Nasihat Untukmu yang Selalu Merasa Gagal dalam Kehidupan

Dalam perjalanan hidup, setiap manusia pasti pernah merasakan yang namanya gagal: gagal mencapai cita-cita, gagal dalam berusaha, atau gagal mewujudkan harapan yang telah lama diperjuangkan. Kegagalan sering kali membuat hati goyah, semangat menurun, bahkan tidak jarang menimbulkan perasaan putus asa. Padahal, di balik setiap kegagalan tersimpan pelajaran berharga dan rahmat Allah yang tersembunyi.

Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menyerah pada keadaan. Justru, syariat memandang kegagalan sebagai bagian dari proses menuju keberhasilan dan peningkatan iman. Melalui ujian dan kesulitan, Allah ingin menumbuhkan dalam diri hamba-Nya sifat sabar, tawakal, dan pengharapan hanya kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ۝ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali.’” (QS. Al-Baqarah: 155–156)

Karena itu, kegagalan bukanlah akhir segalanya, melainkan pintu untuk semakin mendekat kepada Allah. Ia adalah cermin yang mengajarkan kita untuk introspeksi, memperbaiki niat, serta memperkuat doa dan tawakal.

Berikut ini adalah beberapa nasihat dan kiat-kiat yang ditawarkan oleh syariat untuk menguatkan diri kita tatkala ujian dan kegagalan itu terus datang bertubi-tubi kepada kita.

Pertama: Kembali kepada Allah dan adukan segala permasalahan hanya kepada-Nya

Allah, Dialah Dzat yang Maha Pengampun, lagi Maha Memberi Kemudahan bagi siapa saja yang Ia kehendaki. Oleh karenanya, mintalah ampun serta mohonlah pertolongan kepada Allah dengan penuh kejujuran, dan berharap kepada-Nya untuk menyelesaikan segala hajat kita, terutama di sepertiga malam terakhir. Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan,

يَنْزِلُ رَبُّنا تَبارَكَ وتَعالَى كُلَّ لَيْلةٍ إلى السَّماءِ الدُّنْيا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ، يقولُ: مَن يَدْعُونِي، فأسْتَجِيبَ له؟ مَن يَسْأَلُنِي فأُعْطِيَهُ؟ مَن يَستَغْفِرُني فأغْفِرَ له؟

“Tuhan kita, Tabaraka wa Ta’ala, turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman, ‘Siapa saja yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa saja yang meminta kepada-Ku, akan Aku berikan. Siapa saja yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758)

Hal ini sebagaimana keteladanan dari Nabi Ya’qub ‘alaihissalam, tatkala ia mendapatkan ujian kehilangan anaknya, Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Allah berfirman tentangnya,

قال إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah  yang tidak kalian ketahui.” (QS. Yusuf: 86)

Kemudian, Allah menghilangkan kesedihannya dan mengembalikan putranya kepadanya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jika setiap kebaikan asalnya adalah taufik, dan taufik itu di tangan Allah, bukan di tangan hamba, maka kuncinya adalah doa, ketergantungan, kejujuran dalam memohon, serta kerinduan dan ketakutan kepada-Nya. Kapan pun seorang hamba diberi kunci ini, berarti Allah berkehendak untuk membukakan pintu baginya. Dan kapan pun hamba itu tersesat dari kunci itu, pintu kebaikan akan tetap tertutup baginya.” (Al-Fawaid, hal. 97)

Kedua: Intropeksi diri

Keberhasilan dan kegagalan pasti memiliki sebab, maka hendaknya kita melihat kembali apa yang telah kita lalui, adakah yang perlu kita benahi dan kita perbaiki?

Karena sejatinya Allah tidak akan mengubah keadaan kita, kecuali jika kita juga berusaha mengubah diri kita sendiri. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا یُغَیِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ یُغَیِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ وَإِذَاۤ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوۡمࣲ سُوۤءࣰا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥۚ 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَاۤ أَصَـٰبَكُم مِّن مُّصِیبَةࣲ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَیۡدِیكُمۡ وَیَعۡفُوا۟ عَن كَثِیرࣲ 

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu. maka karena perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

Ketiga: Perbanyak doa

Di antara doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dibaca di waktu pagi dan sore adalah,

اللَّهُمَّ إنِّي أعوذُ بكَ منَ الهَمِّ والحَزَنِ، وأعوذُ بكَ منَ العَجزِ والكَسَلِ، وأعوذُ بكَ منَ الجُبنِ والبُخلِ، وأعوذُ بكَ من غَلَبةِ الدَّيْنِ وقَهرِ الرجالِ

“Allaahumma innii a’uudzu bika minal hammi wal hazani wa a’uudzu bika minal ‘ajzi wal kasali, wa a’uudzu bika minal jubni wal bukhli wa a’uudzu bika min ghalabatid daini wa qahrir rijaal.”

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesedihan dan kegelisahan, dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan penindasan orang lain.”

Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke masjid, dan di sana ada seorang Anshar yang bernama Abu Umamah. Beliau bertanya, ‘Wahai Abu Umamah, mengapa aku melihatmu duduk di masjid di luar waktu salat?’ Abu Umamah menjawab, ‘Karena kesedihan dan utang yang membelengguku, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Maukah aku ajarkan kepadamu sebuah ucapan yang jika kamu mengucapkannya, Allah akan menghilangkan kesedihanmu dan melunaskan utangmu?’ Abu Umamah menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda,

قل إذا أصبحت وإذا أمسيت: اللَّهُمَّ إنِّي أعوذُ بك منَ الهَمِّ والحَزَنِ، وأعوذُ بكَ منَ العَجز والكَسَلِ، وأعوذُ بكَ منَ الجُبنِ والبُخلِ، وأعوذُ بكَ من غَلَبةِ الدَّيْنِ وقَهرِ الرجالِ

‘Ucapkanlah di pagi dan sore hari, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesedihan dan kegelisahan, dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan penindasan orang lain.”

Abu Umamah berkata, ‘Aku pun melakukannya, dan Allah menghilangkan kesedihanku serta melunaskan utangku.’” (HR. Abu Dawud no. 1555)

Keempat: Bersabar menunggu jawaban dan solusi dari Allah Ta’ala

Di antara penyebab kegagalan terus-menerus adalah tergesa-gesa mengambil keputusan ataupun tergesa-gesa ingin agar doanya dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Ini adalah salah satu musibah terbesar yang menimpa orang yang berdoa namun tergesa-gesa di dalamnya, hal ini akan berakibat pada kebosanan, frustrasi, dan keputusasaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan hal ini dengan sabdanya,

يُسْتَجابُ لأحَدِكُمْ ما لَمْ يَعْجَلْ، يقولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

“Akan dikabulkan doa salah seorang di antara kalian selama ia tidak tergesa-gesa, ia berkata, ‘Aku telah berdoa, tetapi tidak dikabulkan.” (HR. Bukhari no. 6340 dan Muslim no. 2735)

Kelima: Berprasangkalah baik kepada Allah Ta’ala

Merendahlah di hadapan-Nya dan berprasangka baiklah kepada-Nya, karena Allah selalu bersama hamba-Nya yang mendekat kepada-Nya. Sebagaimana hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

أنا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بي، وأنا معهُ إذا ذَكَرَنِي، فإنْ ذَكَرَنِي في نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي، وإنْ ذَكَرَنِي في مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ في مَلَإٍ خَيْرٍ منهمْ، وإنْ تَقَرَّبَ إلَيَّ بشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إلَيْهِ ذِراعًا، وإنْ تَقَرَّبَ إلَيَّ ذِراعًا تَقَرَّبْتُ إلَيْهِ باعًا، وإنْ أتانِي يَمْشِي أتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku bersamanya jika dia mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia mengingat-Ku di hadapan sekelompok orang, Aku akan mengingatnya di hadapan sekelompok yang lebih baik dari mereka. Jika dia mendekati-Ku sejengkal, Aku akan mendekatinya sehasta. Jika dia mendekati-Ku sehasta, Aku akan mendekatinya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR. Bukhari no. 7405 dan Muslim no. 2675)

Yakinkanlah bahwa Allah Ta’ala tidak akan menetapkan sesuatu kecuali demi kebaikan hamba-Nya yang beriman, baik hamba tersebut mengetahuinya maupun tidak.

Seorang mukmin harus yakin bahwa apa yang Allah takdirkan baginya adalah yang terbaik baginya, baik untuk urusan di dunia maupun di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ما يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِن نَصَبٍ ولَا وصَبٍ، ولَا هَمٍّ ولَا حُزْنٍ ولَا أذًى ولَا غَمٍّ، حتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بهَا مِن خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim ditimpa kelelahan, sakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan dengannya Allah akan mengampuni kesalahannya.” (HR. Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ المُؤْمِنِ، إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وليسَ ذاكَ لأَحَدٍ إلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إنْ أصابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكانَ خَيْرًا له، وإنْ أصابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكانَ خَيْرًا له.

“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin, karena seluruh urusannya adalah baik baginya. Dan itu tidaklah didapatkan kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

Keenam: Mendekatkan diri kepada Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah obat atau penawar bagi jiwa dan hati dan sumber ketenangan serta kebahagiaan hidup. Maka perbanyaklah membaca Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,

وَنَزَّلۡنَا عَلَیۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ تِبۡیَـٰنࣰا لِّكُلِّ شَیۡءࣲ وَهُدࣰى وَرَحۡمَةࣰ وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُسۡلِمِینَ

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin.” (QS. An-Nahl: 89)

Penutup

Orang yang beriman memahami bahwa setiap kesulitan adalah ladang pahala dan setiap air mata yang jatuh karena perjuangan akan berbuah ketenangan di kemudian hari. Sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa tidak ada kesulitan yang abadi; setiap ujian pasti disertai jalan keluar bagi mereka yang bersabar dan tetap berprasangka baik kepada Allah. Rasulullah ﷺ juga menegaskan dalam sabdanya,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ

“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.” (HR. Muslim no. 2664)

Maka, ketika kegagalan datang bertubi-tubi, janganlah berputus asa. Jadikan ia guru yang membentuk kesabaran dan keteguhan hati. Jangan biarkan rasa kecewa menjauhkanmu dari Allah, karena justru di saat lemah itulah kita paling dekat dengan rahmat-Nya. Yakinlah, di balik setiap air mata dan perjuangan yang tampak sia-sia, Allah sedang menulis skenario terbaik untuk hidupmu, skenario yang mungkin belum terlihat hari ini, namun akan indah pada waktunya.

Semoga Allah Subhānahu wa Ta‘ālā meneguhkan hati kita dalam kesabaran, menguatkan langkah dalam perjuangan, dan memberikan keberhasilan yang penuh berkah di dunia serta keselamatan di akhirat. Āmīn.

***

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Sumber: https://muslim.or.id/109699-nasihat-untukmu-yang-selalu-merasa-gagal-dalam-kehidupan.html
Copyright © 2025 muslim.or.id

2 Nikmat Yang Banyak Dilalaikan

Menghitung nikmat yang telah Allah berikan adalah sebuah pekerjaan yang sulit. Bagaimana tidak, Allah mengatakan bahwa jika seorang hamba ingin menghitung nikmat tersebut, maka tidak akan sanggup menghitungnya. Allah Ta’ala berfirman

وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menghitung jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An-Nahl: 18).

Mayoritas manusia banyak yang tertipu jika Allah berikan nikmat, padahal nikmat yang diberi akan dipertanggung jawabkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

“Kedua kaki seorang hamba tidaklah berpindah pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai umurnya, dimanakah ia habiskan; ilmunya, dimanakah ia amalkan; hartanya, bagaimana cara ia mendapatkannya dan ia infakkan; dan mengenai badannya, di manakah usangnya.” (HR. At-Tirmidzi, shahih).

Ingatlah bahwa 4 hal di atas akan ditanya kelak pada hari kiamat, yaitu umur, ilmu, harta dan badannya. Oleh karena itu, ketika seorang mendapatkan nikmat namun tidak ia gunakan tuk taat, maka itu adalah musibah. Sebagaimana perkataan Abu Hazim dalam Hilyatul Auliya, “Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk taat, maka itu adalah musibah.”

Di antara sekian banyak nikmat yang telah Allah berikan, ada 2 nikmat yang manusia lalai darinya. Nikmat tersebut adalah kesehatan dan waktu luang.

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

1. Kesehatan

Banyak manusia yang sehat, namun tertipu dengan kesehatannya. Ia tak gunakan kesehatannya untuk taat, namun untuk maksiat. Sementara di luar sana ada sebagian orang yang ingin melakukan ketaatan, namun tak mampu melakukannya dikarenakan sakit yang di derita.

Padahal badan yang sehat akan ditanyakan, digunakan untuk apa. Apakah digunakan tuk mendatangi majelis ilmu ataukah mendatangi tempat-tempat maksiat. Barulah ia tersadar ketika terbaring lemah tak berdaya karena sakit, sehingga sesal pun tak terelakkan.

2. Waktu luang

Waktu adalah sesuatu yang terus berputar dan tak akan kembali lagi. Oleh karena itu betapa banyak manusia yang tersesali oleh waktu. Waktunya hanya berlalu begitu saja, tanpa ada manfaat dan faidahnya. Hidupnya hanya menghabiskan waktu dan menyisakan penyesalan umur.

Waktu ibarat pedang bermata 2, jika digunakan untuk kebaikan, maka baik pula. Sebaliknya, jika digunakan untuk keburukan, maka dampak buruk akan terjadi di kemudian hari.

Betapa tidak, sebagian orang menghabiskan waktunya untuk maksiat, namun tatkala ia sudah senja, maka ia akan menangisi masa tua nya karena ia tak menghabiskan waktu dan umurnya untuk taat.

Ketahuilah bahwa 2 hal di atas adalah nikmat yang patut disyukuri tatkala terkumpul di dalam diri seorang muslim. Karena tatkala seorang itu bersyukur, maka Allah akan tambah nikmat tersebut.

Allah Ta’ala berfirman

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu mengatakan; “Sungguh jika kamu bersyukur, pasti Aku akan tambah (nikmat) kepadamu, tapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

Semoga bermanfaat, wallahul muwaffiq.

—

Penulis: Wiwit Hardi P.

Sumber: https://muslimah.or.id/7233-2-nikmat-yang-banyak-dilalaikan.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Bunuh Diri Bukan Solusi

Akhir-akhir ini, terjadi eskalasi jumlah kasus bunuh diri. Mulai dari orang dewasa, remaja, hingga anak kecil pun menjadi korban dalam kasus bunuh diri yang terjadi. Selama 5 tahun terakhir, dilansir dari data Pusat Informasi Kriminal Nasional, terjadi peningkatan jumlah kasus bunuh diri sebanyak 60% dengan rataan lebih dari 1000 kasus setiap tahunnya. Banyak dari kasus tersebut terjadi pada kalangan muda di masa awal produktifnya. Hal ini menjadi perhatian, mengapa anak muda rentan sekali dengan bunuh diri?

Beberapa pernyataan yang dikeluarkan oleh pihak terkait menyimpulkan bahwa isu kesehatan mental menjadi sangat penting di zaman ini. Himpitan masalah sosial, ekonomi, juga akademik, menjadi faktor yang diduga melatarbelakangi banyak kasus bunuh diri yang terjadi.

Pokok permasalahan bunuh diri

Permasalahan yang dihadapi oleh korban bunuh diri dirasa menjadi momok yang teramat besar, seakan tak bisa diatasi sama sekali. Sehingga tidak terpikirkan solusi lain selain menyelesaikan riwayat kehidupannya.

Mungkin anda pun sedang berada di posisi yang sama, sedang menghadapi kerasnya kehidupan dunia. Seakan tugas-tugas kuliah yang menumpuk tak ada habisnya. Anda pun merasa sendirian dalam menghadapinya, sedangkan kehidupan orang-orang terasa baik-baik saja.

Namun, sejatinya bunuh diri bukanlah solusi. Justru, dengan bunuh diri, masalah yang dihadapi semakin pelik. Pikirkan saja, ketika anda memutuskan mengakhiri hidup, masalah yang anda hadapi tidak selesai begitu saja. Utang yang melilit tidak akan lepas, permasalahan sosial yang dihadapi tidak akan usai. Akan tetapi, masalah itu kini berpindah kepada orang lain. Keluarga anda, teman-teman anda, dan semua orang yang menyayangi anda, justru akan menanggung semuanya!

Setiap orang pasti di dalam hatinya berkeinginan untuk dikenang sebagai orang baik…

Sekarang mari renungkan, ketika anda mengakhiri hidup dengan bunuh diri serta meninggalkan berbagai masalah yang terlimpahkan kepada orang lain, bagaimana anda ingin dikenang oleh orang-orang?

Bertahanlah! Hingga datang pertolongan!

Ketahuilah, dengan anda tetap bertahan hidup, anda setidaknya tidak memperburuk masalah yang ada. Hanya anda yang menanggungnya, sedangkan orang lain tidak mendapatkan dampak buruknya.

Dan bisa jadi, anda justru mampu menyelesaikan masalahnya, karena Allah berjanji,

فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan,”

إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

Dalam konsep Islam, Allah telah berjanji, ketika Ia menetapkan kesulitan bagi seseorang, pasti Ia juga menetapkan kemudahan bersamanya. Bersama, bukan setelahnya. Sehingga Islam terus menawarkan optimisme.

Ibnu Katsir berkata dalam Tafsir-nya,

“Bila hati dipenuhi oleh (1) rasa putus asa, (2) dada yang luas menjadi terasa sempit, (3) banyak hal yang tidak disukai sedang menimpa, serta (4) banyak musibah yang dialami, sehingga (5) ia tidak melihat adanya celah untuk melepaskan diri dari bahaya yang sedang menimpa diri, dan (6) tiada gunanya lagi semua upaya untuk menanggulanginya.

Maka, akan datang kepadamu pertolongan bila hatimu berserah kepada-Nya, yaitu pertolongan dari Tuhan Yang Mahalembut lagi Maha Memperkenankan doa. Semua musibah apabila telah mencapai puncaknya, pasti akan segera bertemu jalan keluarnya.”

Maka, apalagi yang anda khawatirkan jika ada Zat yang Mahakuat menjamin permasalahan anda akan terselesaikan?! Jika ada seorang jenderal atau hakim agung yang menjamin permasalahan hukum anda terselesaikan, apakah anda masih mengkhawatirkannya?

Falillahi matsalul a’la…

Allah lebih berkuasa dari itu. Dan janji Allah tidak pernah dusta.

Maka, berserahlah kepada Allah agar anda dapat ditolong oleh-Nya. Bersabarlah sejenak, hingga jalan keluar terbuka lebar. Allah tidak sedang bermain-main dengan hamba-Nya, Ia menjalankan garis takdir yang terbaik untuk anda.

Alasan jalan keluar anda hadir ketika masalah sedang memuncak, agar semakin indah kisah perjuangan anda. Tidak ada tokoh utama dalam sebuah kisah yang menjalankan cerita yang biasa-biasa saja. Tentu ada banyak adegan heroik yang dilakukan. Dan anda adalah pemeran utama dalam cerita hidup anda. Anda hanya perlu menjalankan takdir heroik yang telah Allah gariskan. Dan yakinlah, ada akhir kisah yang indah jika anda terus bersabar, dan menjalankannya dengan aksi-aksi heroik, yakni dengan tunduk patuh pada apa yang Dia perintahkan.

Dan masa depan yang buruk tidak lebih pasti daripada masa depan yang cerah. Karena Allah, Yang Mahakuasa, dan yang tidak pernah dusta, telah menjanjikan bagi mereka yang taat kepada-Nya, Allah pastikan baginya akhir yang indah.

Orang beriman anti bunuh diri?

Mungkin muncul pertanyaan di diri anda, “Emangnya hanya dengan beriman kepada-Nya akan menyelesaikan masalah?”

Jawabannya, tidak.

Jika anda hanya yakin saja kepada Allah, tanpa tahu bahwa Allah sebegitu hebatnya, dan tanpa memasrahkan diri pada-Nya dengan taat beribadah, maka itu hanya akan sia-sia.

Mungkin anda juga akan bertanya, “Berarti, apakah beragama menyelesaikan masalah?”

Jawabannya, tidak juga. Kalau anda merujuk kepada penelitian yang dilakukan Ryan Lawrence dan Timnya, peneliti psikologi Amerika Serikat, maka korelasi agama terhadap pencegahan bunuh diri tidak sesederhana itu. Ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan untuk menyimpulkan bahwa agama mencegah munculnya ide bunuh diri.

Namun, timnya bersepakat, bahwa agama mampu mencegah praktik bunuh diri. Karena agama dapat menghambat seseorang untuk bertindak berdasarkan ide bunuh diri dengan cara: menyediakan akses terhadap komunitas yang mendukung, membentuk keyakinan seseorang tentang bunuh diri, menyediakan sumber harapan, dan menyediakan cara untuk menafsirkan penderitaan.

Untuk Anda yang berteman dengan penyintas bunuh diri

Teruslah mengajaknya mendekat kepada agama. Banyak penelitian menunjukkan bahwa afiliasi keagamaan bersifat protektif terhadap upaya bunuh diri. Ajaklah ia terus beribadah, karena hal tersebut dapat membantunya untuk mencegah melakukan bunuh diri.

Kita tidak bisa mengatur keadaan lingkungan yang kita hadapi, tetapi setidaknya kita bisa mengatur diri kita sendiri untuk merespons keadaan lingkungan yang ada. Apakah perkataan buruk itu perlu kita dengarkan? Apakah niatan jahat itu perlu kita balas? Apakah tindakan membenci itu perlu kita tanggapi?

Semuanya bisa anda kuasai. Dua tangan anda tidak cukup untuk menutup mulut setiap orang, tetapi ia cukup untuk menutup telinga ataupun menutup mata anda sendiri. Berjuanglah!

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Referensi:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7310534

Sumber: https://muslim.or.id/103786-bunuh-diri-bukan-solusi.html

Walau Engkau Seorang Habib …

Habib sudah ma’ruf di tengah-tengah kita adalah seorang keturunan Nabi. Namun kadang kita lihat tingkah laku mereka aneh. Para habib kadang membuat-buat amalan sendiri, padahal tidak pernah diwariskan oleh leluhur mereka. Siapa yang jelek amalnya, maka tidak ada manfaat kedudukan atau nasab mulianya walaupun engkau seorang habib.

Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barangsiapa yang lamban amalnya, maka nasabnya tidak bisa mengejarnya” (HR. Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah).

Hanya Dengan Beramal, Semakin Mulia di Akhirat

Allah Ta’ala berfirman,

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا

“Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Al An’am: 132 dan Al Ahqaf: 19). Ayat ini menunjukkan bahwa amalanlah yang menaikkan derajat hamba menjadi mulia di akhirat.

Nasabmu Tak Ada Guna, Walau Engkau Keturunan Nabi

Siapa yang lamban amalnya, maka itu tidak bisa mengejar kedudukan mulia di sisi Allah walau ia memiliki nasab (keturunan) yang mulia. Nasabnya itu tidak bisa mengejar derajat mulia di sisi Allah. Karena kedudukan mulia di sisi Allah adalah timbal balik dari amalan yang baik, bukan dari nasab. Sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan dalam ayat lainnya,

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ

“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.” (QS. Al Mu’minun: 101). Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 308.

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Siapa saja yang amalnya itu kurang, maka kedudukan mulianya tidak bisa menolong dirinya. Oleh karenanya, jangan terlalu berharap dari nasab atau silsilah keturunan dan keutamaan nenek moyang, akhirnya sedikit dalam beramal.” (Syarh Shahih Muslim, 17: 21).

Berlombalah dalam Kebaikan Meraih Ampunan dan Rahmat Allah dengan Amalan

Berlomba di sini bukan karena engkau keturunan Nabi atau orang sholih, namun yang dipandang adalah siapa yang paling baik amalnya. Karena demikianlah yang Allah perintahkan dalam berbagai ayat,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imran: 133-134).

Juga dalam ayat lain disebut,

إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ (57) وَالَّذِينَ هُمْ بِآَيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ (58) وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ (59) وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (60) أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ (61)

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Rabb mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apa pun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al Mu’minun: 57-61).

Jadi berlomba-lombalah dengan beramal. Beramal pun bukan asal-asalan. Beramal itu harus sesuai tuntunan. Seandainya seorang habib merekayasa suatu amalan yang tidak pernah ada dasarnya dari nenek moyangnya, maka jelas amalan habib seperti ini tertolak. Karena nasab tidak ada arti saat ini, namun siapakah yang paling baik amalnya yang sesuai tuntunan, itulah yang paling mulia.

Fatimah (Puteri Muhammad) Saja Tidak Bisa Ditolong Ayahnya

Dalam shahihain disebutkan hadits dari Abu Hurairah, di mana ia berkata,

قَامَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – حِينَ أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ( وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ ) قَالَ « يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ – أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا – اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ ، لاَ أُغْنِى عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، يَا بَنِى عَبْدِ مَنَافٍ لاَ أُغْنِى عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لاَ أُغْنِى عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، وَيَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لاَ أُغْنِى عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِى مَا شِئْتِ مِنْ مَالِى لاَ أُغْنِى عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا »

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri ketika turun ayat, ” Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy Syu’ara: 214). Lalu beliau berkata, “Wahai orang Quraisy -atau kalimat semacam itu-, selamatkanlah diri kalian sesungguhnya aku tidak dapat menolong kalian sedikit pun dari Allah. Wahai Bani ‘Abdi Manaf, sesungguhnya aku tidak dapat menolong kalian sedikit pun dari Allah. Wahai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthollib, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah. Wahai Shofiyah bibi Rasulullah, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah. Wahai Fatimah puteri Muhammad, mintalah padaku apa yang engkau mau dari hartaku, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah.” (HR. Bukhari no. 2753 dan Muslim no. 206).

Jika Fatimah saja puteri Nabi tidak bisa ditolong oleh ayahnya sendiri, bagaimanakah dengan keturunan di bawahnya, apalagi jika cuma pengakuan saja sebagai keturunannya. Padahal ada yang sekedar “ngaku”, namun kenyataannya dari keturunan Persia (bukan Quraisy) karena cuma sekedar bermodal hidung mancung dan tampang Arab.

Jika demikian, ritual tanpa dalil atau tanpa dasar yang biasa disuarakan para habib dan merekalah yang jadi front terdepan dalam membelanya tidak boleh diikuti. Karena perlu dipahami bahwa habib bukanlah nabi, sehingga mereka tidak bisa membuat syari’at sebagaimana leluhur mereka. Apalagi jika mereka berbuat maksiat seperti merokok, judi, main perempuan (alias: zina), dan biasa mencukur habis jenggot, tentu mereka tidak pantas jadi panutan.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Referensi:

Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, tahqiq: Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Ibrahim Yajis, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan kesepuluh, tahun 1432 H.

Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.

—

Selesai disusun di malam hari pukul 21: 51, 28 Syawal 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul

sumber : https://rumaysho.com/3597-walau-engkau-seorang-habib.html

Ketika Anak-Anak Menanyakan Makna Ayat Al-Qur’an

Fatwa Syaikh Abdullah Al-Faqih

Pertanyaan:

Alhamdulillah, saya muslimah yang selalu membacakan Al-Qur’an yang saya hafal kepada anak-anak saya, yaitu surat-surat dalam Juz ‘Amma, sebelum mereka tidur. Dan terkadang mereka menanyakan saya beberapa tafsir ayat dan walhamdulillah saya jawab sebisa saya. Namun jawaban saya itu biasanya saya jawab setelah beberapa waktu kemudian, dan merupakan jawaban yang terbesit sesuai apa yang Allah datangkan pada benak saya.

Bagaimana cara agar jawaban-jawaban saya itu sesuai dengan tingkat pemahaman mereka, mengingat umur mereka baru enam atau tujuh tahun? Lakum jaziilusy syukri…

Jawaban:

Apa yang anda lakukan dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an Al Karim kepada anak-anak anda, ini adalah perbuatan ketaatan kepada Allah Ta’ala yang besar keutamaannya dan besar pula pahalanya.

Adapun memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka seputar tafsir dan makna-makna ayat Al-Qur’an, ini tidak mengapa selama jawaban tersebut berdasarkan pada penjelasan dalam kitab-kitab tafsir Al-Qur’an yang terpercaya, atau dari penjelasan para ulama ahli tafsir.

Sedangkan jika anda menafsirkan atau mengartikan makna-makna ayat sesuai dengan opini dan ijtihad anda, maka ini adalah perkara yang berbahaya. Tidak boleh anda mengambil cara yang demikian. Karena ini bisa termasuk dalam perbuatan berkata tentang Allah tanpa ilmu, dan termasuk perbuatan menafsirkan Al-Qur’an dengan sebatas opini tanpa dalil. Silakan merujuk pada fatwa nomor 21250 dan 80948 mengenai hal ini.

Jika anda memiliki jawaban yang shahih atas pertanyaan mereka tentang Allah, kemudian anda menjawab dengan jawaban yang sesuai tingkat pemahaman mereka, maka ini adalah hal yang bagus dan memang dituntut untuk demikian. Telah kami jelaskan rincian masalah ini pada fatwa nomor 52377, 22279, dan 1360.

Dan hendaknya juga, anda mengajarkan mereka dzikir-dzikir sebelum tidur, sehingga mereka bisa mengulang bacaannya sendiri. Mengenai dzikir-dzikir ini sudah kami jelaskan dalam fatwa nomor 4514. Wallahu a’lam.

***

Penerjemah: Yulian Purnama

Artikel Muslimah.or.id

Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=96364

Sumber: https://muslimah.or.id/4630-ketika-anak-anak-menanyakan-makna-ayat-al-quran.html

Jangan Sebar Aib Orang Lain, Nasihat Rasulullah ﷺ di Tengah Budaya Viral

Bismillah…

Di era digital seperti sekarang, satu kesalahan kecil bisa menyebar lebih cepat daripada niat seseorang untuk memperbaikinya. Satu potongan video, satu kalimat yang diambil tanpa konteks, bisa menghancurkan nama baik seseorang yang sebelumnya dikenal berakhlak baik. Bahkan mungkin bukan sekedar nama baik, tapi bisa melemahkan mentalnya hingga membuatnya tak pernah mau untuk berubah lebih baik.

Kita sering mudah menekan tombol share, tapi jarang menekan tombol tahan dulu, pikir dulu.
Padahal dalam Islam, menjaga kehormatan sesama muslim adalah ibadah yang besar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللّٰهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barang siapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aib)nya di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim no. 2699)

Menutupi bukan berarti membenarkan dosa, tapi bentuk kasih sayang agar seorang hamba masih punya ruang untuk bertobat.
Para ulama menyebut hal ini sebagai الإِقَالَةُ عَنِ العَثَرَاتِ (iqālatul ‘atsarāt) — yaitu memaafkan dan menutupi kesalahan orang yang tergelincir, selama tidak berkaitan dengan pelanggaran hukum Allah.

Dua Jenis Orang yang Salah dan Cara Tepat  Menyikapinya

Para ulama menjelaskan bahwa manusia terbagi menjadi dua golongan dalam hal ini:

1. Orang yang terjaga kehormatannya dan tidak dikenal dengan dosa atau maksiat.

Jika ia tergelincir dalam kesalahan, maka tidak boleh aibnya disebarkan. Ia lebih butuh nasihat, bukan penghakiman.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَقِيلُوا ذَوِي الْهَيْئَاتِ عَثَرَاتِهِمْ إِلَّا الْحُدُودَ

“Maafkanlah kesalahan orang-orang yang berakhlak baik di antara kalian, kecuali dalam perkara hukum Allah.” (HR. Abu Dawud no. 4375, an-Nasa’i no. 4887)

2. Orang yang terang-terangan berbuat dosa dan bangga dengan maksiatnya.

Untuk mereka, masyarakat tidak boleh menormalisasi perbuatannya. Namun tetap dengan adab, bukan dengan cercaan, hujatan, atau perundungan.

Sayangnya, di zaman ini, banyak orang lebih sibuk mencari kesalahan orang lain, sementara lupa bahwa dirinya pun memiliki dosa yang Allah masih tutupi.

Keutamaan Menutupi Aib

Menutupi aib bukan kelemahan, tapi tanda keimanan dan kasih sayang.

Ibnu Hajar al-Asqalani -rahimahullah- menjelaskan dalam Fath al-Bari, bahwa makna “menutupi” dalam hadis di atas mencakup dua hal:

  1. Menjaga kehormatan orang yang berbuat salah agar tidak rusak di mata manusia.
  2. Tidak menyebarkan kesalahannya agar ia punya kesempatan memperbaiki diri.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللّٰهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Seorang hamba tidak menutupi (aib) saudaranya di dunia, kecuali Allah akan menutupi aibnya di Hari Kiamat.”
(HR. Ahmad no. 19891, dinilai sahih oleh Al-Albani)

Setiap kali kita menahan diri dari menjelekkan orang lain, sebenarnya kita sedang menyiapkan perlindungan Allah untuk diri kita sendiri.

Menegur Tanpa Menghina

Menegur itu perlu, tapi cara yang salah bisa mengubah nasihat menjadi penghinaan.

Ulama salaf berkata:

مَنْ نَصَحَ أَخَاهُ سِرًّا فَقَدْ نَصَحَهُ وَزَيَّنَهُ، وَمَنْ نَصَحَهُ عَلَانِيَةً فَقَدْ فَضَحَهُ وَشَانَهُ

“Barang siapa menasihati saudaranya secara diam-diam, maka ia benar-benar telah menasihatinya dan memperbaikinya.
Namun siapa yang menasihati di depan umum, maka ia telah mempermalukannya dan mencelanya.”

Itulah adab dalam memberi nasihat.
Islam tidak melarang amar ma’ruf nahi munkar, tapi melarang penghinaan dan celaan.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Mā’idah: 8)

Adil artinya tidak menutup mata terhadap kesalahan, tapi juga tidak menutup hati terhadap kebaikan. Seseorang bisa salah di satu sisi, tapi tetap punya amal saleh di sisi lain.

Ibnu al-Musayyib rahimahullah berkata:

لَيْسَ مِنَ النَّاسِ أَحَدٌ إِلَّا وَلَهُ خَطَأٌ، وَلَكِنْ مَنْ كَانَتْ حَسَنَاتُهُ أَكْثَرَ مِنْ سَيِّئَاتِهِ فَهُوَ الْمَغْفُورُ لَهُ

“Tidak ada manusia yang sempurna. Namun siapa yang kebaikannya lebih banyak daripada keburukannya, maka keburukannya diampuni karena kebaikannya.”

Menjadi Penutup, Bukan Penyebar

Menjadi penutup aib orang lain adalah bentuk ibadah yang penuh kasih, empati, dan kesadaran diri, bahwa kita pun butuh ampunan yang sama.

Sebelum jari ini tergesa menulis komentar tajam atau menyebarkan potongan video seseorang, tanyakanlah pada diri sendiri:

“Kalau aku yang salah, apakah aku ingin diperlakukan seperti ini?”

Jika jawabannya tidak, maka berhentilah jadi penyebar. Jadilah penutup.

Karena bisa jadi, ketika kita menutupi aib saudara kita, Allah sedang menutupi aib kita di hadapan seluruh makhluk-Nya.


Menutupi aib adalah tanda iman, sedangkan menelanjangi kesalahan orang lain adalah tanda hati yang belum bersih. Islam tidak hanya mengajarkan kebenaran, tapi juga etika dalam menyampaikan kebenaran, agar perbaikan benar-benar mendatangkan maslahat yang lebih besar, dan nasihat tidak berubah menjadi penghinaan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senang menutup aib saudaranya, agar Dia pun menutupi aib kita di dunia dan di akhirat.

Wallahua’lam bis showab 


Oleh: Ahmad Anshori, Lc., M.Pd

sumber: https://remajaislam.com/6317-jangan-sebar-aib-orang-lain-nasihat-rasulullah-%EF%B7%BA-di-tengah-budaya-viral.html