Apa yang Harus Diperbuat Di Tempat yang Penuh Kemungkaran

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : “Saya adalah seorang pemudi yang tinggal di daerah pedalaman bersama-sama para pelajar puteri. Alhamdulillah, Allah telah memberikan saya petunjuk kepada jalan kebenaran dan saya berpegang teguh kepadanya, tetapi saya sangat sedih sekali karena melihat di sekitar saya penuh dengan kemaksiatan dan kemungkaran, khususnya sebagian teman-teman pelajar puteri, seperti mendengar nyanyian, ghibah dan adu domba. Saya telah menasehati mereka tetapi sebagian mereka bahkan menghina saya dan mengolok-olok saya serta mengatakan bahwa saya adalah orang yang kolot. Saya mohon jawaban dari anda, apa yang harus saya perbuat ? Semoga Allah memberi anda pahala.

Jawaban.
Kewajiban anda adalah mencegah kemungkaran dengan semampunya, dengan ucapan yang baik, lemah lembut dan tutur kata yang baik serta menyebutkan ayat-ayat serta hadits-hadits yang sesuai dengan kondisi tersebut yang anda ketahui, lalu jangan ikut serta dengan mereka dalam bernyanyi dan tidak pula dalam ghibah serta tidak dalam perkataan dan pekerjaan haram lainnya. Jauhkan diri anda dari mereka sampai mereka membicarakan masalah yang lain, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ


“Dan apabila kamu melihat orang yang memperolok-olokan ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat kembali (akan larangan tersebut)” [Al-An’am/6 : 68]


Ketika anda menolak kemungkaran dengan lisan sesuai dengan kemampuan anda serta menjauhi perbuatan mereka, niscaya pekerjaan mereka tidak membahayakan anda dan tidak pula aib mereka menimpa anda sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ


“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu ; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk, hanya kepada Allah kamu semua kembali. Maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” [Al-Maidah/5 : 105]

Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan bahwa orang mukmin tidak akan terkena mudharat dari orang-orang sesat apabila ia selalu dalam kebenaran dan istiqamah dalam petunjuk. Hal tersebut dengan menolak kemungkaran dan tetap dalam kebenaran, serta ajakan yang baik menuju jalan-Nya.

Niscaya Allah akan menjadikan jalan keluar untuk anda dan memberikan petunjuk kepada mereka apabila anda bersabar dan hanya mengharapkan pahala dari Allah. Saya memberi kabar gembira kepada anda dengan kebaikan yang banyak dan akibat yang terpuji selama anda selalu konsisten dalam kebenaran, menolak segala sesuatu yang mengingkarinya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ


“Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa” [Al-A’raf /7: 128]

إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ


“Maka bersabarlah, sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa” [Hud/11 : 49]

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ


“Dan orang-orang yang berjihad (untuk mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik” [Al-Ankabut/29 : 69]

Baca Juga  Umar bin Al-Khaththab, Saat Kritis Tetap Melakukan Nahi Mungkar
Semoga Allah memberi anda taufik untuk melaksanakan perbuatan yang diridhai-Nya dan memberi anda kesabaran dan keteguhan hati serta memberi taufiq saudara-saudara anda, keluarga anda dan teman-teman anda untuk melaksanakan perbuatan yang diridhai-Nya. Sesungguhnya ia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Dialah yang memberi petunjuk menuju jalan yang lurus.

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Penerjemah Amir Hamzah Fakhrudin, Penerbit Darul Haq]


Referensi : https://almanhaj.or.id/226-apa-yang-harus-diperbuat-di-tempat-yang-penuh-kemungkaran.html

Rezeki Tak Mungkin Tertukar

Hasad, iri, dengki, jadi sebab kita tak pernah puas dengan rezeki.

Namun sebenarnya itu semua kembali pada diri kurangnya iman pada takdir.

Rezeki adalah bagian dari takdir ilahi sehingga untuk memahaminya harus memahami takdir dengan baik.

Yang jelas rezeki kita tak pernah tertukar.

Apa yang kita miliki, itulah yang terbaik untuk kita.

Rezeki kita tak pernah tertukar.

Jika kita mendapatkan kendaraan biasa, tetangga punya lebih baik …. Tetap rezeki kita tak tertukar.

Jika kita memiliki rumah sederhana, tetangga memiliki rumah mewah bak istana …. Tetap rezeki kita tak tertukar.

Lalu kaitannya dengan meninggalkan yang haram …

Jika kita menolak orderan natal, ingin cari yang halal dan berkah … Rezeki kita pun tak tertukar. Jangan kira ketika tidak menerima orderan semacam itu, rezeki kita pergi dan tertukar pada orang lain. Justru ketika kita ingin yang halal, Allah terus berkahi dan menambahkan rezeki.

Rezeki tak mungkin tertukar, Allah pasti membagi rezeki dengan adil.

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Al Isra’: 30)

Ingat pula janji ini …

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali berkata bahwa sanad hadits ini shahih)

Dengan kita meninggalkan yang haram karena Allah, maka akan diganti dengan yang lebih baik.

Harus terus yakin dan percaya … Moga rezeki kita penuh berkah.

—

@ Pondok Labu, Jakarta Selatan, 9 Rabi’ul Awwal 1437 H, 7:38 AM

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/12569-rezeki-tak-mungkin-tertukar.html

Safar Bagian dari Adzab

Betapa pun majunya teknologi, pasti namanya safar atau melakukan perjalanan jauh akan terasa sulit. Safar ini disebut bagian dari adzab (siksa). Karena orang yang menjalani safar akan sulit makan-minum dan tidur. Bahkan segala yang dicintai sementara akan ditinggalkan.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ ، فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ

“Safar adalah bagian dari adzab (siksa). Ketika safar salah seorang dari kalian akan sulit makan, minum dan tidur. Jika urusannya telah selesai, bersegeralah kembali kepada keluarganya.” (HR. Bukhari no. 1804 dan Muslim no. 1927).

Beberapa pelajaran dari hadits di atas:

– Yang dimaksud adzab dalam hadits di atas adalah rasa sakit yang timbul dari kesulitan yang dihadapi ketika berkendaraan dan berjalan sampai harus meninggalkan hal-hal yang disukai. (Fathul Bari, Ibnu Hajar)

– Disebutkan bahwa seorang musafir akan sulit makan, minum dan tidur. Tiga hal ini adalah tiga rukun kehidupan di mana ketika safar akan terasa sulit dan capek dan inilah siksa yang dirasakan. (Syarh Al Bukhari, Ibnu Batthol)

– Anjuran untuk bersegera kembali dari safar kepada keluarganya ketika urusan safarnya telah selesai. (Syarh Al Bukhari, Ibnu Batthol)

– Solusi agar terlepas dari kesulitan tersebut adalah segera kembali dari safar. Sebagaimana ada riwayat dari Ibnu ‘Umar yang dikeluarkan oleh Ibnu ‘Adi,

وَأَنَّهُ لَيْسَ لَهُ دَوَاء إِلَّا سُرْعَة السَّيْر

“Tidak ada obat (solusi) dari sulitnya safat selain mempercepat dalam melakukan perjalanan (pulang).” (Fathul Bari, Ibnu Hajar)

– Hadits ini mengandung pelajaran bahwa berpisah jauh dari keluarga tidaklah mengenakkan jika safar yang dilakukan bukan hajat yang penting. (Fathul Bari, Ibnu Hajar)

– Hadits ini memerintahkan untuk bersegera kembali pada keluarga lebih-lebih jika khawatir bisa melalaikan keluarga jika pergi jauh. Karena sekali lagi berada di samping keluarga lebih menjaga kemaslahatan agama dan dunia. Begitu pula menetap di suatu tempat akan menguatkan jama’ah dan menguatkan dalam beribadah. (Fathul Bari, Ibnu Hajar)

– Hadits ini tidak bertentangan dengan hadits Ibnu ‘Umar yang marfu’ (sampai pada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-),

سَافِرُوا تَصِحُّوا

“Bersafarlah, maka kalian akan sehat.” Dikatakan tidak bertentangan karena sehat tidak selamanya harus dengan bersafar. (Fathul Bari, Ibnu Hajar)

– Al Khottobi berdalil bahwa untuk menyiksa orang yang telah berbuat zina adalah mengasingkan dirinya, artinya memerintahkan dia pergi jauh dan ini tentu bagian dari siksa. Sebagaimana safar adalah bagian dari siksa (adzab). (Fathul Bari, Ibnu Hajar)

– Imam Al Haromain pernah ditanya, “Kenapa safar dikatakan bagian dari adzab?” Beliau segera menjawab,

لِأَنَّ فِيهِ فِرَاق الْأَحْبَاب

“Karena safar akan meninggalkan segala yang dicintai.” (Fathul Bari, Ibnu Hajar)

Benar juga kata Imam Al Haromain. Semuanya suka akan nikmatnya makan-minum dan tidur, juga senang berada di sisi keluarga, istri dan anak tercinta. Ketika bersafar, maka kenikmatan tersebut sementara akan hilang. Itulah bagian dari adzab (siksa).

Agar setiap safar kita menjadi mudah dan penuh berkah, jangan lupakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang satu ini.

Jika sudah berada di atas kendaraan untuk melakukan perjalanan, hendaklah mengucapkan, “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar.” Setelah itu membaca,

سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِى سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ وَالأَهْلِ

“Subhanalladzi sakh-khoro lanaa hadza wa maa kunna  lahu muqrinin. Wa inna ila robbina lamun-qolibuun. Allahumma innaa nas’aluka fii safarinaa hadza al birro wat taqwa wa minal ‘amali ma tardho. Allahumma hawwin ‘alainaa safaronaa hadza, wathwi ‘anna bu’dahu. Allahumma antash shoohibu fis safar, wal kholiifatu fil ahli. Allahumma inni a’udzubika min wa’tsaa-is safari wa ka-aabatil manzhori wa suu-il munqolabi fil maali wal ahli.” (Mahasuci Allah yang telah menundukkan untuk kami kendaraan ini, padahal kami sebelumnya tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya, dan sesungguhnya hanya kepada Rabb kami, kami akan kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan, taqwa dan amal yang Engkau ridhai dalam perjalanan kami ini. Ya Allah mudahkanlah perjalanan kami ini, dekatkanlah bagi kami jarak yang jauh. Ya Allah, Engkau adalah rekan dalam perjalanan dan pengganti di tengah keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesukaran perjalanan, tempat kembali yang menyedihkan, dan pemandangan yang buruk pada harta dan keluarga) (HR. Muslim no. 1342).

Wallahu waliyyut taufiq.

@ Ummul Hamam, KSA, 19 Sya’ban 1433 H (17 hours before journey to Jogja)

Sumber https://rumaysho.com/2671-safar-bagian-dari-adzab.html

Yang Enggan Masuk Surga

Oleh
Ustadz Muhammad Alif, Lc

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :   كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى ؟ قَالَ : مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan, para Sahabat bertanya, “Wahai Rasûlullâh! Siapakah yang enggan?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Barangsiapa yang mentaatiku niscaya ia akan masuk surga, dan siapa yang bermaksiat kepadaku maka dia enggan (untuk masuk surga).” 

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam shahihnya Kitab al-I’tisham Bil Kitab Wa as-Sunnah, Bab al-Iqtida’ Bi Sunani Rasûlillâh no. 7280, al-Imam Ahmad dalam musnadnya no. 8728, dan al-Imam al-Hakim dalam al- Mustadrak, Kitab al-Iman no. 182. Dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu .

PERAWI HADITS
Pada masa jahiliyah ia bernama Abdus Syamsi (hamba matahari), ketika masuk Islam dan berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam merubah namanya menjadi Abdurrahman. Karena seseorang tidak boleh diberi nama dengan penghambaan kepada makhluk, seperti Abdus Syamsi (hamba matahari), Abdur Rasul (hamba Rasul), Abdul Husein (hamba Husein). Tetapi sebaik-baik nama adalah yang berarti penghambaan kepada Allâh, seperti Abdullah, Abdurrahman, Abdurrahim, Abdul Khaliq. Akan tetapi ia lebih di kenal dengan kunyah (panggilan) yaitu Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , sehingga kebanyakan orang tidak mengenal atau tahu namanya. Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Shakhr dari keturunan Tsa’labah bin Salim bin Fahm bin Ghanam bin Daus al-Yamani. Dia lebih dikenal dengan panggilan “Abu Hurairah”, karena beliau memiliki kucing kecil yang sangat disukai.

Pada tahun ketujuh Hijriyah Abu Hurairah hijrah ke Madinah. Sesampainya di Madinah, beliau Radhiyallahu anhu terus mulazamah (mendampingi) dan mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  meninggal dunia. Itu berlangsung selama empat tahun, baik ketika di Madinah atau sedang safar. Abu Hurairah Radhiyallahu anhu terus mendampingi dan menghadiri majelis-majelis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahkan beliau tinggal di masjid Nabi, oleh karena itu beliau termasuk golongan ahlus shuffah (yang tidak memiliki tempat tinggal).

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu sangat dikenal dengan kecepatan dan kekuatan hafalannya, bahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk Sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ketika sedang sakit sebelum meninggal Abu Hurairah Radhiyallahu anhu menangis, lalu ditanya, “Apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Abu Hurairah?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya aku tidak menangisi dunia ini, tetapi aku menangis karena jauhnya perjalanan dan sedikitnya bekal, karena aku nanti akan berhenti di akhir jalan yang akan menghantarkan ke surga atau neraka, sedangkan aku tidak tahu dimana nanti berada!”, maka tidak lama kemudian beliau Radhiyallahu anhu meninggal dunia.

Beliau meninggal tepatnya pada tahun 57 H, pada usia 78 tahun. Beliau hidup setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 47 tahun, menghabiskan umurnya untuk beribadah, berda’wah di jalan Allâh, mengajarkan al-Qur’an dan menyebarkan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

MAKNA HADITS
Allâh Subhanahu wa Ta’ala  telah menjadikan syari’at Islam sebagai syari’at yang sempurna, universal dan kekal, sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا 

Pada hari ini telah aku sempurnakan untukmu agamamu (Islam), dan telah aku cukupkan untukmu nikmat-Ku dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu. [Al-Mâidah/5:3]

Syariat yang sempurna ini merupakan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan makna yang umum, karena sunnah memiliki empat keumuman makna, yaitu :

  1. Segala apa yang ada di dalam al-Kitab dan as-Sunnah adalah sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sunnah disini berarti jalan atau manhaj yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada diatasnya. Sebagaimana sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Barang siapa yang membenci sunnahku maka ia bukan termasuk dari golonganku. [HR. Al-Bukhari no. 5063 dan Muslim, no. 1401 dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu]

  1. Sunnah yang berarti hadits jika digandengkan dengan al-Kitab. Sebagaimana sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا : كِتَابُ اللهِ وَسُنَّتِي

Sesungguhnya aku telah tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat setelahnya yaitu kitabullah dan sunnahku. [HR. Al-Hakim 1/93 dari Ibnu Abbas c , dan dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahîh at-Targhîb, no. 40]

  1. Sunnah yang berarti lawan dari bid’ah. Sebagaimana sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِيش مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُم بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِيِنَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثُةٍ بِدْعَة وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٍ

Maka sesungguhnya, siapa diantara kalian yang masih hidup setelahku, maka akan melihat perselisihan yang banyak, maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa’ yang mendapat bimbingan dan petunjuk, pegangglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham, dan jauhilah oleh kalian perkara yang baru (dalam agama) karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah pasti sesat. [HR. Abu Dawud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676 dari al-‘Irbadh bin Sâriyah Radhiyallahu anhu dan dishahihkan Syaikh al-Albani].

  1. Sunnah yang berarti mandhûb (dianjurkan) dan mustahab (disukai). Seperti hukum bersiwak adalah sunnah, hukum puasa senin kamis adalah sunnah.

Maka kewajiban kita adalah ittiba’ (meneladani) sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan sungguh, inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya, demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertaqwa. [Al-An’am/6:153]

Dan firman-Nya :

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا 

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. [Al-Hasyr/59:7]

Karena Allâh menciptakan kita hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaku. [Ad-Dzâriyat/51:56]

Ibadah tidak akan tercapai kecuali dengan ittiba’ (meneladani) Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ini menunjukkan bahwa mentaati Rasul-Nya adalah bentuk ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla . Sebagaimana dalam firman-Nya :

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

Barangsiapa mentaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allâh. [An-Nisâ/4:80]

Tanda cinta seorang hamba kepada Allâh dan Rasul-Nya adalah dengan ittiba’ (meneladani) Rasul-Nya. Artinya, jika ada orang yang mengaku cinta kepadanya tetapi sengaja menyelisihi sunnahnya n berarti ia pendusta atau jahil. Karena jika ia benar-benar mencintai Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti akan mentaatinya. Karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah panutan yang harus diikuti, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Baca Juga  Golongan Yang Masuk Surga Tanpa Hisab Dan Azab
Sungguh, telah ada pada (diri) Rasûlullâh  itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allâh. [Al-Ahzâb/33:21]

Dan juga firman Allâh Azza wa Jalla :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allâh dan taatilah Rasul (Muhammad) dan ulil amri (pemegang kekuasaan) diantara kamu. [An-Nisa/4:59].

Umat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbagi menjadi dua, yaitu umat dakwah dan umat ijabah. Umat dakwah adalah orang-orang yang belum masuk Islam dan terus didakwahi. sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

Katakanlah: Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allâh kepadamu semua. [Al-A’raf/7:158]

Sedangkan umat ijabah adalah orang-orang yang telah mengikuti dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setia menjadi pengikutnya sampai akhir zaman. Sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allâh. [Ali-Imran/3:110]

Mentaati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah konsekuensi dari persaksian kita bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allâh. Maka orang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat wajib untuk mengikuti dan mentaati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala syariatnya. karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjanjikan bagi siapa saja yang mentaatinya maka balasannya adalah surga, tetapi sebaliknya yang berani bermaksiat dan menentang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ancamannya adalah neraka.

FAEDAH ITTIBA’ (MENELADANI) SUNNAH NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Wahai ahlul ittiba’! inilah diantara faedah ittiba’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

  1. Ittiba’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah yang diperintahkan Allâh dan Rasul-Nya, dengannya seseorang akan mendapatkan balasan Surga. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Barangsiapa yang mentaatiku niscaya ia akan masuk surga, dan siapa yang bermaksiat kepadaku maka dia enggan (untuk masuk surga). [HR. Al-Bukhari no. 6851 dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu])

  1. Dengan ittiba’ kita akan memperoleh keberuntungan di dunia dan akhirat.

Sebagaimana Firman Allâh Azza wa Jalla :

فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Quran), mereka itulah orang-orang beruntung. [Al-A’raf/7:157]

  1. Dengan ittiba’ akan memperoleh kehidupan yang baik di dunia dan akhirat.

Sebagaimana Firman Allâh Azza wa Jalla :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [An-Nahl/16:97]

Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah dalam (tafsirnya 2/538) berkata : “Ini merupakan janji Allâh bagi orang yang beramal shalih, yaitu beramal mengikuti al-Kitab dan Sunnah Nabi-Nya, dari kalangan laki-laki dan perempuan dan hatinya beriman kepada Allâh dan Rasul-Nya, serta amalan tersebut disyari’atkan oleh Allâh, maka Allâh akan beri kehidupan yang baik di dunia dan balasan yang lebih baik di akhirat”.

Amalan Shalih Dalam Al-Quran Memiliki Tiga Syarat Yang Harus Terpenuhi :
a. Dibangun di atas aqidah yang shahih. sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [An-Nahl/16:97]

Allâh Azza wa Jalla mensyaratkan keimanan, maka jika seseorang beramal tetapi tidak memiliki aqidah yang shahih niscaya tidak akan diterima amalan tersebut.

b. Harus didasari dengan niat ikhlas karena Allâh dalam beramal. sebagaimana Allâh Azza wa Jalla berfirman :

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي ﴿١٤﴾ فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ ۗ قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Katakanlah, Hanya Allâh yang aku sembah dengan penuh ketaatan kepada–Nya dalam (menjalankan) agamaku, maka sembahlah selain Dia sesukamu (wahai orang-orang musyrik), katakanlah, Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat. Ingatlah! Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. [Az-Zumar 39:14-15]

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya amalan itu tergantung dengan niatnya, dan sesungguhnya setiap orang tergantung dengan apa yang ia niatkan. [HR. Al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907 dari Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu].

c. Harus sesuai contoh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sebagaimana Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. [Al-Hasyr/59:7]

Dan firman Allâh Azza wa Jalla :

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Rabbnya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabbnya. [Al-Kahfi /18:110]

  1. Dengan ittiba’ maka Allâh akan limpahkan keberkahan dan kelapangan bagi kaum Muslimin di negeri mereka.

Sebagaimana Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan sekiranya penduduk negri beriman dan bertakwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat kami), maka kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. [Al-A’raf/7:96]

  1. Dengan berittiba’ maka akan mendapat hidayah dan selamat dari Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْن مَا تَمَسَكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا : كِتَابُ اللهِ وَسُنَّتِي

Sesungguhnya aku telah tinggalkan kepada kalian dua perkara jika kalian berpegang teguh denganya tidak akan tersesat setelahnya yaitu kitabullah dan sunnahku. [HR. Al-Hakim 1/9393 dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, dan dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 40]

  1. Bahwa dengan ittiba’ akan terlindungi dari perselisihan yang tercela, dan akan menghantarkan kepada jalan yang selamat.

Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِيش مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُم بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِيِنَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Maka sesungguhnya, siapa diantara kalian yang masih hidup setelahku, maka akan melihat perselisihan yang banyak, maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa’ yang mendapat bimbingan dan petunjuk, pegangglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham. [HR. Abu Dawud no. 4607 danTirmidzi no. 2676 dari al-Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu anhu dan dishahihkan Syaikh al-Albani].

Baca Juga  Yang Pertama Masuk Surga

  1. Ittiba’ adalah jalan selamat dari perpecahan yang para pelakunya terancam dengan Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُم مِنْ أَهْلِ الكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَينِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً ، وَإِنَّ هَذِهِ المِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ : ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ ، وَوَاحِدَةٌ فِي الجَنَّةِ ، وَهِيَ الجَمَاعَةُ

Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari ahlil kitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan sesungguhnya umat ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga : yang tujuh puluh dua di neraka, sedangkan yang satu (selamat) di Surga, yaitu al-Jamâ’ah. [HR. Abu Dawud no. 4597 dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu anhuma dan dihasankan Syaikh al-Albani]

Dan yang dimaksud al-Jama’ah dalam hadits ini adalah berpegang teguh dengan apa yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sahabat berada di atasnya.

  1. Dengan ittiba’ akan memperoleh cinta dan rahmat Allâh serta ampunan-Nya. sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah (Muhammad), Jika kamu mencintai Allâh, ikutilah aku, niscaya Allâh mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allâh Maha Pengampun, Maha Penyayang. [Ali-Imran/3:31]

Dan firman-Nya :

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul, agar kamu diberi rahmat. [An-Nur/24:56]

  1. Dengan ittiba’ akan menjadikan seseorang menolak bid’ah dan menjau karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌ

Barang siapa yang mengerjakan amalan yang tidak ada contoh dari kami maka ia tertolak. [HR. Al-Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718, dan ini lafadz Muslim dari Aisyah Radhiyallahu anhuma].

Maka dengan semakin kuat dalam berittiba’ kepada sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka akan semakin jauh dari bid’ah.

  1. Dengan ittiba’ akan memperoleh banyak pelajaran dari akhlaq Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . sebagaimana yang disebutkan Aisyah Radhiyallah anhuma :

فإنَّ خُلُقَ نَبيِّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسلَّمَ كَانَ القُرآنَ

Sesungguhnya akhlaq Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam al-Quran. [HR. Muslim no. 746 dari Aisyah Radhiyallahu anhuma]

Dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia, maka seseorang yang berittiba’ dengan sunnahnya, niscaya ia akan mencontoh akhlaq Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akan semakin mendekatkan dirinya kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Sebagaimana sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya. [HR. Abu Dawud no. 4682 dan Tirmidzi no. 1162, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dan dishahihkan Syaikh al-Albani].

  1. Akan menjadikan seseorang memiliki sifat pertengahan dalam beragama, karena agama Islam adalah agama pertengahan, tidak ekstrim dan tidak Maka seorang yang berittiba’ dengan sunnah akan beribadah kepada Allâh dengan sikap pertengahan dan adil. Karena Islam melarang sikap ekstrim dan berlebih-lebihan dalam segala hal, sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِيَّاكُمْ وَالغُلُوُّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالغُلُوِّ فِي الدِّيْن

Tinggalkanlah oleh kalian berlebih-lebihan dalam (perkara) agama, karena sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah berlebih-lebihan dalam agama. [HR. Ahmad no. 1851 dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dan dishahihkan Syaikh al-Albani dalam as-Shahihah no. 1283].

  1. Dengan ittiba’ akan menghantarkan seseorang kepada sikap kasih sayang, lemah lembut dan tawadhu’ kepada sesama Karena inilah yang dicontohkan dan diperintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لَا يُؤمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لنَفْسِهِ

Tidaklah (sempurna) keimanan seorang diantara kamu sampai ia mencintai bagi saudaranya sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri. [HR. Al-Bukhari no. 13 dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu]

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Orang-orang yang saling kasih sayang niscaya mereka akan dirahmati Yang Maha Pengasih, sayangilah yang ada di bumi niscaya kalian akan disayang oleh yang di langit (Allâh). [HR. Tirmidzi no. 1924 dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu anhu  dan dishahihkan Syaikh al-Albani].

  1. Orang yang menyelisihi sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak mau ittiba’ dengannya maka akan di timpa fitnah dan kehinaan di dunia dan akhirat.

Sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Rasul takut akan ditimpa (fitnah) cobaan atau ditimpa azab yang pedih. [An-Nur/24:63]

Berkata al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah dalam (tafsirnya 3/288) : “Maksud perintah Rasul adalah perintah, jalan, manhaj, thariqah, sunnah dan syari’atnya shallAllâhu alaihi wasallam. Maka semua perkataan dan perbuatan harus ditimbang dengan perkataan dan perbuatan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika sesuai dengannya maka diterima dan jika menyelisishinya maka tertolak amalan dan pelakunya, siapapun dia”.

Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَجُعِلَ الذُّلُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي ، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Dan dijadikan kerendahan dan kehinaan atas siapa yang menyelisihi perintahku (menentang sunnahku), dan barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut. [HR. Ahmad no. 5115 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma, dan dishahihkan Syaikh al-Albani dalam al-Irwa’ no. 1269].

Semoga kita semua senantiasa diberi taufiq dan hidayah oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala untuk terus berittiba’ dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan diberi istiqamah di atas tauhid dan sunnahnya sampai kita di wafatkan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Wallâhu a’lam.

BAHAN PUSTAKA:

  1. Shahih al-Bukhâri, al-Imâm Muhammad bin Isma’il al-Bukhâri, cet. Pertama, dar Ibnul Haitsam, th. 1425 H/ 2004 M, Cairo – Egypt.
  2. Musnad al-Imam Ahmad, al-Imam Ahmad bin Hanbal, tahqiq Syaikh Syu’aib al-Arnaut, cet. Muassasah ar-Risalah, Bairut –Libanon.
  3. Al-Mustadrak ‘Ala as-Shahîhain, al-Imam al-Hakim, tahqiq Mushtafa Abdul Qadir ‘Atha, cet. Dar al-kutub al-Ilmiyah, Bairut – Libanon.
  4. At-Tamassuk Bi as-Sunnah an-Nabawiyah, Syaikh Ibnu Utsaimin, cet. Dar al-Wathan, th. 1424 H, Riyadh
  5. Wujubul Amal Bi Sunnati Rasûlillâh, Syaikh Ibnu Baz, cet. Dar al-Imam Ahmad, th. 1427 H/ 2006 M, Cairo Egypt.
  6. Al-Hatsu Ala Ittiba’ as-Sunnah wa Tahdzir Min al-Bida’, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad Al-‘Abbad, cet. Pertama, Maktabah ar-Ridwan, th. 1426 H/ 2005 M, El-Bahirah Egypt.
  7. Min Tsamarâti at-Tamassuk Bi as-Sunnah, Syaikh DR. Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhâri, cet. Pertama, Dar Adwa’u As-Salaf, th. 1432 H/ 2011 M, Cairo Egypt.
  8. Tafsir Ibnu katsir, al-Imam Abul Fida’ Isma’il bin Katsir ad-Dimasqi, cet. Al-maktabah al-‘Ashriyah, th. 1436 H/ 2015 M, Bairut – Libanon.
  9. Shuwarun Min Hayati as-Shahabah, DR. Abdurrahman Ra’fat al-Basya, cet. Pertama, Dar an-Nafâis, th. 1412 H/ 1992 M, Bairut –

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XXI/1439H/2018M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
Referensi : https://almanhaj.or.id/11307-yang-enggan-masuk-surga.html

Meninggalkan Suatu Amal karena Manusia Adalah Riya’

Maksudnya gimana nih? Bukannya riya’ itu “mengerjakan” bukannya “tidak mengerjakan/meninggalkan”? Jelasin dunk…

Jawab: Maksudnya mungkin adalah perkataan dari seorang tabi’in Fudhail bin Iyadh rahimahullah,

ﺗَﺮْﻙُ ﺍﻟْﻌَﻤَﻞِ ﻟِﺄَﺟْﻞِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺭِﻳَﺎﺀٌ ﻭَﺍﻟْﻌَﻤَﻞُ ﻟِﺄَﺟْﻞِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺷِﺮْﻙٌ

“Meninggalkan suatu Amal karena manusia termasuk riya’ dan beramal karena manusia termasuk syirik .” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, 23:174)

Penjelasan ulama begini, ada RINCIANNYA: Perbuatan “meninggalkan amal” adalah termasuk perbuatan juga.

  1. Amal tersebut adalah sunnah.
    Kalau wajib tidak boleh ditinggalkan karena manusia, justru amalan wajib HARUS ditampakkan misalnya shalat berjamaah di masjid, sedangkan amalan sunnah lebih baik disembunyikan, karenanya shalat rawatib (sunnah setelah shalat wajib), lebih besar pahalanya jika dilakukan di rumah.
  2. Ini berlaku bagi mereka yang sudah RUTIN melakukan amal shalih.
    misalnya rutin shalat dhuha, kemudian ia tinggalkan karena takut dipuji manusia, karena kebetulan sedang bersama-sama manusia.
  3. Jika AWALnya sudah ikhlas (misalnya sedang shalat) kemudian ada bisikan “kamu tidak ikhlas” karena tiba-tiba ada yang melihat, Maka ia jangan tinggalkan shalatnya, TETAP shalat dengan berusaha dan berdoa agar tetap ikhlas dan “melawan rasa tidak ikhlas tersebut”.

Ini adalah “celah setan” berusaha menggagalkan amalan manusia.

Memang perkara hati dan ikhlas adalah yang paling berat, kita berusaha melawannya dan berusaha ikhlas dengan berusaha menjauhi pujian dan berharap balasan dari manusia.

“Berharap pada manusia, engkau bisa kecewa padahal engkau telah melakukan segalanya, tetapi jika berharap kepada Allah, ridha manusia akan datang dengan sendirinya”

Teringat perkataan Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah

ما عالجت شيئا أشد علي من نيتي ؛ لأنها تتقلب علي

“Tidaklah aku berusaha untuk mengobati sesuatu yang LEBIH BERAT daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak-balik.”
(Jami’ Al-‘ulum wal hikam hal. 18, Darul Aqidah, Koiro, cet.I, 1422 H)

Mari kita senantiasa mengoreksi niat kita, karena riya’ bisa lewat:

  • Penampilan (wajah sayu dan memelas tanda tawadhu)
  • Perbuatan (rajin shalat sunnah ketika ada manusia), dan
  • Ucapan (sering memberikan nasehat, padahal riya’)

Perhatikan niat dan hati karena besar kecilnya balasan pahala tergantung dengan niat dan keikhlasan.

Semoga kita selalu bisa meluruskan niat kita, memurnikan TAUHID sehingga bisa masuk surga tanpa hisab dan adzab sedikitpun.


@RSIA Sadewa, Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber : https://muslimafiyah.com/meninggalkan-suatu-amal-karena-manusia-adalah-riya.html

Sebaiknya Jangan Cari Jodoh Di Dunia Maya, Keshalihannya Belum Tentu Nyata

Sebelumnya kami hanya membaca nasihat seperti ini di dunia maya, akan tetapi setelah mendengar dan melihat langsung, dan kasusnya tidak hanya satu. kami melihat bukti langsung bagaimana seorang laki-laki dan wanita, yang sudah mengenal agama dengan manhaj yang benar berdasarkan pemahaman sahabat, mereka berdua malah terjerumus dalam hal ini. Padahal kita sudah diajarkan bagaimana cara yang benar mencari jodoh yaitu dengan ta’aruf yang syar’i. Oleh karena itu maka kami coba menangkat tema ini.

Umumnya dilakukan oleh yang kurang imannya

Mungkin awalnya tidak bermaksud mencari jodoh, akan tetapi lemahnya iman yang membuatnya bermudah-mudah berhubungan dengan hubungan yang tidak halal, padahal mereka sudah mengetahui ilmunya. Inilah fenomena yang sering terjadi belakangan ini, oknum wanita dibalik hijabnya yang tertutup rapat, akan tetapi hijab kehormatannya tidak tertutup dibalik e-mail, WA, DM, inbox FB, dan SMS. Begitu juga dengan oknum laki-laki dengan nama Islami dan kunyah, ditambah dengan hiasan-hiasan status dan link berbau syar’i, akan tetapi sikap dan wara’-nya tidak menunjukkan demikian, genit di dunia maya.

Hubungan laki-laki dengan wanita yang berujung cinta adalah kebahagian hati terbesar bagi manusia terutama pemuda, lebih-lebih bagi mereka yang belum pernah mecicipi sama sekali. Ketika bisa merasakan pertama kali sebagaimana berbuka puasa, sangat nikmat dan bahagia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

للصائم فرحتان : فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه

“Orang yang berpuasa memiliki 2 kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-Nya kelak” (HR. Muslim, no.1151)

Mereka yang sudah paham tentu tidak leluasa melakukannya di dunia nyata, baik karena tidak ada kesempatan ataupun malu jika ketahuan, akan tetapi kedua hal ini hilang ketika berkecimpung di dunia maya. Mulai dari cara halus dengan menyindir dan tersirat ke arah cinta tak halal sampai dengan cara terang-terangan. Ketika mereka merasakan nikmat perasaan cinta yang berbunga-bungan maka lemahnya iman tidak bisa membendung sebagaimana berbuka puasa, sehingga terjalinlah cinta yang tidak diperkenankan syariat.

Terkesan shalih dan shalihah di dunia maya

Jangan langsung terburu-buru menilai seseorang alim atau shalih hanya karena melihat aktifitasnya di dunia maya. Sering meng-update status-status agama, menaut link-link agama dan terlihat sangat peduli dengan dakwah. Hal ini belum tentu dan tidak menjadi tolak ukur keshalihan seseorang dan apa yang ada di dunia maya adalah teori, bukan praktek langsung. Bisa jadi sesorang sering menulis status agama, menaut link syar’i tetapi malah mereka tidak melaksanakannya dan melanggarnya, apalagi ada beberapa orang yang bisa menjaga image alim di dunia maya, pandai merangkai kata, pandai menjaga diri dan pandai memilih kata-kata yang bisa memukau banyak orang

Tolak ukur kita bisa menilai keshalihan seseorang secara dzahir adalah takwa dan aklaknya yang terkadang langsung bisa kita nilai dan melihatnya di dunia nyata, bukan menilai semata-mata bagaimana teorinya saja di dunia maya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Syaikh  Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan hadist ini,

فمن اتقى الله و حقق تقواه, و خالق الناس غلى اختلاف طبقاتهم بالخلق الحسن

: فقد جاز لخير كله, لآنه قام بجق الله و حقوق الغباد,

ولآنه كان من المحسنين في عبادة الله, المحسنين إلى عباد الله

“Barangsiapa bertakwa kepada Alloh, merealisasikan ketakwaannya dan berakhlak kepada manusia -sesuai dengan perbedaan tingkatan mereka- dengan akhlak yang baik, maka ia medapatkan kebaikan seluruhnya, karena ia menunaikan hak hak Allah dan Hamba-Nya. [Bahjatu Qulubil Abror hal 62, cetakan pertama, Darul Kutubil ‘ilmiyah]

Tidak amanah ilmiyah

Ada juga yang ingin nampak alim dan berilmu di dunia maya dengan niat yang tidak ikhlas (Alhamdulillah ini cukup sedikit]) Selain cara-cara di atas seperti update status agama setiap jam, menaut link beberapa kali sehari, membuat note/postingan setiap hari (waktunya sangat terbuang di dunia maya). Ada cara lainnya yaitu tidak melakukan amanat ilmiyah misalnya:

-Membuat note hampir tiap hari dengan copas dari tulisan orang lain tetapi tidak mencantumkan sumber sehingga orang menyangka dia yang menulisnya

-Membuat note dengan copas dari tulisan lainnya, kemudian mengubah-ubah sedkit atau menambah komentar sedikit kemudian menisbatkan tulisan pada dirinya.

Tidak heran ada yang mengaku pernah bertemu dengan seseorang yang di dunia maya terkesan sangat alim dan berilmu. Namun tatkala bertemu di dunia nyata, ternyata ia jauh dari apa yang ia sandiwarakan di dunia maya. Jauh dari ilmu, akhlak dan takwa.

Perlu husnudzan juga

Kita perlu mengedapankan husnudzon juga, karena ada mereka yang memang kerjanya berhubungan dengan dunia internet seperti ahli IT dan berdagang via internet. Jadi mereka sangat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdakwah mengingat sekarang dunia maya sangat digandrungi oleh masyarakat dunia. Sebaiknya kita jangan berburuk sangka kepada mereka dengan mengira sok alim, sok update status bahasa arab, sok serba syar’i dan sok suci. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. (QS al-Hujuraat: 12)

Kita juga perlu melihat panutan para ulama dan ustadz, mereka lebih sibuk dan lebih memprioritaskan dengan ilmu dan dakwah di dunia nyata, karena kita hidup di dunia nyata. Ilmu dan dakwah di dunia maya adalah prioritas kemudian setelah ilmu dan dakwah di dunia nyata.

Terperdaya dengan cinta dunia maya

Mereka yang tidak kuat imannya, terperdaya sekaligus dengan hubungan tak halal yang mereka lakukan, mereka sudah terperangkap cinta. maka semakin lengkap sudah, mereka melihatnya sebagai sebuah keindahan tiada tara sampai-sampai menutup beberapa kekurangan yang harusnya menjadi pertimbangan paling terdepan yaitu agama dan ahklak.

Keindahan bisa membuat jatuh cinta…

Dan cinta bisa membuat segalanya menjadi indah…

Seorang penyair berkata,

هويتك إذ عينى عليها غشاوة … فلما انجلت قطعت نفسي ألومها

“Kecintaanku kepadamu menutup mataku

Namun ketika terlepas cintaku, semua aibmu menampakkan diri”[[Al-Jawabul Kaafi 214, Darul Ma’rifah, cetakan pertama, Asy-Syamilah]

Inilah salah satu yang dikhawatirkan, karena cinta sudah menancap tidak peduli lagi, padahal kenal hanya di dunia maya, kemudian memutuskan untuk ketemu, ta’aruf ala kadar dan menikah. untuk mengetahui bagaimana kehidupan dunianya saja sulit, bagaimana wajah aslinya (walaupun tukar foto, maka foto sekarang bisa berbalik 180 derajat dengan aslinya), bagaimana masa depannya dan bagaimana tanggung jawabnya, apalagi untuk mengetahui agama dan akhlaknya yang menjadi prioritas utama, walaupun terkesan shalih tetapi sekali lagi itu hanya di dunia maya, belum tentu.

Wanita korban utama

Jelas wanita yang lebih menjadi korban, karena wanita umumnya memiliki hati yang lemah, lemah dengan pujian, lemah dengan perhatian, lemah dengan kata-kata puitis. Bisa kita lihat di berita-berita bagaiaman wanita tidak sedikit yang menjadi korban, baik korban kejahatan, pelecehan seksual sampai pemerkosaan oleh teman yang ia kenal di dunia maya.

Begitu juga dengan wanita penuntut ilmu agama, mengingat pentingnya agama dan akhlak suami, sampai-sampai ada yang berkata, “agama istri mengikuti suaminya, jika ada wanita yang multazimah menikah dengan laki-laki yahudi, maka ia akan terpengaruh”. Jika wanita tersebut terjerumus dengan cinta di dunia maya dan sudah tertancap cinta dan sudah tertutup kekurangan laki-laki tersebut dengan cinta buta.

Sebagaimana kisah nyata yang kami dapatkan, mereka berdua kenal di dunia maya, kemudian sang laki-laki dari kota yang jauh menyebrang dua pulau datang untuk bertemu ke kota wanita tersebut. Maka sang wanita yang sudah terperangkap cinta, langsung “klepek-klepek” dengan sedikit pengorbanan laki-laki tersebut dan langsung ingin menikah. Padahal laki-laki tersebut, wajahnya kurang, porsi tubuh juga kurang, ilmu agama juga belum jelas, dan masa depan juga masih belum jelas  dan belum mempunyai pekerjaan yang jelas sehingga bisa menopang materi rumah tangga dengan cukup. (Semoga mereka berdua bertaubat dan selalu berada dalam penjagaan Allah, Aamiin)

Jangan memulai sesuatu yang suci dengan kemurkaan Allah

Pernikahan dan membangun rumah tangga adalah sesuatu yang suci dan anjuran syariat. Dari pernikahan berawal segala sesuatu dan mengubah kehidupan seseorang dengan perubahan yang besar. Kemudian dari pernikahan lahirnya manusia, lahirlah masyarakat dan lahir berbagai perihal kehidupan. Janganlah kita memulainya dengan kemurkaan dan ketidakridhaan dari Allah. Jangan kita mulai dengan hubungan yang tidak halal. Karena ia adalah dasar dan pondasinya.

Hendaklah yakin dengan janji Allah dan bersabar dengan ta’aruf yang syar’i, perbaiki diri dan tingkatkan kualitas ilmu, iman, akhlak dan takwa maka kita akan mendapat pasangan yang baik. Allah Ta’ala berfirman,

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Disempurnakan di Lombok, pulau seribu masjid

6 Shafar 1432 H, Bertepatan  31 Desember 2011

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber : https://muslimafiyah.com/sebaiknya-jangan-cari-jodoh-di-dunia-maya-keshalihannya-belum-tentu-nyata.html

Suuzon Adalah Akhlaknya Kaum Munafik dan Musyrikin

Bismillah…

Allah ta’ala mengatan tentang sifat suuzon,

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ

“Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah.” (QS. Al-Fath: 6)

Coba kita perhatikan konteks ayat ini, sedang berbicara sebuah sifat melekat kepada dua jenis kaum, yaitu orang-orang munafik dan musyrikin. Mereka melakukan suuzon kepada Allah. Jika kepada Allah saja yang maha sempurna mereka bersikap seperti itu, apalagi kepada manusia yang penuh aib dan kekurangan. Ini menunjukkan bahwa sikap suuzon adalah sifatnya kaum munafik dan kaum musyrikin.

Imam Ibnul Qoyyim -rahimahullah- menerangkan makna ayat yang mulia ini:

هذا المعنى حينما كان يذكر الحكم والغايات المحمودة التي كانت في غزوة أحد، فيقول: وأنهم -أي: بعض المنافقين- يظنون بالله غير الحق ظن الجاهلية، ولم يهمهم أمر دين الله، ولا نبيه، ولا أصحابه، فهؤلاء أهمتهم أنفسهم لا أمر الدين، ولا أمر النبي عليه السلام، ولا أمر الصحابة رضي الله تعالى عنهم، كان من شأنهم أنهم يظنون بالله غير الحق ظن الجاهلية، وقد فسر هذا الظن الذي لا يليق بالله بأنه سبحانه لا ينصر رسوله، وأن أمره سيضمحل، وأنه يصيبهم القتل، ].

“Ayat ini mengingatkan tentang sebuah tujuan yang terpuji yang terjadi di saat perang Uhud. Allah mengatakan “mereka berprasangka..” yakni orang-orang munafik yang berprasangka buruk kepada Allah layaknya prasangka kaum Jahiliyah. dalam Perang Uhud. Mereka tidak peduli dengan agama Allah, Nabinya, dan para sahabatnya. Mereka hanya mementingkan diri sendiri daripada agamanya dan para sahabatnya.

Diantara karakteristik khas mereka adalah prasangka buruk terhadap Allah ta’ala,  bahwa Allah tidak akan menolong RasulNya, agama Islam akan runtuh, dan dia akan terbunuh. (Sumber: Kitab  Zaadul Ma’ad)”

Wallahul muwaffiq.


Penulis: Ahmad Anshori

Bro and sis, klik link lengkapnya yah di sini:
https://remajaislam.com/4914-suuzon-adalah-akhlaknya-kaum-munafik-dan-musyrikin.html