Untuk Pasangan Suami-Istri: Permintaan Maaf Dapat Merobohkan Tembok Penyekat

للزوجين: الاعتذار يحطم الأسوار

Oleh:

Sahr Fuad Ahmad

سحر فؤاد أحمد

كثيراً ما يأخذنا الكبرياء والغرور ولا نملك القدرة على أن نرى أنفسنا مخطئين، اعتقادا منا أن الاعتراف بالخطأ والاعتذار عنه دليل ضعف مما يباعد بيننا وبين الآخرين وقد تتجمد العلاقات وتنقطع جسور التواصل معهم لأننا لم نبادر بكلمة صادقة للاعتذار.

Sering kali kita terbawa oleh perasaan sombong dan angkuh, dan kita tidak punya kemampuan untuk melihat diri kita bersalah, dengan keyakinan bahwa mengakui kesalahan dan memohon maaf atas kesalahan itu merupakan tanda kelemahan. Padahal ini menjadi salah satu hal yang memperjauh jarak antara kita dengan orang lain, bahkan bisa jadi hubungan menjadi dingin dan terputusnya jembatan penghubung dengan mereka, karena kita tidak segera mengerahkan ucapan yang tulus untuk meminta maaf.

إن جملة “أنا آسف” غالباً ما تصفي الأجواء وتفتح الأبواب أمام التسامح والتواصل، وتمنح فرصة للبدء من جديد، كما أنها تجلب الثقة والأمانة والتواضع وهذه من أجمل الصفات التي يمكن أن يتشاركها الناس.

Kalimat “Saya minta maaf” sering kali mampu menjernihkan suasana, membuka pintu saling memaafkan dan kembali menjalin hubungan, memberi kesempatan untuk memulai kembali lembaran baru, sebagaimana ia juga mampu mengundang kepercayaan diri, sikap amanah, dan rendah hati. Ini tentu merupakan sifat-sifat terpuji yang dapat dibagi dengan banyak orang.

وإذا كان الاعتذار يعد مطلبا لدوام أية علاقة فما بالنا بالعلاقات الزوجية التي تنمو وتقوى بالمودة والرحمة والتسامح فعلى كلا الزوجين ألا يقف لصاحبه بالمرصاد ليتصيد أخطاءه، ومن ثم يدبر له ليرد الخطأ بخطأ أكبر، ويظل كلاهما يدور في دائرة من الأخطاء انتظارا لاعتذار شريكه المكابر، وقد لا يسوؤه ارتكاب شريكه للخطأ بقدر ما يسوؤه عدم اعتذاره عنه!!

Apabila permintaan maaf termasuk unsur pokok dalam keberlangsungan hubungan apapun, maka bagaimana menurutmu dengan hubungan dalam rumah tangga yang hanya bisa tumbuh dan menguat dengan hadirnya rasa cinta, kasih sayang, dan toleransi? Sehingga setiap suami dan istri janganlah menanti-nanti kesalahan timbul dari pasangannya dan bahkan menyusun langkah untuk menjerumuskannya ke dalam kesalahan, agar ia mampu membalas kesalahan dengan kesalahan yang lebih besar itu, sehingga kedua pihak itu terus berkutat dalam lingkaran kesalahan untuk menunggu permohonan maaf dari pasangannya yang enggan meminta maaf.

Bahkan bisa jadi ia merasaan terganggu atas kesalahan yang diperbuat oleh pasangannya tidak lebih besar daripada perasaan terganggunya ketika pasangannya tidak meminta maaf atas kesalahan itu.

كثير من المشكلات الزوجية تبدأ بمكابرة أحد الزوجين – لا سيما الزوج – والامتناع عن الاعتذار لشريكه عندما يغضبه فأغلب الرجاليقاومون الاعتذار ولا يحبون الاعتراف بالخطأ، إذ يعتبرون لحظة الاعتذار منأصعب اللحظات في حياتهم. وهذا ما يؤكده الدكتور كود وول المتخصص في العلاقات الزوجية بقوله: معظم الرجال يشعرون بأن قدراً كبيراً منهيبتهم سيضيع إذا قدموا اعتذاراً أو اعترفوا بخطأ.. فالمخطئ لابد أن يكون هو الخاسر، والرجال يكرهون الخسارة.

Banyak masalah rumah tangga timbul dari keangkuhan salah satu dari suami dan istri —terlebih lagi dari pihak suami— dan kegengsian untuk meminta maaf kepada pasangannya saat membuatnya marah.

Mayoritas suami akan gengsi untuk meminta maaf dan tidak suka mengakui kesalahannya, karena mereka menganggap meminta maaf merupakan momen tersulit dalam hidup mereka. Inilah yang ditegaskan oleh Dr. Coldwell, spesialis dalam bidang relationship, yang berkata, “Mayoritas kaum pria merasa bahwa sebagian besar kewibawaan mereka akan hilang jika mereka mengajukan permohonan maaf atau mengakui kesalahan, karena orang yang salah pasti kalah, sedangkan kaum pria tidak menyukai kekalahan.”

وهناك نموذج آخر من الأزواج يستعجلون الاعتذار حتى لو لم يُطلب منهم، ليس لأنهم يشعرون بوجوب الاعتذار عن أخطاء وقعوا فيها ولكن لينهوا الشجار والجدال بأسرع ما يمكن، وكان يمكن اعتبار هؤلاء علي درجة كبيرة منالحصافة والحكمة لو أنهم استطاعوا إخفاء هذا السبب.. إلا أن ما يدعو للأسف والآسيأنهم يحرصون علي إظهاره!

Namun, ada model lain dari suami, yaitu yang terburu-buru meminta maaf meski tidak diminta untuk melakukan itu. Ini bukan karena mereka sadar akan keharusan untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah mereka lakukan, tapi karena mereka ingin segera menyelesaikan perselisihan dan perdebatan secepat mungkin.

Suami model ini mungkin bisa disebut punya kadar yang besar dari keteguhan dan kebijaksanaan seandainya mereka mampu menyembunyikan sebab perilaku ini. Hanya saja, sangat disayangkan bahwa yang mendorong mereka melakukan itu adalah semangat mereka dalam menunjukkan kesalahan.

يقول د.سيد صبحي أستاذ الصحة النفسية:

إن الاعتذار مطلوب ومن يخطئ لابد أن يعتذر فليس هناك مكابرة وإلا فإن الشخص الذي يرفض الاعتذار يصبح بغيضاً في نظر الآخرين.. والاعتذار سلوك حضاري بين الناس عامة والزوجين خاصة. فالزوج الذي يخطئ عليه أن يسعى بدافع من شعوره الراقي أمام زوجته بالاعتذار، والذي يرفض الاعتذار لزوجته لأن كرامته ورجولته لا تسمحان بذلك، فإن يعتبر مريضاً نفسياً.. فالكرامة الفعلية السامية هي أن نعتذر إذا أخطأنا.

Dr. Sayyid Subhi, seorang pakar kesehatan mental berkata, “Meminta maaf merupakan sesuatu yang diharuskan. Barang siapa yang melakukan kesalahan, harus meminta maaf. Tidak perlu ada kegengsian, sebab orang yang menolak meminta maaf akan menjadi orang yang dibenci dalam pandangan orang lain.

Meminta maaf merupakan karakter beradab, baik itu antarsesama manusia secara umum atau antara suami istri secara khusus. Suami yang melakukan kesalahan harus berusaha —meski dengan dorongan perasaan terhormatnya di depan istrinya — untuk meminta maaf.

Orang yang menolak untuk meminta maaf kepada istrinya karena alasan kehormatan dan kejantanannya tidak membiarkannya melakukan itu, maka ia termasuk orang yang punya gangguan kejiwaan, karena kehormatan yang tertuang dalam tindakan yang terpuji adalah dengan meminta maaf jika kita melakukan kesalahan.”

أما الدكتور يسرى عبد المحسن أستاذ علم النفس بجامعة عين شمس فيقول أن تعاليمنا الدينية تدفعنا للاعتذار، والله عز وجل يقبل التوبة من عبادة والاستغفار معنى ذلك أن الإنسان إذا أخطأ في حياته الدنيوية عليه أن يتراجع عن خطئه وباب الاعتذار مفتوح. والاعتذار ليس عيباً بقدر ما يعنى شجاعة المعتذر وقوته وتمتعه بشخصية سوية متكاملة، ومعرفته حدود نفسه وشعوره بالآخرين.

Sedangkan Dr. Yusro Abdul Muhsin, pakar ilmu psikologi di Universitas Ain Syams berkata, “Ajaran-ajaran agama kita mendorong kita untuk meminta maaf. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Menerima tobat dan permohonan ampun dari para hamba-Nya, maknanya bahwa apabila manusia berbuat kesalahan dalam kehidupan duniawinya, hendaklah ia berhenti dari perbuatan salah itu, dan pintu permohonan maaf tetap terbuka baginya.

Meminta maaf bukanlah suatu aib karena itu menunjukkan keberanian dan keteguhan orang yang meminta maaf, dan menjadi tanda bahwa ia memiliki kepribadian yang normal dan sempurna, dan bukti pengetahuannya terhadap batas-batas dirinya dan perasaannya terhadap orang lain.”

ويؤكد الخبير الاجتماعي الدكتور أحمد المجدوب أن الرجولة تحتم على الزوج أن يعتذر إذا أخطأ فى حق زوجته أو أي شخص آخر، فالرجولة تعنى الصدق والشهامة. وعندما يعتذر الرجل فإنه لا يسقط من عين زوجته أو يهون أمره عليها، بل ترتفع قيمته في نظرها ويعلمها درساً في الأمانة والشهامة واحترام الذات. والاعتذار ليس ضعفاّ بل الضعف أن تخفى خطأك وتظل تكابر، أما الرجل الذي يثق بنفسه ويحترم ذاته فإنه لا يجد غضاضة في أن يعتذر ووقتها سوف يصبح قدوة لزوجته.

Hal ini ditegaskan juga oleh pakar sosiologi, Dr. Ahmad Al-Majdub bahwa sikap jantan mengharuskan suami untuk meminta maaf apabila berbuat kesalahan terhadap hak istrinya atau siapa pun itu. Sebab, kejantanan berarti sikap benar dan gagah. Ketika suami meminta maaf, kehormatannya tidak akan jatuh di hadapan istrinya atau menjadi rendah baginya. Bahkan, justru nilainya akan semakin tinggi di pandangan istri, dan itu sekaligus mengajarkan kepada istri sikap amanah, kegagahan, dan penghormatan diri.

Meminta maaf bukanlah kelemahan, dan justru kelemahan adalah menyembunyikan kesalahanmu dan terus mengelak untuk meminta maaf. Adapun suami yang percaya diri dan menghormati dirinya tidak akan merasa menahan diri untuk meminta maaf, dan pada waktunya ia akan menjadi teladan bagi istrinya.”

فإن كنتما تعتقدان أن عزة النفس والكرامة لا تسمح بالمبادرة وتقديم الاعتذار فإن هناك طرقا غير مباشرة تساعدكما على ذلك:

• عندما يترك أحدكما شريكه غاضبا، لا يرجع إلى البيت من دون هدية ولتكن وردة تعبر عما يجيش في النفس.

• يمكن كتابة عبارة اعتذار على قالب من الكيك وتقديمه مع الشاي في المساء.

• النزهات تجدد الروح والحياة وتبعد العصبية والروتين والملل.

• إن كان لا بد من العتاب.. فلينصت كلاكما للآخر ولا ضير إن قلت لشريكك “معك حق”.

• استعيدا مواقف طريفة مضحكة حدثت معكما أو مع أحدكما منفرداً.. فالضحك وسيلة مهمة للتواصل العاطفى الإيجابى ومناسبة للتجديد وصفاء النفس والروح.

• تقبل الاعتذار بصدر رحب.

Apabila kalian berdua —wahai suami dan istri— meyakini bahwa kemuliaan dan kehormatan diri tidak membiarkan kalian untuk segera mengajukan permintaan maaf, maka ada banyak cara tidak langsung yang dapat membantu kalian untuk meminta maaf, di antaranya:

  • Ketika salah satu dari kalian meninggalkan pasangannya dalam keadaan marah, janganlah kamu pulang ke rumah tanpa membawa hadiah, bisa berupa bunga mawar sebagai bentuk ungkapan atas perasaan yang terpendam dalam hati.
  • Mungkin juga dengan menulis ungkapan permintaan maaf di atas sepotong kue dan menyuguhkannya bersama secangkir teh pada sore hari.
  • Rekreasi yang dapat menyegarkan ruh dan hidup, dan menghilangkan ketegangan, rutinitas, dan kebosanan.
  • Apabila harus ada pertengkaran, maka hendaklah masing-masing berusaha untuk diam. Dan apa salahnya jika kamu mengatakan kepada pasanganmu, “Ya, kamu memang benar!”
  • Ceritakan kembali momen-momen unik dan lucu yang terjadi antara kalian atau salah satu dari kalian, karena canda tawa merupakan cara penting untuk membangun hubungan perasaan yang positif, dan cocok untuk menyegarkan dan menjernihkan perasaan dan jiwa.
  • Menerima permintaan maaf dengan lapang dada.

يرفض الكثيرون تقديم الاعتذار خشية عدم إحسان القبول من الطرف الآخر، الذي قد لا يعير الأمر اهتماما، أو يرد متعاليا ببعض التعليقات التي تقلل من شأن الاعتذار، وقد يفشل تماما في قبول الاعتذار !! ولا شك أن عدم المرونة أو القدرة على تقبل الاعتذار يزيد المشكلة تعقيدا إن لم يتسبب في مشكلات جديدة، فالمخطئ سيصبح في المستقبل أقل مبادرة بالاعتذار، وقد يتمادى في أخطائه لاستفزاز الطرف الآخر.

Banyak orang yang menolak untuk mengajukan permintaan maaf karena takut tidak diterima dengan baik oleh pihak lain yang mungkin tidak menganggap itu penting, atau membalasnya dengan angkuh disertai komentar-komentar yang merendahkan permintaan maaf. Bahkan, bisa jadi permintaan maaf benar-benar ditolak sepenuhnya!

Tidak diragukan lagi bahwa ketidakmampuan untuk menerima permintaan maaf dapat memperumit masalah yang ada, kalau memang tidak menyebabkan masalah-masalah baru. Hal ini akan membuat orang yang bersalah suatu saat nanti lebih lambat dalam meminta maaf, atau bahkan terus melakukan kesalahannya untuk menyinggung pihak lain.

إن كلا من تقديم وقبول الاعتذار أجزاء مكملة لعلاقة جميلة وقوية، فالاعتذار فرصة رائعة لتعميق الحب والمشاركة، فعندما نقبل الاعتذار يكون هناك احتمال أكبر بأن يقبل شريك الحياة اعتذارنا عندما يأتي علينا الدور لنعتذر.

Mengajukan dan menerima permohonan maaf merupakan bagian yang saling melengkapi dalam hubungan yang baik dan kuat; karena permohonan maaf merupakan kesempatan bagus untuk memperdalam rasa cinta dan kebersamaan. Ketika kita menerima permintaan maaf, akan ada kemungkinan besar di masa depan bahwa pasangan hidup kita juga akan menerima permintaan maaf kita saat datang giliran kita untuk meminta maaf.

Sumber:

https://www.alukah.net/للزوجين: الاعتذار يحطم الأسوار

Dilarang Tidur Setelah Asar?

Hukum Tidur Setelah Asar

Assalamualaikum, pak ust, pernah denger ada yg bilang tidur hbs asar dilarang, Krn bs bikin gila? Apa bener Ust? Trimks

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah. Amma ba’du.

Hadis terkenal yang sering dijadikan dalil dalam hal ini adalah,

من نام بعد العصر فاختلس عقله فلا يلومن إلا نفسه

Siapa yang tidur setelah asar, lalu hilang akalnya, maka jangan salahkan kecuali dirinya sendiri.

Hadis ini dinilai do’if bahkan palsu (maudhu’) oleh para ulama. Diantaranya Syekh Albani, beliau mengkategorikan hadis ini dalam deratan hadis-hadis do’if, nomor 39 di buku beliau “Silsilah Al-Ahadis Ad-Do’ifah” (1/112).

Ibnul Jauzi menilai hadis ini palsu dalam buku beliau “Al-Maudhu’at” (Hadis-hadis palsu). Beliau mengatakan,

لا يصح ، خالد كذاب ، والحديث لابن لهيعة فأخذه خالد ونسبه إلى الليث

Hadis ini tidak shahih, Kholid (salah seorang perowi hadis ini) adalah pendusta, hadis ini bersumber dari Ibnu Lahi’ah, lalu diklaim Kholid dia riwayatkan dari Laits. (Al-Maudhu’at 3/69).

Demikian pula riwayat-riwayat lain berkaitan larangan tidur setelah asar, tidak ada yang valid. Dalam situs Islamqa.info (situs ilmiah asuhan Syekh Muhammad Sholih Al Munajid) dijelaskan,

لم يصح في أمر النوم بعد العصر ، مدحا أو ذما ، حديث عن النبي صلى الله عليه وسلم ، ولا عن أصحابه..

Tidak hadis atau riwayat dari sahabat yang shahih berkaitan tidur setelah asar, baik berisi pujian (perintah) atau celaan (tidur setelah asar).

Mengingat tidak adanya hadis shahih yang melarang tidur setelah asar, maka kembali ke hukum asal perkara duniawi, yaitu mubah, alias boleh saja dilakukan. Seperti diterangkan dalam kaidah fikih,

الأصل في الأشياء الإباحة

Hukum asal perkara duniawi adalah mubah.

Dalam Fatawa Lajnah Da-imah (26/148) (Lembaga fatwa kerajaan Saudi Arabia) diterangkan

النوم بعد العصر من العادات التي يعتادها بعض الناس ، ولا بأس بذلك ، والأحاديث التي في النهي عن النوم بعد العصر ليست بصحيحة

Tidur setelah asar adalah kebiasaan sebagian orang, dan tidak terlarang tidur setelah asar. Hadis-hadis yang menerangkan larangan tidur setelah asar tidak ada yang shohih. (Dikutip dari : Islamqa)

Syekh Ibnu Baz rahimahullah juga menjelaskan,

لا نعلم فيه شيئًا، نوم العصر لا نعلم فيه شيئًا ولا حرج فيه، كل الأوقات لا نعلم فيها شيء، إلا المغرب كره النوم قبلها عليه الصلاة والسلام، كان يكره النوم قبلها أي قبل العشاء والحديث بعدها.

Kami tidak mengetahui dalil larangan tidur setelah asar. Tidak mengapa tidur setelah asar. Kami tidak mengetahui adanya dalil yang melarang tidur di waktu apa saja kecuali waktu Maghrib, Nabi ﷺ memakruhkan tidur sebelum Isya dan mengobrol setelah Isya.

(https://binbaz.org.sa/fatwas/1641/حكم-النوم-بعد-العصر)

Sekian.
Wallahua’lam bis showab.

Referensi : https://islamqa.info/amp/ar/answers/99699)

****

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni UIM dan Pengasuh PP. Hamalatul Quran, DIY)

sumber: https://konsultasisyariah.com/34490-dilarang-tidur-setelah-asar.html

Adab Makan dan Minum Sesuai Tuntunan Rasulullah

Seorang muslimah makan sambil berjalan, makan dengan tangan kiri, tanpa berdoa, bahkan menyisakan makanan, hal ini seakan sudah menjadi pemandangan umum di kantin-kantin kampus. Betapa miris hati ini melihatnya. Bila amal ibadah yang ringan saja sudah ditinggalkan dan disepelekan, bagaimana dengan amalan yang besar pahalanya? Atau mungkinkah karena hal itu hanya merupakan suatu ibadah yang kecil kemudian kita meninggalkannya dengan alasan kecilnya pahala yang akan kita peroleh? Tidak begitu, Saudariku … Yang sedikit apabila rutin dilakukan, maka akan menjadi banyak! Allah Ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوٓا۟ أَعْمَٰلَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul, dan janganlah kamu merusakkan segala amalmu.” (QS. Muhammad: 33)

Cukuplah firman Allah Ta’ala tersebut menjadi nasihat bagi kita semua untuk selalu berusaha menaati perintah Allah dan perintah Rasul-Nya, baik perintah wajib maupun anjuran (sunah) atau perintah untuk menjauhi perkara yang dilarang. Saat ini, banyak kita jumpai seorang muslim yang menyepelekan amalan sunah, namun berlebihan pada perkara yang mubah. Maka perhatikanlah firman Allah Ta’ala,

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Dan di antara perintah dan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah adab ketika makan dan minum.

Adab ketika Makan dan Minum

[1] Memakan makanan dan minuman yang halal. Saudariku, hendaknya kita memilih makanan yang halalAllah Ta’ala telah memerintahkan kepada kita agar memakan makanan yang halal lagi baik. Allah Ta’ala telah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلرُّسُلُ كُلُوا۟ مِنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَٱعْمَلُوا۟ صَٰلِحًا ۖ إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Hai para rasul, makanlah yang baik-baik, dan kerjakanlah amal saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mu`minun: 51)

[2] Mendahulukan makan daripada salat jika makanan telah dihidangkan. Yang dimaksud dengan telah dihidangkan yaitu sudah siap disantap. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila makan malam telah dihidangkan dan salat telah ditegakkan, maka mulailah dengan makan malam dan janganlah tergesa-gesa (pergi salat) sampai makanmu selesai.” (Muttafaqun ‘alaih)

Faidahnya supaya hati kita tenang dan tidak memikirkan makanan ketika salat. Oleh karena itu, yang menjadi titik ukur adalah tingkat lapar seseorang. Apabila seseorang sangat lapar dan makanan telah dihidangkan, hendaknya dia makan terlebih dahulu. Namun, hendaknya hal ini jangan sering dilakukan.

[3] Tidak makan dan minum dengan menggunakan wadah yang terbuat dari emas dan perak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang minum pada bejana perak, sesungguhnya ia mengobarkan api neraka Jahanam dalam perutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam salah satu riwayat Muslim disebutkan, “Sesungguhnya orang yang makan atau minum dalam bejana perak dan emas …”

[4] Jangan berlebih-lebihan dan boros. Sesungguhnya berlebih-lebihan adalah di antara sifat setan dan sangat dibenci Allah Ta’ala sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Isra` ayat 26-27 dan Al-A’raf ayat 31. Berlebih-lebihan juga merupakan ciri orang-orang kafir sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang mukmin makan dengan satu lambung, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh lambung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[5] Mencuci tangan sebelum makan. Walaupun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencontohkan hal ini, namun para salaf (generasi terdahulu yang saleh) melakukan hal ini. Mencuci tangan berguna untuk menjaga kesehatan dan menjauhkan diri dari berbagai penyakit.

[6] Jangan menyantap makanan dan minuman dalam keadaan masih sangat panas ataupun sangat dingin karena hal ini membahayakan tubuh. Mendinginkan makanan hingga layak disantap akan mendatangkan berkah berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam“Sesungguhnya yang demikian itu dapat mendatangkan berkah yang lebih besar.” (HR. Ahmad)

[7] Tuntunan bagi orang yang makan tetapi tidak merasa kenyang. Para sahabat radhiyallahu ‘anhum berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan tetapi tidak merasa kenyang.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Barangkali kalian makan berpencar (sendiri-sendiri).” Mereka menjawab, ”Benar.” Beliau kemudian bersabda, “Berkumpullah kalian atas makanan kalian dan sebutlah nama Allah, niscaya makanan itu diberkahi untuk kalian.” (HR. Abu Dawud)

[8] Dianjurkan memuji makanan dan dilarang mencelanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sama sekali. Apabila beliau menyukainya, maka beliau memakannya. Dan apabila beliau tidak suka terhadapnya, maka beliau meninggalkannya. (HR. Muslim)

[9] Membaca tasmiyah (basmallah) sebelum makan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia membaca ‘Bismillah’ (dengan menyebut nama Allah). Jika ia lupa membacanya sebelum makan, maka ucapkanlah, ‘Bismillaahi fii awwalihi wa aakhirihi’ (dengan menyebut nama Allah pada awal dan akhir -aku makan-).” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Di antara faidah membaca basmalah di setiap makan adalah agar setan tidak ikut makan apa yang kita makan. Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk bersama seseorang yang sedang makan. Orang itu belum menyebut nama Allah hingga makanan yang dia makan itu tinggal sesuap. Ketika dia mengangkat ke mulutnya, dia mengucapkan, ‘Bismillaahi fii awwalihii wa aakhirihi’. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dibuatnya seraya bersabda, “Masih saja setan makan bersamanya, tetapi ketika dia menyebut nama Allah, maka setan memuntahkan semua yang ada dalam perutnya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa`i)

[10] Makan dan minum dengan tangan kanan dan dilarang dengan tangan kiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian makan, makanlah dengan tangan kanan dan minumlah dengan tangan kanan, karena sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan keburukan bagi orang yang tidak mau makan dengan tangan kanannya. Seseorang makan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kirinya, maka beliau bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Orang itu menjawab, “Saya tidak bisa.” Beliau bersabda, “Semoga kamu tidak bisa!” Orang tersebut tidak mau makan dengan tangan kanan hanya karena sombong. Akhirnya, dia benar-benar tidak bisa mengangkat tangan kanannya ke mulutnya.” (HR. Muslim)

[11] Makan mulai dari makanan yang terdekat. Umar Ibnu Abi Salamah radhiyallahu ’anhuma berkata, “Saya dulu adalah seorang bocah kecil yang ada dalam bimbingan (asuhan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tangan saya (kalau makan) menjelajah semua bagian nampan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur saya, ‘Wahai bocah, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang terdekat denganmu.’ Maka demikian seterusnya cara makan saya setelah itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sekaligus sebagai penguat dari kedua adab makan sebelumnya dan menjelaskan bagaimana cara menasihati anak tentang adab-adab makan. Lihatlah bahwa nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat dipatuhi oleh Umar Ibnu Abi Salamah pada perkataan beliau, “ … demikian seterusnya cara makan saya setelah itu.“

[12] Memungut makanan yang jatuh, membersihkannya, kemudian memakannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika salah satu dari kalian makan, lalu makanan tersebut jatuh, maka hendaklah ia memungutnya dan membuang kotorannya kemudian memakannya. Jangan ia biarkan makanan itu untuk setan.” (HR. At-Tirmidzi)

Sungguh betapa mulianya agama ini, sampai-sampai sesuap nasi yang jatuh pun sangat dianjurkan untuk dimakan. Hal ini merupakan salah satu bentuk syukur atas makanan yang telah Allah Ta’ala berikan dan bentuk kepedulian kita terhadap fakir miskin.

[13] Makan dengan tiga jari (yaitu dengan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah), kemudian menjilati jari dan wadah makan selesai makan. Ka’ab bin Malik radhiyallahu ’anhu berkata, “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dengan tiga jarinya. Apabila beliau telah selesai makan, beliau menjilatinya.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian selesai makan, maka janganlah ia mengusap jari-jarinya hingga ia membersihkannya dengan mulutnya (menjilatinya) atau menjilatkannya pada orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksudnya yaitu menjilatkan pada orang lain yang tidak merasa jijik dengannya, misalnya anaknya saat menyuapinya, atau suaminya.

[14] Cara duduk untuk makan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Aku tidak makan dengan bersandar.” (HR. Bukhari)

Maksudnya adalah duduk yang serius untuk makan. Adapun hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat makan duduk dengan menduduki salah satu kaki dan menegakkan kaki yang lain adalah dha’if (lemah). Yang benar adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk bersimpuh (seperti duduk sopannya seorang perempuan dalam tradisi Jawa) saat makan.

[15] Apabila lalat terjatuh dalam minuman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila lalat jatuh pada minuman salah seorang dari kalian, maka hendaklah ia mencelupkan lalat tersebut, kemudian barulah ia buang. Sebab di salah satu sayapnya ada penyakit dan di sayap yang lain terdapat penawarnya.” (HR. Bukhari)

[16] Bersyukur kepada Allah Ta’ala setelah makan. Terdapat banyak cara bersyukur atas kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, salah satunya dengan lisan kita selalu memuji Allah Ta’ala setelah makan (berdoa setelah makan). Salah satu doa setelah makan yaitu, “Alhamdulillaahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi ghaira makfiyyin walaa muwadda’in walaa mustaghnan ‘anhu rabbanaa.” (Segala puji bagi Allah dengan puja-puji yang banyak dan penuh berkah, meski bukanlah puja-puji yang memadai dan mencukupi dan meski tidak dibutuhkan oleh Rabb kita.”) (HR. Bukhari)

[17] Buruknya makan sambil berdiri dan boleh minum sambil berdiri, tetapi yang lebih utama sambil duduk. Dari Amir Ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya radhiyallahu ’anhum, dia berkata, “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri dan sambil duduk.” (HR. Tirmidzi, hadis hasan shahih)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang laki-laki minum sambil berdiri. Qatadah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami bertanya kepada Anas, ‘Kalau makan?’ Dia menjawab, ‘Itu lebih buruk -atau lebih jelek lagi-.’” (HR. Muslim)

[18] Minum tiga kali tegukan seraya mengambil napas di luar gelas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sebanyak tiga kali, menyebut nama Allah di awalnya dan memuji Allah di akhirnya (HR. Ibnu As-Sunni dalam ‘Amalul Yaumi wallailah no. 472)

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum, beliau bernapas tiga kali. Beliau bersabda, “Cara seperti itu lebih segar, lebih nikmat dan lebih mengenyangkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bernapas dalam gelas dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Apabila salah seorang dari kalian minum, janganlah ia bernapas di dalam gelas.” (HR. Bukhari)

[19] Berdoa sebelum minum susu dan berkumur-kumur sesudahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika minum susu maka ucapkanlah, ‘Allahumma barik lana fihi wa zidna minhu’ (Ya Allah, berkahilah kami pada susu ini dan tambahkanlah untuk kami lebih dari itu) karena tidak ada makanan dan minuman yang setara dengan susu.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 5957, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 381).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian minum susu, maka berkumur-kumurlah, karena sesungguhnya susu meninggalkan rasa masam pada mulut.” (HR. Ibnu Majah no. 499)

[20] Dianjurkan bicara saat makan, tidak diam dan tenang menikmati makanan seperti halnya orang-orang Yahudi. Ishaq bin Ibrahim berkata, “Pernah suatu saat aku makan dengan Abu ‘Abdillah (Imam Ahmad) dan sahabatnya. Kami semua diam dan beliau (Imam Ahmad) saat makan berkata, ‘Alhamdulillah wa bismillah’, kemudian beliau berkata, ‘Makan sambil memuji Allah Ta’ala adalah lebih baik dari pada makan sambil diam.’”

Semoga yang sedikit ini bermanfaat dan semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan kepada kita dalam mengamalkan apa yang kita ketahui, karena hakikat ilmu adalah amal itu sendiri. Wallahul muwaffiq.

***

Penulis: Ummu Shalihah

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

Do’a dan Wirid, Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani, Pustaka At-Tibyan, Solo.

Kitabul Adab, Fuad bin ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syalhub, Daarul Qasim, Riyadh.

Lebih dari 1000 Amalan Sunnah dalam Sehari Semalam, Khalid Al-Husainan, Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

Panduan Amal Sehari Semalam, Abu Ihsan al-Atsari, Pustaka Darul ‘Ilmi, Bogor.

Riyadhus Shalihin Jilid 2, Imam An-Nawawi, takhrij Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Duta Ilmu, Surabaya.

Sumber: https://muslimah.or.id/5532-adab-makan-dan-minum.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Memuji Diri Sendiri

Hati-hati memuji diri sendiri. “Saya itu seperti ini dan seperti itu, yang lain tidak bisa.”

Hati-hati dan waspada dari memuji dan mentazkiyah diri sendiri.

Al-‘Izz ibnu ‘Abdis Salam berkata, “Engkau memuji dirimu sendiri lebih parah daripada engkau memuji orang lain. Karena kesalahan seseorang di matanya sendiri lebih ia tahu banyaknya dibanding mengetahui kesalahan orang lain. Kecintaanmu pada sesuatu itu membutakan dan menulikan. Dan memang betul, tidak ada yang disukai kecuali diri sendiri. Oleh karena itu, kita lebih suka melihat ‘aib (kekurangan) orang lain daripada memperhatikan kekurangan diri sendiri. Juga kita lebih mudah memberi toleransi jika diri kita kurang, namun tidak bagi yang lain.”

Allah Ta’ala berfirman,

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 49)

Tidak boleh seseorang memuji dirinya sendiri kecuali jika ada hajat untuk hal itu. Misalnya:

Pertama: Ingin melamar seorang wanita dan ia mengemukakan keistimewaan dirinya.

Kedua: Ingin memperkenalkan kemampuan dirinya dalam memenej pemerintahan dan mengurus agama seperti yang terjadi pada Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Yusuf berkata,

اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55)

Ketiga: Boleh memuji diri sendiri agar bisa dicontoh. Tentu ini bagi orang yang benar-benar niatannya untuk dicontoh orang lain dan aman dari penyakit riya’ dan sum’ah. Seperti Nabi kita sendiri pernah berkata,

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ وَبِيَدِى لِوَاءُ الْحَمْدِ وَلاَ فَخْرَ وَمَا مِنْ نَبِىٍّ يَوْمَئِذٍ آدَمُ فَمَنْ سِوَاهُ إِلاَّ تَحْتَ لِوَائِى وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الأَرْضُ وَلاَ فَخْرَ

Aku adalah pemimpin (sayyid) anak Adam pada hari kiamat. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri. Di tanganku ada bendera Al-Hamdi. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri. Tidak ada seorang nabi pun, tidak pula Adam, juga yang lainnya saat itu melainkan berada di bawah benderaku. Aku orang pertama yang keluar dari kubur. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri.” (HR. Tirmidzi, no. 3148; Ibnu Majah, no. 4308. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Semoga bermanfaat.

@ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Sya’ban 1437 H

sumber: https://rumaysho.com/13581-memuji-diri-sendiri.html

Doa Buruk dari Orang Tua Mustajab?

Doa Buruk dari Orang Tua Mustajab?

Sy memiliki ortu yg temperamen. Seringkali saat marah terucap kata2 doa keburukan utk anaknya. Padahal sang anak sama sekali tdk salah. Saya takut dg doa itu ust. Apakah doa Sprti ini mustajab ustadz?

Trmksh penjelasannya..

Jawaban:

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du.

Kita semua menyadari, bahwa orang tua memiki hak yang tinggi atas kita. Kita berkewajiban untuk bakti dan patuh kepada mereka selama yang mereka perintahkan adalah kebaikan. Walaupun, sikap orang tua seperti yang Anda sebutkan dalam pertanyaan, ini tidak menggugurkan hak mereka atas kita sebagai anak. Maka kami menyarankan: carilah suasana yang pas untuk mengobrol santai dengan orang tua Anda. Sampaikan curhatan berkaitan masalah Anda dengan mereka dengan bahasa yang santun. Tampakkan sikap penghormatan dan kasih sayang.

Berkenan Doa Buruk dari Orang Tua

PERTAMA, pada asalnya, doa orang tua untuk anaknya adalah mustajab. Ini berlaku jika doa itu diucapkan dengan ikhlas dan kesadaran, tidak dalam kondisi emosi yang tidak stabil. Kemudian kepada sang anak sangat durhaka kepada Ibu Bapaknya.

Nabi ﷺ bersabda,

ثلاث دعوات مستجابات لا شك فيهن : دعوة الوالد على ولده ، ودعوة المسافر ، ودعوة المظلوم.

Ada tiga doa yang pasti terkabul : (1) Doa buruk orangtua kepada anaknya. (2) Doanya musafir. (3) Doanya orang yang terdzolimi. (HR. Tirmidzi, dinilai Hasan oleh Syekh Albani)

KEDUA, meski demikian, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam melarang para orang tua, mendoakan keburukan untuk buah hatinya.

Beliau ﷺ bersabda,

لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لَا تُوَافِقُوا مِنْ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ

“Jangan kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, atau anak-anak kalian, atau harta kalian. Jangan sampai kalian menepati suatu waktu yang pada waktu itu Allah Subhanahu wa ta’ala diminta sesuatu lantas Dia kabulkan doa kalian itu.” (HR. Muslim)

Jika doa itu terkabul, satu saja kemungkinan rasa yang akan kita alami, yaitu penyesalan.

Adanya ancaman berat yang berbunyi: jika saja doa itu menepati waktu mustajab, Allah akan kabulkan doa itu, sehingga yang terjadi hanya penyesalan, menunjukkan, bahwa larangan dalam hadis di atas bermakna haram. Sebagaimana disimpulkan demikian oleh Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah,

كل هذا حرام لا يجوز لأنه ربما صاف ساعة إجابة..

Doa-doa keburukan seperti ini hukumnya haram. Karena bisa jadi menepati saat Allah mengabulkan doa sehingga itu terkabul. (Syarah Riyadussholihin, Ibnu Utsaimin, 6/51)

KETIGA, doa buruk dari orang tua untuk anaknya, yang diucapkan saat marah, tidak Allah kabulkan.

Ini diantara bentuk kasih sayang Allah kepada Hamba-Nya.

Dalilnya adalah ayat berikut,

۞وَلَوۡ يُعَجِّلُ ٱللَّهُ لِلنَّاسِ ٱلشَّرَّ ٱسۡتِعۡجَالَهُم بِٱلۡخَيۡرِ لَقُضِيَ إِلَيۡهِمۡ أَجَلُهُمۡۖ فَنَذَرُ ٱلَّذِينَ لَا يَرۡجُونَ لِقَآءَنَا فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ

Dan kalau Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pasti diakhiri umur mereka. Namun Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bingung di dalam kesesatan mereka. (QS. Yunus : 11)

Imam Qotadah menerangkan ayat ini,

هو دعاء الإنسان على نفسه وماله بما يكره أن يُستجاب له

Ayat ini berbicara tentang seorang yang mendoakan buruk untuk diri atau hartanya. Dia berharap doa buruk itu segera dikabulkan. (Fathul Bari, 10/211).

Imam Mujahid rahimahullah juga memberikan penjelasan senada,

قولُ الإنسان لولده وماله إذا غضب: اللهم لا تُبارك فيه والْعَنْهُ، {لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ}، لَأَهلَكَ مَن دُعِيَ عليه، ولَأَماتَهُ

“Kalau Allah menyegerakan keburukan bagi manusia”, maksudnya doa seseorang yang dipanjatkan untuk anak atau hartanya saat dia marah, “Ya Allah jangan Engkau berkahi dia.. Laknatlah dia..” (pent, atau doa buruk yang lainnya)
“Maka pasti diakhiri umur mereka” maksudnya : dia akan binasa karena sebab doa itu dan bisa mati karena disebabkan doa buruk itu. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam kitab Shohih beliau)

Dalam Tafsir Qur’an Al-‘adhim, Ibnu Katsir rahimahullah menambahkan keterangan,

يخبر تعالى عن حلمه ولطفه بعباده: أنه لا يستجيب لهم إذا دعوا على أنفسهم أو أموالهم أو أولادهم في حال ضجرهم وغضبهم، وأنه يعلم منهم عدم القصد إلى إرادة ذلك، فلهذا لا يستجيب لهم -والحالة هذه -لطفا ورحمة.

Pada ayat ini, Allah mengabarkan tentang kasih sayang dan kelembutanNya kepada para hamba-Nya. Bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa mereka jika mereka berdoa buruk untuk diri, harta atau anak-anak mereka saat kondisi mereka sedang marah. Allah mengetahui bahwa doa itu mereka ucapkan tanpa kesengajaan menginginkan terkabulnya doa itu. Olehkarena itu tidak dikabulkan. Sebagai bentuk kelembutan dan kasih sayang. (Lihat : Tafsir Ibnu Katsir, 4/251)

KEEMPAT, jika sang anak tidak durhaka, dia sudah berusaha berbakti kepada orang tuanya, kemudian mendapat doa buruk dari orang tuanya, maka Allah tidak akan kabulkan doa tersebut.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah nomor 115110 diterangkan,

ولكن إن كان الولد على بر بوالديه وإحسان لهما وكان دعاء والديه عليه محض ظلم وعدوان فهذا الدعاء لا يستجاب إن شاء الله

Bila anak sudah berbakti kepada orang tuanya, dia berbuat baik kepada keduanya, sementara dia mendapat doa buruk dari Bapak Ibunya, maka doa yang seperti ini statusnya adalah kezoliman kepada anak, atau kebencian yang tidak dibenarkan. Maka doa yang seperti ini, tidak akan dikabulkan insyaAllah. Dasarnya adalah sabda Nabi ﷺ,

لا يزال يستجاب للعبد ما لم يدع بإثم أو قطيعة رحم.

Doa akan selalu dikabulkan selama tidak mengandung dosa atau memutus tali silaturahmi. (HR. Muslim)

Demikian.
Wallahua’lam bis showab.

****

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

sumber: https://konsultasisyariah.com/34720-doa-buruk-dari-orang-tua-mustajab.html

Menjadi Uwais Al-Qarni di Zaman Modern

Di antara sekian banyak tokoh teladan dalam sejarah Islam, ada satu nama yang mungkin tidak setenar Abu Bakar, Umar, atau Ali, namun harum di langit karena keikhlasan dan bakti kepada orang tuanya yang luar biasa. Dialah Uwais Al-Qarni, seorang tabi’in yang tak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi disebut secara khusus oleh beliau karena baktinya yang luar biasa kepada ibunya.

Uwais hidup di Yaman. Ia bukan orang kaya, bukan pejabat, bukan ulama besar yang dikenal banyak orang. Ia hanyalah lelaki sederhana yang seluruh hidupnya diabdikan untuk merawat ibunya yang sakit. Ketika keinginannya untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu besar, sang ibu yang sudah tua renta dan sakit menahannya untuk tidak pergi jauh. Uwais pun memilih tinggal dan berbakti. Ia tahu, keridaan Allah ada pada keridaan seorang ibu.

Dari pilihan itulah lahir kemuliaan yang menggetarkan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَفْوَاجِ أَهْلِ الْيَمَنِ، مِنْ مُرَادٍ، ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ، كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ، لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ

“Akan datang kepada kalian seorang laki-laki bernama Uwais bin ‘Amir bersama rombongan dari Yaman, dari suku Murad, kemudian dari Qarn. Dahulu ia menderita penyakit kulit, lalu Allah sembuhkan kecuali sebesar satu dirham. Ia memiliki seorang ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Jika kalian bertemu dengannya, mintalah agar ia memohonkan ampunan untuk kalian.” (HR. Muslim)

Bayangkan, seorang lelaki miskin yang tidak dikenal manusia, tetapi disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dimuliakan oleh Allah. Setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pun mencari sosok ini. Ia ingin memastikan kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika bertemu rombongan dari Yaman, Umar bertanya, “Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?”

Dan ketika akhirnya berjumpa dengannya, Umar berkata, “Mintalah ampunan kepada Allah untukku, wahai Uwais.”

MasyaaAllah, seorang khalifah yang agung meminta doa dari seorang lelaki yang bahkan tidak dikenal manusia. Itulah bukti kemuliaan yang Allah berikan kepada orang yang ikhlas dan berbakti kepada ibunya.

Teladan abadi dari hati yang tulus

Uwais Al-Qarni mengajarkan kepada dunia bahwa kemuliaan tidak diukur dari pangkat, kekayaan, atau popularitas. Kemuliaan sejati ada dalam hati yang ikhlas dan amal yang tulus karena Allah. Ia tidak ingin dikenal manusia, bahkan ketika orang-orang mulai mengetahui keutamaannya, ia pun mengasingkan diri agar amalnya tetap tersembunyi.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, setelah kisahnya tersebar, Uwais meninggalkan tempat tinggalnya dan menjauh dari keramaian. Ia takut kemuliaan yang Allah berikan berubah menjadi ujian kesombongan. Begitulah hati seorang hamba yang benar-benar mengenal Allah, ia takut amalnya rusak hanya karena dikenal manusia.

Faidah dari kisah Uwais Al-Qarni

Berbakti kepada orang tua adalah jalan kemuliaan

Uwais tidak meninggalkan ibunya demi bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia memilih rida ibunya daripada kesempatan yang tampak begitu mulia. Ia tahu, keridaan Allah ada pada keridaan sang ibu.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’: 23)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

“Rida Allah tergantung pada rida orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)

Keikhlasan adalah amal yang tak terlihat, tapi paling berat

Uwais tidak pernah beramal untuk dilihat. Ia tidak dikenal manusia, bahkan ia menghindar dari popularitas. Amal yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi itulah yang Allah muliakan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Amal tersembunyi lebih berat di timbangan

Uwais tidak meninggalkan karya besar yang dikenal sejarah, tapi amalnya mengguncang langit. Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

تَرْكُ العَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ، وَالإِخْلاَصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ مِنْهُمَا

“Meninggalkan amal karena takut dilihat manusia adalah riya’, dan beramal karena ingin dilihat manusia adalah syirik. Keikhlasan adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” [1]

Doa orang yang ikhlas mustajab di sisi Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersaksi bahwa jika Uwais bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan mengabulkannya. Itu karena doa yang keluar dari hati yang bersih dan ikhlas. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Mā’idah: 27)

Meneladani Uwais di zaman modern

Menjadi Uwais Al-Qarni di zaman modern tentu tidak berarti kita harus hidup miskin atau mengasingkan diri. Maknanya jauh lebih dalam: meneladani ketulusan, kesederhanaan, dan bakti yang penuh cinta kepada orang tua.

Berbakti kepada orang tua dengan sepenuh hati

Di tengah kesibukan pekerjaan, kuliah, dan aktivitas dunia, jangan pernah lupakan jasa orang tua. Banyak di antara kita mampu menyenangkan dunia, tapi lupa menyenangkan hati ibu dan ayahnya.

Uwais mengajarkan, tidak ada ibadah yang lebih tinggi nilainya setelah tauhid selain berbakti kepada orang tua. Uwais tidak pernah meninggikan suara kepada ibunya. Ia berkhidmat dengan penuh cinta dan sabar. Maka hari ini, teleponlah orang tuamu dengan lembut, datangi mereka, berikan waktu terbaikmu. Itu jalan ke surga.

Menjaga keikhlasan dalam beramal

Dunia hari ini mudah membuat kita tergoda untuk beramal demi pengakuan. Kebaikan yang terekam kamera, sedekah yang diumumkan di media sosial, semua bisa menjadi jebakan yang halus. Padahal amal yang diterima Allah hanyalah amal yang murni karena-Nya. Uwais tidak dikenal di bumi, tapi dikenal di langit karena amalnya hanya untuk Allah.

Hidup sederhana dan tawaduk

Kesederhanaan bukan berarti kekurangan, tapi kebebasan dari belenggu dunia. Sederhana dalam berpakaian, dalam gaya hidup, dalam tutur kata. Hal inilah yang menenangkan hati dan mendekatkan diri kita kepada Allah.

Mendahulukan rida Allah di atas rida manusia

Di era modern, banyak orang lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan pahala. Uwais menunjukkan sebaliknya: ia memilih kehilangan dunia daripada kehilangan rida Allah. Ia lebih senang tidak dikenal manusia, asalkan dikenal oleh Rabb-nya.

Pelajaran hidup yang tak lekang oleh waktu

Kisah Uwais Al-Qarni bukan sekadar cerita tentang seorang anak yang berbakti, tetapi juga tentang keikhlasan yang murni dan cinta yang tulus kepada Allah. Ia tidak mengejar pujian manusia, tidak menulis sejarah untuk dikenang, tapi Allah sendiri yang menulis namanya di hati para hamba yang mencintai kebaikan.

Betapa banyak orang hari ini yang mengejar popularitas, tapi dilupakan setelah mati. Sedangkan Uwais, tanpa meninggalkan harta atau karya duniawi, tetap dikenang hingga kini karena hatinya yang bersih dan amalnya yang ikhlas.

Menjadi Uwais Al-Qarni di zaman modern adalah menjadi hamba yang berbakti tanpa pamrih, beramal tanpa pamer, dan mencintai Allah tanpa syarat. Ia mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan bukan tentang seberapa banyak orang mengenalmu, tapi tentang seberapa besar Allah mencintaimu. Maka, mari kita berusaha menjadi “Uwais” di masa kini, seorang anak yang lembut pada orang tua, hamba yang ikhlas dalam beramal, dan manusia yang tidak mencari sorotan dunia, tapi mencari rida Allah semata.

Uwais Al-Qarni telah pergi, tapi jejaknya masih hidup dalam hati orang-orang yang mencintai keikhlasan. Ia membuktikan bahwa kemuliaan sejati bukanlah tentang dikenal di bumi, melainkan dikenal di langitIa tidak menulis sejarah dengan tinta, tapi dengan air mata dan doa yang tulus. Ia tidak meninggalkan monumen, tapi meninggalkan pelajaran abadi. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang ikhlas seperti Uwais yang beramal tanpa ingin terlihat, berbakti tanpa mengharap balasan, dan dicintai Allah meski tak dikenal manusia. Wallahu Ta’ala a’lam.

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Sumber: https://muslim.or.id/110411-menjadi-uwais-al-qarni-di-zaman-modern.html
Copyright © 2025 muslim.or.id