[Kitabut Tauhid 8] 21 Bahaya Laten Kesyirikan 06

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Orang-orang Yahudi terbiasa mentazkiyah (menganggap suci) diri mereka sendiri dan menganggap bahwa merekalah manusia yang paling mulia, sampai menjuluki diri mereka sendiri sebagai sya’bullâhi al-mukhtâr (bangsa pilihan Allâh -‘Azza wa Jalla-), mengatakan bahwa seluruh makhluk selain Yahudi kedudukannya seperti hewan, dan diciptakan untuk melayani kaum Yahudi. Mereka meyakini bahwa mereka pasti masuk surga, dan tidak ada yang masuk surga kecuali mereka saja, dan seandainyapun mereka masuk nereka maka itu hanya beberapa hari saja.
  • Bersamaan dengan hal tersebut, mereka adalah orang-orang yang terbiasa merubah-rubah Kitab Allâh -‘Azza wa Jalla-, menghalalkan apa yang diharamkan Allâh -‘Azza wa Jalla- dan sebaliknya, menelantarkan perintah-Nya dan melanggar laranagn-Nya. Dan diantara mereka ada yang beriman kepada Al-Jibt dan Ath-Thâghût, melanggar larangan di hari Sabtu hingga kemudian Allâh -‘Azza wa Jalla- rubah mereka menjadi kera dan babi.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 8] 20 Bahaya Laten Kesyirikan 05

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Thâgût adalah segala sesuatu yang diperlakukan oleh seorang hamba secara melampaui batas; baik sesuatu itu dari hal yang diibadahi, diikuti, atau ditaati.
  • Thâgût itu banyak sekali jumlah dan jenisnya, dan pembesarnya ada lima : (1) syaithan yang selalu mengajak untuk beribadah kepada selain Allâh -‘Azza wa Jalla-, (2) penguasa yang zhalim yang merubah hukum-hukum Allâh -‘Azza wa Jalla-, (3) orang yang memutuskan hukum bukan dengan hukum yang diturunkan oleh Allâh -‘Azza wa Jalla-, (4) orang yang mengklaim mengetahui hal yang ghaib, dan (5) segala sesuatu yang disembah selain dari Allâh -‘Azza wa Jalla- dan dia rela dengan penyembahan tersebut. 

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 8] 19 Bahaya Laten Kesyirikan 04

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Allâh -‘Azza wa Jalla-berfirman kepada Nabi-Nya -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dalam konteks pengingkaran terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah diberikan kitab sebagai petunjuk namun mereka tetap beriman dan beribadah kepada Al-Jibt dan Ath-Thâghût. Ayat ini menunjukkan bahwa apabila kenyataannya Ahlul Kitab mau beriman kepada Al-Jibt dan Ath-Thâghût, maka tidak mustahil dan tidak dapat dipungkiri bahwa umat ini yang telah diturunkan kepadanya  Al-Qur’an akan berbuat pula seperti yang mereka perbuat, karena Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- telah memberitahukan bahwasanya akan ada di diantara umat ini  orang-orang yang berbuat seperti  apa yang diperbuat oleh orang-orang  Yahudi dan Nasrani.
  • Al-Jibt adalah sebutan umum untuk setiap berhala, sihir, dukun atau yang semisal dengannya. Sedangkan Ath-Thâghûtadalah segala sesuatu yang diperlakukan oleh seorang hamba secara melampaui batas; baik sesuatu itu dari hal yang diibadahi, diikuti, atau ditaati.
  • Peringatan bagi Kaum Muslimin agar berhati-hati, ilmu yang Allâh -‘Azza wa Jalla- berikan kepada Mereka tidak menjamin keselamatan Mereka, sebagaimana Yahudi diberikan ilmu dengan Al-Kitab (Taurat), namun tidak membuat mereka selamat dan justru menjadi kaum yang dimurkai oleh Allâh -‘Azza wa Jalla- karena berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 8] 18 Bahaya Laten Kesyirikan 03

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa tidak mungkin umatnya Nabi Muhammad -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- terjatuh dalam syirik besar, kekufuran, dan murtad dari agama Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Adapun perkataan Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- pada saat Fathul Makkah bahwa syaithan telah putus asa untuk disembah oleh al-mushalluun (orang-orang yang shalat), maknanya satu diantara 3 (tiga) hal :
  1. Itu merupakan dugaan syaithan pada saat itu karena melihat manusia berbodong-bodong masuk Allâh -‘Azza wa Jalla- dan istiqomahnya Para Shahabat -Radhiyallâhu ‘Anhu- di atas ke-Islam-an Mereka.
  2. Tidak mungkin seluruh umatnya Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- menyembah syathan, adapun sebagiannya mungkin saja, dan memang seperti itu kenyataannya.
  3. Syaithan tidak mungkin disembah oleh orang-orang yang baik shalatnya; karena huruf alif dan lam pada kata Al-Mushalluun di dalam hadits adalah ahdiyah, sehingga maksudnya adalah “Orang shalat yang dilihat oleh syaithan ketika itu” yaitu para Shahabat Nabi -Radhiyallâhu ‘Anhum-.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 8] 17 Bahaya Laten Kesyirikan 02

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Suatu kepastian bahwa ada sebagian orang dari ummat ini, umatnya Nabi Muhammad -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- yang terjatuh dalam kesyirikan dengan menyembah berhala-berhala; sebagaimana umat-umat sebelum mereka dari kalangan Yahudi, Nashrani, dan ini bagian dari prilaku sebagian ummat ini yang mengikuti kebiasaan ummat-ummat sebelum mereka.
  • Apa yang diberitakan oleh Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tentang hal-hal yang terjadi dikemudian hari dan ternyata benar-benar terjadi sebagaimana yang Beliau beritakan, ini adalah bagian dari bukti kebenaran kenabian Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 8] 16 Bahaya Laten Kesyirikan 01

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Diantara shalawat yang sangat popular dan dibaca serta diamalkan oleh banyak kalangan Kaum Muslimin adalah Shalawat Al-Fâtih yang disebut juga dengan Shalawat Al-Fâtih Limâ Ughliq (shalawat pembuka bagi segala sesuatu yang tertutup). Shalawat ini identik dengan Thariqah Shufiyah Tijaniyah yang berkembang di Afrika Utara.
  • Di dalam Shalawat Al-Fâtih ada kalimat-kalimat yang ghuluw (berlebihan, melampaui batasan) karena mensifati Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dengan sifat-sifat yang merupakan kekhususan bagi Allâh -‘Azza wa Jalla- semata; seperti menyifati Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dengan “Sang Pembuka bagi segala sesuatuyang tertutup” secara muthlaq, tanpa membatasinya dengan kehendak Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Orang-orang yang mengamalkan Shalawat Al-Fâtih telah membuat kedustaan-keduastaan terkait keutamaan Shalawat Al-Fâtih yang bertentangan dengan pokok-pokok Syariat Islam; tetapi pada saat yang sama terdapat unsur pendustaan terhadap Allâh -‘Azza wa Jalla- dan Rasul-Nya -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  • Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- memerintahkan ummatnya untuk bershalawat bagi Beliau dimanapun berada, sekaligus melarangan mereka menjadikan kuburan Beliau sebagai ‘iid; sebabnya karena shalawat orang-orang beriman akan sampai kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dan diperlihatkan kepada Beliau, dimanapun mereka berada, maka tidak perlu datang ke kuburan Beliau untuk mengucapakan shalawat sehingga kuburan Beliau menjadi ‘iid. Dan hal ini Beliau lakukan untuk menjaga umatnya dan menutup jalan menuju kesyirikan.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 8] 15 Shalawat Nabi 15

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Mengagungkan Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah sebuah kewajiban. Dan pengagungan terhadap Beliau itu dengan hati, lisan dan anggota badan.
  • Pengagungan yang hakiki terhadap Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tersimpulkan dalam empat hal yaitu : mempercayai berita yang bersumber dari Beliau, mentaati perintahnya, menjauhi larangannya dan beribadah dengan tata cara yang disyariatkannya.
  • Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- melarang Kita dari berlebihan dalam mengagungkan Beliau, dimana Kita menyandarkan kepada Beliau sebagian dari sifat-sifat rububiyyah (ketuhanan) dan atau memberikan kepada Beliau sebagian dari hak-hak uluhiyyah (periibadahan); karena keduanya hanya boleh disandarkan dan diberikan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Wajib bagi setiap orang untuk tidak mengagungkan Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- kecuali dengan sesuatu yang Allâh -‘Azza wa Jalla- izinkan bagi umatnya, yaitu sesuatu yang layak bagi seorang manusia. Sesungguhnya melampaui batas dalam hal ini akan menjerumuskan kepada kekafiran. Dan elampaui batas sesuatu yang telah disyariatkan, pada asalnya akan mengakibatkan penyimpangan. Maka hendaknya Kita mencukupkan diri dengan sesuatu yang ada dalilnya. Dan siapa saja yang mengagungkan Beliau dengan berbagai jenis pengagungan dan tidak sampai menyamai sesuatu yang merupakan kekhususan Allâh -‘Azza wa Jalla-, maka dia telah menggapai kebenaran, dan berhasil menjaga dimensi ketuhanan serta kerasulan. Inilah prinsip yang tidak mengandung unsur ekstrim atau sebaliknya.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 8] 14 Shalawat Nabi 14

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Kalimat-kalimat dalam Shalawat Nâriyah mengandung penisbatan atau penyandaran teruraikannya semua kesulitan, dilenyapkannya segala kesusahan, ditunaikannya segala macam kebutuhan, tercapainya segala keinginan dan husnul khatimah, kepada selain Allâh -‘Azza wa Jalla-. Dalam hal ini yang mereka maksudkan yang melakukan itu semua adalah Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Penisbatan ini merupakan sebuah kekeliruan yang sangat fatal, sebab bertolak-belakang dengan Al-Qur’ân dan As-Sunnah, serta bisa mengantarkan pelakunya kepada kekufuran. Sebabnya, semua perbuatan tersebut, hanya Allâh -‘Azza wa Jalla- yang berkuasa melakukannya. 
  • Argumen terkuat mereka untuk melegalkan pembacaan Shalawat Nâriyah adalah dalam rangka pengagungan terhadap Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, dengan alasan ini mereka mempertahankan shalawat yang menyimpang dari ajaran Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tersebut. Bahkan yang lebih parah lagi, ada sebagian mereka yang berusaha mengesankan pada orang awam, bahwa pihak yang mengkritisi Shalawat Nâriyah tidak mengagungkan Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-!
  • Mengagungkan Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- hukumnya wajib. Dan ini merupakan salah satu cabang keimanan yang besar. Cabang keimanan ini berbeda dengan cabang keimanan cinta kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, bahkan pengagungan lebih tinggi derajatnya dibanding cinta. Sebab tidak setiap yang mencintai sesuatu dia pasti mengagungkannya.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 8] 13 Shalawat Nabi 13

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Diantara shalawat buatan manusia yang sangat populer di tengah-tengah Kaum Muslimin adalah Shalawat Nâriyyah yang dinamakan juga dengan Shalawat Tafrîjiyyah Qurthubiyyah.
  • Tidak jelas siapa yang membuat Shalawat Nâriyyah, ada isyarat yang menunjukkan bahwa pencipta shalawat ini adalah seorang yang bernama As-Sanusiy. Namun belum bisa dipastikan siapakah nama lengkapnya, sebab yang menggunakan julukan ini amat banyak, hanya saja, yang pasti sebutan As-Sanusiy ini merupakan bentuk penisbattan kepada tarekat Shufi yang banyak tersebar di daerah Maroko, yaitu tarekat As-Sanusiyyah.
  • Klaim bahwa pencipta Shalawat Nâriyyah adalah seorang Shahabat Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- yang bernama Syaikh Nariyah adalah klaim dusta yang tidak bisa diterima. Dan kalim ini termasuk kedustaan atas nama Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 8] 12 Shalawat Nabi 12

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Tidak sepntasnya menyingkat kalimat shalawat, baik dalam ucapan maupun tulisan; dan tidak sepantasnya juga mengucapkan shalawat tanpa diringi salam; karena keduanya adalah kekurangan yang berakibat pada kurangnya keutamaan yang didapatkan, atau mungkin juga menyebabkan luputnya keutamaan.
  • Shalawat dan seluruh kalimat thayyibah adalah bagian dari dzikrullaah (dzikir kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-), dan sebaik-baik dzikrullaah secara muthlaq adalah membaca Kalam-Nya (Al-Qur’an).
  • Jika dikaitkan dengan sebab, maka beribadah sesuai sebab itulah yang paling afdhal. Membaca shalawat pada waktu dianjurkan bershalawat -misalnya setelah adzan-, lebih afdhal dibandingkan dzikir yang lain. Karena dia dibaca sesuai waktunya. Demikian pula, membaca kalimat thayyibah (subhaanallaah, alhamdulillaah, dan allaahu akbar) ketika dilakukan sesuai waktunya -misalnya setelah shalat wajib-, lebih utama dibandingkan membaca shalawat. Sementara jika tidak dikaitkan dengan sebab tertentu, keduanya sama-sama afdhal. Dan yang lebih tepat adalah mengamalkannya secara bergantian, agar dengannya Kita melestarikan semua ajaran Syariat.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.