Surga Diliputi Perkara Yang Dibenci Jiwa, Neraka Diliputi Perkara Yang Disukai Nafsu

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ 

“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”(HR. Muslim)

Mengenal kosa kata
Huffat: Berasal dari kata al-hafaf (الحَفَاف) yang berarti sesuatu yang meliputi sesuatu yang lain yang berarti surga dan neraka itu diliputi sesuatu. Seseorang tidak akan memasuki surga dan neraka kecuali setelah melewati hijab terebut. Dalam riwayat Bukhari kata huffat diganti dengan kata hujibat (حُجِبَت ) yang berarti tabir, hijab ataupun pembatas dan keduanya memiliki makna sama. Hal ini ditegaskan Ibnul Arabi sebagaimana dinukil Ibnu Hajar dalam Fathul Baari.

Al-Jannah: Kampung kenikmatan.
Al-Makarih: Perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) berupa ketaatan dan ketundukan terhadap aturan-aturan Allah Ta’ala.
An-Nar: Kampung siksaan dan adzab.
Asy-Syahawat: Nafsu yang condong kepada kejelekan-kejelekan.

Penjelasan ulama tentang hadits ini
Saudariku, semoga Allah merahmatimu. Agar lebih memahami makna hadits diatas alangkah baiknya kita simak penuturan Imam Nawawi rahimahullah berikut ini,
“Para ulama mengatakan,’Hadits ini mengandung kalimat-kalimat yang indah dengan cakupan makna yang luas serta kefasihan bahasa yang ada pada diri Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Sehingga beliau membuat perumpamaan yang sangat baik dan tepat. Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa seseorang itu tidak akan masuk surga sehingga mengamalkan perkara-perkara yang dibenci jiwa, begitupula sebaliknya seseorang itu tidak akan masuk neraka sehingga ia mengamalkan perkara-perkara yang disenangi oleh syahwat. Demikian itu dikarenakan ada tabir yang menghiasi surga dan neraka berupa perkara-perkara yang dibenci ataupun yang disukai jiwa. Barangsiapa yang berhasil membuka tabir maka ia akan sampai kedalamnya. Tabir surga itu dibuka dengan amalan-amalan yang dibenci jiwa dan tabir neraka itu dibuka dengan amalan-amalan yang disenangi syahwat. Diantara amalan-amalan yang dibenci jiwa seperti halnya bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah Ta’ala serta menekuninya, bersabar disaat berat menjalankannya, menahan amarah, memaafkan orang lain, berlaku lemah lembut, bershadaqah, berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat salah, bersabar untuk tidak memperturutkan hawa nafsu dan yang lainnya. Sementara perkara yang menghiasi neraka adalah perkara-perkara yang disukai syahwat yang jelas keharamannya seperti minum khamr, berzina, memandang wanita yang bukan mahramnya (tanpa hajat), menggunjing, bermain musik dan yang lainnya. Adapun syahwat (baca:keinginan) yang mubah maka tidak termasuk dalam hal ini. Namun makruh hukumnya bila berlebih-lebihan karena dikhawatirkan akan menjerumuskan pada perkara-perkara haram, setidaknya hatinya menjadi kering atau melalaikan hati untuk melakukan ketaatan bahkan bisa jadi hatinya menjadi condong kepada gemerlapnya dunia.”(Syarhun Nawawi ‘ala Muslim, Asy-Syamilah).

Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Baari berkata,
“Yang dimaksud dengan al-makarih (perkara-perkara yang dibenci jiwa) adalah perkara-perkara yang dibebankan kepada seorang hamba baik berupa perintah ataupun larangan dimana ia dituntut bersungguh-sungguh mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan tersebut. Seperti bersungguh sungguh mengerjakan ibadah serta berusaha menjaganya dan menjauhi perbuatan dan perkataan yang dilarang Allah Ta’ala. Penggunaan kata al-makarih disini disebabkan karena kesulitan dan kesukaran yang ditemui seorang hamba dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. Adapun yang dimaksud syahwat disini adalah perkara-perkara yang dilakukan untuk menikmati lezatnya dunia sementara syariat melarangnya. Baik karena perbuatan tersebut haram dikerjakan maupun perbuatan yang membuat pelakunya meninggalkan hal yang dianjurkan. Seakan akan Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengatakan seseorang tidaklah sampai ke surga kecuali setelah melakukan amalan yang dirasa begitu sulit dan berat. Dan sebaliknya seseorang tidak akan sampai ke neraka kecuali setelah menuruti keinginan nafsunya. Surga dan nereka dihijabi oleh dua perkara tersebut, barangsiapa membukanya maka ia sampai kedalamnya. Meskipun dalam hadits tersebut menggunakan kalimat khabar (berita) akan tetapi maksudnya adalah larangan.”(Fathul Baari 18/317, Asy-Syamilah)

Hiasai harimu dengan hadist ini !
Syaikh Abdurrazzaq hafidzahullah memberikan contoh kepada kita bagaimana cara mengaplikasikan hadits ini dalam kehidupan sehari-hari, beliau berkata,

“Kunasehatkan bagi diriku sendiri dan saudaraku sekalian. Jika engkau mendengar adzan telah dikumandangkan ‘hayya alash shalah hayya ‘alal falah’ namun jiwamu merasa benci melaksanakannya, mengulur-ulur waktu dan merasa malas. Ingatkan dirimu tentang hadits ini bahwa surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci jiwa.

Jika kewajiban membayar zakat telah tiba dan jiwamu merasa malas mengeluarkannya serta membagikannya kepada fakir miskin maka ingatkan dirimu dengan hadits ini bahwa surga itu diliputi perkara yang dibenci jiwa.

Jika waktu puasa telah tiba sementara jiwamu merasa enggan menunaikannya, ingatkan dirimu degan hadits ini. Sungguh surga itu diliputi perkara yang dibenci jiwa.

Begitu juga ketika jiwamu merasa malas untuk berbakti kepada orang tua, enggan berbuat baik kepada keduanya dan merasa berat memenuhi hak-haknya, ingatkan dirimu dengan hadits ini bahwa surga itu diliputi perkara yang dibenci jiwa”.

Beliau hafidzahullah juga berkata, “Sebaliknya ketika jiwamu condong kepada perbuatan-perbuatan keji,zina dan perbuatan haram maka ingatkan dirimu bahwa neraka itu diiputi perkara-perkara yang disenangi syahwat. Ingatkan pula jika sekarang engkau lakukan perbuatan ini maka kelak engkau akan masuk neraka.

Jika jiwamu tergoda dengan perbuatan riba, maka ingatkan dirimu bahwa Allah dan rasulNya telah mengharamkannnya dan pelakunya kelak akan masuk neraka.

Begitu juga ketika jiwamu sedang ketagihan minum minuman keras dan minuman haram lainnya maka ingatkan dirimu bahwa neraka itu diliputi perkara-perkara yang disenangi syahwat.

Ketika jiwamu merasa rindu mendengarkan musik, lagu-lagu dan nyanyian-nyanyian yang telah Allah haramkan atau ketika kedua matamu mulai condong melihat sesuatu yang Allah haramkan berupa vcd-vcd porno, gambar-gambar porno dan pemandangan haram lainnya maka ingatkan dirimu bahwa neraka itu diliputi perkara-perkara yang disenangi syahwat

Jika engkau selalu menerapkan hadits ini dalam sendi-sendi kehidupanmu dan berusaha menghadirkannya setiap saat maka dengan ijin Allah engkau akan bisa menjauhi perbuatan haram dan memudahkanmu menjalankan ketaatan kepadaNya.”(Muhadharah Syaikh Abdurrazzaq hafidzahullah)

Ingatlah, jiwa manusia itu condong pada kejelekan
Allah Ta’ala berfirman,


إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي

“Sesungguhnya jiwa (manusia) itu menyuruh pada kejelekan kecuali jiwa yang dirahmati Tuhanku.” (QS. Yusuf: 53)
Ath-Thabari berkata tentang ayat ini, “Jiwa yang dimaksudkan adalah jiwa para hamba, ia senantiasa memerintahkan pada perkara-perkara yang disenangi nafsu. Sementara hawa nafsu itu jauh dari keridhaan Allah Ta’ala.”(Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Asy-Syamilah)

Saudariku, perhatikanlah nasehat Ibnul Jauzi rahimahullah berikut,
“Ketahuilah, semoga Allah mamberikan taufiq kepadamu. Sesungguhnya watak dasar jiwa manusia itu cinta kepada hawa nafsunya. Telah berlalu penjelasan tentang begitu dasyatnya bahaya hawa nafsu, sehingga untuk menghadapinya engkau membutuhkan kesungguhan dan pertentangan dalam diri jiwamu. Ketika engkau tidak mecegah keinginan hawa nafsumu maka pemikiran-pemikiran sesat (kejelekan-kejelekan) itu akan menyerang sehingga tercapailah keinginan hawa nafsumu.” (Dzammul Hawa, hal.36, Asy-Syamilah)

Hadits penjelas

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwassalam bersabda,
“Ketika surga dan neraka diciptakan, Allah Ta’ala mengutus Jibril ‘alaihissalam pergi ke surga seraya berfirman, ‘Lihatlah ia dan perhatikanlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduknya kelak!” 

Nabi shallallahu’alaihi wasallam melanjutkan, “Jibril pun mendatangi, melihat dan memperhatikan segala nikmat yang Allah sediakan bagi penduduk surga. Kemudian Jibril kembali kepada Allah seraya berkata, ‘Demi kemuliaanMu, tidak ada seorangpun yang mendengar tentang berita surga kecuali ingin memasukinya’.

Kemudian Allah memerintahkan surga sehingga ia diliputi perkara-perkara yang dibenci (jiwa). Lalu Allah Ta’ala memerintahkan Jibril, ‘Kembalilah kepadanya dan lihatlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduk surga!’ Maka Jibrilpun kembali ke surga dan ia temui bahwasanya surga telah diliputi dengan perkara-perkara yang dibenci oleh jiwa manusia. Kemudian Jibril menadatangi Allah Ta’ala seraya berkata, ‘Demi kemuliaanMu sungguh aku khawatir tidak ada seorangpun yang bisa memasukinya!’

Lalu Allah memerintahkan,’Pergilah ke neraka, lihatlah dan perhatikanlah siksaan yang Aku sediakan bagi penghuninya kelak!’ Maka ketika dineraka terdapat api yang  menyala-nyala dan bertumpuk-tumpuk , Jibril kembali kepada Allah Ta’ala dan berkata, ‘Demi kemuliaanMu tidak ada seorangpun yang ingin memasukinya.’ Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan agar neraka dipenuhi dengan perkara-perkara yang disukai syahwat. Allah Ta’ala berfirman, ‘Kembalilah padanya!’ Jibrilpun kembali ke neraka dan berkata, ‘Demi kemuliaanMu, aku khawatir tidak ada seorangpun dari hambaMu yang bisa selamat dari siksaan neraka.” (HR. Tirmidzi, beliau berkata, “Hadits ini hasan shahih” . Begitupula Syaikh Al-Albani menilai hadits ini hasan shahih.(Sunan At-Tirmidzi, Asy-Syamilah)

Saudariku, akhirnya kami hanya bisa berdoa semoga kita semua dimasukkan Allah Ta’ala menjadi golongan penghuni surgaNya yang tertinggi dan dijauhkan dari segala jalan yang mengantarkan kita ke nerakaNya.


اَللّهُمَّ إِنِّى أَ سْئَلُكَ الجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَ عَملٍ وَ أَعُوْ ذُبِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَ عَمَلٍ

“Ya Allah…aku memohon kepadamu surga dan segala sesuatu yang bisa mendekatkanku dengannya baik berupa perkataan ataupun perbuatan. Dan aku berlindung kepadamu dari siksaan neraka dan segala sesuatu yang bisa mendekatkanku dengannya baik berupa perkataan ataupun perbuatan.” (Musnad Imam Ahmad)

Washallahu’ala nabiyyina Muhammadin wa’ala alihi washahbihi wasallam

Penulis : Ummu Fatimah Umi Farikhah

Murojaah : Ust. Aris Munandar hafidzahullah

Maraji‘ :
Dzammul Hawa, Ibnul Jauzi, Maktabah Asy-Syamilah
Fathul Baari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani, Maktabah Asy-Syamilah
Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Imam Al-Qurthubi, Maktabah Asy-Syamilah
Muhadharah Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr, http://www.radiorodja.com
Sunan At-Tirmidzi, Abu ‘Isa Imam At-Tirmidzi, Maktabah Asy-Syamilah
Syarhun Nawawi ‘Ala Muslim, Imam Nawawi, Maktabah Asy-Syamilah

sumber: https://muslimah.or.id/888-surga-diliputi-perkara-yang-dibenci-jiwa-neraka-diliputi-perkara-yang-disukai-nafsu.html

Bahaya Bicara Agama Tanpa Ilmu

Memahami ilmu agama merupakan kewajiban atas setiap muslim dan muslimah. Rasulullah sholallohu ‘alaihi wassallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim. [HR. Ibnu Majah no:224, dan lainnya dari Anas bin Malik. Dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani]

Dan agama adalah apa yang telah difirmankan oleh Alloh di dalam kitabNya, Al-Qur’anul Karim, dan disabdakan oleh RosulNya di dalam Sunnahnya. Oleh karena itulah termasuk kesalahan yang sangat berbahaya adalah berbicara masalah agama tanpa ilmu dari Alloh dan RosulNya.

Sebagai nasehat sesama umat Islam, di sini kami sampaikan di antara bahaya berbicara masalah agama tanpa ilmu:

1.Hal itu merupakan perkara tertinggi yang diharamkan oleh Allah.

Alloh Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu)” (Al-A’raf:33)

Syeikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz rohimahulloh berkata: “Berbicara tentang Allah tanpa ilmu termasuk perkara terbesar yang diharamkan oleh Allah, bahkan hal itu disebutkan lebih tinggi daripada kedudukan syirik. Karena di dalam ayat tersebut Alloh mengurutkan perkara-perkara yang diharamkan mulai yang paling rendah sampai yang paling tinggi.
Dan berbicara tentang Alloh tanpa ilmu meliputi: berbicara (tanpa ilmu) tentang hukum-hukumNya, syari’atNya, dan agamaNya. Termasuk berbicara tentang nama-namaNya dan sifat-sifatNya, yang hal ini lebih besar daripada berbicara (tanpa ilmu) tentang syari’atNya, dan agamaNya.” [Catatan kaki kitab At-Tanbihat Al-Lathifah ‘Ala Ma Ihtawat ‘alaihi Al-‘aqidah Al-Wasithiyah, hal: 34, tahqiq Syeikh Ali bin Hasan, penerbit:Dar Ibnil Qayyim]

2. Berbicara tentang Allah tanpa ilmu termasuk dusta atas (nama) Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadapa apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS. An-Nahl (16): 116)

3.Berbicara tentang Allah tanpa ilmu merupakan kesesatan dan menyesatkan orang lain.

Rasulullah sholallohu ‘alaihi wassallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hamba-hambaNya sekaligus, tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ulama’. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang ‘alim-pun, orang-orang-pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu para pemimpin itu ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang lain. (HSR. Bukhari no:100, Muslim, dan lainnya)

Hadits ini menunjukkan bahwa “Barangsiapa tidak berilmu dan menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya dengan tanpa ilmu, dan mengqias (membandingkan) dengan akalnya, sehingga mengharamkan apa yang Alloh halalkan dengan kebodohan, dan menghalalkan apa yang Allah haramkan dengan tanpa dia ketahui, maka inilah orang yang mengqias dengan akalnya, sehingga dia sesat dan menyesatkan. (Shahih Jami’il Ilmi Wa Fadhlihi, hal: 415, karya Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr, diringkas oleh Syeikh Abul Asybal Az-Zuhairi)

4.Berbicara tentang Allah tanpa ilmu merupakan sikap mengikuti hawa-nafsu.

Imam Ali bin Abil ‘Izzi Al-Hanafi rohimahulloh berkata: “Barangsiapa berbicara tanpa ilmu, maka sesungguhnya dia hanyalah mengikuti hawa-nafsunya, dan Allah telah berfirman:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ

Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun (Al-Qashshash:50)” (Kitab Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal: 393)

5.Berbicara tentang Allah tanpa ilmu merupakan sikap mendahului Allah dan RasulNya.

Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمُُ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Hujuraat: 1)

Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rohimahulloh berkata: “Ayat ini memuat adab terhadap Alloh dan RosulNya, juga pengagungan, penghormatan, dan pemuliaan kepadanya. Alloh telah memerintahkan kepada para hambaNya yang beriman, dengan konsekwensi keimanan terhadap Alloh dan RosulNya, yaitu: menjalankan perintah-perintah Alloh dan menjauhi larangan-laranganNya. Dan agar mereka selalu berjalan mengikuti perintah Alloh dan Sunnah RosulNya di dalam seluruh perkara mereka. Dan agar mereka tidak mendahului Alloh dan RosulNya, sehingga janganlah mereka berkata, sampai Alloh berkata, dan janganlah mereka memerintah, sampai Alloh memerintah”. (Taisir Karimir Rahman, surat Al-Hujurat:1)

6.Orang yang berbicara tentang Allah tanpa ilmu menanggung dosa-dosa orang-orang yang dia sesatkan.

Orang yang berbicara tentang Allah tanpa ilmu adalah orang sesat dan mengajak kepada kesesatan, oleh karena itu dia menanggung dosa-dosa orang-orang yang telah dia sesatkan. Rasulullah sholallohu ‘alaihi wassallam:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa sebagaimana dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa mereka sedikitpun. (HSR. Muslim no:2674, dari Abu Hurairah)

7.Berbicara tentang Allah tanpa ilmu akan dimintai tanggung-jawab.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS. Al-Isra’ : 36)
Setelah menyebutkan pendapat para Salaf tentang ayat ini, imam Ibnu Katsir rohimahulloh berkata: “Kesimpulan penjelasan yang mereka sebutkan adalah: bahwa Alloh Ta’ala melarang berbicara tanpa ilmu, yaitu (berbicara) hanya dengan persangkaan yang merupakan perkiraan dan khayalan.” (Tafsir Al-Qur’anul Azhim, surat Al-Isra’:36)

8.Orang yang berbicara tentang Allah tanpa ilmu termasuk tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan.

Syeikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami menyatakan: “Fashal: Tentang Haramnya berbicara tentang Allah tanpa ilmu, dan haramnya berfatwa tentang agama Allah dengan apa yang menyelisihi nash-nash”. Kemudian beliau membawakan sejumlah ayat Al-Qur’an, di antaranya adalah firman Allah di bawah ini:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. 5:44)

9.Berbicara agama tanpa ilmu menyelisihi jalan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rohimahulloh menyatakan di dalam aqidah Thahawiyahnya yang masyhur: “Dan kami berkata: “Wallahu A’lam (Allah Yang Mengetahui)”, terhadap perkara-perkara yang ilmunya samar bagi kami”. [Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal: 393]

10.Berbicara agama tanpa ilmu merupakan perintah syaithan.

Allah berfirman:

إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya syaithan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan kepada Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. 2:169)

Keterangan ini kami akhiri dengan nasehat: barangsiapa yang ingin bebicara masalah agama hendaklah dia belajar lebih dahulu. Kemudian hendaklah dia hanya berbicara berdasarkan ilmu. Wallohu a’lam bish showwab. Al-hamdulillah Rabbil ‘alamin.

Penulis: Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari

Sumber: https://muslim.or.id/6442-bahaya-bicara-agama-tanpa-ilmu.html

Jangan Ada Buruk Sangka Diantara Kita

Hati-hatilah dari prasangka buruk kepada saudaramu, karena itu hanyalah akan menambah tabungan dosa bagi dirimu.
Bakr Al-Muzani pernah berkata:

إياك من كلام ما إن أصبت فيه لم تؤجر وإن أخطأت وزرت وذلك سوء الظن بأخيك

“Waspadalah dari ucapan yang jika kamu benar kamu tidak diberi pahala, dan jika kamu salah kamu akan berdosa, yaitu prasangka buruk kepada saudaramu” (Ibnu Sa’ad dalam At Thabaqat, 7/209).

Maka selagi bisa, berbaik sangkalah kepada saudaramu, apalagi kepada ulama pewaris Nabi.

Amirul Mukminin Umar bin Khaththab berkata:

لا تظنن بكلمة خرجت من أخيك إلا خيراً وأنت تجد لها في الخير محملاً

“Janganlah engkau menyangka jelek suatu kalimat yang keluar dari saudaramu muslim sedangkan engkau masih bisa mendapatkan ruang kebaikan dalam memahaminya” (Ibnu Abi Dunya dalam Mudarotun Naas, 45 dan Al Mahamili dalam Al Amaali, 447).

Pernah juga Yunus bin Ubaid terkena musibah dengan meninggal dunia anaknya. Suatu saat, ada seorang mengatakan padanya: Sahabatmu Ibnu ‘Aun tidak datang bertakziyah untukmu, maka beliau menjawab:

إنا إذا وثقنا بمودة أخينا لم يضرنا ألا يأتينا

“Jika kita telah menjalin persaudaran dengan saudara kita dengan kuat. Maka tidak masalah jika dia tidak datang pada kita” (Al-‘Uzlah karya Al-Khathabi, Ash Shadaqah wa Shadiq hlm. 38 karya Ibnu Abi Dunya).

Maka kewajiban bagi kita untuk mengedepankan husnudzhan (baik sangka) kepada saudara kita, lebih-lebih para ustadz atau dai. Apalagi kepada ulama sunnah, terlebih pada zaman sekarang. Zaman medsos yang dengan mudah tangan-tangan mengadu domba dan menebar benih perpecahan.

Ya Allah, beningkanlah hati kami dan jagalah ukhuwah kami

Penulis: Ustadz. Abu Ubaidah As Sidawi

sumber: https://muslimah.or.id/12767-jangan-ada-buruk-sangka-diantara-kita.html

Inilah Hikmah Di Balik Cobaan yang Belum Engkau Tahu

Saudaraku yang semoga dirahmati oleh Allah … Ketahuilah … Allah Taala akan menguji setiap hamba-Nya dengan berbagai musibah, dengan berbagai hal yang tidak mereka sukai, juga Allah akan menguji mereka dengan musuh mereka dari orang-orang kafir dan orang-orang munafiq. Ini semua membutuhkan kesabaran, tidak putus asa dari rahmat Allah dan tetap konsisten dalam beragama. Hendaknya setiap orang tidak tergoyahkan dengan berbagai cobaan yang ada, tidak pasrah begitu saja terhadap cobaan tersebut, bahkan setiap hamba hendaklah tetap komitmen dalam agamanya. Hendaknya setiap hamba bersabar terhadap rasa capek yang mereka emban ketika berjalan dalam agama ini.

Sikap seperti di atas sangat berbeda dengan orang-orang yang ketika mendapat ujian merasa tidak sabar, marah, dan putus asa dari rahmat Allah. Sikap seperti ini malah akan membuat mereka mendapat musibah demi musibah.

Renungkanlah …

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ 

“Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridho (terhadap ujian tersebut) maka baginya ridho Allah dan barang siapa yang marah (terhadap ujian tersebut) maka baginya murka-Nya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah At Tirmidzi berkata bahwa hadits ini Hasan Ghorib)

Dari Mush’ab bin Sa’id (seorang tabi’in) dari ayahnya berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً 

“Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka dia akan mendapat ujian begitu kuat. Apabila agamanya lemah, maka dia akan diuji sesuai dengan agamanya. Senantiasa seorang hamba akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih)

Semoga kita yang sedang mendapat ujian atau musibah merenungkan hadits-hadits di atas. Sungguh ada sesuatu yang tidak kita ketahui di balik musibah tersebut. Maka bersabarlah dan berusahalah ridho dengan taqdir ilahi. Sesungguhnya para Nabi dan orang sholeh dahulu juga telah mendapatkan musibah sebagaimana yang kita peroleh. Lalu kenapa kita harus bersedih, mengeluh dan marah? Bahkan orang sholeh dahulu -sesuai dengan tingkatan keimanan mereka-, mereka malah memperoleh ujian lebih berat. Cobalah kita perhatikan perkataan ulama berikut.

Al Manawi mengatakan, “Barangsiapa yang menyangka bahwa apabila seorang hamba ditimpa ujian yang berat, itu adalah suatu kehinaan; maka sungguh akalnya telah hilang dan hatinya telah buta (tertutupi). Betapa banyak orang sholih (ulama besar) yang mendapatkan berbagai ujian yang menyulitkan. Tidakkah kita melihat mengenai kisah disembelihnya Nabi Allah Yahya bin Zakariya, terbunuhnya tiga Khulafa’ur Rosyidin, terbunuhnya Al Husain, Ibnu Zubair dan Ibnu Jabir. Begitu juga tidakkah kita perhatikan kisah Abu Hanifah yang dipenjara sehingga mati di dalam buih, Imam Malik yang dibuat telanjang kemudian dicambuk dan tangannya ditarik sehingga lepaslah bahunya, begitu juga kisah Imam Ahmad yang disiksa hingga pingsan dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup. … Dan masih banyak kisah lainnya.” (Faidhul Qodhir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 1/518, Asy Syamilah)

Semoga kita termasuk orang-orang yang bersabar ketika menghadapi musibah, baik dengan hati lisan atau pun anggota badan. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang selalu ridho dengan taqdir-Mu.

Sumber Rujukan Utama : Syarh Qowaidil Arba, Syaikh Sholih bin ‘Abdillah Al Fauzan

Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/27-inilah-hikmah-di-balik-cobaan-yang-belum-engkau-tahu.html

Rezeki itu Ujian

Rezeki itu memang suatu ujian.

Buktinya adalah ayat berikut,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16)

“Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Rabbku telah memuliakanku”. Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya Maka Dia berkata: “Rabbku menghinakanku“. (QS. Al-Fajr: 15-16)

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia ketika ia diuji oleh Rabbnya dengan diberi nikmat dan kekayaan, yaitu dimuliakan dengan harta dan kemuliaan serta diberi nikmat yang melimpah, ia pun katakan, “Allah benar-benar telah memuliakanku.” Ia pun bergembira dan senang, lantas ia katakan, “Rabbku telah memuliakanku dengan karunia ini.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228)

Kemudian Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia jika ia ditimpa musibah oleh Rabbnya dengan disempitkan rezeki, yaitu rezekinya tidak begitu banyak, maka ia pun katakan bahwa Rabbnya telah menghinakan atau merendahkannya. Sehingga ia pun tidak bersyukur atas karunia yang Allah berikan berupa keselamatan anggota badan dan rezeki berupa nikmat sehat pada jasadnya.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228)

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas, “Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala mengingkari orang yang keliru dalam memahami maksud Allah meluaskan rezeki. Allah sebenarnya menjadikan hal itu sebagai ujian. Namun dia menyangka dengan luasnya rezeki tersebut, itu berarti Allah memuliakannya. Sungguh tidak demikian, sebenarnya itu hanyalah ujian. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لا يَشْعُرُونَ

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al-Mu’minun: 55-56)

Sebaliknya, jika Allah menyempitkan rezeki, ia merasa bahwa Allah menghinangkannya. Sebenarnya tidaklah sebagaimana yang ia sangka. Tidaklah seperti itu sama sekali.

Allah memberi rezeki itu bisa jadi pada orang yang Dia cintai atau pada yang tidak Dia cintai. Begitu pula Allah menyempitkan rezeki pada pada orang yang Dia cintai atau pun tidak.  Sebenarnya yang jadi patokan ketika seseorang dilapangkan dan disempitkan rezeki adalah dilihat dari ketaatannya pada Allah dalam dua keadaan tersebut. Jika ia adalah seorang yang berkecukupan, lantas ia bersyukur pada Allah dengan nikmat tersebut, maka inilah yang benar. Begitu pula ketika ia serba kekurangan, ia pun bersabar.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 562-563)

—

@ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 15 Rajab 1437 H

Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/13335-rezeki-itu-ujian.html

At Taswif (Menunda Kebaikan) Satu Dari Trik Iblis yang Sangat Berbahaya

Saudaraku seiman…

Terkadang bahkan sering seseorang ingin memulai mengerjakan kebaikan atau amal shalih apapun terhalangi dengan kalimat: “Nanti aja besok dimulainya”

Perhatikan contoh-contoh di bawah ini:

  1. Menunda masuk Islam
  2. Menunda mendirikan shalat
  3. Menunda membayar zakat, melunasi hutang oranglain
  4. Menunda menunaikan ibadah haji atau umroh
  5. Menunda membaca Al Quran atau menghafalnya
  6. Menunda menuntut ilmu
  7. Menunda berbakti kepada orangtua, dan masih banyak penundaan-penundaan lainnya

Begitu juga terkadang seseorang ingin memulai hidup baru, ingin meninggalkan keburukan dan maksiat yang pernah ia lakukan, ingin bertobta, tetapi terhalangi dengan kalimat: “Ntar aja deh, sekaliiii lagi!”.

Perhatikan contoh-contoh berikut;

  1. Menunda bertobat dari kesyirikan, perbuatan bid’ah
  2. Menunda bertobat dari pergi ke dukun, tukang ramal atau semisalnya
  3. Menunda bertobat dari meninggalkan shalat wajib dengan sengaja tanpa alasan
  4. Menunda bertobat dari minum khamr, berjudi, berzina dan dosa besar lainnya
  5. Menunda bertobat dari merokok, mendengar musik dan dosan lainnya

Saudaraku seiman…

Ketauhilah, bahwa itulah penyakit At Taswif (menunda-nunda melakukan kebaikan) yang merupakan salah satu trik Iblis yang paling jitu menghadang manusia untuk taat dan bertobat kepada Allah Ta’ala.

Coba perhatikan ayat berikut:

{يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ } [الحديد: 14]

 Artinya: “Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kalian?” Mereka (orang-orang mukmin menjawab: “Iya Benar, tetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri dan kalian menunggu dan kalian ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kalian telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.” QS. Al Hadid

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: فِي قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: {ذَلِكُمْ بِأَنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ} قَالَ: ” بِالشَّهَوَاتِ “، {وَتَرَبَّصْتُمْ} [الحديد: 14]، قَالَ: ” بِالتَّوْبَةِ “، {وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ} [الحديد: 14]، قَالَ: ” التَّسْوِيفُ بِالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ “، {حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللهِ} [الحديد: 14]، قَالَ: ” الْمَوْتُ “، {وَغَرَّكُمْ بِاللهِ الْغُرُورِ} [الحديد: 14]، قَالَ: ” الشَّيْطَانُ “

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata tentang Firman Allah Azza wa Jalla:

 {ذَلِكُمْ بِأَنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ}(tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri); “dengan syahwat”,

{وَتَرَبَّصْتُمْ} (dan menunggu); “untuk bertobat”,

{وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ} (serta kalian ditipu oleh angan-angan kosong); “Yaitu dengan menunda-nunda untuk beramal shalih”,

{حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللهِ} (sehingga datanglah ketetapan Allah); “Yaitu kematian”,

{وَغَرَّكُمْ بِاللهِ الْغُرُورِ} (dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh seorang yang amat penipu) ; “dialah syetan”. Lihat kitab Syu’ab Al Iman, 9/419.

 Dari ayat mulia di atas dan penjelasan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, kita dapat ambil kesimpulan bahwa;

  1. Menunda-munda amal adalah tipuan Iblis
  2. Menunda-nunda amal adalah sifat dominan kaum munafik
  3. Menunda-nunda amal akan mengakibatkan seseorang terlena sampai ajal menjemputnya, sedangkan ia masih belum beramal

Mari perhatikan perkataan-perkataan penuh makna ini:

قَالَ سَهْلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ: الْجَاهِلُ مَيِّتٌ، وَالنَّاسِي نَائِمٌ، وَالْعَاصِي سَكْرَانُ، وَالْمُصِرُّ هَالِكٌ، وَالْإِصْرَارُ هُوَ التَّسْوِيفُ، وَالتَّسْوِيفُ أَنْ يَقُولَ: أَتُوبُ غَدًا، وَهَذَا دَعْوَى النفس، كيف يتوب غدا وغدا لَا يَمْلِكُهُ!.

Artinya: “Sahl bin Abdullah (w: 238H) rahimahullah berkata: “Seorang yang bodoh itu adalah (seperti) orang mati, seorang yang lupa adalah (seperti) orang yang tidur, seorang yang bermaksiat adalah (seperti) seorang yang mabuk, seorang yang selalu terus menerus bermaksiat adalah (seperti) seorang yang binasa, dan terus-menerus adalah menunda-nunda, dan menunda-nunda adalah seseorang berkata: “AKu akan bertobat besok”, dan ini adalah pengakuan diri, bagaimana ia akan bertobat besok, padahal besok ia tidak (bisa menjamin) memilikinya.” Lihat Kitab Tafsir Al Qurthubi, 4/211.

  عَنْ أَبِي الْجَلْدِ، قَالَ: وَجَدْتُ [ص:55] التَّسْوِيفَ جُنْدًا مِنْ جُنُودِ إِبْلِيسَ، قَدْ أَهْلَكَ خَلْقًا مِنْ خَلْقِ اللهِ كَثِيرًا

“Abu Al Jald (w: 70H) rahimahullah berkata: “Aku mendapati bahwa at taswif (menunda-munda kebaikan) adalah salah satu dari tentara Iblis, ia telah membinasakan banyak makhluk-makhluk Allah.” Lihat kitab Hilyat Al Awliya’ wa Thabaqat Al Ashfiya’, 6/54.

عن ابْنَ مِقْسَمٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ أَبَا بَكْرٍ النَّسَّاجَ، يَقُولُ: سَمِعْتُ السَّرِيَّ، يَقُولُ: «مَنِ اسْتَعْمَلَ التَّسْوِيفَ طَالَتْ حَسْرَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Ibnu Miqsam berkata: “Aku pernah mendengar Abu Bakar An Nassaj berkata: “Aku pernah mendengar As Sirri berkata: “Barangsiapa yang memakai (sikap) At Taswif, niscaya akan panjang penyesalannya pada hari kiamat.” Lihat kitab Hilyat Al Awliya’ wa Thabaqat Al Ashfiya.

Oleh sebab inilah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk bersegera beramal shalih, jangan menunda-nunda dan jangan membuang-buang kesempatan, yang mungkin tidak akan kembali;

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرَجُلٍ وَهُوَ يَعِظُهُ: ” اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هِرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada seseorang, beliau menasehatinya: “Gunakan lima perkara sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum masa tua, sehatmu sebelum sakitamu, kekayaanmu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu dan kehidupanmu sebelum kematianmu.” HR. Al Hakim.

Beliau juga bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersegeralah beramal, sebelum datang fitna (ujian, godaan, keadaan genting yang sulit membedakan antara yang haq dengan yang batil-pen) laksana lipatan malam yang gelap, pada pagi hari seorang menjadi seorang yang beriman dan di sore hari menjadi seorang yang kafir  atau sore hari menjadi seorang yang beriman dan pagi hari menjadi seorang yang kafir, (karena) ia menjual agamanya (hanya) dengan sebgaian dari dunia.” HR. Muslim.

Dan inilah yang dipahami oleh kaum salaf dari para shahabat;

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ .

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma sering berkata: “Jika kamua memasuki waktu sore maka janganlah tunggu waktu pagi, dan jika kamu memasuki waktu pagi janganlah kamu tunggu waktu sore, dan gunakanlah kesehatanmu untuk masa sakitmu, dan kehidupannya untuk kematianmu.” HR. Bukhari.

Saudaraku seiman…

Sungguh kita akan menyesal dengan semua penundaan kita terhadap kebaikan…

{يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى (23) يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي (24)} [الفجر:2324] }

Artinya: “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.” “Dia mengatakan: “ALANGKAH BAIKNYA KIRANYA AKU DAHULU MENGERJAKAN (AMAL SALEH) UNTUK HIDUPKU INI.” QS. Al Fajr: 23-24.

ditulis oleh Ahmad Zainuddin

sumber: http://dakwahsunnah.com/artikel/targhibwatarhib/391-at-taswif-menunda-kebaikan-satu-dari-trik-iblis-yang-sangat-berbahaya

Kunci Ketentraman, Sudahkah Kita Miliki?

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, setiap kita tentu ingin merasakan ketentraman dan ketenangan. Tidak ada orang berakal sehat yang menyukai kekacauan, keributan, dan kerusuhan bertebaran. Hal ini sudah menjadi fitrah pada diri seorang insan. Oleh sebab itu agama datang untuk membimbing manusia dalam rangka mencapai apa yang mereka dambakan itu.

Islam dengan ajaran tauhid yang menghiasi relung-relung Al-Qur’an telah memberikan resep mujarab dan solusi jitu bagi persoalan kehidupan. Tauhid itu sendiri yang merupakan tujuan hidup setiap manusia, merupakan sebab utama datangnya keamanan dan ketentraman. Sebagaimana telah diungkapkan Allah dalam surat Al-An’am ayat 82 yang artinya, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk”.

Para ulama kita menjelaskan, bahwa ayat ini memberikan gambaran tentang manusia yang memiliki akidah yang lurus dan tauhid yang murni. Dimana dia tidak mencampuri iman dan ibadahnya dengan syirik dan kekafiran. Maka orang-orang seperti itulah yang layak mendapatkan keamanan dan ketentraman serta limpahan hidayah dari Allah. Sungguh, itu adalah anugerah dan nikmat yang sangat besar bagi seorang manusia.

Lihatlah realita yang ada di masyarakat. Tidak jarang kita jumpai sebagian kaum muslimin -yang notabene mengaku bertauhid- justru merusak akidah dan iman mereka dengan berbagai bentuk keyakinan dan ritual kemusyrikan. Satu dalih yang sering digunakan adalah demi melestarikan budaya nenek moyang dan ditambah lagi alasan bisnis; yaitu untuk menyemarakkan dunia pariwisata. Aduhai, betapa malangnya masyarakat kita ini jika keadaan ini terus berlangsung dan tidak ada upaya serius dari pada da’i dan pihak berwenang untuk menanggulanginya.

Syirik bukanlah perkara sepele. Syirik adalah dosa besar yang paling besar. Bahkan lebih besar daripada dosa pembunuhan, perzinaan, narkoba, ataupun korupsi. Namun, di saat yang sama kita lihat begitu kecil perhatian bangsa ini dalam upaya penanaman akidah sahihah dan pemberantasan kemusyrikan dari bumi pertiwi. Sungguh ironis! Sebuah negeri yang konon berpenduduk muslim terbesar di dunia akan tetapi dunia keislaman mereka lekat dengan klenik, perdukunan, ritual kemusyrikan dan kebid’ahan. Ini adalah kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri.

Mengapa ini semua terjadi? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena kesalahan kita sendiri. Kita kurang perhatian dalam masalah akidah dan tauhid penduduk negeri ini. Yang kita pikirkan dan kita pusingkan selama ini adalah masalah ekonomi, masalah ini dan itu, masalah anu dan anu, sampai-sampai masalah agama dan problem mendasar bangsa ini justru terlalaikan yaitu kerusakan akidah yang menjalar di berbagai sudut kehidupan. Dimanakah letak kemuliaan dan kejayaan umat apabila akidah dan tauhid justru diabaikan dan kurang diperhatikan?! Jawablah wahai para pecinta Islam, jawablah wahai saudaraku… apa yang sesungguhnya terjadi pada bangsa ini?!

Bukankah Allah telah mengingatkan kita semua (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali apabila mereka mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri” (Ar-Ra’d : 11). Ayat tersebut sudah sangat kita kenal dan kita pahami bersama. Bahwa kemajuan dan kebaikan suatu negeri sangat erat dengan perjuangan penduduknya dalam memperbaiki kondisi. Lantas, perbaikan dan kemajuan seperti apakah yang kita inginkan apabila akidah kaum muslimin rusak, penuh dengan takhayul, khurafat, kemusyrikan mendarah daging, ajaran-ajaran Islam dihina serta dilecehkan, para sahabat nabi dicaci maki, Allah dan rasul-Nya dimusuhi, kemudian kita hanya tinggal diam menunggu kemuliaan turun dari langit?!

***

Penulis: Ari Wahyudi

sumber: https://muslim.or.id/25338-kunci-ketentraman-sudahkah-kita-miliki.html

Contoh-contoh yang berkaitan dengan kaidah ‘Bisa jadi sesuatu yang tidak engkau senangi, ternyata itu baik bagimu’

Contoh dari Al-Quran

  1. Kisah nabi Musa ‘Alaihissalam 

Ketika nabi Musa ‘Alaihissalam masih lahir, Allah ﷻ memerintahkan ibu beliau agar meletakkannya di dalam peti dan dihanyutkan di sungai Nil. Allah ﷻ telah menyebutkannya di dalam beberapa ayat dan surah dalam Al-Quran, di antaranya:

وَأَوْحَيْنا إِلى أُمِّ مُوسى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلا تَخافِي وَلا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

“Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, “Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul.” (QS. Al-Qasas: 7)

Pada saat itu, Fir’aun memerintahkan untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir di negeri Mesir. Salah satu bayi yang lahir saat itu adalah nabi Musa ‘Alaihissalam. Allah ﷻ memberikan wahyu kepada ibu nabi Musa ﷻ untuk menyusuinya. Agar nabi Musa ‘Alaihissalam selamat dari kejaran Fir’aun serta pengawalnya, Allah ﷻ memerintahkan kepada ibu nabi Musa ‘Alaihissalam untuk meletakkannya di dalam peti dan menghanyutkannya di dalam sungai Nil, sehingga akan terbawa oleh arusnya.

Tentunya, hal ini ada ujian yang sangat berat bagi ibu nabi Musa ‘Alaihissalam. Bayangkan, seorang ibu yang telah mengandungnya selama sembilan bulan, lalu pada masa kelahirannya, dia dilepaskan ke dalam aliran sungai Nil. Allah ﷻ berfirman,

وَأَصْبَحَ فُؤادُ أُمِّ مُوسى فَارِغاً إِنْ كادَتْ لَتُبْدِي بِهِ لَوْلا أَنْ رَبَطْنا عَلى قَلْبِها لِتَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan hati ibu Musa menjadi kosong. Sungguh, hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, agar dia termasuk orang-orang yang beriman (kepada janji Allah).” (QS. Al-Qasas: 10)

Allah ﷻ mengokohkan hati ibu nabi Musa ‘Alaihissalam. Apabila Allah ‘Alaihissalam tidak mengokohkan hatinya, pasti beliau tidak akan kuat menghadapi kondisi yang demikian, apalagi ketika melihat nabi Musa ‘Alaihissalam yang masih bayi dihanyutkan pada aliran sungai Nil.

Ketika bayi di dalam peti tersebut terbawa oleh arus sungai Nil dengan diikuti oleh sanak keluarganya, ternyata peti itu ditemukan oleh keluarga Fir’aun, dan mereka pun mengambilnya. Berdasarkan firman Allah ﷻ,

فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَناً إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهامانَ وَجُنُودَهُما كانُوا خاطِئِينَ

“Maka dia dipungut oleh keluarga Fir‘aun agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sungguh, Fir‘aun dan Haman bersama bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.” (QS. Al-Qasas: 8)

Jika diperhatikan, saat itu adalah kondisi yang sangat mengkhawatirkan bagi keluarga nabi Musa ‘Alaihissalam. Mereka bermaksud ingin selamat dari Fir’aun, ternyata di dapatkan juga oleh keluarga Fir’aun. Tentu saja, hal ini termasuk perkara yang menyedihkan dan tidak disukai bagi keluarga nabi Musa ‘Alaihissalam, terutama kepada ibu beliau. Akan tetapi perintah itu harus dihadapi dan dilakukan, karena merupakan ilham yang datang dari Allah ﷻ. Perintah yang datang dari Allah ﷻ harus diterima dan dikerjakan dengan hati yang lapang.

Setelah itu, hal yang menakjubkan terjadi, ketika bayi tersebut hanyut dalam arus sungai dan ditemukan oleh keluarga Fir’aun, maka Allah ﷻ menjadikan istri Fir’aun jatuh cinta kepadanya. Allah ﷻ berfirman,

يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِي وَعَدُوٌّ لَهُ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلى عَيْنِي

“Dia akan diambil oleh (Fir‘aun) musuh-Ku dan musuhnya. Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku.” (QS. Taha: 39)

Istri Fir’aun memberikan kasih sayangnya kepada nabi Musa ‘Alaihissalam, lantaran dia tidak memiliki anak keturunan. Nabi Musa ‘Alaihissalam dijadikan sebagai anak angkat oleh mereka. Pada awalnya, Fir’aun hendak membunuh nabi Musa ‘Alaihissalam, akan tetapi dicegah oleh istrinya. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَقالَتِ امْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لا تَقْتُلُوهُ عَسى أَنْ يَنْفَعَنا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَداً

“Dan istri Fir‘aun berkata, “(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak.” (QS. Al-Qasas: 9)

Akhirnya, nabi Musa ‘Alaihissalam menjadi anak angkat keluarga Fir’aun. Nabi Musa ‘Alaihissalam yang masih bayi menangis, disebabkan lapar. Keluarga Fir’aun mencarikan para wanita untuk menyusui bayi tersebut. Bayi tersebut tidak mau menyusu dari setiap wanita yang datang kepadanya. Mereka masih bersusah payah mencarikan wanita yang dapat menyusuinya. Namun, tidak ada satu pun wanita yang dapat menyusuinya. Pada akhirnya, mereka menemukan wanita yang dapat menyusui bayi tersebut, yaitu ibunda nabi Musa ‘Alaihissalam.

Ibu beliau yang sebelumnya bersedih hati, karena jauh dari bayi yang telah dilahirkannya. Akhirnya, dia diperintahkan untuk bekerja di istana Fir’aun untuk menyusui dan merawat anak angkat Fir’aun, yang ternyata adalah anak kandungnya sendiri. Bayangkan, ibunda nabi Musa ‘Alaihissalam yang sebelumnya tinggal di rumah yang kecil dalam keadaan bersedih hati, lalu Allah ﷻ menggantinya dengan tempat tinggal di istana Fir’aun dan menyusui anaknya sendiri dengan penuh ketenangan. Di samping itu, dia diberikan upah oleh Fir’aun pada saat itu.

Para ulama menyebutkan bahwa pada saat itu ibu nabi Musa ‘Alaihissalam dalam keadaan takut yang sangat luar biasa di pagi hari, karena anaknya dilepaskan dari pangkuannya agar selamat dari Fir’aun. Namun, sebelum malam hari ternyata anaknya  sudah dikembalikan oleh Allah ﷻ dan berada di pangkuannya. Allah ﷻ berfirman,

فَرَجَعْناكَ إِلى أُمِّكَ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُها وَلا تَحْزَنَ

“Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati.” (QS. Taha: 40)

Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.

  1. Kisah nabi Musa ‘Alaihissalam meninggalkan negeri Mesir menuju Madyan.

Allah ﷻ berfirman,

وَجاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعى قالَ يَا مُوسى إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ . فَخَرَجَ مِنْها خائِفاً يَتَرَقَّبُ قالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ . وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقاءَ مَدْيَنَ قالَ عَسى رَبِّي أَنْ يَهْدِيَنِي سَواءَ السَّبِيلِ . وَلَمَّا وَرَدَ ماءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودانِ قالَ مَا خَطْبُكُما قالَتا لا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعاءُ وَأَبُونا شَيْخٌ كَبِيرٌ . فَسَقى لَهُما ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقالَ رَبِّ إِنِّي لِما أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

“Dan seorang laki-laki datang bergegas dari ujung kota seraya berkata, “Wahai Musa! Sesungguhnya para pembesar negeri sedang berunding tentang engkau untuk membunuhmu, maka keluarlah (dari kota ini), sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu.” Maka keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya), dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.” Dan ketika dia menuju ke arah negeri Madyan dia berdoa lagi, “Mudah-mudahan Tuhanku memimpin aku ke jalan yang benar.”Dan ketika dia sampai di sumber air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum (ternaknya), dan dia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang perempuan sedang menghambat (ternaknya). Dia (Musa) berkata, “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua (perempuan) itu menjawab, “Kami tidak dapat memberi minum (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya.” Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qasas: 20-24)

Tentunya hal ini tidak mengenakkan bagi nabi Musa ‘Alaihissalam. Beliau ‘Alaihissalam keluar meninggalkan Mesir dalam kondisi lapar tidak membawa bekal. Beliau meninggalkan Mesir dengan tiba-tiba; karena ketahuan oleh pengikut Fir’aun yang telah membunuh salah seorang dari mereka, sehingga beliau dikejar dan membuat beliau kabur meninggalkan Mesir dalam keadaan tidak membawa bekal. Ketika sampai di tengah jalan yang berupa padang pasir, beliau dilanda kelaparan. Beliau tidak mendapati apa pun yang bisa dimakan, sampai-sampai memakan dedaunan.

Ketika beliau sampai di Madyan, beliau bertemu dengan lelaki yang saleh, yaitu nabi Syu’aib ‘Alaihissalam. Beliau menikah di negeri tersebut dengan wanita yang salehah, yaitu putri nabi Syu’aib ‘Alaihissalam. Setelah itu, beliau pergi meninggalkan Madyan menuju Mesir. Di tengah perjalanan menuju Mesir, ternyata Allah ﷻ menjadikan beliau seorang rasul. Beliau diangkat menjadi seorang rasul untuk mendakwahi Fir’aun.

Bisa jadi engkau membenci sesuatu, ternyata itu baik bagimu

Semua ini terjadi karena nabi Musa ‘Alaihissalam pergi dari negerinya, lalu menikah, mencari ketenangan, menggembala kambing. Semua itu sebagai bentuk persiapan dalam berdakwah. Para ulama mengatakan bahwasanya para nabi menggembala kambing agar mereka mempunyai keahlian mengatur jumlah manusia dengan berbagai tabiat yang berbeda sebagaimana kambing. Ternyata dibalik keburukan tersebut, ada banyak kebaikan.

  1. Kisah nabi Yusuf ‘Alaihissalam.

Di dalam Al-Quran dikisahkan bagaimana nabi Yusuf ‘Alaihissalam dimusuhi oleh saudara-saudaranya. Mereka memasukkan beliau ke dalam sumur. Beliau dijual sebagai budak, lalu dibeli oleh seorang bangsawan di Mesir. Beliau dituduh berzina, hingga di penjara. Di akhir kisah beliau, Allah ﷻ mempunyai skenario yang menakjubkan. Ketika nabi Yusuf ‘Alaihissalam sampai di Mesir dengan melalui berbagai macam ujian, akhirnya beliau ‘Alaihissalam di angkat menjadi bendaharawan Mesir. Setelah itu, saudara-saudara dan keluarga beliau yang tinggal di pelosok badui dipanggil dan tinggal di Mesir. Mereka tinggal di tempat yang mulia disebabkan nabi Yusuf ‘Alaihissalam.

Tentu saja semua yang dilewati oleh nabi Yusuf ‘Alaihissalam adalah perkara-perkara yang tidak disukai. Siapakah yang suka dimusuhi oleh saudara-saudaranya? Seseorang yang dimusuhi oleh orang jauh saja tidak suka, apalagi dimusuhi oleh orang terdekatnya. Siapakah yang suka dilemparkan ke dalam sumur? Bayangkan, orang yang berada di dalam sumur tidak bisa berbuat apa-apa. Siapakah yang suka dijual oleh saudara-saudaranya sebagai budak? Bayangkan, kita semua adalah orang yang merdeka, yang memiliki kebebasan, tiba-tiba ditangkap dan dikatakan sebagai budak yang melarikan diri.

Di dalam kerajaan Mesir beliau harus bekerja menjadi seorang pembantu. Setelah itu, beliau masih saja dituduh berzina dengan istri majikannya tersebut. Akhirnya beliau pun di penjara, dan bertahun-tahun beliau berada di penjara.

Ujian demi ujian beliau lewati, dan ternyata Allah ﷻ memiliki skenario yang menakjubkan untuk hamba-Nya. Semua ujian-ujian berat yang beliau lewati di tengah-tengah kehidupannya, Allah ﷻ memberikan kebahagiaan kepada beliau di ujung kehidupannya. Allah ﷻ berfirman,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ

“Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.”

Bisa saja engkau membenci sesuatu, ternyata Allah menjadikan di balik kebencian tersebut banyak kebaikan.

  1. Kisah anak remaja yang dibunuh oleh Khadhir ‘Alaihissalam.

Allah ﷻ berfirman,

فَانْطَلَقَا حَتَّى إِذَا لَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا

“Maka berjalanlah keduanya; hingga ketika keduanya berjumpa dengan seorang anak muda, maka dia membunuhnya. Dia (Musa) berkata, “Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.” (QS. Al-Kahfi: 74)

Ketika nabi Musa ‘Alaihissalam dan Khadhir q sampai pada suatu tempat dan bertemu dengan seorang anak yang sedang bermain-main dengan teman-temannya, tiba-tiba Khadhir ‘Alaihissalam membunuh anak tersebut. Hal ini membuat nabi Musa ‘Alaihissalam bertanya kepadanya,

قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا

“Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.” (QS. Al-Kahfi: 74)

Bayangkan, ini adalah ujian bagi orang tua dari anak tersebut. Wafatnya seorang anak merupakan ujian yang besar bagi kedua orang tuanya. Akhirnya, nabi Khadhir ‘Alaihissalam menjelaskan kepada nabi Musa ‘Alaihissalam,

وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا . فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا

“Dan adapun anak muda (kafir) itu, kedua orang tuanya mukmin, dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran. Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak) lain yang lebih baik kesuciannya daripada (anak) itu dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya).” (QS. Al-Kahfi: 80-81)

Anak kecil yang dibunuh tersebut, kedua orang tuanya telah beriman. Seandainya anak itu tumbuh besar dan dewasa, sedangkan dia selalu disayang oleh kedua orang tuanya, maka dikhawatirkan akan menjerumuskan kedua orang tuanya dalam kemaksiatan dan kekufuran. Maka dari itu, Khadhir ‘Alaihissalam ingin agar anak ini meninggal dunia, sehingga Allah ﷻ memberikan ganti dengan anak yang lebih berbakti dan sayang kepada kedua orang tuanya.

Meskipun demikian, tentu saja ini adalah ujian yang berat bagi kedua orang tua tersebut. Keduanya tidak mengetahui hikmah dibalik wafatnya anak mereka. Akan tetapi, Allah ﷻ memberitahukan kepada keduanya melalui nabi Khadhir ‘Alaihissalam bahwa sepeninggal anak tersebut, Allah ﷻ akan menggantikannya dengan anak yang saleh, berbakti kepada keduanya dan mampu membawa mereka ke surga. Seandainya anaknya dibiarkan untuk hidup, maka justru akan menjerumuskan keduanya ke dalam kekufuran.

  1. Kisah perang Badar

Telah disebutkan di dalam sirah nabi Muhammad ﷺ ketika Abu Sufyan datang bersama kafilah dagangnya dengan membawa 1000 ekor unta dan harta sebanyak 5000 dinar. Kafilah tersebut hendak melewati Madinah, lalu dihadang oleh Rasulullah ﷺ beserta pasukannya. Dalam rangka merebut harta tersebut, tentunya akan mengakibatkan terjadi peperangan. Hal ini dikarenakan orang-orang Quraisy dahulu sudah merebut harta kaum muslimin dari kota Makkah ketika mereka berhijrah.

Abu Sufyan mengetahui rancana Nabi ﷺ, lantas Abu Sufyan memberitakan hal ini kepada Abu Jahal. Setelah itu, Abu Jahal pun datang dengan 1000 pasukan. Ketika itu, para sahabat ingin berperang melawan Abu Sufyan, karena Abu Sufyan hanya dikelilingi oleh beberapa puluh pasukan saja. Adapun pasukan Abu Jahal berjumlah 1000 pasukan. Allah ﷻ berfirman,

يُجادِلُونَكَ فِي الْحَقِّ بَعْدَ مَا تَبَيَّنَ كَأَنَّما يُساقُونَ إِلَى الْمَوْتِ وَهُمْ يَنْظُرُونَ . وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّها لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِماتِهِ وَيَقْطَعَ دابِرَ الْكافِرِينَ

“Mereka membantahmu (Muhammad) tentang kebenaran setelah nyata (bahwa mereka pasti menang), seakan-akan mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab kematian itu). Dan (ingatlah) ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah untukmu. Tetapi Allah hendak membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir sampai ke akar-akarnya.” (QS. Al-Anfal: 6-7)

Di dalam ayat tersebut Allah ﷻ menyebutkan bahwa para sahabat ingin agar mereka melawan Abu Sufyan, karena keuntungan yang dia dapatkan dari perdagangannya sangat banyak. Mereka ingin untuk menangkap Abu Sufyan, mengambil hartanya, selagi jumlah mereka sedikit. Akan tetapi, mereka tidak menyadari bahwa mereka harus menghadapi pasukan Abu Jahal berjumlah sangat banyak, meskipun tidak membawa harta.

وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّها لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِماتِهِ وَيَقْطَعَ دابِرَ الْكافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah untukmu. Tetapi Allah hendak membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir sampai ke akar-akarnya.” (QS. Al-Anfal: 7)

Allah ﷻ telah menjanjikan dua pilihan, yang salah satunya pasti akan mereka dapatkan. Namun, mereka berharap yang mereka lawan adalah Abu Sufyan, bukan Abu Jahal. Tatkala mereka tahu bahwa ternyata yang mereka lawan adalah Abu Jahal dan pasukannya, maka seakan-akan mereka merasa dibawa kepada kematian, sementara mereka melihat kematian di depan mereka. bagaimana mungkin, pasukan yang berjumlah kurang lebih 300 orang melawan 1000 orang.

Di dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa para sahabat menginginkan melawan kafilah dagang Abu Sufyan, karena melawan mereka lebih mudah. Mereka benci dan tidak suka melawan pasukan Abu Jahal. Namun, Allah ﷻ berfirman,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ

“Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.”

Mereka harus melawan pasukan Abu Jahal dengan seribu pasukannya. Ternyata dengan perang Badar tersebut, mereka mendapatkan keutamaan yang luar biasa. Allah ﷻ menamakan hari tersebut dengan يَوْمُ الْفُرْقَان ‘Hari Pembeda’. Para sahabat yang mengikuti peperangan tersebut mendapatkan gelar الْبَدْرِيّ ‘Ahli Badar’. Mereka mendapatkan jaminan surga dari Allah ﷻ. Ternyata, di balik ketidaksukaan mereka ini, mereka justru mendapatkan banyak kebaikan.

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ

“Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.”

  1. Contoh dari As-Sunah
  2. Kisah Ummu Salamah radhiallahu ‘anha

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha adalah seorang sahabiah yang sangat cinta kepada suaminya, yaitu Abu Salamah radhiallahu ‘anhu. Begitu juga dengan Abu Salamah radhiallahu ‘anhu yang memiliki sifat sangat baik kepada istrinya.

Abu Salamah radhiallahu ‘anhu meninggal dunia. Tentu saja, ini menjadi ujian yang sangat berat bagi Ummu Salamah radhiallahu ‘anha. Dia telah menjalani kisah yang panjang bersama suami yang dicintainya. Di antaranya dia pernah dipisahkan dari suaminya, ketika hendak berhijrah. Kabilahnya menahannya agar tidak ikut suaminya hijrah ke Madinah, sedangkan Abu Salamah radhiallahu ‘anhu pergi berhijrah seorang diri.

Akhirnya, Ummu Salamah radhiallahu ‘anha tinggal seorang diri bersama putranya selama setahun. Setiap hari pada pagi hari dia keluar  rumahnya dalam keadaan menangis. Sampai akhirnya ada seseorang yang merasa iba dengannya, sehingga membawanya untuk menyusul ke Madinah, hingga bertemu suaminya.

Setelah mereka bertemu di Madinah, tidak lama kemudian Abu Salamah radhiallahu ‘anhu pun meninggal dunia. Musibah yang sangat berat baginya. Ummu Salamah radhiallahu ‘anha berdoa dengan doa yang telah diajarkan dari Nabi ﷺ, sebagaimana hadits,

سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ، فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللهُ: {إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا “، قَالَتْ: فَلَمَّا مَاتَ أَبُو سَلَمَةَ، قُلْتُ: أَيُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ مِنْ أَبِي سَلَمَةَ؟ أَوَّلُ بَيْتٍ هَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ إِنِّي قُلْتُهَا، فَأَخْلَفَ اللهُ لِي رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ: أَرْسَلَ إِلَيَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَاطِبَ بْنَ أَبِي بَلْتَعَةَ يَخْطُبُنِي لَهُ، فَقُلْتُ: إِنَّ لِي بِنْتًا وَأَنَا غَيُورٌ، فَقَالَ: أَمَّا ابْنَتُهَا فَنَدْعُو اللهَ أَنْ يُغْنِيَهَا عَنْهَا، وَأَدْعُو اللهَ أَنْ يَذْهَبَ بِالْغَيْرَةِ

“Aku mendengar Rasulullah ﷺ berkata, ‘Tidaklah seorang muslim yang tertimpa musibah, lalu mengucapkan sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. Ya Allah berikanlah pahala pada musibahku ini dan berikanlah ganti yang lebih baik darinya), kecuali Allah akan memberikan kepadanya ganti yang lebih baik’. Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku berkata, ‘Siapakah orang yang lebih baik dari Abu Salamah? Orang pertama yang hijrah kepada Rasulullah ﷺ, lalu aku mengucapkan doa itu, maka Allah memberi ganti kepadaku berupa Rasulullah ﷺ’. Rasulullah ﷺ mengutus Hatib bin Abu Balta’ah untuk melamarku, lalu aku berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya aku memiliki seorang anak perempuan, sedangkan aku adalah orang yang pencemburu’, lalu beliau ﷺ bersabda, ‘Adapun anaknya, kita akan berdoa kepada Allah agar mencukupinya dan aku akan berdoa kepada Allah agar menghilangkan rasa cemburu itu’.” ([6])

Di dalam hadis tersebut Ummu Salamah radhiallahu ‘anhu ketika aku hendak mengucapkan doa, وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا ‘Gantikanlah aku dengan yang lebih baik’, dia berhenti, lalu dia bergumam, ‘Siapakah yang lebih baik dari Abu Salamah?’. Tetapi karena ini adalah sunah yang diajarkan oleh Nabi ﷺ, maka dia pun membaca doa tersebut. Ternyata, Allah ﷻ menggantikan Abu Salamah radhiallahu ‘anhu dengan nabi Muhammad ﷺ.

Nabi ﷺ pun datang melamar Ummu Salamah radhiallahu ‘anha dengan mengutus Hatib bin Abu Balta’ah. ketika itu, Ummu salamah radhiallahu ‘anha berkata, ‘Aku sudah tua, sedangkan aku memiliki anak, sedangkan aku pun cemburu, karena engkau memiliki istri-istri’. Ummu Salamah merasa sungkan untuk menikah dengan Nabi ﷺ karena beberapa pertimbangan. Akhirnya, Nabi ﷺ bersabda, ‘Adapun engkau sudah tua, maka aku lebih tua darimu. Adapun engkau memiliki anak, maka kita berdoa agar Allah ﷻ mencukupkannya. Adapun engkau mempunyai rasa cemburu, maka aku akan berdoa kepada Allah untuk menghilangkan kecemburuanmu’. Akhirnya Ummu Salamah radhiallahu ‘anha menikah dengan Nabi ﷺ.

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ

“Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.”

  1. Kisah Fathimah binti Qais radhiallahu ‘anha 

Diriwayatkan dari Fathimah binti Qais radhiallahu ‘anha,

أَنَّ أَبَا عَمْرِو بْنَ حَفْصٍ طَلَّقَهَا الْبَتَّةَ، وَهُوَ غَائِبٌ، فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا وَكِيلُهُ بِشَعِيرٍ، فَسَخِطَتْهُ، فَقَالَ: وَاللهِ مَا لَكِ عَلَيْنَا مِنْ شَيْءٍ، فَجَاءَتْ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لَهُ، فَقَالَ: «لَيْسَ لَكِ عَلَيْهِ نَفَقَةٌ»، فَأَمَرَهَا أَنْ تَعْتَدَّ فِي بَيْتِ أُمِّ شَرِيكٍ، ثُمَّ قَالَ: «تِلْكِ امْرَأَةٌ يَغْشَاهَا أَصْحَابِي، اعْتَدِّي عِنْدَ ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ، فَإِنَّهُ رَجُلٌ أَعْمَى تَضَعِينَ ثِيَابَكِ، فَإِذَا حَلَلْتِ فَآذِنِينِي»، قَالَتْ: فَلَمَّا حَلَلْتُ ذَكَرْتُ لَهُ أَنَّ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ، وَأَبَا جَهْمٍ خَطَبَانِي، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمَّا أَبُو جَهْمٍ، فَلَا يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتِقِهِ، وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لَا مَالَ لَهُ، انْكِحِي أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ» فَكَرِهْتُهُ، ثُمَّ قَالَ: «انْكِحِي أُسَامَةَ»، فَنَكَحْتُهُ، فَجَعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْرًا، وَاغْتَبَطْتُ بِهِ

“Sesungguhnya Abu ‘Amr bin Hafs menceraikannya dengan talak tiga, sedangkan dia sedang tidak bersamanya, lalu mengutus seseorang sebagai wakilnya dengan membawa gandum, maka Fathimah marah kepadanya, lalu Abu Amr berkata kepadanya, ‘Demi Allah, engkau sudah tidak memiliki hak lagi atasku sedikit pun’, lalu Fathimah pun datang kepada Rasulullah ﷺ dan menceritakan hal itu kepada beliau. Beliau bersabda, ‘Engkau tidak berhak untuk mendapatkan nafkah atasnya’, lalu beliau memerintahkannya untuk menunggu masa ‘iddahnya di rumah Ummu Syarik, kemudian beliau ﷺ bersabda, ‘Wanita itu sering dikunjungi oleh para sahabatku, tunggulah masa ‘iddahmu bersama Ibnu Ummi Maktum, sesungguhnya dia adalah seorang yang buta matanya, sehingga kamu bisa menanggalkan pakaianmu, jika kamu telah selesai maka beritahukanlah kepadaku’. Ketika telah selesai masa ‘iddahku, maka aku memberitahukan beliau bahwa Mu’awiyah bin Abu Sufyan dan Abu Jahm hendak melamarku, lalu Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Adapun Abu Jahm tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya, sedangkan Mu’awiyah miskin, tidak memiliki harta, nikahilah Usamah bin Zaid’, maka aku tidak suka dengannya, kemudian beliau bersabda, ‘Nikahilah Usamah’. Aku pun menikah dengannya. Setelah itu, Allah menjadikan kebaikan di dalamnya, dan aku dicemburui karenanya.” ([7])

Fathimah binti Qais radhiallahu ‘anha adalah seorang wanita yang mulia. Ketika dia diceraikan dari suaminya dan selesai dari masa ‘iddahnya. para sahabat datang kepadanya untuk melamarnya. Di antara sahabat yang melamarnya adalah Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu  dan Abu Jahm radhiallahu ‘anhu. Keduanya datang melamarnya dengan tiba-tiba, sedangkan saat itu Fathimah belum berkeinginan untuk menerimanya. Setelah itu, dia datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya kepada beliau. Di antara kecerdasannya adalah dia bermusyawarah kepada Nabi ﷺ. Dia bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya dua pemuda ini melamarku’. Nabi ﷺ memberitahukan kepadanya bahwa Mu’awiyah miskin, tidak memiliki uang, sedangkan Abu Jahm, tongkatnya selalu berada di pundaknya, artinya suka memukul perempuan. Beliau memerintahkannya untuk menikah dengan Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anha.

Tentu saja, keputusan Rasulullah ﷺ membuat Fathimah binti Qais radhiallahu ‘anha menjadi kebingungan. Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu adalah pemuda Quraisy, kabilah yang tinggi. Abu Jahm radhiallahu ‘anhu  juga merupakan pemuda Quraisy, sedangkan Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anha adalah anak dari seorang budak. Zaid bin Al-Harits adalah seorang budak dan bukan dari kabilah Quraisy. Bahkan, disebutkan bahwa Usamah adalah seorang pemuda yang berkulit hitam. Dia adalah anak dari Zaid bin Al-Harits dengan Ummu Aiman radhiallahu ‘anha.

Keputusan Rasulullah ﷺ agar Fathimah binti Qais radhiallahu ‘anha menikahi dengan Usamah radhiallahu ‘anhu membuatnya seolah tidak semangat. Maka, di dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ berkata kepadanya,

طَاعَةُ اللَّهِ وَطَاعَةُ رَسُولِهِ خَيْرٌ لَكِ

“Taat kepada Allah dan Rasul-Nya lebih baik bagimu.”([8])

Dalam hal ini, Nabi ﷺ tidak memaksa, namun hanya mengatakan bahwa taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah lebih baik.  Fathimah radhiallahu ‘anha pun akhirnya menikah dengan Usamah radhiallahu ‘anhu, dan ternyata Allah ﷻ memberikan banyak kebaikan. sampai-sampai orang-orang merasa cemburu, seakan-akan mereka merasa bahwa Fathimah binti Qais radhiallahu ‘anha mendapatkan kebaikan yang banyak ketika menikah dengan Usamah ﷺ. Karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya, akhirnya Allah ﷻ menjadikan lebih baik kepadanya.

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ

“Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.”

  1. Contoh yang disebutkan oleh para ulama
  2. Kisah seorang prajurit, Ubaidillah bin Ziyad.

كَانَ رَجُلٌ بِالْبَصْرَةِ مِنْ بَني سَعيدٍ، وَكَانَ قَائِدًا مِنْ قُوّادِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ زِيَادٍ ، فَسَقَطَ مِنْ السَّطْحِ فَانْكَسَرَتْ رِجْلَاهُ ، فَدَخَلَ عَلَيْهِ أَبُوْ قِلَابَةَ يَعُوْدُهُ ، فَقَالَ لَهُ  أَرْجُو أَنْ يَكونَ لَكَ خِيْرَةً ، فَقَالَ  يَا أَبَا قِلَابَةَ ، وَأَيُّ خِيرَةٍ فِي كَسْرٍ رِجْلِي جَمِيعًا ، قَالَ : مَا سَتَرَ اللَّهُ عَنْكَ أَكْثَرَ ، فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ ثَلاثٍ وَرَدَ عَلَيْهِ كِتابُ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ زِيَادٍ أَنْ يَخْرُجَ فَيُقَاتِلَ الحُسَيْنَ بْنَ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقَالَ لِلرَّسُولِ  قَدْ أَصَابَنِي مَا تَرَى ، فَمَا كَانَ إِلَّا سَبْعًا حَتَّى وَافَى الخَبَرُ بِقَتْلِ الحُسَيْنِ ، فَقَالَ الرَّجُلُ : رَحِمَ اللَّهُ أَبَا قِلَابَةَ ، لَقَدْ صَدَقَ أَنَّهُ كَانَ خِيْرَةً لِي

Ada seorang berasal dari Bani Sa’id, Bashrah. Dia adalah seorang panglima Ubaidillah bin Ziyad. Suatu ketika dia terjatuh dari atap rumah, hingga menyebabkan keretakan pada kedua kakinya. Abu Qilabah([9]) datang menjenguknya, lalu berkata, ‘Aku berharap semoga menjadi hal yang terbaik bagimu’, lalu dia bertanya, ‘Wahai Abu Qilabah, kebaikan apa pada musibah patahnya kedua kakiku ini?’. Dia menjawab, ‘Allah lebih banyak mengetahui rahasia dibalik itu’. Tiga hari setelahnya, Ubaidillah bin Ziyad diperintahkan untuk berangkat memimpin pasukan melawan Al-Husain bin ‘Ali radhiallahu ‘anha, lalu dia berkata kepada utusannya, ‘Engkau telah melihat musibah yang menimpaku’. Tujuh hari setelah nya datanglah kabar kepadanya bahwa Al-Husain radhiallahu ‘anhu telah terbunuh, dia pun berkata, ‘Semoga Allah merahmati Abu Qilabah, dia telah berkata benar bahwa musibah ini adalah yang terbaik bagiku’. ([10])

Allah ﷻ mendatangkan kebaikan dalam bentuk musibah. Seandainya dia dalam keadaan sehat, bisa jadi dia akan berangkat memimpin pasukannya menghadap Al-Husain dan membunuhnya. Jika hal ini terjadi, bagaimana jika dia bertemu dengan Nabi ﷺ di akhirat kelak, semantara dia memimpin dan membunuh cucu beliau ﷺ.

  1. Disebutkan juga oleh Ibnu Katsir r tentang seseorang yang sedang pergi ke Makkah, dekat dengan sumur zam-zam. Dia membawa sebuah emas yang sangat berat. Dia meletakkannya di suatu tempat hingga lupa, ternyata emasnya tersebut tidak dibawanya dan hilang. Setelah itu dia pun kembali ke negara asalnya. Selang beberapa tahun, dia pun jatuh miskin. Ketika dalam keadaan yang serba kekurangan itu, dia gunakan hartanya yang tersisa untuk membeli sebuah kaca, seperti gelas dan semacamnya. Suatu hari dia berjalan di suatu tempat, lalu tersandung dan membuatnya terjatuh. Ternyata kaca yang hendak dijadikan modal untuk perniagaan terjatuh dan pecah. Akhirnya dia pun menangis.

Orang-orang pun datang kepadanya dan bertanya, ‘Kenapa engkau menangis?’, dia berkata, ‘Dahulu saya pernah kehilangan emas yang berat, namun saya tidak menangisinya, karena saat itu aku mengira bahwa emas itu bukanlah hartaku, di samping itu aku masih memiliki harta. Aku menangisi kaca ini, karena ini adalah hartaku yang terakhir. Dengan pecahnya kaca ini, maka aku tidak memiliki harta lagi’. Di dalam keramaian tersebut, ternyata ada salah seorang di antara mereka yang bertanya kepadanya, ‘Engkau kehilangan emas?’, ‘Benar’ jawabnya. Dia bertanya ‘Ceritakan kepadaku bagaimana sifatnya?’. Ternyata dia lah yang dahulu menemukan emas tersebut. Akhirnya orang itu mengembalikan emas tersebut kepada pemiliknya setelah beberapa tahun.

Allah ﷻ menginginkan kebaikan, pecahnya kaca yang dimilikinya di tengah jalan untuk modal perniagaan, ternyata di balik itu Allah berkehendak memberikan emas yang pernah hilang.

  1. Disebutkan oleh Syaikh Ali Thanthawi r. ([11])

Ada seseorang yang hendak pergi naik pesawat -hal ini juga pernah terjadi di zaman sekarang ini-. Al-Hasil dia tertidur pada saat jadwal keberangkatannya. Dia pun berangkat ke bandara dan ternyata pesawat yang hendak dia naiki sudah terbang. Akhirnya dia bersedih. Namun, tiba-tiba ada pengumuman bahwa pesawat yang seharusnya dia naiki tersebut meledak, hingga mengakibatkan banyak penumpangnya meninggal dunia.

Hal ini, juga pernah dialami oleh teman penulis. Ketika dia hendak naik pesawat untuk pulang menuju Indonesia, dia berangkat ke bandara, namun terjebak macet. Akibatnya dia terlambat ke bandara, sehingga pesawat pun terbang meninggalkannya. Akan tetapi, beberapa saat setelahnya diumumkan bahwa pesawat yang hendak dinaikinya tersebut meledak di udara.

Kita tidak tahu, bisa jadi Allah menentukan keburukan bagi kita, namun sejatinya di balik keburukan tersebut, ternyata ada kebaikan yang Allah persiapkan untuk kita.

selengkapnya: https://bekalislam.firanda.com/5754-bisa-jadi-yang-kamu-benci-baik-bagimu.html

Hanya Ada Dua Pilihan, Waktu Diisi Dengan Kebaikan Atau Pasti Diisi Dengan Keburukan

Tidak ada yang tengah-tengah atau netral, waktu diisi dengan kebaikan atau jika tidak pasti diisi dengan keburukan. Karena diam dan “ngangur” termasuk hal yang sia-sia yang merupakan keburukan.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ

“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil”[1]
terutama pemuda, harus diisi dengan kegiatan positif:
-membantu orang lain, meringakan kesusahan orang lain dan bakti sosial, dengan harapan Allah akan membantu kita disaat-saat sulit dunia dan terutama di akhirat (kandungan hadits)

-menghasilkan karya yang bermanfaat bagi orang lain meskipun kecil, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia (kandungan hadits)

Agar selalu memiliki kegiatan positif seorang muslim harus mempunyai target dan tujuan hidup, ia susun target jangka panjang, menengah dan jangka pendek. Kemudian dia lakukan apa yang harus ditempuh. Misalnya selama kuliah harus hapal 10 juz, maka ia harus mencicl setiap minggu hapalan sebanyak 1 halaman misalnya.

Ingat ! orang yang tidak memiliki target hidupnya hanya akan mengalir saja seperti air, dan kita ketahui bersama air itu selalu mengalir ke bawah. Apakah kita mau selalu mengalir begitu saja kebawah?

Ingat juga! Orang yang menyusuun target kemudain tercapai setangahnya atau tidak tercapai sama sekali, itu lebih baik dari orang yang tidak punya target dan tujuan hidup sama sekali.

Menyusun kehidupan dan target serta tujuan adalah ajaran Islam

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok ; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Hasyr: 18)

Sekali lagi, Seorang muslim harus mempunyai target dan visi masa depan. Jangan sampai kehidupannya sekedar mengalir saja, karena sesuatu yang mengalir pasti dari atas menuju ke bawah. Bautlah target jangka pendek, target jangka menengah dan target jangka panjang. Misalnya selama saya kuliah di Yogyakarta, saya harus bisa bahasa Arab. Maka ia membuat langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai target, misalnya ikut kursus, sehari menghapalkan sekian kosa-kata bahasa Arab dan Inggris.

Yang paling penting diuntuk diingat adalah masa depan yang paling “depan” yaitu akhirat. Maka ini juga harus ada persiapan dan target yaitu masuk surga tertinggi, surga Firdaus serta masuk surga tanpa hisab dan melihat wajah Allah di surga kelak. Karena nikmat terbesar di surga yang mengalahkan nikmat-nikmat  yang lain adalah meilhat wajah Allah.

Firman Allah Ta’ala,

{وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ، إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ}

“Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri (indah). Kepada Rabbnyalah mereka melihat” (al-Qiyaamah:22-23)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنْ النَّارِ قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَزَادَ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, (yang artinya) “Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga) ?” Maka mereka menjawab, “Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami ? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka ?” Maka (pada waktu itu) Allah membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai dari pada melihat (wajah) Allah Azza wa Jalla”. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat tersebut di atas”.[2]

@Pogung Dalangan, Yogyakarta tercinta

Penyusun:  Raehanul Bahraen

[1]Al Jawabul Kaafi hal 156, Darul Ma’rifah, cetakan pertama, Asy-Syamilah
[2]HR Muslim dalam Shahîh Muslim no. 181

sumber: https://muslimafiyah.com/hanya-ada-dua-pilihan-waktu-diisi-dengan-kebaikan-atau-pasti-diisi-dengan-keburukan.html