Manusia Terbaik di Antara Kalian yang Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an

Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan)

بَابُ فَضْلِ قِرَاءَةِ القُرْآنِ

Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Hadits #993

Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an

وَعَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ .

Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 5027]

Faedah hadits

  1. Hadits ini memotivasi untuk mempelajari dan mentadaburi Al-Qur’an, juga mengenal hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an, akidah, perilaku umat sebelum Islam, perintah Allah, larangan-Nya. Itulah yang menyebabkan datangnya keberuntungan di dunia dan akhirat.
  2. Sudah sepatutnya bagi seorang yang berilmu menyebarkan ilmu setelah mempelajarinya. Belajar dan mengajarkannya itu sama-sama mendapatkan ganjaran. Dengan mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya pada yang lain datanglah sempurnanya pahala.
  3. Dengan mempelajari Al-Qur’an akan meninggikan derajat seorang muslim.
  4. Orang yang membaca Al-Qur’an tanpa panduan guru tentu tidak akan benar dalam tajwid dan hukum-hukum bacaannya. Oleh karena itu, dituntut bagi seorang muslim untuk mencari seorang guru untuk membenarkan bacaannya.

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa belajar dan mengajarkan Al-Qur’an mencakup:

  1. mempelajari dan mengajarkan huruf-hurufnya
  2. mempelajari dan mengajarkan maknanya

Yang kedua ini malah yang lebih utama karena makna itulah yang dimaksud tujuan mempelajari Al-Qur’an. Sedangkan, lafaz hanyalah wasilah (perantara). (Miftah Daar As-Sa’adah, 1:277)

Referensi:

  • Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:205.
  • Miftah Daar As-Sa’aadah wa Mansyur Walaayah Ahli Al-‘Ilmi wa Al-Idarah. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Takhrij: Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdul Hamid Al-Halabiy Al-Atsariy. Penerbit Dar Ibnul Qayyim dan Dar Ibnu ‘Affan.

—

Ditulis saat perjalanan Gunungkidul – Jogja, 15 Rabiul Akhir 1444 H, 10 November 2022

@ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul

Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/35143-manusia-terbaik-di-antara-kalian-yang-belajar-dan-mengajarkan-al-quran.html

Hukum Bekerja untuk Orang Kafir

Pertanyaan:

Bolehkah bekerja untuk orang non-Muslim atau bekerja di perusahaan milik non-Muslim?

Jawaban:

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du.

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pun melakukan muamalah-muamalah dengan orang kafir. Dari Aisyah radhiyallahu’anha beliau berkata,

أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم اشتَرى طعامًا من يَهودِيٍّ إلى أجلٍ ، ورهَنه دِرعًا من حديدٍ

“Nabi shallallahu’alaihi wasallam pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan berhutang, lalu beliau menggadaikan baju perang besinya kepada orang tersebut.” (HR. Bukhari no. 2068).

Hadis ini jelas menunjukkan bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam pun berjual-beli dengan non-Muslim bahkan menggunakan produk non-Muslim. Tentu saja selama produk tersebut halal dan baik.

Nabi shallallahu’alaihi wasallam pun melakukan kerjasama bisnis dengan non-Muslim. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu, ia berkata:

أَعْطَى رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ خَيْبَرَ اليَهُودَ: أَنْ يَعْمَلُوهَا ويَزْرَعُوهَا، ولَهُمْ شَطْرُ ما يَخْرُجُ منها

“Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam memberikan kesempatan kepada kaum Yahudi di Khaibar, sehingga mereka dapat bekerja mengolah lahan dan menanaminya. Dan mereka mendapatkan sebagian dari hasil panennya.” (HR. Bukhari no.2285, Muslim no.1551).

Dari Aisyah radhiyallahu’anha beliau berkata,

واستأجَرَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وأبو بكر رجلًا مِن بني الدِّيلِ ، هاديًا خِرِّيتًا ، وهو على دينِ كفارِ قريشٍ ، فدفعا إليه راحلتيهما ، وواعداه غارَ ثورٍ بعدَ ثلاثَ ليالٍ ، فأتاهما براحلتَيْهما صبحَ ثلاثٍ

“Rasulullah dan Abu Bakar menyewa seorang dari Bani Ad-Dail dari Bani Adi bin Adi sebagai penunjuk jalan, padahal ia ketika itu masih kafir Quraisy. Lalu Nabi dan Abu Bakar menyerahkan unta tunggangannya kepada orang tersebut dan berjanji untuk bertemu di gua Tsaur setelah tiga hari. Lalu orang tersebut pun datang membawa kedua unta tadi pada hari ke tiga pagi-pagi.” (HR. Bukhari no. 2264).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan:

لا مانع من معاملته في البيع والشراء والتأجير ونحو ذلك، فقد صح عن رسول الله عليه الصلاة والسلام أنه اشترى من الكفار عباد الأوثان، واشترى من اليهود وهذه معاملة، وقد توفي عليه الصلاة والسلام، ودرعه مرهونة عند يهودي في طعام اشتراه لأهله

“Tidak ada larangan untuk bermuamalah jual-beli, sewa-menyewa, atau muamalah lainnya (dengan non-Muslim). Terdapat dalam hadis shahih bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam membeli barang dari orang-orang kafir penyembah berhala, juga membeli barang dari orang Yahudi, dan ini semua perkara muamalah. Dan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam wafat dalam keadaan baju besi beliau tergadaikan kepada orang Yahudi, ketika membeli makanan sebagai nafkah untuk keluarga beliau” (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz 6 hal. 285).

Namun memang terdapat khilaf di antara ulama tentang muamalah berupa khidmah (pelayanan) yang dilakukan seorang Muslim kepada orang kafir. Jumhur ulama melarangnya. Mereka berdalil dengan ayat:

وَلَن يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“Dan sama sekali Allah tidak pernah memberi jalan bagi orang kafir untuk menguasai orang beriman” (QS. An-Nisa: 141).

Dijelaskan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah: 

“Para fuqaha sepakat bolehnya seorang kafir memberikan khidmah (pelayanan) kepada seorang Muslim. Demikian juga, para fuqaha sepakat bolehnya seorang Muslim disewa untuk orang kafir dalam suatu pekerjaan yang mu’ayyan fi dzimmah (spesifik dan ada batas temponya). Seperti: menjahitkan pakaian, membangun rumah, menanami lahan, dan semisalnya. Namun para ulama khilaf tentang hukum khidmah (pelayanan) yang dilakukan seorang Muslim kepada orang kafir. Baik dengan akad ijarah (sewa), akad i’arah (pinjam-meminjam), atau akad lainnya.

Mazhab Hanafiyyah berpendapat hal tersebut hukumnya dibolehkan. Karena akad-akad tersebut termasuk akad mu’awadhah (saling menguntungkan), sehingga dibolehkan sebagaimana jual-beli. Namun dimakruhkan jika mengandung unsur khidmah (pelayanan) kepada orang kafir. Karena khidmah itu bentuk perendahan diri.

Adapun mazhab Malikiyah, disebutkan oleh Ibnu Rusyd bahwa seorang Muslim disewa untuk melayani orang Nasrani atau Yahudi, ini ada empat macam: ada yang boleh, ada yang makruh, ada yang mahzhur dan ada yang haram:

1. Yang boleh adalah jika seorang Muslim melakukan pekerjaan untuk orang kafir di rumah si Muslim tersebut. Seperti seorang yang memproduksi suatu barang yang dikonsumsi masyarakat secara umum.

2. Yang makruh adalah jika orang kafir mendominasi seorang Muslim dalam suatu pekerjaan atau muamalah, namun orang kafir tersebut tidak punya otoritas untuk mengaturnya. Seperti seorang Muslim yang berhutang kepada orang kafir, atau orang seorang Muslim bekerja sama musaqah (merawat lahan) milik orang kafir.

3. Yang mahzhur (terlarang) adalah jika seorang Muslim disewa untuk melakukan pekerjaan untuk orang kafir yang orang kafir ini punya otoritas untuk mengaturnya. Seperti seorang Muslim menjadi pembantu di rumah orang kafir.

4. Yang haram adalah jika seorang Muslim disewa untuk melakukan pekerjaan yang diharamkan seperti mengolah khamr, menggembala babi, dan semisalnya. Untuk jenis ini, akadnya batal sebelum ia bekerja. Jika sudah terlanjur mendapat gaji, maka wajib disedekahkan untuk orang miskin.

Mazhab Syafi’iyyah berpendapat haramnya seorang Muslim memberikan pelayanan kepada orang kafir jika secara langsung ataupun tidak langsung. Secara langsung, seperti mengucurkan air cuci tangan untuk orang kafir, membawakan sandal untuk dipakai orang kafir, membersihkan kotoran pada badan dan pakaiannya, atau semisal itu. Secara tidak langsung, contohnya seperti seorang Muslim diutus untuk mengurus suatu kebutuhan orang kafir (yang mubah). Dihukumi haram dalam rangka menjaga kaum Muslimin dari perendahan dan penghinaan. Namun makruh hukumnya meminjamkan dirinya atau menyewakan dirinya untuk melayani orang kafir, selama orang kafir tersebut tidak memiliki otoritas untuk mengaturnya.

Mazhab Hambali dalam riwayat yang shahih menyatakan haramnya seorang Muslim disewa untuk melayani orang kafir atau meminjamkan dirinya untuk melayani orang kafir. Karena dalam kondisi ini terdapat unsur pengekangan seorang Muslim di bawah kendali orang kafir dan juga unsur perendahan diri di depan orang kafir” (diringkas dari Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, juz 19 hal. 46).

Ringkasnya, wallahu a’lam, jika muamalah seorang Muslim terhadap orang kafir berupa pelayanan kepada mereka atau menjadi pegawai mereka atau bekerja di perusahaan mereka, perlu kita bagi menjadi tiga macam:

1. Jika itu berupa pelayanan yang spesifik, ada batas temponya, tidak ada unsur perendahan diri, serta tidak dikuasai penuh oleh orang kafir, maka ulama sepakat bolehnya.

2. Jika bukan termasuk pada poin 1, namun bukan dalam perkara haram, maka hukumnya makruh. Lebih utama bagi seorang Muslim untuk tidak melayani orang kafir, tidak menjadi pegawai mereka, dan tidak bekerja di perusahaan mereka. Namun andaikan ia melakukannya, ia tidak berdosa dan penghasilannya tetap halal.

3. Jika pelayanan yang dilakukan dalam perkara haram, maka ulama sepakat akan haramnya dan penghasilannya haram.

Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. 

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.

Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. 

sumber : https://konsultasisyariah.com/43619-hukum-bekerja-untuk-orang-kafir.html

Keutamaan Mendidik Anak Perempuan

Oleh
Ummu Salamah As-Salafiyah

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا، جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ هَكَذَا” وَضَمَّ أُصْبُعَيْه

“Barangsiapa mengasuh dua orang anak perempuan sehingga berumur baligh, maka dia akan datang pada hari Kiamat kelak, sedang aku dan dirinya seperti ini.” Dan beliau menghimpun kedua jarinya.” [HR. Muslim]

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata:

دَخَلَتْ عَلَيَّ اِمْرَأَةٌ وَمَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا تَسْأَلُ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِي شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ، فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ، فَدَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

“Ada seorang wanita yang masuk menemuiku dengan membawa dua orang anak perempuan untuk meminta-minta, tetapi aku tidak mempunyai apa-apa kecuali hanya satu butir kurma. Lalu aku memberikan kurma itu kepadanya. Selanjutnya, wanita itu membagi satu butir kurma itu untuk kedua anak perempuannya sedang dia sendiri tidak ikut memakannya. Lantas, wanita itu bangkit dan keluar. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada kami, maka aku ceritakan peristiwa itu kepada beliau, maka beliau pun berkata, ‘Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan, lalu dia mengasuhnya dengan baik, maka anak-anak perempuan itu akan menjadi tirai pemisah dari api Neraka.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

An-Nawawi rahimahullah mengatakan di dalam kitab Syarh Muslim (V/ 485), “Disebut ibtilaa’ (ujian), karena biasanya orang-orang tidak menyukainya.

Baca Juga  Memilihkan Kisah yang Mendidik
Dan Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ


“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.’ [An-Nahl/: 58]

Lebih lanjut, an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Di dalam hadits-hadits ini terdapat keutamaan berbuat baik kepada anak-anak perempuan, memberikan nafkah kepada mereka, bersabar dalam mengasuhnya, dan mengurus seluruh urusannya.”

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, dia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ ثَلاَثُ بَنَاتٍ وَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَكَسَاهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa memiliki tiga orang anak perempuan, lalu dia bersabar dalam menghadapinya serta memberikan pakaian kepadanya dari hasil usahanya, maka anak-anak itu akan menjadi dinding pemisah baginya dari siksa Neraka.” [HR. Al-Bukhari dalam kitab al-Adaabul Mufrad dan hadits ini shahih]

Mengenai hak wanita, Allah Ta’ala berfirman:

فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا


“…Dan jika kalian tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [An-Nisaa’/4: 19]

Demikian juga pada anak-anak perempuan. Tidak jarang seorang hamba mendapatkan kebaikan yang sangat banyak di dunia dan akhirat dari anak-anak perempuan. Dan cukuplah sebagai keburukan, orang yang tidak menyenangi mereka bahwasanya ia benci pada apa yang diridhai dan diberikan Allah kepada hamba-Nya.

[Disalin dari buku Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat, Edisi Indonesia Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah, Penulis Ummu Salamah As-Salafiyyah, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Penerjemah Abdul Ghoffar EM]
Referensi : https://almanhaj.or.id/817-keutamaan-mendidik-anak-perempuan.html

Hidayah Mengenal Sunnah

Sesuatu yang paling mahal di dunia ini adalah hidayah mengenal sunnah. Mengapa dikatakan mahal? Karena hidayah mengenal sunnah sama seperti hidayah mengenal Islam.

Bisa kita bayangkan, dari sekian trilyun manusia yang hidup di muka bumi ini, berapa di antara mereka yang mendapat hidayah untuk memeluk agama Islam? Lalu dari sekian milyar orang yang beragama Islam, berapa persen di antara mereka yang hatinya tergerak untuk mau mendalami agama? Dan dari sekian persen orang yang mendalami agama Islam, berapa persenkah orang yang dalam mendalami agama dengan benar? Kemudian dari sekian orang yang mendalami agama dengan benar, berapa persenkah orang yang mau mengamalkan ilmu yang telah didapatkan?

Oleh karena itu, hidayah mengenal sunnah serta mengamalkannya merupakan sesuatu yang sangat mahal, takkan tergantikan dengan dunia dan seisinya. Sehingga bagi yang telah mendapat hidayah yang sangat mahal ini, hendaknya ia bersyukur.

Apabila ia tidak mensyukuri nikmat hidayah tersebut, dia terancam dengan firman Allah Ta’ala:

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;  ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (Q.S Ibrahim: 7)

Adapun di antara bentuk siksaan Allah bagi orang yang telah mendapatkan nikmat hidayah,tapi tidak mensyukurinya ialah dicabutnya hidayah tersebut dari orang tersebut. Contoh: Orang yang dulunya semangat  ngaji, tapi akhirnya menghilang dan tidak mengaji lagi.

Salah satu cara mensyukuri hidayah tersebut adalah berusaha menularkan hidayah tersebut kepada orang lain.

 “Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 125)

Ada sebuah kisah nyata tentang seorang da’i yang berasal dari Kuwait, yaitu Dr.Abdurrahman As-Sumait. Aslinya, beliau adalah seorang dokter internis (penyakit dalam). Beliau mengambil S1 di Baghdad, S2 di Inggris, dan S3 di Kanada. Beliau sudah memiliki pekerjaan di rumah sakit Kuwait dengan penghasilan yang sangat besar. Akan tetapi, beliau tinggalkan penghasilan yang sangat besar itu dan pergi ke pedalaman Afrika serta mengajak mereka untuk masukke agama Islam.

Ketika ada orang yang masukke agama Islam dan selesai mengucapkan kalimat syahadat, orang-orang Afrika tersebut menangis karena bahagia dan sedih. Mereka bahagia karena mendapatkan hidayah, sedangkan mereka sedih sambil berkata, “Mengapa kalian (kaum muslimin) baru datang sekarang (datang ke Afrika) ? Dulu kalian pada kemana ? Sehingga orang tua kami tidak sempat menikmatii ndahnya Islam dan meninggal dalam keadaan kufur. Kemanakah kalian, wahai kaum muslimin?” Tanya orang-orang Afrika tersebut kepada beliau (Dr. AbdurrahmanAs-Sumait).

Hal itulah yang menyentuh perasaan beliau, sehingga beliau mendedikasikan seluruh umurnya untuk berdakwah di negeri Afrika. Padahal beliau di sana mendapat cobaan penyakit-penyakit berat, seperti diabetes, ginjal, tensi tinggi. Akan tetapi, beliau tidak mempedulikan hal itu dan beliau meninggalkan seluruh kenikmatan duniawi, lalu tinggal di pedalaman Afrika.

Di sana, beliau tidur di atas tikar dan beratapkan langit. Terkadang, ancaman binatang buas ada di sekitarnya. Namun beliau –dengan taufik dari Allah Ta’ala– sukses berdakwah selama 29 tahun di pedalaman Afrika dan berhasil mengislamkan 11 juta orang. Beliau membangun 5500 Masjid di berbagai penjuru  Afrika, mengkader 40000 da’i, serta terlibat dalam aktivitas sosial seperti membangun 11000 sumur. Beliau meninggal pada tahun 1434 H atau 2013 M.

Beliau meninggal dunia dengan meninggalkan sesuatu yang berharga. Namun kita? Apa yang akan kita tinggalkan nanti? Sudah berapa orang yang kita dakwahi sehingga mendapatkan hidayah? Ataukah  bahkan orang tua kita sampai saat ini belum mengenal sunnah? Hingga meninggalnya orang tua kita, apa yang sudah kita tularkan kepada mereka?

Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, maukah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga `Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (Ash-Shaf: 10-12)

***

Referensi: Rekamankajian “Mencuri Hati” yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. –hafizhahullah- dan disiarkan dari Masjid Kampung Santri, Desa Cilembu, Sumedang.

Sumber: https://muslimah.or.id/9154-hidayah-mengenal-sunnah.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Cara Nabi ﷺ Menghindari Sifat Marah

Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Izin bertanya ustadz. Bagaimana cara mengendalikan diri agar tidak sering emosi ustadz? Apa yang harus dilakukan jika seseorang mudah emosi jika pendapatnya tidak didengar ustadz?

جزاك اللهُ خيراً

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Marah adalah sifat yang tercela yang dengannya nabi melarang kepada kita untuk marah, dalam sebuah hadits dinyatakan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ
رَوَاهُ البُخَارِي

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.” [HR. Bukhari, no. 6116].

Apalagi marah ketika mengambil keputusan sangat sangat di larang karena akan menghasilkan keputusan yang kurang tepat, ada sebuah hadits yang khusus larangan marah bagi seorang qhodi ketika memutuskan perkara:

عَنْ عَبْد الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ: كَتَبَ أَبُو بَكْرَةَ إِلَى ابْنِهِ وَكَانَ بِسِجِسْتَانَ بِأَنْ لاَ تَقْضِيَ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَأَنْتَ غَضْبَانُ، فَإِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:
لاَ يَقْضِيَنَّ حَكَمٌ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غَضْبَانُ.

Dari Abdurrahman ibn Abu Bakrah, ia berkata: Abu Bakrah menulis surat untuk anaknya yang ketika itu berada di Sijistan yang isinya: Jangan engkau mengadili diantara dua orang ketika engkau marah, sebab aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang hakim dilarang memutuskan antara dua orang ketika marah.”
[H.R Hadits Sahih riwayat Al-Bukhari: 6625]

‌

Pesan hadits yang disampaikan:

Seorang hakim atau pemimpin hendaklah bijak dalam membuat keputusan. Jika ada perseteruan antara dua pihak, maka alangkah baiknya jika hakim itu tidak terbawa emosi dan memutuskan perkara antara mereka dengan kepala dingin.

Diantara cara agar tidak mudah marah adalah ;

  • Dengan terus mengingat pada diri kita atas pahala yang besar bagi mereka yang mampu menjaga dirinya dari marah.

Pahala apa saja..?

A) Balasan syurga.

Dari Abu Ad-Darda’ Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan dalam surga.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

“Janganlah engkau marah, maka bagimu surga.” (HR. Thabrani dalam Al-Kabir. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, hadits ini shahih lighairihi).

B) Bidadari syurga.

Dari Mu’adz Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنَفِّذهُ دَعَأهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُوْرِ مَا شَاءَ

“Barangsiapa menahan amarahnya padahal mampu meluapkannya, Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari Kiamat untuk memberinya pilihan bidadari yang ia inginkan.” (HR. Abu Daud, no. 4777; Ibnu Majah, no. 4186. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sanadnya hasan).

  • Sifat dan watak suka marah tidak akan mendatangkan kebaikan akan tetapi akan mendatangkan keburukan untuk diri kita sendiri atau orang yang berada di sekitar kita yang akhirnya adalah penyesalan belaka, sehingga nabipun mengatakan bahwa orang yang hebat adalah yang mampu menahan amarahnya.

Dalam sebuah hadits dinyatakan:

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرْعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang kuat bukanlah dengan mengalahkan (yang lain). orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan diri ketika dilanda kemarahan” (HR. al-Bukhari no.6114 dan Muslim no.2609).

Dan apalagi ketika musyawarah kita hendaknya berusaha untuk senantiasa diri kita dalam keadaan tenang sehingga pikiran akan jernih dan insya Allah keputusan yang di hasilkan akan baik, dan diantara tujuan bermusyawarah adalah mengahasilkan pendapat yang paling banyak maslahatnya.

Dan hal itu tidak akan didapat apabila musyawarah hanya harus menuruti pendapat anda atau salah satu dari yang ikut permusyawarahan tersebut, apabila pendapat kita itu tidak di terima maka kita harus mendahulukan dialog terlebih dahulu dan ketika apa yang di sampaikan saudara kita benar maka kita harus lebih legowo dan berkhusnudzon.

Apabila kita sedang emosi maka ada tuntutan yang di ajarkan oleh Nabi, agar setan tidak menguasai kita ketika marah, yaitu:

  1. Meminta perlindungan kepada Allah dengan mengucapkan ta’awudz.
  2. Diam, tidak mengucapkan apapun atau melakukan yang mampu merugikan.
  3. Berpindah posisi, apabila anda dalam keadaan duduk maka terlentang lah atau berdirilah.
  4. Mengambil air wudhu.

Semoga bermanfaat buat anda.

Wallahu ‘alam bisowab.

Dijawab dengan ringkas oleh: 
Ustadz Agung Argiansyah, Lc. حافظه الله

sumber : https://bimbinganislam.com/cara-nabi-%ef%b7%ba-menghindari-sifat-marah/

Hati-Hatilah Dengan Ketenaran

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk menjauhi ketenaran dan pujian-pujian karena pujian itu fitnah. Beliau bersabda:

“Jauhilah sifat suka dipuji, karena dengan dipuji-puji itu seakan-akan engkau disembelih.” (HR. Ahmad no. 16460, di-shahih-kan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2674)

Abu Ayyub as-Sikhtiyani mengatakan: “Seorang hamba sama sekali tidaklah jujur jika keinginannya hanya ingin mencari ketenaran.” (Ta’thiru al-Anfas, hlm. 276)

Dari al-Husain bin al-Hasan al-Marwazi diriwayatkan bahwa ia berkata: “Abdullah ibnu Mubarok pernah berkata: “Jadilah orang yang menyukai status khumul (status tersembunyi dan tidak dikenal) dan membenci popularitas. Namun, jangan engkau tampakkan bahwa engkau menyukai status rendah itu sehingga menjadi tinggi hati. Sesungguhnya mengklaim diri sendiri sebagai orang zuhud justru mengeluarkan dirimu dari kezuhudan karena cara itu, kamu telah menarik pujian dan sanjungan untuk dirimu.” (Shifatu ash-Shafwah, 2/325)

Islam memerintahkan umatnya agar tawaduk atau rendah hati dan menjauhi popularitas. Terkadang ketenaran bisa membuat orang sombong dan tidak ikhlas dalam beramal. Namun, ketika ia qodarullah menjadi figur terkenal karena keshalihannya, ilmu dinnya atau karena kebaikannya tanpa ia cari, niscaya tidak karena ini adalah karunia Allah. Ilmu dan prestasi bisa menggelincirkan manusia manakala ia mengabaikan faktor keikhlasan sehingga merasa lebih baik, lebih utama, dan tenar dari orang lain. Porosnya di hati, yakni niat, meskipun orang lain memandangnya memiliki kelebihan, namun hatinya rendah hati, dan hanya Allah lah yang mengetahui isi hati apakah ia sombong atau benar-benar niatnya ikhlas, ia tidak begitu peduli dengan pujian manusia. Karena sanjungan seringkali membuat orang terlena hingga benih-benih kesombongan dan bangga diri pelan-pelan mengusik hatinya dan akhirnya bisa menodai amalannya. Allah berfirman :

“Katakanlah: Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui.”(QS. Ali-Imran : 29)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, berkecukupan, dan tersembunyi.” (HR. Muslim no. 2965)

Dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah:

“Yaitu orang yang tidak menampakkan dirinya, tidak berambisi untuk tampil di depan manusia, atau untuk ditunjuk oleh orang-orang atau diperbincangkan oleh orang-orang.” (Syarah Riyadish Shalihin, 629)

Terkadang kita lihat seseorang nampaknya biasa-biasa saja, tak terlihat beda dengan orang lain namun dia subhanallah dikaruniai Allah kefakihan dalam agama, keluasan rezeki atau kekayaan dan berbagai nikmat kelebihan yang jarang dimiliki orang lain. Namun, ia terkesan menghindari perhatian orang lain.
Ketenaran ibarat ular berbisa. Bisa membinasakan dunia dan akhiratnya ketika ia sengaja mengejarnya demi orientasi dunia semata, biar terkenal, biar dihormati orang lain, biar heboh atau tujuan-tujuan rendah semata. Ini sama sekali jauh dari akhlak Islam. Yakinlah ketenaran demi kebahagiaan dunia semata niscaya pelakunya akan menderita, karena faktanya betapa banyak orang yang tenar akhir hidupnya merana dan tragis.

Imam Ahmad berkata: “Beruntung sekali orang yang Allah buat ia tidak tenar”. Beliau juga pernah mengatakan: “Aku lebih senang jika aku berada pada tempat yang tidak ada siapa-siapa. “ (Ta’thiru al-anfas, hlm. 278)

Akhirnya siapapun kita dan dimanapun perlu mengingat lagi hadits tentang niat “sesungguhnya amal perbuatan itu hanyalah tergantung niat”. (Muttafaqun `alaih)

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Referensi :

1. Psikologi Islam yang sempurna, dr. Raehanul Bahraen, Muslimafiyah publishing, Yogyakarta, 2018.
2. Begini seharusnya menjadi guru (terjemah), Fu`ad bin ‘Abdul ‘Aziz asy-Syalhub, Darul Haq, Jakarta, 2019.

Sumber: https://muslimah.or.id/11652-hati-hatilah-dengan-ketenaran.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Bagaimana Ungkapan Cinta Anda Kepada Suami?

Seorang istri sastrawan pembuat benang memberikan hadiah berupa jaket kepada suaminya yang dijahit dengan tangannya sendiri. Lalu sang suami menulis beberapa bait kalimat untuk istri tercintanya:

     Bahwa disetiap tusukan ada jarum?

     Demikian pula dalam setiap ikatan ada benang,

     Dan dalam setiap tarikan ada gulungan benang

     Semuanya kau pintal dengan tanganmu sendiri,

     Dengan bimbingan kedua bola matamu

     Setiap kali jaket itu menyelimuti diriku,

     Aku selalu merasa berada dalam belaian jemarimu

Seolah-olah dia berkata kepada istrinya bahwa dia merasakan hangatnya cinta istri kepadanya setiap kali memakai jaket buatan istrinya. Dia menghormati istrinya karena sudah tentu istrinya memikirkan suaminya selama menenun dan menjahit jaket tersebut. Cinta dibuktikan dengan perilaku bukan hanya untaian kalimat yang diucapkan.

Cinta adalah ikatan ruh yang dalam antara kedua belah pihak. Cinta adalah ikatan yang akan mempengaruhi perilaku, pikiran, dan perhatian keduanya. Cinta adalah perasan yang bergejolak dalam setiap persendian badan, mengitari jiwa, dan berlaku dalam setiap keberadaannya.

Perbuatan yang dilakukan oleh istri terhadap suaminya, baik melayaninya, membuatkan makanan kesukaannya, menghias bunga yang di atas meja makan, atau mendoakannya dengan penuh keikhlasan  ketika sujud di tengah malam, semua ini merupakan gambaran dari hubungan yang sangat mulia ini.

Barangkali gambaran cinta terindah antara suami dan istri adalah ucapan Khadijah radhiyallahu’anha kepada suami tercintanya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau mendatanginya dalam keadaan membutuhkan ketenangan jiwa, belaian, dan bantuan secara psikis. Khadijah radhiyallahu’anha berkata, “Demi Allah, sesungguhnya Dia tidak akan menghinakanmu selamanya. Sesungguhnya engkau adalah seorang yang menyambung silaturrahim, jujur dalam ucapan, menjaga tamu, menolong yang lemah, memberi orang yang tidak punya, dan membela kebenaran,”

Cukupkah istri beliau dengan kata-kata saja? Demi Allah tidak, bahkan dia radhiyallahu’anha membantu suaminya dengan berperilaku sebagai seorang istri salihah kepadanya, berinfak, dan membantu dalam memperjuangkan kebenaran. Dia radhiyallau’anha adalah sebaik-baik istri yang mencintai suaminya.

Bentuk ungkapan cinta antara suami istri sangat beraneka ragam. Istri bisa memilih bentuk ungkapan cinta yang sesuai dengan karakternya.

Ide-ide untuk Memperbaharui Cinta

Ungkapan cinta antara suami dan istri tidak hanya datang dengan untaian kata-kata belaka, akan tetapi ada sarana-sarana lain dan perilaku tertentu yang memiliki peran besar agar pasangan kita merasakan cinta kita meskipun kita tidak mengungkapan rasa kasih sayang kita dengan terus terang.

Mengungkapkan cinta bukan dengan kata-kata adalah persoalan yang sangat mudah dan lebih banyak berhasil dan berpengaruh daripada kata-kata indah.

Kadang-kadang engkau merasa yakin bahwa suamimu mencintaimu. Oleh karena itu engkau merasa bahagia dengan hadiah yang diberikan suami kepadamu, perbuatan yang dilakukannya, atau perasaan yang ditunjukkan untuk mengungkapkan cinta tulusnya kepadamu, karena hal itu adalah bukti ketulusan cintanya. Hal itu juga merupakan penyulut cinta yang ada di hatimu agar engkau larut dalam pesonanya.

Begitu juga suami, dia dapat merasa bahagia dengan setiap belaian kasih sayangmu yang mengungkapkan ketulusan cintamu padanya. Dia juga membutuhkan kreativitas dan variasi yang baru dalam pesan cintamu ke dalam hatinya sebagaimana juga dirimu. Kreativitas baru dalam pesan cinta tersebut akan dapat memperbaharui cinta dalam kehidupan kalian berdua terutama pada saat hidup ini dirasakan sebagai rutinitas dan mengalami kejenuhan.

Beberapa ide yang berasal dari pengalaman beberapa istri agar kalian bisa menyebarkan cinta dalam kehidupan kalian berdua, yaitu:

  1. Tulislah kalimat “uhibbuka fillah” dari buah-buahan yang kecil bentuknya seperti ceri, anggur, stroberi, dan lain-lain dalam piring-piring yang besar.
  2. Letakkan es batu berbentuk hati di gelas minuman yang akan diminum oleh suami.
  3. Letakkan bunga mawar di dalam buku atau koran yang akan dibacanya.
  4. Pada hari libur, hidangkan sarapan pagi yang hangat dan berikan kepadanya di atas tempat tidurnya.
  5. Kirimkan pesan singkat yang berisi ungkapan cintamu kepadanya pada saat dia bekerja, baik melalui HP, faksimile, atau email.
  6. Setelah engkau selesei mandi, gambarlah bentuk hati dengan jarimu pada cermin di kamar mandi, agar dia dapat melihat gambar tersebut saat masuk ke dalamnya.
  7. Tinggikan temperatur AC ruangan, lalu dekaplah dia dengan hangat.
  8. Hari yang penuh dengan surat. Ide ini akan menjadikan suamimu penuh dengan surat cinta sepanjang hari. Caranya   adalah: tulislah beberapa surat singkat  dan romantis, kemudian letakkan di tempat-tempat yang biasa dilewati oleh suamimu. Seperti ruang tamu, meja, selimut dan sofa yang biasa dia duduki, atau nampan tempat engkau menghidangkan teh padanya.
  9. Sesekali tulislah kalimat “uhibbuka fillah” pada cermin atau sisir.
  10. Ubah penampilan bajumu dan model rambutmu.
  11. Belikan baju piyama untuknya, lalu masukkan dalam kotak serta sisipkan bunga mawar merah yang disemprot dengan parfum kesukaannya. Letakkan pula satu bungkus coklat. Lalu buatlah tulisan pada kotak itu, “Aku akan bahagia saat melihat piyama itu melekat pada tubuhmu malam ini”.
  12. Gambar bentuk hati pada beberapa kertas, kemudian guntinglah membentuk hati lalu tebarkan guntingan kertas-kertas tersebut dari pintu pertama dia masuk rumah hingga kamar tidur, dan terakhir buatlah kertas berbentuk hati yang besar dengan tulisan “Pangeranku, aku menunggumu selalu…..”
  13. Makan malam yang penuh dengan cinta. Pada suatu malam buatlah kejutan dengan cara baru dalam makan malam. Ubahlah tempat makan malam dengan mengubah posisi meja makan, piring dan gelas, begitu pula ubahlah penampilan engkau dengan memakai perhiasan yang tidak biasa engkau pakai pada rambut, memakai pakaian yang beraneka ragam, dan memakai sepatu berhak tinggi. Ambilkan piring spesial yang dia senangi, semprotkan parfum di setiap pojok ruangan, dan jangan lupa meletakkan seikat bunga mawar di atas meja makan. Selain itu, tempelkan di atas tembok pintu masuk ungkapan selamat datang yang menarik yang biasa engkau pergunakan ketika menyambut kedatangan tamu dan kekasihmu. Sudah tentu setelahnya engkau akan menghabiskan malam tersebut dengan kebahagiaan yang penuh dengan cinta.
  14. Sebelum engkau keluar rumah menuju ke rumah orang tua atau ke tempat lain, letakkan bunga di atas bantal suami, letakkan sebuah surat ringkas yang berisi ungkapan cinta serta rindu gelisah ketika berpisah dengannya.
  15. Ada seorang istri yang bercerita, “Ketika aku akan membangunkan suami untuk melaksanakan shalat malam, terlebih dahulu aku cuci tanganku dengan air sehingga tanganku tersebut menjadi dingin. Kemudian aku semprotkan parfum kesukaannya pada tanganku. Ketika tanganku yang dingin itu menyentuh tubuhnya yang hangat dan nafasnya mulai menghirup bau harum, di pun akan bangun meskipun saat itu sedang terlelap dalam mimpi yang indah”.
  16. Salah seorang istri ingin bercanda dengan suaminya dengan berkata kepadanya, “Bukalah mulutmu dan pejamkan kedua matamu.” Kemudian sang suami membuka mulut dan memejamkan kedua matanya dengan penuh keraguan, dan ternyata istrinya memasukkan permen yang lezat ke mulut suaminya. Ketika suami ingin pergi sang istri berkata lagi kepadanya, “Bukalah mulutmu dan pejamkan kedua matamu.” Kali ini suami memejamkan kedua matanya tanpa ragu-ragu dan mengharapkan permen yang lezat masuk kembali kedalam mulutnya. Tetapi istrinya memasukkan bungkus permen yang tadi dia masukkan ke mulutnya.
  17. Ada pula yang bercerita,”Setiap kali suamiku bepergian bersama teman-temannya, aku mempunyai kebiasaan menyelipkan sepucuk surat cinta di sela-sela lipatan pakaiannya tentang apa yang akan aku rasakan selama kepergiannya, serta keadaanku dan keadaan anak-anakku saat ketidakberadaan bapak mereka. Suatu ketika aku tidak senang dengan kepergiannya sehingga aku tidak menulis surat yang biasa aku tulis. Ketika suamiku pulang, dia berkata, “Aku telah memeriksa tas ini semuanya dan kucari surat yang biasa kau tulis dan kau selipkan di antara pakaianku, bahkan telah aku periksa sampai tiga kali. Setiap kali aku memeriksanya, aku berharap semoga istriku meletakkannya disini, namun ternyata aku tidak mendapatkannya. Mungkin aku tidak memeriksanya dengan baik.” Aku sangat menyesali perbuatanku itu, rasa kerinduan tampak di raut muka suamiku. Setelah kejadian itu, aku bertekad untuk tidak meninggalkan kebiasaan baik semampuku.”
  18. Perhatian dan memanjakan. Seorang suami bercerita bahwa istrinya menitipkan anak-anaknya di rumah orang tuanya. Kemudian mereka berdua pergi ke salah satu tempat yang mengingatkannya dengan hari-hari pertama perjumpaannya yang indah, saat mereka berdua merasakan sebagai makhluk yang paling bahagia.
  19. Sambutan hangat. Hal yang banyak berpengaruh kepada suami adalah sambutan istri kepada suami dengan penuh kecemburuan dan kasih sayang. Ketika suami sudah berada di depan pintu, istrinya adalah orang yang pertama kali menyambut kedatangannya, lalu memeluknya dengan penuh kerinduan dan kasih sayang, dan senyum kebahagiaan tergambar dalam raut mukanya.
  20. Cetaklah salinan lembar akte nikah kalian berdua dan kirimkan kepada suamimu melalui jasa pos. Tulislah di dalamnya kalimat, “Masih ingatkah kau dengan hari yang penuh dengan kebahagiaan itu?”
  21. Bertamasyalah kalian berdua untuk berbulan madu yang kedua, ketiga dan seterusnya.
  22. Ingatlah waktu pertama kali kalian saling melihat beberapa saat setelah akad nikah. Niscaya hal itu akan mengingatkan perasaan kalian pada hari itu yang bercampur aduk antara obrolan, gairah seksual, takut, gembira, dan cinta.
  23. Meskipun telah berlalu beberapa tahun dari pernikahan kalian, mengapa engkau tidak lagi memanggil suamimu dengan kalimat “Pengantinku”?
  24. Tetapkan liburan khusus berdua dengan tanpa keikutsertaan anak-anak, karena hal itu dapat mengembalikan kepada saat-saat awal pernikahan kalian dan menghidupkannya kembali.
  25. Berikan kepadanya biodata dirimu untuk mengingatkan pernikahan kalian. Dalam biodata itu engkau sebutkan semua sifat-sifat yang engkau miliki, kemampuan, dan keinginanmu untuk membahagiakannya dengan menuliskan kalimat di bawahnya, “Aku ingin menjadi istri dan kekasihmu sepanjang hidupku”.
  26. Yang terpenting saat engkau memberikan hadiah kepada suamimu untuk mengenang pernikahan kalian berdua adalah bagaimana cara memberikannya, bukan bentuk barangnya. Hadiahkan kepadanya sebuah cincin yang engkau letakkan dalam bunga mawar yang belum mekar. Letakkan mawar tersebut dalam semangkuk air di dekat tempat tidurnya dan suruhlah dia menunggu selama dua hari. Ketika mawar itu mekar, dia akan melihat cincin yang sangat indah. Engkau akan menyaksikan keterjutan suami, kebahagiaannya, dan ucapan terima kasihnya kepadamu.
  27. Saat suami masih berada di tempat kerjanya, segera seleseikan masakanmu, lalu mandi dan pakailah parfum yang harum untuk dirimu maupun ruanganmu. Buatlah kantong kecil dari kain untuk meletakkan parfum yang disukainya.

***

Disalin dari buku “Bunga-bunga Istri Tercinta”, Abu Syihabuddin Nashir Asy-Syafi’i, Bunga ke-21,hlm. 142-148, Penerbit Samudera, Surakarta.

Sumber: https://muslimah.or.id/8394-bagaimana-ungkapan-cinta-anda-kepada-suami.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id