3 Doa Penting: Agar Nikmat Tidak Hilang, Iman Tetap Kokoh, dan Meraih Surga Tertinggi

Berapa banyak nikmat yang kita miliki hari ini, namun bisa hilang dalam sekejap tanpa kita sadari?

Betapa banyak orang yang dulunya sehat, kuat, dan lapang, lalu berubah drastis dalam waktu singkat.

Tulisan ini mengajak kita merenungi doa-doa agung: menjaga nikmat dan meraih surga tertinggi—doa yang rutin diamalkan para sahabat.

Doa agar Nikmat Tidak Hilang dan Diberi Kesehatan (Keselamatan)


اللَّهُمَّ إِنِّيٍ أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIK, WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIK, WA FUJAA’ATI NIQMATIK, WA JAMII’I SAKHOTHIK.

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari azab-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu. (HR. Muslim, no. 2739, dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Doa #26 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem Hidup

Kosakata Doa
hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan

Yang dimaksud dengan nikmat adalah segala sesuatu yang sesuai (menyenangkan) dan berakhir dengan kebaikan. Ini mencakup seluruh nikmat, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan

Maksudnya adalah berubahnya keadaan sehat menjadi kebalikannya, seperti dari sehat menjadi sakit atau tertimpa musibah.

Perbedaan antara “hilang” dan “berubah”:

Hilang berarti lenyap tanpa pengganti.
Berubah berarti diganti dengan yang lain, seperti sehat menjadi sakit atau kaya menjadi miskin.
dari azab-Mu yang datang secara tiba-tiba

Kata “tiba-tiba” berarti datang secara mendadak, sedangkan “azab” adalah hukuman.

segala kemurkaan-Mu

Kemurkaan adalah rasa tidak suka dan tidak ridha terhadap sesuatu. Ini merupakan salah satu sifat Allah yang agung, sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa diserupakan dengan makhluk, sebagaimana firman-Nya:

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Penjelasan Doa
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan
Maksudnya: Wahai Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya seluruh nikmat-Mu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik nikmat dunia maupun akhirat, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Karena nikmat-Mu tidak bisa dihitung dan tidak terbilang.

Nabi ﷺ berlindung dari hilangnya nikmat karena hal itu biasanya terjadi ketika seseorang tidak mensyukurinya. Doa ini juga mengandung permohonan agar diberi taufik untuk bersyukur dan dijaga dari maksiat, karena maksiat bisa menghilangkan nikmat.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ﴾

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian, tetapi jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim: 7)

Allah juga berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ﴾

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’du: 11)

Dan firman-Nya:

﴿وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ﴾

“Dan musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahan).” (QS. Asy-Syura: 11)

dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan
Maksudnya: Aku berlindung kepada-Mu, wahai Allah, dari berubahnya nikmat sehat yang Engkau berikan—yaitu keselamatan dari penyakit, bala, dan musibah—menjadi sakit dan kesulitan.

Doa ini juga mengandung permohonan agar kesehatan itu terus terjaga dan tetap ada. Karena jika kesehatan hilang, kehidupan seorang hamba akan menjadi sulit. Ia tidak mampu menjalankan urusan dunia maupun agamanya dengan baik, bahkan bisa terjerumus dalam sikap tidak rida.

dari azab-Mu yang datang secara tiba-tiba
Maksudnya: Aku berlindung kepada-Mu dari hukuman dan azab yang datang secara mendadak tanpa diduga dan tanpa persiapan.

Disebut secara khusus “tiba-tiba” karena azab yang datang mendadak lebih berat dan lebih sulit, sebab tidak ada kesempatan untuk bertaubat sebelumnya.

dan dari segala kemurkaan-Mu
Maksudnya: aku berlindung dan berpegang kepada-Mu agar Engkau melindungiku dari semua sebab yang mendatangkan kemurkaan-Mu, wahai Dzat Yang Maha Agung.

Karena siapa saja yang Engkau murkai, maka ia benar-benar merugi dan celaka, meskipun disebabkan oleh hal yang kecil dan sebab yang tampak ringan.

Oleh karena itu, Nabi ﷺ menyebutkan secara umum, “dan seluruh kemurkaan-Mu”. Ini adalah permohonan perlindungan dari semua sebab kemurkaan Allah, baik berupa ucapan, perbuatan, maupun amalan.

وَإِذَا انْتَفَتِ الْأَسْبَابُ الْمُقْتَضِيَةُ لِلسَّخَطِ حَصَلَتْ أَضْدَادُهَا وَهُوَ الرِّضَ

Jika sebab-sebab yang mendatangkan kemurkaan itu hilang, maka akan muncul kebalikannya, yaitu keridhaan Allah. (Al-Futuhaat Ar-Rabbaaniyyah, 3:631)[1]

Doa Meminta Iman yang Kokoh, Nikmat yang Abadi, dan Surga yang Tertinggi


اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا لاَ يَرْتَدُّ، وَنَعِيْمًا لاَ يَنْفَدُ، وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَعْلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ

ALLOOHUMMA INNII AS-ALUKA IIMAANAN LAA YARTADDU, WA NA’IIMAN LAA YANFADU, WA MUROOFAQOTA MUHAMMADIN SHOLLALLOOHU ‘ALAYHI WA SALLAM FII A’LAA JANNATIL KHULDI.

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu iman yang tidak akan lepas, nikmat yang tidak akan habis, dan menyertai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga yang paling tinggi selama-lamanya. (HR. Ahmad, 1:400; Ibnu Hibban, 5:303. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih lighairihi).

Doa #46 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem Hidup

Doa #45 dari Buku 50 Doa Penolong Saat Sulit

Penjelasan Doa
Hadits secara lebih lengkap dari doa ini adalah sebagai berikut.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بَيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، وَعَبْدُ اللَّهِ قَائِمٌ يُصَلِّي، فَافْتَتَحَ سُورَةَ النِّسَاءِ يُسَجِّلُهَا، فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضًّا كَمَا أُنْزِلَ، فَلْيَقْرَأْ قِرَاءَةَ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ. فَأَخَذَ عَبْدُ اللَّهِ فِي الدُّعَاءِ، فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: سَلْ تُعْطَ. فَكَانَ فِيمَا سَأَلَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَانًا لَا يَرْتَدُّ، وَنَعِيمًا لَا يَنْفَدُ، وَمُرَافَقَةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَعْلَى جِنَانِ الْخُلْدِ. فَأَتَى عُمَرُ عَبْدَ اللَّهِ يُبَشِّرُهُ، فَوَجَدَ أَبَا بَكْرٍ خَارِجًا قَدْ سَبَقَهُ، فَقَالَ: إِنَّكَ لَسَبَّاقٌ بِالْخَيْرِ.

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ pernah berjalan di antara Abu Bakar dan Umar, sementara Abdullah (bin Mas‘ud) sedang berdiri shalat. Ia memulai membaca surat An-Nisa dengan tartil.

Maka Nabi ﷺ bersabda:

“Barang siapa ingin membaca Al-Qur’an dengan segar sebagaimana diturunkan, maka hendaklah ia membaca seperti bacaan Ibnu Ummi ‘Abd (Ibnu Mas‘ud).”

Kemudian Abdullah mulai berdoa, dan Rasulullah ﷺ terus mengatakan:

“Mintalah, niscaya engkau akan diberi. Mintalah, niscaya engkau akan diberi.”

Di antara doa yang ia panjatkan adalah:

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu iman yang tidak akan goyah, kenikmatan yang tidak akan habis, dan dapat menemani Nabi-Mu Muhammad ﷺ di surga yang paling tinggi dan kekal.”

Kemudian Umar datang kepada Abdullah untuk memberi kabar gembira, namun ia mendapati Abu Bakar telah keluar lebih dahulu (untuk menyampaikan kabar itu). Maka Umar berkata:

“Sungguh, engkau memang selalu lebih dahulu dalam kebaikan.” (HR. Ahmad, no. 4340; Abu Ya‘la, no. 16; dan Ibnu Hibban, no. 7067. Hadits ini dinilai hasan oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, 5/379, no. 2301, dan dinilai sahih dengan penguat-penguatnya oleh Syu’aib al-Arnauth dalam catatannya terhadap Musnad Ahmad, 7/359).

Doa yang agung ini termasuk doa yang sangat mulia, karena mengandung tujuan yang paling tinggi, harapan yang paling besar, dan cita-cita tertinggi di dunia dan akhirat.

Doa ini pernah dipanjatkan oleh salah satu sahabat terbaik, yaitu Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ketika memohon agar dapat menemani manusia terbaik, yaitu Nabi Muhammad ﷺ di surga yang paling tinggi. Tidak diragukan lagi, ini adalah kedudukan yang paling mulia.

Karena itu, Ibnu Mas’ud selalu membaca doa ini dalam amal yang paling utama, yaitu shalat. Beliau berkata:

قَدْ صَلَّيْتُ مُنْذُ كَذَا وَكَذَا، مَا صَلَّيْتُ فَرِيضَةً وَلَا تَطَوُّعًا إِلَّا دَعَوْتُ اللَّهَ بِهِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ

“Aku telah shalat sejak waktu sekian dan sekian. Tidaklah aku mengerjakan shalat wajib maupun sunnah, kecuali aku berdoa kepada Allah dengan doa ini di akhir setiap shalat.” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Ibnu ‘Asakir, 33/96. Dengan lafaz yang semakna juga diriwayatkan oleh Ahmad, 7/359, no. 4340).

Beliau juga berkata:

إِنَّهُ مِنْ دُعَائِيَ الَّذِي لَا أَكَادُ أَنْ أَدَعَهُ

“Sesungguhnya ini termasuk doa yang hampir tidak pernah aku tinggalkan.” (Dinilai sahih karena didukung oleh riwayat lain oleh Al-Arnauth dalam catatannya terhadap Musnad Ahmad, 6/178, no. 3662).

Hal ini menunjukkan betapa kuat semangat beliau dan besarnya keinginan beliau terhadap apa yang diminta dalam doa tersebut.

Sebab munculnya doa ini adalah ketika Nabi Muhammad ﷺ masuk masjid bersama Abu Bakar dan Umar. Saat itu, Ibnu Mas’ud sedang shalat dan membaca surat An-Nisa. Ketika sampai pada ayat ke-100[2], beliau mulai berdoa dalam keadaan berdiri. Maka Nabi ﷺ bersabda:

اسْأَلْ تُعْطَهُ، اسْأَلْ تُعْطَهُ

“Mintalah, niscaya engkau akan diberi. Mintalah, niscaya engkau akan diberi.”

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu iman yang tidak akan goyah
Maksudnya: Aku memohon kepada-Mu, wahai Allah, iman yang kokoh dan kuat, tanpa keraguan dan tanpa kebimbangan, serta Engkau menjaga aku dari terjatuh dalam kemurtadan (kekufuran).

Ini adalah permintaan yang paling agung di dunia, karena iman adalah amalan yang paling utama di sisi Allah.

Dari Abdullah bin Hubsyi Al-Khats‘ami, Nabi ﷺ pernah ditanya, “Amalan apa yang paling utama?” Beliau menjawab:

إِيمَانٌ لَا شَكَّ فِيهِ

“Iman yang tidak ada keraguan di dalamnya.” (HR. An-Nasa’i dalam Kitab Zakat, bab “Usaha orang yang memiliki sedikit harta”, no. 2526, dan dalam As-Sunan Al-Kubra, 2/31, no. 2317. Juga diriwayatkan oleh Ahmad, 24/122, no. 15401, dan oleh Al-Baihaqi, 3/9. Hadits ini dinilai sahih oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1504, serta dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 1318).

Beliau mendahulukan permintaan iman yang kokoh sebelum meminta surga tertinggi, karena kedudukan yang tinggi itu tidak akan diraih kecuali dengan iman yang sempurna.

Dan kenikmatan yang tidak akan habis
Maksudnya: Kenikmatan yang terus-menerus, tidak berakhir, tidak berkurang, dan tidak terputus. Itulah kenikmatan surga.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿إِنَّ هَذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهُ مِنْ نَفَادٍ﴾

“Sesungguhnya ini adalah rezeki dari Kami yang tidak ada habis-habisnya.” (QS. Shad: 54)

Adapun kenikmatan dunia, maka itu akan hilang dan berkurang. Allah Ta’ala berfirman:

﴿مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ﴾

“Apa yang ada di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An-Nahl: 96)

Dan menemani Nabi kita Muhammad di surga tertinggi
Setelah meminta kepada Allah kenikmatan yang abadi di surga, ia juga memohon kepada Allah Yang Maha Mulia agar dapat menemani Nabi Muhammad ﷺ di derajat tertinggi di surga.

Ini termasuk penyebutan yang khusus setelah yang umum, karena agungnya kedudukan ini. Kedudukan tersebut adalah kenikmatan yang paling besar, paling tinggi, paling sempurna, dan paling mulia, yaitu bersama Nabi ﷺ di derajat tertinggi surga.

Tidak diragukan, ini adalah cita-cita akhirat yang paling agung. Hal ini menunjukkan besarnya keinginan beliau, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

(إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلَا يَقُولَنَّ اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ وَلَكِنْ لِيُعْظِمْ رَغْبَتَهُ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَاظَمُ عَلَيْهِ شَيْءٌ أَعْطَاهُ)

“Jika salah seorang dari kalian berdoa, janganlah ia mengatakan: ‘Ya Allah, jika Engkau berkehendak…’, tetapi hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam meminta. Karena tidak ada sesuatu pun yang terlalu besar bagi Allah untuk diberikan.” (HR. Ahmad dalam Musnad Ahmad, 16/6, no. 9900. Para peneliti Musnad mengatakan: “Sanadnya sahih sesuai dengan syarat Imam Muslim”).[3]

Di derajat tertinggi surga
Karena di dalam surga terdapat seratus derajat. Nabi ﷺ bersabda:

فَإِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ، مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Sesungguhnya di surga ada seratus derajat. Jarak antara dua derajat seperti jarak antara langit dan bumi.” (HR. Bukhari dalam Shahih Bukhari, Kitab Jihad dan Perjalanan, bab “Derajat orang-orang yang berjihad di jalan Allah”, no. 2790. Juga oleh Imam Tirmidzi—dan lafaz ini miliknya—dalam Kitab Sifat Surga, bab “Penjelasan tentang derajat-derajat surga”, no. 2530).

Derajat yang paling tinggi adalah Al-Firdaus. Nabi ﷺ bersabda:

وَالْفِرْدَوْسُ أَعْلَاهَا دَرَجَةً

“Dan Firdaus adalah derajat yang paling tinggi.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Sifat Surga, bab “Penjelasan tentang derajat-derajat surga”, no. 2531; juga oleh Ahmad, 37/369, no. 22695; Ibnu Abi Syaibah, 13/138, no. 35211; dan Adh-Dhiya dalam Al-Mukhtarah, 3/337. Hadits ini dinilai sahih oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 921, serta dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 2531).

Karena itu Nabi ﷺ menganjurkan:

فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ تَعَالَى فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى

“Jika kalian meminta kepada Allah, maka mintalah Firdaus yang paling tinggi.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Kabir, 3/231, no. 3235; dan oleh Ibnu Hibban, 3/238, no. 958. Hadits ini dinilai sahih oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam At-Ta‘liqat Al-Hisan, no. 945. Asalnya terdapat dalam Imam Bukhari, no. 2790 dan 7423).

Dan dalam riwayat lain:

إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ تَعَالَى فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ سِرُّ الْجَنَّةِ

“Jika kalian meminta kepada Allah, maka mintalah Firdaus, karena itulah bagian terbaik dari surga.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Kabir, 18/254, no. 635; dan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Ba‘ts wa An-Nusyur, hlm. 231. Hadits ini dinilai sahih oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2145, serta dalam Shahih Al-Jami‘, no. 592).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berdoa:

وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ فِي أَعْلَى عَلِّيِّينَ فِي جِنَانِكَ، جِنَانِ الْخُلْدِ

“Dan (aku memohon) dapat menemani Muhammad di tempat tertinggi (‘Illiyyin) di surga-Mu, surga yang kekal.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 3/317, dan beliau menilainya sahih, serta disetujui oleh Adz-Dzahabi. Dengan lafaz yang semakna juga terdapat dalam Musnad Ahmad, 7/359, no. 4340; dan Ibnu Hibban, 5/303. Sanadnya dinilai sahih dengan penguat-penguatnya oleh Syu’aib al-Arnauth dalam catatannya terhadap Musnad, 7/359, dan dinilai hasan oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam At-Ta‘liqat Al-Hisan, no. 1967).

Riwayat ini menjelaskan riwayat sebelumnya, yaitu permintaan untuk berada di tempat tertinggi di surga.

Kata ‘Illiyyin menunjukkan ketinggian yang sangat, baik dari sisi tempat maupun kedudukan. Allah Ta’ala berfirman:

﴿كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا عِلِّيُّونَ * كِتَابٌ مَرْقُومٌ * يَشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُونَ﴾

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada di ‘Illiyyin. Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu? (Yaitu) kitab yang tertulis, yang disaksikan oleh para malaikat yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Muthaffifin: 18-21)

Sebagian ulama menjelaskan bahwa ‘Illiyyin adalah tempat yang sangat tinggi tanpa batas. Semakin tinggi suatu tempat, maka semakin besar dan luas kedudukannya.

Karena agungnya tempat ini, Allah menyebutkan bahwa ia disaksikan oleh para malaikat yang dekat dengan-Nya.

Dalam sunnah juga disebutkan bahwa ‘Illiyyin adalah kedudukan yang paling tinggi. Dalam hadits panjang dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang penghuni surga yang paling rendah kedudukannya, Allah berfirman kepadanya,

أَلَمْ تَرْضَ أَنْ أُعْطِيَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا مُنْذُ خَلَقْتُهَا إِلَى يَوْمِ أَفْنَيْتُهَا وَعَشَرَةَ أَضْعَافِهِ

“Tidakkah engkau ridha jika Aku berikan kepadamu seperti dunia sejak diciptakan sampai dimusnahkan, ditambah sepuluh kali lipatnya?”

Kemudian disebutkan berbagai kenikmatan yang tidak bisa dibayangkan oleh akal dan tidak mampu digambarkan oleh siapa pun.

Maka Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tidakkah engkau mendengar apa yang disampaikan kepada kita oleh Ibnu Ummi ‘Abd (yaitu Abdullah bin Mas’ud), wahai Ka‘ab, tentang penghuni surga yang paling rendah kedudukannya? Lalu bagaimana dengan yang paling tinggi?”

Maka Ka‘ab menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, (kenikmatan itu adalah sesuatu) yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan sebuah tempat, lalu Dia jadikan di dalamnya berbagai pasangan, buah-buahan, dan minuman sesuai kehendak-Nya. Kemudian Dia menutupnya, sehingga tidak seorang pun dari makhluk-Nya pernah melihatnya, tidak pula Jibril dan tidak pula selainnya dari para malaikat.”

Kemudian Ka‘ab membaca firman Allah Ta’ala:

﴿فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾

“Maka tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu berbagai penyejuk mata, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. As-Sajadah: 17)

Ia melanjutkan, “Kemudian Allah menciptakan dua surga di bawahnya, dan menghiasinya dengan apa yang Dia kehendaki, serta memperlihatkannya kepada siapa yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya.

Kemudian Dia berfirman: ‘Barang siapa catatannya berada di ‘Illiyyin, maka ia akan tinggal di tempat yang belum pernah dilihat oleh seorang pun.’

Sungguh, seorang penghuni ‘Illiyyin akan keluar berjalan di dalam kerajaannya. Tidak ada satu pun kemah di surga kecuali akan dimasuki oleh cahaya dari wajahnya. Mereka pun bergembira dengan keharuman baunya, lalu berkata:

وَاهًا لِهَذَا الرِّيحِ! هَذَا ريحُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ عِلِّيِّينَ، قَدْ خَرَجَ يَسِيرُ فِي مُلْكِهِ

‘Wahai, betapa harum bau ini! Ini adalah bau seorang dari penghuni ‘Illiyyin yang sedang berjalan di dalam kerajaannya.’” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Kabir, 8/309, no. 9648. Hadits ini dinilai sahih oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 3591).

Maka perhatikanlah, wahai saudaraku, betapa tinggi kedudukan ini. Renungkanlah kenikmatan yang kekal yang disebutkan di dalamnya. Tidakkah hatimu merindukan kedudukan yang agung dan abadi ini? Tidakkah engkau ingin menjadi penghuninya selama-lamanya, tanpa berpindah dan tanpa berakhir?

Karena itu, bersungguh-sungguhlah dalam berdoa mulai sekarang. Perbanyaklah doa-doa ini di siang hari, dalam setiap shalat wajib maupun sunnah, sebagaimana dilakukan oleh sahabat yang mulia ini, disertai dengan husnuzan kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemurah.

Perbanyaklah mengetuk pintu (berdoa), karena pintu itu akan dibukakan. Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata:

جِدُّوا بِالدُّعَاءِ، فَإِنَّهُ مَنْ يُكْثِرُ قَرْعَ الْبَابِ يُوشِكْ أَنْ يُفْتَحَ لَهُ

“Bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, karena siapa yang sering mengetuk pintu, hampir pasti akan dibukakan baginya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 10/202; oleh Abdurrazzaq, 10/442; dan oleh Al-Baihaqi dalam Syu‘ab Al-Iman, 2/52).

Ingatlah hadits qudsi berikut, dan jadikan selalu di hadapan matamu. Allah berfirman:

يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي، فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ

“Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya yang pertama hingga yang terakhir dari kalian, manusia dan jin, berdiri di satu tempat lalu meminta kepada-Ku, lalu Aku berikan kepada setiap orang apa yang dimintanya, maka itu tidak mengurangi apa yang ada di sisi-Ku, kecuali seperti berkurangnya air laut ketika sebuah jarum[4] dicelupkan ke dalamnya.” (HR. Muslim dalam Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah wa Al-Adab, bab “Haramnya berbuat zalim”, no. 2577).

Maka perbanyaklah doa ini, wahai hamba Allah. Milikilah semangat yang tinggi dalam siang dan malammu, serta dalam setiap shalatmu.

Teladanilah sahabat yang Nabi ﷺ katakan tentang mereka:

اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي مِنْ أَصْحَابِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، وَتَمَسَّكُوا بِعَهْدِ ابْنِ مَسْعُودٍ

“Ikutlah dua orang setelahku dari sahabatku, yaitu Abu Bakar dan Umar, dan berpegang teguhlah dengan ajaran Ibnu Mas‘ud.” (HR. Ahmad, 38/280, no. 23245; oleh Imam Tirmidzi dalam Kitab Al-Manaqib, bab “Keutamaan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma”, no. 3662; oleh Ibnu Abi Syaibah, 12/11; dan oleh Al-Hakim, 3/75. Hadits ini dinilai sahih oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi. Juga dinilai sahih oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 22895, serta dalam Shahih Ibnu Majah, no. 79. Al-Hafizh dalam Al-Ishabah mengatakan: sanadnya sahih).

Dan tentang Ibnu Mas‘ud, Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata:

كَانَ أَقْرَبُ النَّاسِ هَدْيًا وَدَلًّا وَسَمْتًا بِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم

“Ia adalah orang yang paling mirip petunjuk, sikap, dan penampilannya dengan Rasulullah ﷺ.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Al-Manaqib, bab “Keutamaan Abdullah bin Mas‘ud”, no. 3807; oleh Ahmad, 38/366, no. 23341; oleh Ibnu Abi Syaibah, 13/411; dan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Kabir, 9/86. Hadits ini dinilai sahih oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 2944).[5]

Doa Memohon Takut kepada Allah, Nikmat Abadi, dan Akhir yang Indah


اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الخَلْقِ، أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الحَيَاةَ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا عَلِمْتَ الوَفَاةَ خَيْرًا لِي، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَأَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الحَقِّ فِي الرِّضَا وَالغَضَبِ، وَأَسْأَلُكَ القَصْدَ فِي الفَقْرِ وَالغِنَى، وَأَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنفَدُ، وَأَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ، وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ القَضَاءِ، وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ العَيْشِ بَعْدَ المَوْتِ، وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءِ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ.

ALLAHUMMA BI ‘ILMIKAL-GHAIBA WA QUDRATIKA ‘ALAL-KHALQI, AHYINI MAA ‘ALIMTAL-HAYAATA KHAYRAN LII, WA TAWAFFANII IDZAA ‘ALIMTAL-WAFAATA KHAYRAN LII.

ALLAHUMMA INNII AS-ALUKA KHASYYATAKA FIL-GHAYBI WASY-SYAHAADAH, WA AS-ALUKA KALIMATAL-HAQQI FIR-RIDHAA WAL-GHADAB, WA AS-ALUKA AL-QASHDA FIL-FAQRI WAL-GHINAA, WA AS-ALUKA NA’IIMAN LAA YANFAD, WA AS-ALUKA QURRATA ‘AYNIN LAA TANQATI’, WA AS-ALUKA AR-RIDHAA BA’DAL-QADHAA’, WA AS-ALUKA BARDA AL-‘AYSYI BA’DAL-MAWT, WA AS-ALUKA LADZDZATAN-NAZHORI ILAA WAJHIKA, WASY-SYAWQA ILAA LIQAA’IKA FIY GHAYRI DHARRAA’IN MUDHIRRAH, WA LAA FITNATIN MUDHILLAH.

ALLAHUMMA ZAYYINNAA BI ZIINATIL-IIMAAN, WAJ’ALNAA HUDAATAN MUHTADIIN.

“Ya Allah, dengan ilmu-Mu tentang hal yang ghaib dan kekuasaan-Mu atas seluruh makhluk, hidupkanlah aku selama Engkau mengetahui bahwa kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika Engkau mengetahui bahwa kematian lebih baik bagiku.

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu rasa takut kepada-Mu, baik dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan. Aku juga memohon kepada-Mu kalimat kebenaran dalam keadaan ridha maupun marah. Aku memohon kepada-Mu sikap tengah (pertengahan) dalam keadaan miskin maupun kaya. Aku memohon kepada-Mu kenikmatan yang tidak akan pernah habis. Aku memohon kepada-Mu kebahagiaan yang tidak akan terputus.

Aku memohon kepada-Mu keridhaan setelah qadha’ (takdir)-Mu. Aku memohon kepada-Mu kesejukan hidup setelah kematian. Aku memohon kepada-Mu kelezatan dalam memandang wajah-Mu, dan kerinduan untuk berjumpa dengan-Mu, tanpa penderitaan yang membahayakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan.

Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan iman, dan jadikanlah kami orang-orang yang memberi petunjuk serta mendapat petunjuk.” (HR. An-Nasa’i, no. 1305, dan Ahmad, no. 18351, dari sahabat Ammar bin Yasir, hadis ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Kalim At-Tayyib, no. 106).[6]

Diambil dari Buku Dosa itu Candu

Catatan kaki:

[1] https://kalemtayeb.com/safahat/item/3100

Allah Ta’ala berfirman,

۞ وَمَن يُهَاجِرْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ يَجِدْ فِى ٱلْأَرْضِ مُرَٰغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَن يَخْرُجْ مِنۢ بَيْتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ يُدْرِكْهُ ٱلْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Artinya: Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa: 100)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, no. 2678, disebutkan:

(إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلَا يَقُلِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ، وَلَكِنْ لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ، وَلْيُعَظِّمِ الرَّغْبَةَ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ)

“Jika salah seorang dari kalian berdoa, janganlah ia mengatakan: ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki.’ Namun hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam meminta dan membesarkan harapannya, karena tidak ada sesuatu pun yang terlalu besar bagi Allah untuk diberikan.”

[4] Al-mikhyath artinya jarum. Maksudnya: tidak berkurang sedikit pun. Perumpamaan jarum di dalam laut digunakan karena itu adalah gambaran paling kecil untuk menunjukkan betapa sedikitnya (tidak berarti sama sekali).

[5]https://kalemtayeb.com/safahat/item/3174#:~:text=الشرح%3A&text=قوله%3A%20(اللَ%D9%91هم%20إني%20أسألك%20إيماناً,وسلم%20سُئل%3A%20أي%20العمل%20أفضل؟

[6] HR. An-Nasa’i, no. 1305, dan Ahmad, no. 18351, dari sahabat Ammar bin Yasir, hadis ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Kalim At-Tayyib, no. 106.

Dari [As-Sā`ib bin Mālik], ia berkata: “Ammār bin Yāsir radhiyallāhu ‘anhu mengimami kami dalam shalat, dan ia meringankannya (memendekkannya). Maka seseorang dari jamaah berkata kepadanya, ‘Sungguh, engkau telah meringankan atau memendekkan shalat.’”

Ammār pun menjawab: “Ketahuilah bahwa di dalamnya aku telah berdoa dengan doa yang pernah kudengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Setelah selesai shalat, seseorang dari jamaah mengikutinya dan bertanya tentang doa tersebut. Lalu Ammār menjawab dengan menyebut doa ini.

Silakan dipesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang disebutkan di atas di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701

—–

Rabu, 13 Syawal 1447 H

Disusun saat perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul menuju Sekar Kedhaton Kotagede Jogja

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/41895-3-doa-penting-agar-nikmat-tidak-hilang-iman-tetap-kokoh-dan-meraih-surga-tertinggi.html

Jangan Sebar Aib Orang Lain, Nasihat Rasulullah ﷺ di Tengah Budaya Viral

Bismillah

Di era digital seperti sekarang, satu kesalahan kecil bisa menyebar lebih cepat daripada niat seseorang untuk memperbaikinya. Satu potongan video, satu kalimat yang diambil tanpa konteks, bisa menghancurkan nama baik seseorang yang sebelumnya dikenal berakhlak baik. Bahkan mungkin bukan sekedar nama baik, tapi bisa melemahkan mentalnya hingga membuatnya tak pernah mau untuk berubah lebih baik.

Kita sering mudah menekan tombol share, tapi jarang menekan tombol tahan dulu, pikir dulu.
Padahal dalam Islam, menjaga kehormatan sesama muslim adalah ibadah yang besar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللّٰهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barang siapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aib)nya di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim no. 2699)

Menutupi bukan berarti membenarkan dosa, tapi bentuk kasih sayang agar seorang hamba masih punya ruang untuk bertobat.
Para ulama menyebut hal ini sebagai الإِقَالَةُ عَنِ العَثَرَاتِ (iqālatul ‘atsarāt) — yaitu memaafkan dan menutupi kesalahan orang yang tergelincir, selama tidak berkaitan dengan pelanggaran hukum Allah.

Dua Jenis Orang yang Salah dan Cara Tepat  Menyikapinya

Para ulama menjelaskan bahwa manusia terbagi menjadi dua golongan dalam hal ini:

1. Orang yang terjaga kehormatannya dan tidak dikenal dengan dosa atau maksiat.

Jika ia tergelincir dalam kesalahan, maka tidak boleh aibnya disebarkan. Ia lebih butuh nasihat, bukan penghakiman.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَقِيلُوا ذَوِي الْهَيْئَاتِ عَثَرَاتِهِمْ إِلَّا الْحُدُودَ

“Maafkanlah kesalahan orang-orang yang berakhlak baik di antara kalian, kecuali dalam perkara hukum Allah.” (HR. Abu Dawud no. 4375, an-Nasa’i no. 4887)

2. Orang yang terang-terangan berbuat dosa dan bangga dengan maksiatnya.

Untuk mereka, masyarakat tidak boleh menormalisasi perbuatannya. Namun tetap dengan adab, bukan dengan cercaan, hujatan, atau perundungan.

Sayangnya, di zaman ini, banyak orang lebih sibuk mencari kesalahan orang lain, sementara lupa bahwa dirinya pun memiliki dosa yang Allah masih tutupi.

Keutamaan Menutupi Aib

Menutupi aib bukan kelemahan, tapi tanda keimanan dan kasih sayang.

Ibnu Hajar al-Asqalani -rahimahullah- menjelaskan dalam Fath al-Bari, bahwa makna “menutupi” dalam hadis di atas mencakup dua hal:

  1. Menjaga kehormatan orang yang berbuat salah agar tidak rusak di mata manusia.
  2. Tidak menyebarkan kesalahannya agar ia punya kesempatan memperbaiki diri.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللّٰهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Seorang hamba tidak menutupi (aib) saudaranya di dunia, kecuali Allah akan menutupi aibnya di Hari Kiamat.”
(HR. Ahmad no. 19891, dinilai sahih oleh Al-Albani)

Setiap kali kita menahan diri dari menjelekkan orang lain, sebenarnya kita sedang menyiapkan perlindungan Allah untuk diri kita sendiri.

Menegur Tanpa Menghina

Menegur itu perlu, tapi cara yang salah bisa mengubah nasihat menjadi penghinaan.

Ulama salaf berkata:

مَنْ نَصَحَ أَخَاهُ سِرًّا فَقَدْ نَصَحَهُ وَزَيَّنَهُ، وَمَنْ نَصَحَهُ عَلَانِيَةً فَقَدْ فَضَحَهُ وَشَانَهُ

“Barang siapa menasihati saudaranya secara diam-diam, maka ia benar-benar telah menasihatinya dan memperbaikinya.
Namun siapa yang menasihati di depan umum, maka ia telah mempermalukannya dan mencelanya.”

Itulah adab dalam memberi nasihat.
Islam tidak melarang amar ma’ruf nahi munkar, tapi melarang penghinaan dan celaan.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Mā’idah: 8)

Adil artinya tidak menutup mata terhadap kesalahan, tapi juga tidak menutup hati terhadap kebaikan. Seseorang bisa salah di satu sisi, tapi tetap punya amal saleh di sisi lain.

Ibnu al-Musayyib rahimahullah berkata:

لَيْسَ مِنَ النَّاسِ أَحَدٌ إِلَّا وَلَهُ خَطَأٌ، وَلَكِنْ مَنْ كَانَتْ حَسَنَاتُهُ أَكْثَرَ مِنْ سَيِّئَاتِهِ فَهُوَ الْمَغْفُورُ لَهُ

“Tidak ada manusia yang sempurna. Namun siapa yang kebaikannya lebih banyak daripada keburukannya, maka keburukannya diampuni karena kebaikannya.”

Menjadi Penutup, Bukan Penyebar

Menjadi penutup aib orang lain adalah bentuk ibadah yang penuh kasih, empati, dan kesadaran diri, bahwa kita pun butuh ampunan yang sama.

Sebelum jari ini tergesa menulis komentar tajam atau menyebarkan potongan video seseorang, tanyakanlah pada diri sendiri:

“Kalau aku yang salah, apakah aku ingin diperlakukan seperti ini?”

Jika jawabannya tidak, maka berhentilah jadi penyebar. Jadilah penutup.

Karena bisa jadi, ketika kita menutupi aib saudara kita, Allah sedang menutupi aib kita di hadapan seluruh makhluk-Nya.


Menutupi aib adalah tanda iman, sedangkan menelanjangi kesalahan orang lain adalah tanda hati yang belum bersih. Islam tidak hanya mengajarkan kebenaran, tapi juga etika dalam menyampaikan kebenaran, agar perbaikan benar-benar mendatangkan maslahat yang lebih besar, dan nasihat tidak berubah menjadi penghinaan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senang menutup aib saudaranya, agar Dia pun menutupi aib kita di dunia dan di akhirat.

Wallahua’lam bis showab 


Oleh: Ahmad Anshori, Lc., M.Pd

sumber: https://remajaislam.com/6317-jangan-sebar-aib-orang-lain-nasihat-rasulullah-%EF%B7%BA-di-tengah-budaya-viral.html

Pilih yang Bagus Agamanya, Pasti Engkau Tidak Akan Kecewa


Apa pun keinginanmu dalam memilih jodoh, tetap memilih yang baik atau bagus dari sisi agamanya, itulah jalan kebahagiaan. Karena jika standar Anda dunia, itu bisa berubah ketika berumah tangga.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

تُنْكَحُ المَرْأةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وجَمَالِهَا ولِدِيْنِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاك

Wanita dinikahi karena empat hal, yaitu karena: hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Hendaklah engkau mendapatkan wanita yang baik agamanya, niscaya engkau akan beruntung.” (HR. Bukhari, no. 5090 dan Muslim, no. 1466)

Ingat, yang baik agama itulah yang dijadikan prioritas.

Perhatikanlah kisah berikut yang menunjukkan keberuntungan memilih wanita karena agamanya.

Yahya bin Yahya An-Naisaburi mengatakan bahwa beliau berada di dekat Sufyan bin ‘Uyainah ketika ada seorang yang menemui Ibnu ‘Uyainah lantas berkata, “Wahai Abu Muhammad, aku datang ke sini dengan tujuan mengadukan fulanah–yaitu istrinya sendiri–. Aku adalah orang yang hina di hadapannya.” Beberapa saat lamanya, Ibnu ‘Uyainah menundukkan kepalanya. Ketika beliau telah menegakkan kepalanya, beliau berkata, “Mungkin, dulu engkau menikahinya karena ingin meningkatkan martabat dan kehormatan?” “Benar, wahai Abu Muhammad”, tegas orang tersebut. Ibnu ‘Uyainah rahimahullah lantas berkata,

مَنْ ذَهَبَ إِلىَ العِزِّ اُبْتُلِيَ بِالذُّلِّ وَمَنْ ذَهَبَ إِلَى الماَلِ اُبْتُلِيَ بِالفَقْرِ وَمَنْ ذَهَبَ إِلىَ الدِّيْنِ يَجْمَعُ اللهُ لَهُ العِزَّ وَالماَلَ مَعَ الدِّيْنِ

“Siapa yang menikah karena menginginkan kehormatan, maka (suatu saat) ia akan hina. Siapa yang menikah karena mencari harta, maka (suatu saat) ia akan miskin. Namun, siapa yang menikah karena faktor agamanya, maka Allah akan kumpulkan untuknya harta dan kehormatan di samping agamanya.”

Kemudian Ibnu ‘Uyainah rahimahullah mulai bercerita, “Kami adalah empat laki-laki bersaudara, Muhammad, Imran, Ibrahim, dan aku sendiri. Muhammad adalah kakak yang paling sulung sedangkan Imran adalah bungsu. Sedangkan aku adalah tengah-tengah. Ketika Muhammad hendak menikah, ia berorientasi pada kehormatan. Ia menikah dengan perempuan yang memiliki status sosial yang lebih tinggi daripada dirinya. Pada akhirnya, ia menjadi orang yang hina. Sedangkan Imran ketika menikah berorientasi pada harta. Karenanya ia menikah dengan perempuan yang hartanya lebih banyak dibandingkan dirinya. Ternyata, pada akhirnya ia menjadi orang miskin. Keluarga istrinya merebut semua harta yang ia miliki tanpa menyisakan untuknya sedikit pun. Maka aku penasaran, ingin menyelidiki sebab terjadinya dua hal ini.

Tak disangka suatu hari Ma’mar bin Rasyid datang. Aku lantas bermusyawarah dengannya. Kuceritakan kepadanya kasus yang dialami oleh kedua saudaraku. Ma’mar lantas menyampaikan hadits dari Yahya bin Ja’dah dan hadits Aisyah. Hadits dari Yahya bin Ja’dah adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta, dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi.” (HR. Bukhari dan Muslim). Sedangkan hadits dari Aisyah adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةٌ أَيْسَرُهُنَّ مُؤْنَةٌ

Perempuan yang paling besar berkahnya adalah yang paling ringan biaya pernikahannya.” (HR. Ahmad, 6:145, menurut Syaikh Syu’aib Al-Arnauth, sanad hadits ini dha’if). Aku sendiri memilih yang bagus agamanya dan memperingan biaya pernikahan karena mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhirnya, Allah mengumpulkan padaku kehormatan, harta, dan agama.” (Hilyah Al-Auliya’ wa Thabaqah Al-Ashfiya’, 7:289-290)

Sudah direnungkan kisah di atas?

Moga Anda mendapatkan pencerahan.

Diambil dari buku “Menanti Jodoh Impian”

Muhammad Abduh Tuasikal 

sumber: https://remajaislam.com/1841-pilih-yang-bagus-agamanya-pasti-engkau-tidak-akan-kecewa.html

Puasa Qadha atau Puasa Syawal, Mana yang Lebih Didahulukan Muslimah?

Puasa qadha atau puasa Syawal bagi muslimah yang Ramadhan tidak bisa puasa penuh karena haidh? Karena haidh di sini adalah uzur bagi wanita sehingga tidak bisa berpuasa penuh di bulan Ramadhan. Apakah sudah jadi keputusan akhir bagi muslimah tidak bisa lagi melakukan puasa Syawal?

Coba kita lihat dulu keutamaan puasa Syawal sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini.

Dari Abu Ayyub Al-Anshary radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Siapa yang melakukan puasa Ramadhan lantas ia ikutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka itu seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim, no. 1164)

Apakah sah mendahulukan puasa Syawal bagi orang yang tidak berpuasa pada bulan Ramadhan karena ada uzur seperti haidh dan semacamnya atau tanpa ada uzur?

  • Jika ada yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan tanpa ada uzur, haram baginya untuk puasa Syawal, qadha’ puasa diperintahkan untuk segera dilakukan, hendaknya ia tidak sibukkan dengan puasa yang lain.
  • Jika ada yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan karena ada uzur–seperti haidh, bersafar, sakit, dan semacamnya–, dan tetap berpuasa Syawal, maka ia mendapatkan pokok pahala puasa, tetapi ia tidak mendapatkan pahala puasa sempurna setahun penuh seperti yang disebutkan. Yang baiknya dilakukan adalah berpuasa Ramadhan sebelum melakukan puasa Syawal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang pahala puasa Syawal dengan kalimat, “Siapa yang berpuasa Ramadhan lalu diikutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal.
  • Jika wanita yang mengalami haidh di bulan Ramadhan tetap melakukan puasa Syawal dahulu sebelum qadha’ puasa, ia hanya mendapatkan pokok pahala puasa, tetapi tidak mendapatkan pahala puasa setahun penuh. Hal ini juga berlaku bagi yang punya uzur lainnya di bulan Ramadhan.

Al-‘Allamah Abu Zur’ah Al-‘Iraqi rahimahullah berkata,

يحصل أصل سنة الصوم وإن لم يحصل الثواب المذكور ؛ لترتبه في الخبر على صيام رمضان ، وإن أفطر رمضان تعديًا حَرُم عليه صومها

“(Bagi yang mendahulukan puasa Syawal dari qadha puasa), ia akan mendapatkan pahala pokok sunnah puasa walaupun tidak mendapatkan pahala sempurna setahun penuh. Karena hadits menyebutkan mesti mendahulukan puasa Ramadhan. Namun jika qadha’ puasa karena tidak berpuasa tanpa uzur, maka haram baginya berpuasa Syawal.”


Diselesaikan pada Malam Kamis, 5 Syawal 1441 H, 27 Mei 2020 @ Darush Sholihin

Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/24559-puasa-qadha-atau-puasa-syawal-mana-yang-lebih-didahulukan-muslimah.html

Puasa Syawal Digabung dengan Puasa Ayyamul Bidh

Apa hukum menggabungkan puasa Syawal dan puasa ayyamul bidh (13, 14, 15 Syawal atau setiap bulan Hijriyah)?

Keutamaan puasa Syawal disebutkan dalam hadits Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim, no. 1164)

Tentang keutamaan puasa ayyamul bidh disebutkan dalam hadits berikut.

Dari Ibnu Milhan Al-Qoisiy, dari ayahnya, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْمُرُنَا أَنْ نَصُومَ الْبِيضَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ . وَقَالَ « هُنَّ كَهَيْئَةِ الدَّهْرِ »

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah).” Dan beliau bersabda, “Puasa ayyamul bidh itu seperti puasa setahun.” (HR. Abu Daud, no. 2449; An-Nasa’i, no. 2434. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Kalau seseorang lakukan puasa Syawal yang tiga harinya satu niat dengan puasa ayyamul bidh, masih dibolehkan dan diharapkan ia bisa mendapatkan pahala puasa syawal dan puasa ayyamul bidh sekaligus. Demikian jawaban dari Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanya oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah.

Sedangkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menyebutkan bahwa jika seseorang sudah melakukan puasa Syawal, maka puasa ayyamul bidh-nya menjadi gugur, baik ia melakukan puasa Syawal tadi bertepatan dengan ayyamul bidh (13, 14, 15 Syawal) atau ia melakukan sebelum atau sesudah ayyamul bidh. Karena kalau sudah melakukan puasa Syawal sebanyak enam hari berarti sudah memenuhi anjuran puasa tiga hari setiap bulannya, bahkan sudah lebih dari tiga hari yang diperintahkan. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menganggap itu sama seperti orang yang melakukan tahiyatul masjid di mana shalat tersebut bisa gugur dengan melakukan shalat sunnah rawatib.

Atau maksud Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, shalat tahiyatul masjid sudah masuk dalam shalat sunnah rawatib. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Qatadah bin Rib’iy Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّىَ رَكْعَتَيْنِ

Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka janganlah duduk sampai ia melaksanakan shalat dua raka’at.” (HR. Bukhari, no. 1163; Muslim, no. 714). Shalat tahiyatul masjid ini bisa dipenuhi dengan dua raka’at shalat sunnah rawatib. Demikian maksud Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah.

Kesimpulannya, boleh saja menggabungkan puasa Syawal dengan puasa ayyamul bidh.

Lihat bahasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 4015.

Semoga manfaat. Wallahu waliyyut taufiq.

Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 12 Syawal 1437 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/13935-puasa-syawal-digabung-dengan-puasa-ayyamul-bidh.html

Godaan Iblis, Cara Melawan Bisikan Setan dengan Istighfar dan Iman

Godaan Iblis, Jalan Keluar dari Tipuan Abadi

Kadang kita capek sama diri sendiri. Salah, tobat, jatuh lagi. Seolah hidup ini nggak jauh dari siklus dosa. Tapi tahukah kamu? Justru di situlah godaan Iblis paling kuat bekerja, membuat kita merasa nggak layak kembali kepada Allah.

Apa Itu Godaan Iblis?

Sejak awal penciptaan, godaan Iblis sudah jadi ancaman nyata. Allah abadikan sumpah Iblis dalam Al-Qur’an:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

“Iblis berkata: Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan duduk menghadang mereka dari jalan-Mu yang lurus.” (QS. Al-A‘raf: 16)

Bahaya Godaan Iblis terhadap Hati

Masalahnya, kita sering menganggap remeh dosa kecil. Padahal setiap kali mengikuti godaan Iblis, satu titik hitam ditorehkan dalam hati. Kalau dibiarkan, titik itu menutupi hati sehingga sulit menerima kebaikan. Allah berfirman:

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)

Cara Membersihkan Hati dari Godaan Iblis

Bahaya godaan Iblis justru karena sering terselubung dalam hal-hal kecil: menunda shalat, lalai berdzikir, candu hiburan, atau menganggap remeh maksiat ringan. Rasulullah ﷺ mengingatkan:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ، فَإِنْ هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَتْ، فَإِنْ عَادَ زِيْدَ فِيهَا، حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللهُ تَعَالَى كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sesungguhnya apabila seorang hamba melakukan satu kesalahan, maka ditorehkan satu titik hitam di hatinya. Jika ia berhenti dan beristighfar, maka hatinya kembali bersih. Jika ia kembali berbuat dosa, maka ditambah titik hitam itu sampai menutupi hatinya. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu menutupi hati mereka.’”) (HR. Tirmidzi, no. 3334; hasan sahih)

Artinya, hati bisa berkarat karena dosa. Tapi Rasulullah ﷺ juga mengajarkan cara membersihkannya:

إِنَّ لِلْقُلُوبِ صَدَأً كَصَدَإِ النُّحَاسِ، وَجِلَاؤُهَا الِاسْتِغْفَارُ

“Sesungguhnya hati itu bisa berkarat sebagaimana tembaga berkarat, dan pembersihnya adalah istighfar.” (HR. Al-Baihaqi, Syu’abul Iman)

Bayangkan, Rasulullah ﷺ yang ma’shum—tidak pernah berbuat dosa—justru memperbanyak istighfar setiap harinya. Dalam riwayat disebutkan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah! Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim, no. 2702)

Kalau Nabi saja beristighfar ratusan kali, bagaimana dengan kita yang mudah sekali lengah terhadap godaan Iblis?

Tulisan ini relate dengan tema istighfar, baca yuk:

Strategi Praktis Melawan Godaan Iblis

Kalau Iblis bersumpah akan terus menggoda, maka kita harus bersumpah untuk terus melawan:

  1. Perbanyak istighfar. Minimal 70 kali sehari seperti yang dianjurkan Rasulullah ﷺ.
  2. Jangan remehkan dosa kecil. Karena pintu besar Iblis sering berawal dari celah kecil.
  3. Jaga orientasi hidup. Ingat bahwa dunia hanya tempat singgah.
  4. Bawa kesadaran kematian. Semua orang akan meninggalkan dunia hanya dengan kain kafan.

Jangan Takut pada Godaan Iblis, Lawan dengan Istighfar

Godaan Iblis itu nyata, tapi bukan alasan untuk menyerah. Allah sudah berjanji:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Seandainya kalian tidak pernah berdosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan kaum yang berdosa lalu mereka beristighfar kepada Allah, maka Allah pun mengampuni mereka.” (HR. Muslim, no. 2749)

Maka pilihan ada di tangan kita: ikut bisikan Iblis atau melawan dengan istighfar. Karena Allah tak pernah bosan mengampuni, selama kita tak bosan kembali.

Wallahul muwaffiq.


Ditulis oleh: Ahmad Anshori 

sumber: https://remajaislam.com/6194-godaan-iblis-cara-melawan-bisikan-setan-dengan-istighfar-dan-iman.html