10 Nasihat Ibnul Qayyim Untuk Bersabar Agar Tidak Terjerumus Dalam Lembah Maksiat

Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul paling mulia. Amma ba’du.

Berikut ini sepuluh nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah untuk menggapai kesabaran diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat:

Pertama, hendaknya hamba menyadari betapa buruk, hina dan rendah perbuatan maksiat. Dan hendaknya dia memahami bahwa Allah mengharamkannya serta melarangnya dalam rangka menjaga hamba dari terjerumus dalam perkara-perkara yang keji dan rendah sebagaimana penjagaan seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya demi menjaga anaknya agar tidak terkena sesuatu yang membahayakannya.

Kedua, merasa malu kepada Allah… Karena sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari pandangan Allah yang selalu mengawasi dirinya dan menyadari betapa tinggi kedudukan Allah di matanya. Dan apabila dia menyadari bahwa perbuatannya dilihat dan didengar Allah tentu saja dia akan merasa malu apabila dia melakukan hal-hal yang dapat membuat murka Rabbnya… Rasa malu itu akan menyebabkan terbukanya mata hati yang akan membuat Anda bisa melihat seolah-olah Anda sedang berada di hadapan Allah…

Ketiga, senantiasa menjaga nikmat Allah yang dilimpahkan kepadamu dan mengingat-ingat perbuatan baik-Nya kepadamu.

Apabila engkau berlimpah nikmat

maka jagalah, karena maksiat

akan membuat nikmat hilang dan lenyap

Barang siapa yang tidak mau bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah kepadanya maka dia akan disiksa dengan nikmat itu sendiri.

Keempat, merasa takut kepada Allah dan khawatir tertimpa hukuman-Nya.

Kelima, mencintai Allah… karena seorang kekasih tentu akan menaati sosok yang dikasihinya… Sesungguhnya maksiat itu muncul diakibatkan oleh lemahnya rasa cinta.

Keenam, menjaga kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara kehormatan dan kebaikannya… Sebab perkara-perkara inilah yang akan bisa membuat dirinya merasa mulia dan rela meninggalkan berbagai perbuatan maksiat…

Ketujuh, memiliki kekuatan ilmu tentang betapa buruknya dampak perbuatan maksiat serta jeleknya akibat yang ditimbulkannya dan juga bahaya yang timbul sesudahnya yaitu berupa muramnya wajah, kegelapan hati, sempitnya hati dan gundah gulana yang menyelimuti diri… karena dosa-dosa itu akan membuat hati menjadi mati…

Kedelapan, memupus buaian angan-angan yang tidak berguna. Dan hendaknya setiap insan menyadari bahwa dia tidak akan tinggal selamanya di alam dunia. Dan mestinya dia sadar kalau dirinya hanyalah sebagaimana tamu yang singgah di sana, dia akan segera berpindah darinya. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang akan mendorong dirinya untuk semakin menambah berat tanggungan dosanya, karena dosa-dosa itu jelas akan membahayakan dirinya dan sama sekali tidak akan memberikan manfaat apa-apa.

Kesembilan, hendaknya menjauhi sikap berlebihan dalam hal makan, minum dan berpakaian. Karena sesungguhnya besarnya dorongan untuk berbuat maksiat hanyalah muncul dari akibat berlebihan dalam perkara-perkara tadi. Dan di antara sebab terbesar yang menimbulkan bahaya bagi diri seorang hamba adalah… waktu senggang dan lapang yang dia miliki… karena jiwa manusia itu tidak akan pernah mau duduk diam tanpa kegiatan… sehingga apabila dia tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat maka tentulah dia akan disibukkan dengan hal-hal yang berbahaya baginya.

Kesepuluh, sebab terakhir adalah sebab yang merangkum sebab-sebab di atas… yaitu kekokohan pohon keimanan yang tertanam kuat di dalam hati… Maka kesabaran hamba untuk menahan diri dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung dengan kekuatan imannya. Setiap kali imannya kokoh maka kesabarannya pun akan kuat… dan apabila imannya melemah maka sabarnya pun melemah… Dan barang siapa yang menyangka bahwa dia akan sanggup meninggalkan berbagai macam penyimpangan dan perbuatan maksiat tanpa dibekali keimanan yang kokoh maka sungguh dia telah keliru.

***

Diterjemahkan dari artikel berjudul ‘Asyru Nashaa’ih libnil Qayyim li Shabri ‘anil Ma’shiyah, http://www.ar.islamhouse.com

Alih Bahasa: Abu Muslih Ari Wahyudi
Sumber: https://muslim.or.id/307-10-nasihat-ibnul-qayyim-untuk-bersabar-agar-tidak-terjerumus-dalam-lembah-maksiat.html

Mengapa Allah Mengujimu?

Ujian, musibah, dan kesulitan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindar dari ujian, baik ia seorang mukmin maupun bukan, kaya maupun miskin, tua maupun muda. Sayangnya, banyak orang memahami ujian dengan cara yang keliru. Mereka menganggap ujian sebagai tanda Allah Ta’ala membenci mereka, atau sebagai hukuman yang tidak adil. Padahal, di balik setiap ujian yang Allah tetapkan, tersimpan hikmah yang sangat besar dan jalan menuju derajat yang tinggi di sisi-Nya.

Allah Ta’ala telah menurunkan Al-Qur’an sebagai obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Al-Qur’an bukan hanya bacaan yang mendatangkan pahala, tetapi juga syifa’ (penawar) bagi segala penyakit hati, termasuk kecemasan, kesedihan, dan kegelisahan yang muncul saat ujian datang.

Allah Ta’ala berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra: 82)

Membekali diri

Allah Ta’ala tidak membiarkan hamba-Nya terkejut dan panik ketika ujian datang. Sebelum ujian itu tiba, Allah telah mengumumkannya berkali-kali di dalam Al-Qur’an. Bahkan, Allah memulai firman-Nya dengan sumpah yang menegaskan kepastian ujian tersebut.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Ikhwah fillah, mari kita perhatikan kata lanabluwannakum yang menunjukkan sumpah Allah Ta’ala ini. Bahwa ujian akan menimpa setiap manusia. Allah memberitahukan hal ini agar kita selalu siap dan tidak terkejut ketika ujian benar-benar terjadi. Sebagaimana seorang guru yang mengumumkan ujian seminggu sebelumnya, maka murid-muridnya akan mempersiapkan diri dengan baik. Demikian pula seorang mukmin, ia harus selalu siap menghadapi ujian dengan iman, sabar, dan doa.

Ujian yang Allah sebutkan dalam ayat ini mencakup lima kategori, yaitu: rasa takut, rasa lapar, kekurangan harta, kehilangan jiwa, dan kekurangan buah-buahan atau rezeki. Tidak ada kategori keenam. Semua musibah yang terjadi dalam hidup manusia—baik besar maupun kecil—pasti masuk dalam salah satu dari lima kategori ini. Maka, ketika seorang mukmin ditimpa salah satunya, ia tidak perlu merasa bahwa dirinya sedang dihukum atau ditinggalkan Allah. Justru, itulah saatnya ia menunjukkan kualitas imannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa berat ringannya ujian seseorang sebanding dengan kadar imannya. Semakin kuat iman seseorang, semakin berat ujian yang akan dihadapinya. Sebaliknya, jika imannya lemah, ujiannya akan disesuaikan dengan kadar imannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُبْتَلَى عَلَى قَدْرِ إِيمَانِهِ، فَإِنْ كَانَ إِيمَانُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي إِيمَانِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى قَدْرِ إِيمَانِهِ

“Sesungguhnya seseorang benar-benar diuji sesuai kadar imannya. Jika imannya kuat, maka ujiannya berat; jika imannya lemah, maka ia diuji sesuai kadar imannya.” (HR. Ibnu Majah no. 4023, disahihkan oleh Al-Albani)

Ikhwah fillah. Parhatikanlah! Hadis ini memberikan kabar gembira sekaligus peringatan. Kabar gembiranya adalah, jika ujian terasa berat, itu pertanda iman kita sedang kuat dan Allah ingin mengangkat derajat kita. Peringatannya adalah, jangan sampai kita menjadi lemah dan mengeluh, karena itu hanya akan menambah beban tanpa mendatangkan pahala. Allah juga menegaskan bahwa Dia tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kesanggupannya.

Allah Ta’ala berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Maka, ketika ujian datang, yakinlah bahwa kita mampu melewatinya dengan pertolongan Allah. Ujian itu bukan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk menempa kita menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih dekat kepada Allah, dan lebih siap meraih surga-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, Allah akan memberinya ujian.” (HR. Bukhari no. 5645)

Jangan berkata “seandainya”

Ketika ujian datang, manusia dapat menyikapinya dengan salah satu dari empat sikap. Sikap pertama adalah marah dan tidak rida kepada Allah. Sikap ini haram dan hanya akan menambah dosa serta menghapus pahala. Sikap kedua adalah sabar, yaitu menahan diri dari keluh kesah dan tetap menjalankan kewajiban. Sabar dalam menghadapi ujian hukumnya wajib. Sikap ketiga adalah rida, yaitu menerima ujian dengan lapang dada, tidak merasa keberatan, dan melihat ada atau tidaknya ujian itu sama saja di hadapan Allah. Sikap keempat adalah syukur, yaitu berterima kasih kepada Allah atas ujian yang menimpa, karena yakin bahwa di baliknya ada kebaikan yang besar. Inilah tingkatan tertinggi yang hanya dapat dicapai oleh hamba-hamba yang hatinya dipenuhi cahaya iman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ

“Dan sabar adalah cahaya.” (HR. Muslim no. 223)

Salah satu kunci untuk bisa sabar dan rida adalah dengan tidak mengatakan “seandainya“. Ketika musibah terjadi, banyak orang berkata, “Seandainya aku tidak pergi ke sana,” atau “Seandainya aku melakukan ini, pasti tidak akan terjadi.” Ucapan seperti ini dilarang karena membuka pintu setan dan melemahkan iman kepada takdir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِذَا أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau mengatakan, ‘Seandainya aku melakukan ini dan itu.’ Akan tetapi katakanlah, ‘Allah telah menakdirkan; dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.’ Karena sesungguhnya (kata) ‘seandainya’ membuka amal setan.” (HR. Muslim no. 2664)

Ucapan yang benar ketika musibah menimpa adalah “Qaddarallahu wa maa sya’a fa’ala”—Allah telah menakdirkan; dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan. Dengan ucapan ini, hati menjadi tenang karena yakin bahwa apa yang menimpa kita tidak akan pernah meleset; dan apa yang ditakdirkan tidak menimpa kita, tidak akan pernah mengenai kita. Inilah hakikat iman kepada takdir. Barangsiapa yang meyakini hal ini, ia sedang berada di jalan kesabaran. Dan barangsiapa yang masih saja berkata “seandainya”, maka imannya kepada takdir perlu diperbaiki.

Untuk mencapai tingkat alhamdulillah—bersyukur kepada Allah atas ujian—kita perlu melatih pandangan kita. Jangan fokus pada apa yang hilang, tetapi fokuslah pada apa yang masih tersisa. Jika Allah mengambil satu anggota tubuh, lihatlah anggota tubuh lain yang masih berfungsi. Jika Allah mengambil satu anak, lihatlah anak-anak lain yang masih ada. Jika Allah mengurangi harta, lihatlah kesehatan, keluarga, dan nikmat iman yang masih melekat. Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’” (QS. Al-Baqarah: 156)

Ucapan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un bukan hanya untuk kematian, tetapi untuk setiap musibah. Maknanya sangat dalam, bahwa kita milik Allah, maka Allah berhak melakukan apa saja terhadap milik-Nya dengan ilmu, hikmah, dan tanpa kezaliman. Dan kita akan kembali kepada-Nya untuk menerima pahala atas kesabaran kita. Dengan memahami makna ini, hati akan tenang dan lisan akan terjaga dari keluh kesah. Inilah pondasi sabar yang sejati.

Pahala tanpa batas

Setelah Allah menyebutkan ujian yang menakutkan, Dia mengakhiri ayat dengan kabar gembira. Allah Ta’ala berfirman,

أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157)

Orang-orang yang sabar akan mendapatkan shalawat dari Allah, yaitu pujian dan penyebutan nama mereka di hadapan para malaikat mulia. Mereka juga mendapatkan rahmat yang akan menghilangkan kesulitan dan mendatangkan pertolongan. Dan mereka mendapat petunjuk dalam setiap langkah, ucapan, dan keputusan. Inilah balasan yang sangat besar bagi orang yang bersabar. Bahkan, pahala mereka tidak terbatas. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Selain pahala tanpa batas, Allah juga menjanjikan pengganti yang lebih baik bagi siapa saja yang mengucapkan doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Doa itu adalah,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

“Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah lalu mengucapkan apa yang Allah perintahkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Allahumma’jurni fi musibati wa akhlif li khairan minha’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala atas musibahku dan gantikanlah untukku dengan yang lebih baik darinya), kecuali Allah akan menggantikan untuknya dengan yang lebih baik.” (HR. Muslim no. 918)

Hadis ini dibuktikan oleh Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Ketika suaminya, Abu Salamah, wafat, ia mengucapkan doa tersebut. Awalnya ia berkata, “Siapa yang lebih baik dari Abu Salamah?” Namun, karena ia yakin dengan janji Nabi, ia tetap mengucapkannya. Allah kemudian menggantikan Abu Salamah dengan seorang suami yang jauh lebih baik, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Ummu Salamah pun menjadi salah satu Ummahatul Mukminin.

Setiap ujian juga menjadi sarana penghapus dosa dan pengangkat derajat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, dan duka, sampai duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari no. 5641, Muslim no. 2573)

Bahkan, besarnya pahala tergantung besarnya ujian. Allah menguji hamba yang dicintai-Nya untuk mengangkat derajat mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya ujian. Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Maka barangsiapa rida, baginya keridaan Allah; dan barangsiapa marah, baginya kemarahan Allah.” (HR. Tirmidzi no. 2396, Ibnu Majah no. 4031; dihasankan oleh Al-Albani)

Tanda kecintaan Allah

Ikhwah fillah, ujian adalah bagian dari kehidupan yang telah Allah umumkan jauh sebelum ia datang. Allah menguji kita bukan pula pertanda bahwa Allah membenci kita, melainkan tanda kecintaan dan kehendak baik Allah kepada hamba-Nya. Setiap ujian yang menimpa seorang mukmin—baik berupa rasa takut, lapar, kehilangan harta, jiwa, maupun rezeki—adalah kesempatan untuk meraih pahala yang tidak terbatas, penggantian yang lebih baik, dan derajat yang tinggi di surga. Kunci utamanya adalah sabar, rida, dan syukur, serta menjauhi ucapan “seandainya” yang hanya membuka pintu setan.

Maka, ketika ujian datang, janganlah melihatnya sebagai kerugian. Bagi seorang mukmin, setiap kerugian di dunia adalah keuntungan di akhirat. Ucapkanlah Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu iringi dengan doa Allahumma’jurni fi musibati wa akhlif li khairan minha. Yakinlah bahwa Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya, dan Dia selalu bersama orang-orang yang sabar. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar, rida, dan bersyukur, serta memasukkan kita ke dalam surga-Nya yang penuh kenikmatan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

***

Penulis: Fauzan Hidayat

sumber: https://muslim.or.id/117170-mengapa-allah-mengujimu.html

Shalat Malam Adalah Kebiasaan Orang Shalih

Tentu kita sangat ingin menjadi orang yang shalih dan dinilai sebagai hamba yang shalih di sisi Allah. Salah satu kebiasaan orang shalih adalah melakukan shalat malam. Perlu diperhatikan bahwa yang namanya “kebiasaan” berarti hal yang cukup sering dilakukan. Bagaimana dengan orang yang merasa diri shalih tetapi tidak pernah shalat malam atau jarang sekali shalat malam? Semoga kita termasuk hamba yang sering shalat malam.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﻘِﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﺩَﺃْﺏُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴْﻦَ ﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْ، ﻭَﻫُﻮَ ﻗُﺮْﺑَﺔٌ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ، ﻭَﻣُﻜَﻔِّﺮَﺓٌ ﻟِﻠﺴَّﻴِّﺌَﺎﺕِ، ﻣَﻨْﻬَﺎﺓٌ ﻋَﻦِ ﺍْﻹِﺛْﻢِ

“Lakukanlah shalat malam oleh kalian, karena hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian. Ia pun dapat mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menghapus segala kesalahan dan mencegah dari perbuatan dosa.” [HR. Tirmidzi, Hadist hasan]

Makna dari kata “da’bu” (ُ ﺩَﺃْﺏُ) adalah (ْ ﻋَﺎﺩَﺗُﻬُﻢْ ﻭَﺷَﺄْﻧُﻬُﻢْ) yaitu  kebiasaan dan hal yang menjadi perhatian. Ini adalah perhatian orang shalih, yaitu nemperhatikan shalat malam mereka, bahkan sebagian orang shalih menjadikan shalat malam sebagai salah satu gambaran kondisi keimanan mereka. Apabila mereka melakukan maksiat dan dosa, maka iman mereka akan turun dan akan sulit bangun shalat malam.

Hasan Al-Basri berkata,

ﺇﻥ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻟﻴﺬﻧﺐ ﺍﻟﺬﻧﺐ ﻓﻴﺤﺮﻡ ﺑﻪ ﻗﻴﺎﻡ ﺍﻟﻠﻴﻞ

“Sesungguhnya seseorang itu ketika berbuat dosa, bisa jadi akan diharamkan (susah melakukan) shalat malam.” [Al-Mujalasah wa Jawahirul Ilmi no. 403]

Ciri hamba Allah “ibadurrahman” adalah  melakukan shalat malam, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺒِﻴﺘُﻮﻥَ ﻟِﺮَﺑِّﻬِﻢْ ﺳُﺠَّﺪًﺍ ﻭَﻗِﻴَﺎﻣًﺎ

“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Al-Furqaan/25: 64)

Salah satu ciri orang yang rajin ibadah dan memprioritaskan Allah adalah tidak malas dan tidak banyak tidur.

Allah berfirman,

ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻗَﻠِﻴﻠًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻣَﺎ ﻳَﻬْﺠَﻌُﻮﻥَ ﻭَﺑِﺎﻟْﺄَﺳْﺤَﺎﺭِ ﻫُﻢْ ﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻭﻥَ

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (Adz-Dzaariyaat/51: 17-18)

Waktu sepertiga malam terakhir memiliki banyak sekali keutamaan. Tentu orang yang shalih tidak akan melewati kesempatan ini. Perhatikan keutamaannya pada hadits berikut,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻟَﺴَﺎﻋَـﺔً، ﻻَ ﻳُﻮَﺍﻓِﻘُﻬَﺎ ﺭَﺟُـﻞٌ ﻣُﺴْﻠِﻢٌ ﻳَﺴْﺄَﻝُ ﺍﻟﻠﻪَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺍْﻵﺧِﺮَﺓِ ﺇِﻻَّ ﺃَﻋْﻄَﺎﻩُ ﺇِﻳَّﺎﻩُ، ﻭَﺫَﻟِﻚَ ﻛُﻞَّ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ .

“Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu tertentu, yang bila seorang muslim memohon kepada Allah dari kebaikan dunia dan akhirat pada waktu itu, maka Allah pasti akan memberikan kepadanya, dan hal tersebut ada di setiap malam.” [HR. Muslim]

Pada waktu inilah hati seorang muslim lebih lembut dan lebih mudah kembali kepada Allah serta akan ditingkatlan keimanannya. Ibnu Taimiyyah berkata,

الناس في آخر اليل يكون في قلوبهم من التوجه و التقرب و الرقة ما لا يوجد في غير ذالك الوقت

“Manusia pada akhir malam, keadaan hatinya akan fokus dan dekat kepada Allah serta lembut, di mana tidak didapati keadaan ini kecuali pada waktu tersebut.” [Majmu’ Fatawa 5/130]

Semoga kita termasuk hamba Allah yang shalih dan dipermudah untuk shalat malam

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen


Sumber: https://muslim.or.id/45998-shalat-malam-adalah-kebiasaan-orang-shalih.html

Menjaga Lingkungan Merupakan Pahala Jariyah

Terdapat hadis dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سَبْعٌ يَجْرِي لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ وَهُوَ فِي قَبْرِهِ: مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا، أَوْ كَرَى نَهْرًا، أَوْ حَفَرَ بِئْرًا، أَوْ غَرَسَ نَخْلًا، أَوْ بَنَى مَسْجِدًا، أَوْ وَرَّثَ مُصْحَفًا، أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ

“Ada tujuh yang pahalanya mengalir kepada hamba setelah kematiannya sedangkan ia berada di kuburnya, (yaitu) orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanam pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf, dan meninggalkan anak yang saleh yang memohonkan ampunan untuknya setelah kematiannya.” (HR. Ibnu Majah no. 242, dihasankan oleh Albani di dalam Sahih Al–Jami’ no. 2231)

Dari hadis ini, kita mengetahui bahwasanya ada tujuh pahala yang tetap mengalir setelah kematian seorang hamba sedangkan ia berada di kuburnya, di antaranya adalah mengalirkan sungai, menggali sumur, dan menanam pohon kurma yang ini merupakan kegiatan melestarikan lingkungan.

Mengalirkan sungai

Mengalirkan sungai di dalam hadis ini maksudnya adalah membuat percabangan dari mata air atau sungai yang besar, agar air tersebut bisa mengalir ke tempat-tempat yang dibutuhkan, baik untuk kebutuhan manusia (untuk minum, memasak, mencuci, menyirami persawahan dan perkebunan), dan juga untuk memberikan minum manusia maupun hewan ternak. Termasuk juga di dalam hal ini, mengalirkan air melalui pipa-pipa menuju tempat-tempat yang dibutuhkan. Terdapat hadis sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَاِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِيْ دَلْوِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Menuangkan air dari embermu ke dalam ember saudaramu itu adalah sedekah.” (HR. At-Tirmidzi no. 1956, disahihkan oleh Al-Albani di dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 576)

Bahkan ketika Sa’ad bin ‘Ubadah radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang sedekah apa yang terbaik, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

سَقْيُ الْمَاءِ

“Memberikan air.” (HR. An-Nasai no. 3664 disahihkan Al-Albani di dalam Sahih At-Targhib no. 962)

Menjaga kebersihan sungai

Dari hadis ini, mengalirkan air ke tempat-tempat yang dibutuhkan adalah sedekah jariyah. Maka, begitu pula menjaganya. Menjaga sungai dari sampah dengan tidak membuang sampah sembarangan ke sungai. Menjaga kebersihan sungai agar airnya tidak tercemar, sehingga airnya senantiasa bisa dimanfaatkan oleh banyak orang, membersihkan sungai yang kotor sehingga alirannya tidak tersumbat. Ini semua termasuk amal jariyah.

Termasuk dengan menggunakan eco-enzym dalam perihal mencuci dan lain-lain, karena ketika eco-enzym tersebut disiram ke sungai, maka dia mempunyai beberapa manfaat:

1) Menjernihkan dan membersihkan air.

2) Menurunkan polutan.

3) Meningkatkan kadar oksigen.

4) Menghilangkan bau tidak sedap.

5) Memperbaiki ekosistem air.

6) Membunuh kuman dan bakteri.

Menggali sumur

Bentuk lain dari menjaga lingkungan yang merupakan pahala jariyah adalah menggali sumur. Dikisahkan dari hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “Bahwasanya dahulu ada seorang laki-laki yang sangat kehausan, kemudian dia menemukan sumur. Lalu dia turun ke sumur tersebut, dan minum darinya, kemudian dia keluar. Tiba-tiba ada seekor anjing yang terengah-engah, dia menjilati tanah yang basah karena kehausan.

Kemudian lelaki tersebut berkata, ‘Sungguh anjing ini sangat kehausan sebagaimana aku tadi sangat kehausan.’ Kemudian dia turun ke dalam sumur, mengisi air dengan sepatunya, kemudian dia tahan sepatu tersebut dengan mulutnya sampai akhirnya dia naik dari sumur. Lalu ia beri minum anjing tersebut. Dan Allah berterima kasih kepadanya dan Allah mengampuninya.”

Setelah itu, sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, apakah terhadap hewan-hewan kami juga punya pahala?” Kemudian beliau menjawab,

فِيْ كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

“Di setiap hati (bagian tubuh) yang basah ada pahalanya.” (HR. Bukhari no. 2363 dan Muslim no. 2244)

Allah Ta’ala mengampuni dosa laki-laki ini karena dia sudah memberikan minum kepada seekor anjing, maka bagaimana pahala bagi orang yang menggali sumur sehingga sumur tersebut bisa melepaskan dahaga banyak orang dan bermanfaat bagi mereka?!

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ حَفَرَ مَاءً لَمْ يَشْرَبْ مِنْهُ كَبِدُ حَرَّى مِنْ جِنٍّ وَلَا إِنْسٍ وَلَا سَبُعٍ وَلَا طَائِرٍ إِلَّا آجَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang menggali sumur, tidaklah bagian tubuh yang kehausan meminumnya dari kalangan jin, manusia, hewan buas, dan burung, kecuali Allah memberikannya pahala di hari kiamat.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1292 dan Bukhari di dalam Tarikh-nya 1: 332, disahihkan oleh Al-Albani Shahih At-Targhib no. 271)

Selain menjadi sumber air bersih, menggali sumur juga mempunyai manfaat dalam menjaga lingkungan, di antaranya adalah:

1) Mengurangi genangan dan banjir.

2) Mencegah intrusi air laut.

3) Menambah cadangan air tanah.

Dengan menggali sumur, maka sumur tersebut bisa menjadi resapan air yang menggenang, dan bisa mencegah banjir. Selain itu, air hujan bisa terserap di dalam tanah, hal tersebut mencegah aliran air hujan ke laut, sehingga mencegah aliran air laut yang asin ke tanah. Air sumur yang merupakan air dari dalam tanah juga tingkat kontaminasi lebih rendah dibandingkan air sungai atau danau, sehingga lebih bersih.

Menanam pohon

Setiap orang yang menanam pohon yang bermanfaat untuk manusia, hewan, burung, maka itu adalah sedekah untuknya, dan akan sampai pahalanya ketika ia masih hidup, dan juga setelah kematiannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيْمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim yang menanam pohon, atau menanam tanaman, kemudian burung atau manusia atau hewan makan darinya, kecuali dari itu baginya sedekah.” (HR. Bukhari no. 2320 dan Muslim no. 1553)

Menanam pohon termasuk amalan yang pahalanya tetap mengalir setelah kematian. Di dalam hadis tersebut, tidak terbatas pohon apa yang ditanam, yang pasti harus memberikan manfaat kepada manusia atau hewan yang ada di sekitarnya. Namun, ada beberapa hadis yang mengkhususkan bahwa pohon yang ditanam adalah pohon kurma. Karena pohon kurma mempunyai manfaat yang banyak dan penuh dengan keberkahan. Setiap bagian dari pohon kurma tidak lepas dari manfaat untuk manusia maupun hewan. Buah kurma termasuk buah yang paling bermanfaat, manis dari buah kurma tidak ada yang menyamainya, begitu juga tunasnya yang mempunyai banyak manfaat untuk tubuh. Setiap bagian dari pohon kurma bisa dimanfaatkan. Kayunya bisa digunakan untuk mendirikan bangunan, dan lainnya. Oleh karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مِثْلُ الْمُؤْمِنِ مِثْلُ النَّخْلَةِ مَا أَخَذْتَ مِنْهَا مِنْ شَيْءٍ نَفَعَكَ

“Permisalan seorang mukmin sebagaimana pohon kurma. Apapun yang kau ambil darinya akan bermanfaat untukmu.” (HR. Ath-Thabrani di dalam Al-Mu’jam Al-Kubra no. 13514, disahihkan oleh Al-Albani di dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 2285)

Sehingga siapa pun yang menanam pohon, kemudian ia bagikan buahnya untuk kaum muslimin, maka pahalanya akan tetap selama buahnya ada yang memakannya, dan selama pohonnya dimanfaatkan baik oleh manusia maupun hewan.

Selain itu, menanam pohon juga mempunyai manfaat yang lainnya bagi lingkungan:

  1. Meningkatkan kualitas udara;
  2. Mengurangi erosi tanah;
  3. Mencegah banjir;
  4. Menjaga keanekaragaman hayati;
  5. Mengatur suhu;
  6. Menyimpan cadangan air;
  7. Mengurangi dampak perubahan iklim.

Dan masih banyak lagi manfaat dari menanam pohon

Maka, selain mempunyai berbagai manfaat dunia dari menjaga lingkungan, hal tersebut juga bermanfaat bagi seorang mukmin sebagai pahala jariyahnya. Tentu dengan meniatkan apa yang ia lakukan dari berbagai perbuatan menjaga lingkungan, mengharapkan rida Allah Ta’ala, agar apa yang ia lakukan bermanfaat untuk kaum muslimin, dan juga makhluk Allah yang lain di kehidupan mendatang setelah kematiannya. Allahul Muwaffiq.

***

Penulis: Triani Pradinaputri

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

Al-Badr, Abdurrazaq bin Abdil Muhsin. 2024. Asyrun Yajrii Tsawabuha Ba’dal Mamat. Maktabah Itqan. Madinah

Purwoko, Satria Adji. 2022. 7 Manfaat Menanam Pohon Untuk Kesehatan dan Lingkungan Hidup. Diakses pada tanggal 22 Oktober 2025.

Yusri, Nabila Hisanah. 2023. Kenali Ekoenzim, Sobat Lingkungan Yang Bermanfaat Bagi Air. Diakses pada tanggal 22 Oktober 2025.

Sumber: https://muslimah.or.id/31484-menjaga-lingkungan-merupakan-pahala-jariyah.html

Al-Qur’an adalah Sumber Ketenangan Hati

Dalam hidup kita pasti pernah merasakan kegundahan, kegalauan, dan kesedihan. Betapa banyak problematika hidup yang kita lalui terkadang membuat hati kita tidak tenang. Was-was terhadap masa depan, khawatir tentang suatu keadaaan, sedih atas musibah, dan gundah gulana ketika menghadapi masalah. Demikianlah realitas kehidupan, banyak kejadian yang membuat hati kita tidak tenang. Ketahuilah saudaraku, obat dari semua ini ada dalam Al-Qur’an. Ketenangan hati adalah dambaan setiap insan. Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber untuk mendapat ketenangan hati.

Fungsi Allah menurunkan Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.“ (QS. Yunus: 57)

Dalam ayat yang mulia ini, setidaknya Allah Ta’ala menyebutkan 4 fungsi Al-Qur’an, yaitu: mau’idzah (nasihat) dari Rabb kita, syifa’ (penyembuh) bagi penyakit hati, huda (sumber petunjuk), dan rahmat bagi orang beriman.

Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Di dalam Al-Qur’an terdapat peringatan tentang amalan yang menyebabkan murka Allah dan berdampak mendapat hukuman-Nya. Di dalamnya terdapat peringatan agar kita menjauhinya disertai penjelasan dampak buruk dan kerusakan yang ditimbulkan karenanya.

Al-Qur’an ini merupakan penyembuh bagi penyakit hati, baik berupa penyakit syahwat yang menghalangi manusia untuk tunduk kepada syariat, maupun penyakit syubhat yang mengotori keyakinan akidah.

Di dalam Al-Qur’an juga terdapat nasihat, motivasi, peringatan, janji, dan ancaman yang akan menimbulkan perasaan harap dan sekaligus takut di hati para hamba. Jika muncul dalam perasaannya motivasi untuk beramal kebaikan dan rasa takut untuk berbuat kemaksiatan, perasaan itu akan terus bisa tumbuh tumbuh. Hal ini karena orang tersebut selalu mengulang mengkaji makna Al-Qur’an, sehingga akan mendorong dirinya untuk lebih mendahulukan perintah Allah daripada keinginan nafsunya. Pada akhirnya, dia akan menjadi hamba yang lebih mencari rida Allah daripada nafsu syahwatnya sendiri.

Demikian pula berbagai penjelasan dan dalil yang ada dalam Al-Qur’an telah Allah sebutkan dengan sangat jelas dan gamblang. Hal ini akan menghilangkan setiap syubhat yang menghalangi kebenaran masuk dalam dirinya sehingga hatinya pun berada pada puncak derajat keyakinan dalam menerima kebenaran. Ketika hati itu sehat dan bebas dari penyakit, keadaannya akan diikuti oleh seluruh anggota badannya. Seluruh anggota badan akan jadi baik disebabkan baiknya hati dan akan menjadi rusak disebabkan rusaknya hati.

Al-Qur’an merupakan hidayah dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Yang dimaksud hidayah adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Rahmat merupakan dampak dari kebaikan dan kebajikan, dan balasan kebaikan di dunia maupun di akhirat, bagi mereka yang dibimbing olehnya. Hidayah adalah sarana yang paling penting, dan rahmat merupakan tujuan dan keinginan yang paling lengkap. Namun, tidak akan mendapat hidayah dan mendapat rahmat, kecuali orang beriman. Jika telah mendapat hidayah dan terwujud rahmat, maka kebahagiaan dan kemakmuran, keuntungan dan kesuksesan, kegembiraan dan kesenangan akan tercapai. (Taisir Karimi Ar-Rahman)

Al-Qur’an adalah sumber ketenangan hati

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah, hati menjadi tenteram.“ (QS. Ar-Ra’du: 28)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca Kitabullah, dan saling mengajarkan satu dan lainnya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,

تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ

“Ketenangan itu datang karena Al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah Ta’ala berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.“ (QS. Al-Isra’: 82)

Berpaling dari Al-Qur’an adalah sumber kesengsaraan

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.“ (QS. Thaha: 124)

Syekh Abu Bakar Al-Jazaairy rahimahulah menjelasakan, “(Dan barangsiapa berpaling dari mengingat-Ku), yaitu tidak mau beriman dengan Al-Qur’an dan mengamalkannya, maka ia akan memperoleh balasan dari Allah, baginya kehidupan yang sulit, yaitu berupa kesulitan yang menyempitkan jiwanya. Dan dia tidak merasa puas dan bahagia walaupun rezekinya luas. Di alam kubur dia akan merasakan kesempitan. Dan dia sengsara sepanjang hidup di alam barzakh. Dan dia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan buta. Dia tidak memiliki hujjah dan tidak memiliki penglihatan untuk menuntunnya.” (Aisaru At-Tafasiir)

Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menyebutkan bahwa para ulama ahli tafsir berpendapat  bahwasanya kehidupan yang sempit (مَعِيشَةً ضَنكاً) bagi orang yang berpaling dari Al-Qur’an bersifat umum, mencakup kesempitan kehidupan dunia berupa kekhawatiran, kecemasan, dan rasa sakit yang merupakan siksaan yang dirasakan di dunia, kesempitan di alam barzakh, dan juga kesempitan di alam akhirat. (Taisir Karimi Ar-Rahman)

***

Penulis: Adika Mianoki
Sumber: https://muslim.or.id/83971-al-quran-adalah-sumber-ketenangan-hati.html

Tercelanya Perdebatan yang Tidak Bermanfaat

Pada zaman sekarang perdebatan marak dimana-mana, baik dari yang berilmu ataupun yang tidak berilmu, semuanya berbicara atas nama agama, bahkan orang awam belum belajar agama secara mendalampun sudah ikut angkat suara dalam berdebat masalah agama. Dan menyedihkan lagi terkadang argumen yang diutarakan oleh sebagian orang yang gemar berdebat hanyalah bersandar kepada logika semata tanpa didasari oleh ilmu agama atau tanpa merujuk kepada dalil atau pendapat ulama.

Hal ini dipicu oleh banyak faktor, misalnya perbedaan pendapat dalam banyak permasalahan agama yang tidak memiliki titik temu dalam satu pendapat. Atau dipicu oleh sebagian kalangan yang memang gemar berdebat dengan mengkorek-korek titik perbedaan untuk menjadi bahan untuk diperdebatkan, sehingga permasalah sepele yang seharusnya bisa saling kita maklumi menjadi sesuatu yang besar yang harus dipermalasahkan.

Dan sebab yang paling fatal yang memicu perdebatan adalah fanatik buta kepada madzhab atau ustadz atau kelompok tertentu, seakan-akan hanya kelompok yang dianutnyalah yang mewakili kebenaran sedangkan yang lain salah. Dan fanatik seperti inilah yang sangat berbahaya dan membuat setan bersenang riang, karena orang yang fanatik buta adalah lahan subur bagi setan untuk menyesatkan manusia. Orang yang fanatik buta akan mudah menolak kebenaran jika berasal dari luar kelompoknya dan menerima kebatilan jika berasal dari dalam kelompoknya. Bahkan yang menghalangi orang-orang musyrik dari petunjuk kebenaran adalah fanatik buta kepada agama nenek moyang, padahal akal sehat mereka membenarkan agama yang dibawa oleh para rasul alaihimussholatu wassalam. Dan alasan yang selalu mereka utarakan adalah sebagaimana Allah ta’ala firmankan:

وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِم مُّقْتَدُونَ

“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 23).

Maka perdebatan dalam masalah agama harus dihindari jika tidak diniatkan untuk mencari atau menyampaikan kebenaran, karena madharatnya banyak. Apalagi jika hanya digunakan sebagai sarana untuk memenangkan diri sendiri atau kelompok dan mengalahkan orang lain. Begitu juga perdebatan dalam agama yang tidak didasari dengan ilmu dan dibangun diatas akal-akalan semata, karena orang yang demikian akan mudah diseret oleh setan ke jalan kesesatan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengancam orang yang menuntut ilmu dengan tujuan untuk berdebat. Ka’ab bin Malik radhiyallahu‘anhu berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan maksud untuk bisa mendebat ulama (untuk menampakkan keilmuannya di hadapan lainnya) atau untuk mendebat orang-orang bodoh (menanamkan keraguan pada orang bodoh) atau agar menarik perhatian yang lainnya (supaya orang banyak menerimanya), maka Allah akan memasukkannya kedalam neraka.” (HR. Tirmidzi).

Diantara perdebatan yang sangat dilarang adalah berdebat dalam masalah aqidah yang dapat menyusupkan keragu-raguan dalam  keimanan seseorang. Misalnya berdebat dalam masalah qadha’ dan qadar, atau sifat-sifat Allah, atau hal-hal ghaib lainnya yang tidak ada penjelasan secara mendetail tentang hakekatnya di dalam Al-Qur’an ataupun Sunnah.

Karena membahasnya secara mendalam serta berkecimpung dalam mencari-cari hakekatnya dapat menjerumuskan seseorang kedalam jurang keragu-raguan dan kebingungan yang tidak ada manfaatnya. Dan perdebatan semacam inilah yang menjerumuskan sebagian kelompok-kelompok sesat seperti mu’tazilah, jahmiyah, jabariyah, qadariyah dan lain-lain ke jurang kesesatan.

Demikian juga tercelanya berdebat dengan orang-orang jahil (awam) yang tidak memiliki ilmu tentang agama atau ilmunya sangat minim, karena berdebat dengan mereka tidak akan menyampaikan kita kepada kebenaran selain capek. Kecuali jika ingin menyampaikan ilmu dan kebenaran yang tidak bisa tersampaikan kecuali dengan cara berdebat. Itupun jika ada harapan bahwa orang tersebut akan mengikuti kebenaran yan disampaikan kepadanya, jika tidak maka lebih baik ditinggalkan agar tidak menimbulkan permusuhan. Allah ta’ala berfirman:

وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-Anfal: 199)

Oleh karena itu banyak hadits-hadits yang memperingati kita untuk menjauhi perdebatan. Dari Abu Umamah radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ: مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ

“Tidaklah suatu kaum tersesat setelah tadinya mereka berada di atas petunjuk kecuali karena mereka adalah kaum yang senang melakukan perdebatan.” Kemudian beliau membaca ayat ini, “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud berdebat saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (QS. Az-Zukhruf: 58) (HR. At-Tirmizi & Ibnu Majah)

<Dari sahabat yang sama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku akan menjamin sebuah rumah di tepi surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan meskipun dia yang benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan kedustaan walaupun dia sedang bergurau. Dan aku juga menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi siapa saja yang berakhlak baik.” (HR. Abu Daud no. 4800).

Ini adalah perintah untuk menghindari perdebatan, karena biasanya madharat perdebatan lebih besar dari manfaatnya. Bahkan tak jarang ia menumbuhkan kebencian dan permusuhan antara dua orang muslim atau dua orang saudara dan sebagainya yang sebelumnya tidak ada.

Maka perdebatan hendaknya dihindari. Oleh karena itu Imam Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah mengelompokkannya dari dosa-dosa besar, yaitu dalam kitabnya yang berjudul ‘Az-Zawajir ‘An Iqtirafil Kabair’ (Peringatan-peringatan dari perbuatan dosa-dosa besar), ia menulis satu bab yang berjudul: الْكَبِيرَةُ التَّاسِعَةُ وَالسِّتُّونَ: الْجِدَالُ وَالْمِرَاءُ وَهُوَ الْمُخَاصَمَةُ، وَالْمُحَاجَجَةُ، وَطَلَبُ الْقَهْرِ، وَالْغَلَبَةِ فِي الْقُرْآنِ أَوْ الدِّينِ (Dosa besar yang ke-69: ‘Perdebatan’, yaitu saling berselisih, beradu argument, mencari kemenangan dalam (membahas masalah) Al-Qur’an atau Agama).

Namun, bukan berarti berdebat dilarang secara mutlak, di sebagian keadaan ‘debat’ justru diperintahkan dan merupakan salah satu metode dalam berdakwah. Seperti berdebat dengan non muslim untuk menjelaskan kekeliruan agama mereka dan menjelaskan kebenaran islam, atau berdebat dengan orang islam yang berakidah sesat untuk mengajaknya kepada akidah yang benar dan lain sebagainya yang akan kita bahas pada artikel berikutnya.

Wallahu a’lam

Penulis Arinal haq

sumber : https://www.hisbah.net/tercelanya-perdebatan-yang-tidak-bermanfaat/

Mendo’akan Kedua Orangtua Adalah Bentuk Ketaatan Terhadap Perintah Allah

Syaikh Abdurrozzaq Al Badr hafizhohullah menjelaskan,

“Firman Allah Jalla wa ‘Alaa, ‘Wa qur robbir-hamhumaa kamaa robbayaani shoghiiro’ | dan katakanlah: ‘wahai Tuhanku, kasihilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil..’

Dan ini adalah hal paling utama yang hendaknya dido’akan oleh seorang anak kepada orangtuanya.

Hal paling utama yang hendaknya dido’akan oleh seorang anak kepada orangtuanya adalah sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah Allah Jalla wa ‘Alaa, karena Allah memerintahkan hal tersebut.

Allah berfirman, ‘Wa qur robbir-hamhumaa’ | dan katakanlah: ‘wahai Tuhanku, kasihilah keduanya..’

Ini adalah perintah dari Robb semesta alam, maka hendaknya hal ini diperhatikan. Hal paling utama yang hendaknya dido’akan oleh seorang anak kepada orang tuanya adalah hal yang diperintahkan Allah kepada kita di dalam Al-Qur’an: ‘Wa qur robbir-hamhumaa kamaa robbayaani shoghiiro’.

Do’a inilah yang hendaknya dipanjatkan oleh seorang anak kepada kedua orangtuanya, dan hendaknya ia memperbanyak do’a ini, baik orangtuanya masih hidup maupun sudah meninggal dunia .. baik ketika orangtuanya masih hidup maupun sudah meninggal..”

DO’A MEMOHON AMPUNAN UNTUK KEDUA ORANG TUA DAN KAUM MUKMININ

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku, dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari Kiamat). [Ibrâhîm/14:41].

Jangan lupa adab sebelum berdo’a :
– puji Allah dengan nama nama-Nya yang indah : contoh : yaa Hayyu yaa Qoyyum

– baca sholawat : contoh : Allaahumma sholli ‘alaa Muhammad

– mulailah berdo’a

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/75592