











Kami tidak pernah mendengar sama sekali
Kisah orang yang rajin berinfak dan sedekah
Kemudian jatuh miskin, bangkrut dan sengsara hidupnya
Justru semakin kaya hati dan bahagia kehidupannya
Dengan berkahnya pekerjaan, bisnis dan perdagangan
Tapi yang sering kami dengar
Orang yang jarang sedekah bahkan pelit
Rakus dan tenggelam dengan urusan dunia
Lalu jatuh bangkrut, miskin dan hidupnya sengsara
Orang-orang dekatnya pun mulai menjauh
Sedekah tidak akan membuat miskin
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ
“Harta seorang hamba tidak akan berkurang karena shadaqah.” (HR. Riwayat Tirmidzi, shahih)
Syaikh Muhammad Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa harta yang disedekahkan akan bertambah berkahnya. Beliau berkata
تصدق بها منه بل يبارك له فيه
“Harta yang disedekahkan akan diberkahi (diberikan kebaikan yang banyak)” (Lihat Tuhfatul Ahwadzi)
Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa sedekah bisa menambah harta kita (misalnya bisnis menjadi lebih lancar) dan Allah akan menggantikan harta tersebut dengan yang lebih baik. Beliau berkata,
فالصَّدقات يزيد الله بها الأموال، ويُنزل بها البركة، ويُعَوِّض الله فيها صاحبها الخير العظيم
“Dengan sedekah, Allah akan menambahkan hartanya, Allah turunkan keberkahan dan Allah akan gantikan hartanya dengan kebaikan yang besar.” (Syarh Riyadhul shalihin)
Perlu diingat hendaknya kita tidak berniat sedekah agar tambah kaya di dunia, akan tetapi kita yakin bahwa Allah Sebaik-baik Pemberi Rezeki telah menjanjikan akan mengganti apa yang telah kita infakkan, tentunya dengan pengganti yang jauh lebih baik.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)
Semoga kita selalu dimudahkan untuk bersedakah, berinfak dan memberikan manfaat yang banyak kepada kaum muslimin.
@ Yogyakarta Tercinta
Penyusun: Raehanul Bahraen
sumber : https://muslimafiyah.com/tidak-pernah-orang-miskin-karena-sering-sedekah.html
Ibnu Hajar Al Haitami rohimahullah berkata,
وكل من رأيته سيء الظن بالناس، طالبًا لإظهار معايبهم؛
فاعلم أن ذلك لخبث باطنه وسوء طويته.
“Semua orang yang kamu lihat suka berburuk sangka kepada manusia dan ingin menampakkan aib mereka adalah karena busuknya batin dan hatinya.”
(Az Zawaajir 1/143)
Orang yang hatinya bening..
Akan bening pula hatinya kepada manusia..
Dan manusiapun selamat dari lisannya..
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Memuji diri tidak selalu tercela; pada kondisi tertentu, hal itu diperlukan agar amanah diberikan kepada orang yang tepat dan manfaat dapat tersebar. Namun, lisan yang menyebut kelebihan diri mudah tergelincir menjadi ujub, riya, dan rasa paling hebat. Lalu, kapan memuji diri termasuk maslahat, dan kapan berubah menjadi penyakit hati?
Semua Kemampuan adalah Karunia Allah
Allah Ta‘ala berfirman,
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Nikmat apa pun yang ada pada kalian, maka datangnya dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)
Ilmu, kemampuan berbicara, kesehatan, pengalaman memimpin, kecakapan mengelola harta, dan kesempatan berbuat baik bukanlah milik yang berdiri sendiri. Semuanya adalah karunia Allah. Karena itu, ketika seseorang sukses, ia tidak boleh berkata dalam hatinya, “Ini murni karena kepintaranku.” Ia semestinya mengakui, “Ini adalah taufik dan karunia Allah kepadaku.”
Qarun justru binasa karena menisbatkan hartanya kepada dirinya sendiri. Ia berkata,
إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي
“Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)
Ia tidak menolak bahwa Allah ada, tetapi ia lupa bahwa kemampuan memperoleh dan mengelola harta pun berasal dari Allah. Inilah pangkal penyakit ujub: melihat nikmat, tetapi lupa kepada Pemberi nikmat.
Allah Ta‘ala berfirman,
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ
“Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak tempat, dan pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak itu membuat kalian kagum, ternyata jumlah itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikit pun. Bumi yang luas itu terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berpaling ke belakang.” (QS. At-Taubah: 25)
Jumlah pasukan adalah sebab kemenangan. Namun, sebab tidak akan memberi hasil kecuali dengan izin Allah. Pelajaran Hunain ialah jangan tertipu oleh kekuatan, jumlah pengikut, modal, jabatan, strategi, atau pengalaman diri. Rumaysho.com menekankan bahwa jumlah yang banyak tidak bermanfaat jika hati tidak bergantung kepada Allah.
Bukan berarti seorang muslim meninggalkan perencanaan dan usaha. Justru ia harus mengambil sebab yang benar, lalu bertawakal. Tawakal bukan meninggalkan usaha, melainkan menyandarkan hati kepada Allah sambil menjalankan ikhtiar yang dihalalkan.
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 159)
Allah Ta‘ala mengisahkan Nabi Yusuf ‘alaihis-salām yang berkata kepada raja Mesir,
اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
“Jadikanlah aku penjaga perbendaharaan negeri ini. Sesungguhnya aku adalah seorang penjaga yang amanah lagi berilmu.” (QS. Yusuf: 55)
Nabi Yusuf ‘alaihis-salām menyebut dua kualitas yang memang dibutuhkan dalam amanah itu: ḥafīẓ, mampu menjaga dan amanah; serta ‘alīm, memiliki ilmu dan kecakapan mengatur. Ini bukan pujian diri untuk meninggikan kedudukan, tetapi keterangan yang diperlukan agar maslahat rakyat di masa paceklik dapat terwujud.
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,
وَلَيْسَ ذَلِكَ حِرْصًا مِنْ يُوسُفَ عَلَى الْوِلَايَةِ، وَإِنَّمَا هُوَ رَغْبَةٌ مِنْهُ فِي النَّفْعِ الْعَامِّ، وَقَدْ عَرَفَ مِنْ نَفْسِهِ مِنَ الْكَفَاءَةِ وَالْأَمَانَةِ وَالْحِفْظِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَعْرِفُونَهُ.
“Hal itu bukan karena Yusuf berambisi terhadap jabatan, melainkan karena keinginannya untuk mewujudkan kemaslahatan umum. Ia mengetahui pada dirinya ada kecakapan, amanah, dan kemampuan menjaga yang belum mereka ketahui.” (Tafsir As-Sa‘di, QS. Yusuf: 55)
Karena itu, seseorang boleh menyampaikan kompetensinya saat melamar pekerjaan, menerima amanah kepengurusan, menawarkan jasa profesional, mengenalkan kapasitas sebagai pengajar, atau menjelaskan pengalaman dalam suatu bidang. Syaratnya, ada kebutuhan yang benar dan tujuan yang baik.
Di sisi lain, Allah Ta‘ala berfirman,
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,
أَيْ: لَا تَمْدَحُوهَا، وَلَا تُثْنُوا عَلَيْهَا، وَلَا تَمُنُّوا بِأَعْمَالِكُمْ.
“Maksudnya, janganlah kalian memuji diri, menyanjung diri, dan merasa berjasa dengan amal-amal kalian.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. An-Najm: 32)
Seorang hamba tidak pantas memastikan dirinya suci, paling ikhlas, paling alim, atau paling layak di sisi Allah. Sebab, manusia hanya melihat lahiriah dirinya, sedangkan Allah mengetahui isi hati, kekurangan, dan akhir kehidupan seseorang.
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa seseorang boleh memberitakan ilmu atau kebaikan yang ada pada dirinya apabila tujuannya agar orang lain dapat mengambil manfaat. Beliau berkata,
فَمَنْ أَخْبَرَ عَنْ نَفْسِهِ بِمِثْلِ ذَلِكَ لِيُكْثِرَ بِهِ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنَ الْخَيْرِ فَهُوَ مَحْمُودٌ، وَهَذَا غَيْرُ مَنْ أَخْبَرَ بِذَلِكَ لِيَتَكَثَّرَ بِهِ عِنْدَ النَّاسِ وَيَتَعَظَّمَ.
“Siapa yang memberitakan tentang dirinya seperti itu agar semakin banyak kebaikan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, maka ia terpuji. Ini berbeda dengan orang yang memberitakannya untuk membesarkan diri di hadapan manusia dan mencari keagungan.” (Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah, 1:265; teks kitab)
Beliau lalu menyebutkan beberapa keadaan ketika seseorang boleh menjelaskan kelebihan atau keadaan dirinya: untuk membela diri dari kezaliman dan tuduhan, menuntut hak yang memerlukan pengenalan diri, menjaga diri dari orang yang hendak memanfaatkannya, atau ketika melamar kepada pihak yang belum mengenal dirinya.
Akan tetapi, Ibnul Qayyim tetap memberikan adab yang lebih baik:
وَالْأَحْسَنُ فِي هَذَا أَنْ يُوَكِّلَ مَنْ يُعَرِّفُ بِهِ وَبِحَالِهِ؛ فَإِنَّ لِسَانَ ثَنَاءِ الْمَرْءِ عَلَى نَفْسِهِ قَصِيرٌ، وَهُوَ فِي الْغَالِبِ مَذْمُومٌ؛ لِمَا يَقْتَرِنُ بِهِ مِنَ الْفَخْرِ وَالتَّعَاظُمِ.
“Yang lebih baik dalam hal ini ialah ia menyerahkan kepada orang lain untuk memperkenalkan dirinya dan keadaannya. Sebab, pujian seseorang atas dirinya sendiri biasanya tidak banyak nilainya dan sering tercela karena mudah disertai kebanggaan serta membesarkan diri.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan.”(HR. Bukhari, no. 1; Muslim, no. 1907)
Keterangan tentang kemampuan diri dapat berubah menjadi amal baik atau dosa hati, bergantung pada niatnya.
| Keadaan | Tanda | Sikap yang benar |
|---|---|---|
| Memperkenalkan kemampuan untuk maslahat | Ada kebutuhan nyata; manfaatnya kembali kepada agama atau manusia | Boleh, bahkan terkadang diperlukan |
| Memuji diri demi pujian dan gengsi | Senang dianggap paling hebat; meremehkan orang lain | Tercela dan dekat dengan ujub |
| Mengakui kemampuan sambil bersandar kepada Allah | Berikhtiar, rendah hati, meminta pertolongan Allah | Sikap mukmin |
| Mengandalkan kemampuan sendiri | Merasa hasil pasti tercapai karena dirinya | Berbahaya bagi iman dan sebab kegagalan |
Seorang muslim perlu mengenal potensi dirinya. Ia harus mengetahui bidang yang ia kuasai, kekuatan yang Allah berikan, dan amanah yang dapat ia emban. Namun, ia tidak boleh menjadikan dirinya sebagai sandaran.
Kalimat yang lebih selamat bukan, “Saya pasti berhasil,” melainkan, “Insya Allah, saya memiliki pengalaman dan akan berusaha maksimal; semoga Allah memberi taufik.” Kalimat seperti ini bukan tanda rendah diri yang salah, tetapi bukti bahwa seseorang tahu kemampuan dirinya sekaligus mengenal kelemahan dirinya di hadapan Allah.
Sebelum berbicara tentang diri, ajukan empat pertanyaan berikut:
Semoga Allah beri taufik dan hidayah.
رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Rabbanā ‘alaika tawakkalnā wa ilaika anabnā wa ilaikal-maṣīr.
“Wahai Rabb kami, hanya kepada-Mu kami bertawakal, hanya kepada-Mu kami bertobat, dan hanya kepada-Mu kami kembali.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)
—
@ Khadijah Community Jogja, 7 September 2026
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
sumber : https://rumaysho.com/42773-memuji-diri-antara-maslahat-dan-ujub.html
٢۱٧ – إِنَّمَا الْمَدِيْنَةُ كَالْكِيْرِ تُنْفِي خَبَثَهَا وَيَنْصَحُُ طَيِّبَهَا
“Sesungguhnya Madinah ibarat pandai besi. Ia akan membersihkan semua kotoran yang ada dan akan memurnikan kebaikan-kebaikannya.”
Hadits ini ditakhrij oleh Imam Bukhari (4/77. 13/174. 258), Imam Muslim (9/155). Imam Malik (3/84). Imam Nasa’i (2/184). Imam Tirmidzi (4/373). Ath-Thayaiisi di dalam kitab Musnad-nya. (2/204) dan Imam Ahmad (3/292. 306. 307, 365. 385. 392. dan 393). dari Jabir bin Abdillah t (yang menceritakan):
“Ada seorang A’rabi berbai”at kepada Rasul r. Kemudian ia terserang demam ketika berada di Madinah. Rasul pun mendatanginya. Lalu si A’rabi itu berkata: “Wahai Rasulullah, batalkanlah bai’atku.” Namun beliau Rasul tidak memperkenankannya. Ia pun datang lagi kepada beliau, dan meminta beliau melepaskan bai’atnya, Beliau tetap menolak, dan pada permohonan yang ketiga, beliau bersabda di saat orang itu keluar: (Kemudian ia menyebutkan sabda Nabi r di atas selengkapnya).
Imam Tirmidzi menilai: “Hadits ini hasan.”
Hadits ini memiliki syahid yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit t. Zaid berkomentar tentang ayat: Maka mengapa kamu terpecah menjadi dua golongan dalam menghadapi orang-orang munafik (An-Nisa’: 88).
“Suatu ketika para sahabat pulang dari perang Uhud. Mereka terpecah menjadi dua golongan. Golongan pertama menyeru: “Perangi mereka. Golongan lainnya: “Jangan”. Kemudian turunlah ayat di atas. Lalu Nabi r bersabda:
٢۱٨ – إِنَّهَا طّيِّبَةٌ وَإِنَّهَا تُنْفِي الْخَبَثَ كَمَا تُنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ
“Kota itu bagus, ia akan menghilangkan semua kotoran yang ada, seperti api menghilangkan karat besi.”
Hadits ini ditakhrij oleh Imam Bukhari {4/77-78. 8/206), Imam Muslim (9/155-156), Imam Tirmidzi (4/89-90) dan Imam Ahmad (6/184, 187, 188) melalui Abdullah bin Yazid A!-Khatami dari Zaid bin Tsabit t At-Tirmidzi berkomentar: “Hadits ini hasan shahih.”
Para ulama mengartikan: Kata khabatsul hadid berarti kotoran yang biasa dihilangkan dengan api (dipanaskan dengan suhu tertentu). Sementara itu Al-Qadhi menambahkan: “Hal ini jelasnya terjadi pada masa Rasul r. dimana orang-orang yang tahan mengikuti hijrah bersama beliau hanyalah orang-orang yang teguh hati. Sedangkan orang-orang munafik atau mereka yang lemah iman, tidak akan tahan mengikuti beliau. Sebab Madinah kondisi alamnya lebih gersang di banding Makkah. Apalagi bagi mereka yang tidak memperhatikan soal pahala. Seperti tatkala seorang Arabi yang terserang demam itu, ia segera meminta kepada Nabi r agar membatalkan baiatnya. Inilah pendapat Al-Qadhi. Pendapat yang dikiranya lebih tepat namun justru sebaliknya. Sebab ada yaitu hadits Iain yang lebih kuat dari Abu Hurairah t sebagaimana disebutkan. yaitu: “Hari kiamat tidak akan terjadi sehingga Madinah telah membersihkan orang-orang buruk.” Ini jelasnya terjadi pada masa Dajjal. seperti yang disebutkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya. Tatkaia Dajjal keluar. Madinah bergonncang sebanyak tiga kali goncangan, dimana orang-orang kafir maupun munafik akan dikeluarkan dari kota tersebut. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Anas dan ditakhrij pula oleh Imam Bukhari (4/76). Hadits ini mengisyaratkan bahwa terjadinya peristiwa itu adalah pada masa keluarnya Dajjal. Sedang kemungkinan lainnya adalah bahwa hal itu beberapakali terjadi pada kurun yang berbeda-beda. Demikianlah penjelasan syarah Muslim karya An-Nawawi (9/154).
Saya berpendapat: Yang lebih tepat lagi adalah. bahwa peristiwa itu hanya terjadi pada saat Rasulullah masih hidup. Mengingat hadits Arabi di atas. atau terjadi pada saat lainnya dengan tidak berlangsung terus menerus. Hal ini seperti dijelaskan dalam firman Allah I:
وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ
“Dan di antara penduduk Madinah. mereka keterlaluan dalam kemunafikan.” (At-Taubat: 101).
Orang munafik jelas orang yang kotor, seperti yang dikatakan oleh Al-Hafizh. Menurutnya inilah yang dimaksudkan dengan hadits Zaid bin Tsabit di atas. Dengan demikian. kata tanfi pada hadits di atas bukan berarti terus berlangsung. akan tetapi berarti tikrar (terjadi beberapa kali). Peristiwa itu memang pernah terjadi pada masa Rasul r. Namun pada masa keluarnya Dajjal juga kembali terjadi (Insya Allah), seperti yang diisyaratkan oleh hadits Anas di atas. Pendapat inilah yang tampaknya lebih disukai oleh AI-Hafizh di dalam.Al-Fath (6/76). Karena itu, pada bagian akhir komentarnya, ia mengatakan: “Adapun di antara kedua masa tersebut, tidak terjadi hal yang seperti itu.”
Terakhir itulah pendapat yang dekat. bahkan yang paling benar. Kenyataan yang ada sekarang. juga mendukungnya.
sumber: https://alquran-sunnah.com/kitab/Shahihah/KOTA%20MADINAH%20AKAN%20MENGELUARKAN.htm
Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,
«واعلم أنَّ الناسَ إذا أُعجِبوا بك، فإنَّما أُعجِبوا بجميلِ سترِ اللهِ عليك.»
“Ketahuilah, ketika manusia mengagumimu, sesungguhnya mereka hanya mengagumi indahnya Allah menutupi aib-aibmu..”
(Madaarijus Saalikiin 2/293)
Jangan tertipu oleh pujian manusia.
Mereka hanya melihat apa yang Allah tampakkan, bukan seluruh kekurangan yang Allah sembunyikan.
Jika hari ini mereka memandangmu baik, itu semata karena indahnya Allah menutupi aibmu.
Maka, setiap pujian semestinya melahirkan syukur dan tawadhu‘, bukan ujub.
====
DO’A KETIKA DIPUJI ORANG LAIN

– ALLAAHUMMA LAA TU-AAKHIDZ-NII BIMAA YAQUULUUN
– WAGH-FIR-LII MAA LAA YA’LAMUUN
– WAJ ‘AL-NII KHOYRON MIMMAA YAZHUN-NUUN


Jika mengingat akan dosa-dosa, hati orang beriman pasti akan terus menyesal, merasa sedih, bahkan sesekali bisa menetaskan air mata. Taubat memang seperti itu. Orang yang dikatakan bertaubat dengan sebenarnya bila ia menyesali dosa yang telah lalu, meninggalkan maksiat saat ini juga dan bertekad tidak akan mengulanginya lagi di masa mendatang. Sedih dan terus menyesali dosa itulah jalan untuk kembali pada Allah.
Pada kesempatan kali ini, ada sebuah ayat yang patut kita renungkan bersama. Isinya adalah mengenai keutamaan orang-orang yang bertaubat. Mereka adalah orang yang dulunya penuh dengan dosa dan kubangan maksiat, bahkan terjerumus dalam dosa besar, lalu menyesal, sedih dan bertekad tidak akan melakukannya lagi. Allah Ta’ala berfirman mengenai sifat hamba-Nya yang beriman,
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71)
“Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al Furqon: 68-71)
Mengenai “Atsamaa”
Saksikanlah dalam ayat di atas, yang disebutkan adalah dosa-dosa besar. Mulai dari dosa syirik, membunuh jiwa tanpa hak, dan berzina disebutkan dalam satu ayat. Di akhir ayat ke-68, disebutkan bahwa mereka yang berbuat dosa-dosa tadi akan berjumpa dengan “أَثَامًا”. ‘Abdullah bin ‘Amr menafsirkan bahwa “أَثَامًا” adalah nama lembah di Jahannam. ‘Ikrimah mengatakan bahwa “أَثَامًا” adalah lembah di Jahannam di mana di situlah disiksa orang-orang yang berzina. As Sudi menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan, “Mereka akan memperoleh balasan atas dosa yang mereka perbuat.” As Sudi menafsirkan seperti ini karena melihat dari kelanjutan ayat setelahnya.[1]
Siksa yang Pedih dan Berlipat-lipat
Maksud ayat, “(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat”, adalah mereka akan mendapat siksaan yang terus berulang dan amat pedih. Sedangkan maksud ayat setelahnya, “dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina”, adalah mereka mendapatkan siksaan yang begitu menghinakan.[2]
Termasuk Dosa Besar
Allah Ta’ala menyebutkan tiga dosa dalam ayat tersebut yaitu syirik, membunuh, dan berzina. Apa maksudnya? Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Ketiga dosa tersebut termasuk dalam al kabair (dosa besar). Syirik adalah dosa yang merusak agama. Membunuh adalah dosa yang merusak jiwa. Sedangkan zina adalah dosa yang merusak kehormatan.”[3] Itulah yang menunjukkan bahayanya ketiga dosa tersebut.
Syirik sudahlah amat jelas. Jika dosa syirik dibawa mati dan tidak ada taubat terhadap dosa tersebut, pelakunya akan kekal di neraka. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48, 116)
Bagaimanakah dengan dosa membunuh dan zina? Apakah membuat seorang hamba kekal dalam neraka? Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Adapun orang yang membunuh jiwa dan seorang pezina, mereka tidaklah kekal di dalam neraka karena ada berbagai dalil dari Al Qur’an dan sunnah nabawiyah yang menjelaskan hal ini. Dalil tersebut menjelaskan bahwa setiap mukmin akan keluar dari neraka dan tidak kekal di dalamnya. Setiap mukmin (selama masih ada iman) walau ia melakukan maksiat, ia tidak kekal di neraka.”[4]
Wajib Bertaubat
Ketika seseorang terjerumus dalam kesyirikan, pembunuhan dan zina, maka ia wajib bertaubat dari dosa tersebut. Bagaimana cara bertaubat?
Taubat tentu saja dengan taubat yang nashuha, taubat yang sesungguhnya. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8). Dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah bahwa makna taubat yang tulus (taubatan nashuhah) sebagaimana kata para ulama adalah, “Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.”[5]
Dalam surat Al Furqon yang kita bahas saat ini juga disebutkan “kecuali orang yang bertaubat”, yaitu bertaubat dari maksiat dan selainnya dengan menyesali dosa yang telah lalu dan bertekad untuk tidak mengulanginya (di masa akan datang). Kemudian disertai dengan beriman kepada Allah dengan benar yang menunjukkan bahwa ia meninggalkan maksiat dan kembali mengerjakan ketaatan. Juga disertai dengan mengerjakan amalan sholeh sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan ia melakukannya dengan ikhlas. Demikianlah maksud dari penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di rahimahullah tentang tafsir ayat di atas. [6]
Kejelekan Diganti Kebaikan
Sekarang kita akan lihat maksud firman Allah,
فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ
“Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.” (QS. Al Furqon: 70). Kata Ibnul Jauzi rahimahullah, para ulama berselisih pendapat tentang maksud penggantian di sini dan kapan waktunya.
Ibnu ‘Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah Allah mengganti kesyirikan yang dulu mereka lakukan dengan keimanan, pembunuhan yang mereka lakukan diganti dengan menahan diri dari melakukannya dan zina yang mereka lakukan diganti dengan menjaga kehormatan dari zina. Ini menunjukkan bahwa penggantian tersebut ada di dunia. Ulama lain yang menafsirkan seperti ini adalah Sa’id bin Jubair, Mujahid, Qotadah, Adh Dhohak, dan Ibnu Zaid.
Pendapat kedua, yang dimaksud dengan Allah mengganti kejelekan dengan kebajikan adalah di akhirat kelak. Yang berpendapat seperti ini adalah Salman radhiyallahu ‘anhu, Sa’id bin Al Musayyib, dan ‘Ali bin Al Husain. ‘Amr bin Maimun berkata, “Allah akan mengganti kejelekan seorang mukmin dengan kebaikan jika ia mendapat pengampunan Allah. Sampai-sampai ia sangka bahwa kejelekannya itu adalah amat banyak.”[7]
Ini menunjukkan bahwa sungguh luar biasa keutamaan orang yang bertaubat.
Ingatlah, Allah Maha Penerima Taubat
Selama seseorang tidak menganggap remeh dosa atau maksiat dan menyesali setiap dosa dan kesalahan yang ia perbuat, maka niscaya Allah akan ampuni dosanya. Entah itu dosa syirik, membunuh atau pun berzina. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا
“Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya”. (QS. Al Furqon: 71). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat ini mengabarkan tentang amat luasnya rahmat (kasih sayang) Allah pada para hamba-Nya. Siapa saja yang bertaubat kepada Allah, Dia akan meneri taubatnya seberapa pun besar dosa tersebut, entah itu dosa yang luar biasa atau dosa yang sepele, entah itu dosa besar atau dosa kecil.”[8]
So … Janganlah putus asa dari rahmat Allah!
Wallahu waliyyut taufiq. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.
Riyadh-KSA, 24th Rajab 1432 H (26/06/2011)
[1] Lihat penjelasan Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/326, terbitan Muassasah Qurthubah.
[2] Idem.
[3] Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, 587, terbitan Muassasah Ar Risalah.
[4] Idem.
[5] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14/61.
[6] Taisir Al Karimir Rahman, 587.
[7] Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 6/107, terbitan Al Maktab Al Islami.
[8] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/330.