Lebih Didahulukan Istri atau Ibu?

Pertanyaan:

Dalam Islam, bagi seorang suami, mana yang lebih didahulukan? Ibunya atau istrinya?

Jawaban:

Alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ash-shalatu wassalamu ‘ala alihi wa shahbihi.

Menggabungkan Dua Perkara Lebih Utama

Pertama, menggabungkan dua perkara yang baik itu lebih utama daripada menguatkan salah satu saja. Syaikh Muhammad bin Husain Al-Jizani menjelaskan:

لا يُصار إلى الترجيح بين الأدلة المتعارضة إلا بعد محاولة الجمع بينها، فإن الجمع مقدم على الترجيح، فإن أمكن الجمع وزال التعارض امتنع الترجيح

“Tidak boleh melakukan tarjih (memilih salah satu) antara dalil-dalil yang nampak bertentangan, kecuali setelah mencoba untuk mengkompromikan keduanya. Karena mengkompromikan dua dalil itu lebih didahulukan daripada tarjih. Jika masih memungkinkan untuk dikompromikan, maka tidak ada pertentangan dan tidak boleh memilih salah satu” (Ma’alim Ushulil Fiqhi inda Ahlissunnah wal Jama’ah, hal.274).

Dalam kasus di atas, dalil perintah berbakti kepada orang tua dengan dalil perintah berbuat baik kepada istri, nampak bertentangan. Maka yang lebih utama adalah mengkompromikan dua hal tersebut. 

Oleh karena itu seorang suami berusaha untuk terus berbakti kepada ibunya dan juga berbuat baik kepada istrinya dan berusaha merekatkan hubungan baik antara keduanya. Ini yang ideal dan lebih utama.

Ibu Lebih Diutamakan daripada Istri

Kedua, secara mutlak dan secara umum bagi seorang suami, ibu lebih didahulukan daripada istri. Ini yang ditunjukkan oleh dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena ibu adalah orang tua, dan orang tua adalah orang paling berhak untuk diberikan bakti yang terbaik dari anaknya. Allah ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS. An-Nisa: 36).

Allah ta’ala juga berfirman:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al-Isra: 23).

Dalam ayat-ayat di atas Allah ta’ala menggandengkan perintah untuk bertauhid dengan perintah untuk berbakti kepada orang tua. Menunjukkan tingginya kedudukan berbakti kepada orang tua.

Bahkan durhaka kepada orang tua merupakan dosa besar. Dalam hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

أَكْبَرُ الكَبائِرِ: الإشْراكُ باللَّهِ، وعُقُوقُ الوالِدَيْنِ، وشَهادَةُ الزُّورِ، وشَهادَةُ الزُّورِ

“Dosa-dosa besar yang paling besar adalah: syirik kepada Allah, membunuh, durhaka kepada orang tua, dan perkataan dusta atau sumpah palsu” (HR. Al-Bukhari no.6919, Muslim no.88).

Dalam hadis dari Nafi’ bin Al-Harits Ats-Tsaqafi radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

ألا أنبِّئُكم بأكبرِ الكبائرِ . ثلاثًا ، قالوا : بلَى يا رسولَ اللهِ ، قال : الإشراكُ باللهِ ، وعقوقُ الوالدينِ

“Maukah aku kabarkan kepada kalian mengenai dosa-dosa besar yang paling besar? Beliau bertanya ini 3x. Para sahabat mengatakan: tentu wahai Rasulullah. Nabi bersabda: syirik kepada Allah dan durhaka kepada orang tua” (HR. Bukhari no.2654, Muslim no.87).

Kemudian, terdapat banyak dalil yang menunjukkan bahwa ibu lebih ditekankan lagi untuk diberikan bakti yang terbaik.

Dari Mu’awiyah bin Haidah Al-Qusyairi radhiyallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi:

يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ

“Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad no.5, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad).

Dari Miqdam bin Ma’di Karib radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

ِإِنَّ اللَّهَ يوصيكم بأمَّهاتِكُم ثلاثًا، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بآبائِكُم، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بالأقرَبِ فالأقرَبِ

“Sesungguhnya Allah berwasiat 3x kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ayah kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat kemudian yang dekat” (HR. Ibnu Majah no.3661, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah).

Dalam dua hadis ini Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menyebutkan bahwa ibu adalah orang yang paling berhak mendapatkan bakti yang terbaik, bahkan melebihi ayah. Bagaimana lagi dengan istri. Maka jelas ibu lebih diutamakan daripada istri.

Dari Atha bin Yassar, ia berkata:

عن ابنِ عبَّاسٍ أنَّهُ أتاهُ رجلٌ ، فقالَ : إنِّي خَطبتُ امرأةً فأبَت أن تنكِحَني ، وخطبَها غَيري فأحبَّت أن تنكِحَهُ ، فَغِرْتُ علَيها فقتَلتُها ، فَهَل لي مِن تَوبةٍ ؟ قالَ : أُمُّكَ حَيَّةٌ ؟ قالَ : لا ، قالَ : تُب إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، وتقَرَّب إليهِ ما استَطعتَ ، فذَهَبتُ فسألتُ ابنَ عبَّاسٍ : لمَ سألتَهُ عن حياةِ أُمِّهِ ؟ فقالَ : إنِّي لا أعلَمُ عملًا أقرَبَ إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ مِن برِّ الوالِدةِ

“Dari Ibnu ‘Abbas, ada seorang lelaki datang kepadanya, lalu berkata kepada Ibnu Abbas: saya pernah ingin melamar seorang wanita, namun ia enggan menikah dengan saya. Lalu ada orang lain yang melamarnya, lalu si wanita tersebut mau menikah dengannya. Saya pun cemburu dan membunuh sang wanita tersebut. Apakah saya masih bisa bertaubat? Ibnu Abbas menjawab: apakah ibumu masih hidup? Lelaki tadi menjawab: Tidak, sudah meninggal. Lalu Ibnu Abbas mengatakan: kalau begitu bertaubatlah kepada Allah dan dekatkanlah diri kepada-Nya sedekat-dekatnya. Lalu lelaki itu pergi. Aku (Atha’) bertanya kepada Ibnu Abbas: kenapa Anda bertanya kepadanya tentang ibunya masih hidup atau tidak? Ibnu Abbas menjawab: aku tidak tahu amalan yang paling bisa mendekatkan diri kepada Allah selain birrul walidain” (HR. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad no.4, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad).

Dalam atsar ini, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma menganggap amalan yang paling besar yang dapat menghapus dosa sebesar dosa pembunuhan adalah berbakti kepada ibu. Ini menunjukkan bahwa ibu adalah yang paling berhak mendapatkan bakti yang terbaik.

Berdasarkan dalil-dalil di atas jelas bahwa ibu lebih diutamakan dari pada istri dalam bakti dan perbuatan baik.

Istri Lebih Diutamakan Dalam Hal Nafkah

Ketiga, hanya dalam satu perkara yang suami lebih wajib mendahulukan istrinya daripada ibunya. Yaitu dalam perkara nafkah. Karena suami wajib menafkahi istrinya, sedangkan ia tidak wajib menafkahi ibunya kecuali jika ibu dalam keadaan miskin.

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

كفى بالمرءِ إثمًا أن يضَيِّعَ من يَقُوتُ

“Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya” (HR. Abu Daud no.1692, Ibnu Hibban no.4240, dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Daud).

Dalam hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, Nahi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

ابْدَأْ بنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا، فإنْ فَضَلَ شيءٌ فَلأَهْلِكَ، فإنْ فَضَلَ عن أَهْلِكَ شيءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ، فإنْ فَضَلَ عن ذِي قَرَابَتِكَ شيءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا

“Mulailah dari dirimu sendiri, berilah nafkah pada dirimu. Jika ada kelebihan, maka berilah nafkah pada keluargamu. Jika sudah menafkahi keluargamu dan masih ada kelebihan, maka nafkahilah kerabatmu. Jika sudah menafkahi kerabatmu dan masih ada kelebihan, maka nafkahilah yang terdekat dan seterusnya” (HR. Muslim no. 997).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

أربعةُ دنانيرَ : دينارٌ أعطيتَه مسكينًا ، دينارٌ أعطيتَه في رقبةٍ ، دينارٌ أنفقتَه في سبيلِ اللهِ ، و دينارٌ أنفقتَه على أهلِك ؛ أفضلُها الذي أنفقتَه على أهلِك

“Empat jenis dinar: dinar yang engkau berikan kepada orang miskin, dinar yang engkau berikan untuk membebaskan budak, dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, dan dinar yang engkau infakkan untuk keluargamu, yang paling afdhal adalah yang engkau infakkan untuk keluargamu” (HR. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad 578, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Adabil Mufrad).

Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa istri wajib diberikan nafkah oleh suaminya. 

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid menjelaskan:

الأفضلية عند المسلم للأم لما جاء في الحديث أن رجلا قال للنبي صلى الله عليه وسلم : ” من أحق الناس بحسن صحابتي قال أمك قال ثم من قال أمك قال ثم من قال أمك … الحديث ” رواه البخاري (5514) ومسلم (4621) ، إلا أن الزوجة تقدم على الأم في شيء واحد وهو النفقة إذا كان الزوج لا يستطيع أن ينفق على زوجته وأمه معا

“Yang paling utama bagi seorang lelaki Muslim adalah mendahulukan ibunya. Berdasarkan hadis tentang seorang lelaki yang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu” (HR. Al-Bukhari no.5514, Muslim no.4612). Adapun istri, lebih didahulukan daripada ibu dalam satu masalah saja, yaitu masalah nafkah. Ini pun ketika sang suami tidak mampu untuk menafkahi keduanya secara sekaligus” (Fatawa Islam Sual wa Jawab, no.6293).

Dan jika sang suami memberikan pemberian kepada istrinya di luar dari nafkah yang wajib dengan jumlah yang lebih banyak daripada pemberian kepada ibunya karena melihat maslahat dan kebutuhan-kebutuhannya, maka ini tidak mengapa. Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan :

فإذا أعطى كل واحدة ما يناسبها فلا حرج في ذلك، ولو كان الذي أعطى الزوجة أكثر، أو أعلى؛ لأنه الذي يناسبها، والمرأة التي هي أمه يناسبها شيء آخر، فلا حرج في ذلك

“Jika seorang suami memberikan pemberian kepada salah satu saja (ibu saja atau istri saja) yang sesuai dengan kebutuhannya, maka tidak mengapa. Misalnya jika sang suami memberi pemberian kepada istrinya lebih banyak daripada pemberian kepada ibunya, karena memang itu sesuai dengan kebutuhan istrinya, sedangkan pemberian untuk ibunya ia berikan pemberian yang lain yang sesuai untuknya, maka ini tidak mengapa” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, no.286 soal ke-20).

Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. 

Washallallahu ’ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. 

sumber : https://konsultasisyariah.com/44119-lebih-didahulukan-istri-atau-ibu.html

[Kitabut Tauhid 7] 26 Bahaya ghuluw terhadap orang shalih 10

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Kafirnya Ahlu Kitab merupakan ijma’ (konsensus, kesepakatan) yang disepakati di dalam Islam. Kesepakatan ini tidak boleh diingkari oleh seorang pun dari Kaum Muslimin. Siapa saja yang mengingkari kesepakatan ini, maka dia keluar dari Islam dan tidak lagi menjadi bagian dari Kaum Muslimin.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Bayarkan Upah Sebelum Keringat Kering

Bagi setiap majikan hendaklah ia tidak mengakhirkan gaji bawahannya dari waktu yang telah dijanjikan, saat pekerjaan itu sempurna atau di akhir pekerjaan sesuai kesepakatan. Jika disepakati, gaji diberikan setiap bulannya, maka wajib diberikan di akhir bulan. Jika diakhirkan tanpa ada udzur, maka termasuk bertindak zholim.

Allah Ta’ala berfirman mengenai anak yang disusukan oleh istri yang telah diceraikan,

فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ

“Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya.” (QS. Ath Tholaq: 6). Dalam ayat ini dikatakan bahwa pemberian upah itu segera setelah selesainya pekerjaan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan memberikan upah sebelum keringat si pekerja kering. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

“Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah, shahih).  Maksud hadits ini adalah bersegera menunaikan hak si pekerja setelah selesainya pekerjaan, begitu juga bisa dimaksud jika telah ada kesepakatan pemberian gaji setiap bulan.

Al Munawi berkata, “Diharamkan menunda pemberian gaji padahal mampu menunaikannya tepat waktu. Yang dimaksud memberikan gaji sebelum keringat si pekerja kering adalah ungkapan untuk menunjukkan diperintahkannya memberikan gaji setelah pekerjaan itu selesai ketika si pekerja meminta walau keringatnya tidak kering atau keringatnya telah kering.” (Faidhul Qodir, 1: 718)

Menunda penurunan gaji pada pegawai padahal mampu termasuk kezholiman. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

“Menunda penunaian kewajiban (bagi yang mampu) termasuk kezholiman” (HR. Bukhari no. 2400 dan Muslim no. 1564)

Bahkan orang seperti ini halal kehormatannya dan layak mendapatkan hukuman, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَيُّ الْوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوبَتَهُ

“Orang yang menunda kewajiban, halal kehormatan dan pantas mendapatkan hukuman” (HR. Abu Daud no. 3628, An Nasa-i no. 4689, Ibnu Majah no. 2427, hasan). Maksud halal kehormatannya, boleh saja kita katakan pada orang lain bahwa majikan ini biasa menunda kewajiban menunaikan gaji dan zholim. Pantas mendapatkan hukuman adalah ia bisa saja ditahan karena kejahatannya tersebut.

Para ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah (Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) pernah ditanya, “Ada seorang majikan yang tidak memberikan upah kepada para pekerjanya dan baru memberinya ketika mereka akan safar ke negeri mereka, yaitu setelah setahun atau dua tahun. Para pekerja pun ridho akan hal tersebut karena mereka memang tidak terlalu sangat butuh pada gaji mereka (setiap bulan).”

Jawab ulama Al Lajnah Ad Daimah, “Yang wajib adalah majikan memberikan gaji di akhir bulan sebagaimana yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Akan tetapi jika ada kesepakatan dan sudah saling ridho bahwa gaji akan diserahkan terakhir setelah satu atau dua tahun, maka seperti itu tidaklah mengapa. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المسلمون على شروطهم

“Kaum muslimin wajib mematuhi persyaratan yang telah mereka sepakati.” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 14: 390).

Wallahul muwaffiq.

—

Bathaa’, Riyadh-KSA, 26 Rabi’ul Awwal 1434 H

Sumber https://rumaysho.com/3139-bayarkan-upah-sebelum-keringat-kering.html

Ciri-Ciri Orang yang Bertobat 

خصال التائبين

قال الحافظ ابن كثير رحمه الله: وخصال التائب قد ذكرها الله في آخر سورة براءة، فقال: ﴿‌التَّائِبُونَ ‌الْعَابِدُونَ﴾.

Al-Hafiz Ibnu Katsir Raẖimahullāh berkata bahwa ciri-ciri orang yang bertobat telah disebutkan oleh Allah di akhir surat al-Bara’ah (at-Taubah). Allah berfirman:

التَّائِبُونَ ‌الْعَابِدُونَ

Artinya: 

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, beribadah…” (QS. At-Taubah: 112)

فلا بد للتائب من العبادة والاشتغال بالعمل للآخرة، وإلا فالنفس همامة متحركة، إن لم تشغلها بالحق وإلا شغلتك بالباطل، فلا بد للتائب من أن يبدل تلك الأوقات التي مرت له في المعاصي بأوقات الطاعات، وأن يتدارك ما فرط فيها، وأن يبدل تلك الخطواتِ بخطوات إلى الخير، ويحفظ لحظاتِه وخطواتِه، ولفظاتِه وخطراتِه…

Orang yang bertobat harus beribadah dan menyibukkan diri dengan amalan akhirat, karena jika tidak, jiwa manusia adalah keinginan yang terus bergerak, sehingga jika Anda tidak menyibukkannya dalam kebenaran, jiwa Anda yang akan menyibukkan Anda dalam kebatilan.

Orang yang tobat harus mengganti waktu-waktunya yang dulu dia lalui dalam maksiat dengan waktu-waktu dalam ketaatan, menyempurnakan apa yang dahulu dia lalaikan, mengganti langkah-langkah yang dulu dengan langkah-langkah menuju kebaikan, dan menjaga setiap detik, langkah, kata, dan pikirannya.

ثم قال الله تعالى: ﴿الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ﴾ الآية.

Kemudian Allah Subẖānahu wa Ta’ālā berfirman:

الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ

Artinya: 

“…memuji (Allah), berpuasa, rukuk, sujud…” hingga akhir ayat surat at-Taubah: 112.

فهذه خصال التائب كما قال تعالى: ﴿التَّائِبُونَ﴾.

Inilah ciri-ciri orang yang bertobat, sebagaimana firman-Nya: 

التَّائِبُونَ

Artinya:

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat…” (QS. At-Taubah: 112)

فكأن قائلًا يقول: من هم؟ قيل: هم العابدون السائحون إلى آخر الآية، وإلا فكل تائب لم يتلبس بعد توبته بما يقربه إلى من تاب إليه فهو في بعد وإدبار، لا في قرب وإقبال، كما يفعل من اغتر بالله من المعاصي المحظورات، ويدع الطاعات، فإن ترك الطاعات وفعل المعاصي أشد وأعظم من ارتكاب المحرمات بالشهوة النفسية.

Seolah-olah seseorang bertanya: “Siapa mereka?” Lalu dijawab: “Mereka adalah orang-orang yang beribadah, berpuasa…” dan seterusnya. 

Jika tidak demikian, setiap orang yang bertobat tapi setelah tobatnya tidak menyibukkan diri dengan apa yang bisa mendekatkan dirinya kepada Zat Yang Menerima tobatnya, maka hakikatnya dia sedang jauh dan berpaling, bukan dekat dan mendekat. Ini seperti orang yang teperdaya dengan (ampunan) Allah sehingga berbuat dosa-dosa yang terlarang dan meninggalkan ketaatan, karena meninggalkan ketaatan dan melakukan kemaksiatan seperti ini lebih berat dan besar akibatnya daripada melakukan larangan karena mengikuti hawa nafsu.

فالتائب هو من اتقى المحذورات، وفعل المأمورات، وصبر على المقدورات”. البداية والنهاية (9/164)

Jadi, orang yang bertobat adalah orang yang menjauhi larangan-larangan-Nya, menjalankan perintah-perintah-Nya, dan bersabar dengan semua ketetapan-Nya. (Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, 9/164)

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr

Sumber: https://www.al-badr.net/muqolat/6696

sumber : https://konsultasisyariah.com/44400-ciri-ciri-orang-yang-bertobat.html

6 Tips agar Berwawasan Luas

6 Tips agar Berwawasan Luas

سعة الأفق

Oleh: Ahmad bin Abdurrahman ash-Shuyan

أحمد بن عبد الرحمن الصويان

من نعمة الله تعالى على العبد أن يرزقه سعة في الأفق، وعمقاً في النظر، فيتسع فكره، وينطلق في آفاق رحبة واسعة، ويؤتيه الله بصيرة نافذة تجعله ينفذ إلى أعماق الحقائق وأبعادها، فيقدرها بقدرها، ويضعها في مواضعها.

Di antara kenikmatan dari Allah Ta’ala yang dikaruniakan kepada seorang hamba adalah keluasan wawasan dan kematangan pandangan; sehingga pikirannya luas dan dapat mengarungi ufuk yang luas. Allah memberinya pemikiran cerdas yang membuatnya dapat menyelam ke dalam berbagai realita dan dimensi; sehingga dia dapat mempertimbangkannya dengan pertimbangan yang tepat dan mendudukkannya di tempat yang seharusnya.

ومما يعين الإنسان على سعة الأفق:

أولا: حرصه على طلب العلم والجدّ فيه، وأخذه من أهله الأثبات الراسخين، والصبر على تتبع مسائله في مظانها المختلفة، وحرصه في بدء الطلب على أن يأخذ من كل فن أصوله وقواعده لكي تتكامل معارفه وتتآلف علومه، والعلم هو الركيزة الأساس التي تبني عقل الإنسان وتجعله يستقيم على الجادة؛ ألم ترَ أن الجاهل يعيش في ظلمة فلا يبصر طريقه، فإذا عرض له عارض صار يتخبط ويضطرب؟ بينما ترى صاحب العلم والفهم حاذقاً فطناً يفتح الله عليه من أبواب العلوم ما يجعله قادراً على رؤية أبعاد واسعة لا يراها من هو دونه.

Beberapa hal yang dapat menjadikan seseorang memiliki wawasan yang luas

Pertama: Bersungguh-sungguh dalam belajar, menuntut ilmu dari para ulama yang terpercaya dan kuat ilmunya, bersabar dalam meneliti berbagai permasalahan dari sumber-sumber yang beraneka ragam; dan hendaknya pada awal belajar dia mempelajari asas-asas dan kaidah-kaidah pokok dalam setiap bidang ilmu, agar pengetahuannya dapat diraih secara utuh dan ilmu-ilmunya saling melengkapi. 

Ilmu adalah pilar utama yang dapat membangun akal seseorang dan menjadikannya dapat konsisten di atas jalan yang benar. Tidakkah kamu melihat orang yang bodoh itu hidup dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat melihat jalannya, dan jika ada sesuatu yang menghalangi jalannya, dia menjadi sempoyongan dan terhuyung-huyung?! Sedangkan di sisi lain, kamu dapat melihat orang yang berilmu dan memiliki pemahaman itu menjadi orang yang cerdas dan cermat; Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu ilmu baginya, sehingga menjadikannya mampu melihat dimensi-dimensi yang luas, yang tidak dapat dilihat oleh orang lain yang ilmunya lebih rendah darinya.

ثانيا: تنوع ثقافاته، وتعدد قراءاته في مختلف أنواع المعرفة العلمية، فالمتخصص في الدراسات الشرعية مثلاً لا ينحصر في هذا التخصص، بل تمتد عنايته واطلاعه إلى الدراسات الأدبية والفكرية والإنسانية الأخرى؛ فهو يتنقل في حقول العلم والفكر، ويمتص رحيق الأزهار بألوانها وأشكالها المتنوعة، وهكذا بقية المتخصصين في فروع أخرى من العلم.

Kedua: Menganekaragamkan berbagai pengetahuan dan memperbanyak bahan bacaan di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, seorang spesialis dalam bidang ilmu-ilmu syariat hendaknya tidak hanya membatasi diri dalam spesialisasi itu. Namun, hendaknya dia memperluas perhatian dan bacaannya dalam ilmu-ilmu sastra, filsafat, dan ilmu-ilmu humaniora lainnya; sehingga dia dapat berpindah-pindah di berbagai taman-taman ilmu dan pemikiran, dan menghirup berbagai sari bunga dengan warna dan bentuk yang berbeda-beda. Demikian juga dengan para spesialis lainnya bersikap terhadap cabang-cabang ilmu lainnya.

ثالثا: كثرة محاورته ومجالسته لأهل العلم والرأي؛ فبالحوار العلمي الجاد تتسع مدارك الإنسان، ويقف على أشياء قد لا تخطر بباله على الإطلاق، وقديماً قال عمر بن عبد العزيز – رحمه الله -: “إني وجدتُ لقاء الرجال تلقيحاً لألبابهم”. وقال الزهري: “العلم خزائن ومفاتيحها السؤال”. وقال أيوب السختياني: “إنّك لا تعرف خطأ معلمك حتى تجالس غيره”.

ولهذا كان السلف يحثّون طالب العلم على الرحلة والسفر لملاقاة العلماء واكتساب مختلف أنواع العلوم والمعارف، وفي هذا يقول ابن خلدون: “على كثرة الشيوخ يكون حصول الملكات ورسوخها”.

Ketiga: Banyak berdiskusi dan berinteraksi dengan para ilmuwan dan pemikir. Dengan diskusi ilmiah yang serius, pengetahuan seseorang akan semakin luas; dan dia akan mendapatkan hal-hal yang sebelumnya tidak terpikir olehnya sama sekali. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah berkata, “Sungguh aku mendapati pertemuan dengan tokoh-tokoh besar sebagai penyerapan akal-akal mereka.” Sedangkan az-Zuhri berkata, “Ilmu adalah harta-harta yang tersimpan, sedangkan kunci-kuncinya adalah pertanyaan.” Adapun Ayyub as-Sikhtiyani berkata, “Sungguh kamu tidak akan mengetahui kesalahan gurumu, hingga kamu belajar dari guru yang lain.” 

Oleh sebab itu, para ulama salaf dulu sangat mengajurkan para penuntut ilmu untuk melakukan perjalanan dan safar demi bertemu para ulama dan mencari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, Ibnu Khaldun berkata, “Sesuai dengan banyaknya guru, sekadar itulah ilmu yang didapatkan dan dikuasai.”

رابعا: حرصه على التأمل والنظر والتفكر، وشحذ الذهن وتنشيطه في دراسة المباحث والمسائل، والفكر الحي المعطاء هو الفكر المتّقد الذي ينبض بحيوية ونشاط، فلا يكسل ولا يعجز ولا تصيبه السآمة والملل، وكثرة التفكر تنمي المَلَكة، فـ(كثرة المزاولات تعطي الملكات، فتبقى للنفس هيئة راسخة وملكة ثابتة) كما ذكر ابن القيم رحمه الله تعالى، كما أنّ الفكر المنظم المدروس هو الذي يبني العقل ويجعله يستقيم على الطريق، وأما العشوائية والارتجالية في التفكير فإنها تشتت الذهن وتفرّق الهم.

من الأدواء الفكرية المنتشرة عند كثير من الناس: ضيق الأفق، والنظر إلى المسائل المختلفة بسطحية مفرطة.

أما الإنسان الذي لا يفكر، أو يفكر بطريقة راتبة أو عشوائية، فإنه بالضرورة إنسان عاجز لا يقوى على إعطاء التصور الصحيح للمسائل، بل قد يقوده تفكيره أحياناً إلى التخبط والاضطراب.

Keempat: Memberi perhatian besar pada pengamatan, penelitian, dan olah pikir, serta melatih dan merangsang otak dalam mempelajari berbagai pembahasan dan permasalahan. Pikiran yang hidup dan dapat berkontribusi adalah pikiran yang berdetak dengan penuh energi dan semangat; tidak malas, lemah, atau merasa bosan dan jemu. 

Banyak berpikir akan meningkatkan kemampuan; karena banyaknya latihan akan menghasilkan kemampuan, sehingga diri seseorang akan berada pada bentuk yang kokoh dan kemampuan yang teguh. Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu al-Qayyim rahimahullahu Ta’ala, “Pikiran yang terstruktur dan terprogram akan membentuk akal dan menjadikannya dapat konsisten di atas jalan yang benar. Adapun acak-acakan dan spontan dalam berpikir hanya akan mencerai-berai akal dan membuat pikiran berserakan.

Sedangkan orang yang tidak berpikir, atau berpikir dengan cara yang telah terbawa rutinitas atau acak-acakan, maka pasti dia adalah orang yang lemah dan tidak mampu memberi gambaran yang benar terhadap berbagai permasalahan. Bahkan, terkadang pikirannya menjerumuskannya ke dalam kekacauan dan ketidakberaturan.

خامسا: اطّلاعه على التجارب والخبرات البشرية في القديم والحديث محاولاً قدر الطاقة اختزانها في عقله لكي يستطيع توظيفها التوظيف الأمثل إذا دعت الحاجة إلى ذلك، والحكمة ضالة المؤمن أنى وجدها فهو أحق بها.

سادسا: تحرره من التقليد الأعمى بكل صوره وأشكاله، فهو يستفيد من أشياخه وأقرانه وأصحابه وغيرهم، ثم ينطلق بفكره الحرّ يتلمّس مختلف السبل بعقلية ناضجة مستقلة؛ وليس كل الناس يقوى على ذلك؛ فأصحاب الفكر هم المعادن الكريمة النادرة، وهم القادرون على توجيه الأمة، وأما عامة الناس فأتباع مقلدون، وبين هؤلاء وأولئك فئام من الناس أخذوا من كل فريق بطرف.

Kelima: Menelaah riset-riset dan percobaan-percobaan manusia di masa lalu dan masa kini, disertai dengan usaha sekuat tenaga untuk mengingatnya di dalam akalnya, agar dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Hikmah kebijaksanaan adalah barang yang hilang dari seorang Mukmin, di manapun dia menemukannya, maka dialah yang paling berhak untuk mengambilnya.

Keenam: Membebaskan diri dari taklid buta dengan segala bentuk dan macamnya. Seseorang harus menimba manfaat dari para guru, teman, sahabat, dan orang lainnya; lalu beranjak dengan pikirannya yang merdeka untuk mencari titik temu dari berbagai pendapat yang berbeda dengan akal yang matang dan merdeka. Namun, tidak semua orang mampu melakukan itu, karena orang-orang yang cerdas bagaikan logam-logam mulia yang langka; dan merekalah orang-orang yang mampu mengarahkan umat ini. Adapun orang awam, maka mereka cukup menjadi pengikut. Lalu di antara dua golongan ini terdapat segolongan manusia yang memiliki sebagian sifat dari tiap-tiap golongan tersebut.

ضيق الأفق:

من الأدواء الفكرية المنتشرة عند كثير من الناس: ضيق الأفق، والنظر إلى المسائل المختلفة بسطحية مفرطة؛ فكم ينقبض صدر المرء حينما يرى من بعض الناس أن القضايا المصيرية العظيمة في مسيرة الأمة تؤخذ بعين الغفلة والسذاجة وقلة الفهم والبصيرة!.

ومن أبرز أسباب ضيق الأفق:

أولا: الجهل وقلَّة البضاعة

فكم جرَّ الجهل على أصحابه من المهالك والمفاسد! والجهل دركات بعضها أسوأ من بعض، وكلما ازداد المرء جهلاً ازداد تهالكاً وانحرافاً، وهل رأيت جاهلاً يقوى على إدراك حقائق الأشياء ومقاصدها، أو يقدر على قراءة الواقع واستشراف المستقبل؟!

Wawasan yang Sempit

Di antara penyakit-penyakit pikiran yang tersebar pada banyak orang adalah sempitnya wawasan, dan memandang berbagai permasalahan dengan cara pandang yang dangkal sekali. Betapa banyak orang yang sempit dadanya ketika melihat sebagian orang memandang masalah-masalah krusial dan besar dalam menentukan nasib umat ini dengan pandangan yang lalai dan polos, serta dengan pemahaman yang dangkal.

Di antara hal-hal paling penting yang menyebabkan sempitnya wawasan adalah:

Pertama: Kebodohan dan sedikitnya bekal ilmu. Betapa sering kebodohan itu menyeret pelakunya kepada kebinasaan dan kerusakan! Kebodohan memiliki tingkatan-tingkatan, sebagian tingkatan lebih buruk daripada sebagian lainnya. Semakin bodoh seseorang, maka semakin bertambah pula kedekatannya dengan kebinasaan dan penyimpangan. Apakah kamu pernah melihat orang jahil yang mampu memahami hakikat dan maksud dari banyak hal, atau mampu membaca realita dan memproyeksikan masa depan?!

ثانيا: قلة الفهم والوعي؛ وهما أمران زائدان على مجرَّد الجهل، فرُبَّ صاحب علْم لا يفيده علمه كبيرَ فائدةٍ بسبب ضعف فهمه وعسر إدراكه؛ لأنّه وقف عند حروف الألفاظ، ولم ينفذ إلى معانيها ومراميها، والفهم بضاعة نادرة لا يؤتاها إلا أصحاب العقل الراسخ والبصر النافذ، وصاحب الفهم يفتح الله عليه من إدراك النصوص والوقائع ما لا يخطر على بال غيره، قال ابن القيم رحمه الله: “ربّ شخص يفهم من النص حكماً أو حكمَيْن، ويفهم منه الآخر مائة أو مائتين”.

Kedua: Rendahnya pemahaman dan kesadaran. Dua hal ini adalah tambahan daripada sekedar bodoh. Bisa jadi orang yang berilmu tidak mendapatkan manfaat yang besar dari ilmunya, akibat kelemahannya dalam memahami dan kesulitannya dalam menyadari; karena dia hanya terhenti pada kalimat-kalimat secara tekstual, dan tidak masuk ke dalam makna-makna dan tujuan-tujuannya. Pemahaman adalah barang langka, yang tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang memiliki akal yang kokoh dan pandangan yang tajam. Orang yang memiliki pemahaman akan dibukakan Allah baginya pemahaman terhadap teks-teks dan kejadian-kejadian yang tidak pernah terlintas di pikiran orang lain. Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Bisa jadi seseorang memahami satu atau dua hukum dari satu nash, tapi orang lain memahami darinya seratus atau dua ratus hukum.”

ثالثا: الرتابة في التفكير ورؤية المسائل، والاعتماد على المألوف المعتاد فقط، وهذا بالتأكيد يجعل الإنسان أسيراً في بيت مغلق، كما يجعله في عزلة فكرية يحبس فيها عقله، فلا يقوى على النظر والإبداع والتجديد.

رابعا: التربية التقليدية الهزيلة التي تنتشر في كثير من المحاضن التربوية، وتشكل عقول الناس تشكيلاً يقتل معظم ملكات الإبداع والتفكير.

Ketiga: Monoton dalam berpikir dan memandang berbagai permasalahan, serta hanya bersandar dengan kebiasaan saja. Hal ini tentu saja menjadikan seseorang tertawan di dalam ruangan tertutup, seakan-akan dia menjadikan dirinya berada dalam ruang isolasi pemikiran, dia mengurung akalnya di dalam ruangan tersebut, sehingga tidak mampu melakukan pencermatan, kreatifitas, dan pembaharuan.

Keempat: Metode pendidikan konvensional yang lemah yang tersebar di banyak pusat Pendidikan. Ia membentuk akal manusia ke dalam bentuk yang membunuh mayoritas kemampuan berkreasi dan berpikir.

خامسا: التقليد الأعمى الذي يسد منافذ التفكير، ويجعل المرء مجرد تابع لغيره، فلا يستطيع أن يبني رأيه وفكره بناءً صحياً متجرداً؛ ولهذا تجد أنّ المقلد لشيخ أو لمذهب أو لطائفة من أكثر الناس ضيقاً في الأفق؛ وذلك لأنه لم ينظر إلا من نافذة واحدة، ولم يفكر إلا من زاوية محدودة، وتراه يتنقل بين سراديب ضيقة تنتهي به أخيراً إلى بلادة ذهنية تعصف بتفكيره وتجعله أحياناً يقتنع بالشيء ونقيضه في آن واحد!

Kelima: Taklid buta yang menutup jendela berpikir. Ia membuat seseorang hanya sekedar menjadi pengikut bagi orang lain, sehingga dia tidak mampu untuk membangun logika dan pikirannya dengan cara yang benar dan objektif. Oleh sebab itu, kamu akan mendapati orang yang taklid buta kepada Syaikh, mazhab, atau golongan tertentu adalah orang yang paling sempit wawasannya. Hal ini karena dia tidak memandang kecuali dari satu jendela saja, dan tidak berpikir kecuali dari satu sudut pandang saja. Kamu akan melihatnya berpindah-pindah di antara lubang sempit yang pada akhirnya mengantarkannya kepada ketumpulan akal yang menerjang pola pikirnya; dan terkadang keadaan itu menjadikannya puas dengan suatu hal dan kebalikannya sekaligus dalam waktu yang sama! 

سادسا: الاكتفاء بالنظر إلى ظواهر الأمور المجردة، والتعلق بقشورها القريبة، دون النفاذ إلى أعماقها، أو النظر إلى أبعادها ومقاصدها، ويؤدي ذلك إلى الاغترار بالشكل والبهرج على حساب الحقائق والمضامين؛ مما يحجب الرؤية بغمامة معتمة تطغى على البصيرة، وكم من الأشياء من حولنا نراها في مظهرها الخارجي رؤية معينة، ولكننا إذا تجاوزنا ذلك إلى دواخلها، وأزلنا القشرة الرقيقة التي تحيط بها تبينت لنا صورة أخرى مختلفة وبعيدة كل البعد عن الصورة الأولى. وانظر إلى صفة المنافقين في القرآن: {وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ} [المنافقون من الآية:4]، فهل تكفي هذه الصفة الظاهرية لأجسامهم وأقوالهم في إعطاء تصور صحيح متكامل عن هؤلاء القوم؟! بالتأكيد لا تكفي؛ فالقرآن يوضح حقيقة هذا المظهر: {هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ} [المنافقون من الآية:4].

ونظير ذلك أيضاً: الاغترار بالكم على حساب الكيف، وانظر مثلاً إلى قول الله تعالى :{وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئاً} [التوبة: من الآية25] ، ثم قارن ذلك بقوله تعالى: {إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ} [الأنفال: من الآية65]، ويتضح من ذلك أن معاني الأمور ومقاصدها الصحيحة تتجلى في حقائقها ومعادنها الأصيلة.

وليس المقصود هنا أن الشكل الظاهري أو الكم مرفوضان كلية؛ ولكن المقصود التحذير من الاكتفاء بهما، أو الوقوف عند حدودهما فحسب.

Keenam: Mencukupkan diri dengan memandang kepada penampakan luar saja, terpaut dengan kulit dangkalnya saja, tanpa menyelam ke dalam kandungannya atau mencermati dimensi-dimensi dan maksud-maksud lainnya. Hal ini menyebabkan seseorang terlena dengan bentuk dan penampilan luar saja, dan mengesampingkan hakikat dan kandungannya, yang menyebabkan pandangan menjadi tertutup oleh awan gelap yang menyelimuti pikiran. Betapa banyak hal di sekitar kita yang kita lihat penampilan luarnya dengan perspektif tertentu; tapi seandainya kita melihatnya lebih dalam lagi dan kita singkap kulit luar tipis yang menyelimutinya, niscaya akan tampak bagi kita bentuk lain yang jauh berbeda daripada dengan perspektif kita sebelumnya. Perhatikanlah sifat orang-orang munafik yang ada dalam al-Quran:

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka …” (QS. Al-Munafiqun: 4)

Namun, apakah cukup sifat yang tampak dari tubuh dan ucapan mereka dalam memberi prespektif yang benar yang menyeluruh tentang mereka? Tentu tidak cukup, karena al-Quran menjelaskan hakikat dari penampilan ini:

هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

“… Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Al-Munafiqun: 4)

Semisal dengan hal ini adalah tertipu dengan jumlah (kuantitas) dan mengesampingkan kualitas. Sebagai contoh, firman Allah Ta’ala:

وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئاً

“… dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu pada waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun …” (QS. At-Taubah: 25). Lalu bandingkanlah dengan firman Allah Ta’ala:

إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ

“Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh …” (QS. Al-Anfal: 65)

Hal ini menjelaskan bahwa makna-makna dan tujuan-tujuan yang benar dapat tampak di dalam hakikat dan intisarinya. Namun, yang dimaksud di sini bukanlah penampilan luar dan jumlah harus ditolak sepenuhnya, tapi yang dimaksud adalah peringatan dari mencukupkan diri dengan dua hal itu atau hanya berhenti pada batas dua hal itu saja.

سابعا: النظرة الجزئية الضيقة التي تختزل المسائل الكبيرة إلى إطار محدود صغير؛ مما يؤدي بالتأكيد إلى تكوُّن تصور هزيل مبتور لا يمثل إلا جزءاً يسيراً من الحقيقة، بل قد يؤدي هذا التصور إلى تشويه الحقيقة بسبب نقصها وافتقارها للنظرة الشمولية المتكاملة.

ثامنا: الخلط في تقدير المصالح والمفاسد، والجهل في ترتيب الأولويات؛ مما قد يؤدي إلى التعلق بالمصلحة القريبة العاجلة، وإن ترتب عليها مفاسد كبيرة في العاجل والآجل، أو يؤدي إلى تقديم المصالح المفضولة على حساب المصالح الفاضلة.

(نسأل الله الكريم أن ينور بصائرنا ويلهمنا الرشد والسداد في القول والعمل، وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله محمد وآله وصحبه أجمعين).

Ketujuh: Pandangan parsial dan sempit yang dapat mengasingkan masalah-masalah besar ke dalam lingkup yang kecil dan terbatas. Hal ini tentu menyebabkan terbentuknya perspektif yang lemah dan cacat, yang hanya mewakili bagian kecil dari hakikat. Bahkan, terkadang perspektif ini menyebabkan penyelewengan hakikat, akibat kurang dan lemahnya pandangan yang menyeluruh dan kompleks.

Kedelapan: Kerancuan dalam mengukur kebaikan dan keburukan, dan ketidaktahuan dalam menyusun prioritas. Hal ini terkadang menyebabkan ketergantungan kepada kemaslahatan yang instan, meskipun itu mengakibatkan kerusakan besar pada waktu dekat atau nanti suatu saat, atau mengakibatkan pengutamaan maslahat yang tidak utama sehingga mengesampingkan maslahat yang utama.

Kita mohon kepada Allah Yang Maha Pemurah agar menyinari hati kita dan mengilhamkan kepada kita petunjuk dan kebenaran dalam ucapan dan perbuatan. Selawat, salam, dan keberkahan semoga tercurah kepada hamba dan rasul-Nya, Muhammad; dan kepada keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya.

*) Diterjemahkan oleh tim penerjemah Yufid dari website IslamWeb.net

Sumber: 

https://www.islamweb.net/ar/article/221527/سعة-الأفق

sumber : https://konsultasisyariah.com/44293-6-tips-agar-berwawasan-luas.html

Sedekah adalah Bukti Keimanan

Salah satu cara kita mengetahui kadar keimanan kita adalah dengan melihat apakah kita suka bersedekah atau tidak. Bersedekah tidak harus banyak dan tidak harus dengan uang, sehingga tidak kaya atau tidak punya uang bukanlah menjadi alasan kita untuk tidak bersedekah. Bersedekah dengan uang Rp 10.000, Rp 20.000, atau Rp 50.000 itu sudah cukup. Atau bersedekah dengan beras yang kita miliki sebanyak satu kilo atau dua kilo, ini pun sudah cukup.

Sedekah adalah bukti keimanan. Bukti keimanan kita terhadap hari akhir, bahwasanya kelak di hari kiamat kita akan mendapat balasan pahala dari Allah, meskipun di dunia kita tidak mendapatkan apa-apa. Kita lelah bekerja mencari uang dan harta, lalu uang tersebut kita berikan tanpa kompensasi dan kita hanya berharap balasan di hari kiamat kelak.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut bahwa sedekah itu adalah bukti keimanan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

وَالصَّلَاةُ نُورٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

“Shalat adalah cahaya, sedekah merupakan bukti, sabar itu sinar panas, sementara Al-Qur’an bisa menjadi pembelamu atau sebaliknya, menjadi penuntutmu” (HR. Muslim).

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa penamaan sedekah karena satu akar kata dengan kata “ash-Shidqu” (huruf ص, د, ق) yaitu jujur. Sehingga sedekah menunjukkan kejujuran iman seseorang dan ini adalah bukti. Beliau rahimahullah berkata,

أي: دليل على صحة إيمان صاحبها، وسميت صدقة؛ لأنها دليل على صدق إيمانه، وبرهان على قوة يقينه.

“Sedekah adalah dalil atas kebenaran keimanan seseorang. Itulah mengapa dinamakan sedekah karena menunjukkan jujurnya keimanan seseorang dan bukti kuatnya keyakinannya” (Syarh Muslim, 3: 86).

Yang menguatkan juga bahwa sedekah adalah bukti keimanan yaitu manusia sangat cinta terhadap harta yang didapatkannya. Sehingga manusia punya sifat dasar tidak ingin berpisah dengan harta yang dia miliki. Hanya keimanan yang kuat yang bisa melawan hal ini. Begitu besarnya cinta manusia terhadap harta, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut harta sebagai fitnah terbesar bagi umatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (ujian), dan fitnah umatku adalah harta” (HR. Bukhari).

Sedekah adalah bukti keimanan, sedangkan sifat pelit dan kikir itu sebaliknya. Oleh karena itu, dua hal ini tidak akan menyatu dalam keimanan seorang mukmin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَـجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيْمَانُ فِـيْ قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا.

“Tidak akan pernah berkumpul antara kekikiran dan iman di hati seorang hamba selama-lamanya” (HR. Ahmad. Lihat Shahih al-Jaami’ Ash-Shaghir no. 7616).

Seorang mukmin yang bersedekah juga yakin dengan keimanannya bahwa Allah akan mengganti harta yang telah disedekahkan dengan balasan yang jauh lebih baik.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya. Dan Dia-lah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

Tidak hanya itu, seorang mukmin yang bersedekah juga yakin bahwa apa yang disedekahkan akan diberi balasan yang berlipat ganda oleh Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّـهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّـهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّـهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS Al-Baqarah: 261).

Seorang muslim yang bersedekah juga yakin dengan keimanannya bahwa hartanya tidak akan berkurang dengan sedekah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ

“Harta seorang hamba tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR Tirmidzi. Lihat Shahih Sunan Ibni Majah).

Syaikh Muhammad Al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan bahwa harta yang disedekahkan akan bertambah berkahnya. Beliau rahimahullah berkata

تصدق بها منه بل يبارك له فيه

“Harta yang disedekahkan akan diberkahi (diberikan kebaikan yang banyak)” (Tuhfatul Ahwadzi, 6: 212).

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa sedekah bisa menambah harta kita (misalnya bisnis menjadi lebih lancar) dan Allah Ta’ala akan menggantikan harta tersebut dengan yang lebih baik. Beliau rahimahullah berkata,

فالصَّدقات يزيد الله بها الأموال، ويُنزل بها البركة، ويُعَوِّض الله فيها صاحبها الخير العظيم

“Dengan sedekah, Allah akan menambahkan hartanya, Allah turunkan keberkahan dan Allah akan gantikan hartanya dengan kebaikan yang besar” (Syarh Riyadhus Shalihin, https://binbaz.org.sa/audios/2514/191).

Demikian, semoga bermanfaat.

@ Lombok, Pulau seribu masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/60461-sedekah-adalah-bukti-keimanan.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

[Kitabut Tauhid 7] 25 Bahaya ghuluw terhadap orang shalih 09

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Dimasukkannya Ahlul Kitab sebagai objek Dakwah Tauhid menunjukkan bahwa mereka telah menyimpang dari Dakwah Tauhid yang diajarkan oleh Nabi-Nabi mereka. Bahkan Allâh -‘Azza wa Jalla- telah membatalkan agama mereka dan mengharuskan mereka mengikuti dakwah Nabi Kita Muhammad -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  2. Nama Ahlul Kitab adalah julukan di dalam Al-Quran yang ditujukan untuk Yahudi dan Nashrani, karena yang dimaksud dengan kitab disana adalah Taurat dan injil. Allâh -‘Azza wa Jalla- dan Rasul-Nya menyebut mereka sebagai Ahlul Kitab bersamaan dengan kerusakan agama mereka dan kekafiran mereka.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“