Kewajiban Mensyukuri Nikmat

Khutbah Pertama

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ المُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:

أَيُّهَا النَّاسُ، لَقَدْ قَالَ الله ُعَزَّ وَجَلَّ فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡۚ هَلۡ مِنۡ خَٰلِقٍ غَيۡرُ ٱللَّهِ يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ 

“Wahai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain dia, maka mengapa kalian berpaling?” (Fathir: 3)

Di dalam ayat tersebut Allah subhanahu wa ta’ala memerintah seluruh manusia agar mereka mengingat nikmat-nikmat-Nya, karena yang demikian ini akan mendorong seseorang untuk bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Kaum muslimin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala,

Ketahuilah, bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala akan menyebabkan terjaganya nikmat yang dikaruniakan kepada seseorang dan menyebabkan datangnya nikmat-nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang lainnya. Namun, sebagaimana diterangkan oleh Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah, syukur itu tidak akan terwujud kecuali jika terbangun di atas lima perkara, yaitu dengan (1) merendahkan dirinya kepada Allah, (2) mencintai-Nya, (3) mengakui bahwa nikmat tersebut merupakan karunia dari Allah, (4) memuji Allah dengan lisannya, dan (5) tidak menggunakan nikmat tersebut untuk perkara yang dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Oleh karena itu, sudah semestinya kita melihat kembali usaha kita dalam mewujudkan rasa syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Apabila salah satu dari lima perkara yang harus dipenuhi tersebut tidak dilakukan, belum dikatakan orang tersebut telah bersyukur.

Dengan demikian, bersyukur itu tidaklah cukup dengan mengucapkan alhamdulillah atau dengan sekadar menyadari bahwa nikmat tersebut datangnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan, tidak cukup pula dia tunjukkan dengan menghinakan diri serta tidak menyombongkan dirinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Akan tetapi, harus dilengkapi dengan mencintai Allah subhanahu wa ta’ala dan membuktikan cintanya tersebut dengan menggunakan nikmat-nikmat tersebut di jalan yang diridhai-Nya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Allah subhanahu wa ta’ala telah memberitakan dalam ayat-Nya bahwa keridhaan-Nya hanya akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang bersyukur. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِن تَشۡكُرُواْ يَرۡضَهُ لَكُمۡۗ

“Jika kalian bersyukur, niscaya Dia akan meridhai kalian (dari perbuatan syukur tersebut).” (az-Zumar: 7)

Oleh karena itu, orang-orang yang mengharapkan surga Allah subhanahu wa ta’ala sudah semestinya memperbaiki dirinya dalam bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau tidak demikian, bisa jadi seseorang menyangka dirinya telah bersyukur, tetapi ternyata tidak demikian kenyataannya. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana dalam firman-Nya, telah membagi manusia menjadi dua kelompok, yaitu kelompok orang-orang yang bersyukur dan kelompok orang-orang yang kufur.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّا هَدَيۡنَٰهُ ٱلسَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, maka (manusia) ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (al-Insan: 3)

Maka dari itu, marilah kita berusaha melihat pada diri kita masing-masing. Pada kelompok yang mana kita berada? Sudahkah kita mensyukuri nikmat waktu, nikmat sehat, penglihatan, pendengaran, lisan, dan lain-lainnya dengan menggunakannya untuk beribadah di jalan Allah subhanahu wa ta’ala?

Sudahkah kita mensyukuri nikmat yang dikaruniakan-Nya kepada kita, kemudahan dalam sarana transportasi dan komunikasi serta yang semisalnya untuk digunakan di jalan Allah subhanahu wa ta’ala? Ataukah justru sarana tersebut digunakan untuk bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala?

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ingatlah, bahwa nikmat-nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang dikaruniakan kepada kita sangat banyak. Kita akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Oleh karena itu, marilah kita mensyukuri nikmat-nikmat Allah subhanahu wa ta’ala dan jangan mengkufurinya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mencontohkan kepada umatnya dan menganjurkan umatnya untuk mensyukuri nikmat. Tersebut di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah dalam Shahih keduanya, melalui jalan sahabat Anas radhiallahu anhu, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam melewati sebiji kurma ketika sedang berjalan.

Beliau shallallahu alaihi wa sallam lalu bersabda,

لَوْلاَ أَنْ تَكُوْنَ مِنَ الصَّدَقَةِ لَأَكَلْتُهَا

“Kalaulah bukan (karena aku takut) kurma tersebut adalah sedekah, sungguh aku akan memakannya.”

Dari satu hadits ini saja, kita bisa mengetahui betapa besarnya perhatian Nabi shallallahu alaihi wa sallam terhadap nikmat Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau tidak membiarkan meskipun hanya sebiji kurma untuk dibuang dan rusak tanpa dimanfaatkan.

Kalau kita bandingkan dengan keadaan sebagian kita, akan kita dapatkan perbedaan yang sangat jauh. Makanan yang dibuang sia-sia merupakan pemandangan yang mungkin setiap hari dijumpai di sebagian rumah kita. Bisa jadi, karena berlebihan dalam memasak atau membelinya yang kemudian menjadi rusak dan busuk sehingga kemudian dibuang sia-sia. Padahal terkadang makanan tersebut bukanlah makanan yang murah harganya atau mudah didapatkan. Sementara itu, di sekitar rumahnya banyak orang-orang fakir miskin yang tidak memiliki makanan. Sudah semestinya kita semua berusaha memperbaiki diri dalam bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Saudara-saudaraku yang mudah-mudahan dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala,

Ketahuilah bahwa apabila seseorang tidak mensyukuri nikmat Allah subhanahu wa ta’ala, dia akan berada pada satu dari dua keadaan. Kemungkinan yang pertama, Allah subhanahu wa ta’ala akan mencabut nikmat tersebut darinya. Kemungkinan yang kedua, nikmat tersebut akan terus bersamanya, tetapi akan menambah beratnya siksa di akhirat kelak. Tentu kita semua tidak ingin terjatuh pada salah satu dari kedua keadaan tersebut.

وَلَا يَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّمَا نُمۡلِي لَهُمۡ خَيۡرٌ لِّأَنفُسِهِمۡۚ إِنَّمَا نُمۡلِي لَهُمۡ لِيَزۡدَادُوٓاْ إِثۡمًاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ مُّهِينٌ

“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa dibiarkannya mereka (terus mendapat nikmat) adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami membiarkan mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka dan bagi mereka nantinya azab yang menghinakan.” (Ali Imran: 178)

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، مَالِكُ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَعَثَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْن وَحُجَّةً عَلَى الْمُعَانِدِيْنَ وَمِنَّةً عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ أَجمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ:

أيُّهَا النَّاسُ، يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيْ كِتَابِهِ الكَرِيْم: فَٱذۡكُرُونِيٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِي وَلَا تَكۡفُرُونِ

“Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, dan bersyukurlah kalian kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku.” (al-Baqarah: 152)

Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala,

Ketahuilah bahwa nikmat yang paling besar yang Allah subhanahu wa ta’ala karuniakan kepada hamba-hamba-Nya adalah nikmat berIslam dan memahaminya dengan pemahaman yang benar, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Seseorang yang telah mendapatkan nikmat tersebut berarti dia telah mengikuti satu-satunya jalan yang diridhai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Jalan tersebut akan mengantarkan dirinya pada kebahagiaan yang abadi.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينًاۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

Saudara-saudaraku seiman yang semoga senantiasa dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala,

Besarnya nikmat berIslam dan memahaminya dengan pemahaman yang benar tersebut akan dirasakan oleh seseorang, ketika dia melihat bagaimana keadaan orang-orang yang tidak mendapatkan nikmat ini. Betapa banyak orang yang tersesat sehingga mengikuti akidah orang-orang kafir dan musyrikin. Betapa banyak orang yang menyimpang karena mengikuti aturan-aturan yang diada-adakan oleh pemimpinnya atau pendiri kelompoknya. Begitu pula, betapa banyak orang yang tersesat karena hanya mengikuti kebiasaan atau tradisi masyarakatnya yang mengada-adakan amal ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Jadi, orang-orang yang benar-benar mengikuti ajaran Islam dan memahaminya dengan pemahaman yang benar, sungguh dirinya telah diselamatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dari berbagai bentuk kesesatan.

Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala,

Besarnya nikmat Islam dan hidayah memahami agama Islam dengan benar juga akan dirasakan manakala seseorang mengetahui janji Allah subhanahu wa ta’ala bagi orang-orang yang mendapatkan nikmat ini dan ancaman-Nya bagi orang-orang yang tidak mendapatkannya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِي مَقَامٍ أَمِينٍ ٥١ فِي جَنَّٰتٍ وَعُيُونٍ ٥٢ يَلۡبَسُونَ مِن سُندُسٍ وَإِسۡتَبۡرَقٍ مُّتَقَٰبِلِينَ ٥٣ كَذَٰلِكَ وَزَوَّجۡنَٰهُم بِحُورٍ عِينٍ ٥٤ يَدۡعُونَ فِيهَا بِكُلِّ فَٰكِهَةٍ ءَامِنِينَ ٥٥ لَا يَذُوقُونَ فِيهَا ٱلۡمَوۡتَ إِلَّا ٱلۡمَوۡتَةَ ٱلۡأُولَىٰۖ وَوَقَىٰهُمۡ عَذَابَ ٱلۡجَحِيمِ ٥٦ فَضۡلًا مِّن رَّبِّكَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ٥٧

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman. (Yaitu) di dalam taman-taman dan banyak mata air. Mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan. Demikian pula Kami berikan kepada mereka bidadari. Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran). Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia dan Allah memelihara mereka dari azab neraka. Sebagai karunia dari Rabb-mu. Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar.” (ad-Dukhan: 51—57)

Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan balasan bagi orang-orang yang tidak mendapatkan nikmat Islam di dalam firman-Nya,

وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يَتَمَتَّعُونَ وَيَأۡكُلُونَ كَمَا تَأۡكُلُ ٱلۡأَنۡعَٰمُ وَٱلنَّارُ مَثۡوًى لَّهُمۡ

“Orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang dan neraka Jahanam adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad: 12)

Hadirin rahimakumullah,

Maka dari itu, marilah kita berusaha untuk mensyukuri nikmat yang paling besar ini. Meskipun nikmat yang lainnya pun tidak boleh disepelekan, nikmat mengikuti agama Islam merupakan nikmat yang paling besar dan tidak bisa dikalahkan oleh nikmat apa pun. Sekalipun dibandingkan dengan orang mendapatkan nikmat dunia dan seisinya, tetapi tidak mendapatkan nikmat Islam.

Marilah kita bersungguh-sungguh dalam mempelajari dan mengamalkannya. Tidak sekadar mengikuti kebanyakan atau keumuman orang. Tidak pula dengan mengandalkan semangat tanpa dilandasi ilmu. Namun, harus didasarkan kepada Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam serta memahami keduanya dengan bimbingan para ulama yang mengikuti jalan generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat Nabi. Mereka adalah orang-orang yang telah mempelajari agama ini dari lisan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan mengetahui bagaimana beliau mempraktikkan agama ini.

Dengan demikian, kita akan diselamatkan dari berbagai ajaran yang menyimpang dan selanjutnya mendapatkan janji Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu kenikmatan surga pada kehidupan yang selamanya nanti.

Wallahu a’lam bish-shawab.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِه أَجْمَعِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

sumber : https://asysyariah.com/kewajiban-mensyukuri-nikmat/

Jangan Bermaksiat Lagi Setelah Ramadhan

Ka’ab Al Ahbar rahimahullah (tabiin) berkata:

“Barangsiapa puasa Ramadhan sedangkan dalam hati dia berniat seusai bulan Ramadhan dia tidak akan bermaksiat, dia akan masuk Jannah tanpa ditanya dan tanpa dihisab. Dan barangsiapa puasa Ramadhan sedangkan dalam hati dia berniat setelah Ramadhan akan kembali maksiat, maka puasanya tertolak (tidak diterima Allah).”  (Lathoif al-maarif, hal 136-137)

? Salah seorang ulama salaf mengatakan :

من ثواب الحسنة الحسنة بعدها، ومن جزاء السيئة السيئة بعدها

“Diantara ganjaran amal shalih adalah amal shalih setelahnya. Dan diantara ganjaran dosa adalah dosa setelahnya.” (Tafsir Ibnu Katsir 8/417)

? Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata :

“Hendaklah kalian lebih memperhatikan agar amal kalian diterima (setelah beramal), dari pada perhatian kalian terhadap amalan kalian (tatkala sedang beramal). Apakah kalian tidak mendengar firman Allah

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ .

“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Maidah : 27) (Tafsir Ibnu Katsir, surat Al Maidah ayat 27)

Maka jika seorang berniat bermaksiat kembali setelah ramadhan, maka dia tidak termasuk diantara ciri orang bertaqwa.

sumber : https://shahihfiqih.com/jangan-bermaksiat-lagi-setelah-lebaran/

[Kitabut Tauhid 6] 39 Malaikat tidak berhak disembah 21

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Para Malaikat yang merupakan makhluk yang sedemikian kuatnya ternyata sangat takut kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-. Begitu mendengar suara Allâh -‘Azza wa Jalla- mereka langsung sujud tersungkur. Jika mereka sedemikian takutnya kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-  padahal Mereka adalah hamba-hamba yang shalih dan mulia, maka ini menunjukan bahwa Mereka tidak pantas untuk disembah, terlebih lagi orang-orang shalih yang tentu dibawah kedudukan Para Malaikat dari berbagai sisinya.                                    

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Keutamaan Mengkhatamkan Al-Quran Di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia dan banyak berkahnya. Setiap muslim pasti sering mendengar bahwa bulan Ramadhan adalah bulannya Al-Quran. Karena memang sangat banyak sekali dalil yang menunjukkan hal ini. Allah Ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” QS. (Al Baqarah : 185)

Sedangkan keutamaan membaca Al-Quran sangat banyak dijelaskan, salah satunya adalah Sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa salam,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan “alif lam mim” satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” ( HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)

Begitu juga Sabda beliau,

مَنْ قَرَأَ بِمِائَةِ آيَةٍ فِى لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ

“Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam” ( HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6468)

Keutamaan mengkhatamkan Al-Quran di Bulan Ramadhan

Hal Ini dicontohkan langsung oleh Nabi Shallallahu ’alaihi wa salam. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

أن جبريل كان يعْرضُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعرضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِي الْعَامِ الَّذِي قُبِضَ فيه

“Dahulu Jibril mendatangi dan mengajarkan Al-Qur’an kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam setiap tahun sekali (pada bulan ramadhan). Pada tahun wafatnya Rasulullah shalallahu ‘alayi wasallam Jibril mendatangi dan mengajarkan Al-Qur’an kepada beliau sebanyak dua kali (untuk mengokohkan dan memantapkannya)” ( HR. Bukhari no. 4614)

Ibnu Atsir rahimahullah menjelaskan,

أي كان يدارسه جميع ما نزل من القرآن

“yaitu mempelajari (mudarasah) semua ayat Al-Quran yang turun” ( Al-Jami’ fi Gharib Hadits, 4/64).

Hendaknya shalat Tarawih mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadhan

Praktek shalat tawarih dengan target mengkhatamkan Al-Quran selama bulan Ramadhan adalah perbuatan yang sangat baik. Satu malam shalat tarawih yang di baca satu juz. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,

ويمكن أن يفهم من ذلك أن قراءة القرآن كاملة من الإمام على الجماعة في رمضان نوع من هذه المدارسة، لأن في هذا إفادة لهم عن جميع القرآن، ولهذا كان الإمام أحمد رحمه الله يحب ممن يؤمهم أن يختم بهم القرآن، وهذا من جنس عمل السلف في محبة سماع القرآن كله، ولكن ليس هذا موجبا لأن يعجل ولا يتأنى في قراءته، ولا يتحرى الخشوع والطمأنينة، بل تحري هذه الأمور أولى من مراعاة الختمة

“dipahami dari (hadits) tersebut, bahwa Imam membaca Al-Quran seluruhnya (sampai khatam) bersama jamaah pada Bulan Ramadhan termasuk dalam mudarasah ini (yaitu mudarasah Nabi Shallallahu ’alaihi wa salam bersama malaikat Jibril alaihissalam). Oleh karena itu Imam Ahmad rahimahullah suka terhadap Imam yang mengkhatamkan Al-Quran. Ini merupakan amal para salaf yaitu mendengarkan Al-Quran seluruhnya.

Akan tetapi hal ini bukan kewajiban, agar supaya bersegera dan tidak membaca secara perlahan-lahan. Ia tidak mencari kekhusyu’an dan tuma’ninah. Bahkan mencari hal ini (khusyu’ dan tuma’ninah) lebih utama daripada perhatian terhadap mengkhatamkan” (Majmu’ Fatawa bin Baz 15/324, Asy Syamilah)

Dan mengkhatamkan Al-Quran selama bulan Ramadhan bukanlah kewajiban, syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

ختم القرآن في رمضان للصائم ليس بأمر واجب ، ولكن ينبغي للإنسان في رمضان أن يكثر من قراءة القرآن

“Mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadhan bagi orang yang berpuasa bukanlah perkara yang wajib. Akan tetapi sebaiknya seseorang memperbanyak membaca Al-Quran di bulan Ramadhan” (Majmu’ Fatawa wa Rasail 20/516)

—

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/17588-keutamaan-mengkhatamkan-al-quran-di-bulan-ramadhan.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Pintu Surga Ar Rayyan bagi Orang yang Berpuasa

Ar Rayyan secara bahasa berarti puas, segar dan tidak haus. Ar Rayyan ini adalah salah satu pintu di surga dari delapan pintu yang ada yang disediakan khusus bagi orang yang berpuasa.

Dari Sahl bin Sa’ad, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “ar rayyan“. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa.” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya” (HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152).

Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Al Fath menyebutkan, “Ar Rayyan dengan menfathahkan huruf ro’ dan mentasydid ya’, mengikuti wazan fi’il (kata kerja) dari kata ‘ar riyy‘ yang maksudnya adalah nama salah satu pintu di surga yang hanya dikhususkan untuk orang yang berpuasa memasukinya. Dari sisi lafazh dan makna ada kaitannya. Karena kata ar rayyan adalah turunan dari kata ar riyy yang artinya bersesuaian dengan keadaan orang yang berpuasa. Orang yang berpuasa kelak akan memasuki pintu tersebut dan tidak pernah merasakan haus lagi.” (Fathul Bari, 4: 131).

Ibnu Hajar menyebutkan bahwa dalam lafazh hadits lainnya disebutkan bahwa di surga itu ada delapan buah pintu. Salah satu pintu dinamakan Ar Rayyan. Pintu tersebut tidaklah dimasuki selain orang yang berpuasa (lihat Fathul Bari, 4: 132). Hadits yang dimaksud adalah,

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « فِى الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ الصَّائِمُونَ »

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Surga memiliki delapan buah pintu. Di antara pintu tersebut ada yang dinamakan pintu Ar Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa” (HR. Bukhari no. 3257).

Hadits di atas juga menunjukkan al jaza’ min jinsil ‘amal, yaitu balasan dari Allah sesuai dengan jenis amalan. Dan juga menandakan bahwa siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka akan diganti dengan yang lebih baik, sebagaimana disebutkan dalam hadits,

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً اتِّقَاءَ اللَّهِ جَلَّ وَعَزَّ إِلاَّ أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْراً مِنْهُ

“Jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘azza wa jalla, maka Allah akan mengganti padamu dengan yang lebih baik” (HR. Ahmad 5: 78, sanad hadits ini shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Karena orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwat hubungan intim, makan dan minum semuanya karena Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,

يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِى

“Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku” (HR. Bukhari no. 7492 dan Muslim no. 1151).

Karena ia meninggalkan kenikmatan-kenikmatan ini karena Allah, maka Dia akan mengganti dengan yang lebih baik. Bahkan amalan puasa ini dikhususkan untuk Allah, Dialah yang nanti akan membalasnya. Dalam hadits qudsi disebutkan,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ ، إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى ، وَأَنَا أَجْزِى بِهِ

“Setiap amalan manusia adalah untuknya. Kecuali amalan puasa itu untuk Allah dan Dia yang nanti akan membalasnya” (HR. Bukhari no. 5927 dan Muslim no. 1151).

Mengenai hadits balasan pintu Ar Rayyan di atas mengandung pelajaran tentang keutamaan puasa dan karomah bagi orang yang berpuasa. Demikian kata Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (8: 31).

Semoga Allah memudahkan kita untuk memasuki pintu tersebut dengan amalan puasa kita.

Referensi:

  • Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.
  • Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, terbitan Darul Hadits Al Qohiroh, cetakan tahun 1424 H.
  • Romadhon Durusun wa ‘Ibarun – Tarbiyatun wa Usrorun, Dr. Muhammad bin Ibrahim Al Hamad, terbitan Dar Ibnu Khuzaimah, cetakan kedua, tahun 1424 H.

—
Disusun di pagi hari, 15 Ramadhan 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, D. I. Yogyakarta
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://muslim.or.id/17579-kajian-ramadhan-13-pintu-surga-ar-rayyan-bagi-orang-yang-berpuasa.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Kecil-Kecil Sudah Berpuasa (TIPS Melatih Anak Kecil Berpuasa)

Generasi salaf adalah generasi teladan. Muslim maupun muslimahnya, orang dewasa maupun anak kecilnya, dalam perkara ibadah maupun muamalah.

Di antara bentuk keteladanan generasi salaf adalah melatih anak kecil yang belum mukallaf untuk turut beribadah bersama kaum muslimin. Salah satu ibadah tersebut adalah puasa.

Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz; dia berkata, “Rasulullah mengutus untuk mengumumkan pada pagi hari asyura’ di wilayah kaum Anshar yang berada di sekitar kota Madinah.

‘Barang siapa yang pagi hari ini berpuasa, hendaklah menyelesaikannya. Barang siapa yang tidak berpuasa (sudah sarapan), hendaknya menahan (makan dan minum) sampai selesai.’

Setelah adanya pengumuman itu, kami berpuasa dan mengajak anak-anak untuk melaksanakan puasa. Kami juga mengajak mereka ke masjid dan memberikan mereka mainan dari kulit (wol). Jika mereka menangis karena lapar, kami menyodorkan mainan sampai waktu berbuka puasa tiba.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Meski anak-anak tersebut masih kecil, ternyata masih ada orang besar yang kalah dari mereka.

“’Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada orang yang mabuk-mabukan pada siang hari bulan Ramadhan, ‘Celaka kamu! Anak-anak kami yang masih kecil saja berpuasa!‘ Kemudian beliau memukulnya.” (Shahih Al-Bukhari, bab “Shaum Ash-Shibyan”, no. 1690)

Kasihan, ‘kan masih kecil

Di sinilah perlunya orang tua bersikap jeli. Setiap anak dikaruniai kemampuan jasmani maupun rohani yang berbeda. Oleh sebab itu, orang tua hendaklah mampu menyadari seberapa siapkah anak mereka untuk dilatih berpuasa. Tidak menutup kemungkinan seorang anak berusia 3 tahun sudah mampu menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Sebaliknya, boleh jadi ada anak berusia 6 tahun yang hanya mampu berpuasa “beduk” (latihan berpuasa sampai waktu zuhur).

Sepatutnya orang tua menanamkan kepada anak tentang rasa cinta terhadap ibadah kepada Allah. Anak yang tumbuh dengan asuhan demikian, insyaallah akan menyemai manisnya iman kala ia dewasa nanti. Bila orang tua memaksa anak untuk berpuasa di luar batas kemampuan si anak, ibadah yang sejatinya indah malah berubah jadi rasa susah.

Jika orang tua sukses dalam ajang latihan ini, tentu tak perlu risau dengan komentar, “Kenapa sudah diajak puasa? Kasihan, ‘kan dia masih kecil.”

Penghibur hati selain mainan wol

Dunia anak itu berwarna-warni. Bagai pelangi.

Niat orang tua untuk meraih ridha Allah pasti akan dibuktikan dengan usaha yang cerdas, tanpa emosi yang kembang-kempis. Kita tengok generasi salaf; mereka buatkan mainan penghibur hati bagi si buah hati. Tujuannya? Tentu untuk mengalihkan perhatian si kecil dari makanan dan minuman.

Pandai-pandailah melihat kecenderungan anak. Di zaman shahabat, mainan wol mungkin sudah yang termanis untuk anak-anak. Adapun di zaman sekarang, sesuaikan dengan keadaan. Jika anak Anda senang ikut memasak dengan Anda, izinkan dia ikut serta bersama Anda di dapur. Jika anak Anda suka dibacakan buku cerita, luangkan waktu menemaninya. Pastinya perlu kita ingat selalu, penghibur bagi anak mestilah sesuatu yang tidak melanggar batasan syariat Allah Ta’ala.

Sahur bergizi, iftar bernutrisi

Anda tak perlu takut anak Anda kekurangan gizi gara-gara berpuasa sehari penuh. Yang harus dilakukan adalah menyediakan menu sahur yang bergizi serta iftar yang bernutrisi. Jangan asal enak tapi tak sehat. Jangan pula asal kenyang tapi miskin kandungan gizi. Seimbangkan menu sahur dan buka puasanya: nasi dan lauk pauk (sayur, ikan, tempe, tahu, ayam, atau daging), susu, kurma, serta pilihan makanan dan minuman sehat-bernutrisi lainnya.

Insyaallah raga anak tak ‘kan sengsara. Bahkan bisa saji badannya malah jadi lebih bugar karena waktu makannya yang lebih teratur (sahur dan iftar). Apalagi bila Anda tambahkan dengan camilan sehat secukupnya pada malam hari, seperti buah atau bubur kacang hijau.

Latih secara bertahap

Berpuasa memerlukan kesiapan fisik dan mental. Jika ingin melatih anak kecil berpuasa, lakukan secara bertahap:

  1. Jika orang tua berpuasa senin dan kamis, anak bisa diajak serta.
  2. Uji coba dengan puasa ”beduk”. Jika anak masih kuat, lanjutkan puasanya hingga penuh sehari.
  3. Lebih kerap memberi kalimat motivasi, ”Enak ya puasa.” ”Allah sayang orang Islam yang rajin puasa.” ”Kita puasa supaya dapat banyak pahala. Kalau pahala tambah banyak, insyaAllah kita bisa masuk surga. Di surga itu enak, banyak teman yang baik-baik.”
  4. Sajikan hidangan kegemaran anak sebagai menu berbuka untuknya. Ketika menyiapkan hidangan tersebut, sampaikan kepadanya, ”Insyaallah kita makan ini kalau berbuka puasa nanti.”
  5. Ketika berbuka, motivasi anak dengan nikmatnya berbuka setelah berjuang berpuasa sehari penuh, ”Alhamdulillah, enak ya kita bisa buka puasa. Masyaallah, anak Ummi hebat! Kapan-kapan insyaallah kita puasa lagi ya.”

Tantangan dan solusinya

TantanganSolusi
Membangunkan sahur– Tidurkan lebih awal pada malam sebelumnya, sembari ingatkan, ”Besok insyaallah kita semua akan bangun makan sahur.”– Bangunkan anak secara perlahan dan lembut. Bila perlu, gendong dia hingga ke tempat makan. Jangan jemu membujuknya untuk makan sahur.– Setelah bangun, ajak anak mencuci tangan dan muka, supaya tubuhnya lebih segar.– Ajak berbincang supaya kantuknya hilang.
Menahan keinginannya untuk menyentuh makanan dan minuman saat kita tidak melihat– Ingatkan bahwa Allah Maha Melihat.– Perhatikan kondisi fisiknya. Indikator yang mungkin dipakai: masih kuat bermain dan berlari-lari atau tidak.– Jika anak terlihat lemas, jangan paksa dia berpuasa. Namun jika terlihat masih kuat, semangati dia dengan janji pahala dan kecintaan dari Allah.– Dari hari ke hari, seiring semakin seringnya anak berlatih puasa, insyaallah dia akan lebih mudah mengendalikan dirinya saat melihat makanan dan minuman sebelum waktu berbuka tiba.– Selain itu, fisiknya lebih terbiasa, sampai-sampai kemungkinan anak akan tetap penuh energi bermain meski sedang berpuasa.
Belum bisa membedakan waktu zuhur, ashar, dan maghrib (ada sebagian anak yang mungkin mengira bahwa ”azan” adalah pertanda boleh berbuka)– Ajarkan anak tentang waktu-waktu shalat (shubuh, zuhur, ashar, maghrib, dan isya).– Sampaikan bahwa orang boleh berbuka bila azan maghrib sudah berkumandang.– Seiring seringnya anak berlatih puasa, insyaallah dia akan semakin pandai membedakan waktu-waktu tersebut.– Ingatkan bahwa yang menjadi tanda waktu berbuka adalah azan maghrib. Jadi, meski makanan dan minuman sudah dihidangkan di meja beberapa menit sebelum itu, dia belum boleh makan dan minum. Dia mesti menunggu sampai azan berkumandang.

Rajin puasa, mesti rajin shalat juga

Masa melatih anak berpuasa sekaligus bisa jadi kesempatan emas untuk melatihnya disiplin shalat fardhu lima waktu. Jelaskan kepada anak bahwa percuma saja orang berpuasa bila tak shalat. Meski anak kecil memang belum mukallaf, tapi akan sangat baik bila sejak belia mereka telah paham tentang bertapa pentingnya shalat dalam Islam.

Selain shalat, anak juga bisa diperkenalkan dengan berbagai amal shalih yang lain, seperti membaca Al-Quran dan banyak berzikir serta beristigfar.

Hadiah di balik kertas kado

Tiba saatnya Anda tunjukkan kebahagiaan Anda atas keberhasilannya berpuasa. Bentuknya bisa berupa ucapan, “Alhamdulillah. Hari ini anak Ummi bisa berpuasa sehari penuh. Ummi bahagia.” Bisa pula berupa hadiah yang dibungkus manis dengan kertas kado. Boleh juga bila hadiah itu berbentuk rekreasi ke pantai, ke taman bermain, atau ke kebun binatang.

Sudah terbukti

Para Pembaca yang kami hormati, tulisan ini disajikan tentunya berlatar bukti yang sudah terjadi. Alhamdulillah – atas pertolongan Allah – ternyata ada anak-anak kaum muslimin yang berhasil berpuasa pada usia 3 tahun, bahkan ada pula yang lebih muda dari itu. Yang membuat kita lebih bersyukur lagi, puasa hamba-hamba Allah yang masih sangat belia ini ternyata berlangsung sejak fajar terbit sampai tenggelamnya mentari. Ini berlangsung selama berhari-hari, baik pada bulan Sya’ban, sebulan penuh Ramadhan, bahkan enam hari pada bulan Syawal.

Jumadil Akhir sudah tiba; kesempatan untuk mulai berlatih berpuasa terbuka lebar untuk buah hati Anda. Semakin mendekati Rajab, kemudian Sya’ban, hingga tiba pada Ramadhan, insyaallah. Gandeng tangannya menuju kecintaan dalam ibadah kepada Allah. Hingga suatu hari telinga Anda berkesempatan mendengar dari lisannya, “Ummi, saya senang puasa.” “Abi, saya senang makan sahur.” “Ummi, besok insyaallah kita puasa lagi ya ….”

Selalulah jaga keikhlasan Anda sebagai orang tua, jauhkan dari rasa riya’ dan sum’ah, hindari sikap pamer di hadapan manusia. Bahagia atas amal shalih sang buah hati adalah rahasia manis yang Anda simpan di hati. Berdoalah kepada Allah agar anak-anak Anda menjadi penyebab Anda bisa menghuni surga Firdaus, tanpa hisab dan tanpa azab.

Segala kemudahan datang dari Allah. Tiada daya dan upaya melainkan atas pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla.

—

Marji’: Shahih Al-Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.

Penulis : Athirah Ummu Asiyah
Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber: https://muslimah.or.id/5692-kecil-kecil-sudah-berpuasa-tips-melatih-anak-kecil-berpuasa.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Lebih dari Sekedar Puasa yang Sia-Sia

Puasa Ramadan merupakan ibadah yang agung dan mulia. Ia adalah salah satu dari rukun Islam. Allah Ta’ala menyiapkan berbagai keutamaan bagi yang berpuasa di bulan Ramadan, di antaranya:

Pertama: Ampunan dosa yang telah lalu. (HR. Bukhari no. 2014, Muslim no. 760)

Kedua: Balasan pahala yang tidak terhingga. (HR. Bukhari no. 1904, Muslim no. 1151, dan Ibnu Majah no. 1638)

Ketiga: Ada 2 kebahagiaan. (HR. Bukhari no. 1904, Muslim no. 115, dan Ibnu Majah no. 16381)

Keempat: Pintu surga Ar-Rayyan. (HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152)

Kelima: Perisai dari neraka. (HR. Ahmad no. 14669)

Keenam: Syafa’at puasa di akhirat. (HR. Ahmad no. 1429)

Betapa besar harapan setiap orang yang masuk bulan Ramadan untuk mendapatkan seluruh fadhilah puasa tersebut. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pula telah mengabarkan bahwa ada di antara kaum muslimin yang berpuasa menahan makan, minum, serta syahwatnya di siang hari, namun tidak mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan haus.

رُبّ صائم حَظُّهُ من صيامه الجوع والعطش

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut, kecuali rasa lapar dan haus.” (HR. Ahmad no. 8693, Shahih Ibnu Hibban 257/8, Albani dalam Shahih At-Targhib 262/1)

Di antara alasan yang membuat mereka tidak mendapatkan keutamaan tersebut adalah tidak mematuhi rambu-rambu yang telah ditetapkan Allah Ta’ala dalam berpuasa.

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah justru mengamalkannya, maka Allah Ta’ala tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903, Abu Daud no. 2362, dan Ahmad no. 10562)

Mereka tidak makan dan minum, namun tidak menjaga lisan dari perkataan sia-sia, dusta, keji, dan jorok. Bahkan, melakukan dosa besar dengan melakukan gibah alias gosip. Padahal, sejatinya puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus, namun juga menjaga lisan.

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

“Puasa bukan hanya menahan makan dan minum saja, akan tetapi puasa adalah menahan diri dari berkata sia-sia dan jorok.” (HR. Ibnu Hibban no. 3479 dan Hakim no. 1570, Albani dalam Shahih At-Targhib No. 1082) 

Amalan puasa yang begitu besar di sisi Allah Ta’ala, yang dilaksanakan penuh selama bulan Ramadan, berletih-letih bangun sahur di waktu subuh, dan haus di siang hari, semua menjadi sia-sia dan tidak ada hasilnya karena lisan yang tidak dijaga saat berpuasa. Walau pun letih badan berpuasa, namun tidak ada nilainya di sisi Allah Ta’ala. Letih tinggallah letih, penyesalan.

Kesyirikan lebih daripada itu semua

Jika perkataan dusta dan sia-sia menjadi sebab puasa menjadi sia-sia, maka kesyirikan adalah sebab seluruh amal ibadah menjadi sia-sia. Seluruh ibadah yang telah dilakukan seorang hamba, dari amalan salat, puasa, zakat, haji, sedekah, berbakti kepada orang tua, umrah, dan ibadah agung lainnya, akan sirna dan menjadi debu yang berterbangan ketika seseorang melakukan dosa kesyirikan.

وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (para rasul) sebelummu, ‘Jika engkau berbuat kesyirikan, niscaya akan (benar-benar) terhapus (seluruh) amalmu dan tentu Anda termasuk orang-orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar: 65)

Konteks ayat ditujukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana dalam Tafsir At-Thabari, “Jika engkau melakukan kesyirikan wahai Muhammad, benar-benar akan batal seluruh amalmu, tidak akan meraih pahala dan ganjaran, kecuali ganjaran sebagaimana pelaku kesyirikan kepada Allah Ta’ala.”

“Walau konteksnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah umatnya. Sesungguhnya, Allah Ta’ala telah mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berbuat kesyirikan dan tidak terjatuh dalam kesalahan tersebut.” (Tafsir Qurthubi)

Pelajaran utama dari ayat ini adalah jika seorang Nabi dan Rasul yang mulia saja, yang dijamin masuk surga, tidak pernah berbuat dan jatuh ke dalam kesyirikan, namun seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbuat kesyirikan, maka akan terhapus seluruh amalnya.

Ayat ini adalah ancaman untuk kita sebagai umatnya, yang memiliki amal pas-pasan, yang masih malas beramal saleh, dan bekal amalnya masih sedikit. Jika kita berbuat kesyirikan kepada Allah Ta’ala kemudian meninggal dalam keadaan belum bertobat dari dosa tersebut, maka akan terhapus semua amal kita (yang sedikit itu), dan Allah Ta’ala tidak mengampuni dosa syirik.

انَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Allah Ta’ala mengampuni dosa selainnya (syirik) bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah Ta’ala, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa: 48)

Sebagaimana perkataan dusta, sia-sia, dan keji orang yang berpuasa akan melenyapkan pahala puasa, maka kesyirikan bukan hanya menghapus amalan puasa, namun seluruh amal ibadah yang pernah dilakukan selama hidup, akan terhapus dan menjadi debu yang berterbangan.

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)

Oleh karena itu, kesyirikan lebih mengerikan dibandingkan perkataan sia-sia orang yang berpuasa. Masih banyak kaum muslimin yang justru kuat dan semangat menjaga puasanya dengan baik, namun di saat yang sama juga melakukan kesyirikan kepada Allah Ta’ala dengan berdoa kepada selain Allah Ta’ala, menyembelih hewan untuk selain Allah Ta’ala, meyakini ada yang mengetahui hal gaib selain Allah Ta’ala dan bentuk kesyirikan lainnya. Oleh karena itu, tegakkan tauhid dan jauhilah kesyirikan,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan jangan engkau mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisa’: 36)

Demikian. Semoga bermanfaat.

***

Ditulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP

Sumber: https://muslim.or.id/84202-lebih-dari-sekedar-puasa-yang-sia-sia.html
Copyright © 2024 muslim.or.id