Hukum Memarkir Kendaraan di Jalan Umum yang Mengganggu Orang Lain
Tidak boleh memarkir kendaraan di jalan umum sehingga mengganggu orang lain. Dengan membuat lalu lintas terhambat, sulit untuk lewat, terjadi kemacetan, atau semisalnya. Perbuatan seperti ini termasuk mengganggu sesama Muslim. Padahal Allah Ta’ala berfirman,
وَٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ بِغَيْرِ مَا ٱكْتَسَبُوا۟ فَقَدِ ٱحْتَمَلُوا۟ بُهْتَٰنًا وَإِثْمًا مُّبِينًا
“Dan orang-orang yang mengganggu orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيْمَانُ فِي قَلْبِه،ِ لاَ تُؤْذُوا الْمُسْلِمِينَ
“Wahai orang-orang yang telah masuk Islam, namun iman belum masuk pada hatinya, janganlah kalian mengganggu sesama Muslim.” (HR. Tirmidzi no. 2032, dihasankan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)
Terutama jika yang merasa terganggu dengan kendaraan yang diparkir bukan pada tempatnya adalah tetangga, maka lebih besar lagi dosanya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,
واللَّهِ لا يؤمنُ واللَّهِ لا يؤمنُ واللَّهِ لا يؤمنُ قالوا وما ذاكَ يا رسولَ اللَّهِ قالَ الجارُ لا يأمنُ جارُهُ بوائقَهُ قالوا يا رسولَ اللَّهِ وما بَوائقُهُ قالَ شرُّهُ
“Demi Allah, (dia) tidak beriman. Demi Allah, (dia) tidak beriman. Demi Allah, (dia) tidak beriman.” Para sahabat bertanya, “Siapa itu, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Seseorang yang tetangganya merasa tidak aman dari bawaiq-nya.” Para sahabat bertanya, “Apa bawaiq itu, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Keburukannya.” (HR. Ahmad, 14: 262. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 2550)
Berusaha untuk tidak mengganggu jalan kaum Muslimin adalah salah satu konsekuensi iman. Sehingga mengganggu jalan adalah perkara yang mencacati keimanan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda,
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ – أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ – شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ
“Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang, yang paling utama adalah perkataan laailaha illallah, dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR. Muslim no. 35).
Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan,
“Tidak boleh mengganggu kaum Muslimin di jalan yang mereka lalui, bahkan wajib memberikan kelapangan jalan dan menyingkirkan gangguan dari jalan. Oleh karena itu, menyingkirkan gangguan dari jalan termasuk bagian dari iman, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Tidak boleh seseorang untuk membuat sesuatu di dalam wilayah kepemilikannya yang dapat mengganggu jalan, seperti membangun atap di atas jalan yang menghalangi lewatnya kendaraan atau hewan pembawa barang, atau membangun panggung untuk tempat duduk yang menjorok ke jalan.
Tidak boleh ia menjadikan jalan umum sebagai tempat parkir hewan tunggangannya atau mobilnya, karena hal itu dapat menyempitkan jalan atau dapat menyebabkan kecelakaan.
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,
لا يجوز لأحد أن يخرج شيئا في طريق المسلمين من أجزاء البناء، حتى إنه ينهى عن تجصيص الحائط؛ إلا أن يدخل رب الحائط منه في حده بقدر غلظه
“Tidak boleh bagi seseorang membuat sesuatu pada bagian bangunannya sehingga menjorok ke jalan kaum Muslimin. Bahkan ia dilarang untuk melapisi tembok dengan plester kecuali jika plesterannya tersebut masih dalam batas tanah miliknya sendiri sesuai dengan ketebalannya.”
Demikian juga di jalan umum, tidak diperbolehkan menanam pohon yang mengganggu, membangun, menggali, menaruh kayu bakar, menyembelih hewan, membuang sampah, membuang abu, dan hal-hal lain yang dapat membahayakan para pengguna jalan.” (Al-Mulakhas Al-Fiqhi, 2: 113)
Solusi bagi yang kendaraannya sering diparkir di jalan umum di antaranya:
- Membangun garasi di area tanah sendiri, walaupun harus mengorbankan sebagian area rumah dan berkurang sedikit kenyamanan.
- Menyewa rumah lain untuk memarkir kendaraan.
- Menyewa lahan parkir yang tidak menganggu jalan.
- Mengganti moda kendaraan dengan yang lebih sesuai dengan lahan yang dimiliki.
Dan solusi-solusi lainnya yang bisa diusahakan. Wallahu a’lam, semoga Allah memberikan taufik.
***
Penulis: Yulian Purnama
Sumber: https://muslim.or.id/110022-hukum-memarkir-kendaraan-di-jalan-umum-yang-mengganggu-orang-lain.html
Copyright © 2025 muslim.or.id
Hukum Laki-laki Memakai Gelang #video ~7
Meraih Sifat Qana’ah
Banyak yang memiliki harta namun jarang memiliki sifat mulia, yaitu qana’ah (merasa cukup dengan nikmat Allah). Padahal jika seorang muslim meraihnya ia seakan-akan memiliki dunia seisinya. Jika memilikinya, ia tidak tamak pada harta orang lain dan juga selalu ridho dengan ketetapan Allah. Ia pun yakin segala yang ditetapkan oleh Allah, itulah yang terbaik.
Jika Tiga Nikmat Ini Terkumpul pada Diri Anda di Pagi Hari
Dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al Anshary dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib).
Hadits di atas menunjukkan bahwa tiga nikmat di atas jika telah ada dalam diri seorang muslim, maka itu sudah jadi nikmat yang besar. Siapa yang di pagi hari mendapatkan tiga nikmat tersebut berarti ia telah memiliki dunia seisinya. Lihat Rosysyul Barod Syarh Al Adab Al Mufrod, hlm. 160.
Ajaran Sifat Qana’ah
Hadits di atas dibawakan oleh Ibnu Majah dalam Bab ”Qana’ah”. Di mana rizki yang disebutkan dalam hadits tersebut dikatakan cukup dan patut disyukuri. Inilah sifat qana’ah yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Pembahasan qana’ah dalam sunan Ibnu Majah tersebut disebutkan pula hadits dari ’Abdullah bin ’Amr bin Al ’Ash, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ
”Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.” (HR. Ibnu Majah no. 4138, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Dalam bab yang sama pada Sunan Ibnu Majah disebutkan pula hadits,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ ». قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ « عَلَيْكُمْ »
”Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Lihatlah pada orang yang berada di bawah kalian dan janganlah perhatikan orang yang berada di atas kalian. Lebih pantas engkau berakhlak seperti itu sehingga engkau tidak meremahkan nikmat yang telah Allah anugerahkan -kata Abu Mu’awiyah- padamu.” (HR. Ibnu Majah no. 4138, shahih kata Syaikh Al Albani). Lihat bahasan di Rumaysho.Com: Lihatlah Orang yang di Bawahmu dalam Masalah Harta.
Disebutkan pula hadits Abu Hurairah berikut,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ »
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Yang namanya kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446, Muslim no. 1051, Tirmidzi no. 2373, Ibnu Majah no. 4137). Ghina nafs dalam hadits ini yang dimaksud adalah tidak pernah tamak pada segala hal yang ada pada orang lain. Baca artikel Rumaysho.Com: Kaya Hati, Itulah Kaya Senyatanya.
Dalam hadits di atas terdapat pelajaran dari Ibnu Baththol di mana beliau berkata ketika menjelaskan hadits dalam Shahih Bukhari,
يريد ليس حقيقة الغنى عن كثرة متاع الدنيا، لأن كثيرًا ممن وسع الله عليه فى المال يكون فقير النفس لا يقنع بما أعطى فهو يجتهد دائبًا فى الزيادة، ولا يبالى من أين يأتيه، فكأنه فقير من المال؛ لشدة شرهه وحرصه على الجمع، وإنما حقيقة الغنى غنى النفس، الذى استغنى صاحبه بالقليل وقنع به، ولم يحرص على الزيادة فيه
”Yang dimaksud kaya bukanlah dengan banyaknya perbendaharaan harta. Karena betapa banyak orang yang telah dianugerahi oleh Allah harta malah masih merasa tidak cukup (alias: fakir). Ia ingin terus menambah dan menambah. Ia pun tidak ambil peduli dari manakah harta tersebut datang. Inilah orang yang fakir terhadap harta (tidak merasa cukup dengan harta). Sikapnya demikian karena niatan jelek dan kerakusannya untuk terus mengumpulkan harta. Padahal hakikat kaya adalah kaya hati, yaitu seseorang yang merasa cukup dengan yang sedikit yang Allah beri. Ia pun tidak begitu rakus untuk terus menambah.”
Imam Nawawi rahimahullah berkata,
مَنْ كَانَ طَالِبًا لِلزِّيَادَةِ لَمْ يَسْتَغْنِ بِمَا مَعَهُ فَلَيْسَ لَهُ غِنًى
”Siapa yang terus ingin menambah dan menambah lalu tidak pernah merasa cukup atas apa yang Allah beri, maka ia tidak disebut kaya hati.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 140).
Yang dimaksud qana’ah sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Baththol,
الرضا بقضاء الله تعالى والتسليم لأمره علم أن ما عند الله خير للأبرار،
”Ridho dengan ketetapan Allah Ta’ala dan berserah diri pada keputusan-Nya yaitu segala yang dari Allah itulah yang terbaik.” Itulah qana’ah.
Namun Tak Mengapa dengan Kaya Harta
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ
”Tidak mengapa seseorang itu kaya asalkan bertakwa. Sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan hati yang bahagia adalah bagian dari nikmat.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4: 69, shahih kata Syaikh Al Albani). Baca artikel Rumaysho.Com: Sehat Lebih Baik daripada Kaya.
Jadi tak mengapa kaya asalkan bertakwa. Yang namanya bertakwa, selalu merasa cukup dengan kekayaan tersebut. Ia tidak rakus dengan terus menambah. Kalau pun menambah karena hartanya dikembangkan, ia pun merasa cukup dengan karunia Allah yang ada. Dan yang namanya bertakwa berarti selalu menunaikan kewajiban yang berkaitan dengan harta tersebut melalui zakat, menempuh jalan yang benar dalam mencari harta dan menjauhi cara memperoleh harta yang diharamkan Islam.
Ya Allah, anugerahkanlah kami sifat yang mulia ini. Moga kami menjadi hamba yang qana’ah dan kaya hati, yaitu dianugerahi hati yang selalu merasa cukup.
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يقول : اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina” (Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina).” (HR. Muslim no. 2721)
—
Di pagi hari penuh berkah @ Jl. Danau Singkarak, Depok Timur, Senin, 24 Rajab 1434 H
Tanda Kiamat: Munculnya Gunung Emas
Di antara tanda kecil terjadinya kiamat (asyraatus saa’ah ash-sughra) adalah mengeringnya sungai Efrat di Irak, sehingga muncullah gunung emas dari sungai tersebut. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَحْسِرَ الْفُرَاتُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، يَقْتَتِلُ النَّاسُ عَلَيْهِ، فَيُقْتَلُ مِنْ كُلِّ مِائَةٍ، تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ، وَيَقُولُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ: لَعَلِّي أَكُونُ أَنَا الَّذِي أَنْجُو
“Kiamat tidak akan terjadi sampai sungai Efrat mengering sehingga muncullah gunung emas. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Dari setiap seratus orang (yang memperebutkannya), terbunuhlah sembilan puluh sembilan orang. Setiap orang dari mereka mengatakan, ‘Mudah-mudahan aku-lah orang yang selamat.’” (HR. Muslim no. 2894)
Bukanlah yang dimaksud dengan “gunung emas” di sini adalah minyak bumi, sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang. Meskipun minyak bumi sendiri dalam bahasa kita sering disebut dengan istilah “emas hitam”. Anggapan semacam ini adalah tidak tepat, dengan ditinjau dari beberapa sisi:
Pertama, hadits di atas tegas menyebutkan “gunung emas”, adapun minyak bumi secara hakikatnya bukanlah emas. Karena emas adalah barang tambang yang sudah kita kenal, berbeda dengan minyak bumi.
Kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa air sungai Efrat akan mengering, lalu tampaklah (muncullah) gunung emas tersebut, sehingga bisa dilihat oleh manusia. Adapun minyak bumi, harus diambil dari dalam bumi dengan alat-alat tambang di kedalaman yang sangat jauh.
Ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan sungai Efrat saja, tanpa menyebutkan sungai atau lautan yang lain. Sedangkan minyak bumi, sebagaimana yang kita ketahui, bisa ditambang dari laut atau dari dalam bumi, di tempat-tempat penambangan yang sangat banyak.
Keempat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa manusia akan saling bunuh untuk memperebutkan simpanan ini. Kenyataannya, hal ini tidaklah terjadi ketika ditemukannya cadangan minyak bumi, baik di sungai Efrat ataupun di tempat-tempat lainnya.
Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang siapa saja yang melihat kemunculan gunung emas tersebut untuk mengambilnya sedikit pun. Sebagaimana yang juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يُوشِكُ الْفُرَاتُ أَنْ يَحْسِرَ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَمَنْ حَضَرَهُ فَلَا يَأْخُذْ مِنْهُ شَيْئًا
“Segera saja sungai Efrat akan mengering lalu nampaklah gunung emas. Barangsiapa yang menjumpainya, jangan diambil sedikit pun.” (HR. Muslim no. 2894)
Dalam redaksi hadits yang lain disebutkan,
عَنْ كَنْزٍ مِنْ ذَهَبٍ
“ … lalu nampaklah simpanan berupa emas …” (HR. Bukhari no. 7119 dan Muslim no. 2894)
Oleh karena itu, barangsiapa yang menganggap bahwa yang dimaksud dengan gunung (simpanan) emas tersebut adalah minyak bumi, konsekuensinya adalah melarang siapa pun untuk menambang (mengambil) minyak bumi sebagaimana larangan dalam hadits di atas. Tentu saja, tidak ada satu pun yang berani mengatakan demikian.
Semua ini adalah bukti bahwa memaknai “gunung emas” dengan “minyak bumi” adalah anggapan yang tidak tepat dan mengada-ada.
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa sebab dilarangnya mengambil emas dari gunung tersebut adalah untuk mencegah terjadinya kekacauan dan saling bunuh di antara manusia. (Fathul Baari, 13: 81)
***
Diselesaikan ba’da subuh, Rotterdam NL, 1 Rajab 1439/ 18 Maret 2018
Penulis: M. Saifudin Hakim
Referensi:
Asyraatus Saa’ah, karya Yusuf bin ‘Abdullah bin Yusuf Al-Wabil, cetakan keempat, penerbit Daar Ibnul Jauzi KSA, tahun 1435, hal. 177-178.
Sumber: https://muslim.or.id/37505-tanda-kiamat-munculnya-gunung-emas.html
Copyright © 2025 muslim.or.id
#carousel





FYP di Dunia, Rugi di Akhirat
Di era media sosial saat ini, kata FYP (For Your Page) telah menjadi impian banyak orang. Menjadi viral, ditonton jutaan orang, atau disukai ribuan akun menjadi hal yang terasa membanggakan. Betapa banyak hari ini kita saksikan orang yang sanggup menjual kehormatan, membuka aurat, menyebar kelalaian, bahkan merusak akhlak masyarakat, hanya demi “viewers” dan pujian. Yang lebih menyedihkan lagi, tak sedikit pula yang terang-terangan mempermainkan agama, menghina sunah, atau menjadikan hal-hal sakral sebagai bahan lelucon demi “engagement” dan algoritma. Mereka lupa bahwa setiap kata, gambar, suara, dan pengaruh yang disebarkan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Pernahkah kita bertanya: apakah yang viral itu membuat Allah rida? Ataukah hanya memuaskan nafsu riya, ujub, dan cinta dunia?
Popularitas semu yang menipu
FYP adalah fitur algoritma yang menampilkan video kepada pengguna secara luas. Di baliknya bisa jadi terdapat ambisi tersembunyi ingin dikenal, ingin dikagumi, dan ingin menjadi pusat perhatian. Tak jarang, demi itu orang membuka aurat, berkata kotor, menertawakan agama, hingga membuat konten yang merusak akhlak umat Islam.
Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’ (pamer ibadah).” (HR. Ahmad, dinilai hasan oleh al-Albani)
Siapa saja yang membuat konten agar dilihat manusia, bukan karena Allah, hendaknya ia takut amalnya menjadi sia-sia. Allah Ta’ala berfirman,
مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُ
“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan amal mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di sana tidak dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang di akhirat tidak memperoleh apa-apa kecuali neraka.” (QS. Hud: 15–16)
Viral: Kesuksesan atau istidraj?
Popularitas bisa menjadi nikmat jika digunakan untuk berdakwah dan menyebar kebaikan. Namun bisa pula menjadi istidraj, yaitu kenikmatan duniawi yang Allah berikan kepada orang yang durhaka, agar semakin jauh dari-Nya dan semakin bertambah hukuman dari-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
فَلَمَّا نَسُوا۟ مَا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَٰبَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَآ أُوتُوٓا۟ أَخَذْنَٰهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu, mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An‘am: 44)
Viral tidak selalu berarti keberhasilan. Bisa jadi itu adalah istidraj, yaitu ketika seseorang merasa sedang naik, padahal sejatinya sedang digiring menuju kehancuran akhirat.
Cinta popularitas: Penyakit hati yang mematikan
Salah satu penyakit hati yang paling berbahaya adalah ḥubb al-dzuhūr (cinta tampil dan disanjung) dan juga cinta dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ما ذئبان جائعان أُرسِلا في غنمٍ بأفسدَ لها من حِرصِ المرءِ على المالِ والشرفِ لدِينِه
“Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas ke dalam kumpulan kambing itu lebih merusak daripada keserakahan seseorang terhadap harta dan kedudukan terhadap agamanya.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad, sanadnya sahih)
Orang yang haus akan ketenaran, rela mengorbankan agamanya demi like dan view, maka kerusakannya lebih parah dari serigala yang memangsa sekumpulan kambing. Ia bisa merusak kehormatan dirinya, keikhlasan, dan rasa takut kepada Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَـهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ جَمَعَ اللهُ لَهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِـيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَـتْهُ الدُّنْـيَا وَهِـيَ رَاغِمَـةٌ
“Barangsiapa yang tujuan (utama) hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, maka Allah Azza wa Jalla akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)
Dosa yang tersebar, pahala yang terhambat
FYP bisa menjadi sarana menyebarkan keburukan dan kemaksiatan. Jika seseorang memposting dosa, lalu ditonton dan ditiru orang lain, maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang menirunya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَن سَنَّ سُنَّةً حَسنةً فعمِلَ بِها ، كانَ لَهُ أجرُها وَمِثْلُ أجرِ مَن عملَ بِها ، لا يَنقُصُ مِن أجورِهِم شيئًا ومن سنَّ سنَّةً سيِّئةً فعملَ بِها ، كانَ عليهِ وزرُها وَوِزْرُ مَن عملَ بِها من بعده لا ينقصُ من أوزارِهِم شيئًا
“Barang siapa yang memulai suatu sunah (perbuatan atau kebiasaan) yang baik, lalu diamalkan oleh orang lain, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelah itu, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang memulai suatu sunah yang buruk, lalu diamalkan oleh orang lain, maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang mengikutinya setelah itu, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)
Lihatlah betapa bahayanya menyebar dosa di internet! Satu video joget, umpatan, sindiran terhadap agama, bisa menjadi sumber dosa yang tak kunjung henti, karena terus ditonton dan ditiru.
Kejaran dunia vs. Selamatnya akhirat
Allah Ta’ala memberi peringatan keras kepada orang-orang yang menghabiskan hidup hanya untuk popularitas dunia, tanpa memikirkan akhirat,
مَّن كَانَ يُرِيدُ ٱلْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُۥ فِيهَا مَا نَشَآءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُۥ جَهَنَّمَ يَصْلَىٰهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS. Al-Isra’: 18)
Sedangkan orang yang menggunakan media sosial untuk kebaikan, menahan diri dari konten maksiat, dan menjaga kemuliaan Islam, maka ia sedang menanam benih surga. Karena orang yang beriman akan menyadari bahwa dunia ini adalah penjara bagi dirinya sehingga dia menahan diri dari itu semua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الدُّنيا سجنُ المؤمنِ وجنَّةُ الْكافرِ
“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)
Jadilah terkenal di langit, bukan di dunia
Kita boleh menggunakan media sosial. Kita boleh berdakwah di TikTok, Instagram, atau YouTube. Tapi tujuan kita harus lurus: mencari rida Allah, bukan tepuk tangan manusia. Bukan viral yang kita kejar, tapi ampunan Allah. Bukan ketenaran yang kita dambakan, tapi surga yang abadi.
وَمَا هَـٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ لَهِىَ ٱلْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan kehidupan akhirat itulah kehidupan yang sebenar-benarnya, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 64)
Kesuksesan sejati bukanlah viral di media sosial, tapi viral di langit, dikenal para malaikat karena amal saleh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّ اللَّهَ إذا أحَبَّ عَبْدًا دَعا جِبْرِيلَ فقالَ: إنِّي أُحِبُّ فُلانًا فأحِبَّهُ، قالَ: فيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنادِي في السَّماءِ فيَقولُ: إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلانًا فأحِبُّوهُ، فيُحِبُّهُ أهْلُ السَّماءِ، قالَ ثُمَّ يُوضَعُ له القَبُولُ في الأرْضِ
“Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia.’ Maka Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril menyerukan kepada penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia.’ Maka seluruh penghuni langit pun mencintainya, kemudian diberikanlah penerimaan (rasa cinta dan simpati) untuknya di bumi (di hati manusia).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah ketenaran yang hakiki: dicintai Allah, dikenal di langit, meskipun mungkin tidak dikenal manusia di dunia. Semoga kita tidak termasuk orang yang FYP di dunia, namun merana di akhirat. Mari niatkan semua amal di media sosial karena Allah, hindari konten maksiat, dan gunakan platform digital sebagai jalan dakwah, bukan ladang dosa.
Wallahu Ta’ala a’lam.
***
Ditulis di Jember, 3 Zulhijah 1446
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Sumber: https://muslimah.or.id/30173-fyp-di-dunia-rugi-di-akhirat.html
Delapan Kunci Meraih Keselamatan Hati
Hati merupakan pusat kehidupan bagi manusia, yang darinya terpancar kebaikan maupun keburukan seluruh amalnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)
Hadis ini menegaskan bahwa inti dari kehidupan seorang muslim terletak pada keselamatan hatinya. Oleh karena itu, seorang hamba wajib menjaga hatinya dari berbagai penyakit batin seperti riya, hasad, dengki, dan buruk sangka. Sebaliknya, hati harus selalu dihiasi dengan amal-amal yang diridai Allah, seperti ikhlas, sabar, rida, husnuzan, dan cinta kepada sesama muslim. Keselamatan hati inilah yang akan menentukan baik-buruknya akhlak dan amal lahir seorang muslim, serta menjadi barometer utama dalam perjalanannya berjumpa dengan Allah ‘Azza wa Jalla.
Berikut adalah delapan kunci yang paling utama bagi seorang muslim untuk meraih keselamatan hati dan ketentraman jiwa:
Pertama: Ikhlas karena Allah
Ikhlas merupakan pondasi utama diterimanya amalan seorang hamba. Tanpa ikhlas, amal sebesar apa pun tidak ada artinya di sisi Allah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (ikhlas) kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,
الإخلاص أن لا تطلب على عملك شاهداً غير الله، ولا مجازياً سواه
“Ikhlas adalah engkau tidak mencari saksi atas amalmu kepada selain Allah, dan tidak mengharap balasan selain dari-Nya.” (Madarijus Salikin, 9: 96)
Ikhlas adalah ketika seseorang beribadah hanya kepada Allah semata, tidak ingin dilihat, dipuji, atau diberi imbalan oleh manusia, melainkan mengharap rida dan pahala hanya dari Allah saja.
Kedua: Rida dengan takdir Allah
Keselamatan hati juga terwujud dengan menerima takdir Allah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ
“Merasa puaslah dengan apa yang Allah tetapkan bagimu, niscaya engkau akan menjadi manusia yang paling kaya.” (HR. Tirmidzi no. 2305, hasan shahih)
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata,
فأمّا الرضا بالقضاء: فهو من علامات المحبّين الصادقين في المحبة، فمتى امتلأت القلوب بمحبّة مولاها رضيت بكل ما يقضيه عليها من مؤلم وملائم
“Adapun rida terhadap takdir, maka itu termasuk tanda dari orang-orang yang benar dalam kecintaannya. Apabila hati telah penuh dengan cinta kepada Rabbnya, maka ia akan rida dengan segala yang Allah tetapkan baginya, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan.” (Majmu’ Rasail Ibnu Rajab, 1: 113)
Rida kepada takdir adalah bukti cinta sejati seorang hamba kepada Allah, ia menerima dengan lapang dada apa pun yang Allah tetapkan, baik itu nikmat yang indah ataupun ujian yang berat.
Ketiga: Banyak membaca Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah obat bagi hati yang sakit, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
“Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 5027)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
لا شيء أنفع للقلب من قراءة القرآن بالتدبر؛ فإنه جامعٌ لمنازل السائرين وأحوال العاملين ومقامات العارفين وسائر الأحوال التي بها حياة القلب وكماله
“Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati dibandingkan membaca Al-Qur’an dengan mentadabburinya. Karena Al-Qur’an mencakup seluruh tingkatan perjalanan para penempuh jalan Allah, keadaan orang-orang yang rajin beramal, kedudukan orang-orang yang benar-benar mengenal Allah, dan seluruh keadaan yang dengannya hati bisa hidup dan mencapai kesempurnaan.” (Madarijus Salikin, 1: 187)
Keempat: Husnuzan kepada sesama Muslim
Berprasangka baik (huznuzan) kepada sesama muslim adalah tanda hati yang selamat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa…” (QS. Al-Hujurat: 12)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إيّاكم والظنّ فإنّ الظنّ أكذب الحديث
“Jauhilah berprasangka buruk, karena prasangka itu adalah sedusta-dustanya perkataan.” (HR. Muslim no. 6701)
Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,
لا يحل لامرئ مسلم يسمع من أخيه كلمة يظن بها سوءًا، وهو يجد لها في شيء من الخير مخرجًا
“Tidak halal bagi seorang muslim ketika mendengar perkataan dari saudaranya, lalu ia berprasangka buruk kepadanya, padahal ia masih bisa mendapati adanya kebaikan dari ucapannya itu.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah li Ibni Muflih, 1: 47)
Kelima: Memberi nasihat yang terbaik bagi orang lain
Memberi nasihat kepada sesama muslim adalah tanda hati yang selamat dan tidak akan pernah merugi. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)
Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman,
ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik…” (QS. An-Nahl: 125)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ
“‘Agama itu ialah nasihat.’ Kami bertanya, ‘Untuk siapa?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin’.” (HR. Muslim no. 55)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
من دلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه
“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim no. 1893)
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata,
حقيقة النصيحة إرادة الخير للمنصوح له
“Hakikat nasihat adalah menginginkan kebaikan bagi orang yang dinasihati.” (Jami’ Al-‘Ulum wal-Hikam, 1: 222)
Keenam: Memperbanyak doa
Doa adalah ibadah hati yang paling mulia, dengan begitu hati akan selamat dan merasa tentram. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ
“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu’.” (QS. Ghafir: 60)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa itu adalah ibadah.” (HR. Abu Dawud no. 1479 dan Tirmidzi no. 2969)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ
“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah Ta‘ala daripada doa.” (HR. At-Tirmidzi no. 3370, sahih)
Ketujuh: Menebarkan salam
Salam juga menjadi kunci keselamatan hati dan menjaga ukhuwah. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا۟ بِأَحْسَنَ مِنْهَآ أَوْ رُدُّوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَسِيبًا
“Apabila kamu diberi salam dengan sebuah salam, maka balaslah dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah (dengan salam yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 86)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ، قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ، اللَّهِ قَالَ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ
“Hak setiap muslim atas muslim yang lain ada enam. Para sahabat pun bertanya, ‘Apa saja itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Apabila engkau bertemu dengannya, maka ucapkanlah salam. Jika ia mengundangmu, maka penuhilah undangannya. Jika ia meminta nasihat kepadamu, maka berilah ia nasihat. Jika ia bersin lalu mengucapkan alhamdulillah, maka doakanlah ia. Jika ia sakit, maka jenguklah. Dan jika ia meninggal dunia, maka iringilah jenazahnya’.” (HR. Muslim no. 2162)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)
An-Nawawi rahimahullah berkata, “Menyebarkan salam adalah sebab tumbuhnya cinta dan keselamatan hati.” (Syarh Shahih Muslim, 1: 74)
Kedelapan: Memberikan hadiah
Hadiah akan melunakkan hati, menumbuhkan kecintaan, dan menguatkan persaudaraan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَهَادُوا تَحَابُّوا
“Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (Shahih Al-Jami’ no. 3004)
Ibnu Hibban rahimahullah berkata,
الهديّة تورث المحبّة، وتذهب الضغينة
“Hadiah itu akan menumbuhkan rasa cinta dan menghilangkan kebencian.” (Raudhatul ‘Uqala’, hal. 112)
Keselamatan hati adalah kunci kebahagiaan seorang muslim di dunia dan akhirat. Dengan menjaga hati agar tetap bersih dan selamat, seorang muslim akan meraih derajat tinggi di sisi Allah Ta’ala dan kebahagiaan yang sejati. Sebagaimana firman-Nya,
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ، إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu‘ara: 88-89)
Semoga bermanfaat, wallahu a’lam bisshawab.
Sumber: https://muslim.or.id/110026-delapan-kunci-meraih-keselamatan-hati.html
Copyright © 2025 muslim.or.id
JANGAN PAKAI PENGGARIS ORANG LAIN #shorts
Manusia yang Hidup Terus Setelah Matinya
Kawan…
Tulisan ini adalah ajakan untuk saya dan kaum muslim, agar menjadi orang berilmu agama, mengamalkannya kemudian mengajarkan dan menyebarkannya…
Kawan…
Mari tuntut ilmu agama, niscaya kamu bisa hidup terus setelah matimu …
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»
“Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dan ini adalah bukti yang paling besar akan kemuliaan dan keutamaan ilmu serta keagungan hasilnya, karena sesungguhnya pahalanya akan sampai kepada seseorang (yang mengajarkan ilmu) setelah kematiannya selama ilmu tersebut diambil manfaatnya, seakan-akan dia hidup, tidak terputus amalnya bahkan dibarengi dengan ingatan dan pujian selalu untuknya, mengalirnya pahala kepadanya di saat seluruh manusia terputus dari mereka amalan mereka adalah merupakan KEHIDUPAN KEDUA. (Lihat kitab Miftah Dar As Sa’adah, karya Ibnul Qayyim rahimahullah).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
« إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِى صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ ».
“Sesungguhnya yang mendapati seorang mukmin dari amal dan kebaikannya setelah kematiannya adalah; sebuah ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan, seorang anak shalih yang dia tinggalkan, sebuah mushhaf Al Quran yang dia wariskan atau sebuah masjid yang dia bangun, sebuah rumah untuk para musafir yang kehabisan bekal yang dia bangun, sebuah sungai yang dia alirkan atau sebuah sedekah yang dia keluarkan dari hartanya ketika disaat sehat dan hidupnya, seluruhnya ini adalah amalan yang akan mendapatinya setelah kematiannya.” (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam shahih Al Jami’)
Mari perhatikan … ternyata semua amalan yang pahalanya akan mengalir kepada seseorang meskipun dia sudah meninggal, kuncinya pada ilmu agama. Subhanallah …
Kawan, saya yakin, kita bisa berbuat untuk perihal ilmu.
- Belajar ilmu agama
- Mengamalkan ilmu agama
- Mengajarkan dan menyebarkan ilmu agama, walau hanya menyebarkan kaset, CD, brosur, pengumuman kajian Islam bermanfaat, dan semisalnya kepada orang lain.
Selamat berjuang untuk bisa hidup terus setelah kematian menjemput!
يَمُوْتُ الْعَالِمُ وَ يَبْقَى كِتَابُهُ
Orang berilmu boleh meninggal tetapi kitabnya tetap akan tertinggal.
Rabu, 20 Rajab 1432 H, Dammam-KSA
__
Penulis: Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
Sumber: https://muslim.or.id/7943-manusia-yang-hidup-terus-setelah-matinya.html
Copyright © 2025 muslim.or.id






