Sebab-Sebab Anak Durhaka

Sebab-sebab anak durhaka

Banyak faktor yang menyebabkan anak melakukan kedurhakaan kepada orang tuanya, di antaranya:

1. Kebodohan

Kebodohan adalah penyakit yang mematikan, dan orang bodoh adalah musuh bagi dirinya sendiri. Apabila seseorang tidak mengetahui akibat dari kedurhakaan dan hasil yang diperoleh dari berbakti kepada kedua orang tua, baik secara langsung ataupun tidak langsung, maka hal itu akan membawa seseorang kepada kedurhakaan dan memalingkan dari berbakti.

2. Pendidikan buruk

Orang tua yang tidak mendidik anak-anaknya agar bertakwa, berbakti, menyambung silaturrahim, dan mencari kemuliaan, maka hal itu akan membawa mereka kepada sikap membangkang dan durhaka.

3. Adanya pertentangan

Kedua orang tua mengajarkan sesuatu kepada anak-anaknya, akan tetapi keduanya tidak mengamalkan apa yang telah mereka ajarkan, bahkan terkadang keduanya melakukan hal yang bertentangan dengan hal itu. Perkara ini akan memancing sang anak untuk melakukan pembangkangan dan kedurhakaan.

4. Memperlakukan anak-anak secara buruk

Perbuatan inilah yang akan merusak anak-anak dan menjadikan mereka berbuat durhaka. Begitu juga hal itu akan menjatuhkan martabat orang tua dan melemahkan pengaruh keduanya dalam mendidik anak.

5. Kedurhakaan orang tua kepada ibu-bapaknya

Hal ini merupakan salah satu sebab terjadinya kedurhakaan kepada orang tua. Apabila orang tua durhaka kepada ibu-bapaknya (kakek dan nenek sang anak –ed), niscaya keduanya akan dihukum dengan kedurhakaan anak-anak mereka kepadanya. Hal ini sering terjadi karena dua faktor:

Pertama: Karena anak-anak akan meniru orang tuanya dalam berbuat durhaka;

Kedua: Balasan diberikan sesuai dengan jenis amalannya.

6. Minimnya ketakwaan kepada Allah tatkala terjadi perceraian

Ada sebagian orang tua apabila mengalami perceraian, maka keduanya tidak bertakwa kepada Allah Ta’ala, sehingga perceraian antara keduanya pun terjadi dengan cara tidak baik.

Akan tetapi, yang Anda temui, bahwa masing-masing dari keduanya (bapak-ibu, -ed) akan menjelek-jelekan satu sama lain di hadapan anak-anaknya. Jika anak-anak pergi menemui sang ibu, maka sang ibu akan menyebutkan keburukan ayahnya, lalu mulailah dia mengajak untuk membenci dan menjauhi ayahnya. Begitu juga jika sang anak-anak pergi menemui sang ayah, maka sang ayah akan berbuat sebagaimana apa yang diperbuat ibunya.

Akibatnya, anak-anak akan durhaka kepada kedua orang tuanya. Penyebabnya adalah kedua orang tua itu sendiri, sebagaimana apa yang dikatakan oleh Abu Dzuab Al-Hadzli,

Janganlah engkau marah terhadap suatu perbuatan yang engkau juga ikut melakukannya,

Sesungguhnya orang yang layak mendapatkan keridhaan adalah orang yang mengamalkan sunnah.

***

Artikel Muslimah.or.id

Diketik ulang dari buku “Relakah Anakmu Durhaka?” karya Hamad Hasan dan Muhammad bin Ibrahim.

Sumber: https://muslimah.or.id/9026-sebab-anak-durhaka.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Memiliki Sikap Tenang dan Rendah Hati

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا

“Dan hamba-hamba Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapanya, mereka hanya membalasnya dengan mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)

Termasuk sifat ‘ibadur-rahman (hamba-hamba Ar-Rahman) dan keindahaan akhlak mereka adalah ketawadukan mereka kepada Allah Jalla Jalaluh dan hamba-hamba Allah. Mereka senantiasa berjalan dengan rendah hati, penuh ketenangan dan kewibawaan. Ketawadukan yang tampak dari cara mereka berjalan dan selalu menjaga penampilan adalah buah dari keimanan dan pengaruh yang timbul darinya.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan terkait ayat ini, “Yang dimaksud ( ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا ) “Orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” adalah disertai ketaatan, memaafkan, dan ketawadukan (rendah hati).” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 491)

Di antara bentuk sikap tawaduk dan tenang, jika mereka dihalangi oleh orang bodoh dan buruk akhlaknya di perjalanan, maka mereka hanya membalasnya dengan perkataan yang baik, jauh dari sikap bodoh dan gegabah. Inilah makna firman Allah ‘Azza wa Jalla ( وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ) “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan”, yaitu, ucapan yang menyelamatkan mereka dari dosa dan hal-hal yang sia-sia.

Dengan begitu, sejatinya mereka telah menjaga diri mereka dari dua macam ketergelinciran: tergelincirnya kaki (perbuatan) dan tergelincirnya lidah (ucapan).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Ketergelinciran itu ada dua macam, yaitu tergelincirnya kaki dan lisan, sehingga dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keduanya secara berdampingan,

وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا

Allah menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang lurus (baik) dalam setiap ucapan maupun langkahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hal. 376)

Mereka pun tidak membalas orang-orang bodoh dengan kebodohan serupa. Sebaliknya, mereka justru berpaling dan menghindari interaksi dengan mereka. Jika pun harus membalas, mereka memilih perkataan yang jauh dari celaan dan keburukan. Mereka menolak keburukan dengan kebaikan. Ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ 

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fussilat: 34-35)

Manusia memiliki tingkatan yang relatif berbeda-beda dalam masalah akhlak dan interaksinya dengan orang lain. Seorang muslim dituntut untuk selalu memperindah akhlaknya, menjaga agamanya dengan baik, serta menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan tentang hamba-hamba Ar-Rahman dalam ayat sebelumnya, yakni membalas keburukan dengan kebaikan serta bersikap tawaduk (rendah hati) kepada siapapun, bagaimanapun akhlak mereka.

Sebelum itu, sepatutnya seseorang supaya memohon pertolongan kepada Allah dalam semua urusannya. Ia hendaknya berdoa agar Allah memberinya akhlak yang baik, serta menjauhkan darinya akhlak yang buruk. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau senantiasa berdoa dalam doa istiftah,

ٱهْدِنِي لِأَحْسَنِ ٱلْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَٱصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, tunjukanlah kepadaku akhlak yang baik, karena tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku kecuali Engkau.” (HR. Muslim no. 771)

Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada umatnya ketika hendak keluar rumah untuk berdoa,

اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak tergelincir atau digelincirkan, agar aku tidak tersesat atau disesatkan, agar aku tidak menzalimi atau dizalimi, agar aku tidak melakukan kebodohan atau diperlakukan bodoh oleh orang lain.” (HR. Abu Dawud no. 5094, At-Tirmidzi no. 3477, An-Nasa’i no. 5486. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4709)

Dan di dalam doa yang penuh dengan keberkahan ini, bisa menjadi pelindung bagi seorang hamba agar tidak melakukan kebodohan terhadap orang lain, dan agar ia pun selamat dari kebodohan yang dilakukan orang lain terhadapnya.

***

Penerjemah: Chrisna Tri Hartadi

Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:

Diterjemahkan dari kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 7-10.

Sumber: https://muslim.or.id/108223-sifat-ibadurrahman-bag-1.html
Copyright © 2025 muslim.or.id

Suami Harus Sabar Menghadapi Istri

Bukan hanya istri yang mesti sabar menghadapi suami, suami pun mesti sabar menghadapi istri karena bisa jadi didapati pada istri ada kekurangan dari segi agama, akhlak, kata-kata, dan lainnya.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا ۖ وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisaa’: 19)

Ibnul Arabi menyebutkan bahwa telah menceritakan kepadanya Abul Qasim bin Abu Hubaib, dari Abul Qasim As-Suyuri, dari Abu Bakar bin ‘Abdurrahman, tentang Syaikh Abu Muhammad bin Abu Zaid Al-Qairawani yang sangat terkenal dengan ilmu dan agamanya, di mana Abu Bakar bercerita,

وَكَانَتْ لَهُ زَوْجَةٌ سَيِّئَةُ الْعِشْرَةِ ، وَكَانَتْ تُقَصِّرُ فِي حُقُوقِهِ ، وَتُؤْذِيهِ بِلِسَانِهَا فَيُقَالُ لَهُ فِي أَمْرِهَا فَيَسْدُلُ بِالصَّبْرِ عَلَيْهَا

“Istri Syaikh Abu Muhammad Al-Qairawani diketahui berperangai buruk, tidak menjalankan kewajibannya sebagai istri, dan selalu menyakiti suaminya dengan lidahnya. Orang-orang banyak yang heran dan mencela sikap sabar dari Syaikh Abu Muhammad terhadap sang istri.”

Syaikh Abu Muhammad berkata,

أَنَا رَجُلٌ قَدْ أَكْمَلَ اللَّهُ عَلَيَّ النِّعْمَةَ فِي صِحَّةِ بَدَنِي وَمَعْرِفَتِي ، وَمَا مَلَكَتْ يَمِينِي ، فَلَعَلَّهَا بُعِثَتْ عُقُوبَةً عَلَى دِينِي ، فَأَخَاف إذَا فَارَقْتُهَا أَنْ تَنْزِلَ بِي عُقُوبَةٌ هِيَ أَشَدُّ مِنْهَا .

“Aku adalah orang yang telah diberikan oleh Allah berbagai macam nikmat berupa kesehatan badan, ilmu, dan dikaruniakan kepadaku budak-budak. Mungkin sikap jelek istriku adalah hukuman Allah atas kekurangan agamaku. Aku hanya takut jika ia kuceraikan akan turun ujian kepadaku lebih berat dari itu.” (Ahkam Al-Qur’an, 1:487)

Dari penjelasan Syaikh Ibnu Abu Zaid menunjukkan bahwa kadang cobaan suami itu pada istrinya adalah karena kekurangan agama atau memang cobaan untuknya, moga dapat menghapus dosa-dosa.

Ibnul ‘Arabi rahimahullah berkata mengenai firman Allah,

فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisaa’: 19)

Maksud ayat ini adalah, “Jika seseorang mendapati pada istrinya hal yang tidak ia sukai dan ia benci, selama ia tidak melakukan perbuatan fahisyah (zina) dan nusyuz (pembangkangan), bersabarlah terhadap gangguannya dan sedikitlah berbuat adil karena bisa jadi seperti itu lebih baik baginya.” (Ahkam Al-Qur’an, 1:487)

Yang jelas kalau melihat kekurangan pada akhlak istri, maka lihatlah dari sisi lain, pasti ada yang bisa menutupi kekurangan tadi.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِىَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika si pria tidak menyukai suatu akhlak pada si wanita, hendaklah ia melihat sisi lain yang ia ridai.” (HR. Muslim, no. 1469)

Yang dimaksud dengan hadits di atas adalah jika mendapati pada istri suatu kekurangan, janganlah membencinya secara total. Walaupun akhlaknya ada yang jelek, di sisi lain ia memiliki agama yang bagus, ia cantik, ia ‘afifah (menjaga diri dari zina), atau ia adalah kekasih yang baik. Demikian kata Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim, 10:56.

Yang jelas seorang suami bisa saja mendapati ujian dari istrinya sendiri, bahkan dari kata-kata istrinya yang pedas.

Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam Ihya’ Ulum Ad-Diin berkata,

الصَّبْرُ عَلَى لِسَانِ النِّسَاءِ مِمَّا يُمْتَحَنُ بِهِ الأَوْلِيَاءُ

“Bersabar dari kata-kata (menyakitkan) yang keluar dari mulut para istri adalah salah satu cobaan para wali.” (Ihya’ Ulum Ad-Diin, 2:38)

Semoga Allah beri taufik kepada para suami untuk banyak bersabar dan sebagai pemimpin bisa memegang kendali rumah tangga dengan baik. Tugas kita sebagai pemimpin di rumah, moga bisa mengantarkan istri dan anak menuju surga Allah, Ya Allah kabulkanlah.

Referensi:

  1. Ahkam Al-Qur’an. Cetakan Tahun 1432 H. Abu Bakar Muhammad bin ‘Abdullah (Ibnul ‘Arabi). Penerbit Darul Hadits.
  2. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm.
  3. Ihya’ Ulum Ad-Diin. Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Abu Hamid. Penerbit Darul Ma’rifah. (Asy-Syamilah)

—

Diselesaikan pada Selasa siang, 13 Jumadal Akhirah 1442 H, 26 Januari 2021 di Perpustakaan Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/26704-suami-harus-sabar-menghadapi-istri.html

Bahaya Pornografi bagi Seorang Muslim

Saat ini, tidak ada yang lebih mudah diakses daripada konten yang merusak jiwa. Satu klik, satu tautan, atau bahkan satu bisikan dari teman sebaya bisa membawa seorang anak kecil masuk ke dalam dunia kelam yang bernama pornografi. Namun, banyak dari kita masih menganggap hal ini sebagai masalah sepele, atau hanya masalah “anak-anak muda”. Padahal, inilah bom waktu yang menghancurkan dari dalam, perlahan namun pasti.

Sebuah kenyataan yang mengerikan kini terungkap: anak-anak semuda 8–9 tahun sudah mulai terpapar konten pornografi. Dan yang lebih tragis, banyak dari mereka bahkan tidak mencarinya secara sengaja. Mereka melihatnya dari teman sekolah, dari perangkat yang ditinggal terbuka, atau bahkan dari orang-orang dewasa di sekitar mereka. Dari titik inilah, banyak kehidupan mulai berubah arah—menuju jurang kenistaan yang sulit dipanjat kembali.

Apakah ini hanya soal “syahwat” yang lepas kendali? Ataukah ini adalah sebuah perang ideologis yang membidik generasi Muslim dari akar keimanan mereka? Mengapa pengaruh pornografi bisa begitu besar hingga mengubah cara pandang seorang laki-laki terhadap perempuan, terhadap pernikahan, bahkan terhadap makna tanggung jawab hidup itu sendiri?

Pandangan pertama, awal petaka

Tidak semua yang memulai menonton pornografi adalah orang yang “niat”. Banyak dari mereka hanya korban—korban dari sistem yang lalai dan lingkungan yang permisif. Namun, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَلَا تَقۡرَبُوا الزِّنٰٓى اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً  ؕ وَسَآءَ سَبِيۡلًا‏

“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)

Larangan yang datang bukan hanya pada perbuatannya, tetapi pada semua jalan yang mengarah ke sana. Dan layar smartphone hari ini telah menjadi jalan tol menuju kemaksiatan, bahkan sebelum seseorang balig.

Seorang anak kecil mungkin hanya membuka tautan yang diberikan teman. Namun dalam waktu singkat, ia bisa terjerat dalam kebiasaan yang membentuk ulang pikirannya. Dopamin—zat kimia di otak yang memberi rasa senang—dilepaskan dalam kadar berlebih saat melihat konten pornografi. Sebuah kenikmatan palsu yang membuat otak ingin mengulanginya terus-menerus, bahkan jika harus merusak harga dirinya.

Dari sinilah muncul kecanduan. Apa yang dulu cukup dengan satu video, lama-lama menjadi tidak memuaskan. Mereka mencari konten yang lebih ekstrem, lebih vulgar, lebih menyimpang. Ini bukan lagi soal “penasaran”, tapi tentang sistem yang memaksa tubuh dan jiwa untuk menuruti hawa nafsu tanpa batas. Sama seperti narkoba: sekali masuk, sulit untuk keluar; dan saat sadar, semuanya telah berubah.

Di sinilah peran lingkungan sangat menentukan. Orang tua, guru, bahkan teman sebaya bisa menjadi penyebab atau penyelamat. Seorang anak yang sejak kecil tak diajarkan rasa malu, tak dikenalkan dengan pengawasan Allah, dan tak diberi proteksi dari paparan dunia digital, akan lebih mudah terperosok ke dalam lubang dosa yang dalam ini. Dan sayangnya, banyak yang tidak pernah kembali.

Rusaknya pandangan, lumpuhnya tujuan hidup

Rasulullah ﷺ bersabda,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

”Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan (yang diharamkan). Zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa berzina, dan zinanya adalah memegang (yang diharamkan). Kaki bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah (ke tempat yang haram). Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657. Lafaz hadis di atas milik Muslim)

Dampak dari pornografi merasuk ke dalam cara seseorang memandang lawan jenis, mengubah wanita menjadi sekadar objek dan mengubah pernikahan menjadi ladang penyaluran nafsu semata. Bagaimana mungkin seorang laki-laki bisa membangun rumah tangga yang sakinah jika sejak awal ia terbiasa dengan “pasangan” digital yang tidak pernah menuntut, tidak pernah marah, dan selalu sempurna?

Pornografi menciptakan fantasi. Fantasi itu kemudian menjadi standar. Ketika kenyataan tidak seindah fantasi, timbul ketidakpuasan. Akhirnya, wanita halal yang dinikahi dengan mahar dan doa pun terasa hambar. Ia dibandingkan dengan bayangan maya, yang bahkan tak pernah hidup.

Lebih jauh lagi, para pecandu pornografi cenderung menjadi pribadi yang pasif, tidak memiliki ambisi hidup, dan kehilangan rasa tanggung jawab. Mereka lebih nyaman menghindari realitas dan tenggelam dalam dunia maya yang memberinya pelarian instan. Maka jangan heran jika banyak pemuda Muslim hari ini terlihat lulus kuliah, punya gelar, tapi tak mampu memimpin, tak bisa membangun komunikasi yang sehat, bahkan tak sanggup memikul amanah keluarga.

Padahal Islam mengajarkan kita untuk menjadi qawwam, pemimpin dalam rumah dan masyarakat. Laki-laki yang seharusnya melindungi, justru menjadi beban. Laki-laki yang seharusnya menjaga kehormatan, justru menjadi pelanggar kehormatan itu sendiri. Dan semuanya bermula dari satu hal yang tampak remeh: pandangan mata yang tak dijaga.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)

Islam memberi jalan kembali

Kabar baiknya, Islam tidak membiarkan umatnya tenggelam tanpa arah. Islam memberikan solusi, bukan hanya larangan. Rasulullah ﷺ bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai sekalian pemuda, siapa saja di antara kalian yang telah memiliki kemampuan, maka hendaklah dia menikah. Karena menikah itu dapat menundukkan pandangan, dan juga lebih bisa menjaga kemaluan. Namun, siapa saja yang belum mampu, hendaklah dia berpuasa, sebab hal itu dapat meredakan nafsunya.” (HR. Bukhari no. 1905, 5065, 5066, dan Muslim no. 1905, dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

Pernikahan adalah solusi, bukan beban. Sebuah jalan halal untuk menyalurkan fitrah, bukan penjara yang membatasi kebebasan.

Namun, pernikahan bukan satu-satunya solusi. Inti dari semuanya adalah kesadaran bahwa hidup ini punya tujuan. Bahwa setiap detik akan dimintai pertanggungjawaban. Bahwa setiap pandangan, setiap klik, akan disaksikan oleh Allah Ta’ala. Hal inilah yang membuat seorang Muslim berhenti dari maksiat, bukan karena takut reputasi hancur, tapi karena takut kepada Rabb-nya yang Maha Mengetahui. Di antaranya adalah dengan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih)

Bimbingan agama harus menjadi fondasi utama dalam upaya keluar dari jeratan pornografi. Tanpa keyakinan akan hari kebangkitan, maka semua larangan akan terasa sewenang-wenang. Tapi ketika kita yakin bahwa setiap amal akan dibalas, maka menjaga diri dari dosa menjadi bagian dari persiapan menuju akhirat. Tanpa iman, semua nasihat hanya terdengar seperti moralitas kosong.

Jangan menunda tobat. Jangan menunggu “siap”. Karena kecanduan ini akan terus mencengkeram jika tidak diputus dengan tekad kuat dan pertolongan Allah Ta’ala. Ganti layar dengan mushaf. Ganti waktu sepi dengan sujud di malam hari. Ganti fantasi dengan realita indah dalam pernikahan yang diridai. Insya Allah, siapa pun yang ingin berubah, pasti Allah Ta’ala akan beri jalan.

Generasi yang terancam

Saudaraku, kita sedang menghadapi ujian besar dalam sejarah umat ini. Pornografi bukan hanya ancaman bagi individu, tapi bagi keberlangsungan generasi Muslim. Jika laki-laki kehilangan izzah-nya, kehilangan kemampuannya untuk menjaga diri, lalu siapa yang akan menjadi imam di rumah dan pemimpin di masyarakat? Jika wanita hanya dilihat sebagai objek, bagaimana mungkin mereka bisa dimuliakan sebagaimana perintah Allah?

Mari kita sadari, bahwa pornografi ini adalah musibah nyata yang menggerogoti akhlak, menghancurkan cita-cita, dan membunuh produktivitas. Kita tak bisa terus menutup mata. Kita harus mulai bicara, mulai mendidik, mulai menanamkan kesadaran sejak dini. Dan yang terpenting, kita harus mulai dari diri sendiri.

Jika Anda membaca tulisan ini dan merasa bahwa Anda termasuk yang sedang terjerat, ketahuilah: tidak ada kata terlambat untuk kembali. Malu kepada manusia tidak akan menyelamatkan kita, tetapi malu kepada Allah akan memuliakan kita. Mari kita bangun kembali benteng kehormatan ini—dengan ilmu, dengan iman, dan dengan komunitas yang saling menguatkan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ ، قَالَ قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى ، وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى ، وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ

“Hendaklah kalian malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sifat malu yang sebenarnya.” Perawi mengatakan, “Kami menjawab, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami malu (walhamdulillah).’” Rasulullah bersabda, “Bukan seperti itu. Tetapi malu kepada Allah dengan sebenarnya adalah hendaklah dia menjaga kepala dan apa yang ada di dalamnya, hendaklah dia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah dia selalu ingat kematian dan busuknya jasad. Barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat, hendaklah dia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian, maka sungguh dia telah malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sifat malu yang sebenarnya.” (HR. Tirmidzi, hasan)

Semoga Allah menjaga kita, anak-anak kita, dan generasi umat ini dari fitnah yang merusak, serta menjadikan kita pemuda-pemudi yang menjaga pandangan, memuliakan pernikahan, dan mengemban amanah sebagai khalifah di bumi-Nya. Aamiin.

Wallahu Ta’ala a’lam.

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Sumber: https://muslim.or.id/108343-bahaya-pornografi-bagi-seorang-muslim.html
Copyright © 2025 muslim.or.id

Jangan Hanya Bisa Melarang dan Menyuruh Saja

Kita selaku ayah dan ibu sudah sepantasnya memberikan keteladanan dalam kebaikan kepada anak-anak kita. Demikian pula telah diuraikan dampak psikis pemberian teladan dan motivasi kepada anak, sehingga sang anak akan meniru (mencontoh) kebaikan dari kedua orang tuanya. Dengan harapan, sang anak kelak dapat kontinyu melakukan kebaikan tersebut, bahkan setelah kedua orang tuanya tiada.

Oleh karena itu, sebagai orang tua hendaklah kita jangan hanya mampu untuk melarang suatu perbuatan buruk, namun kita sendiri malah melakukannya.

Sebuah aib bagi kita, bahkan aib yang sangat besar, ketika kita melarang anak kita dari akhlak yang buruk, namun kita sendiri yang justru melakukannya.

Sebuah aib bagi kita, melarang mereka dari ucapan dusta, namun kita malah berdusta di hadapan mereka. Ketika seseorang datang ke rumah kita, orang tersebut (sang tamu) bertanya tentang keberadaan kita, namun kita malah menyuruh anak kita untuk mengatakan, ”Bilang saja bahwa ayah atau ibu tidak ada.” Bagaimana kita akan mengajarkan mereka tentang wajibnya memenuhi (menepati) janji, padahal kita sendiri menyelisihi janji di hadapan mereka?

Bagaimana mungkin kita melarang anak dari berteriak-teriak (bersuara keras) di rumah dan mengajarkan kepadanya tentang firman Allah Ta’ala,

وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

“Dan lirihkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman [31]: 19)

Namun kita malah meninggikan suara dengan cacian dan makian di rumah kita. Kita justru menghardik istri dan anak-anak kita.

Bagaimana mungkin kita melarang anak untuk tidak merokok, atau melihat yang haram, padahal kita sendiri merokok dan mata kita sering jelalatan ke mana-mana? Jika kita mengatakan kepadanya,“Jangan merokok!” Maka dia pun akan bertanya, “Mengapa tidak boleh merokok??” Karena sang anak tentu tidak merasa bersalah. Lantas apa yang dapat kita jawab kepadanya, karena kita sendiri juga menghisap rokok?

Sungguh Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ 

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash–Shaf [61]: 2-3)

Nabi Syu’aib ‘alaihissalam pernah mengatakan,

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan.” (QS. Huud [11]: 88)

Berikut ini hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkaitan dengan pembahasan ini,

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُلْقى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ، فَيَقُولُونَ: أَيْ فُلاَنُ مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ، وَتَنْهى عَنِ الْمُنْكَرِ قَالَ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ، وَأَنْهَاكمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ

“Didatangkan seorang pria pada hari kiamat. Kemudian dia dilempar ke neraka. Ususnya keluar dan dia memutari ususnya bagaikan seekor keledai yang berputar-putar menarik alat giling gandum. Penduduk neraka pun berkeliling mengelilinginya dan mengatakan, “Wahai fulan, apa yang terjadi denganmu? Bukankah dahulu Engkau adalah orang yang memerintahkan kami melaksanakan yang ma’ruf dan melarang kami dari hal yang mungkar?” Kemudian dia menjawab, “Dahulu aku memang memerintahkan kalian pada yang ma’ruf (kebaikan), tetapi aku sendiri tidak melaksanakannya. Demikian juga, aku melarang kalian dari yang mungkar (keburukan), namun aku malah mengerjakannya.” (HR. Bukhari no. 3267)

Marilah kita berusaha sekuat tenaga untuk mengamalkan apa yang hendak kita ajarkan kepada anak-anak kita ...

***

Disempurnakan menjelang isya, Rotterdam, 13 Shafar 1438

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

Sumber: https://muslimah.or.id/9164-parenting-islami-bag-8.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Biarlah Allah yang Menyelesaikan Masalahmu dengan Cara-Nya

“Biarlah Allah yang menolong dan menyelesaikan masalahmu dengan cara-Nya”, sebuah kaidah kehidupan yang diambil dari firman Allah di surah Al-A’raf ayat 137,

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُواْ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُواْ يَعْرِشُونَ

“Dan telah sempurnalah perkataan (keputusan) Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS. Al-A’raf: 137)

Ayat ini menjelaskan bahwa pada akhirnya, Allah menurunkan pertolongan kepada Bani Israil setelah ratusan tahun mereka ditindas oleh Fir’aun. Kapan pertolongan itu datang? Ketika mereka bersabar, baru Allah turunkan pertolongan-Nya sehingga mereka pun terbebas dari penindasan Fir’aun. Dengan kata lain, bersabar adalah sebab pertolongan Allah, dengan cara Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebelumnya, Fir’aun menindas Bani Israil selama ratusan tahun. Selama itu pula Allah tidak memberikan keselamatan kepada Bani Israil, karena mereka tidak sabar. Sampai akhirnya Allah utus Nabi Musa ‘alaihis salam untuk mengajarkan kesabaran kepada mereka,

قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللّهِ وَاصْبِرُواْ

“Musa berkata kepada kaumnya, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah … “ (QS. Al-A’raf: 128)

Ketika mereka bersabar, Allah pun memberikan solusi dengan cara Allah Ta’ala. Oleh karena itu, kita akan membahas terlebih dahulu makna (hakikat) dan adab sabar.

Makna dan hakikat sabar

Secara bahasa, sabar bermakna “menahan”. Secara istilah, maknanya adalah menahan diri dari hal-hal yang menunjukkan protes atas keputusan (takdir) Allah. Di antaranya dengan menahan lisan, hati, dan anggota badan yang lain. Jangan sampai hati ini benci, protes, marah kepada Allah atas takdir-Nya. Atau merasa Allah tidak adil dan zalim terhadap dirinya, atau merasa bahwa Allah telah salah dalam keputusannya, juga merasa Allah tidak sayang kepada dirinya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا

“Dan kamu berprasangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka.” (QS. Al-Ahzab: 10)

Yaitu, ada yang berprasangka baik, dan ada pula yang berprasangka buruk.

Dalam ayat yang lain Allah berfirman,

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ

“Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah.” (QS. Al-Fath: 6)

يَظُنُّونَ بِاللّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ

” … mereka menyangka terhadap Allah dengan sangkaan yang tidak benar, sangkaan jahiliah … ” (QS. Ali ‘Imran: 154)

Orang yang tertimpa musibah, hendaknya dia menyabarkan hatinya agar tidak berprasangka buruk kepada Allah. Dia tahan hatinya agar tidak protes kepada Allah, mengapa Allah begini dan begitu, mengapa Allah turunkan musibah bertubi-tubi tanpa henti, mengapa Allah tidak segera menolongnya, dan berbagai prasangka buruk yang lainnya.

Dia pun menahan lisan dari kata-kata yang menunjukkan protes. Oleh karena itulah, salah satu dosa besar adalah niyahah (meratapi mayit), yaitu teriak-teriak protes kepada Allah, mengapa Engkau ambil anakku (misalnya), dan seterusnya. Sedih dan menangis itu boleh, namun ketika berubah menjadi protes dalam bentuk niyahah, maka itu menjadi dosa besar.

Demikian pula menahan anggota tubuh dari perbuatan yang menunjukkan sikap protes atas takdir Allah, misalnya dengan memukulkan tangan ke pipi, atau membentur-benturkan kepala, menjambak rambut, dan sebagainya. Ini semua adalah bentuk protes terhadap takdir dan keputusan Allah. [1]

Agar bisa bertahan dalam kesabaran

Banyak sebab yang bisa membuat kita bertahan dalam kesadaran. Di antaranya dengan meyakini bahwa Allah memiliki hikmah di balik semua musibah yang menimpa kita. Terkadang, Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba dalam bentuk musibah. Musibah itu adalah cara Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba. Contohnya adalah Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Nabi Yusuf dibawa pergi oleh kakak-kakaknya, dilemparkan ke dalam sumur, lalu dijual menjadi budak, dipisahkan dari ayah yang sangat dia cintai, lalu musibah dipenjara. Beliau mengalami musibah bertubi-tubi itu sebelum akhirnya menjadi bangsawan.

Terkadang Allah memberikan nikmat berupa ditimpakan musibah yang kecil (ringan) agar terhindar dari musibah yang jauh lebih berat. Misalnya, orang yang ketinggalan pesawat, namun ternyata pesawat itu kemudian mengalami kecelakaan. Dia tertimpa musibah kecil (yaitu hilangnya uang untuk beli tiket), namun dia terhindar dari musibah yang jauh lebih besar.

Contoh lainnya, dengan musibah, Allah selamatkan dia dari penyakit hati berupa ujub, sombong, dan lupa diri. Bayangkan jika ada orang yang tidak pernah gagal, maka bisa jadi dia tertimpa penyakit hati tersebut. Namun ketika sesekali dia gagal, dia pun ingat kepada Allah dan kembali mendekat kepada-Nya. Selain itu, musibah adalah cara Allah menggugurkan dosa-dosa kita, ketika istigfar dan tobat kita yang tentu tidak sempurna dan banyak kekurangan.

Adab dalam bersabar

Ada dua adab dalam bersabar:

Adab pertama: ikhlas karena Allah

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ صَبَرُواْ ابْتِغَاء وَجْهِ رَبِّهِمْ

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari wajah Tuhannya … “ (QS. Ar-Ra’du: 22)

Jadi, tidak perlu menyampaikan dan mengumumkan kepada orang lain bahwa dia bersabar. Karena dia bersabar bukan untuk dipuji.

Allah Ta’ala berfirman memuji kaum Muhajirin,

لِلْفُقَرَاء الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8)

Adab kedua: meyakini bahwa tidak ada yang bisa membuatnya bersabar kecuali Allah saja

Allah Ta’ala berfirman,

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلاَّ بِاللّهِ

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)

Maka janganlah pede dengan diri kita sendiri. Mohonlah kepada Allah agar Allah memberikan kita kesabaran. Ketika ada masalah di depan kita, kita memohon kepada Allah agar diberikan kesabaran.

Oleh karena itulah, ketika terkena musibah, kita ucapkan,

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami kembali.”

Di antaranya kita juga ucapkan,

ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Segala puji bagi Allah atas semua keadaan.”

Biarlah Allah yang menolongmu dengan cara-Nya

Setiap ada masalah, tentu kita berusaha mencari solusi sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia, bukan hanya berpangku tangan. Namun, kita tidak dibebani untuk menyelesaikan semua masalah yang kita hadapi. Yang Allah perintahkan dan wajibkan kepada kita adalah untuk bersabar. Kita berbaik sangka kepada Allah, serta tidak tergesa-gesa dan terburu-buru mengharap solusi dan pertolongan Allah dalam waktu singkat.

Sabar dan berusaha adalah sebab mendapatkan solusi dan jalan keluar dari Allah Ta’ala. Inilah di antara salah satu keutamaan sabar sebagaimana dalam surah Al-A’raf ayat 137 yang telah disebutkan di atas. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Berdasarkan ayat di atas, sabar adalah solusi terbaik. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

أَن يَعْلَمَ أَنَّهُ إِنْ صَبَرَ فَاللَّهُ نَاصِرُهُ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ اللَّهَ وَكِيلُ مَن صَبَرَ وَأَحَالَ ظَالِمَهُ عَلَيْهِ، وَمَن ٱنتَصَرَ بِنَفْسِهِ لِنَفْسِهِ وَكَّلَهُ اللَّهُ إِلَىٰ نَفْسِهِ فَكَانَ هُوَ ٱلنَّاصِرَ لَهَا، فَأَيْنَ مَنْ نَاصَرَهُ اللَّهُ خَيْرُ ٱلنَّاصِرِينَ، إِلَىٰ مَنْ نَاصَرَهُ نَفْسُهُ أَعْجَزُ ٱلنَّاصِرِينَ وَأَضْعَفُهُ

“Hendaklah dia mengetahui bahwa jika dia bersabar, maka Allah pasti akan menolongnya. Sesungguhnya Allah adalah Pelindung orang yang bersabar, dan Dia akan membalikkan keadaan orang yang zalim atas dirinya sendiri. Barang siapa yang menolong dirinya sendiri, maka Allah menyerahkan urusannya kepada dirinya, sehingga dialah yang menolong dirinya sendiri. Maka, di manakah orang yang ditolong Allah -sedangkan Dia adalah sebaik-baik penolong-, dibandingkan dengan orang yang hanya ditolong oleh dirinya sendiri, yang justru merupakan penolong yang paling lemah dan paling tidak berdaya?” (Qa’idah fi Ash-Shabr, 1: 101)

Oleh karena itu, ketika sedang mendapatkan masalah dan musibah, kita tetap berusaha sebatas kemampuan kita sebagai manusia, namun jangan hilangkan kesabaran dari diri kita. Kita bersabar, terus meminta kepada Allah, dan yakinlah bahwa Allah yang akan mengurus dan menyelesaikan masalah-masalah kita dengan cara Allah sendiri.

Ketika menjelaskan surah Al-A’raf ayat 137 di atas, Al-Alusi rahimahullah menyebutkan atsar dari Hasan Al-Bashri rahimahullah,

لَوْ أَنَّ ٱلنَّاسَ إِذَا ٱبْتُلُوا۟ مِن قَبْلِ سُلْطَٰنِهِم بِشَىْءٍ صَبَرُوا۟ وَدَعَوُا۟ ٱللَّهَ تَعَالَىٰ لَمْ يَلَبَثُوا۟ أَنْ يَرْفَعَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ ذَٰلِكَ عَنْهُمْ وَلَٰكِنَّهُمْ يَفْزَعُونَ إِلَى ٱلسَّيْفِ فَيُوَكِّلُونَ إِلَيْهِ ثُمَّ تَلَا هَٰذِهِ ٱلْآيَةَ

“Seandainya manusia apabila diuji oleh penguasa mereka dengan suatu perkara (yaitu penguasa yang zalim), mereka bersabar dan memohon pertolongan kepada Allah Yang Maha Tinggi, niscaya tidak lama kemudian Allah Yang Maha Tinggi akan mengangkat perkara (kezaliman) itu dari mereka. Namun, mereka justru tergesa-gesa (tidak sabar) dan lari kepada pedang (yaitu melakukan pemberontakan), lalu menyerahkan urusan kepada pedang itu.” Kemudian beliau membaca ayat ini. (Tafsir Al-Alusi: Ruuhul Ma’ani, 5: 38)

Al-Alusi rahimahullah berkata,

قَدْ شَاهَدْنَا ٱلنَّاسَ سَنَةَ ٱلْأَلْفِ وَٱلْمِائَتَيْنِ وَٱلثَّمَٰنِينَ وَٱلْأَرْبَعِينَ قَدْ فَزَعُوا۟ إِلَى ٱلسَّيْفِ فَمَا أَغْنَاهُمْ شَيْئًا وَلَا تَمَّ لَهُمْ مَرَادٌ وَلَا حَمِدَ مِنْهُمْ

“Sesungguhnya kami telah menyaksikan manusia pada tahun seribu dua ratus empat puluh (1248 H) yang tergesa-gesa (tidak sabar) dan lari kepada pedang (melakukan pemberontakan), namun itu tidak memberikan manfaat apa pun bagi mereka, tujuan mereka pun tidak tercapai … ” (Tafsir Al-Alusi: Ruuhul Ma’ani, 5: 38)

Sekali lagi, bersabarlah dan tunggulah pertolongan-Nya dengan tetap berusaha semaksimal kemapuan kita sebagai manusia. Biarlah Allah yang menyelesaikan dengan cara-Nya … [2]

***

Unayzah, KSA; Selasa, 18 Safar 1447/ 12 Agustus 2025

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Sabar menghadapi musibah adalah salah satu bentuk sabar. Bentuk sabar yang lain adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan dan sabar dalam menahan diri dari berbuat maksiat.

[2] Disarikan dari kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA., berjudul: “Kaidah Kehidupan Dalam Al-Quran #38: Biar Allah yang Menyelesaikan Masalahmu” 

Sumber: https://muslim.or.id/108472-faidah-surah-al-araf-ayat-137.html
Copyright © 2025 muslim.or.id