Keutamaan Azan dan Jawabannya: Amalan Ringan Berpahala Besar

Banyak orang menganggap azan hanya sebagai rutinitas harian, padahal di dalamnya tersimpan pahala yang luar biasa besar. Bahkan, Nabi ﷺ menggambarkan bahwa manusia akan berebut azan jika benar-benar mengetahui keutamaannya. Tulisan ini akan membuka mata kita bahwa amalan ringan ini bisa menjadi jalan meraih kemuliaan besar di sisi Allah.

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 186: Keutamaan Azan

Kalau Tahu Pahalanya, Orang Akan Rebutan Azan dan Shaf Pertama

Hadits 1/1033

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ ما في النِّدَاءِ والصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاسْتَهَمُوا عَلَيْهِ، ولَوْ يَعْلَمُونَ ما في التَّهْجِيرِ لاسْتبَقُوا إلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ ما في العَتَمَةِ والصُّبْحِ لأَتَوهُمَا وَلَو حَبْواً». متفق عليه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya manusia mengetahui pahala yang terdapat dalam azan dan shaf pertama, lalu mereka tidak mendapatkan jalan untuk meraihnya selain dengan undian, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya. Seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam bersegera datang ke salat, niscaya mereka akan berlomba-lomba menuju kepadanya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam shalat Isya dan shalat Subuh, niscaya mereka akan mendatangi keduanya walaupun harus dengan merangkak.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, 2:96 dan Muslim, no. 437)

Keterangan lafaz:

  • الاِسْتِهَامُ: melakukan undian.
  • التَّهْجِيرُ: datang lebih awal untuk salat.

Kosakata hadits:

  • النِّدَاء: azan.
  • العَتَمَة: shalat Isya.

Faedah Hadits

  1. Keutamaan azan dan shaf pertama.
  2. Azan memiliki keutamaan yang sangat besar. Azan termasuk amalan terbaik karena manfaatnya bersifat umum: mengagungkan Allah Ta‘ala dengan tauhid dan mengajak manusia kepada ibadah yang paling agung.
  3. Azan lebih utama daripada menjadi imam. Para ulama menjelaskan bahwa azan mengandung tauhid kepada Allah Ta‘ala dan persaksian bahwa Rasulullah adalah utusan-Nya. Ini menunjukkan besarnya kedudukan dakwah kepada tauhid dan ajakan untuk mengikuti sunnah.
  4. Hadits ini mendorong kaum mukminin agar berlomba-lomba dalam amal saleh dan berbagai bentuk ketaatan. Seorang mukmin hendaknya memanfaatkan setiap kesempatan berbuat baik, di antaranya dengan segera menyambut panggilan azan.
  5. Manusia banyak yang belum memahami hakikat ibadah dan besarnya pahala yang terkandung di dalamnya.
  6. Bolehnya melakukan undian dalam perkara-perkara yang memiliki keutamaan (untuk menentukan siapa yang lebih berhak).
  7. Kewajiban ibadah tidak gugur dari seorang hamba selama ia masih mampu melaksanakannya.

Keutamaan Muazin: Leher Paling Panjang di Hari Kiamat

Hadits 2/1034

عَنْ معاويةَ رضي الله عنه قَالَ: سمعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يقولُ: «المؤذِّنُون أطوَلُ النَّاسِ أعناقاً يومَ القيامةِ». رواه مسلم.

Dari Mu‘awiyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Para muazin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari Kiamat.” (HR. Muslim, no. 387)

Faedah Hadits

  1. Keutamaan azan dan besarnya pahala seorang muazin yang ikhlas dan mengharap pahala dari Allah Ta‘ala.
  2. Para muazin akan menjadi orang yang paling panjang lehernya pada hari hisab. Mereka dikenal dengan tanda itu sebagai bentuk penampakan keutamaan dan kemuliaan mereka.
  3. Balasan itu sesuai dengan jenis amalnya. Kepala para muazin ditinggikan pada hari Kiamat karena dahulu mereka meninggikan tauhid Allah Ta‘ala di muka bumi.

Referensi:

  • Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.
  • Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus.

—–

Kamis, 16 Dzulqa’dah 1447 H

@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42071-keutamaan-azan-dan-jawabannya-amalan-ringan-berpahala-besar.html

Penghibur Hati Bagi Orang Miskin  

PENGHIBUR HATI BAGI ORANG MISKIN

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Sesungguhnya diantara hikmah yang tersimpan dalam ilmu yang ada disisi Allah Shubhanahu wa ta’alla ialah menjadikan diantara para hamba -Nya bertingkat status sosialnya, ada yang miskin ada pula yang kaya, dan tentunya Allah Shubhanahu wa ta’alla memberi kekayaan bagi siapa yang dikehendaki begitu pula menjadikan orang menjadi miskinpun atas kehendak-Nya. Sebagaimana yang Allah azza wa jalla jelaskan melalui firman -Nya:

نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ وَرَفَعۡنَا بَعۡضَهُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ [ الزخرف: 32]

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat”. [az-Zukhruf/43: 32].

Demikian pula Allah Shubhanahu wa ta’alla menjelaskan dalam ayat yang lain:

وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ [ الأنبياء: 35]

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan”. [al-Anbiyaa’/21: 35].

Sahabat Ibnu Abbas menjelaskan, “Maksudnya kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan, yakni dengan kesulitan hidup serta kelapangan, sehat dan sakit, kaya dan miskin, halal dan haram, taat dan maksiat, mendapat petunjuk dan tersesat”. Maka ini merupakan kesempurnaan hikmah serta rahmat yang dimiliki oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla kepada para makhluk -Nya, kalau seandainya manusia pada satu status, semuanya dijadikan kaya niscaya mereka semua akan berbuat lalim dimuka bumi ini. seperti yang Allah Shubhanahu wa ta’alla tegaskan dalam firman -Nya:

وَلَوۡ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزۡقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٖ مَّا يَشَآءُۚ [ الشورى: 27]

“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran”. [asy-Syuura/42: 27].

Fadhilah Orang Miskin

  1. Orang-orang fakir adalah manusia terdepan yang akan memasuki surga.
    Sebagaimana disebutkan hal tersebut dalam sebuah hadits shahih yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari sahabat Abdullah bin Amr bi al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « هَلْ تَدْرُونَ أَوَّلَ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ. قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ الْفُقَرَاءُ وَالْمُهَاجِرُونَ الَّذِينَ تُسَدُّ بِهِمْ الثُّغُورُ وَيُتَّقَى بِهِمْ الْمَكَارِهُ وَيَمُوتُ أَحَدُهُمْ وَحَاجَتُهُ فِي صَدْرِهِ لَا يَسْتَطِيعُ لَهَا قَضَاءً » [أخرجه أحمد]

“Tahukah kalian siapa manusia terdepan yang akan masuk ke dalam surga dari kalangan makhluk? Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul –Nya yang lebih tahu”. Beliau melanjutkan, “Orang terdepan yang akan memasuki surga dari makhluk Allah ialah orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin, yaitu orang-orang yang terhalangi mulutnya dari makanan (sulit makan), penuh dengan kesulitan hidup, dan orang yang meninggal diantara kalian sedang keinginannya hanya sampai didada tidak sampai terlaksana”. [HR Ahmad 11/131 no: 6570.]

Dan dijelaskan dalam riwayat Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَدْخُلُ الْفُقَرَاءُ الْجَنَّةَ قَبْلَ الْأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ وَهُوَ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ » [أخرجه الترمذي]

“Orang-orang fakir akan memasuki surga terlebih dahulu sebelum orang kaya dengan jeda setengah hari yang hitungannya sama dengan lima ratus tahun“. [HR at-Tirmidzi no: 2353. Beliau berkata, “Hadits hasan shahih”].

  1. Penduduk surga terbanyak adalah orang fakir.
    Seperti diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Imran radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ » [أخرجه البخاري ومسلم]

“Aku menengok ke dalam surga maka aku dapati kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir, lalu aku melongok ke dalam nereka maka aku jumpai kebanyakannya adalah para wanita“. [HR Bukhari no: 5198. Muslim no: 2737].

  1. Kebanyakan pengikut para nabi dan rasul adalah orang-orang fakir.
    Seperti diterangkan dalam potongan hadits yang dibawakan oleh Imam Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, disebutkan dalam penggalan hadits tersebut: “Bahwa Heraklius, pembesar Romawi bertanya pada Abu Sufyan tentang siapakah yang paling banyak sebagai pengikut Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, apakah yang mengikutinya dari kalangan orang kaya atau justru orang-orang lemahnya? Abu Sufyan menjawab, “Justru yang mengikutinya adalah orang-orang fakir dikalangan mereka”. Heraklius mengatakan, “Demikianlah yang menjadi pengikut kebanyakan para Rasul”. [HR Bukhari no: 7].
  2. Begitu pula Allah ta’ala menyuruh NabiNya Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk bergaul bersama orang-orang papa dan lemah, dan menyuruh untuk tinggal bersama mereka. Karena bisa menjadikan dirinya jauh dari gemerlapnya dunia serta fitnahnya.
    Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Kami pernah bersama Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersama enam sahabat lainnya. Lalu orang-orang kafir berkata, “Keluarkan mereka dari majelis jangan biarkan mereka mendekati kami! Beliau melanjutkan, “Dan yang bersamaku pada saat itu adalah Ibnu Mas’ud, dan seseorang dari Hudzail, Bilal, dan dua orang lagi yang aku lupa namanya. Mendengar ucapan tersebut, masuk bisikan dalam hati Rasulalalh Shalallahu ‘alaihi wa sallam, apa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla kehendaki, yaitu untuk menuruti kemauan mereka. Maka Allah azza wa jalla menegurnya dengan menurunkan ayat:


وَلَا تَطۡرُدِ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥ [ الأنعام: 52]

“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan–Nya”. (al-An’aam/6: 52). [HR Muslim no: 2413].

Dan betul Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam merealisasikan perintah Rabbnya, dengan dibuktikan dalam bentuk untaian do’anya yang berbunyi:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهمَّ أَحيِني مِسكينًا، وأَمِتْني مِسكينًا، واحشُرني في زُمرةِ المساكينِ يومَ القيامَةِ » [أخرجه الترمذي]

“Ya Allah, wafatkan diriku dalam keadaan miskin, dan hidupkan diriku dalam keadaan miskin, serta bangkitkan diriku bersama kalangan orang-orang miskin kelak pada hari kiamat“. [HR at-Tirmidzi no: 2352. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 2/275 no: 1917].

  1. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabatnya diuji dengan kelaparan lantas mereka bersabar hingga akhirnya Allah Shubhanahu wa ta’alla memberi kecukupan pada mereka.
    Dikisahkan dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Muslim dari Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Sungguh diriku pernah menyaksikan Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam satu hari kelaparan, karena tidak satu butir kurma pun yang bisa dimakan walaupun yang paling jelek sekalipun”. [HR Muslim no: 2978.]

Sahl bin Hunaif mengkisahkan, “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam kebiasan beliau ialah senang mengunjungi orang fakir dikalangan para sahabatnya, menengok mereka, serta menjenguk yang sedang sakit, dan menyolati jenazah mereka”. [HR al-Hakim 3/270 no: 2787. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahihul jami’ no: 4877].

Dalam sebuah riwayat dijelaskan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan, “Tidaklah keluarga Muhammad pernah merasakan kenyang dari roti dan gandum, selama dua hari berturut-turut sampai beliau wafat Shalallahu ‘alaihi wa sallam“. [HR Bukhari no: 5374. Muslim no: 2970].

Al-Hafidh Ibnu Katsir menjelaskan tentang firman -Nya Allah tabaraka wa ta’ala:

وَوَجَدَكَ عَآئِلٗا فَأَغۡنَىٰ [ الضحى: 8]

“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan”. [adh-Dhuha/93: 8]

Artinya engkau dahulu dalam keadaan fakir punya banyak keluarga kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla beri kamu kecukupan melebihi yang lain. Maka terkumpul dalam pribadi Rasulallah Shhalallahu ‘alaihi wa sallam dua kemuliaan yakni orang fakir yang bersabar dan orang berkecukupan yang bersyukur”. [1]

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari sebuah hadits dari Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, “Kami pernah dalam kesulitan hidup dan beban ujian yang sangat berat, sampai kiranya kami mengisap kulit dan biji kurma untuk menahan rasa lapar”. [HR Bukhari no: 3159].

Sedang Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, mengkisahkan, “Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah selain Dirinya, sungguh diriku pernah jatuh tersungkur disebabkan menahan lapar, dan aku pernah mengganjal perutku dengan batu untuk menahan rasa lapar”. [HR Bukhari no: 6452].

Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Kami pernah berangkat perang bersama Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan ketika itu tidak ada makanan yang bisa kami makan kecuali dedaunan, sampai kiranya kami bagaikan onta atau kambing (yang memakan dedaunan), tidak ada campuran lainnya”. Para ulama menjelaskan, “Maksudnya kering tidak ada campuran apa-apa”. [HR Bukhari no: 3728. Muslim no: 2966].

  1. Bisa jadi orang fakir rendah dimata lingkungannya namun disisi Allah Shubhanahu wa ta’alla kedudukannya mulia.
    Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Bukhari dari sahabat Sahl as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya beliau berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَرَّ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لرَجُلٍ عِنْدَهُ جَالِسٍ: مَا رَأْيُكَ فِي هَذَا . فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِ النَّاسِ هَذَا وَاللَّهِ حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَنْ يُنْكَحَ وَإِنْ شَفَعَ أَنْ يُشَفَّعَ قَالَ: فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. ثُمَّ مَرَّ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأْيُكَ فِي هَذَا فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا رَجُلٌ مِنْ فُقَرَاءِ الْمُسْلِمِينَ هَذَا حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَنْ لَا يُنْكَحَ وَإِنْ شَفَعَ أَنْ لَا يُشَفَّعَ وَإِنْ قَالَ أَنْ لَا يُسْمَعَ لِقَوْلِهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَذَا خَيْرٌ مِنْ مِلْءِ الْأَرْضِ مِثْلَ هَذَا » [أخرجه البخاري]

“Pernah suatu ketika ada seorang yang lewat dihadapan Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau berkata pada teman duduk yang berada disisi beliau, “Apa pendapatmu tentang orang yang barusan lewat? Dia menjawab, “Orang kaya dikalangan manusia, ini demi Allah kalau meminang perempuan pasti diterima, kalau diminta bantuan pasti bisa membantunya. Lalu Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam terdiam, kemudian ada lagi orang yang lewat, beliau lalu bertanya, “Kalau orang tadi, apa pendapatmu? Dia menjawab, “Ya Rasulallah, orang tadi adalah orang miskin, dan ini kalau meminang perempuan pasti tidak diterima, jika dimintai tolong pasti tidak mampu, kalau berbicara tidak ada yang mau mendengarnya. Maka Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dan orang tadi, itu lebih mulia semisal dunia dari pada orang yang pertama”. [HR Bukhari no: 6447].

  1. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kalau rizki dan pertolongan itu tercapai dengan keberadaan orang-orang miskin dan lemah.
    Hal itu, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang dibwakan oleh Imam Ahmad dari sahabat Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَبْغُونِي ضُعَفَاءَكُمْ فَإِنَّكُمْ إِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ » [أخرجه أحمد]

“Kalian mengadukan orang-orang lemah padaku, hanya saja sesungguhnya kalian diberi rizki serta pertolongan dengan sebab keberadaan orang-orang miskin dan lemah“. [HR Ahmad 36/60 no: 21731].

  1. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bagi orang yang membantu para janda serta fakir bagaikan orang yang berjihad dijalan Allah Shubhanahu wa ta’alla atau seperti orang yang berpuasa dan sholat malam.
    Sebagaimana dijelaskan hal tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « السَّاعِى عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ – وَأَحْسِبُهُ قَالَ – وَكَالْقَائِمِ لاَ يَفْتُرُ وَكَالصَّائِمِ لاَ يُفْطِرُ » [أخرجه البخاري ومسلم]

“Orang yang membantu para janda dan fakir bagaikan seorang mujahid fi sabilillah“. Dan aku juga mengira beliau mengatakan, “Seperti orang yang sholat malam tidak pernah berhenti dan seperti orang berpuasa yang tidak pernah berbuka“. [HR Bukhari no: 6006, Muslim no: 2982].

  1. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa jenis makanan terjelek ialah makanan yang dihidangkan pada saat walimah sedang yang diundang hanya orang kaya dan meninggalkan orang miskin.
    Hal itu, seperti yang dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « بِئْسَ الطَّعَامُ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى إِلَيْهِ الأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الْمَسَاكِينُ » [أخرجه مسلم]

“Sejelek-jelek makanan adalah hidangan walimah yang hanya mengundang orang kaya dan meninggalkan orang miskin“. [HR Muslim no: 1432].

Adapun apa yang telah kami sebutkan diawal dari ayat serta hadits Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang terkandung penjelasan keadaan sebagian orang dari kalangan kaum muslimin yang mendapat ujian kefakiran serta kesulitan hidup, lantas mereka bersabar dan ridho serta mengharap pahala dengan janji Allah Shubhanahu wa ta’alla yang diberikan padanya.

Sedangkan masalah masyhur lainnya yaitu mana yang lebih utama antara orang kaya atau miskin? maka dalam hal ini terjadi silang pendapat dikalangan para ulama, adapun pendapat yang kuat dalam hal ini ialah orang kaya yang bersyukur itu lebih utama dari pada fakir yang sabar, dan penjelasan secara rinci masalah ini ada pada pembahasan lain.[2]

Adapun orang fakir yang terbaik adalah yang menjaga kehormatan dirinya dari meminta-minta. Allah ta’ala menyinggung hal tersebut dalam firman -Nya:

لِلۡفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحۡصِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ ضَرۡبٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ يَحۡسَبُهُمُ ٱلۡجَاهِلُ أَغۡنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعۡرِفُهُم بِسِيمَٰهُمۡ لَا يَسۡ‍َٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافٗاۗ [ البقرة: 273]

“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak”. [al-Baqarah/2: 273].

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَيْسَ الْمِسْكِينُ بِهَذَا الطَّوَّافِ الَّذِى يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ . قَالُوا: فَمَا الْمِسْكِينُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِى لاَ يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ وَلاَ يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقَ عَلَيْهِ وَلاَ يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا » [أخرجه البخاري ومسلم]

“Bukanlah orang miskin itu yang keliling meminta-minta pada orang lain untuk mendapat sesuap atau dua suap nasi, satu biji atau dua biji kurma”. Para sahabat bertanya, “Jika demikian siapakah orang miskin tersebut wahai Rasulallah? Beliau mengatakan, “Yaitu orang yang tidak mendapati kecukupan lalu tidak ada yang memahami keadaannya serta dirinya tidak meminta-minta pada orang lain”. [HR Bukhari no: 1476. Muslim no: 1039].

Faidah
Dikisahkan dari Aun bin Abdillah bin Utbah beliau berkata, “Aku pernah berteman bersama orang kaya lalu aku dapati tidak ada seorangpun diantara mereka yang lebih besar cita-citanya dari pada diriku, lebih baik dari binatang tungganganku, pakaian yang lebih baik dari pada pakaianku, kemudian aku bergaul bersama orang miskin maka disana aku mendapatkan ketentraman”.[3]

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari الفقراء والضعفاء Penulis : Syaikh Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]


Footnote
[1] Tafsir Ibnu Katsir 14/385.
[2] Lihat pada kitab ‘Idatush Shabirina wa Dzakhiratisy Syakirin karya Ibnu Qoyim.
[3] Sunan at-Tirmidzi hal: 304.

sumber: https://almanhaj.or.id/57144-penghibur-hati-bagi-orang-miskin.html

Semua Kasih Sayang di Dunia Hanya 1% dari Rahmat Allah!

Pernahkah kita berpikir bahwa seluruh kasih sayang di dunia ini hanya berasal dari satu bagian kecil dari rahmat Allah? Betapa besar rahmat yang kita rasakan, padahal itu hanyalah setetes dari lautan rahmat-Nya. Hadits ini membuka pintu harapan yang sangat luas bagi setiap orang beriman untuk meraih rahmat Allah di hari Kiamat.

Rahmat Dunia Hanya Sebagian Kecil

Hadits #420 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Kitab Ar-Raja’ (Berharap kepada Allah)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ، وَأَنْزَلَ فِي الْأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الْجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الْخَلَائِقُ، حَتَّىٰ تَرْفَعَ الدَّابَّةُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ»

“Allah menjadikan rahmat itu seratus bagian. Lalu Dia menahan di sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian, dan Dia menurunkan ke bumi satu bagian. Dari satu bagian itulah seluruh makhluk saling berkasih sayang, sampai-sampai seekor hewan mengangkat kakinya dari anaknya karena khawatir akan mengenainya.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

«إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ، أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ، فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ، وَبِهَا يَتَرَاحَمُونَ، وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَىٰ وَلَدِهَا، وَأَخَّرَ اللَّهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Dia menurunkan satu rahmat di antara jin, manusia, binatang ternak, dan binatang kecil. Dengan rahmat itulah mereka saling menyayangi, saling mengasihi, dan dengan rahmat itu pula binatang buas menyayangi anaknya. Adapun sembilan puluh sembilan rahmat lainnya Allah simpan untuk merahmati hamba-hamba-Nya pada hari Kiamat.” (Muttafaqun ‘alaih)

Muslim juga meriwayatkan dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ، فَمِنْهَا رَحْمَةٌ بِهَا يَتَرَاحَمُ الْخَلْقُ بَيْنَهُمْ، وَتِسْعٌ وَتِسْعُونَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ»

“Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Satu di antaranya adalah rahmat yang dengannya makhluk saling berkasih sayang di antara mereka, sedangkan sembilan puluh sembilan lainnya disimpan untuk hari Kiamat.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

«إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِائَةَ رَحْمَةٍ، كُلُّ رَحْمَةٍ طِبَاقُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، فَجَعَلَ مِنْهَا فِي الْأَرْضِ رَحْمَةً، فَبِهَا تَعْطِفُ الْوَالِدَةُ عَلَىٰ وَلَدِهَا، وَالْوَحْشُ وَالطَّيْرُ بَعْضُهَا عَلَىٰ بَعْضٍ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أَكْمَلَهَا بِهَذِهِ الرَّحْمَةِ»

“Sesungguhnya Allah, pada hari Dia menciptakan langit dan bumi, menciptakan seratus rahmat. Setiap satu rahmat besarnya memenuhi jarak antara langit dan bumi. Lalu Dia menjadikan satu rahmat itu di bumi. Dengan rahmat itulah seorang ibu menyayangi anaknya, binatang buas dan burung saling menyayangi satu sama lain. Maka ketika hari Kiamat tiba, Allah menyempurnakannya dengan rahmat itu.”

Kosakata hadits

  • حَافِرُهَا: kakinya.
  • طِبَاقٌ: penutup atau lapisan. Maksudnya, satu rahmat itu memenuhi jarak antara langit dan bumi karena sangat besar dan agung.

Faedah hadits

  1. Rahmat yang Allah jadikan di dalam hati hamba-hamba-Nya adalah bagian dari rahmat-Nya. Kebaikan yang Allah turunkan kepada mereka juga merupakan bagian dari karunia-Nya. Semua itu hanyalah sebagian dari apa yang Allah simpan untuk hamba-hamba-Nya yang beriman pada hari Kiamat.
  2. Dalam hal ini terdapat harapan yang sangat besar dan kabar gembira bagi orang-orang beriman. Jika mereka mendapatkan satu rahmat yang dengannya tercipta seluruh rasa kasih sayang di dunia ini, maka bagaimana dengan seratus rahmat pada hari Kiamat?

Di zaman sekarang, manusia sering kehilangan rasa kasih sayang, bahkan dalam keluarga sendiri. Padahal, rahmat yang ada di hati kita adalah karunia Allah yang sangat agung. Jagalah hati agar tetap lembut, mudah memaafkan, dan penuh empati kepada sesama. Ingatlah, siapa yang menyayangi, ia akan disayangi oleh Allah.

Referensi:

  1. Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.
  2. Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus.

—-

Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin , 4 Zulkaidah 1447 H, 21 April 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42047-semua-kasih-sayang-di-dunia-hanya-1-dari-rahmat-allah.html

Allah Maha Baik, Dan Hanya Menerima Yang Baik

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً

Dari Imam Muslim Radhiyallahu ‘Anhu beliau meriwayatkan dari Abu Hurairah. Yakni sahabat yang meriwayatkan hadits yang ke-9 juga. Dan beliau meninggal pada tahun 59 Hijriyah dan merupakan sahabat penuntut ilmu dan sahabat dengan riwayat hadits yang paling banyak. Dimana jumlah riwayat beliau melebihi 5000 hadits. Beliau meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا} وَقَالَ تَعَالَى {يَا أَيُّهَا الذِّيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌوَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ

“Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik saja. Dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana dia telah  emerintahkan kepada para Rasul. Maka Allah berfirman: “Wahai para Rasul makanlah dari yang baik-baik dan beramallah yang shalih”. Sementara kepada orang-orang yang beriman Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman makanlah dari kebaikan apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebagai rezeki.” Kemudian Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan ada seorang pria yang melakukan perjalanan jauh, pakaiannya kusut masai dan berdebu. Dia mengangkat tangannya ke langit mengatakan, ‘Wahai Tuhanku, Wahai Tuhanku.’ Sementara makanannya haram, minumannya haram, makanan tambahannya juga haram. Maka bagaimana orang tersebut bisa dikabulkan doanya.” (HR. Muslim)

Ini adalah sebuah hadits yang agung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan dalam hadits ini Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Baik. Ibnu Rajab Al-Hanbali Rahimahullahu Ta’ala dan yang lain menjelaskan bahwasanya arti Thoyyib dalam nama Allah yang satu ini artinya adalah terlepas dari berbagai aib dan kekurangan. Dan ini adalah salah satu nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. At-Thoyyib adalah nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, jadi termasuk Al-Asmaul Husna. Dan karenanya boleh bagi seorang muslim untuk menghambakan diri kepada nama ini atau memberikan nama kepada anaknya atau yang lain Abdul Thoyyib (hamba dari Allah yang Maha Baik).

Jadi At-Thoyyib adalah salah satu Al-Asmaul Husna, salah satu nama-nama Allah yang indah. Dan karena Allah punya nama ini dan Dia disifati dengan sifat baik dan terlepas dari semua keburukan dan kekurangan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima dari hamba-hambaNya kecuali yang baik-baik saja.

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami’ul Ulum wal Hikam menyebutkan bahwasanya hadits ini mencakup semua hal. Hadits ini mencakup amalan kita, mencakup penghasilan dan pekerjaan kita dan juga mencakup sedekah yang kita lakukan. Hadits ini secara lebih umum mencakup seluruh amalan kita. Artinya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima dari amalan kita kecuali hanya yang baik. Kenapa? Karena Dia adalah yang Maha Baik. Allah tidak menerima dari kita amalan kecuali kalau kita mewujudkan taqwa dalam amalan kita, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّـهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sungguh Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa saja.” (QS. Al-Maidah[5]: 27)

Dalam ayat ini ada kata إِنَّمَا (hanya). Sungguh Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertaqwa saja.

Shalat itu taqwa, tapi agar shalat kita diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita harus bisa mewujudkan taqwa dalam salat kita. Menjalankannya dengan ikhlas, menjalankannya dengan tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, khusyu’ dan seterusnya.

Haji itu taqwa, tapi agar haji kita mabrur dan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kita harus bisa mewujudkan taqwa dalam haji kita. Kita harus ikhlas, tidak boleh mengharap pahala dari haji kita kecuali hanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak melakukannya agar dipuji oleh orang lain, dilihat oleh orang lain, didengar oleh orang lain tapi semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjalankan ibadah haji tersebut sesuai dengan dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan juga tidak mencampuri ibadah-ibadah ini dengan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jadi berdasarkan penafsiran yang luas dan umum ini, hadits yang agung ini bisa menjadi salah satu dalil tentang syarat diterimanya amalan kita.

إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً

“Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Baik dan Dia tidak menerima kecuali yang baik.”

Amalan kita harus baik. Dan agar bisa baik amalan kita harus ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam atau terwujud taqwa dalam ibadah-ibadah dan amalan kita itu.

Demikian juga dalam sedekah kita. Kita tidak boleh bersedekah kecuali dengan yang baik-baik. Harta yang disedekahkan haruslah harta yang halal, harta yang bersih. Tidak boleh kita bersedekah dengan harta yang haram, yang kita dapatkan dengan cara yang tidak halal. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang lain:

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةً بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةً مِنْ غُلُولٍ

“Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima shalat tanpa bersuci (wudhu), dan Allah juga tidak menerima sedekah dari ghulul.”

Apa itu ghulu? Ghulul adalah harta rampasan yang ditilep atau dicuri oleh seorang Mujahid sebelum harta tersebut dibagikan oleh pemimpin umat Islam. Dalam sebuah jihad (membela agama Allah Subhanahu wa Ta’ala), bisa jadi ada pejuang dan Mujahid yang tergoda dengan dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghalalkan ghanimah untuk umat Islam setelah sebelumnya tidak boleh dinikmati oleh umat-umat sebelum kita. Ini termasuk kekhususan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  dibandingkan Nabi-nabi sebelum beliau. Namun ghanimah atau harta ramparan perang ini baru boleh dinikmati secara pribadi secara individu setelah pemimpin umat Islam atau pemimpin jihad tersebut membagikannya kepada masing-masing Mujahidin. Sebelum itu maka harta tersebut tidak boleh ditilep atau diambil dinikmati sendiri. Dan kalau ada orang yang menilep atau mencuri harta rampasan perang ini sebelum dibagi maka itu disebut sebagai ghulul. Jadi bisa jadi ada seorang mujahid atau pejuang yang tergoda. Karena manusia lemah di hadapan fitnah dunia ini, diantaranya adalah harta. Dan ketika kemudian dia tersadarkan mungkin dia akan menyesal dan kemudian dia akan bertaubat dan menyedekahkan harta tersebut di jalan Allah
Subhanahu wa Ta’ala.

Maka sedekah dari ghulul/dari harta yang tidak halal seperti ini tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut di atas.

وَلَا صَدَقَةً مِنْ غُلُولٍ

“Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima dari kita sedekah yang berasal dari ghulul, yaitu harta yang dicuri dari harta rampasan perang yang belum dibagikan.”

Demikian juga harta-harta haram yang lain. Harta yang didapatkan dari perdagangan yang tidak halal. Misalnya karena berasal dari perdagangan yang memperjualbelikan barang-barang yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti khamr atau daging babi atau yang semacamnya. Atau dari transaksi riba atau gharar atau kedzaliman kepada orang lain. Harta yang
seperti ini tidak boleh dipakai untuk bersedekah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tidak boleh dipakai bersedekah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala karena Allah tidak menerima kecuali dari yang baik-baik saja.

Hendaknya sedekah kita berasal dari harta yang halal yang kita dapatkan dengan cara yang halal. Itulah sedekah yang akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun kalau kita memiliki harta yang sudah masuk dalam rekening kita, sudah ada dalam simpanan kita, sudah masuk dalam kantong kita padahal itu adalah merupakan harta yang haram, maka cara mengeluarkan bukan dengan sedekah, tapi dengan melepas harta itu bukan sebagai sedekah tapi sebagai bentuk taubat kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka kita lepaskan. Sehingga kita tidak mendapatkan pahala sedekah namun kita akan mendapatkan pahala taubat dan melepaskan diri dari harta yang tidak halal di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Para ulama tidak menyebutnya sebagai sedekah bahkan melarang hal tersebut dipakai untuk bersedekah. Tapi kita boleh takhallus atau melepas diri dari harta tersebut bukan dalam rangka sedekah tapi dalam rangka hanya ingin melepaskan harta haram yang sudah masuk dalam rumah atau kantong kita.

Demikian juga dengan penghasilan dan makanan yang haram, itu tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk makan dari yang halal, untuk mencari penghasilan yang halal, bekerja pada bidang yang halal. Ini adalah makna ketiga dari dari hadits kita:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً

“Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Baik dan Allah tidak menerima kecuali yang baik saja.”

Amalan dan ibadah sudah kita jelaskan, kemudian sedekah juga seperti itu, penghasilan dan makanan yang kita makan juga
seperti itu.

Allah tidak menerima dari hambaNya kecuali penghasilan yang halal, pendapatan yang halal, tidak boleh makan kecuali makanan yang halal. Dan hal ini adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para Rasul dan sekaligus juga kepada umat Islam semuanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Mu’minun ayat 51:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا

“Wahai para Rasul, makanlah dari yang baik-baik dan beramallah yang shalih.”

Jadi para Rasul diperintahkan untuk makan dari yang baik-baik saja. Makan dari yang halal saja, tidak boleh makan dari yang haram-haram. Dan mereka juga diperintahkan untuk beramal shalih, melakukan amalan yang shalih. Ini mengisyaratkan bahwasannya hadits di atas juga mencakup dimensi amal dan ibadah. Bukan hanya makan dan minum serta pendapatan saja tapi juga berbicara tentang amal shalih, menguatkan apa yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali bahwasanya hadits ini juga umum mencakup amal ibadah kita. Karena dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara tentang makanan yang halal dan juga berbicara tentang amal shalih. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada umat Islam, kepada orang-orang yang beriman, yakni dalam surat Al-Baqarah ayat 172:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari kebaikan apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebagai rezeki.”

Jadi, apa yang diperintahkan kepada orang-orang yang beriman sama dengan apa yang diperintahkan kepada para Nabi dan Rasul. Yang ini menunjukkan pada dasarnya hukum yang berlaku untuk para Nabi dan Rasul adalah hukum yang berlaku juga untuk umat mereka. Hukum asalnya seperti itu, tidak ada perbedaan antara Nabi dengan umatnya dalam hukum. Artinya apa yang diperintahkan kepada para Nabi juga diperintahkan kepada umat mereka. Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada para Nabi untuk makan dari yang halal, untuk beramal shalih. Demikian juga kepada orang-orang beriman Allah Subhanahu wa Ta’ala Ta’ala memerintahkan kepada mereka untuk makan dari makanan-makanan yang baik. Meskipun dalam beberapa hal ada hukum khusus yang hanya berlaku untuk para Nabi dan Rasul. Dalam agama Islam misalnya, ada beberapa hukum yang khusus untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Diataranya adalah bolehnya beliau menikah lebih dari 4 wanita atau juga bolehnya beliau menikahi wanita yang menghibahkan diri kepada beliau tanpa mahar. Ini adalah hukum yang khusus berlaku untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan tidak berlaku untuk umat beliau. Hal seperti ini disebut sebagai kekhususan, kekhasan, keistimewaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan para ulama memiliki banyak literatur dan karya khusus tentang kekhususan dan keistimewaan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ini.

Kemudian Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan ada seorang pria yang melakukan perjalanan jauh, perjalanan panjang, safar yang panjang, pakaiannya kusut masai dan berdebu. Dia mengangkat tangannya ke langit, mengatakan, “Ya Robbi, Ya Robbi” tapi makanan dia haram, minuman dia haram, makanan tambahan dia juga haram, maka bagaimana orang seperti itu bisa dijawab doanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala? Bagaimana dia berharap doa dia mustajab?

Jadi setelah menjelaskan apa yang beliau sampaikan di depan, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ingin menjelaskan bahwasanya ada diantara umat ini yang tidak mentaati aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah perintahkan dia untuk beramal shalih tapi dia tidak beramal shalih. Allah memerintahkan dia untuk makan dari makanan yang halal tapi dia tidak ikuti itu.

Jadi ini menunjukkan bahwasannya ada di antara hamba-hamba Allah yang taat dan ada juga yang tidak mau mendengar, tidak mau mentaati aturan-aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Contohnya adalah orang yang disebutkan dalam hadits ini. Seseorang yang melakukan perjalanan panjang, dia melakukan semua faktor yang bisa membuat doanya terkabulkan, tetapi pada saat yang sama dia makan dari makanan yang haram, minum dari minuman yang haram, pakaiannya adalah pakaian yang haram, kemudian makanan tambahannya juga haram. Tadi mungkin di awal hadits saya lupa menyebutkan:

وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَبِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ

Ini sebagai koreksi. Jadi orang ini makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, makanan tambahan atau suplemennya juga haram. Dan pada saat yang sama dia melakukan empat faktor yang bisa membuat doanya terkabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang pertama adalah dia melakukan perjalanan panjang. Dan safar adalah salah satu faktor yang membuat doa seseorang terkabulkan. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud Ibnu, Majah dan Tirmidzi, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ

“Ada tiga doa yang mustajab tanpa ada keraguan di dalamnya.”

دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ

“Doanya orang yang terdzalimi, doanya orang musafir (sedang melakukan perjalanan jauh), dan yang ketiga adalah doa orang tua untuk anaknya.”

Dan dalam sebuah riwayat Tirmidzi disebutkan:

وَدَعْوَةُ الْوَالِدَيْنِ عَلىَ وَلَدِهِمَا

“Doa orang tua untuk keburukan anaknya.” ini juga Mustajab, hati-hati para orang tua. Anda punya senjata andalan di hadapan Allah Subhana wa Ta’ala yaitu doa untuk kebaikan anak Anda. Tapi ingat bahwasanya doa untuk keburukan anak Anda juga Mustajab. Maka hindari berdoa buruk untuk anak terutama saat sedang marah, karena doa Anda mustajab.

Jadi, salah satu faktor yang membuat doa seorang terkabul adalah berdoa dalam posisi safar. Apalagi dalam hadits ini disebutkan orang tersebut sedang melakukan perjalanan jauh, safarnya panjang. Maka itu lebih bisa membuat doanya terkabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian yang kedua adalah dia dalam keadaan kusut masai berdebu. Setelah perjalanan panjang ini dia memiliki pakaian yang kusut, badannya berdebu, pakaiannya berdebu, dan ini juga adalah salah satu faktor yang menambah peluang terkabulnya doa oleh seseorang. Karena dalam sebuah hadits shahih, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

رُبَّ أَشعَثَ أَغبَرَ مَدفوعٌ بالأَبوابِ لَو أَقسَمَ عَلَى اللهِ لأَبرَّهُ

“Betapa banyak orang yang memiliki pakaian yang kusut masai berdebu yang ditolak di pintu-pintu karena dia adalah orang yang jelata bukan tokoh, bukan pejabat. Tapi kalau dia bersumpah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah akan jawab doanya. Allah akan kabulkan doanya. Allah akan kabulkan sumpahnya.” (HR. Muslim)

Juga dalam hadits shahih tentang orang-orang yang berdoa pada hari Arafah. Disebutkan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala ta’ala berfirman, ini hadits qudsi, “Lihatlah para hamba-hambaKu yang berdoa kepadaku. Mereka datang dalam keadaan kusut masai. Maka Aku persaksikan kalian bahwasanya Aku telah mengampuni mereka.”

Ini menunjukkan bahwasanya kondisi kusut masai berdebu juga merupakan salah satu faktor yang mendukung terkabulnya doa seorang hamba.

Kemudian yang ketiga dia mengangkat tangannya ke langit. Dan mengangkat tangan adalah salah satu adab dalam berdoa, salah satu faktor yang membuat doa kita dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan hadits ini juga sekaligus menunjukkan bahwasanya Allah berada di atas, Allah berada di atas langit, Allah berada di ketinggian. Ini adalah aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang tidak bisa ditolak oleh fitrah kita. Bahkan orang-orang yang berusaha untuk menjelaskan hal lain yang bertentangan dengan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah ini secara tidak sadar ia juga mengangkat tangannya ke langit.

Ada seorang yang berasal dari Hamadzan yang bertanya kepada Abul Ma’ali Al Juwaini Rahimahullahu Ta’ala, ketika beliau berusaha menjelaskan aqidah yang bertentangan dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Orang ini mengatakan, ”Wahai Abul Ma’ali, tinggalkan semua dalil yang kau sebutkan itu tapi jelaskan kepada saya kenapa setiap saya berdoa, setiap orang berdoa mereka otomatis mengangkat tangannya ke langit?” Maka Abul Ma’ali Al Juwaini Rahimahullahu Ta’ala mengatakan, “Pria Hamdzan ini telah membuat saya bingung, telah membuat saya ragu dengan apa yang telah saya sampaikan.”

Orang yang mengharapkan dikabulkan doanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat tangannya ke langit dan itu pula yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam. Dan Ibnu Rajab Al Hambali Rahimahullahu Ta’ala menyebutkan ada beberapa bentuk mengangkat tangan dalam berdoa yang di ajarkan atau dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan beliau menyebutkan lima sifat. Yang pertama adalah mengangkat tangan dengan mengisyaratkan seperti isyarat tauhid dengan telunjuk jari. Hal seperti ini biasa lakukan saat beliau saat sedang berada di atas mimbar atau di atas kendaraan. Maka sunnah bagi seorang Khatib untuk berdoa di atas mimbar dengan posisi seperti ini, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Yang kedua adalah menghadapkan kedua tangan kita ke arah kiblat dengan bagian luar telapak tangan di depan seperti ini, menghadap ke arah kiblat sementara bagian dalam telapak tangan kita menghadap ke arah badan kita. Ini kata para ulama adalah doa tadharru. Ini juga shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kemudian yang ketiga adalah sebaliknya, menghadapkan kedua tangan ke arah kiblat dengan posisi seperti ini. Ini kata para ulama adalah istijaroh dan isti’adzah, berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian yang ketiga adalah posisi menengadahkan tangan ke langit. Jadi kedua telapak tangan kita menghadap ke langit sambil kita mengangkat tangan kita. Ini adalah bentuk permintaan, permohonan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan yang kelima adalah mirip seperti yang keempat ini tapi sebaliknya jadi posisinya dibuat seperti ini seperti orang yang sedang iltizam di depan pintu Ka’bah ketika di Multazam. Posisinya seperti ini dan ini kata para ulama artinya adalah ibtihal. Dan lima sifat ini semuanya shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, intinya bahwasanya mengangkat tangan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah salah satu sebab terkabulnya doa kita sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إِنَّ اللَّهَ حَيِىٌّ كَرِيمٌ

“Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Pemalu dan Maha Pemurah.”

يَسْتَحِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

“Allah Subhanahu wa Ta’ala malu kalau ada seorang hamba yang mengangkat kedua tangannya kepadaNya, kalau dia membalasnya dengan tangan kosong dan kecewa.”

Kita menetapkan sifat malu untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits ini. Sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah punya sifat malu dan Allah malu kalau ada seorang hambaNya yang mengangkat tangan kepadaNya kemudian dia pulang dengan tangan kosong, itu akan membuat Allah malu. Maka Allah akan jawab doa-doa kita.

Yang keempat adalah faktor mengucapkan “Yaa Robbi Yaa Robbi (Wahai Tuhanku, Wahai Tuhanku). Ini juga adab doa. Ini adalah cara berdoanya para Nabi dan Rasul. “Yaa Robbi” atau “Robbi” atau “Robbana” seperti disebutkan dalam banyak ayat dan dalam banyak hadits. Jadi diantara salah satu adab doa adalah memulai doa kita dengan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengakui bahwasanya kita adalah hambaNya dan Dia adalah Tuhan kita, dia adalah Rabb kita.

sumber: https://www.radiorodja.com/48221-hadits-arbain-ke-10-allah-maha-baik-dan-hanya-menerima-yang-baik/

Utang Mayit Harus Dilunasi Dulu Sebelum Warisan Dibagi

Pernahkah Anda sadar bahwa utang tidak berhenti saat seseorang meninggal dunia? Bahkan seorang syahid pun masih memiliki tanggungan utang yang belum lunas. Tulisan ini akan membuka mata kita bahwa menunda pelunasan utang bukan sekadar urusan dunia, tetapi bisa berdampak sampai alam kubur.

Utang kepada Allah Lebih Berhak Dilunasi

Melunasi Utang dan Kewajiban Si Mayit

Kita masih membahas tentang hak-hak orang yang telah meninggal. Di antara hak-haknya adalah melunasi segala utang yang menjadi tanggungannya.

Di antara hak si mayit pula adalah zakat yang belum sempat ia tunaikan — maka ahli warisnya mengeluarkannya dari harta peninggalannya. Demikian pula jika ia meninggal sementara ia masih menanggung nazar puasa, maka ahli warisnya berpuasa menggantikannya. Pendapat yang lebih kuat juga menyatakan hal yang sama berlaku untuk puasa Ramadan yang ia tinggalkan padahal ia mampu menggantinya.

Pernah datang seorang laki-laki kepada Nabi ﷺ dan berkata:

يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَقْضِيهِ عَنْهَا؟ قَالَ: «نَعَمْ دَيْنُ اللهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى»

“Wahai Rasulullah, ibuku meninggal dunia dan ia masih menanggung puasa sebulan penuh, apakah aku boleh menggantinya?” Beliau menjawab: “Ya, utang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi.” (HR. Al-Bukhāri no. 1953 dan Muslim no. 1148)

‘Āisyah radhiyallāhu ‘anhā meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:

«مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ»

“Barang siapa meninggal dunia sementara ia masih menanggung puasa, maka walinya berpuasa menggantikannya.” (HR. Al-Bukhāri no. 1952 dan Muslim no. 1147)

Haji atas Nama Si Mayit

Demikian pula, siapa yang meninggal dunia dan belum menunaikan haji, maka para walinya berhaji menggantikannya. Sebagaimana sabda beliau ﷺ kepada seorang laki-laki yang datang dan berkata bahwa ayahnya meninggal dan belum berhaji, lalu bertanya apakah ia boleh berhaji menggantikannya:

«أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَى أَبِيكَ دَيْنٌ أَكُنْتَ قَاضِيَهُ؟» قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: «فَدَيْنُ اللهِ أَحَقُّ»

“Bagaimana pendapatmu, seandainya ayahmu menanggung utang, apakah kamu akan melunasinya?” Ia menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Maka utang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi.” (HR. An-Nasā’i no. 2639)

Dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā, bahwa seorang perempuan dari Juhainah datang kepada Nabi ﷺ dan berkata:

إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَمَاتَتْ قَبْلَ أَنْ تَحُجَّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: «نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ؟» قَالَتْ: نَعَمْ. فَقَالَ: «اقْضُوا اللهَ الَّذِي لَهُ فَإِنَّ اللهَ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ»

“Ibuku bernazar untuk berhaji, namun ia meninggal sebelum sempat berhaji. Apakah aku boleh berhaji menggantikannya?” Beliau menjawab: “Ya, berhajilah menggantikannya. Bagaimana pendapatmu, seandainya ibumu menanggung utang, apakah kamu akan melunasinya?” Ia menjawab: “Ya.” Beliau pun bersabda: “Tunaikanlah kewajiban kepada Allah, sebab Allah lebih berhak untuk dipenuhi.” (HR. Bukhāri, no. 1852)

Di antara kemuliaan dan kemurahan Allah adalah bahwa Dia menjadikan haji ahli waris atas nama si mayit seperti hajinya sendiri. Tidak mengapa mereka juga berhaji sunnah atau berumrah sunnah atas namanya, setelah mereka terlebih dahulu berhaji dan berumrah atas nama mereka sendiri.

Siapa yang meninggal sementara ia masih menanggung nazar, atau kafarat sumpah, atau kafarat-kafarat semisalnya, maka termasuk bentuk kebaikan kepada si mayit apabila para ahli warisnya menunaikan hal-hal tersebut.

Peringatan Keras: Jangan Tunda Pelunasan Utang Orang yang Telah Wafat

Segeralah melunasi utang orang-orang yang telah meninggal di antara kalian! Jangan tunda pelunasannya. Sebab seorang syahid — meski ia syahid — diampuni segala dosanya kecuali utang. Dan si mayit tergadai oleh utangnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda:

«نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ»

“Jiwa seorang mukmin terkatung-katung oleh utangnya hingga utang itu dilunasi atas namanya.” (HR. Ahmad, At-Tirmiżī, Ibnu Mājah, dan Ibnu Hibbān dalam Ṣaḥīḥ-nya)

Diriwayatkan dari Anas radhiyallāhu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ pernah didatangi sebuah jenazah untuk dishalatkan, lalu beliau bertanya:

«هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ؟» قَالُوا: نَعَمْ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ جِبْرِيلَ نَهَانِي أَنْ أُصَلِّيَ عَلَى مَنْ عَلَيْهِ دَيْنٌ، فَقَالَ: إِنَّ صَاحِبَ الدَّيْنِ مُرْتَهَنٌ فِي قَبْرِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ دَيْنُهُ»

“Apakah ia menanggung utang?” Mereka menjawab: “Ya.” Maka Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Jibril melarangku menyalati orang yang menanggung utang, dan ia berkata: ‘Sesungguhnya orang yang berutang itu tergadai di dalam kuburnya hingga utangnya dilunasi atas namanya.’”

Dalam riwayat lain disebutkan:

«فَمَا يَنْفَعُكُمْ أَنْ أُصَلِّيَ عَلَى رَجُلٍ رُوحُهُ مُرْتَهَنَةٌ فِي قَبْرِهِ لَا تَصْعَدُ رُوحُهُ إِلَى السَّمَاءِ، فَلَوْ ضَمِنَ رَجُلٌ دَيْنَهُ قُمْتُ فَصَلَّيْتُ عَلَيْهِ فَإِنَّ صَلَاتِي تَنْفَعُهُ»

“Apa manfaatnya bagi kalian bila aku menyalati seseorang yang ruhnya tergadai di dalam kuburnya dan tidak bisa naik ke langit? Seandainya ada seseorang yang mau menanggung utangnya, aku akan berdiri dan menyalatkannya, sebab salatku akan memberi manfaat baginya.” (HR. Abu Ya’lā dan Aṭ-Ṭabrānī)

Kisah Jābir dan Utang Ayahnya

Jābir radhiyallāhu ‘anhu berkata: Ayahku wafat dan ia menanggung utang. Aku meminta bantuan Nabi ﷺ untuk menghadapi para penagih utangnya — yaitu para krediturnya dari kalangan Yahudi — agar mereka mau mengurangi sebagian utangnya. Nabi ﷺ memohon kepada mereka, namun mereka menolak. Maka Nabi ﷺ berkata kepadaku:

«اذْهَبْ فَصَنِّفْ تَمْرَكَ أَصْنَافًا ثُمَّ أَرْسِلْ إِلَيَّ»

“Pergilah, pilah-pilahlah kurmamu menurut jenisnya, lalu beritahuku.”

Aku pun melakukannya, lalu memberi tahu Nabi ﷺ. Beliau datang dan duduk di atas tumpukan kurma yang paling atas, lalu bersabda: “Takar dan bayarkan kepada mereka.” Maka aku pun menakar dan membayarkan kepada mereka hingga seluruh utang terlunasi, dan kurmaku tersisa seolah-olah tidak berkurang sedikit pun. (HR. Bukhāri, no. 2127)

Teladan Az-Zubair dan Putranya: Diingatkan Mengenai Utang

Di antara contoh nyata perhatian terhadap pelunasan utang adalah kisah sahabat Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu ‘anhu.

Beliau pernah berwasiat kepada putranya, Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu, agar memperhatikan urusan utangnya. Abdullah pun sangat serius menjaga wasiat tersebut.

Ketika Az-Zubair berdiri pada hari terjadinya Perang Jamal, ia memanggil anaknya. Abdullah berkata, “Aku pun berdiri di sampingnya.” Lalu ayahnya berkata,

“Wahai anakku, hari ini tidak ada yang terbunuh kecuali orang yang zalim atau yang dizalimi. Aku merasa bahwa aku akan terbunuh hari ini dalam keadaan dizalimi. Dan sungguh, yang paling aku khawatirkan adalah utangku. Menurutmu, apakah harta kita cukup untuk melunasi utangku?”

Kemudian beliau berkata, “Wahai anakku, juallah harta kita dan lunasilah utangku.”

Beliau juga berwasiat agar sepertiga hartanya disedekahkan.

Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa saat itu beliau memiliki sembilan anak laki-laki dan sembilan anak perempuan. Abdullah berkata,

“Ayahku terus berpesan kepadaku tentang utangnya. Ia berkata, ‘Wahai anakku, jika engkau kesulitan dalam melunasinya, maka mintalah pertolongan kepada maulaku.’”

Abdullah berkata, “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dimaksud sampai aku bertanya, ‘Wahai ayahku, siapa maulamu?’”

Beliau menjawab, “Allah.”

Setelah itu Az-Zubair pun terbunuh. Abdullah berkata, “Demi Allah, setiap kali aku menghadapi kesulitan dalam melunasi utangnya, aku selalu berdoa: ‘Wahai Tuhan Az-Zubair, lunasilah utangnya.’ Maka Allah benar-benar melunasinya.”

Ketika Abdullah telah selesai melunasi seluruh utang ayahnya, para ahli waris—yang berjumlah delapan belas orang termasuk para istri—berkata, “Bagilah warisan di antara kami.”

Namun Abdullah menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan membaginya sampai aku mengumumkan pada musim haji selama empat tahun: ‘Siapa saja yang memiliki piutang kepada Az-Zubair, hendaklah datang kepada kami, maka kami akan melunasinya.’”

Ia pun melakukan pengumuman itu setiap musim haji. Setelah berlalu empat tahun, barulah ia membagi warisan tersebut. (HR. Sahih Bukhari no. 3129)

Faedah penting dari kisah ini:

  • Utang adalah perkara besar, bahkan lebih dikhawatirkan oleh para sahabat dibandingkan kematian itu sendiri.
  • Orang saleh sangat berhati-hati agar tidak membawa utang ke alam akhirat.
  • Tawakal kepada Allah bukan sekadar ucapan, tetapi benar-benar diamalkan—bahkan dalam urusan utang.
  • Wajib mendahulukan pelunasan utang sebelum pembagian warisan.
  • Sikap kehati-hatian Abdullah menunjukkan betapa seriusnya amanah dalam harta.

Kisah ini sejalan dengan peringatan bahwa utang bisa berdampak hingga alam kubur, sebagaimana dijelaskan dalam hadits sebelumnya

Urutan Hak dalam Harta Peninggalan

  • Hak yang terkait dengan harta (utang, zakat, dll)
  • Biaya pengurusan jenazah
  • Pelunasan utang
  • Wasiat (maksimal sepertiga)
  • Pembagian warisan

Mendahulukan Utang dan Wasiat atas Warisan

Allah Ta’ala mengulang ini sebanyak empat kali dalam dua ayat dalam surah An-Nisaa’ yang menunjukkan bahwa warisan hendaknya diurus setelah utang dan wasiat.

1- (مِن بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ..)[11: النساء].

2- (مِن بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ..)[12: النساء].

3- (مِّن بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ..)[12: النساء].

4- (مِن بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ..)[12: النساء].

“sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya.”

Utang Wajib Diselesaikan Terlebih Dahulu

Mendahulukan pelunasan utang daripada pelaksanaan wasiat dalam praktik adalah perkara yang telah disepakati para ulama. Hal ini telah ditegaskan oleh banyak ahli fikih. Seseorang tidak akan terbebas tanggungannya kecuali setelah utangnya dilunasi.

Ibnu Al-Arabi rahimahullah berkata, “Adapun mendahulukan utang, karena tanggungan seseorang itu terikat dengan utangnya. Kewajiban membayar utang lebih utama daripada melakukan kebaikan (seperti wasiat) yang sifatnya mendekatkan diri kepada Allah.”

Dalil dari Sunnah Nabi ﷺ

Inilah pula yang telah diputuskan oleh Rasulullah ﷺ, di mana beliau mendahulukan utang atas wasiat.

Diriwayatkan dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallāhu ‘anhu, beliau berkata:

Kami pernah duduk bersama Nabi ﷺ, lalu didatangkan sebuah jenazah. Mereka berkata, “Shalatkanlah dia.”
Beliau bertanya,

«هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ؟»

“Apakah ia memiliki utang?”

Mereka menjawab, “Tidak.”

Beliau bertanya lagi,

«هَلْ تَرَكَ شَيْئًا؟»

“Apakah ia meninggalkan harta?”

Mereka menjawab, “Tidak.”

Maka beliau pun menyalatkannya.

Kemudian didatangkan jenazah lain. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, shalatkanlah dia.”

Beliau bertanya, “Apakah ia memiliki utang?”

Dijawab, “Ya.”

Beliau bertanya, “Apakah ia meninggalkan harta?”

Mereka menjawab, “Tiga dinar.”

Maka beliau pun menyalatkannya.

Lalu didatangkan jenazah yang ketiga. Mereka berkata, “Shalatkanlah dia.”

Beliau bertanya, “Apakah ia meninggalkan harta?”

Mereka menjawab, “Tidak.”

Beliau bertanya, “Apakah ia memiliki utang?”

Mereka menjawab, “Tiga dinar.”

Maka beliau bersabda,

«صَلُّوا عَلَىٰ صَاحِبِكُمْ»

“Shalatkanlah teman kalian itu.”

Lalu Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Shalatkanlah dia, wahai Rasulullah. Aku yang akan menanggung utangnya.” Maka Nabi ﷺ pun menyalatkannya. (HR. Bukhari)

Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Allah tidak memberikan bagian kepada seorang pun dari ahli waris atau penerima wasiat kecuali setelah utang dilunasi dari seluruh harta peninggalan, meskipun utang itu menghabiskan seluruh harta tersebut.”

Betapa lembut dan penuh rahmatnya Allah kepada hamba-hamba-Nya, baik ketika hidup maupun setelah meninggal. Kematian bisa datang tiba-tiba, sementara seseorang belum sempat melunasi utangnya. Maka urusan itu dialihkan kepada para ahli warisnya, agar ia terbebas dari beban dan merasa tenang, bahkan ketika berada di dalam kubur. Sebab, jika hak-hak manusia menumpuk pada seseorang, hampir saja hal itu membinasakannya—kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya.

Selain itu, mendahulukan pelunasan utang sebelum yang lain juga menjaga hak-hak manusia, menenangkan hati mereka, serta menjaga semangat saling membantu di tengah masyarakat. Seandainya utang dianggap gugur dengan kematian, tentu orang-orang enggan memberi pinjaman dan semangat tolong-menolong akan hilang.

Ibnu Al-Jauzi rahimahullah merangkum masalah ini dengan sangat indah, “Ketahuilah, utang itu secara lafaz disebut belakangan, tetapi secara makna ia didahulukan. Karena utang adalah hak yang wajib ditunaikan oleh si mayit, sedangkan wasiat adalah haknya (yang ia berikan kepada orang lain). Keduanya didahulukan atas hak ahli waris, selama wasiat itu tidak lebih dari sepertiga harta. Kata ‘atau’ dalam ayat tidak menunjukkan urutan, tetapi menunjukkan bahwa jika salah satu ada, maka warisan dibagikan setelahnya, dan jika keduanya ada, maka keduanya didahulukan.”

Penutup

Jangan meremehkan utang, karena ia bisa menjadi beban hingga setelah kematian. Jika Anda memiliki utang, segeralah berniat kuat untuk melunasinya dan jangan menunda-nunda. Jika Anda adalah ahli waris, dahulukan pelunasan utang sebelum membagi warisan. Ingat, menolong melunasi utang mayit adalah bentuk kasih sayang terbesar kepada mereka.

—-

Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin , 4 Zulkaidah 1447 H, 21 April 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42051-utang-mayit-harus-dilunasi-dulu-sebelum-warisan-dibagi.html

Hakikat Tawakal yang Sesungguhnya

Dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ’anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.“ (HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. Tirmidzi berkata, “Hasan sahih.”)

Hadis ini merupakan pokok dalam masalah tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Tawakal yang benar harus disertai dengan mengambil sebab yang disyariatkan. Mengambil suatu sebab bukan berarti menafikan (meniadakan) tawakal. Rasulullah yang merupakan imamnya orang yang bertawakal. Ketika beliau memasuki kota Mekah pada saat peristiwa Fathul Mekah, beliau tetap menggunakan pelindung kepala. Ini menunjukkan bahwa beliau mengambil sebab untuk melindungi diri beliau. Beliau juga telah memberi petunjuk untuk menggabungkan antara mengambil sebab dan bersandar kepada Allah melalui sabda beliau,

 احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Semangatlah kalian terhadap hal-hal yang bermanfaat bagi kalian dan mohonlah pertolongan kepada Allah.“ (HR. Muslim no. 2664)

Dalam hadis ’Umar di atas, terdapat penggabungan antara usaha mengambil sebab dengan bertawakal kepada Allah. Mengambil sebab dalam hadis tersebut disebutkan dengan perbuatan burung, yang pergi dalam keadaan lapar (perutnya dalam kedaan kosong, kemudian pergi untuk mencari rezeki), dan kembali dalam keadaan kenyang (perutnya dalam keadaan terisi). Namun, ketika seseorang mengambil sebab, dia tidak boleh bersandar kepada sebab tersebut, akan tetapi harus tetap harus bersandar hanya kepada Allah. Demikian juga seseorang tidak boleh menelantarkan mengambil sebab (hanya diam saja tidak berbuat apa-apa) kemudian menyangka dirinya telah bertawakal kepada Allah. Sesungguhnya Allah menetapkan sebab dan Allah pula yang menetapkan hasil dari sebab tersebut.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata dalam Jaami’ul ’Uluum wal Hikam, ”Hadis ini merupakan asas dalam hal tawakal kepada Allah, dan sesungguhnya tawakal merupakan sebab terbesar yang dapat mendatangkan rezeki. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً ؛ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

”Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan memberikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangaka. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan memberikan kecukupan baginya …” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Hakikat tawakal adalah benarnya penyandaran hati kepada Allah ’Azza wa Jalla dalam mengambil suatu kebaikan dan menghilangkan suatu keburukan dari seluruh urusan dunia maupun akhirat, dan beriman dengan seyakin-yakinnya bahwa tidak ada yang dapat memberi dan mencegah, serta memberikan keburukan dan manfaat kecuali hanya Allah semata.

***

Penerjemah: Adika Mianoki

Artikel Muslimah.or.id

Catatan kaki:

Dialihbahasakan dari kitab Fathul Qawiy al-Matiin fii Syarhi al-Arba’in wa Tatimmaatu al-Khamsiin, karya Syekh ’Abdul Muhsin bin Hamd Al-’Abbad Al-Badr hafidzahullah.

Sumber: https://muslimah.or.id/6720-hakikat-tawakal-yang-sesungguhnya.html
Copyright © 2026 muslimah.or.id

Menjawab Kebodohan dengan Kedamaian

Tafsir QS. Al-Furqan Ayat 63

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka berkata: ‘Salāman (perkataan yang damai)’.” — Al-Furqan: 63


Akhlak Hamba yang Dicintai Ar-Rahman

Ayat ini menggambarkan salah satu ciri agung dari ‘ibād ar-Raḥmān — hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih. Mereka bukan hanya dikenal karena rajin beribadah, tetapi karena kelembutan akhlaknya terhadap sesama.

Ketika orang-orang bodoh memancing emosi dengan ucapan yang menyakitkan, mereka tidak membalas dengan makian, tidak juga terlibat dalam pertikaian. Sebaliknya, mereka memilih diam yang mulia, atau menjawab dengan tutur kata yang baik — penuh ketenangan dan kehormatan diri.


Tafsir Para Ulama Salaf

1. Al-Ṭabarī (w. 310 H)

Dalam Jāmi‘ al-Bayān, al-Ṭabarī menukil berbagai pendapat salaf:

  • Ibnu Zayd berkata: “Mereka tidak sombong, tidak zalim, dan tidak berbuat kerusakan.”
  • Al-Hasan al-Bashrī berkata: “Mereka penyabar; jika orang lain berbuat bodoh kepada mereka, mereka tidak membalas dengan kebodohan.”
  • Mujāhid menafsirkan: “Salāman” bermakna perkataan yang lurus dan benar (سدادًا من القول).
  • Sebagian ulama lain menafsirkan: “Mereka berjalan di bumi dengan kelembutan dan kesabaran; tidak membalas kebodohan dengan kebodohan.”

2. Al-Qurṭubī (w. 671 H)

Dalam Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, beliau menjelaskan:

“Makna ‘salāman’ adalah ucapan yang lembut, aman dari dosa, dan menenangkan hati. Mereka tidak membalas celaan dengan celaan, tetapi dengan ketenangan dan kehormatan diri.”

Menurut beliau, ini adalah adab orang beriman terhadap kebodohan — mereka menolak kejahatan dengan akhlak mulia.

3. Ibn Katsīr (w. 774 H)

Dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, beliau menulis:

“Mereka tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi memaafkan dan berkata dengan kata-kata yang baik.”

Beliau menghubungkannya dengan ayat lain:

“Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara engkau dan dia ada permusuhan akan menjadi seperti teman yang setia.” (QS. Fuṣṣilat: 34)

4. As-Sa‘dī (w. 1376 H)

Dalam Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, beliau menulis:

“Makna ‘Salāman’ ialah ucapan yang aman dari dosa, penuh kelembutan, dan menjaga diri dari perdebatan sia-sia. Mereka tidak menanggapi kebodohan dengan amarah, tetapi memilih keselamatan dan kemuliaan diri.”

5. Tafsir al-Jalālain

“Apabila orang-orang bodoh mengajak bicara dengan hal-hal yang tidak pantas, mereka menjawab dengan kata-kata yang baik, bukan makian. Ucapan mereka membuat mereka selamat dari dosa dan kehinaan.”


Pelajaran Akhlak yang Dalam

Ayat ini menggambarkan akhlak hamba Allah yang sejati:

  • Tidak terpancing oleh emosi.
  • Menjawab keburukan dengan kebaikan.
  • Menjaga kehormatan diri dengan kesabaran dan tutur kata lembut.
  • Lebih memilih kedamaian daripada perdebatan.

Ayat ini bukan hanya tentang cara berbicara tapi tentang bagaimana menjaga kemuliaan hati.
Membalas kebodohan dengan kebodohan hanya menurunkan derajat kita ke level yang sama. Tapi menanggapinya dengan salām — dengan ketenangan, pengendalian diri, dan tutur kata santun — adalah tanda kematangan iman.

Al-Hasan al-Bashrī menggambarkan mereka dengan indah:

“Mereka orang-orang penyabar. Bila orang lain berbuat bodoh terhadap mereka, mereka tetap bersabar dan tidak berkata kasar. Siang mereka penuh akhlak, malam mereka penuh air mata, menegakkan kaki di hadapan Allah, memohon agar dibebaskan dari siksa-Nya.”


Pesan untuk Kita Hari Ini

Di zaman media sosial yang penuh komentar tajam, ayat ini seakan menjadi cermin bagi kita semua.
Ketika diserang, dihina, atau disalahpahami, kita punya dua pilihan:

  • membalas dengan emosi, atau
  • menjawab dengan kedamaian.

Hamba Ar-Rahman memilih yang kedua, bukan karena lemah, tetapi karena kuat menahan diri dan tahu bahwa kemuliaan bukan terletak pada kata-kata tajam, tetapi pada kesabaran yang tenang.

“Ketika kebodohan datang, mereka menjawab dengan kedamaian, bukan karena kalah, tapi karena hati mereka bersih dan mengedepankan mengikuti petunjuk Quran dan meneladani Nabi Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam- daripada menuruti emosi dan ego diri.”

Inilah tanda seorang hamba yang benar-benar mengenal Tuhannya. Ia berjalan di bumi dengan rendah hati, dan menjawab kebodohan dengan salam.


Penulis: Ahmad Anshori, Lc., M.Pd

sumber: https://remajaislam.com/6257-menjawab-kebodohan-dengan-kedamaian.html

Salat Rawatib Zuhur: Rahasia Amalan Ringan yang Dapat Menyelamatkan dari Siksa Neraka

Banyak orang mencari amalan besar untuk meraih surga, padahal ada ibadah sederhana yang nilainya luar biasa. Amalan ini tidak memerlukan biaya besar, bahkan bisa dilakukan di sela-sela kesibukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan keutamaannya dalam hadis yang sahih. Orang yang mengamalkanya dijanjikan perlindungan dari siksa neraka oleh Allah Ta’ala. Sayangnya, banyak kaum muslimin yang belum mengetahui rahasia amalan ini. Padahal, ia bisa menjadi perisai di akhirat kelak, ketika amal lain belum tentu menolong. Cukup dengan niat ikhlas dan konsistensi, siapa pun bisa melakukannya.

Dalam sebuah hadis dari Ummu Habibah disebutkan bahwa,

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  يَقُولُ مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

“Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Siapa saja yang rutin menunaikan empat rakaat sebelum salat Zuhur dan empat rakaat sesudahnya, maka Allah mengharamkan api neraka baginya’.” (HR. Tirmidzi no. 428 dan Ibnu Majah no. 1160, dinyatakan sahih oleh Al-Albani)

Juga terdapat hadis yang menyatakan bahwa,

أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ قَبْل الظُّهْرِ يَعْدَلْنَ بِصَلاَةِ السَّحَرِ

“Empat rakaat sebelum Zuhur memiliki keutamaan yang setara dengan salat pada waktu sahar (menjelang fajar).” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (2/15/2), dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits ash-Shahihah no. 1431)

Abdullah bin As-Saib meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kebiasaan menunaikan salat empat rakaat setelah zawal, yaitu ketika matahari telah condong ke barat, sebelum melaksanakan salat Zuhur. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهَا سَاعَةٌ تُفْتَحُ فِيهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَأُحِبُّ أَنْ يَصْعَدَ لِى فِيهَا عَمَلٌ صَالِحٌ

“Itulah waktu dibukanya pintu-pintu langit, dan aku ingin amal salehku diangkat pada waktu tersebut.” (HR. Tirmidzi no. 478 dan Ahmad 5: 418. Tirmidzi menilai hadis ini hasan, sementara Syekh Ahmad Syakir mensahihkannya)

Hadis ini menunjukkan keutamaan salat empat rakaat yang dilakukan sebelum Zuhur, yang dikenal dengan sebutan salat zawal dan termasuk dalam salat rawatib qabliyah Zuhur.

Pelaksanaan salat rawatib Zuhur dapat dilakukan dengan tiga pilihan:

  1. Empat rakaat sebelum Zuhur dan empat rakaat setelahnya.
  2. Empat rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat setelahnya.
  3. Dua rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat setelahnya.

Berikut ini beberapa dalil yang menjadi landasan disyariatkannya cara-cara pelaksanaan salat tersebut:

Dalil pertama

Berdasarkan riwayat Tirmidzi no. 428 dan Ibnu Majah no. 1160 (dinyatakan sahih oleh Al-Albani), sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, hadis ini menunjukkan anjuran melaksanakan empat rakaat sebelum salat Zuhur dan empat rakaat setelahnya.

Dalil kedua

Hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

حَفِظْتُ مِنَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ

“Aku menghafal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sepuluh rakaat salat selain salat wajib, yaitu dua rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelah Zuhur, dua rakaat setelah Magrib, dua rakaat setelah Isya, dan dua rakaat sebelum Subuh.” (HR. Bukhari no. 1180 dan Muslim no. 729)

Hadis ini menjadi dalil dianjurkannya salat dua rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat setelahnya.

Dalil ketiga

Riwayat Tirmidzi no. 415 (dinyatakan sahih oleh Al-Albani) mengisyaratkan anjuran melaksanakan empat rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat setelahnya.

Dari Ummu Habibah, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ما من عبدٍ مسلمٍ يصلِّي للهِ تعالى في كلِّ يومٍ ثِنْتي عشرةَ ركعةً تطوُّعًا غيرَ فريضةٍ إلا بنى اللهُ تعالى له بيتًا في الجنَّةِ ، أو : إلا بُنِيَ له بيتٌ في الجنَّةِ :أربعًا قبلَ الظهرِ ، و ركعتَين بعدَها ، و ركعتَين بعد المغربِ ، و ركعتَين بعد العشاءِ ، و ركعتَين قبلَ صلاةِ الغَداةِ

‘Tidaklah seorang hamba muslim yang melaksanakan dua belas rakaat setiap hari selain dari salat fardu, kecuali Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga, yaitu empat rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelah Zuhur, dua rakaat setelah Magrib, dua rakaat setelah Isya, dan dua rakaat sebelum Subuh.‘” (HR. Tirmidzi no. 415, disahihkan oleh Al-Albani)

Waktu pelaksanaan 

Salat sunah sebelum salat fardu (rawatib qabliyah) dapat dilakukan sejak masuk waktu salat fardu hingga dikumandangkannya ikamah, jika salat tersebut dilaksanakan berjemaah. Ketika ikamah telah berkumandang, salat fardu harus didahulukan daripada salat sunah karena kedudukannya yang lebih utama. Pengecualian berlaku apabila seseorang yakin dapat menuntaskan salat sunahnya dan tetap sempat mengikuti salat Zuhur berjemaah bersama imam.

Bagi orang yang melaksanakan salat secara individu (tidak berjemaah), waktu salat sunah ini tetap tersedia hingga ia memulai salat fardu. Meskipun demikian, disarankan untuk segera bergabung dalam salat berjemaah saat ikamah dikumandangkan, lalu menunaikan salat sunah setelah salat fardu selesai. Ketentuan ini berlaku untuk seluruh salat sunah sebelum Subuh maupun sebelum Zuhur.

Adapun salat sunah bakdiyah, seperti bakdiyah Zuhur, Magrib, dan Isya, dilaksanakan setelah salat fardu hingga berakhirnya waktu salat tersebut dan masuk waktu salat berikutnya. Jika waktu salat fardu telah habis dan salat sunah bakdiyah belum dikerjakan, maka salat tersebut dinyatakan terlewat dan hanya dapat dilakukan sebagai qadha. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, 25: 280)

***

Penulis: Rizka Fajri Indra

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

  1. Rumaysho.com
  2. Muslim.or.id
  3. Almanhaj.or.id

Sumber: https://muslimah.or.id/32940-salat-rawatib-zuhur-rahasia-amalan-ringan-yang-dapat-menyelamatkan-dari-siksa-neraka.html
Copyright © 2026 muslimah.or.id

Jadikanlah Akhirat Sebagai Niatmu!

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183); Ibnu Mâjah (no. 4105); Imam Ibnu Hibbân (no. 72–Mawâriduzh Zham’ân); al-Baihaqi (VII/288) dari Sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu.

Lafazh hadits ini milik Ibnu Mâjah rahimahullah. Dishahihkan juga oleh Syaikh al-‘Allamah al-Imam al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 950).

KOSA-KATA HADITS

هَمٌّ : mashdar dari هّمَّ – يَهُمُّ yaitu kemauan yang kuat, keinginan, niat, dan tujuan. Al-hammu juga berarti kesedihan. Jamaknya adalah هُمُوْمٌ (humuum).[1]
فَرَّقَ اللهُ : yaitu Allâh mencerai-beraikannya.
وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ : yaitu dia hanya mendapat apa yang telah ditetapkan baginya.[2]
رَاغِمَةٌ : ذّلِيْلَةٌ تَابِعَةٌ لَهُ (hina dan mengikutinya), yaitu dunia tersebut mengikutinya dengan sukarela dan terpaksa.[3]
SYARAH HADITS
Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela sikap tamak kepada dunia. Bahkan, Allâh Azza wa Jalla sangat merendahkan kedudukan dunia dalam banyak ayat-ayat al-Qur-an. Allâh Azza wa Jalla berfirman bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan yang menipu :

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [Ali ‘Imrân/3:185]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allâh serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [Al-Hadîd/57:20]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ

Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. [Ghâfir/40:39]

Apabila seorang hamba menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya dan mengesampingkan urusan akhiratnya, maka Allâh Azza wa Jalla akan menjadikan urusan dunianya tercerai-berai, berantakan, serba sulit, serta menjadikan hidupnya selalu diliputi kegelisahan. Allâh Azza wa Jalla juga menjadikan kefakiran di depan matanya, selalu takut miskin, atau hatinya selalu tidak merasa cukup dengan rizki yang Allâh Azza wa Jalla karuniakan kepadanya.

Dunia yang dapat hanya seukuran ketentuan yang telah ditetapkan baginya, tidak lebih, meskipun ia bekerja keras dari pagi hingga malam, bahkan hingga pagi lagi dengan mengorbankan kewajibannya beribadah kepada Allâh, mengorbankan hak-hak isteri, anak-anak, keluarga, orang tua, dan lainnya.

Cinta kepada dunia adalah pokok semua kejelekan, oleh karenanya tidak boleh menjadikan dunia sebagai tujuan hidup. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan. [Hûd/11:15-16]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahannam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. [Al-Isrâ’/17:18]

Juga firman Allâh Azza wa Jalla :

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat. [Asy-Syûrâ/42:20]

Dunia ini dilaknat oleh Allâh dan dilaknat apa yang ada di dalamnya, oleh karena itu jangan jadikan dunia sebagai tujuan. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ مَا فِـيْهَا إِلَّا ذِكْرُ اللهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِـمٌ أَوْ مُـتَـعَلِّـمٌ.

Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allâh dan ketaatan kepada-Nya, orang berilmu, dan orang yang mempelajari ilmu.[4]

Orang yang hatinya sehat, dia akan lebih mengutamakan akhirat daripada kehidupan dunia yang fana, tujuan hidupnya adalah akhirat. Dia menjadikan dunia ini sebagai tempat berlalu dan mencari bekal untuk akhirat yang kekal. Orang yang hatinya sehat akan selalu mempersiapkan diri dengan melakukan ketaatan dan mengerjakan amal-amal shalih dengan ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla dan menjauhkan larangan-larangan-Nya, karena dia yakin pasti mati dan pasti menjadi penghuni kubur dan pasti kembali ke akhirat. Karena itu, dia selalu berusaha untuk menjadi penghuni surga dengan berbekal iman, takwa, dan amal-amal yang shalih.

Orang Muslim tujuan hidupnya adalah akhirat, karena itu ia wajib berbekal untuk akhirat dengan bekal terbaik yaitu takwa kepada Allâh Azza wa Jalla . Takwa yaitu melaksanakan perintah-perintah Allâh Azza wa Jalla dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Apabila seorang Muslim beriman dan bertakwa kepada Allâh, maka ia akan diberi rizki dari arah yang tidak diduga dan diberikan jalan keluar dari problematikanya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ﴿٢﴾ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allâh niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya…” [Ath-Thalâq/65:2-3]

Orang yang beriman dan bertakwa kepada Allâh akan dimudahkan urusannya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “…Dan barangsiapa bertakwa kepada Allâh, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” [Ath-Thalâq/65:4]


Orang yang beriman dan bertakwa kepada Allâh juga akan dihapuskan dosa-dosanya dan dilipatgandakan ganjarannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “…Barangsiapa bertakwa kepada Allâh, niscaya Allâh akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan  pahala baginya.” [Ath-Thalâq/65:5]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita bahwa kehidupan yang sebenarnya dan yang kekal adalah kehidupan akhirat, bukan dunia. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اَللّٰهُمَّ ، لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الْآخِرَةِ ، فَأَصْلِحِ الْأَنْصَارَ وَالْـمُهَاجِرَةَ

Ya Allâh, tidak ada kehidupan (yang kekal) kecuali kehidupan akhirat, maka bereskanlah (urusan) kaum Anshar dan kaum Muhajirin.”[5]

Dalam riwayat lain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اَللّٰهُمَّ ، لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الْآخِرَةِ ، فَاغْفِرْ لِلْأَنْصَارِ وَالْـمُهَاجِرَةِ

Ya Allâh, tidak ada kehidupan (yang kekal) kecuali kehidupan akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan kaum Muhajirin.[6]

‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu mengatakan,

اِرْتَـحَلَتِ الـدُّنْـيَـا مُـدْبِرَةً ، وَارْتَـحَلَتِ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً ، وَلِـكُـلِّ وَاحِدَةٍ مِـنْـهُمَـا بَـنُـوْنٌ ، فَـكُـوْنُـوْا مِنْ أَبْـنَـاءِ الْآخِرَةِ ، وَلَا تَـكُوْنُوْا مِنْ أَبْنَـاءِ الدُّنْيَـا ، فَإِنَّ الْـيَـوْمَ عَـمَـلٌ وَلَا حِسَابَ ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلَ.

Sesungguhnya dunia akan pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat pasti akan datang. Masing-masing dari dunia dan akhirat memiliki anak-anak, karenanya, hendaklah kalian menjadi anak-anak akhirat dan kalian jangan menjadi anak-anak dunia, karena hari ini adalah hari amal tanpa hisab (di dalamnya), sedang kelak adalah hari hisab tanpa amal (di dalamnya).[7]

Ada kabar mutawatir dari ulama Salaf mengatakan, “Cinta dunia merupakan induk dari segala kesalahan (dosa) dan merusak agama. Hal ini ditinjau dari beberapa segi:[8]

Pertama: Mencintai dunia berarti mengagungkan dunia, padahal ia sangat hina di mata Allâh Azza wa Jalla . Termasuk dosa yang paling besar adalah mengagungkan sesuatu yang direndahkan oleh Allâh Azza wa Jalla .

Kedua: Allâh mengutuk, memurkai, dan membenci dunia, kecuali yang ditujukan kepada-Nya. Karena itu, siapa saja yang mencintai apa yang dikutuk, dimurkai, dan dibenci Allâh maka ia akan berhadapan dengan kutukan, murka, dan kebencian-Nya.

Ketiga: Orang yang mencintai dunia akan menjadikan dunia sebagai tujuannya dan ia akan menjadikan amalan yang seharusnya menjadi sarana menuju Allâh dan negeri Akhirat berubah menjadi sarana meraih kepentingan dunia.

Di sini ada dua persoalan:

Menjadikan sesuatu yang seharusnya menjadi wasilah (sarana) sebagai tujuan.
Menjadikan amal akhirat sebagai alat untuk menggapai dunia.
Ini adalah keburukan yang terbalik dari semua sisi. Juga berarti membalik sesuatu pada posisi yang benar-benar terbalik. Ini sesuai sekali dengan firman Allâh Azza wa Jalla :

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami  berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh  balasan di akhirat kecuali neraka. Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” [Hûd/11:15-16]

Keempat: Mencintai dunia membuat manusia tidak sempat (terhalang dari) melakukan sesuatu yang bermanfaat baginya di akhirat sebagai akibat dari kesibukannya dengan dunia dan segala yang dicintainya.

Kelima: Cinta dunia menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesar manusia.

Keenam: Pecinta dunia adalah orang yang paling banyak disiksa karena dunia, ia disiksa pada tiga keadaan :

Ia tersiksa di dunia dengan usaha, kerja keras untuk mendapatkannya serta disiksa dengan usahanya untuk merebut dunia dari sesama pecinta dunia
Ia tersiksa di alam barzakh (kubur) dengan terlepasnya segala yang ia cintai dari dirinya
Ia tersiksa pada hari Kiamat.
Ketujuh: Orang yang sangat mencintai dunia dan lebih mengutamakan dunia daripada akhirat adalah orang yang paling bodoh dan idiot. Sebab, ia lebih mengutamakan khayalan daripada kenyataan, lebih mengutamakan tidur daripada terjaga, lebih mengutamakan bayang-bayang yang akan segera hilang daripada kenikmatan yang kekal, lebih mengutamakan rumah yang segera binasa dan menukar kehidupan yang abadi dan nyaman dengan kehidupan yang tidak lebih dari sekedar mimpi atau bayang-bayang yang segera hilang. Sesungguhnya orang yang cerdas tidak akan tertipu dengan hal-hal semacam itu. [9]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

مُـحِبُّ الدُّنْيَا لَا يَنْفَكُّ مِنْ ثَلَاثٍ : هَمٌّ لَازِمٌ ، وَتَعَبٌ دَائِمٌ ، وَحَسْرَةٌ لَا تَنْـقَضِـى

“Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal: (1) Kesedihan (kegelisahan) yang terus-menerus, (2) Kecapekan (keletihan) yang berkelanjutan, dan (3) Kerugian yang tidak pernah berhenti.”[10]

Seorang Muslim tujuan hidupnya adalah akhirat dan dunia sebagai ladang menuju akhirat. Seorang Muslim wajib ingat bahwa dia diciptakan untuk beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla . Oleh karena itu, dia wajib meluangkan waktu untuk beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla , dan hendaknya seorang Muslim setiap jam dan harinya penuh dengan ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla .

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَا ابْنَ آدَمَ ! تَـفَـرَّغْ لِـعِـبَـادَتِـيْ أَمْـلَأْ صَدْرَكَ غِـنًـى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ ، وَإِنْ لَـمْ تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا وَلَـمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

‘Wahai anak Adam! Luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan (kecukupan) dan Aku tutup kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan tutup kefakiranmu.’”[11]

Seorang Muslim dan Muslimah tidak boleh tertipu oleh kehidupan dunia dan tidak boleh panjang angan-angan. Hadits-hadits tentang celaan terhadap dunia dan kehinaannya di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala sangat banyak. Diriwayatkan dari Jâbir Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati pasar saat banyak orang berada di pasar tersebut. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati seekor anak kambing jantan yang kedua telinganya kecil dan telah mati pula. Sambil memegang telinga anak kambing tersebut, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّكُم يُحِبُّ أنْ يَكُونَ هَذَا لَهُ بِدرْهَم ؟  فَقَالُوْا : مَا نُحِبُّ أنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ ؟ ثُمَّ قَالَ : أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ ؟  قَالُوا : وَاللهِ لَوْ كَانَ حَيّاً كَانَ عَيْباً ، إنَّهُ أسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ ميِّتٌ ! فَقَالَ : فوَاللهِ للدُّنْيَا أهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ

“Siapa diantara kalian yang suka membeli ini seharga satu dirham ?” Orang-orang berkata, “Kami sama sekali tidak tertarik kepadanya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya ?” Beliau bersabda, “Apakah kalian suka jika ini menjadi milik kalian ?” Orang-orang berkata, “Demi Allâh, kalau anak kambing jantan ini hidup, pasti ia cacat, karena kedua telinganya kecil, apalagi ia telah mati?” Beliau bersabda, “Demi Allâh, sungguh, dunia itu lebih hina bagi Allâh daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian.”[12]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

واللّٰـهِ ، مَا الدُّنْيَا فِـي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَـجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هٰذِهِ – وَأَشَارَ يَـحْيَ بِالسَّبَّابَةِ – فِـي الْيَمِّ ، فَـلْيَنْظُرْ بِمَ تَـرْجِعُ ؟


Demi Allâh! Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian yang mencelupkan jarinya -Yahya (perawi hadits) berisyarat dengan jari telunjuknya- ke laut, maka lihatlah apa yang dibawa jarinya itu ?[13]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan ini, bahwa dunia seperti air yang menempel di jari yang dicelupkan ke dalam lautan, sedangkan akhirat adalah ibarat lautan yang sangat luas. Dunia ini sedikit dan fana, sedangkan akhirat penuh dengan kenikmatan dan kekal abadi.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

لَـوْ كَـانَتِ الدُّنْـيَـا تَـعْـدِلُ عِـنْـدَ اللّٰـهِ جَـنَـاحَ بَـعُوْضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِـرًا مِنْـهَـا شَرْبَـةَ مَـاءٍ.

Seandainya dunia ini di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala senilai dengan (berat) sayap nyamuk, maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak akan  memberi minum sedikit pun darinya kepada orang kafir.[14]

Dunia ini tidak ada harganya meskipun hanya seberat sayap nyamuk. Tapi anehnya manusia sibuk dan tamak kepada dunia, mereka lupa kepada kehidupan akhirat yang penuh dengan kenikmatan. Bahkan manusia lebih mengutamakan kehidupan dunia. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿١٦﴾ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Bahkan kalian mengutamakan kehidupan dunia. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” [Al-A’lâ/87:16-17]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ يَزَالُ قَلْبُ الْكَبِيْرِ شَابًّا فِيْ اثْنَتَيْنِ ؛ فِيْ حُبِّ الدُّنْيَا وَطُوْلِ الْأَمَلِ.

Senantiasa hati orang yang sudah tua, tetap muda (tetap tamak) kepada dua hal; cinta dunia dan panjang angan-angan.”[15]

Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَبْقَى مِنْهُ اثْنَتَانِ ؛ الْحِرْصُ وَالْأَمَلُ.

‘Setiap anak Adam itu akan menjadi tua dan hanya tersisa darinya dua hal; ambisi dan angan-angannya.”[16]

Begitu banyak manusia yang dilalaikan dengan dunia beserta mimpi-mimpinya. Indahnya dunia telah menghalangi mereka dari jalan petunjuk dan ketakwaan. Sementara itu, setan terus memperpanjang khayalan-khayalan mereka.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Yang akan muncul disebabkan banyaknya angan-angan adalah malas untuk mengerjakan ketaatan, menunda-nunda taubat, berambisi terhadap dunia, lupa akhirat, dan mengerasnya hati. Sebab, kelembutan dan kejernihan hati terbentuk hanyalah dengan mengingat kematian, alam kubur, dosa dan pahala, serta dahsyatnya hari Kiamat.”[17]

FAWAA-ID HADITS
Ada beberapa faedah yang dapat kita petik dari hadits yang mulia ini, di antaranya:

Hendaknya seorang Muslim selalu waspada, jangan menjadikan dunia sebagai tujuan dan jangan tertipu dengan dunia yang penuh dengan keindahan yang menipu. Ingat, bahwa dunia adalah kehidupan yang hina, sementara, sedikit, dan menipu.
Peringatan bagi seorang Muslim agar menjadikan akhirat sebagai tujuannya, dia wajib ingat bahwa dia pasti mati dan kembali kepada Allâh, karena itu dia wajib mempersiapkan bekal untuk akhirat dengan melakukan amal-amal shalih dan menjauhkan larangan-larangan Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Peringatan tentang akibat yang buruk bagi orang yang menjadikan dunia sebagai tujuannya.
Di antara akibat bagi orang yang menjadikan dunia sebagai tujuannya yaitu dijadikan kefakiran di depan pelupuk matanya dan urusannya tercerai-berai.
Iman kepada qadha’ dan qadar dan kita wajib usaha sesuai dengan syari’at.
Di antara nikmat Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang paling besar dan agung atas hamba-Nya, yaitu memberikan kekayaan pada hatinya, merasa puas dan cukup dengan apa yang Allâh karuniakan.
Luasnya karunia Allâh Azza wa Jalla dan kebaikannya kepada orang-orang yang beriman dan
Seorang muslim tidak boleh panjang angan-angan, akan tetapi dia harus beramal shalih yang bermanfaat untuk akhiratnya.
Barangsiapa bertakwa kepada Allâh, maka Allâh akan memberikannya jalan keluar dan rizki dari arah yang tidak di duga-duga.
Sesungguhnya rizki itu ada di Tangan Allâh, diperoleh dengan usaha yang halal.
Seorang Muslim wajib mencari nafkah, tapi jangan tamak kepada dunia.
Seorang Muslim hidupnya untuk ibadah kepada Allâh, karena itu ia wajib menuntut ilmu, berlomba-lomba melakukan amal shalih, dan memenuhi hak Allâh dan hak manusia.
Wallaahu  a’lam.

 MARAAJI’:

Al-Qur’ânul Karî
Kutubus Sittah.
Musnad Imam Ahmad bin Hanbal.
At-Ta’lîqâtul Hisaan ‘ala Shahîh Ibni Hibbân
Jâmi’ Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlih.
Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam.
‘Iddatush Shâbirîn wa Dzakhîratusy Syâkirîn, Ibnul Qayyim.
Ighâtsatul Lahafâ
Mawâridul Amân al-Muntaqa min Ighâtsatil Lahafâ
Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîh
Shahîh at-Targhîb wat Tarhî
Shahîh al-Jâmi’ish Shaghî
Dan lainnya.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XVI/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Footnote
[1] Lihat Lisânul ‘Arab (XV/137) dan al-Mu’jamul Wasîth (II/995).
[2] Syarah Sunan Ibni Mâjah (I/302).
[3] Syarah Sunan Ibni Mâjah (I/302).
[4] Hadits hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2322), Ibnu Mâjah (no. 4112), dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jâmi’ Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlih (I/135, no. 135), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Lafazh ini milik at-Tirmidzi. Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 2797).
[5] Shahih: HR. Al-Bukhâri (no.  6413), dan selainnya.
[6] Shahih: HR. Al-Bukhâri (no. 6414), dan selainnya.
[7] Shahîh al-Bukhâri, kitab: ar-Riqâq, Lihat juga Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/378).
[8] Dinukil dari ‘Idatush Shâbirîn wa Dzakhîratusy Syâkirîn, karya Imam Ibnul Qayyim (hlm. 348, 350-356) dengan diringkas. Ta’liq dan takhrij: Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaliy.
[9] Lihat ‘Idatush Shâbirîn wa Dzakhîratusy Syâkirîn (hlm. 350-356), karya Imam Ibnul Qayyim, dengan diringkas.
[10] Ighâtsatul Lahafân (I/87-88) dan lihat Mawâridul Amân al-Muntaqa min Ighâtsatil Lahafân (hlm. 83-84).
[11] Shahih: HR. Ahmad (II/358), at-Tirmidzi (no. 2466), Ibnu Mâjah (no. 4107), dan al-Hâkim (II/443) dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (III/346, no. 1359) dan Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb (no. 3166).
[12] Shahih: HR. Muslim (no. 2957).
[13] Shahih: HR. Muslim (no. 2858) dan Ibnu Hibbân (no. 4315-at-Ta’lîqâtul Hisân) dari al-Mustaurid al-Fihri Radhiyallahu anhu.
[14] Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2320), Ibnu Mâjah (no. 4110) dan lainnya dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu anhu.
[15] Shahih: HR. al-Bukhari (no. 6420) dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu .
[16] Shahih: HR. Ahmad (III/115, 275). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 8173).
[17] Fat-hul Bâri (XI/213), cet. Darul Fikr.
Referensi : https://almanhaj.or.id/12638-jadikanlah-akhirat-sebagai-niatmu-2.html

Berkata yang Baik atau Diam!

BERKATALAH YANG BAIK ATAU DIAM

KHUTBAH JUMAT PERTAMA

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Hadirin Rahimakumullah wa A’azzakumullah

Allah Ta’ala senantiasa menyerukan agar kita menjadi hamba-hamba yang berbahagia di dunia dan di akhirat, dengan cara menaati, patuh, dan mengikuti dengan ikhlas petunjuk dan aturan Dinul Islam, yaitu rahmat bagi kita sekalian.
Termasuk bukti rahmat Allah dalam Dinul Islam adalah wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sunnahnya tentang menjaga lisan.
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau hendaklah diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah).

Hadirin Rahimakumullah!
Wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut menunjukkan betapa pentingnya kedudukan lisan. Dengan lisan, seorang hamba bisa mencapai derajat yang tertinggi, bahkan mendapat karunia yang amat agung di sisi Allah. Namun sebaliknya, dengan lisan pula seorang hamba jatuh tersungkur ke dalam jurang kehinaan yang sedalam-dalamnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً، يَرْفَعُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ.

“Sesungguhnya seseorang mengucapkan kalimat dari keridhaan Allah yang tidak diperhatikannya, namun Allah mengangkatnya disebabkan kalimat itu beberapa derajat, dan sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat dari kemurkaan Allah yang tidak di-perhatikannya, sehingga Allah melemparkannya disebabkan kalimat itu ke dalam Neraka Jahanam.” (HR. al-Bukhari).

Hadirin Rahimakumullah!
Itulah kekuatan lisan dalam menentukan kedudukan dan keselamatan seorang hamba. Kemudian marilah kita renungkan, bagaimana agar kita secara pribadi-pribadi sekaligus secara maj-muk masyarakat, mampu mempergunakan kekuatan lisan kita untuk mencapai kedudukan yang tinggi, derajat yang terhormat, bahkan pangkat yang paling mulia, bukan hanya di kalangan manusia atau segenap makhluk, akan tetapi kemuliaan di sisi Allah juga, bagaimana caranya?
Junjungan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin yang paling mengasihi dan menyayangi umatnya, telah berpesan serta berwasiat demi keselamatan, kemuliaan, serta ketinggian derajat kita, umat beliau, dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau menerangkan,

إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ فَيَكْتُبُ اللهُ لَهُ بِهَا رِضْوَانَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ.

“Sesungguhnya seseorang dari kalian berkata dengan perkataan yang diridhai Allah, dia tidak menyangka bahwa kalimat itu bisa sampai pada apa yang dicapai (oleh kalimat itu), kemudian Allah mencatat baginya disebabkan kalimat itu pada keridhaanNya sampai hari dia bertemu denganNya.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasa`i, Ibnu Hibban dari sahabat Bilal bin Harits y).

Sekali lagi, kita perhatikan dalam wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, bahwa derajat yang tinggi dapat dicapai dengan kalimat yang diridhai oleh Allah. Kalimat apakah itu?

Hadirin Rahimakumullah!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan bahwa kalimat yang diridhai oleh Allah Ta’ala, dijamin dapat menyelamatkan dan menjadikan kita bahagia bahkan mencapai derajat yang setinggi-tingginya di sisi Allah adalah dzikir kepada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوْا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوْا أَعْنَاقَكُمْ. قَالُوْا: بَلَى. قَالَ: ذِكْرُ اللهِ.

“Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang sebaik-baik amal kalian, yang paling bersih di sisi Maharaja kalian, amalan yang paling tinggi (yang mengangkat) derajat kalian, dan lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas maupun perak, juga lebih baik (bagi kalian) daripada kalian bertemu musuh kalian, kemudian kalian memenggal leher mereka atau mereka memenggal leher kalian?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tentu (wahai Rasulullah).” Beliau bersabda, “Dzikir kepada Allah Ta’ala.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim).

Bersyukurlah bapak-bapak, saudara-saudara, hadirin rahimakumullah! Hanya karena hidayah dan taufik Allah semata, kita dapat senantiasa berdzikir dan bersyukur kepadaNya..

Maka sekarang tergantung kita, apakah kita sebagai umat, sebagai bangsa, sebagai generasi, ingin tetap mempertahankan kedudukan yang mulia dan tertinggi itu, atau malah kita tidak mau peduli dan tidak mau sadar bahwa kita sedang menukik terjun ke dalam jurang kehinaan dan kehancuran umat dan bangsa.

Hadirin Rahimakumullah!
Tiada cara untuk bisa mempertahankan kedudukan termulia dan tertinggi itu selain dari bersyukur kepada Allah, senantiasa mensyukuri nikmat kesehatan lisan, dengan berupaya mengguna-kannya untuk mengucapkan kalimat yang diridhai Allah Ta’ala semata, menggunakan lisan hanya untuk menyeru kepada Allah, memperbanyak dzikir di manapun berada, sehingga bibir senantiasa basah oleh dzikir.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya oleh seorang sahabat, “Duhai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam telah terlalu banyak yang harus aku jalankan, maka beritahukan kepadaku apa yang dapat aku pegangi (terus menerus).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ.

“Lidahmu tidak henti-hentinya basah dari dzikir kepada Allah.” (HR. at-Tirmidzi).

Di samping itu juga, sangat dianjurkan bahkan akan memperoleh satu kedudukan yang tinggi jika kita menggunakan lisan untuk bermudzakarah, menyebarkan, dan menuntut ilmu. Allah Ta’ala berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah: 11).

Hadirin Rahimakumullah!
Dengan cara seperti itulah kaum muslimin senantiasa bisa mempertahankan kedudukan yang paling mulia sejak zaman para nabi dan rasul sampai saat sekarang, maka janganlah sekali-kali kita melupakan atau tidak mau mewarisinya dengan sungguh-sungguh, sehingga tersungkur dalam jurang kehancuran, karena tidak mampu lagi menjaga lisan dan mensyukurinya dengan sebaik-baiknya.

Apabila kita tidak mampu untuk berkata yang baik, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi satu solusi jitu yaitu, “Diamlah!”

Karena diam itu mampu menahan seorang hamba agar tidak jatuh ke dalam jurang kehancuran.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَمَتَ نَجَا.

“Siapa yang diam, niscaya akan selamat.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, ad-Darimi, Ibnul Mubarak, Ibnu Abi ad-Dunya).

Dengan diam, kita akan selamat dari jurang neraka, seperti yang diperingatkan oleh Rasulullah dalam haditsnya, “Dan sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat dari yang dimurkai Allah yang tidak diperhatikannya, sehingga Allah melemparkannya disebabkan kalimat itu ke dalam Neraka Jahanam.” (HR. al-Bukhari).

Hadirin Rahimakumullah wa A’azzakumullah!
Sesungguhnya perkataan yang tidak baik dapat menyebabkan kehancuran dan kesengsaraan di dunia dan di akhirat, semua itu dikarenakan tidak mau mengendalikan lisan atau tidak bisa diam.

Di sini khatib mencoba menyebutkan beberapa ucapan yang harus kita hindari, agar kita selamat dari laknat dan murka Allah:

BERDUSTA ATAS NAMA ALLAH
Jika perbuatan itu dilakukan, maka dia termasuk orang-orang yang zhalim, yang telah dipersiapkan baginya azab yang sangat pedih dan mengerikan oleh Allah, Allah berfirman,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللّهِ كَذِباً أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.” (Al-An’am: 21).
Allah berfirman,

وَلاَ تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَـذَا حَلاَلٌ وَهَـذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُواْ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan bagi mereka azab yang pedih.” (An-Nahl: 116–117).

MEMBANTAH ATAU BERPALING DARI KITAB ATAU SUNNAH RASULNYA.
Perbuatan ini akan menyebabkan kemurkaan Allah, sehingga Allah membiarkannya berkubang lebih lama di dalam kesesatan, setelah itu dilemparkan ke dalam Neraka Jahanam sebagai tempat yang paling buruk, di dalam Jahanam dia akan memakan buah Zaqqum yang memenuhi perutnya, ketika haus, dia akan memi-num air nanah yang sangat panas, Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasai-nya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” (An-Nisa`: 115).

Allah Ta’ala berfirman, “Kemudian sesungguhnya kamu hai orang yang sesat lagi mendus-takan, benar-benar akan memakan pohon zaqqum, dan akan meme-nuhi perutmu dengannya. Sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas. Maka kamu minum seperti unta yang sangat haus minum.” (Al-Waqi’ah: 51-55).

MENERTAWAKAN ATAU MENGOLOK-OLOK SYARIAT ALLAH, MENGOLOK-OLOK NABI MAUPUN AL-QUR`AN
Allah mengancam orang-orang yang berbuat demikian dengan cap munafik dan kafir, bahkan orang-orang yang sekedar duduk-duduk bersama mereka ketika mereka sedang mengolok-olok syariat Allah, Rasul-Nya dan al-Qur`an, Allah setarakan kedudukan mereka dengan orang-orang kafir dan munafik di Neraka Jahanam. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللّهِ يُكَفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ تَقْعُدُواْ مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذاً مِّثْلُهُمْ إِنَّ اللّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعاً

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam al-Qur`an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di da-lam jahanam.” (An-Nisa`: 140).

Allah berfirman, “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Apa-kah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (At-Taubah: 65 – 66).

GEMAR BERSUMPAH PALSU, MENGADU DOMBA DAN MENYEBARKAN FITNAH (BERITA BOHONG)
Allah Ta’ala berfirman,

{وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ{10} هَمَّازٍ مَّشَّاء بِنَمِيمٍ{11}

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.” (Al-Qalam: 10–11).

– Menuduh.
Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ{23} يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ{24{

“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh (berbuat zina) wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman, mereka menda-patkan laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (An-Nur: 23–24).

وَمَن يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْماً ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئاً فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَاناً وَإِثْماً مُّبِيناً

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkan kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.” (An-Nisa`: 112).

GHIBAH, GOSIP, MENGGUNJING, DAN BERBURUK SANGKA
Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat: 12).

Banyak bicara (tanpa manfaat), menyakiti hati, kalimat sia-sia, bersenda gurau yang melalaikan Allah, bermain-main dengan doa, menjuluki dengan julukan yang jelek dan menyebut-nyebut pemberian yang telah diberikan kepada seseorang, juga termasuk ke dalam serangkaian berkata yang mengakibatkan kita terjerumus ke dalam jurang neraka, maka kita semua harus menghindari semua itu, agar kita terhindar dari laknat dan murka Allah. .

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ, إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH JUMAT KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

Hadirin Rahimakumullah!
Marilah kita semua memohon perlindungan kepada Allah dari semua jenis penyelewengan dan penyalahgunaan nikmat lidah atau lisan yang dapat menghancurkan diri dan umat kita sekalian. Dan janganlah kalian mengobral omongan dan banyak bicara, karena banyak bicara, banyak salahnya.

Jauhilah berlebihan dalam berbicara, karena itu menyebabkan derajat umat ini jatuh, termasuk parodi, melucu dengan kebohongan. Nabi terkasih junjungan kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَيْلٌ لِلَّذِيْ يُحَدِّثُ بِالْحَدِيْثِ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ فَيَكْذِبُ، وَيْلٌ لَهُ، وَيْلٌ لَهُ.

“Celakalah bagi orang yang bercerita untuk membuat orang-orang tertawa dengannya, kemudian dia berdusta, celaka baginya, celaka baginya.” (HR. at-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad).

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟

“Apakah ada yang menjerumuskan manusia dengan wajah-wajah mereka (terseret) selain hasil dari lidah mereka?” (HR. at-Tirmidzi).

Kita memohon perlindungan kepada Allah dari berbicara batil dan memohon taufik kepada Allah agar senantiasa berbicara yang benar, baik, atau diam. Semoga Allah mengangkat derajat kita dan senantiasa terus meningkatkan derajat kita setinggi-tingginya di dunia dan di akhirat. Amin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَِينَ.

sumber: https://khotbahjumat.com/895-berkata-yang-baik-atau-diam.html