Rajab Adalah Bulan Menanam
Pertanyaan
Ada perkataan ulama salaf bahwa Rajab adalah bulan menabur benih atau menanam. Pertanyaan saya adalah apa yang ditanam oleh seorang muslim?
Ringkasan Jawaban
Yang terpenting hal ini adalah bersiap-siap dengan amal saleh sebelum datangnya bulan Ramadhan. Sehingga para ulama menjadikan bulan Rajab sebagai permulaan persiapan secara khusus untuk menhadapi bulan Ramadhan. Maka satu tahun diumpamakan suatu pohon yang terlihat rindang dedaunannya di bulan Rajab, lalu berbuah pada bulan Sya’ban, kemudian dipetik buahnya di bulan Ramadan. Maka setiap muslim hendaknya mempersiapkan amal kebaikan di bulan Rajab, lalu bertekad kuat memperbaiki serta melaksanakannya dengan sungguh-sungguh di bulan Sya’ban, agar dia dapat melakukan amal ibadah sebaik mungkin nanti di bulan Ramadhan.
Teks Jawaban
Alhamdulillah.
Pertama: Bulan Rajab termasuk salah satu bulan Haram
Bulan Rajab adalah salah satu bulan Haram dimana Allah berfirman terkait dengannya:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ (سورة التوبة: 36)
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)
Bulan-bulan Haram adalah; Rajab, Zulqaidah, Zulhijah dan Muharam.Diriwayatkan oleh Bukhari, no. 4662 dan Muslim, no. 1679, dari Abu Bakrah radhiallanhu anhu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda:
السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
“Setahun ada 12 bulan, di antaranya ada 4 bulan Haram, tiga bulan berurutan Zulqaidah, Zulhijah dan Muharam, serta Rajab Mudhor, antara Jumadal (Tsani) dan Sya’ban.”
Bulan-bulan ini dinamakan dengan bulan haram karena dua hal:
- Diharamkan berperang di dalamnya kecuali jika musuh yang memulainya
- Jika melanggar sesuatu yang diharamkan di bulan ini, dosanya lebih berat dibandingkan pada bulan-bulan lainnya.
Oleh karena itu, kita dilarang oleh Allah taala terjerumus dalam kemaksiatan di bulan-bulan ini. Sebagaimana Firman Allah Taala:
فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ (سورة ألتوبة: 36)
“maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)
Meskipun melakukan kemaksiatan dilarang, baik di bulan-bulan (yang diharamkan) ini maupun di bulan lainnya, hanya saja kemaksiatan di bulan-bulan ini sangat ditekankan pelarangannya.
As-Sa’dy dalam tafsirnya, hal. 373 mengatakan, (firman Allah Taala),
فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ (سورة ألتوبة: 36)
“Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)
Ada kemungkinan, dhamir (kata ganti هن) kembali kepada dua belas bulan. Allah menjelaskan hal itu sebagai patokan bagi para hamba agar memakmurkannya dengan ketaatan, bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya dan dipergunakan untuk kebaikan para hamba. Maka berhati-hatilah jangan sampai melakukan kezaliman pada dirimu sendiri di dalamnya.
Ada kemungkinan juga, dhamir (kata ganti هن) kembali pada keempat bulan haram, sebagai larangan yang bersifat khusus agar jangan melakukan kezaliman di dalamnya dengan tetap melarang lakukan kezaliman pada setiap waktu. Karena (larangan) di bulan ini lebih berat dibandingkan dengan (bulan lainnya) dan melakukan kezaliman di dalamnya lebih berat dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.”
Silahkan melihat jawaban no. 75394 .
Kedua: Bulan Rajab adalah awal persiapan menyambut Ramadan
Para ulama menyerupakan tahun dengan musim-musim kebaikan di dalamnya dengan beberapa perkara. Musim kebaikan yang paling agung adalah bulan Ramadan. Oleh karena itu agama menganjurkan untuk meningkatkan amal saleh di dalamnya.
Di antara perkara terpenting dalam hal ini adalah hendaklah seseorang mempersiapkan diri dengan amal saleh sebelum bulan ramadhan. Para ulama menjadikan bulan Rajab adalah permulaan persiapan secara khusus untuk menyambut Ramadhan. Setahun bagaikan sebuah pohon, dedaunan mulai tumbuh di bulan Rajab, lalu berbuah di bulan Sya’ban, kemudian memetik buahnya di bulan Ramadan.
Maka bagi seseorang hendaknya mempersiapkan amal saleh di bulan Rajab dan menjaga sebaik-baiknya dan sungguh-sungguh di bulan Sya’ban, agar dapat menunaikan sebaik mungkin di bulan Ramadan.
Para ulama banyak mengungkapkan hal ini dengan berbagai redaksi, di antara ungkapan-ungkapan itu adalah:
“Rajab adalah untuk meninggalkan kesia-sian, Sya’ban bulan untuk beramal dan kesetiaan dan Ramadan untuk kejujuran dan kejernihan.”
“Rajab bulan taubat, Sya’ban bulan kecintaan dan Ramadan bulan pendekatan (kepada Allah).”
“Rajab bulan kehormatan, Sya’ban bulan pelayanan dan Ramadan adalah bulan kenikmatan.”
“Rajab bulan beribadah, Sya’ban adalah bulan kezuhudan dan Ramadan adalah bulan tambahan (ibadah).”
“Rajab adalah bulan Allah melipat gandakan kebaikan, Sya’ban adalah bulan menghapus kesalahan dan Ramadan adalah bulan menunggu karomah (kemuliaan).”
“Rajab adalah bulan orang-orang yang mendahului (dengan amal), Sya’ban adalah bulan orang yang lurus beramal dan Ramadan adalah bulan orang-orang berdosa (untuk kembali bertaubat).”
Zun Nun Al-Misry rahimahullah mengatakan, “Bulan Rajab adalah untuk meninggalkan kesalahan-kesalahan, Sya’ban adalah bulan untuk mempergunakan ketaatan-ketaatan. Dan Ramadan adalah bulan menunggu karomah (kemuliaan). Siapa yang tidak meninggalkan kesalahan, tidak mempergunakannya dengan ketaatan-ketaatan, dan tidak menunggu karomah (kemuliaan) maka dia termasuk orang yang tersesat.”
Beliau –rahimahullah- juga berkata; “Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban adalah bulan menyiram sementara Ramadan adalah bulan memanen. Semua akan memanen apa yang dia tanam dan mendapatkan balasan dari apa yang dilakukan. Siapa yang menyia-nyiakan kesempatan menanam, maka dia akan menyesal di waktu panen, hasilnya di luar harapan dan ujungnya adalah keburukan.”
Sebagian orang-orang saleh mengatakan, “Setahun bagaikan pohon, Rajab adalah hari-hari menyiramnya, Sya’ban adalah hari-hari berbuahnya. Dan Ramadan adalah hari-hari memanennya.” (Al-Gunyah, Al-Jailany, 1/326).
Ibnu Rajab dalam kitab ‘Lathaiful Ma’arif, (121) mengatakan, “Bulan Rajab adalah kunci bagi bulan kebaikan dan keberkahan (Ramadan).”
Abu Bakar Al-Waraq Al-Balkhi berkata, “Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyiram, dan bulan Ramadan adalah bulan memetik buahnya.” Beliau juga mengatakan, “Perumpamaan bulan Rajab seperti angin, bulan Sya’ban seperti awan mendung dan bulan Ramadan seperti rintik hujan.”
Sebagian ulama mengatakan, “Setahun seperti pepohonan, Rajab adalah bulan menumbuhkan dedaunan, Sya’ban bulan menumbuhkan cabang dan Ramadan adalah bulan memanen. Orang-orang mukmin yang memanennya.
Penting diperhatikan bagi lembaran-lembarannya yang menghitam karena dosa-dosa, maka di bulan ini untuk memutihkannya dengan bertaubat. Kalau yang masih menyia-nyiakan umurnya dengan menganggur, maka hendaknya mempergunakan kesempatan ini pada sisa umurnya.
Putihkan lembaran hitam catatan amalan di bulan Rajab
Dengan amalan kebaikan yang menyelamatkan dari kobaran api neraka
Telah datang diantara bulan-bulan haram
Kalau ada orang yang berdoa kepada Allah, maka tidak akan merugi
Alangkah indahnya bagi seorang hamba yang membersihkan diri di dalamnya dengan amalan
Dan menahan diri dari melakukan keburukan dan keragu-raguan.
Maka pergunakan kesempatan untuk mendapatkan gonimah, dengan melakukan amalan (kebaikan) di bulan ini. Pergunakan waktu-waktunya dengan ketaatan akan mendapatkan keutamaan nan agung. Selesai
Setiap muslim hendaknya memperbanyak menanam kebaikan dan amalan saleh. Inilah tananam yang dapat ditanam di sela-sela umurnya dengan harapan dapat memetik buah kebaikan ketika bertemu dengan Tuhan seluruh alam.
Di antara amal terpenting yang selayaknya dilakukan seseorang pada bulan Ramadan adalah:
- Menunaikan shalat wajib dan shalat sunah terutama qiyamul lail
- Berpuasa
- Bersedekah
- Tilawah Al-Qur’an
- Berzikir
Az-Zahabi rahimahullah mengatakan, “Demi Allah, membaca Al-Quran dengan tartil sepertujuh Qur’an waktu tahajud Qiyamullail, menjaga shalat-shalat sunah rawatib, Duha, tahiyatul masjid, berzikir dengan riwayat shahih yang bersumber dari Nabi, membaca doa ketika tidur dan bangun, berzikir pada setiap selesai shalat wajib dan di waktu sahur, sibuk mempelajari ilmu yang bermanfaat dengan tetap menjaga keikhlasan karena Allah, mengajak kepada kebaikan, membimbing orang yang tidak tahu dan memahamkannya, serta melarang orang fasik dari kefasikannya dan semisal itu, melakukan shalat wajib berjama’ah secara khusyu dan tuma’ninah, tunduk dan penuh keimanan, melakukan yang wajib, dan menjauhi dosa-dosa besar, memperbanyak berdoa dan memohon ampunan (istighfar), bersedekah dan menyambung hubungan kekerabatan, tawadhu dan ikhlas dalam semuanya itu, adapa perbuatan-perbuatan yang mulia nan agung. Mereka akan mendapatkan kedudukan orang-orang yang selamat dan beruntung, menjadi para kekasih Allah yang bertakwa.” (Siyar a’lam an nubala, 3/84).
wallahua’lam
sumber : https://islamqa.info/id/answers/332295/rajab-adalah-bulan-menanam
Usahakan Anak Sekolah Tidak Tidur Larut Malam, Ini Bahayanya
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mengajarkan tidur pada awal malam, menghindari begadang.
Dari Abu Ishaq, beliau berkata bahwa beliau menanyakan kepada Al-Aswad bin Yazid tentang perkataan ‘Aisyah mengenai shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Aisyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidur di awal malam dan beliau menghidupkan akhir malam (dengan shalat).” (HR. Muslim, no. 739)
Begadang tanpa keperluan itu tidak baik. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari, no. 568)
Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al-Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!” (Syarh Al-Bukhari, Ibnu Baththal, 3:278, Asy-Syamilah)
Ini akibatnya jika anak sekolah dibiarkan begadang:
1. Hormon pertumbuhan terganggu
2. Lebih berisiko mengalami obesitas di kemudian hari
3. Gampang marah dan mengganggu suasana hati
4. Mengantuk sepanjang hari
5. Sulit konsentrasi saat beraktivitas
6. Ini paling penting: ANAK AKAN SULIT BANGUN UNTUK SHALAT SHUBUH TEPAT WAKTU
Catatan:
Orang tua juga harus memberi contoh kepada anak dalam hal ini karena anak paling mudah meniru orang tuanya sendiri yang bedagang hingga larut malam. Di samping itu, orang tua harus bersikap tegas untuk mengingatkan anak yang terus begadang.
Apa kiat-kiat Anda biar anak tidak tidur larut malam? Barangkali komentar Anda bisa bermanfaat untuk artikel berikutnya.
—
Muhammad Abduh Tuasikal
sumber : https://ruqoyyah.com/1807-usahakan-anak-sekolah-tidak-tidur-larut-malam-ini-bahayanya.html
HUKUM MEMAKAI HELM #shorts
Ajarkan Anak Menebarkan Salam
Ayah dan bunda, anak-anak kita hendaknya dibiasakan untuk menebarkan salam. Karena salam itu mengandung keberkahan. Harusnya sedari kecil mereka sudah diajarkan hal ini.
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia pernah melewati anak-anak, maka ia mengucapkan salam kepada mereka dan berkata,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan seperti ini.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 6247 dan Muslim, no. 2168)
Hadits ini menunjukkan bagaimanakah berbuat baik kepada anak-anak, yang dewasa pun diajarkan untuk menyayangi anak-anak. Ini adalah bentuk pengajaran pada anak agar mereka mengetahui bagaimanakah cara mengucapkan salam.
Ajarkan pada anak, bahwa kita diperintahkan untuk menebar salam dan sebutkan bagaimana keutamaan menebarkan salam.
Dari Abu Yusuf ‘Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَا أيُّهَا النَّاسُ، أَفْشُوا السَّلاَمَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الأرْحَامَ، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الجَنَّةَ بِسَلاَمٍ
‘Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makan (pada yang membutuhkan), sambunglah hubungan dengan kerabat, kerjakanlah shalat ketika orang-orang sedang tidur, masuklah ke dalam surga dengan mengucapkan salam.’” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) (HR. Tirmidzi, no. 2485; Ibnu Majah, no. 1334, 3251; Ahmad, 5:451. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Ajarkan pada anak salam yang sempurna dan salam yang singkat.
Dari ‘Imran bin Al-Hushain radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, ada seseorang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mengucapkan, “Assalaamu ‘alaikum.” Kemudian beliau menjawabnya lalu duduk. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sepuluh.” Ada lagi yang lain mengucapkan, “Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullah.” Kemudian beliau menjawabnya lalu duduk. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua puluh.” Ada lagi yang lain mengucapkan, “Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh.” Kemudian beliau menjawabnya lalu duduk. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga puluh.” (HR. Abu Daud, no. 5195 dan Tirmidzi, no. 2689. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Juga terdapat penguat (syawahid) dari Abu Hurairah dikeluarkan oleh Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 986; An-Nasai dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 368; dan Ibnu Hibban, no. 493, Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).
Kalau mau saling mencintai, maka tebarlah salam. Nah ini juga mesti ayah dan bunda ingatkan pada anak.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَدْخُلُوا الجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلا تُؤْمِنُوا حَتىَّ تحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَئٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحاَبَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَم بَيْنَكُم
“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Dan kalian tidak disebut beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang apabila kalian melakukannya, kalian pasti saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim, no. 54)
Bagaimana mulai membiasakan mereka menebarkan salam? Paling mudahnya adalah setiap kali masuk dan keluar rumah diingatkan untuk selalu mengucapkan salam. Inilah yang diajarkan dalam ayat,
فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً
“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (QS. An-Nuur: 61)
Ingatlah salam itu berisi doa keselamatan, doa keberkahan, dan doa rahmat. Sehingga kalau anak tidak diajarkan ajaran Islam yang satu ini, sangat-sangatlah merugi.
Semoga bermanfaat. Moga anak-anak kita menjadi penyejuk mata dengan rajin menebarkan salam.
Disusun di Batik Air, perjalanan Jogja – Jakarta, 5 Muharram 1441 H
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
sumber : https://ruqoyyah.com/616-ajarkan-anak-menebarkan-salam.html
COBA SEKALI-KALI BERJALAN TANPA ALAS KAKI
Termasuk sunnah “Berjalan tanpa memakai alas kaki (sekali-kali)”
Kecuali di tempat jika melepas alas kaki, maka kakinya akan terluka.
Di antara hikmahnya adalah:
– Melatih ketawadhuan dan kezuhudan.
– Menyehatkan dan memberikan kesegaran di kaki.
– Melatih diri ketika dalam keadaan sulit.
– Menjauhkan dari sifat sombong dan bermewah-mewah.
Al-‘Allaamah Al-Qori rahimahullah berkata:
[نَحْتَفِيَ أَحْيَانًا] أَيْ : نَمْشِيَ حُفَاةً؛ تَوَاضُعًا، وَكَسْرًا لِلنَّفْسِ، وَتَمَكُّنًا مِنْهُ عِنْدَ الِاضْطِرَارِ إِلَيْهِ، وَلِذَلِكَ قَيَّدَهُ بِقَوْلِه ِ: [أَحْيَانًا] أَيْ : حِينًا بَعْدَ حِينٍ
“Kita berjalan tanpa alas kaki sesekali waktu. Maksudnya: Berjalan tanpa sepatu atau sandal dalam rangka tawadhu’ dan menundukkan hawa nafsu serta memberikan kenyamanan kaki saat berjalan, ketika hal itu dibutuhkan. Oleh karena itu diberi batasan: ‘Sesekali waktu.’ Maksudnya: Kadang-kadang.” [Mirqatul Mafatih, 7/2827]
Syaikh Ustaimin berkata:
“Termasuk dari sunnah berjalan dengan alas kaki, dan termasuk sunnah juga berjalan tanpa alas kaki kadang-kadang.”
Catatan:
Sngat dianjurkan bagi orang yang memiliki pengaruh atau kedudukan di lingkungannya untuk mengamalkan ini, sehingga orang yang melihatnya tahu, bahwa berjalan tanpa alas kaki (kadang-kadang) itu sunnah, dan tidak menganggap itu bukan amalan yang hina.
Dan perhatikan niat, jika sampai meniatkannya itk syuhrah atau mencari ketenaran, maka ini haram.
Penulis: Ustadz DR. SYAFIQ RIZA BASALAMAH, M.A حفظه الله تعالى
Ajari Anak Shalat Meski Sulit
Banyak orang tua menghadapi tantangan saat mengajak anak-anak untuk shalat, terutama karena sifat anak yang cenderung sulit diarahkan. Namun, kesabaran dan keteguhan dalam mendidik mereka tetap menjadi kewajiban yang tidak boleh diabaikan. Allah memerintahkan kita untuk mengajarkan shalat kepada keluarga dengan penuh kesabaran, sebagaimana disebutkan dalam Surah Thaha ayat 132.
Allah Ta’ala berfirman,
وَامْرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاهِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نِحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلْتَّقْوَى
“Dan perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, tetapi Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)
Penjelasan Ayat Berdasarkan Tafsir Ulama
1. Tafsir Al-Muyassar: Allah memerintahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar memerintahkan keluarganya untuk mendirikan shalat dan bersabar dalam melakukannya. Allah menjelaskan bahwa rezeki bukanlah tanggung jawab manusia, melainkan merupakan karunia-Nya. Kesudahan yang baik di dunia dan akhirat diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa.
2. Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah: Dalam ayat ini, Allah menekankan pentingnya istiqamah dalam menjalankan shalat, baik bagi diri sendiri maupun keluarga. Rezeki bukan menjadi beban manusia karena Allah telah menjaminnya. Kesudahan yang baik berupa surga adalah balasan bagi mereka yang bertakwa dan menjalankan perintah Allah dengan penuh kesungguhan.
3. Tafsir Al-Mukhtashar: Rasulullah diperintahkan untuk mengajak keluarganya shalat dan bersabar atas pelaksanaannya. Allah menegaskan bahwa rezeki adalah tanggung jawab-Nya, bukan tanggung jawab manusia. Kesudahan yang baik akan diberikan kepada orang-orang yang bertakwa, yakni mereka yang taat kepada Allah dan meninggalkan larangan-Nya.
4. Tafsir Syaikh As-Sa’di: Ayat ini mengajarkan agar seseorang mengajak keluarganya shalat, baik shalat wajib maupun sunnah. Perintah ini mencakup pembelajaran tentang adab, rukun, serta hal-hal yang dapat menyempurnakan shalat. Menegakkan shalat memerlukan kesabaran dan perjuangan karena sifat manusia cenderung lalai. Allah menjamin rezeki bagi hamba-Nya, sehingga seorang Muslim lebih baik fokus pada ketaatan. Kesudahan yang baik, baik di dunia maupun akhirat, hanya diperuntukkan bagi mereka yang bertakwa, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah yang lain, “Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-A’raf: 128).
Penjelasan Perbedaan Kata “Ishṭabir” dan “Ṣabara”
Kata اصطبر (ishṭabir) dan صبر (ṣabara) berasal dari akar kata yang sama, yaitu ص-ب-ر (ṣa-ba-ra), yang berarti “sabar” atau “menahan diri.” Meskipun serupa, keduanya memiliki perbedaan mendalam dalam penggunaannya:
- Ṣabara (صبر):
- Asal Kata: Kata kerja dasar (fi’il tsulatsi mujarrad).
- Makna: Menggambarkan sabar secara umum, baik dalam menghadapi cobaan, menahan diri dari kemarahan, atau bertahan dalam ketaatan.
- Penggunaan dalam Al-Qur’an:
- Contoh: “فَصَبْرٌ جَمِيلٌ” (QS Yusuf: 18) — “Maka kesabaran yang baik (adalah pilihanku).”
- Nuansa: Mengacu pada sikap sabar yang tidak diiringi dengan keluhan atau keputusasaan.
- Ishṭabir (اصطبر):
- Asal Kata: Bentuk fi’il tsulatsi mazid dengan tambahan “isti” yang menandakan intensitas atau usaha lebih keras.
- Makna: Menggambarkan sabar dengan kesungguhan hati dan keteguhan yang luar biasa, terutama dalam menghadapi sesuatu yang berat.
- Penggunaan dalam Al-Qur’an:
- Contoh: “وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ” (QS Maryam: 65) — “Dan bersabarlah (dengan sungguh-sungguh) dalam beribadah kepada-Nya.”
- Nuansa: Menunjukkan usaha sabar yang memerlukan daya tahan ekstra, terutama dalam menjalankan ibadah.
Perbedaan Utama:
- Tingkat Kesungguhan: Ṣabara menggambarkan sabar secara umum, sedangkan ishṭabir menuntut kesabaran yang lebih besar dan intens.
- Konteks Penggunaan: Ṣabara digunakan untuk situasi umum, sementara ishṭabir digunakan untuk konteks yang lebih spesifik, seperti ketaatan dalam ibadah.
- Nuansa Makna: Ṣabara menggambarkan keadaan sabar, sementara ishṭabir menggambarkan proses aktif dan perjuangan untuk tetap sabar.
Kesimpulan
- Shalat adalah Perintah Utama: Orang tua harus memerintahkan anak-anaknya untuk mendirikan shalat meskipun itu sulit. Kesabaran adalah kunci dalam membimbing anak agar konsisten dalam ibadah.
- Rezeki adalah Jaminan Allah: Shalat akan mendatangkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, “Ketika kamu mengerjakan shalat, maka rezeki akan datang kepadamu dari arah yang tidak kamu sangka.”
- Kesabaran dalam Pendidikan: Menanamkan kebiasaan shalat membutuhkan waktu, pengulangan, dan kesabaran. Orang tua harus menjadi teladan dengan menjalankan shalat secara konsisten dan melibatkan anak dalam ibadah sejak dini.
- Kesabaran Ekstra dalam Mendidik Anak: Kata “ishṭabir” menunjukkan bahwa mendidik anak dalam hal ibadah, khususnya shalat, membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Orang tua harus bersungguh-sungguh dan berjuang untuk memastikan anak-anak terbiasa dengan kewajiban ini, meskipun memerlukan usaha yang berat.
- Pentingnya Istiqamah: Selain memerintahkan, orang tua harus terus memotivasi dan mengingatkan anak-anak untuk tetap istiqamah dalam menjalankan shalat, baik dalam kondisi mudah maupun sulit.
- Rezeki Berkah dari Ketaatan: Ayat ini mengajarkan bahwa rezeki tidak hanya berupa materi, tetapi juga keberkahan dalam hidup yang berasal dari ketaatan kepada Allah, terutama melalui shalat.
- Ketakwaan adalah Kunci Sukses: Kesudahan yang baik di dunia dan akhirat hanya diperuntukkan bagi mereka yang bertakwa. Ini menekankan pentingnya mendidik anak untuk bertakwa melalui ibadah shalat dan nilai-nilai Islami lainnya.
- Shalat Sebagai Pilar Utama Agama: Jika shalat ditegakkan dengan baik, ibadah lainnya akan lebih terjaga. Namun, jika shalat diabaikan, ibadah lainnya pun cenderung akan terbengkalai.
Dengan menanamkan pentingnya shalat kepada keluarga, seorang Muslim tidak hanya melaksanakan perintah Allah tetapi juga memastikan keberkahan hidup di dunia dan akhirat.
–
Ditulis di Darush Sholihin Gunungkidul, 25 Jumadal Akhir 1446 H, 27 Desember 2024
Dr. Muhammad Abduh Tuasikal (Pakar Manajemen TPA)
sumber : https://ruqoyyah.com/1888-ajari-anak-shalat-meski-sulit-ini-hikmah-surah-thaha-132.html
Syirik adalah Kezaliman Terbesar
Saudaraku seiman yang semoga dirahmati Allah Ta’ala, mari kita renungkan, apabila ada seseorang yang menzalimi ibu Anda, orang tersebut adalah orang yang baik akhlaknya di masyarakat, muamalahnya bagus, tetapi dia hanya zalim kepada ibu anda saja. Bagaimana penilaian Anda terhadap orang tersebut? Tentu saja, Anda akan menilai orang tersebut buruk dan jelek, meskipun dia baik ke semua orang, kecuali kepada ibu Anda saja.
Nah, demikianlah orang yang melakukan kesyirikan kepada Allah Ta’ala, melakukan berbagai macam pelanggaran tauhid serta tidak menunaikan hak Allah Ta’ala di muka bumi, bahkan tidak beriman kepada Allah Ta’ala alias kafir. Meskipun dia baik ke semua orang, tetapi dia telah melakukan hal buruk kepada Allah Ta’ala karena telah melakukan kezaliman terbesar, yaitu kesyirikan.
Allah Ta’ala berfirman bahwa dosa syirik adalah dosa dan kezaliman terbesar,
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’.” (QS. Luqman: 13)
Maksud dari kezaliman yang besar adalah kezaliman yang paling zalim, yaitu syirik. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,
أي : هو أعظم الظلم
“Yaitu (syirik adalah) kezaliman yang paling besar.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Dalam berbagai nash (dalil tegas) disebutkan dosa kesyirikan adalah dosa dan kezaliman yang terbesar.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’: 48)
Meskipun mereka (orang kafir) adalah orang yang baik akhlaknya dan bagus muamalahnya, akan tetapi Allah Ta’ala menyebutkan mereka adalah seburuk-buruk makhluk.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, yakni Ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik, (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)
Walau mereka seburuk-buruk makhluk, tentu kita tidak boleh menzalimi mereka, tetap bergaul dan bermuamalah yang baik selama mereka tidak mengganggu kita dan memerangi Islam.
Mungkin muncul pertanyaan, “Mengapa ada orang kafir yang baik akhlaknya dan sering melakukan kegiatan sosial membantu sesama, lalu mati dalam keadaan kafir dan tidak beriman, lalu Allah memasukkan dia ke dalam neraka? Sepertinya tidak adil.”
Jawabannya:
Ini bahkan keadilan, karena dia telah zalim dan melakukan kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Dia baik kepada manusia tetapi tidak baik terhadap penciptanya yang telah memberikan kehidupan, rezeki, dan segalanya kepadanya. Demikian juga bisa kita buat permisalan, apabila ada orang yang tidak daftar sekolah, dia ikut semua pelajaran dengan baik, apakah dia dapat ijazah? Tentu tidak, demikian juga orang kafir yang tidak beriman.
Demikian, semoga bermanfaat.
***
@ Lombok, Pulau Seribu Masjid
Penyusun: Raehanul Bahraen
Sumber: https://muslim.or.id/59058-syirik-adalah-kezaliman-terbesar.html
Copyright © 2025 muslim.or.id
Carilah 70 Alasan untuk Tidak Suuzon
Bismillah…
Ada sebuah ungkapan yang indah dari ulama salafus sholih yang hidup di generasi tabi’in, yang memiliki julukan Syaikhul Islam, yakni Muhammad bin Sirin -rahimahullah-, pernyataan ini dinukil oleh Imam al-Baihaqi -rahimahullah- di dalam kitab beliau Syu’abul Iman,
إذا بلغك عن أخيك الشيء تنكره، فالتمس له عذرًا واحدًا إلى سبعين عذرًا، فإن أصبته، وإلا، قل: لعل له عذرًا لا أعرفه.
“Jika kamu mendapati sesuatu yang tidak menyenangkan tentang saudaramu, maka carilah satu sampai tujuh puluh alasan untuk memaafkannya.
Jika kamu bisa menemukan alasan-alasan itu, maka bersyukurlah. Namun jika tidak, katakanlah, “Mungkin dia punya alasan yang tidak aku ketahui.”
Pelajaran moral dari nasehat Muhammad bin Sirin di atas:
Nasehat ini mengandung motivasi untuk tidak bersikap suuzon kepada orang lain. Caranya dengan berusaha mencari alasan untuk memaafkan atau memberikan pemakluman atas kekurangan saudara kita. Bukan berarti membiarkan kemungkaran, namun untuk merespon masalah dengan kedewasaan dan hati yang bersih, yang terjaga dari kebencian kepada orang lain disebabkan oleh suuzon. Sehingga akan memunculkan sikap yang tenang dan dapat merespon kekurangan orang lain dengan sikap yang hikmah. Sungguh kita layak untuk melawan perasaan suuzon kepada saudara kita, karena kita juga manusia bukan makhluk yang sempurna dan pasti penuh dengan aib dan dosa.
Wallahul muwaffiq.
Penulis: Ahmad Anshori
Bro and sis, klik link lengkapnya yah di sini:
https://remajaislam.com/4912-carilah-70-alasan-untuk-tidak-suuzon.html







