[Kitabut Tauhid 8] 11 Shalawat Nabi 11

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Asalnya, setiap yang diperintahkan oleh Allâh -‘Azza wa Jalla- untuk Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- berlaku juga untuk orang yang beriman, dan begitu juga sebaliknya. Ketika Allâh -‘Azza wa Jalla- memerintahkan orang-orang beriman untuk bershalawat, dan Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah yang paling beriman diantara mereka, maka Beliau termasuk yang mendapat perintah tersebut, dan Beliau juga yang pertama kali mengerjakan perintah tersebut.
  • Bacaan shalawat dan tasyahhud Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- sama dan tidak ada bedanya dengan bacaan shalawat dan tasyahhud yang disyariatkan untuk umatnya. Allâhu A’lam.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 8] 10 Shalawat Nabi 10

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Riwayat yang menyebutkan bahwa Ubaiy Ibnu Ka’ab -Radhiyallâhu ‘Anhu- yang bermaksud mengganti seluruh doanya dengan shalawat untuk Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- lalu kemudian Nabi berkata : “Jika benar, keinginanmu akan tercukupi, dan dengan sebabnya juga dosa-dosamu akan diampuni” riwayat ini diperselisihkan keshahihannya oleh Para Ulama; sebagian mengatakan hadits hasan, dan sebagian lagi mengatakan hadits dha’iif.
  • Kalaupun hadits tersebut hasan, maka kandungan hadits tersebut harus dibawa kepada makna yang tidak bertentangan dengan tuntunan Syariat dimana Allâh -‘Azza wa Jalla- dan Rasul-Nya memerintahkan Kaum Muslimin untuk senantiasa berdoa dengan bermacam-macam doa bagi kebaikan agama dan dunia mereka. Dan kenyataannya juga Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, Para Shahabat -Radhiyallâhu ‘Anhum- dan Para Salaf setelahnya; yang diketahui dari mereka bahwa mereka tidak meninggalkan doa lalu kemudian hanya bershalawat saja.
  • Dan jika riwayat tersebut valid, maka harus dibawa kepada makna bahwa sebelumnya Ubaiy Ibnu Ka’ab -Radhiyallâhu ‘Anhu- telah terbiasa berdoa dengan berbagai macam doa sebelum Beliau mengganti seluruhnya dengan shalawat kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 8] 09 Shalawat Nabi 09

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Riwayat yang menyebutkan bahwa Ubaiy Ibnu Ka’ab -Radhiyallâhu ‘Anhu- yang bermaksud mengganti seluruh doanya dengan shalawat untuk Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- lalu kemudian Nabi berkata : “Jika benar, keinginanmu akan tercukupi, dan dengan sebabnya juga dosa-dosamu akan diampuni” riwayat ini diperselisihkan keshahihannya oleh Para Ulama; sebagian mengatakan hadits hasan, dan sebagian lagi mengatakan hadits dha’iif.
  • Kalaupun hadits tersebut hasan, maka kandungan hadits tersebut harus dibawa kepada makna yang tidak bertentangan dengan tuntunan Syariat dimana Allâh -‘Azza wa Jalla- dan Rasul-Nya memerintahkan Kaum Muslimin untuk senantiasa berdoa dengan bermacam-macam doa bagi kebaikan agama dan dunia mereka. Dan kenyataannya juga Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, Para Shahabat -Radhiyallâhu ‘Anhum- dan Para Salaf setelahnya; yang diketahui dari mereka bahwa mereka tidak meninggalkan doa lalu kemudian hanya bershalawat saja.
  • Dan jika riwayat tersebut valid, maka harus dibawa kepada makna bahwa sebelumnya Ubaiy Ibnu Ka’ab -Radhiyallâhu ‘Anhu- telah terbiasa berdoa dengan berbagai macam doa sebelum Beliau mengganti seluruhnya dengan shalawat kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 8] 08 Shalawat Nabi 08

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Pada dasarnya shalawat kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah ibadah muthlaq, yaitu ibadah yang tidak terikat dengan tempat, waktu, bilangan, dan keadaan tertentu. Akan tetapi ada juga shalawat muqayyad, dimana ada beberapa waktu yang padanya disunnahkan membaca shalawat dan salam untuk Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, diantaranya :

  1. Sebelum Berdoa.
  2. Ketika Menyebut, Mendengar dan Menulis Nama Nabi.
  3. Hari Jum’at.
  4. Ketika Masuk dan Keluar Masjid.
  5. Ketika Tasyahhud.
  6. Selesai Mendengarkan Adzan.
  7. Dalam Rangkaian Dzikir Pagi Dan Petang.
  8. Ketika Bermajelis.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 8] 07 Shalawat Nabi 07

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Banyak beredar di tangah-tengah Kaum Muslimin haddits-hadits dha’iif tentang Shalawat Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Yang meskipun tujuannya untuk memotivasi Kaum Muslimin agar banyak bershalawat, tetap saja tidak bisa dibenarkan, karena tidak boleh sengaja berdusta atas nama Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- kemudian menjadikan kedustaan tersebut sebagai dasar atau sandaran dalam beragama.
  • Yang shahih dari Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah bahwa siapa saja yang mengucapkan shalawat kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- satu kali, maka Allâh -‘Azza wa Jalla- akan bershalawat kepadanya 10 kali; dan siapa saja yang bershalawat 10 kali, maka Allâh -‘Azza wa Jalla- akan bershalawat kepadanya 100 kali.
  • Keutamaan-keutamaan berikut ini yang dikaitkan dengan shalawat Nabi tidak benar penyandarannya kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- :
  1. Siapa saja yang bershalawat 100 kali, maka Allâh -‘Azza wa Jalla- akan bershalawat kepadanya 1000 kali.
  2. Siapa saja yang bershalawat 1000 kali, maka Allâh -‘Azza wa Jalla- akan mengharamkan tubuhnya dari api neraka, dan akan meneguhkan ucapannya dengan ucapan yang kokoh Ketika ada masalah pada kehidupan dunia dan pada kehidupan akhirat nantinya, dan Allâh -‘Azza wa Jalla- akan memasukkannya ke dalam surga, dan shalawatnya akan datang kepadanya berupa cahaya pada Hari Kiamat pada saat berada di atas Shirath yang ditempuh selama 500 tahun perjalanan, dan Allâh -‘Azza wa Jalla- telah memberikan kepadanya bagi setiap shalawat yang diucapkannya sebuah istana di dalam surga, baik dengan jumlah sedikit ataupun banyak.
  1. Siapa saja yang bershalawat 100 kali maka akan Allâh -‘Azza wa Jalla- akan menuliskan di antara kedua matanya : terbebas dari kemunafikan, terbebas dari neraka; dan Allâh -‘Azza wa Jalla- akan menempatkannya pada Hari Kiamat bersama para syuhada.
  2. Siapa saja yang bershalawat 1000 kali maka pundaknya akan berdampingan dengan pundak Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- di dalam pintu surga.
  • Dan hadits-hadits yang shahiih tentang shalawat Nabi mencukupi bagi Kaum Muslimin, yang dengannya mereka tidak butuh kepada hadits-hadits dha’iif, maudhuu’ dan laa ashla lahu.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 8] 06 Shalawat Nabi 06

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Bershalawat kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- memiliki banyak keutamaan, baik untuk kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat; diantaranya :

  1. Mematuhi Perintah Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  2. Mengangkat Derajat Dan Menghapus Dosa.
  3. Sebab Terkabulnya Doa.
  4. Membantu Terwujudnya Keinginan.
  5. Menunaikan Hak Nabi Dan Bukti Kecintaan Kepada Beliau.
  6. Mendapatkan Syafaat Nabi.
  7. Tidak Menjadi Bagian Dari Orang Yang Tercela.
  8. Memakmurkan Rumah Dan Membedakannya Dengan Kuburan.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 8] 05 Shalawat Nabi 05

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Diantara rambu-rambu dalam mengamalkan shalawat yang benar berdasarkan Sunnah Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah :

  1. Shalawat yang dibaca adalah shalawat yang disyari’atkan, karena shalawat termasuk dzikir, dan dzikir termasuk ibadah, sehingga harus mengikuti Sunnah Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  2. Memperbanyak membaca shalawat di setiap waktu dan tempat; terlebih-lebih pada hari Jum’at, ketika disebut nama Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, dan berbagai tempat serta kesempatan yang disebutkan di dalam hadits-hadits yang shahih.
  3. Tidak menentukan jumlah, waktu, tempat, atau cara tertentu, yang tidak ditentukan oleh Syari’at. Seperti menentukan waktu sebelum adzan, saat khathib Jum’at duduk di antara dua khutbah, dan lain-lain.
  4. Dilakukan sendiri-sendiri, tidak secara berjama’ah. Karena membaca shalawat termasuk dzikir dan termasuk ibadah, sehingga harus mengikuti Sunnah Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  5. Dengan suara sirr (pelan), tidak keras. Karena membaca shalawat termasuk dzikir. Sedangkan di antara adab berdzikir, adalah dengan suara pelan.
  6. Membaca shalawat tidak boleh sambil diiringi alat musik, tarian, nyanyian, api, drama, dan yang semisalnya; karena semua itu termasuk kebid’ahan.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 8] 04 Shalawat Nabi 04

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Shalawat ada dua macam : [1] yang disyari’atkan, dan [2] yang tidak disyari’atkan.

  • Shalawat yang disyariatkan adalah shalawat yang diajarkan oleh Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- kepada Para Shahabat -Radhiyallâhu ‘Anhum-. Bentuk shalawat ini ada beberapa macam, yaitu setiap shalawat yang shahih dari Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  • Shalawat yang tidak disyariatkan adalah shalawat yang datang dari hadits-hadits dha’iif (lemah), sangat dha’iif, maudhû’ (palsu), atau laa ashla lahu (tidak ada asalnya). Demikian juga shalawat yang dibuat-buat (umumnya oleh Ahli Bid’ah).

    Shalawat adalah ibadah, dan suatu amalan itu bernilai ibadah dan diterima oleh Allâh -‘Azza wa Jalla- jika terpenuhi padanya syarat-syarat diterimanya ibadah. Dan syarat-syarat diterimanya ibadah itu ada tiga : Iman, Ikhlash, dan Ittiba’.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 8] 03 Shalawat Nabi 03

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Para Ulama Madzhab Malikiyah berpendapat bahwa membaca shalawat secara umum hukumnya wajib. Yang dimaksud secara umum, shalawat yang bersifat muthlaq, tidak terikat waktu dan tempat. Jika seseorang Mukmin telah membaca shalawat di sepanjang usianya, kapanpun, dan di manapun, maka telah gugur darinya kewajiban membaca shalawat. Sedangkan Syafi’iyyah berpendapat bahwa kewajiban shalawat yang diperintahkan Allâh -‘Azza wa Jalla- dan Rasul-Nya -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah ketika shalat. Sedangkan di luar shalat, hukumnya tidak wajib.
  • Yang dimaksud dengan shalawat (yang diwajibkan) di sini adalah shalawat yang diajarkan oleh Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dalam hadits-hadits Beliau yang shahih, bukan shalawat-shalawat bid’ah yang diada-adakan oleh orang-orang yang datang belakangan, seperti shalawat nariyah, badriyah, barzanji dan shalawat-shalawat bid’ah lainnya. Karena shalawat adalah ibadah, maka syarat diterimanya harus ikhlash karena Allâh -‘Azza wa Jalla- semata dan sesuai dengan tuntunan Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 8] 02 Shalawat Nabi 02

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Diantara kekhususan yang dimilik oleh Nabi Kita Muhammad -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, adalah bahwa tidak ada didalam al-Qur’an tidak pula pada selainya dimana Allâh -‘Azza wa Jalla- bershalawat kepada hamba-hamba-Nya kecuali kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Maka ini termasuk kekhususan yang Allâh -‘Azza wa Jalla- khusus berikan kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dari seluruh kalangan Para Nabi.
  • Maksud) shalawatnya Allâh -‘Azza wa Jalla- untuk Nabi Kita -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah pujian-Nya untuk Beliau di sisi Para Malaikat, sedangkan maksud shalawatnya Para Malaikat untuk Nabi Kita -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah do’a mereka untuk Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  • Adapun makna shalawat Kaum Muslimin kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah meminta kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- agar Dia memuji dan mengagungkan Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- di dunia dan di Akhirat nantinya. Di dunia dengan memuliakan penyebutan (nama) Beliau, memenangkan agamanya dan mengokohkan syariat Islam yang Beliau bawa. Dan di Akhirat dengan melipatgandakan pahala kebaikan Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, memudahkan syafa’at Beliau bagi umatnya dan menampakkan keutamaan Beliau pada Hari Kiamat di hadapan seluruh makhluq-Nya.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.