Orang yang Allah Kehendaki Mendapat Kebaikan

Oleh:

Fahd bin Abdul Aziz Abdullah asy-Syuwairikh

Iradah (Kehendak) merupakan salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang selalu ada pada-Nya. Para salaf telah menyepakati bahwa iradah merupakan sifat-Nya yang tetap dan ia merupakan kehendak hakiki yang sesuai dengan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia terbagi menjadi dua jenis:

Pertama: Iradah kauniyyah (kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang pasti berlaku di alam semesta) atau disebut juga dengan masyi’ah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: 

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ

“Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam.” (QS. Al-An’am: 125).

Kehendak jenis ini pasti terjadi, baik itu dalam hal yang disukai Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun tidak.

Kedua: Iradah syar’iyyah (kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sesuai dengan syariat-Nya). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ

“Dan Allah hendak menerima taubat kalian.” (QS. An-Nisa: 27). Kehendak jenis ini tidak harus terjadi, dan hanya berupa hal yang disukai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Terdapat banyak faedah dalam hidup seorang hamba ketika dia mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki kehendak hakiki yang sesuai dengan keagungan-Nya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata: Kita dapat memperoleh dua faidah dari pengetahuan kita tentang kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kehidupan kita:

Faedah pertama: Kita menggantungkan harapan, rasa takut, serta seluruh keadaan dan amalan kita hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena segala hal terjadi dengan kehendak-Nya. Hal ini akan mewujudkan sikap tawakal kita.

Faedah kedua: Kita melaksanakan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki secara syariat. Apabila kita mengetahui bahwa suatu hal merupakan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam syariatnya dan Dia cintai, maka itu akan memperkuat keteguhan kita dalam melaksanakannya.

Ada banyak nash yang menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan bagi beberapa golongan manusia dan seorang hamba hendaknya berusaha dan berdoa kepada Tuhannya agar termasuk dari golongan tersebut, serta tetap bersabar dan ridha ketika terjadi hal yang tidak dia sukai selagi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menakdirkannya dan menghendaki kebaikan baginya. Dan di antara golongan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki kebaikan bagi mereka adalah:

1. Orang yang lapang dada dalam menjalankan syiar-syiar Islam dengan sukacita dan bahagia: 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ

“Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan barang siapa yang Dia kehendaki untuk disesatkan, niscaya Dia menjadikan dadanya sempit lagi sesak, seakan-akan dia sedang naik ke langit.” (QS. Al-An’am: 125).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ‘Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam’ Yakni dimaksud kehendak di sini adalah iradah kauniyyah, dan yang dimaksud dengan petunjuk adalah hidayah taufiq (hidayah yang membuat seseorang menerima jalan yang benar), sehingga engkau mendapatinya lapang dada terhadap syariat dan syiar-syiar Islam, menjalankannya dengan senang, bahagia, dan ringan.

Apabila engkau mendapati hal ini dalam dirimu, maka ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang menghendaki kebaikan bagimu, menghendaki hidayah untukmu. Namun, barang siapa yang sempit hatinya –nau’dzubillah– maka ini adalah tanda Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki hidayah baginya, karena seandainya tidak demikian niscaya akan lapang dadanya.”

2. Orang yang diberi taufik untuk bertaubat dari dosa-dosanya sebelum meninggal dunia, serta semangat melakukan amal ketaatan lalu wafat dalam keadaan itu

Diriwayatkan dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا طَهَّرَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ، قَالُوا: وَمَا طُهُورُ الْعَبْدِ؟ قَالَ: عَمَلٌ صَالِحٌ يُلْهِمُهُ إِيَّاهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ عَلَيْهِ

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan menyucikannya sebelum meninggal dunia.” Para sahabat bertanya: “Apa itu penyucian seorang hamba?” Beliau menjawab: “Yaitu amal saleh yang Allah ilhamkan kepadanya hingga Dia mewafatkannya di atas amalan itu.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir).

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ، قِيلَ: وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ؟ قَالَ: يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan menggunakannya.” Beliau lalu ditanya: “Bagaimana Allah menggunakannya?” Dan beliau menjawab: “Dia memberinya taufik untuk melakukan amal saleh sebelum kematian.” (HR. At-Tirmidzi).

Para ulama menjelaskan: “Yakni memberinya taufik sebelum kematiannya untuk bertaubat dan konsisten menjalankan amal shaleh serta menjauhi hal-hal yang melanggar agama, lalu dia diwafatkan di atas hal itu, dia diberi karunia yang besar atas amalannya yang sedikit.”

3. Keluarga yang lembut dalam ucapan dan perbuatan

Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu keluarga, maka Dia akan memasukkan kelembutan pada mereka.” (HR. Ahmad).

Imam Al-Munawi Rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan pada mereka sikap lembut, yaitu mereka menjadi saling berlemah lembut satu sama lain. Dan makna sikap lembut adalah sikap lunak, penuh kasih, mudah memaklumi, dan berbuat baik.”

4. Pemimpin yang punya teman yang saleh, apabila pemimpin itu lalai, ia mengingatkannya, apabila telah ingat, ia membantunya

Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Subhanahu wa Ta’ala bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِالْأَمِيرِ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ صِدْقٍ؛ إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ، وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهِ غَيْرَ ذَلِكَ جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ سُوءٍ؛ إِنْ نَسِيَ لَمْ يُذَكِّرْهُ، وَإِنْ ذَكَرَ لَمْ يُعِنْهُ

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang pemimpin, Dia akan memberinya menteri yang jujur, jika pemimpin itu lupa, penasihat itu mengingatkannya, dan jika sudah ingat, ia membantunya. Namun apabila Allah menghendaki selain itu, Dia akan memberinya menteri yang buruk, jika ia lupa, ia tidak mengingatkannya, dan jika ia ingat, ia tidak membantunya.” (HR. Abu Dawud). 

Para ulama menjelaskan: Yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya menteri yang saleh, jujur, dan senantiasa menasihatinya dan rakyatnya.

5. Orang yang paham agama Allah Subhanahu wa Ta’ala

Diriwayatkan dari Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan memberinya pemahaman dalam agama.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rRahimahullah berkata: “Yang dipahami dari hadis ini adalah barang siapa yang tidak diberi pemahaman dalam agama – yakni dengan mempelajari kaidah-kaidah agama Islam dan ilmu-ilmu turunannya yang berkaitan dengannya – maka ia telah terhalang dari kebaikan.”

3. Orang yang hukumannya disegerakan di dunia

Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Subhanahu wa Ta’ala bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ بِعَبْدِهِ شَرًّا أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَهُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia menyegerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Dia menghendaki keburukan bagi seorang hamba, Dia menahan (hukuman) atas dosanya hingga Dia membalasnya pada hari kiamat.” (HR. At-Tirmidzi).

Para ulama mengatakan: “Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Dia akan menyegerakan hukumannya dengan berbagai hal yang tidak ia sukai, dan menimpakan berbagai musibah dan cobaan kepadanya di dunia, agar ia keluar dari dunia tanpa membawa dosa lagi. Barang siapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perlakukan seperti itu, maka sungguh Dia telah memberinya kelembutan dan karunia yang besar.”

Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari).

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Maknanya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya musibah-musibah untuk memberinya pahala atas musibah itu. Dalam hadis-hadis tersebut terdapat kabar gembira yang besar bagi setiap mukmin, karena manusia pada umumnya tidak terlepas dari rasa sakit akibat penyakit, kegelisahan, dan lain sebagainya, sedangkan penyakit, serta rasa sakit dan perih baik itu pada jiwa maupun raga dapat menggugurkan dosa-dosa orang yang mengalaminya.”

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang Engkau kehendaki kebaikan kepada mereka, wahai Yang Maha Pengasih.

Sumber:

https://www.alukah.net/sharia/11875/123798/من-أراد-الله-بهم-خيرا/

sumber: https://konsultasisyariah.com/45439-orang-yang-allah-kehendaki-mendapat-kebaikan.html

Sifat Shalat Nabi (22): Keadaan Tangan Ketika Sujud

Bagaimanakah keadaan tangan ketika sujud?

Ini satu bahasan yang terlewatkan ketika Rumaysho.Com membahas cara sujud. Bagaimanakah posisi tangan saat itu. Kita akan melihat dalam hadits-hadits berikut ini.

Dari Ibnu Buhainah, ia berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ إِبْطَيْهِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat, beliau merenggangkan lengan tangannya (ketika sujud) hingga nampak putih ketiak beliau.” (HR. Bukhari no. 390 dan Muslim no. 495).

Dari Al Bara’ bin ‘Azib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَجَدْتَ فَضَعْ كَفَّيْكَ وَارْفَعْ مِرْفَقَيْكَ

Jika engkau sujud, letakkanlah kedua telapak tanganmu dan angkatlah kedua sikumu.” (HR. Muslim no. 494).

Dari Wail bin Hujr, ia berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ « إِذَا سَجَدَ ضَمَّ أَصَابِعَهُ »

Ketika sujud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merapatkan jari jemarinya.” (HR. Hakim dalam Mustadroknya 1: 350. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Muslim dan disetujui pula oleh Imam Adz Dzahabi)

Ada empat tuntunan yang diajarkan dalam hadits-hadits di atas:

1- Meletakkan kedua telapak tangan di lantai, bahkan telapak tangan tersebut merupakan anggota sujud yang mesti diletakkan sebagaimana telah diterangkan dalam Sifat Shalat Nabi (10): Cara Sujud.

2- Saat sujud, jari-jemari tangan dirapatkan.

3- Disunnahkan menjauhkan dua lengan dari samping tubuh ketika sujud.

Namun perihal di atas dikecualikan jika berada dalam shalat jamaah. Perlu dipahami bahwa membentangkan lengan seperti itu dihukumi sunnah. Ketika cara sujud seperti itu dilakukan saat shalat jamaah berarti mengganggu yang berada di kanan dan kiri. Syaikh Muhammad bin Shalih bin Shalih Al ‘Utsaimin membawakan suatu kaedah dalam masalah ini,

أَنَّ تَرْكَ السُّنَّةِ لِدَفْعِ الأَذَى أَوْلَى مِنْ فِعْلِ السُّنَّةِ مَعَ الأَذَى

“Meninggalkan perkara yang hukumnya sunnah untuk menghindarkan diri dari mengganggu orang lain lebih utama dari mengerjakan hal yang sunnah namun mengganggu orang lain.” (Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 3: 264).

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan dua adab awal ketika sujud ini dengan mengatakan, “Hendaknya yang sujud meletakkan kedua telapak tangannya ke lantai dan mengangkat sikunya dari lantai. Hendaklah lengannya dijauhkan dari sisi tubuhnya sehingga nampak bagian dalam ketiaknya ketika ia tidak berpakaian tertutup (seperti memakai kain selendang saja ketika berihram saat haji atau umrah, -pen). Inilah cara sujud yang disepakati oleh para ulama. Jika ada yang tidak melakukannya, maka dapat dihukumi shalatnya itu jelek, namun shalatnya itu sah. Wallahu a’lam.” (Syarh Shahih Muslim, 4: 187).

4- Lengan mesti diangkat, tidak menempel pada lantai. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengangkatnya dan tidak menempelkan lengan atau siku ke lantai saat sujud. Dalam hadits disebutkan pula,

اعْتَدِلُوا فِى السُّجُودِ ، وَلاَ يَبْسُطْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الْكَلْبِ

Bersikaplah pertengahan ketiak sujud. Janganlah salah seorang di antara kalian menempelkan lengannya di lantai seperti anjing yang membentangkan lengannya saat duduk.” (HR. Bukhari no. 822 dan Muslim no. 493).

Cara Sujud yang Keliru dengan Menempelkan Lengan di Lantai
Cara Sujud yang Keliru dengan Menempelkan Lengan di Lantai

Apa hikmah mengangkat siku atau lengan tangan ketika sujud? Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Hikmah melakukan cara seperti itu adalah untuk mendekatkan pada sifat tawadhu’. Cara seperti itu pula akan membuat anggota sujud yang mesti menempel benar-benar menempel ke lantai yaitu dahi dan hidung. Cara sujud seperti itu pula akan menjauhkan dari sifat malas. Perlu diketahui bahwa cara sujud dengan lengan menempel ke tanah menyerupai anjing yang membentangkan lengannya. Keadaan lengan seperti itu pula pertanda orang tersebut meremehkan shalat dan kurang perhatian terhadap shalatnya. Wallahu a’lam.” (Syarh Shahih Muslim, 4: 187)

Cara sujud yang diajarkan di sini berlaku untuk laki-laki dan perempuan, tidak dibedakan karena kalau membedakan mesti dengan dalil khusus. Wallahu a’lam.

Semoga sajian singkat Rumaysho.Com di sore ini bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi:

Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.

Fathu Dzil Jalali wal Ikram bi Syarh Bulughil Marom, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, cetakan pertama, tahun 1428 H.

Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H.

Disusun di sore hari menjelang Maghrib di Pesantren DS, 8 Dzulqo’dah 1435 H

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/8637-sifat-shalat-nabi-22-keadaan-tangan-ketika-sujud.html

Menikah: Menjaga Pandangan dan Melindungi Kemaluan

أغض للبصر وأحصن للفرج

روى الإمام البخاري ومسلم في صحيحيهما عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: كُنَّا مع النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ شَبَابًا لا نَجِدُ شيئًا، فَقالَ لَنَا رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: (يا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فإنَّه أغَضُّ لِلْبَصَرِ وأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، ومَن لَمْ يَسْتَطِعْ فَعليه بالصَّوْمِ فإنَّه له وِجَاءٌ).

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab Ash-Shahih mereka dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Dulu kami bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam ketika kami masih muda dan belum punya apa pun. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam kemudian bersabda kepada kami:

يا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فإنَّه أغَضُّ لِلْبَصَرِ وأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، ومَن لَمْ يَسْتَطِعْ فَعليه بالصَّوْمِ فإنَّه له وِجَاءٌ

‘Wahai para pemuda! Barang siapa yang mampu menikah, maka menikahlah! Karena itu lebih menjaga pandangan dan melindungi kemaluan. Namun, siapa yang belum mampu maka hendaklah ia berpuasa, karena ia adalah tameng.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

هذه دعوة من النبي صلى الله عليه وسلم للشباب ـ ولمن كان محتاجا للزواج من غيرهم ـ أن يبادروا إليه متى ما وجدوا القدرة على ذلك، والقدرة هنا في الظاهر هي القدرة المادية، لأن النبي صلى الله عليه وسلم يخاطب شبابا ولا شك أن رغبتهم فيه قوية، وكذلك يدل عليه قول ابن مسعود “شبابا لا نجد شيئا”، فكأنه يقول لهم: من وجد شيئا يقدر به على الزواج فليبادر إليه، لما فيه من المنافع الدنيوية والأخروية.

Ini merupakan seruan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bagi para pemuda dan orang-orang yang butuh menikah agar segera melaksanakannya ketika telah memiliki kemampuan. Sedangkan maksud eksplisit dari kata ‘kemampuan’ di sini adalah kemampuan secara finansial, karena ketika itu Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam berbicara dengan para pemuda yang – tidak diragukan – mereka punya keinginan yang kuat untuk menikah (punya kemampuan secara biologis).

Ini juga ditunjukkan melalui ucapan Ibnu Mas’ud, “ketika kami masih muda dan belum punya apa pun”. Seakan-akan beliau bersabda kepada mereka, “Barang siapa yang memiliki harta yang dapat ia gunakan untuk menikah, maka hendaklah ia bersegera melakukannya, karena menikah mengandung banyak manfaat duniawi dan ukhrawi.”

فالزواج آية من آيات الله الباهرة، ونعمة من نعمه الظاهرة، فيه بيان لقدرة الله تعالى في خلقه، وحكمته في شرعه، قال سبحانه: {وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓاْ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ}[الروم:21].

Pernikahan merupakan salah satu tanda kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menakjubkan dan nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang begitu jelas. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap makhluk-Nya dan kebijaksanaan-Nya dalam syariat-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓاْ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ

“Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21).

والزواج طاعة لأمر الله وأمر رسوله، وقربة:

 فقد أمر الله به في قوله: {وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ}[النور:42].

وأمر به رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: (تزوَّجوا الوَدودَ الولودَ فإنِّي مُكاثرٌ بِكُمُ الأُممَ)[صحيح سنن أبي داود، وراه النسائي أيضا]. وكذلك هنا في هذا الحديث: (مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ)، وقد حث كثيرا عليه صلوات الله وسلامه عليه.

Pernikahan merupakan ketaatan kepada perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan amal ibadah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memerintahkan menikah dalam firman-Nya:

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.” (QS. An-Nur: 32).

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga memerintahkan untuk menikah melalui sabda beliau:

تزوَّجوا الوَدودَ الولودَ فإنِّي مُكاثرٌ بِكُمُ الأُممَ

“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur, karena sungguh aku membanggakan jumlah kalian yang banyak di antara umat-umat lain.” (Shahih Sunan Abu Dawud dan juga diriwayatkan an-Nasa’i).

Beliau juga memerintahkannya dalam hadis yang kita bahas ini: “Barang siapa yang mampu menikah, maka menikahlah!” Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam banyak mendorong umatnya untuk menunaikan amalan ini.

والزواج سنة المرسلين والنبيين: فقد حكى القرآن عنهم أنهم كان لهم أزواج وكان لهم أولاد وأحفاد: {وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَٰجًا وَذُرِّيَّةً}[الرعد:38]. وقد أمرنا الله بالاقتداء بهم والاهتداء بهديهم فقال: {أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ}[الأنعام:90].

Pernikahan merupakan sunnah para Nabi dan Rasul

Al-Qur’an telah mengisahkan tentang para Rasul bahwa mereka memiliki istri dan anak keturunan. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَٰجًا وَذُرِّيَّةً

“Dan sungguh Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad) dan Kami berikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (QS. Ar-Ra’d: 38).

Allah Ta’ala juga memerintahkan kita untuk mencontoh dan meniti ajaran para Rasul dengan berfirman:

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ

“Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Maka, ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am: 90).

وهو هدي إمام المتقين وسيد ولد آدم أجمعين: فقد تزوج عليه الصلاة والسلام وكانت له ذرية، وقد رد التبتل على عثمان بن مظعون وعلي بن أبي طالب ومن أراده معهم من شباب الصحابة، ولما أراد بعض الصحابة أن يدع الزواج لأجل أن يتفرغ للعبادة نهاهم النبي صلى الله عليه وسلم وقال: (أَمَا واللَّهِ إنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وأَتْقَاكُمْ له، لَكِنِّي أصُومُ وأُفْطِرُ، وأُصَلِّي وأَرْقُدُ، وأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فمَن رَغِبَ عن سُنَّتي فليسَ مِنِّي)[متفق عليه وهذا لفظ البخاري].

Pernikahan merupakan tuntunan sang penghulu umat manusia, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Dulu Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam menikah dan memiliki keturunan. Beliau juga mengingkari kehidupan membujang yang dilakukan oleh Utsman bin Mazh’un dan Ali bin Abi Thalib serta para pemuda lainnya dari kalangan sahabat. Ketika ada seorang sahabat yang enggan menikah demi memfokuskan diri untuk beribadah, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam melarang mereka dengan bersabda:

أَمَا واللَّهِ إنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وأَتْقَاكُمْ له، لَكِنِّي أصُومُ وأُفْطِرُ، وأُصَلِّي وأَرْقُدُ، وأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فمَن رَغِبَ عن سُنَّتي فليسَ مِنِّي

“Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan paling bertakwa kepada-Nya, tapi aku tetap berpuasa dan tidak, aku mendirikan Shalat Malam dan tidur, dan aku tetap menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku, maka bukan bagian dariku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dan ini dari redaksi riwayat Al-Bukhari).

والزواج فطرة وخلقه: فالله سبحانه خلق الرجال وركَّب فيهم ميلا للنساء، وكذلك خلق النساء وركب فيهن ميلا للرجال؛ حكمةً منه بالغة لعمارة الكون وليخلف الإنسان الأرض، وهذه الخلافة لا تكون إلا بوجود ذرية يخلف بعضهم بعضا.. ولا تكون الذرية إلا من اجتماع الذكر بالأنثى.. وليس هناك سبيل مباح حلال مشروع لهذا اللقاء في زماننا إلا بالزواج الشرعي وتكوين الأسر الطاهرة، أما الزواج اللوطي بين رجل ورجل، أو الزواج السحاقي بين امرأتين فهذا زواج ملعون من قبل السماء وفي جميع الأديان، وهو مخالف للفطر السليمة والأخلاق القويمة المستقيمة، مع ما فيه من مخالفة كاملة لمقاصد الزواج التي جعلها الله فيه..

Pernikahan merupakan fitrah dan kodrat penciptaan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan kaum laki-laki dan menanamkan dalam diri mereka ketertarikan kepada kaum wanita. Demikian juga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan kaum wanita dan menanamkan dalam diri mereka ketertarikan kepada kaum laki-laki, sebagai kebijaksanaan-Nya yang mendalam untuk memakmurkan alam semesta dan agar manusia menjadi khalifah di muka bumi.

Suksesi di muka bumi ini tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan adanya keturunan yang saling menggantikan generasi demi generasi, dan keturunan itu tidak akan hadir melainkan dengan pertemuan laki-laki dan perempuan. Tidak ada jalan yang dibolehkan, dihalalkan, dan disyaratkan untuk pertemuan antara laki-laki dan perempuan ini pada zaman ini kecuali dengan pernikahan yang sesuai syariat dan pembentukan keluarga yang terhormat. 

Adapun pernikahan sesama jenis antara sesama laki-laki atau sesama perempuan, merupakan pernikahan yang dilaknat Tuhan dan terlarang di seluruh agama. Pernikahan seperti ini menyelisihi fitrah yang lurus dan nilai-nilai yang baik dan benar. Selain itu juga menyelisihi sepenuhnya tujuan-tujuan pernikahan yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetapkan.

والزواج سنة المرسلين والنبيين: فقد حكى القرآن عنهم أنهم كان لهم أزواج وكان لهم أولاد وأحفاد: {وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَٰجًا وَذُرِّيَّةً}[الرعد:38]. وقد أمرنا الله بالاقتداء بهم والاهتداء بهديهم فقال: {أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ}[الأنعام:90].

Pernikahan merupakan sunnah para Nabi dan Rasul

Al-Qur’an telah mengisahkan tentang para Rasul bahwa mereka memiliki istri dan anak keturunan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَٰجًا وَذُرِّيَّةً

“Dan sungguh Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad) dan Kami berikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (QS. Ar-Ra’d: 38).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga memerintahkan kita untuk mencontoh dan meniti ajaran para Rasul dengan berfirman:

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ

“Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Maka, ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am: 90).

وهو هدي إمام المتقين وسيد ولد آدم أجمعين: فقد تزوج عليه الصلاة والسلام وكانت له ذرية، وقد رد التبتل على عثمان بن مظعون وعلي بن أبي طالب ومن أراده معهم من شباب الصحابة، ولما أراد بعض الصحابة أن يدع الزواج لأجل أن يتفرغ للعبادة نهاهم النبي صلى الله عليه وسلم وقال: (أَمَا واللَّهِ إنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وأَتْقَاكُمْ له، لَكِنِّي أصُومُ وأُفْطِرُ، وأُصَلِّي وأَرْقُدُ، وأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فمَن رَغِبَ عن سُنَّتي فليسَ مِنِّي)[متفق عليه وهذا لفظ البخاري].

Pernikahan merupakan tuntunan sang penghulu umat manusia, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Dulu Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam menikah dan memiliki keturunan. Beliau juga mengingkari kehidupan membujang yang dilakukan oleh Utsman bin Mazh’un dan Ali bin Abi Thalib serta para pemuda lainnya dari kalangan sahabat. Ketika ada seorang sahabat yang enggan menikah demi memfokuskan diri untuk beribadah, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam melarang mereka dengan bersabda:

أَمَا واللَّهِ إنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وأَتْقَاكُمْ له، لَكِنِّي أصُومُ وأُفْطِرُ، وأُصَلِّي وأَرْقُدُ، وأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فمَن رَغِبَ عن سُنَّتي فليسَ مِنِّي

“Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan paling bertakwa kepada-Nya, tapi aku tetap berpuasa dan tidak, aku mendirikan salat malam dan tidur, dan aku tetap menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku, maka bukan bagian dariku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan ini dari redaksi riwayat Al-Bukhari).

والزواج فطرة وخلقه: فالله سبحانه خلق الرجال وركَّب فيهم ميلا للنساء، وكذلك خلق النساء وركب فيهن ميلا للرجال؛ حكمةً منه بالغة لعمارة الكون وليخلف الإنسان الأرض، وهذه الخلافة لا تكون إلا بوجود ذرية يخلف بعضهم بعضا.. ولا تكون الذرية إلا من اجتماع الذكر بالأنثى.. وليس هناك سبيل مباح حلال مشروع لهذا اللقاء في زماننا إلا بالزواج الشرعي وتكوين الأسر الطاهرة، أما الزواج اللوطي بين رجل ورجل، أو الزواج السحاقي بين امرأتين فهذا زواج ملعون من قبل السماء وفي جميع الأديان، وهو مخالف للفطر السليمة والأخلاق القويمة المستقيمة، مع ما فيه من مخالفة كاملة لمقاصد الزواج التي جعلها الله فيه..

Pernikahan merupakan fitrah dan kodrat penciptaan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan kaum laki-laki dan menanamkan dalam diri mereka ketertarikan kepada kaum wanita. Demikian juga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan kaum wanita dan menanamkan dalam diri mereka ketertarikan kepada kaum laki-laki, sebagai kebijaksanaan-Nya yang mendalam untuk memakmurkan alam semesta dan agar manusia menjadi khalifah di muka bumi.

Suksesi di muka bumi ini tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan adanya keturunan yang saling menggantikan generasi demi generasi, dan keturunan itu tidak akan hadir melainkan dengan pertemuan laki-laki dan perempuan. Tidak ada jalan yang dibolehkan, dihalalkan, dan disyaratkan untuk pertemuan antara laki-laki dan perempuan ini pada zaman ini kecuali dengan pernikahan yang sesuai syariat dan pembentukan keluarga yang terhormat. 

Adapun pernikahan sesama jenis antara sesama laki-laki atau sesama perempuan, merupakan pernikahan yang dilaknat Tuhan dan terlarang di seluruh agama. Pernikahan seperti ini menyelisihi fitrah yang lurus dan nilai-nilai yang baik dan benar. Selain itu juga menyelisihi sepenuhnya tujuan-tujuan pernikahan yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetapkan.

الزواج باب رزق وأجر:

أما كونه بابَ رزقٍ فقد قال تعالى: {وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ}[النور:32]. وقال صلى الله عليه وسلم: (ثلاثةٌ حقٌّ على اللَّهِ عونُهُم: المُجاهدُ في سبيلِ اللَّهِ، والمُكاتِبُ الَّذي يريدُ الأداءَ، والنَّاكحُ الَّذي يريدُ العفافَ)[رواه أحمد والترمذي والنسائي]. أي: الَّذي يُريدُ أن يتزوَّجَ ليُحصِّنَ نفْسَه مِن الزِّنا.

وأما كونه باب أجر: فقد قال عليه الصلاة والسلام: (وفي بُضْعِ أَحَدِكُم صدقةٌ. قالوا: يارسولَ اللهِ أَيَأْتِي أحَدُنا شَهْوَتَهُ وَيكونُ له فيها أجْرٌ؟ قال: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي الحرامِ ألَيْسَ كان يكونُ عليْهِ وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَها فِي الْحَلَالِ يكونُ لَهُ أجرٌ)[رواه مسلم].

Pernikahan merupakan pintu rezeki dan pahala

Adapun pernikahan sebagai pintu rezeki, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman:

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu, baik laki-laki maupun perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 32).

Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

ثلاثةٌ حقٌّ على اللَّهِ عونُهُم: المُجاهدُ في سبيلِ اللَّهِ، والمُكاتِبُ الَّذي يريدُ الأداءَ، والنَّاكحُ الَّذي يريدُ العفافَ

“Ada tiga golongan yang wajib bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menolong mereka: (1) orang yang berjihad di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, (2) budak yang ingin membayar harga kemerdekaannya, (3) orang yang menikah karena ingin menjaga kehormatan.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan an-Nasa’i).

Yakni yang ingin menikah demi menjaga diri dari perzinaan.

Sedangkan pernikahan sebagai pintu pahala, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

وفي بُضْعِ أَحَدِكُم صدقةٌ. قالوا: يارسولَ اللهِ أَيَأْتِي أحَدُنا شَهْوَتَهُ وَيكونُ له فيها أجْرٌ؟ قال: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي الحرامِ ألَيْسَ كان يكونُ عليْهِ وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَها فِي الْحَلَالِ يكونُ لَهُ أجرٌ

“Dan pada kemaluan kalian terdapat sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah salah satu dari kita menyalurkan syahwatnya (dengan istrinya) dan dia mendapat pahala?” Beliau menjawab, “Bagaimana menurut kalian jika dia menyalurkannya dalam hal yang haram, bukankah dia mendapatkan dosa? Demikianlah jika dia menyalurkannya dalam hal yang halal, dia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim).

والزواج سبيل لتحصيل الذرية: يسعد بها الإنسان في حياته، ويدعون له ويتصدقون عنه بعد وفاته، كما قال صلى الله عليه وسلم: (إِذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عنْه عَمَلُهُ إِلَّا مِن ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِن صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو له)[رواه مسلم].

Pernikahan merupakan jalan untuk memperoleh keturunan

Dengan keturunan itu, seorang insan dapat berbahagia dalam hidupnya, mereka mendoakan kebaikan baginya dan bersedekah atas namanya setelah kematiannya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam:

إِذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عنْه عَمَلُهُ إِلَّا مِن ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِن صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو له

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara, kecuali dari sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

أغض للبصر وأحصن للفرج

ومن حكم الزواج التي نص عليها النبي في هذا الحديث أنه (أغَضُّ لِلْبَصَرِ وأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ)، وغض الأبصار وحفظ الفروج مطلب ديني وأمر شرعي قال تعالى: {قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ}[النور:30، 31].[المؤمنون:5-6].

Lebih menjaga pandangan dan lebih melindungi kemaluan

Di antara hikmah pernikahan yang disebutkan secara langsung dalam hadis yang kita bahas ini adalah lebih membantu seseorang untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan merupakan tuntutan agama dan perintah Syariat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada para perempuan yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30-31).

Juga yang difirmankan dalam surat Al-Mu’minun ayat 5-6.

إن الله تعالى أرسل المرسلين وجعل من مقاصد بعثتهم تصحيح عقائدهم، وتزكية نفوسهم، وتطهير مجتمعاتهم، وفي الزواج طهارة للمجتمع، وسلامة للبيوت، وحفظ للأعراض، وصيانة للأنساب؛ لأن هذه الشهوة شهوة جامحة، فإذا لم يجد الإنسان لها مصرفا حلالا يقضي فيه وطره ويصرف فيه شهوته وإلا بحث لها عن مصرف حرام.

Allah Ta’ala mengutus para rasul dan menetapkan salah satu tujuan pengutusan mereka adalah untuk meluruskan akidah, membersihkan jiwa, dan membetulkan masyarakat mereka. Sedangkan pernikahan merupakan pembersihan bagi masyarakat, keselamatan bagi rumah tangga, penjagaan terhadap kehormatan, dan perlindungan terhadap nasab, karena syahwat manusia sangat menggelora, apabila ia tidak mendapatkan objek yang halal untuk menyalurkan syahwatnya maka ia akan mencari objek penyaluran yang haram.

ولهذا من أكبر مفاسد ترك الزواج وإغلاق أبوابه ووضع العراقيل أمام طالبيه، بغلاء المهور وكثرة الطلبات ومبالغ الحفلات وتكاليفه الكثيرة، فيعزف عنه الشباب وأن يسلكوا مسالك أخرى منكرة وهذا فيه فساد للشباب والشابات، وفتح أبواب المحرمات، وانتشار الفواحش والمنكرات.

Oleh sebab itu, di antara kerusakan terbesar yang timbul adalah akibat pengabaian pernikahan, penghambatan jalan menuju pernikahan, penyulitan terhadap orang-orang yang ingin menjalankannya dengan memperbesar mahar, memperbanyak syarat, dan berlebihan dalam resepsi pernikahan, serta tuntutan-tuntutan lain, sehingga pemuda-pemudi berpaling darinya dan lebih memilih jalan-jalan lain yang mungkar. Tentu ini menimbulkan kerusakan pada generasi muda, membuka pintu-pintu yang diharamkan, dan tersebarnya perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.

فالزواج باب إعفاف للفرج وصيانة للبصر وغض عن المحارم، وفي هذا إعانة على أداء العبادات والطاعات في حضور قلب وإقبال على الرب، لأن الشهوة إذا غلبت أنطلق البصر وصال وجال، فإذا قلبه صاحبه في وجوه الحسان أفسد القلب، وشتت الفكر، وهيج الشهوة، ودعا إلى الحرام.

كلُّ الحوادثِ مبدأُها من النظر .. .. .. ومُعظَمُ النارِ مِنْ مُستَصْغرِ الشَرِرِ

كْم نظرةٍ فعلتْ في قلب صاحبها .. .. فِعْــلَ السهــامِ بلا قـوسٍ ولا وتـرِ

والمــرءُ مـا دامَ ذا عينٍ يُقَـــلِبُها .. .. في أَعينِ الغِيرِ موقوفٌ على خَطرِ

يَســــرُّ مُقلَــتَهُ ما ضــرَّ مُهجَـتَهُ .. .. . لا مرحباً بســرورِ عــادَ بالضـررِ

Pernikahan merupakan pintu untuk menjaga kemaluan dan menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan. Ini juga memberi kemudahan dalam menunaikan ibadah dan ketaatan dengan penuh kehadiran hati dan antusiasme menghadap Tuhan, karena jika syahwat telah menguasai, pandangan mata akan liar dan susah dikendalikan, lalu apabila pemilik mata itu hendak mengarahkannya untuk hal-hal yang baik, maka hatinya menjadi gusar, fokusnya terpecah, syahwatnya terus bergejolak, dan mengajak kepada hal yang haram.

كلُّ الحوادثِ مبدأُها من النظر ومُعظَمُ النارِ مِنْ مُستَصْغرِ الشَرِرِ

Setiap kecelakaan dimulai dari pandangan, Dan sebagian besar api berasal dari percikan.

كْم نظرةٍ فعلتْ في قلب صاحبها  فِعْــلَ السهــامِ بلا قـوسٍ ولا وتـرِ

Betapa banyak pandangan yang mencelakakan hati pemiliknya, Seperti anak panah yang menghujam tanpa busur dan tanpa tali.

والمــرءُ مـا دامَ ذا عينٍ يُقَـــلِبُها  في أَعينِ الغِيرِ موقوفٌ على خَطرِ

Selama seseorang itu mengumbar matanya, Untuk melihat mata-mata jelita, maka ia berada dalam bahaya.

يَســــرُّ مُقلَــتَهُ ما ضــرَّ مُهجَـتَهُ لا مرحباً بســرورِ عــادَ بالضـررِ

Matanya bahagia tapi membahayakan hatinya, Sungguh tidak berguna kebahagiaan yang menimbulkan bahaya.

ومن لم يستطع فعليه بالصوم

فالزواج سبيل إلى تهدئة النفس والقلب والخاطر وتفريغ القلب والنفس من الشواغل للإقبال على عبادة الله سبحانه وتعالى في أكمل حال. وأما من لم يقدر عليه لضعف ذات يد، أو قلة مال، أو أي سبب فإنما سبيله أن يحاول إضعاف شهوته وتقليلها، بأي سبيل مباح وأفضله الصوم لأنه يضعف الشهوة والفكر فيها فكأنه كالخصاء، ثم إنه طاعة روحانية وعبادة إيمانية تصرف في الغالب صاحبها عن التفكير فيما يحرم، أو الاسترسال في النظر المحرم ودواعي الشهوة..

ولا شك أن الصوم سبيل من السبل وليس كلها، وهناك سبل أخرى كشغل النفس بعمل مفيد، وقضاء الوقت فيما هو نافع، أو تناول الأطعمة الطبيعية المثبطة للشهوة، وكذلك إن استدعى الأمر الأدوية، وأما إن كان الصوم يكفي فهو خير الأدوية، وهذا كله لمن لم يقدر على الزواج فإنه العلاج الناجع والدواء النافع وهو الأصل وما بعده معالجة لداء عدم وجوده.

Yang tidak mampu menikah hendaklah berpuasa

Pernikahan merupakan cara untuk menenangkan jiwa, hati, dan pikiran, menenangkan hati dan jiwa dari pikiran-pikiran yang menyibukkan agar dapat menyelami ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan paling sempurna.

Adapun orang yang belum mampu menikah karena rendahnya penghasilan, sedikitnya harta, atau sebab-sebab lainnya, maka jalan baginya adalah berusaha melemahkan dan menurunkan syahwatnya dengan cara apa pun yang diperbolehkan, dan cara yang paling afdal adalah puasa, karena puasa dapat melemahkan gejolak syahwat dan pikiran tentangnya, seakan-akan itu seperti kebiri.

Selain itu, puasa juga suatu ketaatan rohani dan ibadah imani yang biasanya dapat mengalihkan pelakunya dari memikirkan hal-hal yang diharamkan, dan mengumbar pandangan kepada hal yang diharamkan dan pemantik syahwat.

Tidak diragukan bahwa puasa merupakan salah satu cara saja, bukan satu-satunya. Terdapat cara-cara lain seperti menyibukkan diri dalam hal-hal yang bermanfaat, menggunakan waktu untuk hal yang berfaedah, mengonsumsi makanan-makanan alami yang menurunkan syahwat, dan – jika dibutuhkan – mengonsumsi obat.

Namun, jika puasa saja sudah cukup, maka itulah sebaik-baik obat. Puasa ini dianjurkan bagi orang yang belum mampu menikah, karena ini merupakan cara yang jitu dan obat yang manjur sekaligus cara utama. Adapun cara lainnya merupakan alternatif tambahan.

Sumber:

https://www.islamweb.net/ar/article/237274/أغض-للبصر-وأحصن-للفرج

Kewajiban Seorang Muslim Dalam Menepati Janji

Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Apakah menepati janji dikatakan termasuk akhlak mulia?

جزاك اللهُ خيراً

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Ya, menepati janji itu termasuk akhlak yang mulia, bahkan itu adalah kewajiban selama bukan dalam maksiat dan dosa. Sungguh Al-Qur`an telah memerhatikan permasalahan janji ini dan memberi dorongan serta memerintahkan untuk menepatinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدتُّمْ وَلَا تَنقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا“

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu sesudah meneguhkannya….” (QS. An-Nahl: 91)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

“Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra`: 34)

Demikianlah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa menjaga, memelihara, dan melaksanakan janjinya. Hal ini mencakup janji seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, janji hamba dengan hamba, dan janji atas dirinya sendiri seperti nadzar. Masuk pula dalam hal ini apa yang telah dijadikan sebagai persyaratan dalam akad pernikahan, akad jual beli, perdamaian, gencatan senjata, dan semisalnya.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh: 
Ustadz Fadly Gugul, S.Ag. حافظه الله

sumber: https://bimbinganislam.com/kewajiban-seorang-muslim-dalam-menepati-janji/

[Besok] Reminder Puasa Ayyaumil Bidh

Lakukanlah Puasa Sunnah Minimal Sebulan 3 Kali

Minimal seorang muslim melakukan puasa sunnah sebanyak tiga kali dalam sebulan. Yang utama adalah melakukan puasa pada ayyamul bidh (13, 14, 15 hijriyah).

Dalil Anjuran[Dalil pertama]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: [1] berpuasa tiga hari setiap bulannya, [2] mengerjakan shalat Dhuha, [3] mengerjakan shalat witir sebelum tidur.”[1][Dalil Kedua]

Mu’adzah bertanya pada ‘Aisyah,

أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَتْ نَعَمْ. قُلْتُ مِنْ أَيِّهِ كَانَ يَصُومُ قَالَتْ كَانَ لاَ يُبَالِى مِنْ أَيِّهِ صَامَ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa tiga hari setiap bulannya?” ‘Aisyah menjawab, “Iya.” Mu’adzah lalu bertanya, “Pada hari apa beliau melakukan puasa tersebut?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau).”[2][Dalil Ketiga]

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul biidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.”[3][Dalil Keempat]

Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya,

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).”[4][Dalil Kelima]

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ

Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.”[5]

Pelajaran Penting

  1. Dianjurkan berpuasa tiga hari setiap bulannya, pada hari apa saja. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin menjelaskan, “Puasa tiga hari setiap bulannya boleh dilakukan pada sepuluh hari pertama, pertengahan bulan atau sepuluh hari terakhir dari bulan Hijriyah, atau pula pada setiap sepuluh hari tadi masing-masing satu hari. Puasa tersebut bisa pula dilakukan setiap pekan satu hari puasa. Ini semuanya boleh dan melakukan puasa tiga hari setiap bulannya ada keluasan melakukannya di hari mana saja. Oleh karena itu, ‘Aisyah mengatakan, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau di awal, pertengahan atau akhir bulan hijriyah)”.”[6]
  2. Hari yang utama untuk berpuasa adalah pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah yang dikenal dengan ayyamul biid. Ada pula yang mengatakan bahwa ayyamul biid adalah hari ke-12, 13 dan 14. Namun pendapat pertama tadi lebih kuat.
  3. Hari ini disebut dengan ayyamul biid (biid = putih, ayyamul = hari) karena pada malam ke-13, 14, dan 15 malam itu bersinar putih dikarenakan bulan purnama yang muncul pada saat itu.

Faedah Puasa Tiga Hari Setiap Bulan

  1. Menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Melakukan puasa tiga hari setiap bulannya seperti melakukan puasa sepanjang tahun karena pahala satu kebaikan adalah sepuluh kebaikan semisal. Berarti puasa tiga hari setiap bulan sama dengan puasa sebanyak tiga puluh hari setiap bulan. Jadi seolah-olah ia berpuasa sepanjang tahun.[7]
  3. Memberi istirahat pada anggota badan setiap bulannya.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel https://rumaysho.com

9 Rabi’ul Awwal 1431 H


[1] HR. Bukhari no. 1178.

[2] HR. Tirmidzi no. 763 dan Ibnu Majah no. 1709. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[3] HR. An Nasai no. 2345. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Ash Shohihah no. 580.

[4] HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2424. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.

[5] HR. Bukhari no. 1979.

[6] Syarh Riyadhus Sholihin, 3/470.

[7] Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin di Syarh Riyadhus Sholihin, 3/469.

Sumber https://rumaysho.com/863-lakukanlah-puasa-sunnah-minimal-sebulan-3-kali.html

Mengenal Malaikat Mikail

Mengenal Malaikat Mikail

Siapa sejatinya malaikat Mikail? Apa tugasnya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Nama malaikat Mikail disebutkan dalam al-Quran, tepatnya di surat al-Baqarah,

مَن كَانَ عَدُوًّا لِّلّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللّهَ عَدُوٌّ لِّلْكَافِرِينَ

“Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (QS. al-Baqarah: 98)

Tidak semua nama malaikat disebutkan dalam al-Quran. Hanya beberapa Malaikat saja yang namanya disebutkan dalam al-Quran. Diantaranya adalah Mikail. Yang ini menunjukkan keistimewaan Mikail – alaihis salam –. Dalam ayat di atas, Allah menegaskan bahwa Allah memusuhi orang yang memusuhi Mikail. Dan bahwa musuh Mikail adalah orang kafir.

Malaikat Mikail bertugas mengatur hujan dan pepohonan.

Dari Alqamah bin Martsad, dari Abdurrahman bin Sabith, beliau mengatakan,

يُدَبِّرُ الأُمُورَ أَرْبَعَةٌ : جِبْرِيلُ ، وَمِيكَائِيلُ ، وَإِسْرَافِيلُ ، وَمَلَكُ الْمَوْتِ صَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَعَلَيْهِمْ وَسَلَّمَ ، فَجِبْرِيلُ عَلَى الرِّيحِ وَالْجُنُودِ ، وَمِيكَائِيلُ عَلَى الْقَطْرِ وَالنَّبَاتِ ، وَمَلَكُ الْمَوْتِ يَقْبِضُ الأَرْوَاحَ ، وَإِسْرَافِيلُ يُبَلِّغُهُمْ مَا يُؤْمَرُونَ بِهِ

Ada 4 malaikat yang mengatur urusan: Jibril, Mikail, Israfil dan Malaikat maut – semoga shalawat dan salam tercurah untuk nabi kita dan mereka –

Jibril mengatur angin dan pasukan, Mikail mengatur hujan dan pepohonan, malaikat maut yang mencabut nyawa, dan Israfil menyampaikan kepada mereka apa yang diperintahkan kepada mereka. (HR. Abu Syaikh al-Ashbahani dalam al-Adzamah, no. 294. Hadis ini adalah hadis Maqthu’, karena Abdurrahman bin Sabith adalah seorang tabi’in).

Imam Ibnu Baz mengatakan,

ميكائيل ملك من الملائكة موكَّل بالقطر، بالمطر، وأما جبرائيل فهو الروح الأمين

Mikail adalah malaikat yang diperintahkan untuk mengatur hujan. Sementara Jibril adalah ar-Ruh al-Amin. (Fatawa Ibnu Baz, no. 1452)

Khusyu’nya Mikail

Terdapat hadis dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada Jibril,

مَا لِي لَمْ أَرَ مِيكَائِيلَ ضَاحِكًا قَطُّ؟

“Mengapa saya tidak pernah melihat mikail tersenyum?”

Jawab Jibril,

مَا ضَحِكَ مِيكَائِيلُ مُنْذُ خُلِقَتِ النَّارُ

“Mikail tidak lagi tersenyum sejak neraka diciptakan.”

Status hadis:

Hadis ini diriwayatkan Imam Ahmad dalam al-Musnad 13343 dan ulama berbeda pendapat dalam menilai validitasnya. Sebagian ulama menilai hadis ini hasan, seperti al-Hafidz al-Iraqi (Takhrij Ihya, 4/181). Hadis ini juga diriwayatkan al-Ajuri dalam as-Syariah (no. 932). Meskipun ada juga ulama yang menilainya dhaif, seperti Syuaib al-Arnauth..

Demikian keterangan yang kami ketahui tentang Mikail…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

sumber : https://konsultasisyariah.com/31281-mengenal-malaikat-mikail.html

Hukum Mencuci Kaki Orangtua dan Meminum Airnya

Hukum Mencuci Kaki Orangtua dan Meminum Airnya

Pertanyaan:

Ustadz saya ada pertanyaan,… Apakah mencuci kaki ibu lalu meminum airnya adalah ajaran islam? Kalau benar apakah ada hadist nya? Jazaakallahu khairan

Via web dari Ummu rasyid

(wenny******@gmail.com)

Jawaban:

Bismillah walhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’d

Sepengetahuan kami, tidak ada ayat ataupun hadits yang menganjurkan seorang muslim untuk berbakti kepada ibu dengan cara seperti itu. Bahkan perbuatan seperti itu adalah perbuatan berlebihan (ghulluw) yang bisa menjerumuskan orang dalam kesesatan beragama. Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ ؛ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

“Wahai manusia, hati-hatilah dari perbuatan berlebihan/ghulluw dalam beragama! Sesungguhnya yang membuat hancur umat-umat sebelum kalian adalah ghulluw dalam agama.” (HR. An-Nasai no. 3057, Ibnu Majah no. 3029, dan Ahmad no. 1851)

Bentuk Bakti kepada Orangtua yang Benar

Adapun bentuk-bentuk bakti seorang anak kepada orangtuanya yang diajarkan dalam Islam sangat banyak sekali, antara lain:

Pertama, menemani orangtua dengan baik terlebih lagi ketika mereka sudah berumur yang tentunya sangat senang apabila anak-anaknya berada di sisinya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ

“Dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan cara yang baik” (QS. Luqman 31: 15)

Kedua, berkata dengan perkataan yang lemah lembut dan berisi yang baik-baik. Bedakan berkata dengan orangtua dengan berkata pada teman atau orang yang lebih muda. Jangan berkata dengan nada meremehkan, apalagi perkataan yang menghardik orangtua. Selain itu, usahakan untuk tidak menyampaikan perkataan yang bisa membuat hati orangtua tidak enak. Hal yang demikian ini lebih ditekankan lagi apabila orangtua kita sudah berusia lanjut.

Allah Ta’ala berfirman,

۞ وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Israa 17: 23)

Ketiga, senantiasa mendoakan mereka baik ketika mereka masih hidup terlebih lagi ketika mereka sudah wafat jika mereka seorang muslim. Jika orangtua non-muslim dan masih hidup kita bisa mendoakan meminta agar Allah memberikan hidayah Islam kepadanya. Adapun jika orangtua non-muslim dan sudah wafat maka kita tidak boleh mendoakannya.

Allah berfirman memerintahkan kita untuk mendoakan keduanya:

وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا         

“dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS. Al-Israa 17: 24)

Adapun larangan mendoakan orangtua non-muslim yang sudah meninggal adalah firman Allah Ta’ala:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَن يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah 9: 113)

Keempat, membantu orangtua secara finansial terlebih lagi kalau mereka membutuhkan. Jika mereka tidak membutuhkan karena sudah cukup berada misalnya, kita bisa sesekali memberikan hadiah kepada mereka dengan barang-barang/makanan yang mereka sukai.

Allah berfirman,

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah 2: 215)

Kelima, tetap menjalin hubungan baik kepada orang-orang yang baik dengan orangtua ketika mereka masih hidup.

Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma pernah menemui seorang badui di perjalanan menuju Mekah, mereka orang-orang yang sederhana. Kemudian Abdullah bin Umar mengucapkan salam kepada orang tersebut dan menaikkannya ke atas keledai, kemudian sorbannya diberikan kepada orang badui tersebut, kemudian Abdullah bin Umar berkata, “Semoga Allah membereskan urusanmu”. Kemudian Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya bapaknya orang ini adalah sahabat karib dengan Umar sedangkan aku mendengar sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ 

“Sesungguhnya termasuk kebaikan seseorang adalah menjaga hubungan baik kepada teman-teman ayahnya” (HR. Muslim no. 2552)

Demikian beberapa hal yang diajarkan oleh Islam untuk berbakti kepada kedua orangtua ketika mereka masih hidup maupun sesudah wafat. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.


Dijawab secara ringkas oleh:

Ustadz Amrullah Akadhinta حفظه الله

sumber: https://bimbinganislam.com/hukum-mencuci-kaki-orangtua-dan-meminum-airnya/