WANITA yang Cantik

WANITA yang Cantik Kulitnya, akan Takut Terbakar Panas Matahari,,
Sedangkan,,
WANITA yang Cantik Akhlaknya akan Takut Terbakar Api Neraka..

WANITA yang Cantik Wajahnya akan Berseri- seri Menikmati Duniawi,,
Sedangkan,,
WANITA yang Cantik Hatinya akan Tunduk, Patuh dan Takut pada Illahi.

WANITA yang Cantik Dirinya, akan Menangis jika Dunia pergi Darinya,,
Sedangkan,,
WANITA yang Cantik Jiwanya akan tercukupi Hidupnya dengan Aqidahnya..

WANITA yang Cantik Hidupnya akan Bangga dengan Kemewahaannya,,
Sedangkan,,
WANITA yang Cantik akhiratnya akan Berpuasa dan Bersedekah dengan Hartanya..

Dan WANITA yang Cantik Zamannya, akan mengikuti Akal, Nafsu dan Segala kehendaknya,,
Sedangkan,,
WANITA yang Cantik Waktunya, akan menemukan Hikmah, Ilmu dan Segala Amal Soleh untuknya.. 

sumber: https://firanda.com/1034-wanita-yang-cantik.html

INILAH ORANG CERDAS YANG SEBENARNYA

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَفْضَلُ المُؤْمِنِينَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَ أَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُم لِلمَوتِ ذِكْرًا وَ أَحْسَنُهُم لَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ

“Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang-orang cerdas (yang sesungguhnya, pent).” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam Irwa’ul Gholiil no.682. Sedangkan di dalam Silsilatu Al-Ahaadiits Ash-Shohihah no.1384 beliau menilai hadits ini derajatnya HASAN dengan semua jalan periwayatannya). 

2. Di dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت

“Orang yang cerdas ialah siapa saja yang dapat menundukkan jiwanya (agar selalu taat kepada Allah, pent) dan ia senantiasa beramal untuk hari (akhirat) sesudah kematiannya.” (Hadits ini sanadnya dinyatakan DHO’IF oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqolani dan syaikh Al-Albani rahimahumallah).

3. Oleh karenanya, beliau memerintahkan para sahabat dan umat Islam agar senantiasa mengingat kematian, sebagaimana sabda beliau:

أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَادِمِ اللَّذَاتِ

“Perbanyaklah mengingat penghancur segala kelezatan (dunia). Yakni kematian.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i. Dan dinyatakan SHOHIH oleh Ibnu Hibban).

Demikian Faedah Ilmiyah dan Mau’izhoh Hasanah yg dapat kami sampaikan pd hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

sumber: https://abufawaz.wordpress.com/2013/12/19/inilah-orang-cerdas-yang-sebenarnya/

Berikan Harapan Besar untuk Mendapatkan Firdaus

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ، فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

Di surga itu terdapat seratus tingkatan, Allah menyediakannya untuk para mujahid di jalan Allah, jarak antara keduanya seperti antara langit dan bumi. Karena itu, jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus, karena sungguh dia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya ada Arsy Sang Maha Pengasih, dan darinya sumber sungai-sungai surga.” (HR. Bukhari 2790 & Ibnu Hibban 4611).

Dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi agar umatnya meminta kepada Allah surga firdaus. Mungkin ada orang berkomentar, “Surga, surga, tapi ngaca diri dong.. masak minta surga yang paling tinggi?”

Ini kesalah pahaman. Dalam masalah akhirat, kita diminta untuk mencari yang terbaik. Bukan pesimis. Agar manusia terpacu untuk selalu berlomba. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat paham, ketaqwaan umatnya tidak sama. Sehingga balasan yang mereka terima akan berbeda. Namun beliau memotivasi mereka untuk minta Firdaus, menumbuhkan optimis mereka untuk mendapatkan yang terbaik di akhirat.

Al-Mubarokfury mengatakan,

يدل هذا على أن الفردوس فوق جميع الجنان ولذا قال صلى الله عليه وسلم تعليما للأمة وتعظيما للهمة ” فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ”

Ini menunjukkan bahwa firdaus berada di atas semua tingkatan surga. Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengajarkan umatnya dan memperbesar harapan untuk mereka, “jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus”. (Tuhfatul Ahwadzi, Syarh Sunan Turmudzi, 7/201)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

selengkapnya:  https://konsultasisyariah.com/26628-firdaus-surga-paling-tinggi.html

Keutamaan Meredam Amarah

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَفَّ غَضَبَهُ كَفَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهُ عَذَابَهُ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa  yang meredam amarahnya maka Allah akan menahan dia dari siksaan-Nya.”([1])

Status Hadits

Hadits ini secara sanad adalah hadits yang lemah karena di dalamnya ada seorang perawi yang bernama Khalid Ibnu Burd. Perawi ini adalah perawi yang lemah, Imam Bukhari ketika menyebutkan biografi Khalid Ibnu Burd dalam At-tarikh Al-Kabir, beliau berkata, “Dia tidak bisa diikuti”, artinya tidak bisa dikuatkan (lemah). Adz-Dzahabi juga mengomentari Khalid Ibnu Burd dengan mengatakan bahwa dia perawi yang majhul sehingga hadits ini adalah hadits yang lemah. Demikian juga syahid yang didatangkan oleh Ibnu Hajar berharap, sanadnya lemah sehingga kita tidak bisa menjadikan dua hadits ini sebagai dalil.([2])

Namun hadits ini dikuatkan dengan hadits yang lain dari jalur sahabat Ibnu ‘Umar i. Rasulullahﷺ  bersabda,

مَنَ كَفَّ غَضَبَهُ سَتَرَ اللهُ عَوْرَتَهُ

“Barang siapa  yang meredam amarahnya Allah akan menutup auratnya.”([3])

Selain itu, kita ketahui bahwasanya berusaha meredam amarah akan mendatangkan pahala yang besar dari Allah ﷻ. Dan di antaranya orang yang meredam amarah adalah termasuk dari ciri-ciri penghuni surga, sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”([4])

Hadits tersebut juga apabila ditinjau dari sisi makna adalah benar karena kembali kepada kaidah umum, al-jazaa’ min jinsil ‘amal (balasan sesuai dengan perbuatan). Anda ingin memukul orang lain lantas tidak jadi karena Anda meredamnya, maka Anda pun tatkala ingin diazab oleh Allah ﷻ lantas tidak jadi diazab. Inilah faedah yang sangat mulia dari menahan amarah. Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يُنَفِّذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَلَى رُءُوسِ الخَلاَئِقِ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِي أَيِّ الحُورِ شَاءَ

“Barang siapa  yang meredam amarahnya padahal dia mampu untuk melampiaskan, maka Allāh akan memanggil dia pada hari kiamat di hadapan khalayak, sampai Allāh mempersilahkan dia memilih bidadari mana yang dia sukai.”([5])

Makna Hadits

Hadits ini menjelaskan tentang keutamaan meredam amarah yang memiliki berbagai keutamaan. Bahkan Allah ﷻ mengkhususkan penyebutannya di dalam Al-Quran tatkala menyebutkan beberapa ciri penghuni surga,

…… وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.”([6])

Disebutkan oleh para ahli bahasa كَظْمُ الْغَيْظِ maknanya mengikat (menutup) tempat air (al-kirbah) ketika air sudah penuh. Al-Kirbah adalah tempat air orang-orang zaman dahulu yang terbuat dari kulit. Sehingga maksud dari ayat ini adalah orang yang berusaha menahan amarahnya ketika amarahnya mulai memuncak. Perkara ini adalah perkara yang menakjubkan karena dia menahan amarahnya tersebut ketika sudah mulai memuncak, bukan menahan di awal kali munculnya. Dan telah berlalu pembahasan tentang orang-orang yang meredam amarah yang mana dia akan mendapatkan keutamaan dan pahala yang sangat banyak. Kita tidak akan mengulangi pembahasan tersebut. Di dalam hadits ini dikatakan bahwa Barang siapa  yang meredam amarahnya maka Allah akan menahan azab-Nya.

Akhlak Mulia Sebab Masuk Surga

Hendaknya selalu diingat bahwasanya masuk surga itu bukan cuma karena bersedekah, shalat malam, banyak puasa sunah dan shalat sunah, tetapi akhlak yang mulia adalah di antara perkara yang paling cepat memasukkan ke dalam surga. Rasulullah ﷺ bersabda,

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ

“Sesungguhnya tidak ada sesuatu apa pun yang paling berat di timbangan kebaikan seorang mukmin pada hari kiamat seperti akhlak yang mulia.”([7])

Dan di antara akhlak mulia adalah meredam amarah. Meredam amarah bukanlah perkara sepele. Terkadang sebagian orang sering muncul pada dirinya hal-hal yang bisa membuatnya marah dan jengkel. Apabila dia selalu berusaha untuk menahan maka dia akan mendapatkan pahala. Semakin banyak kemarahan yang dia redam semakin banyak pula pahala yang dia dapatkan. Di antara bukti bahwasanya meredam amarah bukanlah perkara yang remeh, yaitu Allah ﷻ menyebutkannya di dalam Al-Quran ketika menyebutkan sifat-sifat penghuni surga. Allah ﷻ berfirman,

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

“..yaitu orang-orang yang meredam amarah dan orang yang memaafkan orang lain yang bersalah kepada dia.”([8])

Hal ini menunjukkan bahwasanya Islam sangat menjunjung tinggi akhlak yang mulia. Semakin ada sebab yang bisa menimbulkan amarah kemudian kita selalu meredamnya maka semakin besar pahala yang menanti. Yang tadinya Allah ﷻ seharusnya mengazab kita, namun tidak jadi karena kita berusaha meredam dan tidak melampiaskan amarah kita.

Footnote:

([1]) HR. Ad-Daulaby no. 1071.

([2]) Lihat Minhatul Alam 10/276.

([3]) HR. Thabarani no. 13646.

([4]) QS. Al-Imran: 133-134.

([5]) HR. Tirmidzi no. 2493.

([6]) QS. Al-Imran : 134.

([7]) HR. Tirmidzi no. 2002, hadits ini hasan sahih.

([8]) QS. Al-Imran: 134.

sumber: https://bekalislam.firanda.com/6498-keutamaan-meredam-amarah-hadis-26.html

Jangan Menunggu Imam Berdiri

Oleh : Ustadz Muhammad Sulhan Jauhari, Lc, MHI

📘 JANGAN MENUNGGU IMAM BERDIRI 📗

Ketika seorang makmum tertinggal takbiratul ihram bersama imam (masbuk), lalu tidaklah ia mendapati imam melainkan dalam keadaan sedang rukuk, sujud, duduk di antara dua sujud atau posisi shalat lainnya, ketika dalam keadaan demikian, hendaklah ia mengerjakan apa yang sedang dikerjakan imam. Apabila imam sedang rukuk, hendaklah ia rukuk. Ketika imam ia sedang duduk, hendaklah ia duduk. Begitu pula apabila dia sedang sujud, maka hendaklah ia sujud. Namun, jangan lupa untuk mengawali shalat dengan takbiratul ihram sebelum berpindah ke posisi yang sedang dikerjakan imam. Sebab takbiratul Ihram termasuk rukun shalat, dimana apabila ditinggalkan maka tidak akan sah shalat seseorang.

Berikut ini beberapa keterangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seputar permasalahan tersebut: 

🔸 PERTAMA

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

إِذَا سَمِعْتُمُ الإِقَامَةَ فَامْشُوْا إِلَى الصَّلاَةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِيْنَةِ وَالوَقَارِ، وَلاَ تُسْرِعُوْا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا.

“Apabila kalian mendengar Iqamah, maka berjalanlah menuju shalat dengan tenang, santai dan tidak tergesa-gesa. Apa yang sedang kalian dapati maka shalatlah, dan apa yang terlewatkan maka sempurnakanlah”. 

(HR. Bukhari, Muslim dll.)

🔸 KEDUA

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

إِذَا أُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ تَأْتُوْهَا تَسْعَوْنَ، وَأْتُوْهَا تَمْشُوْنَ عَلَيْكُمُ السَّكِيْنَةُ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوْا.

“Jika Iqamah dikumandangkan, maka janganlah kalian mendatangi shalat dengan tergesa-gesa, tetapi berjalanlah dengan tenang. Apa yang kalian dapati maka shalatlah, dan apa yang terlewatkan maka sempurnakanlah”. 

(HR. Bukhari, Muslim dll.)

🔸 KETIGA

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

إِذَا أَتَى أَحَدُكُمُ الصَّلاَةَ وَالإِمَامُ عَلَى حَالٍ فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ الإِمَامُ.

“Apabila salah seorang dari kalian datang untuk shalat sementara imam berada dalam suatu posisi, maka lakukanlah sebagaimana yang sedang dilakukan imam”. (Hadis Sahih riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Semoga yang sedikit ini bermanfaat bagi kita semua. Semoga dimudahkan meneladani sifat shalat sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

✅ Bagian Indonesia 

🏠 DAMMAM KSA

📅 [ 08/06/1437 H ]

sumber: http://www.salamdakwah.com/artikel/3498-jangan-menunggu-imam-berdiri

Dialah yang Selayaknya Lebih Engkau Cinta

Cinta seorang anak manusia hanya lah sebatas kebersamaan dan kesempatan.
Ketika berpisah Lambat laun cinta tersebut akan pudar dan berpindah pada yang lain.

Ini di antara makna yang terkandung dalam sepenggal kisah Ali bin abi tholib ketika berziaroh ke sebuah pemakaman, Beliau menyeru :

Wahai ahli kubur….!!!
Akan aku kabarkan pada kalian keadaan keluarga kalian sepeninggal kalian….
Sekarang rumah rumah kalian telah berganti penghuni nya….
istri istri kalian telah menikah dan bahagia dengan suami suami nya….
anak anak kalian telah sibuk dengan urusan urusan nya….

Wahai orang yang malang…
Engkau letih mengumpulkan dunia untuk membangunkan istana….
mempersembahkan kendaraan yang baik dan kebun kebun yang luas untuk istri mu….
Tapi nyatanya yang menikmati nya adalah suami baru nya…. Lalu pun ia melupakan mu…
Harta yang kau peroleh dengan susah payah…. Untuk mensukseskan anak anak mu…….
Nyatanya mereka berduka hanya beberapa saat lalu mereka sibuk dengan istri dan anak anaknya….
Sementara kau butuh doa nya dalam kubur mu…. Tapi mereka tidak punya waktu banyak tuk mendoakan mu….

Kasian…… Kasian……
Sungguh engkau sangat tertipu jika mencintai mereka di atas cintamu terhadap penciptanya……

repost dari status Ustadz. Sulaiman Abu Hani


Dialah yang Selayaknya Lebih Engkau Cinta

Al ‘Abbas bin Al Ahnaf berkata dalam syairnya:

Tiada manusia yang tidak memiliki cinta

Tiada kebaikan bagi orang yang tiada cinta.

(Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu)

Setiap orang pasti memiliki cinta dan dia pasti akan merasa bahagia tatkala mencintai dan dicintai, diberikan perhatian, seperti ketika orang tuamu yang sangat mencintaimu semenjak engkau masih berada dalam kandungan bahkan jauh sebelum engkau menjadi embrio dalam rahim ibumu.

Mereka pun telah mencurahkan kasih sayangnya untuk menunggu kehadiranmu. Hingga mereka rela berkorban mempertaruhkan nyawa demi keselamatanmu untuk lahir di dunia ini. Setelah engkau lahir, maka orang tua merawatmu dengan baik dan memberikan kasih sayang yang tak terhingga. Dengan pengorbanan orang tua yang amat besar tersebut maka pastilah engkau ingin sekali berbakti kepada orang tuamu dan berusaha untuk membalas kebaikan mereka meskipun engkau tak akan pernah mampu membayarnya.

Lalu, bagaimana ketika engkau tahu bahwasanya ada Dzat yang sangat cinta dan perhatiannya kepadamu, melebihi cinta dan perhatiannya orang tua terhadapmu? Tentu engkau akan lebih cinta dan berbakti kepada Dzat tersebut, yaitu Allah.

Dialah yang senantiasa mencintaimu tatkala manusia membencimu, Dialah yang akan selalu peduli padamu ketika manusia mengacuhkanmu, Dialah yang akan selalu memberimu tatkala engkau meminta sesuatu, Dialah yang memperhatikanmu setiap saat meski seringkali engkau tak mengingat-Nya, Dialah yang mencukupi kebutuhanmu, membuatmu tertawa bahagia dan memberikan banyak kenikmatan yang tak terhingga kepadamu.

Tentunya Dialah yang paling berhak mendapatkan cintamu di antara cinta yang engkau berikan untuk kedua orang tuamu, kerabatmu, kawan-kawanmu dan kaum muslimin pada umumnya.

Begitupun, selayaknya cintamu kepada mereka engkau landasi di bawah naungan cinta kepada Allah Ta’ala. Ingatlah bahwasanya mereka adalah bagian dari ujian. Allah Ta’ala berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang …” (QS. Ali Imran:14).

Syaikh ‘Abdurrahmān bin Nāṣir As-Sa’diy menjelaskan dalam tafsirnya tentang ayat di atas, “Allah menjadikan (apa yang telah disebutkan: wanita, anak, harta yang banyak baik emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang) sebagai ujian bagi hamba-Nya untuk mengetahui siapa yang lebih mengedepankan ketaatan kepada Allah dan keridhaan-Nya daripada kesenangan dan apa-apa yang dia inginkan.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita memberikan hak-hak Allah sebagaimana mestinya. Dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin di dalam kitabnya bahwa hak Allah adalah hak yang paling wajib dan agung. Dia menciptakan segala sesuatu dan menyempurnakannya dengan hikmah yang sempurna.

Hak Allah yang menciptakanmu yang pada asalnya tidak ada dan tidak disebutkan sebelumnya, hak Allah yang memeliharamu dengan nikmat-nikmat ketika engkau masih di perut ibumu dalam tiga kegelapan yang tidak ada seorang makhluk pun bisa memberikan makanan kepadamu dan memperbaiki pertumbuhan dan hidupmu. Dialah yang memberikan air susu untukmu, memberikanmu petunjuk, menundukkan kedua orang tuamu untukmu, melengkapi dan menyiapkan (segala perlengkapan) mu, memberikan nikmat-nikmat, akal, dan pemahaman serta mempersiapkanmu agar mampu menerimanya dan mengambil manfaat dengannya (Huqūqun da’at ilaihā Al-Fiṭrah wa qarrarathā Asy-Syarī’ah, hal.7).

 Lalu apa yang engkau sombongkan? Kenapa engkau masih enggan untuk sekedar berdua dengan-nya di sepertiga malam tatkala Dia menyerumu untuk sholat, berdzikir kepada-Nya, menghinakan dan merendahkan dirimu di hadapan-Nya? Kenapa hatimu tak malu tatkala engkau berbuat maksiat kepada-Nya sementara Dia mengetahuinya. Kenapa masih saja engkau duakan cinta-Nya, dan engkau langgar larangan-nya? Kenapa masih saja engkau cari-cari seribu alasan agar Dia selalu memberikan udzur dari perkara yang engkau buat-buat?

Dan kenapa masih saja engkau bakhil untuk meneteskan air matamu karena menyesali kesalahan dan dosa-dosa yang telah meliputimu? Sadarkanlah dirimu wahai jiwa yang terlarut dalam maksiat dan dosa. Sungguh tak ada sesuatu pun dalam dirimu yang patut untuk sombongkan.

Sesungguhnya Dia tidak membutuhkan kita tetapi kitalah yang sangat butuh terhadap Allah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin bertutur lagi dalam kitabnya,

Allah hanyalah menginginkan satu hal saja darimu itu pun mashlahatnya kembali kepadamu yaitu agar engkau menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya. Dia menginginkan agar engkau menjadi hamba dengan seluruh makna ‘ubudiyyah sebagaimana Dia adalah Rabbmu dengan seluruh makna rububiyyah, menjadi hamba yang merendahkan diri kepada-Nya, tunduk, melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, membenarkan kabar-Nya karena engkau telah melihat nikmat-nikmatn-Nya yang terus-menerus sempurna kepadamu, maka apakah engkau tidak malu mengganti nikmat-nikmat tersebut dengan kekufuran?” (Huqūqun da’at ilaihā Al-Fiṭrah wa qarrarathā Asy-Syarī’ah, hal.8).

 Lalu beliau mengatakan: “Apabila ada seseorang yang memberi keutamaan kepadamu niscaya engkau akan malu untuk berbuat maksiat kepadanya dan melanggarnya. Maka bagaimana dengan Rabbmu yang seluruh keutamaan padamu itu adalah dari-Nya? Dan setiap apa yang engkau terhindar dari kejelekan adalah bagian dari rahmat-Nya” (Huqūqun da’at ilaihā Al-Fiṭrah wa qarrarathā Asy-Syarī’ah, hal.8).

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nya lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl: 53).

Janganlah engkau buat Dia cemburu karena Dia akan berpaling darimu. Dikatakan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya yang indah bahwasanya Allah akan cemburu terhadap hamba-Nya, jika hati hamba-Nya tidak terisi cinta, ketakutan, dan harapan kepada-Nya dan sebaliknya diisi dengan hal-hal selain Allah. Allah menciptakan hamba untuk menyembah-Nya dan memilih-Nya di antara semua makhluk. Dalam sebuah atsar Ilahy disebutkan,

Wahai anak Adam, Aku menciptakanmu untuk Diri-Ku dan Aku menciptakan segala sesuatu untukmu. Dengan hak-Ku atas dirimu, maka janganlah engkau menyibukkan diri dengan apa-apa yang Kuciptakan bagi dirimu dan mengabaikan tujuan Kuciptakan dirimu. (Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, hal. 263-264).

Oleh karena itu, ambillah kesempatan untuk berdua dengan Allah. Seorang hamba berada di hadapan Allah dalam dua kesempatan, yaitu ketika shalat dan pada hari perjumpaan dengan-Nya kelak. Barangsiapa yang bersungguh-sungguh saat berhadapan dengan Allah dalam kesempatan yang pertama (shalat) maka akan mudah baginya untuk mendapatkan kesempatan kedua. (Menjadi Kekasih Allah, hal.119).

Patut direnungkan oleh setiap muslim yang mengaku cinta kepada Allah. Dengan segala cinta yang Allah beri untuk kita, namun seringkali kita membuat-Nya cemburu dan marah. Betapa cemburunya Allah tatkala mendapati lidahmu yang tidak disibukkan untuk menyebut nama-Nya. Betapa cemburunya Allah tatkala mendapati anggota tubuhmu tidak digunakan untuk menaati-Nya. (Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, hal. 264).

Cinta yang sempurna akan membuatmu bahagia. Mencintai Allah merupakan kesempurnaan cinta dan merupakan tuntutan cinta sehingga mencintai Allah akan mendatangkan kebahagiaan yang sempurna pada diri seorang hamba.

Wahai jiwa yang lemah

Renungkanlah, betapa Allah sangat mencintaimu

Dan begitu perhatian terhadapmu

Padahal sedikit sekali engkau mengingat-Nya

Bahkan seringkali engkau membuat-Nya cemburu kepadamu

Wahai jiwa yang lemah

Tundukkanlah pandanganmu sejenak

Rendahkanlah dirimu di hadapan-Nya

Bersujudlah dan menangislah untuk memohon cinta dan hidayah-Nya

Karena cinta yang sebenarnya akan mengantarkanmu ke jannah-Nya

Dan rindukanlah saat-saat pertemuan dengan-Nya nanti di surga.

***

Penyusun: Lilis Mustikaningrum

Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Referensi:

  • Al-Qur’ān Al-Karīm.
  • Taisīru Al-Karīm Ar-Raḥmān fī tafsīri kalāmi Al-Manān karya Syaikh ‘Abdurrahmān ibn Nāṣir As-Sa’diy.
  • Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Darul Falah.
  • Kitab Huqūqun da’at ilaihā Al-Fiṭrah wa qarrarathā Asy-Syarī’ah karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
  • Terjemah kitab Rauḍatu Al-Muḥibbīn, min Kalāmi Muḥarriki Al-Qulūb ibn Al-Qayyim, Menjadi kekasih Allah Karya ibn Al-Qayyim.

Artikel www.muslimah.or.id
sumber:  https://muslimah.or.id/8222-dialah-yang-selayaknya-lebih-engkau-cinta.html

Hikmah di Balik Qurban

Pernahkah kita berpikir untuk mempersiapkan qurban sejak saat ini? Terasa masih jauh, tapi jika tidak direncanakan, bisa jadi idul adha tahun ini tetap sama dengan tahun-tahun sebelumnya, dilewati tanpa berqurban walaupun seekor kambing. Bukankah beban itu menjadi ringan jika dicicil? Seekor kambing akan terasa sangat mahal jika baru kita rencanakan beberapa hari sebelum penyembelihan. Oleh karena itu, kami mengingatkan kembali kepada pembaca untuk menguatkan tekadnya agar bisa berqurban.

Terkait qurban, artikel kali ini akan membahas tentang hikmah di balik ibadah qurban, semoga dengan mengetahui hikmah kebaikan qurban, kita lebih bersemangat untuk menjalankan syariat qurban.

1. Qurban dilakukan dalam rangka bersyukur kepada Allah atas nikmat hayat (kehidupan) yang diberikan.

2. Qurban dilaksanakan untuk menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim –khalilullah (kekasih Allah) ‘alaihissalam yang ketika itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail ‘alaihissalam ketika hari an-nahr (Idul Adha)

3. Agar setiap mukmin mengingat kesabaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang ini membuahkan ketaatan kepada Allah dan kecintaan kepada-Nya lebih dari diri sendiri dan anak. Pengorbanan seperti inilah yang menyebabkan lepasnya cobaan. Sehingga yang sebelumnya akan disembelih adalah Isma’il, akhirnya seekor dombalah yang disembelih. Jika setiap mukmin mengingat kisah ini, seharusnya mereka mencontoh dalam bersabar ketika melakukan ketaatan kepada Allah dan seharusnya mereka mendahulukan kecintaan kepada Allah dari hawa nafsu dan syahwatnya (Al-Mausuah al-Fiqhiyyah, 5:76)

4. Ibadah qurban lebih baik daripada bersedekah dengan uang yang senilai dengan hewan qurban.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Penyembelihan yang dilakukan pada waktu mulia lebih afdal daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya, jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattu’ dan qiran (dalam ibadah haji) meskipun dengan sedekah yang bernilai berlipat ganda, tentu tidak bisa menyamai keutamaan qurban.” (Talkhish Kitab Ahkamil Ushiyyah wadz Dzakaah, hlm 11-12 dan Shahih Fiqh Sunnah, 2:379)

5. Qurban dilakukan untuk meraih taqwa. Yang ingin dicapai dari ibadah qurban adalah keikhlasan dan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman,

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37)

Disarikan dari buku Belajar Qurban Sesuai Tuntunan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, cetakan pertama, Dzulqa’dah 1439 H.

sumber: https://muslimah.or.id/10883-hikmah-di-balik-qurban.html