Bersegeralah Membayar Hutang

Hutang hukumnya mubah tapi konsekuensinya harus dibayar…
Apabila kita mampu untuk segera melunasinya, maka bergegaslah melunasinya..,
dan wajib dibayar jika hutang tersebut telah jatuh tempo. Dan apa bila telah jatuh tempo sedangkan anda mampu membayarnya namun anda tunda tunda maka anda akan berDOSA..

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “مَطْل الغنيِّ ظلم. وإذا أُتْبع أحدكم على مَلِئٍ فليَتْبع” متفق عليه.

Dari abi hurairoh rodhiallhu ‘anhu berkata: Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda:
Menunda pembayaran hutang dalam kondisi mampu adalah suatu kezhaliman. Dan jika salah seorang diantara kalian diikutkan(hutangnya) kepada orang yang mampu, maka hendaklah dia mengikutinya” [Al-Bukhari III/55, 85 Muslim III/1197 nomor 1564,]

Akhirnya kita selalu berdoa’:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku
berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.” HR. Al-Bukhari 7/158.

Ingatlah wahai saudaraku jika salah seorang diantara kita meninggal dunia dalam kondisi berhutang, sangat dikhawatirkan jika hutang tersebut disepelekan oleh anak anak kita, dan natinya ia akan menjadi beban dihari akhirat.

Saudaraku.. Hutang adalah kehinaan disiang hari dan fikiran dimalam hari..

Prinsip hidup: tidak berhutang kecuali darurat tuk menyelamatkan jiwa..
Jika tak mampu belanja atau beli sesuatu penting maka sabarlah..selama tak mempertaruhkan nyawa atau martabat…

Sambil berusaha dan berdoa..
Jangan jadikan kebiasaan jiwa kita mudah tuk berhutang.!!

Keinginan yang konsumtif jangan dituruti.. Karena ia hanyalah dunia sementara.

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/606

Pelit Terhadap Dirinya Sendiri

Tahukan anda, bahwa ada manusia yang sangat pelit sekali, bahkan sampai pada derajat pelit terhadap dirinya sendiri padahal ia sedang butuh. Uangnya banyak dan ia mampu membeli, tapi ia pelit takut hartanya berkurang:

  • Ia mampu membeli baju yang bagus (tidak harus mahal), tapi ia tidak beli karena takut hartanya berkurang. Padahal termasuk sunnah adalah berpakaian dengan pakaian yang bagus jika mampu.[1]
  • Ia butuh berobat dan mampu membayarnya, tetapi ia memilih tidak berobat karena takut hartanya berkurang.

Ini adalah puncak dari penyakit hati yaitu kikir/bakhil. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi berkata:

 ﻭﺃﺷﺪ ﺩﺭﺟﺎﺕ ﺍﻟﺒﺨﻞ ﺃﻥ ﻳﺒﺨﻞ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻪ ﻣﻊ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ،ﻓﻜﻢ ﻣﻦ ﺑﺨﻴﻞٍ ﻳﻤﺴﻚ ﺍﻟﻤﺎﻝ،ﻭﻳﻤﺮﺽ ﻓﻼ ﻳﺘﺪﺍﻭﻯ،ﻭﻳﺸﺘﻬﻲ ﺍﻟﺸﻬﻮﺓ ﻓﻴﻤﻨﻌﻪ ﻣﻨﻬﺎ ﺍﻟﺒﺨﻞ 

“Derajat pelit yang paling parah adalah pelit terhadap diri sendiri padahal ia sedang membutuhkan, betapa banyak manusia yang menahan hartanya (tidak keluar), semisal ketika sakit dan tidak berobat. Ia sedang berhajat terhadap sesuatu tetapi ia tahan karena pelit.” [2]

Bahkan terhadap keluarga yang ia cintai, terhadap anak-anak dan istrinya ia juga pelit, padahal sedang membutuhkan. Allah berfirman,

ﻭَﻻ ﺗَﺠْﻌَﻞْ ﻳَﺪَﻙَ ﻣَﻐْﻠُﻮﻟَﺔً ﺇِﻟَﻰ ﻋُﻨُﻘِﻚَ ﻭَﻻ ﺗَﺒْﺴُﻄْﻬَﺎ ﻛُﻞَّ ﺍﻟْﺒَﺴْﻂِ ﻓَﺘَﻘْﻌُﺪَ ﻣَﻠُﻮﻣًﺎ ﻣَﺤْﺴُﻮﺭًﺍ

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (terlalu kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (terlalu boros), karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (Al-Israa: 29).

Asy-Syaukani menjelaskan tafsir ayat,

ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺍﻟﻨﻬﻲ ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ ﺑﺄﻥ ﻳﻤﺴﻚ ﺇﻣﺴﺎﻛﺎً ﻳﺼﻴﺮ ﺑﻪ ﻣﻀﻴﻘﺎً ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﺃﻫﻠﻪ

“Maksud larangan adalah pada manusia yang menahan hartanya (benar-benar pelit) sehingga mempersulit dirinya sendiri dan keluarganya.”[3]

Semoga kita dijauhkan dari sifat kikir terhadap orang lain terlebih-lebih terhadap diri dan keluarga. Berikut doa berlindung dari sifat kikir.

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲْ ﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻬَﻢِّ ﻭَﺍﻟْﺤُﺰْﻥِ، ﻭَﺍﻟْﻌَﺠْﺰِ ﻭَﺍﻟْﻜَﺴَﻞِ، ﻭَﺍﻟْﺒُﺨْﻞِ ﻭَﺍﻟْﺠُﺒْﻦِ، ﻭَﺿَﻠَﻊِ ﺍﻟﺪَّﻳْﻦِ ﻭَﻏَﻠَﺒَﺔِ ﺍﻟﺮِّﺟَﺎﻝِ

[Allahumma innii a’udzubika minalhammi walhuzni wal’ajzi walkasali walbukhli waljunbi wa dhala’idaini wa ghalabatirrijali]“Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.”[4]


@Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com

Catatan kaki:

[2] Mukhtasar Minhaj. Al-Qashidin, hal. 205
[3] Fathul Qadiir 3/318
[4] HR. Al-Bukhari 7/158

sumber: https://muslimafiyah.com/pelit-terhadap-dirinya-sendiri.html

Zulkaidah, Bulan Haram yang Kita Lalaikan

Dalam ajaran agama kita, ada beberapa bulan haram yang perlu kita ketahui. Maksud bulan haram yaitu bulan tersebut adalah bulan yang mulia, kita lebih ditekankan menjauhi hal yang haram dan lebih ditekankan melakukan amal kebaikan pada bulan haram.

Allah Ta’ala berfirman mengenai bulan haram,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah [9]: 36)

Empat bulan tersebut adalah bulan Muharam, Zulkaidah, Zulhijah, dan Rajab. Sebagaimana disebutkan dalam hadis, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah Ta’ala menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Zulkaidah, Zulhijah dan Muharam. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadilakhir dan Syakban” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian juga, Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan,

وهي‏:‏ رجب الفرد، وذو القعدة، وذو الحجة، والمحرم، وسميت حرما لزيادة حرمتها، وتحريم القتال فيها‏

“Yaitu bulan Rajab, Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam. Dinamakan bulan Haram karena keharamannya bertambah, diharamkan membunuh pada bulan tersebut.” (Lihat Tafsir As-Sa’di)

Beberapa ulama menjelaskan mengenai keutamaan bulan Haram. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,

ثم اختص من ذلك أربعة أشهر فجعلهن حراما ، وعظم حرماتهن ، وجعل الذنب فيهن أعظم ، والعمل الصالح والأجر أعظم

“Allah mengkhususkan empat bulan tersebut dan menjadikannya bulan haram. Allah jadikan melakukan perbuatan dosa pada saat itu lebih besar, sedangkan beramal salih diberi pahala lebih besar juga.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Musthafa bin Sa’ad Al-Hambali rahimahullah juga menjelaskan bahwa pahala dan dosa dilipatgandakan pada waktu mulia dan tempat yang mulia. Beliau rahimahullah berkata,

وتضاعف الحسنة والسيئة بمكان فاضل كمكة والمدينة وبيت المقدس وفي المساجد , وبزمان فاضل كيوم الجمعة , والأشهر الحرم ورمضان

“Kebaikan dan keburukan (dosa) dilipatgandakan pada tempat yang mulia seperti Mekkah, Madinah, Baitulmaqdis, dan di masjid. Pada waktu yang mulia seperti hari Jumat, bulan-bulan haram, dan Ramadan.” (Mathalib Ulin Nuha, 2: 385)

Zulkaidah yang kita lalaikan

Keutamaan Zulkaidah sebagai bulan haram jarang kita sebarkan dan bisa jadi sedikit kaum muslimin yang mengetahuinya. Mengapa demikian? Karena bisa jadi bulan haram lainnya ada beberapa dalil khusus terkait.

Bulan Muharam ada dalil khusus, sebagian berpendapat bulan Muharam adalah bulan terbaik setelah Ramadan dan dinamakan Syahrullah (Bulan Allah).

Dari Abu Hurairah Radhiallahu‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم

“Sebaik-baik puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, (yaitu) di bulan Muharam.” (HR. Muslim)

Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan,

إن الله افتتح السنة بشهر حرام وختمها بشهر حرام، فليس شهر في السنة بعد شهر رمضان أعظم عند الله من المحرم، وكان يسمى شهر الله الأصم من شدة تحريمه،

“Allah membuka awal tahun dengan bulan haram (Muharam) dan menutup  akhir tahun dengan bulan haram (Zulhijah). Tidak ada bulan dalam setahun, setelah bulan Ramadan, yang lebih mulia di sisi Allah daripada bulan Muharam. Dulu bulan ini dinamakan Syahrullah Al-Asham (bulan Allah yang sunyi), karena sangat mulianya bulan ini.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 34)

Demikian juga dalil khusus bulan Zulhijah karena di dalamnya ada ibadah haji yang agung, bahkan salah satu tafsir dari ayat berikut adalah bulan Zulhijah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالْفَجْرِ. وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Demi fajar. Dan (demi) malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

والليالي العشر : المراد بها عشر ذي الحجة ، كما قاله ابن عباسٍ وابن الزبير ومُجاهد وغير واحدٍ من السلف والخلف

“Yang dimaksud dengan ‘malam yang sepuluh’ adalah sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Ibnu az-Zubair, Mujahid, dan lainnya dari kalangan kaum salaf dan khalaf.” (Tafsir Ibni Katsir, 8: 535)

Demikian juga bulan Rajab, di mana banyak dari hadis-hadis tentang bulan Rajab yang di antaranya ada yang tidak sahih.

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,

فأما الصلاة فلم يصح في شهر رجب صلاة مخصوصة تختص به, والأحاديث المروية في فضل صلاة الرغائب في أول ليلة جمعة من شهر رجب، كذب وباطل لا تصح, وهذه الصلاة بدعة عند جمهور العلماء.

“Tidak terdapat dalil yang sahih yang menyebutkan adanya anjuran salat khusus di bulan Rajab. Adapun hadis-hadits mengenai keutamaan salat raghaib di malam Jumat pertama bulan Rajab adalah hadis dusta, batil, dan tidak sahih. Salat raghaib adalah bid’ah menurut mayoritas ulama.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 213)

Demikian, semoga bermanfaat. Semoga kita bisa beramal salih di bulan Zulkaidah. Aamiin.

@Lombok, Pulau Seribu Masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber: https://muslim.or.id/67158-zulkaidah-bulan-haram-yang-kita-lalaikan.html

Dosa Jariyah, Setelah Mati Dosa Terus Mengalir

Jika kita tidak punya amal jariyah maka pastikanlah kita tidak punya dosa jariyah setelah kematian. Sangat rugi, jika kita mati membawa dosa jariyah, dosa terus mengalir sampai hari kiamat.

Contohnya:

  • Pernah share video porno, itu tersebar setelah kamatiannya dan ia belum bertaubat
  • Pernah share foto membuka aurat di media sosial dan tersebar serta dilihat oleh laki-laki
  • Pernah mengajarkan keburukan dan memberi contoh, ia belum bertaubat dan belum memperbaiki dan membenarkan ajaran yang tersebar tersebut.

Jika ia bertaubat dan ikhlas, berusaha menghilangkan dosa yang yang ia ajarkan dan ia sebar, akan diampuni oleh Allah.

Berikut beberapa dalil adanya dosa jariyah. Sebagaimana ada amal jariyah maka ada juga dosa jariyah sebagaimana dalam hadits berikut:

« ﻣَﻦْ ﺳَﻦَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﺳُﻨَّﺔً ﺣَﺴَﻨَﺔً، ﻓَﻠَﻪُ ﺃَﺟْﺮُﻫَﺎ، ﻭَﺃَﺟْﺮُ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ، ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﻘُﺺَ ﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻲْﺀٌ، ﻭَﻣَﻦْ ﺳَﻦَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﺳُﻨَّﺔً ﺳَﻴِّﺌَﺔً، ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭِﺯْﺭُﻫَﺎ ﻭَﻭِﺯْﺭُ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻩِ، ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﻘُﺺَ ﻣِﻦْ ﺃَﻭْﺯَﺍﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻲْﺀٌ 

“Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang hasanah (baik) dalam Islam maka baginya pahala dari perbuatannya itu dan pahala dari orang yang melakukannya sesudahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang buruk, maka baginya dosanya dan DOSA ORANG YANG MELAKUKAN SESUDAHNYA, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” [1]

Demikian juga Allah berfirman bahwa orang yang mengajarkan atau mencontohkan perbuatan dosa, ia akan menanggung dosa orang yang mengikutinya,

ﻟِﻴَﺤْﻤِﻠُﻮﺍ ﺃَﻭْﺯَﺍﺭَﻫُﻢْ ﻛَﺎﻣِﻠَﺔً ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻭَﻣِﻦْ ﺃَﻭْﺯَﺍﺭِ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﻀِﻠُّﻮﻧَﻬُﻢْ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﺃَﻟَﺎ ﺳَﺎﺀَ ﻣَﺎ ﻳَﺰِﺭُﻭﻥَ

“Mereka akan memikul dosa-dosanya dengan penuh pada Hari Kiamat, dan MEMIKUL DOSA-DOSA ORANG YANG MEREKA SESATKAN, yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan).” (QS. an-Nahl: 25)

Mujahid menafsirkan ayat ini, beliau berkata:

ﻳﺤﻤﻠﻮﻥ ﺃﺛﻘﺎﻟﻬﻢ : ﺫﻧﻮﺑﻬﻢ ﻭﺫﻧﻮﺏ ﻣﻦ ﺃﻃﺎﻋﻬﻢ، ﻭﻻ ﻳﺨﻔﻒ ﻋﻤﻦ ﺃﻃﺎﻋﻬﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺬﺍﺏ ﺷﻴﺌًﺎ

“Mereka menanggung dosa mereka sendiri dan dosa orang lain yang mengikuti mereka. Mereka sama sekali tidak diberi keringanan azab karena dosa orang yang mengikutinya.” [2]

Kehidupan kita di dunia ini pasti akan memberikan dampak setelah kita mati dan meninggalkan jejak kebaikan atau keburukan. Dampak inilah yang dimaksud dalam ayat:

ﺇِﻧَّﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻧُﺤْﻴِﻲ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗَﻰ ﻭَﻧَﻜْﺘُﺐُ ﻣَﺎ ﻗَﺪَّﻣُﻮﺍ ﻭَﺁﺛَﺎﺭَﻫُﻢْ ﻭَﻛُﻞَّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺃَﺣْﺼَﻴْﻨَﺎﻩُ ﻓِﻲ ﺇِﻣَﺎﻡٍ ﻣُﺒِﻴﻦٍ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati, dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan, dan bekas-bekas (dampak) yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)

Cara Bertaubat dari Dosa Jariyah

Yaitu dengan cara bersungguh-sungguh bertaubat, jika sudah menyebarkan kejelekan, maka berusaha menghilangkannya dan mencari agar dihapus. Jika sudah mengajarkan, maka berusaha memperbaiki dan menyebarkan koreksi dari kesalahan yang ia sebar.

Jika sudah bertaubat, maka sudah tidak ada dosa lagi. Dalam hadits:

ﺍﻟﺘﺎﺋﺐ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻧﺐ ﻛﻤﻦ ﻻﺫﻧﺐ ﻟﻪ

“Orang yang telah bertaubat dari dosa-dosanya (dengan sungguh-sungguh) adalah seperti orang yang tidak punya dosa“. [3]

Jika sudah berusaha mencari, tapi yang kita sebarkan tidak ditemukan, semoga ini dimaafkan karena sudah di luar kemampuan hamba dan bertakwa semampu kita:

Allah berfirman,

ﻻَ ﻳُﻜَﻠِّﻒُ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻧَﻔْﺴًﺎ ﺇِﻻَّ ﻭُﺳْﻌَﻬَﺎ

“Allah tidak membebani jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya.” (Al-Baqarah ayat 286)


Demikian semoga bermanfaat.

@Yogyakarta Tercinta
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com

Catatan kaki:
[1] HR. Muslim no.1017 
[2] Tafsir Ibn Katsir, 4/566
[3] HR Ibnu Majah no. 4250, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah

sumber: https://muslimafiyah.com/dosa-jariyah-setelah-mati-dosa-terus-mengalir.html

Awal Mula Kasus Perselingkuhan di Kantor

Perselingkuhan sering kali tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia berawal dari hal-hal kecil yang dianggap sepele, namun dibiarkan terus berkembang tanpa batasan. Di lingkungan kerja, interaksi antara laki-laki dan perempuan memang tidak bisa dihindari. Namun, di situlah letak ujian itu. Ketika komunikasi tidak dijaga dan batasan mulai dilonggarkan, maka pintu-pintu fitnah pun mulai terbuka.

Seorang laki-laki hendaknya tidak bermudah-mudahan dalam berinteraksi dengan perempuan, demikian pula sebaliknya. Bersikaplah tegas dan seperlunya. Jika memang terkait urusan pekerjaan, maka cukup sesuai kebutuhan. Tidak perlu bertele-tele, apalagi sampai mengakrabkan diri di luar batas profesional. Karena ketika obrolan sudah melebar dari urusan kerja, di situlah bibit-bibit perselingkuhan mulai muncul.

Perlu disadari, niat untuk berselingkuh pada awalnya sering kali tidak ada. Namun, keadaanlah yang perlahan mengantarkan seseorang ke arah sana. Ada ungkapan yang cukup menggambarkan hal ini: “Perselingkuhan bukan hanya karena niat, tetapi karena adanya kesempatan.”

Banyak kasus bermula dari hal sederhana: duduk bersama rekan kerja, mengobrol santai, atau sekadar saling berkirim pesan melalui WhatsApp. Awalnya hanya membahas pekerjaan, kemudian berlanjut pada keluhan bersama tentang kantor, lalu merembet ke urusan pribadi. Dari sini muncul rasa empati, merasa dipahami, lalu timbul rasa nyaman. Tanpa disadari, rasa nyaman itu berkembang menjadi ketertarikan, hingga akhirnya menyeret pada perselingkuhan.

Inilah cara setan memperdaya manusia: perlahan, bertahap, selangkah demi selangkah, tanpa disadari. Sering kali setan tidak langsung mendorong pada perbuatan keji yang besar, melainkan melalui tahapan yang membuat manusia merasa semuanya biasa saja.

Oleh karena itu, laki-laki harus waspada, karena wanita merupakan fitnah terbesar bagi laki-laki. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Aku tidak meninggalkan satu godaan pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)

Perhatikan pula bahwa Bani Israil mengalami kerusakan, salah satunya disebabkan oleh wanita. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِى النِّسَاءِ

“Waspadalah dengan dunia, begitu pula dengan godaan wanita. Karena cobaan yang menimpa Bani Israil pertama kalinya adalah karena sebab godaan wanita.” (HR. Muslim no. 2742)

Di sisi lain, seorang perempuan juga perlu menyadari hal ini. Jangan mudah membuka pintu kedekatan dengan laki-laki lain yang bukan mahram. Menjaga diri dari perselingkuhan bukan dimulai ketika godaan sudah besar, tetapi sejak awal dari hal-hal kecil yang sering diremehkan.

Artikel http://www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber: https://muslimafiyah.com/awal-mula-kasus-perselingkuhan-di-kantor.html

Siapakah Orang yang Paling Cerdas?

Seringkali kita, khususnya kami dan kita semua secara umum, perlu bercermin kepada para pendahulu dari kalangan orang-orang shalih, bagaimana mereka bisa melakukan sesuatu di atas pencapaian manusia normal pada umumnya?

Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu, ia rela menahan rasa sakit di dadanya yang diletakkan di atasnya sebuah batu besar di tengah panasnya terik matahari di gurun pasir. Alasan besar apa yang membuatnya bertahan dengan rasa sakit itu?

Asiyah istri Fir’aun radhiyallahu ‘anha, tak gentar ketika harus disiksa karena perintah Fir’aun suaminya sendiri, padahal posisinya saat itu sebagai istri seorang raja dengan segenap kemewahannya. Alasan besar apa yang membuat ia berani mengambil keputusan lebih baik disiksa daripada tetap dalam kemewahan dunia?

‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, rela meninggalkan semua hartanya di Makkah pada saat ingin hijrah ke Madinah dan harus membangun ulang kehidupannya. Padahal ia bisa saja memilih tetap di Makkah untuk menikmati kekayaannya yang diidam-idamkan oleh manusia. Alasan besar apa yang membuatnya melakukan hal itu?

Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu, khalifah kaum muslimin di waktu itu, ia sampai-sampai tidak berani menggunakan lampu fasilitas negara untuk keperluan pribadinya. Alasan besar apa yang membuat ia melakukan hal itu padahal hal tersebut terlihat sangat sepele menurut orang-orang pada umumnya?

Perbuatan besar atau pencapaian yang tinggi pasti memiliki alasan yang juga besar di belakangnya. Siapa yang ingin bersusah payah jika tidak ada suatu hal yang lebih besar yang ingin dia capai yang bisa menggantikan kenikmatan yang padahal dia bisa nikmati waktu itu? Tentu ada alasan yang sangar luar biasa besar di balik itu, alasan tersebut disebutkan pada hadis berikut ini,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».

“Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshar mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian. Itulah mereka orang-orang yang paling cerdas.”” (HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah)

Kita fokuskan bahasan kita pada kalimat, “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian. Itulah mereka orang-orang yang paling cerdas.”

Bilal bin Rabah, Asiyah istri Fir’aun, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Umar bin ‘Abdul ‘Aziz radhiyallahu ‘anhum ajma’in, mereka adalah di antara contoh orang-orang paling cerdas di dunia ini, kenapa?

Karena mereka memikirkan masa depan dengan sangat baik, mungkin beberapa orang di luar sana berkata, “Orang-orang sudah sampai ke bulan, kita di sini masih saja berbicara agama, ketinggalan zaman.”

Seandainya mereka mengetahui yang sebenarnya, mungkin mereka tidak akan berkata seperti itu, karena faktanya orang-orang yang berpegang teguh pada agamanya, pengetahuan mereka melampaui bulan. Mereka tahu bulan dan matahari dan segala sesuatu di alam semesta ini bersujud dan tunduk kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka mengerti pada waktunya semua ini akan hancur, kecuali yang Allah kehendaki, dan tempat tinggal kita saat itu neraka atau surga, bukan di bulan, bukan Mars, atau planet-planet lainnya.

Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hajj ayat ke-18,

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَسْجُدُ لَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَن فِى ٱلْأَرْضِ وَٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ وَٱلنُّجُومُ وَٱلْجِبَالُ وَٱلشَّجَرُ وَٱلدَّوَآبُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ ٱلنَّاسِ

“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia?”

Dengan menjadikan masa depan setelah kematian (akhirat) adalah alasan terbesar, ini secara otomatis akan membuahkan pencapaian-pencapaian luar biasa ketika masih di dunia.

Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu, setelah melewati siksaan itu, ia menjadi orang yang sangat dimuliakan, status sosialnya naik melesat ke atas.

Asiyah istri Fir’aun radhiyallahu ‘anha, kisahnya diabadikan di dalam Al-Quran, sampai hari kiamat akan dibaca oleh orang-orang yang beriman.

Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, menjadi salah satu orang terkaya pada zamannya.

‘Umar bin ‘Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu, pada masa kepemimpinannya, rakyatnya benar-benar makmur, sampai-sampai tidak ada yang menerima zakat, karena semuanya sudah tercukupi.

Dengan memperbanyak mengingat kematian, ibadah akan meningkat.

Dengan memperbanyak mengingat kematian, semangat dan kualitas kerja akan semakin baik.

Dengan memperbanyak mengingat kematian, masalah kehidupan akan terasa ringan.

Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang cerdas. Aamiin.

***

Penulis: Atma Beauty Muslimawati

Sumber: https://muslimah.or.id/20924-orang-yang-paling-cerdas.html

Jangan Sombong dan Ujub Wahai Jiwa… Engkau ini Belumlah “Apa-Apa”

Hei kamu.. iya kamu, yang bernama jiwa manusia…
Kamu merasa sudah lama mengaji, banyak ilmu yang dikuasai, berasa otak cerdas sekali…
berduyun-duyun orang bertanya padamu sana-sini…
Lalu kamu ingin memuji diri?

Hei, fiqh perbandingan madzaahib apa sudah semuanya kau kuasai? Atau kau merasa ilmumu sepantaran Imam Al-Bukhari dan An-Nawawi? Hingga kamu merasa pintar sendiri? Kemudian kau membuat orang merasa bodoh dengan sikapmu yang “sok tinggi”.

Janganlah demikian…
Ilmu Allah laksana samudera tak bertepi. Pun di atas langit keilmuan seseorang, masih ada langit di atasnya lagi. Di atas itu semua ada Dzat yang Maha Mengetahui. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

“… dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf: 76)

قيل إن العلم ثلاثة أشبار : من دخل في الشبر الأول، تكبر ومن دخل في الشبر الثانى، تواضع ومن دخل في الشبر الثالث، علم أنه ما يعلم

“Ada yang berkata bahwa sesungguhnya ilmu itu terdiri dari tiga jengkal. Jika seseorang telah menapaki jengkal yang pertama, maka dia menjadi tinggi hati (takabbur). Kemudian, apabila dia telah menapaki jengkal yang kedua, maka dia pun menjadi rendah hati (tawadhu’). Dan bilamana dia telah menapaki jengkal yang ketiga, barulah dia tahu bahwa ternyata dia tidak tahu apa-apa.” (Dinukil dari kitab Hilyah Thalibil ‘Ilmi, buah pena Syaikh Bakr ibn ‘Abdillaah Abu Zaid rahimahullaah).

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim)

تواضع تكن كالنجم لاح لناظر # على صفحات الماء وهو رفيع

ولا تكن كالدخان يعلو بنفسه # على طبقات الجو وهو وضيع

“Rendah hatilah…jadilah laksana bintang bercahaya yang tampak di bayangan air yang rendah, padahal sebenarnya dia berada di ketinggian. Jangan menjadi laksana asap, yang membumbung tinggi dengan sendirinya di lapisan udara yang tinggi, padahal sebenarnya dia rendah.”

Kamu, yang mengaku meniti Jalan Salaful ummah…
Coba lihat akhlakmu ini! Mulut kotor penuh hujatan, mencela, dan memaki! Mana sajakah dari akhlak mereka yang kau tepati? Coba kau hitung dengan jari! Pandai mengaku tapi tak jua baik budi!

وكل يدَّعي وصلاً بليلى …. وليلى لا تقر لهم بذاكا

“Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila, namun Laila tak membenarkan pengakuan mereka.”

Janganlah demikian…
Pengakuan itu tidak hanya sekadar di lisan belaka, namun harus dibuktikan dengan amalan yang nyata wahai yang bernama jiwa…

Kamu.. yang sudah berpakaian syar’i..
Kamu melirik sinis ke akhawat baru mulai serius belajar agama, merendahkan mereka dengan gelagatmu yang membuat mereka jengah. Apa engkau mengira dirimu ini sudah shaalihah setengah mati ?!

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,

فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“..Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Janganlah demikian.. berpakaian syar’i tidak serta merta menjadikan diri kita seutuhnya baik dan suci. Bisa jadi di sisi lain mereka lebih baik darimu, karena ternyata, mungkin dianara yang berjilbab syar’i masih ada yang suka ber-ghibah tentang itu dan ini? Janganlah merasa surga sudah engkau booking sendiri.

Kamu, yang sudah menghafal Al-Qur’an seluruhnya…
Tak usahlah merasa paling hebat sedunia. Apa tajwidnya sudah benar kau terapkan dengan sempurna? Apa hafalanmu mencapai derajat “itqaan” di luar kepala?

Kamu, yang sudah menghafal hadits ribuan banyaknya…
Tidak perlu kau rasa otakmu paling kencling sejagat raya. Baiklah, kamu mungkin sudah berhasil menghafal sekaliber Shahih Bukhari. Tapi apakah kamu sudah menguasai dan menghafal berbagai kitab induk hadits lainnya? Lengkap dengan penjelasannya? Plus menguasai serba-serbi ilmu tentang haditsnya?

Janganlah demikian…
Sesungguhnya hafalanmu bukan untuk sekadar berbangga-bangga belaka. Apa engkau sudah mentadabburi isinya? Kau amalkan yang kau hafal dan baca? Belum tentu semua yang kau hafalkan, dapat benar-benar kau amalkan dalam kehidupan nyata. Berhati-hatilah tercabutnya nikmat hafalan itu semua, kala hatimu lengah mencari ridha manusia.

Kamu, yang pandai menghias bacaan Al-Qur’anmu…
Mungkin suaramu itu seperti Syaikh Musyari dan Syaikh Fahd Al-Kandari. Atau tajwidmu secermat Syaikh Al-Hudzaifi. Lantas kamu jadi pamer dan berbangga hati? Subhaanallah? membaca Al-Qur’an kok hanya ingin dipuji: “Maa Syaa Allaah…suara dan cengkok lagunya indah sekali…“.

Janganlah demikian…
Sesungguhnya memiliki suara indah hanyalah anugrah sekaligus fitnah dari Allah bagi diri. Jika kamu terus berbangga hati, bisa jadi nikmat suara indahmu nanti dicabut oleh Allah, hingga suaramu jadi sumbang, atau malah tak memiliki pita suara sama sekali [wal’iyaadzubillaah]. Syukurilah dan gunakan itu untuk menambah pahala bagi dirimu sendiri.

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“… dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemadharatan, Maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl : 53)

Kamu, si pintar dari universitas ternama…
Apa sih sumbangsihmu bagi negara dan agama? Tak usahlah kau jadi besar kepala! Kalaupun kau sudah menyumbang manfaat bagi sesama, belum tentu itu kan berbuah pahala. Iya, karena tendensimu ternyata tak lebih dari perkara dunia semata, bukan karena ikhlas mencari ridha-Nya.

Kamu, yang bisa baca kitab dan berbahasa arab…
Mengapa hal itu membuatmu begitu tinggi hati? Kesalahan wajar pemula kau caci maki. Bercerminlah terhadap diri, Apakah dahulu engkau tak pernah tersalah dalam belajar sama sekali?

Kamu, yang bergelimang harta…
Memandang orang tak punya dengan sebelah mata. Lagakmu itu bak dunia milik pribadimu saja. Untuk urusan sedekah, Subhaanallaah… begitu pelitnya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15)

Kamu, yang (katanya) berjihad di jalan Allah menegakkan agama-Nya…
Klaim mu telah “mengorbankan segalanya“. Belum tentu amalanmu diakui di sisi-Nya. Iya, karena dengan amalanmu, kamu berbuat ‘ujub dan riya! Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Tiga perkara yang membinasakan: rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri” (HR. At-Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath)

Kamu, penulis nasihat yang (katanya) bijak dan disukai…
Apa kau pikir tulisanmu itu paling cemerlang sendiri? Lalu kamu jadi berbangga hati? Merasa sudah jadi penasihat sejati? Amboi, berkacalah diri.. jangan-jangan kamu bak lilin yang membakarmu sendiri. Sudah menasihati tapi tak dijalani.

Dari Usamah bin Zaid radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata,

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ: يَا فُلَانُ، مَا شَأْنُكَ؟ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ الْمُنْكَرِ؟
فَيَقُولُ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ

“Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang didatangkan pada hari kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka, hingga usus perutnya terburai, lalu dia berputar-putar di dalam neraka seperti himar yang berputar-putar pada alat penggilingnya. Lalu para penghuni neraka mengerumuninya seraya bertanya, ‘Wahai Fulan, apa yang telah menimpamu? Bukankah engkau dahulu menyuruh kami kepada yang ma’ruf dan mencegah kami dari yang munkar?’ Dia menjawab, ‘Memang aku dulu menyuruh kalian kepada yang ma’ruf, tapi justru aku TIDAK melakukannya, dan aku mencegah kalian dari yang mungkar, tapi aku justru melakukannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu MENGATAKAN sesuatu yang kamu TIDAK KERJAKAN? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaf: 2-3)

Kamu.. kamu… kamu… jangan sombong wahai jiwa…
Kamu.. kamu… kamu… jangan merasa ‘ujub dan riya duhai manusia…

Dengan segala kelebihan yang kau punya. Sejatinya kelebihanmu itu semua bak pisau bermata dua, yang dapat menghantarkanmu ke surga, atau menjerumuskanmu ke dalam neraka. Ya, karena kelebihanmu itu dapat menjadi karunia yang berbuah pahala, atau bencana yang berujung dosa.

***

Penulis: Fatihdaya Khoirani

Sumber: https://muslimah.or.id/6085-jangan-sombong-dan-ujub-wahai-jiwa-engkau-ini-belumlah-apa-apa.html
Copyright © 2026 muslimah.or.id

Anak-anak Rusak karena Kelalaian Orang Tua

Dari sekian penyebab kerusakan pada anak dan generasi muda, penyebab utamanya adalah kelalaian orang tua dalam mendidik anak mereka. Sehingga ketika anak rusak, nakal atau tidak sesuai harapan, janganlah orang tua menyalahkan orang lain baik guru di sekolah atau yang dianggap merusak dan mempengaruhi anaknya. Akan tetapi segera orang tua introspeksi diri mereka.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan,

ﺍﻛﺜﺮ ﺍﻷﻭﻻﺩ ﺇﻧﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﻓﺴﺎﺩﻫﻢ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﺍﻵﺑﺎﺀ, ﻭﺇﻫﻤﺎﻟﻬﻢ, ﻭ ﺗﺮﻙ ﺗﻌﻠﻴﻤﻬﻢ ﻓﺮﺍﺋﺾ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺳﻨﻨﻪ, ﻓﻀﺎﻋﻮﻫﻢ ﺻﻐﺎﺭﺍ

“Kebanyakan kerusakan anak disebabkan karena orangtua mereka, mereka menelantarkannya dan tidak mengajarkan anak ilmu dasar-dasar wajib agama dan sunnah-sunnahnya. Mereka menyia-nyiakan anak-anak di masa kecil mereka.”[1]

Orang tua terlalu sibuk atau malas mendidik anak mereka, serta tidak mengawasi dengan siapa anak-anak bergaul yang bisa mempengaruhi anak-anak. Inilah yang menjadi penyebab rusaknya anak-anak dan generasi muda. Padahal anak-anak lahir dengan kepolosan dan di atas fitrah. Tidak ada yang lahir kemudian langsung nakal atau rusak akhlaknya.

Dua Hal Penting yang Harus Menjadi Perhatian:

  1. Orang tua harus mengajarkan dasar-dasar ilmu agama, adab Islam, dan akhlak mulia.[2]

Jika tidak ada dasar agama, anak bisa jadi sukses dunia tetapi tidak memperhatikan bakti kepada kedua orang tua dan mempunyai adab yang buruk atau menelantarkan orang tua ketika mereka di usia tua.

Sebagaimana perkataan:

ﻳﺎﺃﺑﺖ, ﺇﻧﻚ ﻋﻘﻘﺘﻨﻲ ﺻﻐﻴﺮﺍ ﻓﻌﻘﻘﺘﻚ ﻛﺒﻴﺮﺍ, ﻭﺃﺿﻌﺘﻨﻲ ﻭﻟﺪﺍ ﻓﺄﺿﻌﺘﻚ ﺷﻴﺨﺎ

“Wahai ayahku, sungguh engkau mendurhakaiku di waktu kecil maka aku pun mendurhakaimu di kala aku besar. Engkau menelantarkanku di waktu kecil maka aku terlantarkan engkau di kala tua nanti.”

Anak yang baik agamanya akan berusaha berbakti kepada orang tua mereka.

  1. Orang tua harus memperhatikan baik-baik dengan siapa anak-anak bergaul dan lingkungannya.

Karena sebagian orang tua kaget, anak mereka baik di rumah tetapi menjadi rusak di luar rumah. Karena orang tua tidak melarang atau mengarahkan ketika anak berada di lingkungan atau pertemanan yang buruk. Anak-anak dan manusia secara umum sangat cepat terpengaruh dengan lingkungan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺍﻟْﻤَﺮْﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺩِﻳﻦِ ﺧَﻠِﻴﻠِﻪِ ﻓَﻠْﻴَﻨْﻈُﺮْ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻣَﻦْ ﻳُﺨَﺎﻟِﻞُ

“Seseorang akan sesuai dengan kebiasaan/sifat sahabatnya. Oleh karena itu, perhatikanlah siapa yang akan menjadi sahabat kalian.”[3]

Sangat penting memperhatikan lingkungan dan pertemanan anak-anak kita. Hendaknya ayah sebagai kepala keluarga benar-benar memperhatikan hal ini. Introspeksi diri dan jauhi maksiat karena maksiat yang dilakukan suami bisa berdampak buruk pada istri dan anak-anaknya.

Sebagian ulama berkata:

إن عصيت الله رأيت ذلك في خلق زوجتي و أهلي و دابتي

“Sungguh, ketika bermaksiat kepada Allah, aku mengetahui dampak buruknya ada pada perilaku istriku, keluargaku, anak-anakku serta hewan tungganganku.”

Demikian, semoga bermanfaat.

@Di antara bumi dan langit Allah, Pesawat express Air Yogyakarta–Pontianak

Penyusun: Raehanul Bahraen


Catatan Kaki

[1] Kewajiban orang tua terutama bapak agar menjaga anak mereka dari api neraka yaitu dengan mengajarkannya. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim:6). Ar-Razi menjelaskan, mengutip Muqatil: “Seorang muslim mendidik dirinya dan keluarganya, memerintahkan mereka pada kebaikan dan melarang dari keburukan.” – Mafaatihul Ghaib Tafsir Ar-Razi 30/527.

[2] Tuhfatul Maulud, hal. 387.

[3] HR. Abu Dawud no. 4833, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani.

sumber: https://muslimafiyah.com/anak-anak-rusak-karena-kelalaian-orang-tua.html

Istikamah hingga Wafat: Disambut Malaikat dan Dijanjikan Surga

Banyak orang mengaku beriman, tetapi tidak semuanya mampu bertahan di atas jalan itu hingga akhir hayat. Padahal, janji besar menanti mereka yang istiqamah: disambut malaikat, dihilangkan rasa takut, dan diberi kabar gembira dengan surga. Lalu, seperti apa hakikat istiqamah yang benar hingga seseorang mendapatkan kemuliaan ini?

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ berkata:

وَلَا يَزَالُ الْمَلَكُ يَقْرُبُ مِنَ الْعَبْدِ حَتَّى يَصِيرَ الْحُكْمُ وَالطَّاعَةُ وَالْغَلَبَةُ لَهُ، فَتَتَوَلَّاهُ الْمَلَائِكَةُ فِي حَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَعِنْدَ بَعْثِهِ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:

Malaikat terus-menerus mendekat kepada hamba, hingga pada akhirnya keputusan, ketaatan, dan dominasinya ada di pihak malaikat. Maka malaikat pun mengurusi hamba itu sepanjang hidupnya, saat kematiannya, dan ketika ia dibangkitkan kembali. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

{إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ – نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ}

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka: ‘Janganlah kalian takut dan jangan bersedih; bergembiralah dengan surga yang dijanjikan untuk kalian. Kamilah para wali kalian di kehidupan dunia dan di akhirat.’” (QS. Fushshilat: 30–31)

وَإِذَا تَوَلَّاهُ الْمَلَكُ تَوَلَّاهُ أَنْصَحُ الْخَلْقِ وَأَنْفَعُهُمْ وَأَبَرُّهُمْ، فَثَبَّتَهُ وَعَلَّمَهُ، وَقَوَّى جَنَانَهُ، وَأَيَّدَهُ اللَّهُ تَعَالَى: {إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا} [سُورَةُ الْأَنْفَالِ: ١٢] .

Apabila malaikat telah menjadi wali seorang hamba, maka ia akan berada di bawah pengayoman makhluk yang paling tulus, paling bermanfaat, dan paling baik baginya. Malaikat akan meneguhkannya, mengajarinya, menguatkan hatinya, dan Allah Ta‘ala akan menolongnya dengan firman-Nya:

{إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا}

“(Ingatlah) ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-Anfāl: 12)

فَيَقُولُ الْمَلَكُ عِنْدَ الْمَوْتِ: لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ وَأَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، وَيُثَبِّتُهُ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَيْهِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَعِنْدَ الْمَوْتِ، وَفِي الْقَبْرِ عِنْدَ الْمَسْأَلَةِ.

Maka malaikat berkata kepada seorang mukmin ketika menjelang kematiannya:

“Jangan engkau takut, jangan bersedih, dan bergembiralah dengan kabar yang membahagiakanmu.”

Ia meneguhkan hamba itu dengan qawl tsābit (ucapan yang teguh dan benar) pada saat yang paling ia butuhkan: saat di dunia, ketika sakratul maut, dan di dalam kubur ketika ditanyai.

فَلَيْسَ أَحَدٌ أَنْفَعَ لِلْعَبْدِ مِنْ صُحْبَةِ الْمَلَكِ لَهُ، وَهُوَ وَلِيُّهُ فِي يَقَظَتِهِ وَمَنَامِهِ، وَحَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَفِي قَبْرِهِ، وَمُؤْنِسُهُ فِي وَحْشَتِهِ، وَصَاحِبُهُ فِي خَلْوَتِهِ، وَمُحَدِّثُهُ فِي سِرِّهِ، وَيُحَارِبُ عَنْهُ عَدُوَّهُ، وَيُدَافِعُ عَنْهُ وَيُعِينُهُ عَلَيْهِ، وَيَعِدُهُ بِالْخَيْرِ وَيُبَشِّرُهُ بِهِ، وَيُحِثُّهُ عَلَى التَّصْدِيقِ بِالْحَقِّ،

Tidak ada seorang pun yang lebih bermanfaat bagi hamba melebihi kedekatan dan pendampingan malaikat. Dialah wali yang menyertainya ketika terjaga maupun tidur, saat hidup, ketika menghadapi kematian, dan di alam kuburnya. Malaikat adalah penghiburnya dalam kesepian, sahabatnya dalam kesendirian, penuntunnya dalam bisikan hati, pelindung yang memerangi musuhnya, membela dan menolongnya, memberi janji kebaikan dan menyampaikan kabar gembira, serta mendorongnya untuk membenarkan kebenaran.

Perkataan ini dicantumkan dalam buku yang kami susun yang membahas 55 dampak maksiat “Dosa itu Candu” yang diterbitkan oleh Penerbit Rumaysho.

Tafsir Ayat: Istikamah sebagai Puncak Keimanan

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.‘” (QS. Fushshilat: 30)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:

Allah Ta’ala berfirman tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya:

أَخْلَصُوا الْعَمَلَ لِلَّهِ، وَعَمِلُوا بِطَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى مَا شَرَعَ اللَّهُ لَهُمْ

mereka yang mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, dan mengerjakan ketaatan kepada Allah Ta’ala sesuai dengan apa yang telah Allah syariatkan.

Istikamah Bukan Sekadar Ucapan

Al-Hafizh Abu Ya’la al-Maushili meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami al-Jarrah, telah menceritakan kepada kami Salm bin Qutaibah Abu Qutaibah asy-Syu’airi, telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abi Hazm, telah menceritakan kepada kami Tsabit, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ membacakan kepada kami ayat ini:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

Kemudian beliau bersabda: “Sungguh, banyak orang yang telah mengucapkan kalimat ini, lalu sebagian besar dari mereka murtad. Maka barang siapa yang mengucapkannya hingga ia meninggal dunia, dialah yang benar-benar istikamah di atasnya.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam kitab tafsirnya, al-Bazzar, dan Ibnu Jarir — dari Amr bin Ali al-Fallaas, dari Salm bin Qutaibah. Ibnu Abi Hatim pun meriwayatkannya dari ayahnya, dari al-Fallaas.

Para Sahabat Memaknai Istikamah

Kemudian Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Amir bin Sa’d, dari Sa’id bin Nimran, ia berkata: Aku membacakan di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq ayat ini:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

Maka Abu Bakar berkata: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.”

Kemudian diriwayatkan pula dari hadits al-Aswad bin Hilal, ia berkata: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada para sahabat: “Apa pendapat kalian tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا)?”

Para sahabat menjawab: “(Maksudnya) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu istikamah dari dosa.”

Abu Bakar pun berkata: “Sungguh, kalian telah membawa ayat ini bukan pada tempat yang semestinya. (Maksudnya adalah) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu mereka tidak menoleh kepada tuhan selain-Nya.”

Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Mujahid, Ikrimah, as-Suddi, dan para ulama lainnya.

Ayat Paling Lapang Bagi Manusia

Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah azh-Zhahrani, telah mengabarkan kepada kami Hafsh bin Umar al-‘Adni, dari al-Hakam bin Aban, dari Ikrimah, ia berkata: Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya: “Ayat mana dalam Kitabullah yang paling memberikan keringanan (bagi manusia)?”

Ibnu Abbas menjawab: “Firman Allah: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah di atas persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah.”

Istikamah Menurut Umar dan Para Ulama

Az-Zuhri berkata: Umar radhiyallahu ‘anhu membacakan ayat ini di atas mimbar, lalu berkata:

اسْتَقَامُوا – وَاللَّهِ – لِلَّهِ بِطَاعَتِهِ، وَلَمْ يَرُوغُوا رَوَغَانَ الثَّعَالِبِ.

“Mereka istikamah — demi Allah — dalam ketaatan kepada Allah, dan mereka tidak berbelok-belok seperti kebiasaan rubah.”

Catatan:

Rubah dijadikan perumpamaan karena:

  • Ia tidak berjalan lurus, tapi sering zig-zag dan memutar
  • Gerakannya diam-diam dan penuh tipu daya
  • Tujuannya menghindari bahaya atau mengecoh lawan

Maka makna ucapan Umar bin Khattab: Orang yang istikamah itu lurus dalam ketaatan, tidak seperti rubah yang berkelok-kelok, plin-plan, dan mencari jalan untuk menghindari kebenaran.

Secara maknawi:

  • Tidak “main aman” saat berat menjalankan syariat
  • Tidak mencari-cari alasan untuk menyimpang
  • Tidak taat hanya ketika mudah

Jadi inti perumpamaan ini:

  • Istikamah = lurus, tegas, konsisten
  • Roghan ats-tsa‘ālib (gaya rubah) = licik, berkelok, tidak konsisten

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas: (قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah dalam menunaikan segala kewajiban. Pendapat yang sama disampaikan oleh Qatadah.

Al-Hasan al-Bashri biasa berdoa:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّنَا، فَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَ

Allāhumma anta rabbunā, farzuqnā al-istiqāmah.

“Ya Allah, Engkau adalah Tuhan kami, maka anugerahkanlah kepada kami istikamah.”

Abu al-‘Aliyah berkata: (ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya, mereka mengikhlaskan amal dan agama hanya untuk-Nya.

Wasiat Nabi: Cukup Dua Kata, Jaga Lisanmu

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah menceritakan kepada kami Ya’la bin ‘Atha, dari Abdullah bin Sufyan ats-Tsaqafi, dari ayahnya; bahwa seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku suatu perkara dalam Islam yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.”

Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikamahlah.” Aku bertanya: “Lalu apa yang paling aku hindari?” Maka beliau mengisyaratkan ke arah lisannya.

Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari hadits Syu’bah, dari Ya’la bin ‘Atha.

Kemudian Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa’d, telah menceritakan kepadaku Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Abdurrahman bin Ma’iz al-Ghamidi, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku suatu perkara yang aku berpegang teguh dengannya.”

Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Tuhanku adalah Allah,’ lalu istikalahlah.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan terhadapku?” Maka Rasulullah ﷺ memegang ujung lisannya sendiri, lalu bersabda: “Ini.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits az-Zuhri. At-Tirmidzi berkata: “Hasan sahih.” Muslim dalam Shahih-nya dan an-Nasa’i pun mengeluarkannya dari hadits Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam suatu perkataan yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.” Beliau bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikalahlah.” Dan disebutkan kelanjutan hadits tersebut.

Malaikat Turun Membawa Kabar Gembira

Adapun firman Allah: (تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ), Mujahid, as-Suddi, Zaid bin Aslam, dan putranya berkata: Maksudnya adalah ketika menjelang kematian, dengan perkataan: (أَلَّا تَخَافُوا).

Mujahid, Ikrimah, dan Zaid bin Aslam berkata: Maksudnya adalah janganlah kalian takut terhadap apa yang akan kalian hadapi dari urusan akhirat. (وَلَا تَحْزَنُوا) — janganlah kalian bersedih atas apa yang kalian tinggalkan dari urusan dunia, berupa anak, keluarga, harta, atau utang, karena kami yang akan mengurus semuanya. (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ) — maka para malaikat membawa kabar gembira dengan hilangnya keburukan dan datangnya kebaikan.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya para malaikat berkata kepada ruh seorang mukmin: ‘Keluarlah, wahai ruh yang baik yang berada dalam jasad yang baik yang selama ini kamu huni. Keluarlah menuju kelapangan, wewangian, dan Tuhan yang tidak murka.’”

Kabar Gembira di Tiga Momen Agung

Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa para malaikat turun kepada mereka pada hari mereka keluar dari kubur. Hal ini dikutip oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas dan as-Suddi.

Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, telah menceritakan kepada kami Abdussalam bin Muththahhar, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman: Aku mendengar Tsabit membacakan surah Hâ Mîm as-Sajdah hingga sampai pada ayat:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ

Lalu ia berhenti dan berkata: “Telah sampai kepada kami bahwa seorang hamba yang beriman, ketika Allah membangkitkannya dari kuburnya, ia disambut oleh dua malaikat yang selama ini menemaninya di dunia. Keduanya berkata kepadanya: ‘Jangan takut dan jangan bersedih, (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ).’ Maka Allah menghilangkan rasa takutnya dan menyejukkan pandangan matanya. Tidaklah ada perkara besar yang ditakuti manusia pada hari kiamat, melainkan hal itu justru menjadi penyejuk mata bagi orang mukmin — berkat hidayah yang Allah berikan kepadanya dan berkat amal yang selalu ia kerjakan di dunia.”

Zaid bin Aslam berkata: “Para malaikat memberi kabar gembira kepadanya ketika ia meninggal dunia, di dalam kuburnya, dan ketika ia dibangkitkan.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Pendapat inilah yang menghimpun seluruh pendapat yang ada, dan ini adalah pendapat yang sangat bagus — dan itulah yang memang terjadi.

Malaikat Mendampingi Mukmin dari Dunia hingga Surga

Allah Ta’ala berfirman,

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

“Kami adalah para pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan juga di akhirat. Di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang diinginkan oleh jiwa kalian, dan di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian minta.” (QS. Fushshilat: 31)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan:

Firman Allah, “Kami adalah para pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan juga di akhirat,”

تَقُولُ الْمَلَائِكَةُ لِلْمُؤْمِنِينَ عِنْدَ الِاحْتِضَارِ: نَحْنُ كُنَّا أَوْلِيَاءَكُمْ، أَيْ: قُرَنَاءَكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، نُسَدِّدُكُمْ وَنُوَفِّقُكُمْ، وَنَحْفَظُكُمْ بِأَمْرِ اللَّهِ، وَكَذَلِكَ نَكُونُ مَعَكُمْ فِي الْآخِرَةِ، نُؤْنِسُ مِنْكُمُ الْوَحْشَةَ فِي الْقُبُورِ، وَعِنْدَ النَّفْخَةِ فِي الصُّورِ، وَنُؤَمِّنُكُمْ يَوْمَ الْبَعْثِ وَالنُّشُورِ، وَنُجَاوِزُ بِكُمُ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، وَنُوصِلُكُمْ إِلَىٰ جَنَّاتِ النَّعِيمِ.

Para malaikat berkata kepada orang-orang beriman saat menjelang kematian, “Kami dulu adalah pelindung kalian, yaitu teman yang selalu menyertai kalian di kehidupan dunia. Kami membimbing kalian, memberi taufik, dan menjaga kalian atas perintah Allah.

Begitu juga di akhirat, kami akan tetap bersama kalian.

  • Kami akan menghilangkan rasa sepi kalian di dalam kubur,
  • mendampingi kalian saat tiupan sangkakala,
  • memberi rasa aman pada hari kebangkitan,
  • membantu kalian melewati jembatan shirath, dan
  • mengantarkan kalian sampai ke surga yang penuh kenikmatan.”

Firman-Nya, “Di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang diinginkan oleh jiwa kalian,” maksudnya di surga kalian akan mendapatkan segala sesuatu yang kalian pilih, yang diinginkan oleh jiwa, dan yang menyejukkan pandangan mata.

Firman-Nya, “Dan di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian minta,” maksudnya apa pun yang kalian minta, semuanya akan kalian dapati dan dihadirkan di hadapan kalian sesuai yang kalian inginkan.

Amalkan doa ini,

اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ

ALLĀHUMMA LAKA ASLAMTU WA BIKA ĀMANTU WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU WA ILAIKA ANABTU WA BIKA KHĀṢAMTU. ALLĀHUMMA INNĪ A’ŪDZU BI ‘IZZATIKA LĀ ILĀHA ILLĀ ANTA AN TUḌILLANĪ. ANTAL ḤAYYU ALLAŻĪ LĀ YAMŪTU, WAL JINNU WAL INSU YAMŪTŪN.

Artinya: “Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku bertobat kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu—tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau—dari segala hal yang bisa menyesatkanku. Engkau Mahahidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati.”[1]

[1] HR. Muslim, no. 2717, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

(Doa ini diambil dari kumpulan buku “50 Doa Mengatasi Problem Hidup” karya Muhammad Abduh Tuasikal, doa nomor 3 dan buku “50 Doa Penolong Saat Sulit” karya Muhammad Abduh Tuasikal, doa nomor 24)

Silakan dipesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang disebutkan di atas di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701

—-

Selesai disusun di Sekar Kedhaton, 27  Syawal 1447 H, 15 April 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/41998-istikamah-hingga-wafat-disambut-malaikat-dan-dijanjikan-surga.html

Larangan Mencabut Uban (Syariat dan Medis)

Kami teringat perkataan orang terdahulu mengenai filosofi uban:

“Jangan dicabut nak, itu peringatan agar kalian mulai meninggalkan dunia hitam baik banyak maupun sedikit”

Ternyata  dalam syariat ada larangan mencabut uban dan dari sisi medis dianjurkan agara mencabut uban jangan menjadi kebiasaan karena berpengaruh terhadap kesehatan.

Telah disebutkan juga dalam Al-Quran bahwa uban adalah fase kehidupan yang akan dilewati oleh manusia. Dan bisa jadi uban adalah salah satu bentuk peringatan bahwa usianya sudah tidak muda lagi dan sebentar lagi akan menghadap Allah, agar segera berbenah menyiapkan bekal akhirat.

Allah Ta’ala berfirman,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar Ruum: 54)

Larangan Mencabut Uban dalam Islam

Hal ini berlaku baik orang tua maupun yang masih muda karena keumuman berbagai dalil.

Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan larangan mencabut uban. Baik sudah tua maupun masih muda. Di antaranya:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تنتفوا الشيب فإنه نور يوم القيامة ومن شاب شيبة في الإسلام كتب له بها حسنة وحط عنه بها خطيئة ورفع له بها درجة

“Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat. Siapa yang memiliki sehelai uban dalam Islam (dia muslim), maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat.”[1]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ شَابَ شَيْبَةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَانَتْ نُورًا لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ رَجُلٌ عِنْدَ ذَلِكَ فَإِنَّ رِجَالًا يَنْتِفُونَ الشَّيْبَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَاءَ فَلْيَنْتِفْ نُورَهُ

“Barangsiapa memiliki sehelai uban di jalan Allah (dia muslim), maka uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat.” Kemudian ada seseorang yang berkata ketika disebutkan hal ini: “Orang-orang pada mencabut ubannya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Siapa saja yang mau, silahkan dia hilangkan cahayanya (baginya di hari kiamat).”[2]

Anjuran Medis Agar Tidak Mencabut Uban

Secara medisuban tidak bisa diobati, karena banyak yang mengambil jalan pintas agar mencabutnya. Kebiasaan mencabut uban bisa berdampak negatif bagi kesehatan. Yaitu bisa membuat kerusakan pada folikel rambut dan saraf sekitar rambut, dapat juga menyebabkan infeksi pada bekas cabutan. Apalagi uban yang dicabut dalam jumlah yang cukup banyak dan sering.

Selain itu serignnya mencabut uban akan menggangu pertumbuhan rambut. Dari jumlah rambut akan berkurang sedikit demi sedikit. Kebiasaan mencabut juga akan mengganggu sinyal saraf yang
memproduksi warna rambut sehingga pertumbuhan dan warna rambut akanterganggu. Karena jumlah rambut terus berkurang dan uban bisa jadi tetap jumlahnya.

Hukum Mencabut Uban

Hukum mencabut uban di rambut adalah makruh sebagaimana yang dikatakan oleh An-Nawawi rahimahullah,

” يُكْرَهُ نَتْفُ الشَّيْبِ ، لِحَدِيثِ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ ، فَإِنَّهُ نُورُ الْمُسْلِمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ) حَدِيثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَغَيْرُهُمْ بِأَسَانِيدَ

“Dimakruhkan mencabut uban, sebagaimana dalam hadits ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat.”[3]

Akan tetapi perlu dirinci hukumnya, karena uban yang dilarang dicabut yaitu uban yang ada di wajah juga meliputi jenggot, jambang dan kumis.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لعن الله الربا و آكله و موكله و كاتبه و شاهده و هم يعلمون و الواصلة و المستوصلة و الواشمة و المستوشمة و النامصة و المتنمصة

“Allah melaknat riba, pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkannya (nasabah), orang yang mencatatnya (sekretaris) dan yang menjadi saksi dalam keadaan mereka mengetahui (bahwa itu riba). Allah juga melaknat orang yang menyambung rambut dan yang meminta disambungkan rambut, orang yang mentato dan yang meminta ditato, begitu pula orang yang mencabut rambut pada wajah dan yang meminta dicabut.”[4]

Syaikh Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata,

نهى عن نتف الشيب : أي الشعر الأبيض من اللحية أو الرأس

“Larangan memcabut uban yaitu rambut putih pada jenggot (jambang) dan rambut kepala.”[5]

Haram Mencabut Uban pada Jenggot

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah ditanya:

: ما حكم نتف الشيب من الرأس واللحية ؟

Apa Hukum mencabut uban pada rambut kepala dan jenggot?

Beliau menjawab:

فأجاب: أما من اللحية أو شعر الوجه فإنه حرام؛ لأن هذا من النمص، فإن النمص نتف شعر الوجه واللحية منه ، وقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه لعن النامصة والمتنمصة…أما إذا كان النتف من شعر الرأس فلا يصل إلى درجة التحريم لأنه ليس من النمص” انتهى

“Adapun pada jenggot atau rambut pada wajah, maka hukumnya haram karena termasuk dalam “Namsh” (mencabut yang dilarang). Karena terdapat hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang mencabut rambut wajah dan meminta dicabutkan.

Adapun mencabut uban pada rambut kepala maka tidak sampai pada derajat haram karena tidak termasuk Namsh.”[6]

Demikian semoga bermanfaat

@Perpustakaan FK UGM,  Yogyakarta Tercinta

Penyusun:   dr. Raehanul Bahraen

silahkan like fanspage FB , subscribe facebook dan   follow twitter[1]HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya 2985. Sanad hadis dinilai hasan oleh Syu’aib Al-Arnauth[2] HR. Ahmad 23952, Hadis ini dihasankan al-Albani dalam Silsilah as-Shahihah, 3371[3] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab 1/344[4] Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shagir mengatakan bahwa hadits ini shahih[5] Tuhfatul Ahwadzi 7/238[6] Majmu’ Fatawa 11/123

sumber: https://muslimafiyah.com/larangan-mencabut-uban-syariat-dan-medis.html