Biarlah Allah yang Menyelesaikan Masalahmu dengan Cara-Nya
“Biarlah Allah yang menolong dan menyelesaikan masalahmu dengan cara-Nya”, sebuah kaidah kehidupan yang diambil dari firman Allah di surah Al-A’raf ayat 137,
وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُواْ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُواْ يَعْرِشُونَ
“Dan telah sempurnalah perkataan (keputusan) Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS. Al-A’raf: 137)
Ayat ini menjelaskan bahwa pada akhirnya, Allah menurunkan pertolongan kepada Bani Israil setelah ratusan tahun mereka ditindas oleh Fir’aun. Kapan pertolongan itu datang? Ketika mereka bersabar, baru Allah turunkan pertolongan-Nya sehingga mereka pun terbebas dari penindasan Fir’aun. Dengan kata lain, bersabar adalah sebab pertolongan Allah, dengan cara Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebelumnya, Fir’aun menindas Bani Israil selama ratusan tahun. Selama itu pula Allah tidak memberikan keselamatan kepada Bani Israil, karena mereka tidak sabar. Sampai akhirnya Allah utus Nabi Musa ‘alaihis salam untuk mengajarkan kesabaran kepada mereka,
قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللّهِ وَاصْبِرُواْ
“Musa berkata kepada kaumnya, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah … “ (QS. Al-A’raf: 128)
Ketika mereka bersabar, Allah pun memberikan solusi dengan cara Allah Ta’ala. Oleh karena itu, kita akan membahas terlebih dahulu makna (hakikat) dan adab sabar.
Makna dan hakikat sabar
Secara bahasa, sabar bermakna “menahan”. Secara istilah, maknanya adalah menahan diri dari hal-hal yang menunjukkan protes atas keputusan (takdir) Allah. Di antaranya dengan menahan lisan, hati, dan anggota badan yang lain. Jangan sampai hati ini benci, protes, marah kepada Allah atas takdir-Nya. Atau merasa Allah tidak adil dan zalim terhadap dirinya, atau merasa bahwa Allah telah salah dalam keputusannya, juga merasa Allah tidak sayang kepada dirinya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا
“Dan kamu berprasangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka.” (QS. Al-Ahzab: 10)
Yaitu, ada yang berprasangka baik, dan ada pula yang berprasangka buruk.
Dalam ayat yang lain Allah berfirman,
وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ
“Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah.” (QS. Al-Fath: 6)
يَظُنُّونَ بِاللّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ
” … mereka menyangka terhadap Allah dengan sangkaan yang tidak benar, sangkaan jahiliah … ” (QS. Ali ‘Imran: 154)
Orang yang tertimpa musibah, hendaknya dia menyabarkan hatinya agar tidak berprasangka buruk kepada Allah. Dia tahan hatinya agar tidak protes kepada Allah, mengapa Allah begini dan begitu, mengapa Allah turunkan musibah bertubi-tubi tanpa henti, mengapa Allah tidak segera menolongnya, dan berbagai prasangka buruk yang lainnya.
Dia pun menahan lisan dari kata-kata yang menunjukkan protes. Oleh karena itulah, salah satu dosa besar adalah niyahah (meratapi mayit), yaitu teriak-teriak protes kepada Allah, mengapa Engkau ambil anakku (misalnya), dan seterusnya. Sedih dan menangis itu boleh, namun ketika berubah menjadi protes dalam bentuk niyahah, maka itu menjadi dosa besar.
Demikian pula menahan anggota tubuh dari perbuatan yang menunjukkan sikap protes atas takdir Allah, misalnya dengan memukulkan tangan ke pipi, atau membentur-benturkan kepala, menjambak rambut, dan sebagainya. Ini semua adalah bentuk protes terhadap takdir dan keputusan Allah. [1]
Agar bisa bertahan dalam kesabaran
Banyak sebab yang bisa membuat kita bertahan dalam kesadaran. Di antaranya dengan meyakini bahwa Allah memiliki hikmah di balik semua musibah yang menimpa kita. Terkadang, Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba dalam bentuk musibah. Musibah itu adalah cara Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba. Contohnya adalah Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Nabi Yusuf dibawa pergi oleh kakak-kakaknya, dilemparkan ke dalam sumur, lalu dijual menjadi budak, dipisahkan dari ayah yang sangat dia cintai, lalu musibah dipenjara. Beliau mengalami musibah bertubi-tubi itu sebelum akhirnya menjadi bangsawan.
Terkadang Allah memberikan nikmat berupa ditimpakan musibah yang kecil (ringan) agar terhindar dari musibah yang jauh lebih berat. Misalnya, orang yang ketinggalan pesawat, namun ternyata pesawat itu kemudian mengalami kecelakaan. Dia tertimpa musibah kecil (yaitu hilangnya uang untuk beli tiket), namun dia terhindar dari musibah yang jauh lebih besar.
Contoh lainnya, dengan musibah, Allah selamatkan dia dari penyakit hati berupa ujub, sombong, dan lupa diri. Bayangkan jika ada orang yang tidak pernah gagal, maka bisa jadi dia tertimpa penyakit hati tersebut. Namun ketika sesekali dia gagal, dia pun ingat kepada Allah dan kembali mendekat kepada-Nya. Selain itu, musibah adalah cara Allah menggugurkan dosa-dosa kita, ketika istigfar dan tobat kita yang tentu tidak sempurna dan banyak kekurangan.
Adab dalam bersabar
Ada dua adab dalam bersabar:
Adab pertama: ikhlas karena Allah
Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَالَّذِينَ صَبَرُواْ ابْتِغَاء وَجْهِ رَبِّهِمْ
“Dan orang-orang yang sabar karena mencari wajah Tuhannya … “ (QS. Ar-Ra’du: 22)
Jadi, tidak perlu menyampaikan dan mengumumkan kepada orang lain bahwa dia bersabar. Karena dia bersabar bukan untuk dipuji.
Allah Ta’ala berfirman memuji kaum Muhajirin,
لِلْفُقَرَاء الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8)
Adab kedua: meyakini bahwa tidak ada yang bisa membuatnya bersabar kecuali Allah saja
Allah Ta’ala berfirman,
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلاَّ بِاللّهِ
“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)
Maka janganlah pede dengan diri kita sendiri. Mohonlah kepada Allah agar Allah memberikan kita kesabaran. Ketika ada masalah di depan kita, kita memohon kepada Allah agar diberikan kesabaran.
Oleh karena itulah, ketika terkena musibah, kita ucapkan,
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami kembali.”
Di antaranya kita juga ucapkan,
ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
“Segala puji bagi Allah atas semua keadaan.”
Biarlah Allah yang menolongmu dengan cara-Nya
Setiap ada masalah, tentu kita berusaha mencari solusi sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia, bukan hanya berpangku tangan. Namun, kita tidak dibebani untuk menyelesaikan semua masalah yang kita hadapi. Yang Allah perintahkan dan wajibkan kepada kita adalah untuk bersabar. Kita berbaik sangka kepada Allah, serta tidak tergesa-gesa dan terburu-buru mengharap solusi dan pertolongan Allah dalam waktu singkat.
Sabar dan berusaha adalah sebab mendapatkan solusi dan jalan keluar dari Allah Ta’ala. Inilah di antara salah satu keutamaan sabar sebagaimana dalam surah Al-A’raf ayat 137 yang telah disebutkan di atas. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Berdasarkan ayat di atas, sabar adalah solusi terbaik. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
أَن يَعْلَمَ أَنَّهُ إِنْ صَبَرَ فَاللَّهُ نَاصِرُهُ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ اللَّهَ وَكِيلُ مَن صَبَرَ وَأَحَالَ ظَالِمَهُ عَلَيْهِ، وَمَن ٱنتَصَرَ بِنَفْسِهِ لِنَفْسِهِ وَكَّلَهُ اللَّهُ إِلَىٰ نَفْسِهِ فَكَانَ هُوَ ٱلنَّاصِرَ لَهَا، فَأَيْنَ مَنْ نَاصَرَهُ اللَّهُ خَيْرُ ٱلنَّاصِرِينَ، إِلَىٰ مَنْ نَاصَرَهُ نَفْسُهُ أَعْجَزُ ٱلنَّاصِرِينَ وَأَضْعَفُهُ
“Hendaklah dia mengetahui bahwa jika dia bersabar, maka Allah pasti akan menolongnya. Sesungguhnya Allah adalah Pelindung orang yang bersabar, dan Dia akan membalikkan keadaan orang yang zalim atas dirinya sendiri. Barang siapa yang menolong dirinya sendiri, maka Allah menyerahkan urusannya kepada dirinya, sehingga dialah yang menolong dirinya sendiri. Maka, di manakah orang yang ditolong Allah -sedangkan Dia adalah sebaik-baik penolong-, dibandingkan dengan orang yang hanya ditolong oleh dirinya sendiri, yang justru merupakan penolong yang paling lemah dan paling tidak berdaya?” (Qa’idah fi Ash-Shabr, 1: 101)
Oleh karena itu, ketika sedang mendapatkan masalah dan musibah, kita tetap berusaha sebatas kemampuan kita sebagai manusia, namun jangan hilangkan kesabaran dari diri kita. Kita bersabar, terus meminta kepada Allah, dan yakinlah bahwa Allah yang akan mengurus dan menyelesaikan masalah-masalah kita dengan cara Allah sendiri.
Ketika menjelaskan surah Al-A’raf ayat 137 di atas, Al-Alusi rahimahullah menyebutkan atsar dari Hasan Al-Bashri rahimahullah,
لَوْ أَنَّ ٱلنَّاسَ إِذَا ٱبْتُلُوا۟ مِن قَبْلِ سُلْطَٰنِهِم بِشَىْءٍ صَبَرُوا۟ وَدَعَوُا۟ ٱللَّهَ تَعَالَىٰ لَمْ يَلَبَثُوا۟ أَنْ يَرْفَعَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ ذَٰلِكَ عَنْهُمْ وَلَٰكِنَّهُمْ يَفْزَعُونَ إِلَى ٱلسَّيْفِ فَيُوَكِّلُونَ إِلَيْهِ ثُمَّ تَلَا هَٰذِهِ ٱلْآيَةَ
“Seandainya manusia apabila diuji oleh penguasa mereka dengan suatu perkara (yaitu penguasa yang zalim), mereka bersabar dan memohon pertolongan kepada Allah Yang Maha Tinggi, niscaya tidak lama kemudian Allah Yang Maha Tinggi akan mengangkat perkara (kezaliman) itu dari mereka. Namun, mereka justru tergesa-gesa (tidak sabar) dan lari kepada pedang (yaitu melakukan pemberontakan), lalu menyerahkan urusan kepada pedang itu.” Kemudian beliau membaca ayat ini. (Tafsir Al-Alusi: Ruuhul Ma’ani, 5: 38)
Al-Alusi rahimahullah berkata,
قَدْ شَاهَدْنَا ٱلنَّاسَ سَنَةَ ٱلْأَلْفِ وَٱلْمِائَتَيْنِ وَٱلثَّمَٰنِينَ وَٱلْأَرْبَعِينَ قَدْ فَزَعُوا۟ إِلَى ٱلسَّيْفِ فَمَا أَغْنَاهُمْ شَيْئًا وَلَا تَمَّ لَهُمْ مَرَادٌ وَلَا حَمِدَ مِنْهُمْ
“Sesungguhnya kami telah menyaksikan manusia pada tahun seribu dua ratus empat puluh (1248 H) yang tergesa-gesa (tidak sabar) dan lari kepada pedang (melakukan pemberontakan), namun itu tidak memberikan manfaat apa pun bagi mereka, tujuan mereka pun tidak tercapai … ” (Tafsir Al-Alusi: Ruuhul Ma’ani, 5: 38)
Sekali lagi, bersabarlah dan tunggulah pertolongan-Nya dengan tetap berusaha semaksimal kemapuan kita sebagai manusia. Biarlah Allah yang menyelesaikan dengan cara-Nya … [2]
***
Unayzah, KSA; Selasa, 18 Safar 1447/ 12 Agustus 2025
Penulis: M. Saifudin Hakim
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] Sabar menghadapi musibah adalah salah satu bentuk sabar. Bentuk sabar yang lain adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan dan sabar dalam menahan diri dari berbuat maksiat.
[2] Disarikan dari kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA., berjudul: “Kaidah Kehidupan Dalam Al-Quran #38: Biar Allah yang Menyelesaikan Masalahmu”
Sumber: https://muslim.or.id/108472-faidah-surah-al-araf-ayat-137.html
Copyright © 2025 muslim.or.id
Safar Liburan & Rekreasi, Apa Boleh Jamak Qashar Shalat? #video ~7
Keutamaan Membangun Masjid Walau Hanya Memberi Satu Bata
Ternyata membangun masjid punya keutamaan yang besar. Bahkan bila kita membangun bagian kecil saja tetap punya keutamaan.
Bangun Masjid Walau Hanya Menyumbang Satu Bata
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ
“Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
Mafhash qathaah dalam hadits artinya lubang yang dipakai burung menaruh telurnya dan menderum di tempat tesebut. Dan qathah adalah sejenis burung.
Ibnu Hajar dalam Al-Fath (1: 545) menyatakan,
(مَنْ بَنَى مَسْجِدًا) التَّنْكِير فِيهِ لِلشُّيُوعِ فَيَدْخُلُ فِيهِ الْكَبِير وَالصَّغِير ، وَوَقَعَ فِي رِوَايَةِ أَنَس عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا
“Maksud dari “siapa yang membangun masjid” digunakan isim nakirah yang menunjukkan keumuman, sehingga maksud hadits adalah siapa yang membangun masjid besar maupun kecil. Dalam riwayat Anas yang dikeluarkan oleh Tirmidzi yang mendukung yang menyatakan dengan masjid kecil atau besar.”
Masih melanjutkan penjelasan Ibnu Hajar, yang diterangkan dalam hadits di atas adalah cuma bahasa hiperbolis. Karena tak mungkin tempat burung menaruh telur dan menderum yang seukuran itu dijadikan tempat shalat. Ada riwayat Jabir semakin memperkuat hal ini.
Sebagian ulama lainnya menafsirkan hadits tersebut secara tekstual. Maksudnya, siapa membangun masjid dengan menambah bagian kecil saja yang dibutuhkan, tambahan tersebut seukuran tempat burung bertelur; atau bisa jadi caranya, para jama’ah bekerja sama untuk membangun masjid dan setiap orang punya bagian kecil seukuran tempat burung bertelur; ini semua masuk dalam istilah membangun masjid. Karena bentuk akhirnya adalah suatu masjid dalam benak kita, yaitu tempat untuk kita shalat.
Berarti penjelasan Ibnu Hajar di atas menunjukkan bahwa jika ada yang menyumbang satu sak semen saja atau bahkan menyumbang satu bata saja, sudah mendapatkan pahala untuk membangun masjid … masya Allah.
Yang Penting Ikhlas Ketika Menyumbang
Berapa pun besar sumbangan untuk masjid harus didasari niatan ikhlas karena Allah. Karena yang dimaksud lillah, kata Ibnu Hajar adalah ikhlas (karena Allah). (Fath Al-Bari, 1: 545). Jadi, pahala besar membangun masjid yang disebutkan dalam hadits yang kita kaji bisa diraih ketika kita ikhlas dalam beramal, bukan untuk cari pujian atau balasan dari manusia.
Maksud Dibangunkan Bangunan Semisal di Surga
Hadits tentang keutamaan membangun masjid juga disebutkan dari hadits Utsman bin Affan. Di masa Utsman yaitu tahun 30 Hijriyah hingga khilafah beliau berakhir karena terbunuhnya beliau, dibangunlah masjid Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Utsman katakan pada mereka yang membangun sebagai bentuk pengingkaran bahwa mereka terlalu bermegah-megahan. Lalu Utsman membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ
“Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.” (HR. Bukhari no. 450 dan Muslim no. 533).
Kata Imam Nawawi rahimahullah, maksud akan dibangun baginya semisal itu di surga ada dua tafsiran:
1- Allah akan membangunkan semisal itu dengan bangunan yang disebut bait (rumah). Namun sifatnya dalam hal luasnya dan lainnya, tentu punya keutamaan tersendiri. Bangunan di surga tentu tidak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik dalam hati akan indahnya.
2- Keutamaan bangunan yang diperoleh di surga dibanding dengan rumah di surga lainnya adalah seperti keutamaan masjid di dunia dibanding dengan rumah-rumah di dunia. (Syarh Shahih Muslim, 5: 14)
Masjid Hanya untuk Ajang Pamer dan Saling Bangga
Yang tercela adalah jika masjid cuma untuk bermegah-megahan, bukan untuk tujuan ibadah atau berlomba dalam kebaikan. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِى الْمَسَاجِدِ
“Kiamat tidaklah terjadi hingga manusia berbangga-bangga dalam membangun masjid” (HR. Abu Daud no. 449, Ibnu Majah no. 739, An-Nasa’i no. Ahmad 19: 372. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim, perawinya tsiqah. Al-Hafizh Abu Thahir juga menyimpulkan bahwa sanad hadits ini shahih).
Itulah kenyataan yang terjadi saat ini di tengah-tengah kaum muslimin. Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Yang dimaksud hadits adalah saling menyombongkan diri dengan masjidnya masing-masing. Ada yang nanti berujar, wah masjidku yang paling tinggi, masjidku yang paling luas atau masjidku yang paling bagus. Itu semua dilakukan karena riya’ dan sum’ah, yaitu mencari pujian. Itulah kenyataan yang terjadi pada kaum muslimin saat ini.” (Minhah Al-‘Allam, 2: 495). Itulah tanda kiamat semakin dekat.
Semoga bermanfaat. Semoga artikel ini semakin memotivasi kita untuk membangun masjid di dunia, sehingga Allah menjadikan kita rumah yang indah dan penuh kenikmatan di surga. Wallahu waliyyut taufiq.
Referensi:
Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarh An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm.
Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
—
Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul @ Darush Sholihin, 28 Syawal 1436 H di pagi hari 7: 49 AM
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber https://rumaysho.com/11599-keutamaan-membangun-masjid-walau-hanya-memberi-satu-bata.html
Merasa Takut dan Khawatir terhadap Azab Neraka
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ ۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا إِنَّهَا سَآءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا
“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahanam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.’” (QS. Al-Furqan: 65-66)
Hamba-hamba Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih), di samping mereka senantiasa memperindah amal dan ibadahnya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, mereka masih merasa takut dan gentar terhadap azab dan murka-Nya. Inilah keadaan orang-orang mukmin yang sempurna. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)
Yaitu, mereka senantiasa mengutamakan ibadah dan ketaatannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tetapi dalam hati mereka selalu ada rasa takut jikalau amal yang mereka kerjakan tidak diterima oleh Allah. Sehingga mereka pun khawatir akan mendapatkan azab dari Allah Subhanahu wa Ta’ala karenanya.
Inilah sifat yang sangat agung yang dimiliki oleh seorang ‘ibadur-rahman, mereka memperindah setiap amalannya, tetapi pada saat yang sama mereka juga merasa khawatir jika amal yang ia lakukan tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat ini, ( وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ ) ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.’ Apakah mereka itu adalah para peminum khamr dan pencuri?’ Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Tidak, wahai putrinya Ash-Shiddiq. Akan tetapi, mereka adalah orang-orang yang berpuasa, melaksanakan salat dan bersedekah, namun mereka masih merasa takut amalan mereka tidak diterima.’” (HR. Tirmidzi no. 3175, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 162)
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Seorang mukmin menghimpun antara kebaikan dan rasa takut kepada Allah, sedangkan orang munafik menghimpun antara keburukan dan rasa aman (dari azab Allah). Kemudian beliau membaca firman Allah, ( إِنَّ الَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ ) ‘Sesungguhnya orang-orang yang karena takut kepada Rabb mereka, merasa khawatir (akan azab-Nya)’.” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam Tafsir-nya, 17: 68)
Orang munafik – wal ‘iyadzubillah – sangat buruk amalannya dan dia merasa aman dari azab Allah serta tidak ada takut sedikit pun (dalam hatinya). Berbeda dengan orang mukmin, karena ada rasa takut terhadap azab Allah yang akan menjadi penghalang baginya dari melakukan maksiat. Demikian pula rasa harap akan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi pendorong baginya untuk semakin menambah amal-amal kebajikan dan mendekatkan diri kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Allah Ta‘ala berfirman,
أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isra: 57)
Dan ucapan hamba-hamba Ar-Rahman dalam doa mereka sebelumnya, ( رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ ) “Wahai Tuhan kami, jauhkanlah azab neraka jahanam dari kami.” Ini juga mencakup doa agar dijauhkan dari sebab-sebab yang membawa kepada azab neraka, dengan taufik dari Allah untuk menjauh darinya. Sebagaimana terdapat hadis sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau telah mengajarkan kepada Aisyah, Ummul Mukminin, agar berdoa dengan mengucapkan,
اللَّهُمَّ إنِّي أسألُكَ الجَنَّةَ، وما قرَّبَ إليها من قولٍ أو عملٍ، وأعوذُ بكَ منَ النَّارِ، وما قرَّبَ إليها من قولٍ أو عملٍ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu surga dan segala sesuatu yang mendekatkan kepadanya berupa ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala sesuatu yang mendekatkan kepadanya berupa ucapan maupun perbuatan.” (HR. Ibnu Majah no. 3846, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 1542)
Dan ucapan mereka, ( إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ) “Sesungguhnya azabnya adalah kesengsaraan yang kekal”, maksudnya, azabnya itu kekal, terus-menerus, keras, dan tidak terputus. Kemudian, ( إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا ) “Sesungguhnya jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat tinggal.” Maksudnya, seburuk-buruk tempat menetap, dan seburuk-buruk tempat untuk hidup kekal (selamanya).
***
Penerjemah: Chrisna Tri Hartadi
Artikel Muslim.or.id
Referensi:
Kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 14-16.
Sumber: https://muslim.or.id/108908-sifat-ibadurrahman-bag-3.html
Copyright © 2025 muslim.or.id
Kontras #carousel




Cara Shalat Semalam Suntuk
Bagaimana cara shalat semalam suntuk?
Sebenarnya gampang sekali. Jawabannya bisa ditemukan dalam bahasan kali ini.
Riyadhus Sholihin, Kitab Al-Fadhail, Bab 192. Anjuran Menghadiri Shalat Berjamaah Shubuh dan Isya
Hadits #1071
عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُول اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَقُوْلُ : (( مَنْ صَلَّى العِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ ، فَكَأنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ ، وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ في جَمَاعَةٍ ، فَكَأنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ )) رواه مُسْلِمٌ .
Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang melaksanakan shalat Isya berjamaah, maka seolah ia telah melaksanakan shalat separuh malam. Dan barangsiapa yang melaksanakan shalat Shubuh berjamaah, maka seolah ia telah melaksanakan shalat semalaman penuh.’” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 656]
وَفِي رِوَايَةِ التِّرْمِذِي عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – :
(( مَنْ شَهِدَ العِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ قِيَامُ نِصْفَ لَيلَةٍ ، وَمَنْ صَلَّى العِشَاءَ وَالفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ ، كَانَ لَهُ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ )) قَالَ التِّرْمِذِي : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ )) .
Dalam riwayat Tirmidzi, dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang menghadiri shalat Isya berjamaah, maka baginya shalat separuh malam. Dan barangsiapa yang melaksanakan shalat Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya seperti shalat semalaman.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadits ini hasan shahih.) [HR. Tirmidzi, no. 221]
Faedah Hadits:
1- Dianjurkan menjaga shalat Shubuh dan Isya secara berjamaah. Karena kalau dua shalat ini dijaga, tentu shalat lainnya dijaga pula.
2- Menjaga shalat Shubuh dan Isya merupakan tanda iman. Karena ketika itu keadaan gelap dan sedang menikmati makan malam.
3- Yang meninggalkan shalat Shubuh dan Isya hanyalah munafik dan orang yang punya uzur.
4- Keutamaan shalat Shubuh berjamaah seperti melaksanakan shalat semalam penuh.
5- Keutamaan shalat Isya berjamaah seperti melaksanakan shalat separuh malam.
Hadits #1072
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي العَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوَاً )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ . وَقَدْ سَبَقَ بِطُوْلِهِ .
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya mereka mengetahui pahala shalat Isya dan Shubuh, pasti mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.” (Muttafaqun ‘alaihi, sudah lewat hadits panjangnya pada hadits no. 1033 dari kitab Riyadhus Sholihin.) [HR. Bukhari, no. 615 dan Muslim, no. 437]
Hadits #1073
وَعَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيْهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada shalat yang paling berat bagi orang munafik daripada shalat Shubuh dan Isya. Seandainya mereka mengetahui pahala keduanya, pasti mereka mendatanginya walaupun dalam keadaan merangkak.” (Muttafaqun ‘alaihi). [HR. Bukhari, no. 657 dan Muslim, no. 651]
Faedah Hadits:
1- Keutamaan shalat Shubuh dan Isya dalam berjamaah sangatlah besar.
2- Orang munafik ketika melaksanakan ibadah dalam keadaan yang jelek dan malas. Sifat orang munafik disebutkan dalam ayat,
وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisaa’: 142).
Ini Akibat Malas Bangun Shubuh
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَقِدَ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ
“Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan sholat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” (HR. Bukhari, no. 1142 dan Muslim, no. 776)
Telat Shubuh dan Dikencingi Setan
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia pernah berkata, “Di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan tentang seorang laki-laki yang tidur semalaman sampai datang pagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,
ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِى أُذُنَيْهِ – أَوْ قَالَ – فِى أُذُنِهِ
“Laki-laki itu telah dikencingi oleh setan pada kedua telinganya -dalam riwayat lain: di telinganya.” (HR. Bukhari, no. 3270 dan Muslim, no. 774).
Jika Bangun Kesiangan
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا رَقَدَ أَحَدُكُمْ عَنِ الصَّلاَةِ أَوْ غَفَلَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِى
“Jika salah seorang di antara kalian tertidur atau lalai dari shalat, maka hendaklah ia shalat ketika ia ingat. Karena Allah berfirman (yang artinya), “Kerjakanlah shalat ketika ingat.” (HR. Bukhari, no. 597 dan Muslim, no. 684).
Para ulama Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia di masa Syaikh Ibnu Baz mengatakan, “Jika engkau ketiduran atau lupa sehingga luput dari waktu shalat, maka hendaklah engkau shalat ketika engkau terbangun dari tidur atau ketika ingat walaupun ketika itu saat terbit atau tenggelamnya matahari.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah nomor 6196, 6:10)
Nasihat bagi yang Sering Begadang
Diriwayatkan dari Abu Barzah, beliau berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيْثَ بَعْدَهَا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari, no. 568)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang tidaklah begadang sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang saat ini. Mereka terbiasa tidur lebih awal setelah shalat Isya, supaya nantinya bisa mendirikan shalat Shubuh dan ada di antara mereka yang berharap bisa bangun untuk shalat malam. Shalat Shubuh dan Isya ini berat bagi orang munafik. Sehingga sudah sepantasnya seorang muslim benar-benar menjaga kedua shalat ini.” (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 5:83)
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk terus memperhatikan shalat.
Referensi utama: (1) Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:246-247. (2) Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan ketiga, Tahun 1427 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madarul Wathan.
—
@ Perpus Rumaysho, 14 Muharram 1439 H
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber https://rumaysho.com/16524-cara-shalat-semalam-suntuk.html
Melaksanakan Aqiqah Untuk Sang Anak
Anjuran untuk melaksanakan ‘aqiqah
Hukum ‘aqiqah diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ulama berpendapat hukumnya wajib bagi yang mampu. Adapun jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa hukumnya dianjurkan (sunnah) bagi yang mampu. Pendapat jumhur inilah yang dipilih oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafidzahullahu Ta’ala dalam kitab ini, Fiqh Tarbiyatul Abna’.
Sehingga dianjurkan untuk melaksanakan ‘aqiqah dengan menyembelih hewan ‘aqiqah untuk anak-anak kita pada hari ke tujuh kelahiran. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Samurah bin Jundab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى
“Setiap anak tergadai dengan ‘aqiqahnya. Disembelih hewan ‘aqiqah untuknya pada hari ke tujuh, (kepala) digundul (pelontos) dan diberi nama.” (HR. Abu Dawud no. 2838, Tirmidzi no. 1522 dan An-Nasa’i 7: 166, dan Ibnu Majah no. 3165, shahih)
Di masyarakat jahiliyyah, juga terdapat tradisi ‘aqiqah semacam ini. Akan tetapi, di antara budaya mereka pada saat ‘aqiqah adalah melumuri kepala bayi dengan darah binatang ‘aqiqah setelah disembelih. Tradisi atau budaya inilah yang kemudian dihapus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
At-Tirmidzi rahimahullahu Ta’ala berkata setelah meriwayatkan hadits di atas,
هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ العِلْمِ يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يُذْبَحَ عَنِ الغُلَامِ العَقِيقَةُ يَوْمَ السَّابِعِ، فَإِنْ لَمْ يَتَهَيَّأْ يَوْمَ السَّابِعِ فَيَوْمَ الرَّابِعَ عَشَرَ، فَإِنْ لَمْ يَتَهَيَّأْ عُقَّ عَنْهُ يَوْمَ حَادٍ وَعِشْرِينَ
“Status hadits ini adalah hasan shahih. Inilah yang diamalkan oleh para ulama. Dianjurkan untuk menyembelih hewan ‘aqiqah pada hari ke tujuh. Jika hewan ‘aqiqah belum tersedia pada hari ke tujuh, maka disembelih pada hari ke empat belas. Jika pada hari ke-14 belum tersedia, hewan ‘aqiqah disembelih pada hari ke dua puluh satu.” (Sunan At-Tirmidzi, 4: 101)
Dari perkataan At-Tirmidzi di atas, dapat diambil dua faidah:
Pertama: At-Tirmidzi mengutip adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa hukum ‘aqiqah adalah sunnah (dianjurkan).Namun klaim ijma’ di sini kurang tepat.
Kedua: At-Tirmidzi juga mengutip ijma’ bahwa dianjurkan melaksanakan ‘aqiqah di hari ke-14 jika hewan ‘aqiqah belum tersedia di hari ke-7. Dianjurkan juga melaksanakan ‘aqiqah di hari ke-21 jika hewan ‘aqiqah belum tersedia di hari ke-14. Sebetulnya, hadits tentang hal ini diperselisihkan statusnya oleh para ulama, hadits dha’if ataukah hadits hasan. Akan tetapi, ulama sepakat untuk mengamalkan kandungan hadits ini, yaitu dianjurkannya ‘aqiqah pada hari ke-14 atau hari ke-21. Jika pada hari ke-21 belum tersedia, maka bebas melaksanakan ‘aqiqah di hari apa pun (kapan saja), tidak perlu hari kelipatan tujuh (misalnya, hari ke-25, hari ke-24, dan seterusnya).
Oleh karena itu, jika ada orangtua yang belum mampu pada hari-hari tersebut, boleh menunda sampai ketika mereka sudah memiliki kemampuan melaksanakan ‘aqiqah.
‘Aqiqah untuk anak laki-laki dan perempuan
Berdasarkan redaksi hadits di atas, pada asalnya ‘aqiqah hanya untuk anak laki-laki (ghulaam). Akan tetapi, terdapat dalil khusus yang menunjukkan disyariatkannya ‘aqiqah untuk anak perempuan (jaariyah). Sehingga dianjurkan untuk melaksanakan ‘aqiqah berupa dua ekor kambing bagi anak laki-laki dan satu ekor kambing bagi anak perempuan.
Terdapat banyak hadits yang menunjukkan dianjurkannya hal ini sehingga secara keseluruhan status hadits-hadits tersebut shahih. Di antaranya dalam riwayat An-Nas’ai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَلَى الْغُلَامِ شَاتَانِ، وَعَلَى الْجَارِيَةِ شَاةٌ
“Bagi anak laki-laki dua ekor kambing, dan bagi anak perempuan satu ekor kambing.” (HR. An-Nasa’i no. 4217, shahih)
Demikian pembahasan singkat ini, semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk melaksanakan salah satu sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut.
***
Diselesaikan ba’da subuh, Rotterdam NL, 24 Dzulqa’dah 1438/ 17 Agustus 2017
Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim
Sumber: https://muslimah.or.id/9764-parenting-islami-bag-23.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id
Selupa itu kita dengan nikmat besar yang diberikan oleh-Nya #shorts
Menganalisis Strategi Empat Arah Misi Penyesatan Iblis
Jalan hidup manusia adalah jalan yang tidak pernah mulus, dalam banyak artian dan penafsiran. Terutama dalam jalan menuju Tuhannya, ada Iblis dan bala tentaranya yang selalu mengincar dari segala penjuru dan bersiap menyerang, menjauhkannya dari jalan lurus yang benar.
Semuanya bermula dari kejadian pasca penolakan Iblis bersujud kepada Adam ‘alaihissalam yang menjadi titik tolak permusuhan abadi antara makhluk terlaknat itu dan manusia. Dengan sombong dan angkuhnya, Iblis la’natullah ‘alaihi mendeklarasikan perang dan misi penyesatan abadi. Kisah ini diabadikan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,
قَالَ فَبِمَآ أَغْوَيْتَنِى لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَٰطَكَ ٱلْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لَـَٔاتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَـٰنِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَـٰكِرِين
“(Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 16-17)
Lihat, betapa keras kepala dan liciknya Iblis. Ia diusir dari surga karena pembangkangannya. Akan tetapi, alih-alih mengakui kesalahannya, bertobat, dan meminta ampunan kepada Allah, ia malah meminta penangguhan waktu sampai hari akhir agar bisa membawa pengikut sebanyak mungkin. Menyesatkan sebanyak mungkin, agar ia tidak menjadi satu-satunya yang diazab!
Iblis sangat serius ketika mendeklarasikan pembangkangannya tersebut. Ia berjanji dan berazam akan mendatangi manusia yang sedang berjalan di jalan yang benar, kemudian menyesatkannya dari setiap arah. Dalam ayat disebutkan secara eksplisit empat arah: depan, belakang, kanan, dan kiri. Sebut saja ini adalah “strategi empat arah” Iblis dalam misi penyesatannya.
Jalan yang lurus
Ada beberapa penafsiran terhadap apa yang dimaksud dengan “صِرَٰطَكَ ٱلْمُسْتَقِيمَ” (Jalan-Mu [Allah] yang lurus),
- Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan dengan “agama-Mu (Allah) yang sudah jelas”;
- Ibnu Mas’ud menafsirkan dengan “kitabullah”;
- Jabir menafsirkan dengan “Islam”; dan
- Mujahid menafsirkan dengan “kebenaran”.
Apapun itu, penafsiran-penafsiran tersebut tidaklah kontradiktif sama sekali, dan justru hakikatnya satu, dan merujuk pada satu makna: bahwa yang dimaksud dengan “jalan yang lurus” adalah “jalan yang mengantarkan seorang hamba pada Rab-nya, Allah Ta’ala”.
Lantas, apa yang Iblis maksudkan dengan empat arah: depan, belakang, kanan, dan kiri yang disebutkan dalam ayat tersebut? Mari kita kaji dan analisis strategi empat arah Iblis ini beserta beberapa cara praktis menghadapi serangannya berdasarkan interpretasi dari para ulama dalam hal ini.
Dari depan
Frasa “dari depan” diartikan dalam berbagai variasi penafsiran, berdasarkan riwayat yang ada. Ada yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang mengartikannya sebagai godaan dari sisi dunia.
Sementara itu, riwayat lainnya menafsirkannya sebagai serangan terhadap keyakinan terkait akhirat, di antaranya dengan doktrin anti-akhirat. Hasan Al-Bashri juga meriwayatkan penafsiran yang memperkuat ini, bahwa yang dimaksud dengan “dari depan” adalah Iblis menanamkan skeptisisme pada manusia akan akhirat, di mana manusia dibuat mengingkari kebangkitan setelah kematian, serta hakikat-hakikat akhirat terkait surga dan neraka.
Dari belakang
Ada yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu penafsiran “dari belakang” dengan serangan dan godaan dari segi akhirat. Namun, beberapa riwayat lain menyampaikan berkebalikan, yaitu bahwa ini adalah serangan dari segi yang menyangkut hal-hal terkait dunia.
Serangan ini di antaranya berupa dibuatnya manusia menjadi cinta dunia. Dalam nukilan dari Hasan Al-Bashri, ia menyampaikan bahwa Iblis membuat dunia ini begitu indah, menggoda, dan menggiurkan di mata manusia, sehingga orientasi manusia kemudian hanyalah pada dunia, akumulasi materi, harta, tahta, wanita, jabatan, dan validasi duniawi lainnya.
Abu Shalih juga menyampaikan penafsiran bahwa yang dimaksud adalah desakralisasi agama, di mana manusia dibuat jauh dari konsep akhirat dan menormalisasi persepsi bahwa akhirat hanyalah fiktif belaka, dan kemudian jadilah seakan dunia lah kehidupan yang hakiki.
Dari kanan
Arah kanan secara simbolis merepresentasikan kebenaranan dan amal baik. Maka yang dimaksud serangan dari kanan di antaranya adalah yang berkaitan dengan amalan kebaikan. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan dengan pengaburan agama di mata manusia, seperti dengan mengkontaminasikan pikiran dan amalan-amalan syubhat.
Adapun dalam riwayat lain, begitupun dengan Qatadah, menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah dari segi amal baik. Maksudnya, seseorang diperlambat untuk melaksanakan kebaikan, alias dibuat malas. Juga ketika seseorang merasa terlalu optimis dengan amalan yang sudah ia perbuat selama ini. Ia merasa cukup dan tidak perlu memperbanyak amal saleh lagi, ini juga termasuk, seperti yang disebutkan oleh Ibnu Juraij.
Makna lainnya juga menyebutkan hal senada, seperti dalam suatu riwayat dari Sufyan, yaitu “dihalangi dari jalan kebenaran”.
Dari kiri
Berkebalikan dengan arah kanan, serangan dari arah kiri cenderung berkaitan dengan keburukan dan maksiat, seperti syahwat dan syubhat. Manusia dibuat tertarik pada maksiat, termasuk ketika maksiat itu dengan begitu mudahnya dapat diakses di manapun, kapanpun, sehingga seakan tidak ada lagi batas antara seorang anak Adam dengan maksiat.
Merujuk kepada penafsiran oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, serangan dari kiri ini berarti dari aspek keburukan. Adapun di antara taktiknya sebagaimana ditafsirkan oleh As-Suddi juga Al-Kalbi, yaitu dengan keburukan dan kebatilan yang dibuat mudah diakses dan ringan untuk dilakukan, berbagai syahwat, nafsu, kelezatan, dan kenikmatan dunia yang fana dihias dan dibuat sehingga tampak sangat menggoda di mata manusia, dan taktik-taktik semisal itu.
Di antara penafsiran terkait strategi empat arah Iblis ini, mengacu pada penjelasan yang disampaikan oleh Mujahid dan Ibnu Juraij, bahwa jika diklasifikasikan berdasarkan tampak-tidaknya, maka: serangan dari arah depan dan kanan sebagai serangan langsung, tampak, dan dapat dilihat dengan jelas; sementara serangan dari arah belakang dan kiri sebagai sebaliknya, yaitu tidak langsung dan tidak tampak.
Serangan yang tampak jelas salah satu bentuknya adalah ketika manusia melakukan suatu amalan buruk, maksiat, kesalahan, kebatilan, dan kefasikan; lalu ia mengetahui yang ia lakukan adalah salah. Berbeda dengan serangan tak tampak, bentuknya ketika manusia melakukan kebatilan, sementara ia tidak menyadari bahwa yang ia lakukan adalah salah; lebih parahnya bahkan ia menganggap yang dilakukannya adalah benar.
Serangan dari atas?
Jika diamati secara saksama, narasi Iblis mengenai serangannya terhadap manusia tidak menyebutkan arah “atas”. Mengapa demikian?
Ibnu Abbas dan Asy-Sya’bi menuturkan bahwa hal ini berkaitan erat dengan keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Dzat Yang Maha Tinggi, dan rahmat-Nya senantiasa turun dari atas. Oleh karena itu, Iblis yang merupakan makhluk terlaknat dan pembangkang, tidak akan pernah berani menyinggung arah “atas” dalam konteks serangannya terhadap manusia. Hal ini karena arah “atas” secara simbolis merupakan arah keagungan dan kekuasaan Allah, serta merupakan sumber segala kebaikan dan rahmat.
Dengan demikian, tidak disebutkannya arah “atas” dalam narasi serangan Iblis merupakan sebuah isyarat mendalam tentang pengakuan tidak langsung Iblis terhadap keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menunjukkan batasan kekuasaan Iblis yang tidak akan pernah mampu menembus perlindungan dan rahmat Allah yang datang dari arah “atas”.
Antidot praktis menangkal godaan-tipu daya setan
Sebagai penutup, mari menukil perkataan seorang zuhud, Syaqiq bin Ibrahim Al-Balkhi, beliau pernah menuturkan bagaimana setan benar-benar mendatanginya untuk menggodanya menjauh dari jalan yang benar, serta antidot syar’i yang ia terapkan,
ما من صباحٍ إلا قعد لي الشيطان على أربعة مراصد: من بين يديَّ، ومن خلفي، وعن يميني، وعن شمالي، فيقول: لا تَخف فإن الله غفور رحيم، فأقرأ: ((وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى))،
وأما من خلفي فيُخوِّفني الضيْعة على من أُخلّفه، فأقرأ: ((وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا))
ومن قِبَل يميني، يأتيني من قِبَل الثَّناء، فأقرأ: ((وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ))،
ومن قبل شمالي، فيأتيني من قبل الشهوات، فأقرأ: ((وَحِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ))
“Tidaklah berlalu suatu pagi, melainkan setan telah bersiaga atasku di empat pos pengintaiannya: di depanku, di belakangku, di kananku, dan di kiriku.
(Dari hadapanku) ia kemudian membisikkan, ‘Jangan takut (berbuat dosa), karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ Aku pun membaca (firman-Nya), ‘Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk.’ (QS. Thaha: 82)
Adapun dari belakangku, setan menakutiku dengan kekhawatiran akan (nasib) orang-orang yang kutinggalkan, maka aku membaca (firman-Nya), ‘Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauḥ Maḥfūẓ).’ (QS. Hud: 6)
Sementara dari kanan, ia (setan) mendatangiku lewat pintu pujian dan sanjungan, aku lantas membaca (firman-Nya), ‘Dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.’ (QS. Al-A’raf: 128)
Dan dari kiri, ia (setan) mendatangiku lewat pintu syahwat, aku pun membaca (firman-Nya), ‘Dan diberi penghalang antara mereka dengan apa yang mereka inginkan’. (QS. Saba: 54)”
Dari sini, bisa diketahui bahwa kehidupan kita dalam perjalanan menuju kepada Allah Ta’ala tidaklah aman, bahkan selalu dikelilingi oleh godaan Iblis dalam misi primordialnya sejak dahulu kala.
Dengan memahami strategi empat arah Iblis: depan (godaan dunia, skeptisisme akhirat), belakang (cinta dunia, desakralisasi agama), kanan (fitnah amal kebaikan seperti memperlambat kebaikan, rasa cukup dengan amal), dan kiri (fitnah maksiat dan syahwat), kita menyadari bahwa Iblis selalu mengintai dari segala penjuru, tentunya hanya untuk menyesatkan manusia dari jalan yang benar. Jika merujuk pada pernyataan yang secara ekspilit ada pada ayat, kecuali dari “atas” yang merupakan simbol keagungan dan rahmat Allah.
Oleh karena itu, dengan memperbaiki hubungan vertikal manusia (hamba) dan manusia (Rabbnya), juga dengan selalu membersihkan hati dan memurnikan niat, harapannya kita dapat senantiasa terjaga dan tetap berada di jalan yang lurus. Wallahu Ta’ala a’lam bis shawab.
***
Penulis: Abdurrahman Waridi Sarpad
Artikel Muslim.or.id
Referensi:
Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At-Thabari, Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Aay Al-Qur’an (10: 96-101).
Abu Abdullah Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Qayyim Al-Jauziyah, Igatsat Al-Lahafan fi Mashayid Asy-Syaithan (1: 175-181).
Ahmad bin Muhammad bin Ibahim Ats-Tsa’labi, Al-Kasyfu wa Al-Bayan ‘an Tafsir Al-Qur’an (4: 221-222).
Sumber: https://muslim.or.id/109041-menganalisis-strategi-empat-arah-misi-penyesatan-iblis.html
Copyright © 2025 muslim.or.id






