Sibuk dengan Berita Politik
Akhi … kenapa hari-harimu cuma ingin mengurus capres A dan capres B, padahal berita politik tidaklah jelas.
Akhi … bukankah engkau tahu bahwa dalam politik itu ingin saling menjatuhkan satu dan lain.
Akhi … bukankah engkau tahu bahwa dalam politik tidak ada kawan sejati dan tidak ada musuh abadi.
Akhi … jangan terlalu memforsir usahamu untuk terus menelusurui berita politik.
Engkau tahu demikian, namun kerjaanmu setiap harinya hanya menelusuri terus berita capres A dan capres B, itu pun engkau tidak bisa menemukan manakah yang benar dari berita-berita yang ada.
Kenapa engkau terlalu sibuk dengan berita yang hanya berlandas “katanya”?
Padahal Allah membenci seperti itu sebagaimana kata hadits,
وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ
“Allah tidak menyukai qiila wa qool (berkata hanya berlandaskan ‘katanya’)” (HR. Muslim no. 1715, dari Abu Hurairah).
Qiila wa qool kata Ibnu Katsir, maksudnya adalah, “Banyak bicara tentang perkataan orang lain namun (1) tanpa kroscek, (2) tanpa memastikan, (3) tanpa mencari kejelesan.” (Tafsir Surat An Nisaa’ ayat 82).
Prasangka pun berbahaya, yaa akhi …
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
“Hati-hatilah dengan prasangka karena itu adalah pembicaraan yang paling dusta.” (Muttafaqun ‘alaih)
Diam lebih baik daripada banyak ngomong …
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. ” (QS. Al Israa’: 36).
Andai waktumu habis untuk menelaah buku dan kitab.
Andai waktumu habis untuk mendatangi majelis ilmu.
Andai waktumu habis dengan menelusuri website islam bermanfaat.
Andai waktumu hanya dengan ilmu, ilmu dan ilmu.
Ayo kembali ngaji lagi.
Moga Allah memberi taufik pada kita semua dalam memanfaatkan waktu-waktu kita.
—
Disusun di malam hari di Pesantren Darush Sholihin, 13 Rajab 1435 H
Sumber: https://muslim.or.id/21383-sibuk-dengan-berita-politik.html
Hadits Nabi ﷺ Pasti Sesuai dengan Akal Sehat #video ~7
Menghadiri Undangan Natal
Bolehkah seorang muslim menghadiri perayaan natal jika diundang? Atau mungkin ada acara natal bersama yang diadakan di lingkungan kantor, bolehkah dihadiri?
Perlu diketahui bahwa seorang muslim diharamkan loyal pada orang kafir sebagaimana disebutkan dalam ayat,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah: 51)
Di antara bentuk loyal pada orang kafir yang terlarang adalah menghadiri perayaan mereka.
Ibnul Qayyim berkata, “Tidak boleh kaum muslimin menghadiri perayaan non muslim dengan sepakat para ulama. Hal ini telah ditegaskan oleh para fuqoha dalam kitab-kitab mereka. Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad yang shahih dari ‘Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
لا تدخلوا على المشركين في كنائسهم يوم عيدهم فإن السخطة تنزل عليهم
“Janganlah kalian masuk pada non muslim di gereja-gereja mereka saat perayaan mereka. Karena saat itu sedang turun murka Allah.”
Umar berkata,
اجتنبوا أعداء الله في أعيادهم
“Jauhilah musuh-musuh Allah di perayaan mereka.”
Diriwayatkan pula oleh Al Baihaqi dengan sanad yang jayyid dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata,
من مَرَّ ببلاد الأعاجم فصنع نيروزهم ومهرجانهم وتشبه بهم حتى يموت وهو كذلك حشر معهم يوم القيامة
“Siapa yang lewat di negeri asing, lalu ia meniru yang dilakukan oleh Nairuz dan Mihrajan serta menyerupai mereka hingga mati, maka kelak ia akan dikumpulkan bersama mereka“. Demikian apa yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 723-724.
Jadi, jelaslah tidak boleh menghadiri undangan non muslim berkenaan dengan hari raya mereka. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.
Referensi:
Fatwa Syaikh Sholeh Al Munajjid no. 11427: http://islamqa.com/ar/11427
@ Warak, Panggang, Gunungkidul, 9 Safar 1435 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber: https://muslim.or.id/19237-menghadiri-undangan-natal.html
Tanda Kiamat, Masjid Sekedar Jadi Persinggahan Sementara
Salah satu tanda kiamat yang sudah terjadi dan terus-menerus terjadi adalah masjid dijadikan sebagai jalan lalu lintas untuk lewat, dia masuk dari satu pintu dan keluar dari pintu yang lain tanpa ada kebutuhan mendesak lalu dia tidak shalat tahiyyatul masjid.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مِنْ أشراطِ الساعةِ أنْ يَمُرَّ الرجلُ في المسجدِ ، لا يصلي فيه ركعتينِ ، وأنْ لَّا يُسَلِّمَ الرجلُ إلَّا على مَنْ يعرفُ
“Di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah seorang melewati masjid namun tidak mengerjakan shalat dua rakaat di dalamnya dan seseorang tidak memberikan salam kecuali kepada orang yang dikenalnya).” (HR Ibnu Khuzaimah, no. 1326, dinilai shahih oleh Al-Albani)
Diantara hal yang sering terjadi di zaman sekarang adalah orang-orang yang mampir ke masjid sekedar numpang buang air kecil. Ketika dia dalam perjalanan lalu terasa ingin buang air kecil, yang akan dia cari adalah masjid, namun tujuannya agar bisa buang air kecil. Setelah itu, dia meninggalkan masjid tersebut tanpa mengerjakan shalat sama sekali.
Oleh karena itu, hendaknya kita berusaha untuk menggunakan masjid sebagaimana mestinya, kalaupun mampir buang air kecil maka kita berusaha untuk shalat sebelum meninggalkannya jika waktunya memungkinkan. Bukan tidak boleh secara mutlak untuk memanfaatkan fasilitas masjid, tetapi yang menjadi sorotan adalah orang yang tidak pernah ke masjid untuk beribadah sama sekali, tetapi ketika ingin buang air atau istirahat, barulah ia ingat masjid dan tidak beribadah sama sekali di masjid.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لا تتخِذوا المساجدَ طُرُقًا ، إلا لِذِكْرٍ أو صلاةٍ
“Janganlah kalian menjadikan masjid-masjid sebagai jalan kecuali untuk berdzikir atau shalat.” (HR Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, 12/314)
Artikel http://www.muslimafiyah.com (Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK, Alumnus Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)
Sabar Menghadapi Cobaan Hidup – Musibah Pasti Berlalu
Ketahuilah bahwa musibah dunia pasti berlalu. Karena dunia bukan negeri balasan. Dunia adalah negeri amal. Namun terkadang Allah memberikan balasan hanya sebatas untuk peringatan dan penggugur dosa-dosa. Maka dari itulah tidak ada sejarahnya bencana terus-menerus mendera. Dia akan selalu berlalu, berlalu, berlalu.
Berbeda dengan negeri akhirat. Negeri akhirat disebut dengan darul jaza (negeri balasan). Maka di akhirat, orang yang beriman dibalas dengan surga dan akan senang terus-menerus. Orang yang tidak beriman akan dibalas dengan nerakan akan menderita terus-menerus tidak ada habis-habisnya.
MUSIBAH MENJADI NIKMAT
Bencana atau musibah itu terkadang menjadi nikmat dan terkadang menjadi adzab. Kapan menjadi nikmat? Yaitu apabila dengan bencana itu kita menjadi orang yang sadar dan kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sehingga kita menjadi orang yang lebih bertakwa kepada Allah, lebih semangat menjalankan perintah-perintah Allah, lebih semangat meninggalkan larangan-larangan Allah.
Maka kalau ternyata musibah menjadikan kita lebih baik, berarti itu nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala. Bagi orang beriman, dia selalu mengambil pelajaran dari setiap musibah yang menimpa. Sedangkan orang yang kurang beriman, dia akan selalu berburuk sangka kepada Allah dari setiap musibah yang menimpa.
Orang yang beriman segera kembali dan banyak istighfar kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dia mengakui dosa-dosanya dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Lalu dia berusaha untuk senantiasa memperbaiki ibadah yang selama ini mungkin banyak ditinggalkan. Maka musibah itu menjadi nikmat. Bisa jadi orang yang tadinya jarang shalat menjadi rajin shalat.
Jika setelah mendapatkan musibah, yang sebelumnya kita jarang berdzikir menjadi rajin berdzikir, Alhamdulillah. Yang tadinya jarang membantu orang lain dalam kebaikan, setelah mendapatkan musibah kita menjadi orang yang selalu berusaha bahu-membahu dalam kebaikan. Maka itu berarti musibah menjadi nikmat untuk kita.
MUSIBAH MENJADI ADZAB
Musibah akan menjadi malapetaka jika setelah musibah, iman kita kepada Allah semakin berkurang. Setelah musibah, akhirnya kita semakin tidak mau shalat, tidak mau sujud kepada Allah dan membenci Allah.
Sebagian orang ketika ditimpa musibah, dia bukannya kembali kepada Allah, tapi justru menentang Allah subhanahu wa ta’ala. Padahal seharusnya, orang yang beriman kepada Allah, ketika diberi musibah jangan seperti itu. Kewajibannya adalah kita berbaik sangka kepada Allah.
- Tidak mungkin Allah mendzalimi hamba-hambaNya. Tapi yang dzalim adalah hamba-hambaNya.
- Allah ingin dengan musibah menggugurkan dosa-dosa kita dan mengangkat derajat kita.
- Allah ingin agar kita mau kembali kepada Allah. Kita menjadi tunduk, sujud dan terus mengingat Allah subhanahu wa ta’ala, lebih semangat mengkaji Al-Qur’an, mengkaji hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka jadikanlah musibah menjadi nikmat untuk kita. Orang yang meninggal terkena tsunami, terkubur atau yang lainnya, mungkin dosa-dosa mereka sudah diampuni oleh Allah. Kita tidak tahu. Nah, kita yang masih hidup ini harus berfikir apakah setelah musibah ini berlalu, apakah kira-kira kita akan wafat diatas kebaikan atau tidak? Kareka yang namanya kematian adalah sesuatu yang pasti. Kita yang masih hidup ini pasti akan menyusul mereka. Kita bisa selamat dari tsunami, tapi kita tidak akan selamat dari kematian. Kita selamat dari gempa, tapi kita tidak akan pernah selamat dari malaikat maut. Suatu hari, malaikat maut pasti akan menjemput kita.
Dengan ini, seharusnya kita menjadi lebih baik, lebih semangat berbuat ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Maka jadikan musibah itu menjadi pelajaran yang berharga untuk hidup kita. Jadikan musibah sebagai motivasi untuk meninggalkan maksiat, meniggalkan hal-hal yang membuat Allah marah kepada kita. Jadikan ini sebagai cambuk untuk semakin kita menjadi takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Oleh karena itu, sebaiknya setiap dari kita introspeksi diri. Setelah Allah berikan kepada kita musibah, apakah keadaan kita lebih baik atau lebih buruk?
Hukum mengaminkan doa saat khutbah jumat #shorts
Kewajiban Mengganti Barang Orang Lain
Kaidah fiqhiyyah:
مَنْ أَتْلَفَ شَيئًا لِيَنْتَفِعَ بِهِ ضَمِنَهُ ومَنْ أَتْلَفَ دَفْعًا لِمَضَرَّتِهِ فَلَا ضَمَاننَ عَلَيْهَ
“Barang siapa yang merusak sesuatu karena memanfaatkannya maka harus menggantinya, namun jika merusak sesuatu karena menolak madharatnya maka tidak wajib mengganti”.
Makna Kaidah
Secara umum maksud dari kaidah ini adalah bahwa barang siapa yang merusak barang milik orang lain karena dia ingin mengambil manfaat dari barang tersebut, maka dia wajib menggantinya. Namun jika barang milik orang lain itu membahayakannya lalu dia berusaha menolak bahaya tersebut yang mengakibatkan kerusakannya, maka tidak ada kewajiban atasnya untuk mengganti.
Contoh kasus, jika seseorang diserang oleh sapi milik orang lain, lalu dia mencoba menghindari bahaya serangan sapi itu yang mengakibatkan matinya sapi tersebut maka dia tidak wajib mengganti sapi itu. Namun jika ada seseorang yang lapar, lalu dia menyembelih sapi milik orang lain maka dia wajib menggantinya.
Hal ini dikarenakan bahwa pada kejadian yang pertama, yang dilakukan hanyalah membela diri dari bahaya yang ditimbulkan oleh sapi tersebut, sedangkan dalam keadaan yang kedua, sapi tersebut sama sekali tidak membahayakannya dan dia sendirilah yang ingin mengambil manfaat dari sapi tersebut tanpa adanya bahaya darinya sama sekali.
Dalil Kaidah
Ini adalah sebuah keadilan dan agama kita dibangun atas dasar keadilan. Dalam kondisi sapi (pada kasus di atas) yang membahayakan maka sebenarnya dia sama sekali tidak berbuat apa-apa kecuali membeli diri. Sedangkan membela diri adalah sesuatu yang diperintahkan syariat, maka kalau dalam pembelaan diri tersebut mengakibatkan rusaknya sapi tersebut maka itu bukan merupakan tanggung jawab dia, bahkan akan menjadi sebuah kedzaliman kalau kerusakan itu harus menjadi tanggung jawabnya.
Sedangkan dalam kondisi kedua, keadilan menuntutnya untuk mengganti barang yang dia rusakkan, karena yang dirusakkan itu sama sekali tidak membahayakannya. Maka jika dia merusaknya karena kepentingan dirinnya, maka wajib untuk menggantinya dan merupakan sebuah kedzaliman jika dia tidak menggantinya.
Contoh Penerapan Kaidah
- Kalau ada seseorang yang mencukur atau memotong rambut kepadanya saat ihram sebelum waktu tahallul disebabkan karena ada kutu yang membuat kepalanya gatal, maka dia wajib membayar fidyah. Hal ini disebabkan karena yang membahayakan itu bukan rambutnya, namun kutu yang berada di rambut. Sedangkan jika ada rambut yang tumbuh di kelopak matanya ketika ihram, yang membuat dia merasa sakit, maka boleh mencabutnya tanpa ada kewajiban membayar fidyah. (Karena dalam hal ini yang berbahaya adalah rambutnya_red)
- Seandainya ada sebuah kapal yang hampir tenggelam karena terlalu banyak muatan, lalu dia membuang barang milik orang lain, maka wajib menggantinya. Namun jika ada barang milik orang lain jatuh dan akan mengenai dirinya lalu dia menghindarkannya, sehingga rusaklah barang tersebut maka tidak wajib menggantinya.
Wallaahu a’lam
(Lihat Al Qowaid wal Ushul Jami’ah Syaikh As Sa’di 69, Syarah Al Qawa’id As Sya’diyyah hlm: 210, Qawa’id Ibnu Rajab no: 26)
Ditulis ulang dengan penataan bahasa dari buku “Kaidah-Kaidah Praktis Memahami Fiqih Islam”, halaman 239-241, Ahmad Sabiq
Sumber: https://muslimah.or.id/9852-kewajiban-mengganti-barang-orang-lain.html
Pentingnya Niat Sebelum Menikah #video ~7
Mencintai Para Sahabat Nabi
Bismillah.
Di antara pelajaran berharga yang hendaknya selalu diingat oleh generasi muda adalah kepahlawanan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membela dakwah Islam. Kita mengenal sosok yang sedemikian dermawan seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Utsman bin Affan radhiyallahu ’anhuma. Mereka telah menunjukkan bukti yang luar biasa dalam membela dan mendukung perjuangan dakwah tauhid yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita juga mengenal sosok Bilal bin Rabah radhiyallahu ’anhu yang menunjukkan kekuatan iman dan tawakal kepada Allah ketika harus berhadapan dengan tekanan dan siksaan demi mempertahankan akidah dan keyakinannya sebagai pengikut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kisah perjuangan dan pengorbanan para sahabat begitu banyak menghiasi sejarah dan memberikan gambaran kepada kita betapa iman dan tauhid itu telah mendarah daging di dalam diri mereka. Suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjaga syariat-Nya untuk kemudian diteruskan dengan gamblang kepada generasi-generasi sesudahnya.
Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ
“Sungguh Allah telah rida kepada orang-orang beriman itu (para sahabat Nabi) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah sebuah pohon. Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka.” (QS. Al-Fath: 18)
Allah Ta’ala berfirman,
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Dan orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama (masuk Islam), yaitu kaum Muhajirin dan Anshar dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasi di masaku (para sahabat Nabi), kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang sesudah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu)
Dari sini kita mengetahui bahwa mencintai para sahabat Nabi dan memuliakan mereka merupakan perkara yang sangat mendasar di dalam agama Islam. Allah telah memuji mereka dan meridai mereka dan menjadikan keridaan-Nya bagi orang-orang yang mengikuti para sahabat dengan baik. Allah Ta’ala mengetahui apa yang ada di dalam hati para sahabat itu.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda,
آيَةُ الإيمَانِ حُبُّ الأنْصَارِ، وآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الأنْصَارِ
“Tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu)
Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah (wafat 321 H) berkata,
وَنُحِبُّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَا نُفَرِّطُ فِي حُبِّ أَحَدٍ مِنْهُمْ
“Dan kami (ahlusunah waljamaah) mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kami tidak melampaui batas dalam mencintai salah seorang dari mereka.” (Lihat Matan Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah no. 93)
Imam Abu Zur’ah Ar-Razi rahimahullah (wafat 264 H) berkata,
إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَنْتَقِصُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَّ فَاعْلَمْ أَنَّهُ زِنْدِيقٌ
“Apabila kamu melihat ada seseorang yang sengaja menjelek-jelekkan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ketahuilah bahwa dia adalah zindik (sesat dan menyimpang).” (Lihat Al-Kifayah fi ‘Ilmi Ar-Riwayah hal. 49 oleh Al-Khathib Al-Baghdadi)
Wajib mengikuti jalan para sahabat
Imam Abu Amr Al-Auza’i rahimahullah (wafat 157 H) mengatakan, “Wajib atasmu untuk mengikuti jejak-jejak para ulama terdahulu, meskipun orang-orang menolakmu. Dan hati-hatilah kamu dari pendapat tokoh-tokoh, meskipun mereka menghiasinya dengan ucapan-ucapan yang indah.” Yang dimaksud mengikuti jejak pendahulu di sini adalah dengan mengikuti jalan para sahabat dan para pengikut setia mereka. Karena jalan mereka itu dibangun di atas Al-Kitab dan As-Sunnah (Lihat keterangan Syekh Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Lum’atil I’tiqad, hal. 44)
Di dalam surah Al-Fatihah kita berdoa kepada Allah,
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ٦
“Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus.”
Siapakah orang-orang yang berjalan di atas jalan yang lurus itu?
Allah Ta’ala berfirman,
صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
“Yaitu, jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka.”
Siapakah yang dimaksud ‘orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah’ itu? Mereka itu adalah sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam ayat,
مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ
“Yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada’, dan orang-orang saleh.” (QS. An-Nisa’: 69) (Lihat transkrip Manhaj Salafish Shalih wa Hajatul Ummah ilaih oleh Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 7-8)
Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Jalan orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka. Mereka itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Dan anda setiap rakaat selalu berdoa kepada Allah untuk memberikan petunjuk kepada jalan mereka itu.” (Lihat Tafsir Ayat minal Qur’anil Karim, hal. 17)
Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Maka, mereka itulah teladan bagi umat ini. Dan manhaj mereka itu adalah jalan yang mereka tempuh dalam hal akidah, dalam hal muamalah, dalam hal akhlak, dan dalam segala urusan mereka. Itulah manhaj yang diambil dari Al-Kitab dan As-Sunnah karena kedekatan mereka dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena kedekatan mereka dengan masa turunnya wahyu. Mereka mengambilnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka, mereka itu adalah sebaik-baik kurun, dan manhaj mereka adalah manhaj yang terbaik.” (Lihat Manhajus Salafish Shalih wa Hajatul Ummah ilaih, hal. 2-3)
Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah juga menasihatkan, “Dan tidak mungkin mengikuti mereka dengan baik, kecuali dengan cara mempelajari mazhab mereka, manhaj mereka, dan jalan yang mereka tempuh. Adapun semata-mata menyandarkan diri kepada salaf atau salafiyah tanpa disertai pemahaman tentang hakikat dan manhajnya, maka hal ini tidak bermanfaat sama sekali. Bahkan, bisa jadi justru menimbulkan mudarat. Oleh sebab itu, harus mengenal hakikat manhaj salafush shalih.” (Lihat Manhajus Salafish Shalih wa Hajatul Ummah ‘ilaih, hal. 3)
Demikian sedikit kumpulan tulisan dan faedah yang Allah berikan kemudahan bagi kami untuk menyusunnya. Semoga Allah Ta’ala berikan taufik kepada kita untuk mengamalkan kebenaran dan istikamah di atasnya hingga ajal menjemput. Wallahul musta’aan.
***
Yogyakarta, 13 Muharram 1445 H
Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.
Sumber: https://muslim.or.id/86807-mencintai-para-sahabat-nabi.html







