Doa Terbaikku untuk Pemimpin dan Negeri Tercinta

Resah. Iya begitulah mungkin yang kita rasakan ketika mengikuti berita dan dinamika politik di negara kita akhir-akhir ini. Sebagian dari kita mungkin sampai tersulut emosinya. Namun, ingat saudaraku, kita tidak seharusnya melakukan ataupun mengatakan sesuatu yang tidak diridai Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas rahimahullah mengatakan, “Ahlus Sunnah tidak suka dan tidak rela dengan kezaliman dan kemungkaran yang dilakukan oleh penguasa atau lainnya. Akan tetapi, cara mengingkari kemungkaran yang dilakukan oleh penguasa dan cara menasihati penguasa harus sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan atsar salafus shalih.

Menjelek-jelekkan dan membeberkan aib penguasa, serta menyebutkan kekurangannya, menampakkan kebencian kepadanya di hadapan umum atau melalui media lainnya dan mengadakan provokasi, hal tersebut bukan cara yang benar. Bahkan, cara ini menyalahi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdosa karena menyalahi sunnah, menimbulkan kerusakan dan bahaya yang lebih besar, serta tidak ada manfaatnya. Orang yang berbuat demikian akan dihinakan Allah ‘Azza Wa Jalla pada hari kiamat.” (Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ahhal. 558)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِى الدُّنْيَا أَهَانَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang memuliakan penguasa di dunia, maka Allah Tabaraka wa Ta’ala akan memuliakannya pada hari kiamat, dan barang siapa yang menghinakan penguasa di dunia, maka Allah akan hinakan dia pada hari kiamat.” [HR. Ahmad (V/42, 48-49)]

Di dalam hadis yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا، فَمَاتَ عَلَيْهِ إِلَّا مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang tidak menyukai sesuatu dari pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar terhadapnya. Sebab, tidaklah seorang manusia keluar dari penguasa lalu ia mati di atasnya, melainkan ia mati sebagaimana kondisi kematian jahiliyah.” (HR. Bukhari, no. 7053, 7054, 7143 dan Muslim, no. 1849)

Dari Zubair bin ‘Adi, ia mengatakan,

أَتَيْنَا أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ مَا نَلْقَى مِنَ الْحَجَّاجِ فَقَالَ: “اصْبِرُوا ، فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانُ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ، حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ». سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Kami pernah mendatangi Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, kami mengutarakan kepadanya keluh-kesah kami tentang (perangai buruk) al–Hajjaj. Maka Anas radhiyallahu ‘anhu menuturkan, ‘Bersabarlah kalian, karena tidaklah datang suatu zaman kepada kalian, melainkan sesudahnya itu lebih buruk daripadanya, sampai kalian menjumpai Rabb kalian. Aku (Anas) mendengar hadis ini dari Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam.’” [HR. Bukhari no. 7068, at-Tirmidzi no. 2206, Ahmad (III/117, no. 12162), (III/132, no. 12347), dan (III/117, no. 12817), Abu Ya’ala (no. 4037), Ibnu Hibban dalam at–Ta’liqatul Hisan ‘ala Shahih Ibni Hibban no. 5921]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

… إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ

“..Setelahku nanti kalian akan menemukan atsarah (pemimpin-pemimpin yang lebih mementingkan dirinya sendiri), maka bersabarlah sampai berjumpa denganku di telaga haudh.” (HR. Bukhari no. 4330, Muslim no. 1061, Ahmad, IV/42 no. 16470, dari Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu)

Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah berkata, “Apabila rakyat ingin selamat dari kezaliman pemimpin mereka, hendaknya mereka meninggalkan kezaliman itu juga.” (Lihat Syahrul ‘Aqidah athThahawiyyahhal. 543; takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki)

Jika umat Islam ingin selamat dari kezaliman para penguasa, maka hendaknya kaum muslimin bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hendaklah memperbaiki akidah dan mendidik diri dan keluarga di atas Islam yang benar. Hal ini sebagai penerapan dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Yakinlah, Allah pasti akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong agama-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

Imam al-Barbahari rahimahullah berkata, “Apabila engkau melihat seseorang mendoakan keburukan kepada pemimpin, ketahuilah bahwa orang itu termasuk salah satu pengikut hawa nafsu. Namun, apabila engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan kepada seorang pemimpin, ketahuilah bahwasannya ia termasuk Ahlus Sunnahinsya Allah. Berdasarkan perkataan Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah,

لَوْ أَنَّ لِي دَعْوَةً مُسْتَجَابَةٌ مَا جَعَلْتُهَا إِلَّا فِي السُّلْطَانِ قِيلَ لَهُ: يَا أَبَا عَلى فَسَر لَنَا هَذَا. قَالَ: إِذَا جَعَلْتُهَا فِي نَفْسِي لَمْ تَعْدُنِي، وَإِذَا جَعَلْتُهَا فِي السُّلْطَانِ صَلَحَ، فَصَلَحَ بِصَلَاحِهِ الْعِبَادُ وَالْبِلادُ

“Jikalau aku memiliki doa yang baik yang akan dikabulkan, maka semuanya akan aku tujukan bagi para pemimpin.” Ia ditanya, “Wahai Abu ‘Ali, jelaskan maksud ucapan tersebut?” Ia berkata, “Jika doa itu hanya aku tujukan bagi diriku, tidak lebih hanya bermanfaat bagi diriku. Namun apabila aku tujukan kepada pemimpin dan ternyata para pemimpin berubah menjadi baik, maka semua orang dan negara akan merasakan manfaat dan kebaikannya.” (Lihat Syarhus Sunnah, hal. 113-114, no. 127; oleh Imam al- Barbahari, tahqiq dan ta’liq ‘Abdurrahman bin Ahmad al-Jumaizi, cet. V, Dar Al Minhaj, th. 1440)

Maka doakan kebaikan bagi pemimpin kita dan negeri ini, wahai saudaraku. Tetaplah berprasangka baik kepada Allah akan masa depan negeri ini. Bagaimanapun, saat ini kita masih diberikan kemudahan untuk menjalankan syariat Allah di negeri tercinta ini. Hal ini patut untuk kita syukuri dan kita ungkapkan rasa syukur itu dengan senantiasa mendoakan dengan doa terbaik bagi para pemimpin dan masa depan Indonesia.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

***

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

Jawas, Yazid bin Abdul Qadir. 2022. Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi’i.

Sumber: https://muslimah.or.id/19734-doa-terbaikku-untuk-pemimpin-dan-negeri-tercinta.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Minum Sambil Berdiri Tidak Haram

Sebagian dari kaum muslimin bisa jadi beranggapan bahwa minum sambil berdiri itu hukumnya tidak boleh (baca: haram). Bahkan ada yang melarang langsung dengan keras tanpa disertai sikap hikmah ketika dia melihat ada orang yang minum sambil berdiri. Perlu dipahami bahwa pendapat terkuat -yang kami pegang- bahwa minum sambil berdiri hukumnya tidak sampai haram, tetapi makruh, sehingga tetap lebih utama (afdal) untuk minum sambil duduk.

Apabila ada hajat atau keadaan tidak memungkinkan untuk minum sambil duduk, maka tidak mengapa minum sambil berdiri, misalnya ketika sedang di jalan yang tidak memungkinkan duduk atau kondisi lainnya yang tidak memungkinkan duduk.

Memang terdapat beberapa hadis yang zahirnya menunjukkan terlarangnya minum sambil berdiri. Misalnya hadis berikut ini. Dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- زَجَرَ عَنِ الشُّرْبِ قَائِمًا

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang minum sambil berdiri.” (HR. Muslim)

Namun, terdapat beberapa hadis juga yang menunjukkan bahwa minum sambil berdiri itu tidak mengapa. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah minum sambil berdiri, lalu beliau berkata,

إِنَّ نَاسًا يَكْرَهُ أَحَدُهُمْ أَنْ يَشْرَبَ وَهُوَ قَائِمٌ ، وَإِنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَ كَمَا رَأَيْتُمُونِي فَعَلْتُ .

Orang-orang membenci apabila ada yang minum sambil berdiri. Sesungguhnya aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan sebagaimana apa yang aku lakukan.” (HR. Bukhari no. 5615)

Hadis-hadis ini apabila dikompromikan (digabungkan) akan menghasilkan hukum makruh. An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan,

لَيْسَ فِي هَذِهِ الأَحَادِيث بِحَمْدِ اللَّه تَعَالَى إِشْكَال , وَلا فِيهَا ضَعْف , بَلْ كُلّهَا صَحِيحَة , وَالصَّوَاب فِيهَا أَنَّ النَّهْي فِيهَا مَحْمُول عَلَى كَرَاهَة التَّنْزِيه . وَأَمَّا شُرْبه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا فَبَيَان لِلْجَوَازِ

Tidak ada masalah dari hadis-hadis tersebut -alhamdulillah-, tidak ada yang dhaif (lemah), bahkan sahih semuanya. Yang benar adalah bahwa larangan tersebut maksudnya adalah makruh. Adapun perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi  wasallam yang berdiri sambil minum menunjukkan bolehnya (ketika ada hajat, makruh menjadi boleh).” (Lihat Syarh Shahih Muslim)

Demikian juga penjelasan Syekh Abdul Azis bin Baaz rahimahullah. Beliau rahimahullah berkata,

الشرب قاعدًا أفضل، والشرب قائمًا لا بأس به، …  والقعود أفضل،

“Minum sambil duduk itu lebih baik (utama), sedangkan minum sambil berdiri hukumnya tidak mengapa … Minum sambil duduk itu lebih baik (afdal).” (Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/15965)

Hal yang hukumnya makruh itu boleh dilakukan jika ada hajat (kebutuhan), misalnya sulit untuk duduk, atau keadaan yang tidak memungkinkan lainnya. Hal ini dijelaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, beliau berkata,

أن النهي للكراهة التنزيهية، وإن فعله صلى الله عليه وسلم بيان للجواز عند الحاجة

Larangan tersebut derajatnya makruh. Sesungguhnya perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan bolehnya ketika ada hajat.” (Lihat Zaadul Ma’ad)

Kaidah fikihnya sebagai berikut,

الكَرَاهَةُ تَزُوْلُ بِالحَاجَةِ

“Sesuatu yang hukumnya makruh menjadi hilang (hukumnya) karena ada hajat (kebutuhan).

Demikian, semoga bermanfaat.

***

@Masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sambil menunggu syuru’

Penulis: Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/75494-minum-sambil-berdiri-tidak-haram.html
Copyright © 2025 muslim.or.id

Tanda Cinta Kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Imam Ahmad bin Abdul Halim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya di dunia ini ada surga, barangsiapa yang belum merasakan surga dunia ini, maka dia tidak akan merasakan surga di akhirat. Dan surga dunia adalah kelezatan iman.”

Dan seseorang tidak akan merasakan lezatnya keimanan hingga Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: أَنْ يَكُوْنَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Tiga perkara, barangsiapa yang dalam dirinya terdapat tiga hal tersebut, maka dia akan mendapatkan manisnya iman: (Pertama) Hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selainnya. (Kedua) Hendaklah ia mencintai seseorang di mana dia tidak mencintainya kecuali hanya karena Allah, dan (ketiga) hendaklah ia benci kembali kepada kekafiran seperti kebenciannya bila dia dilemparkan ke dalam api.” (Muttafaqun ‘alaih)

Maka barangsiapa yang mengaku cinta kepada Allah, hendaklah ia mengikuti jalan hidup kekasih-Nya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini sebagaimana firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Quran,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)

Banyak orang yang mengaku-ngaku cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, ketika diminta bukti nyata cintanya, mereka berpaling. Ketahuilah kecintaan itu memiliki tanda-tanda. Dan di antara tanda-tanda cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

Memiliki keinginan yang kuat untuk melihat dan menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Tentu keinginan terbesar seorang mukmin adalah bertemu dan berkumpul bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga Allah ‘azza wa jalla. Sebagaimana sahabat yang bernama Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami, beliau mengatakan,

​​كُنْتُ أَبِيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوْئِهِ وَحَاجَتِهِ، فَقَالَ لِي: سَلْ، فَقُلْتُ: أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ، قَالَ: أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ؟ قُلْتُ : هُوَ ذَاكَ، قَالَ: فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُوْدِ

“Aku pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku membawakan air wudu dan keperluan beliau, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Mintalah sesuatu (kepadaku).’ Aku katakan, ‘Aku meminta kepada Anda agar bisa menemani Anda di surga.’ Beliau bersabda, ‘Barangkali selain itu?’ Aku menjawab, ‘Itu saja permintaanku.’ Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Maka bantulah aku terhadap dirimu dengan memperbanyak sujud.’” (HR. Muslim no. 489)

Demikianlah seseorang yang jujur dalam mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, yang ketika diberikan kesempatan untuk meminta sesuatu, maka tidak ragu-ragu untuk meminta agar bisa menyertai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam; baik pada kesempatan pertama atau kedua, pasti yang diminta adalah itu dan tidak terpikir untuk menggantinya dengan permintaan yang lain.

Mengorbankan harta dan jiwa demi membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Orang yang mencintai secara jujur pasti menunggu dengan segala kerinduan dan keinginan kuat kesempatan yang memungkinkan dirinya untuk mengorbankan istirahatnya, dirinya, dan segala apa yang dimilikinya untuk membela orang yang dicintainya. Dan begitulah orang-orang yang jujur mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia dari kalangan para sahabat, telah mencatat contoh-contoh paling indah dalam hal pembelaan dan pengorbanan bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Imam Ahmad meriwayatkan kepada kita dari Al-Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata,

فَارْتَحَلْنَا وَالْقَوْمُ يَطْلُبُوْنَنَا، فَلَمْ يُدْرِكْنَا أَحَدٌ مِنْهُمْ غَيْرُ سُرَاقَةَ بْنِ مَالِكِ بْنِ جُعْشُمٍ عَلَى فَرَسٍ لَهُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، هَذَا الطَّلَبُ قَدْ لَحِقَنَا، فَقَالَ: {لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا}، حَتَّى إِذَا دَنَا مِنَّا فَكَانَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ قَدْرُ رُمْحٍ أَوْ رُمْحَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ، قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! هَذَا الطَّلَبُ قَدْ لَحِقَنَا، وَبَكَيْتُ، قَالَ: لِمَ تَبْكِي؟ قُلْتُ: أَمَا وَاللهِ، مَا عَلَى نَفْسِي أَبْكِي وَلَكِنْ أَبْكِي عَلَيْكَ. قَالَ: فَدَعَا عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: اَللَّهُمَّ اكْفِنَاهُ بِمَا شِئْتَ، فَسَاخَتْ قَوَائِمُ فَرَسِهِ إِلَى بَطْنِهاَ فِي أَرْضٍ صَلْدٍ

“… lalu kami berangkat dan orang-orang mengejar kami. Tidak ada seorang pun yang bisa menyusul kami kecuali Suraqah bin Malik bin Ju’syum dengan mengendarai seekor kuda miliknya. Maka aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, orang yang mengejar kita telah menyusul kita.’ Maka beliau bersabda, ‘Janganlah engkau berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita’ (QS. At-Taubah: 40)Hingga ketika Suraqah telah (benar-benar) mendekati kami dan jarak kami dengannya kira-kira satu, atau dua, atau tiga tombak, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, orang yang mengejar kita telah menyusul kita’, dan aku pun menangis. Maka beliau bertanya, ‘Kenapa kamu menangis?’ Aku menjawab, ‘Demi Allah, aku menangis bukan karena mengkhawatirkan keselamatan diriku, akan tetapi aku mengkhawatirkan keselamatan Anda.’”

Abu Bakar berkata, ‘Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan keburukan atas Suraqah dengan mengucapkan, ‘Ya Allah, lindungilah kami dari keburukannya dengan apa yang Engkau kehendaki.’ Maka tiba-tiba kaki kuda Suraqah terperosok ke dalam tanah yang keras hingga perut kudanya menyentuh tanah …” (HR. Ahmad di dalam Musnad-nya, no. 3, 1: 155)

Melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Nabi

Tidak bisa dipungkiri bahwa orang akan selalu taat kepada orang yang dicintainya. Dia pasti berusaha melakukan apa saja yang dicintai oleh kekasihnya dan menghindari segala yang dibenci olehnya.

Begitu juga dengan orang yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia akan selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengikuti jejak beliau, bersegera mewujudkan perintah dan menjauhi larangan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,

 وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Yakni, walau bagaimanapun perintah beliau, maka laksanakanlah; dan walau bagaimanapun larangan beliau, maka jauhilah, karena beliau pasti memerintahkan yang baik dan melarang yang buruk. (Tafsir Ibnu Katsir)

Diriwayatkan oleh Ahmad, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Allah telah melaknat perempuan yang mentato dan yang meminta ditato, yang mencabut bulu wajahnya (alis), yang membelah (giginya) untuk kecantikan, yang mengubah ciptaan Allah ‘Azza Wa Jalla.’

Hal itu didengar oleh seorang perempuan dari Bani Asad yang ada di dalam rumah yang biasa dipanggil dengan nama Ummu Ya’qub, maka dia mendatangi Ibnu Mas’ud seraya berkata, “Apakah benar kamu yang mengatakan begini dan begini?’ Dia menjawab, “Mengapa saya tidak melaknat orang yang dilaknat oleh Rasulullah, sedangkan hal itu tertera di dalam Al-Quran.” Perempuan itu berkata, “Saya telah membaca seluruh isi Al-Quran, tetapi saya tidak menemukannya.” Dia berkata, “Jika kamu benar-benar membacanya, maka kamu akan mendapatkannya. Tidakkah kamu membaca firman Allah,

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Perempuan itu menjawab, “Tentu.” Dia (Ibnu Mas’ud) berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya.” Perempuan itu berkata, “Saya kira keluargamu juga melakukannya.” Dia berkata, “Pergi dan lihatlah.” Maka perempuan itu pun pergi dan tidak menemukannya. Perempuan itu datang kembali dan berkata, “Saya tidak melihat apa-apa.” Dia berkata, “Kalau saja hal itu terjadi, niscaya kami tidak akan bersatu lagi (yakni, aku akan menceraikannya).” (HR. Ahmad (1: 433). Hadis ini diriwayatkan juga dalam Ash-Shahihain dari hadis Sufyan Ats-Tsauri (Fathul Bari (8: 498) dan Muslim (3: 1678) [Al-Bukhari (no. 4887) dan Muslim (no. 2125)])

Membela sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memperjuangkan syariat

Suatu yang wajar bila orang yang mencintai selalu mengorbankan waktu, tenaga, dan seluruh harta kekayaan, serta apa yang dimilikinya demi memperjuangkan apa yang telah menyebabkan kekasihnya juga mengorbankan harta dan dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tercinta telah mengorbankan seluruh pemberian Allah, baik berupa potensi, kemampuan, harta, dan jiwa, untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya Islam, dari penyembahan kepada hamba menuju penyembahan kepada Rabb-Nya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh agar kalimat Allah tinggi dan kalimat kekufuran hancur dan hina, dan beliau berperang agar tidak muncul fitnah di muka bumi dan agar semua agama itu hanya milik Allah Ta’ala.

Para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah orang-orang yang jujur dan benar dalam mencintai Rasulullah, mereka mengikuti dan mencontoh petunjuk beliau serta meneladani jalan hidup beliau dalam semua ini. Mereka mengerahkan apa yang ada pada mereka dari kekuatan dan kemampuan, mengeluarkan harta bahkan nyawa demi untuk tujuan yang karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mempersembahkan waktu, harta, dan jiwa beliau. Jiwa mereka yang mahal pun menjadi sangat murah pada saat membela sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menegakkan ajaran yang diturunkan Allah kepada RasulNya.

Mengikuti dan menghidupkan sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)

Ibnu Katsir mengatakan, “Ayat yang mulia ini menghukumi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, namun ia tidak menempuh jalan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa pengakuannya itu dusta hingga dia mengikuti syariat Muhammad dan agama nabawi dalam setiap ucapan dan perbuatannya. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis shahih, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (Fathul Bari (5: 355) [HR. Bukhari (no. 2697) dan Muslim (no. 1718).” (Tafsir Ibnu Katsir)

Al-Qadhi ‘Iyadh al-Yahshubi berkata, “Ketahuilah bahwa barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan mengutamakannya dan berusaha meneladaninya. Kalau tidak demikian, maka berarti dia tidak dianggap benar dalam kecintaannya dan hanya mengaku-aku (tanpa bukti nyata). Maka orang yang benar dalam (pengakuan) mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jika terlihat tanda (bukti) kecintaan tersebut pada dirinya. Tanda (bukti) cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang utama adalah (dengan) meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, menghidupkan sunnah-nya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya, serta menghiasi diri dengan adab-adab (etika) yang beliau (contohkan), dalam keadaan susah maupun senang dan lapang maupun sempit.” (Kitab Asy-Syifa Bita’riifi Huquuqil Mushthafa, 2: 24)

Adalah sahabat Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhum, sosok yang sangat berusaha mengikuti dan menghidupkan sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari ‘Ashim Al-Ahwal, beliau berkata,

كان ابن عمر إذا رئي في طريق، كأنه ذكر كلمة من شدة اتباعه لأثر رسول الله صلى الله عليه وسلم، فإن قيل له: إن النبي صلى الله عليه وسلم لصق بالحائط لصق، وإن قيل له: قعد قعد، وإن قيل له: مشى مشى

“Dahulu Ibnu ‘Umar apabila terlihat di suatu jalan, seolah-olah sosoknya mengingatkan untuk berusaha keras (totalitas) mengikuti jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila dikatakan kepadanya, ‘Sesungguhnya Rasulullah menempelkan kepala beliau di dinding ini’, maka beliau akan menempelkan kepalanya ke dinding tersebut. Apabila dikatakan kepadanya, ‘Rasulullah duduk di sini’, maka beliau akan duduk. Dan apabila dikatakan, ‘Rasulullah berjalan di sini’, maka beliau akan berjalan.” (Syarah Kital Al-Ibanah min Ushuli Ad-Diyanah, hal. 7)

Demikianlah potret yang sebenar-benarnya dari seorang yang kecintaannya begitu besar kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semoga Allah memudahkan kita untuk meniti jalan mereka radhiyallahu ‘anhum dan semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita yang mulia, kekasih yang tercinta, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, para sahabat. dan orang-orang yang mengikuti mereka di dalam kebaikan.

***

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Catatan kaki:

Diintisarikan dari buku Mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Sebagaimana Para Sahabat radhiyallahu ‘anhum Mencintai Beliau (Terjemah) karya Dr. Fadhl Ilahi dengan penambahan.

Referensi:

  • Buku Mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Sebagaimana Para Sahabat radhiyallahu ‘anhum Mencintai Beliau, Dr. Fadhl Ilahi, Penerbit Darul Haq Jakarta, Cetakan Ketiga, Jumadal Ula 1434 / April 2013.
  • Shahih Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir Jakarta, Cetakan Kesepuluh, Jumadal Awal 1435 / Maret 2014
  • Mari Menghidupkan Sunnah Nabi, Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA., diakses dari: https://muslim.or.id/3316-mari-menghidupkan-sunnah-nabi.html

Sumber: https://muslimah.or.id/19821-tanda-cinta-kepada-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html

Keutamaan Surah Al-Baqarah dan Ali Imran yang Disebutkan oleh Rasulullah

Apa saja keutamaan dari surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran yang disebutkan dalam hadits?

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan)

بَابُ فَضْلِ قِرَاءَةِ القُرْآنِ

Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Hadits #992

Keutamaan Surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran

وَعَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَقُوْلُ : (( يُؤْتَى يَوْمَ القِيَامَةِ بِالقُرْآنِ وَأهْلِهِ الَّذِيْنَ كَانُوا يَعْمَلُونَ بِهِ فِي الدُّنْيَا تَقْدُمُهُ سُوْرَةُ البَقَرَةِ وَآلِ عِمْرَانَ ، تُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ .

Dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pada hari kiamat, Al-Qur’an akan didatangkan dan juga para ahli Al-Qur’an yaitu orang-orang yang mengamalkannya di dunia. Didahului oleh surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran, keduanya menjadi hujjah bagi orang yang membacanya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 805]

Faedah hadits

  1. Al-Qur’an akan memberi syafaat kepada orang yang membacanya pada hari kiamat.
  2. Ilmu itu harus diikuti oleh amal, jika tidak, maka ilmu akan menjadi bumerang bagi pembacanya pada hari kiamat.
  3. Hadits ini menunjukkan keutamaan membaca surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran.
  4. Penamaan surah itu berasal dari syariat yang sifatnya tawqifiyyah (harus dengan dalil).
  5. Surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran disebut surah zahrowain (zahro berarti indah, bercahaya) karena cahaya keduanya dan keduanya sebagai pemberi petunjuk, juga pahala dari keduanya. Lihat bahasan Syarh Shahih Muslim, 6:81.
  6. Boleh menyebut surah dengan nama surah Ali ‘Imran, surah An-Nisaa’, surah Al-Maidah, dan semacamnya. Penyebutan semacam itu tidaklah makruh. Ulama terdahulu menganggap makruh hal tersebut karena mereka mengharuskan menamainya dengan surah yang di dalamnya ada penyebutan Ali ‘Imran. Pendapat yang menyatakan bolehnya itulah yang tepat. Inilah pendapat jumhur (kebanyakan ulama). Karena maksud penyebutan dengan nama seperti itu sudah dimaklumi. Lihat bahasan Syarh Shahih Muslim, 6:81-82.
  7. Keadaan manusia pada hari kiamat bersama Al-Qur’an itu berbeda-beda, tergantung pada bagaimana ia menjalankan Al-Qur’an di dunia. Lihat Kanuuz Riyadh Ash-Shalihiin, 12:554.
  8. Orang yang membaca Al-Qur’an ada dua macam: (1) orang yang tidak mengamalkan Al-Qur’an, ia tidak mengimaninya dan tidak mengamalkan hukumnya, Al-Qur’an menjadi hujjah ‘alaihim (Al-Qur’an menjadi bumerang bagi pembacanya), (2) orang yang mengimani, membenarkan, dan mengamalkan Al-Qur’an, Al-Qur’an itu menjadi hujjah lahum (Al-Qur’an menjadi pendukungnya). Lihat Syarh Riyadh Ash-Shalihin dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 4:637.
  9. Siapa yang membaca Al-Qur’an tetapi tidak mengamalkannya, ia tidak mengharamkan apa yang Allah haramkan dan tidak menghalalkan apa yang Allah halalkan, dan tidak meyakini keagungan Al-Qur’an, maka ia bukanlah Ahli Al-Qur’an, tak mungkin Al-Qur’an menjadi pemberi syafaat untuknya pada hari kiamat, bahkan Al-Qur’an itu menjadi hujjah ‘alaihim (bumerang baginya). Dalam hadits Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu disebutkan, “Al-Qur’an itu bisa menjadi pendukung ataukah bumerang bagimu.” Lihat Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajaj Syarh Shahih Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj, 16:360.

Referensi:

  • Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajaj Syarh Shahih Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Muhammad bin Asy-Syaikh Al-‘Allamah ‘Ali bin Adam bin Musa Al-Itiyubia Al-Wallawi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  • Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm.
  • Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:204.
  • Kanuuz Riyadh Ash-Shalihiin. Cetakan Tahun 1430 H. Penerbit Daar Kunuz Isybiliyya.
  • Nuzhah Al-Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursalim. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Dr. Musthafa Al-Bugha, dkk. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
  • Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursaliin. Cetakan tahun 1426 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan li An-Nasyr.

Ditulis saat perjalanan Gunungkidul – Jogja, 2 Rabiul Akhir 1444 H, 27 Oktober 2022

@ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul

Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/35007-keutamaan-surah-al-baqarah-dan-ali-imran-yang-disebutkan-oleh-rasulullah.html

Menjaga Anak dari Pengaruh Buruk Pertemanan

Teman memiliki pengaruh besar terhadap pemikiran, karakter dan kebiasaan anak, baik itu bersifat positif maupun negatif. Seorang anak yang mulanya santun dan penurut bisa berubah berperilaku buruk seperti mengambil uang ibunya demi mentraktir teman sepermainannya. Sebaliknya, dengan izin Allah ta’ala seorang anak yang berakhlak kurang baik bisa berubah drastis ketika bergaul dengan teman-temannya yang shahih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ

Seseorang berada di atas kebiasaan teman karibnya. Maka hendaklah salah seorang diantara kalian memerhatikan siapa yang menjadi teman karibnya.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi. Dishahihkan al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah no. 927)

Setiap orangtua tentunya sangat berharap anaknya bergaul dengan teman-teman yang baik dan shalih. Tetapi ketika kita mendapati buah hati qadarullah terpengaruh teman dalam hal-hal yang tidak terpuji, di bawah ini ada beberapa kiat untuk menghadapi badai itu, insyaa Allah.

Bersikap bijak dan tenang

Ini langkah agar emosi tak meledak-ledak hingga memperburuk situasi. Ajaklah anak berdialog sesuai kemampuan berpikir anak dengan bahasa santun yang dilandasi kasih sayang dan cinta. Ini akan membuat anak nyaman sehingga mereka tidak merasa di investigasi. Ajaklah dia merenung bahwa anda tetap memperhatikannya dan mencintainya dan jangan memojokkannya namun carilah solusi bijak sehingga anak akan bersikap jujur dan mau curhat dengan anda.

Dengan kedekatan emosi dan psikis dengan anak niscaya anak akan lebih bersikap terbuka sehingga ketika ada masalah ia akan berterus-terang. Namun ketika kesalahan anak telah melanggar syariat Islam seperti mencuri yang berlebihan, melukai orang lain, meninggalkan shalat tanpa uzur dan sejenisnya, maka orang tua perlu bersikap tegas dalam menasehatinya. Dan terkadang perlu diberi konsekuensi seperti tak diberi uang saku atau diminta membereskan rumah. Namun demikian, prinsipnya bersikap lembut lebih diprioritaskan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ

Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, dan Dia menyukai kelemah lembutan dalam segala urusan.” (HR. Muslim no. 6767)

Bekali dengan nilai agama

Ketika nilai-nilai agama ditanamkan sejak dini, niscaya anak akan memiliki pertahanan diri yang kuat, ini akan meminimalisir pengaruh buruk teman. Disinilah pentingnyaa figur orang tua yang shalih sehingga anak tetap menjadikan keduanya sebagai idola dalam hal kebaikan dan keshalihan. Dan orang tua hendaklah mampu menjadi sumber informasi bagi anak sehingga terjalin keakraban. Dan tanamkan akidah yang kokoh sehingga anak merasa selalu diawasi Allah Ta’ala. Ini akan menguatkan imun internal dan membangun dinding penghalang agar terhindar dari dosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dimana saja engkau berada.” (HR. At-Tirmidzi [1987], Musnad Ahmad [2/354]. Dihasankan Syaikh al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shagir [1/81]).

Kenali teman-teman mereka

Orang tua hendaknya memilihkan anak-anaknya teman yang shalih dan berasal dari keluarga baik-baik, kalau memungkinkan adakan pertemuan bersama teman agar benar-benar teman itu membawa manfaat dunia-akhirat.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman, karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat.” (Ma’alimut Tanzil, 4: 268)

Orangtua perlu memberi dukungan pada anak agar ia bisa membawa diri ditengah teman-temannya. Begitu pun dengan teman-temannya, sesekali buatlah acara bersama, permainan atau olahraga dan sejenisnya agar anda memahami apa dan bagaimana karakter teman sepermainan anak.

Berilah motivasi dan nasihat ringkas agar anak anda dan teman-temannya senantiasa dalam kebaikan.

Cari lingkungan yang kondusif

Ketika pengaruh buruk telah sampai pada taraf membahayakan dari sisi akhlak dan agama, maka solusi praktisnya, cari lingkungan yang kondusif bisa pindah sekolah, dimasukkan ke pondok pesantren sehingga dengan izin Allah ta’ala dia berubah santun, mulia akhlaknya dan shalih. Berilah perhatian ekstra dalam hal perhatian, nasehat dan perbanyak do’a agar berubah jadi anak yang shalih.

Al-Ghazali rahimahullah berkata, “Seorang anak meskipun dibiarkan di awal pertumbuhannya, namun tak jarang ia akan berubah menjadi anak yang berakhlak jelek, pendusta, pendengki, pencuri, pengadu domba, peminta-minta, suka curiga, banyak tertawa, suka menipu dan gila. Sesungguhnya ia akan terpelihara dari semua sifat tersebut dengan didikan yang baik.” (Ihya ulumuddin, 3: 72)

Sampaikan manfaat teman baik

Orang tua harus berikhtiar memberikan yang terbaik untuk anaknya, berilah pemahaman bahwa hanya teman yang shalih yang mengajak pada Surga. Dengan bahasa yang mudah dicerna, pahamkan bahaya teman yang buruk agama dan akhlaknya yang hanya membuat kerusakan dan mendekatkan pada neraka. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata tentang mendidik anak adalah jihad, “Ini adalah jihad fi sabilillah, ini adalah seutama-utamanya jihad, yaitu engkau berusaha untuk mendidik anakmu di atas ketaatan kepada Allah.

Tanamkan di hati anak, bahwa teman yang buruk akan membawa celaka di dunia dan akhirat. Teman yang suka berkata kasar dan kotor, suka membantah orangtua, mem-bully, malas menegakkan shalat, suka musik, gemar berbohong, mengambil barang orang lain adalah kawan yang harus dijauhi. Kokohkan pemahaman anak dengan senantiasa menasihati agar anak selalu teringat serta terbiasa ada perasaan tidak suka dan benci dengan melakukan amal shalih dan ceritakan selalu betapa bahagianya memiliki sahabat-sahabat yang baik.

Metode ini perlu diulang-ulang agar tertanam di alam bawah sadarnya sehingga menjadi karakternya untuk selalu memilih dan menyukai kebaikan untuk dirinya dan temannya.

Demikian sekilas kiat agar anak-anak tetap dalam keadaan mulia iman, ibadah, dan akhlaknya dengan bersanding dengan kawan-kawan yang shalih. Wallahu a’lam.

***

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

Cara Mendidik Salah, Anak Bermasalah (Terjemah), Abdirrahman Dhahi, PQS Sumber Ilmu Sukoharjo, 2020.

Mencetak Generasi Rabbani, Ummu Ihsan & Abu Ihsan al-Atsari, Pustaka Ilmu Asy-Syafi, Jakarta, 2015.

Sumber: https://muslimah.or.id/13907-menjaga-anak-dari-pengaruh-buruk-pertemanan.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Manusia Bisa Mengecewakanmu, Tapi Allah Tidak Akan Mengecewakanmu

Janganlah engkau berharap sedikit pun kepada manusia termasuk kepada orang yang terdekat denganmu, seperti orang tua, teman, kerabat, dosen, dan lain-lainnya, karena mereka bisa membuatmu kecewa. Tapi kalau kita berharap kepada Allah, Allah Maha mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Oleh karena itu, apapun yang kamu mau, jangan lupa untuk terus meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

(1) Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa;

اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ

(2) Allah tempat meminta segala sesuatu;

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ

(3) Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.”

Ash-Shamad adalah salah satu nama di antara Asmaul Husna yang dimiliki oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Para ulama Salaf memberikan berbagai penjelasan tentang makna Ash-Shamad, namun perbedaan tersebut dapat diterima karena tidak saling bertentangan, bahkan saling melengkapi. Oleh karena itu, semua makna yang diungkapkan dapat disandarkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berikut adalah penjelasan para ulama tentang makna Ash-Shamad:

1) (Rabb) tempat bergantung segala makhluk untuk memenuhi semua kebutuhan dan permintaan mereka. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berdasarkan riwayat dari ‘Ikrimah.

2) Yang Maha Kekal setelah semua makhluk binasa. Ini adalah pendapat Al-Hasan dan Qatadah.

3) Al-Hayyu Al-QayyûmYang Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri, dan Mengurusi makhluk, serta tidak akan binasa. Pendapat ini juga dari Al-Hasan.

4) Tidak makan dan tidak berongga, menurut pendapat ‘Ikrimah, Ibnu Mas’ud, Mujahid, dan ulama lainnya.

5) Yang tiada beranak dan tidak diperanakkan, pendapat Ar-Rabi’ bin Anas.

6) Cahaya yang bersinar, pendapat Abdullah bin Buraidah.

Imam Thabrani rahimahullah menyimpulkan bahwa semua makna tersebut benar, karena semuanya menggambarkan sifat Allah ‘Azza wa Jalla sebagai tempat bergantung makhluk, yang kekuasaan-Nya sempurna, tidak berongga, tidak makan, tidak minum, dan Maha Kekal setelah makhluk-Nya binasa. Pendapat ini juga didukung oleh Imam Al-Baihaqi rahimahullah.

Syaikh Musa’id Ath-Thayyâr hafizhahullah menyebutkan lima makna Ash-Shamad dan menjelaskan bahwa perbedaan pendapat para ulama Salaf termasuk dalam kategori ikhtilaf tanawwu’ (perbedaan dalam ragam penjelasan), bukan perselisihan makna. Semua pendapat itu kembali pada inti yang sama: Allah tidak memerlukan apa pun sebagaimana yang diperlukan makhluk, karena kesempurnaan kekuasaan-Nya.

Kemudian dalam surah Al-Ikhlas terdapat faidah yang bisa ketahui adalah:

1) Penegasan sifat keesaan (ahadiyyahbagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2) Penegasan sifat shamadiyyah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu sifat-Nya yang tidak memerlukan apa pun sebagaimana makhluk memerlukan, karena kesempurnaan kekuasaan-Nya.

3) Pengenalan terhadap Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

4) Penetapan konsep tauhid dan pengakuan terhadap kenabian.

5) Bantahan terhadap klaim bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki anak.

6) Penegasan kewajiban untuk beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena hanya Dia yang berhak disembah.

Berharap kepada manusia sering kali menjadi sumber kekecewaan yang mendalam. Ini bukan karena manusia jahat atau tak peduli, tetapi karena manusia adalah makhluk yang terbatas dalam kemampuan, kekuatan, dan bahkan kesetiaan. Mereka bisa berjanji, tapi tak selalu mampu menepati. Mereka bisa memberikan perhatian, tapi tak bisa melakukannya selamanya. Hati mereka berubah, kondisi mereka tidak stabil atau tidak menentu, dan mereka pun memiliki kelemahan yang tak bisa dihindari. Namun, berbeda dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tak pernah mengecewakan hamba-Nya. Allah adalah tempat terbaik untuk menggantungkan harapan, karena Dia Maha Mengetahui segala kebutuhanmu, bahkan sebelum kamu meminta. Maka, jika kamu tak ingin hatimu remuk oleh kekecewaan, belajarlah untuk berharap kepada Allah semata, bukan kepada manusia yang hanya menjalani takdirnya.

***

Penulis: Rizka Fajri Indra

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

https://almanhaj.or.id/5402-tafsir-surat-alikhlas.html

Sumber: https://muslimah.or.id/21383-manusia-bisa-mengecewakanmu-tapi-allah-tidak-akan-mengecewakanmu.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id