Noda di Hati yang Membandel

Banyak orang yang sangat memperhatikan penampilan lahiriah. Ketika baju terkena sedikit noda, akan segera dicuci dan tidak rela membiarkan noda tadi membandel. Sejatinya perilaku seperti ini tidaklah mengapa. Sebab Islam memang menyukai penampilan yang indah dan mencintai kebersihan. Dalam sebuah hadits sahih disebutkan,

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

Sesungguhnya Allah Maha indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim dari Ibnu Mas’ûd radhiyallahu ’anhu)

Namun, amat disayangkan, kerap perhatian kita terhadap kebersihan luar tidak sebanding dengan perhatian kita terhadap kebersihan dalam. Alias kita lebih memperhatikan penampilan lahiriah dibanding penampilan batin. Padahal dampak buruk kotornya hati, jauh lebih berbahaya dibanding dampak kotornya baju. Sebab akan terasa hingga di akhirat.

Perlu diketahui, bahwa sebagaimana noda di atas baju jika dibiarkan akan membandel. Begitu pula halnya saat noda dalam hati tidak segera dibersihkan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menjelaskan,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}

Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristighfar dan bertaubat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa; niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi)

Bukanlah aib manakala seorang hamba terjerumus kepada perbuatan dosa, sebab tidak mungkin manusia biasa suci dari dosa. Namun aib itu bilamana setelah terjerumus kepada perbuatan dosa, seorang insan tidak segera memperbaikinya, malah justru ia semakin tenggelam dalam kubangan dosa. Nabiyullah shallallahu ’alaihi wasallam menasehatkan,

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُ كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

Bertakwalah kepada Allah kapanpun dan di manapun engkau berada. Serta iringilah perbuatan buruk dengan kebajikan supaya ia bisa menghapuskannya.” (HR. Tirmidzy dari Abu Dzar radhiyallahu ’anhu. Hadits ini dinyatakan sahih oleh Al-Hakim)

Mari kita berusaha untuk terus menerus menjaga kebersihan hati kita. Tidak hanya sekedar memperhatikan kebersihan pakaian luar kita!

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِى تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا

Ya Allah, karuniakan ketakwaan pada jiwaku. Sucikanlah ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya.” (HR. Muslim dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ’anhu)

@Pesantren “Tunas Ilmu”, Kedungwuluh, Purbalingga, Kamis, 22 Shafar 1435/ 26 Desember 2013

Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA.

sumber: https://muslim.or.id/19817-noda-di-hati-yang-membandel.html

Sungguh Tuhanmu Maha Luas Ampunan-Nya

Oleh:

Abu Hatim Said al-Qadhi

Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Luas ampunan-Nya, Dia mengampuni para hamba-Nya atas segala dosa dan sebesar apa pun dosanya apabila mereka memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Beritahukanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hijr: 49).

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53).

Perhatikan seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya: “Wahai hamba-hamba-Ku” suatu seruan lembut dan penuh kasih sayang. Kemudian Dia berfirman: “yang melampaui batas terhadap diri mereka” ini untuk menunjukkan kepadamu bahwa sebanyak apa pun dosa-dosa seorang hamba, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap akan mengampuninya. Kemudian Allah menegaskannya dengan firman-Nya: “Janganlah kalian berputus asa” dan juga dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa semuanya.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 70).

Dan kata “كَانَ” dalam ayat ini bukan kata yang menunjukkan makna masa lampau saja, tetapi di masa lampau dan seterusnya. Dia selalu dan terus menjadi Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ

“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya.” (QS. An-Najm: 32).

Ampunan-Nya mampu meliputi seluruh hamba-Nya apabila mereka bertaubat, dan dapat mencakup seluruh dosa sebesar apa pun itu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَمَا يَذْكُرُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ هُوَ أَهْلُ التَّقْوَى وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ

“Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran kecuali jika Allah menghendaki. Dialah yang berhak ditakuti (ditaati) dan berhak memberi ampunan.” (QS. Al-Muddassir: 56).

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Setan menjanjikan kalian kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan kalian ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268).

Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan sesuatu kepadamu, maka yakinlah bahwa janji-Nya pasti benar dan Dia tidak akan mengingkari janji.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar memiliki ampunan bagi manusia atas kezaliman mereka, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksa-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 6).

Meskipun dosa-dosa mereka banyak, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap mengampuni dosa-dosa mereka dan menghapus keburukan-keburukan mereka apabila mereka memohon ampun dan insaf.

Seorang ulama mengatakan bahwa nama Allah Al-Ghafur (Maha Pengampun) dan semua turunan katanya dan sifat ampunan-Nya disebutkan sebanyak lebih dari seratus lima puluh kali dalam Al-Qur’an.

Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَأَزِيدُ، وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَجَزَاؤُهُ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا أَوْ أَغْفِرُ، وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا، وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا، وَمَنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً، وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيئَةً لَا يُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَقِيتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً

“Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Barang siapa datang dengan satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipatnya dan Aku tambah lagi. Dan barang siapa datang dengan satu keburukan, maka balasannya satu keburukan yang semisalnya atau Aku ampuni. Barang siapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Barang siapa mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Barang siapa datang kepada-Ku berjalan, Aku datang kepadanya berlari. Dan barang siapa menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi, tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. Muslim no. 2687).

Bayangkanlah seandainya engkau berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan membawa dosa-dosa sepenuh, seberat, seluas, dan seukuran bumi. Hanya saja engkau tidak boleh menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar Dia mengampuni dosa-dosamu seluruhnya jika memang engkau menghendaki ampunan-Nya.

يَا رَبِّ إِنْ عَظُمَتْ ذُنُوبِي كَثْرَةً فَلَقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ عَفْوَكَ أَعْظَمُ

Wahai Tuhanku, apabila dosa-dosaku begitu besar dan banyak, Sungguh aku tahu ampunan-Mu jauh lebih besar.

إِنْ كَانَ لَا يَرْجُوكَ إِلَّا مُحْسِنٌ فَمَنِ الَّذِي يَدْعُو وَيَرْجُو الْمُجْرِمُ

Jika tidak ada yang berharap kepada-Mu kecuali orang baik, Lalu kepada siapa pelaku dosa akan berdoa dan berharap?

أَدْعُوكَ رَبِّ كَمَا أَمَرْتَ تَضَرُّعًا فَإِذَا رَدَدْتَ يَدِي فَمَنْ ذَا يَرْحَمُ

Wahai Tuhanku, aku berdoa kepada Engkau penuh ketundukan seperti yang Engkau perintahkan, Maka jika Engkau menolak tanganku, siapa lagi yang akan mengasihi?

مَا لِي إِلَيْكَ وَسِيلَةٌ إِلَّا الرَّجَا وَجَمِيلُ عَفْوِكَ ثُمَّ أَنِّي مُسْلِمٌ

Tidak ada perantara bagiku menuju Engkau kecuali rasa harap, Juga keindahan ampunan-Mu serta aku sebagai seorang Muslim.

Seorang hamba tidak boleh mengucapkan: “Ampunilah aku jika Engkau menghendaki.” Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ، اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ، لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ، فَإِنَّهُ لَا مُكْرِهَ لَهُ

“Janganlah salah seorang di antara kalian berkata: ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau; Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau mau.’ Hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam memohon, karena tidak ada yang dapat memaksa-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 6339 dan Muslim no. 2679).

Allah Ta’ala mendorong Nabi-Nya untuk beristighfar

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan Nabi-Nya Shalallahu Alaihi Wassalam untuk beristighfar yang Dia sampaikan dalam lebih dari satu ayat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 106).

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

“Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampun untuk dosamu, serta bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.” (QS. Ghafir: 55).

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan mohonlah ampun untuk dosamu serta untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19).

Seorang ulama mengatakan: “Pujian (kepada Allah) yang paling mendalam adalah dengan engkau mengatakan: La ilaha illallah, dan doa yang paling mendalam adalah dengan engkau mengatakan: Astaghfirullah.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 1-3).

Saya bertanya kepada engkau, wahai saudaraku! Menurutmu apa dosa yang telah dilakukan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam sehingga beliau memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Dan jikalau Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam telah melakukan dosa, bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengampuni dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang? Sesungguhnya ini merupakan risalah bagimu agar memperbanyak istigfar, meskipun engkau tidak mengetahui dosa apa yang telah engkau perbuat.

Perintah Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya agar segera beristighfar

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ

“Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian.” (QS. Ali Imran: 133). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ

“Berlomba-lombalah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian.” (QS. Al-Hadid: 21). 

Perhatikanlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hanya sekedar memerintahkan untuk beristigfar, tetapi mengajak untuk bersegera dan bergegas beristigfar, maka bersegera dan bergegaslah, wahai Muslim! Jangan menunda dan menangguhkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ

“Dan Allah mengajak (manusia) menuju surga dan ampunan dengan izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 221).

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzzammil: 20).

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa. Maka tetaplah kalian di jalan yang lurus menuju-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan celakalah bagi orang-orang musyrik.” (QS. Fussilat: 6).

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 74).

Perhatikanlah dengan seksama firman Tuhanmu ini, lalu katakanlah: “Kami mendengar dan kami akan menaati.” Hendaklah hati dan lisanmu senantiasa beristigfar memohon ampun kepada Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Jangan pernah bosan atau putus harapan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru para hamba-Nya: “Apakah ada orang yang memohon ampun?”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

إِذَا مَضَى شَطْرُ اللَّيْلِ – أَوْ ثُلُثَاهُ – يَنْزِلُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: هَلْ مِنْ سَائِلٍ يُعْطَى؟ هَلْ مِنْ دَاعٍ يُسْتَجَابُ لَهُ؟ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ يُغْفَرُ لَهُ؟ حَتَّى يَنْفَجِرَ الصُّبْحُ

“Apabila telah berlalu separuh malam – atau dua pertiganya – maka Allah Tabaraka wa Ta’ala akan turun ke langit dunia, lalu berfirman: ‘Adakah orang yang meminta untuk Kuberi? Adakah orang yang berdoa untuk Kukabulkan? Adakah orang yang memohon ampun untuk Kuampuni?’ dan terus seperti itu hingga waktu fajar.” (HR. Muslim no. 758).

Maha Suci Engkau, wahai Tuhanku! Betapa agung, mulia, dan pengasihnya Engkau! Maha Kaya terhadap makhluk-Nya, Maha Esa dalam kerajaan-Nya, tidak mendatangkan mudharat bagi-Nya kekafiran orang-orang yang ingkar, tidak mendatangkan manfaat bagi-Nya keimanan orang-orang yang bersyukur. Namun, meskipun begitu Dia menyeru para hamba-Nya setiap malam: Apakah ada yang memohon ampun? Apakah ada yang bertaubat? Dia membuka bagi mereka keluasan rahmat-Nya, mengajak mereka untuk bertaubat dan memohon ampun.

وَلَمَّا قَسَا قَلْبِي وَضَاقَتْ مَذَاهِبِي جَعَلْتُ الرَّجَا مِنِّي لِعَفْوِكَ سُلَّمًا

Ketika hatiku telah keras dan usaha-usahaku seakan tak berarti lagi, Aku jadikan harapanku kepada ampunan-Mu sebagai tangga.

تَعَاظَمَنِي ذَنْبِي فَلَمَّا قَرَنْتُهُ بِعَفْوِكَ رَبِّي كَانَ عَفْوُكَ أَعْظَمَا

Dosaku terasa begitu besar bagiku, tetapi ketika aku bandingka, Dengan ampunan-Mu, wahai Tuhanku, ternyata ampunan-Mu jauh lebih besar.

Sumber:

https://www.alukah.net/sharia/11875/125313/إن-ربك-واسع-المغفرة

Definisi Makna Sejati Sabar Dalam Islam

Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Afwan izin bertanya bagaimana ustadz saat kita terima gangguan dari orang lain kita memperlihatkan kalau kita bisa sabar atas gangguan itu tapi di dalam hati kita mencaci orang tersebut apa masih dikatakan sabar?

جزاك اللهُ خيراً

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Para ulama berbeda-beda dalam mendefinisikan kata ‘sabar’. Meskipun berbeda-beda istilahnya akan tetapi maknanya sama. Yaitu menahan diri dari melakukan atau mengucapkan hal yang dilarang oleh syariat.

Berdasarkan hal ini, maka ketika kita bisa menahan diri dari mengucapkan sesuatu yang buruk atau melakukan sesuatu yang tercela, maka kita termasuk dalam definisi sabar, meskipun hati kita masih marah.
Allah berfirman :

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imran : 134)

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Orang kuat itu bukanlah orang yang jago bergulat. Akan tetapi orang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah” (Muttafaq ‘Alaih: Hadits Shahih Al-Bukhari no. 6114 & Muslim no. 2609)

ومن كظم غيظاً ، ولو شاء أن يمضيه أمضاه ، ملأ الله قلبه رضاً يوم القيامة

“Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhoan di hari Qiyamat.” (HR. Thabrani)

Akantetapi yang lebih utama adalah memafkannya.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh: 
Ustadz Achmad Nur Hanafi, Lc. حافظه الله

sumber : https://bimbinganislam.com/definisi-makna-sejati-sabar-dalam-islam/

Yang Terluput dari Doa Orang yang Terzalimi

Ketika anda merasa disakiti oleh seseorang, baik secara fisik maupun verbal, apa yang ada di benak anda? Apakah anda ingin langsung membalas dengan pukulan seimbang bahkan lebih sakit? Atau anda diam dan bersabar bahwa peristiwa itu adalah hanya ujian kehidupan untuk anda?

Saudaraku, perhatikanlah, bahwa menyakiti orang lain adalah kezaliman dan orang yang melakukannya disebut zalim. Sedangkan orang yang menjadi objek kezaliman itu adalah mazlum.

Lantas, sebagai seorang yang mazlum, apa yang sebaiknya anda lakukan sebagai seorang mukmin? Bukankah doa orang yang terzalimi itu maqbul?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ: دَعْوَةُ الصَّائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

“Tiga doa mustajab, yaitu: doa orang yang sedang berpuasa, doa orang yang terzalimi, dan doa musafir.” (HR. At-Thabrani (1313), Baihaqi (648), dan Asy-Syajari (1014), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Kekhawatiran terhadap kezaliman

Pada dasarnya, fitrah manusia tidak ingin disakiti, ingin hidup aman dan tenteram tanpa gangguan siapa pun. Namun, pada kenyataannya, di luar daripada kendali diri, ada saja yang menyinggung atau menyakiti hati, bahkan fisiknya dengan berbagai motif hingga berujung pada kegelisahan, kesengsaraan, hingga hilangnya nyawa.

Namun, sebagai seorang mukmin, kita wajib meyakini bahwa selama iman dan takwa terpatri di hati kita yang kemudian dibenarkan oleh keistikamahan kita dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, yakinlah bahwa Allah Ta’ala senantiasa akan melindungi kita dari segala marabahaya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضࣲ لَّفَسَدَتِ ٱلۡأَرۡضُ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡعَـٰلَمِینَ

“Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam.” (QS. Al-Baqarah: 251)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kekhawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573)

Oleh karenanya, memahami kebesaran rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala yang diberikan kepada kita, sudah sepatutnya kita tidak mengkhawatirkan segala hal yang buruk yang datang dari makhluk selama kita tetap berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Aturan syariat terhadap perbuatan zalim

Sesungguhnya, ketentuan syariat secara paripurna telah menegaskan bagaimana keadilan dan kebijaksanaan Allah Ta’ala dalam mengatur berbagai persoalan kehidupan umat manusia. Termasuk dalam urusan pidana maupun urusan keperdataan di mana di dalamnya diatur bagaimana hukum yang seharusnya diterapkan kepada para pelaku kezaliman.

Allah Ta’ala berfirman,

وَكَتَبۡنَا عَلَیۡهِمۡ فِیهَاۤ أَنَّ ٱلنَّفۡسَ بِٱلنَّفۡسِ وَٱلۡعَیۡنَ بِٱلۡعَیۡنِ وَٱلۡأَنفَ بِٱلۡأَنفِ وَٱلۡأُذُنَ بِٱلۡأُذُنِ وَٱلسِّنَّ بِٱلسِّنِّ وَٱلۡجُرُوحَ قِصَاصࣱۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِۦ فَهُوَ كَفَّارَةࣱ لَّهُۥۚ وَمَن لَّمۡ یَحۡكُم بِمَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ

“Kami telah menetapkan bagi mereka di dalamnya (Taurat) bahwa nyawa (dibalas) dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qiṣāṣ-nya (balasan yang sama). Barangsiapa melepaskan (hak qiṣāṣ)nya, maka itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim”. (QS. Al-Ma’idah: 45)

Oleh karenanya, tidak terlarang bagi kita yang terzalimi untuk mengambil hak (balasan) qisas terhadap suatu perbuatan zalim yang menimpa diri kita sesuai dengan ketentuan syariat yang telah digariskan. Tapi, satu hal yang perlu diingat, bahwa apabila kita merelakan dan memaafkan perbuatan zalim tersebut, maka kita akan memperoleh keuntungan berupa penghapusan dosa-dosa kita.

Hak seorang mazlum

Hal yang sering kita dengar terkait dengan sikap terhadap suatu kezaliman adalah bahwa doa orang terzalimi itu maqbul sebagaimana makna hadis yang telah disebutkan di atas. Dan yang sering teringat juga bahwa sebagian orang yang terzalimi mendoakan hal yang buruk menimpa orang yang menzaliminya.

Saudaraku, sekilas terlihat memang tidak ada yang salah dalam hal ini. Mendoakan keburukan bagi orang yang menzalimi adalah hak seorang mazlum. Bahkan, meskipun orang mazlum tersebut adalah kafir. Sebagaimana hadis Rasulullah yang disebutkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ، قَالَ: أَخْبَرَنِي يَحْيَى بْنُ أيُّوبَ، قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْأَسَدِيُّ قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، وَإِنْ كَانَ كَافِرًا، فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ

Yahya bin Ishaq mengabarkan kepadaku (Imam Ahmad). Ia berkata, ‘Yahya bin Ayyub mengabarkan kepadaku.’ Ia berkata, ‘Abu Abdillah Al-Asadi berkata, ‘Aku mendengar Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Hati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, meskipun ia orang kafir. Sesungguhnya tak ada penghalang baginya.’” (Musnad Ahmad, no. 12549)

Hal yang sering luput dari doa seorang mazlum

Sekali lagi, berdoa adalah hak seorang hamba, terlebih seorang mazlum yang jelas-jelas mengalami kezaliman dari seorang zalim. Berdoa apa pun yang ia ingin ucapkan, bahkan memohon agar Allah Ta’ala membalas perbuatan zalim kepada orang yang melakukan kezailman tersebut.

Namun, bukankah tanpa mendoakan keburukan terhadap seorang zalim tersebut, Allah Ta’ala tetap memberikan balasan?

Ingatlah firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Maka, barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Oleh karenanya, hendaklah kita memanfaatkan momen maqbul-nya doa saat terzalimi tersebut dengan memohon karunia dan inayah dari Allah Ta’ala agar diberikan keistikamahan dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Meminta kebahagiaan dunia dan akhirat berupa jodoh, keturunan yang banyak, rezeki yang melimpah, umur yang panjang, keistikamahan dalam keimanan dan ketakwaan, dan kasih sayang Allah di dunia dan akhirat-Nya agar kelak menjadi ahli surga yang didamba-dambakan seluruh makhluk di seluruh tempat dan seluruh zaman.

Hal inilah yang sering luput dari doa seorang mazlum. Mereka hanya cenderung mendoakan balasan setimpal kepada orang yang menzalimi. Padahal, sudah pasti, dengan kemahaadilan Allah Ta’ala, pastilah suatu kezaliman akan dibalas dengan kezaliman.

Allah Ta’ala berfirman,

وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal.” (QS. As-Syura: 40)

Ingatlah bahwa doa yang maqbul adalah bagian dari kasih sayang Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang sedang ditimpa ujian kesabaran. Karena dengannya, Allah menghapus dosa-dosanya dan mengabulkan doa-doanya. Maka, berdoalah untuk kebaikan dunia dan akhiratmu saat engkau dizalimi.

Wallahu a’lam.

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Sumber: https://muslim.or.id/87653-doa-orang-yang-terzalimi.html

Nasehat Agar Menjaga Shalat 

Ditulis Oleh: Syaikh Prof. Dr. Ashim Al Qaryuti hafizhahullah 

Diterjemahkan oleh: Ustadz Amrullah Akadhinta, S.T.

Wasiat terbesarku teruntuk: Keluargaku, saudara-saudaraku, saudari-saudariku, dan orang-orang yang aku cintai karena Allah.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Jadikanlah shalat, setiap hari dan di setiap waktu, sebagai perhatian terbesar kalian, tujuan utama kalian, dan di atas segala sesuatu. Jika kalian melakukan itu, niscaya kalian akan diberi taufik dan kebahagiaan dengan izin Allah.

Sesungguhnya menjaga shalat pada waktunya adalah tanda terbesar iman yang tulus. Itu juga timbangan yang teliti untuk mengukur ketulusan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Allah Ta’ala berfirman:

 إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتۡ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ كِتَـٰبࣰا مَّوۡقُوتࣰا 

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang beriman.” (QS An-Nisāʾ: 103)

Artinya: diwajibkan pada waktu-waktu tertentu, tidak boleh diremehkan.

Nabi ﷺ bersabda:

أحبُّ الأعمال إلى الله الصلاة على وقتها

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah shalat pada waktunya.” (Muttafaq ‘alaih)

Maka jagalah shalat tersebut, dan jangan sampai kalian dikalahkan oleh setan dengan tidur atau begadang berlebihan hingga meninggalkan shalat Subuh. Cukuplah sebagai keutamaan bahwa siapa yang menunaikan shalat Subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah.

Beliau ﷺ juga bersabda:

“مَن صَلَّى الصُّبحَ فهو في ذِمَّةِ اللهِ، فلا يَطلُبَنَّكُمُ اللهُ مِن ذِمَّتِه بشَيءٍ، فيُدرِكَه، فيَكُبَّه في نارِ جَهَنَّمَ

“Barang siapa yang melaksanakan shalat Subuh, maka ia berada dalam perlindungan Allah. Maka jangan sekali-kali Allah menuntut kalian terkait perlindungan-Nya itu sedikit pun; jika Dia menuntutnya, niscaya Dia akan mendapatkannya lalu melemparkannya ke dalam neraka Jahannam.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, termasuk tanda keimanan yang paling sempurna adalah menjaga shalat-shalat wajib. Allah ‘Azza wa Jalla telah menjadikan bagi orang yang menjaga shalat-shalat ini keutamaan yang besar.

Dalam hadis ini, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa siapa yang melaksanakan shalat Subuh, maka ia berada dalam “dzimmah (jaminan/perlindungan) Allah”, yaitu dalam keamanan dan tanggungan-Nya. Shalat Subuh dikhususkan di antara shalat-shalat lainnya karena adanya kesulitan untuk menunaikannya, dan tidak ada yang konsisten menjaganya kecuali orang yang benar-benar tulus imannya. Oleh karena itu, ia berhak mendapatkan keamanan serta berada dalam jaminan dan perlindungan Allah Ta‘ala.

Kemudian beliau ﷺ bersabda:

“Jangan sampai Allah menuntut kalian atas jaminan-Nya dengan sesuatu, lalu Dia mendapatkannya, kemudian Dia menjerumuskannya ke dalam neraka Jahannam.”

Larangan di sini berkaitan dengan hal-hal yang menyebabkan adanya tuntutan karena melanggar perjanjian dan merusak jaminan dari Allah ‘Azza wa Jalla. 

Ucapan Nabi ﷺ ini mengandung dua kemungkinan makna:

Makna pertama, barangsiapa yang menunaikan shalat Subuh, maka ia telah memperoleh jaminan keamanan dari Allah. Maka tidak pantas bagi siapa pun untuk menyakitinya atau menzaliminya. Siapa yang menzalimi atau menyakitinya, maka Allah akan menuntutnya karena telah melanggar jaminan tersebut.

Makna kedua, janganlah kalian meninggalkan shalat Subuh, karena dengan itu perjanjian antara kalian dan Rabb kalian menjadi rusak, sehingga Allah akan menuntut kalian karenanya. Barang siapa melakukan itu, maka Allah akan mendapatkannya dan menjerumuskannya ke dalam neraka Jahannam.

Di antara pelajaran dari hadits ini:

Pertama, motivasi yang kuat untuk menunaikan shalat Subuh.

Kedua, penjelasan tentang besarnya keutamaan dan luasnya rahmat Allah terhadap umat ini, karena Dia menjadikan shalat Subuh memiliki keutamaan yang agung.

Ketiga, penjelasan bahwa Allah akan membalas orang yang menyakiti hamba-hamba-Nya yang shaleh.

Keempat, penegasan bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah, baik di bumi maupun di langit, dan tidak ada seorang pun yang bisa luput dari-Nya jika Dia hendak memberikan balasan.

Penutup

Benarlah orang yang berkata: “Sesungguhnya bagi orang-orang yang menjaga shalat Subuh ada ghanimah (keuntungan besar) yang tidak akan didapatkan oleh orang yang tidur.”

Maka saling tolong-menolonglah kalian dalam menunaikan shalat pada waktunya. Itu adalah perdagangan yang menguntungkan dan tidak akan merugi. Jadilah teladan bagi anak-anak lelaki dan perempuan kalian dengan menjaga shalat tepat pada waktunya.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى﴾

“Dan perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat, dan bersabarlah dalam menjaganya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Thaha: 132)

Semoga Allah menolong kita semua untuk menunaikan shalat Subuh pada waktunya dan berjamaah, bagi para pemuda dan keturunan kita, serta menjaga waktunya pada seluruh shalat. Akhir ucapan nabi Muhammad ﷺ adalah:

الصلاةَ الصلاةَ ! اتقوا اللهَ فيما ملكت أيمانُكم

“Shalat, shalat! Bertakwalah kepada Allah dalam urusan hamba sahaya yang kalian miliki.” (HR Abu Daud)

Wallahu a’lam,
Semoga Allah memberikan kepada kita semua husnul khatimah.

Ditulis oleh ustadz: Amrullah Akadhinta, S.T.

sumber: https://bimbinganislam.com/nasehat-agar-menjaga-shalat/

Kematian yang Kembali Menyadarkan Kita

Belia, muda, maupun tua tidak ada yang tahu, mereka pun bisa merasakan kematian. Setahun yang silam, kita barangkali melihat saudara kita dalam keadaan sehat bugar, ia pun masih muda dan kuat. Namun hari ini ternyata ia telah pergi meninggalkan kita. Kita pun tahu, kita tidak tahu kapan maut menjemput kita. Entah besok, entah lusa, entah kapan. Namun kematian sobat kita, itu sudah cukup sebagai pengingat, yang menyadarkan dari kelalaian kita. Bahwa kita pun akan sama dengannya, akan kembali pada Allah. Dunia akan kita tinggalkan di belakang. Dunia hanya sebagai lahan mencari bekal. Alam akhiratlah tempat akhir kita.

Sungguh kematian dari orang sekeliling kita banyak menyadarkan kita. Oleh karenanya, kita diperingatkan untuk banyak-banyak mengingat mati. Dan faedahnya amat banyak. Kami mengutarakan beberapa di antaranya kali ini.

Dianjurkan untuk mengingat mati dan mempersiapkan diri menghadap kematian …

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan” (HR. An Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani). Yang dimaksud adalah kematian. Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).

Wahai diri ini yang lalai akan kematian, ingatlah faedah mengingat kematian …

[1] Mengingat kematian adalah termasuk ibadah tersendiri, dengan mengingatnya saja seseorang telah mendapatkan ganjaran karena inilah yang diperintahkan oleh suri tauladan kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[2] Mengingat kematian membantu kita dalam khusyu’ dalam shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اذكرِ الموتَ فى صلاتِك فإنَّ الرجلَ إذا ذكر الموتَ فى صلاتِهِ فَحَرِىٌّ أن يحسنَ صلاتَه وصلِّ صلاةَ رجلٍ لا يظن أنه يصلى صلاةً غيرَها وإياك وكلَّ أمرٍ يعتذرُ منه

Ingatlah kematian dalam shalatmu karena jika seseorang mengingat mati dalam shalatnya, maka ia akan memperbagus shalatnya. Shalatlah seperti shalat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan shalat yang lainnya. Hati-hatilah dengan perkara yang kelak malah engkau meminta udzur (meralatnya) (karena tidak bisa memenuhinya).” (HR. Ad Dailami dalam musnad Al Firdaus. Hadits ini hasan sebagaimana kata Syaikh Al Albani)

[3] Mengingat kematian menjadikan seseorang semakin mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah. Karena barangsiapa mengetahui bahwa ia akan menjadi mayit kelak, ia pasti akan berjumpa dengan Allah. Jika tahu bahwa ia akan berjumpa Allah kelak padahal ia akan ditanya tentang amalnya didunia, maka ia pasti akan mempersiapkan jawaban.

[4] Mengingat kematian akan membuat seseorang memperbaiki hidupnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فإنه ما ذكره أحد فى ضيق من العيش إلا وسعه عليه ولا فى سعة إلا ضيقه عليه

Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehiupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al Albani).

[5] Mengingat kematian membuat kita tidak berlaku zholim. Allah Ta’ala berfirman,

أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ

Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al Muthoffifin: 4). Ayat ini dimaksudkan untuk orang-orang yang berlaku zholim dengan berbuat curang ketika menakar. Seandainya mereka tahu bahwa besok ada hari berbangkit dan akan dihisab satu per satu, tentu mereka tidak akan berbuat zholim seperti itu.

Nasehat ulama ….

Abu Darda’ berkata, “Jika mengingat mati, maka anggaplah dirimu akan seperti orang-orang yang telah meninggalkanmu.”

Yang menakjubkan pula dari Ar Robi’ bin Khutsaim …

Ia pernah menggali kubur di rumahnya. Jika dirinya dalam kotor (penuh dosa), ia bergegas memasuki lubang tersebut, berbaring dan berdiam di sana. Lalu ia membaca firman Allah Ta’ala,

رَبِّ ارْجِعُونِ  لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

(Ketika datang kematian pada seseorang, lalu ia berkata): Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al Mu’minuun: 99-100). Ia pun terus mengulanginya dan ia berkata pada dirinya, “Wahai Robi’, mungkinkah engkau kembali (jika telah mati)! Beramallah …

***

Tersadarkan diri ini setelah mendengar kematian sobat kami (Hangga Harsa) yang juga merupakan kakak tertua dari sahabat kami yang meninggal dunia di hari Jum’at hari penuh barokah, 5 Dzulqo’dah 1433 H.

Semoga keadaan mati beliau adalah mati yang husnul khotimah karena diwafatkan pada hari yang penuh barokah yaitu hari Jum’at. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, merahmatinya, melindunginya, memaafkan segala kesalahannya, memuliakan tempat kembalinya, meluaskan alam kuburnya, membersihkan ia dengan air, salju, dan air yang sejuk, semoga Allah membersihkan ia dari segala kesalahan sebagaimana Dia telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, semoga Allah mengganti rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta mengganti keluarganya -di dunia- dengan keluarga yang lebih baik, dan istri di dunia dengan istri yang lebih baik, semoga Allah memasukkan ia ke dalam surga-Nya dan melindungi ia dari siksa kubur dan siksa api neraka.

Sumber bacaanAhkamul Janaiz Fiqhu Tajhizul Mayyit, Kholid Hannuw, terbitan Dar Al ‘Alamiyah, cetakan pertama, 1432 H, hal. 9-13

@ Pagi hari penuh barokah, Sakan 27 Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh, KSA, 6 Dzulqo’dah 1433 H

Sumber https://rumaysho.com/2822-kematian-yang-kembali-menyadarkan-kita.html