Kitabul Jami’ Bab Adab – Hadits 16 – Adab Makan (Larangan Berlebih-lebihan)

Hadits 16 – Adab Makan (Larangan Berlebih-lebihan)

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم  : كُلْ، وَاشْرَبْ، وَالْبَسْ، وَتَصَدَّقْ فِي غَيْرِ سَرَفٍ، وَلَا مَخِيلَةٍ . أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ, وَأَحْمَدُ, وَعَلَّقَهُ اَلْبُخَارِيُّ

Dari ‘Amr Ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, radhiyallāhu ‘anhum (semoga Allāh meridhai mereka) berkata, Rasūlullāh ﷺ bersabda, “Makanlah dan minumlah dan berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa berlebihan (isrāf) dan tanpa kesombongan.” (HR. Abū Dāwūd, Ahmad dan Al-Bukhāri meriwayatkan secara ta’liq)

Sesungguhnya Allāh ﷻ pada asalnya menghalalkan bagi hamba-hamba-Nya seluruh perkara dan rezeki yang baik. Makanan dan minuman, pakaian, tempat tinggal, tunggangan/kendaraan, dan seluruh kebaikan-kebaikan yang ada di atas muka bumi ini, hukum asalnya adalah halal. Allāh tidak akan mengharamkan bagi hamba-hamba-Nya kecuali yang mendatangkan kemudharatan, baik kemudharatan bagi agamanya, badannya, akalnya, harga dirinya, atau bagi hartanya.

Hadits yang akan kita bahasa ini juga memperkuat pernyataan bahwa seluruh perkara dan kesenangan yang baik di atas muka bumi ini dihalalkan oleh Allāh ﷻ.

Allāh ﷻ telah menyatakan dalam Al-Qurān,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dialah Allāh ﷻ yang telah menciptakan bagi kalian seluruh yang ada di atas muka bumi ini.”  (QS. Al-Baqarah: 29)

Jadi pada asalnya seluruh perkara yang baik di atas muka bumi ini hukumnya halal dan dipersilakan untuk dimanfaatkan. Akan tetapi, perkara-perkara baik yang hukum asalnya halal tersebut bisa jadi diubah hukumnya oleh Allāh menjadi haram kalau sudah mencapai tingkatan saraf (berlebihan) dan makhyalah (untuk kesombongan). Oleh karena itu, dalam hadits ini diperintahkan untuk menikmati karunia Allah di muka bumi  ini dengan dua syarat berikut ini;

  • Tidak boleh berlebih-lebihan.
  • Tidak boleh karena kesombongan.

Allāh ﷻ menyatakan dalam Al-Qurān,

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا

“Makanlah dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’rāf: 31)

Oleh karenanya, diperbolehkan menikmati makan dan minuman yang baik-baik dengan syarat tidak sampai derajat berlebih-lebihan dan tidak boleh dalam derajat kesombongan.

Apa bedanya antara saraf (berlebihan) dengan tabdzīr?

Ada dua perbedaan :

Pertama : Israf adalah bentuk berlebih-lebihan pada segala perkara, baik dalam infak atau amalan yang lain. Adapun tabdzir hanya berkaitan dengan berlebih-lebihan dalam harta. Dari sisi ini maka Isrof lebih umum dibandingkan tabdzir

Kedua : Jika berkaitan dengan infak maka Israf berkaitan dengan pengeluaran yang berlebihan pada perkara-perkara yang asalnya adalah mubah. Misalnya makanan dan minuman yang halal (asalnya boleh, tetapi karena berlebih-lebihan menjadi tidak boleh). Jadi saraf bukan pada perkara yang maksiat, melainkan pada perkara yang boleh tetapi berlebih-lebihan. Makanya Allāh mengatakan, “Makanlah dan minumlah dan janganlah kalian berlebih-lebihan.”

Adapun tabdzir maka berkaitan dengan kemaksiatan.

Misalnya:

  • Seseorang mengeluarkan hartanya pada hal-hal yang dilarang oleh Allāh ﷻ. Ini namanya mubadzdzir.
  • Seseorang yang mengeluarkan hartanya berlebih-lebihan pada perkara yang halal. Ini juga disebut dengan mubadzdzir.

Dari sisi ini maka tabdzir mencakup isrof juga, karena isrof juga adalah kemaksiatan.

Allāh berfirman,

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan sesungguhnya orang-orang yang melakukan tabdzīr adalah saudara-saudaranya syaithān.” (QS. Al-Isrā: 27)

Dari sisi ini maka tabdzir lebih umum mencakup berlebih-lebihan pada perkara yang haram/maksiat, dan juga mencakup isrof (berlebih-lebihan pada perkara yang asalnya boleh)

Oleh karenanya, silakan makan, minum dan bersedekah tapi jangan berlebih-lebihan dan juga karena kesombongan. Karena bisa jadi makanan bisa menghantarkan pada sikap berlebih-lebihan (terlalu banyak atau terlalu mahal). Sikap ini akan memberikan kemudharatan kepada tubuh. Seluruh yang berlebih-lebihan akan memberi kemudharatan pada tubuh.

Makanan juga bisa mengantarkan seseorang kepada kesombongan. Seperti seorang yang sengaja membeli makanan yang mahal kemudian dipamerkan kepada teman-temannya, diunggah dalam status Facebook/WA/IG-nya, dan sebagainya. Hal seperti ini termasuk kesombongan. Demikian pula orang yang hanya mau makan makanan yang mahal, bermerk, dan di tempat yang elit. Maka hal ini termasuk makhyalah (kesombongan) yang diharamkan oleh Allāh ﷻ.

Wallahu A’lam.

Baca lebih banyak di: https://firanda.com/4125-kitabul-jami-bab-adab-hadits-16-adab-makan-larangan-berlebih-lebihan.html

Lakukanlah Hal yang Bermanfaat

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata,

“Barang siapa beranggapan bahwa perkataannya merupakan bagian dari perbuatannya, (niscaya) perkataannya menjadi sedikit, kecuali dalam hal yang bermanfaat baginya.”

Umar bin Qais al-Mula’i rahimahullah berkata,

Seseorang melewati Luqman (al-Hakim) saat manusia berkerumun di sisinya. Orang tersebut berkata kepada Luqman, “Bukankah engkau dahulu budak bani Fulan?”

Luqman menjawab, “Benar.”

Orang itu berkata lagi, “Engkau yang dahulu menggembala (ternak) di sekitar gunung ini dan itu?”

Luqman menjawab, “Benar.”

Orang itu bertanya lagi, “Lalu, apa yang menyebabkanmu meraih kedudukan sebagaimana yang aku lihat ini?”

Luqman menjawab, “Selalu jujur dalam berucap dan banyak berdiam dari urusan-urusan yang tiada berfaedah bagi diriku.”

Abu Ubaidah meriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri rahimahullah bahwasanya beliau berkata,

“Termasuk tanda-tanda berpalingnya Allah dari seorang hamba adalah Allah menjadikan kesibukannya dalam hal-hal yang tidak berguna bagi dirinya.”

Sahl at-Tusturi rahimahullahu berkata,

“Barang siapa (suka) berbicara mengenai masalah yang tidak bermanfaat, niscaya diharamkan baginya kejujuran.”

Ma’ruf rahimahullah berkata,

“Pembicaraan seorang hamba tentang masalah-masalah yang tidak ada faedahnya merupakan kehinaan dari Allah (untuknya).”

(Jami’ul Ulum wal Hikam 1/290—294)

sumber : https://asysyariah.com/lakukanlah-hal-yang-bermanfaat/

Awas! Jangan Suka Bertanya Arti Mimpi

Terlalu Banyak Menafsirkan Mimpi

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Berikut diskusi kami dengan salah satu penanya yang resah memikirkan mimpinya. Semoga menjadi pelajaran bagi yang lain.

Pertanyaan:

Istri saya bermimpi sekitar jam 00.00 wib – 01.05 wib, isi mimpinya :

Istri saya melihat mayat bergelimpangan di jalan, dari mayat anak2 sampai orang dewasa, mayat2 tersebut sudah di pocongin, kondisi mayat berdarah2 dan sudah berair ” kayak mau busuk gitu “. setelah istri saya tersentak bangun sekitar jm 02-03 wib istri saya di tlp sama abang ipar saya dan adik ipar saya, mereka menanyakan kabar istri saya ” apa kabar km, di rumah baik2 saja kan ?”.

Yang mau saya tanyakan apa arti mimpi ini ?
sebelumnya terima kasih kalau Bapak/Ibu sudi membalasnya dengan cepat.

Hormat saya
Roy

Jawaban redaksi:

Mimpi menakutkan itu dari setan. sebaiknya dilupakan. 

Tanya Ulang:

kenapa pertanyaan saya tidak di jawab ???

Saya sudah menunggu dari tadi ???

Roy

Jawab ulang:

Mimpi menakutkan itu dari setan. sebaiknya dilupakan

Tanya Ulang (komentar):

Saya sudah menunggu dari tadi …

kayaknya tidak ada solusi yg saya terima …

mungkin ikhwa tidak mampu …

saya akan coba tanya sama yg lebih baik dan ahlinya saja …

sebelumnya terima kasih …

Assallamuallaikum …

Jawab Komentar:

Wa alaikumus salam

Anda bs tanyakan ke orang lain, tp bisa jadi ini beresiko dg keselamatan keluarga anda

Sebaiknya dilupakan saja mimpi itu, insyaaAllah lbh baik.

– – – – – – – – – – – – – – –

Demikian diskusi kami dengan salah satu penanya. Kami bertanggung jawab atas semua jawaban yang kami berikan kepada penanya, sejauh yang mampu kami pahami dan kami ketahui. Kami berusaha memberikan jawaban yang terbaik untuk kemaslahatan bersama.

Banyak sekali pembaca konsultasisyariah.com yang bertanya tentang tafsir mimpi, dan selalu kami berikan jawaban agar mimpi yang tidak menyenangkan itu dilupakan. Melupakan mimpi itu akan berakibat lebih baik bagi kehidupan orang itu.

Ada beberapa alasan mengapa sebaiknya mimpi semacam ini dilupakan,

Pertama, setan memiliki andil dalam mensuasanakan mimpi kita, sehingga dengan mudah dia membuat bayangan mimpi yang menakutkan bagi manusia, untuk mengganggu pikiran mereka.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرؤيا ثلاث حديث النفس وتخويف الشيطان وبشرى من الله

“Mimpi itu ada tiga macam: bisikan hati, ditakuti setan, dan kabar gembira dari Allah.” (HR. Bukhari 7017)

Ketika kita selalu mengikuti semua bayangan mimpi yang dibuat setan, bisa jadi ini akan semakin mengundang setan untuk mempermainkan kita dalam mimpi.

Kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyarankan agar mimpi buruk itu tidak diceritakan kepada orang lain, atau dilupakan.

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, bahwa ada seorang Arab badui datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bertanya,

“Ya rasulullah, aku bermimpi kepalaku dipenggal lalu menggelinding kemudian aku berlari kencang mengejarnya”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada penanya,

لاَ تُحَدِّثِ النَّاسَ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِكَ فِى مَنَامِكَ

“Jangan kau ceritakan kepada orang lain kelakuan setan yang mempermainkan dirimu di alam mimpi”.

Setelah kejadian itu, aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan dalam salah satu khutbahnya,

لاَ يُحَدِّثَنَّ أَحَدُكُمْ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِهِ فِى مَنَامِهِ

“Jangan sekali-kali kalian menceritakan ulah setan yang mempermainkan diri kalian di  alam mimpi” (HR Muslim 2268).

Dalam riwayat lain, beliau menjamin ketika seseorang melupakan mimpi itu, dan memohon perlindungan dari setan, maka mimpi itu tidak akan berdampak buruk baginya. Beliau bersabda,

وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ، وَلْيَتْفِلْ ثَلاَثًا، وَلاَ يُحَدِّثْ بِهَا أَحَدًا، فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ

Apabila kalian mengalami mimpi buruk, hendaknya meludah ke kiri 3 kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan dan dari dampak buruk mimpi. Kemudian, jangan ceritakan mimpi itu kepada siapapun, maka mimpi itu tidak akan memberikan dampak buruk kepadanya.” (HR. Bukhari 7044, Muslim 2261, dan yang lainnya)

Ketiga, bisa jadi mimpi buruk itu terwujud ketika seseorang berusaha menafsirkannya

Ketika menjelaskan hadis tentang mimpi buruk di atas, An-Nawawi mengatakan,

وأما قوله صلى الله عليه وسلم في الرؤيا المكروهة ولا يحدث بها أحدا فسببه أنه ربما فسرها تفسيرا مكروها على ظاهر صورتها وكان ذلك محتملا فوقعت كذلك بتقدير الله تعالى فإن الرؤيا على رجل طائر ومعناه أنها اذا كانت محتملة وجهين ففسرت بأحدهما وقعت على قرب تلك الصفة

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mimpi buruk, agar tidak diceritakan orang lain, sebabnya adalah: terkadang ada orang menafsirkan mimpi itu dengan tafsir yang buruk sebagaimana yang digambarkan dalam mimpi itu, meskipun masih ada banyak kemungkinan, kemudian tafsir buruk itu terjadi dengan taqdir Allah ta’ala. Karena mimpi yang dialami seseorang ibarat sesuatu yang terbang. Artinya, ketika mimpi itu memiliki dua kemungkinan makna, kemudian ditafsirkan pada salah satu maknanya, maka akan terjadi sesuai yang mendekati sifat tersebut. (Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi, 15/18)

Karena itu, bagi anda yang merasa tidak puas dengan jawaban yang kami berikan dengan tambahan link artikel tentang mimpi buruk, bisa saja anda bertanya kepada orang lain. Namun anda perlu ingat,

  1. Ahli takwil mimpi di tempat kita sangat jarang, dan hingga kini kami belum menemukan satu nama tokoh yang layak disebut ahli takwil mimpi. Beberapa acara televisi yang menawarkan takwil mimpi hanya menggunakan kalimat umum dan itupun berdasarkan apa yang nampak dalam mimpi.
  2. Bisa jadi ada orang yang sok tahu – meskipun dia diustadzkan – kemudian mentakwil mimpi jamaah yang bertanya kepadanya. Karena dia punya prinsip, malu tidak menjawab jika ditanya.
  3. Bisa jadi takwil mimpi buruk yang disampaikan kemudian diwujudkan oleh Allah. Dan tentu saja, kita tidak berharap keburukan menimpa kita.

Semoga Allah melindungi kita dari permainan setan.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Referensi: https://konsultasisyariah.com/23466-awas-jangan-suka-bertanya-arti-mimpi.html

Keutamaan Anak Perempuan

Keutamaan Mempunyai Anak Perempuan

Apa keutamaan anak perempuan? Krn sy prnh dengar, katanya bs mnjadi tabir bg orang tuanya dr neraka. Apa benar?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Bagian dari tabiat manusia yang rakus dunia, mereka berharap anaknya bisa membantunya untuk mendapatkan harta dunia sebanyak-banyaknya. Karena itulah, umumnya manusia lebih mengharapkan kehadiran anak laki-laki daripada anak perempuan. Di samping biaya nafkah lebih murah, anak laki-laki juga bisa membantu sang ayah mengais rizki.

Islam mengajak manusia menuju kebahagiaan akhirat, memberikan motivasi sebaliknya. Bahwa anak perempuan selayaknya dimuliakan. Sekalipun nampaknya di dunia tidak bisa membuat kaya orang tuanya, pendidikan yang diberikan orang tua kepada anak perempuan akan menjadi tabungan baginya kelak di hari kiamat.

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan keutamaan anak perempuan. Di antaranya,

Pertama, hadis dari ’Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

Suatu hari, ada seorang ibu bersama dua putrinya menemuiku untuk meminta sesuatu. Namun aku tidak memiliki makanan apapun selain satu buah kurma. Aku pun memberikan satu kurma itu ke sang ibu. Kemudian dia membagi dua kurma itu dan memberikannya kepada anak-anaknya, sementara dia tidak memakannya. Lalu dia keluar dan pergi.

Setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan aku ceritakan kejadian itu kepada beliau. Lalu beliau bersabda,

مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ البَنَاتِ بِشَيْءٍ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

Siapa yang diuji dengan kehadiran anak perempuan, maka anak itu akan menjadi tameng baginya di neraka. (HR. Ahmad 24055, Bukhari 1418, Turmudzi 1915, dan yang lainnya).

Kedua, hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا، جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ» وَضَمَّ أَصَابِعَهُ

Siapa yang menanggung nafkah dua anak perempuan sampai baligh, maka pada hari kiamat, antara saya dan dia seperti ini. Beliau menggabungkan jari-jarinya. (Muslim 2631, dan Ibnu Abi Syaibah 25439).

Hadis ketiga, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَتْ لَهُ أُنْثَى فَلَمْ يَئِدْهَا، وَلَمْ يُهِنْهَا، وَلَمْ يُؤْثِرْ وَلَدَهُ عَلَيْهَا، – قَالَ: يَعْنِي الذُّكُورَ – أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ

Siapa yang memiliki anak perempuan, dia tidak membunuhnya dengan dikubur hidup-hidup, tidak menghinanya, dan tidak lebih mengunggulkan anak laki-laki daripada anak perempuan, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga. (HR. Abu Daud 5146, Ahmad 1957 dan didhaifkan Syuaib al-Arnauth).

Hadis keempat, dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ، وَأَطْعَمَهُنَّ، وَسَقَاهُنَّ، وَكَسَاهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Siapa yang memiliki 3 anak perempuan, lalu dia bersabar, memberinya makan, minum, dan pakaian dari hasil usahanya, maka semuanya akan menjadi tameng dari neraka pada hari kiamat.

(HR. Ahmad 17403, Ibnu Majah 3669, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Hadis kelima, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَالَ ابْنَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثَ بَنَاتٍ، أَوْ أُخْتَيْنِ أَوْ ثَلَاثَ أَخَوَاتٍ، حَتَّى يَبِنَّ أَوْ يَمُوتَ عَنْهُنَّ، كُنْتُ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ ” وَأَشَارَ بِأُصْبُعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

”Siapa yang menafkahi dua atau tiga anak perempuan atau saudara perempuan, hingga mereka menikah atau sampai dia mati, maka aku dan dia seperti dua jari ini.” Beliau berisyarat dengan dua jari: telunjuk dan jari tengah. (HR. Ahmad 12498 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Referensi: https://konsultasisyariah.com/22876-keutamaan-anak-perempuan.html

Hukum Sabung Ayam

Sabung Ayam

Assalamu alaikum , ustadz, apa hukum sabung ayam disertai judi dan tanpa berjudi ? Bukankah ini menyakiti binatang ? Syukran

Dari Bang Andang

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Terdapat hadis dari Mujahid, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ التَّحْرِيشِ بَيْنَ الْبَهَائِمِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mengadu binatang. (HR. Abu Daud 2562, Turmudzi 1708, dan yang lainnya).

Hanya saja, hadis ini dinilai dhaif oleh para ulama, karena statusnya hadis mursal. At-Turmudzi mengisyaratkan bahwa hadis ini adalah mursal Mujahid.

As-Syaukani ketika menyebutkan hadis ini mengatakan,

ووجه النهي أنه إيلام للحيوانات وإتعاب لها بدون فائدة بل مجرد عبث.

Sisi larangannya, karena adu binatang akan menyakiti binatang, membebani mereka tanpa manfaat, selain hanya main-main. (Nailul Authar, 8/99)

Meskipun hadisnya dhaif, bukan berarti mengadu binatang hukumnya dibolehkan. Karena para ulama menegaskan bahwa mengadu binatang hukumnya terlarang.

Dalam al-Adab as-Syar’iyah, Ibnu Muflih mengatakan,

ويكره التحريش بين الناس، وكل حيوان بهيم، ككباش وديكة وغيرها. ذكره في (الرعاية الكبرى)، وذكر في: (المستوعب) أنه لا يجوز التحريش بين البهائم.

Sangat dibenci mengadu manusia dan seluruh binatang. Seperti kambing, ayam, atau yang lainnya. Sebagaimana keterangan yang disebutkan dalam kitab ar-Ri’ayah al-Kubro. Dan disebutkan dalam kitab al-Mustau’ib bahwa dilarang mengadu binatang. (al-Adab as-Syar’iyah, 3/342).

Ibnu Manshur pernah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah,

يُكْرَهُ التَّحْرِيشُ بَيْنَ الْبَهَائِمِ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ إي لَعَمْرِي، وَالْأَوْلَى الْقَطْعُ بِتَحْرِيمِ التَّحْرِيشِ بَيْنَ النَّاسِ

Apakah mengadu binatang hukumnya makruh?

Beliau menjawab,

Subhanallah, sungguh aneh. Yang lebih layak, ini dihukumi haram melebihi mengadu manusia. (al-Adab as-Syar’iyah, 3/342).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Referensi: https://konsultasisyariah.com/23250-hukum-sabung-ayam.html

Ambisi Terhadap Kedudukan dan Kekuasaan

(ditulis oleh: Ibnu Rajab Al-Hanbali)

Ambisi seseorang terhadap kedudukan lebih membinasakan daripada ambisi seseorang terhadap harta. Karena, mencari kedudukan duniawi, kekuasaan dan kepemimpinan atas manusia, ketinggian di muka bumi, lebih membahayakan terhadap seorang hamba daripada bahaya ambisi harta. Kerusakannya lebih besar sementara zuhud dalam perkara tersebut lebih sulit, karena harta saja akan dikorbankan demi mencari kepemimpinan dan kedudukan.

Ambisi kedudukan itu juga ada dua macam:

Pertama, mencari kedudukan dengan kekuasaan dan materi (harta benda).

Ini sangat berbahaya. Pada umumnya hal ini menghalangi seseorang untuk mendapatkan kebaikan akhirat dan kemuliaannya. Allah l berfirman:

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashash: 83)

Teramat sedikit orang yang berambisi untuk mendapatkan kepemimpinan di dunia dengan mencari kekuasaan, lalu mendapatkan taufiq dari Allah l. Yang terjadi, bahkan ia akan dibiarkan mengurusi dirinya sendiri (tidak Allah l bantu). Sebagaimana Nabi n katakan kepada Abdurrahman bin Samurah z:

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

“Wahai Abdurrahman, janganlah kamu meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberinya karena engkau mencarinya engkau akan dibiarkan mengurusi sendiri (tidak Allah l bantu). Tetapi jika engkau diberinya tanpa mencarinya maka engkau akan dibantu (Allah l) dalam mengurusinya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sebagian ulama mengatakan:

مَا حَرِصَ أَحَدٌ عَلَى وِلَايَةٍ فَعَدَلَ فِيْهَا

“Tidaklah seseorang berambisi kepada kepemimpinan lalu ia (bisa) berbuat adil dalam kepemimpinannya.”

Dahulu Yazid bin Abdullah bin Mauhab termasuk seorang hakim yang adil dan shalih. Beliau mengatakan: “Barangsiapa yang cinta harta dan kedudukan serta takut akan musibah, maka ia tidak akan bisa adil.” Dalam Shahih Al-Bukhari dari sahabat Abu Hurairah z, dari Nabi n, beliau bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ

“Kalian bakal berambisi terhadap kepemimpinan dan itu akan menjadi penyesalan di hari kiamat. Maka senikmat-nikmat kepemimpinan adalah saat seseorang menyusu darinya (menjabat), dan secelaka-celakanya adalah saat orang melepaskan penyusuannya (mati).”

Dalam Shahih Al-Bukhari juga, dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari z, bahwa ada dua orang mengatakan kepada Nabi n: “Wahai Rasulullah, jadikan kami sebagai pemimpin.” Maka beliau menjawab:

إِنَّا لَا نُوَلِّي أَمْرَنَا هَذَا مَنْ سَأَلَهُ وَلَا مَنْ حَرِصَ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya kami tidak akan memberikan kepemimpinan kami ini kepada seseorang yang memintanya atau berambisi terhadapnya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ketahuilah bahwa ambisi terhadap kedudukan menimbulkan kerusakan besar sebelum ia mendapatkan kedudukan itu, yaitu dalam usahanya mencari kedudukan itu. Demikian juga setelahnya, yaitu dengan ambisinya yang besar di mana terjatuh di dalamnya para pemilik kekuasaan berupa kezaliman, kesombongan, dan kerusakan-kerusakan lainnya.

Abu Bakr Al-Ajurri t telah membuat sebuah karya –beliau termasuk ulama rabbani pada awal abad ke-4 H– dalam bab akhlak dan adab para ulama. Karyanya tersebut termasuk karya yang teragung dalam pembahasan ini. Barangsiapa yang memerhatikannya, dari kitab itu dia akan mengetahui metode ulama salaf dan metode yang diadakan setelah mereka yang menyelisihi jalan para ulama salaf. Dalam kitab itu, beliau t memberikan penjelasan sifat-sifat seorang ulama yang jahat dengan sifat-sifat yang panjang (penjelasannya).

Di antaranya beliau mengatakan: “Dia (ulama tersebut) telah tergoda dengan cinta pujian dan kedudukan di tengah para pecinta dunia. Ia berhias dengan ilmu sebagaimana berhiasnya dengan pakaian yang indah demi dunianya. Tetapi ia tidak menghiasi ilmunya dengan mengamalkannya… –sampai ucapannya– … akhlak ini dan yang semacamnya mendominasi qalbu orang yang tidak memanfaatkan ilmunya. Ketika ia mendekat kepada akhlak ini, di saat yang sama, jiwanya cenderung kepada cinta kedudukan sehingga ia cinta bermajelis dengan anak-anak raja dan anak-anak dunia serta merasa suka untuk larut dengan (gaya hidup) mereka dalam hal kemewahan hidup berupa pemandangan yang indah, kendaraan yang nyaman, pembantu yang menyenangkan, pakaian yang lembut, kasur yang empuk, makanan yang mengundang nafsu, ingin pintunya selalu terbuka, ucapannya didengar, dan perintahnya ditaati. Tetapi ia tidak akan mendapat jalan menuju kepadanya melainkan dari jalur kehakiman (menjadi seorang hakim). Sehingga ia pun berusaha untuk menjadi hakim. Namun ia tidak mungkin mendapatkannya kecuali dengan mengorbankan agamanya, sehingga ia pun merendah-rendah di hadapan para raja dan bawahannya. Ia pun melayani mereka dengan dirinya, memuliakan mereka dengan hartanya. Akhirnya ia mendiamkan perbuatan-perbuatan jelek yang nampak baginya ketika ia masuk istana dan rumah mereka. Sehingga hal-hal jelek yang mereka lakukan nampak baik. Ia mencari-carikan alasan untuk melegitimasi kesalahan-kesalahan mereka, demi menampakkan sikap baiknya terhadap mereka. Ketika ia berbuat demikian dalam waktu yang cukup lama dan kehancuran telah menguat pada dirinya, mereka pun mengangkatnya sebagai hakim. Ia laksana disembelih tanpa pisau, sehingga ia berutang budi kepada mereka, yang membuatnya harus membalas budi tersebut. Akhirnya ia menyiksa dirinya. (Ia berusaha) agar tidak membuat mereka marah terhadapnya sehingga mencopotnya dari jabatannya. Ia tidak menoleh kepada kemurkaan Rabbnya, sehingga ia mengambil harta anak yatim, janda, fakir dan miskin juga harta wakaf untuk para mujahidin dan orang-orang mulia di tanah suci, serta harta-harta lain yang manfaatnya kembali kepada seluruh muslimin. Ia juga (merekayasa untuk) membuat rela pencatat, penjaga, dan pembantunya, maka ia pun makan yang haram.

Maka, semakin banyak orang yang mendoakan kejelekan baginya. Sungguh celaka orang yang ilmunya mewariskan akhlak yang semacam ini. Ilmu yang semacam inilah yang Nabi n dahulu berlindung kepada Allah l darinya. Beliau n juga memerintahkan agar seseorang minta perlindungan darinya. Nabi n bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَاباً يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ اللهُ بِعِلْمِهِ

“Sekeras-kerasnya manusia siksaannya pada hari kiamat adalah seorang yang berilmu tapi ilmunya tidak bermanfaat untuknya.” (HR. Asy-Syihab dalam Musnad-nya)

Dahulu Nabi n berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, qalbu yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak merasa puas, dan doa yang tidak didengar.” (Shahih, HR. Muslim)

Dahulu beliau n juga berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR. Ibnu Hibban)

Ini semuanya dari penjelasan Al-Imam Abu Bakr Al-Ajurri t, yang beliau hidup pada akhir-akhir tahun 300-an H. Kerusakan setelah itu semakin bertambah, lebih dari apa yang kami sebutkan berkali-kali lipat. La haula wala quwwata illa billah.

Di antara kehancuran yang tersembunyi akibat ambisi terhadap kedudukan adalah mencari kekuasaan dan berambisi dengannya. Ini adalah perkara yang cukup samar. Tidak ada yang memahaminya kecuali para ulama yang begitu kenal dengan Allah l dan begitu mencintai-Nya. Yang dimusuhi orang karena ketaatan mereka kepada Allah l oleh orang-orang bodoh yang hendak menyaingi Rububiyyah Allah l dan uluhiyyah-Nya, padahal mereka hina dan rendah kedudukannya di hadapan Allah l serta di hadapan orang-orang yang dekat dengan-Nya. Sebagaimana dikatakan Al-Hasan t: “Sesungguhnya walaupun kaki-kaki bighal bergemeritik di belakang mereka dan keledai berbaris rapi di belakang mereka, namun kerendahan maksiat tetap berada pada leher-leher mereka. Allah l menolak kecuali untuk merendahkan orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya.”

Perlu diketahui bahwa cinta kedudukan dan ambisi dalam hal pemerintahan dan pengaturan manusia, bila hanya bertujuan agar berkedudukan lebih tinggi dari orang lain serta merasa besar di hadapan mereka, hendak menampakkan butuhnya manusia kepadanya, serta rendahnya mereka di hadapannya saat mereka mencari kebutuhan mereka, maka ini sendiri berarti hendak menyaingi Allah l dalam Rububiyyah dan Uluhiyyah-Nya. Dengan itu, terkadang ia mengondisikan suatu perkara yang membuat orang-orang butuh kepadanya, agar mereka terpaksa mengangkat dan menampakkan kebutuhan mereka kepadanya. Sehingga ia akan merasa besar dan sombong di hadapan mereka. Padahal sikap seperti ini tidak pantas kecuali bagi Allah l, yang tiada sekutu bagi-Nya. Allah l berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.” (Al-An’am: 42)

“Kami tidaklah mengutus seseorang nabi pun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.” (Al-A’raf: 94)

Perkara-perkara ini lebih sulit dan lebih berbahaya dari sekadar perbuatan zalim. Lebih parah dan lebih pahit dari kesyirikan, sementara kesyirikan itu adalah sebesar-besar kezaliman di sisi Allah l.

Di antara bentuk ambisi kekuasaan ini adalah seorang yang cinta kedudukan dan kekuasaan, merasa suka untuk dipuji karena perbuatan-perbuatannya, disanjung karenanya, dan meminta atau membuat orang memujinya, serta menyakiti orang yang tidak mau menyambutnya. Padahal bisa jadi perbuatannya tersebut lebih pantas untuk dicela daripada dipuji. Terkadang juga dia menampilkan sesuatu yang baik, dan senang untuk dipuji serta bermaksud dalam batinnya niat merusak, senang untuk disanjung-sanjung. Ini masuk dalam firman Allah l:

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” (Ali ‘Imran: 188)

Oleh karena itu, para ulama dahulu melarang orang untuk memuji mereka atas amal-amal mereka dan perbuatan baik mereka kepada manusia. Mereka juga memerintahkan agar orang-orang memuji Allah l satu-satu-Nya, karena segala kenikmatan berasal dari-Nya.

Dari sini pula khalifah para rasul dahulu dan para pengikut mereka dari kalangan pemimpin dan para hakim yang adil, tidak mengajak untuk mengagungkan diri mereka sama sekali. Bahkan mereka mengajak untuk mengagungkan Allah l saja. Dari sini pula, para rasul bersabar dalam berdakwah kepada Allah l dan dalam menerapkan perintah Allah l. Mereka siap menanggung beban berat dari reaksi makhluk kepada mereka disebabkan hal itu. Sementara mereka tetap sabar dan ridha dengan itu. Karena, seseorang yang cinta terkadang merasakan gangguan yang menimpanya sebagai sebuah nikmat demi keridhaan yang dia cintai.

Sebagian orang shalih mengatakan: “Aku berharap seandainya jasadku dipotong-potong dengan gunting agar makhluk ini taat kepada Allah l.” (Syarh Hadits Ma Dzi’bani Jai’ani dengan sedikit diringkas)

sumber : https://asysyariah.com/ambisi-terhadap-kedudukan-dan-kekuasaan/

Merasa Aman dari Makar Allah: Antara Dosa Besar dan Kekafiran

Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du,

Status dosa merasa aman dari makar Allah Ta’ala dan putus asa dari rahmat Allah Ta’ala

Berkaitan dengan status dosa putus asa dari rahmat Allah dan merasa aman dari makar-Nya, keduanya sama-sama merupakan dosa besar. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadis dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, 

وعن ابن عباس رضي الله عنهما أن رسول الله ﷺ سئل عن الكبائر؟ فقال: 

“Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang dosa besar. Lalu beliau bersabda,

الشرك بالله، واليأس من روح الله، والأمن من مكر الله

“Menyekutukan Allah (syirik), putus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari makar Allah.” (HR. Ath-Thabrani rahimahullah dengan derajat hasan)

Allah Ta’ala berfirman,

اَفَاَمِنُوْا مَكْرَ اللّٰهِۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْخٰسِرُوْنَ

“Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf : 99)

Allah Ta’ala berfirman,

قَالَ وَمَنْ يَّقْنَطُ مِنْ رَّحْمَةِ رَبِّهٖٓ اِلَّا الضَّاۤلُّوْنَ

“Dia (Ibrahim) berkata, “Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr : 56)

Keburukan merasa aman dari makar Allah

Merasa aman dari makar Allah mengandung su’uzhan kepada Allah dan husnuzhan kepada diri sendiri. Hal ini dikarenakan hal berikut:

Pertama: Pelakunya menganggap bahwa murka dan siksa Allah kurang (tidak menakutkan). Sehingga ia meremehkan dosa penyebab murka dan siksa Allah. Hal itu dianggap bukan masalah besar atau bahkan bukan masalah.

Kedua: Pelakunya ujub dengan amal salehnya. Sehingga merasa seolah-olah amal salehnya pasti diterima oleh Allah, atau Allah pasti akan mengampuni maksiat yang ia lakukan karena kebaikannya lebih besar (lebih banyak) daripada dosanya.

Penyebab merasa aman dari makar Allah

Pelakunya merasa tidak mendapatkan teguran Allah saat terus-menerus bermaksiat atau merasa ujub dengan amal salehnya.

Keburukan putus asa dari rahmat Allah

Putus asa dari rahmat Allah itu mengandung su’uzhan (berprasangka buruk) kepada Allah Ta’ala dari dua sisi, yaitu:

Pertama: Berprasangka buruk terhadap kekuasaan Allah. Karena jika seseorang yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka ia tidak akan menganggap harapannya mustahil dipenuhi oleh Allah.

Kedua: Berprasangka buruk terhadap rahmat Allah. Karena jika seseorang yakin Allah Maha Kasih Sayang, maka ia tidak akan menganggap mustahil disayangi Allah.

Penyebab putus asa dari rahmat Allah

Tidak mengenal Allah dengan baik, khususnya tidak mengenal Kemahakuasaan-Nya dan sifat kasih sayang-Nya dengan benar.

Cara menggabungkan antara takut dan harap kepada Allah

Selayaknya seorang mukmin hidup di dunia ini dengan dua sayap, yaitu rasa takut dan harap kepada Allah Ta’ala.

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin,

القَلبُ في سَيرِهِ إلى الله عَزَّ وجَلَّ بِمَنْزِلة الطَّائر؛ فَالمَحَبّة رَأْسُهُ والخَوفُ والرَّجَاءُ جَنَاحَاه، فَمَتَى سَلِمَ الرَّأسُ والجَنَاحَانْ فَالطَّيرُ جَيد الطَّيرَانْ، ومَتَى قُطِعَ الرَّأس مَاتَ الطَّائر، ومَتَى فَقَد الجَنَاحَانْ فَهو عُرضَة لِكُلِّ صَائِد وكَاسِر

“Hati dalam perjalanannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla itu seperti burung. Rasa cinta ibarat kepala burung. Takut dan harap ibarat kedua sayapnya. Tatkala kepala dan dua sayapnya normal, maka burung tersebut akan terbang dengan baik. Namun, ketika terputus kepalanya, matilah ia. Sedangkan jika dua sayapnya tidak ada, ia terancam jadi sasaran buruan dan akan jatuh.”

Takut kepada Allah akan menahan seorang hamba dari maksiat, sedangkan harap kepada Allah akan mendorong seorang hamba untuk taat kepada Allah. Jangan sampai rasa takut kepada Allah berlebihan, melupakan dalil-dalil tentang janji Allah, sehingga menjerumuskan seseorang ke dalam putus asa dari rahmat Allah. Demikian pula, harap kepada Allah jangan sampai berlebihan, melupakan dalil-dalil tentang ancaman Allah, sehingga menjerumuskan seseorang ke dalam aman dari murka Allah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjenguk pemuda yang sedang menghadapi kematian. Lalu beliau pun bertanya,

كيف تَجِدُكَ؟

“Bagaimana keadaanmu?”

Pemuda itu menjawab, “Demi Allah, wahai Rasulullah! Sesungguhnya saya berharap kepada Allah dan saya pun takut (kepada-Nya) karena dosa-dosaku.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لا يَجْتَمِعَانِ في قَلْبِ عَبْدٍ في مِثْلِ هَذا الْمَوْطِنِ؛ إلاَّ أعْطَاهُ اللهُ ما يَرْجُو، وآمَنَهُ ممَّا يَخَافُ

“Tidaklah terkumpul kedua perkara tersebut dalam hati seorang hamba di saat menjelang kematian, kecuali Allah akan anugerahkan kepadanya apa yang ia harapkan dan Allah akan mengamankannya dari apa yang ia takutkan!” (HR. At-Tirmidzi, hasan sahih, Shahih At-Targhib wat-Tarhib)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يقول الله – عزَّ وجلَّ -: وعزَّتي، لا أجمع على عبدي خوفَين، ولا أجْمع له أمنَين، إذا أمِنَني في الدُّنيا، أخفتُه يوم القيامة، وإذا خافني في الدُّنيا، أمنته يوم القيامة

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Demi keperkasaan-Ku, Aku tidak akan mengumpulkan pada hamba-Ku dua rasa takut dan tidak pula mengumpulkan untuknya dua rasa aman. Apabila ia merasa aman terhadap (siksa)-Ku di dunia, maka Aku buat ia takut di akhirat. Apabila ia takut kepada-Ku di dunia, maka Aku buat ia aman di akhirat.’” (HR. Al-Baihaqi rahimahullah, sahih dalam kitab Syu’abul Iman)

Salafussalih rahimahullah berkata,

مَنْ عبدَ الله بالحبِّ وحده، فهو زنديق، ومَن عبدَه بالخوف وحْده، فهو حروريٌّ – أي: خارجي – ومَن عبدَه بالرَّجاء وحْده، فهو مرجئ، ومن عبدَه بالخوف والحب والرَّجاء، فهو مؤمن موحِّد

“Barangsiapa yang menyembah Allah dengan cinta saja, maka ia zindiq. Barangsiapa yang menyembah-Nya dengan harap saja, maka ia murji’ah. Barangsiapa yang menyembah-Nya dengan takut saja, maka ia haruri (khawarij). Barangsiapa yang menyembah-Nya dengan cinta, takut, dan harap, maka ia seorang mukmin lagi sosok yang mentauhidkan Allah.”

Kadar rasa takut dan harap kepada Allah

Kadar takut dan harap kepada Allah ada tiga kondisi, yaitu:

Pertama: Seimbang antara takut dan harap kepada Allah

Jika dalam keadaan sehat serta lapang dan rajin beramal saleh , maka hendaknya kadar keduanya seimbang. Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّهُمْ كَانُوْا يُسٰرِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِ وَيَدْعُوْنَنَا رَغَبًا وَّرَهَبًاۗ وَكَانُوْا لَنَا خٰشِعِيْنَ

“Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)

Kedua: Takut lebih besar daripada harap kepada Allah

Jika dalam keadaan sehat serta lapang rezeki, namun gemar bermaksiat, atau sedang melakukan maksiat, maka hendaknya kadar takutnya lebih tinggi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ

“Jika Engkau melihat Allah memberi seorang hamba dunia apa yang ia sukai, sementara dia bermaksiat kepada Allah, maka ketahuilah itu hanyalah istidraj.” (HR. Ahmad, sahih)

Jika dalam keadaan merasa aman dari makar Allah dan azab-Nya, maka hendaknya kadar takutnya lebih tinggi. Demikian pula, jika dalam keadaan sehat dan dapat nikmat, namun malas-malasan melakukan ketaatan, maka hendaknya kadar takutnya hendaklah lebih tinggi.

Ketiga: Harap lebih besar daripada takut kepada Allah

Jika dalam keadaan menghadapi kematian, maka hendaknya kadar harapannya lebih tinggi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لا يَمُوتَنَّ أحدُكم إلا وهو يُحسنُ الظَّنَّ بالله عز وجل

“Janganlah salah seorang di antara kalian mati, kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim)

Jika dalam keadaan putus asa dari rahmat Allah karena dosa-dosa, maka kadar harapannya hendaklah lebih tinggi. Wallahu a’lam bish-shawab.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

[Selesai]

***

Penulis: Sa’id Abu ‘Ukkasyah
Sumber: https://muslim.or.id/75605-merasa-aman-dari-makar-allah-bag-2.html