Nasihat Untuk Yang Jadi Kurang Asik Setelah Hijrah

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh.

‘Afwan Ustadz, izin bertanya. Dulu sebelum hijrah, ana merasa teman-teman ana terlihat santai ketika bergaul dengan ana. Namun, setelah hijrah, ana merasa jika teman-teman ana menjadi canggung dan baku ketika berbicara dan bersikap kepada ana. Tetapi canggung dan baku dalam arti yang positif (ana merasa dihormati dan menjadi lebih berwibawa).

Akan tetapi, tetap saja ada perasaan yang kurang mengenakan di hati ana, mungkin karena kami seumuran dan ana merasa terlalu jadi serius. Apa yang sebaiknya ana lakukan Ustadz? Apakah ini merupakan tanda yang baik/kurang baik? Jazaakumullah khoiron wa barakallahufiikum Ustadz.

(Ditanyakan oleh Santri Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikum salam warahmatulah wabarokatuh

Semoga Allah berikan kepada Anda dan kita semua istiqamah untuk terus mengutamakan dan menjaga agama dan hidayah yang telah Allah berikan kepada kita.

Kecanggungan dengan perubahan yang di lakukan adalah hal biasa yang terjadi. Sambil tetap belajar ilmu agama islam lebih banyak dan lebih baik lagi, terutama berkaitan dengan ilmu adab dan akhlak dalam pergaulan islami. Diharapkan bisa menggabungkan antara keakraban/fleksibilitas dalam pergaulan, supaya tidak kaku dan disukai teman, dan juga dengan hukum syar`i supaya tidak melampaui batas dalam bersikap.

Rasulullah telah menunjukkan dan memberikan contoh yang sangat baik kepada para sahabatnya, bahkan kepada orang non muslim, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di utus untuk menyempurnakan akhlak manusia, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ.

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” [HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 273 (Shahiihul Adabil Mufrad no. 207), Ahmad (II/381), dan al-Hakim (II/613)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ.

Kaum Mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang akhlaknya paling baik di antara mereka, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada istri-istrinya.” [[4]. HR. At-Tirmidzi (no. 1162), Ahmad (II/250, 472)]

Akhlak yang baik adalah bagian dari amal shalih yang dapat menambah keimanan dan memiliki bobot yang berat dalam timbangan. Pemiliknya sangat dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akhlak yang baik adalah salah satu penyebab seseorang untuk dapat masuk Surga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِيْ مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيْءَ.

Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari Kiamat melainkan akhlak yang baik, dan sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang suka berbicara keji dan kotor.” [HR. At-Tirmidzi (no. 2002) dan Ibnu Hibban (no. 1920, al-Mawaarid)]

Dengan akhlak dan dakwah yang baik, berharap kita bisa merangkul orang orang sekitar kita untuk bisa mengikuti jejak hijrah yang hakiki, untuk mengubah keadaan kepada yang lebih baik dan lebih islami. Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Selasa, 13 Shafar 1443 H/ 21 September 2021 M

sumber : https://bimbinganislam.com/nasihat-untuk-yang-jadi-kurang-asik-setelah-hijrah/

Resesi: Beginilah Cara Islam Menghadapinya

Muslim Dalam Menyikapi Krisis Ekonomi

Apakah saat ini Anda merasakan adanya banyak perubahan tatanan kehidupan? terlebih dalam masalah perekonomian. Banyak yang mengeluhkan pendapatan yang berkurang, barang dagangan yang kurang laku, ada yang di PHK diperusahaannya, barang-barang pokok mengalami kenaikan dan permasalahan lainnya yang serupa. Ketahuilah bahwa hal tersebut memberikan banyak pelajaran dan menyadarkan kita bahwa hanya Allah yang berkuasa dalam mengatur harga dan perekonomian, sehebat apapun strategi bisnis seseorang jika Allah ingin buat dia bangkrut maka dia akan bangkrut dengan cara Allah.

Poin inilah yang ingin dijelaskan rasulullah ﷺ kepada umatnya, tatkala para sahabat mengeluhkan naiknya harga barang, beliau ﷺ bersabda:

إنَّ اللَّهَ هوَ المسعِّرُ القابضُ الباسطُ الرَّازقُ ، وإنِّي لأرجو أن ألقَى اللَّهَ وليسَ أحدٌ منكُم يطالبُني بمَظلمةٍ في دمٍ ولا مالٍ

“Sesungguhnya Allah lah yang mengatur harga barang, Dialah yang menyempitkan, melapangkan, dan memberikan rezeki. Sesungguhnya aku berharap bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak seseorang pun dari kalian yang menuntutku untuk sebuah kezhaliman baik masalah darah maupun harta”.
(HR. Abu Dawud no. 3451, Tirmidzy no. 1314, Ibnu Majah : 2200)

Dalam tulisan ini kami mencoba untuk mengumpulkan hal-hal yang dibutuhkan oleh seorang muslim dalam menyikapi krisis ekonomi di masa pandemi. Sebelumnya kita perlu tahu apa itu “Resesi” dan bagaimana Resesi bisa terjadi. Makna Resesi adalah kondisi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Resesi juga diartikan sebagai penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan, berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Rezeki Telah Dijamin Allah

Apapun kondisi seorang hamba, kapanpun dan dimanapun dia berada, ketahuilah Allah ﷻ telah mengatur dan menjamin rezekinya. Allah ﷻ berfirman:

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

“Dan tidak ada satu makhluk pun yang berjalan di atas bumi melainkan Allah-lah yang menanggung rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam makhluk itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)”
(QS. Hud : 6)

Allahﷻ juga berfirman:

وَكَأَيِّن مِّن دَآبَّةٍ لَّا تَحْمِلُ رِزْقَهَا ٱللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

“Dan berapa banyak makhluk yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al – Ankabut: 60)

Dua ayat tersebut menjelaskan bahwa rezeki telah ditetapkan dan dijamin oleh Allah. Allah lah yang memudahkan sampainya rezeki kepada seorang makhluk, bukan karena kekuatan dirinya atau kehebatannya.

Lihatlah para janin yang masih dalam kandungan ibunya, begitu pula seorang bayi yang baru lahir ke dunia ini, dirinya belum memliki kekuatan untuk bekerja mencari penghasilan, tapi Allah antarkan rezekinya kepada dirinya lewat perantara orang tuanya.

Dalam sebuah hadits rasulullah ﷺ bersabda:

أيها الناس اتقوا الله وأجملوا في الطلب فإن نفسا لن تموت حتى تستوفي رزقها وإن أبطأ عنها ، فاتقوا الله وأجملوا في الطلب ، خذوا ما حل ودعوا ما حرم

“Wahai manusia sekalian, bertakwalah kepada Allah dan perindahlah cara meminta (kepada Allah dalam mencari rezeki), karena sesungguhnya seseorang tidak akan meninggal sampai dia mendapatkan semua rezekinya walaupun terlambat (dalam pandangannya), maka bertakwalah kalian kepada Allah dan perindahlah cara meminta (dalam mencari rezeki), ambilah cara yang halal dan tinggalkanlah yang haram.”
(HR. Ibnu Majah : 2144)

Hadits diatas menjelaskan bahwa rezeki kita semua telah dijamin oleh Allah, tidak ada satu orangpun yang tidak mendapatkan rezeki yang telah ditetapkan untuknya, dan dia tidak akan menemui ajalnya kecuali ketika dirinya telah menikmati semua rezekinya. Oleh karenanya, dalam hadits tersebut rasulullah ﷺ mengajak kita untuk lebih fokus dalam permasalahan ketakwaan bukan kepada rezeki, karena rezeki telah dijamin.

Maksiat Sebagai Penghalang Rezeki

Resesi atau tidak, atau keadaan sulit lainnya, hal tersebut tidak akan mengubah bahwa Dzat yang memberikan rezeki adalah Allah dan kita wajib menyakini hal tersebut. Allah lah pemberi rezeki baik di masa normal atau di masa sulit (Resesi). Sehingga satu-satunya hal yang bisa menghalangi rezeki adalah kedurhakaan kita kepada Ar-Rozzaq, Dzat yang memberikan rezeki. Sehingga Allah enggan memberikan rezekinya kepada kita.

Dalam sebuah hadits rasulullah ﷺ bersabda:

إن العبد ليحرم الرزق بالذنب يصيبه

“Sesungguhnya seorang hamba terhalang dari rezeki disebabkan dosa yang ia perbuat”
(HR. Ahmad no. 22491)

Hadits tersebut diperselisihkan ulama akan keshohihan sanadnya, namun jika ditinjau dari sisi makna, maka banyak penguat yang mendukungnya. Banyak dalil yang menunjukan bahwa ketakwaan adalah sebab utama mendatangkan rezeki, sehingga lawan dari ketakwaan yaitu kemaksiatan akan menjadi penghalang datangnya rezeki.

Allah berfirman:

ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزفه من حيث لا يحتسب

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar bagi dari permasalahannya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. Ath Thalaq : 2 – 3)

Begitu pula beristighfar serta bertaubat memohon ampun kepada Allah ﷻ dari dosa – dosa yang dilakukan merupakan sebab dibukakan pintu rezeki. Allah berfirman mengisahkan seruan nabi Nuh kepada kaumnya:

فقلت استغفروا ربكم إنه كان غفارا. يرسل السماء عليكم مدرارا. ويمددكم بأموال وبنين ويجعل لكم جنات ويجعل لكم أنهارا

“Aku (Nuh) katakan : minta ampunlah kalian kepada Rabb kalian, sesungguhnya Dia adalah maha pengampun. Nisacaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepada kalian. Dan Dia akan memberikan kepada kalian harta yang banyak dan anak-anak, dan Dia juga akan menjadikan kebun-kebun dan sungai-sungai untuk kalian.”
(QS. Nuh : 10 -12)

Hendaknya masing-masing kita meletakkan perkara ini di depan matanya, ketika dia merasa sempit seharusnya dia lebih meningkatkan ketakwaannya kepada Allah bukan saat ketika resesi atau krisis ekonomi malah menggerutu dan kecewa akan ketetapan Allah dan berjalan lebih jauh lagi ke dalam kemaksiatan. Diriwayatkan bahwa dahulu ada seorang salaf yang berkata:

والله لا أبالي ولو أصبحت حبة الشعير بدينار! عليَّ أن أعبده كما أمرني، وعليه أن يرزقني كما وعدني

“Demi Allah, aku tidak peduli dengan kenaikan harga barang, walaupun harga sebiji gandum adalah 1 dinar (4,25 gr emas). Kewajibanku adalah berbibadah kepada Allah sesuai yang ia perintahkan, dan Dia pasti akan memberikan rezekiku sebagaimana yang telah Dia janjikan.”

Ini sesuai dengan firman Allah ﷻ:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ. مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ. إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan yang Sangat Kokoh.”
(QS. Adz – Dzariyat: 56 – 58)

Tawakkal Bukan Berarti Tidak Berusaha

Ketika hati telah meyakini bahwa Allah lah satu-satunya Dzat yang memberikan rezeki, maka tumbuhlah tawakkal dalam diri. Apa itu tawakkal?
Tawakkal adalah bersandarnya hati hanya kepada Allah di setiap keadaan (Lihat : https://binbaz.org.sa/fatwas/17306/حقيقة–التوكل–على–الله). Tawakkal merupakan ibadah hati yang harus dijalanan oleh setiap insan yang beriman.

Allah ﷻ berfirman:

وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

“Dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”.
(QS. At – Taubah :51)

Namun, tawakkal bukan berarti bermalas-malasan dan tidak mengambil sebab dalam menggapai tujuan, bahkan para ulama menjelaskan bahwa mengambil sebab merupakan syarat sahnya tawakkal dalam hati. Karena orang yang bersandar kepada Allah maka dia akan melakukan sesuatu yang Allah perintahkan dan akan berjalan di atas ketetapan Allah. Allah ﷻ telah menetapkan perjalanan dunia ini dengan sebab-sebabnya. Oleh karenanya rasulullah ﷺ bersabda:

احرص على ما ينفعك، واستعن بالله ولا تعجزن

“Bersemangatlah untuk meraih hal yang bermanfaat bagimu, dan minta tolonglah kepada Allah, jangan pernah merasa lemah”.
(HR. Muslim: 47)

Begitu pula tidak boleh bagi seseorang untuk bersandar kepada sebab dan menjadikan sebab segalanya. Orang-orang seperti ini tidak lagi bersandar kepada Allah dan mereka tidak meyakini bahwa Allah lah yang menggerakkan sebab-sebab itu terjadi.

Sehingga, ada dua kelompok orang yang salah dalam masalah tawakkal:
1.Orang yang merasa dirinya bertawakkal, lalu tidak mau mengambil sebab. Orang – orang ini adalah orang yang tertipu, dan mengingkari ayat-ayat Allah yang mengharuskan mengambil sebab.
2.Orang yang terlalu bergantung kepada sebab, sehingga lupa bahwa Allah lah yang menetapkan segala sesuatu. Orang yang seperti ini bisa jatuh kepada kesyirikan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

فعلى العبد أن يكون قلبه معتمداً على الله ، لا على سببٍ من الأسباب ، والله ييسر له من الأسباب ما يصلحه في الدنيا والآخرة

“Seorang hamba wajib menyandarkan hatinya hanya kepada Allah ﷻ, bukan kepada sebab. Allah yang memudahkannya menjalankan sebab yang bermanfaat baginya di dunia dan akhirat.”
(Majmu’ fatawa: 8/528)

Sedangkan Ahlusunnah mengatakan bahwa kita harus mengikuti ketetapan Allah dan mengambil sebab yang Allah tetapkan akan tetapi hati tetap harus bergantung dan bersandar kepada Allah bukan kepada sebab.

Pembaca yang semoga dimuliakan Allah. Tawakkal merupakan sebab mudahnya seseorang mencari rezeki. Dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Kalaulah kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar – benarnya tawakkal, maka kalian akan diberikan rezeki seperti halnya seekor burung. Burung tersebut pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang”
(HR. Tirmidzy : 2344)

Alhafizh Ibnu Hajar berkata:

حديث عمر هذا يدلُّ على أنَّ النَّاس إنَّما يُؤتون مِنْ قلَّة تحقيق التوكُّل ، ووقوفهم مع الأسباب الظاهرة بقلوبهم ومساكنتهم لها ، فلذلك يُتعبون أنفسَهم في الأسباب ، ويجتهدون فيها غاية الاجتهاد ، ولا يأتيهم إلاّ ما قُدِّر لهم ، فلو حَقَّقوا التوكُّلَ على الله بقلوبهم ، لساقَ الله إليهم أرزاقهم مع أدنى سببٍ ، كما يسوقُ إلى الطَّير أرزاقها بمجرَّدِ الغدوِّ والرواح ، وهو نوعٌ من الطَّلب والسَّعي ، لكنه سعيٌ يسيرٌ

“Hadits Umar ini menunjukkan bahwa manusia mendapatkan hukuman disebabkan kurangnya pengaplikasian tawakkal dalam diri. Dan mereka terlalu bergantung dan merasa tenang dengan sebab-sebab yang zhohir, sehingga mereka berletih-letih dalam mengambil sebab, dan mengerahkan segala sesuatu yang mereka miliki, namun mereka hanya mendapatkan apa yang telah ditetapkan untuk mereka.
Kalaulah mereka benar – benar mengaplikasikan tawakkal dalam hati mereka, maka Allah yang akan membawakan rezeki kepada mereka walaupun hanya dengan sebab yang remeh, sebagaimana Allah membawakan rezeki kepada seekor burung hanya dengan terbang di waktu pagi dan pulang di sore hari, itu memang sebuah usaha dalam mencari rezeki, namun usaha yang ringan.”
(Jami’ul Ulum walhikam : 2/321)

Ditulis oleh:
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
(Kontributor bimbinganislam.com)

sumber : https://bimbinganislam.com/resesi-dan-bagaimana-umat-islam-menyikapinya/

Mukmin Harus Senantiasa Husnuzan kepada Allah Ta’ala

Allah Ta’ala telah menjadikan kehidupan dunia ini sebagai ladang ujian dan cobaan. Setiap manusia tanpa terkecuali pastilah akan menghadapi ujian dan coban masing-masing. Ada yang Allah Ta’ala berikan ujian berupa kelapangan, dan tidak sedikit juga yang Allah berikan ujian berupa kesempitan dan kesusahan. Allah Ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗوَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 35)

Dengan kondisi seperti itu, seorang mukmin dituntut untuk senantiasa berhusnuzan (berbaik sangka) kepada Allah Ta’ala. Karena hal tersebut merupakan salah satu sebab datangnya kebahagiaan dan ketenangan kepada seorang mukmin. Selain itu, husnuzan juga mengantarkan seorang mukmin kepada sikap optimis yang disenangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau pernah bersabda,

وَيُعۡجِبُنِي الۡفَأۡلُ. قَالُوا: وَمَا الۡفَأۡلُ؟ قَالَ: كَلِمَةٌ طَيِّبَةٌ

“Dan fa`l (sikap optimis) membuatku senang.” Mereka bertanya, “Apakah fa`l itu?” Nabi bersabda, “Ucapan yang baik.” (HR. Bukhari no. 5776 dan Muslim no. 2224)

Sudah sewajarnya setiap mukmin mengedepankan husnuzan, sangka baiknya kepada Allah Ta’ala dalam setiap kondisi yang dihadapinya baik itu saat mendapatkan kenikmatan maupun saat sedang ditimpa kesulitan.

Pada artikel kali ini akan kita bahas dua alasan penting yang insyaAllah akan semakin menguatkan sangka baik (husnuzan) kita kepada Allah Ta’ala.

Alasan pertama: Berbaik sangka kepada Allah merupakan intisari tauhid kita

Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya berbaik sangka kepada Allah Ta’ala merupakan salah satu konsekuensi pengesaan dan pengagungan kita kepada Allah Ta’ala. Di dalam salah satu ayat Al-Qur’an, Allah Ta’ala memuji orang-orang yang senantiasa berbaik sangka kepada Allah dan memberikan pahala kepada mereka atas hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ اَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ الْغَمِّ اَمَنَةً نُّعَاسًا يَّغْشٰى طَۤاىِٕفَةً مِّنْكُمْ ۙ وَطَۤاىِٕفَةٌ قَدْ اَهَمَّتْهُمْ اَنْفُسُهُمْ يَظُنُّوْنَ بِاللّٰهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ ۗ يَقُوْلُوْنَ هَلْ لَّنَا مِنَ الْاَمْرِ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ اِنَّ الْاَمْرَ كُلَّهٗ لِلّٰهِ ۗ

“Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan, Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri. Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, ‘Adakah sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini?’ Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya segala urusan itu di tangan Allah.’ ” (QS. Ali Imran: 154)

Sedangkan orang-orang yang berburuk sangka kepada Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala mencela mereka dan mengutuk mereka. Allah Ta’ala berfirman,

وَّيُعَذِّبَ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْمُنٰفِقٰتِ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَالْمُشْرِكٰتِ الظَّاۤنِّيْنَ بِاللّٰهِ ظَنَّ السَّوْءِۗ عَلَيْهِمْ دَاۤىِٕرَةُ السَّوْءِۚ وَغَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا

“Dan Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, dan (juga) orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (azab) yang buruk dan Allah murka kepada mereka dan mengutuk mereka serta menyediakan neraka Jahanam bagi mereka. Dan (neraka Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Fath: 6)

Semakin bertambah keimanan di hati seseorang, maka semakin baik pula persangkaannya kepada Allah Ta’ala. Sebaliknya, semakin berkurang keimanan di hati seseorang, maka persangkaannya kepada Allah pun akan semakin memburuk.

Kalau kita lihat fenomena di zaman sekarang, saat seseorang ditimpa musibah atau sedang menghadapi ujian, maka tentu ia akan banyak berdoa kepada Allah Ta’ala. Sayangnya, kebanyakan dari mereka saat Allah Ta’ala belum mengabulkan keinginan dan doanya, mereka meratap, pesimis, lalu meninggalkan berdoa dan mengatakan, “Allah tidak mau mengabulkan doa-doaku.” Ataupun ucapan yang semisalnya. Sungguh ini merupakan bentuk buruk sangka seorang hamba kepada Allah Ta’ala karena kurangnya keimanan kepada Allah di hatinya.

Belum lagi di antara mereka ada yang pesimis, menduga Allah Ta’ala tidak akan menolong hamba-Nya, menyangka bahwa apa yang akan ia peroleh dari Allah Ta’ala dengan bermaksiat kepada-Nya sama dengan apa yang akan ia peroleh jikalau dirinya menaati-Nya. Menduga, bahwa jika ia meninggalkan sebuah perkara karena Allah Ta’ala, maka tidak akan Allah ganti dengan yang lebih baik. Sungguh praduga dan persangkaan semacam ini termasuk bentuk persangkaan yang buruk (su’uzhan) kepada Allah Ta’ala. Pelakunya telah jatuh ke dalam perbuatan yang terlarang.

Kenapa bisa begitu? Karena ia beranggapan perihal Allah Ta’ala dengan sesuatu yang tidak sesuai dan tidak layak disandingkan dengan nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang agung, menisbatkan Allah Ta’ala kepada sesuatu yang tidak sejalan dengan keindahan dan kesempurnaan-Nya.

Sungguh, kebanyakan manusia pastilah pernah beranggapan buruk dan bersangka buruk kepada Allah Ta’ala tanpa ia sadari. Kunci keselamatan dari perkara ini adalah mengenal Allah Ta’ala dengan sebaik-baiknya, mengenal nama-nama-Nya, serta mengetahui juga kewajiban-kewajiban dan tuntutan-tuntutan yang ada pada setiap nama-Nya. Syekh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah pernah mengatakan,

أَنَّهُ لَا يَسْلَم مِن ذَلِك إلاَّ مَن عَرَفَ الأَسمَاء وَالصِّفَات وعَرَفَ نَفْسَه

“Bahwasanya tidak ada yang bisa selamat dari prasangka buruk ini, kecuali orang yang mengenal nama-nama dan sifat Allah, serta mengenal dirinya sendiri.” (Masa’il Kitab At-Tauhid, hal. 474)

Alasan kedua: Allah itu sesuai persangkaan hamba-Nya

Sebagai manusia yang sering ceroboh dan lalai, banyak berbuat dosa dan kemaksiatan, tentu kita sangat membutuhkan ampunan Allah Ta’ala. Sesungguhnya ampunan Allah itu begitu luasnya. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman,

يا ابنَ آدمَ ! إِنَّكَ ما دَعَوْتَنِي ورَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لكَ على ما كان فيكَ ولا أُبالِي يا ابنَ آدمَ ! لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنانَ السَّماءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لكَ ( ولا أُبالِي ( يا ابنَ آدمَ ! لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأرضِ خطَايا ثُمَّ لَقِيْتَني لاتُشْرِكْ بِيْ شَيْئًا لأتيْتُكَ بِقِرَابِها مَغْفِرَةً

”Wahai Bani Adam, sesungguhnya jika engkau senantiasa berdoa dan berharap kepada–Ku, niscaya Aku akan mengampunimu semua dosa yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, kalau seandainya dosamu setinggi langit, kemudian engkau memohon ampun kepada–Ku, niscaya aku akan memberikan ampunan kepadamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya engkau menghadap kepada–Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi kemudian engkau berjumpa dengan–Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi no. 3540 dan Ahmad no. 13493)

Sayang sekali, kebanyakan dari manusia dan para pendosa ini justru lebih mengedepankan buruk sangkanya kepada Allah Ta’ala. Saat hendak bertobat, mereka mengatakan “Apakah kita akan diampuni? Tidak mungkinlah! Dosa kita sudah terlalu banyak!”

Sungguh mereka tidak mengetahui kedudukan Allah Ta’ala. Mereka telah berputus asa dari rahmat Allah dan ampunan-Nya. Padahal Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi,

أنا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بي، وأنا معهُ إذا ذَكَرَنِي، فإنْ ذَكَرَنِي في نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي، وإنْ ذَكَرَنِي في مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ في مَلَإٍ خَيْرٍ منهمْ

“Sesungguhnya Aku berdasarkan pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku akan selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia berzikir mengingat-Ku dalam sebuah perkumpulan, maka Aku akan sebut-sebut dia dalam sebuah perkumpulan yang lebih baik dari mereka.” (HR. Bukhari no. 7405 dan Muslim no. 2675)

Husnuzan, berbaik sangka kepada Allah Ta’ala lebih ditekankan lagi untuk dilakukan saat seseorang mendekati ajalnya. Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

سَمِعْتُ رَسولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ، قَبْلَ مَوْتِهِ بثَلَاثَةِ أَيَّامٍ يقولُ: لا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إلَّا وَهو يُحْسِنُ الظَّنَّ باللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

 “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (tiga hari menjelang wafatnya) mengatakan, “Janganlah seorang di antara kalian meninggal, kecuali dia telah berbaik sangka kepada Allah.” (HR. Muslim no. 2877)

Tidak selayaknya seorang mukmin meninggal dunia sedangkan ia putus asa dari rahmat Allah dan kasih sayang-Nya. Hendaknya ia memperbanyak husnuzan kepada Allah Ta’ala dengan mengerjakan kebaikan, menghindarkan diri dari kemaksiatan, serta berharap akan pahala dan balasan dari Allah Ta’ala.

Semoga kita semua termasuk mukmin  yang senantiasa berhusnuzan dan berbaik sangka kepada Allah Ta’ala di semua keadaan. Berbaik sangka kepada-Nya atas setiap keputusan, takdir, dan cobaan yang telah Ia tuliskan kepada kita. Semoga Allah Ta’ala berikan kita keistikamahan dalam berbaik sangka kepada-Nya hingga ajal menghampiri, serta menjadikan kita termasuk salah satu hamba-Nya yang diberikan ampunan dan dimasukkan ke dalam surga-Nya yang penuh kenikmatan. Amiin ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu a’lam bisshawab.

***

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Artikel: www.muslim.or.id

Referensi:

Kitab “Khutuwaath Ilaa As-Sa’adah.” (Langkah-Langkah Menuju Kebahagiaan) karya Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim Hafidhohullah dengan beberapa tambahan dan perubahan.

sumber : https://muslim.or.id/82319-mukmin-harus-senantiasa-husnuzan-kepada-allah-taala.html

Alasan Pakaian Warna Putih Dianjurkan

Warna Putih Lebih Baik

Warna putih jika dibandingkan dengan yang lain sejatinya lebih baik, bahkan banyak kita dapati dalam beberapa ayat Al-Quran bahwa Allah menyematkan sesuatu yang baik dengan menyifatinya dengan warna putih, diantaranya misalnya kita dapati bahwa Allah menyifati bidadari (hurun ‘iin) dengan warna putih, Allah Ta’ala berfirman:

كَأَنَّهُنَّ بَيْضٌ مَّكْنُونٌ

“Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik”

(As-Shoffat: 49)

Dalam Al-Mukhtashar fi Tafsiiri al-Quran al-Karim dikatakan:

كأنهن في بياض ألوانهن المشوبة بصفرة بيضُ طائر مصون لم تمسه الأيدي

“Kulit mereka putih kekuning-kuningan seperti telur burung, terjaga tidak terjamah oleh tangan siapapun”.

Sebagaimana Allah menyifati anak-anak kecil yang kelak menjadi pelayan penduduk surga dengan warna putih, Allah berfirman:

وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَّهُمْ كَأَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَّكْنُونٌ

“Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan”

(At-Thur: 24)

Maksudnya yaitu indahnya mereka seperti mutiara dari sisi warna putihnya, mengkilapnya dan jernihnya.

Dalam Al-Quran Allah juga menyifati wajah-wajah orang beriman kelak di hari kiamat dengan warna putih, sebagaimana wajah orang-orang yang tidak beriman dengan warna hitam, Allah berfirman:

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): ‘Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu’”

(Ali Imran: 106)

Beberapa Dalil Khusus

Secara garis besar, warna putih adalah warna yang disukai oleh syariat, banyak dipakai dan disematkan dalam hal-hal yang baik. Adapun, warna putih dalam masalah penggunaanya untuk pakaian dan sandang, ada dalil khusus yang menjelaskannya, di antaranya sebagai berikut:

Hadist Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasul shallallahu alaihi wasallam bersabda,

البَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ البَيَاضَ، فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ، وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ.  رواه أبو داود (4061) ، والترمذي 994

“Kenakkanlah dari pakaian kalian yang berwarna putih, karena itu adalah termasuk bagian dari pakaian terbaik kalian, dan kafanilah mayyit kalian dengan kain berwarna putih”

(HR. Abu Dawud, no: 4061, Tirmidzi, no: 994)

Al-Imam al-Munawy menjelaskan,

هذا خطاب لعموم الخلق ، لقوله : ( ثيابكم ) ، ولم يقل : ( ثيابنا ) ؛ فهو خير الثياب ، لأنها لم يمسها صبغ يحتاج إلى مؤونة ولم يؤمن فيها نجاسة ، ولأن البياض لا يكاد يخفي أثر يلحقه ، فيظهر ، ولأن الألوان تعين على الكبر والمفاخرة ، ولأن البياض أعم وأيسر وجودا ” انتهى من “فيض القدير” 3/485

“Sabda Nabi ini ditujukan kepada keumuman orang, berdasar pada  perkataan Beliau ثيابكم (pakaian kalian), dan Beliau tidak mengatakan dengan diksi ثيابنا (pakaian kami), yang demikian itulah sebaik-baik pakaian, karena warna putih tidak membutuhkan biaya untuk pewarnaan, juga benda najis yang menempel langsung bisa diketahui, karena warna putih tidak bisa menyembunyikan bercak noda yang mengenainya, pewarnaan yang ada juga terkadang memotivasi pemiliknya untuk masuk pada sikap sombong dan berbangga, warna putih lebih baik juga karena lebih familier dan mudah untuk ditemukan”

(Faidhu al-Qadir, 3 /485)

Dari penjelasan al-Imam al-Munawi di atas, bisa kita pahami bahwa mengenakan baju berwarna putih adalah bagian dari sesuatu yang disukai dan dianjurkan oleh syariat, mencakup keumuman pemakainya, baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Khusus Untuk Perempuan

Namun, terkhusus untuk perempuan, hendaknya ia memperhatikan kebiasaan daerah dan tempat tinggalnya dalam masalah memilih warna pakaian untuk dikenakkan di luar rumah, walaupun warna putih adalah warna yang disukai oleh syariat, tetapi jika di suatu daerah justru penggunaan warna putih tidak terbiasa bagi para perempuan di tempat itu, dan konsekuensi ketika dipakai justru akan menarik pandangan para lelaki, jika demikian hendaknya pemakaian warna putih untuk perempuan di luar rumah sebaiknya ditinggalkan, karena justru malah menjadi pakaian syuhrah (pakaian yang tampil beda menarik pandangan), disebutkan dalam fatwa di islamqa.com dibawah bimbingan Syaikh Shalih Al-Munajjid,

إذا كانت المرأة في بلد لا يعتاد نساؤه لبس الأبيض خارج البيت ، كما هو حاصل في بلاد الخليج ونحوها : لم يجز للمرأة أن تلبس الأبيض خارج بيتها ، بل يكون ذلك من لباس الشهرة المنهي عنه

“Jika seorang perempuan berada di negri yang para perempuannya tidak terbiasa memakai pakaian warna putih di luar rumah, seperti yang terjadi di negara-negara teluk (timteng) dan semisalnya, maka tidak diperkenankan bagi perempuan untuk mengenakkan pakaian warna putih di luar rumahnya, justru ketika ia memakai warna putih justru malah menjadi pakaian syuhroh yang dilarang.

وإذا كانت في بلد يعتاد نساؤه لبس الأبيض خارج البيت ، كما نرى نساء كثير من البلاد الإسلامية ، لا سيما كبيرات السن منهن : يلبسن الأبيض في المناسك ، ويعتدن ذلك من غير نكير ، ولا شذوذ ، ولا شهرة

فلا حرج على المرأة المسلمة ، حينئذ ، في لبس ما يعتاده نساء بلدها من الملابس ، ما دامت قد تحققت فيها صفات الحجاب الشرعي

Namun jika seorang perempuan berada di negri yang terbiasa kaum wanitanya mengenakkan warna putih di luar rumah, seperti yang kita lihat dari para wanita di negri-negri islam yang lain, terlebih lagi para perempuan paruh baya, mereka memakai warna putih ketika manasik (haji/umroh), mereka terbiasa memakai hal itu tanpa pengingkaran, tidak dianggap janggal dan bukan termasuk pakaian syuhroh. Jika demikian adanya, tidak mengapa bagi perempuan muslimah untuk mengenakkan pakaian yang terbiasa dipakai oleh wanita di negrinya, selagi pakaian tersebut sudah memenuhi syarat hijab syari”.

lihat: https://islamqa.info/ar/answers/289929/هل–يستحب–للمراة–لبس–البياض

Jadi, kita perlu memperhatikan kebiasaan yang berjalan di suatu negeri, jika memang tidak masalah memakai warna putih bagi perempuan di luar rumah, bahkan itu sudah menjadi kebiasaan, seperti di indonesia misalnya, dan hal tersebut tidak menarik perhatian dan pandangan lawan jenis, maka boleh saja baginya untuk memakainya, dan baginya mendapat keutamaan seperti yang terkandung pada hadits.

Ini berkaitan dengan penggunaan pakaian ketika di luar rumah, adapun di dalam rumah, bagi perempuan untuk memakai pakaian yang ia sukai, sifatnya lebih bebas, masih dijelaskan dalam link islamqa.com sebelumnya,

فلها في بيتها أن تلبس ما شاءت ، من زي النساء ولباسهن ، ولها أن تتزين بما شاءت من زينة النساء ، وحليتهن. ولها أن تتخير مع ذلك من الألوان ما أحبت.  وإذا اختارت أن تلبس الأبيض في بيتها ، وأن تتحلى به ، وفضلته على غيره من الألوان ، عملا بهذا الحديث : فلا حرج عليها ، بل هو حسن ، إن شاء الله.

“Bagi perempuan untuk mengenakkan pakaian yang ia kehendaki di dalam rumahnya, berupa perhiasan perempuan dan pakaian mereka, baginya untuk berhias dan memakai perhiasan, baginya untuk memilih warna pakaian yang ia sukai, jika ia memilih warna putih untuk dikenakkan di rumahnya, berhias dengan warna putih, dia lebih mengedepankan warna putih melebihi warna lainnya atas dasar hadist keutamaan warna putih, tidak mengapa yang demikian, bahkan ini perkara yang baik in sya Allah”.

Demikian yang kami ketahui, wallahu a’lam.

sumber : https://bimbinganislam.com/pakaian-warna-putih/

Meminta Syahid Dengan Penuh Kejujuran

عَنْ أبي ثَابِتٍ ، وقِيلَ : أبي سعيدٍ ، وقِيلَ : أبي الْولِيدِ ، سَهْلِ بْنِ حُنيْفٍ ، وَهُوَ بدرِيٌّ ، رضي اللَّه عنه ، أَن النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « مَنْ سَأَلَ اللَّهَ ، تعالَى الشِّهَادَة بِصِدْقٍ بَلَّغهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهدَاء ، وإِنْ مَاتَ عَلَى فِراشِهِ » رواه مسلم .

Dari Abu Tsabit, dalam suatu riwayat lain disebutkan Abu Said dan dalam riwayat lain pula disebutkan Abul walid, yaitu Sahl bin Hanif radhiyallahu anhu, dan dia juga pernah menyaksikan peperangan Badar, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meminta kepada Allah mati syahid dengan (penuh -pent.) kejujuran, maka Allah akan menyampaikannya pada kedudukan syuhada walaupun ia mati di atas tempat tidurnya”

(HR. Muslim, no. 1909).

[/div]


Faedah Hadist

Hadist ini memberikan faedah-faedah berharga, di antaranya;

1. Jujurnya hati dalam berdoa di antara sebab kesuksesan terkabulnya doa, oleh karena itu barang siapa yang berniat beramal kebaikan, maka ia akan mendapat pahala, walau tidak sempat melakukannya karena uzur atau perbuatan itu belum sempurna sekalipun.

2. Penjelasan tentang dianjurkan meminta syahid dalam doa dengan penuh kejujuran dan keikhlasan, walaupun ia tidak sedang berada di medan juang fisabilillah, karena seorang hamba akan mendapat martabat tersebut karena kejujuran dan keikhlasannya kepada Allah Ta’ala, dan ini termasuk rahmat dan karunia yang luas bagi hamba-hamba-Nya yang terpilih.

3. Kemuliaan kejujuran dan keutamaanya, dimana balasan bagi yang berakhlak dan berprilaku dengannya mendapatkan derajat yang tinggi di surga Allah ‘Azza wa Jalla.

4. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan orang-orang yang berdoa pada-Nya dengan penuh keikhlasan dan kejujuran.

5. Pentingnya niat-niat kebaikan dalam menjalani setiap sendi-sendi kehidupan, dan semakin besar pahala niat kebaikan itu bila sejak awalnya penuh dengan ketulusan dan kejujuran berharap pahala terbaik dari Allah Yang Maha Pemurah.

6. Hiburan bagi orang-orang yang sakit yang sedang dirawat di atas tempat tidurnya, jangan pernah putus asa dan harapan dari berdoa kepada Allah Yang Mahakuasa dan selalu berharap karunia dan balasan terbaik dari-Nya.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Referensi: Syarah Riyadhus Shalihin karya syaikh Shalih al Utsaimin rahimahullah dan Kitab Bahjatun Naadziriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy.

sumber : https://bimbinganislam.com/fawaid-hadist-44-meminta-syahid-dengan-penuh-kejujuran/

Suami Susah Untuk Sholat Dan Ngaji, Begini Sikap Istri Sholehah

Pertanyaan:

Assalamualaikum Ustadz, bagaimana jika suami susah sholat dan ngaji, padahal sudah diingatkan setiap waktu (Khususnya sholat subuh), dibangunin lemah lembut sudah dilakukan, sampe dicipratin air juga udah, tapi suami malah marah balik. Saya cape harus marah tiap subuh ustadz. Mohon masukannya supaya bisa menyadarkan suami.

Ditanyakan oleh Sahabat AISHAH (Akademi Shalihah)


Jawaban:

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Shalat adalah rukun islam yang kedua dari 5 rukun islam yang ada, dan dia adalah tiang agama. shalat adalah ibadah yang tidak boleh ditinggalkan sedikit pun, tidak boleh juga diwakilkan.

Baik orang sakit maupun sehat, sedang mukim maupun safar, bahkan kondisi aman maupun perang, tidak boleh bagi kita meninggalkan shalat.

Ada beberapa hadist yang mengancam pelakunya pada kekufuran jika sampai meninggalkannya, diantaranya:

بين الرجل وبين الكفر والشرك ترك الصلاة، رواه مسلم

“Pemisah antara seseorang dengan kekufuran dan kesyirikan adalah meninggalkan shalat”. (H.R Muslim).

Dalam hadist lainnya:

العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر، خرجه الإمام أحمد

“Perjanjian antara kami dengan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat, barangsiapa meninggalkan shalat maka ia telah kafir”. (H.R Ahmad).

Jika anda lihat, hadist-hadist tersebut membahas ancaman bagi yang meninggalkan shalat, bahwa ancamannya bukanlah main-main, ancamannya adalah kekufuran.

Oleh karenanya diantara ulama yang berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat hukumnya kafir adalah syaikh Abdul Aziz bin baz رحمه الله, beliau mengatakan:

سبق في السؤال السابق: أن من ترك الصلاة تهاونًا فقد اختلف فيه العلماء هل هو كافر كفرًا أكبر أم كفرًا أصغر؟ وسبق أنه كافر كفرًا أكبر في الصحيح من قولي العلماء

“Telah lalu dalam pertanyaan sebelumnya, bahwa orang yang meninggalkan shalat karena meremehkan, ulama berselisih pendapat apakah pelakunya telah kafir kufur akbar ataukah kufur kecil? dan telah lalu pembahasan bahwa pelakunya terhukumi kafir kufur akbar menurut pendapat yang benar dari dua pendapat ulama”.

Lihat:
https://binbaz.org.sa/fatwas/17441/حكم-ترك-الصل�…

Ada ulama yang lain yang masih berpendapat jika meninggalkannya tidak total semuanya, yakni kadang shalat kadang tidak, bukan tidak shalat sama sekali, beliau masih menganggap statusnya muslim namun pelaku dosa besar, dan tidak kafir keluar dari islam.

Namun jika sampai meninggalkannya total, alias tidak shalat sama sekali, maka beliau berpendapat yang demikian telah keluar dari islam. Ini adalah pendapat dari syaikh Muhammad bin solih al-Utsaimin, beliau mengatakan:

والذي يظهر من الأدلة : أنه لا يكفر إلا بترك الصلاة دائما ، بمعنى أنه وطن نفسه على ترك الصلاة ، فلا يصلي ظهرا ، ولا عصرا ، ولا مغربا ، ولا عشاء ، ولا فجرا ، فهذا هو الذي يكفر.

فإن كان يصلي فرضا أو فرضين فإنه لا يكفر ؛ لأن هذا لا يصدق عليه أنه ترك الصلاة

“Yang tampak dari dalil-dalil yang ada, bahwa seseorang tidaklah dihukumi kafir melainkan jika ia selalu meninggalkan shalat. Yakni maknanya bahwa dia meletakkan dirinya untuk meninggalkan shalat, dia tidak shalat dhuhur, juga asar, maghrib, isya, subuh..yang seperti ini yang telah kafir. Jika ada yang masih shalat wajib sekali, atau dua kali, ini belum kafir, karena yang masih melakukan shalat sesekali, belum cocok jika dikatakan telah meninggalkan shalat (secara total)”. (Syarhu al-Mumti’ juz:2 hal:27-28).

Jadi syaikh Utsaimin disini berpendapat jika meninggalkan shalat secara total, barulah ia keluar dari islam. Jika masih shalat sesekali, ia masih muslim tapi pelaku dosa besar.

Adapun syaikh Binbaz tidak membedakan antara meninggalkan semua atau tidak, bagi beliau jika sampai ditinggalkan sebagian pun terhukumi telah kufur.

Dan ini adalah sesuatu yang berbahaya, wajib bagi anda untuk menasehati, mendakwahi, mendoakan suami anda tanpa putus agar Allah memberi taufik.

Jelaskan dan sampaikan secara lemah lembut pada suami kewajiban shalat dan bahaya bagi yang meninggalkannya (tanpa menggurui), kalau perlu hadirkan penceramah atau ustadz dengan trik atau rencana yang matang agar bisa menjelaskan masalah ini dengan baik.

Alasan tidak shalat karena malas bangun shubuh harus dilawan dengan kesungguhan dan kesabaran. Apakah ketika ajal menjemput juga dia telah siap menghadapi kematian?

Tentu dia akan jawab bahwa dia ‘belum siap’.

Kalau dia belum siap menghadapi kematian, apalagi ketika dia tak punya alasan meninggalkan ibadah, terutama shalat, tentu ini lebih membahayakan lagi. Ajak suami anda untuk shalat dengan cara apapun, yang penting tidak melanggar syariat, semoga Allah beri hidayah.

Ada beberapa faktor suami susah bangun shubuh, di antara yang pailng dominan adalah suami tidur larut malam dan kurang istirahat, maka buatlah suami cepat tidur dan yang paling penting adalah doa yang tulus dari anda sebagai istri dan juga anak-anak (jika sudah memilki anak yang bisa mendoakan orang tuanya).

Yakinlah dengan doa pada Allah Yang Maha Pemurah kemudian kesungguhan dan nasehat yang tulus tanpa menggurui, semua akan ada jalan keluar. Jadilah istri terbaik. Semoga Allah Ta’ala mudahkan niat tulus dan perjuangan itu.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Baca selengkapnya: https://bimbinganislam.com/lakukan-ini-jika-suami-tidak-mau-shalat/

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله

Jum’at, 10 Sya’ban1444H / 3 Februari 2023 M

sumber : https://bimbinganislam.com/suami-susah-untuk-sholat-dan-ngaji-begini-sikap-istri-sholehah/

Jagalah Batasan Allah, Niscaya Allah (ﷻ) Akan Menjagamu

عَنْ أَبِي العَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا قَالَ كُنْتُ: خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً فَقَالَ لِي: ( يَا غُلاَمُ! إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باِللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ ).

Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Pada suatu hari aku pernah berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, ‘Wahai anak muda! Sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau mau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau mau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah.

Ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.’”

(HR. Tirmidzi, no. 2516; Ahmad, 1/293; dan lainnya. Imam Tirmidzi berkata bahwa hadits ini hasan shahih).

[/div]

Faedah Hadist

Hadist ini memberikan faedah-faedah berharga, di antaranya;

1. Pelajaran berharga tentang bagaimanakah tawadhu’ (rendah hati) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mau bergaul dengan anak muda, juga hadits ini menunjukkan sikap baik beliau pada Ibnu ‘Abbas yang masih muda.

2. Lafaz dalam hadis ini mengandung kasih sayang seorang pengajar, ayah, dan orang tua kepada orang kecil, dan kepada orang yang menghendaki perkataan yang baik. Beliau -‘Alaihisshalatu was salam – menggunakan lafaz pengajaran, saya akan mengajarkan kepadamu, yaitu perintah-perintah. Beliau – ‘Alaihisshalatu was salam – tidak berkata kepadanya: saya memerintahkan kamu begini dan begitu. Sesungguhnya dipakainya metode lafaz pengajaran adalah karena telah diketahui bahwa orang yang berakal suka memanfaatkan pengetahuan.

3. Siapa yang menjaga batasan Allah, maka Allah Ta’ala akan menjaga dunia dan agamanya.

4. Siapa saja yang tidak memperhatikan batasan dan aturan Allah, maka ia tidak mendapatkan penjagaan dari Allah, sebagaimana dalam ayat disebutkan,

نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ

Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan (artinya: meninggalkan) mereka.” (QS. At-Taubah: 67)

5. Al-jazaa’ min jinsil ‘amal, balasan itu sesuai dengan amal perbuatan. Artinya, amalan menjaga hak Allah, dibalas pula dengan penjagaan dari Allah.

6. Apabila ada seseorang yang berdoa, memohon, dan bermunajat, maka lakukanlah semuanya hanya kepada Allah Ta’ala, karena Dialah yang Maha Kaya dan Maha Mendengar terhadap semua keinginan hamba-hambaNya.

7. Hadits ini mengajarkan bagaimanakah mengimani takdir.

8. Hamba atau makhluk tidak bisa memberi manfaat dan tidak bisa mendatangkan mudarat kecuali manfaat dan mudarat tadi ditetapkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

9. Apa yang Allah Ta’ala kehendaki pasti terjadi, dan yang tidak Allah Ta’ala kehendaki tidak akan terjadi.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Referensi: Syarah Riyadhus Shalihin dan Hadits Arba’in lin Nawawi karya Syaikh Shalih al Utsaimin dan Sejumlah Ulama rahimahumullah

sumber : https://bimbinganislam.com/fawaid-hadist-47-jagalah-batasan-allah-niscaya-allah-%ef%b7%bb-akan-menjagamu/