Larangan Makan dan Minum dengan Tangan Kiri

Teks Hadis

Dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا تَأْكُلُوا بِالشِّمَالِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِالشِّمَالِ

“Janganlah makan dengan tangan kiri, karena sesungguhnya setan makan dengan tangan kiri.” (HR. Muslim no. 2019)

Kandungan Hadis

Kandungan pertama

Dalam hadis ini, terkandung dalil adanya larangan untuk makan dengan tangan kiri, demikian pula minum dengan tangan kiri. Larangan ini juga berdasarkan hadis dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ، وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ، وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

“Jika salah seorang dari kalian makan, makanlah dengan tangan kanan. Apabila minum, minumlah dengan tangan kanan. Karena sesungguhnya setan itu makan dan minum dengan tangan kiri.” (HR. Muslim no. 2020)

Dalam hadis tersebut, terdapat peringatan yang keras dari perbuatan makan dan minum dengan tangan kiri. Karena bagaimana mungkin seorang muslim menyerupai dan meniru perbuatan musuh terbesarnya, yaitu setan? Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّ الشَّيطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah dia sebagai musuh.” (QS. Fatir: 6)

Kandungan kedua

Terdapat banyak hadis yang menunjukkan wajibnya makan dan minum dengan tangan kanan dan larangan makan dan minum dengan tangan kiri. Hal ini menunjukkan adanya dalil yang sangat kuat untuk menunjukkan haramnya perbuatan makan dan minum dengan tangan kiri. Meskipun demikian, jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa makan dan minum dengan tangan kanan hukumnya sunah (dianjurkan), tidak sampai derajat wajib. Hal ini karena larangan dalam hadis itu masuk dalam bab adab (akhlak) dan bimbingan, dan juga untuk memuliakan tangan kanan di atas tangan kiri. [1]

Adapun sejumlah ulama, di antaranya Ibnu ‘Abdil Barr, Ibnu Hazm, Ibnu Abi Musa, Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, dan juga Ibnul Qayyim rahimahumullah, mereka berpendapat wajibnya makan dan minum dengan tangan kanan dan haramnya makan dan minum dengan tangan kiri. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وهو أحد الوجهين لأصحاب أحمد

“Dan ini adalah salah satu dari dua pendapat di kalangan pengikut Imam Ahmad.”

Ketika Ibnu ‘Allan rahimahullah (salah seorang ulama Syafi’iyyah) menyebutkan bahwa hukumnya sunah, beliau mengatakan,

وقيل: وجوبًا؛ لما في غيره من الشَّرَهِ ولحوق الضرر بالغير، وانتصر له السُّبكي، وعليه نص الشافعي في الرسالة ومواضع من الأم ..

“Dan dikatakan bahwa hukumnya wajib, karena dalam perbuatan selainnya (makan minum dengan tangan kiri) terdapat kerakusan dan kemungkinan mendatangkan bahaya bagi orang lain. Pendapat ini didukung oleh As-Subki. Wajibnya (makan minum dengan tangan kanan) juga ditegaskan oleh Imam Syafi’i dalam kitab Ar-Risalah serta beberapa bagian dari kitab Al-Umm … “ [2]

Pendapat yang menyatakan wajibnya makan dan minum dengan tangan kanan adalah pendapat yang kuat. Hal ini karena dalil-dalil yang berkaitan dengan masalah ini sangat jelas dan tegas menunjukkan hukum wajibnya dengan beberapa alasan dan pertimbangan berikut ini.

Pertama: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menggunakan tangan kiri untuk makan dan minum, dan menjelaskan bahwa perbuatan tersebut termasuk perbuatan setan. Berdasarkan hal ini, maka siapa saja yang makan dan minum dengan tangan kiri, maka dia telah menyerupai (tasyabbuh) setan.

Kedua: Lafaz atau redaksi perintah (makan minum dengan tangan kanan) atau larangan (makan minum dengan tangan kiri), serta tidak adanya dalil lain yang memalingkan (baik dari hukum wajib ataupun haram). Sehingga hal ini menunjukkan, hukum makan minum dengan tangan kanan itu wajib, sedangkan hukum makan minum dengan tangan kiri hukumnya haram.

Ketiga: Hadis dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, yang menceritakan bahwa ada seorang laki-laki yang makan di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tangan kiri. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,

كُلْ بِيَمِينِكَ

“Makanlah dengan tangan kanan.”

Laki-laki tersebut berkata, “Aku tidak mampu.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,

لَا اسْتَطَعْتَ

“Semoga kamu memang tidak mampu.”

Yang menghalangi laki-laki tersebut (ketika menolak perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, pent.) hanyalah kesombongan. Setelah itu, tangan lelaki itu tidak dapat diangkat ke mulutnya. (HR. Muslim no. 2021)

Laki-laki tersebut, yang menolak untuk makan dengan tangan kanan dan meneruskan makannya dengan tangan kiri karena sombong dan keras kepala, kemudian didoakan kejelekan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini karena dia tidak memiliki uzur (alasan yang bisa dibenarkan secara syariat). Dan sungguh Allah Ta’ala mengabulkan doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, sehingga tangan kanannya menjadi lumpuh dan tidak mampu lagi mengangkat tangan kanannya ke mulutnya setelah hari itu. Maka hadis ini adalah dalil yang sangat jelas bahwa laki-laki tersebut telah meninggalkan kewajiban, terjatuh dalam perbuatan haram, berhak untuk didoakan jelek karena telah menyelisihi hukum (perintah) syariat, serta tidak mau menerima dan patuh terhadap perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sungguh disayangkan ketika makan dan minum dengan tangan kiri telah menjadi kebiasaan yang meluas di kalangan kaum muslimin. Hal ini mungkin disebabkan oleh ketidaktahuan mereka terhadap sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kurangnya perhatian, atau lemahnya kepedulian terhadap adab-adab yang diajarkan oleh syariat. Oleh karena itu, hendaknya kita mengingkari perbuatan tersebut, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingkari hal itu. Makan dengan tangan kanan itu lebih mudah, lebih baik, dan lebih ringan. Namun, ketaatan kepada setan, godaan setan, dan kecenderungan untuk menyelisihi syariat telah membuat kebiasaan ini terlihat baik dan menarik di mata banyak orang.

Ketika tangan kanan masih memegang makanan, hal itu juga bukan alasan yang dibenarkan untuk minum dengan tangan kiri, sebagaimana yang dilakukan sebagian orang. Misalnya, tangan kanan masih memegang sendok berisi makanan, lalu minum dengan tangan kiri. Yang seharusnya dilakukan adalah dia letakkan dulu sendok tersebut di piring, atau dia pegang sendok tersebut dengan tangan kiri untuk sementara waktu, lalu dia minum dengan tangan kanan.

Demikian pula apabila tangan kanan memegang sendok, tangan kiri memegang garpu. Maka, jangan sampai memasukkan makanan ke mulut dengan tangan kiri yang memegang garpu. Akan tetapi, tangan kiri hanya sekedar membantu, sedangkan untuk mengangkat makanan dan memasukkan ke mulut, tetap dengan tangan kanan.

Atau ketika seseorang tangan kanannya kotor karena makan tanpa sendok, hal ini juga bukan alasan untuk minum dengan tangan kiri. Sebab, seseorang dapat memegang gelas tersebut dengan bantuan tangan kiri. Sehingga gelas dipegang dengan kedua tangan, tangan kanan dan tangan kiri, dan ini hukumnya boleh jika memang terdapat kesulitan memegang gelas atau wadah minuman dengan  tangan kanan saja [3].

Namun di zaman kita sekarang, ada gelas-gelas plastik yang memungkinkan untuk dipegang dengan tangan kanan, meskipun mungkin sedikit terpengaruh dengan kotornya tangan kanan tersebut karena dipakai untuk makan. Namun, gelas tersebut biasanya akan dibuang setelah digunakan dan jarang digunakan kembali. Sehingga tidak menjadi masalah kalau kotor, karena setelah itu akan dibuang. [4]

Demikianlah pembasan ini, semoga bermanfaat. [5]

***

@Fall, 16 Jumadil awal 1446/ 18 November 2024

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslimah.or.id

Catatan kaki:

[1] Al-Mufhim, 5: 295. 

[2] Lihat Ar-Risalah, hal. 349, 353; Al-Kaafi, karya Ibnu Abdil Barr, 2: 1138; Al-Muhalla, 7: 424; Al-Irsyad, hal. 538; Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1: 364; Zaadul Ma’ad, 2: 397; Al-Adaab Asy-Syar’iyyah, 3: 168; Fathul Baari, 9: 522; Al-Futuhaat Ar-Rabbaniyyah ‘ala Al-Adzkar An-Nawawiyah, 5: 181-182.

[3] Lihat pembahasannya bolehnya minum dengan dua tangan di sini: Makan dengan 2 Tangan

[4] Asy-Syarhul Mumti’, 12: 362.

[5] Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Buluughil Maraam (7: 449-451). Kutipan-kutipan dalam tulisan di atas adalah melalui perantaraan kitab tersebut.

Sumber: https://muslimah.or.id/20103-larangan-makan-dan-minum-dengan-tangan-kiri.html
Copyright © 2026 muslimah.or.id

Menyikapi Perlakuan Buruk Orang Terhadap Kita

Syaikh Ali Ath Thantawi rohimahullah berkata,

“Janganlah engkau menyiksa dirimu dengan memikirkan apa yang dikatakan orang lain tentangmu. Jika apa yang mereka katakan itu benar, maka itu adalah penebus dosa bagimu.

Dan jika apa yang mereka katakan itu salah, maka itu akan menjadi kebaikan (pahala) yang dihadiahkan kepadamu tanpa engkau harus bersusah payah beramal..”

(Fushul fi al-Adab – 156/157

 Beberapa poin penting dari nasehat di atas :

1. RIDHO SEBAGAI PERISAI. Beliau rohimahullah menjelaskan bahwa ridho terhadap gangguan orang lain adalah tanda kekuatan iman. Jika kita yakin bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah, maka hinaan orang lain tidak akan bisa menjatuhkan derajat kita di sisi-Nya.

2. KEUNTUNGAN SPIRITUAL. Beliau rohimahullah mengajak kita melihat “keuntungan” di balik perlakuan buruk. Orang yang menghina sebenarnya sedang mentransfer pahalanya kepada kita. Dengan pandangan ini, rasa marah akan berubah menjadi rasa kasihan atau minimal ketenangan.

3. MENJAGA FOKUS. Syaikh Ali Ath Thantawi rohimahullah mengingatkan bahwa waktu kita terlalu berharga untuk dihabiskan dengan membalas keburukan. Beliau rohimahullah sering berkata bahwa “diamnya orang yang mulia adalah jawaban yang paling pedas bagi orang yang bodoh..”

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/73677

MEMAHAMI HADIS MAHKOTA UNTUK ORANG TUA DI SURGA

MEMAHAMI HADIS MAHKOTA UNTUK ORANG TUA DI SURGA

Kemudian penulis kitab ini Imam Al-Ajurri rahimahullah mengatakan:
“Dan Alquran itu akan menjadi saksi, pemberi syafaat, teman, dan penjaga baginya. Dan barang siapa yang keadaannya demikian, berarti dia telah memberi manfaat kepada dirinya sendiri, dan memberi manfaat kepada keluarganya. Bahkan orang tuanya dan anaknya akan mendapatkan kebaikan di dunia dan di Akhirat.

Beliau menyebutkan suatu hadis yang diriwayatkan oleh Muadz Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ، أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang menghafal Alquran dan mengamalkan isinya, maka akan dipakaikan kepada kedua orang tuanya mahkota pada Hari Kiamat.”

Dalam hadis ini disebutkan:
“Barang siapa yang menghafal Alquran dan mengamalkan isinya.” Maksudnya, bahwasannya Ahlul Quran yang merupakan keluarga Allah dan orang-orang dekat dengan Allah Subhanahu wa Taala, yaitu mereka yang menggabungkan antara ilmu dan amalan, menggabungkan antara pemahaman dan praktik. Karena mengamalkan petunjuk-petunjuk Alquran adalah tujuan diturunkannya Alquran. Karena Alquran diturunkan untuk dilaksanakan perintahnya, dan dijauhi larangannya, serta dibenarkan kabar-kabarnya. Maka tidak layak dan tidak sepantasnya bagi umat Islam sekadar membaca Alquran tanpa memahami dan menadabburi. Apalagi tidak mengamalkannya.

Dalam hadis disebutkan: “Akan dipakaikan kedua orang tuanya mahkota pada Hari Kiamat.” Karena kedua orang tua adalah sebab yang mendidik dan memotivasi anaknya untuk memerhatikan Alquran. Maka ia pun akan mendapatkan balasan dengan keduanya dipakaikan mahkota pada Hari Kiamat.

Kemudian lanjutan hadis tadi:

ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِي بُيُوتِ الدُّنْيَا لَوْ كَانَتْ فِيه

“Mahkota tersebut lebih terang dan lebih baik daripada cahaya matahari di rumah-rumah dunia, seandainya cahaya tersebut ada padanya.”

فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِي عَمِلَ بِهَذَا؟

“Maka bagaimana lagi keadaan orang yang melakukan perkara tersebut?”

Jika orang tuanya saja mendapatkan mahkota yang cahayanya lebih baik daripada cahaya matahari, maka bagaimana balasan anak yang menghafalkan Alquran?

Jika kedua orang tuanya saja mendapatkan mahkota yang agung, tentu ia akan mendapatkan kemuliaan dan cahaya yang lebih besar lagi.

Dan di antara perkara yang sangat penting yang kita bisa ambil dari hadis ini, yaitu dianjurkan untuk setiap orang tua untuk memotivasi anak-anaknya menghafal Alquran dan mengamalkannya. Bukan sekadar menghafal huruf-huruf dan surat-surat Alquran. Dan ini banyak dilalaikan oleh para orang tua. Karena ketahuilah, sesungguhnya menghafal Alquran itu sekadar sarana. Adapun tujuannya adalah mengamakan isi Alquran.

Kemudian Syaikh hafidzahullah memberikan metode yang sangat bermanfaat cara mendidik anak untuk mengamalkan Alquran. Yaitu jika anak Anda membaca Alquran, membaca ayat-ayat yang berkaitan tentang salat, Anda mengatakan kepada anak Anda: “Perhatikan wahai anakku, ini adalah perintah untuk salat. Maka jagalah salatmu. Jadilah engkau termasuk orang yang menjaga salatmu. Karena engkau tidak akan disebut sebagai orang yang menghafalkan ayat ini, kecuali jika engkau menjaga salatmu dan memerhatikannya.”

Demikian juga dengan ayat-ayat yang memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua, berbuat jujur, menepati janji, dan selainnya dari akhlak-akhlak yang baik.

Demikian pula bagi para pengajar di halaqah-halaqah tahfidz, yang mana seyogyanya dan seharusnya mereka memerhatikan perkara ini. Mereka harus antusias untuk mendidik anak-anak kaum Muslimin, dan mengajarkan mereka untuk mengamalkan Alquranul Karim. Sehingga Alquran ini menjadi hujjah/penguat untuk mereka, dan bukan menjadi penentang mereka. Karena orang yang menghafal Alquran sekadar menghafalkan huruf-hurufnya saja dan tidak mengamalkannya, dan bahkan melalaikan dari perintah-perintah dan larangan-larangannya, maka Alquran ini akan menjadi penentangnya pada Hari Kiamat nanti. Dia akan menjadi pemberat kesalahan dia pada Hari Kiamat nanti. Nabi ﷺ bersabda:

وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

“Alquran ini adalah hujjah yang akan mendukungmu, atau hujjah yang akan menentangmu.” [HR. Muslim]

Juga Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

“Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Alquran ini beberapa kaum, dan menghinakan dan merendahkan sebagian yang lain.” [HR. Musim]

Hadis yang disebutkan oleh penulis kitab ini, dari sahabat Muadz Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu dalam sanadnya ada Zabban bin Faid. Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah: “Beliau adalah seorang yang lemah hadisnya, walaupun ia adalah orang yang saleh dan rajin beribadah.” [At-Taqrib no. 1985]

Juga dalam sanad hadis ini ada Sahl bin Muadz. Al-Hafidz mengomentari, bahwasannya orang tersebut tidak mengapa, kecuali dari riwayat Zabban darinya.

Namun ada hadis yang menguatkan hadis ini, yaitu hadis Buraidah yang akan kita sebutkan. Hadis yang panjang, namun penulis kitab ini hanya menyebutkan sebagian saja.

Kemudian Imam Al-Ajurri rahimahullah menyebutkan dengan sanadnya dari Khaitsamah, beliau berkata:

مرَّتِ امرأةٌ بعيسى ابنِ مريم فقالت: طُوبى لحِجرٍ حَمَلَك، ولثَدْيٍ رَضَعْتَ منه، فقال عيسى: طُوبى لمَنْ قرأَ القرآنَ، ثمَّ عَمِلَ به

“Ada seorang wanita yang melewati Nabi Isa bin Maryam alaihimussalam. Kemudian wanita tersebut mengatakan: ‘Sungguh beruntung pangkuan yang membawamu, dan wanita yang engkau menyusui darinya.’ Maka Nabi Isa menjawab: ‘Sungguh beruntung orang yang membaca Alquran dan mengamalkannya.’”

Ini adalah atsar yang diriwayatkan oleh Khaitsamah, yang kemungkinan diambil dari lembaran-lembaran Ahli Kitab. Maka riwayat termasuk kabar Bani Israil, dan secara umum makna dari atsar ini sesuai dengan nash-nash dari Kitab dan Sunnah, yaitu “Beruntunglah orang yang membaca Alquran dan mengamalkannya.”

Namun kalimat طُوبى ini bisa diartikan juga “Surga”, dan juga sebagian mengartikan “Pohon di Surga”, yang mana seorang pengendara melewati di bawah pohon tersebut 100 tahun. Dan juga sebagian mengartikan bahwasanya طُوبى adalah “Pahala yang besar”.

Perkataan Nabi Isa “beruntunglah orang yang membaca Alquran”, yaitu Kitabullah di waktu tersebut. Bisa jadi Taurat atau Injil. Dan juga atsar ini diriwayatkan dari Khaitsamah dari jalan lain selain Imam Al-Ajurri, dan lafalnya adalah “Kitabullah” bukan “Alquran”.

Dan yang menguatkan atsar ini yaitu firman Allah ﷻ:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّـهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّـهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﴿٢٨﴾

“Dan orang-orang yang beriman dan hati-hati mereka tenang dengan berzikir kepada Allah. Ketahuilah, dengan berzikir kepada Allah, hati akan menjadi tenang.” [QS. Ar-Ra’d 13 : 28]

Sumber: https://www.radiorodja.com/48282-al-quran-sebagai-cermin-bagi-orang-beriman-dan-hadits-mahkota-untuk-orang-tua-di-surga/

Manfaatkanlah Waktu Anda Sebaik Baiknya

Al Muzani rohimahullah berkata,

– Setiap hari yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata,

‘Wahai anak Adam, manfaatkanlah aku. Boleh jadi engkau tidak akan menemui hari yang lain..’

– Setiap malam yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata,

‘Wahai anak Adam, manfaatkanlah aku. Boleh jadi engkau tidak akan menemui malam yang lain..’

(Hilyatul Auliyaa’ -7/330)

 Nasihat ini merupakan pengingat yang sangat dalam mengenai urgensi waktu dan bagaimana setiap detik dalam kehidupan kita adalah kesempatan yang tidak akan terulang kembali.

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/73932

Apabila Allah Mencintai Hamba-Nya

Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi (yang artinya),

“Apabila Aku mencintainya (seorang Muslim), maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memukul, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan..”

{Shohih Al Bukhari no. 6502}

 Penjelasan Syaikh Ibn Baz rohimahullah

“Ini tidak berarti bahwa Allah adalah pendengaran dan penglihatannya .. Melainkan maknanya adalah bahwa Allah membimbingnya dalam hal pendengaran, penglihatan, berjalan, dan tindakannya..”

(Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam – 2/347)

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/73963

Begitu Indahnya Surga, Sangat Ngerinya Neraka

Saudaraku yang semoga dirahmati oleh Allah, sesungguhnya orang yang tidak mengenal kemuliaan akhirat dan malas beribadah akan menganggap dunia ini sebagai negeri yang senantiasa ia tempati. Ia selalu merasa kurang terhadap apa yang dimilikinya, tidak pernah merasa cukup mengejar dunia sampai segala keinginannya terpenuhi. Padahal, apa yang ia usahakan, berupa harta, anak, dan lain-lain, semua itu tidak akan pernah menimbulkan kepuasan pada dirinya, bahkan mampu membawa kesengsaraan baginya. Seharusnya dia menyadari bahwa sebentar lagi kematian akan menghampirinya.

Adapun orang yang mendapat taufik, dia menyadari bahwa dunia dan segala keindahannya itu hanyalah tipuan belaka, sehingga dia tidak terperdaya bahkan sebaliknya akan bergegas menuju ampunan Allah serta surga yang seluas langit dan bumi, yang dipersiapkan bagi orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.Kenikmatan di Surga

Saudaraku … Bersegeralah menuju ampunan Rabb kalian dan surga yang seluas langit dan bumi. Di dalamnya terdapat berbagai kenikmatan yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, ataupun terbetik di hati seorangpun.

Hal ini sebagaimana dibenarkan oleh firman Allah azza wa jalla yang artinya, Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nimat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (As Sajdah : 17).

Di antara kenikmatan di surga yang Allah dan Rasul-Nya telah perkenalkan pada kita adalah :

1. Merasakan nikmatnya sungai susu, arak, dan madu, sebagaimana Allah Taala berfirman yang artinya, (Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamer (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring. (Muhammad : 15).

2. Mendapatkan isteri yang masih belia dan berumur sebaya, sebagaimana firman Allah yang artinya, ”Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya. (An Naba : 31-33).

3. Hidup kekal dengan nikmat lahir dan batin, sebagaimana Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda yang artinya, Siapa yang masuk surga selalu merasa nikmat, tidak pernah susah, pakaiannya tidak pernah cacat, dan kepemudaannya tidak pernah sirna. (HR. Muslim).

4. Diberi umur muda, sebagaimana Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda yang artinya, Ahli surga, berbadan indah tanpa bulu, matanya indah bercelak, umurnya 30 atau 33 tahun. (Shohihul Jaami).

5. Memandang wajah Allah yang mulia, sebagaimana diriwayatkan dari Shuhaib, bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda, Jika surga telah dimasuki oleh para penghuninya, ada yang menyeru : Wahai penduduk surga, sesungguhnya Allah mempunyai suatu janji untuk kalian yang janji tersebut berada di sisi Allah, di mana Dia ingin menuaikannya. Mereka berkata : Apakah itu? Bukankah Dia telah memberatkan timbangan-timbangan kami, memasukkan kami ke surga, dan menyelamatkan kami dari neraka? Beliau melanjutkan : Maka Allah menyingkapkan hijabnya (tabirnya), sehingga mereka melihat-Nya (wajah Allah). Demi Allah, Allah belum pernah memberikan sesuatu pun yang lebih mereka cintai dan menyejukkan pandangan mereka daripada melihat-Nya. (HR. Muslim).

Masih banyak sekali ayat dan hadits lainnya yang menerangkan tentang sifat-sifat surga, kenikmatannya, kesenangannya, kebahagiannya, dan keelokannya. Semoga Allah menjadikan kita sebagai penghuninya.

Jalan Menuju Surga

Jika ada yang bertanya tentang amal dan jalan menuju ke surga, maka jawabannya telah Allah berikan secara jelas dalam wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya yang mulia.

Di antaranya sebagaimana yang Allah jelaskan dalam surat Al Muminuun ayat 1-11. Beberapa sifat-sifat penghuni surga -semoga Allah menjadikan kita sebagai penghuninya- dari ayat tersebut adalah:

Pertama, beriman kepada Alloh dan perkara-perkara yang wajib diimani dengan keimanan yang mewajibkan penerimaan, ketundukan, dan kepatuhan.

Kedua, khusyu dalam sholatnya yaitu hatinya hadir dan anggota tubuhnya tenang.

Ketiga, menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia (yang tidak mempunyai faedah dan kebaikan).

Keempat, menunaikan zakat yaitu bagian harta yang wajib dikeluarkan atau mensucikan jiwa mereka (karena salah satu makna zakat adalah bersuci) berupa perkataan dan perbuatan.

Kelima, menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri dan budaknya.

Keenam, memelihara amanah yang dipercayakan dan memenuhi janjinya baik kepada Alloh, kepada sesama mukmin, ataupun kepada makhluk lainnya.

Ketujuh, melaksanakan sholat pada waktunya, sesuai dengan bentuknya yang sempurna, dengan memenuhi syarat, rukun, dan kewajibannya.

Selain ayat di atas, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam juga telah menjelaskan tentang jalan menuju surga yaitu dengan menuntut ilmu syari. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda yang artinya, Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Alloh akan memudahkannya dalam menempuh jalan ke surga. (HR. Muslim).

Ya Allah, mudahkanlah kami untuk melaksanakan amalan-amalan ini dan teguhkanlah kami di atasnya.

Dahsyatnya Neraka

Saudaraku … Kebalikan dari berbagai kenikmatan di atas, sebagian makhluk malah menuju neraka yang teramat panas. Dan Allah subhanahu wa taala telah memperingatkan kepada kita tentang neraka dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rosul-Nya. Alloh telah menggambarkan kepada kita tentang berbagai bentuk siksaan yang terdapat di dalamnya dengan penggambaran yang mampu membuat hati dan jantung ini serasa terbelah-belah.

Maka perhatikanlah baik-baik terhadap apa yang datang dalam Al Quran dan As Sunnah tentang berbagai bentuk adzab (siksaan) di dalamnya. Di antara siksaan-siksaan bagi penduduk neraka adalah :

1. Kulit mereka diganti dengan yang baru, sebagaimana Alloh berfirman yang artinya, Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan adzab. (An Nisa : 56).

2. Bara apinya membakar sampai ke hati, sebagaimana Alloh berfirman yang artinya, (Yaitu) api (yang disediakan) Alloh yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. (Al Humazah : 6-7).

3. Mereka diseret ke neraka di atas wajah mereka, sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya, (Ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka. (Al Qomar : 48).

4. Minuman mereka seperti besi yang mendidih, sebagaimana Alloh berfirman yang artinya, Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (Al Kahfi : 29).

5. Tubuh mereka membesar, sebagaimana sabda beliau shollallohu alaihi wa sallam yang artinya, Gigi taring orang kafir besarnya seperti gunung uhud dan tebal kulit mereka seukuran tiga perjalanan. (Shohihul Jaami) Begitu syadiid (keras) siksaan ini, lalu siksaan apa yang paling ringan bagi penghuni neraka? Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda yang artinya, Sesungguhnya penduduk neraka yang paling ringan siksanya ialah orang yang mengenakan dua sandal dari neraka lalu mendidih otaknya karena sangat mencekam panas dua sandalnya. (HR. Muslim).

Wahai saudaraku … tidakkah kalian takut dengan siksa yang pedih dan dahsyat ini ??!

Sebab-Sebab Masuk Neraka

Perlu diketahui bahwa terdapat dua jenis sebab yang menyebabkan seseorang masuk neraka -semoga Alloh menyelamatkan kita darinya-.

Jenis pertama adalah sebab-sebab yang menyebabkan pelakunya tidak lagi beriman, menjadikannya kafir, sekaligus membuatnya kekal di neraka. Di antara sebab-sebab jenis pertama ini adalah :

Pertama, melakukan syirik akbar (besar), seperti bernadzar dan menyembelih kepada selain Alloh.

Kedua, kufur kepada Alloh, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rosul-Nya, hari akhir, serta qodho dan qodhar dengan cara mendustakan, menentang, ataupun meragukannya.

Ketiga, mengingkari kewajiban salah satu rukun Islam yang lima.

Keempat, mengolok-olok dan mencaci Alloh, agama-Nya, atau Rosul-Nya.

Kelima, berhukum dengan selain hukum Alloh dengan keyakinan hukum tersebut lebih benar dan lebih bermanfaat, atau setara dengan hukum Alloh, atau meyakini bolehnya hal tersebut.

Keenam, kemunafikan yaitu menyembunyikan kekafiran dalam hatinya, akan tetapi dia menampakkan diri seolah-olah seorang muslim.

Jenis kedua adalah sebab yang menyebabkan pelakunya berhak masuk neraka, namun tidak kekal di dalamnya. Di antaranya ialah: durhaka pada kedua orang tua, memutuskan silaturahmi, memakan riba, memakan harta anak yatim, bersaksi palsu, dan sumpah palsu.

Ya Alloh, selamatkanlah kami dari neraka, lindungilah kami dari negeri yang penuh kehinaan dan kerusakan, dan tempatkanlah kami di negeri orang yang berbakti dan bertakwa.

Yang sangat membutuhkan ampunan dan rahmat Rabbnya

Muhammad Abduh Tuasikal, ST

sumber: https://rumaysho.com/65-begitu-indahnya-surga-sangat-ngerinya-neraka.html

Obat Bagi Hati Yang Sakit

Syaikh Al ‘Utsaimin rohimahullah berkata,

“Sebanyak apa pun engkau meminta bantuan kepada para dokter untuk menghilangkan apa yang ada di dalam hatimu (penyakit hati), engkau tidak akan pernah menemukan sesuatu yang semisal Alqur’an.

 Namun bagi siapa..?!

Jawabannya, bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

“Katakanlah, Alquran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin..” (Fushshilat: 44)

Adapun bagi orang yang tidak beriman, ia tidak akan mengambil manfaat darinya .. bacalah firman Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Agung (yang artinya),

“Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini..?” (At-Taubah: 124)

Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Agung berfirman, (yang artinya),

“Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah iman mereka, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surah itu menambah kekafiran mereka di samping kekafiran mereka (yang telah ada)..” (At-Taubah: 124-125)

(Syarh al-Kafiyah al-Shofiyah fii al-Intishar lil-Firqot al-Najiyah, hal. 197)

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/73977

Tajassus, Mencari Kesalahan Orang Beriman

Tajassus di antara tafsirannya adalah mencari-cari kesalahan orang lain, terutama yang terus ingin dicari aibnya adalah orang-orang beriman.

Jangan Selalu Menaruh Curiga (Prasangka Buruk)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

“Waspadalah dengan buruk sangka karena buruk sangka adalah sejelek-jeleknya perkataan dusta.” (HR. Bukhari no. 5143 dan Muslim no. 2563)

Prasangka yang terlarang adalah prasangka yang tidak disandarkan pada bukti. Oleh karena itu, jika prasangka itu dinyatakan pasti (bukan lintasan dalam hati), maka dinamakan kadzib atau dusta. Inilah yang disebutkan dalam Fathul Bari karya Ibnu Hajar.

Menaruh Curiga pada Orang Beriman

Larangan berburuk sangka dan tajassus disebutkan dalam ayat Al Qur’an,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.” (QS. Al Hujurat: 12).

Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al Jalalain, menaruh curiga atau prasangka buruk yang terlarang adalah prasangka jelek pada orang beriman dan pelaku kebaikan, dan itulah yang dominan dibandingkan prasangka pada ahli maksiat. Kalau menaruh curiga pada orang yang gemar maksiat tentu tidak wajar. Adapun makna, janganlah ‘tajassus’ adalah jangan mencari-cari dan mengikuti kesalahan dan ‘aib kaum muslimin.

Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, tajassus -seperti kata Imam Al Auza’i- adalah mencari-cari sesuatu. Ada juga istilah tahassus yang maksudnya adalah menguping untuk mencari-cari kejelekan suatu kaum di mana mereka tidak suka untuk didengar, atau menguping di depan pintu-pintu mereka. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Akibat Buruk Tajassus

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka), maka pada telinganya akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 7042). Imam Adz Dzahabi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-aanuk adalah tembaga cair.

Yang namanya tembaga cair tentu saja dalam keadaan yang begitu panas. Na’udzu billah.

Ibnu Batthol mengatakan bahwa ada ulama yang berpendapat, hadits yang ada menunjukkan bahwa yang mendapatkan ancaman hanyalah untuk orang yang “nguping” dan yang membicarakan tersebut tidak suka yang lain mendengarnya.

Namun yang tepat jika tidak diketahui mereka suka ataukah tidak, maka baiknya tidak menguping berita tersebut kecuali dengan izin mereka. Karena ada hadits di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa terlarang masuk mendengar orang yang sedang berbisik-bisik (berbicara empat mata). Seperti ini dilarang kecuali dengan izin yang berbicara. Demikian diterangkan oleh Ibnu Batthol dalam Syarh Shahih Al Bukhari.

Dari Mu’awiyah, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّكَ إِنِ اتَّبَعْتَ عَوْرَاتِ النَّاسِ أَفْسَدْتَهُمْ أَوْ كِدْتَ أَنْ تُفْسِدَهُمْ

“Jika engkau mengikuti cela (kesalahan) kaum muslimin, engkau pasti merusak mereka atau engkau hampir merusak mereka.” (HR. Abu Daud no. 4888. Al Hafizh Abu Thohir menyatakan bahwa hadits ini shahih). Ini juga akibat buruk dari mencari-cari terus kesalahan orang lain.

Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa tak perlulah menaruh curiga pada orang muslim yang berjenggot dan ingin kembali pada ajaran Islam yang hakiki. Tak pantas mereka terus dicurigai sebagai teroris atau bahkan dengan aliran sesat yang saat ini naik daun, yaitu ISIS.

Kalau Curiga Ada Bukti, Itu Boleh

Dari Zaid bin Wahab, ia berkata,

عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ قَالَ أُتِىَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَقِيلَ هَذَا فُلاَنٌ تَقْطُرُ لِحْيَتُهُ خَمْرًا فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ إِنَّا قَدْ نُهِينَا عَنِ التَّجَسُّسِ وَلَكِنْ إِنْ يَظْهَرْ لَنَا شَىْءٌ نَأْخُذْ بِهِ

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu telah didatangi oleh seseorang, lalu dikatakan kepadanya, “Orang ini jenggotnya bertetesan khamr.” Ibnu Mas’du pun berkata, “Kami memang telah dilarang untuk tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain). Tapi jika tampak sesuatu bagi kami, kami akan menindaknya.” (HR. Abu Daud no. 4890. Sanad hadits ini dhaif menurut Al Hafizh Abu Thohir, sedangkan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanadnya shahih).

Sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin bahwa terlarang berburuk sangka pada kaum muslimin tanpa ada alasan yang mendesak.

Mulai Belajar untuk Husnuzhon

Contohnya belajar untuk husnuzhon, terhadapa makanan kaum muslimin saja kita diperintahkan untuk husnuzhon. Jangan terlalu banyak taruh curiga tanpa bukti.

عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ قَوْمًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَنَا بِاللَّحْمِ لاَ نَدْرِى أَذَكَرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لاَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم –سَمُّوا اللَّهَ عَلَيْهِ وَكُلُوهُ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ada suatu kaum yang berkata, “Wahai Rasulullah, ada suatu kaum membawa daging kepada kami dan kami tidak tahu apakah daging tersebut saat disembelih dibacakan bismillah ataukah tidak.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Ucapkanlah bismillah lalu makanlah.” (HR. Bukhari no. 2057).

Lebih Baik Memikirkan Aib Sendiri

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

يُبْصِرُ أَحَدُكُمْ القَذَاةَ فِي أَعْيُنِ أَخِيْهِ، وَيَنْسَى الجَذَلَ- أَوِ الجَذَعَ – فِي عَيْنِ نَفْسِهِ

“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 592. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih).

Perkataan Abu Hurairah di atas sama seperti tuturan peribahasa kita, “Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak.”

Itulah kita, seringnya memikirkan aib orang lain. Padahal hanya sedikit aib mereka yang kita tahu. Sedangkan aib kita, kita sendiri yang lebih mengetahuinya dan itu begitu banyaknya.

Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

—

Selesai disusun menjelang Jumatan, 22 Jumadal Ula 1436 H di Darush Sholihin

Naskah Khutbah Jumat di Masjid Al Ikhlas Tanjung Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/10529-tajassus-mencari-kesalahan-orang-beriman.html

Orang Yang Menanam Kebaikan

Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“Sesungguhnya kalian sedang melewati siang dan malam dengan usia yang terus berkurang, sementara amal perbuatan kalian tetap dicatat, dan kematian datang secara tiba-tiba.

Barangsiapa yang menanam kebaikan, maka ia akan segera menuai kebahagiaan .. dan barangsiapa yang menanam keburukan, maka ia akan segera menuai penyesalan. Setiap penanam akan memanen apa yang telah ia tanam.

Orang yang lambat tidak akan kehilangan bagian (rezeki) yang telah ditetapkan untuknya, dan orang yang ambisius tidak akan mendapatkan apa yang tidak ditetapkan baginya.

Barangsiapa yang diberikan kebaikan, maka Allah-lah yang telah memberikannya .. dan barangsiapa yang dilindungi dari keburukan, maka Allah-lah yang telah melindunginya.

Orang-orang yang bertakwa adalah pemimpin, para ulama adalah penunjuk jalan, dan duduk bersama mereka akan mendatangkan tambahan (ilmu dan iman)..”

(Siyar A’laam al-Nubalaa’ – 1/497)

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/73955

Pengertian Yatim dalam Syariat

Terdapat perbedaan pengertian “yatim” ditinjau dari pengertian bahasa Indonesia dan pengertian syariat. Penting mengetahui pengertian syariatnya agar tidak salah memahami nas (teks) yang terkait dengan hukum Islam, semisal anjuran menyantuni anak yatim.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yatim adalah tidak beribu atau tidak berayah lagi (karena ditinggal mati). Jika dikombinasikan dengan piatu, maka maknanya adalah tidak punya bapak lagi, sedangkan piatu tidak memiliki ibu.[1]

Yatim dalam pengertian syariat adalah anak yang ditinggal mati bapaknya dan ia belum mencapai usia balig. Karena kurang paham pengertian syariat, sebagian kaum muslimin memberikan santunan kepada orang yang tidak ada ayahnya tetapi sudah balig, bahkan ia sudah menikah dan mempunyai keluarga.

Pengertian ini berdasarkan hadis:

لَا يُتْمَ بَعْدَ احْتِلَامٍ

“Tidak ada yatim setelah ihtilam (mimpi basah/balig).”[2]

Dalam Kamus Bahasa Arab Mu’jam Al-Ma’ani Al-Jami’ dijelaskan pengertian Yatim:

الصَّغيرُ الفاقدَّ الأَبِ من الإِنسان ، والأُمِّ من الحيوان

“Anak kecil dari manusia yang kehilangan (ditinggal mati) bapaknya, sedangkan pada hewan jika kehilangan ibunya.”[3]

Dari pengertian ini, maka kita tidak boleh keliru lagi memahami beberapa hal terkait yatim dalam syariat, semisal:

Keutamaan Menyantuni Anak Yatim
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺃَﻧَﺎ ﻭَﻛَﺎﻓِﻞُ ﺍﻟْﻴَﺘِﻴﻢِ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻫﻜَﺬَﺍ » ﻭﺃﺷﺎﺭ ﺑﺎﻟﺴﺒﺎﺑﺔ ﻭﺍﻟﻮﺳﻄﻰ ﻭﻓﺮﺝ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﺷﻴﺌﺎً

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini,” kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya.”[4]

Melembutkan Hati yang Keras dengan Mengusap Kepala Anak Yatim


ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲْ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺃَﻥَّ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﺷَﻜَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺴْﻮَﺓَ ﻗَﻠْﺒِﻪِ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ: ﺇِﻥْ ﺃَﺭَﺩْﺕَ ﺗَﻠْﻴِﻴْﻦَ ﻗَﻠْﺒِﻚَ ﻓَﺄَﻃْﻌِﻢِ ﺍﻟْﻤِﺴْﻜِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻣْﺴَﺢْ ﺭَﺃْﺱَ ﺍﻟْﻴَﺘِﻴْﻢِ

Dari Abu Hurairah, bahwasanya ada seseorang yang mengeluhkan kerasnya hati kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau berkata kepadanya:

“Jika engkau ingin melembutkan hatimu, maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.”[5]

@Markaz YPIA, Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel: http://www.muslimafiyah.com

Catatan Kaki
Silakan lihat KBBI di situs resmi pemerintah https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/yatim
HR. Abu Dawud no. 2873; lemah, akan tetapi ia mempunyai beberapa penguat di jalur lain. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwaaul-Ghaliil, 5/79-83 no. 1244.
Lihat Kamus Mu’jam Al-Ma’ani Al-Jami’.
HR. Al-Bukhari No. 4998 dan 5659.
HR. Ahmad, Ash-Shahihah Syekh Al-Albani.

sumber: https://muslimafiyah.com/pengertian-yatim-dalam-syariat.html