Adab-adab Menguap dan Bersin

Oleh
Syaikh ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani

  1. Apabila seseorang akan menguap, maka hendaknya menahan semampunya dengan jalan menahan mulutnya serta mempertahankannya agar jangan sampai terbuka, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ.

“Kuapan (menguap) itu datangnya dari syaitan. Jika salah seorang di antara kalian ada yang menguap, maka hendaklah ia menahan semampunya” [HR. Al-Bukhari no. 6226 dan Muslim no. 2944. Lafazh ini berdasarkan riwayat al-Bukhari]

Apabila tidak mampu menahan, maka tutuplah mulut dengan meletakkan tangannya pada mulutnya, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيْهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ

“Apabila salah seorang di antara kalian menguap maka hendaklah menutup mulut dengan tangannya karena syaitan akan masuk (ke dalam mulut yang terbuka).” [HR. Muslim no. 2995 (57) dan Abu Dawud no. 5026]

  1. Tidak disyari’atkan untuk meminta perlindungan dari syaitan kepada Allah ketika menguap, karena hal tersebut tidak ada contohnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula dari para Sahabatnya.

ADAB-ADAB BERSIN

  1. Hendaknya orang yang bersin untuk merendahkan suaranya dan tidak secara sengaja mengeraskan suara bersinnya. Hal tersebut berdasarkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا عَطَسَ غَطَّى وَجْهَهُ بِيَدِهِ أَوْ بِثَوْبِهِ وَغَضَّ بِهَا صَوْتَهُ.

“Bahwasanya apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersin, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup wajah dengan tangan atau kainnya sambil merendahkan suaranya.” [HR. Ahmad II/439, al-Hakim IV/264, Abu Dawud no. 5029, at-Tirmidzi no. 2746. Lihat Shahih at-Tirmidzi II/355 no. 2205]

  1. Hendaknya bagi orang yang bersin menahan diri untuk tidak menolehkan leher (menekukkan leher) ke kanan atau ke kiri ketika sedang bersin karena hal tersebut dapat membahayakannya. Seandainya lehernya menoleh (menekuk ke kanan atau ke kiri) itu dimaksudkan untuk menjaga agar tidak mengenai teman duduk di sampingnya, hal itu tidak menjamin bahwa lehernya tidak cedera. Telah terjadi pada beberapa orang ketika bersin memalingkan wajahnya dengan tujuan untuk menjaga agar teman duduknya tidak terkena, namun berakibat kepalanya kaku dalam posisi menoleh.
  2. Dianjurkan kepada orang yang bersin untuk mengucapkan alhamdulillaah sesudah ia selesai bersin. Dan tidak disyari’atkan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya untuk serta merta mengucapkan pujian kepada Allah (menjawabnya) ketika mendengar orang yang bersin. Telah ada ungkapan pujian yang disyari’atkan bagi orang yang bersin sebagaimana yang tertuang dalam sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu:


اَلْحَمْدُ ِللهِ.

“Segala puji bagi Allah” [HR. Al-Bukhari no. 6223, at-Tirmidzi no. 2747]

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

“Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.” [HR. Al-Bukhari di dalam al-Adaabul Mufrad no. 394, an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 224, Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no.259. Lihat Shahihul Jami’ no. 686]

اَلْحَمْدُ ِللهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ.

“Segala puji bagi Allah atas segala hal” [HR. Ahmad I/120,122, at-Tirmidzi no. 2738, ad-Darimi II/283, al-Hakim IV/66. Lihat Shahih at-Tirmidzi II/354 no. 2202]

اَلْحَمْدُ ِللهِ حَمْدًا كَثِِيْرًا طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَ يَرْضَى.

“Segala puji bagi Allah (aku memuji-Nya) dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh ke-berkahan sebagaimana yang dicintai dan diridhai oleh Rabb kami.” [HR. Abu Dawud no. 773, al-Hakim III/232. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud I/147 no. 700]

  1. Wajib bagi setiap orang yang mendengar orang bersin (dan mengucapkan alhamdulillah) untuk melakukan tasymit kepadanya, yaitu dengan mengucapkan,

يَرْحَمُكَ اللهُ

“Semoga Allah memberikan rahmat kepadamu.”

Apabila tidak mendengarnya mengucapkan al-hamdulillah, maka janganlah mengucapkan tasymit (ucapan yarhamukallah) baginya, dan tidak perlu mengingatkannya untuk mengucapkan hamdallah (ucapan alhamdulillaah).[1]

  1. Bila ada orang kafir bersin lalu dia memuji Allah, boleh berkata kepadanya:

يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ.

“Semoga Allah memberikan pada kalian petunjuk dan memperbaiki keadaan kalian.”

Hal ini berdasarkan hadits Abu Musa al-‘Asy’ari Radhiyallahu anhu, ia berkata:

كَانَ الْيَهُوْدُ يَتَعَاطَسُوْنَ عِنْدَ رَسُوْلِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُوْنَ أَنْ يَقُوْلَ لَهُمْ يَرْحَمُكُمُ اللهُ، فَيَقُوْلُ: يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ باَلَكُمْ.

“Orang-orang Yahudi berpura-pura bersin di ha-dapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berharap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudi mengatakan kepada mereka yarhamukumullah (semoga Allah memberikan rahmat bagi kalian), namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengucapkan yahdikumullaah wa yushlihu baalakum (semoga Allah memberikan pada kalian petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).” [HR. Ahmad IV/400, al-Bukhari dalam al-Adaabul Mufrad II/392 no. 940, Abu Dawud no. 5058, an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 232, at-Tirmidzi no. 2739, al-Hakim IV/268. Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi II/354 no. 2201]

Baca Juga  Amanah

  1. Apabila orang yang bersin itu menambah jumlah bersinnya lebih dari tiga kali, maka tidak perlu dijawab dengan ucapan yarhamukallah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيُشَمِّتْهُ جَلِيْسُهُ، وَإِنْ زَادَ عَلَى ثَلاَثٍ فَهُوَ مَزْكُوْمٌ وَلاَ تُشَمِّتْ بَعْدَ ثَلاَثِ مَرَّاتٍ.

“Apabila salah seorang di antara kalian bersin, maka bagi yang duduk di dekatnya (setelah mendengarkan ucapan alhamdulillaah) menjawabnya dengan ucapan yarhamukallah, apabila dia bersin lebih dari tiga kali berarti ia sedang terkena flu dan jangan engkau beri jawaban yarhamukallah setelah tiga kali bersin.” [HR. Abu Dawud no. 5035 dan Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 251. Lihat Shahiihul Jami’ no. 684]

Dan jangan mendo’akan orang yang bersin lebih dari tiga kali serta jangan pula mengucapkan kepadanya do’a:

شَفَاكَ اللهُ وَعَافَاكَ.

“Semoga Allah memberikan kesembuhan dan menjagamu.”

Karena seandainya hal tersebut disyari’atkan maka tentulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkannya.

  1. Apabila ada orang yang bersin sedangkan imam sedang berkhutbah (Jum’at), maka ia harus mengucapkan alhamdulillah (dengan merendahkan suara) dan tidak wajib untuk dijawab yarhamu-kallah karena diam dikala khutbah Jum’at adalah wajib hukumnya.
  2. Barangsiapa yang bersin sedangkan ia dalam keadaan tidak dibolehkan untuk berdzikir (memuji Allah), misalnya sedang berada di WC, apabila ia khilaf menyebutkan alhamdulillah, maka tidak wajib bagi kita yang mendengarkannya untuk menjawab yarhamukallah. Hal ini karena berdzikir di WC terlarang. [Lihat kitab Adaabut Tatsaa-ub wal ‘Uthas oleh ar-Rumaih]

[Disalin dari kitab Aadaab Islaamiyyah, Penulis ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani, Judul dalam Bahasa Indonesia Adab Harian Muslim Teladan, Penerjemah Zaki Rahmawan, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Kedua Shafar 1427H – Maret 2006M]


Footnote
[1] Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَحَمِدَ اللهَ: فَشَمِّتُوْهُ فِإِنْ لَمْ يَحْمَدِ اللهَ فَلاَ تُشَمِّتُوْهُ.

“Jika salah seorang dari kalian bersin lalu mengucapkan alhamdulillah, maka hendaklah kalian mengucapkan tasymit (ucapan yarhamukallah) baginya, namun jika tidak, maka janganlah mengucapkan tasymit baginya.” [HR. Muslim no. 2992]
Referensi : https://almanhaj.or.id/4010-adab-adab-menguap-dan-bersin.html

Manusia Bisa Mengecewakanmu, Tapi Allah Tidak Akan Mengecewakanmu

Janganlah engkau berharap sedikit pun kepada manusia termasuk kepada orang yang terdekat denganmu, seperti orang tua, teman, kerabat, dosen, dan lain-lainnya, karena mereka bisa membuatmu kecewa. Tapi kalau kita berharap kepada Allah, Allah Maha mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Oleh karena itu, apapun yang kamu mau, jangan lupa untuk terus meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

(1) Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa;

اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ

(2) Allah tempat meminta segala sesuatu;

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ

(3) Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.”

Ash-Shamad adalah salah satu nama di antara Asmaul Husna yang dimiliki oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Para ulama Salaf memberikan berbagai penjelasan tentang makna Ash-Shamad, namun perbedaan tersebut dapat diterima karena tidak saling bertentangan, bahkan saling melengkapi. Oleh karena itu, semua makna yang diungkapkan dapat disandarkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berikut adalah penjelasan para ulama tentang makna Ash-Shamad:

1) (Rabb) tempat bergantung segala makhluk untuk memenuhi semua kebutuhan dan permintaan mereka. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berdasarkan riwayat dari ‘Ikrimah.

2) Yang Maha Kekal setelah semua makhluk binasa. Ini adalah pendapat Al-Hasan dan Qatadah.

3) Al-Hayyu Al-Qayyûm, Yang Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri, dan Mengurusi makhluk, serta tidak akan binasa. Pendapat ini juga dari Al-Hasan.

4) Tidak makan dan tidak berongga, menurut pendapat ‘Ikrimah, Ibnu Mas’ud, Mujahid, dan ulama lainnya.

5) Yang tiada beranak dan tidak diperanakkan, pendapat Ar-Rabi’ bin Anas.

6) Cahaya yang bersinar, pendapat Abdullah bin Buraidah.

Imam Thabrani rahimahullah menyimpulkan bahwa semua makna tersebut benar, karena semuanya menggambarkan sifat Allah ‘Azza wa Jalla sebagai tempat bergantung makhluk, yang kekuasaan-Nya sempurna, tidak berongga, tidak makan, tidak minum, dan Maha Kekal setelah makhluk-Nya binasa. Pendapat ini juga didukung oleh Imam Al-Baihaqi rahimahullah.

Syaikh Musa’id Ath-Thayyâr hafizhahullah menyebutkan lima makna Ash-Shamad dan menjelaskan bahwa perbedaan pendapat para ulama Salaf termasuk dalam kategori ikhtilaf tanawwu’ (perbedaan dalam ragam penjelasan), bukan perselisihan makna. Semua pendapat itu kembali pada inti yang sama: Allah tidak memerlukan apa pun sebagaimana yang diperlukan makhluk, karena kesempurnaan kekuasaan-Nya.

Kemudian dalam surah Al-Ikhlas terdapat faidah yang bisa ketahui adalah:

1) Penegasan sifat keesaan (ahadiyyah) bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2) Penegasan sifat shamadiyyah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu sifat-Nya yang tidak memerlukan apa pun sebagaimana makhluk memerlukan, karena kesempurnaan kekuasaan-Nya.

3) Pengenalan terhadap Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

4) Penetapan konsep tauhid dan pengakuan terhadap kenabian.

5) Bantahan terhadap klaim bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki anak.

6) Penegasan kewajiban untuk beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena hanya Dia yang berhak disembah.

Berharap kepada manusia sering kali menjadi sumber kekecewaan yang mendalam. Ini bukan karena manusia jahat atau tak peduli, tetapi karena manusia adalah makhluk yang terbatas dalam kemampuan, kekuatan, dan bahkan kesetiaan. Mereka bisa berjanji, tapi tak selalu mampu menepati. Mereka bisa memberikan perhatian, tapi tak bisa melakukannya selamanya. Hati mereka berubah, kondisi mereka tidak stabil atau tidak menentu, dan mereka pun memiliki kelemahan yang tak bisa dihindari. Namun, berbeda dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tak pernah mengecewakan hamba-Nya. Allah adalah tempat terbaik untuk menggantungkan harapan, karena Dia Maha Mengetahui segala kebutuhanmu, bahkan sebelum kamu meminta. Maka, jika kamu tak ingin hatimu remuk oleh kekecewaan, belajarlah untuk berharap kepada Allah semata, bukan kepada manusia yang hanya menjalani takdirnya.

***

Penulis: Rizka Fajri Indra

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

https://almanhaj.or.id/5402-tafsir-surat-alikhlas.html

Sumber: https://muslimah.or.id/21383-manusia-bisa-mengecewakanmu-tapi-allah-tidak-akan-mengecewakanmu.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Bersabar Terhadap Penguasa


وعَن ابْنِ مسْعُودٍ رضي اللَّه عنه أنَّ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إِنَّهَا سَتكُونُ بَعْدِى أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرونَها ، قَالُوا : يا رسُولَ اللَّهِ فَما تَأمرُنا ؟ قالَ : تُؤَدُّونَ الْحقَّ الَّذي عَلَيْكُمْ وتَسْألونَ اللَّه الذي لكُمْ » متفقٌ عليه

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya sepeninggalku, kalian akan melihat sikap mementingkan diri sendiri (yang dilakukan oleh penguasa) dan banyak hal yang kalian pasti mengingkarinya (menolaknya).” Para sahabat bertanya, “Apa yang akan engkau perintahkan kepada kami, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tunaikan hak mereka dengan baik dan mohonlah hak kalian kepada Allah Ta’ala.”

(Muttafaq ‘alaih, HR. Bukhari, no. 7052, dan Muslim, no. 1843).[/div]


Faedah Hadist

Hadist ini memberikan faedah-faedah berharga, di antaranya;

1. Penjelasan tentang mukjizat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, di mana berita dari beliau menjadi kenyataan yaitu banyak dari pemimpin negeri mengutamakan dirinya atas rakyatnya dengan mengambil hak-hak mereka.

2. Dalam hadits ini ada anjuran untuk mendengar dan taat, meskipun yang menjadi pemimpin itu zalim dan berbuat aniaya. Ketaatan yang menjadi haknya tetap harus ditunaikan, tidak boleh memberontak kepadanya dan melepaskan ketaatan kepadanya. Akan tetapi, hendaknya kembali kepada Allah Ta’ala dalam menyingkirkan gangguannya dan menolak kejelekannya, serta memohon kebaikannya.

3. Kezaliman dan kejahatan yang dilakukan penguasa, baik dengan alasan yang dibenarkan maupun tidak, tidak menjadi alasan bolehnya menggulingkan pemerintah, seperti keinginan banyak pihak. Sebab, hal itu berarti upaya menghilangkan kejelekan dengan yang lebih jelek dan upaya meredam tindakan zalim dengan tindakan yang lebih zalim.

4. Pemberontakan hanya akan menimbulkan kezaliman dan kerusakan yang lebih besar dibandingkan kezaliman yang dilakukan pemerintah. Oleh karena itu, hendaknya mereka bersabar seperti kesabaran yang dituntut ketika beramar ma’ruf dan bernahi munkar dari kezaliman yang dilakukan oleh objek yang menjadi sasarannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah dari apa yang menimpamu.” (QS. Luqman: 17).

5. Hadis ini juga menjadi gambaran dari kesempurnaan Islam dan keindahan syariatnya, ketika ada perintah dan motivasi untuk bersatu menjaga kebersamaan dan persatuan bersama kaum muslimin serta bersabar dalam menghadapi kejahatan dan kezaliman penguasa. Sudah tentu tujuan utamanya adalah menggapai kemaslahatan dan menghindari kerusakan, sehingga terciptalah kebaikan rakyat dan negara.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Referensi: Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Shalih al Utsaimin rahimahullah dan Kitab Bahjatun Naadziriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy.

sumber : https://bimbinganislam.com/fawaid-hadist-38-bersabar-terhadap-penguasa/

Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Bagi Seorang Muslimah

Seorang wanita muslimah hendaknya senantiasa menjaga kesehatan gigi dan mulutnya dengan baik. Merawat dan membersihkan keduanya secara teratur adalah hal yang penting, karena gigi dan mulut berperan besar dalam menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh. Selain itu, syariat Islam juga menaruh perhatian yang besar akan keduanya. Sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لولا أن أشق على المؤمنين لأمرتهم بتأخير العشاء وبالسواك عند كل صلاة

“Kalaulah bukan karena khawatir memberatkan kaum mukminin, niscaya aku perintahkan mereka untuk mengakhirkan salat Isya dan bersiwak setiap kali hendak mengerjakan salat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan memperhatikan kesehatan gigi dan mulut, seorang muslimah juga tidak akan merasa malu untuk memberikan senyuman kepada orang-orang yang berada di sekelilingnya. Ia tidak minder untuk melakukannya karena gigi dan mulutnya bersih, terawat, dan mengeluarkan aroma yang menyegarkan.

Sungguh, tersenyum adalah perkara yang ringan namun dihitung sebagai sedekah yang berarti di sisi Allah Ta’ala. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَة

“Senyum yang engkau berikan kepada saudaramu terhitung sedekah.” (HR. Tirmidzi dan disahihkan oleh al Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 2908)

Tips menjaga kesehatan gigi dan mulut

Mulut yang sehat dimulai dari gigi yang bersih dan terawat. Dan di antara cara untuk merawat gigi adalah:

(1) Pilih makanan yang bergizi, seperti susu dan beragam produk olahannya, buah-buahan dan sayur-sayuran segar untuk memelihara kesehatan gusi dan tulang rahang.

(2) Sebisa mungkin, usahakan untuk menghindari makan di antara tiga waktu makan utama.

(3) Lakukan perawatan yang baik dengan membersihkan gigi setelah mengonsumsi makanan manis, produk berbahan dasar tepung, dan berbagai sari buah (jus)

(4) Mengurangi konsumsi makanan yang mengandung gula, membersihkan gigi dan mulut setelah mengonsumsinya, serta berupaya agar sisa makanan tersebut tidak tertinggal di dalam mulut dalam waktu yang lama

(5) Mengunyah makanan dengan baik.

(6) Setelah mengonsumsi makanan yang bersifat asam, seperti lemon, mentega, dan sejenisnya, gigi dan mulut harus segera dibersihkan dengan baik.

(7) Menggunakan sikat dan pasta gigi dengan cara yang benar dapat membantu menghilangkan plak yang melekat pada permukaan gigi. Plak terbentuk ketika sisa makanan pada mulut bercampur dengan air liur dan bereaksi dengan bakteri yang lambat laun dapat memicu kerusakan gigi. Semua permukaan gigi, baik bagian dalam maupun luar, harus disentuh oleh sikat gigi. Sikat gigi yang digunakan sebaiknya memiliki bulu lembut yang terbuat dari nilon bundar halus untuk meminimalkan risiko terhadap kesehatan gusi. Bentuk dan ukuran sikat gigi harus sesuai agar dapat menjangkau semua bagian gigi dengan efektif.

(8) Hendaknya membersihkan gigi langsung setelah mengkonsumsi makanan. Apabila makan di luar rumah, maka dapat diatasi dengan cara membawa sebatang kayu siwak di saku sebelum keluar rumah.

(9) Ada beberapa jenis makanan dan bahan makanan kering yang dapat membantu membersihkan gigi, seperti tebu, lobak, jeruk, dan apel. Namun, gigi dan mulut tetap perlu dibersihkan dengan baik setelah mengonsumsinya.

(10) Gunakan potongan benang sutera (dental floss) untuk membersihkan sela-sela gigi yang sulit dijangkau oleh sikat gigi. Alternatif lain adalah menggunakan tangkai tumbuhan tertentu yang dapat digunakan untuk tujuan tersebut.

(11) Setelah mencabut salah satu gigi, hindari membiarkan celah tersebut kosong tanpa penggantian. Hal ini dapat menyebabkan sisa makanan menumpuk di area tersebut, sehingga membuat gigi di sekitarnya menjadi rentan rapuh dan menimbulkan masalah pada gusi.

(12) Hindari konsumsi berlebihan minuman yang mengandung soda, jus, manisan, serta makanan atau minuman yang terlalu asam.

(13) Gunakan pasta gigi yang mengandung fluoride. Penelitian menunjukkan bahwa fluoride dapat menyatu dengan lapisan email gigi, sehingga menjadikannya lebih kuat dan tidak mudah keropos atau rusak.

(14) Lakukan pemeriksaan gigi secara rutin dan konsultasikan dengan dokter untuk mendeteksi kerusakan gigi serta penyakit lainnya, agar dapat diobati sebelum menjadi parah.

(15) Seorang ibu harus memperhatikan kesehatan gigi anaknya, bahkan sejak masa kehamilan dengan mengonsumsi makanan yang kaya akan kalsium dan mineral penting untuk membantu memperkuat tulang.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

***

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

Fahmi, Adil. (2023). Rahasia Kecantikan dan Kesehatan Wanita Dari A-Z. Jakarta: Penerbit Darul Haq.

Sumber: https://muslimah.or.id/21975-menjaga-kesehatan-gigi-dan-mulut-bagi-seorang-muslimah.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Bersyukur Ketika Senang, Bersabar Tatkala Susah


وَعَنْ أبي يَحْيَى صُهَيْبِ بْنِ سِنَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «عَجَباً لأمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لأِحَدٍ إِلاَّ للْمُؤْمِن : إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خيْراً لَهُ » رواه مسلم

Dari Abu Yahya, yaitu Shuhaib bin Sinan radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.”

(HR. Muslim, no. 2999)


Faedah Hadist

Hadist ini memberikan faedah-faedah berharga, di antaranya;

1. Hadist ini mengandung pelajaran keimanan, bahwa keadaan orang-orang beriman itu semuanya itu baik. Bernilai kebaikan dan pahala di sisi Allah Ta’ala, baik dalam kondisi yang terlihat membuatnya senang ataupun susah. Hal ini hanya didapati pada seorang mukmin, dan tidak ditemukan pada orang kafir maupun munafik.

2. Seorang hamba yang sempurna imannya akan selalu bersyukur kepada Allah Ta’ala ketika senang dan bersabar ketika susah, maka dalam semua keadaan dia senantiasa ridha kepada Allah Ta’ala dalam segala ketentuan takdir-Nya, sehingga kesusahan dan musibah yang menimpanya berubah menjadi nikmat dan anugerah baginya.

3. Orang yang tidak beriman akan selalu berkeluh kesah dan murka ketika ditimpa musibah, sehingga semua dosa dan keburukan akan menimpanya, dosa di dunia karena ketidaksabaran dan ketidakridhaannya terhadap ketentuan takdir Allah Ta’ala, serta di akhirat mendapat siksa neraka.

4. Keutamaan dan kebaikan dalam semua keadaan hanya akan diraih oleh orang-orang yang sempurna imannya.

5. Hadits ini menunjukkan besarnya keutamaan bersyukur di saat senang dan bersabar di saat susah, bahkan kedua sifat inilah yang merupakan penyempurna keimanan seorang hamba. Dalam Al-Qur’an, Allah ‘Azza wa Jalla memuji secara khusus hamba-hamba-Nya yang memiliki dua sifat ini sebagai orang-orang yang bisa mengambil pelajaran ketika menyaksikan tanda-tanda kemahakuasaan Allah;

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kemehakuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur” (QS Luqmaan: 31).

Wallahu Ta’ala A’lam.

Referensi: Syarah Riyadhus Shalihin karya syaikh Shalih al Utsaimin rahimahullah dan Kitab Bahjatun Naadziriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy

sumber : https://bimbinganislam.com/fawaid-hadist-22-bersyukur-ketika-senang-bersabar-tatkala-susah/

Memaklumi dan Memahami Dunia Anak Kecil

Anak-anak dan dunianya memiliki keistimewaan tersendiri. Sungguh ringkas dan jelas sebuah pedoman yang digariskan oleh ibunda orang-orang beriman, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau radhiyallahu ‘anha mengatakan,

“Maklumi dunia (kebutuhan) anak kecil.” (HR. Bukhari no. 5190, 5236 dan Muslim no. 892).

Kalimat yang ringkas dan jelas ini menjelaskan kepada kita bahwa anak kecil itu memiliki kekhususan tertentu. Dia memiliki “dunia” sendiri, sudah mulai memahami sesuatu, dan harus diberikan perhatian khusus. Hal ini tentu memiliki perbedaan dengan orang yang sudah dewasa. Oleh sebab itu, anak kecil perlu diberikan perhatian khusus dan perlu didudukkan sesuai tempatnya.

Sehingga anak-anak tidak layak diperlakukan serius, tegang, kaku pada setiap waktu, tidak boleh diberikan beban di luar batas kemampuannya, tidak boleh dicegah dari haknya yang masih suka bermain, hiburan dan senang-senang. Namun di sisi lain, orang tua juga tidak boleh membiarkan anak-anaknya hanya bermain di semua waktunya. Ringkasnya mungkin boleh dikatakan, ‘maklumi (hargai) kebutuhan anak-anak’.

Berikut ini beberapa contoh teladan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memaklumi dunia anak kecil, dan memberikan haknya berupa bermain dan bersenang-senang.

Dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan, “Orang Habasyah (orang Afrika berkulit hitam, pen.) masuk masjid dan bermain-main. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku,

‘Wahai Humaira’ (wanita yang berkulit putih, pen.), apakah Engkau ingin untuk melihat mereka (bermain-main)?’

Aku menjawab, ‘Iya.’

Rasulullah kemudian berdiri di pintu, lalu aku letakkan daguku di atas pundak beliau dan aku tempelkan wajahku di pipi beliau. Aku (‘Aisyah) berkata, ‘Dan di antara ucapan (senandung) yang mereka (orang Habasyah) katakan adalah “Abul Qasim thayyiban (Abul Qasim yang baik).”’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

‘Apakah sudah cukup?’

Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, jangan tergesa-gesa.’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan berkata lagi,

‘Apakah sudah cukup?’

Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, jangan tergesa-gesa.’

Aku (‘Aisyah) berkata,

‘Sebetulnya aku tidak ingin melihat mereka. Akan tetapi, aku ingin agar sampai berita kepada istri-istri Nabi yang lain bagaimana kedudukan (perhatian) Nabi kepadaku dan kedudukanku di hati Nabi.’” (HR. An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 8902) [1]

Dari hadits ini kita bisa melihat bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian dan meluangkan waktunya untuk ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang ketika itu tentu masih belia. Karena ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, usia ibunda ‘Aisyah baru 18 tahun, sehingga ibunda ‘Aisyah masih suka melihat hiburan atau tontonan.

Dalam riwayat lain ‘Aisyah menceritakan,

“Sejumlah orang Habasyah bermain-main dan aku mendatangi dari arah belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi menundukkan punggungnya sehingga aku bisa melihat.” (HR. An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 8906) [2]

Dalam kisah yang lain dengan sanad yang shahih, ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, “Aku keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebagian safar beliau. Ketika itu aku masih kecil dan belum gemuk. Rasulullah berkata kepada para shahabat,

‘Kalian jalanlah duluan.’ Sehingga para shahabat pun jalan mendahului Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi berkata kepadaku,

‘Ayo kita berlomba lari.’

Aku pun melayani ajakan beliau dan aku menang. Beliau pun diam tentangku sampai ketika aku sudah gemuk dan lupa kejadian tersebut, aku pun keluar menemani Nabi dalam sebagian safar beliau. Beliau berkata kepada para sahabatnya,

‘Kalian jalanlah duluan.’

Sehingga para shahabat pun berjalan mendahului Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi berkata kepadaku,

‘Ayo kita berlomba lari.’

Aku pun melayani ajakan beliau dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menang. Mulailah beliau tertawa dan berkata,

‘Ini adalah balasan atas lomba yang dulu.’ (HR. Ahmad dalam Al-Musnad 6/264 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 8894).

Dalam hadits ini pun kita bisa melihat bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha membangun keakraban dan bercanda dengan istrinya dengan membuat acara main-main dengan mengadakan lomba lari.

Demikian pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermain-main dengan anak kecil lainnya. Dari Mahmud bin Rabi’ radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

“Aku masih ingat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa semburan air yang beliau semburkan ke wajahku. Ketika itu aku baru berusia lima tahun dan beliau mengambil air dari ember.” (HR. Bukhari no. 77)

Tentu saja pada zaman itu belum ada pistol air, sehingga beliau menyemprotkan air tersebut ke wajah Mahmud bin Rabi’ dengan menggunakan mulut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikianlah beberapa contoh bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memaklumi dunia anak kecil yang masih butuh bermain, hiburan, dan bercanda sehingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyempatkan waktu untuk bermain-main dengan mereka. Dan lihatlah, bagaimana di tengah-tengah kesibukan beliau sebagai seorang da’i, kepala negara dan lainnya, beliau masih menyempatkan waktu untuk bermain-main dengan anak kecil.

***

Diselesaikan ba’da ashar, Rotterdam NL 29 Shafar 1439/ 19 November 2017

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:

[1] Dinilai shahih oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari, 2: 444.

[2] Syaikh Musthafa Al-‘Adawi menyatakan bahwa riwayat status ini hasan (Fiqh Tarbiyatil Abna’, hal. 68)

Sumber: https://muslimah.or.id/9907-parenting-islami-32-memaklumi-dan-memahami-dunia-anak-kecil.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Demi Bapak dan Ibuku, Apakah Termasuk Sumpah?

Tanya:

Assalamualaikum.

Ustadz. Barokalloh fiik. Ana memiliki pertanyaan yang sampai saat ini belum menjumpai jawabannya. Yaitu, sebagaimana kita fahami bersama bahwa sumpah harus semata-mata kepada Alloh. Namun, bagaimana dengan ucapan sumpah yang pernah di lontarkan oleh Shohabat Abu Bakar, beliau mengatakan:” Demi Bapak dan ibuku. Lalu bagaimana cara membedakan sumpah di atas? Jazakumuloh khoiron.

(Mukhlish Abu Dzar Al-Batawy)

Jawab:

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu. Wa fiika barakallahu.

Kalimat بأبي وأمي bukanlah termasuk sumpah, akan tetapi dia adalah kalimat yang digunakan oleh orang arab untuk mengungkapkan dalamnya rasa cinta kepada seseorang dan tingginya kedudukan dia. (Lihat Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj, An-Nawawy 15/184).

Asal dari kalimat ini adalah: أنت مَفْدِيٌّ بأبي وأمي atau فَدَيْتُكَ بأبي وأمي artinya: Aku akan menebusmu dengan bapak dan ibuku (yaitu apabila terjadi sesuatu yang tidak baik), kemudian disingkat menjadi: بأبي وأمي karena sering digunakan dan juga karena sudah maklumnya (diketahuinya) orang yang dimaksud. (Lihat An-Nihayah fii gharibil Hadist wal Atsar, Ibnul Atsir 1/20 cet. Dar Ihya At-Turats Al-‘Araby, dan Lisanul ‘Arab, Ibnu Mandhur hal: 17 cet.Darul Ma’arif,)

Jadi kalau mau diartikan maka diartikan lengkap menjadi: “Aku akan menebusmu dengan bapak dan ibuku”, atau “Bapak dan ibuku menjadi tebusanmu” dll, bukan “Demi bapak dan ibuku” yang berarti sumpah.

Wallahu ta’ala ‘alam.

Ustadz Abdullah Roy, Lc.

Sumber: tanyajawabagamaislam.blogspot.com

sumber : https://konsultasisyariah.com/654-demi-bapak-dan-ibuku-apakah-termasuk-sumpah.html