[Kitabut Tauhid 3] 35. Hukum Jimat 05

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

Secara umum, dalam memahami sebab, anak manusia terbagi menjadi 3 (tiga) kelompok :

  • Pertama : Kelompok yang mengingkari sebab. Mereka menganggap bahwa akibat terjadi bukan karena sebab, akan tetapi Allâh -‘Azza wa Jalla- lah yang telah menciptakan atau memunculkan akibat ketika ada sebab, sedangkan sebab tersebut bukanlah yang mempengaruhi munculnya akibat. 
  • Kedua : Kelompok yang berlebih-lebihan dalam menetapkan sebab hingga mereka menetapkan banyak hal yang bukan sebab menjadi sebab. Kelompok ini kebanyakannya adalah kelompok ahli khurafat dan juga kaum sufiyah yang agamanya dibangun di atas khayalan dan dongeng-dongeng.
  • Ketiga : Kelompok yang menetapkan sebab dan akibat akan tetapi mereka tidak menjadikan atau menetapkan sesuatu sebagai sebab kecuali yang telah ditetapkan oleh Allâh -‘Azza wa Jalla- dan Rasul-Nya -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- sebagai sebab, apakah sebab syar’i atau sebab kauni.  Mereka inilah Ahlussunnah Wal-Jama’ah.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Manfaat Sedekah Untuk Tolak Bala’

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

 فإن للصدقة تأثيرا عجيبا في دفع أنواع البلاء ولو كانت من فاجر أو من ظالم بل من كافر

Ibnul Qoyyim mengatakan:

“Sungguh sedekah itu memiliki pengaruh yang luar biasa untuk mencegah berbagai macam bala bagi pelaku sedekah, meski ia seorang penggemar dosa, orang zalim atau bahkan orang kafir sekalipun.

فإن الله تعالى يدفع بها عنه أنواعا من البلاء، وهذا أمر معلوم عند الناس خاصتهم وعامتهم، وأهل الأرض كلهم مقرون به لأنهم جربوه

Dengan sedekah, Allah mencegah berbagai macam bencana. Ini adalah perkara yang telah diketahui oleh semua manusia baik awam atau kalangan terpelajar. Semua penduduk bumi mengakui hal ini karena mereka telah membuktikannya.” (Al-Wabil Ash-Shoyyib hal. 31)

Usaha preventif untuk mencegah bencana dan malapetaka itu ada dua macam:

Usaha fisik lahiriah semisal sikap waspada dan hati-hati, menyimpan uang di tempat yang aman, dll.

Usaha non fisik semisal berdoa dan bersedekah. 

Usaha non fisik untuk mencegah bencana tidak kalah penting dengan usaha fisik lahiriah. 

Usaha untuk mencegah bencana yang disepakati oleh semua manusia adalah sedekah. 

Sebaik-baik sedekah adalah wakaf karena cukup sekali dilakukan namun pahalanya terus sepanjang zaman hingga hari kiamat.

sumber: https://pengusahamuslim.com/7056-manfaat-sedekah-untuk-tolak-bala.html

Kunci Keamanan dan Hidayah

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, beliau berkata:

Tatkala turun ayat (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang akan mendapatkan rasa aman, dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS. al-An’am: 82). Hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka pun berkata, “Siapakah di antara kami ini yang tidak menzalimi dirinya sendiri?”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hal itu bukan seperti yang kalian kira. Namun yang dimaksud adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Luqman kepada anaknya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.’ (QS. Luqman: 13).” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [2/206])

Hadits yang agung ini memberikan pelajaran, di antaranya:

  1. Kunci utama untuk mendapatkan keamanan dan hidayah adalah tauhid yang bersih dari segala kotoran syirik. Maka dari sini, kita bisa memahami mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabatnya -demikian juga para rasul terdahulu- senantiasa mengawali dakwahnya dengan tauhid dan menjadikannya sebagai prioritas yang paling utama. Tidak lain dan tidak bukan, karena tauhid itulah kunci keberhasilan suatu umat. Mereka diciptakan untuk bertauhid. Itu artinya, barangsiapa yang tidak bertauhid maka dia telah menyelisihi fitrahnya dan meninggalkan jalan Allah ta’ala menuju jalan kesesatan yang  menyeret pelakunya ke jurang kehancuran dunia dan akherat wal ‘iyadzu billah. Maka pahamilah perkara ini baik-baik wahai para aktifis dakwah dan para da’i… Jangan sampai kalian pertaruhkan nasib umat ini di ‘meja perjudian’ yang membuat mereka lalai dari tujuan penciptaan dirinya.
  2. Kezaliman itu bertingkat-tingkat. Ada kezaliman yang membuat pelakunya sama sekali tidak mendapatkan keamanan dan petunjuk. Ada pula kezaliman yang dampaknya tidak sampai separah kezaliman yang pertama, dimana pelakunya masih dikatakan sebagai mukmin, meskipun dengan kualitas iman yang rendah (lihat Shahih Bukhari, Kitab al-Iman, hal. 20, Fath al-Bari [1/109,111])
  3. Hadits ini menunjukkan bahwa kezaliman yang melenyapkan keamanan dan petunjuk secara menyeluruh adalah syirik kepada Allah. Inilah penafsiran dari ayat 82 dari surat al-An’am (lihat Shahih Bukhari, Kitab Tafsir al-Qur’an, hal. 959). Barangsiapa yang menjadikan ibadah itu dipersembahkan kepada selain Allah maka dia adalah sezalim-zalim pelaku kezaliman (lihat Syarh Muslim [2/206])
  4. Hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat menyadari bahwa semua orang -pada umumnya- pasti tidak bisa luput dari kezaliman, minimal kezaliman terhadap dirinya sendiri yaitu dengan bermaksiat kepada Allah ta’ala, meskipun tidak mencapai derajat kesyirikan.
  5. Kata-kata ‘bizhulmin’ (dengan kezaliman) dipahami oleh para sahabat dengan maknanya yang umum yang meliputi segala jenis maksiat dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari cara pemahaman mereka itu. Hanya saja, beliau menjelaskan bahwa yang dimaksudkan kezaliman dalam ayat ini adalah kezaliman yang paling berat yaitu syirik. Sehingga kata ‘kezaliman’ di sini tergolong sebagai ungkapan umum namun yang dimaksudkan adalah maknanya yang khusus –al ‘am urida bihil khash– (Fath al-Bari [1/109-110], lihat juga Ma’alim Ushul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah, hal. 419)
  6. Hadits ini menunjukkan bahwa kemaksiatan -dosa besar ataupun dosa kecil- bukanlah kekafiran -yang mengeluarkan dari agama-. Oleh sebab itu Imam Bukhari mencantumkan hadits ini di bawah judul bab ‘Zhulmun duna zhulmin’ -kezaliman yang tidak mengeluarkan dari agama- di dalam Kitab al-Iman dari shahihnya (lihat Syarh Muslim [2/206], Fath al-Bari [1/109]). Sehingga hadits ini mengandung bantahan bagi kaum Khawarij yang menganggap bahwa pelaku dosa besar keluar dari Islam. Demikian juga, ia mengandung bantahan bagi kaum Murji’ah yang menganggap bahwa kemaksiatan tidak mempengaruhi keimanan.
  7. ‘Prestasi’ seorang hamba dalam mewujudkan keimanan (tauhid) di dalam dirinya dan membersihkan diri dari segala bentuk kezaliman (terutama syirik) akan mengangkat kedudukannya di sisi Allah ta’ala. Sebagaimana predikat Khalil ar-Rahman -kekasih Allah- serta ‘seorang imam yang patut dijadikan teladan’ diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam (lihat Shahih al-Bukhari, Kitab Ahadits al-Anbiya’, hal. 700-702)
  8. Syirik merupakan kezaliman yang sangat besar. Karena orang yang berbuat syirik telah meletakkan ibadah tidak pada tempatnya. Ibadah yang semestinya hanya dipersembahkan kepada Allah Yang Maha esa dalam hal rububiyah-Nya, justru diberikan juga kepada makhluk-makhluk yang lemah dan tak menguasai apa-apa. Ini menunjukkan bahwa orang musyrik tidak bersikap hikmah dan juga tidak pandai bersyukur kepada Allah ta’ala atas nikmat kehidupan yang diberikan kepadanya. Padahal, Allah sama sekali tidak membutuhkan makhluk-Nya. Orang yang tidak bersyukur kepada Allah -sementara tauhid itu merupakan bentuk syukur yang paling tinggi- pada hakekatnya adalah orang yang takabur atau menyombongkan diri. (lihat Shahih al-Bukhari, Kitab Ahadits al-Anbiya’, hal. 721)
  9. Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki peran yang sangat besar dalam menafsirkan al-Qur’an, bahkan hal itu merupakan kewajiban utama yang beliau emban. Seandainya tidak ada beliau maka manusia akan salah paham dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, sebagaimana yang dialami para sahabat ketika menyikapi makna ayat ke-82 dari surat al-An’am ini. Mereka menyangka bahwa syarat untuk memperoleh ketentraman dan petunjuk itu adalah harus bersih dari segala bentuk kezaliman, dan itu tentunya merupakan sesuatu yang sangat berat. Maka muncullah peran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan maksud sebenarnya dari ayat tersebut (lihat Shahih Bukhari, Kitab Tafsir al-Qur’an, hal. 1007)
  10. Di dunia, orang musyrik -yang sebelumnya muslim- dihukumi sebagai orang murtad alias halal darahnya. Sementara di akherat nanti semua amal kebaikan mereka tidak ada artinya apa-apa. Oleh sebab itu Allah menafikan keamanan dan hidayah dari orang-orang yang mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (syirik) alias murtad (lihat Shahih Bukhari, Kitab Istitabatul Murtadin, hal. 1388)
  11. Hadits ini menunjukkan bolehnya -bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam– untuk menunda keterangan setelah waktu turunnya ayat. Namun, ketika keterangan itu diperlukan maka beliau wajib menyampaikannya (lihat Fath al-Bari [1/111])
  12. Tidak mungkin bersatu antara iman dan kekafiran secara lahir dan batin. Oleh sebab itu setelah mencantumkan hadits ini di dalam Kitab al-Iman, Imam Bukhari rahimahullah membawakan bab dengan judul ‘ciri-ciri orang munafik’ (lihat Fath al-Bari [1/111])
  13. Hadits ini menunjukkan bahwa lafaz umum dimaknakan menurut keumumannya sampai datang dalil lain yang mengkhususkannya (lihat Fath al-Bari [1/111])
  14. Hadits ini menunjukkan bahwa kemaksiatan tidak disebut sebagai syirik (lihat Fath al-Bari [1/111])
  15. Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang tidak mempersekutukan Allah barang sedikitpun maka dia akan mendapatkan keamanan dan hidayah. Lalu bagaimana halnya dengan pelaku maksiat yang disiksa atau dihukum? Maka dia juga tetap dikatakan sebagai orang yang mendapatkan keamanan ketika dibebaskan kelak dari kekalnya siksa neraka dan pada akhirnya juga dibimbing masuk surga (lihat Fath al-Bari [1/111])
  16. Hadits ini mengandung bantahan bagi kaum al-Qur’aniyun (baca: Ingkar Sunnah) yang menolak hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mencukupkan diri dengan al-Qur’an.
  17. Hadits ini mengandung peringatan dari bahaya menyelisihi Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena hal itu pasti akan menjerumuskan ke dalam kesesatan

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Sumber: https://muslim.or.id/4451-kunci-keamanan-dan-hidayah.html

Hati Kuat, Andapun Selamat!

Alhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah,ama ba’du,

Perjumpaan dengan Allah Ta’ala adalah suatu yang pasti terjadi

Ingatlah saudaraku! Perjumpaan dengan Allah Ta’ala adalah suatu yang benar adanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hal ini dalam sabdanya,

لِقَاؤُكَ حَقٌّ

“Perjumpaan dengan-Mu adalah sebuah kebenaran”. [HR. Muslim].

Hendaknya keyakinan ini terpatri dalam hati seorang hamba Allah, bahwa ia pasti akan menghadap Rabbnya dan berjumpa dengan-Nya untuk dihisab amalnya serta mempertanggungjawabkan perbuatannya sewaktu di dunia.

Allah Ta’ala berfirman :

{وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى}

(31) Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (Surga).[An-Najm:31].

Sobat, menghadirkan keyakinan ini dengan sempurna pada diri seorang kita, akan melahirkan sikap berusaha senantiasa mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menyambut hari perjumpaan tersebut.

Karena seorang muslim yang baik dan yakin akan berjumpa dengan Rabbnya, iapun yakin akan dihisab serta dibalas amalnya, tentulah berusaha mencari bekal untuk bisa menghadap kepada Allah dengan selamat.

Pangkat, jabatan, kekuasaan, harta benda dan keturunan, tidak bermanfaat sedikitpun, jika seseorang tidak membawa hati yang sehat, sebuah hati yang berisi keimanan yang benar sehingga membuahkan amal sholeh yang diterima oleh Allah.

Allah Ta’ala berfirman :

{يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ}

Pada hari dimana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,

{إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ}

kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang sehat[QS. Asy-Syu’araa`:88-89].

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan dua ayat di atas di dalam kitab tafsir beliau:

Firman Allah :

{يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ}

 Pada hari dimana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,

maksudnya : harta seseorang tidaklah bisa melindunginya dari adzab Allah, walaupun ditebus dengan sepenuh bumi emas. 

{وَلَا بَنُونَ}

dan anak-anak laki-laki ”,

maksudnya: meskipun ditebus dengan semua anak-anak laki-laki yang ada di muka bumi.

Pada hari itu, tidaklah bermanfaat kecuali keimanan kepada Allah, memurnikan ketaatan untuk-Nya semata (ikhlas) dan berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya. Oleh karena itu, Allah berfirman: 

{إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ}

kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang sehat”,

maksudnya: selamat dari kotoran (dosa) dan kesyirikan”[1. Tafsir Ibnu Katsir: 4/94].

Tabi’in yang mulia, Sa’id bin Al-Musayyab rahimahullah menafsirkan qolbun salim dengan perkataan beliau:

القلب السليم : هو القلب الصحيح ، وهو قلب المؤمن; لأن قلب [ الكافر و ] المنافق مريض ، قال الله : { في قلوبهم مرض } [ البقرة : 10 ]

“Qolbun salim adalah hati yang sehat. Hati tersebut adalah hati seorang mukmin, karena hati [orang kafir dan] orang munafik adalah hati yang sakit, Allah Ta’ala berfirman:

{فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا}

(10) Dalam hati mereka ada penyakit. [QS. Al-Baqarah:10]” [2. Tafsir Ibnu Katsir: 4/94].

Hati yang sehat adalah hati yang kuat!

Dari uraian sebelumnya, ketika Anda tahu bahwa orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang sehatlah yang bisa selamat berjumpa dengan Rabb mereka, maka muncul sebuah pertanyaan : “Bagaimana hati yang sehat itu?”. 

Jawabannya: “Hati yang sehat adalah hati yang memiliki kekuatan hati yang baik!”.

Lantas, “Apakah yang dimaksud dengan kekuatan hati itu?”.

Simaklah uraian sang dokter hati, Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah di dalam kitabnya yang indah: Ighatsatul Lahfan berikut ini:

الباب الخامس:  فى أن حياة القلب وصحته لا تحصل إلا بأن يكون مدركا للحق مريدا له، مؤثرا له على غيره

“Bab yang kelima: Tentang kehidupan hati dan kesehatannya tidak akan diperoleh kecuali dengan mengenal kebenaran lagi menginginkannya serta memilihnya, mengalahkan selainnya”.

لما كان فى القلب قوتان: قوة العلم والتمييز، وقوة الإرادة والحب. كان كماله وصلاحه باستعمال هاتين القوتين فيما ينفعه، ويعود عليه بصلاحه وسعادته.

Tatkala dalam hati terdapat dua kekuatan hati, yaitu: 

  • Kekuatan mengetahui dan membedakan [Quwwatul ‘Ilmi wat Tamyiz].
  • Kekuatan kehendak dan cinta [Quwwatul Iradah wal Hubb], 

maka kesempurnaan dan kebaikan hati itu diperoleh dengan menggunakan dua kekuatan ini dalam perkara yang bermanfaat bagi hati dan dalam perkara yang kebaikan dan kebahagiaan hati tersebut kembali kepadanya”. 

Cara menggunakan kekuatan hati dan merawatnya

Kemudian sang dokter hati pun menjelaskan lebih lanjut tentang bagaimana menggunakan dua kekuatan hati itu dengan benar, sehingga terjaga dengan baik?

Inilah penjelasan beliau tentang cara menggunakan kekuatan hati pertama, yaitu: Kekuatan mengetahui dan membedakan [Quwwatul ‘Ilmi wat Tamyiz],

فكماله باستعمال قوة العلم فى إدراك الحق، ومعرفته، والتمييز بينه وبين الباطل

Kesempurnaan hati diperoleh dengan menggunakan kekuatan ilmu untuk menemukan dan mengenal kebenaran (dengan baik) serta membedakan antara kebenaran dengan kebatilan (dengan baik).

Adapun tentang cara menggunakan kekuatan hati kedua: 

Kekuatan kehendak dan cinta [Quwwatul Iradah wal Hubb],

وباستعمال قوة الإرادة والمحبة فى طلب الحق ومحبته وإيثاره على الباطل 

(Kesempurnaan hati diperoleh) dengan menggunakan kekuatan kehendak dan cinta dalam mencari kebenaran dan mencintainya serta memilihnya, mengalahkan selainnya.

Akibat buruk jika salah dalam  menggunakan kekuatan hati

Lalu beliaupun menjelaskan akibat buruk orang yang tidak menggunakan dua kekuatan hati dengan benar serta menjelaskan pula akibat baik bagi orang yang sehat hatinya, karena menggunakan kekuatan hatinya dengan benar,

فمن لم يعرف الحق فهو ضال، ومن عرفه وآثر غيره عليه فهو مغضوب عليه. ومن عرفه واتبعه فهو مُنْعَمٌ عليه

  • Maka barangsiapa yang tidak mengenal kebenaran[3. Tidak menggunakan kekuatan ilmu dengan baik], berarti dia telah sesat,
  • barangsiapa yang tahu kebenaran, namun memilih kebatilan, maka dia menjadi orang yang dimurkai (oleh Allah),
  • dan barangsiapa yang mengenal kebenaran dan mengikutinya, maka dia lah orang yang diberi nikmat (oleh Allah).

Perbedaan antara umat Islam, yahudi dan nashara dalam menggunakan kekuatan hati

Setelah dijelaskan bahwa akibat buruk itu bagi orang yang tidak menggunakan dua kekuatan hati dengan benar, 

dan sebaliknya, akibat baik bagi orang yang sehat hatinya, karena menggunakan kekuatan hatinya dengan benar, maka pantaslah jika Allah memerintahkan kita ketika sholat, untuk senantiasa memohon petunjuk:

  1. Agar menjadi orang-orang yang mendapatkan nikmat-Nya, berupa: ilmu tentang agama-Nya dan amal shaleh. Mereka inilah yang  menggunakan kekuatan hatinya dengan benar, yaitu: kekuatan ilmu dan kekuatan kehendak yang membuahkan amal sholeh.
  2. Serta memohon agar dihindarkan dari jalan orang-orang yang dimurkai oleh Allah, karena tidak mengamalkan kebenaran yang telah diketahui oleh mereka (al-maghdhub ‘alaihim), seperti kaum yahudi yang rusak kekuatan hati mereka, berupa rusaknya kekuatan kehendak dan cinta.
  3. Serta dihindarkan dari jalan orang-orang yang sesat, karena tidak berilmu tentang kebenaran (adh-dhaalluun), seperti nashara yang rusak kekuatan hati mereka, berupa rusaknya kekuatan ilmu mereka.

Oleh karena itulah, Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah pernah berkata:

من فسد من عبادنا ففيه شبه من النصارى، ومن فسد من علمائنا ففيه شبه من اليهود؛ لأن النصارى عبدوا بغير علم، واليهود عرفوا الحق وعدلوا عنه. 

Barangsiapa yang rusak diantara ahli ibadah kita, maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan nashara, Barangsiapa yang rusak diantara ulama kita, maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan yahudi, karena nashara beribadah tanpa ilmu dan yahudi mengetahui kebenaran, namun berpaling darinya.

Hati kuat, Andapun selamat!

Allah Ta’ala mengkabarkan kepada kita tentang hamba-hamba-Nya yang selamat dari kerugian, dalam salah satu surat Alquran yang singkat namun padat makna. 

Hamba-hamba-Nya yang selamat di dalam surat itu adalah profile orang-orang yang memiliki dua kekuatan hati dan mampu menggunakan keduanya dengan benar!

Mereka adalah tipe orang-orang yang mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, sehingga sempurna dirinya dengan ilmu agama Islam dan amal shaleh.

Tidak cukup itu, mereka juga berusaha menyempurnakan orang lain dengan mengajak dan mendakwahi mereka untuk berilmu, beramal dan bersabar di atas jalan ilmu, amal dan dakwah.

Sobat, mari kita renungkan surat Al-‘Ashr berikut ini,

Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman:

{وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ}

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan masa -yang itu merupakan waktu untuk beramal, baik amal yang menguntungkan maupun amal yang merugikan- bahwa setiap orang dalam keadaan merugi kecuali :

  1. Orang yang menyempurnakan kekuatan ilmiahnya dengan beriman kepada Allah dan kekuatan amaliahnya dengan melakukan ketaatan kepada-Nya. Maka ini kesempurnaan dirinya sendiri.
  2. Kemudian menyempurnakan orang lain dengan nasehat dan perintahnya kepadanya agar orang lain tersebut sempurna kekuatan ilmiah dan amaliahnya (seperti dirinya,pent.).
  3. (Dan nasehatnya) berupa pilar utama itu semua, yaitu: kesabaran.

Jadi, ia menyempurnakan dirinya sendiri dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh dan menyempurnakan orang lain dengan mengajarkan (kedua) hal itu kepadanya.

Serta nasehatnya kepada orang lain tersebut agar bersabar di atas jalan itu”.

Ucapan emas bagi orang yang menyayangi hatinya

Ibnul Qoyyim rahimahullah bertutur:

“Hendaknya (seorang hamba) ketahui bahwa kedua kekuatan (hati) ini, tidak pernah berhenti beraktifitas, bahkan (kemungkinan yang ada) yaitu :

  • Jika tidak ia gunakan kekuatan ilmiahnya untuk mengenal kebenaran dan mencarinya, maka ia akan gunakan kekuatan tersebut untuk mengetahui sesuatu yang selaras dan cocok dengan kebatilan.
  • Begitu pula, jika tidak ia gunakan kekuatan kehendak amalnya untuk beramal shaleh, maka ia akan gunakan untuk sesuatu yang bertentangan dengan amal shaleh.

Jadi, (Kesimpulannya) bahwa manusia itu, secara tabiat, disifati dengan “Harits” dan “Hammam”, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ta’ala ‘alaihi wa alihi wa sallam,

“أَصْدَقُ الأَسْمَاءِ: حَارِثٌ وَهَمَّامٌ”.

“Nama yang paling jujur adalah Harits dan Hammam” [4. Shahih, HR. Abu Dawud dan yang lainnya].

Harits adalah orang yang (suka) beraktifitas.

Sedangkan Hammam adalah orang yang banyak berkeinginan/selera (“ham”)[5. “Ham” itu permulaan dari sebuah kehendak dan cikal bakalnya].

Karena, sesungguhnya jiwa itu sifatnya dinamis dan gerakan kehendak jiwa itu (hakekatnya) adalah bagian dari konsekwensi dzatnya[6. Sehingga ada terus sepanjang hidupnya].

Sedangkan kehendak itu mengharuskan bahwa sesuatu yang dikehendaki akan tergambar pada jiwanya dan memiliki keistimewaan tersendiri menurut jiwanya.

Jadi, jika jiwa (manusia) tidak menggambarkan kebenaran, mencarinya dan menghendakinya,maka akan menggambarkan kebatilan, mencarinya dan menghendakinya. Dan itu pasti!”

***

Disusun dari : Ighatsatul Lahfan min Mashaidisy Syaithan,Ibnul Qoyyim, bab kelima

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Sumber: https://muslim.or.id/27123-hati-kuat-andapun-selamat.html

Sadarilah Dunia Itu Melenakan

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasul junjungan; Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Indah dan melenakan. Itulah dunia. Karena itu, tak sedikit yang sengsara dibuatnya. Ada yang celaka, ada juga yang terhina. Andaikata ada yang bahagia karena dunia, itu hanya sementara. Karenanya, kita harus senantiasa waspada. Jangan sampai terlena. Jika tidak, kita akan menjadi korban berikutnya. Waspadalah..waspadalah..! Berikut ini catatan penting tentang dunia yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.

  1. Dunia dengan segala kemegahan dan keindahannya tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan akhirat. Camkanlah firman Allah berikut ini (Q.s. at-Taubah [9]: 38), yang artinya: “Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.” Berapa banyak yang mampu manusia peroleh dari kepuasan itu? Padahal umurnya hanya sebentar. Jika ia memilih kenikmatan yang sedikit itu, maka di akhirat kelak tidak ada tempat yang pantas baginya, melainkan neraka.مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (Q.s. Hûd [11]: 15-16).
  1. Apa yang menjadi bagian manusia di dunia ini pasti akan diberikan kepadanya, tanpa dikurangi sedikitpun dari haknya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berikut ini.فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا“Sesungguhnya tiap jiwa tidak akan dicabut nyawanya hingga disempurnakan rezekinya, meskipun itu terlambat” (HR. Ibnu Majah. Menurut Syaikh Albani, hadis ini sahih).
    Jika demikian, lantas apa sebenarnya yang membuat manusia menjadi tamak terhadap dunia? Bukankah masing-masing sudah ada jatahnya. Tidak berlebih dan tidak berkurang?
  2. Siapa pun yang tamak terhadap dunia, hingga membuatnya mengambil hak orang lain, atau membuat perhatiannya hanya tertuju pada dunia semata melebihi batas kewajaran, maka secara otomatis ia akan menyia-nyiakan akhiratnya. Yang mengakibatkan ia dilempar ke dalam api neraka. Rasulullah pernah bersabda, yang artinya: “Pada hari kiamat kelak akan didatangkan seorang penduduk neraka; dulu ketika di dunia ia adalah orang yang paling enak hidupnya. Lantas dicelupkan ke dalam neraka sekali celup. Kemudian ditanyai, “Wahai manusia, apakah engkau pernah merasakan kenikmatan?” Ia pun menjawab, “Belum pernah, wahai Tuhan, sedikitpun” (H.r. Muslim dan Ahmad).
    Hanya sekali celupan dalam siksaan, ia telah melupakan kesenangan, kebahagiaan, dan kenikmatan yang dulu pernah dirasakannya di dunia. Itu pun cuma satu celupan. Nah, bagaimana kalau azab akhirat itu adalah sesuatu yang akan ia rasakan untuk selama-lamanya? Bukankah ia akan hidup dalam kesengsaraan yang abadi?
  3. Orang yang orientasinya akhirat tidak akan merugi di dunia. Bahkan, ia justru akan mendapatkan bagian dunia dan akhirat sekaligus. Maka adalah suatu kebodohan jika kita hanya memfokuskan amalan kita untuk mengejar dunia. Seperti firman Allah berikut ini (Q.s. al-Baqarah [2]: 200): Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,” dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Sedangkan orang yang berakal pasti akan memanjatkan doa dengan redaksi berikut.وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”” (Q.s. al-Baqarah [2]: 201). Inilah doa yang sebaik-baiknya bagi seorang Muslim.
  4. Amalan yang berorientasi akhirat adalah sebab seseorang memperoleh kebahagiaan di dunia. Lalu kenapa banyak orang yang menyia-nyiakan dua kebahagiaan ini? Itu tidak lain karena mereka berpaling dari tuntunan Allah ‘Azza wa Jalla. Renungilah firman-Nya berikut (Q.s. Thâhâ [20]: 123-127), yang artinya: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka; Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”; Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, tetapi kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan,” Demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.
    Maka siapa saja yang beramal hanya untuk dunia, baginya penghidupan yang sempit, dan di akhirat kelak ia akan disiksa dalam azab yang pedih. Adapun jika ia beramal untuk akhirat, baginya sebenar-benar penghidupan di dunia dan akhirat sekaligus.
  5. Orang yang “matian-matian” mengejar dunia, pada hakikatnya hanyalah mewujudkan hasil yang sudah ditentukan. Atau, dengan kata lain mengejar sesuatu yang pasti akan sampai ke pemiliknya, tanpa dikurangi sedikit pun. Oleh karena itu, apa pun yang ia lakukan tidak akan memengaruhi bagian yang telah ditentukan untuknya. Layaknya seorang yang masuk ke sebuah kebun, lalu merasa takjub dengan apa yang ada di dalamnya. Namun, ia justru sibuk melobi pegawai dan pemilik kebun; meminta dispensasi perpanjangan jam berkunjung. Ketika bel berbunyi tanda jam berkunjung telah habis, ia baru tersentak kaget, sebab ia belum berhasil dengan usaha lobinya. Dan Ia pun diminta keluar dengan perasaan terhina. Bahkan sekadar mencicipi buah yang ada di kebun itu pun ia belum sempat.
    Begitu juga keadaan orang yang masuk ke dalam kebun yang bernama dunia. Ia akan tersibukkan oleh keindahan dan kemegahan yang ada. Lalu berusaha memperpanjang masa kontraknya dengan mencari ‘obat ampuh’ ke sana-ke mari demi memperpanjang umur. Namun, tidak ada satu pun yang berhasil. Justru, ia dikegetkan oleh kedatangan malaikat maut yang akan mencabut nyawanya, telah berdiri di depan matanya seraya membisikkan sebuah kata di telinganya, “Waktumu sudah habis. Kesempatanmu di dunia ini sudah habis. Ajalmu telah tiba. Keluarlah engkau secara suka rela. Atau kalau tidak, engkau akan dipaksa”.وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ وَنُفِخَ فِي الصُّورِ ذَلِكَ يَوْمُ الْوَعِيدِ وَجَاءَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَعَهَا سَائِقٌ وَشَهِيدٌ لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.) Lalu ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. Kemudian datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan Dia seorang Malaikat penggiring dan seorang malaikat penyaksi. Sesungguhnya kamu berada dalam Keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, Maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam” (Q.s. Qâf [50]: 19-22).

Orang berakal berusaha menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya demi sebuah kebahagiaan yang hakiki. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Orang yang berakal adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad, menurut adz-Dzahabi hadis ini sahih, sedangkan menurut Syeikh al-Albani dha’if).

Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin

***

Penulis: Abu Hasan Abdillah, BA., MA.

Sumber: https://muslim.or.id/24899-agar-dunia-tak-memenjara-6-sadarilah-dunia-itu-melenakan.html

WANITA yang Cantik

WANITA yang Cantik Kulitnya, akan Takut Terbakar Panas Matahari,,
Sedangkan,,
WANITA yang Cantik Akhlaknya akan Takut Terbakar Api Neraka..

WANITA yang Cantik Wajahnya akan Berseri- seri Menikmati Duniawi,,
Sedangkan,,
WANITA yang Cantik Hatinya akan Tunduk, Patuh dan Takut pada Illahi.

WANITA yang Cantik Dirinya, akan Menangis jika Dunia pergi Darinya,,
Sedangkan,,
WANITA yang Cantik Jiwanya akan tercukupi Hidupnya dengan Aqidahnya..

WANITA yang Cantik Hidupnya akan Bangga dengan Kemewahaannya,,
Sedangkan,,
WANITA yang Cantik akhiratnya akan Berpuasa dan Bersedekah dengan Hartanya..

Dan WANITA yang Cantik Zamannya, akan mengikuti Akal, Nafsu dan Segala kehendaknya,,
Sedangkan,,
WANITA yang Cantik Waktunya, akan menemukan Hikmah, Ilmu dan Segala Amal Soleh untuknya.. 

sumber: https://firanda.com/1034-wanita-yang-cantik.html

INILAH ORANG CERDAS YANG SEBENARNYA

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَفْضَلُ المُؤْمِنِينَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَ أَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُم لِلمَوتِ ذِكْرًا وَ أَحْسَنُهُم لَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ

“Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang-orang cerdas (yang sesungguhnya, pent).” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam Irwa’ul Gholiil no.682. Sedangkan di dalam Silsilatu Al-Ahaadiits Ash-Shohihah no.1384 beliau menilai hadits ini derajatnya HASAN dengan semua jalan periwayatannya). 

2. Di dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت

“Orang yang cerdas ialah siapa saja yang dapat menundukkan jiwanya (agar selalu taat kepada Allah, pent) dan ia senantiasa beramal untuk hari (akhirat) sesudah kematiannya.” (Hadits ini sanadnya dinyatakan DHO’IF oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqolani dan syaikh Al-Albani rahimahumallah).

3. Oleh karenanya, beliau memerintahkan para sahabat dan umat Islam agar senantiasa mengingat kematian, sebagaimana sabda beliau:

أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَادِمِ اللَّذَاتِ

“Perbanyaklah mengingat penghancur segala kelezatan (dunia). Yakni kematian.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i. Dan dinyatakan SHOHIH oleh Ibnu Hibban).

Demikian Faedah Ilmiyah dan Mau’izhoh Hasanah yg dapat kami sampaikan pd hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

sumber: https://abufawaz.wordpress.com/2013/12/19/inilah-orang-cerdas-yang-sebenarnya/

Berikan Harapan Besar untuk Mendapatkan Firdaus

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ، فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

Di surga itu terdapat seratus tingkatan, Allah menyediakannya untuk para mujahid di jalan Allah, jarak antara keduanya seperti antara langit dan bumi. Karena itu, jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus, karena sungguh dia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya ada Arsy Sang Maha Pengasih, dan darinya sumber sungai-sungai surga.” (HR. Bukhari 2790 & Ibnu Hibban 4611).

Dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi agar umatnya meminta kepada Allah surga firdaus. Mungkin ada orang berkomentar, “Surga, surga, tapi ngaca diri dong.. masak minta surga yang paling tinggi?”

Ini kesalah pahaman. Dalam masalah akhirat, kita diminta untuk mencari yang terbaik. Bukan pesimis. Agar manusia terpacu untuk selalu berlomba. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat paham, ketaqwaan umatnya tidak sama. Sehingga balasan yang mereka terima akan berbeda. Namun beliau memotivasi mereka untuk minta Firdaus, menumbuhkan optimis mereka untuk mendapatkan yang terbaik di akhirat.

Al-Mubarokfury mengatakan,

يدل هذا على أن الفردوس فوق جميع الجنان ولذا قال صلى الله عليه وسلم تعليما للأمة وتعظيما للهمة ” فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ”

Ini menunjukkan bahwa firdaus berada di atas semua tingkatan surga. Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengajarkan umatnya dan memperbesar harapan untuk mereka, “jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus”. (Tuhfatul Ahwadzi, Syarh Sunan Turmudzi, 7/201)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

selengkapnya:  https://konsultasisyariah.com/26628-firdaus-surga-paling-tinggi.html