Tebarlah Kasih Sayang… Niscaya Engkau disayang Allah…

Khutbah Jum’at di Mesjid Nabawi 29/5/1436 H – 20/3/2015 M
Oleh : Asy-Syaikh DR Abdul Muhsin Al-Qosim

Khutbah Pertama :

Segala puji bagi Allah, kita memohon pertolongan kepadaNya, dan kita berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa kita dan dari kejelekan amalan kita, barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan Allah maka tidak ada pemberi petunjuk baginya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tidak ada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusanNya, semoga sholawat dan salam yang banyak tercurahkan kepada beliau dan keluarganya serta para sahabatnya.

Amma ba’du, maka bertakwalah kalian wahai hamba-hamba Allah dengan sebenar-benar takwa, karena Rob kita tidak menerima kecuali takwa, dan tidak merahmati kecuali orang yang bertakwa.

          Kaum muslimin sekalian, agama dibangun diatas menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak para makhlukNya. Maka hak Allah adalah kita menyembahNya dan tidak menyekutukannya dengan suatu apapun, dan hak makhluk adalah berbuat baik kepada mereka dan berakhlak mulia dengan mereka.

Dan perangai yang agung yang Allah jadikan diantara makhlukNya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

«خَلَقَ اللهُ مِائَةَ رَحْمَةٍ، فَوَضَعَ وَاحِدَةً بَيْنَ خَلْقِهِ وَخَبَأَ عِنْدَهُ مِائَةً إِلَّا وَاحِدَةً»

“Allah menciptakan 100 rahmat, lalu Allah meletakkan satu rahmat diantara para hambaNya dan Allah menyimpat 99 rahmat di sisiNya” (HR Muslim)

Dan Allah lebih mendahulukan rahmat di atas nikmat ilmu :

فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

Lalu mereka (Musa dan pembantunya) bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami (QS Al-Kahfi : 65)

Allah –subhanahu- mencintai orang yang bersifat kasih sayang serta Allah memuji hamba-hambaNya yang saling berwasiat untuk melakukannya

ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ

Dan Dia (tidak pula) Termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. (QS Al-Balad : 17)

Dengan kasih sayang maka tegaklah pondasi bangunan penunaian hak-hak para hamba yang wajib seperti zakat, dan hak-hak yang sunnah seperti memaafkan dan bersedekah.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata :

فعلى الإنسان أن يكون مقصودُه نفع الخلق، والإحسان إليهم مطلقا، وهذا هو الرحمة التي بُعث بها محمد – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dan hendaknya tujuan seseorang adalah memberi manfaat kepada manusia dan berbuat baik kepada mereka secara mutlak, dan inilah rahmat yang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus dengannya” (Jami’ul Masaa’il 6/37)

Kasih sayang merupakan karunia yang Allah berikan kepada hambaNya yang Ia kehendaki. Nabi –’alaihis sholatu was salaam- berkata kepada seorang arab badui yang kaku dan tidak mengasihi anak-anaknya :

أَوَ أَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ؟

“Apakah aku bisa mencegah darimu jika Allah mencabut kasih sayang dari hatimu” (HR Al-Bukhari)

Dan kapan Allah berkehendak kebaikan bagi hambaNya maka Allah turunkan rahmat pada hatinya.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan (QS Al-Fath : 4), Ibnu Abbas berkata : (Ketenangan) yaitu Rahmat

فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ

ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). (QS Al-Fath : 4)

          Bagian rahmat bagi setiap hamba sesuai dengan kadar bagiannya dari petunjuk, karenanya orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling besar kasih sayangnya. Allah berfirman :

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (QS Al-Fath : 29)

Allah mensifati kaum mukminin bahwasanya mereka :

أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin” (QS Al-Maidah : 54), Ibnu Abbas berkata, “Maksud dari “lemah lembut” adalah rahmat”

Dipenuhinya hati dengan kasih sayang merupakan tanda kebahagiaan, dan ia merupakan sebab diraihnya rahmat Allah, Nabi –’alaihis sholatu was salaam- bersabda :

الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَانُ، اِرْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang mengasihi dirahmati oleh Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), kasihilah yang ada di bumi nicaya Yang di langit akan mengasihi kalian” (HR Abu Dawud)

Dan diantara orang-orang yang masuk surga adalah kaum yang hatinya penuh dengan rahmat dan kelembutan disertai keimanan. Nabi –’alaihis sholatu was salaam- bersabda :

وَأهل الْجنَّة ثلاثةٌ: ذُو سُلْطَان مقسط متصدق موفق. وَرجل رحيمٌ رَقِيق الْقلب لكل ذِي قربى وَمُسلم. وعفيفٌ متعفف ذُو عِيَال

“Dan penghuni surga tiga golongan, (1) pemilik kekuasaan yang adil, dermawan, lagi mendapat petunjuk, (2) lelaki yang pengasih, berhati lembut kepada setiap kerabat dan setiap muslim, (3) dan seorang yang menjaga harga dirinya (dari perkara yang haram) dan berusaha menjaga dirinya (untuk tidak minta-minta) sementara ia memiliki anak-anak (yang dibawah tanggungannya-pen)”(HR Muslim)

          Hati yang keras akibat kosongnya dari kasih sayang, Allah telah mencela sebagian kaum maka Allah berfirman :

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ

Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras (QS Al-Baqoroh : 74)

Al-Baghowi berkata :

يَبِسَتْ وَجَفَّتْ، جَفَافُ الْقَلْبِ: خُرُوْجُ الرَّحْمَةِ وَاللِّيْنِ عَنْهُ

“Yaitu hati kalian kering, dan keringnya hati dengan keluarnya rahmat dan kelembutan darinya”

Dan hal ini merupakan tanda kesengsaraan, Nabi –’alaihis sholatu was salaam- bersabda :

لاَ تُنْزَعُ الرَّحْمَةُ إِلاَّ مِنْ شَقِيٍّ

“Tidaklah dicabut rahmat kecuali dari orang yang sengsara” (HR Abu Dawud)

Dan barangsiapa yang tidak mengasihi makhluk maka Allah tidak mengasihinya. Nabi –’alaihis sholatu was salaam- bersabda :

لاَ يَرْحَمُ اللهَ مَنْ لاَ يَرْحَمُ النَّاسَ

“Allah tidak mengasihi orang yang tidak mengasihi manusia” (HR Al-Bukhari)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingkari orang yang enggan melakukan sedikit dari dampak kasih sayang

قبَّل رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم الْحسن بن عَليّ وَعِنْده الْأَقْرَع بن حَابِس التَّمِيمِي جالسٌ، فَقَالَ الْأَقْرَع بن حَابِس: إِن لي عشرَة من الْوَلَد مَا قبلت مِنْهُم أحدا. فَنظر إِلَيْهِ رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم ثمَّ قَالَ: من لَا يرحم لَا يرحم

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencium Al-Hasan bin Ali, dan di sisi beliau ada Al-Aqro’ bin Habis At-Tamimi sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, “Aku memiliki sepuluh orang anak, tidak seorangpun yang aku cium”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun memandang kepadanya lalu berkata, “Barangsiapa yang tidak menyayangi maka tidak disayangi” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Ibnu Batthol rahimahullah berkata, “Dan mengasihi anak kecil, memeluknya, menciumnya, dan lembut kepadanya merupakan amalan yang diridoi oleh Allah, dan diberi ganjaran oleh Allah. Mencium anak kecil dan menggendongnya dan memperhatikannya termasuk sebab yang berhak untuk mendatangkan rahmat Allah”.

Orang yang paling utama untuk dikasihi adalah kedua orang tua, Allah berfirman ;

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan (QS Al-Isroo’ ; 24)

Dan anak yang terbaik adalah anak yang paling menyayangi kedua orangtuanya.

فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا

Dan Kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). (QS Al-Kahfi : 81)

          Saling mengasihi diantara kaum muslimin menjadikan mereka seperti tubuh yang satu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

تَرَى الْمُؤْمِنِيْنَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهْرِ وَالْحُمَّى

“Engkau melihat kaum mukminin dalam saling mengasihi diantara mereka, saling mencintai diantara mereka, saling lembut diantara mereka seperti satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain ikut sakit demam dan tidak bisa tidur” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Hewan-hewan juga syari’at telah mengkhususkan untuk dirahmati, Nabi ‘alaihis sholatu was salaam bersabda

وَالشَّاةُ إِنْ رَحِمْتَهَا رَحِمَكَ اللهُ

“Dan kambing jika engkau mengasihinya maka Allah akan mengasihimu” (HR Ahmad)

Dan seorang mukmin meramati orang kafir karena kehilangan petunjuk dan membencinya karena ia tidak beriman.

          Barangsiapa yang tergelincir kakinya hingga terjerumus dalam kemaksiatan maka ia berhak untuk mendapatkan kasih sayang dengan dinasehati dan didoakan hidayah baginya. Didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seorang yang telah meminum arak, maka Nabi berkata, “Pukullah ia”. Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu berkata, “Diantara kami ada yang memukulnya dengan tangannya, ada yang memukul dengan sendalnya, ada yang memukul dengan bajunya”. Tatkala orang tersebut pergi sebagian orang berkata, أَخْزَاكَ اللهُ “Semoga Allah menghinakanmu”, maka Rasulullah berkata :

لاَ تَقُوْلُوا هَكَذَا، لاَ تُعِيْنُوا عَلَيْهِ الشَّيْطَانَ، وَلَكِنْ قُوْلُوْ : رَحِمَكَ اللهُ

“Janganlah kalian berkata demikian !,  janganlah kalian membantu syaitan untuk (menjatuhkan)nya !, akan tetapi katakanlah ; “Semoga Allah merahmatimu” (HR Ahmad)

Dan yang paling pengasih adalah para rasul Allah, mereka berusaha untuk memberi hidayah kepada manusia, mereka menyeru kaumnya dengan menempuh berbagai macam jalan demi menyelamatkan kaumnya dari kebinasaan, mereka bersabar atas gangguan kaumnya dan mereka tidak terburu-buru untuk meminta Allah menurunkan adzab bagi kaumnya.

Adam ‘alaihis salam menangis tatkala melihat penghuni neraka dari keturunannya, Nabi ‘alaihis sholatu was salaam –dalam kisah mi’roj- bersabda :

قلت: يَا جِبْرِيل، من هَذَا؟ قَالَ: هَذَا آدم، وَهَذِه الأَسْوِدَةُ عَن يَمِينه وَعَن شِمَاله نَسَمُ بَنِيْهِ، فَأهل الْيَمين أهل الْجنَّة، والأسودةُ الَّتِي عَن شِمَاله أهل النَّار. فَإِذا نظر قبل يَمِينه ضحك، وَإِذا نظر قبل شِمَاله بَكَى

“Aku berkata : Ya Jibril, siapakah ini?”, ia berkata, “Ini adalah Adam, dan ini adalah jama’ah yang berada di sebelah kanannya, dan disebelah kirinya ruh-ruh keturunannya. Maka yang ada disebelah kanan adalah para penghuni surga, dan yang ada di sebelah kiri adalah penghuni neraka. Jika Adam melihat ke sebelah kanannya maka ia tertawa, dan jika ia melihat ke sebelah kirinya maka ia menangis” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dan Ibrahim ‘alaihis salam adalah seorang yang sangat belas kasih kepada kaumnya, beliau berkata kepada Robnya :

فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٣٦)

Maka Barangsiapa yang mengikutiku, maka Sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai Aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ibrahim : 36)

Karena kelembutan hatinya maka beliau sayang kepada kaum para nabi, beliau mendebat para malaikat agar tidak mengadzab kaum nabi Luth, berharap mereka akan beriman.

Nabi Musa ‘alaihis salaam pengasih kepada kedua wanita, maka beliaupun menimbakan air buat mereka berdua, dan ia termasuk para rasul ulul azmi, dan kasih sayangnya berlanjut hingga ke umat ini, beliau telah menganjurkan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam agar kembali kepada Allah dalam rangka meminta keringanan dalam sholat, sehingga Allah memberi keringanan dari 50 waktu menjadi 5 waktu.

          Nabi Yahya ‘alaihis salaam, dijadikan Allah sebagai pemilik belas kasih

وَحَنَانًا مِنْ لَدُنَّا وَزَكَاةً وَكَانَ تَقِيًّا

Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dan dosa). dan ia adalah seorang yang bertakwa (QS Maryam : 13)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

“Makna ayat adalah : Dan Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami dan sikap belas kasih kepada para hamba agar ia menyeru mereka kepada ketaatan kepada Rob mereka, serta ia mengamalkan amal sholeh dalam keikhlasan”

Nabi Isa ‘alaihis salam Allah menjadikannya berbakti kepada ibunya dan bukan orang angkuh yang tidak penyayang

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا (٣٢)

Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.(QS maryam : 32)

Ada seorang nabi yang dipukul oleh kaumnya hingga berdarah, dan iapun mengusap darah dari wajahnya seraya berkata :

رَبِّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ قَوْمٌ لاَ يَعْلَمُوْنَ

“Ya Allah ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

          Dan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah makhluk Allah yang paling penyayang, dan diantara nama-nama beliau adalah نَبِيُّ الرَّحْمَةِ  Nabi kasih sayang (HR An-Nasaai)

Tatkala dikatakan kepada beliau, “Berdoalah kecelakaan bagi kaum musyrikin”, maka beliau berkata :

إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

“Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai tukang laknat, akan tetapi aku diutus sebagai rahmat” (HR Muslim)

Allah mengutus beliau sebagai rahmat untuk seluruh makhluk

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS Al-Anbiyaa’ : 107)

Tatkalah kaumnya menyakitinya maka malaikat gunung berseru kepadanya dan memberi salam kepadanya dan berkata,

يَا مُحَمَّدُ، إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمُ الأَخْشَبَيْنِ

“Wahai Muhammad, jika kau mau maka aku akan menimpakan dua gunung kepada mereka” Maka Nabi ‘alaihis sholatu was salaam berkata :

«بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا»

“Bahkan aku berharap Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Allah mengutus beliau untuk seluruh alam, barangsiapa yang menerima rahmat dan mensyukuri nikmat ini maka ia akan bahagia di dunia dan di akhirat, dan barangsiapa yang menolaknya dan mengingkarinya maka ia telah rugi di dunia dan di akhirat.

Dan Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi kaum mukminin secara khusus

وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ

Dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu.” (QS At-Taubah : 61)

Beliau sangat penyayang terhadap umatnya.

أَن النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم تَلا قَول الله عز وَجل فِي إِبْرَاهِيم عَلَيْهِ السَّلَام: {رب إنَّهُنَّ أضللن كثيرا من النَّاس فَمن تَبِعنِي فَإِنَّهُ مني} وَقَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَام: {إِن تُعَذبهُمْ فَإِنَّهُم عِبَادك وَإِن تغْفر لَهُم فَإنَّك أَنْت الْعَزِيز الْحَكِيم} فَرفع يَدَيْهِ وَقَالَ: ” اللَّهُمَّ أمتِي أمتِي وَبكى. فَقَالَ الله عز وَجل: يَا جِبْرِيل، اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّد – وَرَبك أعلم – فسله مَا يبكيك؟ فَأَتَاهُ جِبْرِيل فَسَأَلَهُ، فَأخْبرهُ رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم بِمَا قَالَ – وَهُوَ أعلم – فَقَالَ الله: يَا جِبْرِيل، اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّد فَقل: إِنَّا سنرضيك فِي أمتك وَلَا نسوءك

Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca firman Allah tentang Ibrahim

رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٣٦)

Ya Tuhanku, Sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, Maka Barangsiapa yang mengikutiku, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golonganku, dan Barangsiapa yang mendurhakai Aku, Maka Sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ibrahim : 36)

Dan Isa ‘alaihis salam berkata :

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (١١٨)

Jika Engkau menyiksa mereka, Maka Sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, Maka Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Maidah : 118)

Maka Nabipun mengangkat kedua tangan beliau dan berkata : “Ya Allah, umatku…umatku…”, dan beliaupun menangis.

Maka Allah azza wa jalla berkata, “Ya Jibril, pergilah kepada Muhammad –dan Robmu lebih mengetahui-, maka tanyalah ia, apa yang telah membuatmu menangis?. Maka Jibrilpun mendatangi beliau ‘alaihis sholatu was salaam lalu bertanya kepadanya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam mengabarkan kepada Jibri dengan apa yang ia ucapkan, dan Allah lebih mengetahui. Maka Allah berkata, “Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad dan katakanlah : “Kami akan menjadikan engkau rido/senang pada umatmu dan Kami tidak akan membuatmu bersedih tentang umatmu” (HR Muslim)

An-Nawawi rahimahullah berkata :

وَهَذَا مِنْ أَرْجَى الْأَحَادِيْثِ لِهَذِهِ الأُمَّةِ أَوْ أَرْجَاهَا

“Dan ini adalah termasuk hadits-hadits yang paling memberikan pengharapan bagi umat ini, atau inilah hadits yang paling memberikan pengharapan”

Beliau adalah orang yang penyayang terhadap para sahabatnya. Sa’ad bin Ubadah mengeluhkan sakitnya kepada beliau, maka datanglah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama sebagian sahabatnya menjenguk beliau. Tatkala Nabi menemuinya Nabi mendapatinya dalam pelukan istrinya, maka beliau berkata, “Ia telah meninggal”, mereka berkata, “Tidak, wahai Rasulullah”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menangis. Maka tatkala mereka melihat tangisan Nabi shallallahu ‘alaih wasallam maka mereka juga menangis. (HR Al-Bukhari dan Muslim)

فَرُفِعَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّبِيُّ وَنَفْسُهُ تَتَقَعْقَعُ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، فَقَالَ سَعْدٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا هَذَا؟ فَقَالَ: «هَذِهِ رَحْمَةٌ جَعَلَهَا اللَّهُ فِي قُلُوبِ عِبَادِهِ»

Diangkat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seorang anak kecil dalam kondisi menggeliat merintih kesakitan, maka kedua mata beliaupun mengalirkan air mata. Maka Sa’ad berkata, “Ya Rasulullah, apakah tangisan ini?”, maka Nabi berkata, “Ini adalah rahmat yang Allah jadikan pada hati hamba-hambaNya” (HR Al-Bukhari dan Muslim) 

Dan Nabi ‘alaihis sholatu was salaam sangat penyayang kepada pada pemuda. Malik bin Al-Huwairits berkata :

أَتَيْنَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ، فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً، فَظَنَّ أَنَّا قَدِ اشْتَقْنَا أَهْلَنَا، فَسَأَلَنَا عَنْ مَنْ تَرَكْنَا مِنْ أَهْلِنَا، فَأَخْبَرْنَاهُ، وَكَانَ رَقِيقًا رَحِيمًا فَقَالَ: «ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ، فَأَقِيمُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ، وَمُرُوهُمْ وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ، ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ»

Kami mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi dan kami adalah para pemuda yang sebaya umur, maka kamipun tinggal bersama Nabi selama 20 hari, dan beliau menduga bahwa kami rindu dengan keluarga kami dan  beliau bertanya kepada kami tentang yang kami tinggalkan di keluarga kami. Maka kamipun mengabarkan kepada beliau, dan beliau adalah seorang yang penuh lembut dan kasih sayang. Lalu beliau berkata :

“Pulanglah kalian ke keluarga kalian, ajarilah mereka, dan sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat. Jika telah tiba waktu sholat maka hendaknya salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan kemudian yang paling tua diantara kalian yang menjadi imam” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Nabi pengasih kepada para wanita, beliau mempercepat sholat beliau agar tidak memberatkan ibu dan anaknya. Rasulullah ‘alaihis sholatu was salaam bersabda :

إِنِّي لأدخل فِي الصَّلَاة وَأَنا أُرِيد إطالتها، فَأَسْمع بكاء الصَّبِي، فأتجوز فِي صَلَاتي مِمَّا أعلم من شدَّة وجد أمه من بكائه

“Sungguh aku masuk dalam sholat dan aku ingin memanjangkan sholat, lalu aku mendengar tangisan anak kecil, maka akupun mempercepat sholatku karena aku tahu beratnya perasaan ibunya karena tangisan anaknya” (HR Al-Bukhari)

Beliau penyayang kepada anak-anak, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata :

مَا رَأَيْت أحدا أرْحم بالعيال من رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم

“Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih penyayang kepada anak-anak seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” (HR Muslim)

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ، فَجَاءَ الْحَسَنُ، وَالْحُسَيْنُ يَمْشِيَانِ وَيَعْثُرَانِ، فَنَزَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْمِنْبَرِ، فَحَمَلَهُمَا فَوَضَعَهُمَا بَيْنَ يَدَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: ” صَدَقَ اللهُ وَرَسُولُهُ: {إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ} [التغابن: 15] نَظَرْتُ إِلَى هَذَيْنِ الصَّبِيَّيْنِ يَمْشِيَانِ وَيَعْثُرَانِ، فَلَمْ أَصْبِرْ حَتَّى قَطَعْتُ حَدِيثِي وَرَفَعْتُهُمَا

Suatu hari Rasulullah sedang berkhutbah, lalu datanglah Al-Hasan dan Al-Husain radhiallahu ‘anhuma, keduanya berjalan dan terjatuh. Maka Nabipun turun dari mimbar lalu menggendong keduanya dan meletakannya di hadapan beliau, lalu beliau berkata : “Sungguh benar Allah dan RasulNya ((Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak kalian adalah fitnah)), aku melihat kedua anak ini berjalan dan terjatuh, maka aku tidak bisa sabar sampai aku memotong khutbahku dan mengangkat keduanya” (HR Ahmad)

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Dan ini adalah termasuk kesempurnaan kasih sayang Nabi dan kelembutan beliau kepada anak-anak, dan ini merupakan pelajaran dari beliau untuk umatnya tentang kasih sayang dan kelembutan kepada anak-anak”

Yang paling pengasih dari umat ini adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah memuji mereka dalam firmanNya

أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

Mereka keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (QS Al-Fath : 29)

Dan yang paling pengasih diantara para sahabat adalah Abu Bakar As-Shiddiq radhiallahu ‘anhu, Allah telah mengumpulkan luasnya ilmu dan kasih sayang pada beliau. Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :

هَكَذَا الرَّجُلُ كُلَّمَا اتَّسَعَ عِلْمُهُ اتَّسَعَتْ رَحْمَتُهُ

“Demikianlah seseorang, semakin luas ilmunya maka semakin luas pula kasih sayangnya”

Dan para ulama dan orang sholeh adalah para pemilik kasih sayang, mereka berusaha menyebarkan kebaikan dan petunjuk bagi manusia. Mereka tidak menzolimi orang menyelishi mereka dan tidak berbuat lalim kepadanya.

Dan kemudian dari pada itu wahai kaum muslimin, maka sesungguhnya rahmat dan adilnya syari’at ini meliputi musuh dan teman, dan balasan sesuai dengan perbuatan, barangsiapa yang berharap mendapatkan rahmat Allah maka hendaknya ia merahmati mkahlukNya, Rasulullah ‘alaihis sholatu was salaam bersabda:

إِنَّمَا يَرْحَمُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ

“Sesungguhnya hamba-hamba Allah yang dirahmatiNya adalah para penyayang” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Barangsiapa yang dirahmati Allah maka ia akan diliputi oleh kebahagiaan dan ia akan meraih kesudahan yang indah di dunia dan akhirat.

Aku berlindung kepada Allah dari Syaitan yang terkutuk

هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلا الإحْسَانُ

Tidak ada Balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (QS Ar-Rahman : 60)

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam al-Qur’an yang agung, dan semoga Alah menjadikan ayat dan al-Qur’an yang penuh hikmah bermanfaat bagiku dan bagi kalian. Aku menyampaikan ucapanku ini, dan aku memohon bagiku, bagi kalian, dan bagi seluruh kaum muslimin ampunan dari segala dosa, maka beristighfarlah kalian kepadaNya sesungguhnya Ia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah atas kebaikanNya, rasa syukur terpanjatkan bagiNya atas taufiq dan anugerahNya, dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tidak ada sekutu bagiNya dalam rangka mengagungkanNya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad adalah hamba dan RasulNya, semoga shalawat dan salam banyak dan bertambah-tambah tercurahkan kepada beliau dan para sahabat beliau.

Kaum muslimin sekalian, hati akan bersih dari kesombongan dan sikap merendahkan orang lain dengan cara mewujudkan sikap kasih sayang. Dan kasih sayang adalah pertengahan antara sikap keras dan kaku. Kelembutan dan kasih sayang, keduanya dicintai oleh Allah selama tidak menghilangkan agama Allah, seperti seruan untuk meninggalkan hukum had dengan alasan rahmat kepada para hamba.

Jika seorang hamba selamat dari fitnah syubhat dan syahwat maka ia memperoleh petunjuk dan rahmat, Allah berfirman mengabarkan tentang ashabul Kahfi :

فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا (١٠)

Lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan Kami, berikanlah rahmat kepada Kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi Kami petunjuk yang Lurus dalam urusan Kami (ini).” (QS Al-Kahfi : 10)

Dan diantara sebab untuk meraih rahmat adalah berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, sedekah, berbuat baik kepada orang-orang yang dalam kesulitan dan orang-orang yang sakit, menziarahi kuburan bagi para lelaki, dan memperbanyak bertilawah al-Qur’an al-‘Azim, dan memperbanyak dzikir kepada Allah.

 
          Kemudian ketahuilah, bahwasanya Allah telah memerintahkan kalian untuk bersholat dan bersalam kepada nabiNya, maka Allah berfirman dalam Al-Qur’an :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS Al-Ahzaab : 56)

Ya Allah curahkan sholawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, Ya Allah ridoilah para khulafau rosyidin yang mereka telah berhukum dengan kebenaran dan dengan al-hak mereka adil, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, dan ridoilah seluruh para sahabat, dan juga kami bersama mereka, dengan kedermananMu dan kebaikanMu wahai Yang Maha Baik.

Ya Allah muliakanlah Islam dan kaum muslimin, dan hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin, hancurkanlah musuh-musuh agama, dan jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan tenteram dan demikian juga seluruh negeri kaum muslimin.

Ya Allah perbaikilah kondisi kaum  muslimin di manapun mereka berada, ya Allah jadikanlah negeri mereka aman dan tenteram wahai Yan Maha Kuat dan Maha Perkasa.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka” (QS Al-Baqoroh : 201)

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Tuhan Kami, Kami telah Menganiaya diri Kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni Kami dan memberi rahmat kepada Kami, niscaya pastilah Kami Termasuk orang-orang yang merugi” (QS Al-A’roof : 23)

Ya Allah, Engkau adalah Allah, tidak ada sesembahan selainMu, Engkau Maha Kaya, dan kami faqir, turunkanlah hujan bagi kami dan janganlah jadikan kami putus asa, Ya Allah turunkanlah hujan bagi kami, Ya Allah turunkanlah hujan bagi kami, Ya Allah turunkanlah hujan bagi kami.

          Ya Allah berilah taufiq kepada Imam kami kepada petunjukMu, jadikanlah amal perbuatannya pada yang Kau ridoi, dan berilah taufik kepada seluruh pemimpin kaum muslimin untuk mengamalkan kitabMu, dan berhukum dengan syari’atMu wahai Yang Pemiliki kemuliaan dan kebaikan.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS An-Nahl : 90)

Ingatlah Allah Yang Maha Agung dan Mulia maka Ia akan mengingat kalian, bersyukurlah atas karunia dan anugrahNya maka Ia akan menambahkan bagi kalian, dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar, dan Allah mengetahui apa yang kalian lakukan.

Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda

sumber: https://firanda.com/1401-tebarlah-kasih-sayang-niscaya-engkau-disayang-allah.html

Musibah Datang Karena Maksiat dan Dosa

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)

Ali bin Abi Tholib –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan,

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)

Perkataan ‘Ali –radhiyallahu ‘anhu– di sini selaras dengan firman Allah Ta’ala,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)

Para ulama salaf pun mengatakan yang serupa dengan perkataan di atas.

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, “Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)

Ibnu Rajab Al Hambali –rahimahullah- mengatakan, “Tidaklah disandarkan suatu kejelekan (kerusakan) melainkan pada dosa karena semua musibah, itu semua disebabkan karena dosa.” (Latho’if Ma’arif, hal. 75)

Saatnya Merubah Diri 

Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap hamba merenungkan hal ini. Ketahuilah bahwa setiap musibah yang menimpa kita dan datang menghampiri negeri ini, itu semua disebabkan karena dosa dan maksiat yang kita perbuat. Betapa banyak kesyirikan merajalela di mana-mana, dengan bentuk tradisi ngalap berkah, memajang jimat untuk memperlancar bisnis dan karir, mendatangi kubur para wali untuk dijadikan perantara dalam berdoa. Juga kaum muslimin tidak bisa lepas dari tradisi yang membudaya yang berbau agama, namun sebenarnya tidak ada tuntunan sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masih banyak yang enggan meninggalkan tradisi perayaan kematian pada hari ke-7, 40, dst. Juga masih gemar dengan shalawatan yang berbau syirik semacam shalawat nariyah. Juga begitu banyak kaum muslimin gemar melakukan dosa besar. Kita dapat melihat bahwa masih banyak di sekitar kita yang shalatnya bolog-bolong. Padahal para ulama telah sepakat –sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qoyyim- bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa besar yang lainnya yaitu lebih besar dari dosa berzina, berjudi dan minum minuman keras. Na’udzu billah min dzalik. Begitu juga perzinaan dan perselingkuhan semakin merajalela di akhir-akhir zaman ini. Itulah berbagai dosa dan maksiat yang seringkali diterjang. Itu semua mengakibatkan berbagai nikmat lenyap dan musibah tidak kunjung hilang.

Agar berbagai nikmat tidak lenyap, agar terlepas dari berbagai bencana dan musibah yang tidak kunjung hilang, hendaklah setiap hamba memperbanyak taubat yang nashuh (yang sesungguhnya). Karena  dengan beralih kepada ketaatan dan amal sholeh, musibah tersebut akan hilang dan berbagai nikmat pun akan datang menghampiri.
Allah Ta’ala berfirman,

ذَلِكَ بِأَنَّ اللّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمْ وَأَنَّ اللّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni’mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri , dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Anfaal: 53)

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar Ro’du: 11)

Referensi:

Al Jawabul Kaafi Liman Sa-ala ‘anid Dawaa’ Asy Syafii, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah,cetakan kedua: 1427 H

Kaifa Nakuunu Minasy Syakirin, ‘Abdullah bin Sholeh Al Fauzan, Asy Syamilah

***

Disusun di saat Allah memberi nikmat dan kemudahan untuk menulis selepas shalat shubuh, 14 Jumadil Ula 1430 H

Di rumah mertua tercinta, Panggang, Gunung Kidul

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/302-musibah-datang-karena-maksiat-dan-dosa.html

Jangan Mengungkit-ungkit Pemberian

Di antara bentuk penyakit dan maksiat lisan (lidah) adalah mengungkit-ungkit pemberian kepada orang lain. Misalnya seseorang mengatakan kepada temannya, “Bukankah dulu aku yang telah memenuhi kebutuhanmu saat kamu kesusahan, mengapa sekarang melupakanku?” atau kalimat-kalimat semacam itu. 

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian batalkan (pahala) sedekah kalian dengan mengungkit-ungkit pemberian dan menyakiti (yang diberi).” (QS. Al-Baqarah [2]: 264)

Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala jelaskan bahwa perbuatan suka mengungkit-ungkit pemberian yang telah disedekahkan atau dihadiahkan kepada orang lain itu dapat membatalkan (menghapuskan) pahala. Dan perbuatan suka mengungkit-ungkit pemberian menunjukkan kurangnya iman orang tersebut. Karena dalam ayat di atas, Allah Ta’ala awali dengan “Wahai orang-orang yang beriman … “. Dengan kata lain, tuntutan atau konsekuensi dari keimanan kepada Allah Ta’ala adalah tidak melakukan hal yang demikian itu. 

Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنّاً وَلا أَذىً لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]: 262)

Diriwayatkan dari sahabat Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Tiga golongan manusia yang Allah tidak akan mengajak mereka bicara pada hari kiamat, tidak melihat mereka, tidak mensucikan dosanya dan mereka akan mendapatkan siksa yang pedih.” 

Abu Dzar berkata lagi, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulanginya sampai tiga kali. Abu Dzar berkata, “Mereka gagal dan rugi, siapakah mereka wahai Rasulullah?” 

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, 

الْمُسْبِلُ، وَالْمَنَّانُ، وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

“Orang yang melakukan isbal (memanjangkan sarungnya sampai melebihi mata kaki, pent.), orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian, dan orang yang (berusaha) membuat laku barang dagangan dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim no. 106)

Berdasarkan ayat dan hadits di atas, di antara bentuk dosa dan maksiat lisan adalah suka mengungkit-ungkit pemberian atau sedekah yang telah dia berikan kepada orang lain. Dan perbuatan ini termasuk dosa besar, karena terdapat ancaman khusus dari syariat. Ancaman pertama, dibatalkannya pahala (sebagaimana dalam ayat). Juga ancaman yang terdapat dalam hadits. Sehingga disimpulkan bahwa perbuatan tersebut adalah dosa besar sebagaimana kaidah yang disampaikan oleh para ulama bahwa setiap dosa yang memiliki ancaman khusus, maka digolongkan dalam dosa besar.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsamin rahimahullah mengatakan,

أن المن والأذى بالصدقة كبيرة من كبائر الذنوب؛ وجه ذلك: ترتيب العقوبة على الذنب يجعله من كبائر الذنوب

“Perbuatan mengungkit-ungkit pemberian dan menyakiti dalam melakukan sedekah (pemberian) [1] termasuk dalam dosa besar. Sisi pendalilannya, karena disebutkannya hukuman setelah menyebutkan dosa (tertentu) menjadikan dosa tersebut sebagai dosa besar.” (Tafsir Surat Al-Baqarah, Asy-Syamilah)

[Selesai]

***

@Puri Gardenia i10, 7 Syawal 1440/11 Juni 2019

Penulis: M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:

[1] Di antara bentuk perbuatan “menyakiti” dalam melakukan pemberian adalah memberikan sedekah dengan cara dilempar sehingga orang yang diberi sedekah tampak dihinakan.

sumber: https://muslim.or.id/47204-jangan-mengungkit-ungkit-pemberian.html

[Belajar Tauhid] 75. Dasar Dasar Keimanan 05

catatan: besok pukul 17.00WIB quis pekanan akan aktif, jangan lupa muraja’ah 5 materi terakhir yaa. ketuk kategori belajar tauhid yang ada di beranda untuk mengakses materi sebelumnya👍


Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari Hakikat Iman Bagian Kedua sbb:

  1. Iman dan Islam adalah dua nama yang pada keduanya terhimpun Ad-Diin (Agama Allâh  -‘Azza wa Jalla-) seluruhnya.
  2. Apabila Iman dan Islam disebut secara bersamaan dalam satu konteks, maka Iman ditafsirkan dengan keyakinan-keyakinan hati yang disyari’atkan yang pokoknya (rukunnya) ada enam, yaitu : keimanan kepada Allâh  -‘Azza wa Jalla-, Para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir, dan keimanan kepada taqdir. Sedangkan Islam ditafsirkan dengan syi’ar-syi’ar Ad-Diin (Agama Allâh  -‘Azza wa Jalla-) yang berupa amal-amal lahiriyah yang pokoknya (rukunnya) ada lima, yaitu : mengucapkan syahâdatain (dua kalimat syahadat), menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadhân, dan melaksanakan haji ke Baitullâh.
  3. Apabila Iman dan Islam disebut secara terpisah, maka Islam mencakup Iman, dan begitu juga kebalikannya Iman mencakup Islam. Dengan kata lain Iman dan Islam itu sama. Itu artinya, Iman dan Islam masing-masing dari keduanya memiliki makna khusus dan makna umum. Skemanya sebagai berikut :

IMAN/ISLAM _ [Makna Umum], meliputi :

  1. IMAN _ [Makna Khusus], pokoknya ada enam, yaitu : keimanan kepada Allâh   -‘Azza wa Jalla-, Para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir, dan keimanan kepada taqdir.
  2. ISLAM _ [Makna Khusus], pokoknya ada lima, yaitu : mengucapkan syahadatain (dua kalimat syahadat), menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadhan, dan melaksanakan haji ke Baitullâh.
  • Tidak ada keimanan tanpa keislaman, dan tidak ada keislaman tanpa keimanan.

selanjutnya kita akan mempelajari Rukun-Rukun Dan Cabang-Cabang Keimanan, ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran.

Link alternatif

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Pendidikan Agama Sejak Dini

Pendidikan agama sejak dini hendaklah sudah ada di rumah keluarga muslim. Didikan tersebut bukan menunggu dari pengajaran di sekolah atau di taman pembelajaran Al Qur’an (TPA). Namun sejak di rumah, orang tua sepatutnya sudah mendidik anak tentang akidah dan cara beribadah yang benar. Kalau memang orang tua tidak bisa mendidik demikian, hendaklah anak diarahkan ke pre-school atau sekolah yang Islami sehingga ia sudah punya bekal agama sejak kecil. Setiap orang tua tentu sangat menginginkan sekali anak penyejuk mata.

Dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah (13: 11) disebutkan, “Bapak dan ibu serta seorang wali dari anak hendaknya sudah mengajarkan sejak dini hal-hal yang diperlukan anak ketika ia baligh nanti. Hendaklah anak sudah diajarkan akidah yang benar mengenai keimanan kepada Allah, malaikat, Al Qur’an, Rasul dan hari akhir. Begitu pula hendaknya anak diajarkan ibadah yang benar. Anak semestinya diarahkan untuk mengerti shalat, puasa, thoharoh (bersuci) dan semacamnya.”

Perintah yang disebutkan di atas adalah pengamalan dari sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini.

Dari Amr bin Syu’aib, dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu ‘anhu, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

“Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun. Pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka“. (HR. Abu Daud no. 495. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Kembali dilanjutkan dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, “Hendaklah anak juga diperkenalkan haramnya zina dan liwath, juga diterangkan mengenai haramnya mencuri, meminum khomr (miras), haramnya dusta, ghibah dan maksiat semacam itu. Sebagaimana pula diajarkan bahwa jika sudah baligh (dewasa), maka sang anak akan dibebankan berbagai kewajiban. Dan diajarkan pula pada anak kapan ia disebut baligh.” (idem)

Perintah untuk mendidik anak di sini berdasarkan ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At Tahrim: 6). Disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir (7: 321), ‘Ali mengatakan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah, “Beritahukanlah adab dan ajarilah keluargamu.”

Di atas telah disebutkan tentang perintah mengajak anak untuk shalat. Di masa para sahabat, mereka juga mendidik anak-anak mereka untuk berpuasa. Mereka sengaja memberikan mainan pada anak-anak supaya sibuk bermain ketika mereka rasakan lapar. Tak tahunya, mereka terus sibuk bermain hingga waktu berbuka (waktu Maghrib) tiba.

Begitu pula dalam rangka mendidik anak, para sahabat dahulu mendahulukan anak-anak untuk menjadi imam ketika mereka telah banyak hafalan Al Qur’an.

Begitu pula Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendidik ‘Umar bin Abi Salamah adab makan yang benar. Beliau berkata pada ‘Umar,

يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

“Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah (bacalah bismillah) ketika makan. Makanlah dengan tangan kananmu. Makanlah yang ada di dekatmu.” (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022).

Praktek dari Ibnu ‘Abbas, ia sampai-sampai mengikat kaki muridnya yang masih belia yaitu ‘Ikrimah supaya muridnya tersebut bisa dengan mudah menghafal Al Qur’an dan hadits. Lihat bahasan ini di Fiqh Tarbiyatil Abna’ karya Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, hal. 86-87.

Semoga Allah menganugerahi kepada anak-anak kita sebagai penyejuk mata bagi orang tua. Mudah-mudahkan kita diberi taufik untuk mendidik mereka menjadi generasi yang lebih baik.

Hanya Allah yang memberi hidayah dan kemudahan.

Referensi:

Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait, juz ke-13.

Fiqh Tarbiyatil Abna’, Syaikh Muthofa bin Al ‘Adawi, terbitan Dar Ibnu Rojab, cetakan tahun 1423 H.

Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H.

—

Oleh Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Disusun di Warak, Panggang, Gunungkidul, @ Pesantren Darush Sholihin, dini hari, 8 Safar 1435 H

sumber: https://rumaysho.com/4959-pendidikan-agama-sejak-dini.html

Kemuliaan Seorang Hamba Terletak Pada Ibadahnya Kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Oleh: Syaikh Hudzaifi hafizhahullah

Sesungguhnya kemulian seorang hamba terletak pada ketaatannya menjalankan ibadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala ; Kekuatan seorang Muslim, terletak pada rasa tawakkalnya kepada Allâh Azza wa Jalla ; Rasa berkecukupannya, terletak pada keistiqamahannya berdoa memohon semua hajatnya kepada Allâh Azza wa Jalla ; Keselamatannya, terletak pada baiknya kwalitas shalat yang ditunaikan; Bagusnya kesudahan, terletak pada ketaqwaannya kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala ; Kelapangan dada atau kebahagiannya, terletak pada baktinya kepada orang tua, silaturrahmi, dan berbuat baik kepada makhluk. Ketenangan hatinya, terletak pada dzikirnya kepada Allâh Azza wa Jalla yang Maha Pemberi Nikmat. Keteraturan dan keistiqâmahan mereka, terletak pada ketaatannya menjalankan syariat dan meninggalkan yang diharamkan, seraya menyerahkan semua perkara kepada Sang Pencipta yang Maha Mengatur, dan menyelesaikan perkerjaan tepat waktu, tidak menunda dan bermalasan.

Sebaliknya, kerugian serta kehinaan seorang hamba, terletak pada kecondongan dan kecintaannya kepada dunia, lupa terhadap kehidupan akhirat, serta berpaling dan tidak melaksanakan ibadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala .

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ ﴿٧﴾ أُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharap pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan. [Yûnus/10:7-8].

Firman-Nya.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا ۚ إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ

“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang dosa.” [s-Sajadah/32:22].

Sungguh Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan banyak pelajaran pada kisah ummat-ummat terdahulu. Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah memberi mereka umur panjang, mengalirkan sungai-sungai buat mereka, memberi kemampuan sehingga bisa membangun istana; Mereka diberi kekuatan fisik, pendengaran, dan penglihatan. Allâh kokohkan mereka di muka bumi, dan memudahkan bagi mereka segala sebab, akan tetapi semua itu tidak bermanfaat bagi mereka.

Allâh Azza wa Jalla berfirman.

وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِنْ مَكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

“Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya. [al-Ahqâf/46:26].

Ketahuilah, bahwa semua kebaikan terkumpul pada ibadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Ibadah yang sesuai dengan Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibarengi rasa ikhlas serta cinta kepada Allâh dan Rasul-Nya. Seseorang tidak akan mendapatkan ridha Allâh Subhanahu wa Ta’ala , tidak akan masuk surga, dan tidak akan bahagia di dunia dan setelah meninggalnya, kecuali dengan ibadah kepada Allâh. Dan untuk ibadah inilah, Allâh Azza wa Jalla menciptakan makhluk-NyaBaca Juga   Adakah Isi Dan Kulit Dalam Ajaran Islam?

Salah satu bentuk kasih sayang Allâh kepada hamba-Nya dan kedermawanan-Nya yang luas adalah Allâh Azza wa Jalla mensyariatkan berbagai ibadah kepada semua hamba yang sudah baligh dan berakal sehat agar mereka bisa mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dengannya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan waktu-waktu yang pahala ibadah padanya berlipat ganda agar mereka memperbanyak kebaikan. Jikalau Allâh tidak menyampaikan, niscaya mereka tidak mengetahuinya. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “…serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. [al-Baqarah/2:151]

Allâh Azza wa Jalla memerintahkan mereka untuk mendekatkan diri dengan ibadah. Saat sebagian mereka tidak mampu melakukannya, maka Allâh membukakan pintu-pintu ketaatan lainnya. Allâh syariatkan ibadah yang sejenis dengan ibadah yang tidak mampu mereka lakukan, agar setiap hamba mendapatkan kemulian ketaatan dan pahala ibadah-ibadahnya. Seperti, seseorang yang tidak berjumpa dengan kedua orang tuanya, maka Allâh mensyariatkan kepadanya untuk berdoa, bersedekah, dan juga berhaji atas nama mereka berdua, kemudian menyambung silaturahmi mereka, memuliakan kawan-kawan mereka. Dan barang siapa yang berjumpa dengan kedua orang tuanya kemudian mereka meninggal dunia, maka ia tetap wajib berbakti kepada keduanya.

Begitu pula, orang yang tidak mampu bersedekah maka hendaklah ia bekerja untuk kemaslahatan pribadinya kemudian bersedekah dengan hasilnya. Dari Sa’id bin Abi Burdah, dari bapaknya dan dari kakeknya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ. قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَجِدْ ؟ قَالَ : يَعْتَمِلُ بِيَدَيْهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ. قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ ؟ قَالَ : يُعِينُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوفَ . قَالَ : قِيلَ لَهُ : أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ ؟ قَالَ : يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ أَوِ الْخَيْرِ. قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَفْعَلْ ؟ قَالَ : يُمْسِكُ عَنِ الشَّرِّ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ

“Wajib bagi setiap muslim bersedekah,” kemudian dikatakan kepada beliau: “Bagaimana seandainya ia tidak mampu?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaklah ia bekerja dengan kedua tangannya untuk kemaslahatannya, kemudian ia bersedekah,” dikatakan lagi kepada beliau, “Kalau ia masih belum mampu?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia bisa membantu orang yang membutuhkan.” Dikatakan lagi, “Bagaimana kalau masih belum mampu?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Dia bisa memerintahkan kepada yang ma’ruf atau kebaikan.” Ada yang berkata, “Bagaimana kalau ia tidak bisa melakukannya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia menahan diri dari keburukan. Itu adalah sedekah”. [Riwayat Muslim].

Sedangkan untuk mereka yang belum mampu berhaji dan berumrah, mereka masih bisa meraih pahala kedua ibadah besar itu dengan ibadah yang lain. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ صَلَّى الْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ، ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ، كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ»، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «تَامَّةٍ، تَامَّةٍ، تَامَّةٍ

“Barangsiapa shalat Shubuh secara berjamaah, kemudian ia duduk berdzikir kepada Allâh sampai terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat, maka dia mendapat pahala seperti pahala haji dan umrah” Perawi mengatakan, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sempurna, Sempurna, Sempurna!”Baca Juga   Manusia Senantiasa Berdampingan Dengan Fitnah

Juga bagi mereka yang belum mampu menunaikan ibadah haji, maka disyariatkan baginya puasa Arafah. Dalam hadits disebutkan bahwa puasa Arafah menghapus dosa, setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang. Disyariatkan juga baginya untuk berkurban, maka dengan ini ia telah menyamai jamaah haji di Arafah dan kurban. Allâh Azza wa Jalla juga mensyariatkan untuk taqarrub kepada-Nya dengan berbagai ibadah pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلًا خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu , beliau berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiada hari yang lebih Allâh cintai amal shalih padanya selain amalan pada hari-hari ini,” maksudnya sepuluh hari pada bulan Dzulhijjah. Perawi hadits ini mengatakan, ‘Para sahabat bertanya, ‘Tidak pula jihad, wahai Rasûlullâh?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak pula jihad fi sabilillâh, kecuali seorang laki-laki yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya kemudian ia tidak kembali dengannya sedikitpun.’ [HR. al-Bukhâri]

Pada hari-hari yang penuh keutamaan, diantaranya 10 hari pertama bulan Dzulhijjah nanti, dzikir merupakan amalan yang paling afdhal, dan ibadah yang paling mulia. Dulu, para salafush-shalih mengeraskan suara mereka untuk berdzikir kepada Allâh pada sepuluh hari bulan Dzulhijjah. Begitulah Umar bin Khaththab dan Abu Hurairah Radhiyallahu anhuma keluar ke pasar seraya bertakbir, kemudian para sahabat ikut bertakbir bersama mereka.

عن عبد الله بن بسر – رضي الله عنه – أنَّ رجلًا قَالَ: يَا رسولَ الله، إنَّ شَرَائِعَ الإسْلامِ قَدْ كَثُرَتْ عَليَّ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ قَالَ: لا يَزالُ لِسَانُكَ رَطبًا مِنْ ذِكْرِ الله

Dalam hadits Abdullah bin Yusr Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Ada seorang lelaki yang berkata, ‘Ya, Rasûlullâh! Sesungguhnya syariat Islam telah banyak, maka beritahukanlah kepadaku ibadah yang akan aku lakukan terus,” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah lisanmu senantiasa basah dengan dzikir kepada Allâh.” [HR. at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani] 
Adapun sebaik-baik dzikir ialah membaca al-Qur`ân al-Karim. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ﴿٤١﴾ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. [al-Ahzab/33:41-42].

Akhirnya, kita berdo’a kepada Allâh Azza wa Jalla , semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa memberikan kekuatan kepada kita semua untuk senantiasa beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla . Karena hanya dengan hidayah dan pertolongan dari-Nya kita bisa beribadah.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVII/1434H/2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

sumber: https://almanhaj.or.id/4146-kemuliaan-seorang-hamba-terletak-pada-ibadahnya-kepada-allah-subhanahu-wa-taala.html

Waspadai, Fenomena Istidraj Yang Dianggap Nikmat

Oleh: Abu Usamah al-Kadiri

Melihat kembali berbagai hal dalam keseharian kita pada zaman sekarang, dapat kita ketahui bahwa banyak sekali fenomena-fenomena janggal yang terjadi.Di antaranya ialah ukuran standar kebahagiaan dan kesuksesan yang diterapkan oleh kebanyakan manusia sekarang.

Banyak sekali sesuatu yang bersifat lahiriah dijadikan sebagai tolok ukur, tak terkecuali dalam permasalahan menilai sebuah perkara sebagai nikmat ataukah adzab.Padahal, tak semua bentuk kesenangan dan ‘kesuksesan’ yang nampak oleh mata juga berarti nikmat di sisi Allah ﷻ dan ridha.Karena di antara arti nikmat dan adzab yang nampak oleh mata, ternyata terdapat istidrajyang diketahui oleh orang-orang yang berilmu saja.

Makna istidraj

Istidraj, disebutkan oleh Imam ath-Thabari v\ dalam Tafsir-nya (13/287), “Dan asal makna istidraj adalah, tertipunya seseorang (yang durhaka) dengan kelembutan orang yang membiarkannya.Yaitu (seakan) terlihat orang yang memberikan sikap lembut terhadap pendurhaka(benar-benar) telah berbuat baik kepadanya, sampai pada akhirnya ia memberikan keburukan padanya.”

Jadi, istidraj adalah cara dari Allah ﷻ untuk menghukum seorang hamba yang durhaka secara perlahan. Setiap kali hamba tersebut berbuat dosa, maka Allah akan tambah ‘nikmat’-Nya, sehingga ia lupa untuk bertaubat. Dengan itu hamba yang durhaka tersebut perlahan-lahan didekatkan kepada siksa yang sebenarnya, hingga ketika telah sangat dekat, Allah ﷻ pun akantimpakan padanya adzab yang pedih secara tiba-tiba.(Lihat kembali dalam: QS. al-Qalam: 44-45)

Sayangnya, istidraj ini tidak hanya berlaku bagi orang-orang yang kafir semata.Bahkan ia pun berlaku bagi orang-orang muslim sebagaimana berlaku bagi orang-orang kafir. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat yang datang dari sahabat Uqbah bin Amir a\, dari Nabi ﷺ bersabda,

 (إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ، ثُمَّ تَلا رَسُولُ اللهِ صلىاللهعليهوسلم : ))فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ((

“Jika dirimu melihat Allah tengah memberi seorang hamba apa saja yang dia inginkan dari dunia lantaran maksiatnya, sesungguhnya itu hanyalah istidraj.” Kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman Allah ﷻ (artinya): Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.[QS. al-An’am: 44](HR. Ahmad 4/145 dan yang lainnya. Dinilai shahih karena banyak penguatnya oleh al-Albani dalam ash-Shahihah 1/700)

Ibnul Qayyim v\ menjelaskan (Madarij as-Salikin 1/171-172 [Syamilah]), “Membedakan antara nikmat dan ujian: Hendaknya dibedakan antara nikmat yang dapat dilihat kebaikan dan kelembutan (Allah ﷻ) di dalamnya serta dapat membantu dalam memperoleh kebahagiaannya yang abadi, dan antara nikmat yang dalamnya terdapat istidraj. Betapa banyak orang yang dijebak dalam istidraj dengan berbagai kenikmatan tanpa disadari, diuji dengan pujian orang-orang bodoh terhadapnya, serta tertipu oleh perbuatan Allah ﷻ yang selalu memenuhi kebutuhan dirinya dan menutupi aibnya!”

Salah kaprah, istidrajyang disangka nikmat

Sebagaimana disinggung di muka, bahwa banyak manusia yang salah kaprah menganggap istidraj sebagai sebuah nikmat dan kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepada seorang hamba. Nyatanya, istidraj itu banyak macamnya, di antaranya:

  1. Tertipu dengan kepintaran. Lihatlah seorang yang bernama Haman dan Qarun yang hidup di zaman Nabi Musa p\. Haman merupakan salah satu cendekiawan dan ilmuwan yang selalu dimintai pendapatnya oleh Fir’aun. Namun, keilmuannya tak memberikan manfaat, bahkan ia bersama Fir’aun sepakat untuk menentang dakwah Nabi Musa dengan cara membangun menara yang tinggi untuk membuktikan bahwa Allah ﷻ yang disembah oleh bani Isra’il dan Musa p\ tidaklah ada wujudnya. (Lihat: QS. al-Qashash: 38)
  2. Tertipu dengan harta dan kekayaan. Cukuplah sebagai pengingat kita bahwa Qarun diadzab oleh Allah ﷻ secara tiba-tiba karena tak dapat membedakan antara nikmat dan istidraj. Allah ﷻ berfirman (artinya):

Makakeluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, “Kecelakaan yang besarlah bagimu! Pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan tidaklah diperoleh pahalaitu, kecuali oleh orang-orang yang sabra.” Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya kedalam bumi.Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya dari adzab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu, berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa saja yang Dia kehendaki dari para hamba-Nya dan menyempitkannya. Kalua saja Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita, benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah).” (QS. al-Qashash: 79-82)

  1. Tertipu dengan kesehatan. Disebutkan bahwa Fir’aun tak pernah sakit. Pada zaman Rasulullah ﷺ hidup, ada seorang badui yang bangga karena dia tak pernah sakit, demam maupun pusing. Maka ketika orang itu pergi, Rasulullah ﷺmengatakan, “Barangsiapa yang mau melihat lelaki yang akan menjadi penghuni neraka, silakan melihat kepada orang ini.” (HR. Ahmad no. 8376, dihasankan oleh Syu’aib al-Arnaut sanadnya)
  2. Tertipu dengan kekuatan. Allah ﷻ mengisahkan tentang kaum ‘Ad yang terkenal dengan kekuatan mereka, namun mereka juga termasuk orang-orang yang sering menindas bangsa selainnya. Allah ﷻ berfirman (artinya): Adapun kaum ‘Ad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?!” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami.Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksa akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan. (QS. Fushshilat: 15-16)
  3. Tertipu dengan banyaknya anak dan keluarga. (Baca kisah pemilik kebun yang pongah lagi kafir hingga Allah ﷻhancurkan kebun yang ia miliki. QS. al-Kahfi ayat 32-43, serta kisah tiga orang bani Isra’il; si botak, si kusta, si buta, yang keluarga dan harta dua orang pertama dihancurkan oleh Allah ﷻ karena mereka tak lekas sadar telah terperangkap dalam istidraj)
  4. Tertipu dengan banyaknya pengikut dan selalu dielu-elukan. Bacalah surat al-‘Alaq ayat 6 hingga akhir. Niscaya kita akan menemukan ancaman Allah ﷻ kepada orang yang telah sombong dan merasa paling hebat saat dia menentang dakwah Rasulullah ﷺ di Makkah pada awal masa periode Islam. Benar, dialah Abu Jahal yang berkata, “Wahai Muhammad, dengan apa engkau mengancamku?! Padahal aku ini benar-benar orang yang paling banyak golongannya di lembah ini.” (Ar-Rahiq al-Makhtum: 96) Lalu Allah ﷻ menjawab dalam QS. al-‘Alaq ayat 15-18 (artinya),

“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya.(Yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya).Kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah.”

Adapun pada zaman kita sekarang, pernahkah kita mengalami hal-hal di atas?Diberi kenikmatan oleh Allah ﷻ namun nikmat tersebut tak dapat membantu kita untuk dapat bersyukur dan taat terhadap perintah-Nya.Bertambah kaya, namun semakin lupa dengan Allah ﷻ dan pelit bersedekah. Bertambah kuasa, akan tetapi bersamaan dengan itu juga semakin zalim. Semakin pintar, namun semakin pula merendahkan orang lain dan selalu menggunakan ilmunya untuk membela diri dan bersilat lidah demi kepentingan pribadi. Dan seterusnya.

Jika benar, maka berhati-hatilah, bahwa itu semua adalah bentuk istidraj yang sangat berbahaya, walaupun banyak orang menyangka sebagai nikmat, karamah serta kemuliaan yang Allah ﷻ berikan atas dasar cinta dan ridha.

Sebuah renungan

Saudaraku, tak selamanya yang enak-enak itu adalah nikmat yang diridhai oleh Allah ﷻ dan balasan bagi kebaikan seorang hamba yang diridhai pula. Lihat saja dampak dari sebuah nikmat atau ujian terhadap diri seseorang. Jika ia berdampak baik, maka itu adalah sebuah kebaikan dari Allah ﷻ, walaupun dilihat jelek oleh umumnya manusia. Sebaliknya, jika ia malah berdampak jelek, sesungguhnya itu adalah istidraj yang sebentar lagi akan mengantarkan kepada kebinasaan.

Mari coba kita renungkan sebuah riwayat dari Abdullah bin Mughaffal a\ di bawah berikut:

أَنَّ رَجُلاً لَقِيَ امْرَأَةً كَانَتْ بَغِيًّا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَجَعَلَ يُلاعِبُهَا حَتَّى بَسَطَ يَدَهُ إِلَيْهَا، فَقَالَتْ الْمَرْأَةُ: مَهْ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ ذَهَبَ بِالْجَاهِلِيَّةِ وَجَاءَنَا بِالإِسْلامِ، فَوَلَّى الرَّجُلُ فَأَصَابَ وَجْهَهُ الْحَائِطُ فَشَجَّهُ ثُمَّ أَتَى النَّبِيَّ صلىاللهُعليهوسلم فَأَخْبَرَهُفَقَالَ: (أَنْتَ عَبْدٌ أَرَادَ اللهُ بِكَ خَيْرًا، إِذَا أَرَادَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعَبْدٍ خَيْرًا، عَجَّلَ لَهُ عُقُوبَةَ ذَنْبِهِ، وَإِذَا أَرَادَ بِعَبْدٍ شَرًّا، أَمْسَكَ عَلَيْهِ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُ عَيْرٌ)

“Ada seorang lelaki yang bertemu dengan satu wanita nakal pada zaman jahiliah. Lelaki itu pun segera merayunya hingga tangannya terbentang untuk menjamahnya. Wanita itu lantas berkata, ‘Apa-apaan ini?!Sesungguhnya Allah Ta’ala sudah menghapus masa jahiliah dan menggantinya dengan Islam.’Lelaki itu langsung berbalik pergi, lalu wajahnya menabrak tembok hingga robek. Kemudian ia mendatangi Nabi ﷺ dan mengabari beliau kisahnya. Maka Nabi ﷺ bersabda, ‘Engkau adalah seorang hamba yang diinginkan kebaikan bagimu. Jika Allah berkehendak baik kepada hamba-Nya, Dia akan menyegerakan hukuman dari dosa seorang hamba. Namun jika Dia berkehendak jelek terhadap seorang hamba, Allah biarkan dia dan dosanya hingga dibalas secara penuh dengan sebab dosanya kelak pada hari kiamat, seakan-akan itu adalah gunung ‘Air (gunung di Madinah).’” (HR. Ahmad no. 16852, IbnuHibbanno. 2900. Al-Albani berkata, bahwa hadits ini shahih secara marfu’. Syaikh Syu’aib al-Arnaut juga menyebutkan, bahwa riwayat Imam Ahmad di atas adalah shahih lighairihi)

Wallahu a’lam.


[1] Pembahasan ini dirangkum dari:

sumber: https://artikel.alfurqongresik.com/waspadai-fenomena-istidraj-yang-dianggap-nikmat/

Akibat Mencari Ridho Manusia

Di antara rasa takut yang tercela adalah jika sampai rasa takut membuat seseorang lebih mendahulukan ridho manusia dalam keadaan membuat Allah murka. Artinya yang ia cari asal manusia senang dan ridho dengan dirinya walau ketika itu melanggar aturan Allah. Ia pun sudah tahu kalau itu salah. Rasa takut semacam ini juga mengurangi tauhid seseorang, di samping akan mendapatkan akibat buruk nantinya. Walau manusia awalnya suka, Allah bisa membolak-balikkan hati mereka menjadi benci nantinya. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari hadits ‘Aisyah berikut ini. 

Dalam hadits disebutkan,

عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رضى الله عنها أَنِ اكْتُبِى إِلَىَّ كِتَابًا تُوصِينِى فِيهِ وَلاَ تُكْثِرِى عَلَىَّ. فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها إِلَى مُعَاوِيَةَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ »

Dari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Mu’awiyah pernah menuliskan surat pada ‘Aisyah -Ummul Mukminin- radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata, “Tuliskanlah padaku suatu nasehat untuk dan jangan engkau perbanyak.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menuliskan pada Mu’awiyah, “Salamun ‘alaikum (keselamatan semoga tercurahkan untukmu). Amma ba’du. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridho manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dalam lafazh Ibnu Hibban disebutkan,

مَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رضي الله عنه وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ ، وَمَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

“Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan meridhoinya dan Allah akan membuat manusia yang meridhoinya. Barangsiapa yang mencari ridho manusia dan membuat Allah murka, maka Allah akan murka padanya dan membuat manusia pun ikut murka.”

Sebagaimana keterangan dalam Tuhfatul Ahwadzi (7: 82), maksud hadits “Allah akan cukupkan dia dari beban manusia” adalah Allah akan menjadikan dia sebagai golongan Allah dan Allah tidak mungkin menyengsarakan siapa pun yang bersandar pada-Nya. Dan golongan Allah (hizb Allah), itulah yang bahagia. Sedangkan maksud “Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia” adalah Allah akan menjadikan manusia menguasainya hingga menyakiti dan berbuat zholim padanya.

Beberapa faedah dari hadits ‘Aisyah di atas:

1- Wajib takut pada Allah dan mendahulukan ridho Allah daripada ridho manusia.

2- Hadits tersebut menunjukkan akibat dari orang yang mendahulukan mencari ridho manusia daripada ridho Allah.

3- Wajib tawakkal dan bersandar pada Allah.

4- Akibat yang baik bagi orang yang mendahulukan ridho Allah walau membuat manusia tidak suka dan akibat buruk bagi yang mendahulukan ridho manusia dan ketika itu Allah murka.

5- Hati setiap insan dalam genggaman, Allah yang dapat membolak-balikkan sekehendak Dia. (Lihat Al Mulakhosh fii Syarh Kitab Tauhid, Syaikh Sholih Al Fauzan, hal. 267).

Semoga Allah memberi taufik pada kita untuk selalu mengedepankan ridho Allah daripada ridho manusia. Wallahul muwaffiq.

—

Faedah di sore hari @ Kamar 201, Mabna 27, Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh-KSA, 30 Shafar 1434 H

sumber: https://rumaysho.com/3099-akibat-mencari-ridho-manusia.html

[Belajar Tauhid] 74. Dasar Dasar Keimanan 04

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari Hakikat Iman Bagian Pertama sbb:

  1. Diantara sifat-sifat orang-orang beriman yang jujur keimanannya adalah : hatinya bergetar ketika disebut nama Allâh  -‘Azza wa Jalla-, imannya bertambah ketika mendengar ayat-ayat Allâh  -‘Azza wa Jalla-, menegakkan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki-Nya dijalan Allâh  -‘Azza wa Jalla-.
  2. Allâh  -‘Azza wa Jalla- menjajikan derajat yang tinggi disisi-Nya bagi orang-orang jujur keimanannya, juga menjanjikan ampunan-Nya dan rezeki terbaik disis-Nya.
  3. Ketika mensifati hamba-hamba-Nya yang jujur keimannya dengan menyebutkan sebagian amalan-amalan mereka, Allâh  -‘Azza wa Jalla- menyebutkan amalan-amalan hati dan amalan-amalan zhahir mereka sebagi wujud keimanan. Itu artinya amalan zhahir merupakan bagian keimanan sekaligus buah dari keimanan hati.
  4. Keimanan itu bertambah dengan bertambahnya amal kebajikan dan pembenaran hati. Sebaliknya berkurang dengan berkurangnya amalan dan pembenaran.

selanjutnya kita akan mempelajari Hakikat Iman Bagian Kedua, ketuk gambah dibawah untuk memulai pelajaran.

Link alternatif

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Hukum Jual Beli ketika Shalat Jumat

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ashalatu was salaamu ‘ala rasulillah sayyidil mursalin,

Pembaca yang budiman, kita ketahui bersama bahwa shalat Jum’at adalah ibadah yang agung, yang diwajibkan bagi sebagian kaum Muslimin. Oleh karena itu dalam artikel ini akan kita bahas bagaimana hukum berjual-beli ketika shalat Jum’at sedang dilangsungkan.

Orang-orang yang diwajibkan shalat Jum’at

Shalat Jum’at hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap Muslim yang berakal, kecuali :
1. wanita
2. budak
3. anak kecil
4. orang yang sakit. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الجمعةُ حقٌّ واجبٌ على كلِّ مسلمٍ فبجماعةٍ إلاَّ أربعةً عبدٌ مملوكٌ أوِ امرأةٌ أو صبيٌّ أو مريضٌ

“Shalat Jum’at adalah wajib bagi setiap Muslim dengan berjama’ah kecuali empat orang: hamba sahaya, wanita, anak kecil, orang sakit” (HR. Abu Daud no. 1067, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

5. Musafir

Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu mengatakan:

ليس على مسافِرٍ جمعَةٌ

“Tidak ada kewajiban shalat Jum’at bagi musafir” (HR. Ad Daruquthni 2/111, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’, no. 5404).

6. Semua orang yang memiliki kesulitan menghadiri shalat jama’ah di masjid
baik karena hujan, badai, kondisi mencekam, atau semacamnya. Berdasarkan keumuman hadits:

Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma:

كَانَ يَأْمُرُ مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ ، ثُمَّ يَقُولُ عَلَى إِثْرِهِ ‏‏: ” أَلَا صَلُّوا فِي ‏‏الرِّحَالِ ‏” فِي اللَّيْلَةِ الْبَارِدَةِ أَوْ الْمَطِيرَةِ فِي السَّفَرِ

“Dahulu Nabi memerintahkan muadzin adzan lalu di akhirnya ditambahkan lafadz /shalluu fii rihaalikum/ (shalatlah di rumah-rumah kalian) ketika malam sangat dingin atau hujan saat safar” (HR. Bukhari no. 616, Muslim no. 699).

Hukum jual-beli ketika shalat Jum’at

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum’at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. Al-Jumu’ah: 9).

Ayat ini dengan jelas melarang jual-beli ketika shalat Jum’at bagi orang yang diwajibkan shalat Jum’at. As Sa’di dalam Tafsir-nya mengatakan:

أي: اتركوا البيع، إذا نودي للصلاة، وامضوا إليها

“maksudnya tinggalkan jual-beli ketika adzan dikumandangkan, dan hendaknya pergi menuju shalat” (Taisir Karimirrahman, 825).

Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya mengatakan:

اتفق العلماء رضي الله عنهم على تحريم البيع بعد النداء الثاني

“Para ulama radhiallahu’anhum bersepakat haramnya jual-beli setelah adzan yang kedua”

Yaitu jika berpegang pada pendapat bahwa adzan Jum’at boleh dua kali. Adapun jika adzan Jum’at hanya sekali maka ketika adzan itu sudah tidak boleh berjual-beli. Ibnu Qudamah mengatakan:

والنداء الذي كان على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم هو النداء عَقِيْب جلوس الإمام على المنبر ، فتعلق الحكم به دون غيره . ولا فرق بين أن يكون ذلك قبل الزوال أو بعده

“Adzan (shalat Jum’at) yang ada di zaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam hanyalah adzan setelah imam duduk di mimbar. Maka larangan jual-beli ini dikaitkan pada adzan tersebut bukan adzan yang lainnya. Dan tidak ada bedanya apakah itu sebelum zawal ataukah sesudah zawal” (Al-Mughni, 2/145).

Ringkasnya, ketika imam sudah naik mimbar lalu setelah itu dikumandangakan adzan maka berlakulah larangan jual-beli ketika itu.

Sahkah akad jual-belinya?

Ketika orang yang diwajibkan shalat Jum’at melakukan akad jual-beli, setelah khatib naik mimbar dan adzan, sahkah akadnya?

Ulama berbda pendapat dalam masalah ini dalam dua pendapat:

Pendapat pertama, akadnya sah. Ini pendapat Hanafiyah dan Syafi’iyyah. Karena larangan jual-beli di sini bukan pada dzat akadnya namun karena sebab lain yaitu bisa memalingkan orang dari shalat Jum’at.

Pendapat kedua, tidak sah akadnya, dengan dalil surat Al Jumu’ah ayat 9. Secara eksplisit, ayat tersebut menunjukkan tidak sahnya akad menurut mereka. Ini merupakan pendapat Malikiyyah dan Hanabilah.

Wallahu a’lam, yang kami pandang lebih kuat dalam hal ini adalah pendapat kedua. Karena larangan berjual-beli dalam hal ini adalah maani’ (penghalang) untuk sempurnanya akad. Sehingga akad tidak sah dengan adanya penghalang. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan:

الصحيح من العقود ما ترتبت اثاره على وجوده كترتب الملك على عقد البيع مثلا . ولا يكون الشيء صحيحا إلا بتمام شروطه و انتفاء موانعه

“Akad yang sah adalah yang bisa membuat berlakunya konsekuensi dari akad tersebut. Seperti konsekuensi kepemilikan dalam akad jual-beli misalnya. Dan akad tidak disebut sah kecuali dengan terpenuhinya syarat-syarat dan hilangnya mawani’ (penghalang)” (Al Ushul min ‘Ilmil Ushul, 13).

Oleh karena itu Syaikh Ibnu Al Utsaimin dalam masalah ini mengatakan:

إن البيع بعد نداء الجمعة الثاني حرام وباطل أيضا ، وعليه فلا يترتب عليه آثار البيع ، فلا يجوز للمشتري التصرف في المبيع ؛ لأنه لم يملكه ، ولا للبائع أن يتصرف في الثمن المعين ؛ لأنه لم يملكه ، وهذه مسألة خطيرة ؛ لأن بعض الناس ربما يتبايعون بعد نداء الجمعة الثاني ثم يأخذونه على أنه ملك لهم

“Jual-beli setelah adzan jum’at yang kedua hukumnya haram dan juga batal (tidak sah). Oleh karena itu semua konsekuensi dari jual-beli tidak terjadi. Maka tidak boleh seorang yang membeli barang ketika itu menjual barangnya, karena ia belum memilikinya. Dan tidak boleh juga yang menjual ketika itu mentransaksikan uang hasil penjualannya, karena ia tidak memilikinya. Ini masalah yang urgen, karena sebagian orang saling berjual-beli setelah adzan kedua dan mereka merasa uang dan barang (hasil jual-beli tadi) adalah miliknya” (Syarhul Mumthi’, 8/52).

Bolehkah orang-orang yang tidak wajib shalat Jum’at berjual beli

Dari penjelasan di atas kita ketahui bahwasanya yang terkena larangan jual-beli adalah orang-orang yang diwajibkan shalat Jum’at. Maka mafhumnya, orang-orang yang tidak wajib shalat Jum’at tidak terlarang melakukan jual-beli. Dengan syarat, kedua pihak yang melakukan jual-beli adalah orang-orang yang tidak diwajibkan shalat Jum’at. Seperti jual beli antara sesama wanita, antara wanita dengan musafir, antara anak kecil dengan wanita, dan semisalnya. Ibnu Qudamah mengatakan:

وتحريم البيع , ووجوب السعي , يختص بالمخاطبين بالجمعة , فأما غيرهم من النساء والصبيان والمسافرين , فلا يثبت في حقه ذلك ; فإن الله تعالى إنما نهى عن البيع من أمره بالسعي , فغير المخاطب بالسعي لا يتناوله النهي , ولأن تحريم البيع معلل بما يحصل به من الاشتغال عن الجمعة , وهذا معدوم في حقهم . وإن كان أحد المتبايعين مخاطبا والآخر غير مخاطب , حرم في حق المخاطب , وكره في حق غيره ; لما فيه من الإعانة على الإثم

“Pengharaman jual-beli dan wajibnya sa’yu (pergi menuju shalat), ini khusus bagi orang-orang yang diwajibkan shalat Jum’at. Adapun yang selain mereka, baik wanita, anak kecil, musafir, maka larangan tidak berlaku. Karena yang Allah larang untuk berjual-beli adalah orang-orang yang Allah perintahkan untuk pergi menuju shalat. Adapun yang tidak diperintahkan shalat maka tidak tercakup dalam larangan. Kemudian, larangan berjual-beli juga alasannya adalah karena ia dapat menyibukkan dari shalat Jum’at. Dan alasan ini tidak ada pada orang-orang yang tidak wajib shalat Jum’at. Adapun jika salah satu pihak yang bertransaksi adalah orang yang wajib shalat Jum’at sedangkan pihak yang lain tidak wajib. Maka hukumnya haram bagi orang yang diwajibkan tersebut. Dan makruh bagi yang tidak waijb karena terdapat unsur tolong-menolong dalam dosa” (Al Mughni, 2/73).

Maka hendaknya orang-orang yang tidak diwajibkan shalat Jum’at mereka memberi nasihat kepada orang-orang yang lalai dari shalat Jum’at padahal wajib atas mereka. Dan jangan membantu mereka dalam kelalaian dengan bertransaksi jual-beli dengan mereka.

Demikian paparan singkat mengenai jual-beli ketika shalat Jum’at, semoga bermanfaat.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

***

Penulis: Yulian Purnama

sumber: https://muslim.or.id/35842-hukum-jual-beli-ketika-shalat-jumat.html