Bertakwa Kepada Allah Dan Ahlak Yang Terpuji
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله
عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ جُنْدُبِ بْنِ جُنَادَةَ وَ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَـا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : «اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْـحَسَنَةَ تَمْحُهَا ، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ». رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : حَدِيْثٌ حَسَنٌ. وَفِي بَعْضِ النُّسَخِ : حَسَنٌ صَحِيْحٌ
Dari Abu Dzar Jundub bin Junâdah dan Abu Abdirrahman Mu’âdz bin Jabal Radhiyallahu anhuma , dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Betakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan pergaulilah sesama manusia dengan akhlak mulia.” HR. At-Tirmidzi dan beliau berkata, “Ini adalah Hadits hasan,” dan di sebagian naskah disebutkan, “Hadits ini hasan shahîh.”
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini hasan. Diriwayatkan oleh : Ahmad (V/153, 158, 177), at-Tirmidzi (no. 1987), ad-Darimi (II/323), dan al-Hâkim (I/54) dari seorang shahabat Rasulullah yang bernama Abu Dzar al-Ghifâri Radhiyallahu anhu. Diriwayatkan juga oleh Ahmad (V/236); ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabîr (XX/296, 297, 298) dan dalam al-Mu’jamush Shaghîr (I/192), dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ‘ (IV/418, no. 6058) dari Shahabat Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu. Hadits ini dihukumi hasan oleh Imam at-Tirmidzi, an-Nawawi dalam al–Arba’în dan Riyâdush Shâlihîn, dan Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahîh al-Jâmi’ish Shâghîr no. 97.
SYARAH HADITS
Dalam hadits ini ada tiga pembahasan:
Bertakwa kepada Allah Ta’ala.
Mengiringi perbuatan jelek dengan kebaikan.
Bergaul sesama manusia dengan akhlak yang mulia.
BERTAQWA KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA
Definisi Takwa
Menurut bahasa, takwa berarti menjaga diri atau berhati-hati. Dikatakan:
” اِتَّقَيْتُ الشَّيْءَ وَتَقَيْتُهُ أَتَّقِيْهِ وَأَتْقِيْهِ تُقًى وَتَقِيَّةً وَتِقَاءً ”
Artinya: aku menjaga diri dari sesuatu atau aku berhati-hati terhadapnya.
Allah Ta’ala berfirman,
هُوَ أَهْلُ التَّقْوَىٰ وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ
“…Dialah (Allah) yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan Dia-lah yang berhak memberi ampunan.” [Al-Muddatstsir/74: 56]
Maksud ayat di atas adalah hanya Allah Azza wa Jalla sajalah yang berhak untuk ditakuti siksa-Nya dan hanya Allah Azza wa Jalla sajalah yang berhak untuk diperlakukan dengan apa yang mendatangkan ampunan-Nya.[1]
Inti takwa ialah seorang hamba meletakkan pelindung antara dirinya dengan sesuatu yang ia takutkan dan khawatirkan. Jadi, takwa seseorang kepada Rabb-nya ialah ia meletakkan antara dirinya dan apa yang ia takutkan dari Rabb-nya berupa kemarahan dan hukuman-Nya, sebuah pelindung yang melindungi dirinya dari itu semua yang dia takutkan itu. Pelindung tersebut ialah mengerjakan ketaatan dan menjauhi larangan.[2]
Allah Azza wa Jalla berfirman,
اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
“…Bertakwalah kalian kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya….” [Ali ‘Imrân/3:102]
‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Hendaklah Allah Azza wa Jalla itu ditaati dan tidak dimaksiati, diingat dan tidak dilupakan, serta disyukuri dan tidak diingkari.”[3]
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Hakikat takwa ialah melakukan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dilandasi keimanan dan mengharap pahala-Nya karena ada perintah dan larangan sehingga seseorang melakukan perintah Allah Azza wa Jalla dengan mengimani Dzat yang memerintah dan membenarkan janji-Nya, dan ia meninggalkan apa yang Allah larang baginya dengan mengimani Dzat yang melarangnya dan takut terhadap ancaman-Nya.
Sebagaimana dikatakan Thalq bin Habib rahimahullah : ‘Apabila terjadi fitnah, padamkanlah fitnah itu dengan takwa.’ Orang-orang bertanya, ‘Apakah takwa itu?’ Ia menjawab, ‘Takwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya[4] dari Allah karena mengharap pahala dari-Nya, dan engkau meninggalkan segala bentuk kemaksiatan kepada-Nya berdasarkan cahaya dari-Nya karena takut terhadap siksa-Nya.’
Ini adalah sebaik-baik definisi bagi kalimat takwa. Sebab, seluruh amal mesti memiliki permulaan dan tujuan akhir. Suatu amal tidak dikatakan sebagai ketaatan dan qurbah (amalan yang mendekatkan diri kepada Allah) sampai ia bersumber dari keimanan. Dengan demikian, yang menjadi pendorong ia melakukan suatu amal adalah keimanan semata, bukan adat (kebiasaan), hawa nafsu, mengharap pujian dan kedudukan, dan lainnya. Amal tersebut harus diawali dengan keimanan, sedang tujuan akhirnya adalah mengharap pahala dari Allah dan keridhaan-Nya, inilah yang disebut dengan al-ihtisâb (mengharapkan pahala).
Karena itulah, dua pokok ini sering disebutkan secara bergandengan, seperti dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْـمَـانًا وَاحْتِسَابًا…
“Barangsiapa puasa di bulan Ramadhan atas dasar keimanan dan mengharap pahala…”
مَن قَامَ لَيْلَةَ الْقَدَرِ إِيْـمَـانًا وَاحْتِسَابًا…
“Barangsiapa menghidupkan malam Lailatul Qadar atas dasar keimanan dan mengharap pahala…”
Dan hadits-hadits yang semisalnya.
Perkataannya (maksudnya Thalq bin Habîb-red), ‘Berdasarkan cahaya dari Allah,’ sebagai isyarat pada pokok yang pertama, yaitu keimanan yang menjadi awal (permulaan) dari amal sekaligus pendorongnya.
Sedang perkataannya, ‘Karena mengharap pahala dari Allah Azza wa Jalla ,’ sebagai isyarat pada pokok yang kedua, yaitu al-ihtisâb sebagai tujuan akhirnya, dimana karenanyalah amal tersebut diwujudkan dan dimaksudkan.”[5]
Wasiat Takwa Adalah Wasiat Yang Paling Agung
Takwa adalah wasiat Allah Azza wa Jalla untuk generasi terdahulu dan yang terakhir. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ
“… Dan sungguh, Kami telah memerintahkan kepada orang yang diberi kitab suci sebelummu dan (juga) kepadamu agar bertakwa kepada Allah…” [an-Nisâ’/4: 131]
Takwa adalah wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah pada haji Wada’ di hari penyembelihan hewan kurban, beliau berwasiat kepada manusia agar mereka bertakwa kepada Allah dan mendengar serta taat kepada pemimpin mereka.[6]
Takwa adalah wasiat para generasi Salaf. Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu berkata dalam khutbahnya, “Amma ba’du. Aku wasiatkan kepada kalian, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla , menyanjung-Nya dengan sesuatu yang layak diterima-Nya, memadukan keinginan dengan takut, dan menghimpun permintaan mendesak dengan permintaan, karena Allah Ta’ala menyanjung Nabi Zakariya dan keluarganya dengan berfirman, ‘Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.’ [al-Anbiyâ’/21: 90]”[7]
‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu menulis surat kepada anaknya, ‘Abdullah, “Amma ba’du. Aku berwasiat kepadamu, hendaklah engkau bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla , karena barangsiapa bertakwa kepada-Nya, Dia akan melindunginya. Barangsiapa bersyukur kepada-Nya, Dia menambahkan nikmat-Nya kepadanya. Jadikanlah takwa di kedua pelupuk matamu dan hatimu.”[8]
Dan dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a,
اَللَّـهُمَّ إِنِّيْ أَسْـأَلُكَ الْهُدَى ، وَالتُّـقَى ، وَالْعَفَافَ ، وَالْغِنَى .
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian (dijauhkan dari hal-hal yang tidak baik), dan kecukupan.”[9]
Penyandaran Kata Takwa Dan Maknanya
Apabila kata takwa digandengkan dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala , seperti dalam firmanNya,
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
“… Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan (kembali).” (al Mâ-idah/5: 96) maka maksudnya ialah takutlah kepada kemurkaan dan kemarahan-Nya karena itu adalah hal paling besar yang harus ditakuti. Hukuman dari Allah di dunia dan akhirat ada karena kemurkaan dan kemarahan-Nya.
Terkadang kata takwa digandengkan dengan hukuman Allah Azza wa Jalla dan tempat hukuman tersebut, seperti Neraka atau waktunya seperti hari Kiamat, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ
“Dan periharalah dirimu dari api Neraka, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” [Ali ‘Imrân/3: 131][10]
وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ
“Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah…” [al-Baqarah/2: 281]
Bertakwa Kepada Allah Azza wa Jalla Di Saat Sendirian Maupun Ramai
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada.” Maksudnya ialah bertakwalah kepada-Nya di saat sepi maupun ramai, atau ketika dilihat manusia maupun tidak dilihat manusia.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan dalam do’anya,
أَسْـأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِى الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ…
“Aku memohon kepada-Mu rasa takut kepada-Mu di kala sendirian dan disaksikan orang lain.”[11]
Makna ini diisyaratkan Al-Qur-an, yaitu firman Allah Ta’ala,
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“… Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” [an-Nisâ’/4: 1]
Imam asy-Syâfi’i rahimahullah berkata, “Sesuatu yang paling berharga ada tiga : dermawan meskipun miskin, wara’ (takwa) pada saat sendirian, dan berkata benar di depan orang yang diharapkan dan ditakuti.”[12]
Sulaiman at-Taimi rahimahullah berkata, “Jika seseorang mengerjakan dosa pada saat sendirian, maka pada pagi harinya kehinaan terlihat padanya.”[13]
Orang yang bahagia ialah orang yang memperbaiki diri saat ia sendirian, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memperbaiki kondisi dirinya ketika bersama manusia. Barangsiapa mencari pujian manusia dengan kemurkaan Allah Azza wa Jalla , maka orang yang memujinya akan menjadi penghina baginya.
Kesimpulannya, bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla dikala sendirian adalah pertanda kesempurnaan iman dan mempunyai pengaruh positif, yaitu Allah Azza wa Jalla membuat orang tersebut disanjung oleh orang-orang beriman.
Kiat-Kiat Untuk Meraih Takwa
Menuntut ilmu syar’i.[14]
Melaksanakan perintah Allah Azza wa Jalla dan menjauhkan larangan-Nya. Perintah yang paling besar adalah tauhid (mentauhidkan Allah) dan larangan yang paling besar adalah syirik (mempersekutukan Allah).
Bergaul dengan orang-orang yang shalih.
Selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla .
Keutamaan-Keutamaan Takwa
Banyak sekali nash-nash dari al-Qur-an dan As-Sunnah yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan takwa, di antaranya sebagai berikut:
Surga diwariskan bagi orang-orang yang bertakwa [Maryam/19: 63].
Takwa sebagai sebab seorang hamba dicintai oleh Allah [Ali ‘Imrân/3: 76].
Dibukakannya keberkahan dari langit dan bumi bagi orang yang bertakwa [al-A’râf/7: 96]
Allah Ta’ala bersama orang-orang yang bertakwa [an-Nahl/16: 128].
Dimudahkannya urusan di dunia dan akhirat serta dimudahkan rizkinya bagi orang yang bertakwa [ath-Thalâq/65: 4]
Takwa adalah sebaik-baik bekal seorang hamba di dunia dan di akhirat [al-Baqarah/2:197]
Kesudahan yang baik di dunia dan akhirat adalah bagi orang-orang yang bertakwa [al-A’râf/7: 128]. Dan yang lainnya.[15]
Ciri-Ciri Orang Yang Bertakwa:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabb-mu dan mendapatkan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosanya itu, sedang mereka mengetahui. Balasan bagi mereka ialah ampunan dan Rabb mereka dan Surga-Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal.” [Ali ‘Imrân/3:133-136]
MENGIRINGI KESALAHAN DENGAN PERBUATAN BAIK
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Iringilah kesalahan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus kesalahan tersebut.”
Seorang hamba diperintahkan bertakwa di kala sendirian dan ramai, namun meskipun demikian, ia pasti terkadang lalai dalam bertakwa, misalnya ia tidak mengerjakan sebagian hal-hal yang diperintahkan atau mengerjakan sebagian hal-hal yang dilarang. Oleh karena itu, ia diperintahkan mengerjakan perbuatan yang menghapus kesalahan tersebut. Yaitu mengiringinya dengan perbuatan baik.
Allah Ta’ala berfirman,
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
“Dan laksanakanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. [Hûd/11: 114]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا ، فَقَالَ : رَبِّ إِنِّيْ عَمِلْتُ ذَنْبًا ، فَاغْفِرْ لِيْ ، فَقَالَ اللهُ : «عَلِمَ عَبْدِيْ أَنَّهُ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ ، وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ ، قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِيْ» ، ثُمَّ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا آخَرَ إِلَى أَنْ قَالَ فِى الرَّابِعَةِ : «فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ».
“Apabila seorang hamba mengerjakan dosa, kemudian ia berkata, ‘Rabb-ku, aku telah mengerjakan dosa maka ampunilah aku.’ Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku mengetahui bahwa ia mempunyai Rabb yang bisa menganmpuni dosa dan menghukum karena dosa. Sungguh, Aku telah mengampuni hamba-Ku tersebut.’ Kemudian hamba itu mengerjakan dosa yang lain hingga pada kali keempat, Allah Ta’ala berfirman, ‘Silakan ia berbuat apa saja yang ia inginkan.’”[16]
Maksudnya, selagi hamba tersebut dalam kondisi seperti itu ketika ia mengerjakan dosa, yaitu setiap kali ia mengerjakan dosa, ia beristighfar dari dosa tersebut.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَا لَا ذَنْبَ لَهُ.
“Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak ada dosanya.”[17]
Ditanyakan kepada al-Hasan rahimahullah , “Kenapa salah seorang dari kita tidak malu kepada Rabb-nya? Ia beristighfar atas dosa-dosanya, kemudian berbuat dosa lagi lalu beristighfar lagi, kemudian berbuat dosa lagi?” Al-Hasan berkata, “Setan ingin sekali mengalahkan kalian dengan dosa-dosa tersebut. Oleh karena itu, kalian jangan bosan beristighfar.”[18]
Maknanya, bahwa manusia pasti mengerjakan perbuatan dosa yang telah ditakdirkan baginya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
كُتِبَ عَلَى بَنِيْ آدَمَ حَظُّهُ مِنَ الزِّنَى ، فَهُوَ مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ….
“Telah ditetapkan bagi manusia bagiannya dari zina, ia pasti menemuinya, tidak bisa dihindari….”[19]
Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan jalan keluar bagi seorang hamba dari perbuatan dosa yang dilakukannya, dan menghapuskannya dengan tobat dan istighfar. Jika ia melakukan hal, itu maka ia telah terbebas dari kejelekan dosa, tetapi jika ia terus-menerus melakukan dosa maka ia akan binasa.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ِارْحَمُوا تُرْحَمُوْا ، وَاغْفِرُوا يُغْفَرْ لَكُمْ ، وَيْلٌ ِلأَقْمَاعِ الْقَوْلِ ، وَيْلٌ لِلْمُصِرِّيْنَ الَّذِيْنَ يَصِرُّوْنَ عَلَى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
“Hendaklah kalian menyayangi, niscaya kalian akan disayangi, maafkanlah niscaya kalian dimaafkan, celakalah bagi aqmâ’ul qaul (orang yang mendengarkan perkataan namun tidak mengamalkannya), dan celak bagi orang yang terus-menerus melakukan dosa padahal dia mengetahuinya.”[20]
Tafsir dari aqmâ’ul qaul ialah orang yang kedua telinganya seperti corong; jika ia mendengar hikmah atau pelajaran yang baik dan itu semua masuk ke telinganya lalu keluar dari telinganya yang lain. Ia tidak bisa mengambil manfaat apa pun dari apa yang telah didengarnya.[21]
Makna Dari Perbuatan Baik Yang Mengiringi Kesalahan
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Iringilah kesalahan dengan kebaikan.”
Bisa jadi yang dimaksud dengan kebaikan dalam hadits di atas ialah tobat dari kesalahan tersebut. Seperti firman Allah Ta’ala,
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ
“Sesungguhnya bertobat kepada Allah itu hanya pantas bagi mereka yang melakukan kejahatan karena tidak mengerti, kemudian segera bertobat. Mereka itulah yang diterima Allah tobatnya…” [an-Nisâ’/4: 17]
Ayat di atas menunjukkan bahwa barangsiapa bertobat kepada Allah dengan tobat nasuha dan syarat-syarat tobatnya lengkap, Allah Azza wa Jalla pasti menerima tobatnya sebagaimana keislaman orang kafir dapat dipastikan diterima jika ia masuk Islam dengan keislaman yang benar. Ini pendapat jumhur ulama.
Atau bisa jadi yang dimaksud dengan kebaikan pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Iringilah kesalahan dengan kebaikan, “ ialah kebaikan yang lebih umum daripada tobat seperti terlihat dalam firman Allah Ta’ala,
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
“…Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan…” [Hud/11: 114]
Diriwayatkan dari Abu HurairahRadhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
«أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ ؟» قَالُوْا : بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ ، قَالَ : «إِسْبَاغُ الْوُضُوْءِ عَلَى الْمَكَارِهِ ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْـمَسَاجِدِ ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ ةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ».
“Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang menghapus kesalahan-kesalahan dan meninggikat derajat-derajat?” Para Shahabat berkata, “Mau, wahai Rasulullah.” Nabi bersabda, “Menyempurnakan wudhu’ pada saat-saat sulit (misalnya pada saat cuaca sangat dingin dll.), banyak melangkah ke masjid-masjid, dan menunggu shalat setelah shalat. Itulah ribath (menunggu di pos penjagaan dengan melaksanakan ketaatan-ketaatan yang disyari’atkan), itulah ribath.”[22]
Hadits-hadits yang semakna dengan ini sangat banyak.[23]
Dosa-Dosa Kecil Bisa Dihapus Dengan Melakukan Amal Shalih Disertai Menjauhi Dosa-Dosa Besar.
Sebagian ulama mengatakan bahwa amal shalih hanya menghapuskan dosa-dosa kecil. Ini pendapat yang diriwayatkan dari ‘Atha’ rahimahullah dan selainnya dari generasi Salaf.
Kaum Muslimin bersepakat bahwa tobat adalah wajib, dan kewajiban-kewajiban itu tidak boleh dilakukan kecuali dengan niat dan kemauan, maka jika seandainya dosa-dosa besar itu bisa diampuni dengan wudhu’, shalat, dan pelaksanaan rukun Islam lainnya, maka tobat tidak dibutuhkan lagi, dan ini jelas bathil menurut ijma’ (kesepakatan). Juga, apabila dosa-dosa besar dapat dihapuskan dengan melaksanakan kewajiban, maka tidak ada satu dosa pun bagi oarang yang melakukan berbagai kewajiban syari’at yang akan memasukkannya ke dalam Neraka. Ini menyerupai pendapat Murjiah, dan ini jelas bathil.[24]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِـمَـا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ
“Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at, dan Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa-dosa diantara keduanya selagi dosa-dosa besar dijauhi.”[25]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوْبَةٌ ، فَيُحْسِنُ وُضُوْءَهَا وَخُشُوْعَهَا وَرُكُوْعَهَا ؛ إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِـمَـا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوْبِ ؛ مَا لَـمْ يُؤْتِ كَبِيْرَةً ، وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ.
“Jika waktu shalat fardhu tiba pada seorang Muslim, kemudian ia menyempurnakan wudhu’, khusyu’, dan ruku’nya, maka shalat wajib tersebut adalah penghapus dosa-dosa sebelum shalat wajib tersebut selagi dosa besar tidak dikerjakan. Itu selama setahun penuh.”[26]
Hadits di atas menunjukkan bahwa dosa-dosa besar tidak bisa dihapus dengan kewajiban-kewajiban seperti di hadits tersebut. Akan tetapi dosa besar akan diampuni bila pelakunya bertobat kepada Allah Ta’ala dengan tobat yang nasuh (ikhas, jujur, dan benar).
Dosa-Dosa Besar Hanya Bisa Dihapuskan Dengan Tobat Nasuha
Jumhur ulama berpendapat bahwa dosa-dosa besar tidak bisa dihapus tanpa dengan tobat karena tobat perintah wajib kepada hamba-hamba Allah, dan ini pendapat yang paling benar di antara dua pandapat para ulama. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” [al-Hujuraat/49: 11]
Diantara dalil yang menunjukkan bahwa dosa-dosa besar tidak bisa diampuni tanpa tobat atau hukuman karenanya ialah hadits ‘Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Kami berada di samping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau bersabda,
تُبَايِعُوْنِيْ عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوْا بِاللهِ شَيْئًا ، وَلَا تَزْنُوْا ،وَلَا تَسْرِقُوْا ، وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالْـحَقِّ، فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ. وَمَنْ أَصَابَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَعُوْقِبَ بِهِ ، فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ. وَمَنْ أَصَابَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَسَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ ، فَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ. إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ.
“Berbaitlah kepadaku untuk tidak mempersekutukan Allah dengan suatu apa pun, dan tidak berzina, tidak mencuri, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar. Barangsiapa diantara kalian menepati (bai’at), pahalanya ada pada Allah. Dan barangsiapa mengerjakan salah satu dari perbuatan-perbuatan tersebut kemudian ia dihukum karenanya, maka itu penghapus dosa baginya. Barangsiapa mengerjakan salah satu dari perbuatan-perbuatan tersebut kemudian Allah merahasiakannya baginya, maka ia terserah kepada Allah; jika Dia berkehendak maka Dia memaafkannya dan jika Dia berkehendak maka Dia mengadzabnya.”[27]
Ini menunjukkan bahwa hudûd (hukuman syar’i) adalah penghapus dosa.
Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Yang paling benar dalam masalah ini – wallâhu a’alam– yaitu masalah penghapusan dosa-dosa besar dengan amal-amal ialah: jika yang dimaksudkan bahwa dosa-dosa besar dapat dihapus dengan mengerjakan kewajiban-kewajiban sebagaimana dosa-dosa kecil dapat dihapus dengan menjauhi dosa-dosa besar, maka itu batil. Namun jika yang dimaksud bahwa dosa-dosa besar ditimbang dengan amal-amal pada hari Kiamat kemudian dosa-dosa besar dihapus dengan amal-amal yang mengalahkannya hingga amal-amal tersebut habis dan tidak tersisa pahala bagi pelakunya, maka itu bisa saja terjadi.”[28]
Bertobat Dari Dosa-Dosa Kecil
Seorang Muslim sudah selayaknya bertobat dari dosa-dosa kecil, berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla, yang maknanya : Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.Katakanlah kepada wanita yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [an-Nûr: 30-31]
Orang yang berbuat baik adalah orang yang selalu bertobat dari dosa besar dan dosa-dosa kecil dan ia selalu beramal kebajikan yang dapat menghapuskan dosa-dosanya. Jika dosa-dosa kecil yang terus menerus dikerjakan berubah menjadi dosa-dosa besar, maka muhsinûn (orang-orang yang berbuat baik) harus menjauhi sikap terus menerus mengerjakan dosa kecil agar mereka bisa menjauhi dosa-dosa besar. Sebagaimana dikatakan: tidak ada dosa kecil jika terus menerus dikerjakan dan tidak ada dosa besar jika pelakunya beristighfar.
AKHLAK YANG BAIK TERMASUK SIFAT TAKWA
Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan bergaullah sesama manusia dengan akhlak yang baik.”
Berakhlak baik termasuk sifat takwa dan takwa tidak sempurna kecuali dengannya. Beliau menjelaskan hal ini karena ada sebagian orang yang menduga bahwa takwa ialah melaksanakan hak Allah tanpa melaksanakan hak hamba-hamba-Nya. Allah Azza wa Jalla mengkategorikan akhlak yang baik terhadap manusia sebagai bagian dari penguat ketakwaan.
Orang yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْمَلُ الْـمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ.
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada isterinya.”[29]
Apa Yang Dimaksud Dengan Akhlak Yang Baik?
Sebagian ulama mengatakan bahwa akhlak yang baik itu berupa menahan gangguan, menahan amarah, memberi bantuan, bersabar terhadap gangguan orang lain, wajah yang berseri, tidak mengganggu orang lain, dan berkorban dalam bentuk memberi bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan. Demikian pula dengan amar ma’ruf nahi munkar serta mengembalikan barang-barang yang dizhalimi tanpa melewati batas.[30]
Kiat Meraih Akhlak Yang Baik
Akhlak yang dikatakan alami (bawaan) artinya bahwa sejak awal seseorang telah dianugerahi akhlak yang baik tersebut. Dan adapula yang tadinya seseorang tidak berakhlak baik, namun ia berusaha membiasakan dirinya berakhlak baik hingga benar-benar memilikinya.[31]
Akhlak seorang hamba akan menjadi baik jika ia mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliaulah orang yang mewujudkan kedudukan ini dan sebagai teladannya. Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” [al-Ahzâb/33: 21]
Setiap muslim wajib mempelajari jalan hidup beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari semua sisi kehidupannya, bagaimana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berakhlak terhadap Rabbnya? Bagaimana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berakhlak terhadap kaum Muslimin? Bagaimana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bergaul dengan keluarganya? Bagaimana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bergaul dengan para Shahabatnya? Dan bagaimana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bergaul dengan manusia dan lainnya?
Diantara sebab untuk meraih akhlak yang baik ialah dengan duduk dan bergaul bersama orang yang memiliki akhlak yang baik lagi bertakwa dan suci. Karena seseorang akan terpengaruh dengan teman bergaulnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اَلرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُـخَالِلُ
“Seseorang dilihat dari agama temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat dengan siapa ia berteman.”[32]
Demikian juga ia wajib menjauhkan dirinya dari teman-teman yang buruk lagi jahat yang tidak berakhlak dengan akhlak yang terpuji yang diserukan agama Islam yang lurus ini.[33]
FAWAID HADITS
Semangatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengarahkan umatnya kepada setiap kebaikan.
Wajib bagi seseorang untuk memenuhi hak Allah dengan bertakwa kepada-Nya.
Wajibnya bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla dimana pun seseorang berada. Yaitu dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya, baik saat bersama orang lain maupun ketika sendirian.
Wasiat takwa adalah wasiat yang paling agung.
Wajib seseorang memenuhi hak dirinya dengan bertobat dan berbuat kebajikan.
Sesungguhnya kebaikan menghapuskan kesalahan.
Dosa-dosa kecil dapat dihapus dengan melakukan amal-amal yang wajib dan sunnah sesuai dengan syari’at Islam (ikhlas dan ittiba’).
Dosa-dosa besar hanya bisa dihapus dengan tobat yang nasuh (ikhlas, jujur, dan benar).
Anjuran bergaul bersama manusia dengan akhlak yang baik.
Akhlak yang baik termasuk dari kesempurnaan iman dan sifat orang-orang yang bertakwa, serta termasuk puncak dari agama Islam yang lurus.
Akhlak yang baik termasuk asas dari peradaban hidup manusia, sebagai sebab bersatunya umat, tersebarnya rasa cinta, dicintai Allah Ta’ala, dan diangkatnya derajat pada hari Kiamat.
Diantara kesempurnaan takwa ialah membenci pelaku maksiat dan menjauhkan diri dari bermajlis dan bergaul dengan mereka apabila tidak mau diajak kepada kebaikan atau tidak mau berhenti dari kemungkaran.
MARAJI’
Al-Qur-an dan terjemahnya.
Kutubus Sab’ah.
Shahîh Ibni Hibbân dengan At-Ta’liqâtul Hisân ‘ala Shahîh Ibni Hibbân.
Sunan ad-Darimi.
Mustadrak al-Hâkim.
Al-Mu’jamul Kabîr, karya ath-Thabrani.
Al-Mu’jamush Shaghîr, karya ath-Thabrani.
Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam, karya Ibnu Rajab al-Hanbali. Tahqiq: Syu’aib al-Arnauth dan Ibrahim Bâ
Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah.
Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr.
Qawâ’id wa Fawâ-id minal ‘Arba’în an-Nawawiyyah, karya Nazhim Muhammad Sulthâ
Al-Wâfi fii Syarhil ‘Arba’în an-Nawawiyyah,, karya Dr. Musthafa al-Bugha dan Muhyidin Mustha.
Syarhul ‘Arba’în an-Nawawiyyah,, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.
Fawâ-idut Taqwa minal Qur-ânil Karîm karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, cet. I Mu-assasah Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, th. 1428 H.
At-Taqwa al-Ghâyatul Mansyûdah wad Durratul Mafqûdah karya Syaikh Ahmad Farid, cet. I Darush Shuma’i, th. 1414 H.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
Footnote
[1] Lihat Lisânul ‘Arab (XV/378), karya Ibnul Manzhûr.
[2] Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/398).
[3] Atsar shahîh: Diriwayatkan oleh ath-Thabrâni dalam al-Mu’jamul Kabîr (no. 8502), al-Hâkim (II/294), Ibnu Jarîr dalam Tafsîr ath-Thabari (III/375-376), dan Ibnu Katsîr dalam Tafsîrnya (II/87).
[4] Iman dan ilmu yang benar dari al-Qur-an dan Sunnah yang shahih berdasarkan pemahaman Salafush Shalih.
[5]Risalah Tabûkiyyah (hal. 15-17). Dinukil dari at-Taqwa al-Ghâyatul Mansyûdah (hal. 11).
[6] Shahîh: Ahmad (V/251), at-Tirmidzi (no. 616), dan Ibnu Hibbân (no. 4544) dari Abu Umâmah Radhiyallahu anhu.
[7] Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/406).
[8] Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/406).
[9] Shahih: HR. Muslim (no. 2721), at-Tirmidzi (no. 3489), Ibnu Mâjah (no. 3832), dan Ahmad (I/416, 437) dari ‘Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu.
[10] Lihat Qawâ’id wa Fâwâ-id (hal. 160).
[11] Shahih: HR. an-Nasâ-i (III/54-55), Ibnu Hibbân (no. 1971) dan selainnya dari Ammâr bin Yâsir z .
[12] Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/408).
[13] Jâmi’ul ‘Ulûm wal (I/411).
[14] Baca buku penulis “Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga”
[15] Lihat Qawâ’id wa Fawâ-id (hal. 161) dan Fawâ-id Taqwa minal Qur-ânil Karîm karya Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn
[16] Shahih: HR. al-Bukhâri (no. 7507) dan Muslim (no. 2758) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[17] Hasan: HR. Ibnu Mâjah (no. 4250) dari ‘Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu.
[18] Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/415).
[19] Shahîh: HR. Al-Bukhâri (no. 6243) dan Muslim (no. 2657 (20)) dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu.
[20] Shahîh: HR. Ahmad (II/165), al-Bukhâri dalam al-Adabul Mufrad (no. 380), ‘Abd bin Humaid dalam al-Muntakhab (no. 320) dan selainnya dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu.
[21] Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/416).
[22] Shahîh: HR. Muslim (no. 251).
[23] Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/416-424) dan Qawâ’id wa Fawâ-id (hal. 163-164).
[24] Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/425-426).
[25] Shahîh: HR. Muslim (no. 233).
[26] Shahih: HR. Muslim (no. 228).
[27] Shahih: HR. Al-Bukhâri (no. 18) dan Muslim (no. 1709) lafazh ini milik Muslim.
[28] Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/438).
[29] Shahih lighairihi: HR. Ahmad (II/250 dan 472), at-Tirmidzi (no. 1162) dan Ibnu Hibbân (no. 1311—al-Mawârid), dari Abu Hurairah z. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 284).
[30] Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/454-458).
[31] Lihat Syarh al-Arba’în an-Nawâwiyyah (hal. 221) karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.
[32] Hasan: HR. Abu Dawud (no. 4833), at-Tirmidzi (no. 2378), Ahmad (II/303), dan al-Hâkim (IV/171). Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 928).
[33] Lihat Qawâ’id wa Fawâ-id (hal. 167-168).
Referensi : https://almanhaj.or.id/12179-bertakwa-kepada-allah-dan-ahlak-yang-terpuji.html
Tips Mengatasi Malas Shalat #video ~7
Menceraikan Istri Ketika Hamil, Bolehkah? #shorts
Tujuh Dampak Harta Haram
Ternyata harta haram punya dampak jelek yang luar biasa.
Kita diperintahkan untuk memakan yang halal dan menjauhi yang haram sebagaimana dalam doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
اللَّهُمَّ اكْفِني بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR. Tirmidzi, no. 3563; Ahmad, 1:153; dan Al-Hakim, 1:538. Hadits ini dinilai hasan menurut At-Tirmidzi. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy menyetujui hasannya hadits ini sebagaimana dalam Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 2:509-510).
Dan ingat rezeki yang halal walau sedikit itu pasti lebih berkah. Abul ‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim bin Taimiyyah Al-Harrani (661-728 H) rahimahullah pernah berkata,
وَالْقَلِيلُ مِنْ الْحَلَالِ يُبَارَكُ فِيهِ وَالْحَرَامُ الْكَثِيرُ يَذْهَبُ وَيَمْحَقُهُ اللَّهُ تَعَالَى
“Sedikit dari yang halal itu lebih bawa berkah di dalamnya. Sedangkan yang haram yang jumlahnya banyak hanya cepat hilang dan Allah akan menghancurkannya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:646)
Dalam mencari rezeki, kebanyakan kita mencarinya asalkan dapat, namun tidak peduli halal dan haramnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh-jauh hari sudah mengatakan,
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
“Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau yang haram.” (HR. Bukhari no. 2083, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).
Akhirnya ada yang jadi budak dunia. Pokoknya dunia diperoleh tanpa pernah peduli aturan. Inilah mereka yang disebut dalam hadits,
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ ، إِنْ أُعْطِىَ رَضِىَ ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ
“Celakalah wahai budak dinar, dirham, qothifah (pakaian yang memiliki beludru), khomishoh (pakaian berwarna hitam dan ada bintik-bintik merah). Jika ia diberi, maka ia rida. Jika ia tidak diberi, maka ia tidak rida.” (HR. Bukhari, no. 2886, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).
Lantas Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,
وَهَذَا هُوَ عَبْدُ هَذِهِ الْأُمُورِ فَلَوْ طَلَبَهَا مِنْ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ إذَا أَعْطَاهُ إيَّاهَا رَضِيَ ؛ وَإِذَا مَنَعَهُ إيَّاهَا سَخِطَ وَإِنَّمَا عَبْدُ اللَّهِ مَنْ يُرْضِيهِ مَا يُرْضِي اللَّهَ ؛ وَيُسْخِطُهُ مَا يُسْخِطُ اللَّهَ ؛ وَيُحِبُّ مَا أَحَبَّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَيُبْغِضُ مَا أَبْغَضَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ
“Inilah yang namanya budak harta-harta tadi. Jika ia memintanya dari Allah dan Allah memberinya, ia pun rida. Namun ketika Allah tidak memberinya, ia pun murka. ‘Abdullah (hamba Allah) adalah orang yang rida terhadap apa yang Allah ridai, dan ia murka terhadap apa yang Allah murkai, cinta terhadap apa yang Allah dan Rasul-nya cintai serta benci terhadap apa yang Allah dan Rasul-Nya benci.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:190)
Ada pula yang masih peka hatinya namun kurang mendalami halal dan haram. Yang kedua ini disuruh untuk belajar muamalah terkait hal halal dan haram.
‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,
مَنْ اتَّجَرَ قَبْلَ أَنْ يَتَفَقَّهَ ارْتَطَمَ فِي الرِّبَا ثُمَّ ارْتَطَمَ ثُمَّ ارْتَطَمَ
“Barangsiapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus.”
‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu juga mengatakan,
لَا يَتَّجِرْ فِي سُوقِنَا إلَّا مَنْ فَقِهَ أَكْلَ الرِّبَا
“Janganlah seseorang berdagang di pasar kami sampai dia paham betul mengenai seluk beluk riba.” (Lihat Mughni Al-Muhtaj, 6:310)
Kalau halal-haram tidak diperhatikan, dampak jeleknya begitu luar biasa. Kali ini kita akan lihat apa saja dampak dari harta haram.
Pertama: Memakan harta haram berarti mendurhakai Allah dan mengikuti langkah setan.
Dalam surah Al-Baqarah disebutkan,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168)
Disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Badai’ Al-Fawaid (3:381-385), ada beberapa langkah setan dalam menyesatkan manusia, jika langkah pertama tidak bisa, maka akan beralih pada langkah selanjutnya dan seterusnya:
Langkah pertama: Diajak pada kekafiran, kesyirikan, serta memusuhi Allah dan Rasul-Nya.
Langkah kedua: Diajak pada amalan yang tidak ada tuntunan (bidah).
Langkah ketiga: Diajak pada dosa besar (al-kabair).
Langkah keempat: Diajak dalam dosa kecil (ash-shaghair).
Langkah kelima: Disibukkan dengan perkara mubah (yang sifatnya boleh, tidak ada pahala dan tidak ada sanksi di dalamnya) hingga berlebihan.
Langkah keenam: Disibukkan dalam amalan yang kurang afdal, padahal ada amalan yang lebih afdal.
Kedua: Akan membuat kurang semangat dalam beramal saleh
Dalam ayat disebutkan,
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang thayyib (yang baik), dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mu’minun: 51). Yang dimaksud dengan makan yang thayyib di sini adalah makan yang halal sebagaimana disebutkan oleh Sa’id bin Jubair dan Adh-Dhahak. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 5:462.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala pada ayat ini memerintahkan para rasul ‘alaihimush sholaatu was salaam untuk memakan makanan yang halal dan beramal saleh. Penyandingan dua perintah ini adalah isyarat bahwa makanan halal adalah yang menyemangati melakukan amal saleh.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:462).
Ketiga: Memakan harta haram adalah kebiasaan buruk orang Yahudi.
Sebagaimana disebutkan dalam ayat,
وَتَرَىٰ كَثِيرًا مِنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
“Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu. Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.” (QS. Al-Maidah: 62-63)
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa rabbaniyyun adalah para ulama yang menjadi pelayan melayani rakyatnya. Sedangkan ahbar hanyalah sebagai ulama. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3:429.
Ayat berikut membicarakan kebiasaan Yahudi yang memakan riba,
فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرً, وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan disebabkan mereka memakan riba, Padahal Sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (QS. An-Nisaa’: 160-161)
Ibnu Katsir mengatakan bahwa Allah telah melarang riba pada kaum Yahudi, namun mereka menerjangnya dan mereka memakan riba tersebut. Mereka pun melakukan pengelabuan untuk bisa menerjang riba. Itulah yang dilakukan mereka memakan harta manusia dengan cara yang batil. (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3:273).
Siapa yang mengambil riba bahkan melakukan tipu daya dan akal-akalan supaya riba itu menjadi halal, berarti ia telah mengikuti jejak kaum Yahudi. Dan inilah yang sudah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ
“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?” (HR. Bukhari, no. 7319)
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim, no. 2669).
Ibnu Taimiyah menjelaskan, tidak diragukan lagi bahwa umat Islam ada yang kelak akan mengikuti jejak Yahudi dan Nashrani dalam sebagian perkara. Lihat Majmu’ah Al-Fatawa, 27: 286.
Keempat: Badan yang tumbuh dari harta yang haram akan berhak disentuh api neraka.
Yang pernah dinasihati oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Ka’ab,
يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ
“Wahai Ka’ab bin ‘Ujroh, sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram akan berhak dibakar dalam api neraka.” (HR. Tirmidzi, no. 614. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).
Kelima: Doa sulit dikabulkan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا} وَقَالَ تَعَالَى {يَا أَيُّهَا الذِّيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌوَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَه
‘Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik (thayyib), tidak menerima kecuali yang baik (thayyib). Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kaum mukminin seperti apa yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shalih.’ (QS. Al-Mu’minun: 51). Dan Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu.’ (QS. Al-Baqarah: 172). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seseorang yang lama bepergian; rambutnya kusut, berdebu, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit, lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku.’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dari yang haram, bagaimana mungkin doanya bisa terkabul.” (HR. Muslim, no. 1015)
Empat sebab terkabulnya doa sudah ada pada orang ini yaitu:
- Keadaan dalam perjalanan jauh (safar).
- Meminta dalam keadaan sangat butuh (genting).
- Menengadahkan tangan ke langit.
- Memanggil Allah dengan panggilan “Yaa Rabbii” (wahai Rabb-ku) atau memuji Allah dengan menyebut nama dan sifat-Nya, misalnya: “Yaa Dzal Jalaali wal Ikraam” (wahai Rabb yang memiliki keagungan dan kemuliaan), “Yaa Mujiibas Saa’iliin” (wahai Rabb yang Mengabulkan doa orang yang meminta kepada-Mu), dan lain-lain.
Namun dikarenakan harta haram membuat doanya sulit terkabul.
Keenam: Harta haram membuat kaum muslimin jadi mundur dan hina
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
“Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah (salah satu transaksi riba), mengikuti ekor sapi (maksudnya: sibuk dengan peternakan), ridha dengan bercocok tanam (maksudnya: sibuk dengan pertanian) dan meninggalkan jihad (yang saat itu fardhu ‘ain), maka Allah akan menguasakan kehinaan atas kalian. Allah tidak akan mencabutnya dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud, no. 3462. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. Lihat ‘Aunul Ma’bud, 9:242).
Ketujuh: Karena harta haram banyak musibah dan bencana terjadi
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا ظَهَرَ الزِّناَ وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ
“Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diadzab oleh Allah.” (HR. Al-Hakim. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Imam Adz-Dzahabi mengatakan, hadits ini shahih. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairi sebagaimana disebut dalam Shahih At-Targhib wa Tarhib, no. 1859).
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita rezeki yang halal.
Tulisan ini dikembangkan dari bahasan “Harta Haram Muamalat Kontemporer” karya Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A.
Disusun Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 H (15 November 2019) di #DarushSholihin
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber https://rumaysho.com/22549-tujuh-dampak-harta-haram.html
Sebab-Sebab Kerasnya Hati atau Kalbu
Sesuatu ada tentunya dengan adanya sebab. Mengenal sebab merupakan satu perkara penting dalam mengobati dan menerapi satu penyakit. Berapa banyak dokter atau tabib yang gagal memberikan obat yang pas karena tidak mengetahui sebab penyakit tersebut.
Kalbu atau hati yang keras adalah penyakit berbahaya yang terjadi tentunya dengan sebab-sebab tingkah laku pemiliknya. Diantara sebab-sebab kerasnya kalbu adalah:
1. Ketergantungan Kalbu kepada Dunia serta Melupakan Akhirat
Kalau kalbu sudah keterlaluan mencintai dunia melebihi akhirat, maka kalbu tergantung terhadapnya, sehingga lambat laun keimanan menjadi lemah dan akhirnya merasa berat untuk menjalankan ibadah.
2. Lalai
Lalai pada asalnya adalah lupa yang terjadi karena tidak sadar. Allah ta’ala jelaskan hal ini dalam firmanNya:
ٱقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِى غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ
“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” (QS. Al-Anbiya’ :1).
Imam asy-Syaukani menjelaskan pengertian Ghaflah (lalai) dalam ayat ini dengan menyatakan: “Pengertiannya mereka berada dalam kelalaian oleh dunia dan berpaling dari akherat, tidak bersiap-siap dengan kewajiban mereka berupa iman kepada Allah dan melaksanakan kewajiban serta menjauhi semua larangan”
(Fathu al-Qadir 3/566).
Sebab ini memiliki pengaruh langsung dalam mengerasnya kalbu. Sehingga imam ibnu al-Qayyim rahimahullahu menyatakan: “semakin kuat sifat lalai dalam kalbu semakin membuatnya keras”
(al-Waabil ash-Shaib hal 99).
Lalai merupakan penyakit yang berbahaya apabila telah menjalar di dalam kalbu dan bersarang di dalam jiwa. Karena akan berakibat anggota badan saling mendukung untuk menutup pintu hidayah, sehingga kalbu akhirnya menjadi keras dan terkunci.
Allah berfirman,
أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ طَبَعَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَٰرِهِمْ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُونَ
“Mereka itulah orang-orang yang kalbu, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itu lah orang-orang yang lalai” (QS. An-Nahl :108)
“Dalam ayat diatas Allah memberitahukan, bahwa orang yang lalai adalah mereka yang memiliki kalbu keras membatu, tidak mau lembut dan lunak, tidak mempan dengan berbagai nasehat. Kalbu yang keras bagaikan batu atau bahkan lebih keras lagi, karena mereka punya mata, namun tak mampu melihat kebenaran dan hakikat setiap perkara”.
Karena itulah imam al-Alusi menyatakan: Kerasnya kalbu (qaswah al-Qalbu) adalah sumber keburukan dan ia bersumber dari panjangnya kelalaian terhadap Allah .”
(Ruuh al-Ma’ani 27/181).
3. Kawan yang buruk
Ini juga salah satu sebab terbesar yang mempengaruhi kerasnya kalbu dan jauhnya seseorang dari Allah. Orang yang hidupnya di tengah-tengah manusia yang banyak berkubang dalam kemaksiatan dan kemungkaran tentulah akan terpengaruh. Sebab teman yang buruk akan berusaha menjauhkannya dari keistiqamahan dan menghalanginya dari mengingat Allah ta’ala, sholat dan berakhlak mulia.
Oleh karena itu didapatkan dalam al-Qur`an perintah Allah kepada Rasul-Nya untuk bergaul dengan orang-orang shalih, sebagaimana firmanNya,
وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًا
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”
(QS al-kahfi:28)
4. Terbiasa dengan Kemaksiatan dan Kemungkaran
Dosa merupakan penghalang seseorang untuk sampai kepada Allah. Ia merupakan pembegal perjalanan dan membalikkan arah perjalanan yang lurus.
Kemaksiatan meskipun kecil, terkadang memicu terjadinya bentuk kemaksiatan lain yang lebih besar dari yang pertama. Maka melemahlah kebesaran dan keagungan Allah di dalam kalbu, dan melemah pula jalannya kalbu menuju Allah dan kampung akhirat sehingga menjadi terhalang dan bahkan terhenti tak mampu lagi bergerak. Lihatlah keterangan rasulullah dalam sabdanya:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Seorang hamba apabila berbuat dosa kana kalbunya diwarnai dengan titik hitam. Apabila ia menginggalkannya dan beristighfar serta bertaubat maka kalbunya dibersihkan dan bila mengulang maka ditambahkan padanya (titik hitam) hingga mendominasi kalbunya. Inilah dia Raan yang Allah jelaskan dalam firmanNya,
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.”
(QS al-Muthafifin :14).
5. Berpaling dari Mengingat Allah, Kematian, Sakaratul Maut, Kubur dan Kedasyatannya
Sehingga seluruh perkara akhirat baik berupa adzab, nikmat, timbangan amal, mahsyar, shirath, Surga dan Neraka, semua telah hilang dari ingatan dan kalbunya. Demikianlah akibat lalainya manusia dari mengingat Allah karena kesibukan yang menenggelamkan mereka dalam urusan dan kenikmatan dunia yang fana ini.
Memang tidak dipungkiri membicarakan permasalahan dan urusan dunia adalah perkara mubah, namun tenggelam dan menghabiskan waktunya hanya untuk urusan tersebut menjadikan kalbu keras, karena hilangnya kalbu dari zikir kepadaNya. Oleh karena itulah hati ini telah mati sebelum kematian tubuh. Rasululloh pernah bersabda :
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
“Perumpamaan irang yang berzikir kepada Allah dan yang tidak berzikir seperti perumpamaan orang yang hidup dan mayat (yang mati).”
(Muttafaqun ‘alaihi)
Demikianlah beberapa sebab kerasnya hati agar kita semua dapat menghindarinya.
Semoga bermanfaat.
Wabillahi taufiq.
Disusun oleh:
Ustadz Kholid Syamhudi حفظه الله
Selasa, 26 Ramadhan 1441 H/ 19 Mei 2020 M
Baca selengkapnya: https://bimbinganislam.com/sebab-sebab-kerasnya-hati-atau-kalbu/
Belajar Tawakal Kepada Burung
Dari Umar bin Khattab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kamu tawakal kepada Allah dengan ketawakalan yang sungguh-sungguh, maka Allah akan memberikan rizki kepadamu seperti Allah memberikan rizki kepada burung, pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang petang dalam keadaan kenyang.” (Hadis riwayat Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Akan masuk surga orang-orang yang hati mereka seperti hati burung” (Hadis riwayat Muslim) Orang-orang yang bertawakallah yang dimaksud hati mereka seperti hati burung.
Demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji perangai burung yang senantiasa tawakal dalam usahanya mengais rizki Allah di dunia ini. Hingga beliau menasehatkan umatnya untuk mencontoh binatang yang selalu ada di sekitar kita itu. Ini menunjukkan, bahwa sesungguhnya alam sekitar dapat menjadi guru kehidupan, tentu hanya bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran.
Secara khusus, hadis ini mengajarkan kita tentang tawakal.Paraulama mendefinisikan tawakal sebagai, “Kesungguhan hati dalam bersandar kepada Allah ‘azza wa jalla dalam mendatangkan kemaslahatan dan mencegah dari bahaya pada semua urusan dunia dan akhirat, bersandar dalam semua perkara kepada-Nya serta beriman dengan sungguh-sungguh bahwa tidak ada yang dapat memberi dan mencegah, mendatangkan manfaat dan bahaya selain-Nya.”
Diantara nama Allah adalah “Al-Wakiil”. Ibnul Atsir mengatakan bahwa makna nama Allah “Al-Wakil” adalah: Allah satu-satunya yang menjamin dan memberikan rizki bagi hamba-hambanya, Dia menyendiri dalam segala hal yang dijaminnya.
Al-Ghazali menyatakan bahwa “Al-Wakiil” adalah Yang disandarkan kepada-Nya segala urusan.
Tanpa tawakal, kegiatan usaha untuk mendapatkan rizki akan mendatangkan ragam malapetaka. Penyelewengan manusia dalam orientasi mencari rizki terjadi ketika kekuatan tawakal sangat lemah. Orientasi dalam mencari rizki menjadi pragmatis, yang dicita-citakan menjadi hanya sebatas perolehan nominal, bukan lagi keberkahan dan manfaat.
Orang yang mengalami disorientasi dalam soal rizki ini, kelak tidak akan segan-segan mengusahakan penghasilannya dari jalan yang tidak diridhoi oleh Allah. Ia tidak akan peduli lagi dengan cara halal atau haram. Yang penting baginya adalah meraup keuntungan sebesar-besarnya. Padahal Allah berfirman,
“Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal.” (QS As-Syura: 36)
Orang-orang tawakal yakin bahwa rizki di dunia ini milik Allah, Allah yang membagi-baginya kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Sementara rizki-Nya di akhirat kelak jauh lebih baik dan kekal.
Tawakal adalah ciri orang beriman. Allah berfirman, “Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS Ali ‘Imran: 122)
Namun, sikap tawakal tentu bukan berarti pasrah menunggu dan berpangku tangan. Tawakal justru disertai kerja dan usaha. Tawakal bersifat aktif dan tidak pasif. Bekerja sama sekali tidak menafikan nilai tawakal.
Pada hadis tentang burung di atas terdapat dalil atas hal ini. “Pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang petang dalam keadaan kenyang.” Mubarakfuri berkata, “Hadis ini mengisyaratkan bahwa tawakal bukanlah dengan diam menganggur, tapi berusaha untuk mencari sebab, karena burung itu diberi rizki dengan berusaha dan mencari. Oleh karena itu Imam Ahmad berkata, “Hadis ini tidak manunjukkan atas meninggalkan usaha, akan tetapi padanya justru terdapat dalil atas mencari rizki.” (Tuhfah al-Ahwadzi)
Ibnu Abbas mengisahkan, “Dahulu penduduk Yaman berhaji tanpa membawa perbekalan. Mereka berkata, “kami bertawakal”. Sesampainya di Mekkah, mereka meminta-minta kepada orang lain. Lalu turunlah firman Allah, “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa” (Hadis riwayat Bukhari)
Oleh karena itu para ulama menjelaskan bahwa tawakal harus dibangun diatas dua pilar: (1) Bersandar kepada Allah. (2) Mengupayakan sebab yang dihalalkan. Orang berupaya menempuh sebab saja namun tidak bersandar kepada Allah, maka berarti ia cacat tauhidnya. Adapun orang yang bersandar kepada Allah namun ia tidak berusaha menempuh sebab yang dihalalkan, maka ia berarti cacat akalnya***Wallahu a’lam bish-shawab
Abu Khaleed Resa Gunarsa – Subang, 18 Ramadhan 1432 H
sumber : https://sabilulilmi.wordpress.com/2011/08/18/belajar-tawakal-kepada-burung/
Wasiat Penting bagi Kaum Beriman di Zaman Fitnah
Dengan nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.
Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. Selawat dan salam serta keberkahan semoga tercurah kepada hamba dan utusan-Nya, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarganya, para sahabat, dan pengikut setia beliau. Amma ba’du.
Sesungguhnya di antara perkara paling agung yang seharusnya mendapatkan perhatian di zaman ini, wahai saudara-saudara sekalian, ialah hendaknya seorang insan beribadah kepada Allah Rabbnya Tabaraka Wa Ta’ala di atas bayyinah (bukti). Allah Ta’ala berfirman,
أَفَمَن كَانَ عَلَىٰ بَیِّنَةࣲ مِّن رَّبِّهِۦ
“Apakah seorang yang berada di atas bayyinah/ bukti yang berasal dari Rabbnya …” (QS. Muhammad: 14)
Dan hendaknya dia berada di atas nur (cahaya). Allah Ta’ala berfirman,
أَوَمَن كَانَ مَیۡتࣰا فَأَحۡیَیۡنَـٰهُ وَجَعَلۡنَا لَهُۥ نُورࣰا یَمۡشِی بِهِۦ فِی ٱلنَّاسِ
“Apakah orang yang dahulunya mati (hatinya) lalu Kami hidupkan dia (dengan iman) dan Kami jadikan untuknya cahaya sehingga dia bisa berjalan di tengah manusia…” (QS. Al-An’am: 122)
Demikian pula, hendaknya dia beragama di atas bashirah (hujjah yang nyata). Allah Ta’ala berfirman,
قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِیلِیۤ أَدۡعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِیرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِیۖ
“Katakanlah, ‘Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah di atas bashirah/hujjah yang nyata, inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku…’” (QS. Yusuf: 108)
Maka, al-bayyinah, nur, dan bashirah ini termasuk perkara yang dapat membantu insan dalam menjalani kehidupan ini agar tetap di atas jalan yang lurus, dan tegar di atasnya sampai mati.
Kebutuhan terhadap hal ini di masa sekarang ini, wahai saudara-saudara sekalian, yang mana banyak hal menjadi rancu/ tercampur aduk dan di masa ini juga terjadi keterasingan/ ghurbah dalam beragama, sebagaimana apa yang memang telah dikehendaki oleh Allah. Maka, hal ini termasuk perkara yang paling penting yang harus diperhatikan dan termasuk sebab paling utama untuk bisa tegar dalam beragama.
Makna-makna ini berporos pada beberapa poin penting;
Pertama: ilmu
Kedua: keyakinan
Ketiga: tsabat/ keteguhan
Seorang akan bisa berada di atas bayyinah, di atas nur, dan bashirah apabila dia memadukan ketiga poin di atas.
Pertama, hendaklah dia beragama dengan landasan ilmu. Yaitu dia beribadah kepada Allah dengan dasar ilmu. Tidaklah dia melakukan atau meninggalkan suatu hal yang berkaitan dengan keyakinan atau ibadah (amalan), melainkan benar-benar berada di atas pondasi ilmu yang orisinil bersumber dari kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengikuti pemahaman para sahabat dan salafus shalih.
Yang kedua, hendaklah dia termasuk orang yang memiliki keyakinan yang kuat, dan ini termasuk perkara yang paling penting dimiliki di zaman ini. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوا۟
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (QS. Al-Hujurat: 15)
Pada zaman ini faktor-faktor yang memalingkan dari keyakinan itu sangat banyak. Hal-hal yang mendatangkan keraguan juga merebak. Maka, seyogyanya menjadi suatu hal yang paling harus dikejar di masa ini adalah dengan anda meyakini dengan kuat perkara-perkara yang wajib diyakini. Ini termasuk pondasi bagi anda yang harus anda pegang teguh dalam hidup.
Yang ketiga, hendaklah anda tegar di atas kebenaran ini sampai mati, perkara ini/ urusan dunia ini dekat/ tidak jauh. Dan hidup ini (di dunia) hanya sebentar. Maksud perkara ini dekat, yaitu kita pasti akan meninggalkan dunia ini.
Maka, kami berpesan dengan sangat agar kita tetap tegar. Janganlah jadi orang yang terpedaya sebagaimana orang-orang lain telah terpedaya sehingga dia pun berpaling dari jalan yang benar dan meninggalkan petunjuk yang Allah berikan kepadanya.
Faktor-faktor yang membelokkan dari keteguhan di zaman ini sangat banyak dan hal-hal yang membuat lalai/ terlena itu lebih banyak lagi. Maka, perkara yang hendaknya kita selalu saling berwasiat dengannya wahai saudaraku yang tercinta adalah agar kita harus perhatian dalam hal ini. Yaitu agar kita selalu memperhatikan hal ilmu, perhatian dalam hal keyakinan, dan perhatian dalam hal keteguhan dalam beragama.
Adapun lawan dari ilmu adalah kebodohan. Lawan yang merusak keyakinan adalah berbagai macam syubhat. Faktor yang menggerogoti keteguhan adalah fitnah syahwat. Oleh sebab itu, hendaknya kita cerdik dan cermat menggunakan akal sehat untuk memahami keadaan diri anda sendiri maupun keadaan yang ada pada orang lain.
Dengan melihat banyaknya orang yang berguguran dari jalan yang lurus, maka hal ini menjadi faktor yang mendorong untuk seseorang itu semakin merasa khawatir. Dia merasa takut kalau-kalau dirinya jatuh dalam kesesatan sebagaimana orang lain yang telah jatuh di dalamnya. Hal ini juga semakin membuat dirinya semakin bersandar kepada Allah agar Allah selalu membimbing hatinya dan meneguhkannya.
Karena permasalahan ini sungguh besar dan bukan bersandar kepada daya dan kekuatan atau ilmu dan ijazah yang anda miliki, juga tidak bersandar kepada jabatan, dan kedudukan yang telah anda gapai. Tidak, demi Allah. Urusan ini tidak lain bertumpu semata-mata pada karunia dari Allah, Rabb alam semesta ini. Selain itu, maka hatinya juga semakin besar bergantung kepada Allah. Hendaknya dia bersikap jujur kepada Allah, maka bergembiralah dengan kebaikan yang telah Allah janjikan.
Allah berfirman,
فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ فَسَنُیَسِّرُهُۥ لِلۡیُسۡرَىٰ
“Adapun orang yang memberi dan bertakwa, serta membenarkan pahala yang terbaik, maka Kami akan mudahkan baginya kemudahan/ kebaikan.” (QS. Al-Lail: 1-7)
Apabila dia jujur kepada Allah niscaya Allah pun akan bersikap jujur kepadanya, artinya Allah akan membantu urusannya. Barangsiapa yang datang kepada Allah dengan berjalan kaki, maka Allah akan datang kepadanya dengan berjalan cepat.
Maka, kita meminta pertolongan kepada Allah, saling membantu dalam kebaikan dan saling menasihati dalam kebenaran. Barangsiapa yang memiliki suatu bentuk kebaikan, memiliki ilmu atau mendapati suatu kebenaran, berpegang dengan sunnah, maka hendaklah dia bersungguh-sungguh dalam menjelaskannya kepada manusia.
Hal ini perlu dilakukan dengan serius.
Di sisi lain, ada sebagian orang yang saleh/baik, tetapi menjauhi kenyataan ini. Ketika melihat pertempuran yang begitu dahsyat antara kebenaran dan kebatilan, antara kekafiran dan keimanan, antara sunnah dan bid’ah yang begitu sengit, maka dia pun hanya berdiam diri tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki keadaan. Maka, hal ini muncul dari kelemahan iman dan termasuk bentuk kedunguan yang seharusnya dijauhi oleh penimba ilmu dan orang yang telah Allah beri taufik kepadanya untuk berjalan di atas jalan ahlus sunnah wal jama’ah.
Berdakwah ilallah, saling menasihati dalam kebenaran. Ini termasuk perkara penting untuk selalu kita perhatikan di zaman ini. Apabila hal ini menjadi perkara penting di masa silam, maka demi Allah, hal ini di masa ini semakin penting dan lebih ditekankan.
Saya memohon kepada Allah untuk meneguhkan diri saya dan kalian di atas kebenaran ini dan semoga Allah mencurahkan taufik kepada kita untuk mengikuti kebenaran dan memberikan kemudahan bagi kita untuk beramal dengan apa-apa yang mendatangkan keridaan-Nya. Wallahu a’lam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, Muhammad, kepada pengikutnya dan segenap para sahabatnya.
Disampaikan oleh Syekh Prof. Dr. Shalih Sindi hafizhahullah, guru besar ilmu akidah di Universitas Islam Madinah, saat berceramah Kuwait, 18 Muharrram 1444. Video ini diupload 17 Agustus 2022
***
Penerjemah: Ari Wahyudi, S.Si
Sumber: https://muslim.or.id/77896-wasiat-penting-bagi-kaum-beriman-di-zaman-fitnah.html
Syahwatmu Membinasakanmu #shorts
Bolehkah Istri Menolak Tinggal Serumah dengan Mertua
Para suami hendaknya memperhatikan hak istri berikut.
من حق الزوجة على زوجها توفير مسكن آمنٍ لها, ولا يجوز للزوج أن يُسكن مع زوجته أحداً تتضرر بوجوده معها
“Di antara hak istri yang wajib ditunaikan oleh suami adalah menyediakan tempat tinggal yang aman bagi istrinya. Dan tidak boleh bagi suami menempatkan orang lain bersama istrinya yang kira-kira akan membahayakannya atau tidak disenangi oleh istri akan keberadaannya. “
Walaupun itu dari keluarga suami, semisal ibunya, adiknya, bapaknya dan sebagainya.
Kemudian bolehkah istri menolak tinggal serumah dengan mertua?
Tidak boleh memaksa istri tinggal bersama mertua apabila istri tidak mau. Ada sebuah fatwa dari syaikh Shalih Al-Fauzan yang tertuang dalam kitab Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan, beliau berkata:
“Selama istri Anda tidak ingin tinggal di rumah orang tua Anda, maka Anda tidak bisa memaksanya. Sebisa mungkin Anda yakinkan orang tua Anda mengenai masalah tersebut dan tempatkan istri di rumah tersendiri, dengan tetap menghubungi orang tua, berbakti kepadanya, membuatnya ridha, dan berbuat baik kepadanya semampu Anda.”
Islam adalah agama yang sempurna dan sangat memahami psikologi hal ini. Istri dan mertua perempuan adalah wanita, yang mana sifat dasar wanita adalah mendahulukan perasaan. Bisa saja terjadi ketidakcocokan dan perbedaan pemikiran mulai dari urusan dapur, pengaturan rumah bahkan kebijakan dalam rumah tangga. Bisa jadi istri sekedar salah menaruh letak piring di rak dapur, ini menjadi masalah besar dan berkelanjutan. Oleh karena itu hak istri yang sangat dasar adalah mendapat tempat tinggal, seperti rumah sendiri meskipun kecil dan ngontrak.
Bagaimana jika istri tidak mau serumah dengan mertua? Apa solusinya? ada beberapa:
- Jika rumahnya besar, maka disekat agar teripisah dapurnya, atau kalau dua lantai, pisahkan dapur dan peralatan rumah dan kebijakan pengaturan rumah antara istri dan mertua.
- Jika mampu membeli rumah atau mengontrak rumah dekat dengan orang tua suami, sehingga suami dan istri tetap bersama.
- Jika memang harus terpaksa tinggal bersama, suami harus sering membesarkan hati istri dan menghibur bahkan meminta maaf karena belum mampu menunaikan hak utama istri dalam pernikahan. Misalnya berkata kepada istri: “Saya harus berbakti kepada orang tua, mereka sedang sakit dan perlu serumah, gakpapa ya, semoga nanti anak-anak kita berbakti pada ibunya karena melihat saya berbakti kepada ibu saya, dst.” Intinya sering-sering dibesarkan hatinya, dihibur dan diusahakan rumah sendiri walaupun ngontrak dan rumah kecil, agar ia jadi “ratu di rumah sendiri”.
Inti dari semua ini adalah dimusyawarahkan dan dibicarakan baik-baik. Semoga rumah tangga kaum muslimin dijaga dan diberikan taufik oleh Allah subhanahu wa ta’ala, aamin.
Artikel http://www.muslimafiyah.com (Asuhan dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp PK, Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)
sumber : https://muslimafiyah.com/bolehkah-istri-menolak-tinggal-serumah-dengan-mertua.html






