Mengungkap Hikmah Mengapa Kita Dianjurkan untuk Bermusyawarah

Bermusyawarahlah!

عليك بالمشورة

اعْلَمْ أَنَّ مِنْ الْحَزْمِ لِكُلِّ ذِي لُبٍّ أَنْ لَا يُبْرِمَ أَمْرًا وَلَا يُمْضِيَ عَزْمًا إلَّا بِمَشُورَةِ ذِي الرَّأْيِ النَّاصِحِ، وَمُطَالَعَةِ ذِي الْعَقْلِ الرَّاجِحِ. فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَمَرَ بِالْمَشُورَةِ نَبِيَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَعَ مَا تَكَفَّلَ بِهِ مِنْ إرْشَادِهِ، وَوَعَدَ بِهِ مِنْ تَأْيِيدِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: {وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ} [آل عمران: 159] . 

Ketahuilah bahwa di antara bentuk kematangan berpikir orang yang berakal adalah tidak mengambil keputusan atau melaksanakan tekad kecuali dengan bermusyawarah dengan orang yang memiliki pemikiran yang jernih dan tulus, dan meminta pertimbangan dari orang yang memiliki akal yang sehat. Hal ini karena Allah Ta’ala telah memerintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bermusyawarah meskipun Allah telah menjamin petunjuk dan menjanjikan pertolongan bagi beliau.

Allah Ta’ala berfirman:

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

“… dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali Imran: 159)

قَالَ قَتَادَةُ: أَمَرَهُ بِمُشَاوَرَتِهِمْ تَأَلُّفًا لَهُمْ وَتَطْيِيبًا لِأَنْفُسِهِمْ.

وَقَالَ الضَّحَّاكُ: أَمَرَهُ بِمُشَاوِرَتِهِمْ لِمَا عَلِمَ فِيهَا مِنْ الْفَضْلِ. وَقَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى -: أَمَرَهُ بِمُشَاوَرَتِهِمْ لِيَسْتَنَّ بِهِ الْمُسْلِمُونَ وَيَتْبَعَهُ فِيهَا الْمُؤْمِنُونَ وَإِنْ كَانَ عَنْ مَشُورَتِهِمْ غَنِيًّا. وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: نِعْمَ الْمُؤَازَرَةُ الْمُشَاوَرَةُ وَبِئْسَ الِاسْتِعْدَادُ الِاسْتِبْدَادُ. وَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: الرِّجَالُ ثَلَاثَةٌ: رَجُلٌ تَرِدُ عَلَيْهِ الْأُمُورُ فَيُسَدِّدُهَا بِرَأْيِهِ، وَرَجُلٌ يُشَاوِرُ فِيمَا أَشْكَلَ عَلَيْهِ وَيَنْزِلُ حَيْثُ يَأْمُرُهُ أَهْلُ الرَّأْيِ، وَرَجُلٌ حَائِرٌ بِأَمْرِهِ لَا يَأْتَمِرُ رُشْدًا وَلَا يُطِيعُ مُرْشِدًا.

وَقَالَ سَيْفُ بْنُ ذِي يَزَنَ: مَنْ أُعْجِبَ بِرَأْيِهِ لَمْ يُشَاوِرْ، وَمَنْ اسْتَبَدَّ بِرَأْيِهِ كَانَ مِنْ الصَّوَابِ بَعِيدًا. وَقِيلَ فِي مَنْثُورِ الْحِكَمِ: الْمُشَاوَرَةُ رَاحَةٌ لَك وَتَعَبٌ عَلَى غَيْرِك. وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: الِاسْتِشَارَةُ عَيْنُ الْهِدَايَةِ وَقَدْ خَاطَرَ مَنْ اسْتَغْنَى بِرَأْيِهِ. وَقَالَ بَعْضُ الْأُدَبَاءِ: مَا خَابَ مَنْ اسْتَخَارَ، وَلَا نَدِمَ مَنْ اسْتَشَارَ.

وَقَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ: مِنْ حَقِّ الْعَاقِلِ أَنْ يُضِيفَ إلَى رَأْيِهِ آرَاءَ الْعُقَلَاءِ، وَيَجْمَعَ إلَى عَقْلِهِ عُقُولَ الْحُكَمَاءِ، فَالرَّأْيُ الْفَذُّ رُبَّمَا زَلَّ وَالْعَقْلُ الْفَرْدُ رُبَّمَا ضَلَّ.

وَقَالَ بَشَّارُ بْنُ بُرْدٍ:

إذَا بَلَغَ الرَّأْيُ الْمَشُورَةَ فَاسْتَعِنْ … بِرَأْيِ نَصِيحٍ أَوْ نَصِيحَةِ حَازِمِ

وَلَا تَجْعَلْ الشُّورَى عَلَيْك غَضَاضَةً … فَإِنَّ الْخَوَافِيَ قُوَّةٌ لِلْقَوَادِمِ

Qatadah rahimahullah berkata, “Allah memerintahkan Nabi untuk bermusyawarah dengan para sahabat agar dapat menunjukkan rasa cinta kepada mereka dan menyenangkan jiwa mereka.” 

Sedangkan adh-Dhahhak rahimahullah berkata, “Allah memerintahkan Nabi untuk bermusyawarah dengan para sahabat karena Allah mengetahui keutamaan dalam musyawarah.” 

Adapun al-Hasan al-Basri rahimahullah berkata, “Allah memerintahkan Nabi untuk bermusyawarah dengan para sahabat agar kaum Muslimin dapat mencontoh dan mengikuti beliau dalam bermusyawarah, meskipun beliau sebenarnya tidak membutuhkan pertimbangan dari para sahabat.” 

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sebaik-baik dukungan adalah musyawarah, dan seburuk-buruk persiapan adalah sikap sewenang-wenang (dalam mengambil keputusan).” 

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Orang terbagi menjadi tiga macam: (1) orang yang dihadapkan dengan berbagai urusan, lalu dia menanganinya dengan pikirannya, (2) orang yang memusyawarahkan urusan yang sulit baginya, lalu dia menanganinya sesuai dengan arahan yang diberikan oleh orang-orang yang kompeten, (3) dan orang yang bingung menangani urusannya, dia tidak menanganinya dengan kecerdasan akalnya dan tidak mau menuruti arahan orang yang mengarahkannya.”

Saif bin Dziyazan berkata, “Barang siapa yang merasa takjub dengan akalnya, dia tidak akan bermusyawarah; dan barang siapa yang keras kepala dalam memegang pendapatnya, dia akan jauh dari kebenaran.”

Dalam sebuah hikmah disebutkan, “Musyawarah adalah kenyamanan bagimu dan keletihan bagi orang lain.” 

Seorang ahli hikmah berkata, “Meminta pertimbangan orang lain adalah inti petunjuk. Sungguh telah berspekulasi orang yang mencukupkan diri dengan pendapatnya.” 

Seorang ahli adab berkata, “Tidak akan kecewa orang yang melakukan istikharah, dan tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah.” 

Seorang ahli sastra berkata, “Di antara hak orang yang berakal adalah menambahkan berbagai pendapat orang berakal lainnya kepada pendapatnya sendiri, dan menghimpun pemikiran orang-orang bijak ke dalam pemikirannya. Sebab, pemikiran yang unggul terkadang ada melesetnya, dan akal yang cerdas terkadang ada sesatnya.”

Basysyar bin Burd berkata:

إذَا بَلَغَ الرَّأْيُ الْمَشُورَةَ فَاسْتَعِنْ … بِرَأْيِ نَصِيحٍ أَوْ نَصِيحَةِ حَازِمِ
وَلَا تَجْعَلْ الشُّورَى عَلَيْك غَضَاضَةً … فَإِنَّ الْخَوَافِيَ قُوَّةٌ لِلْقَوَادِمِ

Jika pendapat harus dimusyawarahkan, maka mintalah pandangan …

Dari orang yang berpandangan tulus atau nasihat yang teguh.

Jangan jadikan musyawarah itu rendah bagimu …

Karena bulu burung bagian dalam adalah penopang kekuatan bagi bulu bagian luar.

فَإِذَا عَزَمَ عَلَى الْمُشَاوَرَةِ ارْتَادَ لَهَا مِنْ أَهْلِهَا مَنْ قَدْ اسْتَكْمَلَتْ فِيهِ خَمْسُ خِصَالٍ:

إحْدَاهُنَّ: عَقْلٌ كَامِلٌ مَعَ تَجْرِبَةٍ سَالِفَةٍ فَإِنَّ بِكَثْرَةِ التَّجَارِبِ تَصِحُّ الرَّوِيَّةُ. قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْحَسَنِ لِابْنِهِ مُحَمَّدٍ: احْذَرْ مَشُورَةَ الْجَاهِلِ وَإِنْ كَانَ نَاصِحًا كَمَا تَحْذَرُ عَدَاوَةَ الْعَاقِلِ إذَا كَانَ عَدُوًّا فَإِنَّهُ يُوشِكُ أَنْ يُوَرِّطَك بِمَشُورَتِهِ فَيَسْبِقَ إلَيْك مَكْرُ الْعَاقِلِ وَتَوْرِيطُ الْجَاهِلِ. وَقِيلَ لِرَجُلٍ مِنْ عَبْسٍ: مَا أَكْثَرَ صَوَابَكُمْ! قَالَ: نَحْنُ أَلْفُ رَجُلٍ وَفِينَا حَازِمٌ وَنَحْنُ نُطِيعُهُ فَكَأَنَّا أَلْفُ حَازِمٍ.

وَكَانَ يُقَالُ: إيَّاكَ وَمُشَاوَرَةَ رَجُلَيْنِ: شَابٌّ مُعْجَبٌ بِنَفْسِهِ قَلِيلُ التَّجَارِبِ فِي غَيْرِهِ، أَوْ كَبِيرٌ قَدْ أَخَذَ الدَّهْرُ مِنْ عَقْلِهِ كَمَا أَخَذَ مِنْ جِسْمِهِ. وَقِيلَ فِي مَنْثُورِ الْحِكَمِ: كُلُّ شَيْءٍ يَحْتَاجُ إلَى الْعَقْلِ، وَالْعَقْلُ يَحْتَاجُ إلَى التَّجَارِبِ. وَلِذَلِكَ قِيلَ: الْأَيَّامُ تَهْتِكُ لَك عَنْ الْأَسْتَارِ الْكَامِنَةِ. وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: التَّجَارِبُ لَيْسَ لَهَا غَايَةٌ، وَالْعَاقِلُ مِنْهَا فِي زِيَادَةٍ. وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: مَنْ اسْتَعَانَ بِذَوِي الْعُقُولِ فَازَ بِدَرَكِ الْمَأْمُولِ.

وَقَالَ أَبُو الْأَسْوَدِ الدُّؤَلِيُّ:

وَمَا كُلُّ ذِي نُصْحٍ بِمُؤْتِيك نُصْحَهُ … وَلَا كُلُّ مُؤْتٍ نُصْحَهُ بِلَبِيبِ

وَلَكِنْ إذَا مَا اسْتَجْمَعَا عِنْدَ صَاحِبٍ … فَحُقَّ لَهُ مِنْ طَاعَةٍ بِنَصِيبِ

Apabila seseorang telah bertekad untuk bermusyawarah, hendaklah dia mencari orang yang berkompeten dalam bidangnya, yaitu orang yang menghimpun lima sifat berikut:

Sifat pertama: Akal yang cerdas dan diiringi dengan pengalaman, karena dengan banyaknya pengalaman, pertimbangannya akan menjadi matang. 

Abdullah bin Hasan pernah berkata kepada anaknya yang bernama Muhammad, “Berhati-hatilah dari meminta saran dari orang jahil meskipun dia tulus; sebagaimana kamu juga harus berhati-hati dari permusuhan dengan orang berakal jika dia menjadi musuh. Sebab bisa-bisa orang jahil itu akan menjerumuskanmu dengan sarannya, sehingga kamu lebih dulu terjebak di antara tipu daya orang berakal dan penjerumusan orang jahil.”

Pernah dikatakan kepada seorang laki-laki dari kabilah Abs, “Betapa banyak kebenaran yang kalian miliki!” Lalu dia menanggapi, “Kami berjumlah seribu orang, dan dalam komunitas kami ada satu orang bijak yang kami taati, sehingga seakan-akan kami menjadi seribu orang bijak.”

Ada sebuah ungkapan, “Janganlah kamu meminta saran dari dua jenis orang ini: (1) seorang pemuda yang takjub dengan dirinya dan punya sedikit pengalaman dalam bidang lain. (2) seorang lansia yang akalnya telah terkikis oleh usia sebagaimana badannya juga telah terkikis olehnya.”

Ada juga ungkapan dalam sebuah hikmah, “Segala sesuatu membutuhkan akal, sedangkan akal membutuhkan pengalaman. Oleh sebab itu dikatakan bahwa hari-hari akan menyingkap bagimu tabir yang menutupi.”

Ada orang bijak yang berucap, “Pengalaman tidak ada batasnya, dan akal akan terus bertambah dengannya.” 

Ada juga orang bijak lainnya yang berkata, “Barang siapa yang meminta bantuan kepada orang-orang berakal, niscaya dia akan dapat meraih apa yang diinginkan.”

Abu al-Aswad ad-Du’ali berkata:

وَمَا كُلُّ ذِي نُصْحٍ بِمُؤْتِيك نُصْحَهُ … وَلَا كُلُّ مُؤْتٍ نُصْحَهُ بِلَبِيبِ
وَلَكِنْ إذَا مَا اسْتَجْمَعَا عِنْدَ صَاحِبٍ … فَحُقَّ لَهُ مِنْ طَاعَةٍ بِنَصِيبِ

Tidak semua orang yang tulus akan memberimu nasihat …

Dan tidak semua orang yang memberi nasihat itu cerdas.

Namun, jika dua hal ini (ketulusan dan kecerdasan) terhimpun dalam diri seseorang …

Maka dia layak untuk diikuti nasihatnya.

وَالْخَصْلَةُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ ذَا دِينٍ وَتُقًى، فَإِنَّ ذَلِكَ عِمَادُ كُلِّ صَلَاحٍ وَبَابُ كُلِّ نَجَاحٍ. وَمَنْ غَلَبَ عَلَيْهِ الدِّينُ فَهُوَ مَأْمُونُ السَّرِيرَةِ مُوَفَّقُ الْعَزِيمَةِ.

وَالْخَصْلَةُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَكُونَ نَاصِحًا وَدُودًا، فَإِنَّ النُّصْحَ وَالْمَوَدَّةَ يُصَدِّقَانِ الْفِكْرَةَ وَيُمَحِّضَانِ الرَّأْيَ. وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: لَا تُشَاوِرْ إلَّا الْحَازِمَ غَيْرَ الْحَسُودِ، وَاللَّبِيبَ غَيْرَ الْحَقُودِ. وَقَالَ بَعْضُ الْأُدَبَاءِ: مَشُورَةُ الْمُشْفِقِ الْحَازِمِ ظَفَرٌ، وَمَشُورَةُ غَيْرِ الْحَازِمِ خَطَرٌ.

وَقَالَ بَعْضُ الشُّعَرَاءِ:

أَصْف ضَمِيرًا لِمَنْ تُعَاشِرُهُ … وَاسْكُنْ إلَى نَاصِحٍ تُشَاوِرُهُ

وَارْضَ مِنْ الْمَرْءِ فِي مَوَدَّتِهِ … بِمَا يُؤَدِّي إلَيْك ظَاهِرُهُ

مَنْ يَكْشِفْ النَّاسَ لَا يَجِدْ أَحَدًا … تَصِحُّ مِنْهُمْ لَهُ سَرَائِرُهُ

أَوْشَكَ أَنْ لَا يَدُومَ وَصْلُ أَخٍ … فِي كُلِّ زَلَّاتِهِ تُنَافِرُهُ

Sifat kedua: Orang itu agamis dan bertakwa, sebab ini adalah pilar dari segala kebaikan dan pintu bagi semua keberhasilan. Barang siapa yang tunduk kepada agama, maka dia menjadi orang yang mampu menjaga rahasia dan mendapat taufik dalam tekadnya.

Sifat ketiga: Orang itu tulus dan penyayang, karena ketulusan dan rasa kasih sayang akan menjadikannya tulus dalam berpikir dan menyaring pendapat. Ada orang bijak yang berkata, “Janganlah kamu bermusyawarah kecuali kepada orang bijak yang tidak dengki dan orang berakal yang tidak iri.” 

Seorang ahli sastra berkata, “Meminta saran dari orang yang bijak dan penuh kasih adalah keberuntungan, sedangkan meminta saran dari orang yang tidak bijak adalah mara bahaya.”

Seorang penyair berkata:

أَصْف ضَمِيرًا لِمَنْ تُعَاشِرُهُ … وَاسْكُنْ إلَى نَاصِحٍ تُشَاوِرُهُ
وَارْضَ مِنْ الْمَرْءِ فِي مَوَدَّتِهِ … بِمَا يُؤَدِّي إلَيْك ظَاهِرُهُ
مَنْ يَكْشِفْ النَّاسَ لَا يَجِدْ أَحَدًا … تَصِحُّ مِنْهُمْ لَهُ سَرَائِرُهُ
أَوْشَكَ أَنْ لَا يَدُومَ وَصْلُ أَخٍ … فِي كُلِّ زَلَّاتِهِ تُنَافِرُهُ

Jernihkanlah jiwamu bagi orang yang berinteraksi denganmu …

Dan mendekatlah kepada orang yang tulus untuk bermusyawarah dengannya.

Tuluslah dalam mencintai seseorang …

Atas perilaku yang dia tampakkan kepadamu.

Barang siapa yang mengungkap aib orang-orang, tidak akan menemui seorang pun …

Dari mereka yang tulus batinnya untuk dirinya.

Hampir tidak akan langgeng hubungan persaudaraan …

Jika kamu selalu mempermasalahkan setiap kesalahannya.

وَالْخَصْلَةُ الرَّابِعَةُ: أَنْ يَكُونَ سَلِيمَ الْفِكْرِ مِنْ هَمٍّ قَاطِعٍ، وَغَمٍّ شَاغِلٍ، فَإِنَّ مَنْ عَارَضَتْ فِكْرَهُ شَوَائِبُ الْهُمُومِ لَا يَسْلَمُ لَهُ رَأْيٌ وَلَا يَسْتَقِيمُ لَهُ خَاطِرٌ. وَقَدْ قِيلَ فِي مَنْثُورِ الْحِكَمِ: كُلُّ شَيْءٍ يَحْتَاجُ إلَى الْعَقْلِ وَالْعَقْلُ يَحْتَاجُ إلَى التَّجَارِبِ. وَكَانَ كِسْرَى إذَا دَهَمَهُ أَمْرٌ بَعَثَ إلَى مَرَازِبَتِهِ فَاسْتَشَارَهُمْ فَإِنْ قَصَّرُوا فِي الرَّأْيِ ضَرَبَ قَهَارِمَتِهِ وَقَالَ: أَبْطَأْتُمْ بِأَرْزَاقِهِمْ فَأَخْطَئُوا فِي آرَائِهِمْ. وَقَالَ صَالِحُ بْنُ عَبْدِ الْقُدُّوسِ:

وَلَا مُشِيرَ كَذِي نُصْحٍ وَمَقْدِرَةٍ … فِي مُشْكِلِ الْأَمْرِ فَاخْتَرْ ذَاكَ مُنْتَصِحًا

وَالْخَصْلَةُ الْخَامِسَةُ: أَنْ لَا يَكُونَ لَهُ فِي الْأَمْرِ الْمُسْتَشَارِ غَرَضٌ يُتَابِعُهُ، وَلَا هَوًى يُسَاعِدُهُ، فَإِنَّ الْأَغْرَاضَ جَاذِبَةٌ وَالْهَوَى صَادٌّ، وَالرَّأْيُ إذَا عَارَضَهُ الْهَوَى وَجَاذَبَتْهُ الْأَغْرَاضُ فَسَدَ. وَقَدْ قَالَ الْفَضْلُ بْنُ الْعَبَّاسِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ أَبِي لَهَبٍ:

وَقَدْ يَحْكُمُ الْأَيَّامَ مَنْ كَانَ جَاهِلًا … وَيُرْدِي الْهَوَى ذَا الرَّأْيِ وَهُوَ لَبِيبُ

وَيُحْمَدُ فِي الْأَمْرِ الْفَتَى وَهُوَ مُخْطِئٌ … وَيُعْذَلُ فِي الْإِحْسَانِ وَهُوَ مُصِيبُ

Sifat keempat: Orang itu pikirannya bebas dari kesedihan mendalam dan kegalauan yang menyibukkan, karena barang siapa yang pikirannya terpapar oleh berbagai kegalauan, maka pendapatnya tidak akan lurus dan pikirannya tidak akan jernih. 

Ada ungkapan dalam suatu hikmah, “Segala sesuatu membutuhkan akal, sedangkan akal membutuhkan pengalaman.” 

Dulu ketika raja Persia tertimpa suatu perkara, dia segera mengutus utusan kepada para menterinya untuk meminta pendapat dari mereka. Lalu apabila mereka lemah dalam memberi pendapat, dia memukul para wakilnya seraya berkata, “Kalian lambat dalam membayar gaji mereka, sehingga mereka salah dalam memberi pendapat.”

Shalih bin Abdul Quddus berkata:

وَلَا مُشِيرَ كَذِي نُصْحٍ وَمَقْدِرَةٍ … فِي مُشْكِلِ الْأَمْرِ فَاخْتَرْ ذَاكَ مُنْتَصِحًا

Tidak ada pemberi saran yang lebih baik daripada orang yang punya ketulusan dan kemampuan …

Dalam masalah-masalah suatu perkara (pengalaman), maka pilihlah orang itu sebagai pemberi saran.

Sifat kelima: Orang yang diajak musyawarah ini tidak memiliki kepentingan dan keinginan tertentu di balik urusan yang dimusyawarahkan, karena kepentingan-kepentingan itu akan menggiring pendapatnya dan keinginan-keinginan itu akan menjadi penghalang. Apabila pendapat terpapar oleh keinginan dan digiring oleh kepentingan, pasti pendapat itu akan rusak. Fadhl bin Abbas bin Utbah bin Abi Lahab berkata:

وَقَدْ يَحْكُمُ الْأَيَّامَ مَنْ كَانَ جَاهِلًا … وَيُرْدِي الْهَوَى ذَا الرَّأْيِ وَهُوَ لَبِيبُ
وَيُحْمَدُ فِي الْأَمْرِ الْفَتَى وَهُوَ مُخْطِئٌ … وَيُعْذَلُ فِي الْإِحْسَانِ وَهُوَ مُصِيبُ

Terkadang pada suatu masa akan diatur oleh orang yang jahil …

Dan hawa nafsu membinasakan orang berakal, padahal dia cerdas.

Serta seseorang dipuji dalam suatu urusan, padahal dia bersalah …

Tapi orang yang baik dicela, padahal dia berlaku benar.

فَإِذَا اسْتَكْمَلَتْ هَذِهِ الْخِصَالُ الْخَمْسُ فِي رَجُلٍ كَانَ أَهْلًا لِلْمَشُورَةِ وَمَعْدِنًا لِلرَّأْيِ، فَلَا تَعْدِلْ عَنْ اسْتِشَارَتِهِ اعْتِمَادًا عَلَى مَا تَتَوَهَّمُهُ مِنْ فَضْلِ رَأْيِك، وَثِقَةً بِمَا تَسْتَشْعِرُهُ مِنْ صِحَّةِ رَوِيَّتِك، فَإِنَّ رَأْيَ غَيْرِ ذِي الْحَاجَةِ أَسْلَمُ، وَهُوَ مِنْ الصَّوَابِ أَقْرَبُ، لِخُلُوصِ الْفِكْرِ وَخُلُوِّ الْخَاطِرِ مَعَ عَدَمِ الْهَوَى وَارْتِفَاعِ الشَّهْوَةِ وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: الِاسْتِشَارَةُ عَيْنُ الْهِدَايَةِ وَقَدْ خَاطَرَ مَنْ اسْتَغْنَى بِرَأْيِهِ. وَقَالَ لُقْمَانُ الْحَكِيمُ لِابْنِهِ: شَاوِرْ مَنْ جَرَّبَ الْأُمُورَ فَإِنَّهُ يُعْطِيك مِنْ رَأْيِهِ مَا قَامَ عَلَيْهِ بِالْغَلَاءِ وَأَنْتَ تَأْخُذُهُ مَجَّانًا.

وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: نِصْفُ رَأْيِك مَعَ أَخِيك فَشَاوِرْهُ لِيَكْمُلَ لَك الرَّأْيُ. وَقَالَ بَعْضُ الْأُدَبَاءِ: مَنْ اسْتَغْنَى بِرَأْيِهِ ضَلَّ، وَمَنْ اكْتَفَى بِعَقْلِهِ زَلَّ. وَقَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ: الْخَطَأُ مَعَ الِاسْتِرْشَادِ أَحْمَدُ مِنْ الصَّوَابِ مَعَ الِاسْتِبْدَادِ.

Apabila lima sifat ini terdapat pada diri seseorang, maka dia adalah orang yang layak untuk diajak bermusyawarah dan menjadi tempat meminta pendapat. Oleh sebab itu, janganlah kamu berpaling dari meminta saran kepadanya, hanya karena sudah bersandar pada pendapatmu sendiri yang kamu anggap benar dan keyakinanmu pada kebenaran rencanamu yang kamu rasakan. Sebab, pendapat orang yang tidak memiliki kepentingan akan lebih selamat dari kesalahan, dan lebih dekat kepada kebenaran, serta lebih jernih dalam pemikiran dan lebih bijak dalam menentukan, tanpa terseret oleh hawa nafsu dan kecenderungan syahwat.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Bermusyawarah adalah inti petunjuk. Dan sungguh telah berspekulasi, orang yang mencukupkan diri dengan pendapat diri sendiri.”

Lukman al-Hakim pernah berkata kepada anaknya, “Bermusyawarahlah dengan orang yang telah berpengalaman, karena dia akan memberimu pendapat yang dia dapatkan dengan membayar mahal (melalui pengalamannya), sedangkan kamu bisa mendapatkannya dengan percuma.”

Ada orang bijak yang berkata, “Separuh pendapatmu ada pada saudaramu, maka mintalah pendapat darinya agar pendapatmu menjadi utuh sempurna.” 

Seorang ahli bahasa berkata, “Barang siapa yang mencukupkan diri dengan pendapatnya, niscaya dia akan tersesat; dan barang siapa mencukupkan diri dengan akalnya, niscaya dia akan tergelincir.” 

Seorang ahli sastra berkata, “Kesalahan yang timbul dari pendapat hasil musyawarah lebih terpuji daripada kebenaran yang didapatkan dari pendapat yang sewenang-wenang.”

sumber : https://konsultasisyariah.com/44335-mengungkap-hikmah-mengapa-kita-dianjurkan-untuk-bermusyawarah.html

Doa Tidak Dikabulkan Tanpa Shalawat

Apakah Doa Tidak Dikabulkan Tanpa Shalawat?

Assalamu’alaikum. Saya pernah mendengar bahwa doa seseorang tidak akan diterima apabila sebelumnya dia tidak bershalawat (kepada nabi, pen.) apakah itu benar?
Saya mendengar hal ini saat menyimak ceramah di televisi.  Namun, saya masih kurang jelas maksudnya itu bagaimana? Mohon pencerahannya. Terima kasih. Wassalamu’alaikum

Penanya: aprilXXXXXXX@gmail.com

Jawaban:

Wa alaikumussalam Warahmatullah

Doa Tidak Dikabulkan Tanpa Shalawat

Terdapat hadits dari Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu yang menyatakan:

كل دعاء محجوب حتى يصلى على النبي صلى الله عليه وسلم

“Semua doa itu terhalang, sampai dibacakan shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”

Hadits ini diperselisihkan, apakah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ataukah perkataan Ali bin Abi Thalib. Ada juga riwayat yang menyatakan bahwa ini adalah sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun ini riwayat tersebut dhaif. Sementara Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan At-Thabrani dalam Al-Ausath meriwayatkan hadits yang semisal dengan sanad yang sahih, tetapi mauquf. Artinya hadits ini adalah ucapan Ali bin Abi Thalib dan bukan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Walaupun demikian, mengingat kalimat di atas tidak mungkin disampaikan oleh para sahabat berdasarkan ijtihad mereka maka para ulama menghukuminya sebagai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena informasi semacam ini tidak mungkin diperoleh tanpa kecuali melalui wahyu. Syekh al-Albani mengatakan,

وهو في حكم المرفوع لأن مثله لا يقال من قبل الرأي كما قال السخاوي

“Hadis mauquf (perkataan Ali) ini dihukumi sebagai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena keterangan semacam ini tidak mungkin disampaikan berdasarkan ijtihad, sebagaimana penjelasan As-Sakhawi.” Kemudian Syekh al-Albani menyebutkan beberapa riwayat yang menguatkan hadits di atas. Selanjutnya Syekh menegaskan

وخلاصة القول أن الحديث بمجموع هذه الطرق والشواهد لا ينزل عن مرتبة الحسن إن شاء الله تعالى على أقل الأحوال

“Kesimpulannya, bahwa hadits di atas dengan seluruh jalur dan penguatnya, keadaan minimal tidak turun dari derajat hasan, insyaaAllah.”
Disadur dari Silsilah Ahadits Shahihah, keterangan hadits no. 2035
Karena, bagian dari adab dalam doa, sebelum berdoa hendaknya kita membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlebih dahulu. Semoga dengan ini akan semakin memperbesar peluang dikabulkannya doa. Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Amni Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
Artikel http://www.KonsultasiSyariah.com

sumber : https://konsultasisyariah.com/8105-doa-dengan-shalawat.html

Hukum Salam Menggunakan Ucapan Salam non-Muslim

Salah satu syiar Islam adalah menebar salam kepada sesama muslim sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam

Jangan Berlebihan dalam Toleransi

Sebagian kaum muslimin ada yang menggunakan salamnya dengan menggabungkan salamnya muslim dan salam non-muslim. Tujuan utamanya adalah ingin menunjukkan toleransi dan ingin menyapa lebih hangat. Hal ini TIDAK diperkenankan oleh syariat dengan alasan:

  1. Seorang muslim mencukupi diri dengan salam mereka saja sesama muslim
  2. Salam non-muslim terdapat pengangungan terhadap agama atau tuhan mereka, tentu ini melanggar prinsip dasar tauhid dan aqidah seorang muslim
  3. Apabila tujuannya ingin toleransi, maka cukup menggunakan salam secara bahasa semisal “selamat pagi atau selamat malam”. 
  4. Apabila kita menggunakan salam secara Islam saja karena kita negara mayoritas Islam, maka hal ini tidak lah mengapa, walaupun ada juga yang tidak bergama Islam. Selama kita bermaksud menujukan salam keselamatan pada muslim saja. Selama ini, inilah yang berjalan dan tidak merusak toleransi sama sekali.

Bolehkah Memulai Salam kepada non-Muslim?

Hukum asalnya seorang muslim tidak boleh memulai salam kepada non-muslim. Apabila memulai salam saja tidak boleh, maka apalagi salam menggunakan salam non-muslim?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ 

“Janganlah kalian memulai kaum Yahudi dan jangan pula kaum Nashrani dengan ucapan salam.” [HR. Muslim]

An-nawawi menjelaskan,

قال بعض أصحابنا يكره ابتداؤهم بالسلام و لا يحرم، وهذا ضعيف، لأن النهي للتحريم فالصواب تحريم ابتدائهم

“Sebagian dari ulama mazhab menyatakan makruhnya memulai salam (kepada orang kafir), tidaklah diharamkan. Pendapat ini lemah, karena (konteks) larangan menunjukkan keharaman. Yang benar adalah haram memulai salam kepada mereka.” [Al-Azkar 1/323]

Bolehkah Mendahului Salam dengan Ucapan Umum?

Perlu diketahui agama Islam bukanlah agama yang kaku total, para ulama menjelaskan bahwa boleh mendahului salam apabila ada kebutuhan dan mashlahat yang lebih besar, akan tetapi salamnya TIDAK menggunakan salam non-muslim. Gunakan salam secara bahasa misalnya selamat pagi, selamat malam atau selamat datang. Dalam al- Mausu’ah al-Fiqhiyyah disebutkan,

وإذا كانت هناك حاجة داعية إلى بدء الكافر بالتحية فلا حرج فيها حينئذٍ ، ولتكن بغير السلام ، كما لو قال له : أهلاً وسهلاً أو كيف حالك ونحو ذلك . لأن التحية حينئذ لأجل الحاجة لا لتعظيمه .

“Apabila ada kebutuhan/hajat untuk memulai salam, maka tidaklah mengapa, akan tetapi tidak menggunakan salam (doa keselamatan). (boleh) Mengatakan  ‘ahlan wa sahlan’ (selamat datang), ‘Kaifa haluk’ (bagaimana kabar) dan sejenisnya. Salam saat itu karena ada hajat, bukan untuk menghormati berlebihan’.” [Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah 25/168]

Demikian juga penjelasan Ibnul Qayyim

” و قالت طائفة – أي من العلماء – : يجوز الابتداء لمصلحة راجحة من حاجة تكون إليه ، أو خوف من أذاه ، أو لقرابة بينهما ، أو لسبب يقتضي ذلك

 “Sebagian ulama menjelaskan, boleh mendahului salam karena ada mashlahat yang lebih besar, misalnya ia membutuhkannya, takut dari gangguannya atau karena ada hubungan kerabat atau sebab lain yang menuntut ia harus memulai salam.” [Zadul Ma’ad 2/424]

Macam-Macam Salam non-Muslim

Apabila kita melihat arti dan makna salam milik non-muslim tersebut, maka terdapat makna pengagungan terhadap agama mereka dan tuhan mereka.misalnya:

Salam Agama Hindu:
Om Swastyastu artinya ‘Semoga Selamat dalam Lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa’

Salam Agama Budha:
Namo Buddhaya artinya ‘Terpujilah Semua Buddha’

Salam Agama Kristen:
Shalom artinya ‘Keselamatan’. [Sumber: FB ustadz Dony Arif Wibowo]

Tentu hal ini tidak tepat dan sangat fatal, kita meminta doa perlindungan dan keselamatan dengan tuhan selain Allah.

Menggunakan Salam Islam kepada non Muslim?

Kemudian perhatikan poin ke-4:

“Apabila kita menggunakan salam secara Islam saja karena kita negara mayoritas Islam, maka hal ini tidak lah mengapa, walaupun ada juga yang tidak bergama Islam, selama kita bermaksud menujukan pada muslim saja. Selama ini, inilah yang berjalan dan tidak merusak toleransi sama sekali.”

Secara hukum hal ini diperbolehkan, sebagaimana penjelasan Ibnu Hajar Al-Asqalani,

جواز السلام على المسلمين إذا كان معهم كفار وينوي حينئذ بالسلام المسلمين.

“Bolehnya mengucapkan salam  kepada kaum muslimin apabila bersama mereka orang kafir dan berniat salam itu hanya untuk muslim saja.” [Fathul Bari 8/230]

Demikian semoga bermanfaat

@ Lombok, Pulau seribu masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/53043-hukum-salam-menggunakan-ucapan-salam-non-muslim.html/
Copyright © 2024 muslim.or.id

Meminta Izin Kepada Anak Ketika Mengambil Hak-haknya

 Di antara tuntunan dan adab orang tua kepada anaknya adalah meminta izin kepada sang anak bila orang tua ingin mengambil, meminjam, atau menggunakan sesuatu yang merupakan hak sang anak. Di antara faidah bagi tumbuh kembang anak adalah:

  1. Menunjukkan adanya perhatian orang tua terhadap anak.
  2. Sebagai sarana dalam mengajarkan adab-adab Islam ketika hendak menggunakan sesuatu yang bukan milik atau haknya.

Dengan harapan, ketika sang anak berinteraksi dengan orang lain, dia tidak akan asal ambil, tidak asal memakai milik temannya. Namun, dia akan meminta izin kepada pemilik barang tersebut terlebih dahulu.

Di antara dalil yang menunjukkan hal ini sebuah hadits yang diriwayatkan melalui shahabat Sahl bin Sa’id as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dihidangkan minuman. Lalu beliau pun meminumnya. Di sebelah kanan beliau ada seorang anak kecil dan di sebelah kiri beliau ada sekumpulan orang-orang tua. Lalu beliau bertanya kepada anak kecil tersebut, “Apakah Engkau mengizinkanku untuk memberikan sisa minumku ini kepada mereka yang di sana (para orang tua)?” Anak kecil tersebut menjawab, “Tidak, demi Allah. Aku tidak akan mendahulukan mereka atas sisa minumanmu yang sudah menjadi bagianku.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun meletakkan minuman tersebut ke tangan sang anak.” (HR. Al-Bukhari no. 5620 dan Muslim no. 2030)

Dalam riwayat lain (At-Tirmidzi no. 3455 dan Ahmad no. I/220) terdapat keterangan bahwa minuman dalam hadits ini adalah susu, anak kecil yang berada di sebelah kanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dan orang tua yang berada di sisi kiri beliau adalah Khalid bin al-Walid radhiyallahu ‘anhu.

Adab lain yang terkait dengan meminta izin kepada anak ketika mengambil haknya adalah menjelaskan alasan kepada anak ketika kita melarangnya mengambil sesuatu yang bukan merupakan haknya dari orang lain. Atau ketika orang tua tidak menunaikan kemauan anak yang dia pikir merupakan haknya.

Di antara dalil masalah ini adalah hadits yang diriwayatkan melalui shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan,

 “Al-Hasan bin ‘Ali (cucu Nabi, pen.) mengambil sebuah kurma dari tumpukan kurma sedekah (zakat). Lalu dia meletakkan kurma itu di mulutnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Cih, cih, keluarkan itu. Tidak tahukah Engkau bahwa kita (keturunan Nabi) tidak boleh makan sedekah (zakat)?” (HR. Al-Bukhari no. 1485 dan Muslim no. 1069)

Dari hadits ini dapat diambil faidah bahwa selain anak itu dilarang untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya dan alangkah baiknya bila sang anak pun diberitahu alasan mengapa dia dilarang sehingga dia pun bisa memahaminya dan hatinya pun tidak bertanya-tanya.

Dalil lainnya adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan melalui Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, ketika ada seorang anak perempuan dan Arab Badui yang datang langsung meletakkan tangannya untuk mengambil makanan, seolah-olah keduanya terdorong oleh sesuatu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menahan kedua tangan mereka. Kemudian beliau bersabda,

“Sesungguhnya setan ingin mengambil makanan yang tidak disebut nama Allah ketika memakannya. Sungguh dia datang melalui anak perempuan ini untuk mengambilnya, maka aku pun menahannya. Demikian pula, dia pun datang pada diri Arab Badui ini untuk mengambil makanannya, lalu aku pun menahannya. Demi Allah, saat ini tangan setan itu berada di tanganku seperti tangan mereka berdua di tanganku.” (HR. Muslim no. 2017)

Metode ini pun diikuti para shahabat radhiyallahu ‘anhum. Dalil yang menunjukkannya adalah atsar yang diriwayatkan dari Qais bin ‘Abbad rahimahullah. Beliau mengatakan, “Ketika aku berada di masjid dan berada pada shaf yang terdepan, ada seorang laki-laki yang menarik aku dari belakang dengan keras. Dia menyingkirkanku dan dia berdiri di tempatku semula. Demi Allah, ketika itu pikiranku tidak lagi dalam shalat (tidak khusyuk). Ketika shalat sudah selesai, aku pun berpaling. Ternyata yang menarikku tadi adalah ‘Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhuma. Lalu pun ‘Ubay berkata,

 “Wahai anak, semoga Allah tidak menjelekkanmu. Sesungguhnya ini adalah pengajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami, agar kami berdiri di belakangnya. (HR. An-Nasa`i no. 808 dan dinilai shahih oleh al-Albani)

***

Sigambal selepas ‘isya, 7 Dzulhijjah 1439/ 18 Agustus 2018

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

Sumber: https://muslimah.or.id/10496-parenting-islami-47-meminta-izin-kepada-anak-ketika-mengambil-hak-haknya.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Kubur Nabi Daniel yang Disembunyikan agar Mencegah Kesyirikan

Salah satu Nabi yang diutus kepada Bani Israil adalah Nabi Daniel[1]. Jasad Nabi Daniel ditemukan oleh sahabat Abu Musa Al-Asy’ari ketika berjihad melawan bangsa Tartar di daerah Hurmuzan. Jasad Nabi Daniel ditemukan di Baitul Mal Hurmuzan dan penduduk Hurmuzan menjelaskan bahwa jasad tersebut telah meninggal 300 tahun yang lalu. Akan tetapi, jasadnya masih utuh dan tidak membusuk sedikit pun. Lalu, Abu Musa Al-Asy’ari mengirim surat kepada Umar bin Khattab sebagai khalifah saat itu. Umar bin Khattab menjelaskan bahwa itu adalah jasad Nabi Daniel dan memerintahkan untuk MENYEMBUNYIKAN KUBURNYA.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari sahabat Anas,

عَنْ أَنَسٍ: أَنَّهُمْ لَمَّا فَتَحُوا تُسْتَرَ قَالَ: ” فَوَجَدَ رَجُلًا أَنْفُهُ ذِرَاعٌ فِي التَّابُوتِ , كَانُوا يَسْتَظْهِرُونَ وَيَسْتَمْطِرُونَ بِهِ , فَكَتَبَ أَبُو مُوسَى إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ بِذَلِكَ , فَكَتَبَ عُمَرُ: إِنَّ هَذَا نَبِيٌّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالنَّارُ لَا تَأْكُلُ الْأَنْبِيَاءَ , وَالْأَرْضُ لَا تَأْكُلُ الْأَنْبِيَاءَ , فَكَتَبَ أَنِ انْظُرْ أَنْتَ وَأَصْحَابُكَ يَعْنِي أَصْحَابَ أَبِي مُوسَى فَادْفِنُوهُ فِي مَكَانٍ لَا يَعْلَمُهُ أَحَدٌ غَيْرُكُمَا قَالَ: فَذَهَبْتُ أَنَا وَأَبُو مُوسَى فَدَفَنَّاهُ

Dari Anas, “Tatkala mereka (Abu Musa Al-Asy’Ari) menaklukan tustur, mereka menemukan jasad seseorang yang hidungnya panjang. Penduduk Hurmuzan ber-isti’anah (minta bantuan) dan meminta hujan dengan perantara jasad tersebut. Abu Musa segera menulis surat kepada Umar bin Khattab. Umar membalas surat, ‘Sesungguhnya ini (jasad tersebut) adalah Nabi di antara para nabi. Api tidak akan membakar jasad para nabi dan bumi tidak akan merusaknya. Hendaklah engkau dan salah seorang sahabatmu menguburkannya di tempat yang tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, kecuali kalian berdua’. Kemudian aku dan Abu Musa pergi untuk menguburkannya.” [2]

Cara menyembunyikan kubur beliau dengan cara pada siang hari para sahabat mengali 13 lubang kubur. Lalu, menguburkannya pada salah satu lubang di malam hari sehingga tidak ada yang mengetahui di mana kubur beliau.

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Dala’ilun Nubuwwah, “Dari Khalid  bin Dinar dari Abu ‘Aliyah,

قُلْتُ: فَمَا صَنَعْتُمْ بِالرَّجُلِ؟ قَالَ : ” حَفَرْنَا بِالنَّهَارِ ثَلَاثَةَ عَشَرَ قَبْرًا مُتَفَرِّقَةً، فَلَمَّا كَانَ فِي اللَّيْلِ دَفَنَّاهُ وَسَوَّيْنَا الْقُبُورَ كُلَّهَا، لِنُعَمِّيَهُ عَلَى النَّاسِ لَا يَنْبُشُونَهُ

“Aku berkata kepada Abu ‘Aliyah, ‘Apa yang kalian lakukan pada jasad Nabi tersebut?’. Abu ‘Aliyah berkata, ‘Pada siang hari kami menggali di sungai (airnya dibendung sementara) sebanyak 13 lubang kubur yang terpisah-pisah. Pada saat malam hari, kami menguburkannya dan kami ratakan semua kubur tersebut agar manusia tidak mengetahui dan tidak menggalinya kembali.’”[3]

Ahli sejarah Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa jasad tersebut adalah Nabi Daniel karena bisa diperkirakan dari waktu kematiannya dan khabar mengenai kapan masa hidupnya.

وَهُوَ قَرِيبٌ مِنْ وَقْتِ دَانْيَالَ ، إِنْ كَانَ كَوْنُهُ دَانْيَالَ هُوَ الْمُطَابِقَ لِمَا فِي نَفْسِ الْأَمْرِ

“Waktunya dekat dengan waktu kehidupan Nabi Daniel. Apabila itu adalah Nabi Daniel, maka ini sesuai dengan perkaranya (lama meninggal dan waktu ditemukan jasadnya).”[4]

Demikian juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa Umar bin Khattab menulis surat kepada Abu Musa dan Umar berkata,

إذَا كَانَ بِالنَّهَارِ فَاحْفِرْ ثَلَاثَةَ عَشَرَ قَبْرًا، ثُمَّ ادْفِنْهُ بِاللَّيْلِ فِي وَاحِدٍ مِنْهَا، وَعَفِّرْ قَبْرَهُ، لِئَلَّا يَفْتَتِنَ بِهِ النَّاسُ

“Pada siang hari, galilah 13 lubang kubur. Kemudian kuburkanlah pada malam hari pada salah satu lubang tersebut. Sembunyikan kuburnya agar tidak menjadi fitnah (disembah-sembah dan dikeramatkan) oleh manusia.”[5]

[su_spacer]

Dari kisah ini mengandung beberapa faedah:

1. Kuatnya tauhid pada sahabat dan mereka sangat khawatir manusia terjatuh dalam kesyirikan yang merupakan dosa paling besar dan paling dilarang dalam agama.[6]

2. Salah satu sumber kesyirikan adalah ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap nabi dan orang saleh sehingga akhirnya dikultuskan, dikeramatkan bahkan dianggap tuhan.[7]

3. Para sahabat telah paham bahwa sejarah pertama kesyirikan di muka bumi adalah pada zaman Nabi Nuh. Patung berhala mereka adalah patung orang-orang saleh sebelum mereka, lalu disembah.[8]

4. Para sahabat sangat paham bahwa telah banyak kubur Nabi yang disembah dan dikultuskan oleh manusia sehinggga mereka mencegahnya.[9]

5. Kuburan bukan tempat ibadah. Ziarah kubur hukumnya sunnah dengan tujuan mengingat mati dan mendoakan si mayit.

Demikian semoga bermanfaat

—

@Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel: muslim.or.id

—

Catatan kaki:

[1] Banyak mengambil faidah dari: https://islamqa.info/ar/233815

[2] HR. Ibnu Abi Syaibah (4/7) dengan sanad sahih

[3] Al-Baihaqi dalam Dala’ilun Nubuwwah (1/381)

[4] Al-Bidayah wan Nihayah 2/40

[5] Majmu’ Fatawa 15/154

[6] silahkan baca tulisan kami: https://muslimafiyah.com/kok-kesyirikan-jadi-larangan-terbesar-dalam-islam.html

[7] silahkan baca tulisan kami: https://muslimafiyah.com/ghuluwberlebihan-terhadap-orang-shalih.html

[8] silahkan baca: https://muslimafiyah.com/sejarah-kesyirikan-pertama-di-muka-bumi-dan-di-jazirah-arab.html

[9] silahkan baca tulisan kami: https://muslimafiyah.com/kuburan-bukan-tempat-ibadah-masjid-jangan-sampai-sepi-kuburan-malah-ramai.html

Sumber: https://muslim.or.id/41069-kubur-nabi-daniel-yang-disembunyikan-agar-mencegah-kesyirikan.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Kalau Cinta, Cintaaaa Banget; Kalau Benci, Benciiii Banget (Kaidah Mayoritas Wanita….)

Wanita dianugrahi perasaan yang mendalam, karena memang disiapkan menjadi seorang ibu yang harus memiliki kasih sayang dan perhatian yang mendalam juga. Untuk menghadapi anak-anak, maka perlu perhatian dan kasih sayang untuk menemani kesabaran menghadapi dan mendidik anak-anak. Akan tetapi kelebihan ini tentu ada kelemahannya. Kelemahannya adalah terkadang perasaan menutupi akal sehatnya, perasaan membuat pertimbangan mengambil keputusan bisa mengalahkan keputusan akal sehat. Dan ini memang harus dipahami karena wanita memang ingin lebih dimengerti.

Ketika  wanita jika sudah cinta, maka ia sangat cinta sekali dan jika sudah benci maka ia benci sama sekali. Ini adalah mayoritas sifat wanita. Karenanya beberapa ahli psikologi dan beberapa ulama yang ahli mengenai hal ini mengatakan bahwa wanita memang tidak bisa membagi cinta, karena begitulah tipe cinta wanita.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Jika engkau berbuat baik kepada salah seorang diantara mereka (wanita) sepanjang setahun, kemudian melihat sesuat yang mengecewakan, dia akan berkata,

’Saya tidak pernah melihat kebaikanmu sedikitpun’.[1]
Cinta yang sewajarnya saja

perilaku seperti tidak bagus yaitu terlalu berlebihn menyikapi cinta dan benci. Hal ini sudah diingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. beliau bersabda,

أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيْضَكَ يَوْمًا مَا، وَأَبْغِضْ بَغِيْضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا

“Cintailah orang yang kau cintai sekadarnya, bisa jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sekadarnya bis jadi suatu hari ia menjadi orang yang kau sayangi”[2]

Dari Aslam bahwa Umar bin Khaththab radhiallahu anhu berkata,

لاَ يَكُنْ حُبُّكَ كَلَفًا وَلاَ بَغُضُكَ تَلَفًا فَقُلْتُ كَيْفَ ذَاكَ ؟ قَالَ إِذَا أَحْبَبْتَ كَلِفْتَ كَلَفَ الصَّبِيِّ وَإِذَا أَبْغَضْتَ أَحْبَبْتَ لِصَاحِبِكَ التَّلَف

“Janganlah cintamu menjadikan keterlenaan bagimu, dan jangan pula kebencianmu menjadikan kehancuran bagimu.

Aku (Aslam) berkata, “Bagaimanakah itu?”

Umar berkata, “Bila engkau mencitainya, maka engkau mencintainya sampai engkau terlena seperti layaknya seorang anak kecil, dan bila engkau membenci, engkau menginginkan kehancuran baginya.”[3]
Penjelasan hadits dijelaskan dalam Fatwa Al-Islamiyah,

لكن المقصود من الحديث النهي عن المبالغة والإفراط الشديد في الحب،

“Akan tetapi maksud hadits adalah agar tidak berlebihan dan melampui batas dalam hal cinta.”[4]

Demikianlah, kita diperintahkan agar bersikap pertengahan dalam sesuatu hal. Tidak terlalu ekstrim dan tidak terlalu meremehkan juga.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang pertengahan dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu….” (QS. Al Baqarah: 143)

Demikian semoga bermanfaat

@Pogung Dalangan,  Yogyakarta Tercinta

Penyusun:  dr.  Raehanul Bahraen


[1] HR Bukhari

[2] Diriwayatkan At-Tirmidzi no. 1997 dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 178

[3] Shahih Adabul Mufad Imam Bukhari oleh Syaikh Albani

[4]Sumber:  http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=139943

sumber : https://muslimafiyah.com/kalau-cinta-cintaaaa-banget-kalau-benci-benciiii-banget-kaidah-mayoritas-wanita.html

Banyak Tertawa Mematikan Hati

الإكثار من الضحك يؤدي إلى موت القلب

السؤال

ما حكم الدين في الضحك باستمرار مع عدم السيطرة عليه في معظم الأحيان؟ وما هو العلاج؟ جزاكم الله خيرا.

Pertanyaan: 

Apa hukum dalam Agama tentang sering tertawa terbahak-bahak secara terus menerus? Dan apa obatnya? Jazakumullahu khairan.

الإجابــة

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد:

فقد حذر النبي صلى الله عليه وسلم من كثرة الضحك بقوله صلى الله عليه وسلم: إياك وكثرة الضحك، فإنه يميت القلب ويذهب بنور الوجه. رواه أحمد وغيره، وصححه الألباني.

والضحك المذموم الإكثار منه ما كان مصحوبًا بصوت ويسمى القهقهة، وذلك لما يترتب عليه من آثار سيئة، كموت القلب وذهاب الهيبة وضياع الوقت.

قال الإمام الماوردي في كتابه “أدب الدنيا والدين”: وأما الضحك فإن اعتياده شاغل عن النظر في الأمور المهمة، مذهل عن الفكر في النوائب الملمَّة وليس لمن أكثر منه هيبة ولا وقار، ولا لمن وصم به خطر ولا مقدار، روى أبو إدريس الخولاني عن أبي ذر الغفاري قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إياك وكثرة الضحك، فإنه يميت القلب ويذهب بنور الوجه. ورُوي عن ابن عباس في قوله تعالى: مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا [الكهف: 49]. إن الصغيرة الضحك. وقال عمر بن الخطاب رضي الله عنه: من كثر ضحكه قلت هيبته. وقال علي بن أبي طالب كرم الله وجهه: إذا ضحك العالم ضحكة مجَّ من العلم مجة. انتهى.

وللمزيد من التفصيل في هذا الموضوع، تراجع الفتوى رقم: 30423.

Jawaban:

Segala puji hanya bagi Allah. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau. Amma ba’du:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi peringatan terhadap tertawa berlebihan, melalui sabda beliau:

إِيَّاكَ وَكَثْرَةُ الضَّحِكِ، فَإِنَّهُ يُمِيْتُ الْقَلْبَ وَيَذْهَبُ بِنُورِ الْوَجْهِ

“Janganlah kamu banyak tertawa, karena ia dapat mematikan hati dan menghilangkan cahaya di wajah.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan lainnya; dan disahihkan oleh al-Albani).

Tertawa yang tercela dan berlebihan adalah yang disertai dengan suara, atau yang disebut juga dengan terbahak-bahak. Hal ini karena dapat mendatangkan pengaruh-pengaruh buruk, seperti matinya hati, hilangnya kewibawaan, dan waktu yang terbuang sia-sia.

Imam al-Mawardi berkata dalam kitabnya Adab ad-Dunya wa ad-Din: 

“Adapun tertawa, terbiasa melakukannya dapat menyibukkan diri dari memikirkan perkara-perkara penting, melalaikan pikiran dari musibah-musibah, dan orang yang terlalu banyak melakukannya tidak memiliki kewibawaan dan kesantunan, serta orang yang menjatuhkan harga dirinya dengan hal itu tidak lagi mempunyai kehormatan dan martabat. 

Abu Idris al-Khaulani meriwayatkan dari Abu Dzar al-Ghifari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Janganlah kamu banyak tertawa, karena ia dapat mematikan hati dan menghilangkan cahaya di wajah.’ 

Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang makna firman Allah Ta’ala, 

مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا [الكهف: 49]

‘Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak meninggalkan yang kecil dan yang besar, kecuali mencatatnya.’ (QS. Al-Kahfi: 49). 

Bahwa yang dimaksud dengan yang kecil adalah tertawa. 

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Barang siapa yang banyak tertawa, maka akan sedikit wibawanya.’ 

Sedangkan Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Apabila orang yang berilmu tertawa satu kali, maka dia telah memuntahkan satu ilmunya.’”

Untuk pembahasan yang lebih terperinci dalam tema ini, dapat merujuk fatwa no. 30423 (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/30423/الضحك-مباح-في-الأصل)

وعليه، فعليك بمجاهدة النفس للتخلي عن هذا الأمر حسب استطاعتك، وما كان منه خارجا عن إرادتك، فأنت مغلوب ولا إثم عليك إن شاء الله تعالى. قال تعالى: فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ [التغابن: 16]، وقال تعالى: لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا [البقرة: 286].

ومما يعين على تركه ما يلي:

1- التأمل في ثماره ونتائجه السيئة، فأي ضرر أشد على الإنسان من موت قلبه الذي هو المضغة التي إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله.

2- البعد عن كل ما يكون سببا في إثارته كمجالسة البطالين الذين لا هم لهم إلا إضاعة الأوقات في الهذر والهزل.

والله أعلم.

Dengan demikian, hendaklah kamu berusaha untuk meninggalkan perkara ini sekuat tenaga; sedangkan tertawa yang terlepas dari kehendakmu, maka itu di luar kuasamu, sehingga kamu tidak berdosa atas itu, InsyaAllah. 

Allah Ta’ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun: 16).

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya …” (QS. Al-Baqarah: 286)

Di antara perkara yang dapat membantu untuk meninggalkan tertawa berlebihan adalah sebagai berikut:

  1. Mencermati hasil dan akibatnya yang buruk. Adakah mudarat yang lebih besar bagi manusia daripada kematian hatinya yang merupakan segumpal daging yang jika ia baik, maka baik pula seluruh jasadnya; dan jika ia buruk, maka buruk pula seluruh jasadnya?!
  2. Menjauhi segala hal yang dapat mengundang tawa, seperti duduk dengan para pengangguran yang tidak memiliki kepentingan kecuali menghabiskan waktu dalam senda gurau.

Wallahu a’lam.

Sumber: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/41154/الإكثار-من-الضحك-يؤدي-إلى-موت-القلب