1. Pada shalat Isyak, disunnahkan membaca surah qishar al-mufashshal. Surah al-mufashshal adalah surah dari Qaaf hingga surah An-Naas. Inilah pendapat sahih dari pendapat para ulama yang ada. Surah ini dinamakan al-mufashshal karena banyak fashl-nya (pemisahnya) dalam surah-surahnya, lalu dipisah dengan basmalah antara surah. Surah al-mufhashshal dibagi menjadi tiga: (a) thiwaal al-mufashshal, yang panjang, yaitu dari surah Qaaf hingga surah ‘Abasa, (b) awsath al-mufashshal, yang pertengahan, yaitu dari surah thiwaal al-mufashshal hingga surah Adh-Dhuha, dan (c) qishaar al-mufashshal, yang pendek, yaitu sisanya hingga surah An-Naas.
  2. Disunnahkan memperbagus bacaan Al-Qur’an, tanpa ada lahn (kesalahan).
  3. Memperbagus bacaan di sini bukan dengan melagukan seperti musik.
  4. Bukan termasuk golongan kami, maksudnya adalah bukan orang-orang yang mengambil petunjuk kami.
  5. Suara yang bagus mengakibatkan Al-Qur’an itu menjadi indah dan berpengaruh besar untuk dihayati.

Referensi:

  • Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:211-213.
  • Nuzhah Al-Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursalim. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Dr. Musthafa Al-Bugha, dkk. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. hlm. 398.

Diselesaikan 28 Safar 1445 H, 14 September 2023 di perjalanan Pondok DS Panggang – Jogja

Muhammad Abduh Tuasikal 

Sumber https://rumaysho.com/37513-anjuran-memperindah-bacaan-al-quran.html

Allah Memasukkan Manusia ke Surga dan Neraka dengan Keadilan-Nya

Memasukkan surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻ

Memasukkan surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻ. Tidak ada yang bisa mengintervensi keputusan ini. Namun, Allah ﷻ memberikan ketetapan bahwa siapa saja yang kafir akan masuk neraka, dan siapa saja yang beriman akan masuk surga. Sehingga siapapun yang beriman, meskipun banyak maksiatnya, bisa saja Allah ﷻ masukkan ke surga tanpa azab. Begitupun sebaliknya, seseorang yang banyak melakukan kebaikan, tetapi ia pada akhirnya mati dalam kekafiran, maka tempatnya di neraka.

Kepastian secara umum ini disandarkan kepada firman Allah ﷻ dalam surah Al-Bayyinah,

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ وَٱلْمُشْرِكِينَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ شَرُّ ٱلْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari ahli kitab dan orang-orang yang musyrik itu di neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ خَيْرُ ٱلْبَرِيَّةِ جَزَآؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۖ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِىَ رَبَّهُۥ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka adalah surga ‘Adn yang sungai-sungai mengalir di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang yang takut kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Bayyinah: 7-8)

Dan masih banyak ayat yang semisal demikian.

Kasus ahli ibadah yang masuk neraka dan ahli maksiat yang masuk surga

Keadaan seorang ahli ibadah berakhir di neraka sebagaimana ahli maksiat masuk surga adalah sebuah kenyataan yang ditegaskan oleh Nabi ﷺ. Namun, hal ini tidak terjadi semata-mata tanpa alasan. Berikut ini beberapa riwayat yang mengabarkan hal demikian dan beragam sebabnya:

Pertama: Ketika akhir hayat seseorang berkebalikan dengan riwayat hidupnya

فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

“Demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya di antara kamu ada orang yang melakukan perbuatan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal sehasta. Akan tetapi, catatan mendahuluinya, sehingga dia akhirnya melakukan perbuatan ahli neraka, ia pun masuk ke neraka. Sesungguhnya di antara kamu ada orang yang melakukan perbuatan ahli neraka sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal sehasta. Akan tetapi, catatan mendahuluinya, akhirnya dia melakukan perbuatan ahli surga, ia pun masuk ke surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apa yang terjadi pada orang ini sangat menunjukkan bahwasanya memasukkan orang ke surga atau neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻ. Hal ini oleh sebagian orang dijadikan sebagai bahan untuk menyerang bahwa Allah ﷻ telah bersikap tidak adil kepada ahli ibadah tersebut. Padahal, justru ini adalah bentuk keadilan Allah ﷻ. Diterangkan oleh para ulama bahwasanya ahli ibadah semacam ini tidak serta-merta masuk ke neraka hanya karena satu perbuatan, melainkan ia menyimpan kemunafikan berupa:

1) Ahli ibadah tersebut beribadah dengan niat yang tidak murni untuk Allah, alias riya. Akan datang keterangan hadis untuk membahas kemungkinan ini pada subpoin keempat.

2) Ahli ibadah tersebut menyimpan maksiat tersembunyi seakan-akan ia tidak takut kepada Allah ﷻ dalam melakukan hal tersebut. Keterangan hadis ini akan dijabarkan pada subpoin kelima.

Kedua: Ahli maksiat masuk surga karena masih ada iman di hatinya

Nabi ﷺ bersabda,

يَخْرُحُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنَ اْلإِيْمَانِ

“Akan keluar dari neraka orang yang di dalam hatinya masih ada iman seberat dzarrah.” (HR. Tirmidzi,  dinilai hasan sahih)

Ketiga: Ahli maksiat masuk surga sebab syafaat dari Nabi ﷺ untuk umatnya

Nabi ﷺ bersabda,

لَيَخْرُجَنَّ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِيْ مِنَ النَّارِ بِشَفَاعَتِيْ يُسَمَّوْنَ الْجَهَنَّمِيُّوْنَ

“Sungguh satu kaum dari umatku akan keluar dari neraka dengan sebab syafaatku, mereka disebut jahannamiyyun (para mantan penghuni neraka Jahanam).” (HR. Tirmidzi, dinilai hasan sahih)

Keempat: Ahli ibadah masuk neraka karena niatnya tidak murni untuk Allah ﷻ

إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ

“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang diberikan di dunia, lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman, ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan sebagai seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan tentang dirimu.’ Kemudian diperintahkan malaikat agar menyeret orang itu di atas mukanya, lalu dilemparkan ke dalam neraka …”

Dalam hadis yang panjang ini, disebutkan ada tiga orang yang pertama kali masuk neraka. Hal yang mengherankan adalah justru yang masuk neraka pertama kali tersebut ialah para ahli ibadah di dunia, yakni:

1) ahli perang membela agama;

2) ahli ilmu yang semangat belajar dan mengajarkan ilmu, khususnya Al-Quran;

3) ahli sedekah yang berkorban bagi umat.

Namun, karena ia tidak melakukannya karena Allah ﷻ, melainkan hanya untuk mendapatkan pujian manusia atau setidaknya tidak menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan, maka ia mendapatkan ganjaran berupa dimasukkan ke dalam neraka. Padahal, secara zahirnya, mereka ini adalah seorang mukmin dan dihukumi di dunia sebagai orang taat.

Kelima: Ahli ibadah yang bermaksiat di kala sepi

Dari Tsauban, dari Nabi ﷺ, ia berkata,

لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun, Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.”

Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka kepada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka, sedangkan kami tidak mengetahuinya.”

قَالَ :  أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

Rasulullah ﷺ bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi, mereka adalah kaum yang jika sedang bersendirian, mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245)

Ini adalah bentuk kemunafikan dan ketidakjujuran dalam amal. Seseorang yang menampakkan keimanan di tengah manusia, tetapi ketika berduaan kepada Allah ﷻ, hilanglah rasa takutnya. Seakan-akan mata manusia lebih ia takuti daripada Allah ﷻ. Berhati-hatilah siapapun di antara kita dari ancaman Rasulullah ﷺ kepada ahli ibadah yang masih gemar bermaksiat di kala sepinya.

Dari kasus yang disebutkan di atas, kita dapat simpulkan bahwasanya kejadian ahli ibadah masuk neraka dan sebaliknya itu didasarkan pada alasan yang jelas. Semua penjelasan tersebut justru menunjukkan keadilan dan kebijaksanaan Allah ﷻ.

Siapa yang boleh dipersaksikan masuk surga atau neraka?

Kita tidak bisa memastikan person siapapun masuk surga dan neraka karena perkara ini adalah perkara gaib. Sehingga, hanya wahyu atau khabar shadiq yang bisa menjadi sumber relevan di sini. Ini adalah pendapat umumnya para ulama.

Sebagian pendapat menyebutkan bahwa ada sumber lain yang menjadikan kita boleh mempersaksikan seseorang masuk surga atau neraka. Keadaan itu adalah jika kaum mukminin memberikan persaksian semisal, sebagaimana yang disebutkan dalam Ash-Shahihain,

مُرَّ بِجِنَازَةٍ، فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا بِخَيْرٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: وَجَبَتْ، وَمُرَّ بِأُخْرَى، فَأُثْنِيَ عَلَيْهَا بِشَرٍّ، فَقَالَ: وَجَبَتْ. وَفِي رِوَايَةٍ كَرَّرَ: وَجَبَتْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَقَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا وَجَبَتْ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ

“Dilewatkan jenazah lalu mereka memujinya dengan kebaikan, maka Nabi mengatakan, ‘Wajib.’ Kemudian dilewatkan jenazah lainnya, maka ia dicela dengan keburukan, maka Nabi mengatakan, ‘Wajib.’ Umar bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah yang wajib?” Beliau menjawab, ‘Orang ini kalian puji dengan kebaikan, maka wajib baginya surga. Sedangkan orang ini kalian cela dengan keburukan, maka wajib baginya neraka. Kalian adalah para saksi Allah di muka bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda,

تُوشِكُونَ أَنْ تَعْلَمُوا أَهْلَ الْجَنَّةِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، قَالُوا: بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: بِالثَّنَاءِ الْحَسَنِ وَالثَّنَاءِ السَّيِّئِ

“Hampir saja kalian akan mengetahui siapa ahli surga dan ahli neraka. Mereka berkata, “Dengan cara apa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dengan pujian dan celaan.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad, dinilai hasan oleh Syekh Syuaib Al-Arnauth.)

Ada keterangan dari Ibnu Abil Izz rahimahullah yang cukup menghimpun segala permasalahan tentang vonis surga dan neraka bagi seseorang,

إِنَّهُ لَا بُدَّ أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ مِنْ أَهْلِ الْكَبَائِرِ مَنْ يَشَاءُ اللَّهُ إِدْخَالَهُ النَّارَ، ثُمَّ يَخْرُجُ مِنْهَا بِشَفَاعَةِ الشَّافِعِينَ، وَلَكِنَّا نَقِفُ فِي الشَّخْصِ الْمُعَيَّنِ، فَلَا نَشْهَدُ لَهُ بِجَنَّةٍ وَلَا نَارٍ إِلَّا عَنْ عِلْمٍ، لِأَنَّ حَقِيقَتَهُ بَاطِنَةٌ، وَمَا مَاتَ عَلَيْهِ لَا نُحِيطُ بِهِ

“Sungguh sudah pasti akan masuk neraka di antara para pelaku dosa besar, siapa saja yang dikehendaki Allah untuk dimasukkan ke dalam neraka, kemudian ia keluar darinya dengan syafaat para pemberi syafaat. Namun, kita tidak berkomentar berkenaan dengan orang tertentu. Kita tidak bersaksi untuknya dengan surga atau neraka kecuali berdasarkan ilmu, karena hakikat batinnya dan atas perkara apa ia mati, kita tidak mengetahuinya.” (Syarah Aqidah Thahawiyah, 2: 537)

لَكِنْ نَرْجُو لِلْمُحْسِنِ، وَنَخَافُ عَلَى الْمُسِيءِ

“Namun, kita berharap (surga) untuk orang-orang yang berbuat kebajikan; dan kami mengkhawatirkan (neraka) untuk orang yang berbuat keburukan.”

Sebagaimana Allah ﷻ berfirman,

إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya rahmat Allah ﷻ amatlah dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raf: 56)

Kita tidak dituntut untuk menelisik hati manusia

Pembahasan panjang ini seharusnya tidak menjadikan kita sebagai orang yang sibuk mengejar kondisi hati manusia. Justru dengan adanya pembahasan ini, kita hendaknya menjadi orang yang paling merasa tidak tahu dengan keadaan hati manusia. Mungkin inilah di antara hikmah pembahasan ini dimasukkan dalam kitab akidah. Karena keadaan hati manusia adalah perkara gaib, Allah ﷻ semata yang mengetahuinya secara pasti. Adapun kita, hanya melihat refleksinya dalam amal perbuatan dan tidak dapat memastikannya. Ingatlah wasiat Rasulullah ﷺ kepada kita semua,

إِنِّيْ لَمْ أُوْمَرْ ، أَنْ أُنَقِّبَ عَلَى قُلُوْبِ النَّاسِ ، وَلاَ أَشُقَّ بُطُوْنَهُم

“Sesungguhnya aku tidak diperintah untuk menyelidiki (memeriksa) hati mereka dan tidak pula untuk membedah perut mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Janganlah kita menjadi hakim bagi hati orang lain. Janganlah pula kita menjadi jumawa dengan amalan kita. Bisa jadi amalan yang kita tumpuk hari ini, Allah ﷻ sia-siakan karena maksiat kita yang melampaui batas. Inilah model kehidupan seorang ahlussunnah, ia hidup dalam keseimbangan rasa takut dan harap. Takut amalannya tertolak, tetapi penuh harap agar amalannya diterima.

Jawaban syubhat Islam tidak memberi jaminan surga bagi pemeluknya

Hal ini juga menjadi bantahan bagi orang yang membawa syubhat bahwa muslim tidak yakin masuk surga. Syubhat ini dihembuskan oleh banyak orang kafir seperti para penginjil yang mengatakan, “Masuklah agama kami, karena surga telah dijamin bagi orang yang percaya kepada Kristus. Sedangkan Muhammad tidak memberikan jaminan bagi pengikutnya.”

Perkataan ini sangat dusta. Mengapa? Karena Nabi ﷺ, baik melalui hadis maupun Kalamullah, semuanya memberikan kepastian bahwa siapa saja yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, pastilah masuk surga. Bahkan, Nabi diberikan hak syafaat khusus untuk umatnya, suatu keistimewaan yang tidak dimiliki umat yang lain.

Hanya saja, kitalah umatnya yang dituntut untuk memenuhi standar orang beriman yang telah disebutkan. Justru ini adalah konsep yang paling adil dan masuk akal, sebab orang yang berusaha akan mendapatkan apa yang diusahakannya. Sedangkan mereka yang bermaksiat, selagi masih memiliki iman, tetap mendapatkan harapan masuk ke dalam surga Allah ﷻ.

Kesimpulan

Ketentuan ini bagi orang beriman tidak menjadikan ia merasa aman untuk melakukan maksiat. Namun, justru menjadikan diri seorang mukmin terus semangat beramal dan khawatir dengan ancaman neraka dengan berimbang. Keimanan yang dilandasi ilmu yang benar akan mendatangkan ketenangan.

Muthar Al-Warraq rahimahullah berkata,

تنجزوا موعود الله بطاعته ، فإنه قضى أن رحمته قريب من المحسنين

“Raihlah janji Allah dengan menaati-Nya, karena Dia telah menetapkan bahwa rahmat-Nya dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan.” (HR. Ibnu Abi Hatim)

Semoga jawaban para ulama yang diambil dari firman Allah ﷻ ini dapat mencegah masuknya keyakinan-keyakinan yang salah seputar hikmah dan keadilan Allah ﷻ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ

Maha Suci Tuhanmu, Yang Mempunyai Keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan.

[Selesai]

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id

Referensi:

Syarah Aqidah Thahawiyah, karya Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah, cet. Ar-Risalah.

Tafsir Al-Quran Al-Azhim, karya Ibnu Katsir rahimahullah, via tafsir.app.

Catatan hadis berdasarkan takhrij Syekh Syuaib Al-Arnauth rahimahullah.

sumber: https://muslim.or.id/115852-allah-memasukkan-manusia-ke-surga-dan-neraka-dengan-keadilan-nya-bag-3.html

Saat Futur Melanda

ertambah dan berkurangnya iman adalah bagian dari sunatullah atas makhluk-Nya, yaitu manusia. Nikmat nafsu dan akal yang menjadi pembeda antara manusia dan makhluk lainnya menunjukkan kesempurnaan ciptaan Allah.

Iman yang berkurang, populer dengan sebutan futurFutur dipahami dengan arti kemalasan, suka menunda, tidak bergairah, dan tidak bersemangat untuk melakukan berbagai kebaikan, khususnya ibadah-ibadah sunah yang disyariatkan.

Futur merupakan hal biasa dialami oleh siapa pun. Tetapi, bayangkan jika kita terus menerus dalam keadaan futur. Adakah jaminan, jika tanpa segera memperbaharui iman (dengan meningkatkan ketaatan kepada Allah), kita kemudian tidak terjerumus dalam level futur paling rendah, bahkan jatuh kepada kekufuran? Wal’iyadzubillah

Tantangan futur

Mari kita renungkan sejenak. Ketika futur melanda, rasanya memang untuk melaksanakan kewajiban saja cukup berat. Konon lagi hal-hal yang sunah. Contoh, melakukan salat sunah rawatib terasa berat, puasa Senin-Kamis seperti sulit sekali, bahkan untuk berzikir yang hanya dengan gerakan mulut pun kita seakan tak sanggup melakukannya.

Oleh karenanya, sebagai seorang mukmin kita tidak boleh membiarkan hal ini terus terjadi. Saat-saat seperti inilah, godaan setan yang mengancam keutuhan iman kita bisa datang dari berbagai arah.

Jangan hanya menunggu hidayah itu datang, tetapi jemputlah hidayah itu. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi,

يا عبادي كلُّكم ضالٌّ إلَّا من هديتُه ، فاستهدوني أهدِكُ

“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua adalah tersesat, kecuali yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu petunjuk.” (HR. Muslim no. 2577, dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu)

Pelajaran dari orang-orang terdahulu

Belajar dari orang-orang terdahulu, sebagian besar dari mereka ketika tidak ada niat, tekad, dan ikhtiar untuk menggapainya, maka hidayah itu pun tak kunjung datang hingga ajal menjemput.

Meskipun orang-orang di sekitarnya berupaya semaksimal mungkin mengarahkan mereka kepada keimanan yang kokoh dan mengajak mereka dengan susah payah untuk bangkit dari kefuturan. Namun, ketika individu tersebut pada dasarnya tidak memiliki niat, tekad, dan ikhtiar untuk kembali meniti jalan ilahi, tentu hidayah itu akan semakin sulit didapat.

Saudaraku, lihatlah! Betapa dekatnya hubungan antara anak dan ayah, seperti Habil bin Adam ‘alaihissalamKan’an bin Nuh ‘alaihissalam, dan Ibrahim ‘alaihissalam bin Azar. Atau antara suami dan istri, seperti halnya Walilah istri Nabi Luth ‘alaihissalam. Serta, kedekatan antara seorang keponakan dan paman, seperti antara Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sang paman Abu Talib.

Begitu dekatnya mereka dengan para Rasul shalawatullah ‘alaihim. Tetapi, hidayah tak kunjung mereka dapatkan. Bahkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun tidak punya kuasa untuk memberikan hidayah kepada paman yang dicintainya.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهۡدِی مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ یَهۡدِی مَن یَشَاۤءُۚ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِینَ

“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qasas: 56)

Di zaman ini, tak jarang pula kita jumpai orang-orang yang dulunya dikenal dengan kesalehannya dan ketaatannya, tapi tak disangka ia pun berubah dan justru kini menjadi terbiasa melakukan kemaksiatan dan kemungkaran. Wal’iyadzubillah.

Kekufuran bermula dari kefuturan

Saudaraku, sungguh kita tidak tahu takdir yang telah ditetapkan Allah Ta’ala atas kita dalam lauh mahfudz-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فوالَّذي لا إلَهَ غيرُهُ إنَّ أحدَكُم ليعملُ بعملِ أَهْلِ الجنَّةِ حتَّى ما يَكونُ بينَهُ وبينَها إلَّا ذراعٌ ثمَّ يسبِقُ علَيهِ الكتابُ فيُختَمُ لَهُ بعملِ أَهْلِ النَّارِ فيدخلُها ، وإنَّ أحدَكُم ليعملُ بعملِ أَهْلِ النَّارِ حتَّى ما يَكونَ بينَهُ وبينَها إلَّا ذراعٌ ثمَّ يسبِقُ علَيهِ الكتابُ فيُختَمُ لَهُ بعملِ أَهْلِ الجنَّةِ فيَدخلُها

“Demi Allah, Zat yang tidak ada sesembahan yang hak, selain Dia. Sesungguhnya salah seorang dari kalian, benar-benar beramal dengan amalan penduduk jannah (surga) sehingga jarak antara dia dengan jannah itu tinggal sehasta. Namun, dia didahului oleh al-kitab (catatan takdirnya) sehingga dia beramal dengan amalan penduduk neraka, maka dia pun masuk ke dalamnya. Dan sungguh, salah seorang dari kalian beramal dengan amalan penduduk neraka hingga jarak antara dia dengan neraka tinggal satu hasta. Namun, dia didahului oleh catatan takdir, sehingga dia beramal dengan amalan penduduk jannah, maka dia masuk ke dalamnya.” (HR. Tirmidzi no. 2137, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

Hadis di atas semakin meyakinkan kita bahwa tiada seorang hamba pun yang tahu dan bisa menjamin akhir amalannya dan tempatnya di akhirat.

Maka, renungkanlah! Orang yang mulanya terbiasa beramal saleh saja bisa jadi di akhir hidupnya justru ia kembali melakukan kemaksiatan yang mengantarkannya ke neraka. Lalu, bagaimana lagi dengan orang yang terbiasa dengan pelanggaran syariat Allah.

Dan yang pasti, kembalinya seseorang kepada kemaksiatan dari ketaatan bermula dari kefuturan yang diremehkan yang lama kelamaan menjadi kekufuran. Wal’iyadzubillah.

Oleh karenanya, yang harus kita yakini bahwa seseorang akan dimudahkan dengan amalannya. Maka, biasakanlah diri untuk melakukan amalan saleh. Tatkala futur melanda, mohonlah pertolongan kepada Allah Ta’ala dan berikhtiarlah semaksimal mungkin untuk mempertahankan ketaatan dan menghindari kemaksiatan.

Teruslah beramal

Perhatikanlah hadis dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Suraqah bin Malik bin Ju’syum datang dan berkata,

“Wahai Rasulullah, berikanlah penjelasan kepada kami tentang agama kami, seakan-akan kami baru diciptakan sekarang. Untuk apakah kita beramal hari ini? Apakah itu terjadi pada hal-hal yang pena telah kering dan takdir yang berjalan, ataukah untuk yang akan datang?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ: لَا، بَلْ فِيمَا جَفَّتْ بِهِ الْأَقْلَامُ وَجَرَتْ بِهِ الْمَقَادِيرُ

“Bahkan, pada hal-hal yang dengannya pena telah kering dan takdir yang berjalan.”

Ia bertanya, “Lalu apa gunanya beramal?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ

“Beramallah kalian, karena masing-masing dimudahkan (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya).” (HR. Muslim no. 2648)

Ikhtiar bangkit dari futur

Pertama: Memohon pertolongan dan petunjuk dari Allah

Maka dari itu, kita mesti menyadari bahwa hal yang pertama dan utama sekali kita lakukan tatkala futur melanda adalah berdoa memohon pertolongan kepada Allah agar diberikan hidayah. Inilah makna bahwa hidayah memang harus dijemput dengan doa.

Karena semestinya segala urusan yang kita ikhtiarkan sepatutnya kita gantungkan pada pertolongan dari Allah Ta’ala sebagaimana doa zikir pagi yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Fatimah radhiyallahu ‘anha berikut,

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا

“Wahai Rabb Yang Mahahidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).” (HR. Ibnu As-Sunni no. 46)

Sungguh paripurna syariat yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam ini. Kita pun diajarkan bagaimana berdoa memohon pertolongan kepada Allah agar diberikan petunjuk dan hidayah sebagaimana doa yang tersurat dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.” (QS. Al Kahfi: 10)

Kedua: Berupaya semaksimal mungkin istikamah dalam kebaikan

Setelah berdoa dan memantapkan niat, kita pun berikhtiar untuk selalu istikamah dalam mempertahankan keimanan dan ketakwaan kita. Meski futur melanda, setidaknya untuk amalan (ibadah) wajib, kita tidak tinggalkan seberat apapun itu. Begitu pula terhadap kemaksiatan, kita tidak lakukan semenarik apapun itu.

Sungguh berarti nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

اتَّقِ اللَّهَ حيثُ ما كنتَ ، وأتبعِ السَّيِّئةَ الحسنةَ تمحُها ، وخالقِ النَّاسَ بخلقٍ حسنٍ

”Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di mana pun engkau berada. Iringilah kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya (kejelekan). Dan pergaulilah manusia dengan pergaulan yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu)

Ketiga: Merutinkan zikrullah di setiap waktu

Melakukan amalan ringan, tetapi timbangannya berat, yaitu zikrullah. Saat futur melanda, amalan sunah yang paling mudah dilakukan adalah zikrullah. Karena berzikir tidak membutuhkan energi fisik, kecuali gerakan mulut yang melantunkan kalimat-kalimat Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”. (QS. Al-Baqarah: 152)

Saudaraku, saat futur melanda, tidak ada yang kita butuhkan selain Allah Ta’ala. Oleh karena itu, yang kita butuhkan adalah bagaimana agar Allah Ta’ala ingat dengan kita lagi. Tidak ada cara lain agar mendapatkan perhatian Allah selain zikrullah.

Maka, biasakanlah untuk berzikir sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Berzikir dalam setiap aktivitas, mulai dari bangun pagi dengan membaca zikir dan doa, salat fajr dengan rawatib-nya, zikir pagi, dan berbagai amalan zikir sesuai sunah dalam setiap kegiatan yang kita lakukan.

Di antara kalimat zikir yang ringan diucapkan, tetapi berat dalam timbangan dan dicintai oleh Allah adalah sebagaimana hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan) dan dicintai oleh Ar-Rahman, yaitu subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim (Mahasuci Allah, segala pujian untuk-Nya. Mahasuci Allah Yang Mahamulia).” (HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim no. 2694)

Wallahu a’lam.

***

Penulis: Fauzan Hidayat

© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/82485-saat-futur-melanda.html