Salah Satu Sebab Rumah Tangga Hancur: Tidak Belajar Fikih Nikah Sebelumnya

Ilmu tentang fikih nikah adalah ilmu yang sangat penting, terutama bagi yang sudah berumah tangga atau sebentar lagi akan berumah tangga. Pelajaran ini pun sudah ditetapkan oleh KUA sebagai pembekalan awal calon pengantin. Sayangnya banyak yang lalai dengan ilmu ini, mau nikah tinggal modal “terlalu percaya diri” tanpa berilmu terlebih dahulu. Apalagi belajar tentang ilmu-ilmu dasar seputar karakter suami istri menurut Islam.

Tidak jarang seseorang yang baru menikah, sebulan dua bulan setelah itu kaget dengan karakter asli pasangannya, ternyata suaminya begini, ternyata istrinya begitu. Terlebih jika selama ini dia terpapar dengan tontonan-tontonan yang menampilkan potret pasangan romantis di film-film. Seorang wanita yang memimpikan suami yang romantis, pandai merangkai kata, selalu perhatian, padahal salah satu sifat dasar suami adalah cuek.

Salah Satu Misi Besar Iblis

Perlu diingat, salah satu misi besar Iblis adalah menghancurkan keharmonisan rumah tangga dan memisahkan pasangan suami istri. Iblis akan memuji bala tentaranya yang berhasil menceraikan suami istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,

إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau.” (HR Muslim, no. 2167 dan 2813)

Bukan berarti dalam sebuah rumah tangga bahagia tidak ada yang namanya pertengkaran, karena rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saja tidak luput dari adanya perselisihan. Ibarat garam dalam makanan, pertengkaran dan perdebatan adalah hal yang tak terhindarkan dalam rumah tangga.

Hanya saja Islam berusaha untuk,

[1] Meminimalisir semua perselisihan;[2] Menahan agar perselisihan tersebut tidak mengantarkan kepada perceraian;[3] Memotivasi agar segera berbaikan/damai (tidak lama saling ngambek dan saling mendiamkan) agar tidak ada kesempatan bagi setan menggoda dan memasukkan pikiran dan kenangan buruk sebelumnya.

Solusi Menjaga Kelanggengan Rumah Tangga

Caranya adalah dengan belajar sifat dasar laki-laki dan wanita, sampai pada bagaimana teknik-teknik menyikapi karakter satu sama lain. Tidak lain dan tidak bukan karena Islam ingin menciptakan keluarga muslim yang bahagia.

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber: https://muslimafiyah.com/salah-satu-sebab-rumah-tangga-hancur-tidak-belajar-fikih-nikah-sebelumnya.html

Ciri-Ciri Fanatik Kelompok (Ashobiyah)

Bagaimana ciri-ciri ashobiyah atau fanatik berlebihan pada kelompok? Boleh jadi kita memilikinya, semoga bisa dijauhi.

Jika ada dalil yang shahih …

  • dibantah dengan perkataan pemimpin atau kelompoknya.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena perkataan yang lainnya.” (Madarijus Salikin, 2: 335)

Jika mereka punya dalil …

  • dalilnya rapuh.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Mayoritas orang-orang fanatik madzhab tidak mendalami Al Qur’an dan As Sunnah kecuali segilintir orang saja. Sandaran mereka hanyalah hadit-hadits yang rapuh atau hikayat-hikayat dari para tokoh ulama yang bisa jadi benar dan bisa jadi keliru.” Fanatik madzhab yang ada dahulu sama dengan fanatik kelompok saat ini.

Jika ada pendapat yang masih bisa ditolerir …

  • pendapat kelompoknya yang dianggap paling benar sendiri.

Jika ada pendapat luar …

  • tidak diterima, karena bukan dari pimpinan atau kelompoknya.

Sama persis dengan kisah berikut.

Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala’ menceritakan, bahwa Abu Abdillah Muhammad bin Fadhl Al-Farra’ pernah menjadi imam shalat di Masjid Abdullah selama 60 puluh tahun lamanya. Beliau bermadzhab Syafi’i dan tentu melakukan qunut shubuh. Setelah itu imam shalat diambil alih oleh seseorang yang bermadzhab Maliki dan tidak melakukan qunut shubuh. Karena hal ini menyelisihi tradisi masyarakat setempat, akhirnya mereka bubar meninggalkan imam yang tidak melakukan qunut shubuh ini, seraya berkomentar, “Shalat imam tersebut tidak becus!!!”

Jika dinasihati dan dikritik …

  • sulit menerima, lebih-lebih nasihat dan kritikan yang menentang pendapat kelompoknya.

Jika ada kekeliruan dalam kelompoknya …

  • anggotanya membela mati-matian tanpa berdalil, bisa jadi pula mengatakan ini kan khilafiyah. Intinya, kelompoknya tidak boleh disalahkan karena ‘so pasti benar‘.

Jika pendukungnya ditanya …

  • lebih cenderung menjawab, kami kan kelompok ini, harus berpendapat seperti itu pula.

Jika berdakwah …

  • yang ditekankan adalah ikuti kelompoknya, bukan ikuti Al-Qur’an dan Hadits, bukan dakwah ilallah yang diarahkan, bukan dakwah pada tauhid dan ikuti tuntunan Nabi. Pokoknya dakwah pada kelompoknya yang dipentingkan.

Jika diperintah bersatu …

  • enggan dengan alasan ego dan kepentingan kelompok.

Jika ada anggota yang keluar dari pendapat kelompoknya …

  • dianggap telah menyimpang dan membelot bahkan bisa dikenakan sanksi.

Padahal dalam bermadzhab saja tidak sampai segitu banget. Imam Nawawi yang jadi ulama besar Syafi’iyah saja biasa menyelisihi pendapat imamnya, Imam Syafi’i. Bahkan dalam madzhab Syafi’i saja ada beberapa ‘wajh’ (pendapat), tak sekaku pendapat kelompok. Karena yang ingin diikuti oleh Imam Nawawi adalah dalil.

Jadi lebih enak bermadzhab, bebas berpendapat. Namun tentu saja berpendapat yang sesuai dengan dalil Al-Qur’an dan Hadits.

Ingat baik-baik perkataan Imam Syafi’i supaya menjauhi taqlid.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Setiap yang aku katakan, kemudian ada hadits shahih yang menyelisihinya, maka hadits Nabi tersebut lebih utama untuk diikuti. Janganlah kalian taqlid kepadaku”.

Ashobiyah Kaum Anshar dan Muhajirin

Ketika ada sifat fanatik pada kaum Anshar dan Muhajirin, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkannya. Ashobiyah seperti itu dianggap termasuk sifat jahiliyyah. Sifat ashobiyah yang terjadi karena tolong menolong yang terjadi pada kaum Anshar adalah pada kebatilan, begitu pula pada kaum Muhajirin. Sedangkan sifat orang mukmin adalah saling tolong menolong dalam kebenaran, baik kebenaran itu dari dalam atau luar kaumnya.

Nasihat di atas berlaku untuk diri kami, pada setiap da’i dan pendakwah. Semoga kita terjauhkan dari sifat ashobiyah dan fanatik kelompok yang berlebihan dan melampaui batas.

Malam Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1436 H di Darush Sholihin Warak, GK

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/11929-ciri-ciri-fanatik-kelompok-ashobiyah.html

Anak Jangan Durhaka, Orang Tua Jangan Terlalu Sayang Sekali

Anak kadang kurang perhatian dengan orang tuanya, lupa dengan kesibukannya bahkan bisa jadi durhaka kepada orang tuanya. Karenanya Islam sangat meotivasi agar berbakti kepada orang tua. Sebaliknya orang tua terkadang terlalu sayang sekali kepada anak mereka, terkadang mengikuti saja mau anak padahal itu tidak baik bagi agama maupun dunianya. Karenanya Islam mengingatkan para orangtua bahwa anak bisa menjadi fitnah/ujian.

Motivasi Islam agar anak berbakti kepada orang tuanya

Sangat banyak anjuran terkait hal ini, terutama ketika orang tua sudah memasuki usia senja. “Perhatikanlah wahai para anak, waktu mencari rezeki lebih panjang dari usia orang tuamu, bahagiakan mereka dengan waktu yang tersisa”

Perhatikanlah berikut ini wahai para anak

1.Perintah berbakti urutan kedua setelah perintah bertauhid kepada Allah[1]

2.Ridha Allah tergantung ridha orang tua, selama itu dalam ketaatan[2]

3.Berbakti kepada orang tua bisa menghilangkan kesusahan hidup atas izin Allah[3]

4.Durhaka kepada orang tua adalah dosa terbesar kedua setelah syirik mempersekutukan Allah[4]

5.Celaka bagi anak yang mendapati orang tuanya masih hidup tetapi ia tidak bisa masuk surga karena tidak berbakti[5]

Peringatan bagi orang tua agar anak mereka tidak menjadi fitnah/ujian

Misalnya anak minta dibelikan TV dan game tidak bermanfaat, karena orang sangat sayang, maka dikabulkan atau anak perempuannya tidak menutup aurat, maka ia tidak menasehati bahkan tidak mau tegas kepada anak perempuannya.

Perhatikan hal berikut ini wahai para orang tua:

1.Allah memperingatkan dalam Al-Quran bahwa anak dan istri bisa jadi fitnah/ujian[6]

2.Anak-anak bisa menyibukkan kita dari agama dan hal-hal penting[7]

3.Bahkan ada perintah agar tegas kepada anak, yaitu dengan cara memukulnya ketika tidak ta’at kepada Allah, ini benar-benar langkah terakhir jika berbagai nasehat kelembutan tidak ia terima. Tentunya dengan pukulan mendidik dan tidak keras, bukan pukulan dengan kemarahan dan tidak memukul di wajah[8]

Semoga kita sebagai anak selalu bisa berbakti kepada orang tua dan sebagai orang tua bisa mendidik anak dengan pendidikan terbaik

@Desa Pungka, Sumbawa Besar – Sabalong Samalewa

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel http://www.muslimafiyah.com

[1] Allah Ta’ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” [Al-Israa’ : 23-24]

[2] Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ

“Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua” (HR. Bukhari dalam adabul Mufrad)

[3] Sebagaimana kisah dalam hadits tiga orang yang terjebak dalam gua, salah satu dari mereka bertawassul dengan amal baik sangat berbakti kepada orang tua (Lihat HR. Bukhari dan Muslim)

[4] Abu Bakrah radhiallahu a’nhu berkata,

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ؟) ثَلاَثًا، قَالُوْا : بَلىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : ( الإِشْرَاكُ بِاللهِ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ ) وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا ( أَلاَ وَقَوْلُ الزُّوْرُ ) مَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتىَّ قُلْتُ لَيْتَهُ سَكَتَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian mau kuberitahu mengenai dosa yang paling besar?” Para sahabat menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.”Beliau lalu bersabda, “(Dosa terbesar adalah) mempersekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Beliau mengucapkan hal itu sambil duduk bertelekan [pada tangannya]. (Tiba-tiba beliau menegakkan duduknya dan berkata), “Dan juga ucapan (sumpah) palsu.” Beliau mengulang-ulang perkataan itu sampai saya berkata (dalam hati), “Duhai, seandainya beliau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[5] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ »

“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, ”(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.”(HR. Muslim)

[6] Allah berfirman,

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah/ujian (bagimu).” (At-Taghabun: 15)

[7] Allah berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.” (Al-Munafiqun: 9)

[8] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat saat berumur tujuh tahun dan pukulah mereka jika tidak shalat saat berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidur.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud II/167)

sumber: https://muslimafiyah.com/anak-jangan-durhaka-orang-tua-jangan-terlalu-sayang-sekali.html

Renang Olahraga Sunnah dan Paling Aman Secara Medis

Olahraga renang merupakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kesimpulan ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّ شَئْ ٍلَيْسَ فِيْهِ ذِكْرُ اللهِ فَهُوَ لَهْوٌ وَلَعِبٌ إِلاَّ أَرْبَعٌ مُلاَعَبَةُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَتَأْدِيْبُ الرَّجُلِ فَرَسَهُ وَمَشْيُهُ بَيْنَ الْغَرْضَيْنِ وَتَعْلِيْمُ الرَّجُلِ السِّبَاحَةَ

Setiap hal yang tidak ada dzikir kepada Allah adalah lahwun (kesia-siaan) dan permainan belaka, kecuali empat: candaan suami kepada istrinya, seorang lelaki yang melatih kudanya, latihan memanah, dan mengajarkan renang.” (HR. An-Nasai, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Dijumpai pula atsar dari Umar bin Khattab yang dikeluarkan oleh Sa’id bin Manshur dalam sunannya, beliau menulis surat kepada Abu Ubaidah bin Al Jarrah yang isinya,

أَنْ عَلِّمُوا مُقَاتِلَتَكُمُ الرَّمْيَ، وَعَلِّمُوا غِلْمَانَكُمُ الْعَوْمَ

“Ajarkanlah pasukanmu melempar dan ajarkanlah pemudamu berenang.”

Secara medis dan kesehatan, berenang juga adalah olahraga yang paling aman dan bermanfaat karena melibatkan semua sendi-sendi, berbeda dengan olahraga lain semisal bersepeda yang bergerak hanya bagian kaki saja dan apabila terlalu berlebihan tanpa pemanasan berpotensi cedera. Adapun berenang hampir semua sendi dan otot ikut bergerak, badan ikut menekuk, kepala mendongak, dan semua sendi bergerak. Gerakan yang dikeluarkan juga minimalis, tidak ada tabrakan dan gerakan yang terlalu kasar dan keras, sehingga sangat aman untuk dipraktekkan.

Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.,PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber: https://muslimafiyah.com/renang-olahraga-sunnah-dan-paling-aman-secara-medis.html

Cara-Cara Iblis Berhadapan dengan Manusia

Perlu diingat bahwa kita berada dalam peperangan dengan Iblis dan bala tentaranya setiap waktu, siang dan malam. Iblis dan bala tentaranya berusaha menyesatkan anak cucu Adam dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tiga cara atau metode; Pertama dengan penyesatan, kedua dengan menjadikan maksiat atau kejahatan terasa indah di atas muka bumi, ketiga yaitu menghalangi manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

1. PENYESATAN

Pada pertemuan yang lalu, kita telah membahas cara Iblis yang pertama, yaitu menyesatkan. Ada beberapa maratib atau tingkatan dalam penyesatan ini. Cara pertama adalah mengajak anak cucu Adam kepada kekafiran dan kesyirikan. Jika tidak berhasil, Iblis menggoda manusia dengan cara yang kedua, yaitu agar umat Islam membuat bid’ah. Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa bid’ah lebih dicintai oleh Iblis daripada maksiat biasa.

Kemudian martabat yang ketiga, jika tidak berhasil, Iblis mengajak manusia untuk berbuat dosa-dosa besar. Jika ini juga tidak berhasil, Iblis mengajak manusia pada tingkatan keempat, yaitu melakukan dosa-dosa kecil. Kalau tetap tidak berhasil, Iblis mengajak manusia untuk melakukan perkara-perkara yang mubah secara berlebihan.

Inilah lima perangkap dan senjata setan mulai dari yang besar sampai yang kecil: Kekafiran, bid’ah, dosa besar, dosa kecil, dan berlebihan pada perkara-perkara yang mubah.

2. MENJADIKAN KEJAHATAN TERASA INDAH DI MUKA BUMI

Sesuatu perbuatan jahat, maksiat yang dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, terasa bagus di pandangan manusia. Allah Ta’ala berfirman, tentang perkataan Iblis:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

“Iblis berkata: ‘Wahai Rabbku, sebab Engkau hukumi aku sesat, sungguh aku akan menjadikan kejahatan terasa indah bagi mereka di atas muka bumi ini.’” (QS. Al-Hijr[15]: 39)

Ini adalah sumpah Iblis sejak saat diturunkan dari surga. Dan setan telah berhasil menggunakan metode ini. Banyak manusia tergelincir kecuali siapa yang Allah rahmati.

Allah Ta’ala dalam surah Al-Ankabut ayat 38:

…وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ ..

“Setan membuat kejahatan terasa indah di pandangan mereka.” (QS. Al-‘Ankabut[29]: 38)

Allah Ta’ala juga berfirman:

…وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ

“Setan membuat kejahatan terasa indah untuk mreka dan menghalangi dari jalan, dan mereka tidak mendapatkan petunjuk.” (QS. An-Naml[27]: 24)

Di antara contoh strategi Iblis adalah dengan memberi nama maksiat-maksiat dengan nama-nama yang disukai manusia, sehingga manusia melakukannya. Contohnya adalah pohon di surga yang Allah haramkan Adam untuk memakannya. Iblis memberi nama buahnya dengan “Buah Khuldi (kekal)” agar terdengar menarik, meskipun Allah melarangnya. Cara ini ditiru oleh para pengikut Iblis dari kalangan Jin dan manusia. Hal ini agar manusia melakukan perbuatan yang tercela.

sumber : https://www.radiorodja.com/53621-cara-cara-iblis-berhadapan-dengan-manusia/

Mengobati Kecemasan dengan Shalat Tahajjud

Banyak orang bertanya, apakah rutin melaksanakan shalat tahajjud dapat menyembuhkan gangguan kecemasan atau anxiety? Jawabannya: iya, bisa menjadi sebab ketenangan, namun bukan satu-satunya jalan yang harus ditempuh.

Shalat tahajjud adalah bentuk curhat spiritual antara seorang hamba dan Rabb-nya. Di saat dunia terlelap, seorang mukmin berdiri sendiri dalam keheningan malam, mencurahkan isi hati kepada Allah. Suasana ini menghadirkan ketenangan luar biasa, karena seorang hamba merasa didengar, dipahami, dan dikuatkan oleh Dzat Yang Maha Mengetahui segala isi hati. Allah berfirman:

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya; mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajdah: 16)

Orang-orang yang bangun di sepertiga malam merasakan nikmatnya munajat, hingga jiwanya menjadi tenang dan tenteram. Demikian pula beramal kebaikan secara umum akan mendatangkan ketenangan dan kehidupan yang baik. Allah berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ

“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS An-Nahl: 97)

Inilah yang disebut sebab syar’i yaitu sebab yang ditetapkan oleh syariat untuk menenangkan hati dan menguatkan jiwa.

Namun Islam tidak berhenti di situ. Selain sebab syar’i, ada pula sebab kauni yaitu sebab yang bersifat duniawi dan rasional. Artinya, seseorang juga harus mencari dan mengatasi akar penyebab kecemasannya.

Jika kecemasan muncul karena lilitan utang, maka solusinya bukan hanya shalat malam, tetapi juga menyusun langkah nyata untuk melunasinya. Jika kecemasan timbul karena masalah keluarga, maka perlu ada komunikasi dan musyawarah yang baik untuk menyelesaikannya.

Shalat malam akan menenangkan hati, sementara ikhtiar nyata akan menyelesaikan masalah dan menenangkan pikiran. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Maka, bagi siapa pun yang dilanda kegelisahan, bangunlah di sepertiga malam untuk menenangkan hati di hadapan Allah, lalu siang harinya gunakan akal dan tenaga untuk menuntaskan sebab-sebab kecemasan.

Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber: https://muslimafiyah.com/mengobati-kecemasan-dengan-shalat-tahajjud.html