



Jika kita lupa memabaca doa bangun tidur dan terlanjur beraktifitas, atau wudhu kita kurang sempurna dan shalat kita tidak khusyuk, ap boleh diganti dengan:
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Kita simak hadis berikut
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ مَكَانَ كُلِّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ
Setan mengikat di tengkuk kepala kalian saat ia tidur dengan tiga ikatan yang pada masing-masingnya tertulis, ‘Malammu masih panjang, tidurlah yang nyenyak!’
Apabila dia bangun lalu berdzikir kepada Allah, maka satu ikatan lepas. Apabila dia berwudhu, satu ikatan lagi akan lepas. Dan apabila dia shalat, satu ikatan lepas lagi. Sehingga di pagi hari dia dalam keadaan semangat dengan jiwa yang lapang. Namun jika dia tidak melakukan hal itu, maka di pagi hari jiwanya kotor dan dia menjadi malas.” (HR. Bukhari 1142 & Muslim 1855).
Kata as-Sindi dalam catatannya,
ولعل ذلك يكون سببا لثقل النوم يمنع الإنسان من رفع الرأس عن موضعه في حالة النوم ولذلك خص القافية لأن الثقل فيها أشد منعا للرأس من الرفع…
Mungkin ini yang menjadi sebab orang itu menjadi berat bangun ketika tidur. Seseorang sangat susah untuk mengangkat kepalanya dari bantalnya ketika tidur. Karena itulah disebutkan tengkuk, karena ini yang paling susah diangkat…
Beliau juga mengatakan,
ولعل تخصيص العقد بالثلاث لتمنع كل عقدة عن واحد من الأمور الثلاث أعني الذكر والوضوء والصلاة
Mengapa menggunakan ikatan, mungkin masing-masing ikatan untuk menghalangi 3 jenis ibadah: berdzikir ketika bangun, wudhu, dan shalat. (Hasyiyah as-Sindi ‘ala Ibn Majah, 1/399)
Dalam hadis terdapat anjuran untuk berdzikir ketika bangun tidur. Dalam suasana sedang loading… hati dipaksa ingat Allah dan lidah dipaksa mengucapkan dzikir.
Kita simak keterangan as-Sindi,
قوله ( فذكر الله ) بأي ذكر كان لكن المأثور أفضل
Keterangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “dia berdzikir menyebut nama Allah ketika bangun.” Artinya dengan dzikir apapun, namun dzikir yang ma’tsur (yang diajarkan dalam dalil) lebih afdhal. (Hasyiyah as-Sindi ‘ala Ibn Majah, 1/399).
Diantara dzikir ma’tsur yang bisa dibaca ketika bangun tidur,
اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ.
‘Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah Dia mematikan kami dan kepadanya kami dikem-balikan’. (HR. Bukhari, 6312)
Ada dua pendapat ulama,
Pertama, shalat yang dimaksud adalah shalat isya’. Karena shalat isya, termasuk shalat lail. Ini adalah pendapat al-Hafidz Ibnu Hajar. Beliau menyimpulka dari keterangan al-Bukhari ketika membawakan hadis ini,
باب عقد الشيطان على قافية الرأس إذا لم يصل بالليل
Pembahasan tentang setan akan mengikat tengkuk kepala manusia jika dia tidak shalat malam.
Kemudian, al-Hafidz mengatakan,
ويحتمل أن تكون الصلاة المنفية في الترجمة صلاة العشاء ، فيكون التقدير : إذا لم يصل العشاء ، فكأنه يرى أن الشيطان إنما يفعل ذلك بمن نام قبل صلاة العشاء ، بخلاف من صلاها ، ولا سيما في الجماعة
Mungkin maksud shalat yang ditiadakan dalam keterangan Bukhari adalah shalat isya. Sehingga maksud Bukhari bisa diasumsikan: ‘Jika dia tidak shalat isya di malam hari’. Seolah beliau berpendapat, bahwa setan mengikat 3 ikatan itu bagi orang yang tidur sebelum shalat isya. Berbeda dengan orang yang sudah shalat isya, terlebih jika dia lakukan secara berjamaah. (Fathul Bari, 3/24).
Alasan Ibnu Hajar yang lain adalah karena dalam hadis ini isinya ancaman. Sementara ancaman hanya mungkin diberikan untk orang yang meninggalkan kewajiban.
Al-Hafidz mengatakan,
وكأنه أشار إلى خطأ من احتج به على وجوب صلاة الليل حملا للمطلق على المقيد
Seolah Bukhari mengisyaratkan tentang kesalahan orang yang berdalil dengan hadis ini untuk menyatakan wajibnya shalat malam (tahajud) dengan memahami kalimat mutlak dalam hadis kepada makna terikat. (Fathul Bari, 3/24)
Kedua, shalat yang dimaksud adalah shalat malam
Pendapat ini didukung dengan hadis lanjutannya yang dibawakan Bukhari, dari Abdullah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat informasi ada orang yang tidur di malam hari sampai subuh. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِى أُذُنَيْهِ – أَوْ قَالَ – فِى أُذُنِهِ
Orang itu, kedua telinganya dikencingi setan.. (HR. Bukhari 3270).
As-Sindi menjelaskan hadis di atas dalam sunan Ibnu Majah,
فظاهر كلام المصنف وغيره أنه ترك صلاة الليل وذلك إشارة إلى الرجل النائم
Dzahir hadis yang dibawakan penulis dan yang lainnya bahwa dia meninggalkan shalat malam. Diisyaratkan dengan orang yang tidur lama. (Hasyiyah as-Sindi ala Ibn Majah, 1/399).
Bagaimana jika lupa atau tidak shalat malam?
Jika kita mengambil pendapat kedua, tentu batasan shalat lail adalah sampai subuh. Sehingga jika sudah masuk waktu subuh, kesempatan untuk melepas ikatan itu bisa kita lakukan dengan dzikir dan wudhu.
Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu istiqamah melaksanakan shalat lail.
Allahu a’lam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
sumber: https://konsultasisyariah.com/25936-cara-membuka-tali-setan.html
Syaikh Sulaiman ar-Ruhayli حفظه الله تعالى menjelaskan,
“Di antara bentuk bakti dan adab (kepada orangtua) adalah apabila engkau sedang duduk bersama ayahmu, engkau memandangnya dengan pandangan seseorang yang beradab.
Dan hendaknya engkau tidak memalingkan pandanganmu darinya, baik ke arah kanan maupun ke arah kiri.
Namun hari ini, sebagian dari buruknya adab kita adalah salah seorang dari kita pergi menemui ayahnya atau ibunya, kemudian setelah mengucapkan salam kepada mereka, ia langsung memegang telepon genggamnya (HP).
Ia membaca dan mengetik di HP-nya. Ia duduk selama satu jam, namun ia sibuk dengan HP-nya, bukan sibuk dengan ayahnya. Kemudian ia mengklaim dan berkata, ‘Demi Allah, aku tadi sudah mengunjungi ayahku selama satu jam..’
Engkau sebenarnya hanya mengunjungi ayahmu sesaat, lalu setelah itu engkau sibuk memikirkan hal lain (selain ayahnya). Hal ini sama sekali tidak termasuk ke dalam adab..”
Dalam kehidupan rumah tangga, banyak orang membayangkan bahwa bahagia itu hadir dari kondisi ideal: pasangan yang sempurna, minim konflik, dan bebas dari masalah. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Kebahagiaan dalam rumah tangga bukan muncul karena semua persoalan terselesaikan, tetapi karena masing-masing pihak mau belajar untuk mengalah demi menjaga kebaikan bersama.
Teruntuk para suami, mengalah bukan berarti kalah. Justru di situlah letak kemuliaan Anda sebagai pemimpin keluarga. Allah telah menganugerahkan kepada laki-laki kelebihan berupa keteguhan logika dan kelapangan emosi. Maka sudah sepantasnya suami menjadi yang pertama meredam amarah, tidak mudah terpancing emosi, dan mampu memandang persoalan dengan lebih jernih.
Allah Ta’ala berfirman:
اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ ۗ
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya.” (QS. An-Nisa: 34)
Kepemimpinan laki-laki dalam rumah tangga tidak hanya sebatas dalam memberi nafkah atau mengambil keputusan, tetapi juga menjadi teladan dalam akhlak, pengelolaan emosi, dan menjaga keharmonisan keluarga. Terkadang, tingkah istri tampak membingungkan atau sulit dipahami. Namun, hendaknya seorang suami bersabar dan bijak dalam menghadapinya. Allah Ta’ala berfirman:
وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا
“Pergaulilah mereka dengan cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisaa’: 19)
Perempuan adalah makhluk yang diberi kepekaan perasaan yang lebih dalam. Tak jarang, perasaan mendahului logika, dan dalam situasi seperti inilah suami diuji untuk lebih tenang, lapang dada, dan sabar. Bahkan, meminta maaf meskipun tidak merasa bersalah adalah akhlak mulia yang mencerminkan kedewasaan dan kebesaran jiwa seorang laki-laki.
Lihatlah bagaimana Abu Darda’ bersikap kepada istrinya, Ummu Darda. Dalam Tarikh Dimasyq disebutkan, dari Baqiyah bin Al-Walid bahwa Ibrahim bin Adham berkata, Abu Darda’ pernah berkata kepada istrinya,
إذا غضبت أرضيتك وإذا غضبت فارضيني فإنك إن لم تفعلي ذلك فما أسرع ما نفترق ثم قال إبراهيم لبقية يا أخي وكان يؤاخيه هكذا الإخوان إن لم يكونوا كذا ما أسرع ما يفترقون
“Jika kamu sedang marah, maka aku akan membuatmu jadi ridha. Dan apabila aku sedang marah, maka buatlah aku ridha. Jika tidak maka kita tidak akan menyatu.”
Kemudian Ibrahim berkata kepada Baqiyah, “Wahai saudaraku, begitulah seharusnya orang-orang yang saling bersaudara itu dalam melakukan persaudaraannya, kalau tidak begitu, maka mereka akan segera berpisah.”
(Tarikh Dimasyq, 70/151)
Menikah adalah seni mengalah. Bukan karena satu pihak lemah, tetapi karena masing-masing ingin menang dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga. Semoga Allah menumbuhkan ketenangan di hati-hati kita, dan menjadikan kita pemimpin yang mampu menuntun keluarga dengan kelembutan dan kebijaksanaan.
Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)
sumber: https://muslimafiyah.com/menikah-adalah-seni-mengalah.html
Berbohong dalam lawakan atau candaan tetap tidak boleh. Termasuk juga ketika usilin atau candain orang. Dan ini juga jadi alasan tidak bolehnya membohongi orang di April Mop.
Dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah (34: 208) disebutkan, “Berdusta saat bercanda tetap haram sebagaimana berdusta dalam keadaan lainnya.
Ada sebuah hadits menyebutkan,
لاَ يُؤْمِنُ الْعَبْدُ الإِيمَانَ كُلَّهُ حَتَّى يَتْرُكَ الْكَذِبَ فِى الْمُزَاحَةِ وَيَتْرُكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ صَادِقاً
“Seseorang tidak dikatakan beriman seluruhnya sampai ia meninggalkan dusta saat bercanda dan ia meninggalkan debat walau itu benar.” (HR. Ahmad 2: 352. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif)
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنِّي لأَمْزَحُ , وَلا أَقُولُ إِلا حَقًّا
“Aku juga bercanda namun aku tetap berkata yang benar.” (HR. Thobroni dalam Al Kabir 12: 391. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih dalam Shahih Al Jaami’ no. 2494).”
Berdusta yang tujuannya hanya ingin membuat orang tertawa termasuk kena ancama ‘wail’.
Dari Bahz bin Hakim, ia berkata bahwa ayahnya, Hakim telah menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Boleh saja membuat candaan namun sekadar garam yang dibutuhkan pada makanan. Terlalu berlebih dalam bercanda jadi tidak enak, malah keasinan.
لاَ تُكْثِرُ الضَّحَكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحَكِ تُمِيْتُ القَلْبَ
“Janganlah banyak tertawa karena banyak tertawa dapat mematikan hati.” (Shahih Al Jami’ no. 7435, dari Abu Hurairah)
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait.
—
Selesai disusun saat masuk Zhuhur di Darush Sholihin Panggang, GK, 12 Jumadats Tsaniyyah 1436 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber https://rumaysho.com/10672-berbohong-dalam-candaan.html
Ilmu tentang fikih nikah adalah ilmu yang sangat penting, terutama bagi yang sudah berumah tangga atau sebentar lagi akan berumah tangga. Pelajaran ini pun sudah ditetapkan oleh KUA sebagai pembekalan awal calon pengantin. Sayangnya banyak yang lalai dengan ilmu ini, mau nikah tinggal modal “terlalu percaya diri” tanpa berilmu terlebih dahulu. Apalagi belajar tentang ilmu-ilmu dasar seputar karakter suami istri menurut Islam.
Tidak jarang seseorang yang baru menikah, sebulan dua bulan setelah itu kaget dengan karakter asli pasangannya, ternyata suaminya begini, ternyata istrinya begitu. Terlebih jika selama ini dia terpapar dengan tontonan-tontonan yang menampilkan potret pasangan romantis di film-film. Seorang wanita yang memimpikan suami yang romantis, pandai merangkai kata, selalu perhatian, padahal salah satu sifat dasar suami adalah cuek.
Perlu diingat, salah satu misi besar Iblis adalah menghancurkan keharmonisan rumah tangga dan memisahkan pasangan suami istri. Iblis akan memuji bala tentaranya yang berhasil menceraikan suami istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,
إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ
“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau.” (HR Muslim, no. 2167 dan 2813)
Bukan berarti dalam sebuah rumah tangga bahagia tidak ada yang namanya pertengkaran, karena rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saja tidak luput dari adanya perselisihan. Ibarat garam dalam makanan, pertengkaran dan perdebatan adalah hal yang tak terhindarkan dalam rumah tangga.
Hanya saja Islam berusaha untuk,
[1] Meminimalisir semua perselisihan;[2] Menahan agar perselisihan tersebut tidak mengantarkan kepada perceraian;[3] Memotivasi agar segera berbaikan/damai (tidak lama saling ngambek dan saling mendiamkan) agar tidak ada kesempatan bagi setan menggoda dan memasukkan pikiran dan kenangan buruk sebelumnya.
Caranya adalah dengan belajar sifat dasar laki-laki dan wanita, sampai pada bagaimana teknik-teknik menyikapi karakter satu sama lain. Tidak lain dan tidak bukan karena Islam ingin menciptakan keluarga muslim yang bahagia.
Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)




Bagaimana ciri-ciri ashobiyah atau fanatik berlebihan pada kelompok? Boleh jadi kita memilikinya, semoga bisa dijauhi.
Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena perkataan yang lainnya.” (Madarijus Salikin, 2: 335)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Mayoritas orang-orang fanatik madzhab tidak mendalami Al Qur’an dan As Sunnah kecuali segilintir orang saja. Sandaran mereka hanyalah hadit-hadits yang rapuh atau hikayat-hikayat dari para tokoh ulama yang bisa jadi benar dan bisa jadi keliru.” Fanatik madzhab yang ada dahulu sama dengan fanatik kelompok saat ini.
Sama persis dengan kisah berikut.
Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala’ menceritakan, bahwa Abu Abdillah Muhammad bin Fadhl Al-Farra’ pernah menjadi imam shalat di Masjid Abdullah selama 60 puluh tahun lamanya. Beliau bermadzhab Syafi’i dan tentu melakukan qunut shubuh. Setelah itu imam shalat diambil alih oleh seseorang yang bermadzhab Maliki dan tidak melakukan qunut shubuh. Karena hal ini menyelisihi tradisi masyarakat setempat, akhirnya mereka bubar meninggalkan imam yang tidak melakukan qunut shubuh ini, seraya berkomentar, “Shalat imam tersebut tidak becus!!!”
Padahal dalam bermadzhab saja tidak sampai segitu banget. Imam Nawawi yang jadi ulama besar Syafi’iyah saja biasa menyelisihi pendapat imamnya, Imam Syafi’i. Bahkan dalam madzhab Syafi’i saja ada beberapa ‘wajh’ (pendapat), tak sekaku pendapat kelompok. Karena yang ingin diikuti oleh Imam Nawawi adalah dalil.
Jadi lebih enak bermadzhab, bebas berpendapat. Namun tentu saja berpendapat yang sesuai dengan dalil Al-Qur’an dan Hadits.
Ingat baik-baik perkataan Imam Syafi’i supaya menjauhi taqlid.
Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Setiap yang aku katakan, kemudian ada hadits shahih yang menyelisihinya, maka hadits Nabi tersebut lebih utama untuk diikuti. Janganlah kalian taqlid kepadaku”.
Ketika ada sifat fanatik pada kaum Anshar dan Muhajirin, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkannya. Ashobiyah seperti itu dianggap termasuk sifat jahiliyyah. Sifat ashobiyah yang terjadi karena tolong menolong yang terjadi pada kaum Anshar adalah pada kebatilan, begitu pula pada kaum Muhajirin. Sedangkan sifat orang mukmin adalah saling tolong menolong dalam kebenaran, baik kebenaran itu dari dalam atau luar kaumnya.
Nasihat di atas berlaku untuk diri kami, pada setiap da’i dan pendakwah. Semoga kita terjauhkan dari sifat ashobiyah dan fanatik kelompok yang berlebihan dan melampaui batas.
—
Malam Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1436 H di Darush Sholihin Warak, GK
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber https://rumaysho.com/11929-ciri-ciri-fanatik-kelompok-ashobiyah.html