Jangan Pernah Engkau Remehkan Sekecil Apapun Kebaikan

Jika engkau melihat seekor semut terpeleset dan jatuh di air, maka angkat dan tolonglah ia…barangkali itu menjadi penyebab ampunan bagimu di akherat.

Jika engkau menjumpai batu kecil di jalan yang bisa menggangu jalannya kaum muslimin, maka singkirkanlah ia, barangkali itu menjadi penyebab dimudahkannya jalanmu menuju syurga.

Jika engkau menjumpai anak ayam terpisah dari induknya, maka ambil dan susulkan ia dengan induknya, semoga itu menjadi penyebab Allah mengumpulkan dirimu dan keluargamu di surga.

Jika engkau melihat orang tua membutuhkan tumpangan, maka antarkanlah ia…barangkali itu mejadi sebab kelapangan rezekimu di dunia.

Jika engkau bukanlah seorang yang mengusai banyak ilmu agama, maka ajarkanlah alif ba’ ta’ kepada anak2 mu, setidaknya itu menjadi amal jariyah untukmu..yang tak akan terputus pahalanya meski engkau berada di alam kuburmu.

JIKA ENGKAU TIDAK BISA BERBUAT KEBAIKAN SAMA SEKALI, MAKA TAHANLAH TANGAN DAN LISANMU DARI MENYAKITI….SETIDAKNYA ITU MENJADI SEDEKAH UNTUK DIRIMU.

Al-Imam Ibnul Mubarak Rahimahullah berkata:

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ

“Berapa banyak amalan kecil, akan tetapi menjadi besar karena niat pelakunya. Dan berapa banyak amalan besar, menjadi kecil  karena niat pelakunya”

Jangan pernah meremehkan kebaikan, bisa jadi seseorang itu masuk surga bukan karena puasa sunnahnya, bukan karena panjang shalat malamnya tapi bisa jadi karena akhlak baiknya dan sabarnya ia ketika musibah datang melanda

Rasulullah bersabda:

« لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ ».

“Jangan sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun (hanya) kamu bertemu dengan saudaramu dalam keadaan tersenyum.” HR. Muslim.

Riyadh, 20-01-1437 H
Abu Abdillah Fadlan Fahamsyah

sumber: http://www.salamdakwah.com/artikel/3082-jangan-pernah-engkau-remehkan-sekecil-apapun-kebaikan

Kematian yang Kembali Menyadarkan Kita

Belia, muda, maupun tua tidak ada yang tahu, mereka pun bisa merasakan kematian. Setahun yang silam, kita barangkali melihat saudara kita dalam keadaan sehat bugar, ia pun masih muda dan kuat. Namun hari ini ternyata ia telah pergi meninggalkan kita. Kita pun tahu, kita tidak tahu kapan maut menjemput kita. Entah besok, entah lusa, entah kapan. Namun kematian sobat kita, itu sudah cukup sebagai pengingat, penyadar dari kelalaian kita.  Bahwa kita pun akan sama dengannya, akan kembali pada Allah. Dunia akan kita tinggalkan di belakang. Dunia hanya sebagai lahan mencari bekal. Alam akhiratlah tempat akhir kita. 

Sungguh kematian dari orang sekeliling kita banyak menyadarkan kita. Oleh karenanya, kita diperingatkan untuk banyak-banyak mengingat mati. Dan faedahnya amat banyak. Kami mengutarakan beberapa di antaranya kali ini.

Dianjurkan untuk mengingat mati dan mempersiapkan diri menghadap kematian …

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan” (HR. An Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani). Yang dimaksud adalah kematian. Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).

Wahai diri ini yang lalai akan kematian, ingatlah faedah mengingat kematian …

[1] Mengingat kematian adalah termasuk ibadah tersendiri, dengan mengingatnya saja seseorang telah mendapatkan ganjaran karena inilah yang diperintahkan oleh suri tauladan kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[2] Mengingat kematian membantu kita dalam khusyu’ dalam shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اذكرِ الموتَ فى صلاتِك فإنَّ الرجلَ إذا ذكر الموتَ فى صلاتِهِ فَحَرِىٌّ أن يحسنَ صلاتَه وصلِّ صلاةَ رجلٍ لا يظن أنه يصلى صلاةً غيرَها وإياك وكلَّ أمرٍ يعتذرُ منه

Ingatlah kematian dalam shalatmu karena jika seseorang mengingat mati dalam shalatnya, maka ia akan memperbagus shalatnya. Shalatlah seperti shalat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan shalat yang lainnya. Hati-hatilah dengan perkara yang kelak malah engkau meminta udzur (meralatnya) (karena tidak bisa memenuhinya).” (HR. Ad Dailami dalam musnad Al Firdaus. Hadits ini hasan sebagaimana kata Syaikh Al Albani)

[3] Mengingat kematian menjadikan seseorang semakin mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah. Karena barangsiapa mengetahui bahwa ia akan menjadi mayit kelak, ia pasti akan berjumpa dengan Allah. Jika tahu bahwa ia akan berjumpa Allah kelak padahal ia akan ditanya tentang amalnya didunia, maka ia pasti akan mempersiapkan jawaban.

[4] Mengingat kematian akan membuat seseorang memperbaiki hidupnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فإنه ما ذكره أحد فى ضيق من العيش إلا وسعه عليه ولا فى سعة إلا ضيقه عليه

Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehiupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al Albani).

[5] Mengingat kematian membuat kita tidak berlaku zholim. Allah Ta’ala berfirman,

أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ

Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al Muthoffifin: 4). Ayat ini dimaksudkan untuk orang-orang yang berlaku zholim dengan berbuat curang ketika menakar. Seandainya mereka tahu bahwa besok ada hari berbangkit dan akan dihisab satu per satu, tentu mereka tidak akan berbuat zholim seperti itu.

Nasehat ulama ….

Abu Darda’ berkata, “Jika mengingat mati, maka anggaplah dirimu akan seperti orang-orang yang telah meninggalkanmu.”

Yang menakjubkan pula dari Ar Robi’ bin Khutsaim …

Ia pernah menggali kubur di rumahnya. Jika dirinya dalam kotor (penuh dosa), ia bergegas memasuki lubang tersebut, berbaring dan berdiam di sana. Lalu ia membaca firman Allah Ta’ala,

رَبِّ ارْجِعُونِ  لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

(Ketika datang kematian pada seseorang, lalu ia berkata): Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al Mu’minuun: 99-100). Ia pun terus mengulanginya dan ia berkata pada dirinya, “Wahai Robi’, mungkinkah engkau kembali (jika telah mati)! Beramallah …

***

Tersadarkan diri ini setelah mendengar kematian sobat kami (Hangga Harsa) yang juga merupakan kakak tertua dari sahabat kami yang meninggal dunia di hari Jum’at hari penuh barokah, 5 Dzulqo’dah 1433 H.

Semoga keadaan mati beliau adalah mati yang husnul khotimah karena diwafatkan pada hari yang penuh barokah yaitu hari Jum’at. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, merahmatinya, melindunginya, memaafkan segala kesalahannya, memuliakan tempat kembalinya, meluaskan alam kuburnya, membersihkan ia dengan air, salju, dan air yang sejuk, semoga Allah membersihkan ia dari segala kesalahan sebagaimana Dia telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, semoga Allah mengganti rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta mengganti keluarganya -di dunia- dengan keluarga yang lebih baik, dan istri di dunia dengan istri yang lebih baik, semoga Allah memasukkan ia ke dalam surga-Nya dan melindungi ia dari siksa kubur dan siksa api neraka.

Sumber bacaanAhkamul Janaiz Fiqhu Tajhizul Mayyit, Kholid Hannuw, terbitan Dar Al ‘Alamiyah, cetakan pertama, 1432 H, hal. 9-13

@ Pagi hari penuh barokah, Sakan 27 Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh, KSA, 6 Dzulqo’dah 1433 H

Sumber https://rumaysho.com/2822-kematian-yang-kembali-menyadarkan-kita.html

MAKSUD 40 HARI DALAM MENCUKUR KUMIS, MEMOTONG KUKU DAN MENCUKUR BULU KEMALUAN

Sebagian ulama memberikan kelonggaran dalam menentukan hari memotong kuku. Seseorang disyariatkan untuk memotong kuku kapanpun dia membutuhkan. Hanya saja tidak boleh dibiarkan sampai melebihi 40 hari. Ini adalah pendapat Imam An-Nawawi dan Al-Hafizh Ibnu Hajar. Dasarnya adalah hadis dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Beliau mengatakan:
 
وَقَّتَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ الأَظْفَارِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ وَنَتْفِ الإِبْطِ أَنْ لاَ نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ يَوْمًا. وَقَالَ مَرَّةً أُخْرَى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
 
“Rasulullah ﷺ memberikan batasan waktu kepada kami untuk memotong kumis, memotong kuku, mencabuti bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan, agar tidak dibiarkan lebih dari EMPAT PULUH HARI.” [HR. Muslim, Abu Daud, dan an-Nasa’i]
 
Apakah mencukur kumis, kuku dan bulu kemaluan 40 hari dari waktu tumbuhnya, atau dari waktu cukurnya?
 
Pendapat yang tepat adalah maksimal membiarkannya adalah 40 hari. Apabila sudah panjang sebelum 40 hari maka layak dipotong (sesuai kebutuhan) tanpa harus menunggu 40 hari. Al-Aini menyebutkan:
 
المعنى أن لا نترك تركا يتجاوز أربعين، لا أنه وقت لهم الترك أربعين ; لأن المختار أن يضبط الحلق والتقليم والقص بالطول، فإذا طال حلق وقص وقلم
 
“Maknanya kita tidak membiarkannya hingga melampaui 40 hari. Tidaklah maksud hadis ini kita ditentukan untuk membiarkannya selama empat puluh hari. Yang dipilih adalah pengaturan cukur bulu kemaluan, memotong kuku dan menggunting kumis berdasarkan panjangnya. Apabila sudah panjang, maka dicukur, digunting dan dipotong.” [Mirqotul Mafatih syarh Misykat al-Mashabih 7/2816]
 
Wallahu ta’ala a’lam
 

[Kitabut Tauhid 3] 01. Makna Kalimat Tauhid 01

catatan: 1. bagi peserta yang lulus dalam mengikut ujian akhir kitabut tauhid bag.2 kemarin, seluruh e-sertifikat telah kami kirimkan ke email antum. silahkan buka kotak masuk email antum atau kotak spam. jika antum belum menerimanya, silahkan menghubungi tim support hijrahapp melalui email dengan menyertakan nama lengkap yang antum gunakan saat mengikuti ujian akhir. terimakasih

2. sehubungan dengan semakin padatnya aktivitas ustadz Abu Muhammad hafidzahullah, maka pelajaran tauhid “kitabut tauhid bag.3” ini hanya dapat diselenggarakan 2x sepekan, yakni setiap hari Jum’at dan Sabtu. tidak ada quis pekanan, namun diganti menjadi quis bulanan. mudah-mudahan yang sedikit ini tetap bermanfaat dan kiranya dapat dimaklumi.


Pada pelajaran sebelumnya kita telah menyelesaikan rangkaian materi kitabut tauhid bagian pertama dan kedua, berikut kita lanjutkan ke bagian ketiga. tetap lurus dan ikhlaskan niat, mudah-mudahan materi selanjutnya ini bermanfaat. Allahumma aamiin

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

link alternatif: https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSdVPA9cYL7YHvFCG4idXh1KBoIixsiChE3DSCJNP_ocr7CGTg/viewform?usp=sf_link

BERPEGANG TEGUH PADA AJARAN ISLAM MESKIPUN DIANGGAP KUNO

Manusia purba di era millenium adalah julukan yang disematkan kepada orang-orang yang berusaha untuk berkomitmen menghidupkan kembali ajaran-ajaran agama Islam yang dewasa ini sudah banyak ditinggalkan. Mereka dianggap sebagai manusia purba, orang-orang yang aneh, asing, jumud, kolot, bodoh dan tidak mengikuti perkembangan zaman. Entah apa yang menyebabkan orang-orang tersebut merasa gerah dengan ajaran Islam yang ditampakkan, padahal secara finansial mereka tidak dirugikan.

Beberapa kali penulis mendengar seorang yang entah karena faktor apa menyatakan tidak suka dengan orang-orang yang memanjangkan jenggotnya. Lalu berkata “Kita tidak usah berpenampilan ke arab-araban”. Di lain waktu mengatakan, “Agama itu tidak terletak pada tampilan rambut & jenggot”. Di lain kesempatan menyatakan, “Kenapa kita meributkan masalah jenggot padahal orang kafir sudah sampai ke bulan”.

Siapa pula yang meributkan jenggot, bukankah kita hanya menganjurkan dan menerangkan dalil apa adanya tanpa ada unsur keributan dan pemaksaan. Karena memang tidak ada paksaan dalam beragama.

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

”Tidak ada paksaan dalam agama Islam ; Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 256)

Lalu apa pula salahnya jenggot..? apakah jenggot membuat usahanya bangkrut ? apakah jenggot membuat gajinya turun ? Seandainya ia tidak suka jenggot bukankah tidak ada seorangpun yang memaksanya memanjangkan jenggot..?? kenapa pula ia harus mempublikasikan kekesalannya pada jenggot dan memprovokasi manusia supaya mengikuti jejaknya membenci jenggot…??? alangkah malangnya nasibmu wahai jenggot.

Musuh-musuh Islam menempuh berbagai macam cara untuk mengenyahkan jenggot, dan mengeluarkan ultimatum yang tidak bisa diganggu gugat bahwa siapa saja yang tidak mau memangkas jenggotnya maka ia harus keluar dari perusahaan fulan, harus keluar dari sekolah fulan, harus keluar dari instansi fulan. Ini banyak kita dengar bukan sekali dua kali.

Kita berusaha untuk berprasangka baik pada mereka bisa jadi mereka belum mengetahui hukum Islam dalam masalah jenggot. Tapi apakah lantas dibenarkan bagi orang yang tidak tahu kemudian ia membenci orang yang berjenggot.

Bukankah jenggot itu hak masing-masing orang dan kita diajari oleh bapak-ibu guru kita sewaktu kita kecil untuk bertenggang rasa dan bertoleransi terhadap sesama manusia selama ia tidak melakukan tindak kriminal.

Apakah memanjangkan jenggot adalah sebuah tindakan kriminal yang harus dicemooh pelakunya, atau dibenci, atau dituduh teroris..??? Kemanakah perginya HAM yang selama ini dijadikan jargon dalam setiap aksi-aksi demonstrasi..???

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin sedikit banyak akan menjadi kemusykilan yang sukar untuk dijawab. Akan tetapi itulah yang terjadi di hampir serata bumi, ketika ajaran Islam ditegakkan maka akan muncul sekelompok manusia lain yang akan menempuh berbagai macam cara untuk melenyapkan ajaran tersebut,Related Articles

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya. (QS. Ash-Shaf : 8)

Saudaraku kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, nasib serupa tidak hanya dialami oleh jenggot saja tapi banyak sekali ajaran-ajaran Islam yang bernasib serupa dengannya. Dan ini adalah sesuatu yang sudah menjadi ketetapan Allah, akan senantiasa ada kelompok yang membenci eksistensi ajaran Islam dan orang yang mendakwahkannya. Allah berfirman,

كَذَٰلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ

“Demikianlah tidak seorang Rasul-pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang yang gila.” (QS. Adz-Dzariyat : 52)

Dalam ayat lain disebutkan,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِّنَ الْمُجْرِمِينَ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا ﴿٣١

“Dan demikianlah, telah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi musuh dari kalangan orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong. (QS. Al-Furqon : 31)

Nabi dan Rasul saja dibilang gila, tukang sihir, orang aneh, maka diperlukan kesabaran extra dalam berpegang teguh dengan ajaran Islam dan harus kita yakini bahwa pertolongan Allah bersama orang-orang yang sabar.

Berkata Al-Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah: “Mencemooh orang yang menyeru kepada jalan kebaikan adalah merupakan tabiat manusia kecuali orang yang dirahmati. Allah berfirman kepada Nabi-Nya:

انظُرْ كَيْفَ كَذَبُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ ۚ وَضَلَّ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ ﴿٢٤

“Dan sesungguhnya telah didustakan pula rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan yang dilakukan terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merubah janji-janji Allah. ( QS. Al-An’am: 24)

Semakin hebat gangguan dan cemoohan maka semakin dekat pula pertolongan Allah. Dan tidaklah pertolongan itu khusus diberikan pada seseorang ketika ia hidup didunia sehingga ia bisa menyaksikan hasil dakwahnya terwujud. Bahkan kadang-kadang pertolongan itu muncul setelah kematiannya, dengan jalan Allah menjadikan hati manusia menerima apa yang ia dakwahkan, melaksanakannya serta berpegang teguh dengannya.

Yang seperti ini termasuk pertolongan Allah kepada orang yang menyeru manusia kepada kebaikan walaupun ia telah mati. Maka wajib bagi seorang da’i untuk bersabar dan terus-menerus exist didalam berdakwah serta bersabar menghadapi gangguan serta celaan. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dilempari batu oleh kaumnya sampai berdarah-darah, beliau berkata sembari mengusap darah yang mengucur dari wajah beliau yang mulia, Ya Allah ampunilah kaumku sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.”  (Syarah Tsalatsatil Ushul : 23-25 oleh Al-Imam Ibnu Utsaimin).

Beginilah selayaknya seorang muslim, ia tidak lantas kecut dan meninggalkan ajaran Islam hanya karena celaan orang-orang yang memang suka mencela. Hanya karena dibilang manusia purba yang terdampar di abad 21 lantas menjadi minder, tidak percaya diri, tidak merasa mulia dengan ajaran Islam. Bahkan terkesan membenarkan anggapan orang kafir bahwasanya Islam identik dengan keterbelakangan.

Karena Islam akan lenyap seandainya kaum muslimin tidak berpegang teguh dengannya. Dan lenyapnya Islam tidak serta merta, akan tetapi ia digerogoti dan dipreteli satu demi satu. Al-Imam Abdullah bin Ad-Dailami menyatakan: “Sesungguhnya sebab lenyapnya agama Islam adalah dengan ditinggalkannya Sunnah. Agama bisa lenyap dengan lenyapnya sunnah satu demi satu sebagaimana tali yang terputus benangnya satu demi satu.” (Lihat Syarah Ushul i’tiqod ahlis sunnah wal jama’ah 1/161 riwayat no : 127 oleh Al Imam Al Lalika’i, lihat pula Al-Bida’ wan Nahyu ‘anha : 73 oleh Al-Imam Ibnu Wadhoh).

Kaum muslimin yang konsisten dengan ajaran Islam yang akan mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan meskipun jumlah mereka sedikit. Meskipun mereka dianggap aneh dan asing. Karena sudah lumrah kita fahami bahwa pemenang itu jumlahnya sedikit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing maka beruntunglah Al-Ghuroba’ (orang-orang yang asing).” (Lihat Syarah Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, 1/188-190 riwayat no. 173 dan 174 oleh Al-Imam Al-Lalika’i).

Demikianlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan gelar Al-Ghuroba’ kepada kaum muslimin yang konsisten berpegang teguh dengan ajaran Islam meskipun gelaran-gelaran buruk disematkan pada mereka, cukuplah Allah sebagai tempat mengadu dan janji Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penyenang hati. Semoga bermanfaat & akhir dari seruan kami adalah anil hamdulillahi rabbil ‘alamin.

Ditulis Oleh:

Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty

sumber: https://bimbinganislam.com/berpegang-teguh-pada-ajaran-islam-meskipun-dianggap-kuno/

Keutamaan Membaca Shalawat

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً ، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ

Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan anjuran memperbanyak shalawat tersebut[2], karena ini merupakan sebab turunnya rahmat, pengampunan dan pahala yang berlipatganda dari Allah Ta’ala[3].

Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

  • Banyak bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan tanda cinta seorang muslim kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam[4], karena para ulama mengatakan: “Barangsiapa yang mencintai sesuatu maka dia akan sering menyebutnya”[5].
  • Yang dimaksud dengan shalawat di sini adalah shalawat yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdalam hadits-hadits beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih (yang biasa dibaca oleh kaum muslimin dalam shalat mereka ketika tasyahhud), bukan shalawat-shalawat bid’ah yang diada-adakan oleh orang-orang yang datang belakangan, seperti shalawat nariyah, badriyah, barzanji dan shalawat-shalawat bid’ah lainnya. Karena shalawat adalah ibadah, maka syarat diterimanya harus ikhlas karena Allah Ta’ala semata dan sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam [6]. Juga karena ketika para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “(Wahai Rasulullah), sungguh kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, maka bagaimana cara kami mengucapkan shalawat kepadamu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ucapkanlah: Ya Allah, bershalawatlah kepada (Nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamdan keluarga beliau…dst seperti shalawat dalam tasyahhud[7].
  • Makna shalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah meminta kepada Allah Ta’ala agar Dia memuji dan mengagungkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan akhirat, di dunia dengan memuliakan penyebutan (nama) beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, memenangkan agama dan mengokohkan syariat Islam yang beliau bawa. Dan di akhirat dengan melipatgandakan pahala kebaikan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, memudahkan syafa’at beliau kepada umatnya dan menampakkan keutamaan beliau pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk[8].
  • Makna shalawat dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah limpahan rahmat, pengampunan, pujian, kemualian dan keberkahan dari-Nya[9]. Ada juga yang mengartikannya dengan taufik dari Allah Ta’ala untuk mengeluarkan hamba-Nya dari kegelapan (kesesatan) menuju cahaya (petunjuk-Nya), sebagaimana dalam firman-Nya,{هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا}“Dialah yang bershalawat kepadamu (wahai manusia) dan malaikat-Nya (dengan memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman” (QS al-Ahzaab:43).

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 5 Rajab 1431 H

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA


[1] HR an-Nasa’i (no. 1297), Ahmad (3/102 dan 261), Ibnu Hibban (no. 904) dan al-Hakim (no. 2018), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi, juga oleh Ibnu hajar dalam “Fathul Baari” (11/167) dan al-Albani dalam “Shahihul adabil mufrad” (no. 643).

[2] Lihat “Sunan an-Nasa’i” (3/50) dan “Shahiihut targiib wat tarhiib” (2/134).

[3] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (6/169).

[4] Lihat kitab “Mahabbatur Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, bainal ittibaa’ walibtidaa’” (hal. 77).

[5] Lihat kitab “Minhaajus sunnatin nabawiyyah” (5/393) dan “Raudhatul muhibbiin” (hal. 264).

[6] Lihat kitab “Fadha-ilush shalaati wassalaam” (hal. 3-4), tulisan syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.

[7] HSR al-Bukhari (no. 5996) dan Muslim (no. 406).

[8] Lihat kitab “Fathul Baari” (11/156).

[9] Lihat kitab “Zaadul masiir” (6/398).


Sumber: https://muslim.or.id/4078-keutamaan-membaca-shalawat.html

ZIKIR ITU SEPERTI PERISAI BAJU BESI

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

أذكار الصباح والمساء بمثابة الدرع كلما زادت سماكته لم يتأثر صاحبه، بل تصل قوة الدرع أن يعود السهم فيصيب من أطلقه

“Dzikir pagi dan petang seperti baju besi, semakin bertambah ketebalannya maka pemiliknya semakin tidak terkena (bahaya). Bahkan kekuatan baju besi itu bisa sampai memantulkan kembali anak panah sehingga berbalik mengenai pemanahnya sendiri.”

Ibnu ash-Shalah rahimahullah berkata :

من حافظ على أذكار الصباح والمساء، وأذكار بعد الصلوات، وأذكار النوم، عُدّ من الذاكرين الله كثيراً

“Barangsiapa menjaga pengamalan dzikir pagi dan petang, dzikir bada shalat, dan dzikir tidur, maka dia dihitung termasuk orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah.”

Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

البسوا معطف الأذكار ليقيكم شرور الإنس والجان ودثروا أرواحكم بالاستغفار لتمحي لكم ذنوب الليل والنهار ,وإن أصابكم ماتكرهونه فسترضون وتتيقنون بأنه خير قدره لكم ربكم لأنكم قد تحصنتم بالله

“Kenakanlah pakaian dzikir agar menjaga kalian dari kejelekan-kejelekan manusia dan jin, Selimutilah ruh-ruh kalian dengan istighfar, supaya menghapus dosa-dosa siang dan malam. Apabila ada sesuatu yang kalian benci menimpa kalian, maka kalian akan ridha dan kalian akan yakin bahwa itu merupakan kebaikan yang ditaqdirkan untuk kalian oleh Rabb kalian, karena kalian telah berlindung kepada Allah.”

____________________________

  • Al-Waabil ash-Shayyib min al-Kalim at-Thayyib, 71

sumber: https://shahihfiqih.com/mutiara-salaf/keutamaan-dzikir-pagi-dan-petang/

Nasihat Untuk Suami Isteri

Oleh 
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

1. Bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam keadaan bersama maupun sendiri 
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“ Bertaqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan amal kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskannya, dan bergaullah bersama manusia dengan akhlak yang baik .” [1]

Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk bertaqwa kepada Allah di mana saja; apakah di rumah, di jalan, di pasar, atau di kantor. Di mana saja seorang hamba berada, ia harus bertaqwa dengan melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya, serta menjauhkan larangan-larangannya. Dan seorang hamba harus senantiasa merasa diawasi oleh Allah ‘Azza wa Jalla, baik dalam keadaan sendiri maupun dalam keadaan bersama orang lain.

2. Wajib menegakkan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan menjaga batas-batas Allah ‘Azza wa Jalla di dalam keluarga. 
Setiap muslim harus berusaha menegakkan syari’at Islam dalam rumah tangganya, karena setiap kepala rumah tangga wajib menjaga diri dan keluarganya dari api Neraka, menjaga batas-batas Allah, dan menjauhkan perbuatan syirik dan bid’ah.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ

“ Jagalah (batas-batas) Allah, niscaya Allah akan menjagamu ” [2]

3. Melaksanakan kewajiban terhadap Allah ‘Azza wa Jalla dan minta tolong kepada Allah ‘Azza wa Jalla. 
Setiap keluarga wajib melaksanakan tauhid kepada Allah, menjauhkan kesyirikan, melaksanakan Sunnah dan menjauhkan bid’ah. Setiap suami wajib mengajak isteri dan anaknya untuk mentauhidkan Allah, karena dasar kebahagiaan dunia dan akhirat adalah dengan tauhid kepada Allah, kemudian melaksanakan shalat yang lima waktu, juga melaksanakan sunnah-sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Laki-laki wajib mengerjakan shalat lima waktu di masjid secara berjama’ah. Dan seorang isteri wajib melaksanakan shalat tepat pada waktunya.

Suami dan isteri harus berlomba-lomba dalam melakukan amal shalih, berbuat kebajikan yang di-syari’atkan Allah dan Rasul-Nya -baik yang wajib maupun sunnah- dan melaksanakannya dengan ikhlas semata-mata karena Allah serta mengikuti contoh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Apabila hal ini dilaksanakan dengan ikhlas dan mengikuti Sunnah, maka Allah akan menghidupkan keluarganya dengan kehidupan yang baik dan bahagia.

Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl/16 : 97]

4. Menegakkan shalat-shalat sunnah terutama shalat malam 
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّيَا –أَوْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَمِيْعًا– كُتِبَ مِنَ الذَّاكِرِيْنَ اللهَ وَالذَّاكِرَاتِ

“ Apabila seorang suami membangunkan isterinya di malam hari, lalu keduanya shalat -atau masing-masing melakukan shalat dua raka’at- maka keduanya dicatat sebagai laki-laki dan wanita yang banyak mengingat Allah .” [3]

Juga sabda beliau ‘alaihish shalaatu was salaam,

رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ فَإِنْ أَبَتْ رَشَّ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ. رَحِمَ اللهُ امْرَأَةٌ قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى رَشَّتْ فِيْ وَجْهِهِ الْمَاءَ

“ Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun di tengah malam lalu shalat dan membangunkan isterinya lalu isterinya pun shalat. Jika isterinya enggan, maka ia memercikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang isteri yang bangun di tengah malam lalu shalat dan membangunkan suaminya lalu suaminya pun shalat. Jika suaminya enggan, maka ia memercikkan air ke wajahnya .” [4]

5. Perbanyak berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla 
Bacalah Al-Qur-an setiap hari di rumah terutama surat al-Baqarah. 
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِقْرَؤُوْا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا ِلأَصْحَابِهِ، اِقْرَؤُوا الزَّهْرَاوَيْنِ: اَلْبَقَرَةَ وَسُوْرَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا. اِقْرَؤُوْا سُوْرَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلاَ تَسْتَطِيْعُهَا الْبَطَلَةُ.

“ Bacalah Al-Qur-an, sesungguhnya ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada para pembacanya. Bacalah az-Zahrawain (dua bunga): surat al-Baqarah dan Ali ‘Imran, karena keduanya akan datang pada hari Kiamat seperti dua naungan atau keduanya seperti kelompok burung yang mem-bentangkan sayapnya untuk membela pembacanya. Bacalah surat al-Baqarah, karena mengambilnya adalah kebaikan dan meninggalkannya adalah kerugian, juga tukang-tukang sihir tidak mampu mengalahkannya .” [5]

Bacalah pula do’a-do’a dan dzikir-dzikir yang telah diajarkan oleh Rasululah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Seperti membaca dzikir-dzikir seusai shalat wajib lima waktu, juga membaca dzikir pagi dan petang agar kita mendapatkan ketenangan dan terhindar dari gangguan syaitan.

Ingatlah bahwa syaitan tidak akan senang kepada keutuhan rumah tangga dan syaitan selalu berusaha mencerai-beraikan suami isteri.

6. Bersabar atas musibah yang menimpa dan bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya 
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“ Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya dan hal itu tidak diberikan melainkan kepada seorang mukmin. Apabila ia diberi kesenangan, ia bersyukur dan itu baik baginya dan apabila ditimpa musibah ia bersabar dan itu pun baik baginya .” [6]

7. Terus-menerus berintropeksi antara suami isteri, saling menasehati, tolong-menolong dan saling memaafkan serta mendo’akan. Jangan egois dan gengsi. 
Allah Ta’ala berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“ Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. ” [Al-A’raaf/7 : 199]

Juga firman-Nya:

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“ Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran .” [Al-‘Ashr/103 : 1-3]

8. Banyak bershadaqah/berinfaq. 
Setiap suami dan isteri dianjurkan untuk banyak shadaqah, karena shadaqah akan menghapuskan kesalahan-kesalahan. 
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

… وَالصَّدَقَةُ تُطْفِىءُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِىءُ الْمَاءُ النَّارَ…

“… Shadaqah dapat menghapus kesalahan sebagai-mana air dapat memadamkan api …” [7]

Shadaqah yang dimaksudkan di sini adalah harta yang dikeluarkan selain zakat. Ketahuilah bahwa sha-daqah banyak sekali manfaatnya, seperti membersihkan harta, melapangkan dada, menambah rizki, meng-hapuskan dosa dan lainnya.

Ketika Allah Ta’ala menyebutkan tentang orang-orang yang bahagia, yang pertama disebutkan adalah orang-orang yang bershadaqah. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

“ Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah, baik laki-laki maupun perempuan, dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka; dan mereka akan mendapat pahala yang mulia .” [Al-Hadiid/57 : 18]

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan bagi wanita untuk banyak shadaqah, karena kaum wanita paling banyak menjadi penghuni Neraka. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَلَوْ مِنْ حُلِيِّكُنَّ، فَإِنَّكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ جَهَنَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“ Wahai kaum wanita, bershadaqahlah! Meskipun dengan perhiasan kalian. Sesungguhnya pada hari Kiamat kalian adalah penghuni Neraka yang paling banyak .” [8]

Juga sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ اْلاِسْتِغْفَارَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ إِنَّ كُنَّ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَمَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِيْنٍ أَغْلَبَ لِذِي لُبٍّ مِنْكُنَّ.أَمَّا نُقْصَانُ الْعَقْلِ وَالدِّيْنِ فَشَهَادَةُ امْرَأَتَيْنِ تَعْدِلُ شَهَادَةَ رَجُلٍ فَهَذَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ وَتَمْكُثُ اللَّيَالِي مَا تُصَلِّى وَتُفْطِرُ فِي رَمَضَانَ فَهَذَا نُقْصَانُ الدِّيْنِ.

“ Wahai wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah beristighfar (minta ampun kepada Allah) karena sungguh aku melihat kalian sebagai penghuni Neraka yang paling banyak. Sesungguhnya kalian banyak melaknat dan banyak mengingkari kebaikan. Belum pernah aku melihat orang yang kurang akal dan agama dapat mengalahkan laki-laki yang ber-akal daripada kalian. Adapun kurangnya akal karena persaksian dua orang wanita setara dengan persaksian seorang laki-laki, inilah kekurangan akalnya. Dan seorang wanita berdiam diri selama beberapa malam dengan tidak shalat serta tidak berpuasa di bulan Ramadhan (karena haidh), inilah kekurangan dalam agamanya .” [9]

Akan tetapi yang perlu diingat apabila seorang isteri hendak bershadaqah haruslah dengan izin suaminya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

لاَ يَجُوْزُ لاِمْرَأَةٍ عَطِيَّةٌ إِلاَّ بِإِذْنِ زَوْجِهَا

“ Seorang isteri tidak boleh bershadaqah kecuali dengan izin suaminya .” [10]

9. Jauhkanlah perbuatan dosa dan maksiat, karena dosa dan maksiat akan merusak hati, akal, tubuh, hingga rumah tangga. 
Jauhkanlah perbuatan dosa dan maksiat, seperti berbuat kesyirikan, mengamalkan bid’ah, meninggalkan shalat, mendengar atau memainkan musik, meminum khamr, mengisap rokok, berbuat ghibah, membuka aurat, dan lain-lainnya.

Jangan sekali-kali menganggap remeh perbuatan dosa dan maksiat, karena keduanya akan mendatangkan bencana dalam rumah tangga.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullaah telah menyebutkan banyak sekali akibat dari per-buatan dosa dan maksiat, dalam kitabnya “ Ad-Daa’ wad Dawaa ” (Penyakit dan Obatnya).

[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Bogor – Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa’dah 1427H/Desember 2006] 
_______ 
Footnote 
[1] Hadits hasan: HR. Ahmad (V/153, 158, 177, 236), at-Tirmidzi (no. 1987), ad-Darimi (II/323), al-Hakim (I/54), ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (XX/295, 296, 297) dari Sahabat Abu Dzarr dan Mu’adz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhuma. 
[2] Hadits shahih: Diriwayatkan at-Tirmidzi (no. 2516). Lihat Shahiihul Jaami’ (no. 7957). 
[3] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1309) dan Ibnu Majah (no. 1335). Lihat Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1098). 
[4] Hadits hasan shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1308) dan Ibnu Majah (no. 1336). Lihat Shahih Sunan Ibni Majah (no. 1099). 
[5] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 804). 
[6] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2999), dari Shahabat Shuhaib radhiyallaahu ‘anhu. 
[7] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (V/231), at-Tirmidzi (no. 2616) dan Ibnu Majah (no. 3973), dari Shahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu. 
[8] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 635), Ahmad (I/425, 433), al-Hakim (IV/603), Ibnu Hibban (no. 4234) dari Zainab, isteri Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhuma. 
[9] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 79) dan Ibnu Majah (no. 4003), dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Shahiihul Jaami’ (no. 7980). 
[10] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3547), an-Nasa-i (V/65-66, VI/278-279) dan Ahmad (II/179, 184, 207) dari Shahabat Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma.

sumber: https://almanhaj.or.id/1363-nasihat-untuk-suami-isteri.html

Bersemangatlah dalam Perkara yang Bermanfaat Bagimu

Inilah wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Wasiat beliau ini adalah perintah untuk bersemangat dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat. Lawan dari hal ini adalah melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan bahaya (dhoror), juga melakukan hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat atau pun bahaya.

Karena yang namanya perbuatan itu ada tiga macam: [1] perbuatan yang mendatangkan manfaat, [2] perbuatan yang menimbulkan bahaya, dan [3] perbuatan yang tidak mendatangkan manfaat maupun bahaya. Sedangkan yang diperintahkan adalah melakukan macam yang pertama yaitu hal yang bermanfaat.

Orang yang berakal yang menerima wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini pasti akan semangat melakukan hal yang bermanfaat. Namun kebanyakan orang saat ini menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang tidak bermanfaat. Bahkan kadangkala yang dilakukan adalah hal yang membahayakan diri dan agamanya. Terhadap orang semacam ini, pantas kita katakan: Kalian tidaklah mengamalkan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Boleh jadi kalian tidak melaksanakannya karena tidak tahu atau karena menganggap remeh. Mukmin yang berakal dan mantap hatinya tentu akan melaksanakan wasiat beliau ini, juga akan semangat melakukan hal yang bermanfaat bagi agama dan dunianya.

Hal yang manfaat dalam agama kembali pada dua perkara yaitu ilmu nafi’ (yang bermanfaat) dan amalan sholeh. 

Yang dimaksud dengan ilmu nafi’ adalah ilmu yang dapat melembutkan dan menentramkan hati, yang nantinya akan membuahkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ilmu  nafi’ inilah ajaran Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat dalam tiga macam ilmu yaitu ilmu hadits, tafsir dan fiqih. Yang juga bisa menolong dalam menggapai ilmu nafi’ adalah bahasa Arab dan beberapa ilmu lainnya sesuai dengan kebutuhan.

Adapun yang dimaksud amalan sholeh adalah amalan yang selalu dilandasi dengan ikhlash dan mencocoki tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun hal yang manfaat dalam masalah dunia adalah seorang hamba berusaha untuk mencari rizki dengan berbagai sebab yang diperbolehkan sesuai dengan kemampuannya. Juga hendaklah setiap orang selalu merasa cukup, tidak mengemis-ngemis dari makhluk lainnya. Juga hendaklah dia mengingat kewajibannya terhadap harta dengan mengeluarkan zakat dan sedekah. Dan hendaklah setiap orang berusaha mencari rizki yang thoyib, menjauhkan diri dari rizki yang khobits (kotor). Perlu diketahui pula bahwa barokahnya rizki seseorang dibangun di atas takwa dan niat yang benar. Juga berkahnya rizki adalah jika seseorang menggunakannya untuk hal-hal yang wajib ataupun sunnah (mustahab). Juga termasuk keberkahan rizki adalah jika seseorang memberi kemudahan pada yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلاَ تَنسَوُاْ الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ 

Jangan lupakan untuk saling memberi kemudahan di antara kalian.” (QS. Al Baqarah: 237). Yaitu yang memiliki kemudahan rizki memudahkan yang kesulitan, bahkan seharusnya memberi tenggang waktu dalam pelunasan hutang. Apabila semua ini dilakukan, datanglah keberkahan dalam rizki.

selengkapnya: https://rumaysho.com/691-tetap-semangat-dalam-hal-yang-bermanfaat197.html