Banyak Bertanya yang Tidak Manfaat

Banyak bertanya jika memang tidak paham akan suatu ilmu, itu adalah suatu perintah. Namun jika sampai banyak bertanya dalam hal yang tidak manfaat, maka itu malah celaan.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

دَعُونِى مَا تَرَكْتُكُمْ ، إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ ، فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَىْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Biarkanlah apa yang aku tinggalkan bagi kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena banyak bertanya dan menyelisihi nabi mereka. Jika aku melarang dari sesuatu, maka jauhilah. Dan jika aku memerintahkan pada sesuatu, maka lakukanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1- Perintah meninggalkan banyak bertanya pada hal yang belum terjadi karena dikhawatirkan malah yang ditanya dapat menjadi kewajiban atau keharusan. Karena banyak bertanya dapat mengantarkan pada cabang persoalan, lalu terbukalah pintu syubhat (racun pemikiran), sehingga membawa pada perselisihan yang banyak, yang nantinya membawa pada kebinasaan.

2- Wajib meninggalkan setiap perkara yang dilarang secara paksa (alias: perkara haram). Karena sebenarnya tidak ada rasa sulit untuk meninggalkannya.

3- Mengerjakan perintah kadang dipaksa namun dengan memperhatikan kesulitan. Oleh karenanya, perintah tersebut dilakukan sesuai kemampuan.

4- Sudah sepatutnya bagi seorang muslim sibuk dengan hal yang lebih penting dan dibutuhkan saat itu juga, bukan sibuk dengan hal yang tidak dibutuhkan.

5- Setiap muslim hendaknya berusaha memahami ajaran Allah dan Rasul-Nya, ia berusaha memahaminya, lalu mengamalkannya. Mengamalkan di sini bisa bentuknya meyakini jika berupa berita dan bisa bentuknya pula dengan menerapkan amalan tersebut dengan sesuai kemampuannya.

6- Mempelajari sesuatu yang terpuji adalah jika diamalkan, jadi bukan untuk didebatkan.

7- Kalau diperintah meninggalkan yang haram, maka berobat dengan yang haram tidak dibolehkan.

8- Dalam hadits disebutkan bahwa jika ada perintah, lakukanlah semampunya. Berarti jika ada yang tidak mampu melakukan sebagian rukun atau syarat dalam shalat, maka hendaklah melakukannya sesuai kemampuannya. Hal ini bisa diterapkan dalam wudhu’, menutup aurat, mengeluarkan sebagian zakat fitrah bagi yang hanya mampu menunaikan sebagian.

9- Hadits ini menunjukkan bahwa makruh wajib dijauhi karena perintah umum untuk menjauhi dalam hadits ini.

10- Juga dapat diambil pelajaran bahwa asal perintah tidak menunjukkan bahwa amalan tersebut mesti berulang kali melakukan ataukah tidak.

11- Hukum asal segala sesuatu adalah mubah berdasarkan pemahaman dari hadits ini.

12- Banyak bertanya ada dua macam: (1) banyak bertanya dalam rangka ingin belajar ilmu yang dibutuhkan, (2) banyak bertanya yang nanti akan memberat-beratkan diri sendiri.  Demikian hal ini disebutkan oleh Al Baghowi dalam Syarhus Sunnah.

13- Menyelisihi para nabi adalah sebab kebinasaan.

Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi:

Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhish Sholihin, Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 212-213.

Fathul Bari bi Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqolani, terbitan Dar Thiybah, cetakan keempat, tahun 1432 H, 13: 260-264.

—

Selesai disusun di malam hari, 4 Dzulqo’dah 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul

Sumber https://rumaysho.com/3612-banyak-bertanya-yang-tidak-manfaat.html

Memikirkan Aib Dan Kekurangan Diri Sendiri

Muhammad bin Nadhr Al Haritsi rohimahullah berkata:

ذُكِرَ رجل عند الربيع بن خيثم فقال : “ما أنا عن نفسي براض فأتفرغ منها إلى ذم غيرها ، إن العباد خافوا الله على ذنوب غيرهم وأمنوه على ذنوب أنفسهم

“Disebutkan tentang seseorang di sisi Rabie’ bin Al Khutsaim.

Maka beliau berkata,

“Aku sendiri belum ridho kepada diriku. Lalu apakah aku akan sibuk mencela orang lain..?

Sesungguhnya banyak manusia yang takut kepada adzab Allah atas dosa-dosa orang lain, tetapi mereka merasa aman dari dosa-dosa dirinya sendiri..”

(Syu’abul Iman 16/100)

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/74630

Bagaimana Jika Artis dan Pemain Bola Jadi Idola dan Tambatan Cinta?

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ala Rosulillah wa ala alihi wa shohbihi ajmain. Jika orang mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan keutamaan berikut ini. Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَتَّى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ

“Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

مَا أَعْدَدْتَ لَهَا

“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang tersebut menjawab,

مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلاَةٍ وَلاَ صَوْمٍ وَلاَ صَدَقَةٍ ، وَلَكِنِّى أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lain di Shohih Bukhari, Anas mengatakan,

فَمَا فَرِحْنَا بِشَىْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ » . قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

“Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).” Anas pun mengatakan,

فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

“Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”

Itulah keutamaan orang yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang sholeh, pelaku kebaikan yang masih hidup atau pun yang telah mati. Namun, kecintaan ini dilakukan dengan melakukan perintah Allah dan Rasul-Nya, menjauhi setiap larangan dan beradab sesuai yang diajarkan oleh syari’at Islam. (Lihat Syarh Muslim, 8/483)

Bandingkan, bagaimana jika yang dicintai, diidolakan dan diagungkan adalah para artis dan pemain bola? Lihatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas: “Kalau begitu engkau bersama dengan orang yang engkau cintai”. Ditegaskan pula dalam riwayat Thobroni dalam Mu’jamnya, dari ‘Aisyah secara marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam),

لَا يُحِبّ أَحَد قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْم الْقِيَامَة

“Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum melainkan dia akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat nanti.” (Lihat ‘Aunul Ma’bud, 11/164, Asy Syamilah). Siapa yang mau dikumpulkan di hari kiamat bersama dengan orang-orang pelaku maksiat atau orang-orang kafir[?] Jadikanlah idolamu dan tambatan cintamu adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakr, Umar, Utsman, para sahabat lainnya, dan orang sholeh bukan para artis, pemain bola dan pelaku maksiat lainnya. Realisasikan cintamu dengan mengikuti jejak mereka (orang-orang sholeh) dalam setiap perkataan dan perbuatan. Semoga Allah Taala mengumpulkan kita bersama para Nabi, shidiqin, syuhada dan orang-orang sholeh. Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ala nabiyyina Muhammad wa ala alihi wa shohbihi wa sallam.

****

Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya Muhammad Abduh Tuasikal Mediu-Jogja, sore hari, 3 Jamadil Awal 1430 H

sumber: https://rumaysho.com/292-bagaimana-jika-artis-dan-pemain-bola-jadi-idola-dan-tambatan-cinta.html

Diantara Tolok Ukur Dalam Mencari Menantu Pria

Syaikh Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr hafizhohumallah berkata,

“Sekarang .. jika seseorang ingin menikahkan anak perempuannya, hal pertama yang harus dia tanyakan adalah tentang sholat.

Dia (ayah anak perempuan) harus pergi ke jama’ah di lingkungan sekitar pelamar tersebut dan bertanya kepada orang-orang di lingkungan tersebut mengenai bagaimana pelaksanaan sholatnya.

Ini adalah tolok ukur harian.

Jika mereka memberitahunya bahwa pelamar tersebut jarang terlihat di masjid kecuali sedikit, dan dia tidak pernah menghadiri sholat Shubuh, misalnya, maka dia (ayah anak perempuan) harus menghindari pelamar tersebut.

Dia harus menghindarinya karena sholat adalah tolok ukur.

Sholat adalah tolok ukur harian yang melaluinya .. seseorang dapat menilai dirinya sendiri, dan juga menilai orang lain..”

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/74587

Keteguhan Iman di Dunia yang Penuh Gejolak

Di zaman yang diterpa dengan banyak peristiwa, bagaikan angin kencang yang menerpa gurun pasir, di zaman ketika hati bergejolak menanggung beratnya berbagai kabar berita dan silih bergantinya perubahan, ketika itu keteguhan iman menjadi nikmat yang setara dengan nikmat hidayah yang pertama kali menghampiri. Bahkan ia merupakan kelanjutan dan penjaga eksistensinya. Kita sedang menyaksikan zaman yang seorang insan hampir tidaklah menghirup nafas pada suatu peristiwa melainkan terjadi lagi peristiwa lainnya. Pada zaman ini, syubhat-syubhat begitu meracuni pikiran dan syahwat-syahwat begitu cepat menyambar hati. Pada zaman ini, orang yang berjalan di jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala merasa dirinya membutuhkan keteguhan melebihi gunung yang menjulang tinggi dan keyakinan yang tidak tergoyahkan badai.

Keteguhan bukanlah suatu kemewahan rohani, melainkan penegak jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala, timbangan orang-orang yang tulus dalam perjalanan kepada-Nya. Keteguhan merupakan derajat yang diminta oleh para nabi dalam doa mereka, sesuatu yang dirindukan orang-orang ikhlas, dan diperjuangkan oleh orang-orang bernurani jernih. Hal ini karena sudah menjadi tabiat jiwa manusia yang lemah dan selalu berubah-ubah, dan hati berada di antara dua jemari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya. Lalu bagaimana dengan seorang insan yang hidup di zaman yang penuh dengan godaan, tekad sudah begitu lemah, dan hiruk-pikuk duniawi saling berdesakan menutupi kebeningan rohani?

Keteguhan adalah derajat yang tidak diraih hanya dengan angan

Keteguhan iman bukanlah kondisi sementara atau semangat yang membara sekejap saja, tapi ia bagaikan bangunan yang disusun batu batanya satu demi satu, pondasinya diawali dengan ketulusan iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu disusul dengan tembok berupa kebenaran niat dan hasrat, kemudian atapnya dikokohkan dengan amal shaleh dan keistiqamahan di dalamnya.

Ia juga bagaikan pohon yang penuh kebaikan yang disebutkan dalam Al-Qur’an, akarnya menghujam kokoh di dasar keikhlasan, dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Mungkin ia akan diterpa angin kencang, tapi ia tidak tumbang. Mungkin ia condong ke kiri dan kanan, tapi ia tidak patah, karena apa yang ada dalam batinnya lebih kuat daripada apa yang ada di tampilan luarnya.

Untuk keteguhan inilah doa-doa dari Nabi terus terucap dari orang-orang yang teguh. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam telah mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa membaca doa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi).

Ini bukan karena keimanan itu sendiri dapat rusak, tapi karena hati merupakan wadah yang dapat terpapar guncangan setiap saat.

Jalan terang benderang di dunia yang penuh gejolak

Mungkin negara-negara berubah, roda politik berputar, orang-orang di sekitar kita berubah, hati saling berpaling, dan dunia kehilangan beberapa warnanya yang dulu begitu nyaman dan menenteramkan, tapi jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah berubah:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah  ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153).

Di setiap zaman, orang beriman mengetahui bahwa di hadapannya hanya ada jalan yang sama, jalan penghambaan, jalan ketaatan, jalan keistiqamahan. Semua yang berubah hanya keadaan di sekitarnya, sedangkan jalan kebenaran tetap jelas, jernih, dan kokoh, ditapaki oleh para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan orang-orang shaleh.

Betapa indah ungkapan, “Dunia bergejolak, hati bergetar, dan fitnah-fitnah berjejalan, tapi orang yang telah mengenal arah langkahnya tidak akan terhempas oleh badai.” 

Orang yang punya arah yang pasti dan keyakinan yang teguh terhadap Tuhannya tidak akan terpengaruh oleh gejolak yang dialami orang-orang di atas jalan mereka. Orang yang terombang-ambing hanyalah orang yang kehilangan arah, bukan orang yang diteguhkan langkahnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas jalan yang lurus.

Bagaimana orang beriman dapat menjaga keteguhannya?

Keteguhan bukan hadiah cuma-cuma yang diberikan kepada semua orang tanpa usaha, bukan juga kekuatan rohani yang turun kepada seseorang begitu saja, tapi ia punya sebab-sebabnya, apabila seorang hamba menjalankan sebab-sebab itu, niscaya akan kuat tekadnya dan akan damai hatinya. Di antara sebab-sebab yang paling pentingnya adalah:

1. Berteman dengan Al-Qur’an

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

“Dan orang-orang kafir berkata, ‘Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya (Nabi Muhammad) sekaligus?’ Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara bertahap.” (QS. Al-Furqan: 32).

Al-Qur’an merupakan ruh yang meredam guncangan hati dan cahaya yang menyingkap gelapnya ombang-ambing pikiran. Siapa yang senantiasa membaca dan menadaburinya, mencermati setiap ayat-ayat janji baik dan ancaman yang ada di dalamnya, niscaya ia mengetahui bahwa dunia dan guncangannya amat kecil untuk menggoyahkan hati yang disinari oleh Kitabullah.

2. Senantiasa mendirikan shalat dan berzikir

Tidak ada hal yang lebih meneguhkan hati daripada berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada setiap sujud, beban akan dihempaskan. Pada setiap zikir, luka akan disembuhkan. Dan pada setiap munajat, jalan gelap akan tersinari.

Salat bukanlah kebiasaan harian, tapi pengaturan ulang yang merapikan kembali jiwa seorang mukmin, mengembalikan keseimbangannya setiap kali ia merasa kacau. Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam berkata kepada Bilal Radhiyallahu ‘anhu: “Mari tegakkan salat! Damaikanlah kami dengannya!” (HR. Abu Dawud).

3. Berteman dengan orang-orang shaleh

Pertemanan yang baik bagaikan pagar rahmat yang mengelilingi hati. Pertemanan itu akan menguatkannya kala ia melemah, menyemangatinya kala ia jenuh, meluruskannya kala ia berbelok, dan mengingatkannya kala ia mulai lupa.

Dan ruh-ruh satu sama lain bagaikan tentara yang telah dikelompokkan, sehingga yang telah saling mengenal akan saling menyatu.

4. Menjauhi sumber-sumber gejolak

Ada sebagian orang yang justru membawa gejolak dunia ini ke dalam hatinya, karena ia membuka setiap celahnya, menyerahkan kedua telinganya untuk mendengarkan segala berita, membuka kedua matanya untuk berbagai perdebatan, memberikan akalnya kepada semua analisa, dan menyerahkan hatinya kepada ketakutan.

Siapa yang ingin keteguhan hati, hendaklah ia menutup fitnah sejak dari pintunya, agar yang masuk ke dalam hatinya adalah hal yang menguatkan, alih-alih perkara yang menambah ketakutan dan kegundahan.

5. Banyak berdoa

Keteguhan bukan semata-mata usaha manusia saja, tapi ia merupakan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Dia limpahkan kepada siapa yang Dia kehendaki. Oleh sebab itu, dulu para Salaf senantiasa menengadahkan kedua tangan mereka dengan doa:

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا إِيمَانًا لَا يَرْتَدُّ، وَيَقِينًا لَا يَنْقُصُ، وَثَبَاتًا لَا يَزُولُ

“Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keimanan yang tidak akan goyah, keyakinan yang tidak akan berkurang, dan keteguhan yang tidak akan sirna.” 

Keteguhan iman adalah keindahan yang terlihat pada momen-momennya

Orang yang teguh bukanlah orang yang sekedar membahas tentang keteguhan, tapi orang yang tetap teguh ketika semua orang telah tumbang. Dialah orang yang tetap tersenyum di hadapan ujian, karena ia mengenal siapa yang memberi ujian. Orang yang terus gigih di depan berbagai fitnah, karena ia mengetahui ujung dari jalan itu. Orang yang sabar dalam ketaatan, karena ia melihat dengan cahaya hatinya apa yang tidak dilihat oleh orang-orang yang enggan bersabar.

Mungkin manusia memandang orang yang teguh itu hanya diam, tapi di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah suara keyakinan yang menggelegar. Mungkin juga mereka melihatnya menyendiri, tapi bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah menyendiri bersama kebenaran. Dan mungkin mereka melihat ia orang yang keras kepala, tapi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah hati yang lembut tapi tidak tergoyahkan.

Penutup 

Di dunia yang terus bergejolak bagai lautan, orang beriman tidak memiliki pilihan untuk goyah, tapi yang ia miliki hanya satu pilihan: yaitu untuk terus berpegang teguh dengan tali Allah Subhanahu wa Ta’ala sebaik-baiknya, menjadikan hatinya selalu terpaut dengan langit, bukan dengan bumi, dan mengetahui bahwa keteguhan bukan terus menjadi dirinya, tapi terus mendekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala meskipun dunia di sekitarnya telah berubah.

Sumber:

https://www.islamweb.net/ar/article/245983/الثبات-الإيماني-في-عالم-مضطرب

Penyanyi Wanita

Salah satu hal yang sangat memilukan di zaman ini adalah merebaknya penyanyi wanita. Bahkan para wanita kaum Muslimin berlomba-lomba ingin menjadi penyanyi wanita. Padahal penyanyi wanita itu dicela oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dari Sahl bin Sa’ad radhillahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

سَيَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ خَسْفٌ ، وَقَذْفٌ ، وَمَسْخٌ ” ، قِيلَ : وَمَتَى ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : ” إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَازِفُ وَالْقَيْنَاتُ ، وَاسْتُحِلَّتِ الْخَمْرُ

“Di akhir zaman nanti akan ada (peristiwa) di mana orang-orang ditenggelamkan (ke dalam bumi), dilempari batu dan diubah wajahnya menjadi buruk”. Beliau ditanya, “Kapankah hal itu terjadi wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ketika alat-alat musik dan para PENYANYI WANITA telah merajalela, serta khamr di anggap halal” (HR. Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir [5672], juga Ar Ruyani dalam Musnad-nya [1041], derajatnya hasan, bahkan dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib [3665])

Dari Abu Umamah Al Bahili radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

تبيتُ طائفةٌ من أمتي على أكلٍ وشربٍ ولهوٍ ولعِبٍ ثم يُصبحون قردةً وخنازيرَ فيبعثُ على أحياءٍ من أحيائِهم ريحٌ فتنسفُهم كما نسفَت مَن كان قبلَهم باستحلالِهم الخمورَ وضربِهم بالدُّفوفِ واتخاذِهم القَيناتِ

“Ada segolongan dari umatku yang tidur setelah makan, minum, melakukan lahwun (kesia-siaan) dan main-main. Kemudian mereka terbangun di pagi hari dalam keadaan sudah menjadi monyet dan babi. Kemudian dikirimkan angin kepada yang hidup di antara mereka, maka berhembuslah angin dahsyat kepada mereka, sebagaimana dihembuskan kepada orang-orang sebelum mereka yang menghalalkan khamr, memainkan duff (rebana) dan membayar PENYANYI WANITA untuk bernyanyi” (HR. Ahmad no.22285, dishahihkan Al Albani dalam Tahrim Alatit Tharb no. 67).

Dari Abu Umamah Al Bahili radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا تَبيعوا القيناتِ ولا تشتَروهنَّ ولا تعلِّموهنَّ ولا خيرَ في تجارةٍ فيهنَّ وثمنُهُنَّ حرامٌ وفي مثلِ هذا أُنْزِلَت هذِهِ الآيةُ : وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَري لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبيلِ اللَّهِ

“Jangan beli (budak yang merupakan) PENYANYI WANITA dan jangan ajari budak wanitamu bernyanyi. Tidak ada kebaikan dalam jual-beli mereka dan hasil jual-belinya haram. Karena perkara seperti inilah turun ayat: “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan lahwal hadits untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah” (QS. Luqman: 6)” (HR. Tirmidzi no. 3195, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

Ternyata penyanyi wanita itu dicela oleh Allah dan Rasul-Nya, bahkan menjadi sebab turunnya bencana yang mengerikan.

Diluar ini semua, wanita merupakan fitnah (godaan). Lebih lagi jika ia bernyanyi dengan merdu dan indah di hadapan para lelaki. Tentu fitnahnya lebih besar. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ما تَركتُ بَعدي فِتنَةً أضرَّ على الرجالِ منَ النساءِ

“Tidaklah ada sepeninggalku fitnah (cobaan) yang paling berbahaya bagi lelaki selain fitnah (cobaan) terhadap wanita” (HR. Al Bukhari 5096, Muslim 2740).

Beliau juga bersabda:

إن الدنيا حلوةٌ خضرةٌ . وإن اللهَ مستخلفُكم فيها . فينظرُ كيف تعملون . فاتقوا الدنيا واتقوا النساءَ . فإن أولَ فتنةِ بني إسرائيلَ كانت في النساءِ

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan Allah telah mempercayakan kalian untuk mengurusinya, Sehingga Allah melihat apa yang kalian perbuatan (disana). Maka berhati-hatilah kalian dari fitnah (cobaan) dunia dan takutlah kalian terhadap fitnah (cobaan) wanita. Karena sesungguhnya fitnah (cobaan) pertama pada Bani Isra’il adalah cobaan wanita” (HR. Muslim 2742).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

المرأة عورة ، فإذا خرجت استشرفها الشيطان

“Wanita adalah aurat. Jika ia keluar, setan memperindahnya” (HR. At Tirmidzi no. 1173, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

Maka para wanita Muslimah yang suka bernyanyi di depan para lelaki, hendaknya bertakwa kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.

Demikian juga orang-orang yang menggemari para penyanyi wanita. Bagaimana mungkin menyukai hal yang dicela oleh Allah dan Rasul-Nya? Maka hendaknya mereka juga bertakwa kepada Allah dan meninggalkan hal semacam ini.

Semoga Allah memberi taufik.

***

Penulis: Yulian Purnama

Sumber: https://muslimah.or.id/11371-penyanyi-wanita.html
Copyright © 2026 muslimah.or.id

Umat “Iqra” tapi Enggan Membaca

Oleh: Muhammad bin Muhammad al-Asthal

Segala puji bagi Allah yang telah mengutus para Rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat menegakkan keadilan. Dialah yang telah memberi karunia kepada orang-orang beriman, ketika Dia mengutus di tengah-tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah, serta mengajarkan kepada mereka apa yang belum mereka ketahui.

Saya haturkan shalawat dan salam kepada sang guru bagi umat manusia, Nabi kita, Muhammad. Semoga shalawat dan salam kesejahteraan selalu terlimpah kepada beliau dan setiap orang beriman yang bershalawat kepada beliau. 

Amma ba’du:

Bukan menjadi hal yang asing lagi bagi setiap orang yang memiliki hati yang hidup bahwa mengagungkan kedudukan ilmu merupakan ciri bagi seorang hamba bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilihnya di antara hamba-hamba-Nya yang lain. Inilah yang ditegaskan oleh Ibnu Al-Qayyim dalam ucapannya: “Kebahagiaan jiwa dan rohani yang hakiki adalah kebahagiaan dengan ilmu, karena inilah kebahagiaan yang kekal meski keadaan yang silih berganti, baik itu di alam dunia, alam barzakh, maupun alam akhirat. Dengan kebahagiaan ini, seseorang dapat menaiki tangga-tangga keutamaan dan derajat-derajat kesempurnaan. Kalaulah bukan karena mayoritas manusia tidak mengetahui manisnya kenikmatan ini dan agungnya kedudukannya, niscaya mereka akan saling menghunuskan pedang untuk memperebutkannya. Namun, ia dirintangi dengan tabir hal-hal yang tidak menyenangkan, dan dibentengi dengan pagar-pagar kebodohan, sehingga dengan itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengistimewakan kebahagiaan ilmu ini bagi hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dan Allahlah pemilik karunia yang agung.”

Sudah menjadi hal yang diketahui oleh orang-orang berilmu bahwa asas-asas agama —terlebih lagi perkara-perkara turunannya— seperti dakwah, jihad, perencanaan, pengelolaan negara yang aktif, pembentukan keimanan, dan pengadaan kebahagiaan jiwa, semua ini terbangun di atas pondasi “Iqra”. Oleh sebab itulah, ayat pertama yang turun dari Al-Qur’an adalah:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-Alaq: 1). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28).

Setelah ini, Abu Hurairah telah sampai pada kesimpulan mendalam yang beliau tuangkan dalam ucapannya: “Sungguh mendalami agama beberapa saat lebih aku sukai daripada menghidupkan malam dengan shalat hingga subuh, dan orang yang paham agama lebih berat bagi setan (untuk disesatkan) daripada seribu ahli ibadah.”

Bukan sesuatu yang mengherankan jika ilmu lebih utama daripada jihad, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri menyebut ilmu sebagai jihad besar, dan menyebut hujjah ilmiah dalam Al-Qur’an sebagai kekuasaan, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:

أَمْ لَكُمْ سُلْطَانٌ مُبِينٌ

“Ataukah kamu mempunyai bukti (kekuasaan) yang nyata?” (QS. Ash-Shaffat: 156).

Hal ini karena pedang hanya dapat menawan raga, tapi ilmu dapat menawan pikiran dan hati, sedangkan raga akan mengikuti hati. Oleh sebab itu, Sufyan bin Uyainah berkata: “Manusia yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah adalah manusia yang ada di antara Allah dan para hamba-Nya, dan mereka adalah para rasul dan ulama.”

Ibnu Mas’ud telah mengerti makna hal ini, seperti yang beliau ucapkan: “Kalian harus mencari ilmu sebelum ia diangkat, dan ia diangkat dengan wafatnya para ulama. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai syuhada menginginkan agar dihidupkan lagi sebagai ulama, karena mereka telah mengetahui kemuliaan para ulama. Sungguh setiap kalian tidak dilahirkan dalam keadaan berilmu, tapi ilmu harus didapatkan dengan belajar.”

Ada nasihat yang selalu kami sampaikan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para generasi muda yang saleh dan sedang berjuang di negeri muslim, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai medan jihad dengan api dan senjata, bahwa siapa saja dari mereka yang diberi bakat untuk mencari ilmu, agar memanfaatkan bakat itu untuk terus menambah ilmu agamanya dan mendalami cabang-cabangnya, apalagi asas-asasnya, agar dia dapat memberi pengaruh positif di tengah-tengah komunitasnya, sehingga dia menjadi seperti hujan, di manapun ia turun, dapat memberi manfaat. Jangan lupa juga untuk tetap punya peran dalam melawan orang-orang kafir dengan pedang, agar mendapat bagian dalam setiap ganimah. Adapun orang yang amalan jihad baginya lebih utama, karena tidak mampu untuk belajar, maka hendaklah ia tidak lemah dalam mempelajari kadar minimal ilmu, yang dengan ilmu itu ia dapat menjalankan urusan agama dan dunianya dengan baik.

Terdapat banyak rintangan yang menghalangi seseorang untuk mencapai tingkat keilmuan yang diharapkan, dan salah satu yang paling penting adalah kurangnya keikhlasan. Siapa yang mencari ilmu demi mendapat kedudukan duniawi atau kemaslahatan pribadi —baik itu berupa materi atau nonmateri— maka ia telah terhalang dengan pandangan berkabut yang mengganggu kejernihan pandangan dalam hatinya. Hal ini karena, “Siapa saja yang mempelajari ilmu untuk menyombongkan diri di hadapan para ulama, atau untuk berdebat (pamer) dengan orang-orang bodoh, atau agar manusia memalingkan wajah (perhatian) kepadanya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam Jahannam.” (Hadis dishahihkan  oleh Al-Albani).

Apabila kamu tidak ikhlas, maka tidak perlu berlelah-lelah dalam belajar. Jangan terlena dengan bagusnya pandangan orang lain terhadapmu, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rahmat-Nya telah menampakkan kepada orang lain kebaikan-kebaikanmu yang sedikit, dan menyembunyikan dari mereka keburukan-keburukanmu yang banyak sekali. Sehingga keutamaan sebenarnya adalah milik Dzat yang telah memberimu karunia dan menutupi aibmu, alih-alih milik orang yang memuji dan berterima kasih kepadamu. Ketika ada orang yang memujimu, hendaklah kamu justru lebih berintrospeksi diri, karena suatu kebodohan jika kamu membiarkan aib yang meyakinkan dalam dirimu hanya karena orang lain menyangka kamu baik. “Dan sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran.” (QS. An-Najm: 28).

Adapun pujian yang kamu dengan dari orang lain, itu adalah peringatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadamu, agar amalanmu dapat mengungguli reputasimu di hadapan orang lain, karena patokan keikhlasan ketika itu adalah amalan rahasiamu semasa hidup lebih banyak daripada amalanmu yang terang-terangan. Dan kamu punya sebaik-baik teladan dari generasi Salaf dalam hal ini. Jadilah seperti Sufyan Ats-Tsauri yang berkata: “Saya tidak memperhitungkan amalanku yang terlihat orang lain.”

Kemudian kami nasihatkan kepada saudara-saudara kami tercinta untuk berpegang erat pada perintah Tuhan “Iqra” (Bacalah!), dan harus ada sosok teladan untuk kita ikuti dalam perjalanan menuntut ilmu, atau teman yang dengannya kamu saling mendukung, agar kamu terhindar dari semangat yang meredup, sehingga kita dapat menghapus kebodohan dari diri kita. 

Andai seorang pemuda membaca buku Fiqhus Sunnah karya Sayyid Sabiq dalam ilmu fikih, Syarh Lum’ah al-I’tiqad karya Ibnu Utsaimin dalam ilmu akidah, Riyadush Shalihin karya An-Nawawi —dan alangkah baiknya jika disertai dengan buku penjelasannya karya Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin—, Al-Mausu’ah Al-Muyassarah dalam ilmu tarikh (sejarah), Tafsir As-Sa’di atau Tafsir Al-Jalalain dalam ilmu tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, Masyariq Al-Asywaq fi Fadhail Al-Jihad karya Ibnu An-Nahhas, dan tentang Pemikiran Islam ada buku-buku Fikih Prioritas dan politik Islam, buku-buku Syaikh Khalid Abu Syadi dalam ilmu tazkiyatun nafs, dan buku-buku Ibnu Al-Qayyim bagi orang yang semangatnya biasa saja, serta buku-buku dasar dan buku-buku besar bagi orang yang semangatnya tinggi, dan buku-buku ini dapat ditanyakan kepada para ulama di negaramu. Seandainya ini dapat terwujud, tentu menjadi kebaikan yang besar, karena ilmu itu jika kamu kerahkan sepenuh dirimu untuknya, ia hanya akan memberikan sebagian dirinya kepadamu, dan jika kamu kerahkan sebagian dirimu untuknya,  ia tidak akan memberikan apapun untukmu.

Apa yang kami sebutkan ini tidak mungkin dapat terwujud hanya dengan berbaring di bawah selimut atau melalui hibernasi panjang, karena ilmu tidak dapat diraih dengan kenyamanan raga. Imam Al-Jauzi telah berkata kepadamu: “Andai aku katakan kepada kalian bahwa aku telah membaca 20 ribu jilid buku, tentu sebenarnya lebih banyak dari itu. Hal ini karena kamu tidak akan meraih kejayaan hingga mencicipi pahitnya kesabaran.”

Teruntuk setiap orang yang enggan membaca hingga akalnya berkarat tanpa ia sadari, dan bisa jadi kebodohan telah menguasai relung hatinya, inilah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala untukmu: 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ 

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu.” 

Teruntuk setiap orang yang berwawasan serba tanggung, yang telah mempelajari sebagian dari ilmu pengetahuan, tapi masih banyak yang belum ia pelajari, ini juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ditujukan untukmu:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ 

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu.” 

Orang yang membinasakan diri dalam kelalaian dan menghabiskan kejayaan masa mudanya dengan hal-hal mubah tanpa makna, orang yang menit demi menit dan jam demi jamnya berlalu tanpa membaca satu ayat dengan tafsirnya, hadis dengan penjelasannya, masalah fikih yang ia butuhkan untuk keabsahan ibadahnya, atau buku bermanfaat yang menambah pundi-pundi ilmu dan pemahamannya, kami katakan kepadanya: Selamatkanlah dirimu selagi sempat, karena suatu keburukan jika kamu mati tapi jarak antara dirimu dengan ilmu sejauh timur dan barat. Mungkin kamu tidak bisa meraih nilai tinggi di universitas atau pendidikan formal, tapi kamu tetap harus tahu bahwa ilmu adalah cahaya dan kehidupan itu sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: 

قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ

“Sungguh telah datang kepadamu dari Allah suatu cahaya dan Kitab yang jelas.” (QS. Al-Maidah: 15).

Adapun orang-orang yang menempuh jalan kebodohan, maka mereka bagaikan binatang ternak, atau bahkan lebih sesat daripada itu. Kita memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar tidak menjadi orang-orang yang bodoh.

Kita juga memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengajarkan kita ilmu yang bermanfaat, dan menjadikan kita bermanfaat dengan apa yang telah diajarkan kepada kita, serta menambah ilmu kita; sungguh Dia Maha Kuasa atas segalanya. 

Sekian. Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi terpilih kita, Nabi Muhammad. Dan segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Sumber:

https://www.alukah.net/culture/0/9564/أمة-اقرأ-لا-تقرأ