Kaidah Al-Qur’an Tentang Seni Berdamai

Hidup di dunia ini bukanlah jalan yang selalu rata dan lapang. Ada kalanya kita melangkah di atas jalur yang landai, namun tidak jarang pula kaki kita tersandung oleh batu, atau terhalang oleh dahan yang jatuh melintang. Begitulah kehidupan yang penuh warna dan penuh ujian.

Dan di antara ujian yang kita alami dalam hidup adalah pertengkaran atau perselisihan. Ia bisa hadir di dalam rumah, di antara suami dan istri. Ia bisa tumbuh di lingkungan kerabat atau tetangga, merenggangkan silaturahmi. Bahkan ia dapat menyelinap dalam persahabatan dan hubungan kerja, mengeruhkan yang semula jernih.

Karena itulah, Allah Ta‘ala, dengan rahmat dan hikmah-Nya, menurunkan sebuah kaidah agung dalam Al-Qur’an, sebuah prinsip yang menjadi penawar luka sosial dan pengikat hubungan yang retak,

وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ

“Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir…” (QS. An-Nisa: 128)

Ayat ini bukan sekadar nasihat, melainkan fondasi dalam membangun dan merawat hubungan. Ia menjadi alas kokoh untuk memperbaiki yang retak, mendekatkan yang menjauh, serta menyatukan kembali hati-hati yang tercerai.

Secara konteks, ayat ini berbicara tentang kehidupan rumah tangga. Ketika seorang istri merasa suaminya mulai berkurang perhatiannya atau kurang menunaikan hak-haknya, Islam tidak mendorong api pertikaian. Justru syariat mengajarkan jalan yang lebih lembut: ishlah (perdamaian).

Di antaranya dengan sikap lapang dada, ketika istri merelakan sebagian haknya demi menjaga keutuhan rumah tangga.

Begitu pula sebaliknya, jika suami merasa istri ada sesuatu yang tidak menyenangkan atau bersikap tak acuh, maka mengupayakan perdamaian tetaplah pilihan terbaik. Bukan dengan meninggikan ego, tetapi dengan merendah demi kedamaian bersama.

Allah Ta‘ala menegaskan lanjutan dari kaidah ini,

وَإِن تُحْسِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Dan jika kamu bergaul dengan istrimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 128)

Perdamaian tidak akan lahir tanpa pengorbanan. Ia menuntut menurunkan ego, melunakkan hati, dan merelakan sebagian hak. Namun dari pengorbanan itulah, Allah menjanjikan kebaikan dan keberkahan

Kaedah ini “wa shulhu khair” tidak hanya berlaku di ruang rumah tangga. Ia adalah prinsip hidup yang luas, mencakup hubungan dengan tetangga, sahabat, dan rekan kerja. Sebagaimana dijelaskan para ulama, kaidah ini menjadi pedoman umum dalam menyikapi perselisihan manusia. (Lihat Al-Muharrar Al-Wajiz, 2: 141)

Sumbu pendek: Api yang memadamkan perdamaian

Tidak semua pertengkaran bermula dari masalah besar. Banyak konflik justru lahir dari emosi yang tak sempat ditenangkan, dari sumbu yang terlalu pendek, sehingga api amarah mudah menyala.

Sumbu pendek membuat seseorang cepat tersulut, mudah tersinggung, dan tergesa dalam bereaksi. Kalimat yang seharusnya bisa dijelaskan dengan tenang berubah menjadi tuduhan. Nasihat yang mestinya meluruskan, justru terasa sebagai serangan. Akhirnya, damai pun menjauh, bukan karena tak mungkin, tetapi karena hati terlalu panas untuk mendekat.

Islam mengajarkan bahwa perdamaian membutuhkan kelapangan dada dan kesabaran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi teladan untuk menyegerakan damai, bukan memelihara marah. Sebab marah yang dibiarkan hanya akan menambah luka, sementara menahan diri (meskipun berat), sering kali menjadi awal turunnya rahmat Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujuraat: 10)

Maka, jika kita ingin menjadi bagian dari solusi, panjangkan sumbu hati kita. Tunda reaksi, lembutkan ucapan, dan jernihkan niat. Karena damai tidak lahir dari suara yang meninggi, melainkan dari hati yang bersedia merendah.

Jadilah juru damai

Tidak semua orang diberi kemampuan untuk menyatukan yang retak. Tidak semua hati mampu hadir di tengah konflik dengan niat memperbaiki, bukan memperkeruh. Padahal, di saat hubungan berada di ujung perselisihan, satu niat baik saja bisa menjadi sebab turunnya pertolongan Allah.

Islam tidak hanya mengajarkan untuk menjauhi pertengkaran, tetapi juga mendorong umatnya menjadi juru damai yang hadir sebagai penyejuk ketika emosi memanas, dan sebagai penghubung ketika hati saling menjauh.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَٱبْعَثُوا۟ حَكَمًا مِّنْ أَهْلِهِۦ وَحَكَمًا مِّنْ أَهْلِهَآ إِن يُرِيدَآ إِصْلَٰحًا يُوَفِّقِ ٱللَّهُ بَيْنَهُمَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (juru damai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam (juru damai) dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. An-Nisa: 35)

Ayat ini menunjukkan bahwa perdamaian adalah proyek bersama, bukan urusan dua orang saja. Ketika konflik tak lagi mampu diselesaikan oleh pihak yang berselisih, Islam membuka ruang bagi hadirnya pihak ketiga, ia bukan sebagai hakim yang memvonis, tetapi sebagai hakam, juru damai yang memperbaiki.

Perhatikan satu syarat penting yang Allah sebutkan: “Jika keduanya bermaksud mengadakan perbaikan.”

Artinya, keberhasilan ishlah sangat bergantung pada niat yang lurus. Jika yang dibawa adalah keinginan untuk menang, membela ego, atau mempermalukan salah satu pihak, maka perdamaian akan sulit tercapai. Namun jika niatnya tulus, Allah sendiri yang menjanjikan taufik-Nya.

Ketika seseorang dikaruniai akhlak yang mulia ini (senang berdamai), ia akan merasa ringan untuk melakukan ishlah (perdamaian dan perbaikan). Ia tidak berat untuk mengalah, tidak sibuk menghitung hak, dan tidak terpenjara oleh gengsi. Berbeda dengan orang yang kikir jiwanya; ia sulit menerima perdamaian karena merasa selalu ada yang dikurangi, selalu ada yang tidak terpenuhi. (Lihat Tafsir As-Sa’di, hal. 207)

Tidak heran jika Allah Ta‘ala memberikan pujian khusus bagi orang-orang yang mengupayakan perdamaian. Dalam firman-Nya disebutkan,

لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَىٰهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَٰحٍۭ بَيْنَ ٱلنَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa: 114)

Boleh jadi, melalui satu langkah kecil kita dalam ishlah, Allah menurunkan rahmat-Nya, menyatukan kembali hati yang hampir hancur, dan menuliskan bagi kita pahala yang besar.

Sepenggal kisah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdamai

Perdamaian bukan sekadar teori dalam Islam. Ia hidup, bergerak, dan nyata dalam teladan Rasulullah. Dalam keseharian beliau, kita dapati contoh-contoh indah bagaimana damai lebih diutamakan daripada mempertahankan ego, dan bagaimana keutuhan hubungan dijaga dengan kebijaksanaan dan kelapangan dada.

Pertama, kisah istri beliau Ummul Mukminin Saudah bintu Zam’ah yang sudah semakin tua dan ia khawatir bilamana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceraikannya. Ia bercerita dan berkomunikasi dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar ia tetap dijadikan istrinya dan berdamai dengan memberikan jatah hariannya kepada Aisyah radiyallahu ‘anha. Akhirnya, ia tetap menjadi istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.

Kedua, kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui penduduk Quba. Beliau mendapatkan kabar bahwa di antara mereka ada yang sedang bertikai, bahkan ada yang saling melemparkan batu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada sahabatnya,

اذْهَبُوا بنَا نُصْلِحُ بيْنَهُمْ

“Mari kita pergi untuk mendamaikan di antara mereka.” (HR. Bukhari)

Jika kita membuka lembaran sejarah, maka kita akan dapati banyak sekali kisah dan contoh teladan bagaimana kegigihan orang terdahulu untuk mendamaikan orang yang sedang bertikai.

Semua itu mengajarkan kepada kita satu hal: berdamai adalah jalan orang-orang mulia.

Boleh berbohong untuk mendamaikan

Ummu Kultsum binti ‘Uqbah bin ‘Abi Mu’aythin, ia di antara para wanita yang berhijrah pertama kali yang telah membaiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia mengabarkan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْكَذَّابُ الَّذِى يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ وَيَقُولُ خَيْرًا وَيَنْمِى خَيْرًا

 “Tidak disebut pembohong jika bertujuan untuk mendamaikan di antara pihak yang berselisih di mana ia berkata yang baik atau mengatakan yang baik (demi mendamaikan pihak yang berselisih, -pen).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Syihab berkata, “Aku tidaklah mendengar sesuatu yang diberi keringanan untuk berdusta di dalamnya kecuali pada tiga perkara,

الْحَرْبُ وَالإِصْلاَحُ بَيْنَ النَّاسِ وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا

“Peperangan, mendamaikan orang yang berselisih, dan perkataan suami pada istri atau istri pada suami (dengan tujuan untuk membawa kebaikan rumah tangga).” (HR. Muslim)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan bahwa ulama sepakat bahwa yang dimaksud bohong antar-suami istri adalah bohong yang tidak menggugurkan kewajiban atau mengambil sesuatu yang bukan haknya. (Lihat Fathul Bari, 5: 300)

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ringan melangkah menuju damai, sebagaimana perintah Allah Ta’ala dan teladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya

Artikel Muslim.or.id

Referensi:

Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syaikh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.

Sumber: https://muslim.or.id/111019-kaidah-al-quran-tentang-seni-berdamai.html
Copyright © 2025 muslim.or.id

Solusi Bagi Yang Tertimpa Penyakit LGBT

Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid

Soal:

Saya seorang Muslim yang multazim (berusaha istiqomah menjalankan agama). Dan saya masuk Islam sudah lama. Namun waktu kecil saya pernah mendapatkan pelecehan seksual, dan ini memberikan pengaruh pada diri saya dalam bergaul dengan wanita dan laki-laki. Ini adalah sesuatu yang ada dalam jiwa saya dan saya tidak tahu bagaimana melepaskannya. Saya tidak pernah melakukan maksiat ini (sodomi) secara terus-menerus, namun saya melakukannya kadang-kadang saja. Dan saya menyesal ketika melakukannya, karena saya tahu Allah tidak menyukai penyimpangan seksual ini. Yang jadi masalah adalah saya tidak dapat menolong diri saya sendiri. Saya sudah sering mencoba untuk mengubahnya namun tidak ada gunanya. Saya sudah meminta pertolongan kepada Allah, dan saya juga sudah mengakui hal ini kepada sebagian orang agar mereka bisa membantu saya, dan saya juga sudah pergi ke psikiater.

Saya mencintai Allah dan saya mencintai Islam, namun kelakukan saya bertentangan dengan kecintaan ini. Saya senantiasa mencoba untuk terus ber-taqarrub kepada Allah. Dan dengan tertimpanya saya dengan penyakit ini, saya jadi paham mengapa syariat memerintahkan pelaku homo untuk dibunuh. Semua teman saya adalah Muslim dan mereka multazim. Namun setan terus berusaha untuk menghancurkan iman saya dan juga iman teman-teman saya. Saya mohon bantuan dari anda dan memberitahu saya bagaimana solusinya walaupun saya memang diharuskan untuk pergi ke tempat tertentu karena saya tidak ingin terjerumus dalam dosa ini lagi. Dan saya juga tidak ingin membahayakan orang lain.

Jawab:

Alhamdulillah,

Saya akan memberitahukan anda 4 poin dan tidak akan menambahnya. Maka saya minta anda memperhatikannya dengan perlahan dan teliti. Empat poin ini adalah: mengenai hina dan kejinya perbuatan liwath (sodomi), akibat dan pengaruhnya terhadap kesehatan, penjelasan tentang kasih sayang Allah kepada orang yang bertaubat dan metode pengobatan bagi orang yang terkena penyakit tersebut.

1. Mengenai hina dan kejinya perbuatan liwath (sodomi)

Ibnul Qayyim menjelaskan tentang liwath:

“Ulama yang mendukung pendapat pertama (dan ini pendapat jumhur ulama dan lebih dari seorang ulama mengklaim bahwa ini ijma sahabat) mengatakan: tidak ada maksiat yang paling besar kerusakannya selain liwath. Tingkat kerusakannya di bawah kerusakan dari kekufuran (dan terkadang ia lebih besar kerusakannya dari pembunuhan) sebagaimana akan kami jelaskan insya Allah.

Para ulama tersebut mengatakan: Allah Ta’ala tidak pernah menguji suatu kaum di alam ini dengan perbuatan dosa besar sebelum kaum Nabi Luth. Dan Allah pun memberikan mereka hukuman dengan hukuman yang belum pernah ditimpakan kepada umat selain mereka. Dan Allah menggabungkan beberapa jenis hukuman kepada mereka: pembinasaan, bumi dibalik untuk menimpa mereka, ditenggelamkan ke bumi, dilemparkan dengan batu-batu dari langit, dihilangkan penglihatan mereka, mereka diadzab dengan adzab yang berlangsung terus menerus. Mereka pun mendapat siksaan yang tidak pernah ditimpakan kepada umat selain mereka. Itu dikarenakan fatalnya perbuatan kriminal ini (liwath). Sehingga hampir-hampir bumi pun bergoncang dari segala sisinya jika mengetahui hal ini, dan Malaikut pun lari ke ujung-ujung langit dan bumi jika melihatnya karena takut akan turunnya adzab kepada pelakunya sehingga mereka pun terkena adzab tersebut. Bumi pun menangis berteriak kepada Rabb-nya tabaaraka wa ta’ala. Gunung pun berhamburan dari tempat-tempatnya.

Seseorang dibunuh secara zalim itu lebih baik daripada ia melakukan liwath. Karena jika ia melakukan liwath, ia akan mati dalam keadaan jiwanya tidak akan ingin hidup lagi dengan keadaan tersebut. Adapun jika ia dibunuh secara zalim (tanpa pernah melakukan liwath) maka ia terbunuh dalam keadaan terzalimi dan syahid, yang terkadang ini bermanfaat baginya di akhirat”.

Ibnul Qayyim juga mengatakan:

“Para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga menerapkan hukuman bunuh tersebut (terhadap pelaku liwath). Tanpa ada perselisihan di antara mereka. Walaupun mereka berbeda pendapat mengenai cara menerapkan hukuman bunuhnya. Sebagian orang menyangka para sahabat berbeda pendapat mengenai apakah mereka dibunuh atau tidak, lalu mereka menyatakan bahwa masalah hukuman bunuh bagi pelaku liwath ini adalah masalah khilafiyah di antara para sahabat. Padahal ini adalah masalah yang ijma’ (konsensus) di antara para sahabat.

Baransiapa yang merenungkan firman Allah Ta’ala:

“ولا تقربوا الزنا إنه كان فاحشةً وساء سبيلاً

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al Isra: 32).

Dan firman-Nya mengenai liwath:

أتأتون الفاحشة ما سبقكم بها من أحد من العالمين

“Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” (QS. Al A’raf: 80).

Akan jelas baginya perbedaan di antara keduanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan isim nakirah ketika menyebut zina, padahal zina adalah perbuatan fahisyah yang paling buruk. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan isim ma’rifah ketika menyebut liwath. Ini artinya Allah menggabungkan semua makna dari fahisyah pada liwath.

Kemudian Allah mempertegas kefatalan perbuatan ini dengan mengabarkan bahwa belum ada kaum yang melakukannya sebelum mereka. Allah Ta’ala berfirman:

ما سبقكم بها من أحد من العالمين

“yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu“.

Kemudian tambah dipertegas lagi dengan mengabarkan bahwa perbuatan tersebut dibenci oleh hati, memekakkan telinga, membuat orang sangat jijik, yaitu perbuatan bersenggamanya lelaki dengan lelaki, lalu menikahinya seperti menikahi wanita. Allah berfirman:

أئنكم لتأتون الرجال

“Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki“.

Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan lagi keburukan perbuatan ini bahwa perbuatan ini bertentangan dengan fitrah yang Allah berikan kepada lelaki. Perbuatan ini juga memutar-balikkan tabiat asal yang Allah tetapkan kepada lelaki, yaitu berupa syahwat kepada wanita. Mereka telah memutar-balikkan keadaan dan melawan fitrah serta tabiat asal mereka dengan berhubungan seksual dengan sesama lelaki, bukan dengan wanita. Oleh karena itu lah Allah memutar-balikkan bumi atas mereka dan Allah jadikan mereka tertelungkup oleh tanah. Demikianlah Allah membalikkan mereka. Dan mereka merasakan adzab tersebut secara berangsur di atas kepala mereka.

Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan lagi keburukan perbuatan ini dengan menyandangkan predikat israf kepada mereka, yaitu perbuatan melebihi batas. Allah Ta’ala berfirman:

بل أنتم قوم مسرفون

“bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas“.

Maka renungkanlah apakah ada celaan yang demikian kerasnya atau mendekati hal itu pada perbuatan zina? Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan lagi keburukan perbuatan ini dengan firmannya:

ونجيناه من القرية التي كانت تعمل الخبائث

“Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji” (QS. Al Anbiya: 74).

Lalu ditegaskan lagi dengan disifatinya perbuatan ini dengan 2 sifat yang merupakan puncak keburukan:

{ إنهم كانوا قوم سوء فاسقين } الأنبياء / 74

“Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik” (QS. Al Anbiya: 74).

dan Allah menamai mereka dengan “mufsidin” (orang-orang yang berbuat kerusakan), melalui lisan Nabi mereka:

رب انصرني على القوم المفسدين

“Luth berdoa: “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu”” (QS. Al Ankabut: 30).

Dan menamai mereka dengan “zhalimin” (orang-orang zalim) melalui perkataan Malaikat kepada Ibrahim ‘alaihissalam:

{ إنا مهلكو أهل هذه القرية إن أهلها كانوا ظالمين } العنكبوت / 31

“Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk negeri (Sodom) ini; sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim” (QS. Al Ankabut: 31).

Maka renungkanlah adakah hukuman yang semisal dengan hukuman bagi perbuatan ini dan celaan yang semisal dengan celaan terhadap perbuatan ini?”

Ibnul Qayyim juga mengatakan:

“Hilanglah kelezatan, berakhir kerugian, terputuslah syahwat, mewariskan kepedihan. Bernikmat-nikmat hanya sejenak, namun diazab untuk waktu yang lama. Mereka menikmati kenikmatan yang berbahaya, akibatnya mendapatkan adzab yang pedih. Kharm syahwat telah memabukkannya. Tidaklah mereka terbangun kecuali di negeri kaum yang teradzab. Mereka tidaklah terbangun dan tergugah kecuali dalam keadaan berada di tempat yang binasa. Mereka pun menyesalinya dengan sangat menyesal di waktu yang sudah tidak bermanfaat lagi penyesalan. Mereka pun menangisi apa yang mereka lakukan dengan tangisan darah. Andai engkau melihat dari bawah hingga ke atasnya kaum ini, dari celah-celah wajah mereka keluar api ketika mereka berada dalam dekapan neraka Jahim. Dan yang mereka minum bukanlah air lezat melainkan gelas-gelas berisi air mendidih. Dan ketika mereka diseret di atas wajah-wajah mereka, dikatakan kepada mereka “rasakanlah akibat apa yang telah engkau perbuat!”

{ اصلوها فاصبروا أو لا تصبروا سواء عليكم إنما تجزون ما كنتم تعملون } الطور / 16 .

“Masukklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu; kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan” (QS. At Thur: 16).

(dari Al Jawabul Kafi, hal 240 – 245, secara ringkas).

2. Akibat dan pengaruh liwath terhadap kesehatan

Dr. Mahmud Hijazi dalam kitabnya, Al Amradh Al Jinsiyyah wat Tanasiliyyah, ketika beliau menjelaskan sebagian bahaya kesehatan yang disebabkan oleh perbuatan liwath, beliau menyebutkan beberaa penyakit yang ditularkan melalui kelainan seksual liwath diantaranya:

  1. AIDS, yaitu hilangnya imunitas tubuh yang biasanya menyebabkan kematian
  2. Hepatitis
  3. Sipilis
  4. Kencing nanah
  5. Herpes
  6. Infeksi bakteri dibagian anal
  7. Tifoid
  8. Amebiasis
  9. Parasit intestinal
  10. Kutil dubur
  11. Scabies
  12. Kutu kemaluan
  13. Virus cytomegalic yang menyebabkan kanker bagian anal
  14. Granulomatosa pada limfatik reproduksi

3. Kasih sayang Allah kepada orang yang bertaubat 

Dari penjelasan di atas telah jelas buruk dan rusaknya perbuatan yang termasuk fahisyah ini, serta akibat berupa bahaya yang ditimbulkan bagi pelakunya. Walaupun demikian, pintu taubat terbuka lebar bagi mereka yang mau bertaubat. Dan Allah Ta’ala gembira dengan taubat mereka.

Renungkanlah firman Allah Ta’ala:

{ والذين لا يدعون مع الله إلهاً آخر ولا يقتلون النفس التي حرَّم الله إلا بالحق ولا يزنون . ومن يفعل ذلك يلق أثاماً . يضاعف له العذاب يوم القيامة ويخلد فيه مهاناً . إلا من تاب وآمن وعمل عملاً صالحاً فأولئك يبدل الله سيئاتهم حسنات وكان الله غفوراً رحيماً } الفرقان / 68 – 70 .

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Furqan: 68-70).

Ketika merenungkan firman Allah Ta’ala “maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan” pada ayat di atas, akan jelas bagimu betapa besar karunia Allah. Para ulama ahli tafsir menjelaskan dua makna dari tabdil (penggantian) dalam ayat ini:

  1. Digantinya sifat buruk dengan sifat baik, seperti digantinya kesyirikan dengan keimanan, digantinya zina dengan iffah dan ihshan, digantinya dusta dengan kejujuran, digantinya khianat dengan amanah, dst.
  2. Digantinya keburukan yang dilakukan dengan kebaikan di hari kiamat kelak.

Maka yang wajib bagi anda adalah bertaubat kepada Allah dengan taubat yang besar. Dan ketahuilah, dengan taubatnya anda kepada Allah, itu lebih baik bagi anda, bagi keluarga anda, bagi saudara anda dan bagi masyarakat secara keseluruhan.

Ketahuilah, hidup itu pendek, sedangkan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Jangan lupa bahwa Allah Ta’ala telah membinasakan kaum Luth dengan adzab yang belum pernah ditimpakan kepada umat selainnya.

4. Metode pengobatan bagi orang yang terkena penyakit tersebut

Adapun pengobatan untuk orang yang diberi cobaan dengan penyakit ini adalah:

1. Menjauhkan diri dari sebab-sebab yang memudahkan anda jatuh kepada maksiat tersebut atau mengingatkannya

Misalnya dengan menjauhkan diri dari:

  • Memandang wanita atau dari website-website
  • Berduaan dengan wanita atau dengan laki-laki
2. Selalu menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat dalam perkara agama atau perkara duniawi

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فإذا فرغت فانصب

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS. Al Insyirah: 7).

Jika anda telah selesai mengerjakan suatu hal dari perkara dunia, maka bersemangatlah untuk mengerjakan amalan akhirat seperti dzikir, tilawah Al Qur’an, menuntut ilmu agama, mendengar rekaman kajian yang bermanfaat.

Jika anda telah selesai mengerjakan suatu ketaatan, maka mulailah ketaatan yang lainnya. Jika anda telah selesai mengerjakan suatu amalan duniawi, maka mulailah amalan yang lainnya, begitu seterusnya. Karena jiwa itu jika tidak disibukkan dengan kebaikan, pasti akan disibukkan dengan kebatilan. Maka jangan biarkan jiwa anda memiliki celah atau waktu kosong yang membuat anda memikirkan perbuatan fahisyah tersebut.

3. Ketika anda merasakan kelezatan dari perbuatan ini ingat-ingatlah akibat yang akan ditimbulkan berupa penyesalan, rasa gelisah, bingung yang akan bercokol lama di hati anda.

Kemudian ingat-ingat juga adzab yang menunggu untuk menimpa pelaku perbuatan ini di akhirat. Lalu apakah logika anda memandang bahwa kelezatan yang akan hilang dalam beberapa waktu saja ini lebih didahulukan dari pada akibat yang ditimbulkannya berupa penyesalan dan adzab?

Dan bisa juga untuk menguatkan qanaah anda dari perbuatan ini dan menghilangkan keridhaan anda terhadapnya hendaknya anda baca kitab Ibnul Qayyim yang berjudul Al Jawabul Kafi liman Sa’ala ‘anid Dawa’ Asy Syafi. Beliau menulis kitab ini untuk orang yang keadaannya semisal dengan anda. Semoga Allah memberikan jalan keluar yang terbaik.

4. Orang yang berakal tidak akan meninggalkan sesuatu yang ia cintai kecuali demi sesuatu yang lebih ia cintai lagi atau karena takut terhadap suatu hal yang tidak disukai.

Dengan perbuatan fahisyah ini anda akan kehilangan banyak nikmat dunia dan akhirat, yaitu berupa kecintaan Allah kepada anda. Dan dengannya pula anda berhak mendapatkan kemurkaan Allah serta adzab dan hukuman dari-Nya. Maka gandengkanlah perasaan sesal atas kehilangan kebaikan yang hilang dari anda dengan perasaan takut mendapatkan keburukan dari perbuatan ini. Maka orang yang berakal pasti akan bisa memilah mana yang mesti didahulukan.

5. Dan yang paling dari semuanya, adalah doa dan meminta pertolongan dari Allah ‘Azza Wa Jalla agar Ia menghilangkan keburukan ini dari anda.

Dan bersemangatlah untuk berdoa di waktu-waktu dan keadaan-keadaan yang mustajab doa ketika itu, seperti ketika sujud, sebelum salam dalam shalat, sepertiga malam akhir, ketika turun hujan, ketika safar, ketika sedang puasa, ketika berbuka puasa.

Semoga Allah mengilhamkan petunjuk-Nya kepada anda, dan menerima taubat anda, dan menghilangkan keburukan dan akhlak yang buruk dari anda.

Wallahu ta’ala a’lam.

***

Sumber: https://islamqa.info/ar/27176

Penerjemah: Yulian Purnama

sumber: https://muslim.or.id/27737-solusi-bagi-yang-tertimpa-penyakit-lgbt.html

Larangan Duduk Memeluk Lutut Saat Khutbah Jumat

Tidak sedikit jamaah shalat Jumat yang duduknya dalam keadaan memeluk lutut. Bahkan saking enaknya duduk seperti sampai tertidur. Padahal ada larangan dalam hadits mengenai duduk seperti itu dalam khutbah Jumat.

Hadits yang dimaksud adalah dari Sahl bin Mu’adz dari bapaknya (Mu’adz bin Anas Al-Juhaniy), ia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الْحُبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari duduk dengan memeluk lutut pada saat imam sedang berkhutbah.” (HR. Tirmidzi no. 514 dan Abu Daud no. 1110. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Imam Nawawi rahimahullah dalam Riyadhus Shalihin membawakan hadits di atas dengan menyatakan dalam judul bab,

كَرَاهَةُ الاِحْتِبَاءِ يَوْمَ الجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ لِأَنَّهُ يَجْلِبُ النَّوْم فَيَفُوْت اِسْتِمَاع الخُطْبَة وَيَخَافُ اِنْتِقَاض الوُضُوْء

“Dimakruhkan memeluk lutut pada hari Jumat saat khatib berkhutbah karena dapat menyebabkan tertidur sehingga terluput dari mendengarkan khutbah dan khawatir pula seperti itu dapat membatalkan wudhu.”

Imam Nawawi membawakan perkataan Al Khattabi yang menyatakan sebab dilarang duduk ihtiba’,

نُهِيَ عَنْهَا لِاَنَّهاَ تَجْلِبُ النَّوْم فَتَعْرِض طَهَارَتُه لِلنَّقْضِ وَيَمْنَعُ مِنَ اسْتِمَاعِ الخُطْبَةِ

“Duduk dengan memeluk lutut itu dilarang (saat mendengar khutbah Jumat) karena dapat menyebabkan tidur saat khutbah yang dapat membatalkan wudhu, juga jadi tidak mendengarkan khutbah.” (Al Majmu’, 4: 592). Baca artikel: Hukum Tidur pada Khutbah Jumat

Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, duduk ihtiba’ adalah duduk dengan mendekatkan paha pada perut dan betis didekatkan pada paha tadi, lalu diikat dengan tali, imamah atau cara lainnya. Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 6: 449.

Intinya, yang dilakukan adalah duduk yang sifatnya makruh atau terlarang. Kita biasa melihat pada sebagian jama’ah shalat Jumat seperti contoh duduk di bawah ini.

duduk_ihtiba_memeluk_lutut

Duduk ihtiba’ (memeluk lutut) yang terlarang dalam Khutbah Jumat

duduk_ihtiba_memeluk_lutut_2
Duduk yang dibolehkan saat mendengar Khutbah Jumat

Hanya Allah yang memberi taufik. Silakan SHARE pada kaum muslimin yang lain yang belum memahami larangan ini.

—

Disusun di Jumat pagi, 11 Sya’ban 1436 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Penyakit Gay Bukan Karena Turunan Genetik

Kami menemukan tulisan menarik mengenai teori “bahwa gay adalah turunan genetik” TIDAKLAH benar.

“NOBODY IS BORN GAY”

Tetapi faktor lingkungan yang paling banyak berpengaruh dan sifat ini bisa menular bagi mereka yang memang jiwanya tidak stabil dan tidak kuat imannya. Bisa juga karena bentuk trauma dan pengalaman tidak baik ketika masa kecil. Ada faktor lain juga tetapi dua hal ini yang paling mendominasi.

Kami nukilkan pernyataan ahlinya:

Ruth Hubbard, seorang pengurus “The Council for Responsible Genetics” yang juga penulis buku “Exploding the Gene Myth” mengatakan:

“Pencarian sebuah gen gay bukan suatu usaha pencarian yang bermanfaat. Saya tidak berpikir ada gen tunggal yang memerintah perilaku manusia yang sangat kompleks. Ada berbagai komponen genetik dalam semua yang kita lakukan, dan adalah suatu kebodohan untuk menyatakan gen-gen tidak terlibat. Tapi saya tidak berpikir gen-gen itu menentukan.”

Simak wawancara bersama Ruth Hubbard dihttp://gender.eserver.org/exploding-the-gene-myth.html[1]

Ternyata pembuat teori “gay adalah propagand palsu dari kaum LGBT. Penyusun buku panduan psikologi: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders” (DSM) ternyata lima dari tujuh orang tim pembuat DSM adalah homo dan lesbian[2]

Jika masih memang tidak percaya, perlu diketahui bahwa yang namanya teori buatan manusia bisa berubah-ubah. Maka teori yang paling benar adalah Al-Quran dan Sunnah:

1.Jelas menyatakan bahwa Gay, homoseksual, lesbian dan lain-lain (LGBT) adalah PENYAKIT.

Sebagaimana Nabi Luth alaihissalam sangat gencar mendakwahi kaumnya agar tidak melakukan perbuatan yang sangat MENYIMPANG

2.Allah menciptakan manusia berpasangan laki-laki dan wanita, menciptakan mereka berpasangan dari Adam dan Hawa.

Allah lebih tahu apa yang terbaik dan apa yang tidak baik bagi makhluknya, apakah kalian lebih tahu dari Allah? Allah berfirman,

أَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ

“Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” (QS. al-Baqarah: 140).

Sehingga Allah menurunkan syariat untuk kebaikan dan kemashlahatan manusia.

Demikianlah agama Islam, memerintahkan dan melarang sesuatu pasti untuk kemashalahatn dan kebaikan manusia.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata dalam risalahnya,

الدين مبني على المصالح

في جلبها و الدرء للقبائح

“Agama dibangun atas dasar  berbagai kemashlahatan

Mendatangkan mashlahat dan menolak berbagai keburukan”

Kemudian beliau menjelaskan,

ما أمر الله بشيئ, إلا فيه من المصالح ما لا يحيط به الوصف

“Tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kecuali padanya terdapat berbagai mashlahat yang tidak bisa diketahui secara menyeluruh”[3]

CATATAN PENTING:

1.Kepada mereka yang terkena penyakit LGBT, kami doakan semoga segera sembuh dan berusaha agar bisa sembuh. Yakinlah setiap penyakit pasti ada obatnya, betusahalah dan Allah lebih tahu isi hati anda.

2.Kepada yang lainnya, agar kita TIDAK MENGOLOK-OLOK ATAU MENGHINAKAN LGBT tetapi BANTU DAN DOAKAN mereka untuk sembuh dan beri dukungan kepada mereka. Karena kami menemukan banyak juga yang sangat ingin sembuh tetapi merasa sulit tanpa ada dukungan dari mereka yang sehat

Demikian semoga bermanfaat

@Laboratorium Klinik RSUP DR Sardjito, Yogyakarta tercinta

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

[1] Sumber: http://iwanyuliyanto.co/2013/12/08/runtuhnya-teori-gen-gay/

[2] Sumber: http://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2014/11/19/33479/lima-dari-tujuh-orang-tim-pembuat-dsm-adalah-homo-dan-lesbian.html

[3] Risaalah fiil Qowaaidil fiqhiyah hal. 41, Maktabah Adwa’us salaf

sumber: https://muslimafiyah.com/penyakit-gay-bukan-karena-turunan-genetik.html

Jangan Seperti Lilin…

‏أراك امرءًا ترجو من الله عفوَه ** وأنت على ما لا يحبُ مقيمُ

Aku melihatmu adalah seseorang yang mengharapkan ampunan Allah…. Sementara engkau masih tetap melakukan perkara yang dibenci oleh-Nya

‏ تدلُّ على التقوى وأنت مقصرٌ ** فيا من يداوي الناسَ وهو سقيمُ

Engkau mengajarkan ketakwaan kepada orang lain, sementara engkau sendiri kurang menjalankan perintah Allah…
Wahai orang yang mengobati orang lain sementara ia sendiri sedang sakit…

DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

sumber : https://bbg-alilmu.com/archives/29973

Pengakuan Dosa Menghapus Kesalahan

Banyak orang takut mengingat dosa-dosa masa lalunya. Padahal, dalam hadis ini terdapat kabar gembira bahwa seorang mukmin yang jujur mengakui dosanya di hadapan Allah akan mendapatkan ampunan dari-Nya. Hadis ini mengajarkan bahwa jalan menuju keselamatan bukanlah mengingkari kesalahan, tetapi mengakuinya, bertobat, dan berharap kepada rahmat Allah.

Hadits 22/433 dari Kitab Riyadhus Sholihin – Bab Ar-Raja’ (Berharap) karya Imam Nawawi rahimahullah

٢٢/٤٣٣ ــ وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «يُدْنَى الْمُؤْمِنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ رَبِّهِ حَتَّى يَضَعَ كَنَفَهُ عَلَيْهِ، فَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: رَبِّ أَعْرِفُ، قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، فَيُعْطَى صَحِيفَةَ حَسَنَاتِهِ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pada hari Kiamat, seorang mukmin didekatkan kepada Rabbnya hingga Allah menaunginya dengan perlindungan-Nya. Lalu Allah membuatnya mengakui dosa-dosanya. Allah berfirman: “Apakah engkau mengetahui dosa ini? Apakah engkau mengetahui dosa itu?” Ia menjawab, “Wahai Rabbku, aku mengetahuinya.” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya untukmu.” Kemudian ia diberikan catatan amal kebaikannya.’” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, 8:353 dan Muslim, no. 2768)

“Kanafuhu” berarti perlindungan dan rahmat-Nya.

Faedah Hadits

  1. Allah menjaga, memperhatikan, dan menutupi aib orang-orang yang sempurna imannya di dunia dan akhirat.
  2. Seorang mukmin tidak berdusta, baik di dunia maupun di akhirat.
  3. Pengakuan (atas dosa) menghapus dosa (al-i’tirof yamhul iqtirof).
  4. Anjuran untuk menutupi aib seorang mukmin semampunya.
  5. Penetapan sifat berbicara bagi Allah Rabb semesta alam.
  6. Semua amal hamba akan diperhitungkan oleh Allah. Barang siapa mendapatkan kebaikan, hendaklah ia memuji Allah. Barang siapa mendapatkan selain itu, janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri, karena ia berada di bawah kehendak Allah.

Pengakuan Dosa yang Berujung Ampunan

Di antara faedah penting hadis ini adalah kaidah:

الِاعْتِرَافُ يَمْحُو الِاقْتِرَافَ

“Pengakuan dosa menghapus kesalahan yang dilakukan.”

Maksudnya, seorang hamba yang mengakui dosanya, tidak membela dirinya, dan kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan akan lebih dekat kepada ampunan Allah daripada orang yang terus-menerus mencari alasan untuk membenarkan kesalahannya.

Referensi

  1. Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.
  2. Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus.

—-

Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 15 Juni 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42330-pengakuan-dosa-menghapus-kesalahan.html

Jangan Bersedih Jika Dakwah Anda Tidak Diterima

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullahJanganlah Bersedih jika dakwahmu tidak diterima, wahai para dai yang mengajak kepada Allah. Karena jika engkau telah melakukan kewajibanmu, berarti engkau telah terbebas dari tanggungan, dan perhitungan hisabnya kembali kepada Allah ta’ala. Sebagaimana firman Allah ta’ala kepada Nabi-Nya shollallohu alaihi wasallam :

لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ (22) إِلَّا مَنْ تَوَلَّى وَكَفَرَ (23) فَيُعَذِّبُهُ اللَّهُ الْعَذَابَ الْأَكْبَرَ (24) إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ (25) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ (26)

“Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. Tetapi barangsiapa berpaling dan kafir, Allah akan mengazabnya dg azab yg besar. Sungguh kepada Kami-lah mereka kembali. Lalu sungguh kewajiban Kami-lah membuat perhitungan hisab mereka” (QS. Al-Ghosyiah: 22-26)

Oleh karena itu, wahai para dai yang mengajak kepada Allah, janganlah bersedih jika perkataanmu dicampakkan, atau tidak diterima di kesempatan pertama, karena engkau telah menunaikan kewajibanmu.

Tapi ingatlah, bahwa jika engkau mengatakan kebenaran karena mengharap wajah Allah, maka perkataan itu harus punya pengaruh, walaupun perkataan itu dicampakkan di depanmu, tapi perkataan itu harus punya pengaruh, sebagaimana ada ibroh dalam kisah Musa –alaihissalam– bagi para dai yang mengajak kepada Allah…

Perkataan yang benar, haruslah memiliki pengaruh, namun bisa jadi pengaruhnya langsung, bisa jadi pengaruhnya datang belakangan. Wallohul muwaffiq.

(Syarah Arbain Nawawiyyah: 131-132)

—

Penerjemah: Ust. Musyaffa Ad Darini, MA.

sumber: https://muslim.or.id/22187-jangan-bersedih-jika-dakwah-anda-tidak-diterima.html

Khianat Dosa Besar Tanda Hari Kiamat

Oleh
Ustadz  Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Diantara tanda hari kiamat adalah tersebarnya perbuatan khianat. Sekarang, lihatlah bagaimana perbuatan khianat dengan berbagai bentuknya sudah terjadi di banyak tempat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَظْهَرَ الْفُحْشُ وَالتَّفَاحُشُ، وَقَطِيعَةُ الرَّحِمِ، وَسُوءُ الْمُجَاوَرَةِ، وَحَتَّى يُؤْتَمَنَ الْخَائِنُ وَيُخَوَّنَ الْأَمِينُ

Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga muncul perkataan keji, kebiasaan berkata keji, memutuskan kerabat, keburukan bertetangga, dan sehingga orang yang khianat diberi amanah (kepercayaan) sedangkan orang yang amanah dianggap berkhianat. [HR. Ahmad, no. 6514, dari Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu. Hadits ini dihukumi shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah dan Syaikh Syu’aib al-Arnauth rahimahullah]

MAKNA KHIANAT
Khianat adalah lawan dari amanah. Kalau amanah berarti melaksanakan kewajiban yang sudah disanggupi, maka khianat adalah kebalikannya. Yaitu: berlaku curang atau mengurangi, atau membatalkan kewajiban.

Al-Munawi rahimahullah berkata, “Khianat adalah menyia-nyiakan amanah. Ada yang mengatakan, khianat adalah menyelisihi kebenaran dengan membatalkan perjanjian secara rahasia.” [At-Tauqîf, hlm. 162]

Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Khianat adalah curang dan menyembunyikan sesuatu.” [Al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur’ân, 7/395]

Al-Jâhizh berkata, “Khianat adalah melanggar sesuatu yang diamanahkan orang kepadanya, berupa harta, kehormatan, kemuliaan, dan mengambil milik orang yang dititipkan dan mengingkari orang yang menitipkan. Termasuk khianat juga tidak menyebarkan berita yang dianjurkan disebarkan, merubah surat-surat (tulisan-tulisan) jika dia mengurusinya dan merubahnya dari maksud-maksudnya”. [Tahdzîbul Akhlâq, hlm. 31]

Lihat makna-makna di atas dalam kitab Nadhratun Na’îm fi Akhlâqir Rasûl al-Karîm, 10/4483

HUKUM KHIANAT
Para Ulama telah memasukkan perbuatan khianat ke dalam daftar dosa-dosa besar.

Imam Dzahabi rahimahullah memasukkan perbuatan khianat ke dalam dosa-dosa besar yang ke-39 di dalam kitabnya, al-Kabâir, walaupun perbuatan khianat itu juga bertingkat-tingkat dosanya.

Imam Dzahabi t berkata, “Khianat merupakan perbuatan keji dalam segala sesuatu, tetapi sebagiannya lebih buruk dari yang lain. Orang yang berkhianat kepadamu dalam hal uang, tidak seperti orang yang berkhianat kepadamu dalam keluargamu, hartamu, dan melakukan perbuatan-perbuatan dosa yang sangat besar.” [Al-Kabâ-ir, hlm. 149]


Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah berkata, “Dosa Besar ke-240 yaitu khianat dalam amanat, seperti barang titipan, barang yang digadaikan, barang yang disewakan, dan lainnya”. [Az-Zawâjir ‘an Iqtirâfil Kabâ-ir, hlm. 442]

BAHAYA-BAHAYA KHIANAT
Bahaya-bahaya khianat banyak sekali di antaranya:

  1. Khianat adalah salah satu sifat orang munafik

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ “

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga yaitu apabila bercerita dia berdusta, apabila berjanji dia menyelisihi janjinya, dan apabila diberi amanah (kepercayaan) ia berkhianat”. [HR. Al-Bukhâri, no. 33, 2682, 2749, 6095 dan Muslim, no. 59]

  1. Orang yang khianat tidak memiliki iman

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: مَا خَطَبَنَا نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا قَالَ: ” لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ “

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu , dia berkata, “Nabiyullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berkhutbah kepada kami, melainkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki (sifat) amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janjinya”. [HR. Ahmad, no. 12383, 12567, 13199; Ibnu Hibban, no. 194. Hadits ini dihukumi hasan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth dalam Takhrîj Musnad Ahmad; dan dan dihukumi shahih oleh Syaikh al-Albani di dalam Shahîh Jâmi’ush Shaghîr, no. 7179]

  1. Orang yang khianat adalah calon penduduk neraka
    Ketika menjelaskan calon-calon penghuni neraka, antara lain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالْخَائِنُ الَّذِي لَا يَخْفَى لَهُ طَمَعٌ، وَإِنْ دَقَّ إِلَّا خَانَهُ

Pengkhianat, orang yang tidak samar sifat tamaknya, walaupun sesuatu yang kecil dia selalu berbuat khianat. [HR. Muslim, no. 2865, dari ‘Iyadh bin Himar al-Mujaasi’iy]


MACAM-MACAM KHIANAT
Khianat bisa berkaitan dengan hak Allâh Azza wa Jalla , karena sesungguhnya menjalankan kewajiban-kewajiban agama merupakan amanah bagi hamba dari Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, namun semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan semuanya khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh. [Al-Ahzâb/33:72]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Allâh Subhanahbu wa Ta’ala mengagungkan urusan amanah yang Allâh Subhanahbu wa Ta’ala wajibkan amanah itu kepada para mukallaf, amanah itu adalah melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan, dalam keadaan rahasia dan tersembunyi seperti keadaan terang-terangan.” (Tafsir as-Sa’di, surat Al-Ahzâb/33: 72)

Dengan demikian, meninggalkan perintah Allâh Subhanahbu wa Ta’ala dan melanggar larangan-Nya merupakan bentuk khianat terhadap amanah dari Allâh Subhanahbu wa Ta’ala .

Khianat juga bisa berkaitan dengan urusan manusia. Sebagaimana penjelasan al-Jâhizh di atas yang mengatakan, “Khianat adalah melanggar sesuatu yang diamanahkan orang kepadanya, berupa harta, kehormatan, kemuliaan, dan mengambil milik orang yang dititipkan dan mengingkari orang yang menitipkan. Termasuk khianat juga tidak menyebarkan berita yang dianjurkan disebarkan, merubah surat-surat (tulisan-tulisan) jika dia mengurusinya dan merubahnya dari maksud-maksudnya”. [Tahdzîbul Akhlâq, hlm. 31]

Dengan tersebarnya khianat dengan berbagai bentuknya di zaman ini, maka seharusnya manusia segera bertaubat kepada Allâh yang Maha Kuasa, sebelum datangnya hukuman dari-Nya.

Wahai Allâh ampunilah dosa-dosa kami dengan ampunan dan kelembutan-Mu.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XX/1438H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Referensi : https://almanhaj.or.id/8226-khianat-dosa-besar-tanda-hari-kiamat.html

Sudah Salat, Tapi Masih Depresi? Inilah Jawaban Islam

Setiap dari kita pasti pernah mengalami depresi, sedih, dan sebagainya. Islam adalah agama yang hadir sebagai solusi atas seluruh permasalahan kehidupan manusia. Tidak ada satu pun persoalan hidup yang luput dari perhatian Islam, baik urusan dunia maupun akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan agama kalian, Kulengkapkan nikmat-Ku bagi kalian, dan Kuridai Islam sebagai agama atas kalian.” (QS. Al-Maidah: 3)

Di antara permasalahan yang manusia hadapi adalah permasalahan jiwa dan hati. Kegundahan, kegelisahan, kesedihan, bahkan depresi. Ini semua nyata. Ini semua bagian dari kehidupan yang tidak bisa diabaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, maupun kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab itu.” (HR. Bukhari dan Muslim) [1]

Hadis ini sangatlah jelas. Islam sangat memahami bahwa manusia akan mengalami kesedihan dan tekanan jiwa. Bukan hanya memahami, Islam bahkan menjadikan ujian tersebut sebagai sarana penghapus dosa. Islam bukan agama yang mengabaikan persoalan jiwa. Islam adalah agama yang paling memahami permasalahan manusia dan memberikan solusi terbaik.

Kesedihan dan depresi adalah bagian dari kemanusiaan

Kesedihan bukanlah tanda kelemahan iman. Ini adalah bagian dari fitrah manusia yang Allah ciptakan dan akui dalam Al-Qur’an dan As-Sunah. Allah Ta’ala berfirman,

وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً

“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian.” (QS. Al-Anbiya: 35)

Para Nabi pun tidak luput dari kesedihan yang mendalam. Nabi Ya’qub ‘alaihi assalam begitu sedih atas kehilangan putranya Yusuf. Kesedihannya abadi dalam Al-Qur’an,

وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ

“Dan dia berpaling dari mereka seraya berkata, ‘Alangkah sedihku atas Yusuf,’ dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia adalah orang yang menahan amarah.” (QS. Yusuf: 84)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengalami kesedihan mendalam saat putranya Ibrahim meninggal. Beliau bersabda,

إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا

“Sesungguhnya mata ini menangis dan hati ini bersedih, namun kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang membuat Tuhan kami murka.” (HR. Bukhari) [2]

Jadi jelas. Seseorang yang mengalami depresi tidak perlu merasa bersalah atau menganggap dirinya beriman rendah. Kesedihan adalah pengalaman kemanusiaan yang nyata dan diakui oleh Islam.
Namun, hal tersebut tidak menjadikan manusia boleh berlarut-larut dalam kesedihannya. Ia harus mengusahakan untuk bangkit dari kesedihannya agar ia bisa kembali lebih bisa beraktifitas secara biasa dan kembali semangat. Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Zad Al-Ma’ad,

الْهَمُّ وَالْحُزْنُ يُضَعِّفَانِ الْعَزْمَ، وَيُوهِنَانِ الْقَلْبَ، وَيَحُولَانِ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الِاجْتِهَادِ فِيمَا يَنْفَعُهُ

“Kekhawatiran dan kesedihan melemahkan tekad, melemahkan hati, dan menghalangi antara hamba dengan usaha sungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat baginya.” [3]

Salat adalah obat, salat adalah solusi

Islam tidak meninggalkan manusia tanpa solusi. Salah satu solusi terbesar yang Allah berikan adalah salat. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

“Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan munkar, dan mengingat Allah adalah lebih besar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Allah Ta’ala juga memerintahkan agar salat dijadikan penolong di saat-saat sulit,

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّلَاةُ نُورٌ

“Salat adalah cahaya.” (HR. Muslim) [4]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan salat sebagai tempat berlindung dari tekanan jiwa. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى

“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditimpa suatu urusan yang berat, beliau segera mendirikan salat.” (HR. Abu Dawud) [5]

Dalil-dalil ini tegas. Salat memang dirancang oleh Allah sebagai obat dan solusi. Salat adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menyembuhkan penyakit hati, termasuk depresi. Salat bukan sekadar gerakan fisik. Salat adalah proses transformasi spiritual yang nyata.

Boleh jadi salat kita belum sempurna

Jika seseorang telah rajin salat, namun depresi masih hadir, maka pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur adalah: sudahkah salat kita benar-benar sempurna?

Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mukminun: 1-2)

Maka pemahaman dasarnya adalah ketika orang itu benar-benar melakukan salat, maka ia akan beruntung. Pertanyaannya, mengapa kita masih tidak merasa damai dengan salat kita? Apakah kita benar-benar telah menyempurnakan salat kita? Lebih dari itu, Allah Ta’ala memberikan ancaman keras bagi orang yang salat, namun salatnya tidak sampai pada hakikatnya. Allah Ta’ala berfirman,

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5)

Ini adalah peringatan yang sangat serius. Salat yang tidak sempurna bukan hanya tidak bermanfaat. Lebih dari itu, salat bisa membawa kecelakaan bagi pelakunya. Bukan karena salatnya, melainkan karena salat itu dilakukan tanpa ruh dan tanpa hakikat yang sebenarnya.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

مَنْ لَمْ تَأْمُرْهُ صَلَاتُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَهُ عَنِ الْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ بِهَا إِلَّا بُعْدًا

“Barang siapa yang salatnya tidak memerintahkannya kepada yang ma’ruf dan tidak mencegahnya dari yang munkar, maka salatnya hanya menambah jauhnya dia dari Allah.” [6]

Perkataan Ibnu Mas’ud ini sangat dalam maknanya. Salat yang tidak mengubah perilaku bukan hanya tidak bermanfaat. Justru menjauhkan seseorang dari Allah. Bagaimana mungkin seseorang yang semakin jauh dari Allah akan sembuh dari depresinya?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,

رُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ، وَرُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

“Ada orang yang berdiri untuk salat malam, namun yang ia dapatkan hanya kelelahan saja. Ada orang yang berpuasa, namun yang ia dapatkan hanya rasa lapar saja.” (HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i) [7]

Syekh Ar-Rajihi dalam kitabnya Fatawa Manu’ah berkata,

الخشوع هو لب الصلاة، والصلاة بلا خشوع كالجسد بلا روح

“Khusyuk adalah inti salat. Salat tanpa khusyuk itu ibarat jasad tanpa ruh.” [8]

Keterangan para ulama di atas sangat jelas. Salat yang tidak sempurna bukan hanya gagal menjadi obat. Bahkan bisa menjadi kecelakaan bagi pelakunya. Penyempurnaan salat bukan soal menambah jumlah rakaat. Bukan. Ini soal menghadirkan hati di setiap gerakan dan bacaan. Merenungkan makna surah Al-Fatihah yang dibaca. Memastikan salat benar-benar mengubah akhlak dan perilaku sehari-hari.

Langkah-langkah lain yang Islam ajarkan

Selain menyempurnakan salat, Islam mengajarkan langkah-langkah lain yang perlu dijalankan bersama-sama.

Pertama, memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman,

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Kami menurunkan dari Al-Qur’an apa yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra: 82)

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib,

الذِّكْرُ لِلْقَلْبِ مِثْلُ الْمَاءِ لِلسَّمَكِ، فَكَيْفَ يَكُونُ حَالُ السَّمَكِ إِذَا فَارَقَ الْمَاءَ؟

“Zikir bagi hati adalah seperti air bagi ikan. Maka bagaimana keadaan ikan apabila terpisah dari air?” [9]

Kedua, mengubah perspektif dengan pemahaman Islam

Cara seseorang memandang musibah dan cobaan sangat mempengaruhi cara ia merasakannya. Seseorang yang memandang cobaan hanya sebagai beban, dia akan semakin terpuruk. Sebaliknya, seseorang yang memandang cobaan sebagai hikmah dari Allah, dia akan menemukan ketenangan. Allah Ta’ala berfirman,

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Apabila ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)[10]

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Miftah Dar As-Sa’adah,

إِذَا اسْتَكْمَلَ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْيَقِينِ صَارَ الْبَلَاءُ عِنْدَهُ نِعْمَةً، وَالْمِحْنَةُ مِنْحَةً

“Apabila seorang hamba menyempurnakan hakikat keyakinan, maka ujian baginya menjadi nikmat, dan cobaan menjadi karunia.” [11]

Perkataan Ibnul Qayyim ini jelas. Cara pandang seseorang terhadap cobaannya sangat menentukan kondisi jiwanya. Depresi yang dihadapi dengan kesabaran dan keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan ujian hamba-Nya, maka akan berubah menjadi jalan menuju kemuliaan. Sebaliknya, depresi yang dihadapi dengan keputusasaan hanya akan menambah beban jiwa.

Ketiga, membangun hubungan sosial yang baik

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya adalah seperti satu bangunan, sebagian saling menopang sebagian yang lain.” (Muttafaq ‘alaihi) [12]

Isolasi diri adalah salah satu faktor yang memperparah depresi. Islam justru mendorong umatnya untuk saling berinteraksi, saling menguatkan, dan saling mendukung.

Keempat, menjaga kesehatan fisik

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim) [13]

Kesehatan fisik dan kesehatan mental saling berkaitan erat. Pola tidur yang baik, makan yang bergizi, dan aktivitas fisik yang teratur memberikan pengaruh nyata terhadap kestabilan emosi dan suasana hati.

Kelima, mencari bantuan profesional sebagai ikhtiar

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat telah tepat mengenai penyakit, maka dengan izin Allah penyakit itu akan sembuh.” (HR. Muslim) [14]

Mencari bantuan dokter atau psikolog adalah bentuk ikhtiar yang sesuai dengan ajaran Islam. Tidak ada yang bertentangan antara mencari bantuan profesional dengan keimanan seseorang. Ini adalah bagian dari usaha yang disertai tawakal kepada Allah.

Kesimpulan

Seseorang yang salat, namun masih mengalami depresi, tidak perlu memandang dirinya sebagai orang yang gagal secara spiritual. Islam memahami bahwa depresi adalah bagian dari ujian kemanusiaan. Ketika ia melakukan ibadah namun masih depresi, yang perlu dievaluasi adalah kualitas ibadahnya. Apakah sudah benar-benar khusyuk? Apakah menghasilkan perubahan nyata dalam perilaku?

Di samping itu, langkah-langkah lain yang bisa ditempuh adalah memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an, mengubah perspektif, menjaga kesehatan fisik, membangun hubungan sosial yang baik, dan mencari bantuan profesional jika diperlukan. Semuanya adalah bagian dari solusi Islam yang menyeluruh.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Zad al-Ma’ad,

إِذَا اسْتَكْمَلَ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْيَقِينِ صَارَ الْبَلَاءُ عِنْدَهُ نِعْمَةً، وَالْمِحْنَةُ مِنْحَةً

“Apabila seorang hamba menyempurnakan hakikat keyakinan, maka ujian baginya menjadi nikmat, dan cobaan menjadi karunia.” [15]

Janji Allah ini berlaku untuk setiap orang yang sedang berjuang. Termasuk mereka yang sedang berjuang melawan depresi. Islam hadir bukan untuk menghakimi. Islam hadir untuk menemani dan memberikan jalan keluar terbaik.

Semoga Allah memberikan kesehatan fisik, mental, dan spiritual kepada kita semua. Aamiin.

***

Penulis: Muhammad Insan Fathin

sumber: https://muslim.or.id/114179-sudah-salat-tapi-masih-depresi-inilah-jawaban-islam.html