Memaafkan Kesalahan dan Mengubur Dendam

Waktu terus berputar dan beragam peristiwa ikut mengiringi derap langkah kehidupan manusia. Adalah kenyataan bahwa problem hidup bermasyarakat sangatlah kompleks. Hal itu karena masyarakat berikut seluruh lapisannya memiliki karakter dan kepribadian yang tidak sama. Demikian pula tingkat pemahaman tentang agama dan kesiapan untuk menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari pun sangat beragam.

Oleh sebab itu, setiap individu hendaklah memiliki kesiapan jiwa yang bisa menjadi bekal menghadapi keadaan apa pun dengan tepat. Di antaranya adalah sikap tabah dan lapang dada yang didukung oleh ilmu syariat.

Bisa dikatakan, secara umum orang itu siap untuk dipuji dan diberi, tetapi merasa sangat berat jika dicela dan dinodai. Di sinilah ujian, apakah seseorang mampu menguasai dirinya saat pribadinya disinggung dan haknya ditelikung.

Dalam Al-Qur’an, Allah azza wa jalla memuji orang-orang yang mampu menahan amarahnya, seperti firman-Nya,

وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya.” (Ali Imran: 134)

Demikian pula Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa orang yang mampu menahan dirinya di saat marah, dialah sejatinya orang yang kuat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallambersabda,

لَيْسَ الشَّدِيْدُ باِلصُّرْعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang kuat bukan yang banyak mengalahkan orang dengan kekuatannya. Orang yang kuat hanyalah yang mampu menahan dirinya saat marah.” (HR. al-Bukhari no. 6114)

Memaafkan

Adalah amalan yang sangat mulia ketika seseorang mampu bersabar terhadap gangguan yang ditimpakan orang kepadanya serta memaafkan kesalahan orang padahal ia mampu untuk membalasnya. Gangguan itu bermacam-macam bentuknya. Adakalanya berupa cercaan, pukulan, perampasan hak, dan semisalnya.

Memang sebuah kewajaran apabila seseorang menuntut haknya dan membalas orang yang menyakitinya. Seseorang dibolehkan membalas kejelekan orang lain dengan yang semisalnya. Namun, alangkah mulia dan baik akibatnya apabila dia memaafkannya.

Allah azza wa jalla berfirman,

وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۚفَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (asy-Syura: 40)

Ayat ini menyebutkan bahwa tingkat pembalasan ada tiga:

Pertama: Adil, yaitu membalas kejelekan dengan kejelekan serupa, tanpa menambahi atau mengurangi.

Misalnya jiwa dibalas dengan jiwa, anggota tubuh dengan anggota tubuh yang sepadan, dan harta diganti dengan yang sebanding.[1]

Kedua: Kemuliaan, yaitu memaafkan orang yang berbuat jelek kepadanya apabila dirasa ada perbaikan bagi orang yang berbuat jelek.

Dalam pemaafan ini ditekankan adanya perbaikan dan membuahkan maslahat yang besar. Apabila seseorang tidak pantas dimaafkan dan maslahat yang sesuai dengan syariat menuntut untuk dihukum, dalam kondisi seperti ini tidak dianjurkan untuk dimaafkan.

Ketiga: Zalim, yaitu berbuat jahat kepada orang lain dan membalas orang yang berbuat jahat dengan pembalasan yang melebihi kejahatannya.

(Lihat Taisir al-Karim ar-Rahman hlm. 760, cet. ar-Risalah)

Kedudukan yang Mulia

Memaafkan kesalahan orang lain acapkali dianggap sebagai sikap lemah dan bentuk kehinaan, padahal justru sebaliknya. Apabila seseorang membalas kejahatan yang dilakukan terhadapnya, sejatinya di mata manusia tidak ada keutamaannya. Akan tetapi, kala dia memaafkan padahal mampu untuk membalasnya, dia mulia di hadapan Allah azza wa jalla dan manusia.

Berikut ini beberapa kemuliaan dari memaafkan kesalahan.

  1. Mendatangkan kecintaan

Allah azza wa jalla berfirman,

وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗاِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ ٣٤ وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا الَّذِيْنَ صَبَرُوْاۚ وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا ذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ ٣٥

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Dan sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.”(Fushshilat: 34—35)

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan,

“Apabila engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu, kebaikan ini akan menggiring orang yang berlaku jahat itu merapat denganmu, mencintaimu, dan condong kepadamu. Dengan demikian, dia (akhirnya) menjadi temanmu yang dekat.

Ibnu Abbas radhiallahu anhuma mengatakan, ‘Allah azza wa jalla memerintah orang beriman untuk bersabar kala marah, bermurah hati ketika diremehkan, dan memaafkan saat diperlakukan jelek. Apabila mereka melakukan ini, Allah azza wa jalla menjaga mereka dari (tipu daya) setan. Musuh pun tunduk kepadanya sehingga menjadi teman yang dekat’.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim 4/109)

  1. Mendapat pembelaan dari Allah azza wa jalla

Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku punya kerabat. Aku berusaha menyambungnya, tetapi mereka memutuskan hubungan denganku. Aku berbuat kebaikan kepada mereka, tetapi mereka berbuat jelek. Aku bersabar terhadap mereka, tetapi mereka berbuat kebodohan terhadapku.”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Jika benar yang kamu ucapkan, seolah-olah kamu menebarkan abu panas kepada mereka. Kamu senantiasa mendapat penolong dari Allah azza wa jalla atas mereka selama kamu di atas hal itu.” (HR. Muslim)

  1. Memperoleh ampunan dan kecintaan dari Allah azza wa jalla

Allah azza wa jalla berfirman,

وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (at-Taghabun: 14)

Adalah Abu Bakr radhiallahu anhu dahulu biasa memberikan nafkah kepada orang-orang yang tidak mampu, di antaranya Misthah bin Utsatsah. Dia termasuk famili Abu Bakr dan termasuk kalangan Muhajirin. Saat tersebar berita dusta seputar Aisyah binti Abi Bakr, istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Misthah termasuk salah seorang yang menyebarkannya. Kemudian Allah azza wa jalla menurunkan ayat menjelaskan kesucian Aisyah dari tuduhan kekejian. Misthah pun dihukum dera dan Allah azza wa jallamemberi tobat kepadanya.

Setelah peristiwa itu, Abu Bakr radhiallahu anhu bersumpah untuk memutus nafkah dan pemberian kepadanya. Allah azza wa jalla lalu menurunkan firman-Nya,

وَلَا يَأْتَلِ اُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْٓا اُولِى الْقُرْبٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۖوَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ 

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (an-Nur: 22)

Abu Bakr radhiallahu anhu mengatakan, “Betul, demi Allah. Aku ingin agar Allah azza wa jallamengampuniku.”

Lantas Abu Bakr radhiallahu anhu kembali memberikan nafkah kepada Misthah radhiallahu anhu. (Lihat Shahih al-Bukhari no. 4750 dan Tafsir Ibnu Katsir 3/286—287)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

ارْحَمُوا تُرْحَمُوا، وَاغْفِرُوا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ

“Sayangilah (makhluk), maka kalian akan disayangi oleh Allah. Berilah ampunan, niscaya Allah mengampunimu.” (Shahih al-Adab al-Mufrad no. 293)

Al-Munawi rahimahullah berkata,

“Allah azza wa jalla mencintai nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, yang di antaranya adalah (sifat) rahmat dan pemaaf. Allah azza wa jalla juga mencintai makhluk-Nya yang memiliki sifat tersebut.” (Faidhul Qadir 1/607)

Allah azza wa jalla mencintai orang yang memaafkan karena memberi maaf termasuk berbuat baik kepada manusia. Allah azza wa jalla juga mencintai orang yang berbuat baik, sebagaimana firman-Nya,

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 134)

  1. Mulia di sisi Allah azza wa jalla dan di sisi manusia

Suatu hal yang telah diketahui bahwa orang yang memaafkan kesalahan orang lain, di samping tinggi kedudukannya di sisi Allah azza wa jalla, ia juga mulia di mata manusia. Demikian pula ia akan mendapat pembelaan dari orang lain atas lawannya. Tidak sedikit pula musuhnya berubah menjadi kawan.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

“Sedekah (hakikatnya) tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambah seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan, dan tiada seorang yang rendah hati (tawadhu) karena Allah kecuali diangkat oleh Allah.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu anhu)

Kapan Memaafkan Itu Terpuji?

Seseorang yang disakiti oleh orang lain dan bersabar atasnya serta memaafkannya padahal dia mampu membalasnya maka sikap seperti ini sangat terpuji. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يُنفِّذَه دعاهُ اللَّهُ على رؤوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِي أَيِّ الْحُورِ شَاءَ

“Barang siapa menahan amarahnya padahal dia mampu untuk membalas, Allah azza wa jalla akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan para makhluk hingga memberikan pilihan kepadanya, bidadari mana yang ia inginkan.” (Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah no. 3394)

Demikian pula pemaafan terpuji apabila kesalahan itu berkaitan dengan hak pribadi, tidak berkaitan dengan hak Allah azza wa jalla. Aisyah radhiallahu anha berkata,

وَمَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ، فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ بِهَا

“Tidaklah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membalas atau menghukum karena dirinya (disakiti) sedikit pun, kecuali apabila kehormatan Allah dilukai. Beliau menghukum dengan sebab itu karena Allah azza wa jalla.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, tidaklah beliau disakiti pribadinya oleh orang-orang badui yang kaku perangainya, orang-orang yang lemah imannya, atau bahkan musuhnya, kecuali beliau memaafkan. Ada orang yang menarik baju Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan keras hingga membekas pada pundaknya. Ada yang menuduh Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak adil dalam pembagian harta rampasan perang. Ada pula yang hendak membunuh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, tetapi gagal karena pedang terjatuh dari tangannya. Mereka dan orang yang berbuat serupa dimaafkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Ini semua selama bentuk menyakitinya bukan melukai kehormatan Allah azza wa jalla dan permusuhan terhadap syariat-Nya. Namun, apabila menyentuh hak Allah azza wa jalla dan agamanya, beliau pun marah dan menghukum karena Allah serta menjalankan kewajiban amar makruf nahi mungkar.

Oleh karena itu, beliau melaksanakan cambuk terhadap orang yang menuduh istri beliau yang suci berbuat zina. Ketika menaklukkan kota Makkah, beliau memvonis mati terhadap sekelompok orang musyrik yang dahulu sangat menyakiti beliau karena mereka banyak melukai kehormatan Allah azza wa jalla. (disarikan dari al-Adab An-Nabawi hlm. 193 karya Muhammad al-Khauli)

Selanjutnya, pemaafan dikatakan terpuji apabila muncul darinya akibat yang baik. Sebab, ada pemaafan yang tidak menghasilkan perbaikan. Misalnya, ada seorang yang terkenal jahat dan suka membuat kerusakan. Misalnya, dia berbuat jahat kepada Anda. Apabila Anda maafkan, dia akan terus berada di atas kejahatannya. Dalam keadaan seperti ini, yang utama tidak memaafkan dia dan justru menghukumnya sesuai dengan kejahatannya. Dengan demikian, akan muncul kebaikan, yaitu efek jera.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan,

“Melakukan perbaikan adalah wajib, sedangkan memaafkan adalah sunnah. Apabila pemaafan mengakibatkan hilangnya perbaikan, berarti hal itu mendahulukan yang sunnah atas yang wajib. Tentunya, syariat ini tidak datang membawa hal yang seperti ini.” (Lihat Makarimul Akhlaq karya Syaikh Ibnu Utsaimin hlm. 20)

Apabila Terjadi Kecelakaan Lalu Lintas

Ada beberapa keadaan yang sering dilakukan orang dengan tujuan berbuat baik. Misalnya, kala seseorang mengemudikan kendaraannya lalu menabrak orang lain hingga meninggal. Kemudian keluarga korban datang dan menggugurkan diyat (tebusan) dari pelaku kecelakaan. Apakah perbuatan mereka menggugurkan tebusan itu termasuk perkara terpuji, ataukah perlu ada perincian?

Dalam masalah ini, yang benar ada perincian, yaitu melihat kondisi orang yang menabrak.

Apakah dia termasuk orang yang ugal-ugalan dan tidak peduli siapa pun yang dia tabrak? Apabila seperti ini keadaannya, yang utama adalah tidak dimaafkan agar memunculkan efek jera. Demikian pula agar manusia selamat dari kejahatannya.

Akan tetapi, apabila yang menabrak adalah orang yang baik, sudah berhati-hati, dan mengemudikan kendaraannya dengan stabil, di sini pun ada perincian:

  1. Apabila korban punya utang yang tidak bisa dibayar kecuali dengan uang tebusan, ahli waris tidak memiliki hak untuk menggugurkan tebusan.
  2. Apabila korban tidak punya utang, tetapi memiliki anak-anak yang masih kecil dan belum mampu berusaha, tidak ada hak pula bagi ahli waris untuk memaafkan pelaku.

Apabila dua keadaan di atas tidak ada, memaafkan lebih utama. (Disarikan dari Kitabul ‘Ilmi hlm. 188—189 karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah)

Manusia-Manusia Pilihan

Orang yang mulia selalu menghiasi dirinya dengan kemuliaan. Selain itu, dia selalu berusaha agar dalam hatinya tidak bersemayam sifat-sifat kejelekan. Para nabi merupakan teladan dalam hal memaafkan kesalahan orang.

Misalnya adalah Nabi Yusuf alaihis salam. Beliau telah disakiti oleh saudara-saudaranya sendiri dengan dilemparkan ke dalam sumur. Beliau lantas dijual kepada kafilah dagang sehingga berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dengan menanggung penderitaan yang tiada taranya.

Namun, Allah azza wa jalla berkehendak memuliakan hamba-Nya melalui ujian ini. Allah azza wa jalla pun mengangkat kedudukan Nabi Yusuf alaihis salam hingga menjadi bendahara negara di Mesir kala itu. Semua orang membutuhkannya, tidak terkecuali saudara-saudaranya yang dahulu pernah menyakitinya.

Tatkala mereka datang ke Mesir untuk membeli kebutuhan pokok mereka, betapa terkejutnya saudara-saudara Nabi Yusuf alaihis salam ketika mengetahui bahwa Nabi Yusuf alaihis salam telah diangkat kedudukannya sebegitu mulia. Mereka pun meminta maaf atas kesalahan mereka selama ini.

Nabi Yusuf alaihis salam memaafkannya dan tidak membalas. Beliau alaihis salam justru mengatakan,

قَالَ لَا تَثْرِيْبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَۗ يَغْفِرُ اللّٰهُ لَكُمْ ۖوَهُوَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ

“Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kalian. Mudah-mudahan Allah mengampuni (kalian), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (Yusuf: 92)

Demikian pula Nabi Musa dan Nabi Khidhir alaihimas salam ketika keduanya melakukan perjalanan dan telah sampai di suatu negeri. Keduanya meminta untuk dijamu oleh penduduk negeri itu karena mereka adalah tamu yang punya hak untuk dijamu. Namun, penduduk negeri itu tidak mau menjamu.

Ketika keduanya berjalan di negeri itu, didapatkannya dinding rumah yang hampir roboh. Nabi Khidhir alaihis salam lalu menegakkan dinding tersebut.

Adapun Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, beliau adalah manusia yang terdepan dalam segala kebaikan. Pada suatu ketika ada seorang wanita Yahudi memberi hadiah kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam berupa daging kambing. Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak tahu bahwa ternyata daging itu telah diberi racun.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun memakannya. Setelah itu Nabi shallallahu alaihi wa sallam diberi tahu bahwa daging itu ada racunnya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam berbekam. Dengan seizin Allah, beliau tidak meninggal. Wanita itu dipanggil dan ditanya maksud tujuannya. Ternyata dia ingin membunuh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Akan tetapi, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memaafkan dan tidak menghukumnya. (Lihat Shahih al-Bukhari no. 2617 dan Zadul Ma’ad 3/298)

Wallahu a’lam.


[1] Apabila terkait dengan hukum had atau qishash, yang berhak melakukannya adalah pemerintah. (-red.)

Ditulis oleh Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc.

sumber: https://asysyariah.com/memaafkan-kesalahan-dan-mengubur-dendam/

12 FAKTA TENTANG SALAT YANG MEMBUATMU TAK LAGI MENGANGGAPNYA SEPELE 

Di antara kekhususan salat adalah sebagai berikut:

1. Salat adalah Rukun Islam yang kedua setelah Dua Kalimat Syahadat

2. Salat adalah tiang agama

3. Allah mensyariatkan salat kepada Rasul-Nya tanpa perantara, dan di malam yang paling mulia

4. Amalan pertama (yang berkaitan dengan hak Allah), yang akan dihisab di Hari Kiamat.

5. Akhir dari wasiat Nabi ﷺ sesaat sebelum beliau meninggal dunia.

6. Bagian Islam yang terakhir dicabut dari muka bumi

7. Allah menyebutkan salat sebagai ciri awal / pertama amalan orang-orang yang beruntung

8. Allah menyebut salat sebagai Iman

9. Allah mewajibkan salat pada setiap keadaan. Tidak gugur, meski saat keadaan genting sekalipun, seperti saat perang, sakit, perjalanan jauh, dan lain sebagainya. Meski ada keringanan dalam hal syarat dan jumlah rakaatnya, namun tidak menggugurkan kewajiban salat secara keseluruhan.

10. Pada awalnya Allah mewajibkan salat dalam sehari sebanyak 50 kali. Ini bukti bahwa Allah amat mencintai ibadah ini. Namun kemudian Allah memberi keringanan sehingga menjadi lima kali dalam sehari semalam. Lima kali salat, namun pahalanya sama dengan 50 kali pahala salat. Ini menunjukkan agungnya kedudukan ibadah ini. [Lihat dalam Sahih Bukhari hadis nomor 7517 dan Muslim nomor 162. Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu]

11. Saking pentingnya ibadah ini, Rasulullah ﷺ tetap memerintahkan kepada orang-orang yang lupa atau tertidur saat waktu salat, untuk mengqadanya saat ia ingat.

12. Allah mengkhususkan penyebutan salat dalam Alquran

Disusun oleh: Ahmad Anshori

sumber: https://nasihatsahabat.com/12-fakta-tentang-salat-yang-membuatmu-tak-lagi-menganggapnya-sepele-ringkas/

Merasa Yang Lain Lebih Mulia Dari Diri Sendiri

Ibnu Hajar berkata, “Tawadhu’ adalah menampakkan diri lebih rendah pada orang yang ingin mengagungkannya. Ada pula yang mengatakan bahwa tawadhu’ adalah memuliakan orang yang lebih mulia darinya.” (Fathul Bari, 11: 341). Berikut kita akan melihat perkataan seorang tabi’in yang alim nan mulia, Al Fudhail bin ‘Iyadh mengenai sifat tawadhu’ (rendah hati). 

Fudhail bin ‘Iyadh ditanya mengenai tawadhu’. Beliau menjawab, “Yang namanya tawadhu’ adalah tunduk pada kebenaran dan menerima kebenaran tersebut dari siapa pun.” Fudhail mengatakan pula, “Seandainya aku mendengar suatu kebenaran dari anak kecil, maka aku akan menerimanya. Begitu pula ketika aku mendengarnya dari orang yang bodoh, aku akan menerimanya.”

Ada yang mengatakan pula bahwa tawadhu’ adalah engkau menilai dirimu tidak ada apa-apanya. Siapa yang melihat dirinya begitu istimewa, maka tidak ada bagian tawadhu’ pada dirinya. (Dinukil dari kitab Sholahul Ummah fii ‘Uluwil Himmah, Dr. Sayyid bin Husain Al ‘Affani, 5: 449)

Inilah pendapat Al Fudhail bin ‘Iyadh mengenai sifat tawadhu’. Semoga Allah memupuk pada diri kita sifat yang mulia ini.

Wallahu waliyyut taufiq.

Faedah di pagi hari, 25 Muharram 1434 H @ Sakan 27 Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh-KSA

Sumber https://rumaysho.com/3026-merasa-yang-lain-lebih-mulia-dari-diri-sendiri.html

Perintah Memperbanyak Istighfar

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan pada umatnya untuk memperbanyak istighfar (bacaan: astaghfirullah). Karena manusia tidaklah luput dari kesalahan dan dosa, sehingga istighfar dan taubat mesti dijaga setiap saat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah, aku sungguh beristighfar pada Allah dan bertaubat pada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari no. 6307).

Dari Al Aghorr Al Muzanni, yang merupakan sahabat Nabi, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِى وَإِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِى الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Ketika hatiku malas, aku beristighfar pada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702).

Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan bahwa makna hadits di atas, yaitu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan malas beliau membacanya seperti itu. Artinya, beliau rutin terus mengamalkan dzikir istighfar setiap harinya. Lihat Syarh Shahih Muslim karya Imam Nawawi, 17: 22.

Beberapa faedah dari hadits di atas:

  1. Hadits di atas memotivasi supaya memperbanyak taubat dan istighfar.
  2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk terbaik di sisi Allah dan dosanya yang telah lalu dan akan datang telah diampuni, namun beliau masih beristighfar sebanyak 70 kali dalam rangka pengajaran kepada umatnya dan supaya meninggikan derajat beliau di sisi Allah.
  3. Terus memperbanyak taubat dan istighfar akan menghapuskan dosa dan kesalahan yang bisa jadi dilakukan tanpa sengaja.
  4. Bilangan istighfar dalam yang disebutkan dalam kedua hadits di atas tidak menunjukkan angka tersebut sebagai batasan dalam istighfar, namun yang dimaksud adalah banyaknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beristighfar.

Semoga Allah mengampuni setiap kesalahan dan dosa kita dengan istighfar dan taubat yang terus kita rutinkan.

Referensi:

Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1433 H.

Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhish Sholihin, Dr. Musthofa Al Bugho, dll, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 20.

—

@ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Jum’at pagi, 12 Sya’ban 1434 H

Sumber https://rumaysho.com/3437-perintah-memperbanyak-istighfar.html

Keutamaan Bulan Rajab

Keutamaan Bulan Rajab, ia merupakan salah satu dari bulan haram. Di mana bulan haram ini adalah bulan yang dimuliakan. Bulan ini adalah yang dilarang keras melakukan maksiat, serta diperintahkan bagi kita untuk beramal sholih.

Bulan Rajab adalah Bulan Haram

Bulan Rajab terletak antara bulan Jumadal Akhiroh dan bulan Sya’ban. Bulan Rajab sebagaimana bulan Muharram termasuk bulan haram. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

Ibnu Rajab mengatakan, ”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perpuataran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.” (Latho-if Al Ma’arif, 202)

Mengenai empat bulan yang dimaksud disebutkan dalam hadits dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679). Jadi, empat bulan suci tersebut adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab.

Apa Maksud Bulan Haram?

Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah berkata, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna:

  1. Pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.
  2. Pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan itu. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Lihat Zaadul Masiir, tafsir surat At Taubah ayat 36)

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” Bahkan Ibnu ’Umar, Al Hasan Al Bashri dan Abu Ishaq As Sa’ibi melakukan puasa pada seluruh bulan haram, bukan hanya bulan Rajab atau salah satu dari bulan haram lainnya. Lihat Latho-if Al Ma’arif, 214. Ulama Hambali memakruhkan berpuasa pada bulan Rajab saja, tidak pada bulan haram lainya. Lihat Latho-if Al Ma’arif, 215.

Namun sekali lagi, jika dianjurkan, bukan berarti mesti mengkhususkan puasa atau amalan lainnya di hari-hari tertentu dari bulan Rajab karena menganjurkan seperti ini butuh dalil. Sedangkan tidak ada dalil yang mendukungnya. Lihat bahasan Muslim.Or.Id sebelumnya: Adakah Anjuran Puasa di Bulan Rajab?

Ibnu Rajab Al Hambali berkata, ”Hadits yang membicarakan keutamaan puasa Rajab secara khusus tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, begitu pula dari sahabatnya.” (Latho-if Al Ma’arif, 213).

Hati-Hati dengan Maksiat di Bulan Haram

Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arif, 207)

Bulan Haram Mana yang Lebih Utama?

Para ulama berselisih pendapat tentang manakah di antara bulan-bulan haram tersebut yang lebih utama. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Rajab, sebagaimana hal ini dikatakan oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Namun Imam Nawawi (salah satu ulama besar Syafi’iyah) dan ulama Syafi’iyah lainnya melemahkan pendapat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Muharram, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri dan pendapat ini dikuatkan oleh Imam Nawawi. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Dzulhijjah. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair dan lainnya, juga dinilai kuat oleh penulis Latho-if Al Ma’arif (hal. 203), yaitu Ibnu Rajab Al Hambali.

Semoga bulan Rajab menjadi ladang bagi kita untuk beramal sholih.

—

@ Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul, diselesaikan 27 Jumadal Akhiroh 1434 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://muslim.or.id/14053-keutamaan-bulan-rajab.html

IKATLAH ILMU DENGAN CARA MENULISNYA

Sangat sayang pastinya, seseorang yang sanggup menulis ketika taklim, tapi dia tidak mau menulis hanya karena malas. Rasulullah ﷺ bersabda:

قيِّدوا العِلمَ بالكتابِ

“Ikatlah ilmu dengan menulis.” [HR. Luwain Al Mashishi dalam Al Ahadits[2/24], Ibnu Syahin dalam An Nasikh wal Mansukh [2/65], Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Al Ilmi [1/72], disahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah (2026)]

Syaikh Al ‘Allamah Hammad Al Anshari rahimahullah berkata:

“Penuntut ilmu yang tidak pernah membawa pena (tidak mencatat) secara terus menerus, maka ia tidak akan bisa mengambil faidah ilmu.” [Al Majmu’: 2/571]

Berikut ini kami himpunkan beberapa motivasi dan cerita para ulama tentang pentingnya menulis ilmu. Semua ini kami pilih dari kitab Taqyidul Ilmi oleh Al-Khathib Al-Baghdadi rahimahullah (463 H). Semoga bisa diambil manfaatnya. 

Berkata Tsumamah bin Abdillah bin Anas:

أن أنسا كان يقول لبنيه « يا بني قيدوا هذا العلم بالكتاب »

“Anas bin Malik sering berpesan pada anak-anaknya: ‘Wahai anak-anakku, ikatlah ilmu ini dengan cara menulisnya.” (hlm. 233)

Imam asy-Sya’bi menyatakan:

الكتاب قيد العلم

“Tulisan adalah pengikat ilmu.” (hlm. 240)

Telah berpesan pula, asy-Sya’bi rahimahullah:

إذا سمعتم مني شيئاً فاكتبوه ولو في حايط

“Bila kalian mendengar ilmu dariku maka tulislah, meskipun di dinding.” (hlm. 241)

Tentu hal ini ketika tidak ada media untuk wadah menulis. 

Beliau juga berpesan pada Abu Kibran:

لا تدعن شيئا من العلم إلا كتبته.. وإنك تحتاج إليه يوماً ما

“Janganlah kamu lewatkan suatu ilmu kecuali kamu tulis, sebab kamu akan membutuhkannya suatu saat nanti.” (hlm. 242)

Di samping menulis, mereka juga menjaga catatan-catatan mereka dengan baik.

Al-Hasan rahimahullah mengisahkan:

إنا عندنا كتبا نتعاهدها

“Sesungguhnya kami memiliki buku-buku catatan (ilmu) yang senantiasa kami jaga.” (hlm. 243)

Berpayah sesaat jelas lebih baik daripada harus lupa ilmu yang sudah pernah didengar bukan?! 

Abu Qilabah mengatakan:

الكتاب أحب إلي من النسيان

“Menulis ilmu lebih aku suka daripada akhirnya melupakannya.” (hlm. 249)

Karena karakter manusia yang sering lupa, sebagian ulama tidak menganggap ilmu seseorang sebagai ilmu, manakala dia tidak menulis. Tidak lain dikarenakan besarnya kemungkinan salah yang terjadi padanya. 

Muawiyah bin Qurrah rahimahullah berkata:

من لم يكتب العلم فلا تعد علمه علماً 

“Barang siapa yang tidak menulis ilmu, maka jangan anggap ilmunya sebagai ilmu.” (hlm. 262)

Beliau juga mengatakan:

كنا لا نعد من لم يكتب العلم علمه علماً 

“Kami tidak pernah menganggap ilmu orang yang tidak menulis sebagai ilmu.” (hlm. 262)

Seringkali ilmu yang ditulis lalu dibaca-baca kembali dapat mendatangkan manfaat bagi seseorang. 

Al-Khalil bin Ahmad menyatakan: 

ما سمعت شيئاً إلا كتبته ولا كتبت شيئاً إلا حفظته ولا حفظت شيئاً إلا انتفعت به

“Tidaklah aku mendengar suatu ilmu melainkan aku tulis. Dan tidaklah aku menulis sesuatu melainkan aku jadi hafal. Dan tidaklah aku menghafal suatu ilmu, melainkan aku mendapatkan manfaat darinya.” (hlm. 274)

Pada Allah kita mohon petunjuk.

sumber: https://nasihatsahabat.com/ikatlah-ilmu-dengan-cara-menulisnya/

Memperbaiki Hati

Hati merupakan hal penting yang harus dijaga dan dirawat. Hati adalah pondasi amalan dan sumber pergerakan anggota badan. Jika hati baik, maka badan ikut baik. Jika hati rusak, badan pun ikut rusak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat perhatian dengan perkara hati; sehat sakitnya dan bersih kotornya. Doa-doa Rasulullah dipenuhi dengan permohonan agar Allah selalu menjaga dan memperbaiki kondisi hati yang dimiliki olehnya. Diantara doa-doa Rasulullah :

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا

“Ya Allah, berikanlah cahaya di hatiku.”

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyuk.”

اللَّهُمَّ نَقِّ قَلْبِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ

“Ya Allah, bersihkanlah hatiku dari dosa-dosa sebagaimana pakaian putih yang dibersihkan dari kotoran.”

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

“Ya Allah, berikanlah ketakwaan di hatiku dan sucikan dia karena sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik zat yang dapat menyucikannya. Engkau adalah pemilik dan penjaganya.”

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Seorang muslim wajib memperhatikan kesehatan dan kebersihan hatinya serta memperbaiki amalan anggota badannya. Tidak bermanfaat amalan badan jika tidak disertai dengan kebersihan dan kesehatan hati. Seandainya seorang muslim telah memperbaiki hati dan mengisinya dengan keikhlasan, kejujuran, dan rasa cinta kepada Allah, niscaya amalan lahirnya akan baik dan salih. Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika daging itu baik, maka seluruh tubuh akan baik dan jika daging itu rusak, maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)

Hadits di atas sangat tegas menjelaskan bahwa semua gerakan badan dan yang tampak secara lahir sangat bergantung kepada kondisi hati dan yang tersimpan di dalam batin. Jika hati itu benar-benar sehat, isinya hanya ada rasa cinta dan takut kepada Allah, niscaya tubuh pun akan dekat dengan ketaatan dan semakin jauh dari kemaksiatan. Sebaliknya, jika hati telah sakit, isinya penuh dengan hawa nafsu, syahwat dan keinginan jiwa yang tidak terkendali, maka tubuh pun akan rusak karena sejatinya dia hanya mengikuti apa yang tersimpan di hati.

Tips Kesehatan Hati

Hati manusia tidak terlepas dari memikirkan akhirat dengan keabadiannya, dunia dengan kefanaannya atau perkara-perkara yang membuatnya sedih dan bahagia. Siapapun yang menginginkan kebaikan untuk hatinya, maka dia selayaknya menyibukkan fikiran dan hatinya untuk memikirkan hal-hal yang mendatangkan kebaikan bagi hati. Diantara perkara yang dapat membantu seorang muslim memperbaiki hatinya adalah :

  • Selalu mengingat dan menyadari tentang hakikat dunia yang fana dan hina.
  • Selalu mengingat dan menyibukkan hatinya dengan kehidupan setelah kematian; surga dan neraka serta perkara yang terdapat pada keduanya.

Apabila dua hal ini dilakukan dan dijadikan sebagai pusat perhatian, maka dengan izin Allah keduanya akan memudahkan seorang muslim untuk memperbaiki kesehatan hatinya, serta menumbuhkan rasa takut, rasa cinta, keinginan untuk bertaubat, serta kembali berlari menuju ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

@ Catatan faedah dari syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr

Ditulis Oleh:
Ustadz Muhammad Abu Rivai حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)

sumber: https://bimbinganislam.com/memperbaiki-hati/

[Kitabut Tauhid 3] 02. Makna Kalimat Tauhid 02

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

Makna dari Kalimat Tauhid : laa ilaaha illallaah ( لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ) adalah i’tiqad (keyakinan) dan iqrar (pernyatakan) bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allâh -‘Azza wa Jalla-, menta’ati (konsekuensi) hal tersebut dan mengamalkannya. Laa ilaaha (لَا إِلَهَ) menafikan (meniadakan) hak penyembahan dari selain Allâh -‘Azza wa Jalla-, siapapun orangnya. Illallaah (إِلَّا اللَّهُ) adalah penetapan hak bagi Allâh -‘Azza wa Jalla- semata untuk disembah. Jadi makna kalimat ini secara ijmal (global) adalah : “Tidak ada sesembahan [yang haq] selain Allâh -‘Azza wa Jalla-.”

selanjutnya silahkan ketuk link berikut untuk memulai materi berikutnya;

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

*jika tampilan quis diatas terpotong silahkan update hijrahapp ke v6.4.1 langsung dari playstore, KETUK DISINI

link alternatif: https://forms.gle/BYgmymhiQSBQ5fAQ7

Update HijrahApp v6.4.1 (Android)

ikhwah fillah,

yuk update HijrahApp ke v6.4.1 langsung dari google play store yaa, KETUK DISINI

“update kali ini memperbaiki beberapa fitur yang tidak bisa diakses sebelumnya, penambahan fitur baru seperti pencarian poster/artikel hijrahapp dll serta peningkatan”

catatan penting:

  1. refresh playstore jika opsi update ke v6.4.1 belum tampil
  2. setelah update, buka pengaturan aplikasi hijrahapp, kemudian ketuk opsi “Segarkan Data“. ini penting untuk menampilkan kembali ruang chat.
  3. adapun untuk iOS, update dijadwalkan pertengahan februari mendatang🙏