Walimah Nikah Hanya Menundang Orang Kaya saja?

Sebagian orang mungkin hanya mengundang orang kaya saja ketika acara walimah nikah. Lebih parahnya lagi jika niatnya mengundang orang-orang kaya dan pejabat saja agar amplop yang dimasukkan bernilai tinggi, sedangkan orang miskin tidak diundang sama sekali. Inilah sejelek-jelek makanan walimah sebagaimana dalam hadits:

شَرُّ الطَّعَـامِ طَعَامُ الْوَلِيْمَةِ، يُدْعَى لَهَـا اْلأَغْنِيَـاءُ وَيتْرَكُ الْفُقَرَاءُ

“Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah, hanya orang-orang kaya yang diundang kepadanya, sedangkan kaum fakir dibiarkan (tidak diundang)[1]

Yang dimaksud walimah dalam hadits ini adalah walimah pernikahan. Ash-Shan’aniy menjelaskan,

والمقصود بالوليمة في هذا الحديث هي وليمة العرس خاصة ، وليست كل طعام دعي إليه أحد من الناس

“Yang dimaksud hadits ini adalah khusus untuk walimatul ‘ursy (walimah nikah), bukan semua acara walimah yang manusia diundang untuk makan (misalnya acara walimah khitan, ini walimah selain walimah nikah, pent).”[2]

Padahal orang kaya ketika diundang bisa jadi tidak datang karena mereka tidak terlalu butuh makan enak ketika acara walimah. Sebagaimana penjelasn syaikh Al-‘Utsaimin, beliau berkata

التي يدعى إليها من يأباها ويمنعها من يأتيها

“Maksud (sejelek-jelek makanan) adalah yang diundang adalah orang yang (mungkin) enggan datang (orang kaya) dan dilarang hadir (tidak diundang) orang yang ingin datang (orang miskin). ”[3]

Hendaknya mengundang orang miskin juga sebagai bentuk kebaikan kepada mereka dan insyaallah lebih berkah acara walimah tersebut. Karena orang miskin umumnya lebih bertakwa dan lebih ikhlas berdoa. Mereka lebih rendah hati di hadapan Allah dan di hadapan manusia, jauh dari kesombongan yang membinasakan. Ini termasuk perintah agar makanan kita dimakan oleh orang-orang yang bertakwa agar berkah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا، وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ.

“Jangan bergaul kecuali dengan orang yang beriman, dan janganlah makan makananmu kecuali orang yang bertakwa.”[4]

Bisa jadi doa orang miskin yang diundang ke acara walimah lebih ikhlas dan lebih mustajab ketika mendoakan kita. Ini sebagaimana hadits “kita akan ditolong dan diberi rezeki disebabkan orang-orang lemah/miskin di sekitar kita”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَبْغُوْنِي الضُّعَفَاءَ، فَإِنَّمَا تُرْزَقُوْنَ وَتُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ

“Carilah keridhaanku dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah kalian, karena kalian diberi rezeki dan ditolong disebabkan orang-orang lemah kalian.”[5]

Dalam riwayat Nasa’i,

إِنما ينصُر الله هذه الأمةَ بضعيفها: بدعوتِهم، وصلاتِهم، وإِخلاصهم

“Sesungguhnya Allah akan menolong umat ini dengan sebab orang-orang yang lemah dari mereka, yaitu dengan doa, sholat dan keikhlasan mereka.” [6]

Hadits di atas maksudnya adalah orang miskin dan lemah lebih khusyu’ dan ikhlas ketika berdoa. Ibnu Hajar Al-Asqalani menukilkan penjelasan Ibnu Batthal rahimahullah,

تأويل الحديث أن الضعفاء أشد إخلاصا في الدعاء، وأكثر خشوعا في العبادة لخلاء قلوبهم عن التعلق بزخرف الدنيا ” .ولذلك أوصى النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ في أحاديث كثيرة بالرحمة بالفقراء والضعفاء،

“Tafsir hadits ini bahwa orang-orang lemah lebih ikhlas dalam berdoa dan lebih khusyu’ dalam ibadah karena hati mereka sangat sedikit bergantung dengan hirup pikuk kehidupan dunia. Karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat dalam banyak hadits agar berkasih sayang kepada orang yang miskin dan lemah.”[7]

Demikian semoga bermanfaat

@Gemawang, Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel http://www.muslimafiyah.com

[1] HR. BUkhari

[2] Subulus Salam 2/229

[3] Syarh Riyadus Shalihin 3/102

[4] HR. Abu Dawud, At-Tirmidz, Al-Hakim, ia menshahihkannya dan di-setujui oleh adz-Dzahabi, serta dihasankan Syaikh al-Albani dalam al-Misykah

[5] Dishahihkan Al-Imam Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 779

[6] HR Nasa’i. 3179

[7] Fathul Bari 6/89, Darul Ma’rifah, Beirut, 1397 H, syamilah

sumber : https://muslimafiyah.com/walimah-nikah-hanya-menundang-orang-kaya-saja.html

Kebahagiaan adalah Anugerah

Kebahagiaan tidak lain adalah limpahan karunia Ilahi, bukan merupakan sebuah hasil usaha semata. Seperti masuknya hamba-hamba yang sholeh kedalam syurga bukan dikarenakan amalan mereka semata yang -sebut saja tidak terhitung jumlahnya menurut ukuran manusia- melainkan karena rahmat dan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalam sudut pandang ikhtiar atau usaha, Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa manusia diberikan kebebasan memilih, jalan kebahagiaan atau kesengsaraan. Tapi tetap seluruh usaha manusia -mau tidak mau- terikat dalam sebuah ketetapan pasti yaitu takdir Allah.

Takdir adalah hak mutlak milik Allah. Manusia hanya memiliki hak menebar usaha, melakukan amalan, berikhtiar dan bekerja. Kita harus mengimani takdir apapun yang terjadi. Namun dalam nuansa ikhtiar kita harus tetap berusaha, niscaya Allah akan memberikan kemudahan.

Ada dua kata kunci disini: takdir dan usaha. Keduanya tidak bisa terpisahkan. Dan keduanya, bisa menjadi pemicu terwujudnya gelombang kebahagiaan.

Pertama, takdir. Dengan meyakini takdir, seorang muslimah akan memiliki ketabahan, terutama di saat harus menerima dera musibah secara bertubi-tubi atau di saat menghadapi ancaman terhadap ketentraman hidupnya.

Allah berfirman,

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ

“Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa dibumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakan-nya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)

Ketabahan itulah, yang akan menjadi pemicu kebahagiaan. Karena ketabahan itu muncul melalui proses keimanan yang bertarung melawan bujuk rayu nafsu, melawan tekanan keadaan, untuk kemudian keluar sebagai pemenang, mendulang karunia petunjuk Allah.

Allah berfirman,

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗوَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu…” (QS. Ath Thaghabun: 11)

Hati yang mendapatkan petunjuk, niscaya memancarkan cahaya pasrah, menyingkirkan nafsu amarah, menepis rasa kesal dan kecewa sehingga lahirlah kebahagiaan itu.

Di sisi lain, keyakinan kepada takdir, menyeruakkan nuansa kesegaran berpikir, karena dasar keyakinan bahwa Allah akan memberikan pahala, bagi orang-orang yang tabah dan sabar.

وَجَزٰىهُمْ بِمَا صَبَرُوْا جَنَّةً وَّحَرِيْرًاۙ

“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena ketabahan mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera…” (QS. Al Insan: 12)

Kedua, adalah usaha yaitu usaha yang baik atau amal sholeh yang dilakukan seorang mukmin, memiliki nilai sakral. Berkaitan dengan kandungan ruh keikhlasan dan kekuatan dan kekuatan peneladanan terhadap manusia terbaik, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang terdapat di dalamnya. Dua kandungan itu, bagaikan nyawa dan kekuatan. Membuat usaha yang dilakukan oleh seorang mukmin berpengaruh impresif, menekan jauh ke lubuk jiwa, melakukan kepuasan yang tiada tara. Tidak peduli, apakah usaha itu -pada akhirnya- menampakkan hasil, atau terjatuh pada lubang-lubang kegagalan. Dalam konteks ini, usaha apa pun yang dilakukan oleh seorang muslim tak lepas dari bingkai ibadah, atau penghambaan diri kepada Allah. Semakin hebat usaha yang dilakukan, semakin meningkat kualitas kehambaannya.

Sebagai contohnya, ibadah sholat diyakini mampu menjadi media penyejuk hati, bila dilakukan dengan khusu‘ dan dibarengi dengan kesabaran jiwa…

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

“Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 153)

Dari pemaparan di atas, kita bisa menyimpulkan sebuah fenomena yang cukup menarik. Kebahagiaan itu lebih sering muncul, setiap kali seorang muslim selesai melakukan pekerjaannya. Disebut dengan kata lebih sering muncul, karena selesai atau tidak suatu pekerjaan, berhasil atau tidak suatu usaha, tidak akan mempengaruhi kebahagiaan yang bakal didapat oleh seorang muslim. Di saat gagal berusaha, seorang mukmin tetaplah berbahagia, karena pengaruh mutiara ketabahan yang tertanam kuat dalam jiwanya. Di saat berhasil, ia akan memperoleh kebahagiaan lebih, karena rasa syukurnya. Itulah keajaiban seorang mukmin!

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh ajaib sikap seorang mukmin! Karena segala sesuatunya baik baik baginya. Hal itu hanya berlaku bagi seorang mukmin saja. Apabila ia mendapatak kesenanagan, ia bersyukur. Itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila ia tertimpa musibah, ia tetap tabah, maka itu pun menjadi kebaikan baginya.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2999)

Sekali lagi, kebahagiaan itu lebih mudah dirasakan oleh seorang muslim ketika usaii menyelesaikan pekerjaannya. Adapun rasa syukur yang ia ungkapkan, menjadikannya nilai lebih. Meskipun secara umum, rasa syukur itu lebih mudah dilakukan, daripada ketabahan dii saat terjadi musibah. Disebutkan dalam sebuah hadits,

إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى

“Sesungguhnya, ketabahan yang sejati itu ada pada guncangan pertama kali ketika terjadinya musibah.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shohihnya I: 430)

Rasa syukur akan memberikan nilai lebih, terhadap penyegaran hati dan penentraman jiwa. Dari situlah, sebuah karunia akan semakin terasa kenikmatannya.

Sebagaimana realitas kehidupan, kebahagiaan biasa hadir di saat seorang hamba mengakhiri ibadah puasanya selepas maghrib. Kehadirannya bagaikan kebahagiaan utama yang luar biasa nikmatnya.

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ، فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat bertemu dengan Rabb-nya.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim)

Kebahagiaan yang didapatkan oleh seorang muslim lebih bersifat nyata dan pasti, karena merupakan dua senyawa yang terkait antara satu dengan lain. Yaitu takdir Allah dan usaha manusia dengan cara yang benar dan ikhlas. Sementara bagi orang yang tidak beriman, kebahagiaan hanyalah merupakan ‘letupan’ sesaat, tatkala menemukan hal-hal yang disukainya, atau terlepas dari beban yang menghimpitnya. Nilainya pun hanyalah sesaat, karena tidak memiliki ruh keikhlasan dan kekuatan.

Kebahagiaan tetaplah rahasia Ilahi, meskipun ‘sejuta manusia’ menggapai langit dan menggali bumi, demi kebahagiaan sejati.
Keyakinan terhadap takdir, menjunjung manusia ke arah ketabahan, kepasrahan dan keteduhan hati.
Keihlasan, bak mutiara terpendam, menyorotkan cahaya pasrah, menyambut keridhoan ilahi.
Peneladanan terhadapmu, wahai Nabiku, seringkali menggeser segala kesukaan kami terhadap segenap penghuni bumi. Itulah sebabnya, kehambaan kami bertahan hingga kini.
Saudari muslimah, berbahagialah dengan takdirmu, niscaya keabadian menghampirimu dengan segala keindahannya.
Saudari muslimah, berbahagialah dengan keislamanmu, niscaya surga dunia, juga surga akherat, berkenan menyambutmu…

Maroji’: Aku Wanita paling Bahagia (Abu Umar Basyier)

***

Penulis: Ummu Salamah

Sumber: https://muslimah.or.id/6-kebahagiaan-adalah-anugrah.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Wanita Kurang Akal dan Agamanya

Barangkali kita pernah mendengar hadits yang menerangkan wanita itu kurang akal dan agamanya. Apa yang dimaksud dengan kalimat tersebut? Apakah itu berarti merendahkan wanita?

Hadits yang kami maksudkan di atas adalah hadits berikut ini,

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَغلَبُ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا نُقْصَانُ عَقْلِهَا؟ قاَلَ: أَلَيْسَتْ شَهَادَةُ الْمَرْأَتَيْنِ بِشَهَادَةِ رَجُلٍ؟ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا نُقصَانُ دِينِهَا؟ قَالَ: أَلَيْسَتْ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ

“Aku tidak pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya paling bisa mengalahkan akal lelaki yang kokoh daripada salah seorang kalian (kaum wanita).” Maka ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa maksudnya kurang akalnya wanita?” Beliau menjawab, “Bukankah persaksian dua orang wanita sama dengan persaksian seorang lelaki?” Ditanyakan lagi, “Ya Rasulullah, apa maksudnya wanita kurang agamanya?” “Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak pula puasa?”, jawab beliau. (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 1462 dan Muslim no. 79)

Mengenai maksud hadits di atas diterangkan oleh Syaikh ‘Abdul Karim Khudair, ulama senior di kota Riyadh Saudi Arabia dan saat ini menjadi pengajar di Jami’ah Malik Su’ud (King Saud University Riyadh). Beliau ditanya, “Apa maksud kurang akal dan agamanya bagi wanita sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘wanita itu kurang akal dan agama’?”

Syaikh hafizhohullah menjawab,

Tafsir tentang makna kurang akal dan agama telah diterangkan dalam hadits muttafaqun ‘alaih (riwayat Bukhari-Muslim). Bahwa yang dimaksud kurang akal adalah karena persaksian wanita itu separuh dari persaksian laki-laki sebagaimana disebutkan dalam ayat,

فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ

“Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan” (QS. Al Baqarah: 282). Inilah yang dimaksud wanita itu kurang akal.

Sedangkan yang dimaksud wanita itu kurang agama adalah karena pada satu waktu (yaitu kala haidh atau nifas, pen), wanita tidak puasa dan tidak shalat. Inilah tafsir yang langsung diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (secara marfu’) dan bukan hasil ijtihad seorang pun. Adapun kondisi wanita di mana mereka berada pada kondisi separuh dari pria adalah dalam lima keadaan, yaitu dalam persaksian, diyat, warisan, aqiqah, pembebasan budak –yaitu siapa yang memerdekakan dua orang budak wanita sama dengan memerdekakan seorang budak laki-laki. Dalam hadits disebutkan, “Barangsiapa yang memerdekakan seorang budak laki-laki, maka ia akan selamat dari siksa neraka. Barangsiapa yang memerdekakan dua budak wanita, maka ia akan selamat dari siksa neraka.”

[Lihat fatwa Syaikh ‘Abdul Karim Al Khudair di website pribadi beliau pada link:  http://www.khudheir.com/text/5498]

Semoga dengan penjelasan ini semakin jelas apa yang dimaksud wanita kurang akal dan agamanya. Semoga dengan benar memahami hal ini tidak menyebabkan kita merendahkan wanita. Karena kenyataannya pula banyak wanita yang mengungguli pria dalam hal kecerdasan dan memahami agama.

Wallahu waliyyut taufiq.

@ Ummul Hamam, Riyadh – KSA

11 Dzulqo’dah 1432 H (09/10/2011)

sumber: https://rumaysho.com/1989-wanita-kurang-akal-dan-agamanya.html

Keistimewaan Rumah sebagai Wadah Pendidikan

Rumah memiliki peran yang sangat sentral dalam pendidikan anak. Bisa dikatakan bahwa segala sesuatu bermula dari rumah. Bila pendidikan dalam rumah tidak berjalan atau lemah, anak akan jatuh dalam “pendidikan-pendidikan” di luar rumah yang masih belum jelas arahnya. Dapat kita saksikan besarnya pengaruh pendidikan luar rumah ini ketika pendidikan dalam rumah tidak berjalan pada anak-anak yang menjadi korban broken home. Atau ayah dan ibunya tidak memedulikannya di rumah karena kesibukan masing-masing; si ayah sibuk bekerja di kantor dan si ibu juga sibuk mengejar karier di luar rumah. Akibatnya pendidikan anak dalam rumah terbengkalai. Dapat ditebak, si anak akan terperangkap dalam pendidikan luar rumah yang masih belum jelas.

Kata kuncinya, jangan membuat anak tak betah berada di rumah sehingga ia mencari pelampiasan di luar rumah. Jangan bersikap cuek terhadap anak sehingga anak merasa kurang diperhatikan.

Intinya, orang tua harus menyiapkan pendidikan yang benar dari dalam rumah sebelum ia melepas anaknya ke luar. Dalam hal ini suasana rumah yang islami sangat membantu keberhasilan kedua orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

Rumah yang islami merupakan wadah pendidikan yang memiliki banyak keistimewaan, di antaranya:

  1. Di dalamnya anggota keluarga berkumpul bersama dalam jangka waktu yang lebih lama sehingga terjalin kedekatan pribadi antara anak dengan orang tua dan saudara-saudaranya.
  2. Anak dapat melihat teladan dan panutan dalam ucapan maupun perbuatan, yang bisa membantu mereka untuk menirunya.
  3. Terbukanya kesempatan untuk membimbing dan memberikan pengarahan pada anak sehingga lebih memudahkan mereka untuk menerima dan mengingatnya.
  4. Orang tua dan anggota keluarga dapat memberikan solusi dan jawaban atas masalah-masalah menurut kebutuhan.
  5. Bisa bervariasi dalam memberikan materi pengajaran, baik Al-Quran, as-sunnah, bahasa arab, dan materi pelajaran lainnya pada waktu siang maupun malam, sesuai kebutuhan.
  6. Mengambil pelajaran atau faedah dari berbagai media islami.
  7. Kita bisa memanfaatkan kesempatan di dalam rumah maupun di luar rumah, ketika makan, minum, berpakaian, tidur, bangun tidur, waktu buang hajat, dan kegiatan-kegiatan lainnya untuk mengajarkan adab-adab Islam serta zikir dan doa yang berkaitan dengan aktivitas tersebut.
  8. Penyampaian nasihat atau pemberian hukuman di dalam rumah, bukan di hadapan orang banyak akan lebih besar pengaruhnya bagi jiwa anak.
  9. Pengawasan yang kontinyu terhadap anggota keluarga dan saling mengawasi di antara sesama mereka akan membangkitkan keberanian untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.
  10. Menumbuhkan semangat beragama di dalam rumah yang membantu seluruh anggota keluarga untuk menjauhi perilaku yang salah dan menyimpang.
  11. Keikhlasan kedua orang tua dalam membimbing dan memberikan pengarahan kepada anak-anaknya yang mendorongnya untuk semakin memperbaiki diri.

***

Artikel Muslimah.or.id

Disalin dari buku Mencetak Generasi Rabbani, karya Ummu Ihsan Choiriyah dan Abu Ihsan Al Atsary, Pustaka Darul Ilmi; disertai sedikit pengeditan bahasa oleh Redaksi Muslimah.or.id.

Sumber: https://muslimah.or.id/5249-keistimewaan-rumah-sebagai-wadah-pendidikan.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

[Kitabut Tauhid 9] 02 SIHIR 22

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Diantara ayat Al-Qur’an yang dijadikan dalil oleh Para Ulama untuk menghukumi kafirnya para pelaku sihir ada surah Al-Baqarah : 102. Sisi pendalilan dari ayat tersebut adalah :

  1. Allâh -‘Azza wa Jalla- menyatakan bahwa para penyihir mengikuti bacaan syaithan.
  2. Allâh -‘Azza wa Jalla- menyatakan bahwa Nabi Sulaimân –‘Alaihissalâm-tidaklah kafir, karena Beliau tidak mempraktikan sihir sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang Yahudi.
  3. Allâh -‘Azza wa Jalla- menyatakan bahwa orang yang belajar sihir akan menjadi kafir, maka terlebih lagi dengan yang mempraktikkannya.
  4. Allâh -‘Azza wa Jalla- menyatakan  bahwa para penyihir tidak mendapatkan bagian di Akhirat, dan ungkapan seperti ini menunjukan para penyihir itu kafir.
  5. Pada ayat selanjutnya Allâh -‘Azza wa Jalla- berfirman :“Sesungguhnya kalau mereka (para penyihir) ituberiman dan bertakwa.” Ini menunjukkan bahwa mereka tidak beriman.

Kemudian, kafirnya penyihir juga ditegaskan dalam ayat yang lain, diantaranya surah Yunus : 77 dan surah Thâhâ : 67-69 dimana Allâh -‘Azza wa Jalla- mengatakan bahwa para penyihir itu tidak mungkin beruntung. Dan berdasarkan kebiasaan Al-Qur’an jika dinafikan (ditiadakan) al-falâh (keberuntungan) maka menunjukan pengkafiran, misalnya firman Allâh -‘Azza wa Jalla- pada Al-Mukminun : 117, Al-Qashash : 82 dan Al-An’âm : 21.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Merasa Hina adalah Pintu yang Paling Luas untuk Menghadap Allah ‘Azza wa Jalla

Seorang muslim bahkan setiap manusia sewajibnya khusyuk atau merasa hina kepada Rabbnya karena ia adalah seorang hamba, adapun Allah tabaraka wa ta’ala adalah sesembahannya juga pemiliknya, Allah yang mengatur segala urusannya, Allah-lah yang menetapkan hukum dan aturan atas dirinya dan Allah Maha Agung Kekuasaan-Nya atas segala sesuatu.

Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam menceritakan kita tentang kisah dua orang Bani Israil yang bersahabat yang mana orang yang pertama adalah seorang ahli ibadah, seorang yang perhatian kepada Allah dan bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah. Dia curahkan dirinya untuk beribadah kepada tuhannya. Adapun orang yang kedua adalah orang yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri (ahli maksiat). Sang ahli ibadah selalu menasihati temannya yang ahli maksiat setiap kali melewatinya, memerintahkannya melakukan kebaikan dan melarangnya melakukan keburukan, namun sang ahli maksiat tidak memperdulikannya. Pada suatu hari sang ahli ibadah berkata kepada temannya yang ahli maksiat tatkala ia tidak mau menghentikan perbuatan dosanya,

وَاللهِ لَا يَغْفِرُ اللهُ لَكَ

“Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni dosamu”.

قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: فَقَالَ اللهُ -جَلَّ وَعَلَا-: مَنْ هَذَا المُتَأَلِّي عَلَيَّ أَلَّا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ؟! اِشْهَدُوا يَا مَلَائِكَتِي أَنَّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُ، وَأَحْبَطْتُ عَمَلَهُ

“Rasulullah Shallalahu‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Maka Allah Jalla wa’ala berfirman, ‘Siapa ini orang yang berani-beraninya bersumpah atas nama-Ku dengan mengatakan bahwa Aku tidak akan mengampuni fulan? Saksikanlah wahai para malaikat-Ku, sungguh Aku telah mengampuni sang ahli maksiat dan Aku hapuskan amalan sang ahli ibadah’’.”

Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu mengomentari kisah sang ahli ibadah di atas,

قَالَ أَبُو هُرَيرَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: فَتَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ

“Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu berkata, “Maka dia telah mengucapkan suatu kalimat yang mengahancurkan dunia dan akhiratnya.” (HR. Abu Dawud di dalam Sunannya dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dinilai shahih oleh Al Albani di dalam Shahihil Jami’)

Kisah dua orang Bani Israil selaras dengan sabda Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam,

تَكَلَّمَ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا؛ يَكْتُبُ اللهُ -جَلَّ وَعَلَا- عَلَيْهِ بِهَا سَخَطَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يُضْحِكُ بِهَا جُلَسَاءَهُ؛ يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Seorang hamba bisa jadi mengucapkan suatu kalimat yang Allah murkai, yang dia mengucapkan kalimat tersebut tanpa memberikan perhatian padanya, lantas Allah ‘Azza wa Jalla catat murka-Nya untuk orang tersebut sampai hari ia berjumpa dengan Allah. Dan seorang hamba ada yang berkata dengan suatu perkataan yang Allah murkai, yang ia tidak memberikan perhatian padanya dalam rangka membuat tertawa teman-teman duduknya, maka jatuhlah ia dengan sebab kata-kata tersebut ke dalam neraka dengan jarak yang lebih jauh daripada jarak antara langit dan bumi.” (HR. Bukhari)

Maka tidak ada pintu yang lebih luas dari pintu-pintu menghadap Allah dibandingkan pintu merasa hina di hadapan Allah Jalla wa’ala. Tidak merasa ujub dengan amal, tidak merasa bangga, berjasa dan berperan untuk agama Allah. Dan berkepingnya hati di hadapan Allah Tabaraka wa ta’ala adalah sebab Allah mengampuni suatu dosa dan Allah akan meninggikan derajat karenanya.
Oleh karena itu terdapat sebuah ungkapan,

 وَرُبَّ ذَنْبٍ أَدْخَلَ صَاحِبَهُ الْجَنَّةَ، وَرُبَّ طَاعَةٍ أَدْخَلَتْ صَاحِبَهَا النَّارَ

“Terkadang ada dosa yang menjadi sebab memasukkan pelakunya ke dalam surga, dan terkadang ada ketaatan yang menyebabkan pelakunya terjerumus ke dalam neraka.”

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Seorang yang melakukan dosa, melampaui batas terhadap diri sendiri yang dia lakukan karena kejahilannya terhadap kekuasaan Allah Tabaraka wa ta’ala, bahwa Allah Maha Melihat segala sesuatu yang ia lakukan, namun ia bukanlah orang yang lancang, bukan orang yang berbangga di hadapan Allah Tabaraka wa ta’ala dengan maksiatnya. Maka tatkala ia terjerumus ke dalam dosa, dosa tersebuat membuahkan berkeping-keping hatinya, merasa hina di hadapan Rabbnya, dan muncul keinginan untuk kembali kepada Allah Rabb semesta alam. Maka jadilah dia seperti sifat mukmin bagaimanapun keadaannya. Sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi seorang manusia yang amanah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ المُؤْمِنَ يَرَى ذَنْبَهُ كَأَنَّهُ جَبَلٌ يُوشِكُ -أَوْ يَهُمُّ- أَنْ يَقَعَ عَلَيهِ

“Seorang mukmin melihat dosa yang ia lakukan seakan ia sedang duduk di bawah gunung dan ia khawatir gunung tersebut akan menimpanya, sedangkan orang yang fajir (pengemar dosa) melihat dosanya bagaikan lalat yang terbang melintas di depan hidungnya.” (HR. Bukhari)

Orang yang fajir meremehkan dosanya, ia tidak merasa khawatir dengan dosa yang ia lakukan. Lain halnya dengan cara pandang orang yang jujur imannya kepada Allah, ia menganggap dosa sebagai suatu hal yang menakutkan dan membinasakan. Hal ini disebabkan ia tidak melihat kecilnya dosa yang ia perbuat melainkan kepada siapa ia melakukan dosa dan bermaksiat yaitu kepada Dzat yang demikian baik padanya, kepada Dzat yang setiap detik memberikan nikmat kepadanya.

Kemudian ada seorang yang mendapatkan taufik untuk taat namun ia tidak melihat siapakah yang memberikan taufik kepadanya, lalu ia menganggap besar amalnya tersebut di hadapan Allah Tabaraka wa ta’ala. Seorang jika merasa puas dengan amalnya dan dirinya untuk Rabbnya Tabaraka wa ta’ala maka ini merupakan tanda Allah tidak ridha dengannya. Adapun seorang jika ia mengetahui amalnya, menyadari amalnya dan apa yang meliputi amalnya berupa berbagai macam penyakit dan kekurangan dalam beramal, ketika seseorang telah menyadari siapakah dirinya, dan bagaimanakah keadaannya ketika sepi sendiri, bagaimanakah isi hatinya, dan dia mengetahui segala hal yang meliputi dirinya berupa kekurangan dan kehinaan, maka ia tidak akan merasa puas dengan amalnya, dia tidak akan merasa puas dengan keadaan diri juga hatinya, karena ia merasa banyak kekurangan dan kejelekan kemudian ia akan merasa hina di hadapan Allah Tabaraka wa ta’ala.

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanyalah menerima amalan dari orang-orang yang bertakwa dalam amalnya.” (Q.S Al-Maidah: 28)

Ada seorang yang diberi taufik untuk taat maka ia lakukan ketaatan tersebut, kemudian mulailah ia bangga dan ujub atas amalnya bahkan ia merasa berjasa di hadapan Allah Rabb semesta alam, suka mengungkit-ngungkit ibadahnya sendiri. Maka ketaatannya membuahkan kesombongan dan ujub. Jika kesombongan dan ujub terus menerus ada pada dirinya, berkembang dalam hatinya maka inilah yang menyebabkan ia menjadi penghuni neraka dan inilah seburuk-buruk tempat kembali untuknya.

Kata ‘terkadang’ yang terdapat pada ungkapan,“Terkadang ada dosa yang menjadi sebab memasukkan pelakunya ke dalam surga, dan terkadang ada ketaatan yang menyebabkan pelakunya terjerumus ke dalam neraka”, maksudnya ialah hal ini jarang terjadi karena umumnya dosa membuahkan dosa setelahnya sebagaimana ketaatan membuka jalan ketaatan setelahnya.

Semoga Allah memudahkan kita semua untuk melaksanakan ketaatan pada-Nya dan menghindarkan kita dari memaksiati-Nya.

—

Referensi:

1. Wa Maadzaa Ba’da Ramadhaan hlm 7-9, Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Sa’id Ruslan hafizhahullah, Khutbah Jum’at 1 Syawal 1431 H/ 10 September 2010 M di Mesir (http://www.rslan.org/kotob/matha_baad_ramadan.pdf)

2. Rekaman Risalah Wamadzaa Ba’da Ramadhaan oleh ustadz Dr. Aris Munandar, S.S, M.P.I hafizhahullah Pertemuan ke-1 menit ke 27:09-46.28 (http://www.jogjamengaji.com/2019/02/risalah-wamaadza-bada-ramadhan-ustadz.html)

Penulis: Atma Beauty Muslimawati
Artikel: Muslimah.or.id

Sumber: https://muslimah.or.id/15971-merasa-hina-adalah-pintu-yang-paling-luas-untuk-menghadap-allah-azza-wa-jalla.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

[Kitabut Tauhid 9] 01 SIHIR 21

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Sihir yang pernah menimpa Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- hanya memperngaruhi sedikit urusan dunia Beliau dan dalam waktu yang singkat, yaitu terkhayalkan bagi Beliau seolah-olah Beliau melakukan sesuatu dari urusan dunia padahal Beliau tidak melakukannya, yang kemudian setelahnya menjadi jelas bagi Beliau segala sesuatunya; Beliau memang tidak diistimewakan oleh Allâh -‘Azza wa Jalla- dari manusia yang lainnya untuk urusan ini karena hanya urusan dunia; dan kejadian ini tidak mencacati kenabian Beliau karena tidak ada hubungannya dengan wahyu yang Beliau bawa dari sisi Allâh -‘Azza wa Jalla-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Teruslah Berjalan, Walaupun Tertatih

Hakikatnya, kehidupan ini adalah perjalanan. Dari dunia yang fana, menuju negeri akhirat yang kekal abadi.

Perjalanan, realitanya, tidak selalu mudah. Akan ada jalan yang susah untuk dilewati, penuh rintangan dan dikelilingi hal sukar lainnya.

Begitupula kehidupan ini. Sebagaimana perkataan ‘Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas, beliau mengatakan bahwa Allah akan menguji dengan ujian kebaikan dan keburukan, kesempitan dan kelapangan, kesehatan dan rasa sakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan, dan seterusnya. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/342).

Sebagian manusia mungkin berputus asa lalu berpaling dari jalan Allah. Mereka berburuk sangka terhadap Allah dan merasa tidak mendapatkan keuntungan ataupun pertolongan. Ini semua berasal dari nafsu manusia itu sendiri. Keegoisan diri yang kemudian dibumbui oleh syaitan.

Al-Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Nafsu adalah gunung besar lagi sulit dalam perjalanan menuju Allah, dan semua orang yang berjalan tidak ada jalan baginya kecuali melewati gunung itu. Padahal harus sampai kepadaNya. Di antara mereka ada yang merasa berat, dan ada juga yang merasa ringan menghadapinya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi siapa yang dimudahkan oleh Allah.

Di gunung tersebut terdapat lembah dan bukit, perangkap dan pohon berduri, tumbuh-tumbuhan dan semak belukar, dan para penjahat yang mencegah orang-orang yang sedang dalam perjalanan, terutama yang biasa melakukan perjalanan malam. Jika mereka tidak memiliki bekal keimanan dan pelita keyakinan yang menerangi, yang dinyalakan dengan minyak ketawadhu’an, maka halangan-halangan itu selalu bersama mereka dan menghalangi perjalanan mereka. Sebab, kebanyakan orang yang berjalan di sana kembali ke belakang, karena tidak sanggup menempuh dan menghadapi berbagai rintangannya.

Setan berada di atas puncak gunung tersebut untuk menakuti manusia agar tidak mendakinya. Sehingga berkumpullah beratnya pendakian, duduknya setan yang menakuti di atas puncaknya, dan lemahnya tekad serta niat orang yang berjalan. Lalu hal itu menghasilkan kegagalan dan mundur ke belakang. Dan hanya orang yang dipelihara oleh Allahlah yang terjaga.

Setiap kali orang yang meniti jalan tersebut mendaki, maka teriakan orang yang menghalangi dan mengancamnya semakin keras kepadanya. Apabila ia telah menempuhnya dan mencapai puncaknya, maka semua ketakutan tersebut berubah menjadi keamanan. Ketika itulah perjalanan menjadi mudah, penghalang jalan dan aralnya yang berat pun akan sirna darinya, dan ia dapat melihat jalan yang luas lagi aman yang menghantarkannya kepada persinggahan-persinggahan dan jalan-jalan yang diatasnya terdapat rambu-rambu dan berbagai petunjuk yang disiapkan untuk kafilah ar Rahman.

Untuk mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan itu, seorang hamba haruslah memiliki tekad yang kuat, kesabaran, keberanian diri, dan keteguhan hati. Karunia itu berada di tangan Allah yang diberikanNya kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Madaarijus Salikiin (II / 7-8).

Maka ketahuilah saudaraku, seberat apapun ujian, cobaan dan musibah yang menimpamu, tetaplah berjalan di jalanNya walaupun tertatih. Istiqamahkan dirimu, genggam erat imanmu, sampai perjumpaan denganNya.

Salah satu perkataan indah yang dinisbatkan kepada Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah,

الطريق الى الله طويل وليس المهم ان تصل الى اخر الطريق ولكن المهم ان تموت على الطريق

“Jalan menuju Allah sangatlah panjang. Dan bukanlah perkara yang penting untuk sampai pada akhirnya, akan tetapi yang terpenting adalah wafat dalam keadaan berada di atasnya”.

Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik.

—

Penulis: Annisa Auraliansa

Sumber: https://muslimah.or.id/16102-teruslah-berjalan-walaupun-tertatih.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id