Hidup Boros, Temannya Setan

Saudaraku, perlu diketahui bahwa hidup boros, senang membuang-buang harta untuk hal yang sia-sia termasuk meniru perbuatan setan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27).  Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini.

Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.”

Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Seandainya seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).”

Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 8/474-475)

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

“Sesungguhnya Allah meridlai tiga hal bagi kalian dan murka apabila kalian melakukan tiga hal. Allah ridha jika kalian menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan (Allah ridla) jika kalian berpegang pada tali Allah seluruhnya dan kalian saling menasehati terhadap para penguasa yang mengatur urusan kalian. Allah murka jika kalian sibuk dengan desas-desus, banyak mengemukakan pertanyaan yang tidak berguna serta membuang-buang harta.” (HR. Muslim no.1715)

Termasuk perbuatan boros (tabdzir) adalah apabila seseorang menghabiskan harta pada jalan yang keliru. Semisal seseorang berjam-jam duduk di depan internet, lalu membuka Facebook, blog, email dan lainnya, lantas dia tidak memanfaatkannya untuk hal yang bermanfaat, namun untuk hal-hal yang mengandung maksiat. Na’udzu billahi min dzalik. Cobalah internet kita manfaatkan untuk berdakwah atau untuk mempelajari Islam lebih dalam.

Semoga Allah memudahkan kita untuk mengisi waktu kita di setiap tempat dengan hal-hal yang bermanfaat dan berguna bagi orang lain terutama dalam masalah agama dan akhirat.

Always remember this …! Wallahu waliyyut taufiq.

****

Disusun di rumah mertua tercinta, di pagi hari yang penuh berkah,

Panggang-Gunung Kidul, 30th Rabi’ul Akhir 1430 H

Sumber https://rumaysho.com/1813-hidup-boros-temannya-setan.html

Dengan Niat, Pahala Anda Bisa Seperti Orang Kaya Yang Dermawan

Bagi Anda yang tidak mampu beramal dengan harta, Islam yang agung dan penuh rahmat ini masih memberikan niat yang dengannya Anda bisa menyamai orang kaya yang menginfakkan hartanya di jalan Allah.

Renungkanlah potongan sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam- berikut ini:

“Dunia ini, hanya untuk empat orang… (yang kedua:) seorang hamba yang ِAllah beri rezeki ilmu (agama), Dia tidak memberinya harta, namun orang tersebut baik niatnya, ia mengatakan: ‘seandainya aku memiliki harta, tentu aku akan beramal seperti amalnya si fulan’, maka dia (diberi pahala) dengan sebab niatnya, dan pahala keduanya sama“. (HR. Attirmidzi: 2325, dishahihkan oleh Sy. Albani).

Dari sini, kita bisa mengambil 3 pelajaran berharga:

  1. Jangan terkecoh dengan harta. Dan jangan bersedih karena kurang harta.. karena sebenarnya tanpa harta pun Anda juga bisa mendapatkan pahala seperti pahalanya orang kaya yang menginfakkan hartanya di jalan Allah. Inilah bukti Maha Pemurah-nya Allah kepada para hamba-Nya.
  2. Tidak perlu iri dengan orang kaya, karena belum tentu kita akan kuat menghadapi fitnah harta, bila ia benar-benar ada di tangan kita.. padahal di sisi lain, tanpa harta pun kita bisa mengimbangi pahala orang kaya itu dari hartanya… bahkan dengan niat ini, Allah memberikan Anda pahala dengan lebih mudah dan tanpa resiko.
  3. Niat adalah sumber pahala yang sangat agung, mudah, dan tanpa modal untuk mendapatkannya. Sudah seharusnya kita benar-benar memperhatikannya… sayangnya, kebanyakan orang malah melalaikannya.

Semoga Allah memberikan taufiqNya kepada kita dalam menata hati dan niat kita, amin.

***

Penulis: Ust. Musyaffa Ad Darini MA.

sumber: https://muslim.or.id/29046-dengan-niat-pahala-anda-bisa-seperti-orang-kaya-yang-dermawan.html

Apakah Besar Kecil Pahala Suatu Amalan Tergantung dari Niatnya?

Sebagian kita terkadang terlalu fokus pada amal yang kita lakukan dan terlalu fokus pada hasil akhir dari amal tersebut. Terkadang juga kita lupa memperhatikan niat kita dan meluruskan niat kita yaitu hanya ingin mencari wajah Allah dan ridha-Nya.

Perhatikan bahwa pahala amal itu bukan hanya tergantung pada banyaknya amal saja tetapi lebih bergantung pada niat dan keikhlasan seseorang. Amal yang besar bisa jadi kecil karena niat yang kurang ikhlas dan sebaliknya, amal yang kecil jadi besar karena niat yang sangat ikhlas.

Ibnul Mubarak berkata,

رب عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية

“Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar (pahalanya) karena sebab niat. Dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil (pahalanya) karena sebab niat.” (Al-Jami’ Ulum wal Hikam)

Contohnya adalah amalan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pahala amal mereka lebih besar daripada amal yang kita lakukan, padahal amal kita lebih banyak dan lebih besar secara dzahir. Dimisalkan emas sebesar gunung Uhud yang kita infakkan, tidak bisa menyamai pahala satu mud bahkan setengah mud emas yang para sahabat infakkan.

Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

”Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, yang dinilai oleh Allah bukanlah banyaknya amal semata, tetapi siapa yang paling baik amalnya yaitu paling ikhlas dan paling baik dalam menunaikannya.

Allah berfirman,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk : 2)

Fudhail bin ‘Iyadh menjelaskan bahwa yang paling baik amalnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar amalnya sesuai sunnah. Beliau berkata,

أخلصه وأصوبه . وقال : العمل لا يقبل حتى يكون خالصا صوابا ، الخالص : إذا كان لله ، والصواب : إذا كان على السنة

“(Maksud ayat adalah) Yang paling ikhlas dan paling benar amalnya, ia juga berkata: Amal tidak akan diterima sampai amal itu ikhlas dan benar. Ikhlas yaitu hanya untuk Allah. Benar yaitu jika sesuai dengan sunnah.” (lihat Tafsir Al-Baghawi)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita dalam hadits yang agung dan terkenal tentang pentingnya niat dalam amal. Beliau bersabda,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya semua amalan itu terjadi dengan niat, dan setiap orang mendapatkan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah selalu menjaga niat kita karena menjaga niat bukanlah hal yang mudah sehingga kita hendaknya selalu memohon kepada Allah dan meminta bantuan-Nya agar selalu ikhlas dalam niat dan beramal.

Sufyan Ats-Tsauri berkata,

ما عالجت شيئا أشد علي من نيتي ؛ لأنها تتقلب علي

“ Tidaklah aku berusaha untuk mengobati sesuatu yang lebih berat daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak-balik.” (Jami’ Al-‘ulum wal hikam hal. 18)

Demikian semoga bermanfaat

@ Yogyakarta tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber: https://muslim.or.id/43838-apakah-besar-kecil-pahala-suatu-amalan-tergantung-dari-niatnya.html

Tiga ciri munafik merusak iman

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ   

Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berbohong, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.

Riwayat lain:  

وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ  

“Walaupun ia berpuasa, shalat, dan mengaku sebagai muslim.”  

[HR. Bukhari no 33, dan Muslim no 59, 107, 109. Hadits ini disepakati kesahihannya oleh Bukhari dan Muslim]

*Penjelasan Kosakata:*   

Lafaz _“ayatun” «آيَةٌ»_ artinya tanda atau ciri. Lafaz _“akhlafa”«أَخْلَفَ»_ artinya sengaja menyalahi janji dengan niat tidak menepatinya sejak awal. Namun apabila ia berniat menepati janji, lalu ada halangan, maka ia tidak berdosa.

*Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Hadits:*  

  1. *Kemunafikan ada dua macam: kemunafikan dalam amalan dan kemunafikan dalam keyakinan.* 
  2. *Peringatan keras terhadap dusta, ingkar janji, dan khianat.* Tiga sifat ini termasuk dosa besar dan termasuk ciri kemunafikan dalam amalan. Sifat ini umumnya akan menyeret pelakunya kepada kemunafikan dalam keyakinan, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Al-Qayyim rahimahullah.
  3. *Ibadah lahiriah tidak cukup tanpa perbaikan batin.* Seseorang yang shalatnya, puasanya, dan pengakuan keislamannya tidak mencegahnya dari sifat munafik, maka hendaknya ia segera mengoreksi hati dan ibadahnya.

[Referensi utama : Kitab Riyadhus shalihin Wa ma’ahu hasyiyatul Fawaid. Hal. 178]

 Wallahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz : Nurhadi Nugroho, Hafidzhohulloh

sumber: https://bimbinganislam.com/fawaid-hadits-199-tiga-ciri-munafik-merusak-iman/

[Kitabut Tauhid 10] 45 Mencintai Allah 33

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Sebagaimana kewajiban Syariat yang lainnya, ittiba’ kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tidak cukup hanya bermodal niat dan semangat, tetapi harus mengikuti bimbingan Syariat. Diantara rambu-rambu Syariat yang harus dipahami dan dipatuhi dalam urusan ittiba’ kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah :

  1.  Ittiba’ tidak akan terwujud kecuali jika amalan sesuai dengan Syariat di dalam enam hal (sebab, jenis, ukuran, tata cara, waktu, dan tempat).
  2. Asal di dalam ibadah bagi mukallaf adalah ta’abbud (merendahkan diri dan tunduk) dan imtitsâl (mewujudkan ketaatan) kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- tanpa melihat kepada hikmah-hikmah yang dikandungnya, meskipun mungkin saja sebagian hikmahnya tampak sangat jelas.
  3. Kesusahan bukanlah tujuan Syariat.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Jagalah Lisanmu

Nikmat Allah ‘azza wa jalla yang terlimpah kepada kita tiada terbilang hingga kita tidak mampu menghitungnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ

“Dan jika kalian ingin menghitung nikmat Allah niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (Ibrahim: 34)

Dia Yang Mahasuci juga berfirman,

وَأَسۡبَغَ عَلَيۡكُمۡ نِعَمَهُۥ ظَٰهِرَةً وَبَاطِنَةً

“Dan Dia telah mencurahkan nikmat-Nya yang lahir dan yang batin kepada kalian.” (Luqman: 20)

Di antara sekian banyak nikmat-Nya adalah lisan atau lidah yang dengannya seorang hamba dapat mengungkapkan keinginan jiwanya.

أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ* وَلِسَانًا وَشَفَتَيۡنِ

“Bukankah Kami telah menjadikan untuknya dua mata, lisan, dan dua bibir?” (al-Balad: 8—9)

Dengan lisan ini, seorang hamba dapat terangkat derajatnya dengan beroleh kebaikan di sisi Allah ‘azza wa jalla. Sebaliknya, ia juga dapat tersungkur ke jurang jahannam dengan sebab lisannya.

Rasul yang mulia shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sungguh, seorang hamba mengucapkan suatu kata yang Allah ridhai dalam keadaan tidak terpikirkan oleh benaknya, tidak terbayang akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut berakibat sesuatu, ternyata dengan kata tersebut Allah mengangkatnya beberapa derajat. Sungguh, seorang hamba mengucapkan suatu kata yang Allah murkai dalam keadaan tidak terpikirkan oleh benaknya, tidak terbayang akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut berakibat sesuatu ternyata karenanya Allah melemparkannya ke dalam neraka Jahannam.” (HR. al-Bukhari no. 6478)

Dalam hadits yang lain disebutkan,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيْهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ

“Sungguh, seorang hamba mengucapkan suatu kata yang ia tidak memperhatikannya, tidak memikirkan kejelekannya, dan tidak mengkhawatirkan akibat/dampaknya, ternyata karenanya ia dilemparkan ke dalam neraka lebih jauh dari apa-apa yang ada di antara timur.” (HR. al-Bukhari no. 6477 dan Muslim no. 7406, 7407)

Dalam riwayat Muslim,

أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“… lebih jauh daripada antara timur dan barat.”

Yang disesalkan dari keberadaan kita, kaum hawa, adalah sering menyalahgunakan nikmat Allah yang berupa lisan ini. Lisan dilepaskan begitu saja tanpa penjagaan sehingga keluar darinya kalimat-kalimat yang membinasakan pengucapnya. Ghibah, namimah, dusta, mengumpat, mencela dan teman-temannya, biasa terucap. Terasa ringan tanpa beban, seakan tiada balasan yang akan diperoleh.

Membicarakan cacat/cela seseorang, menjatuhkan kehormatan seorang muslim, seakan jadi santapan lezat bagi yang namanya lisan. Sementara itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengingatkan dalam sabdanya,

الْـمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْـمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. al-Bukhari no. 6484 dan Muslim no. 161)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Kaum muslimin selamat dari lisannya, yaitu ia tidak mencela mereka, tidak melaknat mereka, tidak mengghibah dan menyebarkan namimah di antara mereka. Dia tidak menyebarkan satu macam pun kejelekan dan kerusakan di antara mereka. Dia benar-benar menahan lisannya. Menahan lisan ini termasuk hal yang paling berat dan paling sulit bagi seseorang. Sebaliknya, begitu gampangnya seseorang melepas lisannya.”

Beliau rahimahullah juga menyatakan,

“Lisan termasuk anggota tubuh yang paling besar bahayanya bagi seseorang. Karena itulah, apabila seseorang berada di pagi harinya, anggota tubuhnya yang lain—dua tangan, dua kaki, dua mata dan seluruh anggota yang lain—mengingkari lisan. Demikian pula kemaluan, karena pada kemaluan ada syahwat nikah dan pada lisan ada syahwat berbicara. Sedikit orang yang selamat dari dua syahwat ini.

Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisannya. Maksudnya, dia menahan lisannya, tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Ia tidak mencaci, tidak mengghibah, tidak berbuat namimah, dan tidak menebarkan permusuhan di antara manusia. Dia adalah orang yang memberikan rasa aman kepada orang lain. Apabila dia mendengar kejelekan, dia menjaga lisannya.

Tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian manusia—wal ‘iyadzubillah—bila mendengar kejelekan saudaranya sesama muslim, ia melonjak kegirangan kemudian menyebarkan kejelekan itu di negerinya. Orang seperti ini bukanlah seorang muslim (yang sempurna imannya).” (Syarh Riyadhish Shalihin, 1/764)

Lisan yang berpenyakit seperti ini banyak diderita oleh kaum hawa. Karena itu, mereka harus banyak-banyak diperingatkan untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam urusan lisan. Ketahuilah, karena bahayanya lisan bila tidak dijaga oleh pemiliknya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sampai menjamin surga bagi orang yang dapat menjaga lisan dan kemaluannya.

Sahl bin Sa’d radhiyallahu anhu menyampaikan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (yaitu lisan)[1] dan apa yang ada di antara dua kakinya (yaitu kemaluan)[2], aku akan menjamin surga baginya.” (HR. al-Bukhari no. 6474)

Apabila Anda tidak dapat berkata yang baik, diamlah, niscaya itu lebih selamat.

Karena itu, Rasul yang mulia shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau ia diam.” (HR. al-Bukhari no. 6475 dan Muslim)

Imam al-Hakim rahimahullah meriwayatkan dalam Mustadrak-nya dari ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengisyaratkan ke bibirnya dan berkata,

الصُّمْتُ إِلَّا مِنْ خَيْرٍ. فَقَالَ لَهُ مُعَاذٌ: وَهَلْ نُؤَاخَذُ بِمَا تَكَلَّمَتْ بِهِ أَلْسِنَتُنَا؟ فَضَرَبَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخِذَ مُعَاذٍ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُعَاذُ، ثَكِلَتْكَ أُمَّكَ-أَوْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَقُوْلَ لَهُ مِنْ ذَلِكَ-وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ فِي جَهَنَّمَ إِلَّا مَا نَطَقَتْ بِهِ أَلْسِنَتُهُمْ؟ فَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَسْكُتْ عَنْ شَرٍّ، قُوْلُوْا خَيْرًا تَغْنَمُوا وَاسْكُتُوْا عَنْ شَرٍّ تَسْلَمُوْا

“Diamlah kecuali dari perkataan yang baik.”

Mu’adz bertanya kepada Rasulullah, “Apakah kita akan disiksa disebabkan apa yang diucapkan oleh lisan-lisan kita?”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memukul paha Mu’adz, kemudian bersabda, “Wahai Mu’adz, ibumu kehilanganmu[3]”, atau beliau mengucapkan kepada Mu’adz apa yang Allah kehendaki.

“Bukankah manusia ditelungkupkan di atas hidung mereka ke dalam jahannam tidak lain disebabkan oleh ucpaan lisan mereka? Karena itu, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam dari berkata yang jelek. Ucapkanlah kebaikan, niscaya kalian akan menuai kebaikan; dan diamlah dari berkata yang jelek, niscaya kalian akan selamat.” (Dinilai sahih oleh Syaikh Muqbil rahimahullah dalam ash-Shahihul Musnad, 1/460)

An-Nawawi rahimahullah memberikan nasihat,

“Orang yang ingin mengucapkan satu kata atau satu kalimat, sepantasnya ia merenungkan dan memikirkan kata/kalimat tersebut sebelum mengucapkannya. Apabila tampak kemaslahatan dan kebaikannya, barulah ia berbicara. Apabila tidak, sebaiknya ia menahan lisannya.” (al-Minhaj, 18/318)

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah dalam kitabnya, Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (1/339—340) menukilkan ucapan tiga orang sahabat yang mulia berikut ini.

  • Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu memegang lisannya dan berkata, “Ini yang akan mengantarkan aku ke neraka.”
  • Umar ibnul Khaththab radhiyallahu anhu berkata, “Siapa yang banyak bicara, akan sering jatuh (dalam kesalahan). Siapa yang sering jatuh, dia akan banyak dosanya. Dan siapa yang banyak dosanya, niscaya neraka lebih pantas baginya.”
  • Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata, “Demi Allah yang tidak ada sembahan yang boleh diibadahi kecuali Dia! Tidak ada di muka bumi ini yang lebih pantas untuk dipenjara dalam waktu yang panjang selain lisan.”

Saudariku, ingatlah firman Allah ‘azza wa jalla,

مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkannya kecuali di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 18)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan perkataan Ibnu Abbas tentang ayat di atas, “Malaikat itu mencatat setiap ucapannya, yang berupa kebaikan atau kejelekan.” (Tafsir al-Qur`anil ‘Azhim, 7/308)

Ingatlah, semuanya tercatat dan tersimpan dalam catatan amal Anda. Berbahagialah Anda apabila catatan amal Anda dipenuhi dengan kebaikan, ucapan yang baik, dan amal saleh. Tentu janji Allah subhanahu wa ta’ala berupa surga akan menanti.

Sebaliknya, celaka Anda apabila catatan amal Anda dipenuhi ucapan kosong, sia-sia lagi mengandung dosa dan amal yang buruk. Tentu ancaman neraka menanti.

Apabila demikian keadaannya, ke mana Anda hendak menuju, ke surga ataukah ke neraka? Tentu saja, tanpa ragu Anda ingin menjadi penghuni surga. Maka dari itu, jangan biarkan lisan Anda menggelincirkan Anda ke dalam jurang kebinasaan yang tiada bertepi.


Catatan Kaki

[1] Maksudnya, ia menunaikan kewajiban lisannya berupa mengucapkan apa yang wajib diucapkannya atau diam dalam hal yang tidak bermanfaat.

[2] Ia menunaikan kewajiban kemaluannya dengan meletakkannya pada tempat yang halal dan menahannya dari yang haram. Demikian diterangkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari (11/374—375).

[3] Kalimat seperti ini biasa diucapkan oleh orang-orang Arab tanpa memaksudkan maknanya.

Ditulis oleh Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyah

sumber : https://asysyariah.com/jagalah-lisanmu/

Apakah Salat yang Tidak Khusyuk Harus Diulangi?

Pertanyaan:

Saya bertanya kepada Anda tentang khusyuk dalam salat. Ketika saya memulai salat, saya berniat untuk khusyuk dalam salat, tidak melamun dalam bagian salat mana pun atau memikirkan hal lain di luar salat. Hal ini agar saya tidak kehilangan pahala salat dan supaya Allah menerima salat itu, insyaallah.

Namun, tiba-tiba saya mendapati diriku telah memikirkan banyak hal, baik itu tentang makanan, minuman, pekerjaan yang saya lakukan, atau sesuatu yang saya lupakan lalu tiba-tiba saya mengingatnya dalam salat. Tiba-tiba saya sudah dalam kondisi sujud atau rukuk, dan berzikir kepada Allah, tapi hatiku tidak merasakan kekhusyukannya. Saya pun beristigfar dan melanjutkan salat. 

Namun, saat telah selesai salat, saya merasa berdosa dan khawatir salatku tidak diterima, sehingga saya mengulangi salat dengan tekad untuk khusyuk di dalamnya, dan saya memohon perlindungan kepada Allah dari setan. Namun, terkadang bahkan dengan mengulangi salat, tetap saja yang terjadi adalah seperti apa yang terjadi pada salat yang pertama. Saya hanya bisa terduduk dan memohon ampun kepada Allah, dan saya sudah merasa berat untuk mengulangi salatku untuk yang ketiga kalinya.

Saya minta agar Anda membimbing saya. Apa yang harus saya lakukan, apakah saya mengulangi salat itu adalah langkah yang benar? Atau tidak perlu mengulangi salat dan cukup beristigfar dan bertekad untuk salat dengan khusyuk pada salat fardu berikutnya?

Terima kasih, semoga Allah membalas Anda dengan segala kebaikan.

Jawaban:

Segala puji hanya bagi Allah. Selawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, dan kepada keluarga serta para sahabat beliau. Amma ba’du.

Ketahuilah bahwa percakapan dalam hati ketika salat—meskipun berlangsung lama—tidaklah membatalkan salat. Dan pikiran-pikiran yang terlintas saat salat tidak mempengaruhi keabsahan salat. Khusyuk dalam salat dan fokus padanya merupakan hal yang disunahkan, bahkan menjadi sunah yang paling ditekankan, tapi kekurangan dalam khusyuk tidak menjadi pembatal salat. Hal ini ditunjukkan dalam banyak hadis.

An-Nawawi dalam Syarh al-Muhadzdzab menjelaskan, “Dalam salat, disunahkan khusyuk, tenang, meresapi setiap bacaan, zikir, dan hal-hal yang berkaitan dengan salat, dan menghindari pikiran-pikiran tentang hal yang tidak berkaitan dengan salat. Namun, jika seseorang banyak memikirkan hal yang tidak berkaitan dengannya, salatnya tidak batal, hanya saja itu dimakruhkan, baik itu berpikir tentang hal yang mubah maupun haram seperti meminum khamr.

Sebelumnya telah kami paparkan adanya suatu pendapat yang lemah dalam pembahasan tentang perbuatan pada bab ini, yaitu apabila pikiran atau percakapan batin terlalu banyak, maka salat menjadi batal. Pendapat ini merupakan pendapat yang menyimpang dan tertolak. Terdapat ijmak bahwa salat itu tidak batal. Adapun pendapat yang menyatakan bahwa itu makruh, maka memang disepakati demikian.

Masalah ini telah dibahas dengan dalil-dalilnya dari banyak hadis sahih dalam pembahasan-pembahasan yang tersebar dalam akhir bab tata cara salat. Di antara dalil yang dipakai oleh para ulama bahwa salat tidak batal akibat pikiran/lamunan adalah hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ بِهِ

‘Sesungguhnya Allah memaafkan umatku atas apa yang terlintas dalam hati mereka, selama mereka tidak mengamalkannya atau mengucapkannya.’ (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Juga hadis dari Uqbah bin al-Harits radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, ‘Aku pernah salat Asar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau salam dari salat, beliau bergegas berdiri dan menemui salah satu istri beliau. Kemudian beliau keluar lagi dan melihat wajah orang-orang yang terheran karena beliau yang buru-buru. Lalu beliau bersabda,

ذُكِرَتْ وَأَنَا فِي الصَّلَاةِ تِبْرًا عِنْدَنَا، فَكَرِهْتُ أَنْ يُمْسِيَ أَوْ يَبِيتَ عِنْدَنَا، فَأَمَرْتُ بِقِسْمَتِهِ

‘Aku teringat ketika aku sedang salat bahwa ada emas batangan di tempat kami. Aku tidak suka emas itu tetap berada di tempat kami hingga sore atau bermalam di tempat kami, maka aku memerintahkan agar emas itu dibagikan.’” (HR. al-Bukhari)

Di antara dalil lainnya juga adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kain ibjaniyah,

إِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا فِي صَلَاتِي

“Sungguh kain itu telah melalaikanku dalam salatku tadi.” Juga sabda beliau tentang tirai milik Aisyah,

فَإِنَّ تَصَاوِيرَهُ لَمْ تَزَلْ تَعْرِضُ لِي فِي صَلَاتِي

“Sungguh gambar-gambarnya terus terbayang olehku dalam salat.”

Dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan bahwa tebersitnya pikiran tentang urusan dunia ketika salat tidak membatalkan salat tersebut. Apabila engkau telah memahami hal ini, maka ketahuilah juga bahwa sebagian ulama menganjurkan untuk mengulangi salat apabila tidak ada kekhusyukan dalam salat, tapi sebagian ulama lainnya tidak menganjurkan hal tersebut.

Dalam kitab Mawahib al-Jalil disebutkan dua pendapat tersebut, “Barang kali masalah ini dapat dikaitkan dengan orang yang berulang kali mengulangi salat karena banyaknya gangguan, seperti tidak menghadap kiblat, tidak khusyuk, dan lain sebagainya. Ini merupakan masalah yang diperselisihkan oleh para ulama Qairawan, apakah perbuatan itu terpuji atau justru sikap yang berlebihan dalam menjalankan agama.”

Namun, yang dipahami dari ucapan para ulama mazhab Syafi’i adalah dianjurkan untuk mengulangi salat yang di dalamnya lebih banyak pikiran tentang urusan duniawi dan terus-menerus mengikuti percakapan batin. Mereka menegaskan dianjurkannya bagi seseorang untuk mengulangi setiap salat yang diperselisihkan ketidakabsahannya, agar dia melaksanakan salat yang tidak lagi diperselisihkan. Dan perbedaan pendapat tentang kewajiban salat dengan khusyuk dan ketidakabsahan salat tanpa khusyuk adalah permasalahan yang sudah masyhur.

Disebutkan dalam kitab Hasyiyah al-Jamal, “Dianjurkan mengulangi salat yang dilakukan di tempat pemandian, meskipun dengan salat sendiri. Hal ini untuk keluar dari perselisihan dengan pendapat Imam Ahmad (yang menganggapnya batal). Demikian juga setiap salat yang diperselisihkan keabsahannya, dianjurkan untuk diulangi dengan cara yang terbebas dari perselisihan tersebut, meskipun harus mengulangi salat itu sendirian atau sudah keluar dari waktunya.”

Namun, yang menurut kita lebih benar—dan ilmu yang sebenarnya hanya pada Allah Ta’ala—bahwa engkau tidak perlu mengulangi salat dalam keadaan tersebut, selagi engkau telah menjalankan seluruh syarat dan rukun salat. Diriwayatkan dalam hadis sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melarang pengulangan salat yang sama dua kali dalam satu hari. (HR. an-Nasa’i dari riwayat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Ini adalah hadis umum yang tidak ada pengecualiannya, kecuali yang dikhususkan oleh dalil tersendiri, seperti pengulangan salat secara berjamaah. Disebutkan dalam kitab Faidh al-Qadir, “(Disebutkan dalam hadis), ‘Janganlah kalian melakukan salat…’ dan dalam redaksi riwayat Ahmad, ‘Tidak ada salat…’ dan dalam redaksi riwayat lainnya, ‘Tidak diulangi salat dua kali dalam sehari.’ Yakni janganlah kalian melakukannya dua kali karena menganggap itu wajib, jangan pula mengqada salat-salat fardu hanya karena khawatir adanya kekurangan dalam salat yang telah dikerjakan.

Adapun orang yang salat sendirian, lalu mengulangi salatnya secara berjemaah, maka itu dibolehkan, bahkan itu merupakan sunah menurut Imam as-Syafi’i dalam salat apa pun, termasuk salat Magrib, tapi ini berbeda dengan pendapat Imam Ahmad.”

Lagi pula, tidak ada jaminan bahwa pada salat yang engkau ulang itu tidak akan menimpamu persoalan serupa dengan yang menimpamu pada salat yang pertama, sehingga urusan itu berlarut-larut, dan akhirnya menjerumuskanmu ke dalam kesempitan. Ini juga bisa membuatmu merasa waswas yang merupakan salah satu penyakit yang paling buruk. Selain itu juga, pikiran yang terlintas di benak orang yang salat adalah hal yang hampir tidak ada seorang pun yang terbebas darinya. Tidak ada riwayat yang menyebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada orang yang mengalami itu untuk mengulangi salatnya. Padahal gangguan semacam ini sangat umum dialami banyak orang.

Hanya saja, engkau harus bersungguh-sungguh melatih diri untuk mendapatkan kekhusyukan dalam salat, mengusir pikiran-pikiran yang muncul ketika sedang salat, dan tamballah kekurangan yang terjadi dalam salat dengan memperbanyak salat-salat sunah, karena ia dapat menyempurnakan kekurangan dalam salat-salat fardu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، وَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ قَالَ الرَّبُّ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ، فَيُكَمَّلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الْفَرِيضَةِ، ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ

“Amalan pertama yang akan diperhitungkan dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salatnya. Jika salatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Namun, jika salatnya rusak, sungguh ia telah merugi dan gagal. Jika terdapat kekurangan dalam salat wajibnya, Allah berfirman, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki salat sunah?’ Maka salat sunah itu digunakan untuk menyempurnakan kekurangan dalam salat wajibnya. Kemudian seluruh amalnya akan diperlakukan dengan cara yang sama.” (HR. at-Tirmidzi, dan beliau menilai hadis ini hasan garib. Diriwayatkan juga oleh an-Nasa’i dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Wallahu a’lam.

Sumber:

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/136409/هل-تعاد-الصلاة-لترك-الخشوع