[Kitabut Tauhid 7] 07 Hidayah hanya milik Allah 07

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Diantara sebab mendapatkan hidayaah dari sisi -‘Azza wa Jalla- adalah : [keempat] : membaca Al-Qur-an dan merenungkan kandungan maknanya, kemudian mengamalkan konsekuensinya; [kelima] : mentaati dan meneladani Sunnah Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-; [keenam] : mengimani takdir Allâh -‘Azza wa Jalla- dengan benar.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Suami-Istri: Jangan Ada Gadget/Hape Di Antara Kita Mulai Malam Ini

Mungkin pernyataan antar suami-istri ini tepat:

“Jangan ada Handphone di antara kita malam ini”

Artinya pada waktu malam menjelang tidur, di mana anak-anak sudah mulai tidur. Suami-istri hanya sibuk dengan handphone masing-masing, karena memang berselancar dunia maya sangat mangasyikkan, belum lagi berbagai macam media sosial. Sehingga tepatlah jika di katakan:

“Yang dekat jadi jauh, yang jauh jadi dekat”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa bercengkrama bersama istrinya sebelum tidur. Saling berbagi, saling curhat dan mencari solusi bersama permasalahan rumah tangga. Mengenai pendidikan akan urusan dengan keluarga dan tetangga atau sekedar bercanda yang di mana canda suami istri adalah berpahala, sedangkan bercanda kebanyakan melalaikan, tetapi bercanda dengan istri justru berpahala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

كُلُّ شَيْئٍ يَلْهُو بِهِ ابْن آدَمَ فَهُوَ بَاطِلٌ إِلاَّ ثَلاَثًا رَمْيُهُ عَىْ قَوْسِهِ وَ تَأْدِيْبُهُ فَرْسَهُ و  مُلاَعَبَتُهُ أَهْلَهُ فَإِنَّهُنَّ مِنَ الْحَقِّ

 ”Segala sesuatu yang dijadikan permainan oleh anak Adam adalah bathil, kecuali tiga perkara, melepaskan panah dari busurnya, latihan berkuda, dan senda gurau (mula’abah) bersama keluarganya, karena itu adalah hak bagi mereka.”[1]

Al-Khattabi rahimahullah berkata,

قَال الْخَطَّابِيُّ : فِي هَذَا بَيَانُ أَنَّ جَمِيعَ أَنْوَاعِ اللَّهْوِ مَحْظُورَةٌ ، وَإِنَّمَا اسْتَثْنَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Pada hadits ini terdapat penjelasan bahwa semua jenis permainan yang bisa melalaikan adalah terlarang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengecualikannya (pada hadits)”[2]

Contoh dari tauladan kita

Kami sebutkan salah satu contoh saja dari sekian banyak contoh kebiasaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu kisah abu dan ummu Zar’ merupakan kisah yang panjang nan romantis diceritakan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarkan dengan seksama cerita yang cukup panjang dari ‘Aisyah dan memberikan beberapa komentar mengenai kehangatan dan romantisme kisah mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Aisyah,

كُنْتُ لَكِ كَأَبِي زَرْعٍ لِأُمِّ زَرْعٍ إِلاَّ أَنَّ أَبَا زَرْعٍ طَلَّقَ وَأَنَا لاَ أُطَلِّقُ

“Aku bagimu seperti Abu Zar’ seperti Ummu Zar’ hanya saja Abu Zar’ mencerai dan aku tidak mencerai”[3]

kemudian Aisyah radhiallahu ‘anha membalas dengan romantis lagi,

يَا رَسُوْلَ اللهِ بَلْ أَنْتَ خَيْرٌ إِلَيَّ مِنْ أَبِي زَرْعٍ

“Wahai Rasulullah, bahkan engkau lebih baik kepadaku dari pada Abu Zar’”[4]

Demikian semoga bermanfaat


@RS Mitra Sehat, Wates,  Yogyakarta Tercinta

Penyusun:   Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

[1] HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir , Silsilah As-Shahihah no. 309

[2] Sumber: http://islamqa.info/ar/152936

[3] HR At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir XXIII/173 no 270

[4] HR An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubro V/358 no 9139

Jangan Hanya Bisa Melarang dan Menyuruh Saja

Pada seri sebelumnya telah dikemukakan bahwa kita selaku ayah dan ibu sudah sepantasnya memberikan keteladanan dalam kebaikan kepada anak-anak kita. Demikian pula telah diuraikan dampak psikis pemberian teladan dan motivasi kepada anak, sehingga sang anak akan meniru (mencontoh) kebaikan dari kedua orang tuanya. Dengan harapan, sang anak kelak dapat kontinyu melakukan kebaikan tersebut, bahkan setelah kedua orang tuanya tiada.

Oleh karena itu, sebagai orang tua hendaklah kita jangan hanya mampu untuk melarang suatu perbuatan buruk, namun kita sendiri malah melakukannya.

Sebuah aib bagi kita, bahkan aib yang sangat besar, ketika kita melarang anak kita dari akhlak yang buruk, namun kita sendiri yang justru melakukannya.

Sebuah aib bagi kita, melarang mereka dari ucapan dusta, namun kita malah berdusta di hadapan mereka. Ketika seseorang datang ke rumah kita, orang tersebut (sang tamu) bertanya tentang keberadaan kita, namun kita malah menyuruh anak kita untuk mengatakan, ”Bilang saja bahwa ayah atau ibu tidak ada.” Bagaimana kita akan mengajarkan mereka tentang wajibnya memenuhi (menepati) janji, padahal kita sendiri menyelisihi janji di hadapan mereka?

Bagaimana mungkin kita melarang anak dari berteriak-teriak (bersuara keras) di rumah dan mengajarkan kepadanya tentang firman Allah Ta’ala,

“Dan lirihkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai” (QS. Luqman [31] : 19)

Namun kita malah meninggikan suara dengan cacian dan makian di rumah kita. Kita justru menghardik istri dan anak-anak kita.

Bagaimana mungkin kita melarang anak untuk tidak merokok, atau melihat yang haram, padahal kita sendiri merokok dan mata kita sering jelalatan ke mana-mana? Jika kita mengatakan kepadanya,“Jangan merokok!” Maka dia pun akan bertanya, “Mengapa tidak boleh merokok??” Karena sang anak tentu tidak merasa bersalah. Lantas apa yang dapat kita jawab kepadanya, karena kita sendiri juga menghisap rokok?

Sungguh Allah Ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash–Shaf [61]: 2-3)

Nabi Syu’aib ‘alaihissalam pernah mengatakan,

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan.” (QS. Huud [11]: 88).

Berikut ini hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkaitan dengan pembahasan ini,

“Didatangkan seorang pria pada hari kiamat. Kemudian dia dilempar ke neraka. Ususnya keluar dan dia memutari ususnya bagaikan seekor keledai yang berputar-putar menarik alat giling gandum. Penduduk neraka pun berkeliling mengelilinginya dan mengatakan, “Wahai fulan, apa yang terjadi denganmu? Bukankah dahulu Engkau adalah orang yang memerintahkan kami melaksanakan yang ma’ruf dan melarang kami dari hal yang mungkar?” Kemudian dia menjawab, “Dahulu aku memang memerintahkan kalian pada yang ma’ruf (kebaikan), tetapi aku sendiri tidak melaksanakannya. Demikian juga, aku melarang kalian dari yang mungkar (keburukan), namun aku malah mengerjakannya.” (HR. Bukhari no. 3267).

Marilah kita berusaha sekuat tenaga untuk mengamalkan apa yang hendak kita ajarkan kepada anak-anak kita ...

Disempurnakan menjelang isya, Rotterdam 13 Shafar 1438

***

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

Artikel Muslimah.or.id

Sumber: https://muslimah.or.id/9164-parenting-islami-08-jangan-hanya-bisa-melarang-dan-menyuruh-saja.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Kebaikan Selalu Mengantarkan pada Meninggalkan Maksiat

Kebaikan selalu mengantarkan pada meninggalkan maksiat. Bagaimana bisa disimpulkan seperti itu?

Bisa direnungkan ayat berikut ini,

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (13: 298) dengan sanad yang hasan dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Shalat tidaklah manfaat kecuali jika shalat menjadikannya taat pada Allah.” Lantas Ibnu Mas’ud membacakan ayat, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.”

Dalam Majmu’ Al-Fatawa (10: 753), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“Mengerjakan ketaatan mengakibatkan seseorang akan meninggalkan maksiat. Begitu pula Meninggalkan maksiat mengakibatkan seseorang akan melakukan ketaatan. Karenanya shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Karenanya shalat mengakibatkan seseorang itu akan tercegah dari melakukan dosa dan kedua, seseorang akan terus mengingat Allah.”

Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.

—

@ DS, Panggang, Gunungkidul, Sabtu sore, 15 Ramadhan 1438 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/15970-kebaikan-selalu-mengantarkan-pada-meninggalkan-maksiat.html

Mencari Pekerjaan yang Halal

Seorang muslim dituntut untuk mencari pekerjaan yang halal, bukan pekerjaan yang asal-asalan, bukan pekerjaan yang mudah mengalirkan uang. Yang terpenting berkahnya dan kehalalannya.

Perbaguslah Cara Mencari Rezeki

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

“Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah no. 2144, dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani).

Dalam hadits tersebut terdapat dua maslahat yang diperintahkan untuk dicari yaitu maslahat dunia dan maslahat akhirat. Maslahat dunia dengan pekerjaan yang halal, maslahat akhirat dengan takwa.

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan alasan kenapa dua hal itu digabungkan. Beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan antara maslahat dunia dan akhirat dalam hadits “Bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki.” Nikmat dan kelezatan akhirat bisa diraih dengan ketakwaan pada Allah. Ketenangan hati dan badan serta tidak rakus dan serakah pada dunia, dan tidak ada rasa capek dalam mengejar dunia, itu bisa diraih jika seseorang memperbagus dalam mencari rezeki.

Oleh karenanya, siapa yang bertakwa pada Allah, maka ia akan mendapatkan kelezatan dan kenikmatan akhirat. Siapa yang menempuh jalan yang baik dalam mencari rezeki (ijmal fii tholab), maka akan lepas dari rasa penat dalam mengejar dunia. Hanyalah Allah yang memberikan pertolongan.” (Lihat Al Fawaid, hal. 96).

Berarti jika kita mendapatkan keuntungan dunia dan akhirat serta tidak ada rasa letih dalam mencari nafkah, maka cukupkanlah diri pada pekerjaan yang halal.

Jatah Rezeki Tetap Ada

Dari Ibnu Mas’ud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ

”Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir 8: 166, hadits shahih. Lihat Silsilah As Shahihah no. 2866)

Hadits di atas ini sebagai penjelas bahwa yang dimaksud memperbagus dalam mencari rezeki adalah bekerja dengan mencari yang halal.

Bila Pintu Rezeki Ditutup

Dalam hal rezeki yang mesti dipahami ada dua yang begitu penting yaitu:

  • Jatah rezeki tetap terus ada selama nyawa kita masih ada.
  • Jika salah satu pintu rezeki tertutup, maka akan terbuka pintu rezeki yang lain.

Perhatikan perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah berikut untuk menerangkan hal di atas. Beliau berkata,

“Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu.

Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar.

Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain (yakni dua puting susu ibunya), dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama, itulah rezeki susu murni yang lezat.

Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan yaitu dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman yaitu dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya.

Lalu ketika dia meninggal, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah Ta’ala membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI. Itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja dia kehendaki.

Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhol dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” (Al Fawaid, hal. 94)

Akibat Pekerjaan yang Haram

Mengapa harus cari yang haram yang ujungnya hanya kesia-siaan, membuat amalan tidak diterima?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (halal). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015)

Kenapa kami sampai menyebut di awal bahwa gara-gara pekerjaan yang haram, amalan jadi tidak diterima?

Ibnu Rajab menyatakan, “Berdasarkan hadits di atas, ada isyarat bahwa amalan seseorang tidaklah diterima kecuali jika mengonsumsi yang halal. Memang benar bahwa makan yang haram hanyalah merusak amalan dan membuat amalan tidak diterima. Karena setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa Allah tidaklah menerima kecuali dari yang thoyyib (halal), lalu dilanjutkan dengan ayat,

( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ)

“Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Mu’minun: 51).

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ)

“Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu” (QS. Al Baqarah: 172).

Berdasarkan ayat di atas, para rasul dan umatnya diperintahkan untuk makan makanan yang halal dan diperintahkan pula untuk beramal shalih. Selama seseorang mengonsumsi yang halal, maka amal shalih bisa diterima. Jika yang dikonsumsi tidaklah halal, bagaimana mungkin amalannya bisa diterima? (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 260).

Akibat buruk lainnya dari pekerjaan yang haram disebutkan dalam perkataan Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Siapa yang dagingnya tumbuh dari pekerjaan yang tidak halal, maka neraka pantas untuknya.” (HR. Ibnu Hibban 11: 315, Al Hakim dalam mustadroknya 4: 141. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 4519)

Ingatlah pula kata ‘Umar,

بالورع عما حرَّم الله يقبلُ الله الدعاء والتسبيحَ

“Dengan sikap wara’ (hati-hati) terhadap larangan Allah, Dia akan mudah mengabulkan do’a dan memperkanankan tasbih (dzikir).” (Dinukil dari Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, 1: 275).

Penutup

Semoga Allah mencukupkan diri kita dengan yang halal dan dijauhkan dari yang haram.

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak” [Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu] (HR. Tirmidzi no. 3563, hasan menurut At Tirmidzi, begitu pula hasan kata Syaikh Al Albani)

—

Selesai disusun di malam hari, malam 1 Safar 1436 H (23-11-2014) @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul

Yang senantiasa mengharapkan bimbingan Rabbnya: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Sumber https://rumaysho.com/9616-mencari-pekerjaan-yang-halal.html

Semakin Ingat Allah dalam Kondisi Lapang dan Nyaman

Kebiasaan orang-orang saleh adalah senantiasa mengingat Allah dalam kondisi lapang

Di antara nasihat indah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan adalah,

تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ

“Kenalilah Allah di saat senang (lapang), niscaya Allah akan mengenalmu di saat susah.” (HR. Tirmidzi no. 2516; Ahmad, 1: 293; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 14: 408. Syekh Syu’aib Al-Arnauth dalam tahqiq beliau terhadap Musnad Imam Ahmad menyatakan bahwa sanad hadis ini kuat)

Di antara kebiasaan orang-orang saleh adalah di saat mereka mendapatkan kelapangan hidup, mereka akan semakin mendekatkan diri kepada Allah. Mereka gunakan kesempatan tersebut agar bisa lebih dekat kepada Allah. Dan sebaliknya, di antara ciri-ciri orang yang tidak baik adalah mereka hanya mengenal Allah ketika dalam kondisi sulit (susah).

Oleh karena itu, Allah Ta’ala menyinggung orang-orang musyrikin yang baru mengingat Allah dalam kondisi sulit. Allah Ta’ala befirman,

وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا

“Dan apabila kamu (orang-orang musyrik) ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia (Allah). Maka ketika dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu selalu tidak berterima kasih.” (QS. Al-Isra’: 67)

Allah Ta’ala berfirman,

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Namun ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS. Al-‘Ankabut: 65)

Di dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِنْ قَبْلُ

“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudaratan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya. Kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya, lupalah dia akan kemudaratan yang dia pernah berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu.” (QS. Az-Zumar: 8)

Inilah sifat orang-orang yang buruk, yang tidak mengenal Allah kecuali dalam kondisi susah saja. Adapun orang-orang yang beriman, mereka menggunakan kesempatan ketika dalam kondisi lapang untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, “mencari muka” di hadapan Allah Ta’ala.

Kita bisa melihat Nabi Daud ‘alaihis salam, nabi pertama yang sekaligus seorang raja, memiliki kekuasaan yang sangat luas. Meskipun demikian, beliau adalah seorang yang sangat rajin beribadah. Sampai-sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,

أَحَبُّ الصَّلاةِ إِلَى اللهِ صَلاةُ دَاوُدَ ، وَأحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ ، كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَيَصُومُ يَوماً وَيُفْطِرُ يَوْماً

“Salat yang paling dicintai Allah adalah salat Daud. Dan puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud. Daud tidur separuh malam dan bangun pada sepertiganya, dan tidur lagi seperenamnya. Ia juga puasa sehari dan berbuka sehari.” (HR. Bukhari no. 1131 dan Muslim no. 189)

Lihatlah, beliau seorang raja, namun tetap rajin salat malam dan berpuasa. Kekayaan, kemegahan, dan kekuasaan tidaklah membuat beliau lalai dari beribadah dan mengingat Allah Ta’ala. Justru ketika seseorang semakin banyak diberikan kenikmatan, dia semakin memperbanyak amal saleh. Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Sulaiman ‘alaihis salam,

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْراً وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Beramal salehlah wahai keluarga Daud (yaitu Nabi Sulaiman ‘alaihis salam, yang telah diberikan kekuasaan setelah ayahnya, pent.), sebagai bentuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS. Saba’: 13)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara:

(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,

(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,

(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,

(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,

(5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 4: 341. Syekh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib mengatakan bahwa hadis ini sahih.)

Oleh karena itu, ketika pintu kebaikan sedang dibukakan untuk kita, segeralah masuk ke dalam kebaikan tersebut. Karena kita tidak tahu, kapan pintu kebaikan itu ditutup kembali.

Faedah senantiasa mengingat Allah dalam kondisi lapang

Siapa saja yang senantiasa mengenal Allah dalam kondisi lapang, maka di antara faidahnya adalah Allah akan mengenalinya (menolongnya) ketika dalam kondisi sulit. Mengapa demikian? Karena selama ini ketika dalam kondisi lapang, dia “mencari muka” di hadapan Allah dengan banyak beribadah. Renungkanlah bagaimanakah kondisi Nabi Yunus ‘alaihis salam ketika sedang menghadapi musibah dimakan ikan paus di lautan yang dalam,

وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِباً فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru (kepada Allah) dalam keadaan yang sangat gelap, “Bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya’: 87)

Nabi Yunus ‘alaihis salam berada dalam kegelapan yang bertumpuk-tumpuk, di dalam perut ikan paus, di dalam lautan, dan di kegelapan malam. Ada sebagian yang menambahkan, dalam kondisi hujan yang sangat deras. Namun, dalam kondisi seperti itu, Nabi Yunus tetap berdoa, dan Allah pun kabulkan doanya,

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنجِي الْمُؤْمِنِينَ

“Maka Kami telah mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan (penderitaan). Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 88)

Mengapa Allah Ta’ala selamatkan Nabi Yunus? Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala jelaskan,

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنْ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS. Ash-Shaffat: 143-144)

Allah Ta’ala selamatkan Nabi Yunus karena selama ini, beliau rajin mengingat Allah sebelum mendapatkan musibah tersebut. Maka benarlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ

“Kenalilah Allah di saat senang (lapang), niscaya Allah akan mengenalmu di saat susah.”

Akibat bagi orang-orang yang tidak mengingat Allah dalam kondisi lapang

Adapun orang-orang yang dalam kondisi lapang justru menggunakan kelapangannya tersebut untuk sombong dan bermaksiat kepada Allah, maka kita khawatir orang-orang seperti ini tidak akan ditolong oleh Allah Ta’ala dalam kondisi sempit. Renungkanlah kisah Fir’aun yang mengingat Allah, dan bahkan bersyahadat saat hampir tenggelam, namun tetap tidak Allah tolong. Allah Ta’ala berfirman,

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْياً وَعَدْواً حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لا إِلِـهَ إِلاَّ الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَاْ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka). Hingga ketika Fir’aun itu telah hampir tenggelam, dia berkata, “Saya percaya bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Tuhan yang dipercayai (disembah) oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Yunus: 90)

Itulah ucapan terahir Fir’aun, yaitu menyatakan keimanannya kepada Allah, Rabb yang disembah oleh Bani Israil. Apakah Allah terima ucapan ini? Tidak, namun Allah katakan,

آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

“Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Yunus: 91)

Di waktu lapang, Fir’aun lupa dan sombong kepada Allah. Maka ditenggelamkanlah Fir’aun dalam kondisi kafir dan akhirnya kekal di neraka jahanam.

Oleh karena itu, ketika seseorang diberikan kelapangan dan kenikmatan oleh Allah, berusahalah menggunakan kesempatan tersebut untuk memperbanyak beribadah, memperbanyak membaca Al-Quran, menambah jumlah rakaat salat sunah, bersedekah ketika punya uang, atau menyambung silaturahmi. Di antara faidahnya, argo pahalanya akan tetap berjalan ketika suatu hari dia mendapatkan uzur. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim (tidak safar) dan ketika sehat.” (HR. Bukhari no. 2996)

Jika seorang hamba biasa bersedekah ketika sedang kaya, maka ketika miskin dan tidak mampu sedekah, maka pahala sedekahnya akan tetap berjalan. Ketika sehat seseorang biasa salat malam, maka pahala salat malamnya akan tetap berjalan ketika dia sakit dan tidak mampu lagi salat malam.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk dalam orang-orang yang senantiasa mengingat dan beribadah kepada Allah dalam kondisi lapang dan nyaman.

***

@24 Dzulhijah 1445/ 1 Juli 2024

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari ceramah Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc., MA. hafizhahullah di tautan ini: https://www.youtube.com/watch?v=7FflvlBCbIk&t=440s

Sumber: https://muslim.or.id/96049-semakin-ingat-allah-dalam-kondisi-lapang-dan-nyaman.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

TALK LESS, DO MORE

Al-Imam Al-Auza’i rahimahullah berkata:
“Sifat seorang Mukmin adalah sedikit bicara, banyak beramal. Sedangkan sifat orang munafik adalah banyamun amalannya sedikit.” [Hilyatul Auliya’, 6: 142]
ㅤ
Salah satu adab bagi penuntut ilmu, dan ini juga merupakan sifat orang Mukmin, adalah sedikit bicara atau banyak diam. Karena diam itu mampu menahan seorang hamba agar tidak jatuh ke dalam jurang kehancuran. Rasulullah ﷺ bersabda:
ㅤ
مَنْ صَمَتَ نَجَا
ㅤ
“Siapa yang diam, niscaya akan selamat.” [HR. Ahmad]
ㅤ
Dengan diam kita akan selamat dari jurang Neraka, seperti yang diperingatkan oleh Rasulullah ﷺ dalam haditsnya:
“Dan sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat dari yang dimurkai Allah yang tidak diperhatikannya, sehingga Allah melemparkannya disebabkan kalimat itu, ke dalam Neraka Jahanam.” [HR. Al-Bukhari]
ㅤ
Begitu juga kunci kebaikan adalah menjaga lisan sebagaimana hadis dari Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi, ia berkata: Wahai Rasulullah, katakan kepadaku dengan satu perkara yang aku akan berpegang dengannya! Beliau ﷺ menjawab:
ㅤ
قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ قُلْتُ. يَا رَسُولَ اللَّهِ : مَا أَخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ فَأَخَذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ ثُمَّ قَالَ هَذَا
ㅤ
“Katakanlah, ‘Rabbku adalah Allah’, lalu istiqamahlah.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah yang paling Anda khawatirkan atasku?” Beliau ﷺ memegang lidah beliau sendiri, lalu bersabda: “Ini.” [HR. Tirmidzi, Disahihkan Al-Albani]
ㅤ
Kita memohon perlindungan kepada Allah dari berbicara batil, dan memohon taufik kepada Allah agar senantiasa berbicara yang benar, baik, atau diam.
ㅤ
Semoga Allah Azza wa Jalla selalu membimbing kita di dalam kebaikan, dan menjaga kita semua dari perbuatan yang dimurkai-Nya, serta kita tetap bisa istiqamah di atas jalan yang benar, jalan yang diridai oleh Allah. Aamiin

sumber : https://nasihatsahabat.com/talk-less-do-more/

Mengatasi Kecemasan dan Ketakutan Memikirkan Masa Depan

Sebagian orang merasa was-was, cemas, takut, dan khawatir memikirkan nasibnya di masa depan. Khawatir dia jatuh miskin, khawatir suaminya tiba-tiba meninggal dan tidak ada lagi yang menafkahi dirinya, atau khawatir tidak mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah, dan kekhawatiran lainnya.

Saudaraku, bagi yang memiliki kecemasan semacam ini, hendaknya merenungkan firman Allah Ta’ala berikut,

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً

“Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah murka dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahanam. Dan (neraka Jahanam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.” (QS. Al-Fath: 6)

Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa di antara karakter (sifat) orang-orang munafik dan musyrikin adalah buruk sangka kepada Allah. Dan itulah di antara sebab mereka mendapatkan murka dan azab dari Allah Ta’ala.

Jangan berburuk sangka kepada Allah karena tidak ada alasan bagi kita untuk berburuk sangka kepada-Nya. Marilah kita merenung sejenak. Pada saat bayi ketika kita tidak mampu berbuat apa-apa, Allah jamin rezeki kita, Allah tidak telantarkan kita. Saat kecil, kita tidak memiliki kecemasan dan kekhawatiran semacam itu, padahal kita tidak bisa dan tidak memiliki apa-apa ketika itu. Bagaimana lagi dengan kondisi kita sekarang? Ketika kita memiliki ilmu, kemampuan, kekuatan, dan sarana-sarana untuk mencari rezeki sendiri, tidak lagi bergantung kepada orang tua.

Oleh karena itu, kecemasan semacam itu hanyalah berasal dari setan. Inilah yang setan bisikkan ke dalam hati manusia. Setan bisikkan ketakutan, kecemasan, was-was, dan kekhawatiran terhadap masa depan. Allah Ta’ala berfirman tentang apa yang diperbuat setan kepada manusia,

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَاء وَاللّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلاً وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan (kefakiran) dan menyuruh kamu berbuat kekejian; sedangkan Allah menjanjikan untukmu ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268)

Setan menghantui manusia dengan kefakiran dan kemiskinan alias membuat kita menjadi paranoid. Lalu setan akan memerintahkan kita untuk melakukan hal-hal yang keji, tidak bisa berpikir logis. Maka jelaslah bahwa kecemasan semacam itu hanya berasal dari setan, jangan dipercaya. Allah yang menjaga kita pada saat bayi, Allah pula yang menjaga kita pada hari ini. Kita harus yakin kepada Allah, Rabbul ‘alamin.

Lalu, bagaimana kita agar kita sembuh dari kecemasan semacam ini? Masalah utama yang mendasari adalah karena kurangnya kita berdzikir kepada Allah Ta’ala. Kurang memperbanyak mengingat Allah, kurang merenungi firman-firman-Nya, namun hanya sibuk memikirkan manusia. Inilah sebuah kaidah penting dalam kehidupan, sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu ‘Aun rahimahullah,

ذكر الناس داء، و ذكر الله دواء

“Mengingat manusia atau makhluk itu penyakit, dan obatnya adalah mengingat Allah.”

Saudaraku, Allah tidak pernah mengkhianati kita, Allah tidak pernah menyelisihi janji-Nya, namun kita sendiri yang justru melakukan pengkhianatan terhadap Allah Ta’ala dengan tidak menaati perintah-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyalahi (menyelisihi) janji.” (QS. Ali ‘Imran: 9)

Dalam ayat yang telah kami sebutkan di atas, Allah Ta’ala menjanjikan karunia dan ampunan-Nya kepada kita,

وَاللّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلاً 

“Sedangkan Allah menjanjikan untukmu ampunan dari-Nya dan karunia.” (QS. Al-Baqarah: 268)

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berjanji,

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4)

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Oleh karena itu, marilah kita memperbanyak kembali kepada Allah, bertobat kepada-Nya atas dosa dan maksiat yang kita lakukan. Kita perbanyak mengingat dan menceritakan nikmat-nikmat yang telah Allah karuniakan kepada kita,

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan (ceritakan).” (QS. Adh-Dhuha: 11)

Semoga dengan banyak mengingat Allah, kecemasan dan ketakutan semacam itu akan sembuh dan disembuhkan oleh Allah Ta’ala. Aamiin.

***

@25 Dzulhijah 1445/ 2 Juli 2024

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslimah.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari ceramah Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri hafizhahullah di tautan ini: https://www.youtube.com/watch?v=ApuJHgPRlhk&t=337s

Sumber: https://muslimah.or.id/18359-mengatasi-kecemasan-dan-ketakutan-memikirkan-masa-depan.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id